Pairing : Jaehyun x Doyoung [JaeDo]

Warning : Yaoi, Boyslove, Typo.


Tring

Doyoung melempar handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambut dan mengambil hpnya yang berdering, untuk membuka pesan yang baru saja masuk.

Anonym, 028876xxxx

Hai

Doyoung

Siapa?

Anonym, 028876xxxx

Bukan siapa-siapa

Doyoung

Oke.

Setelah tak ada lagi pesan yang masuk dari nomer tak dikenal itu, Doyoung tersenyum puas dan melangkahkan kakinya ke dapur. Matahari di luar baru sedikit menampakan cahayanya, siapa juga yang menghubungi sepagi ini selain orang iseng. Doyoung mengeluarkan sayuran dan beberapa bahan yang akan dimasak, membawa semua bahan itu mendekati keran untuk dicuci satu persatu.

Message from,

Anonym, 028876xxxx

Doyoung melirik ponselnya, tertera nomor yang dipikirnya orang iseng jadi Doyoung mengabaikan pesan itu dan melanjutkan rutinitas paginya, memasak untuk orang rumah. Pesan itu terus masuk, Doyoung baru membukanya kembali ketika dia tinggal menunggu supnya masak.

Anonym, 028876xxxx

Selamat Pagi

Anonym, 028876xxxx

Apa yang sedang kau lakukan?

Anonym, 028876xxxx

Apa kau sedang sibuk? Tapi inikan masih pagi?

'Memangnya memasak dipagi hari bukan kesibukan.'

Anonym, 028876xxxx

Halo? Kenapa tak membalas, jangan bilang kau tidur lagi?

Anonym, 028876xxxx

Aa benar kau tidur lagi bukan?

Doyoung

Tidak

Anonym, 028876xxxx

Bagus, bukankah udara pagi ini sejuk sekali?

Doyoung

Iya

Anonym, 028876xxxx

Apa kau menikmatinya? Menghirupnya dalam-dalam?

Doyoung mendengus. Pertanyaan apa itu.

Doyoung

Tentu saja

Kenapa kau bertanya seperti itu

Anonym, 028876xxxx

Karena sweety, hati ku tak akan bisa sesejuk pagi ini jika kau tidak menikmatinya.

Doyoung

Eyy perayu dipagi hari.

Anonym, 028876xxxx

Owww datar sekali, atau itu hanya akalan mu saja?

kau sedang malu bukan? Kau tau orang jepang

menyebutnya apa? Tsundere

Doyoung

Heoll!

Anonym, 028876xxxx

Kau marah? Tak baik orang manis seperti mu marah-marah dipagi hari

Doyoung

Bawel -_-

Anonym, 028876xxxx

Bawel juga diladenin, bilang aja suka :-* Tsundere

'Babi, siapasih ini!'

Doyoung

Idih -_-

Siapa sih kau ini -_-

Doyoung kesal, dia mensilent suara hpnya lalu menyusun masakannya keatas meja, dia tinggalkan begitu saja hpnya untuk membangunkan anak-anaknya. Ketika memasuki kamar Jeno dan Haechan, Doyoung tak langsung membangunkan kedua anak kembar itu, dia membereskan terlebih dahulu kekacuan yang ada, seperti mainan dan buku yang berserakan tak lupa juga pensil warna.

Terlebih dahulu Doyoung membangunkan Jeno karena anak itu lebih mudah untuk dibangunkan dibandingkan dengan Haechan.

"Euh Eomma."

Cukup beberapa kali tepukan Jeno sudah mendudukan dirinya walau dengan mata yang masih setengah tertutup.

"Mandi sekarang Jeno."

"Eomma, kenapa selalu Jeno dibangunin duluan sih." Jeno sembari turun dari kasur dan mengambil handuk yang disodorkan Doyoung.

Doyoung mengacak rambut Jeno dan mendorong anak pertamanya itu ke arah kamar mandi. "Kau tau kan kalau menunggu Haechan bangun terlebih dahulu hanya akan membuat kalian terlambat."

"Nde eomma." Jeno mengangguk.

Pandangan Doyoung beralih kepada Haechan yang masih bergelung di kasurnya, mungkin jika Doyoung tega dia bisa saja mengangkat anak itu dari kasur dan menceburkannya dalam bathtub. Dia heran dari siapa sifat Haechan yang tukang molor itu menurun. Doyoung langsung menarik selimut yang ada dibadan si gembul yang sama sekali tak bergeming.

"Channie." Doyoung menggoyangkan badan bocah itu.

"Haechan." Dua kali

Tiga kali.

Empat kali.

Doyoung menghela napas melihat Haechan yang malah membalikan tubuhnya dan membulat seperty fetusbaby.

"Donghyuckie jika kau tak akan bangun sekarang, tak ada ayam goreng selama seminggu."

"Eomma andweee~." Haechan berbalik ke arah Doyoung, dan memandang ibunya itu memelas.

Ajaib entah kenapa hanya dengan itu saja Haechan bisa bangun.

"Bangun, dan siapkan buku sekolah kalian." Doyoung mendudukan Haechan dari kasur.

"Baiklah eomma, dan ayam akan tetap ada bukan begitu Eomma."

"Ne, setelah itu langsung mandi, dan kedapurlah bersama Jeno-hyung, Ok." Doyoung mencium pipi Haechan.

"Oke, mom."

Selanjutnya Doyoung melangkahkan kakinya menuju kamar kakaknya yang masih tertutup rapat. Tak berbeda jauh dengan kamar Jeno dan Haechan kamar kakanya juga berantakan saat dia membukanya, dan itu membuat dia menjadi enggan untuk masuk dan memilih untuk menutupnya kembali.

"Ohh Seunghwan Hyung, ku pikir kau sudah pulang."

Doyoung sedekit terkejut melihat seorang pria tengah membuat kopi di dapurnya.

"Kau tau aku kesini?"

Doyoung hanya tertawa hambar mendengar pertanyaan Seunghwan, rona merah sedikit menghiasi pipinya, sedangkan pria itu hanya terkekeh, dia pikir Doyoung tadi pasti membuka kamar kekasihnya itu.

"Apa Donghyun sudah bangun?"

"Belum Hyung." Doyoung menggeleng, berjalan menuju tempat Seunghwan membuat kopi, dia mengambil toples bulat bertuliskan Dancow, untuk mmembuatkan susu bagi kedua anaknya.

"Kalau begitu aku yang akan mengantar anak-anak, aku sedang tak ada job hari ini."

Doyoung mengangguk, tak berapa lama percakapan mereka pagi itu berakhir, si kembar datang dengan penuh keributan.

.

.

.

"Kau yakin tidak ingin diantar?"

Doyoung memutar memuatar kedua matanya lelah, mendengar pertanyaan kesekian kalinya dari mulut hyungnya itu.

"Aku sudah sehat Hyung, jadi berhentilah bertanya seperti itu."

"Seunghwan bisa mengantarkan mu, Doyoungie." Donghyun menyenggol lengan kekasihnya yang asik dengan konsol game ditangannya, tidak terusik sedikit pun.

"Aku tak ingin ada skandal apapun oke, jadi, Bye."

Doyoung segera melengos pergi sebelum kakaknya itu melempar bantal sofa ditangannya atau memulai perkelahian dengan kekasihnya. Matahari hari cukup terik ketika dia melangkahkan kaaki keluar rumah, hingga Doyoung memasang memasang topinya, sekedar untuk menghalau cahaya terik itu menerpa wajahnya. Beruntung bis datang bertepatan ketika dia baru mencapai halte dan Doyoung bisa segera merasakan sejuknya airconditioner.

Doyoung mengambil hp dan memasang headsetnya, setelah memplay musiknya tangan Doyoung bergerak membuka pesan yang masuk, membalasnya satu persatu dan pesan terakhir, pesan orang tak dikenal itu.

Anonym, 028876xxxx

Your future husband

Doyoung

Ngawur!

Anonym, 028876xxxx

Aku serius!

Doyoung

Sudahi saja delusi mu tuan, tak ada yang namanya future husband

Aku sudah punya anak!

Anonym, 028876xxxx

Serius!? Aku lebih baik dari siapapun yang menjadi ayah dari anak mu itu.

Kau pasti akan menjadi istri ku.

Doyoung tambah kesal saja dengan nomor tak dikenal itu, akhirnya dia memilih untuk memblokirnya. Namun sebelum itu terlaksana pesan lain sudah masuk.

Anonym, 028876xxxx

Jangan coba memblokirnya, itu sia-sia.

Aku bisa menghubungi mu kapan saja.

Doyoung melirik sekitarnya, takut-takut sebenarnya dia sedang diuntit.

Doyoung

Suami ku lebih baik dari penggoda istri orang seperti mu -_-

You're so annoying

'Suami darimana? Jung Jaehyun, dia kan cuman mantan.'

Anonym, 028876xxxx

Jangan begitu, kamu itu milik ku bukan pria lain.

Kau bisa memiliki segalanya jika kau menerima ku!

Doyoung

Heol!

Suami ku pun bisa memberi ku segalanya.

Anonym, 028876xxxx

Benarkah? Lalu kenapa kau harus bekerja?

Pasti karena suami mu tak mampu memenuhi ekonomi keluarga kalian bukan?

Doyoung

Itu urusan ku.

Jangan coba menganggu rumah tangga orang lain sialan!

I Hate You!

Anonym, 028876xxxx

Oh tidak jangan membenci ku, kau begitu manis sih..

Katakan dulu siapa suami mu, maka aku akan berhenti mengganggu urusan rumah tangga mu.

Doyoung

Kau mungkin tak akan percaya,

Jung Jaehyun

Itu nama suamiku, jangan bertanya siapa itu Jung Jaehyun, karena semua orang mengenalnya

Bye.

Doyoung mendesah keras karena terlalu emosi tanpa sadar dia menahan napasnya, kepalanya dia bentur-benturkan kesandaran bantal bus hingga orang-orang memandangnya, yang tak disadari oleh Doyoung.

Terima kasih kepada nomor tak dikenal yang merusak hari indahnya. Demi dewa jashin, dewa dalamanime kesukan anak-anaknya dia mengakui dirinya sebagai istri dari seorang Jung Jaehyun, ingin rasanya Doyoung terjun saja sekarang dari bus ini. Semoga saja orang itu tidak percaya, yah tidak mungkinkan? Palingan hanya dianggap sebuah delusi, keutt.

Doyoung segera saja keluar ketika bisnya berhenti dihalte tujuannya. Berjalan menuju sebuah bangunan bertingkat tiga dan memasuki sebuah ruangan luas yang berisi berbagai alat musik didalamnya. Hanya ada seorang ketika Doyoung memasuki tempat itu.

Orang itu terlihat tengah serius dengan benda ditangannya, sampai panggilan Doyoung mengagetkannya.

"Taeyong"

"Hyung, kau mengagetkan ku."

"Kemana yang lain?" Doyoung menyilangkan tangannya menatap Taeyong. "Kenapa hanya kau disini?"

"Uhh hyung sendiri kenapa disini?" Taeyong memandang heran Doyoung.

"Tentu saja karena aku sudah sehat Lee Taeyong." Doyoung memandang galak Taeyong. "Panggil yang lain sekarang atau kau sendiri yang latihan."

Mendengar itu Taeyong menaruh gitarnya kelantai dan keluar dari ruang studio sebelum mood Doyoung semakin buruk.

.

.

.

"Hei kau tau Doyoung hyung kenapa?" Taeyong memandang Doyoung yang tengah melamun, mungkin wajahnya memang terlihat menatap komputer, tapi tidak dengan matanya.

"Entahlah." Taeyong beranjak dan mengambil sekaleng espresso dari tangan temannya.

"Yak, Tae-"

Taeyong melirik kearah Doyoung, mengisyaratkan temannya untuk tidak berteriak. Perlahan Taeyong berjalan menuju Doyoung, kaleng ditangannya dia tempelkan ke pipi pria manis itu membuat Doyoung tersentak ketika merasakan hawa dingin menyentuh pipinya, kepalanya menoleh kesamping dan melihat Taeyong sedang memandangnya.

"Ada apa, Tae?" Tanya Doyoung.

"Ambilah dulu."

Doyoung melempas headphone ditelinganya dan mengambil minuman kaleng itu. "Jadi?"

"Tak ada apa-apa." Taeyong mendudukan dirinya, dia memutar kursinya menghadap Doyoung. "Hanya saja anak-anak bilang kau menyebalkan sekali hari ini. Terutama Chenlee dia mengomel kalau kau akan mematahkan pita suaranya."

Doyoung terkekeh. "Sorry."

"Apa ada yang mengganggu mu Hyung?" Taeyong menatap ke arah Doyoung yang sedang membuka kaleng minumannya.

"Sedikit."

"Mau bercerita?"

"Bukan masalah besar kok."

'Mana mungkin aku bercerita mengenai Jaehyun.'

"Begitu, ku harap latihan selanjutnnya kau tidak semenyebalkan hari ini."

"Oke, oke pulanglah, bukankah kalian ada realityshow lusa? Aku juga akan pulang."

Taeyong terlihat berpikir sejenak, tanpa melepaskan pandangannya dari Doyoung. "Hyung, kuantar yah."

"Tidak, terima kasih. Katakan pada yang lain besok tak ada latihan oke, sampaikan maaf ku pada Chenlee karena telah membuat pita suaranya hampir putus." Doyoung bergegas keluar pintu.

"Tapi ini sudah malam Doyoung-hyung." Taeyong berjalan mengiringi langkah Doyoung.

"Tidak. Kau itu artis besar, jangan terlalu sering terlihat dipublik bersama orang lain."

"Kau kan bukan orang lain Hyung, seluruh orang di gedung ini tahu kalau kau itu pelatih vokal kami. Lagipula sudah lama sekali aku tidak bertemu kedua bocah itu." Taeyong memeluk lengan Doyoung dan melakukan aegyo. "Ayolah, hyung."

"Eww, terserahlah dan hentikan aegyo mu itu." Doyoung memberikan ekpressi geli kepada Taeyong.

"Thanks, bunny-hyung." Ucap Taeyong tak lupa memberikan kecupan dipipi kiri Doyoung baru melepaskan pelukannya untuk berlari mengambil mobilnya basement sekaligus lari dari amukan pelatih vocalnya itu. Sedangkan Doyoung sempat terdiam, lamat laun terlihat rona merah menghiasi wajahnya.

'Sial.' Doyoung menepuk wajahnya sambil menuju pintu keluar gedung agensi artis itu.

.

.

.

Saat pertama kali sampai dirumah Doyoung bingung melihat sebuah mobil mewah yang terparkir didepan rumahnya, karena itu bukan milik kakaknya atau pacarnya, namun kebingung itu terjawab ketika melihat siapa yang datang.

"Jaehyun apa yang kau lakukan di sini?"

"Hanya berkunjung." Ucap Jaehyun, matanya melirik ke arah Taeyong yang berada dibelakang Doyoung.

"Masuklah dulu."

Taeyong berjalan mengikuti Doyoung, Jaehyun yang mengikuti dari belakang memandang curiga pada Taeyong.

"Duduklah dimana pun kalian suka, akan akan menaruh barang ku terlebih dahulu dan memanggil anak-anak." Ucap Doyoung langsung meninggalkan Jaehyun dan Taeyong.

"Kau siapa?" Jaehyun.

"Taeyong."

Jaehyun menggeleng. "Maksud ku kau siapanya Doyoung?"

"Bukan urusan mu." Taeyong merasa risih dengan tatapan Jaehyun kepadanya sedari tadi. Lagipula dia mengenal pria didepannya ini, Jung Jaehyun, tapi yang Taeyong bingungkan bagaimana Doyoung mengenalnya. "Kau sendiri siapa?"

"Entahlah. Kau bisa menyebutnya calon suaminya,ah tidak aku memang suaminya."

Taeyong mendengus mendengar itu. "Setahu ku Doyoung-hyung tak mempunyai seseorang yang berstatus sebagai suami ataupun calon."

"Terserah, kalau kau tidak percaya, tanyakan sendiri pada Doyoung. Aku memang suami-."

Plaks. Taeyong melihat pelaku pemukulan pada kepada Taeyong. Itu Doyoung.

"Hyung, kau-."

"Bukan Taeyong. Jangan percaya omongannya." Doyoung melihat Jaehyun ingin membantah. "Jangan bicara macam-macam Jae, anak-anak sebentar lagi kesini."

Jaehyun menggerutu. Taeyong mengamati Jaehyun dan Doyoung yang terlihat berdebat kecil.

"Taeyong-ahjusshi~."

Teriakan khas anak kecil mengejutkan Taeyong, dia merasakan tubrukan berat ditubuhnya. Di lain sisi Jaehyun memandang anak-anaknya haru, walau sedikit kecewa karena buka dia dahulu yang pertama dihampiri.

"Jaehyun, sebaiknya kita berbicara di dapur." Doyoung menarik tangan Jaehyun, dia memberikan senyuman kecil berharap itu bisa sedikit menghibur pria itu. Jaehyun tak berbicara apa-apa membiarkan Doyoung menyeret tubuhnya.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Jaehyun ketika mereka mencapai dapur, Doyoung duduk didepannya setelah menaruh bir untuknya.

"Ini mengenai Jeno dan Haechan." Doyoung memandang ragu Jaehyun.

"Kenapa dengan mereka? Apa kau tak bisa mengatakan pada mereka kalau aku ayahnya."

"Maaf aku tak bisa segera memberi tahu mu kalau kau ayah mereka."

"Tak apa Doyoung-hyung, selama kau tak melarang ku untuk mendekati mereka." Jaehyun tersenyum. "Tapi kenapa? Apakah karena kita sudah tidak bersama lagi Hyung?"

Doyoung menggeleng. "Bukan, bukan karena itu."

"Lalu?" Jaehyun berucap santai sembari meminum birnya.

"Karena." Doyoung mengusap-ngusap kaleng ditangannya.

Jaehyung memandang tanya melalui tatapannya karena pria itu masih meneguk minumannya "…..?"

Doyoung memandang Jaehyun dengan tetapan memelas, membuat Jaehyun berdebar, berdebar menunggu kata selanjutnyna dari mulut Doyoung.

"Karena aku mengatakan pada anak-anak kalau ayah mereka telah mati dimedan perang."

Uhukk

.

.

.

TBC


Akhirnya ku up sekarang :'v btw ini malam banget/subuh, harusnya di up sedari tadi tapi aku lupa dan keasikan baca ff lain #slap

Maafkeun buat yang telah menunggu, ff ini semakin gaje saja wkwkw, dan apa ada yang bisa meluruskan apa panggilan buat pelatih vocal bagi artis?

Dan semoga tidak banyak typo bertebaran karena no edit, karena walaupun dah diedit pasti tetap ada typo, seperti chap 1 dan 2 dan 3 -_- #lol

Nah, sekian dan terima kepada para pembaca sekalian yang telah mampir atapun yang mereview ff ini, sampai jumpa di chapter selanjutnya :-D