Imperfections

Story belong to ©Anggara Dobby

Oh Sehun—Lu Han

With others pairing

[Warn!] YAOI, Gay Content, Mature, Alternative Universe, Typo(s), DLDR. Membosankan! Diksi Abal-abalan. So Dramaaaa.

.

.

Last Chapter : B (FINAL CHAPTER!)

.

.

I love you, I am who I am because of you.

You're every reason, every hope, and every dream I've ever had

And no matter what happens to us in the future

Everyday we are together is the greatest day of my life

I'll always be yours.

Nicholas Sparks

.

.


5 Tahun Kemudian…

"Sayaaaang."

Luhan merotasikan bola-matanya cukup berlebihan ketika Kai datang dengan suara hutannya dan menubruk tubuh kecil Kyungsoo yang tengah berkutat pada laptopnya. Kyungsoo terlihat dua kali lipat lebih jengkel saat Kai menghujani wajahnya dengan kecupan-kecupan ringan, tetapi dia tetap menerimanya secara sukarela. Luhan mendesah kasar, ayolah, tidak bisakkah hari ini mereka tidak mengganggu hari berharganya? Luhan sudah cukup muak melihat adegan menjijikan mereka setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik.

"Jongin, kau bau mesin mobil!" Kyungsoo mendorong wajah kekasihnya dengan risih. Kekasih? Ya, setidaknya itulah yang Luhan dengar tiga tahun yang lalu dari mulut keduanya ketika malam tahun baru. Mereka resmi menjadi sepasang kekasih tanpa meminta persetujuan Luhan lebih dahulu.

Kai mengulas cengirannya, "Aku habis membenarkan mobilku dan aku cukup malas untuk menyemprotkan parfum. Aku ini apa adanya, bukan?"

Kyungsoo dan Luhan memasang wajah datar sedatar-datarnya. "Ya, kau apa adanya. Dan aku suka itu." Luhan kembali merotasikan bola-matanya mendengar jawaban Kyungsoo.

"Kau memang kekasih terbaikku." Kai memuja Kyungsoo dengan pujian yang nyaris setiap hari Ia lontarkan tanpa bosan.

Kyungsoo berujar sinis, "Kekasih terbaikmu? Berarti kau masih memiliki kekasih-kekasih lainnya di belakangku?" Oh, drama siang hari akan dimulai sebentar lagi.

"Jika yang kau maksud adalah Monggu dan Janggu, maka aku mengakuinya."

Kyungsoo mengeluarkan suara tawa palsunya mendengar lelucon menjengkelkan Kai. Bagaimana bisa derajatnya disamakan dengan anak anjing dengan bulu domba seperti itu? Kai memang keterlaluan.

Kai tersenyum amat lebar, lalu mengangat sekantung plastik besar ditangannya. "Aku membawa beberapa bahan masakan yang kau minta. Sekarang, masaklah untuk kekasihmu yang maha tampan ini."

Luhan melempar keripik kentangnya kearah Kai, tepat mengenai dahinya. "Kepercayaan dirimu itu semakin kronis kian hari, kasihan sekali."

Kai mengusap dahinya dengan jengkel. Dia baru menyadari ada sosok lain di ruangan itu, dan itu adalah Luhan yang tengah berbaring malas diatas sofa dengan bungkus snack besar dipelukannya.

"Kau selalu kejam padaku." Desis Kai.

"Karna aku belum menyetujui hubunganmu." Luhan menjawab dengan enteng.

"Masa bodoh, aku tidak butuh persetujuanmu. Karna aku sudah menggenggam persetujuan dari Paman Do." cibir Kai dengan wajah mengejeknya.

Luhan menggeram dan hendak melempar seluruh isi snack-nya, tetapi Kai terlebih dahulu berlari kearah dapur, menyusul Kyungsoo. Akhirnya dia hanya bisa menekuk wajahnya seraya memperhatikan kedua orang itu dari tempatnya. Jarak ruang keluarga dan dapur memang cukup berdekatan, dan tidak dibatasi oleh dinding, maka dari itu Luhan bisa mengawasi Kai kalau-kalau anak itu mulai mencoba berbuat yang aneh-aneh pada Kyungsoo. Kedua anak itu saling melempar canda satu sama lain disana, tetapi lebih banyak Kai yang menggoda. Dia tidak membantu Kyungsoo memasak, melainkan hanya mengganggunya dan sesekali mencuri-curi kesempatan untuk bisa mencium pipi kekasihnya. Kyungsoo terlihat sebal, tetapi tidak bisa menyembunyikan salah tingkahnya yang lucu. Luhan mendengus geli melihat mereka. Walaupun lidahnya berkata dia tidak menyukai hubungan mereka, padahal sebenarnya Luhan senang dengan kedekatan mereka. Kai maupun Kyungsoo saling menyayangi, dan Luhan tidak berhak untuk melarang perasaan mereka. Dilihat dari perjuangan Kai untuk bisa mendekati Kyungsoo, membuat Luhan yakin jika anak itu pasti bisa menjaga Kyungsoo dan tidak akan meninggalkannya.

Tidak seperti Sehun.

Luhan mendadak membisu ketika suara hatinya kembali meneriakkan nama itu. Nama yang sudah Ia coba hapus dari ingatannya, tetapi semuanya berakhir mengenaskan. Luhan tidak bisa melupakan Sehun, malah semakin merindukannya kian hari. Kerinduan itu menggerogoti hatinya, membuat Luhan merasa dirinya orang yang paling menyedihkan. Ini sudah tahun ke-lima sejak Sehun pergi, dan selama itu pula Luhan sangat bersabar menunggunya walau harapannya hanya secuil. Ketika ada sebuah balapan disuatu tempat, maka Luhan akan mendatanginya, berharap Sehun ada disana. tetapi tidak pernah ada. Dia benar-benar menghilang seperti ditelan bumi. Luhan merasa dirinya menyedihkan karna setiap malam harus termenung, memikirkan jawaban mengapa Sehun meninggalkannya dengan cara seperti ini. Dan dia tidak pernah menemukan jawabannya.

Luhan ingin menyerah.

Setelah menghilang tanpa sebab, Kai kembali muncul empat tahun yang lalu. Luhan berharap banyak pada anak itu tentang perihal Sehun. tetapi pemuda tan itu tidak bisa diharapkan, dia selalu mengucapkan jawaban yang sama setiap kali Luhan bertanya; 'Aku tidak tahu.' Luhan kecewa bukan main. Kenapa semua orang menyembunyikan keberadaan Sehun darinya? Sampai Luhan merasa lelah untuk bertanya. Chanyeol dan yang lainnya sudah kembali, tetapi Sehun tidak kunjung menampakan wajahnya. Terkadang, ketika semuanya tengah berkumpul di rumah ini, Luhan merasa sendirian. Chanyeol, Baekhyun, mereka terlihat selalu bahagia. Kai dan Kyungsoo yang menjalani hubungan mereka dengan mudah. Lalu Chen dan kekasihnya yang baru-baru ini Luhan kenali namanya Xiumin, mereka juga tidak pernah terlihat bertengkar. Luhan mendesah kasar, kenapa hanya dirinya yang seperti ini?

Terkadang, Luhan merasa dirinya tiba-tiba menjadi lemah. Mengawali hari dengan pikiran kusut, seperti tidak tidur selama berhari-hari. Berjalan dengan langkah terseok-seok tak tentu arah, dan berakhir menangis sendirian. Tidak, dia bukan seseorang yang cengeng seperti yang selalu dikatakan oleh Sehun. Airmata itu mengalir sendiri tanpa bisa dicegah, bahkan Luhan tidak tahu pasti apa penyebab Ia menangis.

Luhan, ini bukan sebuah perpisahan. Kita pasti akan bertemu lagi, entah kapan. Aku tidak memintamu untuk menungguku, karna itu akan menyiksamu. Hiduplah seperti biasa dengan bahagia. Jangan pikirkan aku. Tolong.

Luhan terkadang mentertawakan isi surat Sehun yang masih dibacanya hingga sekarang. 'Bukan sebuah perpisahan? 'Yang benar saja, lalu kemana kau pergi, sialan? Batin Luhan mencela kasar. Dan yang lebih lucunya lagi, Sehun memintanya untuk hidup dengan bahagia. Bagaimana dia bisa hidup bahagia dalam kondisi seperti ini?

Luhan berjengit sedikit ketika ada yang memegang bahunya. Dia mendongak, dan itu adalah Chanyeol. Entah kapan anak itu sudah berada disini. Luhan tidak tahu karna pikirannya terus mengawang kemana-mana.

"Kau menangis?" suara berat Chanyeol menyadarkan Luhan.

Luhan segera menyentuh wajahnya. Lalu tertawa kikuk. "Aroma masakan Kyungsoo membuat mataku perih." Sial, sejak kapan matanya sudah basah?

Chanyeol mendatarkan ekspresinya. "Dia bahkan masih memotong sayuran." Jarinya menunjuk kearah Kyungsoo dan Kai yang sibuk di dapur. Luhan hanya terdiam, merasa kebohongannya tidak berguna.

"Jangan menangisi Sehun, karna dia tidak akan pernah mau bertemu denganmu jika kau seperti ini." Ujar Chanyeol, lalu berjalan santai meninggalkan Luhan. Dia menuju kearah dapur, mengganggu pasangan yang sedang di mabuk asmara disana.

Luhan hanya mengernyitkan dahinya, tidak mengerti dengan perkataan Chanyeol.


Lelaki berambut blonde itu berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Mengabaikan tali sepatunya yang belum diikat dengan benar, karna kedua tangannya sibuk mengancingkan bajunya. Jam delapan, batinnya jengkel. Itu artinya dia hanya punya waktu 15 menit untuk sarapan, mengikat tali sepatu, mengemudi, dan sampai di kampus dengan tepat waktu sebelum Satpam penjaga Universitas menunjuk-nunjuk wajahnya dengan sengit karna terlambat. Dia sampai di ruang makan, dimana disana terlihat begitu sibuk. Ibunya terlihat begitu sabar menyiapkan sarapan untuk makhluk-makhluk perlu gizi disana. Dia menyipitkan matanya dengan tajam, ketika melihat seorang lelaki sudah bertamu sepagi ini dan menumpang sarapan di rumahnya.

"Sehun," Ibunya memanggil ketika melihatnya. "Cepat sarapan. Ibu sudah menyiapkan menu khusus untukmu."

"Aku hanya perlu roti, aku sudah terlambat." Sehun tidak ikut bergabung di meja makan, melainkan lebih memilih mengikat tali sepatunya.

"Kau selalu pulang jam dua-belas malam, tidak heran jika kau sering terlambat." Adiknya menyeletuk dengan wajah bosan. Sehun menyempatkan diri untuk menarik rambut anak itu, membuat gadis itu memekik kesal.

"Jangan kacaukan penampilanku sebagai Mahasiswi baru!"

Sehun mendengus, "Kau malah terlihat seperti ingin melamar pekerjaan di Perusahaan badut."

Junghwa menggeram, sebal. Lidah pemuda itu memang berbisa sekali, dan selalu sukses membuatnya mendidih. Mana ada Perusahaan Badut? Dia berusaha membuat lelucon, ya? "Oh Sehun—"

"Sayang, sudah Ibu katakan beberapa kali untuk memanggilnya Oppa." Ibunya menyahut.

"Aku tidak sudi." Junghwa bergumam dan melengoskan wajahnya. Sehun mengabaikan gadis menyebalkan itu.

"Duduklah, Sehun." Ayahnya membuka suara dengan tenang.

"Ayah, aku tidak mau hari ke-sepuluhku menjadi Mahasiswa baru disini menjadi tercemar hanya karna aku terlambat." Sehun menyambar roti di meja makan dan mengapitnya dibibir. Tangannya bergerak untuk merapihkan rambutnya. Terlihat berantakan di pagi hari bukanlah opsi yang bagus.

Junmyeon tertawa di bangkunya, "Sejak kapan kau peduli pada peraturan?"

"Sejak masa SMA-ku sudah berlalu." Jawab Sehun.

Berada di penjara membuatnya belajar banyak tentang sebuah peraturan dan bagaimana cara mematuhinya. Sehun berada disana selama tiga tahun, keringanan itu diberikan cuma-cuma oleh Polisi atas perlakuan baiknya selama di tahanan. Dia bisa kembali menghirup udara kebebasan bersama Hanbin yang hari itu juga masa tahanannya habis. Sehun tidak membantah sama sekali ketika Ayahnya menyarankannya untuk melanjutkan sekolah di London bersama Junmyeon. Sehun tahu, itu untuk kebaikannya. Dua minggu yang lalu, dia kembali ke Seoul untuk melanjutkan kuliah di tanah kelahirannya. Sehun jauh lebih merasa baik dari tahun-tahun sebelumnya, dia sudah memiliki kembali keluarganya yang sempat retak dulu. Ibu tirinya memperlakukannya dengan baik seolah dia adalah anak kandungnya. Sehun bahkan tidak ragu untuk memanggilnya 'Ibu'. Dia juga memiliki adik perempuan yang selalu memberikannya informasi-informasi tentang Luhan. Junghwa bercerita banyak bagaimana Luhan tidak pernah menyerah datang ke rumah ini untuk bertanya dimana keberadaannya. Walau menyebalkan, Junghwa masih bisa diandalkan dalam hal ini. Bertahun-tahun tidak bersitatap muka dengan Luhan, membuat Sehun tidak melupakannya walau satu detikpun. Dia merindukan Luhan, tentu saja. Tetapi dia belum siap untuk bertemu dengan lelaki itu. Mungkin saja Luhan benar-benar menjalani hidupnya dengan bahagia dan Sehun tidak mau kehadirannya membuat kebahagiaan Luhan sirna.

Sebuah kenyataan yang menyedihkan ketika dirinya sudah bisa bebas seperti ini tetapi mentalnya belum siap untuk menemui orang yang masih dicintainya hingga sekarang. Mendengar Luhan sudah sadar dari koma-nya saja membuat Sehun begitu senang. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan ketika bisa melihat Luhan suatu saat nanti. Mungkin memeluknya, menciumnya—atau malah hanya melihatnya dari kejauhan saja.

Sehun terdiam, memikirkan bagaimana Luhan sekarang. Apa dia semakin manis? Ceria seperti dulu? Atau mungkin lebih dewasa. Tetapi untuk yang terakhir, Sehun tidak begitu yakin. Luhan tidak akan pernah bisa dewasa, tingkah kekanakannya pasti selalu ada dalam dirinya. Sehun begitu merindukannya hingga rasanya dia akan gila sebentar lagi.

"Dia melamun lagi," suara Junmyeon menyadarkan Sehun. Junmyeon menggelengkan kepalanya, tak habis pikir. Akhir-akhir ini anak itu seringkali kepergok tengah melamun.

"Aku merindukan Luhan." Sehun menjawab dengan senyuman transparannya. Dan orang-orang yang berada di meja makan sudah memaklumi itu, karna nyaris setiap pagi Sehun mengatakan itu tanpa jenuh.

"Kau hanya harus menemuinya dan semuanya akan selesai." Sahut pria yang duduk didekat Junmyeon, seorang tamu yang Sehun katakan hanya menumpang sarapan saja di rumahnya. Siapa lagi kalau bukan Kris—yang kini menjadi sepupu tirinya. Sehun benci mengakui kalau sekarang mereka menjadi saudara.

"Tidak semudah yang kau katakan," protes Sehun.

Kris berujar santai, "Kau memang pecundang, anak kecil."

Sehun nyaris melempar sepiring roti ke wajah Kris, tetapi Ibunya segera melerainya. Sehun mendengus, merasa pembalasan dendamnya dikacaukan.

"Penampilanmu sangat berbeda hari ini, hyung." Sehun mengamati penampilan Junmyeon yang berbeda dari hari biasanya. Dia tidak memakai pakaian formal khas pekerjaannya seperti biasa.

Junmyeon tersenyum lebar, "Aku ingin menemui Yixing. Membicarakan pernikahan, kau tahu?"

Sehun sontak mendesah malas. Seharusnya dia tahu bahwa penyebab Ayahnya sempat mengomel beberapa saat tadi adalah Junmyeon yang membolos di hari ketiganya bekerja demi menemui kekasihnya. Akar permasalahan mengapa Junmyeon bisa menjalin hubungan dengan Yixing adalah karna Sehun yang menjadi 'cupid' untuk mereka, dan itu adalah cerita yang begitu panjang.

"Seperti ada yang kurang. Dimana Tao?" tanya Bom.

"Aku disini, Bibi." Tao menyahut dari ruangan lain. Pemuda itu berjalan menuju meja makan dengan mata terpejam, dan baju tidur bermotif panda masih membalut tubuh jangkungnya. Piyama yang sangat tidak pantas dipakai oleh lelaki berusia 22 tahun sepertinya.

"Kau tidak kuliah?" tanya Sehun, mengernyit heran pada tampilan kusut Tao.

"Aku malas. Masih mengantuk, lagipula aku sudah bosan belajar. Dosen yang membimbingku seringkali memandang kotor ke tubuhku. Aku tidak mau bertemu dengannya. Bagaimana kalau aku diperkosa?" Tao menjawab dengan alasan yang sangat lengkap. Suara Kris yang menggeram 'Apa?!' diabaikannya. Sehun yakin, sesaat lagi Kris akan segera memindahkan adiknya ke Universitas lain mengingat kepossesifan pria itu yang semakin kronis dari hari ke-hari.

Sehun memutar bola-matanya imajinatif. "Ya, terserahmu saja, pemalas." Dia merogoh kunci mobil yang ada didalam sakunya, memutar-mutarnya dengan santai.

"Aku berangkat." Sehun menghampiri Ibunya dan mencium pipinya singkat. Wanita cantik itu menepuk pipinya dan berpesan; "Hati-hati."

"Sehun, jangan ugal-ugalan ketika mengemudi." Ayahnya berpesan.

Dan Sehun masih sempat untuk menjawab, "Aku akan berjanji saat Ayah sudah membelikanku Bugatti terbaru." Membuat Ayahnya harus menggelengkan kepala, lalu bergumam, "Anak itu tidak pernah berubah."

Sehun tersenyum miring ketika berjumpa dengan kekasih lamanya, sebuah mobil sport ber-trademark McLaren 650S bermodif dengan warna merah-hitam yang Ia namakan Red Laren. Dia bersiul sejenak. Sudah lama sekali rasanya tidak membuat kenakalan bersama mobilnya dan hal itu membuat rasa kerinduannya mendadak membuncah. Sehun menepuk body mobilnya seperti tepukan seorang teman.

"Siap untuk kembali bersenang-senang, sayang?"


Chanyeol bersiul seraya menyentuh body mobil merah didepannya menggunakan jari panjangnya. Si pemiliknya keluar dari pintu kemudi dengan tampilannya yang selalu rapi. Chanyeol menyempatkan diri untuk tersenyum miring pada pemilik mobil mahal itu.

"Kembali memakai barang lama?" tanya Chanyeol pada Sehun.

Sehun menjawab, "Aku tidak bisa melupakan kekasih lamaku begitu saja."

Chanyeol tertawa. "Aku tidak sengaja melihat kau dimarahi oleh Satpam disana karna nyaris menabrak tubuhnya."

"Aku hanya mencoba untuk tidak terlambat."

Kedua lelaki bertubuh jangkung itu meninggalkan parkiran, berjalan beriringan menuju kelas mereka. Setelah bertahun-tahun, Sehun kembali bisa bertemu dengan teman-temannya, keluarganya. Kai, Chanyeol, Baekhyun dan Chen—orang-orang yang selama ini secara tidak sadar sudah tercatat sebagai bagian yang paling penting dalam kehidupan Sehun. mereka sudah seperti saudara, lebih dari seorang teman biasa. Sehun beruntung mengenal bajingan-bajingan seperti mereka yang tidak pernah meninggalkannya dalam masa sesulit apapun. Mungkin, inilah yang dinamakan sebuah persahabatan. Menyayangi lebih dari seorang kekasih, peduli melebihi seorang keluarga, dan loyal melebihi seorang pejuang.

"Aku rindu sekolah lama kita. OX 86." Chanyeol tiba-tiba mengenang masa SMA-nya yang penuh kenakalan.

Sehun mendengus geli menanggapinya. "Apa yang kau rindukan dari sekolah itu?"

"Ketika kita datang, maka orang-orang yang berada disini akan segera masuk kedalam kelasnya masing-masing." Chanyeol menunjuk orang-orang yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing di sepanjang koridor kampus, menggambarkan jika mereka adalah murid-murid pecundang OX 86 yang dulu. "Dan aku dengan senang akan memilih satu diantara mereka untuk menjadi budakku."

"Kau memang bajingan ulung." Sehun menanggapi. "Tetapi, kau tidak akan bisa melakukan hal yang sama pada orang-orang ber-IQ tinggi seperti mereka." kali ini Sehun yang menunjuk mahasiswa-mahasiswa disana.

"Hanya tembak saja kepalanya, lalu selesai. Tidak ada bedanya menghabisi orang cerdas dan orang bodoh, Sehun."

Entah Sehun harus bagaimana menanggapi ucapan Chanyeol. Dia masih berandal seperti dulu. Bedanya, Chanyeol tidak lagi membuat keonaran seperti waktu SMA. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan mesin-mesin mobil, pekerjaan paruh waktunya, dan juga Baekhyun. Sehun cukup mengenal Chanyeol bahwa pemuda itu tidak ingin lagi mengulang masa-masa kenakalan mereka. Sudah saatnya bertindak dewasa dan memikirkan apa yang terbaik untuk masa depan nanti.

"Omong-omong, ada balapan sabtu malam besok. Kau mau ikut?"

Sehun berpikir itu adalah tawaran yang bagus. "Tentu. Tapi mungkin aku hanya menjadi penonton."

"Baiklah." Tipikal Chanyeol, tidak mau repot-repot memaksakan kehendak orang lain demi kesenangannya.

Chanyeol seperti mengingat sesuatu dan wajib memberitahu hal ini pada Sehun. Karna dia pikir, Sehun akan menyukai apa yang akan dia sampaikan. "Ah ya, Sehun. tentang Luhan—"

Perkataan Chanyeol harus terpotong karna Sehun mendadak membalikkan arah tubuhnya. "Kurasa ada sesuatu yang tertinggal di mobilku. Kau duluan saja, oke?" Lalu pemuda yang sudah merubah warna rambutnya itu berjalan cepat-cepat meninggalkan Chanyeol.

Chanyeol menghela nafasnya, memandangi tubuh Sehun tak habis pikir. Kenapa dia selalu menghindar setiapkali Chanyeol ingin menyampaikan sesuatu tentang Luhan kepadanya? Chanyeol tidak pernah meragukan perasaan Sehun pada Luhan sampai detik ini, karna dia sangat mengenal bagaimana Sehun. tetapi, akhir-akhir ini, otak Chanyeol harus berputar lebih kritis untuk mengetahui mengapa temannya itu seolah tidak ingin membahas perihal Luhan. kadang, sikapnya itu membuat Chanyeol jengkel beribu kali lipat. Karna dia adalah saksi nyata bagaimana Luhan terus menunggu Sehun selama ini dengan sabar, tetapi Sehun sendiri seperti tak tahu diri. Chanyeol cukup menyesal telah berada ditengah-tengah kerumitan hubungan mereka.

Mendesah kasar, Chanyeol kembali berjalan menuju kelasnya seraya bergumam, "Padahal aku hanya ingin memberitahu jika Luhan ada di Universitas yang sama denganmu, Sehun."


Luhan menukikkan alisnya dengan tajam dengan bibir mengerut lucu. Ekspresi yang menunjukan bahwa dia sangat tidak suka dalam keadaan yang seperti ini. Berjalan seorang diri, tidak tahu harus kemana. Kyungsoo mendadak menghilang—mungkin di culik lagi oleh si sialan Kai. Ditambah Dosennya mengundur jam kelasnya menjadi jam sepuluh nanti. Luhan kesal bukan main. Sekarang, dia tidak tahu harus kemana. Luhan terlalu malas kembali ke rumah jika dua jam lagi dia harus kembali ke sini. Tidak ada spot yang cocok untuk dikunjunginya saat ini. Jika dia anak TMO, mungkin akan senang hati memilih bersantai-santai di Workshop TMO yang Luhan dengar dari Kai sangat nyaman seperti di rumah sendiri. Sayangnya, Luhan anak dari jurusan IT yang tidak mempunyai tempat untuk bersantai selain Lab komputer yang selalu penuh oleh anak-anak yang haus Wi-Fi.

Disaat suasana hatinya tengah tidak bagus, Luhan harus mendapat jeblokan kasar dari seseorang yang tidak bertanggung jawab. Tubuhnya langsung terjatuh diatas tanah membuat beberapa buku didalam pelukannya berceceran dibawah. Luhan sontak mengumpat kasar dalam hati. Wajahnya semakin tertekuk, tetapi mulutnya tidak berteriak kesal. Jika Luhan benar-benar marah, maka dia hanya akan terdiam dengan ekspresi wajahnya yang sungguh tidak mengenakkan.

Dia melihat seseorang yang menabraknya itu tidak mempedulikannya dan tetap berjalan tergesa-gesa. Luhan memandangi punggung lelaki berambut blonde itu dengan dendam. "Sialan. Aku akan memukulmu jika kita kembali dipertemukan." Geram Luhan, mengacungkan jari tengahnya kearah pria itu. walau dia tidak melihat wajahnya, setidaknya Luhan akan mengingat baik-baik postur tubuh orang itu, pakaiannya, dan rambutnya yang mencolok itu.

"Kau tidak apa-apa, Han?" Wajah kekasih Chen memenuhi penglihatannya, membuat Luhan harus mengedipkan beberapa kali matanya.

"Ya, tidak apa-apa. Hanya kesal saja." Luhan memunguti buku-bukunya, yang juga dibantu oleh Xiumin. Ah, masih ada yang mau berbaik hati padanya ternyata.

"Mungkin dia sedang terburu-buru. Kau tahu sendiri betapa sibuknya mahasiswa-mahasiswa disini setiap pagi, 'kan?"

Luhan mendengus keras-keras. "Tapi setidaknya dia harus meminta maaf. Cih, menoleh saja tidak. Aku sangat benci orang yang seperti itu."

Xiumin hanya tersenyum menanggapi Luhan, dia tahu bahwa lelaki itu sedang dalam keadaan hati yang buruk. Jika tidak, Luhan tidak akan terus menekuk wajahnya seperti itu. Dia selalu ceria setiap datang ke kampus, semua mahasiswa disini tahu akan hal itu.

"Kelasmu kosong?" tanya Xiumin, dia mendapat sebuah anggukan dari Luhan sebagai jawaban.

"Oh, sayang sekali. aku ada kelas jam ini, jadi aku tidak bisa menemanimu." Xiumin memasang wajah menyesalnya. "Aku duluan, ya, Han." Lelaki mungil itu menepuk bahu Luhan sekilas, lalu pergi begitu saja.

Luhan meniup poni rambutnya dengan sebal. "Kenapa semua orang sibuk sekali hari ini?"


"Luhan hyung!"

Luhan menoleh, mendapati Kyungsoo berlarian kearahnya disepanjang koridor. Muncul juga anak itu, apa Kim-Jerk-Jongin sudah selesai menculik dan menahannya? Luhan melipat kedua lengannya didada, memandang Kyungsoo dengan tajam ketika anak itu sudah sampai tepat dihadapannya.

"Bisa antarkan ini ke Jongin?" Kyungsoo menyodorkan kotak makanan bergambar kepala penguin kepadanya.

Luhan nyaris meledak detik itu juga. "Kau meninggalkanku begitu saja dan tiba-tiba kau datang, lalu menyuruhku mengantarkan makanan ini ke kekasihmu yang sialan itu?" Luhan mulai mengomel. Lagi.

Kyungsoo memasang wajah memohonnya, yang selalu membuat Kai lumpuh sesaat itu. Tetapi tidak untuk Luhan. "Ayolah, hyung. Aku sudah terlambat masuk kelas. Jika aku bisa, aku tidak akan meminta tolong padamu. Kai ada di Workshop Otomotif, tolong antarkan ini, ya."

Kyungsoo meletakkan kotak makanan itu di tangan Luhan, lalu kembali berlari meninggalkan Luhan yang mematung dengan kepulan asap imajiner di kepalanya. Kekesalannya semakin menggunung berkali-kali lipat sekarang. tidak ada pilihan lain, batin Luhan sengsara. Dia tidak bisa begitu saja mengabaikan permintaan tolong dari orang lain, lagipula dia perlu tempat untuk bisa bersantai, dan Workshop Otomotif sepertinya pilihan yang bagus.

Dan tanpa sepengetahuan Luhan, Kyungsoo tengah berhigh-five dengan Kai tak jauh darinya. Merasa senang dengan rencana mereka yang sesaat lagi akan berjalan sukses.

.

Luhan melongokkan kepalanya ke dalam Workshop TMO, mata rusanya mengamati ruangan sana sebelum benar-benar masuk kedalam. Tidak banyak orang disana, sebagian besar dari mereka sedang bersantai. Ada yang bermain gitar dan bernyanyi sumbang diantara parkakas yang berceceran di lantai, tidur diatas sofa, dan mengotak-atik mesin dengan tangan penuh oli. Ada tiga mobil didalam sana, semuanya adalah hasil tangan anak TMO yang sudah dikerjakan dari bulan-bulan yang lalu. Luhan akui ruangan ini cukup luas untuk menampung mobil-mobil itu. Luhan menginjak beberapa kabel ketika masuk kedalam. Ruangan ini begitu berantakan, dan terkesan sepertu bengkel namun versi kampus.

Beberapa anak disana menyapanya dengan ramah, Luhan membalasnya dengan canggung. Sejujurnya, Luhan tidak kenal dengan mereka semua.

"Luhan?"

Mungkin hanya satu yang Luhan kenali. Siapa lagi jika bukan Chanyeol. Pemuda tinggi itu menghampirinya dan memandangnya dengan heran. "Sedang apa kau disini?"

"Kyungsoo menyuruhku mengantarkan ini pada Kai." Luhan menunjuk kotak makanan yang konyol di genggaman tangannya.

Chanyeol mengangguk dengan senyuman geli melihat raut sebal Luhan. "Aku tidak tahu dimana dia. Tapi, kau tanya saja pada orang disana. Dia yang terakhir bersama Kai." Jari panjang Chanyeol menunjuk kearah seseorang yang tengah mengotak-atik mesin mobil. Luhan nyaris tidak melihat ada orang disana selain sebuah mobil yang belum sepenuhnya jadi. Tetapi setelah diperhatikan lamat-lamat, dia melihat sebagian tubuh orang itu yang berada dibawah kolong mobil.

"Kau mau kemana?" tanya Luhan, melihat Chanyeol sibuk memakai jaketnya.

"Menemui Baekhyun di tempat kerjanya," jawab Chanyeol. "Kutinggal dulu, ya."

Luhan berjalan menuju seseorang yang ditunjuk Chanyeol tadi. Dia agak ragu bertanya pada orang itu, karna tampaknya dia sedang sibuk sekali. Luhan hanya bisa melihat kakinya saja, karna setengah tubuhnya berada di bawah mobil. Oh, Luhan semakin jengkel saja pada Kyungsoo yang membuatnya berada didalam kondisi seperti ini.

"Ehm." Luhan berdehem. Berusaha menarik atensi orang tersebut. Hasilnya nihil, karna orang itu tidak mendengar dehemannya. "Hey—"

"Bisa ambilkan aku obeng mines?"

Luhan sontak mengerutkan dahinya dalam-dalam mendengar perintah itu. Tidak mau membantah, Luhan akhirnya mengambilkan barang yang diminta oleh orang itu di kotak parkakas dekat kakinya. Dia menyodorkan obeng itu pada tangan yang menyembul dari bawah mobil.

"Ini obeng plus. Aku minta obeng mines." Orang itu kembali mengeluarkan tangannya.

Luhan mengerjabkan mata rusanya beberapa kali. Bingung dengan yang diminta oleh orang itu. Bukankah semua obeng itu sama? Luhan baru tahu jika benda itu banyak jenisnya, padahal bentuknya sama semua. Luhan kembali mengambil obeng di kotak parkakas, dia yakin kali ini dia akan benar.

Tetapi belum ada tiga puluh detik, obeng yang diberinya tadi di buang dengan kasar begitu saja. "Astaga, apa kau tidak tahu yang mana obeng mines?!" suara orang itu meninggi, membuat Luhan membulatkan matanya, agak terkejut.

Sepertinya Luhan baru saja membuat kesalahan. Mendengar suara orang itu membuat Luhan teringat sesuatu, tetapi tidak bisa mengingatnya dengan begitu jelas. Luhan berusaha mengesampingkan hal itu dahulu karna keselamatan nyawanya lebih utama sekarang. Ia membalikkan tubuhnya, berjalan mengendap-ngendap untuk kabur. Urusan makanan Kai bisa dipikirkan belakangan, bagi Luhan sekarang, dia harus keluar dari kandang singa ini.

Tetapi, belum sempat melangkah sebanyak lima kali, langkah Luhan harus terhenti karna ancaman dari orang itu.

"Kau mau berhenti atau kukejar sampai lubang cacing sekalipun?"

Suaranya..

Jantung Luhan mendadak berdentum-dentum dengan begitu keras, membuat dadanya sedikit sakit. Bukan karna sebuah ketakutan, tetapi suara itu mengingatkannya pada orang yang sudah lama pergi dari kehidupannya. Luhan menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang apakah Ia harus membalikan tubuhnya atau tidak. Kemungkinan yang mustahil mampir di benaknya memberikannya kembali sebuah harapan. Tanpa berpikir panjang lagi, Luhan segera membalikan tubuhnya.

Lelaki manis itu membisu dengan tubuh terpaku. Matanya memandang satu objek didepan sana dengan nafas tertahan. Luhan berpikir dia mungkin tengah berhalusinasi, dan objek didepan sana adalah hasil ilusi visualnya karna terlalu merindukan orang tersebut. Disana, tepat dihadapannya, Sehun berdiri dengan pakaian kumal karna noda oli, juga balas memandangnya dengan terkejut.

Luhan mengerjabkan matanya beberapa kali karna bagian sana mendadak terasa perih. Tidak mungkin, dia berbisik dalam hati untuk yang kesekian kalinya. Sehun masih hidup, dan berdiri didepannya dengan tubuh yang utuh—Luhan tidak percaya ini. Dia memang tidak menganggap Sehun telah mati, tetapi melihat lelaki itu ada didepannya membuatnya seperti melihat seorang jasad yang kembali hidup. Dia terkejut bukan main. Luhan merasa sinting karna harus menyadarkan dirinya beberapa kali. Walau jika ini didalam halusinasinya sekalipun, Luhan ingin berlama-lama disini untuk bisa bertemu dengan Sehun.

"Lu," suara Sehun memecah suasana yang mendadak dipenuhi keheningan. Entah kemana hilangnya suara gitar dan nyanyian sumbang yang tadinya memenuhi ruangan ini.

Luhan memundurkan tubuhnya sedikit, merasa ini bukan hanya sebuah ilusi tetapi sebuah kenyataan. Sehun memanggilnya dengan panggilannya yang dulu. Sehun-nya.

Dadanya semakin terasa sesak ketika matanya tidak sengaja melihat kearah tangan Sehun yang sangat kotor, disana, tepat di jari manis lelaki itu, ada sebuah cincin perak yang sama dengan yang dipakainya hingga sekarang. Jika dilihat baik-baik, maka perbedaannya hanya terletak pada ukiran nama saja. Ada nama Luhan yang terukir di cincin yang dipakai oleh Sehun. Luhan merasa matanya semakin perih dan dia menahan untuk tidak melampiaskannya.

Sehun melangkah kearahnya, tanpa melepas kontak matanya yang terasa memeluk Luhan.

"Hei," Sehun kembali bersuara, dan itu terasa begitu nyata di pendengaran Luhan. "Jika kau diam saja, itu artinya aku tengah berhalusinasi lagi untuk yang kesekian kalinya." Sehun memandangnya dengan tatapan yang sama seperti dulu. Bedanya, disana terlihat sedikit kesedihan yang Luhan tidak tahu apa penyebabnya.

Luhan mengusap airmatanya yang entah kapan sudah membuat pipinya basah. Tenggorokannya terasa kering untuk mengeluarkan sebuah suara. "Ku-kukira… kau sudah mati." Nada suara yang dihasilkannya bergetar.

Sehun berusaha tertawa, tetapi hasilnya malah terdengar aneh. "Aku hidup kembali." Memandangi Luhan dengan lama, seolah-olah jika Ia berkedip sekali maka lelaki manis itu akan menghilang dalam sekejap. Dan dia tidak mau hal itu terjadi. Kenyataan bahwa Luhan berdiri tepat didepannya membuat Sehun merasa bagian yang lama hilang dari tubuhnya kembali lagi. Kerinduannya berangsur-angsur menurun, membuat tubuhnya sedikit lebih baik. Luhan tidak berubah. Tubuhnya, wajahnya, suaranya—semuanya. Sehun tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini untuk melampiaskan kerinduannya. Dia benar-benar tidak menduga jika harus dipertemukan dengan Luhan hari ini, di tempat berantakan ini. Dia belum mempersiapkan diri sehingga Sehun merasa dirinya akan gila sebentar lagi karna bingung harus bersikap bagaimana. Dia terlalu senang, emosional, hingga rasanya akan meledak seperti kembang api di malam tahun baru.

Sehun hendak memeluk Luhan, tetapi diurungkannya, membuat kedua tangannya hanya bisa terentang di udara.

"Aku penuh oli," Dia terkekeh canggung seraya menunjukan bajunya dan tangannya yang kotor.

Luhan menunduk, menyembunyikan rona merah pada pipinya yang mendadak ada disana. "Kukira kau tidak peduli akan hal itu."

Didetik selanjutnya, Luhan merasakan tubuhnya sudah berada didalam dekapan Sehun. Dekapan hangat yang begitu ia rindukan. Luhan membalasnya, melingkarkan tangannya ke tubuh Sehun. Mengabaikan bajunya yang sesaat lagi akan tercetak noda oli. Luhan tidak mempedulikan apapun selain Sehun saat ini. Dia memejamkan matanya, membiarkan aliran airmatanya membasahi wajahnya. Sekali lagi, Luhan tidak peduli. Dia hanya ingin meresapi waktu ini dalam-dalam, membiarkan kerinduannya terlampiaskan. Sehun sudah berada disini, memeluknya.

Luhan memejamkan matanya ketika merasakan Sehun mencium kepalanya dengan lama. Luhan kembali merasa disayangi Tetapi Ia masih enggan untuk membuka suaranya karna masih belum mempercayai semua ini.

"Aku merindukanmu," Adalah kalimat sederhana nan menakjubkan yang di katakan oleh Sehun. "Hingga aku tidak tahu harus memulainya darimana."

"Aku membencimu." Luhan akhirnya mengeluarkan suaranya. Suaranya agak teredam karna wajahnya tenggelam didalam dada bidang Sehun.

"Itu sering dikatakan oleh seseorang yang begitu merindukan kekasihnya. Terimakasih, Luhan."

Luhan menggeleng keras, "Aku benar-benar membencimu, sialan!" kali ini tangisannya mampu didengar oleh telinga tajam Sehun.

Sehun merasa begitu bersalah dengan Luhan atas sikap brengseknya yang telah meninggalkan kekasihnya begitu saja lima tahun yang lalu. Dia sering mendengar cerita dari teman-temannya jika Luhan sering tertangkap tengah termenung seperti seorang mayat karna terus menunggunya kembali. Kai bahkan berkata jika Luhan memang terlihat baik-baik saja diluar, tetapi sebenarnya dia adalah sosok yang begitu lemah sejak Sehun meninggalkannya. Sehun tidak tahu harus bagaimana mendengar cerita-cerita itu. Dia merasa begitu jahat dan tidak tahu diri. sekarang, Luhan sudah berada didalam dekapannya dan Sehun tidak akan melepaskannya lagi sampai kapanpun. Dia berani berjanji untuk hal itu.

Sehun berinisiatif untuk menangkup wajah Luhan dengan kedua tangannya. Dia semakin bersalah melihat wajah manis itu sudah sangat basah. Luhan benar-benar cengeng, pikiran Sehun masih sempat mengejek kekasihnya itu. Ibu jari Sehun mengusap pipi Luhan, mengusap airmatanya. Dia tersenyum pada kekasihnya itu seraya memandang kedalam mata bulat Luhan yang binar indahnya tidak pernah redup.

"Aku sudah kembali," Sehun tersenyum menawan. "Dan apa yang kau tangisi? Aku tidak percaya kau benar-benar cengeng."

Luhan tidak menanggapi ejekan Sehun karna dirinya sedang berusaha menahan diri untuk tidak menampar wajah pria itu.

Sehun berujar tenang, "Peluk aku jika kau juga merindukanku."

Dengan begitu Luhan segera menubruk tubuh Sehun dan memeluk leher pria itu seperti anak koala. Menunjukkan betapa rindunya Ia dengan keparatnya itu. Sehun tertawa mendapat pelukan seperti itu, dan buru-buru melingkarkan tangannya di pinggang Luhan agar keseimbangan tubuh mereka tetap terjaga. Dia mendengar Luhan juga tertawa kecil disana. Suara tawanya yang manis membuat Sehun merasa hidup kembali. Luhan sama sekali tidak berubah.

Sehun mengangkat sedikit tubuh Luhan hingga kaki lelaki manis itu tidak menapak ke lantai, lalu membawanya berputar-putar dalam pelukan. Luhan memekik kaget, berbeda dengan Sehun yang tertawa bahagia.

"Sehun, turunkan aku!"

Sehun segera menurut, "Baiklah." Tetapi bukan dirinya jika menyerah begitu saja pada Luhan. lantas, di detik selanjutnya, Sehun kembali menarik pinggang ramping Luhan, membawa kekasihnya itu kedalam ciuman yang sudah lama tidak terjadi diantara keduanya. Sebuah ciuman lembut tanpa unsur ketergesaan sama sekali, hanya menyalurkan perasaan mereka masing-masing lewat ciuman tersebut. Dengan cara seperti ini, kerinduannya yang selama ini telah menggunung lenyaplah sudah.

Kotak makan milik Kyungsoo terjatuh begitu saja dan diabaikan karna sang pengantar makanan tengah berbahagia bersama kekasihnya yang setelah sekian tahun kembali kedalam pelukannya.


"Masalah obeng tadi—"

"Aku sudah tidak butuh benda itu. Maaf sudah membentakmu tadi." Sehun berujar cepat sebelum Luhan yang meminta maaf terlebih dahulu. Dia mendapati Luhan mengangguk, kepalanya terus menunduk dan posisi duduknya sedikit berjauhan dengannya. Sehun tersenyum geli melihatnya. rasanya canggung sekali berada di situasi seperti ini, mereka seperti baru mengenal satu sama lain. Dan Luhan sungguh menggemaskan dengan kepala tertunduk seraya menggenggam kotak makanan ditangannya itu.

"Apa itu?" Sehun bertanya.

"Makanan untuk Kai. Kyungsoo menyuruhku untuk mengantarnya kesini."

Seingat Sehun, Kai terus menempel bersama Kyungsoo tadi, tidak mungkin kedua burung merpati yang sedang kasmaran itu terpisah walau satu menit. pikirannya mulai mencurigai sesuatu, "Coba buka."

Luhan mengangguk patuh dan membuka kotak makanan ditangannya. Dahinya mengerut dalam-dalam ketika melihat isi kotak itu. Bukan sebuah makanan berisi sayur-mayur hijau, atau ayam goreng kesukaan Kai, tetapi hanya secarik kertas yang terlipat rapi di antara coklat-coklat mungil berbentuk hati. Luhan mulai berpikir jika Kyungsoo dan Kai merayakan hari jadi mereka setiap hari. Dasar dua anak itu! Luhan mengambil kertas itu dengan curiga dan membuka lipatannya.

Selamat hari jadi kalian yang ke-6 tahun! Semoga kalian selalu berbahagia dan terus bersama dalam situasi apapun. –Kyungsoo dan Kai

p. s : Berterimakasihlah pada kekasihku yang sudah berbaik hati membuat coklat-coklat manis ini untuk kalian. –Kai tampan.

Ternyata itu untuk mereka berdua.

Kecurigaan Sehun benar adanya. Dia tahu bahwa dibalik semua ini pastilah rencana dari teman-temannya. Tidak mungkin Luhan mendadak datang ke Workshop TMO dan menemuinya. Padahal, Sehun baru tahu mengetahui jika mereka ada di Universitas yang sama. Ini benar-benar kejutan yang tak terduga.

"Seharusnya aku tahu ini ulah mereka," Luhan berdesis. Dalam hati, dia berterimakasih pada kedua anak itu yang kembali mempertemukannya dengan Sehun. Walau Luhan yakin seribu persen jika hal ini tidak lepas dari rencana Chanyeol dan yang lainnya juga.

"Lu, tentang kepergianku—"

Luhan memotong ucapan Sehun dengan gelengannya. "Aku tidak mau membahas itu, Sehun. Aku tidak perlu alasan-alasan mengapa kau menghilang selama bertahun-tahun. Melihatmu ada disini itu sudah cukup bagiku."

"Tapi ini perlu kau ketahui."

"Aku tidak akan peduli."

"Walau kenyataannya aku menghilang karna di penjara sekalipun?"

Luhan dengan cepat menoleh kearah Sehun mendengar pernyataan itu. Memandangnya meminta penjelasan yang lebih rinci. "Penjara?" ulangnya, terbata.

"Ya. Tiga tahun aku berada disana dan sisanya aku habiskan untuk bersekolah di Luar Negri," lalu Sehun melanjutkan dengan sebuah tawa pahit, "Seharusnya kau tidak terkejut mendengar ini, Lu. Kekasihmu adalah bajingan nomor satu di Seoul."

Luhan terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. membayangkan Sehun berada didalam tahanan selama bertahun-tahun membuatnya sakit. Dia pergi bukan tanpa alasan. Luhan tidak sepantasnya berburuk sangka pada Sehun selama ini. Sekarang Luhan tahu mengapa semua orang enggan memberitahunya dimana keberadaan Sehun, pria itu pasti sudah memperingati semua orang agar tidak mengecewakannya.

"Sehun…"

"Tidak, tidak, jangan memasang wajah seperti itu." ujar Sehun, menepuk pipi Luhan dengan pelan. "Aku tidak apa-apa, aku yakin kau sangat mengenalku. Sekarang, yang harus kau ingat adalah aku sudah disini. Bersamamu."

Tidak ada alasan yang tepat bagi Luhan untuk mendeskripsikan mengapa Ia mencintai Sehun hingga detik ini.

Pria itu memang bukanlah orang baik hati yang selalu bersikap ramah pada setiap orang atau mematuhi segala peraturan yang ada di dunia ini. Sehun adalah salah satu orang pembangkang di antara jutaan manusia di bumi ini. Tetapi Luhan sangat mengenal bagaimana sebenarnya Sehun itu. Dia adalah seseorang yang tahu bagaimana cara membahagiakan orang yang disayangnya dengan caranya sendiri. Jika seorang bajingan saja bisa membuatnya bahagia, mengapa Luhan harus mencari malaikat?

Luhan meraih tangan Sehun, menggenggamnya. Membuat kedua cincin berbeda ukiran nama yang mereka pakai bertemu dalam sebuah genggaman. Sehun membalasnya, membuat tangan mereka benar-benar terkait pas seperti puzzle.

Luhan mengembangkan senyum manisnya pada Sehun, mengatakan lewat pandangan 'Jangan meninggalkanku lagi.' Yang dibalas oleh Sehun dengan sebuah ciuman singkat nan manis yang artinya, 'Aku berjanji tidak akan melakukan hal itu.'


Malam itu Sehun benar-benar menepati janjinya kepada Chanyeol untuk datang ke sebuah duel race di Distrik Seocho yang memang sering dijadikan sebagai sirkuit oleh anak-anak komunitas pembalap jalan karna jalanannya yang luas dan minim pengawasan Polisi jalan. Sehun masih setia dengan Red Laren-nya, karna baginya, mobil itu selalu membawanya dalam keberuntungan. Dia memang tidak berniat untuk ikut race, tapi setidaknya, teman-temannya pasti akan mengajaknya untuk melakukan beberapa putaran. Dia sangat mengenal bagaimana watak Kai dan yang lainnya.

Sehun tidak sendiri, dia membawa Luhan bersamanya. Sehun tidak melepas genggaman tangannya pada lelaki manis itu ketika mereka sudah turun dari mobil. Dia tersenyum puas ketika melihat di sekelilingnya banyak mobil-mobil sport dan orang-orang yang sibuk menyiapkan mobil mereka sebelum pertandingan dimulai. Ada banyak lelaki dan perempuan disini yang mencintai otomotif seperti dirinya. Ah, dia merindukan dunia ini. Sudah berapa lama dirinya tidak bergabung dengan komunitas ini?

"Oh Sehun, My big bro," seorang pemuda bergigi kelinci menghampiri Sehun dan menepuk bahunya dengan sok asyik. Baro, pemuda itu, memandangnya dengan takjub. "Aku baru melihatmu lagi, kemana saja kau, huh?"

Sehun tak terlalu menanggapi anak pecicilan itu. "Bukan urusanmu, bajingan kecil."

"Dan siapa ini?" Baro bersiul nakal ketika melihat Luhan. "Flawless, seperti tipe-ku."

Sehun dengan senang hati memukul kepala Baro hingga anak itu berteriak kesakitan, cukup berlebihan. Sehun mendengus puas, "Jangan coba melirik kekasihku atau kulindas wajahmu dengan ban mobilku."

Baro mengangkat kedua tangannya, menyerah. "Oke, oke."

"Dimana Chanyeol dan yang lainnya?" tanya Sehun.

"Di Basement sana." Baro menunjuk kearah gedung yang tak jauh dari posisi mereka.

Sehun akhirnya berjalan kesana bersama Luhan. Jika jalanan dijadikan sebagai sirkuit, maka basement disana dijadikan sebagai tempat untuk memperbaiki mobil —bengkel— dan tempat untuk berlatih mengemudi sebelum turun ke jalanan. Orang-orang di basement lebih banyak ketimbang di jalanan. Sehun menoleh kearah Luhan yang sejak tadi hanya melihat-lihat ke sekitarnya dengan pandangan excited. Sehun merasa kekasihnya itu mulai mencintai otomotif, seperti dirinya. Sehun tidak tahan untuk tidak mencuri kecupan di pipi Luhan karna malam ini rusa kecil itu terlihat semakin mempesona.

"Hey!" Luhan berseru protes.

Sehun terkekeh, "Ada apa?"

"Kenapa kau menciumku?" Tanya Luhan, setengah malu.

"Karna aku ingin."

Seharusnya Luhan tidak perlu bertanya pada Sehun jika Ia hanya akan mendapat jawaban tak berguna dari pria itu. tetapi, tidak bisa dipungkiri jika pipi Luhan memerah karna mendapat kecupan tiba-tiba itu.

"Hoi!" suara Kai terdengar, menarik atensi Sehun dan Luhan. pemuda berkulit tan itu melambai-lambaikan tangannya kearah mereka, menyuruhnya untuk segera bergabung bersama yang lain.

Semuanya ada disana, bersama mobil-mobil mereka yang bagasinya terbuka, sepertinya Kai dan yang lainnya tengah memperbaiki mobil mereka. Sehun melakukan fistbump dengan teman-temannya, seperti biasa. Sehun cukup terkejut melihat Kyungsoo dan Xiumin juga ada disana dengan wajah tertekuk. Sepertinya kedua orang itu dipaksa datang oleh kekasih mereka masing-masing, siapa lagi kalau bukan Kai dan Chen.

"Ya Tuhan, aku senang sekali melihat kalian berdua berjalan berdampingan lagi." Baekhyun berseru heboh, kentara sekali jika dia senang melihat Sehun dan Luhan kembali bersama. "Aku merindukanmuuuu." Baekhyun lalu memeluk Luhan dengan erat, bahkan sedikit memutar-mutar tubuh mereka. Luhan hanya tertawa mendapat pelukan dari Baekhyun.

"Baek, kita sering bertemu." Luhan menginterupsi. Oh, dia mulai sesak sekarang.

"Tidak apa-apa. Anggap saja aku mewakilkan kerinduannya Sehun."

"Sehun sudah melakukan itu, sayang." sahut Chanyeol.

"Bahkan lebih dari itu!" Kai menambahkan, tangannya masih sibuk mengotak-atik bagasinya.

"Wah, benarkah?" Chen menimpali. "Aku menyesal tidak datang tadi."

Sehun menautkan kedua alisnya dalam-dalam, "Jadi kalian mengintipku dan Luhan tadi?" tanyanya, agak geram.

Chanyeol, Kai, Baekhyun, Kyungsoo serta Xiumin melebarkan cengiran mereka dengan kompak membuat Sehun harus menelan bulat-bulat kegeramannya. Sialan! Seharusnya dia tahu bahwa teman-temannya tidak hanya akan membuat rencana saja, tetapi mereka juga akan memastikan rencananya berhasil atau tidak hingga akhir. Sehun mendapati Luhan menjadikan bahunya sebagai tempat untuk menyembunyikan wajah karna malu. Mau tidak mau, Sehun tersenyum geli melihat tingkah menggemaskannya itu.

"Ceritakan padaku sebenarnya apa yang mereka lakukan?" Chen mendesak, entah kepada siapa. Hanya dia satu-satunya orang yang tidak hadir dalam perencanaan yang lainnya.

"Makanya jangan terus bekerja, akhirnya kau ketinggalan berita panas." Kai menyahut.

"Aku bekerja karna aku memikirkan masa depanku bersama Xiumin nanti." Protes Chen, membuat Xiumin yang berada disebelahnya hanya menggelengkan kepalanya. Kai dan Baekhyun menyoraki anak itu karna alasan menggelikannya.

"Aku ingin menunjukanmu sesuatu. Ayo, ikut aku." Sehun kembali meraih tangan Luhan, meninggalkan sejenak teman-temannya yang sangat berisik membicarakan hal yang tidak penting. Luhan hanya menurut, walau cukup penasaran dengan apa yang akan ditunjukan Sehun kepadanya.

Sehun membawanya ke suatu tempat yang tak jauh dari posisi mereka tadi. pria itu melepaskan genggaman tangannya dan menghampiri sebuah mobil yang sepenuhnya tertutupi oleh kain hitam. Sehun mengulas senyum kepadanya, membuat Luhan merasa akan meleleh sedikit lagi. Semua orang mengakui jika Sehun memang tampan, tetapi ketika Ia tersenyum, maka dia akan jauh lebih tampan dan mempesona. Tak sadar, rona kemerahan muncul di kedua pipi Luhan.

"Kudengar dari Ayahmu jika kau sudah pandai mengemudi, jadi aku memberikan ini untukmu."

Lalu Sehun menarik kain hitam itu hingga terpampanglah sebuah mobil sport berwarna merah mengkilap yang begitu elegan. Luhan membulatkan matanya ketika mengenali bahwa mobil didepannya adalah buatan pabrik otomotif berlambangkan kuda jingkrak yang begitu terkenal di dunia. Ferrari. Dan yang berada didepannya ini adalah keluaran terbarunya yang tak kalah mahal dari produk-produk sebelumnya. Ferrari LaFerrari, sebuah mobil yang pernah masuk kedalam catatan majalah Forbes karna harganya yang tak main-main. Luhan tidak percaya mobil itu sekarang ada didepannya—dan diberikan untuknya secara cuma-cuma.

Luhan memandang Sehun dengan tak percaya, "Kau serius memberikanku ini?" mata rusanya memandangi lekat-lekat bagaimana mengkilapnya mobil itu, menandakan jika Ferrari itu masih baru. Luhan selalu ingin mengendarai mobil-mobil keren seperti ini.

Sehun tersenyum angkuh seraya mengendikan bahunya, "Aku bisa membelikanmu sepuluh jika kau mau."

Luhan tidak bisa untuk menahan pekikan senangnya dan masuk kedalam pelukan Sehun layaknya anak kucing. lelaki mungil itu bahkan menyempatkan diri untuk menghujani wajah kekasihnya dengan kecupan-kecupan ringan yang manis. Sehun tertawa dan melingkari pinggang Luhan buru-buru agar tubuh mereka tidak berakhir terjerembab diatas tanah.

Luhan adalah hadiah terindah yang pernah diberikan Tuhan ke dalam hidupnya.


"Kalian siap?" Kai bertanya lewat jendela Chevrolet Corvette-nya dengan sebuah seringaian. Di kursi sampingnya ada Kyungsoo yang memejamkan matanya erat-erat dan memegang sabuk pengamannya cukup kencang. Kai sepertinya tidak peduli pada kekasihnya yang tengah ketakutan itu.

Disebelah mobil Kai, ada Lamborghini Aventador milik Chanyeol yang berwarna silver yang berdampingan dengan mobil kekasihnya, Baekhyun, yang bertrademark Bugatti Veyron dengan warna biru menyala. Lalu di susul dengan Koenigsegg CCX milik Chen, Xiumin berada tepat disebelahnya dengan wajah lebih rileks ketimbang Kyungsoo. Setelah itu baru mobil Sehun dan Luhan yang berdampingan.

Mereka saling melempar seringaian satu sama lain, merasa akan mendapat gelar pemenang malam ini dengan percaya diri.

Sehun melirik kearah Luhan dengan senyuman miring khas-nya, "Kau terlihat seksi mengendarai itu."

Luhan memutar bola-matanya diselingi senyuman, "Aku akan mengalahkanmu."

"Atau aku yang akan sengaja mengalahkan diri demi kemenanganmu, sayang."

Luhan hendak membalas perkataan Sehun, tetapi suara Kai sudah terlebih dahulu memberikan aba-aba untuk mulai. Detik selanjutnya, seruan Kai mengudara bersamaan melajunya mobil-mobil itu dengan cepat.

Suara deruman mesin mobil berlomba-lomba meramaikan malam. Keenam mobil itu melaju dengan kecepatan tak main-main, membelah jalan yang sepi dengan ban mereka, mengikuti alur jalan yang tak ada ujungnya. Tidak mempedulikan bulan yang terus mengawasi dalam keheningan malam.

.

.

Tidak ada yang sempurna di muka bumi ini. Bahkan bulan yang begitu indah saja jika didekati akan terlihat banyak lubang-lubang cacatnya.

Setidaknya, hidupmu akan terasa sempurna jika memiliki teman, keluarga dan orang-orang yang menyayangimu ada disekelilingmu, dan hal itu pula yang akan membawamu pada kebahagiaan yang sesungguhnya.

.

.


END


.

.

.


Epilog

"Yah, jadi seperti itulah masa muda Appa dan Baba-mu. Keren bukan?"

Kedua anak kecil dengan usia terpaut empat tahun itu bertepuk tangan setelah Appa mereka menyudahi cerita panjangnya. Yang lebih kecil menghentikan tepuk tangannya tiba-tiba, lalu mengerutkan dahinya dalam-dalam. Ekspresinya begitu menggemaskan di mata sang Appa.

"Tunggu!" Ziyu, anak kecil berusia enam tahun itu, mengangkat telapak tangannya diudara, "Berarti mobil kuno di garasi adalah pemberian Appa untuk Baba?" tanyanya.

Sehun mengangguk, "Ya, tapi di zaman Appa dulu mobil itu bukan mobil kuno. Bahkan harganya bisa untuk membeli rumah baru."

Ziyu merengut. "Ziyu tidak percaya." Sehun menahan tangannya untuk tidak mencubit pipi gembil Ziyu karna ekspresinya itu. Dia begitu mirip dengan Luhan, bahkan wataknya sekalipun.

"Appa, aku mau dibelikan mobil juga!" Haowen, anak lelaki yang lebih besar, mulai meminta sesuatu pada Appa tersayangnya. "Ajarkan aku mengemudi juga agar aku bisa menjadi pembalap seperti Appa. Aku ingin mengemudi di roadstreet California." Dia membuat gerakan menyetir dengan kedua tangannya.

"Ziyu juga mau! Dan warnanya harus merah muda." Yang lebih kecil kembali berceloteh.

Haowen melirik aneh kearah adiknya, "Pink? Damn! Are you fuckin' kidding me?" Ziyu memandang Kakaknya dengan sebal. Apa salahnya menyukai warna pink?

"Haowen!" suara Luhan terdengar menggelegar dari arah dapur. "Baba dengar kau mengumpat lagi!"

Sementara Sehun sendiri malah menepuk-nepuk kepala putranya dengan sayang. "Kemampuan mengumpatmu itu semakin bagus, Haowen." Jika Ziyu adalah refleksi diri Luhan ketika masih kecil, maka Haowen adalah Sehun versi mini.

"Sehun! Jangan mendukung anakmu dengan hal-hal yang tidak baik." Luhan kembali bersuara, kali ini objek kemarahannya berbeda. "Bicaranya semakin seperti orang Amerika dari hari ke-hari."

Haowen merengut, "Kita 'kan memang tinggal di Amerika."

Kepala Luhan menyembul dari ruangan lain. "Ya, itu benar. Tapi kau tetap berdarah Cina, Haowennie."

Haowen memutar bola-matanya malas ketika Baba-nya kembali memanggilnya dengan panggilan menggelikan seperti itu.

"Dan Korea, jangan lupakan itu." Sehun menimpali ucapan suami cantiknya.

Luhan tak menanggapi ucapan Sehun dan kembali pada kegiatannya untuk menyiapkan makan malam. Pertanda tidak bagus untuk Sehun, karna jika Luhan sudah seperti itu artinya rusa manisnya itu tengah kesal padanya. Maka dari itu, dia meninggalkan posisi duduk santainya dan bergegas ke dapur untuk menemui Luhan.

Haowen dan Ziyu saling berpandangan melihat Appa-nya. "Apa yang dilakukan Appa untuk meredam kekesalan Baba?" tanya Ziyu pada Kakaknya, walau dia sudah hafal betul jawabannya.

Haowen mendesah malas, "Menciumnya, ofcourse."


.

.

.

.


(LONG) a/n :

Haiiiii gaesss! Finally gue bisa publish ini setelah kemaren-kemaren ketunda terus gara-gara tugas yang Astagfirullahaladzim banyaknya -_- giliran mau lanjutin ini pasti ada aja temen gue yang ngingetin "Woy, lo udah ngerjain tugas belom?"

Dan ujung-ujungnya laptop ga kepegang lagi-_-

Tapi akhirnya gue bisa publish LAST CHAPTER Not Perfect, Yihaaa! /selebrasi/ ga nyangka ff ini udah berjalan setahun lebih, wkwk lama juga ya. Gue ga bosen-bosen bilang terimakasih sebanyak-banyaknya sama kalian yang udah ikutin cerita ini dari awal sampe sekarang, yang bosen kena php gue mulu (hahah), yang sering nerror gue di fb/ig/line/bbm (wkwk kalian macem terroris tau gak lol), dan yang sering nyumpahin gue di kotak review karna gue telat apdet mulu (duhh-_-). Tbh, gue pasti bakal kangen sama suasana pas lagi ngetik ff ini dan karakter yang ada disini. Ada seneng dan sedihnya juga sih, tapi emang udah kodratnya cerita harus ada endingnya. Gue tau ini endingnya gak greget, tau kok gue, tau.

Maaf karna gue ga bisa nulis uname kalian satu-satu disini, soalnya banyak banget dan gue males ngetiknya hehe. Tapi yang terpenting gue selalu seneng baca review dari kalian walau beberapa ada yang gak ngenakin hahaha.

Oh iya, setiap chapter di Not Perfect gue selalu naruhin pesan moral(?) entah yang tersirat maupun yang tersurat (jeileh bahasa lo gar-_-). Mudah-mudahan kalian bisa nangkep ya, walau gue tau FF ini kaga ada faedahnya sama sekali :v

Awalnya, gue ngebuat FF ini bukan karna tanpa alesan. Gue mau nyampein gimana dampaknya anak dari hasil Brokenhome karna gue yang ngerasain hal itu sendiri. Ga semua anak brokenhome itu anak sampah, dan jelek dimata orang. Mereka bukannya nakal tapi mereka Cuma butuh perhatian :) mereka gapantes dikasarin, tapi harus dapet pelukan.

Anjir gue jadi dakwah(?) gini -_-

Last but not least, bigthanks for y'all! :* Laffyah somuchhh.

P. S : KAGA BAKALAN ADA SEQUEL ATAU NOTPERFECT SEASON 2. INI BUKAN CINTA FITRI SOALNYA :'))

P. SS : tungguin gue publish ff baru ya, HUEUHEUEHEU

Sincerely,

Anggara Dobby