_Supernatural_
Deru suara mobil polisi dan Ambulance tampak lalu lalang di pelataran bawah apartement di kawasan elit Gangnam itu. Hiruk pikuk kerumunan orang yang kontras dengan para pencari berita yang juga ikut mengerubung disana. Terlihat dari arah dalam lobi, kerumunan orang berseragam putih dan seorang pria jangkung berkulit pucat tergesa-gesa membawa seorang wanita bersimbah darah di bagian perut.
Pekikan cemas dan tangis yang tertahan tak kunjung berhenti dari bibir pria kelahiran Februari itu. Terlihat seorang petugas keamanan berjaga di depan menghalau para wartawan atau pun penghuni apartement lainnya yang bergerombol di depan jalan mereka.
Lee Sungmin, wanita yang tengah mengandung tujuh bulan itu diam tak merespon. Meskipun ia masih dalam keadaan sadar namun ia hanya dapat menatap hal yang sekarang sedang ada di belakangnya saja. Kyuhyun bertambah panik seperti orang gila saat salah seorang pencari berita berhasil menerobos dan menjepret wajah istrinya.
'Bugh' pria berkulit pucat itu tak sadar melayangkan pukulan tepat kea rah pria berkaca mata dengan list tebal itu, membuat ia jatuh tersungkur begitu saja. Sementara itu, petugas medis langsung mendorong katil Sungmin saat menemukan celah guna membawa wanita itu ke rumah sakit.
Gaun tidur tak berlengan yang ia gunakan kini sudah berubah warna menjadi merah akibat luka tusuk diperutnya. Ia hanya diam saja tidak merespon sama sekali setiap ucapan dan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
"Sungmin-a"
"Nyonya Cho anda bisa mendengar saya?"
"SUNGMIN"
.
.
.
Supernatural
.
Written by hyejinpark©2015
.
Disclaimer: The story is belonging to mind, their families and God.
.
Warning: GS|OOC|Typo|Married life|Supernatural|KYUMIN|Bad diction|Don't like don't read|Plagiat is not allowed|
.
Happy reading
.
.
.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Kyuhyun panik.
Saat ini Sungmin tengah di periksa oleh dokter pasca operasi akibat luka tusuk di perutnya, dan sekarang wanita yang tengah mengandung buah cinta pertamanya itu tengah berada di bagian kandungan guna memeriksa bayi dalam rahimnya.
Dokter itu tersenyum kecil menatap pasangan suami istri yang tampak tegang itu, " Semua baik-baik saja,posisi bayinya bergeser saat terjadi penusukan. Ia anak yang kuat, bersyukur pula lukanya tidak dalam" jawabnya sembari mengelap gel di perut Sungmin lalu menutupnya dengan selimut.
Kyuhyun pun sigap membenarkan letak pakaian istrinya, tak lupa menggenggam tangannya dan mendesah lega.
"Syukurlah" ucapnya menengok Sungmin yang masih diam saja sejak dua hari yang lalu. Kyuhyun paham, mungkin istrinya itu masih marah padanya pasca penusukan itu namun sungguh ia berani bersumpah ia tidak sengaja dan tidak mengerti mengapa hal itu tiba-tiba terjadi, seperti ada yang berusaha menggerakkan tangannya saat itu untuk menusuk Sungmin.
Pihak kepolisian juga sudah menganggap hal ini merupakan kecelakaan dan ketidaksengajaan saja. Tapi tetap saja membuat hati pria yang berstatus sebagai suami dari Lee Sungmin tersebut tidak enak.
"Kyu" panggil Sungmin saat sang suami tengah mengelus perutnya.
"Kau butuh sesuatu?" tanya Kyuhyun tersenyum lega karena akhirnya Sungmin mau membuka suaranya.
Sungmin menggeleng, " Kita pindah saja ya, aku takut, aku takut Kyuhyun"
Kyuhyun mencoba menenangkan Sungmin yang bergetar, " Aku takut jika ia akan kembali lagi untuk mengambilnya" lanjut Sungmin lagi kali ini ia memeluk perutnya posesif. Kyuhyun mengerinyit pertanda ia tidak mengerti tentang apa yang dibicarakan istrinya itu.
"Kyu" rengeknya lagi meminta agar permohonannya dipenuhi, "Aku benar-benar takut jika ia akan kembali lagi dan mengincar bayi kita, aku tidak mau hal yang buruk terjadi lagi, aku tidak mau , aku tidak…" rancau Sungmin tak jelas membuat keringat jatuh di sekitaran pelipisnya. Membuat Kyuhyun bertingkah untuk mendaratkan kecupan di bibir wanitanya.
'Cup'
Kyuhyun membungkam bibir bershape-m milik istrinya itu dengan sebuah ciuman yang dalam dan panjang. Perlahan nafas Sungmin yang tadi memburu semakin memendek seiring dengan rasa kantuknya, Ia terlelap begitu saja.
Kyuhyun lebih banyak merenung dan diam pasca kejadian penusukan Sungmin olehnya sendiri. Di elusnya kening sang istri dengan sayang, "Apa yang sebenarnya kau lihat dan kau alami malam itu Sungmin-ah?" manik matanya menatap Sungmin teduh lalu beralih ke perut Sungmin yang buncit. Anaknya , buah hatinya yang hampir saja celaka karena ulahnya.
Haruskah ia menghubungi Lee Eunhyuk? Kyuhyun tampak berfikir. Dan entah kenapa nama wanita itu yang terlintas di benaknya. Hingga suara ketukan pintu membuyarakan pikiran Kyuhyun. Itu Kim Jaejoong yang muncul dengan membawa sebuah tas besar berisi keperluan Sungmin. Wanita paruh baya yang berparas ayu tersebut tersenyum, menyapa tuannya yang sedang duduk di samping katil Sungmin.
"Ahjumma sudah datang?" tanya Kyuhyun berbasa-basi.
"Iya tuan, bagaimana keadaan nyonya?" tanya Jaejoong yang juga hanya berbasa-basi.
"Semua baik-baik saja, untung saja bayi kami sangat kuat sehingga tidak ada satupun yang perlu dicemaskan" jawab Kyuhyun.
"Syukurlah kalau begitu" balas Jaejoong lalu wanita itu mencari kesibukan sendiri dengan membereskan pakaian dan barang-barang Sungmin ke dalam lemari kecil yang ada disana.
"Oh ya, aku tidak melihat ahjumma sejak dua hari yang lalu, kau kemana saat itu?" celetuk Kyuhyun begitu saja, entahlah, pria itu juga tidak tahu mengapa pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya. Tapi setelh di pikir-pikir lagi, memang benar ia sama sekali tidak melihat Jaejoong semenjak dua hari yang lalu.
"Aku waktu itu, kebetulan saat itu aku sedang pergi sebentar untuk menengok ibu dari pamanku yang sakit punggung, dan saat aku kembali aku mendengar kabar jika nyonya mengalami musibah di malam itu. Saya turut prihatin tuan" aku Jaejoong yang berusaha untuk menutupi kegugupannya dengan kesibukan membereskan beberapa stel pakaian Sungmin.
"Benarkah? Eh kau tahu dari mana jika kami disini, perasaan aku tidak memberitahu ahjumma. Bahkan aku saja baru kepikiran sekarang, jika aku lupa menghubungimu?" lanjut Kyuhyun kembali. Membuat Jaejoong semakin kikuk, ia tersudut saat melihat tatapan Kyuhyun yang mengarah padanya sampai,
"Sa, saya mengetahui jika nyonya dirawat disini dari petugas keamanana apartement tuan dan lagi…"
"Yeoboseyo?" ucapan Jaejoong terputus begitu saja ketika Kyuhyun menerima panggilan telepon.
Syukur, batin Jaejoong mengelus dadanya sendiri merasa lega. Paling tidak ia bisa mengambil ancang-ancang lagi untuk menyiapkan jawaban bohong lainnya jika Kyuhyun menanyainya lagi.
"Ahjumma aku mau keluar sebentar tolong jaga Sungmin untukku" ucap Kyuhyun tampak terburu-buru setlah menerima panggilan telepon itu. Dalam hati Jaejoong bersorak girang, tidak tahukah Kyuhyun jika hal itu adalah yang paling ditunggu Jaejoong sedari dulu.
Saat wanita itu sendirian, maka ia akan lebih mudah untuk melancarkan aksinya. Meskipun harus gagal dimalam itu setidaknya masih tersisa beberapa hari lagi saat bulan masih bersinar penuh. Dan kesempatan agar puterinya terlahir kembali akan terlaksana.
"Nde, itu sudah tugas saya tuan. Anda tidak perlu khawatir saya akan menjaga nyonya dengan baik" ucapnya mantap seraya menyeringai tanpa Kyuhyun ketahui.
.
.
.
"puterimu memerlukan jiwa baru Jaejoong-ah, dia memerlukan jiwa murni yang terlahir dari seorang wanita yang terlahir dari rasi bintang khusus. Dan wanita itu memilikinya, ia di bawah naungan bulan yang bersinar terang. Puterimu akan terlahir kembali lewat perantaranya"
Terngiang kembali akan ucapan dukun wanita itu saat Jaejoong selesai dengan pekerjaanya. Jaejoong pun menatap lamat Sungmin yang masih tertidur di katilnya. Tatapan Jaejoong lebih berpusat pada perut buncit Sungmin yang terlindung hangat di balik selimut.
"Benarkan uri Seoki akan kembali lagi pada omma" lirih Jaejoong tak kuasa menahan kesedihan dan kerinduannya akan sang anak.
Perlahan tangan itu terangkat bergetar merayap di atas perut Sungmin. Wanita yang masih tertidur itu sedikit melenguh dan mengubah posisi kepalanya saat mendapati tangan Jaejoong di perutnya, namun tak sampai membuatnya terbangun.
'Duk'
Manik bulat Jaejoong mencelos, ketika merasakan tendangan kecil dari dalam perut Sungmin. bayi kecil itu menendang dengan cukup keras, membuat Sungmin mengerinyit tak nyaman dalam tidurnya.
Sungguh hati Jaejoong terasa tersayat sembilu saat merasakan hal itu. Sadar atau tidak ia tengah meneteskan air matanya sekarang. Ada banyak sekali yang berputar di memori otaknya kini, dan juga ada banyak sekali yang mengganjal di hatinya. Katakanlah hati nuraninya kini muncul menampakkan diri.
Membuat jantung Jaejoong berdetak sangat cepat, ia tersengal seolah tak ada lagi udara yang bisa diraupnya.
Jaejoong jatuh, bersimpuh di bawah katil pasien Sungmin, wanita paruh baya itu menangis dalam diam. Air matanya tumpah ruah membasahi pipinya yang tirus. Sungguh ia dilema sekali, disatu sisi ia sangat mendambakan agar puterinya kembali namun disisi lain, hati nuraninya muncul saat merasakan ada denyut kehidupan nan rapuh di dalam rahim Sungmin.
Haruskah, ia sampai mengorbankan dua nyawa sekaligus demi keinginannya yang belum tentu tercapai?
Jaejoong sudah tidak kuat akan kerinduaanya dengan sang puteri. Sungguh ia berfikir untuk mati saja menyusul puterinya, namun…
Ada banyak hal yang tidak bisa di selesaikan hanya dengan kematian. Yang Jaejoong mau hanya satu, dan itu bukan kematian. Tapi berkumpul kembali dengan puterinya yang telah lama pergi.
Sementara itu disudut lain tampak seorang gadis muda dengan gaun putih selutut dan rambut panjang sebahu tergerai indah. Manik segaris gadis muda tak kasat mata itu memandang sedih sosok ibunya. Tangannya mengepal erat, menahan rasa tak menyenangakan yang bersarang di dadanya.
Kim Minseok, arwah gadis itu begitu sedih dan terluka saat melihat air mata yang kunjung berhenti keluar dari mata ibunya.
"Omma" lirihnya tertahan, ingin rasanya ia memeluk Jaejoong dan mengatakan jika ia ada di sampingnya selama ini, Minseok tidak pernah pergi jauh dari ibunya, ia selalu berada di sisi Jaejoong kemana pun wanita itu pergi.
Tidak, sampai dukun wanita itu datang mengacaukan segalanya. Minseok tahu jika dukun wanita itu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, ia memiliki maksud lain dengan memperalat Jaejoong. Namun apa dayanya, gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya diam dan melihat dari jauh.
"Hiks, hiks, Minseoki-ah" Jaejoong membekap mulutnya, lalu pergi keluar secepat yang ia bisa. Berlari menuju tangga darurat di rumah sakit itu dan duduk disana. Menangis dan meraung sejadi-jadinya, guna meluapkan semua emosinya.
Meninggalkan arwah gadis yang mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya itu di dalam kamar bersama Sungmin.
Hening sampai langkah kakinya membawa mendekati Sungmin. Menatap datar wajahnya yang terpejam polos.
"Eonnie, maafkan ibuku. Aku mohon maafkan ibuku atas kesalahannya padamu"
.
.
.
"Kau bodoh Jaejoong!" ucap seorang wanita tua yang entah datang dari mana dan kini sudah berdiri di hadapan Jaejoong.
"Bagaimana kau bisa di sini?" pekik Jaejoong heran, mengabaikan lelehan air mata di pipinya. Memikirkan dari mana dukun wanita itu masuk.
"Jangan memasang wajah seperti itu, dan jangan heran dengan aku yang datang dari mana" kekehnya bangga, lalu kembali memasang wajah serius, meneruskan perkataan pertamanya tadi. Mengatai Jaejoong yang bodoh.
"Pikirkan kembali tentang puterimu Jaejoong-ah. Kau lupa dengan tujuan pertamamu huh? Kau tidak ingin berkumpul lagi dengan Minseok? Apa kau lupa tentang apa yang kulihat akan puterimu dan tentang apa yang puterimu katakan sebelumnya?" bujuk dukun wanita itu dengan raut wajah yang dibuat-buat.
Pikiran Jaejoong yang sedang kacau kembali menjadi kacau lagi saat mendengar perkataan wanita tua itu. Memori otaknya memutar kembali saat pertama kali ia ingin mencari tahu kabar tentang puterinya di alam sana…
"Puterimu kesakitan, ia bilang lehernya sakit. Ia rindu sekali dengan ibunya, ia ingin terlahir kembali sebagai anak ibunya…"
"Cha, ambil ini dan lakukan perintahku. Kau tahukan jika waktu yang kita miliki tak banyak hingga bulan berhenti bersinar" dukun wanita itu memberikan sebuah bungkusan kain berwarna merah dnegan motif seperti bunga teratai di bagian depannya. Memasukkannya ke dalam kantong celana yang dipakai Jaejoong.
"Waktu kita tak banyak Jaejoong-ah. Kau tentu ingin segera bertemu dengan puterimu lagi kan?"bujuknya lagi, membuat kabut hitam di mata Jaejoong kembali lagi menguasai hatinya. Menutup nuraninya yang tadi sempat muncul.
"Puteriku" ucap Jaejoong meremas bungkusan kain itu.
.
.
.
_Supernatural_
.
.
.
Kyuhyun berlari tergesa-gesa menuju dimana mobilnya di parkir. Yang tadi menelpon itu Heechul, ibunya yang baru saja mendarat, sampai di Korea Selatan. Begitu mendengar kabar tentang menantu kesayangannya itu, Heechul buru-buru kembali dan mengambil penerbangan pertama.
"Nde, omma. Sungmin sudah tidak apa-apa sekarang, bayi kami juga sehat, tidak ada yang perlu dicemaskan. Nde, aku sungguh-sungguh minta maaf omma, aku bersalah, nde…"
Kyuhyun lagi-lagi menggumamkan kata maaf dan menunduk-nundukkan kepalanya, mendengarkan ceramah malam sang ibu lewat telepon.
"Yasudah, sekarang kau dimana?"
"Cepat jemput omma ke sini, omma sudah tidak sabar untuk memastikan keadaan menantu omma. Cepatlah Kyu!" pinta Heechul lagi
"Nde ommanim" merasa tidak tahan lagi dengan suara merdu ibunya, Kyuhyun pun mematikan sambungan telepon itu dengan nada suara yang mendayu-dayu, takut juga karena sekarang ia tengah menyetir. Baginya, ia harus segera menjemput sang ibu, lalu kembali secepatnya untuk melihat sang istri dan calon anak mereka.
"Hei, Cho Kyuhyun, Kyu, KYUHYUN, kenapa ponselnya kau matikan! Omma masih ingin bicara!" Heechul memekik, tidak ia perdulikan tatapan orang-orang yang berlalu lalang dan melihatnya mencak-mencak kesal serta berbicara sendiri pada ponselnya.
"Apa? Lihat apa kalian? Tidak pernah bicara pada ponsel ya?" sungutnya lagi.
Kita tinggalkan dulu Heechul yang sedang kesal di Bandara, dan sekarang adalah Eunhyuk. Wanita satu orang putera itu kini tengah duduk merenung di ruangannya memandang sang bulan.
Pikirannya benar-benar kacau seminggu belakangan ini. Terhitung sejak beberapa bulan yang lalu, saat Kyuhyun menolak mentah-mentah bantuannya. Namun… entah mengapa, belakangan ini ia kembali merasakana aura yang begitu kuat mengelilingi Sungmin.
Entah pertanda apa itu. semoga hanya hal yang baik yang akan terjadi nantinya… harap Eunhyuk di dalam hatinya.
'Srekkk'
Suara pintu itu terbuka, menampakkan sosok pria kecil berbalutkan piyama biru bermotif gambar super hero, Captain America. Bocah lelaki itu belahan jiwa Eunhyuk, putera semata wayang yang ia sangat sayangi.
"Omma"panggilnya parau, sembari mengucek matanya yang masih menutup separuh.
"eoh, uri Jongdae terbangun?" tanya wanita itu kemudian.
Tanpa disuruh, bocah lelaki bernama lengkap Lee Jongdae itu masuk dalam pelukan hangat ibunya. Matanya kembali terpejam saat jari-jari hangat Eunhyuk mengusap rambutnya yang hitam dan sudah mulai panjang,menutupi dahinya.
"Aigoo, rambut Jongdae sudah panjang rupanya, besok kita bercukur nde" gumam Eunhyuk yang tidak berhenti mengelus kepala sang bocah.
Wanita kelahiran bulan April itu kembali menghela nafas, saat teringat kembali tentang janin yang kini di kandung oleh Sungmin.
Yang mereka incar bukan hanya Sungmin seorang, tapi juga janin yang masih dikandung oleh Sungmin. Mereka, atau dalam kasus ini dukun wanita itu bukan hanya mengincar jiwa Sungmin untuk dijadikannya media mencari kekuatan, tetapi juga bayinya.
Ia memerlukan sebuah jiwa suci nan murni untuk dijadikan tumbal sebagai bahan persembahan sehingga menjadikannya semakin kuat. Dan itu adalah janin yang di kandung Sungmin.
Kasihan Jaejoong, sebenarnya ia telah ditipu mentah-mentah oleh dukun wanita itu. Ia hanya mengambil keuntungan lewat Minseok dan Jaejoong. Semua yang dikatakan dukun wanita itu kepada Jaejoong itu omong kosong. Ia hanya ingin mengambil keuntungan dengan mengorbankan Sungmin dan janinya demi menambah kekuatan supernaturalnya.
"Hyukie-ah…"
Enhyuk, merasakan bulu romanya berdiri seketika saat ada seseorang yang memanggil namanya. Suara itu, aroma tubuh itu… ia sangat mengenalnya dengan jelas…
"Ki,Kibum…" nafas Eunhyuk tercekat, begitu saat melihat sesosok wanita berparas putih seperti salju dengan bibir yang kalah pucat dengan wajahnya serta kelereng matanya yang berwarna kebiruan.
Sosok itu adalah Kibum, istri dari Siwon yang meninggal beberapa tahun yang lalu.
.
.
.
Sungmin mencoba bersuara namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ia kesulitan untuk bernafas sekarang. Entah kenapa ia merasa seperti terseret dalam sebuah arus yang membawanya ke dimensi lain.
Wanita itu berdiri disebuah ruangan yang lampunya redup. Samar-samar ia hanya melihat sebuah meja belajar yang lengkap dengan segala perabot di atasnya, seperti buku-buku, lampu belajar, dan lainnya. Sungmin merasakan udara dingin menusuk kulitnya, sebisa mungkin ia mencoba menghalau udara dingin yang semakin menusuk kulinya itu dengan mengusap-ngusap tangan dan lengannya.
'DEG'
Tiba-tiba udara menjadi semakin dingin, dan dingin sampai nyala lampu di ruangan itu semakin redup dan akhirnya padam.
Sungmin melangkah mundur mencari jalan keluar menuju cahaya.
Ada sebuah jendela geser yang ia temukan ketika ia meraba sekitar…
Dan,
"Siapa kau?" pekik Sungmin namun suaranya tidak bisa keluar.
Kelereng mata Sungmin melebar saat melihat sebuah kaki menganntung berada di depannya. Tepat sesaat ia mendengar suara kursi yang terjatuh…
Jendela geser yang terbuka itu, semakin mengundang udara dingin dan beku untuk masuk ke dalam.
Sungmin tercekat dan panik, ia berusaha untuk lari dan berteriak namun tidak bisa…
Ia hanya dapat berdiri terpaku disatu titik di ruangan itu.
"Siapa kau?"ucap Sungmin dalam hatinya, sungguh ia mulai merasa sangat takut sekarang. Sebuah ketakutan yang teramat besar saat ini tengah menghampirinya.
"Siapa kau?" ujar Sungmin kembali memakasakan suaranya untuk keluar namun lagi-lagi tidak bisa. Kemudian wanita kelahiran Januari itu mendengar suara tangis. Ruangan disekitar Sungmin berputar kembali, nafas wanita bersuami itu pun memendek, hingga ia melihat seorang gadis muda dengan usia sekitar lima belasan, posisi gadis itu meringkuk dengan sebuah sebuah laptop yang menyala bersikan ratusan komentar pedas menusuk yang sepertinya dilayangkan untuknya…
.
"Dasar gendut, babi gendut!"
"Gadis yang melakukan operasi sedot lemak sepertimu mana pantas berfoto dengan Kangin oppa"
"Kau sampah, cih… aku tidak percaya kau benar-benar berdiet"
"Babi gendut, babi gendut!"
"Bukan, aku bukan babi, dan aku benar-benar berdiet. Sungguh, aku tidak pernah ,melakukan operasi sedot lemak atau operasi apapun, sungguh.. aku bukan babi gendut"
"Omma, maafkan Minseokie, aku benar-benar sudah tidak tahan, sekali lagi maafkan aku"
.
"Andwee, jangan lakukan itu!" pekik Sungmin saat melihat gadis itu tiba-tiba sudah bersiap untuk menjerat lehernya sendiri.
.
.
.
_Supernatural_
.
.
.
"hosh, hosh,hosh…" Sungmin kewalahan untuk mengantur nafasnya, pupil matanya masih membiasakan diri dengan cahaya saat ia melihat sebuah kilauan yang terpncar dari sebuah ujung pisau yang kini tengah di arahnya ke jantungnya.
"Ahjumma" panggilnya secara terputus, saat melihat Jaejoong berada dalam posisi bersiap untuk menikam jantungya…
"Maafkan aku, aku harus melakukan ini, demi puteriku agar ia bisa terlahir kembali, maafkan aku"
Sungmin tercekat, tubuhnya terasa sangat sulit untuk digerakan, sungguh ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat, saat melihat Jaejoong tengah bersiap untuk menusukkan belati perak bersimbolkan, entah apa itu, Sungmin tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Sampai…
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Sign
-hyejinpark-
.
Terimakasih sudah membaca, dan yang berMINAT silahkan REVIEW ^^
.
042615
.
