Chanyeol menghela nafasnya sesaat setelah Baekhyun meninggalkannya. Dalam hati, ia merasa dirinya sangat kejam. Beruntung Kris menyerahkan Kunci mobilnya pada saat akhir Baekhyun bernyanyi. Jadi yang menjadi pusat perhatian saat itu adalah Baekhyun. Bukan dirinya atau Kris. Mata bulatnya dapat melihat bayangan –melalui Jendela Baekhyun dan Jongin yang sedang berbincang dan terlihat Baekhyun yang memiliki wajah frustasi.
"Dude, mungkin kau menang taruhan denganku. Tapi kurasa, kau kalah taruhan dengan Jongin. Jika aku menjadi kau, mungkin aku akan pindah dari sekolah ini"
Chanyeol tidak menghiraukan Kris. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Baekhyun, Byun Baekhyun. Pasti lelaki mungil itu sangat membencinya.
Bibir tebalnya terus mengutuk perkataan-nya yang pedas "Selamat atas kebodohanmu, Byun Pedas" saat itu bibirnya menyeringai. Padahal dalam hati Chanyeol bersungguh-sungguh keadaannya sedang meringis saat itu. Jika saja gengsinya dapat ditahan, Baekhyun tidak akan semarah ini. Tapi Chanyeol menggelengkan kepalanya. Biarkan saja. Lain waktu ia akan menjelaskan semuanya. Chanyeol terus menegaskan. Ia tidak mencintai Baekhyun.
Dilain tempat dan waktu yang bersamaan, Baekhyun juga bersikap sama. Menegaskan bahwa dirinya tidak mencintai Chanyeol.
Keduanya sama. Sama-sama munafik dan membohongi perasaan mereka sendiri.
If You Can Make Me Fall in Love with You !
Rate : M
Cast : ChanBaek and find it in your self
Length : Chaptered
Disclaimer : ChanBaek and This story is MINE xD
Genre : School life, Romantic, Little bit Angst, fluff
.o.o. .o.o.
"Aku tidak mencintainya, Jongin"
.o.o.o.o.o.o.
Stupid Confession
Baekhyun terus melangkahkan kedua kaki mungilnya untuk menjauh dari ruang kesenian. Tatapannya datar. Dan, kosong? Kedua mata bulan sabit yang biasanya bersinar, kini telah berubah. Yeah setidaknya untuk hari ini. Karena biasanya sosok mungil itu akan tetap ceria –seperti biasa ketika esok hari. Netra-nya dapat melihat kedua teman idiotnya –Jongdae dan Tao sedang terduduk tenang disana. Dengan perlahan kaki yang dibalut dengan celana berwarna putih –sesuai tuxedo dengan perlahan mendekati Jongdae dan Zitao kemudian mulai mendudukan bokongnya disamping kedua temannya. Jongdae dan Tao menolehkan kepalanya. Keduanya dapat melihat Baekhyun yang sedang terkekeh. Suatu hal telah terjadi disini. Biasanya jika Baekhyun Bahagia, ia akan langsung tertawa lepas. Lain jika halnya Baekhyun sedang terkekeh. Tandanya, suatu hal –miris? Sedang terjadi.
"Baek, ada –ap"
"Haha. Mereka menang. Sial. Shit" Jongdae terdiam saat mendengar umpatan kasar yang dilontarkan sahabat mungilnya itu. Jongdae menatap miris. Apa yang Chanyeol lakukan pada sahabatnya?
"Baixian, tenanglah" sekarang yang paling muda yang menenangkan. Pemuda dengan lingkaran hitam dimatanya terlihat sangat khawatir. Seperti inilah persahabatan mereka. Mereka saling mengejek, tetapi ejekan itu untuk menghibur. Tetapi disaat salah satu dari mereka sedang dalam keadaan kacau. Semuanya tenang. Serius. Seolah bersedia menjadi buku diary kapanpun dan dalam keadaan apapun.
"Aku sangat terkesan" Baekhyun terkekeh. Sedangkan yang lainnya hanya diam. Berusaha menyimak apa yang sedang terjadi. "Dia yang membuatku malu karena pernyataan cinta –bulshit nya didepan warga sekolah, Dia Juga yang membuatku jatuh lemas karena perkataannya tadi." Baekhyun berkata dengan terengah-engah. Tao mulai mengusap lembut punggung Baekhyun. Seolah-olah seperti menenangkan. Sedangkan yang memiliki bentuk wajah persegi hanya mengerutkan keningnya.
"Maksudmu, Baek?"
Jongdae bertanya dengan suara tidak terlalu kencang. Keduanya terlonjak kaget saat bahu Baekhyun mulai bergetar dan mata bulan sabit kesukaan mereka –Jongdae dan Tao mulai memerah. "Chanyeol, menjadikanku seperti alat bayaran untuk sebuah mobil" Baekhyun mengutuk suaranya yang tiba-tiba saja bergetar.
"Baek, kau mencintainya?"
Kenapa semua orang bertanya hal itu? "Ya Tuhan, Panda. Aku tidak mencintainya" nafas Baekhyun mulai tidak beraturan. Rasa sesak didadanya membuatnya sulit untuk bernafas.
"Siapa yang tidak sakit hati jika dirinya dijadikan barang taruhan? Jika saja Seulgi menjadikan ku barang taruhan, aku juga pasti akan sehancur ini" Baekhyun mulai mengusap pelan cairan kristal yang mulai keluar dari mata coklat miliknya. "Brengsek" Jongdae mendesis. Baekhyun terlonjak kaget. Gawat! Jika Jongdae sudah seperti itu, artinya Jongdae sudah melewati batas emosinya. Jongdae bisa saja berubah menjadi psikopat jika emosinya sudah diluar batas.
"Baek, kau sudah aku ingatkan agar tidak menghadiri pentas seni manusia planet itu. Tetapi kau tidak mendengarkan perkataanku, Baek. Aku lebih tau segalanya"
Baekhyun tersentak. Baru kali ini Jongdae membentaknya. Tao yang mendengar hal itu langsung bangkit dari duduknya dan berdiri dihadapan Jongdae "Hei Kotak. Tutup mulutmu, Bodoh" jari lentiknya menunjuk tepat dihidung yang lebih tua. Baekhyun yang melihat tingkah kedua sahabatnya hanya menggeleng. Dan sedikit menahan tawanya.
Jongdae mengangkat dagunya "Apa Panda?"
"Kau berlaga seolah-olah tau segalanya. Diamlah, idiot. Kita akan membahasnya setelah Baekhyun tenang nanti. Dan jangan membuka mulut berisikmu itu untuk menyela perkataan Baekhyun. Pengganggu sialan" Tawa Baekhyun meledak saat itu juga. Kedua temannya memang pintar membuat suasana menjadi lebih nyaman.
"Kau yang tutup mulut bocah" Jongdae mendengus kesal. Apa-apaan panda ini?
"Aku tidak bocah. Buktinya, aku jauh lebih tinggi darimu" Tao Menarik sisi sebelah kanan bibirnya yang berbentuk bibir kucing sehingga tampak seringai jahat –imut. Bibirnya yang menyeringai kembali mengerucut saat Jongdae tertawa mengejek.
"Kau bodoh, ya? Kau itu tidak normal. Tumbuh sepesat itu diwaktu muda. Lagipula aku fikir kau bukan panda. Mana ada Panda memiliki tinggi melebihi SMA Gyeongdam?" Jongdae menyeringai saat mata unta miliknya melihat Tao yang menendang udara kosong –tanda ia kesal. Lalu keempat mata itu beralih menatap sahabatnya yang sedang tertawa terpingkal-pingkal. "Hey Bacon ! puas mentertawakan kami?" Tao dan Jongdae mulai mendekati Baekhyun. Baekhyun yang menyadari suasana mencekam hanya bisa bereriak sambil tertawa. Jari-jari lentik Baekhyun mulai menahan pergerakan jari Jongdae dan Zitao yang sedang aktif menusuk-nusuk pinggangnya. Ketiga pemuda dengan perbedaan sifat itu tertawa bersama-sama. Tidak menghiraukan tatapan dari seseorang yang tidak jauh dari mereka.
Damn. I Really Miss You.
Tak terasa sudah dua hari setelah tragedi pengungkapan fakta taruhan Chanyeol dan tiga kawan idiotnya. Keadaan tidak berubah. Masih banyak yang menyangka kalau mereka masih berhubungan. Padahal, untuk sekarang Baekhyun membenci sosok jangkung bernama Chanyeol. Kaki mungil berlapiskan celana bermotif kotak-kotak itu sedang berjalan melalui lorong SMA Gyeongdam yang terkenal dengan megah dan kualitasnya. Lelaki mungil itu terus berjalan sambil menunduk. Tidak perduli dengan hal yang menabrak tubuh mungilnya. Langkahnya terhenti saat sepatu berwara Hitam dengan sedikit corak merah menghampiri pandangan mata cokelatnya. Baekhyun memejamkan matanya sejenak. Ia tahu persis siapa orang ini. Wangi mint yang menguar memperkuat dugaan kalau dia adalah
"Park Chanyeol"
Baekhyun mendesis. Aura menegangkan dapat dirasakan disini. Mata sipit kebanggaan Baekhyun menatap mahluk idiot itu dengan tajam. Chanyeol menatap Baekhyun intens membuat Baekhyun merasa tak nyaman "Sial. Aku benar-benar membencimu, Chanyeol"
Baekhyun melangkahkan kakinya melewati tubuh Chanyeol yang mematung. Seperti kehilangan Nyawa. Tetapi baru satu langkah Baekhyun bergerak menjauhi Chanyeol, langkah mungilnya kembali terhenti.
"Ah ya. Rambut merah milikmu semakin membuatmu, so.. Fucking Idiot, Giant."
Sedetik kemudian terdengar kekehan sinis dari bibir mungil milik Baekhyun. Kaki mungilnya mulai melanjutkan tugasnya. Melangkah menjauhi Chanyeol.
"Sial, Aku benar-benar merindukanmu"
Chanyeol mendesis tanpa sadar.
Sedetik kemudian, Chanyeol menggelengkan kepalanya.
.ooooo.
Baekhyun menenggelamkan kepalanya diantara lipatan tangannya diatas meja. Merasa sangat buruk. Pertemuannya dengan Chanyeol tadi pagi benar-benar membuat Baekhyun malas melakukan apapun. Seakan-akan Chanyeol adalah penghancur hidupnya.
Tanpa sadar, Baekhyun terus memikirkan Chanyeol.
Mr. Xiao menghentikan penjelasan mengenai rumus gravitasi yang dirumuskan oleh ilmuwan terkenal. Entah siapa namanya, Baekhyun tidak perduli. Lagipula kenapa orang zaman dahulu sangat suka menghitung hal aneh? Gravitasi saja pakai dihitung. Lagi pula jika kita menemukan durian jatuh dari pohonnya, tidak mungkin kan kita menghitung gaya gravitasinya sebelum kita mencicipi daging durian itu? Haha. Baekhyun mengambil kesimpulan. Orang Zaman Dahulu pasti tidak punya suatu hal yang harus dikerjakan selain meneliti. Untuk saja neneknya bukan salah satu dari peneliti itu.
Semua siswa mengerjakan tugas dari Mr. Xiao. Tapi tidaj dengan Baekhyun. Pria mungil itu hanya asik bersenandung. Lebih baik bersenandung daripada mengerjakan tugas aneh dari si melambai - Mr. Xiao itu. Baekhyun memanggil Mr. Xiao dengan sebutan melambai karen guru itu sama-sekali tidak tegas. Dan itu membuat Baekhyun malas saat jam pelajarnnya.
Baekhyun mengangkat wajahnya saat ada sebuah jari mencolek lengannya. "Ada apa?"
Itu Jongdae. Jongdae sepertinya sedang dalam keadaan yang... Rajin? Biasanya anak itu paling malas diantara yang lain. "Tadi aku bertemu Park Chanyeol" Jongdae memulai percakapan. Baekhyun memutar bola matanya malas.
"Bisa tolong jangan bahas dia?" Baekhyun memohon dan kembali menenggelamkan wajahnya. Jongdae menggeleng. Dan mulai bergerak antusias saat melihat Mr. Xiao keluar kelas.
Jongdae menangkup kedua pipi sahabatnya dan dengan sekali hentakan memaksa Baekhyun agar melihatnya. Baekhyun de javu. moment ini~ "Demi Tuhan, Baekhyun. Chanyeol meminta nomor barumu padaku. Lalu, dengan nada sangat memelas, ia bertanya padaku 'bagaimana keadaan Baekhyun?' nadanya memelas, tetapi wajahnya datar. Yasudah aku menjawabnya 'Mati' seperti itu." Baekhyun membolakan matanya. Hell ya~ Mati? Jongdae sama saja mendoakannya. Dasar Beagle Sialan!
"Kau jahat, Jongdae. Aku masih hidup kau bilang aku mati." Baekhyun mengerucutkan bibirnya "Kau tidak memberikan nomor handpone ku kan?" Baekhyun melanjutkan pertanyaan dengan sedikit berharap. Jongdae terkekeh.
"Tentu saja tidak. Enak saja dia. Aku tidak mau mahluk aneh itu kembali menyentuh Sahabatku walau hanya menyentuh sehelai rambutnya saja" Jongdae berkata dengan dramatis. Baekhyun menyernyit jijik. Jongdae memang sangat aneh.
"Ough~ Terimakasih, Beagle-pop" Baekhyun memutar bola matanya malas. Matanya ia alihkan bergerak menatap pemuda jangkung berkulit sedikit kecoklatan sedang tertidur? Baekhyun terkekeh geli.
"Panda itu tidak berubah sejak awal ia pindah kesini. Ugh aku rasa julukan itu tidak salah untuknya. Dia memang panda yang polos. Ia kan, Jongdae?"
keduanya tertawa ketika melihat Tao yang tiba-tiba saja terbatuk. Seperti menandakan bahwa Tao sempat mendengar perkataan mereka.
PRANG
Semua murid terlonjak kaget saat bunyi pecahan kaca menyapa pendengaran mereka.
Mata cokelat milik Baekhyun bergerak meneliti Bola Basket yang menggelinding didepan kelasnya. Perlahan, Baekhyun melangkahkan kakinya mendekat kearah bola basket itu. Dan jemari mungilnya tergerak untuk mengambil Bola Berwarna merah kecoklatan itu. Bibirnya tersenyum sinis saat matanya membaca kata 'pc' disekitar garis bola basketnya. Baekhyun melangkahkan kakinya keluar kelas dan benar saja, Chanyeol dan ketiga temannya sedang berdiri mengahadap kelasnya. Mereka pasti sedang membolos. Dengan bola basket ditangannya, Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol. Berdiri dihadapannya dengan tatapan seolah-olah Chanyeol adalah Mahluk Nista.
"Mau apa kau melempar bola ke arah kelasku? Setauku, lapangan Basket berada disebrang sana, tuan" Baekhyun menatap Chanyeol sinis sedangkan Chanyeol hanya menatap Baekhyun dengan pandangan yang.. Entahlah.
"Mencari Sensasi, Huh?" Telinga peri Chanyeol dapat mendengar tawa merdu dari seorang Byun Baekhyun.
"haha. Lelaki haus sensasi." Baekhyun membuang bola basket itu. Dan membalikan tubuh mungilnya kemudian berjalan menjauhi Baekhyun.
Baekhyun menghentikan langkah kakinya ketika tangan besar itu menahan tangan kirinya. Seketika Baekhyun menegang saat tangan itu menariknya yang secara otomatis tubuhnya berbalik dan menghadap Chanyeol sekarang.
Chanyeol menempelkan keningnya ke kening milik Baekhyun. Mata Bulatnya dapat melihat Baekhyun menegang. Dalam hati ia terkekeh. Baekhyun masih sama. Chanyeol menyeringai.
"Baekh~~ Aku akan menjelaskan semuanya"
Baekhyun bergidik saat hembusan nafas Chanyeol menyapu permukaan pipinya. Setelah sadar, Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol. Chanyeol yang tidak ada persiapan pun akhirnya oleng dan melepas kontak fisik mereka.
"Shut up ur Mount. Bitch"
Jongdae dan Tao menganga disana. Menandakan bahwa mereka kaget dengan perkataan Baekhyun. Oh Ayolah~ Setau mereka Baekhyun tidak akan mengeluarkan kata-kata sampah itu. Semarah apapun. Itu menandakan kali ini Baekhyun benar-benar marah.
Jangankan Jongdae, Baekhyun saja terlonjak kaget saat ia mendengar perkataannya sendiri.
Baekhyun memutar tubuhnya dan berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Matanya memutar bolanya malas saat melihat Jongdae dan Zitao sedang bertepuk tangan meriah. "Bacon, Kau Hebat!" keduanya tertawa. Tapi tidak dengan Baekhyun.
"Baek Ayo pulang bersama!"
Ketiganya terdiam. Mencoba mendalami suara itu. Haha itu Suara Chanyeol, idiot.
Ketiganya hanya berjalan memasuki kelasnya. Tidak menghiraukan ajakan Chanyeol.
Luhan Is Back!
Pukul Setengah Satu siang, Suara dentingan bell berbunyi. Menandakan seluruh siswa SMA Gyeongdam dipersilahkan untuk pulang. Semua Murid terlihat sangat antusias. Melepaskan penat selepas sekolah tidak masalah, kan?
Begitu juga dengan tiga sekawan dari kelas XI-D . Baekhyun, Jongdae dan Zitao. Ketiga sekawan itu berniat akan refreshing di salah satu pusat perbelanjaan. Tapi sebelumnya, mereka ingin menjemput sahabatnya yang berasal dari Beijing. Sekarang Luhan -sang sahabat sudah hampir sampai di Incheon. Kali ini Baekhyun harus merelakan mobil berwarna hitam miliknya untuk dikendarai berkeliling seoul oleh teman-temannya. Baekhyun merasa ia seperti Supir. Tapi, Tidak apa. Ini juga untuk kepentingannya, kan?
Aku akan sedikit menjelaskan tentang persahabatan mereka. Baekhyun, Jongdae dan Luhan sudah bersahabat sejak mereka berada di tingkat SMP. Lalu Luhan terpaksa pindah ke Beijing setelah lulus SMP dikarenakan urusan bisnis keluarganya. Awalnya Luhan menolak. Tapi melihat ibunya yang memelas padanya membuat Luhan tidak tega. Ibunyanya sudah rela membanting tulang seharian demi kebutuhannya. Ya, Ayah Luhan meninggalkannya sewaktu Luhan masih didalam kandungan. Meninggalkannya selama-lamanya karena kecelakaan yang dialami ayahnya. Maka dari itu, Luhan memutuskan untuk berangkat ke Beijing.
Lanjut kisah persahabatan mereka. Setelah Berpisah dengan Luhan, -Asal kalian tau, tidak ada acara tangisan disana. Yang ada hanya acara sumpah serapah- keduanya; Baekhyun dan Jongdae kembali masuk disekolah yang sama. Satu kelas saat kelas sebelas. Pada saat kelas sepuluh, mereka berbeda kelas. Tentu saja.
Pada saat kelas sepuluh, kelas Baekhyun mendapati Siswa baru pada awal semester genap. Anak itu Zitao. Si polos dan Si pemalu. Baekhyun yang gemas sendiri mengajak Tao untuk berteman dengan mereka. Alhasil, Zitao si pemalu sudah lenyap.
Bagaimana dengan Luhan? Rusa China itu sudah megetahui adanya anggota baru dalam 'keluarga' mereka. Luhan tidak masalah. Malah ia sangat menyukai Zitao. Mereka berempat lebih sering berkomunikasi melalui Skype. Membuat Luhan menjadi tau sosok Zitao.
Sekarang mereka sudah sampai dibandara Incheon. Tak Lupa mereka membawa Banner bertuliskan 'Lu Han' agar si rusa lebih mudah bertemu dengan mereka. Kali ini yang mengangkat banner adalah Zitao. Mengingat yang paling muda dan juga ehm.. Paling tinggi.
"Bacon!"
Baekhyun menolehkan kepalanya saat telingannya merasa seseorang memanggil namanya. Matanya berbinar saat melihat lelaki cukup mungil bersurai oranye sedang berlari kearah mereka. Begitu juga Jongdae dan Zitao.
GREP
Luhan melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun. Maklumi saja. Baekhyun yang dilihat pertama oleh Luhan. Jadi, Baekhyun adalah orang pertama yang dipeluk Luhan
Luhan melepaskan pelukannya "Demi Tuhan ! Aku benar-benar merindukan kalian. Oh im so.. Fcking Miss our moment" keempatnya tertawa. Mata Rusa milik Luhan tergerak untuk melirik pemuda tinggi disamping Jongdae. Matanya membola. "Zitao?"
Tao hanya mengangguk.
"Ya Tuhan! Sungguh! aku sangka kau memiliki tubuh yang mungil seperti Bacon ini" Baekhyun memutar bola matanya malas. Sedangkan Tao Hanya tertawa kecil.
"Pertumbuhanku, tidak lambat, okey?"
"Yach! Panda Bodoh" Semuanya tergelak. Kecuali Baekhyun tentu saja. "Ugh~ Ayo cepat ke mobilmu. Aku sangat lelah. Rasanya aku menginginkan kita bersenang-senang hari ini. Aku yang akan Traktir" Semuanya bersorak. Dasar anak sekolah. Maunya yang gratis.
Hey, Selama ada yang Gratis, tak perlu memilih yang bayar, kan?
.oooo.
Baekhyun mendecak kagum. Gila, mereka baru pulang pukul lima Sore. Dan mereka memutuskan untuk sedikit bermain dan menginap dirumah Luhan yang baru. Lagipula, besok hari minggu.
"Aku ingin bercerita" Luhan menghembuskan nafasnya. Ketiga temannya hanya meliriknya. Bingung dan penasaran.
"Cerita Saja" Jongdae akhirnya mengeluarkan satu kata.
"Ibuku menikah lagi saat di Beijing" ketiga temannya terlonjak kaget. "APA?"
"Ya, Ibuku menikah lagi dengan salah satu teman koleganya. Aku akui Pria itu memang Baik dan Tampan. Tetapi, Anaknya... Anaknya belum menerima itu" Tao yang melihat keadaan Luhan sangat frustasi, dengan polos hanya mengusap bahu pria bermata rusa itu.
"Anaknya bahkan tidak mau datang pada saat pernikahan Ayah dan Ibu. Dan kalian tahu? Sekarang aku akan tinggal dengannya. Dia belum menerima Ibuku. Tapi dia sangat menerima kehadiranku, saat di email, dia selalu memanggilku 'Hyung' karena aku lebih tua satu tahun darinya. Aku cukup senang. Tetapi, ia masih memanggil Ibuku dengan sebutan 'Ahjumma'. Ayahnya memang mengatakan, kalau Anak itu ingin mempunyai seorang saudara. " tanpa Luhan sadari Baekhyun meneteskan air matanya. Baekhyun menangis karena ia sangat merasakan bagaimana berada diposisi Luhan. Disaat Ibunya menjadi seperti 'tidak dianggap'
"Maka dari itu, aku mohon. Bantu aku agar anak itu mau memanggil ibuku dengan sebutan Ibu." Akhirnya airmata itu lolos juga. Luhan memang paling lemah soal urusan 'Ibu' anak itu akan menangis seperti rusa yang tersesat.
Tiga orang lainnya hanya mengangguk. "Tentu saja, Lu! Aku akan menjadi yang terdepan untuk meluluhkan saudara tirimu itu" Luhan terkekeh dan melingkarkan tangannya dileher Baekhyun yang sedang menyetir.
"Aku pegang omonganmu, aku benar-benar akan menjadikanmu Bacon, Baek" Luhan dapat melihat tatapan datar dari seorang Byun Baekhyun. Luhan terkekeh geli.
Untuk dua detik, keadaan mobil menjadi hening.
"Kau tau Luhan? Salah satu dari kita ada yang berbeda haluan" itu suara sialan Jongdae. Damn! Baekhyun sangat tau maksud dari omongan Jongdae adalah dirinya. Heol~ Baekhyun masih seratus persen Lurus! Yeah~ Walaupun Lehernya pernah di'lewati' oleh bibir seorang Park Chanyeol. Tapi, saat itu Baekhyun benar-benar Khilaf, oke?
"Maksudmu?" Luhan menyernyit bingung. Kedua manusia nista -menurut Baekhyun itu sekarang menyeringai.
"Gay, Baekhyun.. G-"
"Shut up, Jongdae. Kau benar-benar merasa paling benar" Baekhyun membuang wajahnya. Sedangkan Jongdae hanya tertawa nista.
"Kalau kau tidak Gay, tidak mungkin kau menang-"
"Cukup Jongdae! Beagle Sialan! Kotak! Idiot! Motherfucker!" Baekhyun berteriak frustasi. Sedangkan Jongdae, Tao dan Luhan tertawa.
"Hey, itu tidak masalah. Asal kalian saling mencintai" Luhan tersenyun tipis
"Lu, disana ada pertigaan, kemana arah rumahmu?" Baekhyun tidak menghiraukan ucapan Luhan. Luhan mendengus menahan tawa.
"Kiri, Baek. Belok ke arah kiri" Baekhyun hanya menangguk. Dan mulai melajukan mobilnya. Sepertinya ia mengenal perumahan ini. Tapi, ? Baekhyun mengusir pikiran negatifnya.
"Berhenti"
Luhan berkata cukup kencang. Keempat orang itu langsung membuka sealtbelt nya dan bergegas keluar dari mobil hitam milik Baekhyun.
Saat itu juga mata Baekhyun membola.
"Lu, kau yakin tidak salah alamat?" Luhan mengerutkan keningnya. "Tidak. Saudara-ku mengatakan ini alamatnya. Nomor lima puluh enam" Luhan mengecek ulang ponselnya. Mengecek email dari saudaranya.
"Nah aku sudah mengiriminya pesan. Nah ayo kita masuk. Ia akan membukakan pintunya" dengan semangat Jongdae, Tao dan Luhan melangkahkan kakinya mendekati pintu mewah itu. Kecuali Baekhyun.
Tuhan.. Ini mimpi buruk
Luhan memencet Bell rumah saudara tirinya. Setelah memencet bellnya sebanyak dua kali, decitan pintu mulai terdengar. Munculah sesosok lelaki tinggi yang mungkin menyamai Tao. "Selamat Datang, Hyung" lelaki itu tersenyum hangat. Dibalas juga senyuman hangat dari Luhan "Terima Kasih, Chanyeol". Chanyeol mengangguk dan mengangkat wajahnya.
"Nah, Ayo masuk." Luhan mengajak ketiga temannya yang sibuk mematung. Terutama Baekhyun. Lelaki mungil itu bergerak gelisah.
"Hey, Baek kau kenapa? Ayo masuk!" Chanyeol langsung mengangkat wajahnya ketika Luhan menyebut nama Baekhyun. Chanyeol menyeringai. Baekhyun mengangguk. Dan akhirnya mereka melangkahkan kakinya berjalan memasuki rumah Chanyeol. Baekhyun melangkahkan kakinya malas. Tepat ditengah-tengah pintu, Chanyeol langsung mendekatkan dirinya pada Baekhyun dan mencengkram pundaknya. Sementara Baekhyun berusaha melepaskan cengkramannya.
"Lepaskan aku, Chanyeol. Kita sudah tidak ada urusan apapun" Baekhyun berkata dengan tajam. Chanyeol menghela nafasnya. Dan memberikan jalan untuk Baekhyun. Baekhyun langsung berlari menyusul teman-temannya yang berada di ruang televisi Chanyeol.
To Be Continued ...
Author Note's
Well, aku pdate ^0^ Terima kasih untuk yang masih setia menunggu. aku mempercepat posting ff ini di bandin OB Karena aku ingin meluruskan suatu hal. Untuk salah satu pemberi kritik (atau bash?) yang tidak menggunakan nama / Guest aku benar benar berterimakasih. well, apa alur cerita ini tidak masuk akal? jika memang iya, ak mohon bimbingannya. aku juga baru didunia ff ini.
Ga ada Kesan sad pada saat Chanyeol menyatakan taruhannya : Maaf. sekali lagi maaf. aku berarti belum berhasil. aku akan terus belajar dan belajar^0^ Well, Focus FF ini tidak jatuh pada saat Chanyeol taruhan dengan temann-temannya. tetapi fokus FF ini adalah Obsesi Chanyeol. jadi aku tidak mau terlalu mendalami soal Taruhan. mengerti?
dan untuk Guest aku benar-benar berterima kasih atas kritiknya. tapi alangkah lebih baik jika kamu menggunakan akun agar kita bisa bertukar fikiran dan kamu tidak terlalu terlihat pengecut ^0^
tetapi aku jauh lebih berterima kasih pada reader yang masih mau membaca FF murahan ini. Well, bisa kalian tebak apa yang akan terjadi dirumah Chanyeol? ayo menebak di kolom komentar XD
Mind To Review?
