Pairing : Jaehyun x Doyoung [JaeDo]
Warning : Yaoi, boyslove, typo
.
.
.
"Dia teman ibu kalian."
Gongmyung mengacak rambut keponakannya itu, menurun kan telunjuk kecilnya yang mengarah ke Jaehyun. Anak dalam pelukan Gongmyung berontak juga ingin duduk diatas kasur ibunya. Dia langsung saja menggeser bocah lainnya dan bersandar memeluk leher Doyoung. Sedangkan anak bermuka flat tadi mengabaikan tingkah saudaranya, masih menatap Jaehyun.
"Tapi samchon kami tidak pernah melihatnya."
Jaehyun masih terpaku menatap bocah yang melemparkan tatapan menelisik pada dirinya. Doyoung tak berani menatap ke arah kakaknya dan Jaehyun. Tangannya mengelus rambut jamur anak manisnya yang langsung tertidur.
"Kebetulan dia yang menolong ibu kalian tadi malam."
Mendengar jawaban memuaskan dari Gongmyung, senyum lebar mereka dibibirnya. Membuat Jaehyun merasakan perasaaan familiar dengan bocah dihadapannya. "Gomawo, Ahjussi."
Gongmyung menghembuskan nafasnya, lalu menggendong bocah yang daritadi bersikap menginterograsi Jaehyun. "Eh Samchon kenapa menggendong ku, akukan masih mau dekat Eomma."
"Kita akan membeli makan siang, dan biarkan ibumu bersama temannya untuk bicara, okay?"
Bocah itu terlihat ragu. Dia tidak ingat ibunya pernah mengenalkan temannya seperti orang didepannya ini pada mereka berdua.
"Kau bisa membeli ayam goreng dan eskrim sesukamu. Dan bangunkan adik mu sekarang."
Bocah itu berbinar. "Okay Samchon."
Doyoung merengut menatap kakaknya. "Hyung kenapa harus eskrim."
Nada Doyoung terdengar merajuk. Gongmyung meringis mendengarnya. Tapi melihat raut Jaehyun tadi, pasti pria itu mulai mencurigai sesuatu, lagipula ini masalah mereka berdua. Gongmyung tidak bisa membiarkan dirinya terbawa lebih jauh.
"Kupikir kalian harus bicara."
Gongmyung menepuk kepala Doyoung, lalu menggandeng kedua keponakannya.
.
.
.
Aura canggung menyelimuti mereka setelah kepergian Gongmyung dan dua anak Doyoung. Jaehyun menunggu Doyoung yang sedari tadi hanya menunduk dan menggigit bibirnya.
"Berhentilah melakukan itu. Kau bisa melukai dirimu sendiri, bicaralah."
"Memang apa yang perlu dibicarakan lagi Jaehyun-ssi."
"Banyak sekali. Tapi untuk saat ini aku hanya ingin tahu satu hal."
Sebenarnya alasan Jaehyun kembali ke kamar rawat Doyoung adalah untuk menemani pria manis itu, tapi setelah melihat keradaan Gongmyung dan dua bocah tadi, Jaehyun membatalkan niatnya untuk sekedar menunggui Doyoung.
"Dua anak tadi kenapa mereka memanggil mu eomma?"
"Mereka." Doyoung tercekat, rasanya berat untuk membiarkan Jaehyun mengetahui tentang anaknya, tapi Jaehyun juga berhak untuk tau. "Anak ku."
"Aku tau itu, tapi kenapa kau yang dipanggil Eomma?"
"Tentu saja karena aku yang melahirkan mereka Jae."
"Kau –menikah lagi?" Jaehyun terkejut menatap Doyoung.
"Menurutmu? Bagaimana mungkin aku bisa memiliki mereka?" Doyoung menikmati ekpresi yang ditampilkan Jaehyun. "Bukankah mereka sangat tampan dan manis."
"Siapa ayah mereka?"
"Sorry Jae aku tidak bisa mengatakannya, aku bukanlah orang yang beruntung." Doyoung tersenyum kecut menatap Jaehyun. "Kami bercerai."
"Katakan siapa pria itu." Ucap Jaehyun yang sarat akan emosi dalam nadanya.
Rasa penyesalan menyerang Jaehyun berkali-lipat membuat Jaehyun merasa sangat marah terhadap dirinya. Andai dia tidak membiarkan Doyoung pergi dari sisinya, mungkin pria manis itu tak akan mengalami hal seperti itu. Andai tetap bersamanya, akankah anak yang Doyoung miliki juga anaknya?
Doyoung terkekeh pelan, mengundang tatapan bertanya dari Jaehyun.
"Kenapa kau tertawa?"
Doyoung menarik lengan baju Jaehyun untuk mendekat kepadanya.
"Usia mereka 5 tahun lebih Jae, bagimana mungkin aku menikah lagi dan memiliki mereka."
"Jadi mereka?"
Doyoung tersenyum lembut. "Yah, mereka anak kita Jae."
Suatu perasaan haru menghampiri dirinya melihat senyuman yang diberikan Doyoung saat mengatakan dua bocah tadi sebagai putra mereka. Hatinya berdesir kencang, seakan seluruh bebannya tersapu ombak kebahagian. Tapi disisi lain dia juga merasa kecewa karena tak bisa berada disamping Doyoung saat masa-masa sulitnya. Merasakan bagaimana harus terbangun tengah malam saat anak-anaknya menangis, menimang mereka dan mengajarkan mereka berjalan, mendengar kata ayah dan ibu pertama kali terucap dari bibirnya, dan mengajarkan mereka bagaimana membaca juga menulis. Tak ada Jaehyun dalam masa-masa emas mereka.
Jaehyun mendudukan dirinya raut wajahnya kalut.
"Wae Jae?"
"Kenapa kau tak memberitahuku kalau kau hamil?"
"Apakah saat itu aku berada dalam posisi aku bisa memberitahu mu, Jaehyun-ah?"
Jaehyun mengigit pipinya, saat matanya menangkap dalamnya perasaan kecewa, sedih dan terlukanya Doyoung terhadap dirinya.
"Tidak."
Mengingat segala sikap defensive Jaehyun terhadap Doyoung, apalagi setelah dia terang-terangan memberikan surai cerai secara tidak langsung sebagai hadiah untuk Doyoung dan kebahagiannya karena bisa terlepas dari pria manis itu. Doyoung tak mungkin memiliki pikiran kalau Jaehyun akan menerimanya begitu saja karena kehamilannya.
"Kau tidak menyukai anak-anak ku?"
Jantung Doyoung berdebar kencang, melihat ekspresi Jaehyun tidak juga berubah, pikiran bahwa Jaehyun tak mau mengakui anak-anaknya mulai berputar dikepala Doyoung, jika Jaehyun tak bisa menerima anak-anaknya. Maka Jaehyun lebih baik pergi dari kehidupannya dan tak usah mengenal anak-anaknya.
"Mana mungkin aku tidak menyukai mereka." Kening Jaehyun saling bertaut. "Mereka juga anak-anak ku Doyoung-hyung, bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau mereka anak kita." Ucap Jaehyun yang masih menatap Doyoung menekan kata 'kita' diakhir dengan senyum jahil.
"Habisnya kau tak merubah ekpresi mu sedikit pun." Doyoung berucap gugup melihat evil smile Jaehyun
Sialan kenapa senyum itu masih ada saja sih.
Senyuman yang dulu selalu sukses mengikat Doyoung untuk betah berdebat dengan Jaehyun semasa sekolah. Senyum yang selalu merekah saat menghadapi kawanan geng sekolah lain ataupun saat menemukan hal menyenangkan, seperti kejahilan untuk membuat onar disekolah #coret bukan berarti Doyoung menguntit coret#, dia hanya kebetulan lewat.
"Jadi kau ingin aku berekspresi seperti apa Hyung."
Doyoung diam tak tahu harus mengatakan apa, karena kerongkongan terlajur terkecat oleh rasa gugup, Jaehyun meraih tangannya, dan mengelus jari-jarinya, memasukan jemarinya diantara jemari Doyoung.
"Aku hanya menyangkan waktu yang tertinggal saat kau berjuang merawat mereka Hyung." Jaehyun mengecup punggung tangan Doyoung yang berada dalam genggamannya. "Mianhe."
Doyoung tak bisa menahan rona merah diwajahnya, dan juga bendungan air dimatanya. "Jung Jaehyun bodoh."
Jaehyun tertawa kecil. Dan tak bisa menahan rasa terharu sedari tadi, menangis mengikuti pria manis itu.
.
.
.
"Samchon kenapa diam disini, ahjusshi itu bikin eomma nangis."
"Sssh sebentar lagi sayang."
Gongmyung tak bisa menahan senyumnya saat melihat rona merah diwajah Doyoung dan juga tawa kecil dari Jung Jaehyun.
"Aigoo lihatnya dua bocah besar ini."
Jaehyun dan Doyoung seketika menghapus air mata mereka, dan melihat Gongmyung bersama anak-anaknya telah kembali dengan beberapa kresek ditangannya.
"Hyung kau kembali."
"Kau pikir aku rela meninggalkan mu dengan Jaengkol."
Jaehyun mengelus dadanya untuk bersabar dalam menghadapi kakak dari Doyoung.
"Samchon, Jaengkol itu apa?" Yang rambut jamur bertanya.
"Ohh itu bijian hijau dari Indonesia sayang, rasanya bau dan pait."
"Hyung, please jangan memulai."
Sebelumn anaknya membuka mulutnya lagi. Mata Doyoung menyipit menatap Gongmyung, tak lupa mengerling, memperingatkan bahwa disini masih ada anak-anak dan tidak mencoba untk memulai perkelahian. Apalagi muka Jaehyun sudah hampir memerah menahan emosinya.
Heol. Gongmyung sebenarnya belum merasa puas walau hanya menjahili mantan suami adiknya, kalau tidak menghajarnya. Dia memang cukup senang karena akhirnya permasalahan yang melanda mereka berdua akhirnya usai well mungkin tak sepenuhnya. Rasa marahnya terhadap Jaehyun itu murni masih tersimpan dilubuk yang paling dalam.
"Baiklah, terserah."
Gongmyung menaruh kresek ditangannya dan keponakannya. Doyoung mendudukan dirinya sembari tersenyum geli melihat kakanya ngambek. Lalu dia memanggil kedua anaknya untuk mendekat.
"Kalian berdua kemarilah, kenalan dengan teman eomma."
Jaehyun sebenarnya merasa tak nyaman hati mendengar Doyoung memanggil dirinya sebagai teman pria itu, dihadapan anak-anaknya. Jaehyun hanya mencoba mengerti mungkin Doyoung belum siap untuk mengenalkan dirinya sebagai ayah mereka. Lagipula Jaehyun masih belum tahu kapan Doyoung bersedia untuk kembali padanya, mungkinkah esok hari, bulan depan, atau tahun selanjutnya. Jika itu adalah ujian yang harus ditempuhnya untuk mendapatkan Doyoung maka Jaehyun akan melewatinya. Meskipun dia ingin sekali segera mengklaim pria itu.
Kedua anak itu menaiki kasur Doyoung dan duduk dikedua sisinya. Jaehyun sedikit membantu agar tali infus Doyoung tidak tertekan. Namun dia tak bisa tidak mengernyit dan sedikit perasaan kecewa menelusup dalam dirinya saat mendengar salah stau dari dua anaknya itu berucap tidak ingin berkenalan dengan dirinya. Doyoung pun menampilkan raut bingung, karena setaunya anak-anaknya itu tipe yang langsung sreg saat bertemu dengan kenalan Doyoung ataupun Gongmyung. Kakaknya Doyoung pun tak banyak membantu dan hanya diam menyipkan makan yang mereka beli. Doyoung menghela napas melihat sikap kakaknya itu
"Kenapa tidak mau berkenalan dengan Ahjusshi heum?" Ucap Jaehyun lembut kepada anak yang memiliki potongan rambut seperti jamur, bocah yang terlihat manis, hasil turunannya dan Doyoung ekhm. Yang berucap tidak ingin berkenalan dengan Jaehyun.
Namun anak itu, hanya menenggelamkan kepalanya diatara lengan Doyoung. Dan membiarkan pertanyaan Jaehyun dijawab oleh bocah lainnya. "Karena tadi ahjusshi udah bikin eomma nangis."
Oke Jaehyun memang sudah membuat Doyoung nangis, dan itu tadi, dan tadinya lagi tapi yang terakhirkan mereka menangis bersama.
"Kapan kamu melihat sayang?" Ucap Doyoung.
"Tadi eomma sebelum kami masuk."
Jaehyun dan Doyoung bertatapan sekilas dengan ekspresi bertanya. Sebelum akhirnya mereka berdua tergelak.
"Tak apa sayang, eomma hanya terlalu senang bisa bertemu dengan teman eomma lagi."
Ohh Crap bolehkan Jaehyun berharap bahwa jawaban Doyoung itu benar adanya.
"Lagipula ahjusshi juga ikut menangis kok." Ucap Jaehyun menimpali.
Bocah itu menatap ibunya ragu. Doyoung mengangguk dan mengecup pipinya.
"Baiklah." Mendengar jawaban itu perasaan lega segera menghampiri Doyoung dan Jaehyun.
Bocah tampan itu memindah duduknya menjadi dipinggir kasur yang berhadapan dengan Jaehyun.
"Ahjusshi kenalin nama ku Kim Jeno. Mian tadi dah menuduh ahjusshi yang macem-macem" Ucapnya dengan cengiran yang terlihat persis seperti milik Jaehyun. "Dan yang gendut pemalas lagi tidur itu namanya Kim Donghyuck. Adik kembar Jeno."
Doyoung tersedak mendengar ucapan anak tampannya tentang saudaranya.
"Hyung aku gak pemalas." Ucap sang adik yang ternyata tidak tidur, merengut menatap kakannya.
"Ekhm, hyung bercanda, Channie."
"Kau bisa memanggilnya Haechan." Ucap Doyoung pelan saat Jaehyun melempar tatapan bertanya mendengar panggilan Jeno kepada adiknya.
"Dan aku gak gendut."
"Kamukan memang gendut?"
"Sudah-sudah jangan bertengkar, apa kalian tidak lapar?" Gongmyung segera menengahi mereka.
"Ayam goreng!"
Jaehyun dan Doyoung saling melempar senyuman melihat tingkah anak mereka.
.
.
.
Jaehyun tidak dapat menahan senyumnya sepanjang jalan menuju apartemennya. Selama dirumah sakit tadi dia habiskan waktunya bermain dengan anak-anaknya dan mengenal mereka sedikit. Jika saja kakaknya Doyoung tidak mengode dirinya untuk segera pergi, padahal yang Jaehyun inginkan adalah kakak Doyoung yang pergi, dan membiarkannya bersama Doyoung dan juga anak-anak mereka.
Jaehyun menatap apartemennya yang cukup luas tetapi hanya memiliki satu kamar, mungkin dia harus mencari tempat tinggal baru yang cocok untuk keluarganya nanti. Ekhm. Ingatkan Jaehyun bahwa dia merasa terlalu bahagia hari ini. Dia sudah cukup senang bisa bertemu kembali dengan Doyoung yang selama ini dicarinya, kemudian ditambah dengan dua malaikat kecil bersamanya. Dia sudah menyimpan nomor Doyoung dalam handphonya saat pria itu pingsan. Setelah ini sebisa mungkin dia akan selalu meluangkan waktunya untuk menemui Doyoung, ataupun bermain dengan anak-anaknya.
"Ekhm sepertinya ada yang sedang bahagia hari ini." Jaehyun menolehkan kepalanya setelah menaruh masakan terakhirnya untuk makan malam diatas meja makan.
"Eomma." Jaehyun langsung saja memeluk seseorang yang dia panggil eomma dan mengecup kedua pipinya.
"Apa kau juga tak ingin memberi ku pelukan Jaehyun?"
"Mian appa kurasa eomma lebih hugable dari appa."
Appa Jaehyun mendengus lalu menari istrinya itu dari pelukan anaknya. "Dia milik appa, lebih baik segeralah mencari seseorang yang hugable untuk mu, Jung Jaehyun."
Jaehyun tidak merasa tersinggung sedikit pun, dia makin menampilkan senyum lebarnya.
"Yeobo, sepertinya dia sudah menemukannya." Ibu Jaehyun memeluk leher suaminya dan bebisik ditelinganya. Rona merah sedikit menghiasi pipi Jaehyun melihat tingkah orangtuanya. Jaehyun melangkahkan kakinya kedapur. "Bisa tidak jangan bermesraan diadapan anak kalian, ingat umur eomma appa."
"Mesra tak perlu memandang umur sayang, benarkan yeobo." Ucap ibu Jaehyun, yang dijawab appa Jaehyun dengan kecupan dibibirnya.
Jaehyun menampilkan muka malas meladeni orangtuanya daripada digoda terus menerus. "Makanlah dulu eomma appa kebetulan aku memasak banyak hari ini."
"Kau harus cerita apa yang membuat anak eomma terlihat sangat senang hari ini."
Jaehyun hanya mengangguk. Mereka makan dalam diam karena mereka memang jarang berbicara saat makan.
"Sebelum aku bercerita, ada apa eomma dan appa kemari?" Ucap Jaehyun memulai saat mereka selesai makan malam. Karena tak biasanya orangtuanya itu mengunjunginya, apalagi sejak kejadian enam tahun yang membuat hubungan mereka sedikit merenggang karena kecewa dengan keputusan Jaehyun yang menceraikan Doyoung. Sejak dia menyadari perasaannya kepada Doyoung. Jaehyun berubah menjadi seorang yang workhaholic dan memilih untuk menjual rumahnya untuk pindah ke apartemen. Karena rumah itu hanya mengingatkannya akan Doyoung. Biasanya dialah yang mengunjungi mereka, itupun atas permintaan ibunya. Terkadang mereka terpaksa memaksa Jaehyun untuk tidur dirumah. Orangtua Jaehyun yang mengetahui hanya bisa mencoba untuk membuat Jaehyun tidak terlalu menekan dirinya untuk bekerja.
"Apakah harus terjadi sesuatu pada mu baru kami kesini?" Ayah Jaehyun menatap anaknya gemas dengan pertanyaannya.
"Tidak."
"Tak ada alasan apapun sayang, kami kesini murni untuk melihat mu." Jaehyun menatap bingung orangtuanya. "Kau sudah cukup umur Jae, apa kau tidak mencoba mencari yang lain? Kami tidak memaksa mu untuk kembali kepada Doyoung. Kau tidak terus sendiri seperti ini dan mengurus diri mu sendiri." Ucap ibu Jaehyun, ayahnya menatap Jaehyun dan memberikan tatapan kalau mereka yang sekarang sudah bisa menerima kepergian Doyoung.
Mendengar itu Jaehyun tersenyum kembali. Membuat orangtuanya merasa lega karena anak mereka benar-benar telah menemukan seseorang pendamping untuknya. "Kalian tak perlu khawatir, aku sudah menemukannya."
"Doyoung aku sudah menemukannya." Orangtua Jaehyun menatap anaknya tidak percaya.
"Sejak kapan?" Ayahnya bertanya.
"Kemarin malam appa."
Ayah dan ibu Jaehyun saling melempar tatapan.
"Tidak, Jaehyun kami tidak akan memaksamu untuk kembali kepada Doyoung okay, kau bisa melepaskannya." Ucap ibu Jaehyun.
Jaehyun menggeleng. "Aku tidak mungkin melepaskannya eomma appa. Aku ingin memilikinya kembali disamping ku."
"Apa kau yakin?"
Jaehyun mengangguk dengan pertanyaan ayahnya itu. "Lagipula, aku tak pernah mengantar surat cerai kami ke pengadilan."
"Ku harap kau menepati kata-kata mu Jung Jaehyun."
"Pasti, aku juga ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian."
Orangtuanya menatap kepada Jaehyun, menunggu kalimat yang akan keluar dari mulutnya
"Aku memiliki anak. Kalian telah menjadi kakek dan nenek."
Jaehyun menghindar, saat melihat eommanya bersiap untuk menghampirinya. "Anak siapa yang kau hamili Jung Jaehyun?"
Dia terkekeh bukannya takut dengan terkaman ibunya.
"Doyoung, dan dua anak."
Jaehyun menggaruk kepalanya bingung saat melihat ibunya malah menangis, sedangkan ayahnya menepuk punggungnya bangga.
"Segeralah bawa mereka bersama kita Jaehyun."
.
.
.
TBC
Akhirnya ini di upload juga lanjutannya! Ada beberapa perubahan dalam ff ini khususnya dicahpter 1 dan 2, maafkan atas ketidakjelasan tiap chapternya, ehe. Semoga jalannya menjadi lebih mudah dimengerti, jika belum dipersilahkan banget buat komen, review, dan ngasih prakata #wink #slap
Jeng jeng sebelum ku mau basa-basi bentar atas keterlambatan ku mengupload ini cerita, ku mau KYAAA KYAAA dulu adudud mygoashhh JaeDo akhirnya satu grup, demi Dewa Jashin kesayangannya Kakuzu mereka bersatu, rasanya kakiku ngepak-kepak kceil buat kefly keatas permukaan laut dalam #slapberasaputriduyung,terus berterbangan disekitar kapal mereka #slap, aaaa~ gak perlu ldran, gak perlu pisah-pisah lama, quality time jadi lebih banyak, adudu udahlah….
Selamat berbahagia JaeDo DoJae shipper ampe kerongkongan kering #slap
Aku gak tau makanan kesukannya Haechan apa, tapi karena semua anak-anak semuanya suka eskrim bahkan author sendiri suka bangetlah #slap, kata internet Jeno suka ayam goreng ye, jadi Haechan kusamain ajah XD
Aku minta maaf banget atas keterlambatan ngupload ni ff, terima kasih banyak buat yang udah ngreview, dan teman-teman sekalian XD
Yang jawab anaknya kembar dan Jeno udah terjawab kan disini, ahayyy seneng beh ntah kenapa kalau Jeno jadi anaknyaa jae-jae smilenya itulohh , buat yang jawab Hyoje sebagai kembarannya maaf banget gak bisa masukin, ntah kenapa kalau ngeliat Haechan yang cerewet tuh rasanya gemesh ajah dipasangin ama Jeno yang keep calm istilahnya?
Buat yang minta sad ending aku masih pertimbangin ekhm. #slap
Buat Lee-chan #gakpapakanpakesuffixchan : Iyah disitu memang Gongmyung kok kakanya Doyoung XD
Oh iya chaopter ini lebih pendek dari chap sebelumnya, jangan lupa peninggalan jejaknya~
Makasih udah mampir sampai jumpat dichapter selanjutnya :-D
