Pairing : Jaehyun x Doyoung [JaeDo]
Warning : Yaoi, boyslove, typo
Doyoung memandangi langit-langit rumah sakit. Gelap yang menyergapnya malam itu bukanlah rasa ngantuk, melainkan batas akhir tubuhnya merasakan udara dingin. Tapi siapa gerangan yang berbaik hati membawanya ketempat ini. Mungkin saja orang yang menolongnya adalah pria yang ada disampingnya tadi malam.
"Oh kau sudah sadar rupanya."
Pandangan Doyoung teralihkan pada seorang wanita berpakaian perawat yang baru saja memasuki kamar rawatnya.
"Apa yang kau rasakan, Doyoung-ssi?"
Doyoung tetap diam mengamati wanita itu, lalu mengangguk pelan dengan senyum kecil.
"Kau terkena hipotermia tadi malam, beruntung kau dibawa secepatnya kesini, kalau terlambat mungkin kau sudah melayang ke surga sana." Doyoung diam mengamati saja bagaimana wanita itu dengan telaten memeriksanya.
"Aku Koeun, oh iyah karena kekasih mu sedang keluar, kau bisa menekan tombol ini jika kau memerlukan sesuatu, salah satu dari perawat disini akan mengunjungi mu." Jari lentik gadis itu menunjuk sebuah tombol yang tersambung dengan kabel pada sisi kanan tubuh Doyoung yang tangannya tidak tersambung jarum infus.
Tunggu? Kekasih?
"Kekasih?" Doyoung membeo menatap gadis itu.
"Iya, kekasih mu." Wanita itu mendekap papan clipboardnya. "Aku benar-benar tak percaya, selama ini orang-orang tak tau bagaimana kehidupan asmara seorang Jung Jaehyun, pewaris Jung Corp."
Gadis itu menatap jamnya yang tiba-tiba berbunyi, melanjut tanpa tau perubahan raut wajah Doyoung. "Dia bilang kau berada diudara dingin karena dia terlambat menjemput mu Doyoung-ssi, semalaman dia menunggui mu, tapi kau tenang saja tak akan ada orang sini yang berani membuka mulutnya, oke bye maaf tak bisa menemani mu lebih lama, take care Doyoung-ssi." Belum sempat Doyoung membuka mulutnya untuk bertanya lebih jauh, wanita itu sudah pergi terlebih dahulu.
Jung Jaehyun.
Jung Corp.
Nama itu.
Banyak Jaehyun didunia inikan? Tapi kenapa harus Jaehyun itu. Kening Doyoung mengernyit, saat pusing dikepalanya kembali berdenyut. Dan kalaupun itu benar kenapa dari semua orang yang menolongnya kenapa harus Jung Jaehyun? Sial sekali, coba saja tadi malam dia mau mengangkat sedetik saja kepalanya untuk melihat siapa pria yang berada disampingnya pasti akhirnya tak akan begini. Sekarang bagaimana dia kabur? Tubuhnya masih terlalu lelah bahkan hanya untuk menghubungi kakaknya.
Mata Doyoung membulat, ini sudah siang pasti orang rumah mencarinya.
"Ada apa Hyung?"
Dari ambang pintung Doyoung melihat seseorang yang sama sekali tak ingin ditemuinya berjalan dengan raut –mungkin Doyoung berhalusinasi, khawatir? Doyoung diam, hanya saja dengan aura yang lebih dingin. Wajahnya berpaling ke arah jendela.
"Apa kau merasa sakit? Bagian mana? Katakanlah walau hanya sepatah kata." Jaehyun meraih tangan kanan Doyoung.
"Jangan sentuh." Ucap Doyoung menyentak tangan Jaehyun. "Jangan kau mencoba menjadi orang baik dihadapan ku Jaehyun-ssi." Doyoung mendesis diakhir.
"Aku tidak sedang mencoba hyung, aku tulus." Kedua tangan Jaehyun mengepal di kedua sisi tubuhnya.
"Harusnya kau membiarkan aku saja tadi malam, aku tak pernah berharap mendengar suara dan melihat mu lagi Jaehyun-ssi."
Doyoung menghela nafasnya, demi meredam suaranya agar tidak meledak, lalu membalikan dirinya membelakangi Jaehyun. Sedangkan pria itu –Jaehyun bergeming, membiarkan keheningan menyelimuti mereka. Rasanya jantung Jaehyun berdenyut saat itu juga mendengar ucapan Doyoung, tapi dia cukup tau diri bahwa itu tak sebanding dengan apa yang dulu Doyoung rasakan, dan itu bukan hal penting untuk saat ini ataupun nanti.. Karena tujuannya adalah untuk mendapatkan Doyoung kembali.
"Aku bisa saja melakukannya, tapi sudah lama aku mencari mu hyung." Doyoung tetap diam, Jaehyun tau lelaki itu mendengarkan. "Aku sangat merindukan mu hyung."
"Kenapa kau harus merindukan ku setelah semua perlakuan mu Jaehyun-ssi." Jaehyun tersentak.
"Aku bisa melakukan apapun hyung jika itu bisa menebusnya hyung. Aku tau tak ada sedikitpun kenangan manis yang kau lalui dengan ku. Tapi hyung, malam tanpa mu itu lebih buruk hyung."
"Banyak yang bilang jika waktu bisa menghapuskan rasa sakit hati karena cinta, karena ada ungkapan mati satu tumbuh seribu, dan itu tak benar, tak semudah itu Jae." Suara Doyoung terdengar bergetar.
"Ya, aku tau." Kedua tangan Jaehyun melingkupi kedua pipi Doyoung, jarinya bergerak mengusap lelehan air mata pria manis itu. "Karena itu aku ingin kau kembali hyung, biarkan aku menyembuhkan rasa itu."
"Terimalah uluran tangan ku hyung." Ucap Jaehyun dengan nada memohon sebelum menutupinya dengan ciuman lembut dibibir Doyoung
Setitik air diujung mata Doyoung berhenti mengalir, sedangkan rasa menyesak didada masih mendominasi hingga rasanya berat sekali walau hanya untuk sekedar menarik nafas. Sebagian ingatan tentang Jaehyun, waktu yang terakhir kali mereka lalui bersama di masa lalu, dan bibir itu, yang dengan kasar menyentuh bibirnya di masalalu. Logikanya berusaha menampik apa yang terjadi, namun relungnya tak bisa menampik bagaimana lembut dan hangatnya Jaehyun menyentuhnya hari ini. Bagaimana perasaan nyaman itu menyeruak menggeser pelarian Doyoung selama ini, candu telah menyerangnya, membuatnya tanpa sadar membalas ciuman Jaehyun.
.
.
.
"Hyung."
"Diamlah Jae."
Ciuman itu telah berhenti beberapa menit yang lalu. Doyoung menenggelamkan dirinya dalam selimut. Dia tau apa yang akan dikeluarkan Jaehyun dari mulutnya itu, namun Doyoung merasa tak sanggup harus mendengarnya secara langsung. Dia memang lelah akan semua kegamangan hidupnya, namun kenapa harus Jaehyun? Kenapa harus pria itu yang menjadi jawaban kegamangannya. Mengembalikan Doyoung pada kenyataan bahwa dia tidak pernah merasa muak sekalipun, namun marah terhadap dirinya yang tak bisa menerima kenyataan bahwa dia tak bisa menampik Jaehyun dari hidupnya, bahwa dia masih mencintai pria itu hingga sekarang.
"Tenanglah hyung, aku tak bermaksud menuntutmu mengenai tawaran ku tadi."
Karena aku sudah cukup senang kau membalas ciuman ku Hyung.
Ukh Doyoung malu, selimut yang menutupi dirinya sedikit turun hingga tersisa batas dimana hanya mata bulatnya yang terlihat diantara selimut dan surai halusnya, menatap Jaehyun dengan binar bertanya.
Kedua tangan pria tampan itu mengepal didalam kantung tailcoatnya, sedikit mengingit bibirnya, Jaehyun mengulum senyumnya, menahan rasa geli yang menggelitik batinnya. Ah harusnya Jaehyun sadar dari dulu, bahwa apa yang Tuhan turunkan untuknya adalah sebuah anugrah terindah.
"Aku memang mengatakan agar kau menerima uluran tangan ku, selebihnya aku hanya ingin kau tau Hyung bahwa aku mencintai mu. " Raut Jaehyun melembut diujung katanya. "Tapi hyung, ekhm…" Jaehyun berdehem sejenak dan menatap Doyoung dengan senyuman yang terlihat malu-malu.
Setidaknya, untuk sekarang.
"Jika kau masih mencintai ku, datanglah pada ku Hyung, karena aku tak akan membiarkan mu mencintai ku tapi tidak bisa memiliki ku." Jaehyun mengacak ganas rambut Doyoung hingga mau tidak mau membuat Doyoung harus menutup matanya.
"Ini handphone mu, maaf menahannya sedari tadi. Anyeong. Aku akan kembali."
Dan Jaehyun mengambil kesempatan itu untuk mengecup kening pria manis didepannya sambil menaruh handphone Doyoung tepat disebelah bantalnya. Sebelum melangkahkan kakinya ke pintu keluar.
"Jaehyun." Doyoung mengerang, namun dapat terlihat jelas rona kemerahan wajah mulusnya. Matanya lalu melirik ke arah handphonenya dan mengambil benda itu.
50 message, 78 missed call
Sebagian dari pesan itu berisi dari rekan kerjanya, dan beberapa temannya diluar sana, dan sisanya panggilan tak terjawab itu.
Dong Hyun-G
"KAMI MENGHKWATIRKAN MU, KENAPA KAU TIDAK JUGA PULANG HAH! INI SUDAH HAMPIR SIANG, PABBOYA! CEPATLAH JAWAB, APA KAU TAK MEMIKIRKAN KAMI. " Doyoung meneguk ludahnya membaca pesan itu.
Dong Hyun-G
78 missed call.
Doyoung panik, tangannya gemetar menekan panggilan kembali, namun tertahan karena panggilan dari orang yang bernama Dong Hyun-G itu kembali masuk.
"Kim Dongyoung kenapa baru mengangkat telepon ku? Kenapa baru aktif? Dimana kau? Jawab pabboya." Doyoung menghela nafasnya, ini orang mengkhawatirkannya apa mau menyumpahinya sih.
"Hyung, aku sedang dirumah sakit, mian baru menjawab panggilan mu."
"Apa yang terjadi pada mu? Dimana kau dirawat? Siapa yang menemani mu? Aku akan kesana setelah pemotretan."
'Bisakah kakanya ini menjawab dengan pelan dan bertanya satu satu' Batin Doyoung
"Aku di Neo, tak ada seorang pun disini, VIP 5, apa tak apa kau meninggalkan pekerjaan mu hyung?."
"Aku kesana."
Oke itu cukup bagi Doyoung kalau kakaknya itu tak ingin dibantah.
.
.
.
"Dongie-ya siapa yang mengantar mu kesini?"
Seorang pria yang memiliki perawakan mirip Doyoung bertanya, sembari tangannya membentuk potongan apel ditangannya seperti burung.
"Orang baik."
"Jawab yang benar, apa kau tidak mengetahui siapa yang mengantarmu kesini?"
"Yeah, begitulah." Doyoung mengangguk pelan dan mencomot apel yang disodorkan kakannya ke hadapannya. "Maaf merepotkan mu Hyung." Doyoung menatap kakanya memelas.
"Maksud mu?"
"Aku selalu membuat mu repot."
"Sudahlah tak usah dipikirkan, yang terpenting kau saat ini, bukan pekerjaan ku, lagipula biaya rumah sakit mu sudah dijamin atas nama seseorang, tapi sialnya aku tidak tahu siapa orang itu." Gongmyung menggerutu sembari tangannya tetap telaten memberikan potongan apel ke mulut adiknya.
"Begitu." Doyoung tersenyum kecut, karena dia tahu siapa orang itu.
"Aku juga sudah menghubungi anak-anak, mereka akan langsung kesini setelah dijemput Byungmin-hyung."
"Hyung memberi tahu anak-anak, aku disini?" Raut Doyoung terkejut menatap kakaknya.
"Ya, memang apa masalahnya?" Gongmyung menatap adiknya aneh.
"Tak apa, aku hanya tak ingin membuat mereka khawatir." Doyoung menatap keluar jendela. Tatapan mata Gongmyung menyipit melihat adiknya itu.
"Kau yakin?"
"Aku yakin hyung."
"Apa ini tak ada hubungannya dengan orang yang menolong mu?"
"Kapan sih aku bohong sama Hyung?" Doyoung merengut menatap kakaknya.
"Terakhir kali kau mengatakan pada ku kalau kau mau rehat dulu setelah lulus." Gongmyung menyusun potongan apelnya kesebuah piring kecil sembari menunggu Doyoung. "Tapi nyatanya?"
"Hehe..." Doyoung nyengir, ingin rasanya Gongmyung melempar pisau ditangannya kepada adiknya yang memasang wajah tak berdosa itu.
"Kau hamil, dan membuat media heboh, membuat masyarakat berpikiran kalau kau wanita simpanan ku."
"Hehe mian hyung."
Doyoung terkekeh menatap kakanya.
Flashback
Katakanlah dia egois. Doyoung tau itu, dan ibunya sudah sering memperingatkannya agar selalu berhati-hati dalam berbuat. Doyoung menatap benda ditagannya dengan intens, dua garis merah tercetak jelas mengiasi layar digital benda itu. Juga secarik kertas pernyataan dokter. Dia hamil namun statusnya bercerai, dan suami coret mantan suaminya itu tidak memiliki sedikit pun kepedulian padanya. Bukannya Doyoung berharap lelaki itu mau bertanggung jawab dan kembali padanya, tidak itu sama saja membawa dirinya ke ujung jurang, karena yang ada Jaehyun malah semakin tidak menyukainya. Menyadari itu ingin rasanya Doyoung menangis saja.
"Apa ini?"
Kertas ditangannya disambar begitu saja, sekaligus sebuah alat tes kehamilan. 'Ten, kurang ajar.' Doyoung menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, matanya terpejam membiarkan sahabatnya itu menyelesaikan rasa ingin tahunya.
"Kau… hamil?" Ten berkata ragu.
"Hmm." Doyoung terlalu malas membuka mulutnya hingga hanya gumaman pelan dia berikan kepada Ten.
"Apa kau akan memberi tahu Jaehyun?"
"Tentu saja tidak."
"Kupikir Jaehyun berhak mengetahuinya."
"Kau tahu dengan jelas Ten, kau dan Johnny Hyung."
"Mian."
Ten menatap bersalah pada Doyoung, sahabatnya semasa kuliah. Ten yang berasal dari luar korea, tidak banyak tau sedikit pun tentang tempat yang saat ini sedang dia tinggali selama mengenyam pendidikan. Dan Doyoung dengan baik hati mau mengulurkan tangannya kepada Ten sebagai teman pertamanya sekaligus sahabatnya hingga sekarang.
"Tak apa, bagaimana dengan Jaemin? Kemana Johnny Hyung?." Doyoung membuka matanya, dan berdiri menghampiri Ten yang tengah mengendong seorang bayi ditubuhnya. Tangannya terulur untuk menggantikan Ten menggendong bayi itu.
"Dia demam ringan, dokter bilang itu wajar karena giginya yang sebentar lagi pasti akan tumbuh. Sedangkan Johnny ke kampus, ada rapat mendadak katanya." Ten menyerahkan Jaemin pada Doyoung."Gomawo, bisa tolong kau bawa Jaemie dikamarnya. Aku akan membuatkan susu untuknya dan makan siang untuk kita, kau sudah makan tadi pagi?" Doyoung menggeleng pelan.
"Kau ini. Mulai besok makanlah teratur, ingat sekarang kau punya jiwa lain dalam tubuh mu kawan." Ten balas menggeleng, lalu melengang pergi ke dapur.
Doyoung tak langsung beranjak dari tempatnya, dia menatap lembut Jaemin dalam rengkungan tangannya. Sedari tadi bayi itu mencoba menahan kantuknya. Sesekali Jaemin terkaget dari tidurnya, dan mencoba membuka matanya hingga akhirnya tertidur lagi. Cukup lama Doyoung memerhatikan itu, dan terkekeh kecil seraya menepuk-nepuk bokong Jaemin, agar bayi itu segera tertidur. Rasanya hangat, apakah anaknya dan Jaehyun akan semanis ini? Apakah nanti Doyoung mampu membesarkan anaknya tanpa seseorang Jaehyun disampingnya?
Doyoung untuk menggelamkan wajahnya diantara tubuh mungil Jaemin, dan membiarkan aroma nyaman khas bayi itu menjadi aromaterapi untuknya. Doyoung tak mau memikirkannya lagi, sekarang dia harus kuat. Tanpa menyadari tatapan sendu Ten kepadanya.
"Doyoung kau menangis?"
"Ah mian, aku tidak membawa Jaemin kekamarnya."
Suara Ten menyentaknya kembali ke kenyataan. Tangan kanannya mengusap matanya sedangkan tangan kirinya tetap menjaga Jaemin agar tidak terjatuh dari pelukannya.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku." Ten mengambil anaknya dari pekukan Doyoung. "Tidak kah kau harusnya bercerita tentang apa yang kau rasakan Youngie-ya." Ucap lembut Ten menatap sahabatnya itu, yang dibalas anggukan kecil.
"Baiklah kau tunggulah didapur, aku akan mengantar Jaemin dulu ke kamarnya."
.
.
.
Ten menaruh segelas coklat hangat ke hadapan Doyoung, lalu duduk berhadapan dengan temannya itu, menunggu Doyoung siap untuk membuka mulutnya.
"Ten." Doyoung mengusap kedua tangannya pada gelas coklat dihadapannya. "Kupikir aku harus pergi dari sini Ten."
"Apa?" Ten menatap Doyoung terkejut.
"Aku tak bisa merepotkan kalian terus menerus Ten. Sudah cukup kau dan Johnny hyung selama ini membantu ku."
Ten buru-buru menarik kedua tangan Doyoung dan mengenggamnya erat.
"Tidak Youngi-ya, kami tidak pernah merasa terepotkan sama sekali, aku tau bagaimana rasanya hamil tanpa seseorang disamping mu, meskipun kepergian Johnny dulu karena memang keperluan tugasnya, tapi tetap saja tak ada yang mudah untuk hal seperti ini."
"Aku bisa melaluinya Ten, sama seperti saat kau bersama Johnny hyung dulu hingga sekarang."
"Tapi_"
"Ada seseorang yang ingin kutemui." Doyoung tersenyum menatap Ten agar pria itu mempercayai Doyoung.
"Siapa?"
"Kakak ku."
"Apa!? Kau tidak pernah bercerita kalau kau mempunyai seorang kakak?"
"Aku memang merahasiakannya, karena kupikir aku tak akan pernah lagi berhubungan lagi dengan dia."
"Kenapa?"
"Karena orangtua kami berpisah saat kami masih kecil. Terakhir kami berhubungan adalah saat aku masih sekolah menengah atas."
"Kau yakin kau masih bisa menghubunginya? Kenapa kalian tidak pernah berhubungan lagi?"
"Dia orang yang sibuk." Doyoung terkekeh pelan, lalu menyesap sedikit coklat hangat ditangannya. Ten menatap tidak percaya Doyoung.
"Lalu apa bedanya dengan kami?" Ten merengut menatap Doyoung. "Di sini yang bekerja hanya Johnny hyung, dan aku seorang pengangguran, aku bisa menemani mu dua puluh empat jam."
"Bedanya? Dia kakak ku, kakak kandung ku. Dan kalian adalah sahabat ku, kalian sudah berkeluarga dan aku tak ingin berada diantara tom and jerry kampus. Kalian berisik."
"Hei kami sudah berhenti melakukan hal seperti itu."
"Heum yah tidak separah dahulu."
"Intinya aku tak ingin berada diantara keluarga kalian terus menerus, karena aku masih punya keluarga yang lain."
"Kau jahat, kamikan juga keluarga mu."
"Diamlah Chittapon kau bisa membangunkan anak mu nanti." Doyoung memasang wajah berdecak malas.
"Jadi siapa kakak mu? Apa aku mengenalnya?" Ten menatap penasaran pada Doyoung, mengabaikan panggilan Doyoung pada namanya.
Doyoung menggangguk pelan.
"Siapa namanya?"
"Kau cerewet sekali sih. Dasar emak-emak."
"Kau pun akan menjadi seperti ku." Ten mencibir. "Sudahlah katakan saja siapa namanya."
"Kim Dong Hy_."
"Hah? Aku tak mengenal seseorang berinisial Kim Dong selain kau." Doyoung menahan tangannya agar tak memecahkan gelas digenggamannya.
"Namanya Kim Dong Hyeon, kau mengenalnya sebagai Gong Myung, model kesukaan mu itu."
Ten kembali menatap Doyoung tidak percaya.
"Serius?"
"Aku punya nomornya." Doyoung tersenyum kecil. "Jika kau tidak percaya, kau bisa menguhubungi orang itu dengan mengatakan bahwa aku sekarat dan tak punya siapa-siapa lagi yang harus dihubungi.
"Mana nomernya?" Suara lain menyahut, mengalihkan pandangan dua orang itu ke asal suara.
.
.
.
"Ini gila."
Johnny menatap Ten, istrinya yang berbinar melihat tamu yang datang secara mendadak malam ini. Sedangkan Doyoung tersenyim geli melihat sahabatnya yang juga sudah dianggapnya sebagai hyungnya sendiri, menatap tidak percaya istrinya yang mendadak mengabaikan dirinya.
"Kau sendiri yang berinisiatif untuk mencoba perkataan ku, sekarang lihat kan." Ucap Doyoung lalu membawa nampan minuman ditangannya ke hadapan kakaknya.
"Ck." Johnny berdecak dan mengikuti Doyoung dari belakang.
"Hyung~ bogoshippo~." Ucap Doyoung riang sambil memeluk Gongmyung, setelah menelakan nampan minuman dan menarik Ten kepada Johnny. Ten ingin berteriak namun mulutnya sudah terlanjur dibekap oleh suaminya.
"Ssh berikan mereka waktu." Bisik Johnny yang disetujui oleh Ten, lalu mereka berdua meninggalkan Doyoung bersama kakaknya.
"Kau mengatakan kau merindukan ku setelah 4 tahun ini tidak pernah menghubungi ku? Bahkan sms terakhir ku saja tidak kau balas." Gongmyun menatap adiknya itu gemas.
"Aku sibuk Hyung."
"Kau pikir aku tidak?" Ucapan Gongmyung merajuk, yang hanya dihadiahi sebuah cengiran di bibir Doyoung. " Dasar adik durhaka."
"Aduh Hyung jangan mencubit hidung ku." Ucap Doyoung mengusap hidungnya yang dia yakini sekarang memerah karena cubitan keras kakaknya itu.
"Siapa suruh tidak berubah, nakal seperti biasanya heh, apa kau tau kau hampir saja membuat ku jantungan."
"Buktinya aku sehat saja kan?" Doyoung memasang wajah polosnya itu sembari menyerahkan segelas coklat hangat ke kakaknya.
"Kenapa kau tiba-tiba menghubungi ku?" Gongmyun menatap adiknya bertanya.
"Ten dan Johnny hyung sudah menikah, dan aku merasa tidak nyaman jika tinggal bersama mereka lebih lama. Tempat tinggal ku sebelumnya sudah kutinggalkan karena habis masanya."
"Seingatku beberapa waktu lalu kau wisuda kan. Kenapa tidak mencari pekerjaan? "
"Aku rehat hyung." Doyoung melepaskan pelukannya dan bersandar pada kakaknya.
"Kau sakit?" Tangan kanan Gongmyung menangkup pipi adiknya itu, dan menhadapkannya pada wajahnya yang terkejut.
"Tentu saja tidak Hyung." Doyoung merengut dan melepaskan tangan kakaknya dari pipinya. Btw kakaknya mengcengkram dan mengangkat kepalanya tak ada lembutnya sama sekali.
"Bilang saja kau ingin tinggal di apartemen ku."
"Hyung memang pengertian. Tapi bagaimana dengan appa?"Doyoung menatap cemas kakanya, mengingat ayah mereka sangat tidak menyukai Doyoung karena mempunya rupa yang hampir mirip dengan ibunya.
"Maaf tidak memberi tahu mu, aku tidak ingin kuliah mu terganggu, tapi ayah pergi menyusul ibu." Ucap Gongmyun menepuk bahu Doyoung. "Berkemaslah, aku akan menunggu."
Awalnya semua baik-baik saja saat Doyoung tinggal di apartement kakanya itu, manager kakanya sendiri pun tidak menolak kehadiran Doyoung. Kakaknya juga belum mengetahui sama sekali alasan sebenarnya dia rehat dan Doyoung mensyukuri itu. Namun entah itu kesalahan Doyoung atau memang ulang sasaeng fans yang dengan kurang ajar yang mengikuti kehidupan kakanya termasuk Doyoung yang sebagai adik juga ikut terbawa.
Menyebarkan sebuah berita bahwa Gongmyung ternyata menyimpan seseorang yang tengah hamil di apartemennya. Dalam media sosial terlihat dua foto orang yang sama, yang pertama keluar dari apartemen Gongmyung sedangkan yang kedua terlihat Doyoung yang keluar dari mobil bersama Ten waktu itu berhenti tepat di klinik bersalin. Doyoung benar-benar merasa bersalah saat itu karena Ten jadi terbawa, untunglah kamera itu buram karena hanya terlihat dari kejauhan, jadi tak ada yang mengetahui siapa yang ada di foto itu. Dan dari situ terpaksa dia mengungkapkan semua pengalaman hidupnya selama berkuliah dan alasannya rehat kepada Gongmyung. Dan dia sempat bed rest karena terlalu merasa bersalah dengan kakaknya.
Tanpa mengatakan siapa Doyoung sebenarnya karena tak ingin pria tak bertanggung jawab yang bernama Jung Jaehyun itu mengetahui keberaadaan adiknya. Gongmyung mengklarifikasi berita itu, bahwa orang yang berada di apartemennya adalah kerabat jauhnya yang sedang hamil, dan dalam masa rehabilitasi karena ditinggal suaminya dalam masa perang. Dan meminta kepada semua fans dan media publik agar jangan membebani kerabatnya karena itu tak baik untuk kesehatannya. Gongmyung memang kecewa kenapa adiknya tidak bercerita yang sebenarnya. Namun dia terlalu menyayangi adiknya itu, dan sejak kejadian itu Doyoung tak pernah lagi keluar rumah selain sesekali untuk refresing itu pun bersama keluarga Seo. Gongmyung memanggilkan seorang dokter khusus untuk merawat adiknya hingga masa kehamilan berakhir.
Flashback Off
"Gomawo hyung."
Doyoung tersenyum hangat, namun air mata lagi–lagi tak bisa dia tahan, ahh betapa melownya dia hari ini. Doyoung merutuk, namun mengingat itu semua Doyoung benar-benar merasa bersyukur memiliki kakak seperti Gongmyung. Sedangkan kakanya itu hanya menatap Doyoung bingung dan menyerahkan sapu tangan kepada adiknya itu.
"Gomawo Hyung tak pernah meninggalkan ku, aku menyayangi mu."
Gongmyung menarik Doyoung kedalam pelukannya, balas tesenyum lembut, dan mengusap pelan kepala adiknyaa,
"Kau adik ku dan aku kakak mu sudah sewajarnya kita saling membantu."
"Tapi aku selalu merepotkan Hyung."
"Ck, kau ini sudah tua juga, berhentilah cengeng seperti ini, Dongie-ya~" Gongmyung mencubit gemas kedua pipi adiknya itu. Doyoung tersenyum manis mengabaikan rasa sakit dipipinya. Tangan kanannya bergerak hampir meraih tangan kakaknya itu sebelum tangan lain melepaskan kedua tangan Gongmyung dari pipi Doyoung.
"Siapa kau?"
Sebuah suara berat bercampur sedikit geraman memecah momen bahagia kakak adik itu.
"Jae?"
Doyoung terkejut melihat Jaehyun tiba-tiba saja ada dibelakangnya. Sedangkan Gongmyung, dia menatap tajam orang dibelakang tubuh adiknya.
"Jadi kau yang si brengsek yang membuang adik ku? Yang mengatakan ibu ku seorang jalang." Gongmyung menatap sengit Jaehyun.
"Aku tidak membuangnya. Aku yang dulu hanya belum dewasa." Jaehyun mencoba bersikap tenang. "Kau kakaknya? Seingat ku Doyoung-hyung tidak memiliki seorang kakak?" Jaehyun balas menatap sengit Gongmyung.
"Dia memang kakak ku, dan alasan ibu ku bekerja ditempat seperti itu adalah karena perceraian orangtua kami"
Raut Jaehyun melunak.
"Mianhe, aku pantas mendapatkan pukulan kalian."
"Payah kau." Gongmyung mendengus. Mana mungkinkan dia menghajar seorang crush interest adiknya tepat dihadapannya. Gongmyung tak tega bung. Tar adiknya sedih lagi.
"Jadi siapa namamu kaka ipar?" Jaehyun kembali bertanya, namun menarik Doyoung mendekat padanya.
"Kau tak mengenal ku?" Kening Jaehyun mengerut. "Dasar payah dasar lemah." Gongmyung mencemooh Jaehyun dengan raut mengejek, juga menarik Doyoung mendekatinya.
"Karena itu aku bertanya, hyung~" Jaehyun tak mengubah raut tidak sukanya saat Doyoung ditarik darinya.
"Aku bukan Hyung mu, aku Hyung Doyoung mana sudi aku punya ipar macam kau."
"Sialan." Jaehyun mendesis. Dan menarik Doyoung lagi mendekat padanya.
"Kau_."
"Bisakah kalian diam? Kalian membuat ku semakin pusing."
"Aigoo mianhe dongsaengie~. Berbaringlah lagi" Gongmyung menarik Doyoung kembali dan merebahkannnya. "Dan kau jangan pegang-pegang Doyoung, aku tak mau adik ku_."
"Hyung diamlah!" Ucap Doyoung frutasi menatap Gongmyung dengan raut memohon, oh its okay.
"Aku Kim Dong Hyun, atau kau bisa mengenal ku sebagai Gong Myung, model dan aktor papan atas yang lebih tampan dari orang macam dirimu." Gongmyung menatap sombong Jaehyun. Sedangkan Doyoung hanya menghembuskan nafasnya lelah melihat kelakuan kakaknya yang narsis itu.
"Oke salam kenal Hyung, kau tentu sudah tau aku kan? Jung Jaehyun suami sah Jung Doyoung."
Gongmyung dengan segera menarik kerah pakaian Jaehyun.
"Jaga kata-kata mu brengsek." Gongmyung menatap Jaehyun bagai singa lapar yang wilayah teritorialnya dimasuki orang lain. Harusnya disini Jaehyun yang jadi singa lapar.
"Apa?"
Jaehyun balas menatap Gongmyung dan kakak dari Doyoung itu sudah bersiap akan menghantamkan kepalannya kewajah tampan Jaehyun, sebelum sebuah suara dari arah pintu kamar rawat Doyoung menjeblak diikuti suara melengking khas anak kecil.
"Eomma~"
Terpaksa Gongmyung melepaskan cengkramannya dari tangan Jaehyun. Sedangkan pria tampan itu hanya menatap terpaku dua anak kecil yang berjalan dari arah pintu kamar. Tepatnya yang satu berwajah manis tengah berlari dengan raut sedih, yang malah membuatnya terlihat menggemaskan karena pipi tembamnya, sedangkan yang lain hanya bermuka flat namun dari matanya menatap terus ke arah kasur Doyoung.
"Heum keponakan Samchon sudah pulang." Gongmyung tersenyum lebar dan segera memeluk bocah manis itu.
"Samchon dia siapa?" Ucap anak bermuka flat menunjuk Jaehyun setelah naik ke kasur Doyoung meanggunakan kursi yang ada disamping kasur Doyoung.
Sedangkan Doyoung hanya terpaku dan menatap kakanya dengan raut khawatir. Jantungnya berdebar dengan keras tidak tahu harus merengatakan apa.
.
.
.
TBC
Lama banget baru update, maafkan daku T~T
Chapter ini gaje banget yah? Apa makin tidak bisa dimengerti? Makin banyak typo? Gaje banget pasti, alurnya terlalu cepat, coz aku gak tahan lama-lama pisahin nak jaehyun ama nak doyoung menantuku terpisah lama dalam keadaan gini #dislapslapslap
Dan untuk yang bertanya tentang orangtua Jaehyun, akan diceritakan dichapter-chapter selanjutnya.
Terima kasih banget atas dukungannya semuanya, terima kasih telah membaca~
Happy JaeDo shipper, Happy DoyoungUkeShipper, Happy para pembaca yang menikmati, happylah semuanya :-D
Jangan lupa review dan komennya segala macem, sampai jumpa dichapter selanjutnya.
Oh iya ada yang mau menebak siapa anaknya JaeDo? Siapa cobak?
