Author :: Aurelia Christy
Genre :: Romantic and Sad
Warning :: YAOI. Ini pertama kalinya aku membuat FF dari member BTS, I'm still ELF but gak sengaja ngeliat kedekatan V dan Jhope member BTS, there something special between them, mengingatkan aku dengan kedekatan KyuMin :') more than brothership, not just fanservice, aku gak berani bilang Vhope is real like Kyumin do, but tetap ada yang special antara V dan Jhope. Rasanya ini seperti pertama kali jatuh cinta pada Kyumin, i love this couple too J. DON'T LIKE DON'T READ ok ^^v
Cast : Taehyung as Himself
Hoseok as Himself
Cho Kyuhyun as Himself
Lee Sungmin as Himself
Kim Saeun as Herself
Jeon Jongkook as Himself
And the other's member
Pairing: Vhope
Kyumin
Apa salah Appa padanya.. siapa Jung Hoseok sebenarnya? Perusahaan Cho.. Cho.. OMONA! Aku baru ingat.. Jung Hoseok pasti ada hubungannya dengan perusahaan Cho Coorporation!
Part VI
Author's POV
"Jimin-ah, apakah kau sudah membersihkan meja 24? Ada pelanggan yang baru datang" namja bertubuh gempal setengah berteriak pada lelaki yang sedang sibuk menata piring di atas meja.
"Ah, ne Shindong hyung, aku akan segera membersihkannya" Dengan cekatan namja yang memiliki smile eyes ini membersihkan meja dan melayani tamunya dengan sopan.
"Park Jimin?" dia setengah terkejut dengan suara wanita yang tiba-tiba ada dibelakangnya "Kau dipanggil keruangan Mr. Jeon"
"Ne Da Eun-ssi, saya segera kesana" Gugup. Jantung Jimin seketika berdegup dua kali, ah tidak, tiga kali lebih kencang dari biasanya. Ada apa pemilik restoran ini memanggilnya? Apakah dia berbuat kesalahan? Dengan perlahan dia mengetuk dan membuka pintu ruangan yang terletak di lantai dua.
"Permisi sangjanim, apakah anda memanggil saya?"
Mata mereka bertemu sesaat setelah namja yang dipanggilnya sangjanim itu mendongakkan kepalanya. "Park Jimin?"
"Ne Sangjanim. Park Jimin imnida, saya Waiters baru di restoran ini, mianhae saya belum sempat memperkenalkan diri pada anda" Jimin membungkuk dengan hormat.
"Jangan memanggil aku dengan sebutan 'sangjanim' aku merasa sangat tua"
"Ah, mianhae Mr. Jeon, saya tidak tau harus memanggil anda dengan apa, maaf untuk kelancangan saya" Tangan Jimin mulai berkeringan dingin, pasti setelah ini dia akan dihukum karena kekurangajarannya.
"Aku rasa kita sepantaran Jimin-ssi, berapa usiamu?"
"24 tahun sangjanim"
"Sudah kuduga, usia kita sama, panggil saja aku Jungkook, Jimin-ah" Namja itu berkedip beberapa kali mendengar penuturan sang atasan, bagaimana bisa namja dengan usia semuda ini, bisa mendirikan restoran bintang 5, tampan, kaya raya tapi tetap humble seperti ini. Bahkan diusia yang sama Jimin masih berkutat dengan pekerjaan sebagai pelayan untuk menyambung hidup. Sungguh hidup ini tidak adil.
"Mianhae Mr. Jeon, saya rasa saya tidak pantas memanggilmu dengan sebutan itu"
"Jangan terlalu formal denganku Jimin-ah, bukankah kita sebaya? Aku hanya ingin mengucapkan selamat bergabung di restoran ini"
"Kamsahamnida Mr. Jeon, saya sangan tersanjung dengan..." Kalimat Jimin diinterupsi oleh suara handphonenya yang tiba-tiba berbunyi. 'Siapa yang menelepon disaat penting seperti ini, bodoh' gerutunya dalam hati
"Silakan diangkat Jimin-ah, mungkin telepon penting"
"Yeoboseo?.. Ah Taehyung-ah waeyo?.." Jimin tidak menyadari bahwa namja yang duduk dihadapannya seketika membeku saat dia menyebut nama yang sudah tidak asing lagi ditelinganya.
"Aku sedang bekerja. Kau menangis?.. Hei hei, tenangkan dirimu dulu ne, nanti kutelepon, jangan kemana-mana, arrachi?" Bip. Raut cemas menghiasi wajah Jimin, mendengar sahabatnya menangis sesegukan membuat wajahnya pias seketika. "Mianhae Mr. Jeon, itu tadi.."
"Dari Taehyung? Kim Taehyung?"
"Ah, anda mengenalnya juga?"
Pertanyaan terakhir terabaikan oleh namja itu, karena pikiran pemilik restoran yang bernama Mr. Jeon itu disibukan dengan banyak pertanyaan. 'Kau menangis? Apa yang terjadi Taehyung-ah?'
Hoseok POV
Ya Tuhan! Dia pasti mendengarnya.. pasti! Tapi, kenapa dia tidak bereaksi apa-apa? Dia pasti tidak mendengar, semoga.. Hei, bukankah itu baik?! Aku sudah meniduri dan menikmati tubuhnya, sekarang aku hanya perlu mencampakannya setelah dia menyerahkan segalanya untukku.
Ya kan Hoseok? Mungkin itu.. itu baik.. tapi kenapa hatiku gelisah.. aku takut, setelah dia tau dia akan meninggalkanku..
Hei, perasaan ini.. aku benar-benar gelisah! Aiiissshhh~ kenapa aku bersikap seperti seorang terdakwa?
Aku benar-benar tidak konsentrasi. Dari pagi tadi aku hanya menatap beberapa lembar kertas yang berserakan dimejaku dengan tatapan kosong. Ada apa denganmu Jung Hoseok? Aku menyeruput pelan coffelatte hangat diruang kerjaku. Ini sudah tiga minggu sejak perubahan yang kurasakan dari diri Taehyung, dia lebih pendiam, sering melamun, dan mungkin ini perasaanku tapi.. dia seolah menghindariku. Apakah itu hanya pikiranku saja? Selama ini dia tidak pernah menolak saat aku menciumnya, dan aku bisa rasakan bibir itu juga membalas ciuman panasku. Tapi akhir-akhir ini dia seperti orang lain, tatapannya kadang teduh, tapi kadang tajam, sarat akan kemarahan. Tapi kadang sikapnya manis, seperti hari ini, pagi-pagi sekali dia datang ke apartement dan menyiapkan setelan jas kemeja putih polos, dasi merah bermotif garis, serta celana favoritku. Aku tetap merasa sikapnya sangat hangat dan menyayangiku. Tapi kadang sikapnya dingin, ketus dan setiap kali aku ingin menjemputnya dikantor dia menolak dengan banyak alasan, dia sibuk atau sedang meeting misalnya. Ada apa dengan Taehyung? Dia berubah, SHIT! Sudah gilakah aku? Pikiranku hanya dipenuhi oleh KIM TAEHYUNG!
Aku menarik nafas dalam-dalam, aku merogoh kantong celanaku dan berusaha menghubungi seseorang.
"Yeoboseo hyung"
"Hm.. Ada apa kau mencariku? Setelah sikapmu selama ini yang berusaha menghindariku hm?"
"Mianhae hyung, bisakah malam ini kita bertemu?"
"Molla, aku sedang tidak ingin bertemu denganmu"
"Aku jemput sekarang ya hyung, aku perlu berbicara denganmu, jebal" aku benar-benar perlu teman bicara saat ini
"Ne, jemput aku dirumah"
Tak lama aku sudah tiba didepan rumahnya, Yoongi hyung, kekasihku, sudah berdiri dengan santai didepan rumahnya.
Aku menurunkan kaca mobilku "Masuklah hyung" seruku
"Kita kemana?"
"Kau mau kemana?
"Jangan kurang ajar Hosiki-ah, kau yang mengajakku pergi lalu kau bertanya padaku mau kemana"
Aku tertawa pelan, inilah kekasihku yang kusayangi, mulutnya memang pedas dan sifatnya dingin, tapi itu yang kusukai dari dia, dia adalah orang yang jujur, realitis, tidak suka merengek, tidak manja, dan nasehatnya selalu ampuh untuk namja sebejat aku. Aku menyayanginya sejak setahun yang lalu saat aku melamarnya menjadi kekasihku. "Arraseo hyung, kita ke appartementku saja ne"
Taehyung POV
Terima kasih untukmu laki-laki brengsek yang sudah menghancurkan hidupku. Merampas hal yang paling berharga dihidupku. Hatiku. Hidupku. Hancur.
Awalnya aku mengira semua akan berjalan baik-baik saja, aku bertemu dan jatuh cinta pada sosok tampan berharisma bernama Jung Hoseok, dan ingin memperkenalkannya pada Appa dan Eomma, memohon ijin anaknya untuk menikah dengan namja, meminta maaf jika aku tidak bisa menikah dengan yeoja seperti yang mereka inginkan dan aku bahagia.
Dia. Dia cukup sempurna ada awalnya. Semua sisi buruknya tertutup oleh sisi baiknya yang memukau. Perhatian dan sikap pengertian yang dia berikan sempat membuatku menjadi namja paling bahagia didunia.
Tapi itu tidak lama, semua dengan cepat berubah, tepat pada saat aku menyerahkan tubuhku pada pelukannya, tepat pada saat aku mempercayakan hal yang paling berharga padanya. Aku baru menyadari bahwa kesempurnaan yang dia miliki adalah omong kosong. Nol besar. Semu. Tidak nyata. Bullshit! Dia adalah iblis yang tidak memiliki hati nurani.
Ya. Aku baru menyadarinya. Dia adalah anak dari Mr. Cho, pemilik perusahaan yang sudah menggugat Appa ke pengadilan, yang menuduh tanpa bukti, yang tiba-tiba menganggap kami pengkhianat.. dia adalah putra angkat Mr. Cho yang bernama JUNG HOSEOK! Dengan perlahan aku mengusap air mataku yang dengan bodohnya mengalir tanpa henti. Hobie hyung, kau tau? Kau kejam dan tidak berperasaan, tapi kenapa aku masih mencintaimu hyung? Kenapa aku tidak bsia meninggalkanmu walaupun aku tau semua ini hanya sandiwara? Tidak sadarkah kau bahwa cintaku tulus? Kau adalah namja yang aku pilih dan aku cintai. Kenapa tidak mudah melepaskanmu hyung?
"Sedang melamun Taehyung-ssi?"
Aku segera sadar dari lamunanku dan menoleh kearah pintu "Omona! APPA!" Aku segera menghambur kepelukan namja paruh baya yang masih berdiri dengan tatapan lembutnya.
"Kapan Appa tiba di Seoul? Kenapa Appa tidak menghubungiku terlebih dahulu? Aku kan bisa menjemput Appa. Lalu Eomma mana? Apakah dia masih di Jepang?" Seruku tanpa henti. Aku tidak bisa menahan kebahagiaanku bertemu dengan lelaki paruh baya ini.
"Kau tidak berubah Tae-ah, tetap menjadi Tae yang manja dan selalu ingin tau seperti ini hm?.." aku mengerucutkan bibirku. "Wajar kan aku bertanya, apalagi Appa datang tiba-tiba seperti ini"
"Hahaha, ne anakku, Appa tadi mengetuk pintu tapi kau tidak menyadarinya. Kau masih menatap laptopmu dengan pandangan kosong. Dan kenapa kau menangis hm?.." Naluri seorang ayah memang tidak bisa dibohongi,hatiku sedang terluka Appa, hatiku berdarah! Ingin kuteriakan itu pada Appa, tapi aku tidak bisa, aku bisa mengatasi masalahku sendirian, walaupun aku sadar ini juga ada hubungannya dengan Appa.
Aku perlu teman bicara, aku harus menumpahkan segalanya. Tapi dengan siapa? Siapa yang bisa kupercaya? Selain Jimin-ah aku tidak memiliki teman dekat. Tadi pagi aku mencoba menghubunginya, menceritakan semua lukaku, tapi aku tidak ingin menganggunya. Dia sudah cukup sibuk dengan pekerjaan barunya. Apakah aku harus menceritakan semuanya pada Appa?
"Ah, tidak ada apa-apa, aku hanya merindukan kalian Appa, 3 bulan lebih kita sudah tidak bertemu" Mianhaee Appa, aku berbohong
"Kalau kau merindukan kami, kau bisa menyusul ke Jepang kan nak?"
"Aku belum bisa meninggalkan perusahaan Appa, kau tau keadaan kita masih belum stabil, apalagi berkas-berkas tuntutan pada Sendbill sudah masuk ke pengadilan, jika memang berkasnya sudah lengkap kita akan dipanggil sebagai terlapor Appa. Ini membuatku sangat tidak tenang"
"Cho Coorporation ne? Sudah Appa katakan dari awal, jangan bekerjasama dengan perusahaan itu, tapi kau tidak mendengarkan Appa"
"Mianhae Appa, mereka adalah salah satu perusahaan yang punya kredibiltas tinggi dalam dunia otomotif, produk-produk yang mereka keluarkan tidak pernah mengecewakan konsumen, dan setelah partner kerja kita sebelumnya bangkrut, hanya mereka satu-satunya jalan keluar agar kita tetap bisa memproduksi mobil-mobil unggulan kita. Aku juga tidak menyangka mereka melayangkan tuntutan pada kita dengan alasan yang mengada-ada"
"Itulah alasan kenapa Appa tidak mau bersentuhan sama sekali dengan keluarga Cho" aku tertegun. Ada kilatan kemarahan dimata Appa. Tapi kenapa? Apa yang membuat Appa bersikap dingin dengan pimpinan perusahaan itu?
"Appa, pernah memiliki masalah dengan Mr. Cho?" aku bertanya hati-hati
"Ah, molla, Appa tidak mengenalnya, hanya saja Appa tidak mau berurusan dengan dengannya" Appa memalingkan wajahnya. Kau tidak pandai berbohong Appa.
"Appa mau menceritakannya padaku?"
"Eoh? Menceritakan tentang apa?"
"Siapa Mr. Cho sebenarnya?"
"Bukan siapa-siapa"
Seokjin POV
Aku membuka mataku perlahan saat cahaya matahari menyembul dari balik gorden yang tidak tertutup dengan rapat. Kepalaku masih terasa berat untuk bangun pagi ini. Tapi aku harus mengumpulkan semua rohku yang masih mengawang-awang diudara. Aw, kenapa tubuhku semua terasa luar biasa pegal. Otakku berusaha mengingat apa yang terjadi padaku semalam. Ini dimana? Kenapa badan ini terasa lengket?
"Good morning hyung"
Wait. Itu suara Namjoon. Wait. Aku memalingkan wajahku perlahan menatap namja yang sedang tersenyum dengan manisnya disebelahku. Dengan posisi tubuh yang miring menghadapku dan tangan kiri yang menopang kepalanya, wajah itu tersenyum. Mau tidak mau aku membelalakan kedua mataku melihat pemandangan dihadapanku saat ini. NAMJA INI BERTELANJANG DADA!
"Na..namjoon-ah, jangan katakan kalau.." Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Ingatanku tentang kejadian kemarin mulai pulih. Meeting, makan malam bersama, alkohol, dia menelanjangi dirinya dan jadilah pagi ini kami dalam posisi seperti ini. Fixed! Kami melakukannya! SIAL!
"Kau tidak mengingatnya hyung? Aku tidak percaya, wajahmu sangat menikmatinya semalam"
Shit! Seruku dalam hati. Aku langsung bangkit dari tempat tidurku sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang juga tidak mengenakan sehelai benangpun.
"Tunggu dulu hyung. Waeyo? Kenapa kau terlihat begitu terkejut. Bukankah tadi malam sangat luar biasa?" tanyanya sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Apakah dia mencoba untuk menggodaku? Aku langsung menutup wajahku, menyembunyikannya dengan telapak tanganku. Bodohnya kau Kim Seokjin. Apa yang kau lakukan semalam diluar batas. Bagaimana bisa kalian berdua berakhir diranjang seperti ini? Apa yang akan kau lakukan jika Appa mu tau kau tidur dengan wakil Direktur perusahaannya? Argh!
Aku menatapnya yang masih tersenyum mesum "Ini suatu kesalahan Namjoon-ah" aku benar-benar seperti gadis yang kehilangan keperawanannya. Selama 30 tahun aku menjaga tubuhku agar tidak menyentuh yeoja manapun sebelum aku menikah. Tapi kali ini bahkan aku yang disentuh oleh namja yang usianya bahkan dua tahun lebih muda dariku. Nasib macam apa ini. Aku ingin segera pergi dari sini, tapi seluruh tubuh, terutama tubuh bagian bawahku, terasa sangat nyeri dan pegal. Aku tidak peduli, aku segera memunguti pakaianku yang berserakan dilantai lantas memakainya sesegera mungkin.
"Kau mau cepat-cepat pulang hyung? Ayo mandilah bersamaku" Kalimat macam apa itu? Mandi bersama? Bahkan dia bukan kekasihku. Namjoon-ah, apa kau selalu seperti ini dengan orang yang kau ajak tidur?
"Jangan pergi dulu hyung" Dia memelukku dari belakang, membuat aku membeku, ini terasa hangat. "Oh hyung, sudah lama aku menginginkan hal ini, menyetuhmu, menciummu, menjadikanmu seutuhnya milikku. Menikahlah denganku hyung" ucapnya sambil mengecup pelan leherku, sambil menopang dagunya dibahuku.
Tunggu sebentar. Setelah semua yang terjadi dengan tiba-tiba dan dengan tiba-tiba pula dia mengajakku untuk menikah? "Kau sudah gila Namjoon-ah" Aku melepaskan diri dari pelukannya, tapi hanya sebentar. Dia membalikan tubuhku dan merengkuh pinggangku, memelukku dengan erat.
"Jangan menolakku hyung" dia berkata sambil membelai lembut pipiku, aku memejamkan mata, ini terasa sangat hangat dan aku terbuai dengan perlakuannya. "Aku mengajakmu menikah karena aku sudah lama jatuh cinta padamu sejak aku bekerja di perusahaan keluargamu. Aku menginginkanmu hyung, menikahlah denganku" kalimatnya terdengar begitu tulus
Aku kembali menatapnya, berusaha mencari kebohongan dari mata itu, tapi tidak kutemukan, mata itu terlihat terlalu jujur. Dan aku hanya bisa kembali membeku mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulutnya.
"Kim Seokjin, will you marry me?"
'Appa, tolong aku'
Hoseok POV
Hening. Aku tau dia juga merasakan hal yang sama, kami hanya diam beberapa saat, sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Apakah aku harus jujur? Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya? Aku menyayanginya tapi perasaan ini tidak sama seperti dulu.
"Hyung, aku tidak tau harus bercerita mulai dari mana"
"Katakan saja Hosiki-ah, kau tau aku orang yang tidak suka bertele-tele"
"Hyung, aku ingin kita putus"
"..."
"Hyung, aku.. aku tidak bisa meneruskan hubungan ini, mianhae" aku terlalu takut melihat kearahnya, aku tau dia sedang menatapku tajam.
"Gara-gara namja itu kan?" aku menelan ludahku yang terasa mengental. Shit! Apakah aku harus jujur? "Benar? Jawab aku Hosiki-ah"
"Ne hyung, mianhae, aku rasa aku benar-benar jatuh cinta padanya, aku tidak bisa meninggalkannya hyung" kali ini aku memberanikan diri untuk mendongakkan kepalaku dan akhirnya mata kami bertemu
"Bagaimana jika kukatakan aku tidak mau" Aku tercekat, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku takut dia marah
"Aku tidak akan bertanya kau memilihku atau dia Hosiki-ah, karena aku tau kau pasti memilih namja yang baru kau kenal daripada aku yang sudah setahun lebih menjadi kekasihmu" Kenapa semua kalimatnya telak menusukku. "Jadi aku bertanya, apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mengakhiri hubungan ini?"
"A..aku.. Aku tetap akan memilihnya hyung, mianhae, mianhae" Shit! Kenapa aku jadi namja lemah seperti ini.
"Atau aku yang akan mengatakan semua padanya? Hm? Aku mau tau apa dia masih mau menjadi kekasih lelaki brengsek yang mendekatinya hanya untuk membalas dendam"
"Kumohon jangan hyung, jangan katakan apapun kepadanya, dia tidak tau apa-apa. Dia disini korban dan aku tidak ingin menyakitinya lagi hyung, kumohon" Aku benar-benar ingin menangis mendengar kalimatnya barusan.
"Oh..oh.. Jung Hoseok, kau memohon padaku? Aku tidak percaya ini. Kemana Hoseok yang egois dan keras kepala yang aku kenal? Dia cepat sekali mengubahmu hm?" Nada sinis dan kemarahan tersirat dari kalimatnya. Hyung, mianhae.. "Kau sudah menidurinya?" Aku membeku, apa yang harus kukatakan. "Sudah kuduga, kau bahkan belum pernah meniduriku, kau tidak pernah benar-benar mencintaiku"
"Hyung, itu tidak benar, aku menyayangimu hyung, tapi aku yang kurasakan padanya berbeda, aku mencintainya hyung, aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia. Aku masuk dalam jebakan yang kubuat sendiri, kumohon mengertilah keadaanku" Seruku frustasi
"Ck! Pabo!" Lagi-lagi aku hanya diam. Semua yang dia katakan benar. "Jangan sampai kau menyesal dengan keputusanmu sendiri"
"Mianhae hyung, mianhae.. aku bukan kekasih yang baik untukmu"
"Haahhh.. Kau bukan Jung Hoseok yang kukenal, aku sudah tidak berminat denganmu" Tunggu, dia bilang apa? Semudah itukah kami mengakhiri hubungan ini?
"Hyung, kau benar-benar tidak marah padaku?"
"Huft, bagaimana ya. Aku menyayangimu Hosiki-ah, tapi aku realistis saja. Aku tidak akan mempertahankan orang yang tidak mau mempertahankanku" serunya ringan. Dia benar-benar orang yang tidak suka bertele-tele. Ini yang dulu membuat aku jatuh cinta padanya. Namja didepanku ini selalu berkata jujur dan blak-blakan.
"Hyung, mianhae.."
"Berhenti meminta maaf Hosiki-ah, kau seperti orang lain. Kau membuatku muak" Aku hanya diam. Bencilah aku sebanyak yang kau mau hyung, aku sangat menyayangimu dan aku tidak mau menyakitimu lebih banyak lagi.
"Kita masih bisa berteman kan hyung?"
"Apa aku harus menjawab ya?" Aku memberanikan diri untuk menatap matanya, sorot mata yang kecewa tapi tetap teduh. Sekali lagi kukatakan, mianhae hyung..
"Baiklah, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi kan?"
"..."
"Mari berteman" Aku tidak percaya, mulutku hampir terbuka lebar saat dia berjalan mendekat kearahku, menarikku untuk berdiri dan kami berhadap-hadapan sekarang. Lama kami saling bertatapan, mata namja yang dulu sangat aku puja, aku cinta, menatapku lekat, sungguh aku ingin menangis sekarang.
"Aku mencintaimu Hosiki-ah, sangat mencintaimu" Ucapnya lembut sambil mempertemukan kening kami, bersentuhan, mengalirkan kehangatan. Aku hanya bisa memejamkan mata berusaha menahan air mataku yang tumpah. Aku kekasih yang jahat. "Tapi aku rela melepasmu untuknya, aku tidak pernah menuntut apa-apa padamu, aku hanya ingin kau bahagia" Air mata sialan, kenapa kau menetes dengan manis dipipiku. "Berbahagialah changiya, berhenti bermain-main, dia adalah namja yang terlalu berharga untuk kau sakiti. Hentikan permainanmu dan bahagiakan dia, ne?" Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk lemah, kali ini aku tidak akan mengecewakanmu hyung.
"Hyung, terima kasih, aku menyayangimu" Kalimatku terhenti saat dia mengecup pelan bibirku. Hanya bersentuhan, dan aku terkejut, aku tidak menolak tapi tidak juga membalas, ciuman perpisahankan kah ini? Bibir kami basah. Bukan karena air mataku, tapi air matanya yang juga menetes perlahan dari pelupuk matanya yang terpejam. Kami melepaskan tautan bibir kami dan kembali saling bertatapan. Tersenyum seolah ada satu beban yang hilang dari hati kami masing-masing.
"Kajja, antar aku pulang, aku sudah sangat mengantuk" serunya berbalik sambil berjalan kearah pintu
'Terima kasih Yoongi hyung..'
TO BE CONTINUED
Yoonseok menurut Author juga punya hubungan yang dekat, Yoongi oppa selalu terlihat comfort kalo udah bersama Hoseok ^^ Tapi tetap laahh,, Vhope lebih real haha :D Jangan lupa follow my Wattpad aurelia_vhope137 ne, gumawo ^^
