Well, untuk kali ini aku tidak menerima Bash/Flame. Aku hanya menerima Bash jika ia menggunakan Akun. Jika tidak menggunakan akun, aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin meladeni seorang yang hanya bisa mengejek karya orang lain. Well, seperti di FF aku "Oh,Baekhyun" . karma itu ada. Dan karma itu berlaku. Dear Guest (Yang memberi saya Bash). Kau seperti pengecut. Terimakasih

.

.

..

Here We Go...

Chanyeol memutar bolamatanya malas saat handponenya berdering. Wajah tampannya kembali memasang wajah datar. Saat dihadponenya terpampang deretan huruf yang membentuk kata "Ayah". Dengan gerakan malas, Chanyeol menggeser touchscreennya. Dan segera menempelkan handponenya ke telinga peri milik Chanyeol. "Hallo ayah"

Chanyeol memasukan makanan ringan itu ke mulutnya. "Kau berada dimana, Chanyeol?" Suara sang ayah mulai terdengar disebrang sana. Chanyeol memasang wajah bingung.

"Apartemen, Ayah. Ada apa?"

Chanyeol dapat mendengar ayahnya mendecak kesal. "Demi Tuhan, Chanyeol. Kau punya Rumah yang besar kenapa kau memilih tinggal di apartemen? Sekarang cepat pulang. Kakak tirimu akan segera sampai di Seoul"

Chanyeol kembali berdecak malas. "Untuk apa aku menetap dirumah yang sangat megah tetapi tidak ada aura kehangatan disana? Kalau bukan karena Hyung, aku sungguh tidak ingin berada dirumah saat ini, ayah. Apalagi jika ada kau dan wanita itu"

"Tutup mulutmu Chanyeol!" Chanyeol mengikuti omongan sang ayah, tetapi tanpa mengeluarkan suara. "Hyejeong adalah Ibumu"

"Sampai kapanpun aku tidak mau menganggapnya Ibu. Sekalipun yang menyuruhku adalah orang yang aku cintai. Aku tutup ayah. Aku akan pulang kerumah."

Chanyeol memutus sambungan secara sepihak dan bergegas bangkit dari duduknya. Mengambil jaket berarna hitam miliknya dan segera bergegas untuk segera pulang dai rumahnya. Walaupun Luhan adalah Kakak tirinya, tetapi Chanyeol sangat menyayanginya. Yeah Chanyeol memang sangat menginginkan mempunyai kakak.

Chanyeol tidak menyadari bahwa tidak lama lagi, ia akan memanggil Hyejeong dengan sebutan 'Ibu'


If You Can Make Me Fall in Love with You !

Rate : M

Cast : ChanBaek and find it in your self

Length : Chaptered

Disclaimer : ChanBaek and This story is MINE xD

Genre : School life, Romantic, Little bit Angst, fluff

P.S : Aku memberikan FF ini rating M karena banyak kata-kata yang kasar. Contoh seperti Chapter kemarin terdapat kata "Bitch". Aku tidak mensensor perkataan itu karena sudah jelas kan, rating FF ini adalah Mature. Lagipuula aku merasa kurang nyaman jika sedang saling mengejek jika kata-kata tersebut disensor. Misalnya "Shut up ur mounth bitch" kan bakalan ga enak jika teksnya menjadi seperti ini "Shut up ur mounth teeet(?)"

Ayo kita berimajinasi^0^

.

.

.

.

...

.


Chanyeol memutar bola matanya malas saat melihat jam dinding diatas televisinya. Ini sudah pukul lima sore. Tetapi Hyung-nya belum juga datang. Errgh Chanyeol sangat benci menunggu. Chanyeol mengosongkan pikirannya. Tiba-tiba saja, tanpa permisi Bayangan Baekhyun yang sedang tersenyum singkat padanya melewati pikirannya. Kalau boleh jujur, Chanyeol merindukan itu. Sekali lagi, Chanyeol benar-benar berat dengan gengsi. Chanyeol merasa sangat fatal jika Baekhyun mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Chanyeol sangat khawatir pada keadaan Baekhyun pada saat pengungkapan taruhan. Dan jika boleh jujur Chanyeol tidak suka saat Jongin menatap Baekhyun dengan tatapan Khawatirnya. Tapi Chanyeol hanya merasa bahwa dirinya hanya terbawa suasana.

Chanyeol masih memikirkan bagimana caranya meminta maaf pada Baekhyun. Chanyeol sudah paham sifat Baekhyun. Ia tidak akan mudah luluh pada seseorang yang menyakiti hatinya. Itulah Baekhyun. Umpatan kasar yang Dilayangkan Baekhyun pada saat dengan sengaja Chanyeol memecahkan salah satu kaca kelas Baekhyun.

Baekhyun benar-benar menakutkan jika seperti itu.

Tetapi sedetik kemudian Chanyeol terkekeh saat mengingat Baekhyun mendadak gugup karena Chanyeol yang menempelkan keningnya dengan kening milik Baekhyun. Chanyeol menyukai saat melihat ekspresi ketakutan milik Baekhyun. Tanpa sadar, Chanyeol terkekeh.

Sedetik kemudian Chanyeol membeku. Baekhyun benar-benar membuatnya gila.

Well, Chanyeol mengaku ia menyesal telah menjadikan Baekhyun 'mainannya' faktanya, hatinya dan pikirannya sekarang telah dipermainkan Baekhyun. Pikirannya tidak bisa berhenti menuju selain pemuda bermata bulan sabit itu.

Chanyeol menghela nafasnya frustasi. "Baekhyun sialan. Keluar dari pikiranku" Chanyol terus mnsugestikan hal itu. Namun sialnya, wajah manis milik Baekhyun, masih ingin selalu menghipnotis pikiran Chanyeol.

Chanyeol menghela nafasnya. Jika Chanyeol diberi kesempatan untuk berbicara dengan Baekhyun, Dan Baekhyun memaafkannya, Chanyeol akan memeluk Tubuh mungil Baekhyun yang terasa pas dipelukannya lalu menghirup aroma tubuh Baekhyun dan kemudian –HENTIKAN PIKIRAN MESUM-MU, PARK! –drrt drrt

Handpone Chanyeol bergetar. Menandakan adanya pesan masuk.

Chanyeol berbinar saat membuka pesan. Itu hyungnya! Akhirnya ia datang juga.

Fr; LuHyung

Aku sudah sampai, Chanyeol.

Chanyeol tersenyum sumringah.

Akhirnya ia tidak sendirian lagi dirumah ini. Chanyeol mulai bangkit dari duduknya dan bergerak membuka pintu.

CKLEK

Pintu terbuka. Menampakan sesosok lelaki mungil sedang tersenyum tipis padanya. Chanyeol tertegun. Kenapa.. Luhan sangat mirip dengan Baekhyun? Chanyeol menggelengkan kepalanya. Baekhyun memiliki rambut berwarna hitam sekarang. Sedangkan hyungnya berwarna oranye.

"Selamat datang, Hyung" Chanyeol tersenyum pada Luhan. Luhan membalasnya. "Terimakasih, Chanyeol" Chanyeol hanya mengangguk dan kembali memainkan ponselnya.

"Nah, Ayo kita masuk. Hey Baek? Kau baik-baik saja?""

Chanyeol tertegun saat hyungnya menyebut nama 'Baek'. Chanyeol mengangkat wajahnya. Matanya dapat melihat Baekhyun yang sedang memandang kesegala arah. Luhan mulai berjalan melewati pintu. Diikuti oleh dua manusia pengganggu. Jongdae dan Tao. Mata Phoenix miliknya melihat Baekhyun yang sedang berjalan sambil memainkan handponenya. Tepat ditengah pintu, Chanyeol memajukan tubuhnya satu langkah. Sehingga tubuh mungil yang sangat cocok didalam rengkuhan Chanyeol sedikit meringkuk. Chanyeol terkekeh. Chanyeol memejamkan matanya saat aroma Vanilla mulai memasuki indra penciumannya. Lima detik kemudian Chanyeol membuka matanya. Menatap Baekhyun intens. Sedangkan yang ditatap hanya melayangkan tatapan kebencian. Chanyeol sedikit meringis. Apa tidak ada harapan lagi?

Hey Tuan, memang kau mengharapkan apa?

"Lepaskan, Chanyeol. Kita sudah tidak mempunyai urusan apapun." Baekhyun berkata dengan sinis. Chanyeol mundur satu langkah mempersilahkan Baekhyun untuk masuk. Baekhyun langsung mengeratkan tas punggungnya dan segera menyusul Luhan dan dua teman idiotnya.

Chanyeol benar-benar memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan maaf dari Baekhyun. Yeah. Mumpung Baekhyun ada disini. Ia harus memanfaatkan kesempatan ini.

By The Way, Dunia sangat sempit. Haha. Atau ini semacam.. Takdir?

.oooo.

Baekhyun mencebikkan bibirnya. Moodnya benar-benar jelek sekarang. Semoga saja ketiga teman bodohnya itu tidak memperburuk keadaan. Mata bulan sabitnya melirik Jongdae yang duduk disampingnya. Baekhyun memutar bolamatanya malas. "Hey Bacon, dunia sempit sekali yah" Jongdae terkekeh. Baekhyun memukul pelan kepala Jongdae. Jongdae semakin tertawa geli. Keduanya terdiam saat adik-kakak itu -Chanyeol dan Luhan bergerak duduk di hadapan mereka. Luhan tersenyum manis. Chanyeol pun begitu. Tapi dimata Baekhyun, itu sangat idiot.

Baekhyun menundukan wajahnya. "Well, Kenalkan dia Chanye-"

"Cukup Luhan. Kami sudah mengenal mahluk nista ini" Baekhyun berkata dengan ketus dan tersenyum miring. Chanyeol juga begitu. Luhan yang tidak tau apa-apa hanya mengerutkan keningnya.

"Baixian, jangan berbicara seperti itu" dengan nada sok menggurui tetapi polos, Zi Tao mengeluarkan pendapatnya. Baekhyun menurunkan topi miliknya hingga menutupi wajah imutnya.

"Ayolah, Chanyeol itu memang nista-kan?" Tanpa memperdulikan tatapan bingung dari Luhan.

"Hey! Ada apa dengan kalian? Bacon, baru kali ini kau semarah itu" Luhan berkata dengan bingung. Baekhyun memutar bolamatanya malas.

"Rusa, Chanyeol lah yang membuat Baekhyun berubah halu-"

"Tutup mulutmu, Kotak sialan" Baekhyun memotong ucapan Jongdae. Jongdae tidak marah dengan ucapan Baekhyun. Pria berwajah persegi itu malah tertawa terbahak-bahak. Oh, Tao Juga. Baekhyun mengusap wajahnya Frustasi. Dan menghembuskan nafasnya perlahan. Berusaha agar tetap tenang. Matanya melirik Chanyeol yang sedang terkekeh. Baekhyun mendesah malas. "Lu, Aku minta maaf. Aku benar-benar lelah. Aku.. Ingin beristirahat. Dimana kamarnya?"

Luhan mengangguk mengerti. "Nah maka dari itu, kita akan merundingkan soal kamar".

Baekhyun menyenderkan tubunya dan menutup wajahnya. "Nah. Disini hanya dua kamar yang benar-benar tersedia"

Luhan menjentikan jarinya. "Yang pertama, Kamar Chanyeol. Yang kedua, Kamarku"

"Karena itu aku akan membuat kartu undian, supaya adil. Dua orang dikamar Chanyeol dan Satu orang dikamarku" Luhan mengambil nafas untuk melanjutkan

"AKU BERSAMA LUHAN" Baekhyun berteriak memotong omongan Luhan. Luhan meringis. Baekhyun sangat berisik.

"Diamlah, Bacon." Baekhyun mengerucutkan bibirnya saat Luhan membentaknya.

"Nah, Kertas ini akan ku tuliskan namaku dan Chanyeol. Setelah aku acak. Kalian boleh mengambilnya" Luhan menangkup tiga kertas di tangannya. Dan mulai mengacak-acak kertasnya. Ketiga kertas di tangannya kemudian dijatuhkan. Jongdae, Tao dan Baekhyun berebut mengambil kertas.

Ketiga orang itu membuka kertas secara perlahan. Terlihat Jongdae yang sangat senang disini. "Uuuh Yeah~ Aku bersama di rusa!"

Semua orang disana langsung terlonjak kaget karena tiba-tiba Baekhyun berdiri. "Aku tidak jadi menginap. Ayahku akan marah" Baekhyun segera berlari kearah pintu

Luhan, Jongdae dan Tao bergerak panik. "Ya Tuhan. Bagaimana ini?" Luhan berbisik frustasi. Kenapa jadinya seperti ini. Mata mereka melirik Chanyeol yang mulai tergerak untuk mengejar Baekhyun. Jongdae mendengus.

"Baekhyun"

Chanyeol berkata dengan sedikit berteriak. Baekhyun masih terus berjalan.

"Byun Baekhyun"

Chanyeol frustasi saat melihat Baekhyun masih saja berjalan.

"Baby, dengarkan omongan Giant-mu"

Luhan yang sedang meminum air mineral langsung tersedak. Dan matanya langsung tertuju pada dua orang yang sedang layaknya pemeran drama. Berhasil. Baekhyun membeku disana. Masih terekam jelas dipikiran Baekhyun betapa bodohnya ia saat itu. Luka itu kembali terbuka. Baekhyun masih terdiam disaat bunyi decitan sendal rumah milik Chanyeol sampai di indra pendengarannya. Chanyeol melingkarkan tangannya dileher milik Baekhyun.

"Byun, Aku tau kau marah padaku. Bersikaplah profesional. Jangan membawa masalah pribadi kedalam kehidupan sahabatmu. Kita bisa menyelesaikannya" Baekhyun memejamkan matanya saat hembusan nafas Chanyeol terasa hangat di lehernya. Baekhyun memberontak.

"Aku tidak profesional? Hh bodoh"

Baekhyun mendesis. Dan Chanyeol menyeringai.

"Kita Buktikan siapa yang sebenarnya tidak profesional." Baekhyun kembali bergerak mendekati teman-temannya.

Chanyeol terdiam. Ia merasa, dirinya-lah yang tidak profesional. Yeah kalian bisa tafsirkan apa maksud kalimat itu.

.o.o.o.o.

Baekhyun mendudukan tubuhnya diranjang king size milik Chanyeol. Tao yang menjadi satu kamar dengan Chanyeol yang tentunya satu kamar dengan Baekhyun, perlahan melangkah mendekati Baekhyun."Baixian, Apa kau baik-baik saja?" Baekhyun hanya mengangguk lemas. "Aku Baik. Aku hanya ingin ke kamar mandi dan sedikit membasuh tubuhku.

Pikiran Chanyeol menjelajah kemana-mana saat Baekhyun menyebut kata 'tubuh'. Tubuh Baekhyun pasti sangat mulus. Yeah itu terbukti saat dirinya 'hampir' menyentuh Baekhyun. Yeah saat hari dimana mereka hampir menyatukan tubuh mereka jika saja Jongin tidak datang. Chanyeol berusaha menghapusl pikiran mesumnya. Tanpa ia sadari mata phoenixnya menatap intens seorang Baekhyun.

Baekhyun yang melihat hal itu hanya memutar bola matanya malas. Dasar maniak -pikirnya.

Kaki mungilnya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tersisa dua orang disana. Chanyeol dan Tao. Tercipta suasana Canggung disini. "Tao. Bisa keluar sebentar?" Tao mendelik. Mau apa Manusia raksasa ini. Haha ayolah Tao~ sadar diri !

"Kalau aku tidak mau?"

Chanyeol memutar bola matanya malas saat mendengar nada menantang dari Tao.

"Aku hanya ingin membicarakan suatu hal dengannya. Kumohon"

Tao menatap Chanyeol. Mencari kebohongan disana. "Baiklah. Jika Baekhyun terluka sedikitpun, akan aku pastikan tongkat wushuku melayang"

Tao berkata dengan sinis. Dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar milik Chanyeol.

Cklek

Tao menghela nafasnya. Tao telah memberikan kepercayaan pada Chanyeol. Tao bisa membaca raut wajah Chanyeol yang terlihat sangat menyesal. Mungkin Chanyeol akan meminta maaf?

Tao mengetuk pintu kamar Luhan.

"Dae-yaa, Luge"

Cklek

Pintu kamar terbuka. Nampak seorang pemuda mungil berpakaian piyama berwarna merah bata sedang menguap. "Ada apa Panda?" Luhan bertanya.

"Chanyeol meminta aku keluar kamar karena mereka ingin menyelesaikan masalahnya." Luhan langsung terlonjak saat mendengar penjelasan itu. Ia benar-benar penasaran.

"Ayo masuk" Luhan menuntun Tao
agar masuk ke kamarnya. "Kalau boleh aku tau, apa hubungan Chanyeol dan Baekhyun?" Luhan memulai percakapan mereka. Tao menatap Jongdae. Begitupun sebaliknya.

"Chanyeol adalah Badboy di sekolah. Baekhyun adalah Korban terakhirnya" Tao mulai menjelaskan. Luhan mengerutkan keningnya. Masih bingung.

"Baekhyun menjadi Barang taruhan Chanyeol beberapa waktu lalu. Baekhyun bernyanyi di pentas seni kelasnya dan yeah. Aku tidak sanggup melanjuti. Baekhyun terlihat sangat tersakiti disitu. Baru kali ini aku melihat Baekhyun sesakit itu. Yeah mungkin karena ia baru pertama kali berpacaran" Luhan mengangguk.

"Aku kira Chanyeol anak baik-baik"

.oooo.

Chanyeol mengunci pintu secara perlahan sesaat setelah Tao keluar kamarnya. Berjaga-jaga agar Baekhyun tidak kabur.

Sekarang Chanyeol bergerak untuk mendekati pintu kamar mandi.

Baekhyun itu mandi atau berbelanja sih? Lama sekali.

Cklek

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Baekhyun keluar kamar mandi hanya mempunyai kaus dalam tipis. Baekhyun terlonjak kaget saat melihat pria tinggi dihadapannya. Baekhyun tambah terkejut saat tangan-tangan besar Chanyeol mulai merengkuh pinggangnya.

"Lepas, Idiot!"

Namun Chanyeol tidak menghiraukan. Chanyeol menempelkan dahinya dengan Dahi Baekhyun. "Baekhyun, Tolong berikan aku kesempatan untuk berbicara"

Baekhyun masih memberontak. Yang paling tinggi menjadi panik. "Baek ayo kita bermain game" Baekhyun langsung terdiam.

"Siapa yang paling pertama bisa menjatuhkan salahsatu dari kita diatas ranjang itu, yang terjatuh diranjang harus memenuhi satu permintaan si pembanting" Baekhyun menyeringai. Ini saatnya Baekhyun membuktikan kalau dia itu Manly! Haha. Pemimpi.

Dengan seringai yang lebar Baekhyun mengangguk. Chanyeol terkekeh. "Apa yang kau inginkan jika kau menang?" Chanyeol bertanya pada Baekhyun.

"Aku ingin... Kau jangan menampakan diri lagi dihadapanku" Chanyeol tertegun. Apa bisa? Chanyeol semakin berambisi untuk menang. "Kau ingin apa, Giant?" Baekhyun terkekeh sinis sekarang.

"Aku ingin..." Chanyeol memotong ucapannya dan maju satu langkah mendekati Baekhyun. Baekhyun bergidik geli saat Chanyeol menghembuskan nafasnya diceruk leher Baekhyun.

"Aku ingin kau mendengarkan perkataanmu. Kali ini saja." Baekhyun memicingkan matanya. "Baiklaah" Baekhyun berkata dengan santai. Seolah-olah dia akan menang.

Keduanya berjalan mendekati samping ranjang. "Satu.. Dua.. Tiga"

Permainan dimulai. Baekhyun dengan sedikit mengangkat tangannya mencengkram erat bahu Chanyeol. Berusaha menjatuhkan raksasa itu. Sedangkan Chanyeol mencengkram erat pinggul Baekhyun.

Baekhyun masih terus mendorong tubuh besar itu. Jika Baekhyun menatap wajah Chanyeol dengan tatapan gemas, Chanyeol sebaliknya. Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan intens. Baekhyun tertawa puas saat Tubuh Chanyeol sempat oleng tetapi dengan penuh kekuatan Chanyeol kembali berdiri tegap.

"Argh Chanyeol jangan terlalu keras, idiot" Terdengar suara rawa Chanyeol yang menggelegar.

Chanyeol kembali hilang keseimbangannya saat penyerangan Baekhyun kedua. Seperti adegan Slowmotion, Chanyeol hampir terjatuh. Tetapi dengan Cekatan, Chanyeol menarik tubuh Baekhyun hingga berada dipelukannya dan segera memutar tubuh Baekhyun. Sehingga Baekhyun berada dibawahnya. Okay, Chanyeol Win!

"Arrrgh!" Baekhyun mendesis. Tubuhnya terasa sakit saat tulang-tulangnya bertemu dengan ranjang Chanyeol.

"Kau kalah, Baby" Baekhyun tidak bisa bergerak. Tangannya digenggam erat oleh Chanyeol. Jadi Baekhyun hanya bisa pasrah sekarang.

"Kau harus menuruti keinginanku, kan?" Chanyeol terkekeh saat melihat Baekhyun mencebikkan bibirnya.

"Aku hanya mengatakannya sekali, Baek" Baekhyun menahan nafasnya saat Chanyeol mengecup Bahunya sekilas. "Yang pertama. Aku minta maaf atas taruhan itu" Chanyeol dapat melihat Baekhyun membuang wajahnya. Chanyeol menyingkirkan helaian rambut hitam Baekhyun. Tetapi dengan cepat Baekhyun menepisnya. "Jangan seperti itu. Aku bukan wanita" Baekhyun memutar bola matanya malas. Chanyeol terkekeh.

"Kau mau memaafkanku?"

"Lihat saja nanti" Chanyeol mendesah pelan

"Ayolah~ " Baru saja Chanyeol akan mengecup pipi Baekhyun, tiba-tiba Baekhyun menahannya. "Aku memaafkanmu" Chanyeol tersenyum sumringah.

"Tapi, itu tidak menjanjikan aku mau bertatap wajah denganmu, oke"

Chanyeol mendesah malas.
"Aku benar-benar minta maaf, Baek. Saat itu, Aku memang menargetkanmu sebagai mainanku. Tetapi entah mengapa. Kau selalu berhasil mengalihkan perhatianku"

Baekhyun mengerutkan keningnya. Apasih yang dibicarakan si raksasa ini?

"Aku merasa sangat bersalah, Baek. Aku tidak sanggup ketika melihat wajah frustasimu"

"Chanyeol, Aku tidak menger -"

"Aku menyukaimu"

Baekhyun membeku.

"Mau memulai semuanya dari awal?" Chanyeol bertanya dengan nada lirih. Penuh harapan.

"Aku ingin tidur Chanyeol" Baekhyun butuh menenangkan pikirannya supaya bisa menerima semuanya. Ini terlalu mendadak.

"Baek -"

"Chanyeol Tolong. Beri aku waktu" Baekhyun mendorong pelan tubuh Chanyeol. Chanyeol melepas pelukannya. Baekhyun bergerak untuk membelakangi Chanyeol. Chanyeol yang melihat hal itu hanya tersenyum miris. Perlahan tangannya ia lingkarkan pada pinggang Baekhyun. Baekhyun sempat memberontak. "Baek, Kumohon"

akhirnya Baekhyun hanya diam.

Other Sides

"Argh Chanyeol jangan terlalu keras, idiot"

"Panda, menurutmu apa yang mereka lakukan? Kenapa Baekhyun meringis?" Luhan berkata dengan nada kebingungan. Sebenarnya apa sih yang dilakukan Chanyeol dan Baekhyun. Jongdae menatap malas kedua orang idiot itu. Luhan itu bagaimana, sih? Jelas-jelas Tao itu polos dan belum mengerti hal seperti itu. Jongdae menepuk dahinya saat Tao juga menanyakan hal yang sama. Dasar bodoh!

"Hey Rusa dan Panda. Lebih baik kalian tidur. Jangan sampai kalian mati penasaran disini. Lebih baik esok kita introgasi mereka" sekarang ketiganya menyeringai. Dasar. Jika sedang bodoh, mereka benar-benar bodoh. Tetapi jika mereka sudah dalam mode iblis, mereka juga akan menjelma menjadi iblis.

.o.o.o.o.

Cahaya dari sang mentari terus bergerak untuk menyusup kesetiap rumah. Termasuk rumah yang sedang dihuni oleh Lima pemuda. Mata pemuda mungil bersurai hitam itu perlahan mulai terbuka. Matanya mengerjap imut. Berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata bulan sabit miliknya.

Sekarang matanya sudah terbuka. Yang ia rasakan pertama kali saat ia membuka matanya adalah tangan besar yang melingkar di pinggangnya.

Paling itu si Panda. Dasar Manja -Pikir Baekhyun

Maka dari itu, Baekhyun membiarkan hal itu. Pikiran Baekhyun kembali tertuju pada kejadian malam tadi. Bermain game dengan Chanyeol yang berujung Chanyeol yang mengatakan kalau dia menyukai Baekhyun. Baekhyun kembali memijit pelan keningnya. Kenapa sih Chanyeol sangat senang mempermainkannya? Baekhyun merasakan pelukan itu semakin erat. Apa Tao mengalami mimpi buruk? Dasar bocah!

"Panda, Lepas pelukan-mu" Baekhyun tercenggang saat ia memutar tubuhnya dan mendapati Chanyeol yang sedang memeluknya. Dengan cepat Baekhyun melepaskan pelukan Chanyeol dan bergerak untuk segera membuka pintu.

Cklek...

Cklek.. Ckleck

Pintu tidak dapat dibuka. Pasti dikunci. Ya! Baekhyun harus mencari kunci itu. Omong-omong, sikap Baekhyun seperti Baru saja diperkosa oleh penculik. Haha

Baekhyun mencari disetiap Laci. Tetapi tidak ada. Baekhyun menolehkan kepalanya kearah Chanyeol yg masih tidur diposisi meringkuk. Baekhyun segera melompat ke ranjang dan tangannya bergerak menjelajahi seluruh kantung dipiyama Chanyeol. Tangan mungilnya masih saja terus mencari. tanpa sadar, Mata Chanyeol sudah terbuka sedari tadi. Chanyeol terkekeh pelan saat Baekhyun mulai menggerutu.

Baekhyun terlonjak saat Tangan besar milik Chanyeol menggenggam erat pergelangan tangannya. Pergerakan mereka terhenti. Kedua mata itu saling menatap satu sama lain. "Selamat Pagi, Baek"

Baekhyun yang tersadar langsung berontak dari cengkraman Chanyeol. "Pagi. Aku ingin Kuncinya. Aku ingin bersama teman-temanku"

Chanyeol membungkuk mengambil sesuatu didalan kolong tempat tidurnya. Chanyeol terkekeh saat Baekhyun menatapnya datar. Ternyata kunci pintunya ada di kolong tempat tidurnya. Chanyeol melangkahkan kakinya menuju pint dan mulai memasukkan kunci berwarna perak kedalam lubang kunci. Dan pintu terbuka. Baekhyun langsung tergerak menuruni tangga sambil mengusap matanya pelan. Ketika matanya terbuka, Baekhyun dapat melihat Teman idiotnya sedang menatap Baekhyun intens. Sial. Hari ini pasti akan terasa panjang.

.o.o.o.o.

Bibir Baekhyun masih sibuk bergerak mengembung karena mengunyah makanan. Tidak perduli teman-temannya yang sedari tadi terlihat membicarakannya. Terutama Jongdae. Si Kotak itu biang gosip! Beagle sialan. "Aku jadi curiga Bacon. Kau melakukan hal 'kutip' dengan Chanyeol kemarin malam"

Baekhyun memutar bola matanya malas. "Big No, Kotak."

"BaiBai, Tapi tadi malam kami mendengar suara rintihan dari kamar kalian berdua. Pernyataan polos milik Tao membuat ketiganya -Luhan, Jongdae dan Baekhyun menoleh kearahnya. Tetapi dengn tatapan berbeda. Jika Luhan dan Jongdae menatap Tao dengan tatapan membunuh, Baekhyun menatap Tao dengan senyuman kecil. Terkadang beruntung memiliki teman yang kadang terlalu bodoh dan lama dalam menangkap suatu hal. Seperti Tao. Tapi jika Tao dalam sedang mode 'Cepat' itu tidak akan terjadi. "Nah Tao-ya~ Dari mana kalian mendengar hal itu?" Baekhyun bertanya dengan nada -sok manis. Mata panda milik Tao bergerak menatap wajah Baekhyun.

"Tentu saja kita mendengarkan pembicaraan kalian" Tao mengatakan dengan nada yang.. Bangga? Luhan menepuk dahinya.

"Tapi serius, Baek. Kalau Chanyeol berbuat macam-macam dengan-mu, dan kita tidak disana. Apa yang akan terjadi padamu selanjutnya? Bayangkan itu" Baekhyun mendengus mendengar perkataan Luhan.

"Lagipula Tao, kenapa kau tidak tidur dikamar Chanyeol?" Baekhyun bertanya sambil meneguk air mineral miliknya. Baekhyun mendengus saat Tao tidak menjawabnya.

Luhan mengambil snack yang di pegang Baekhyun dan mulai memasukan makanan itu kedalam mulutnya. "Bacon, Janjimu masih berlaku. Soal meluluhkan hati adikku agar mau memanggil ibuku dengan sebutan ibu" Luhan menyeringai. Baekhyun mengusap wajahnya frustasi. "Cabut saja janji-"

"Aku akan cepat luluh, Hyung. Jika saja orang yang membantumu meluluhkan hatiku adalah seorang pemuda mungil berambut hitam yang berada disini sekarang. Aku pasti langsung memanggil tante Xi dengan sebutan ibu" Itu suara Chanyeol yang bergerak menuruni tangga. Tunggu sebentar.

Rambut Luhan berwarna Oranye. Rambut Tao berwarna Hijau. Rambut Jongdae berwarna Cokelat. Hanya ada satu yang berwarna Hitam

Byun Baekhyun

Luhan Berbinar.

Tao menatap Baekhyun dengan tatapan Kasihan.

Jongdae menyeringai.

Chanyeol tersenyum lebar.

Sedangkan Baekhyun sangat ingin membenturkan kepalanya ke tembok.


To Be Continued...


A/N : Haii aku update xdd bagaimana? Apa kalian menyukainya? Chapter depan Obsesi Chanyeol akan dimulai~~ Ada yang bisa menebak apa saja yang Chanyeol lakukan demi mendapatkan Baekhyun? Ayo tebak di kolom komentar XD

FF ini ga akan berjalan sejauh ini tanpa review kalian. So,

Mind To Review?