Satu hari sebelum Luhan kembali ke Seoul.
1 New Message
Fr; Chanxeol ***.com
Subject; -
Ya Hyung. Mungkin aku sedang tertarik dengan seseorang. Tapi aku tidak bisa menyatakan perasaanku padanya untuk saat ini. Ini kebodohanku. Aku mempermainkannya. Sepertinya ia membenciku. Inisial namanya adalah B. Dia Mungil dan harus ku akui dia Cantik. satu yang harus kau tau, hyung. Dia laki-laki. Makanya aku tidak seragu ini. Dia mempunyai sahabat yang seperti panda dikelasnya. Aku kesusahan hyung untuk mendekatinya. Dua sahabatnya yang ia sebut 'panda' dan 'kotak' benar-benar mengganggu. Setelah kau tinggal denganku, aku akan mengenalkannya pada dirimu, Hyung. Cepatlah ke Seoul! Aku ingin melihat rupa Hyung-ku. 143
Luhan tersenyum singkat saat membaca pesan email dari adiknya. Adiknya sedang jatuh cinta. Jika saja Luhan sudah berada di Seoul, ia berjanji akan segera membantu sang adik mendekati pujaan hatinya itu. Luhan terkekeh. Dasar bocah –pikirnya. Dengan gesit Luhan membalas pesan adiknya. Luhan tertawa geli saat membaca ulang pesannya. Luhan menyernyit saat kotak pesan masuknya terbentuk angka satu. Bukan, itu bukan Chanyeol. Luhan masih mengetik pesan balasan untuk Chanyeol. Pesan untuk Chanyeol dengan sementara ia arsipkan. Dan jemarinya bergerak untuk mengklik pesan yang ternyata dari sahabatnya itu.
Fr; BaeCon
Luhan terkekeh saat melihat email Baekhyun masih sama. Itu nama saran dari Luhan.
Subject; Rusa! Aku sakit hati.
Lu, hei bodoh! Kau bisa membaca, kan? Beberapa waktu lalu, aku berpacaran dan gilanya, dengan seorang lelaki. Ia menyatakan cintanya dihadapan seluruh warga sekolah. Aku sangat malu, rusa bodoh!;Luhan menyernyit saat membaca hal itu. Kenapa dia ikut menjadi sasaran rutukan Baekhyun?; Jadi mau tidak mau aku menerimanya. Lalu ia mengajakku menjadi special-guest di acara pentas seninya. Dan kau tau, Lu? Dengan mudahnya orang itu mengambil kunci mobil milik temannya. Awalnya aku bingung apa yang ia lakukan. Tapi aku baru sadar. Ia menjadikanku barang taruhan. Oh Tuhan, Aku straight –Lu tentu saja. Jika saja Seulgi melakukan hal itu, aku pasti akan sehancur ini. Aku tidak mau tau. Kau harus membalas pesanku! Kami membencimu
Luhan tersenyum sekilas. Baekhyun benar-benar menggemaskan. Yeah walau ini hanya melalui email, tapi Luhan dapat membayangkan Baekhyun yang menghentakan kakinya dan mengembungkan pipinya. Luhan heran, ternyata lelaki itu tidak tau terima kasih. Beruntung ia mendapatkan kekasih selucu dan secute Baekhyun. Tapi masih saja di sia-siakan. Maka dari itu, Luhan berjanji tidak akan membiarkan lelaki itu menyentuh sahabat mungilnya. Apalagi sampai membuat sahabatnya menangis
.
.
..
Tapi sekarang, Luhan memijit pelan keningnya. Ternyata, janji-nya pada Chanyeol berkaitan erat pada Baekhyun. Begitu Juga sebaliknya. Luhan Bingung harus berbuat apa.
.
.
...
If You Can Make Me Fall in Love with You !
Rate : M
Cast : ChanBaek and find it in your self
Length : Chaptered
Disclaimer : ChanBaek and This story is MINE xD
Genre : School life, Romantic, Little bit Angst, fluff
P.S : Aku memberikan FF ini rating M karena banyak kata-kata yang kasar. Ayo kita berimajinasi^0^
.
.
.
.
...
.
Here We Go...
"Benarkah itu Chanyeol?" Luhan berbinar saat Mendengar perkataan adik tirinya mengenai Ibundanya. Rambutnya Hitam. Pikir Luhan. Luhan semakin tersenyum lebar saat mata rusanya melihat rambut pemuda mungil yang sedang mengusap wajahnya. Byun Baekhyun. Dengan rambut hitamnya yang terlihat seperti mangkuk. "Chanyeol? Apakah itu Baekhyun?" Mata rusa Luhan dapat melihat Chanyeol yang menyeringai. Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun yang sedang menangkup pipinya sehingga pipi chubby milik Baekhyub sedikit tertekan dan Bibir mungilnya sedikit mengerucut. Chanyeol terkekeh. Mata Phoenixnya dilayangkan pada pemuda berwajah berbentuk persegi dengan pandangan malas. "menyingkirlah" Chanyeol berbicara tanpa mengeluarkan suara. Chanyeol mendesis saat melihat Jongdae menggelengkan kepalanya dan mengambil satu butir kacang ditoples.
"Ayolah"
Chanyeol kembali berbisik. Jongdae memutar bola matanya malas dan bangkit dari duduknya. Chanyeol tersenyum sampai ketelinganya. Kemudian ia mendaratkan bokongnya terduduk disamping Baekhyun.
Baekhyun mengedikkan bahunya saat bahunya merasakan tangan Chanyeol yang merangkul tubuhnya. "Ya, Hyung. Baekhyun ora-"
"Rusa, Panda dan Beagle. Bukankah kita mau jogging? Ayo cepat! Ini sudah hampir jam tujuh!" Dengan gerakan heboh Baekhyun mengajak ketiga temannya untuk lari pagi. Jongdae menatap Baekhyun datar. Sedangkan Baekhyun langsung berlari ke kamarnya. Diikuti Tao, Tentu saja. "Panda, kau mau apa?" Jongdae berteriak. Tao menatap Jongdae dengan tatapan bingung. "Menyusul Baekhyun, tentu saja. Kita mau lari pagi kan?" Tao tersenyum polos.
Luhan dan Jongdae menatap Tao datar. Pikiran Panda itu pagi ini mungkin sedang lengser. "Panda, Hu-ang-zi-ta-o Kau baru saja dibodohi Baekhyun." Jongdae berkata dengan raut wajah datar.
Luhan mengangguk. "Ya, Tao. Si Bacon tidak tau jam. Ini sudah hampir pukul sembilan. Dia hanya ingin lari dari pernyataan adikku. Iya kan?" Luhan berkata sambil melingkarkan tangannya dileher Sang adik. Chanyeol hanya meringis.
"Nah, Kita ingin membuat kue kan? Ayo kita siap-siap" Semua yang sedang duduk disofa pun bangkit.
"Nah, Jongdae. Kau bisa panggil Bacon." Jongdae mendengus.
"Selalu aku" Akhirnya Jongdae melangkahkan kakinya kearah kamar Chanyeol yang ditempati Baekhyun. Telinganya dapat menangkap suara Baekhyun yang sedang bermonolog ria. "Demi Tuhan. Stupid. Bodoh. Chanyeol sialan. Bagaimanapun caranya aku tidak mau meluluhkan hati Chanyeol. Brengsek." Baekhyun mengusap wajahnya kasar. Baekhyun terlonjak kaget saat indra pendengarannya mendengar suara decitan pintu.
Chanyeol.
Satu nama yang ada dipikiran Baekhyun. Baekhyun langsung panik. Bagaimana jika Chanyeol mendengar perkataannya barusan? "Bacon. Bodoh. Dan. Sok. Membenci. Chanyeol" Baekhyun memasang raut wajah datar. Itu suara Si beagle sialan -Jongdae.
"Aku memang membencinya"
Jongdae terkekeh sinis. "Jangan terlalu membencinya. Kau tau kan, dunia itu berputar?" Baekhyun membeku mendengar perkataan Jongdae. Jongdae benar. Dunia itu berputar. Saat ini ia membenci Chanyeol. Tapi siapa tau? Jujur. Baekhyun masih khawatir. Khawatir kalau perasaan bencinya menimbulkan rasa peduli sehingga kemungkinan besar ia bisa mencintai Chanyeol. Telinganya dapat mendengar suara derap kaki milik Jongdae.
"Baek, Mungkin aku memang sering menistakanmu. Tapi demi apapun, Baek. Aku, Tao dan Luhan benar-benar menyayangimu. Kami benar-benar tidak akan membiarkan sibodoh itu menyentuhmu bahkan seujung rambutpun. Kecuali ia benar-benar berubah untukmu." Jongdae menghela nafasnya dan menepuk pelan bahu Baekhyun "Mungkin kau bisa bicarakan soal janjimu meluluhkan hati adik Luhan yang nyatanya adalah Chanyeol agar ia mau memanggil tante Hyejeong dengan sebutan Ibu"
Baekhyun tergerak untuk mengulurkan tangan mungilnya untuk memeluk tubuh sahabatnya itu. "Terimakasih bodoh. Aku juga menyayangi kalian"
Jongdae memasang raut wajah datar. "Nah ayo turun kebawah. Kita akan membuat kue, Kan?"
Baekhyun mengangguk seperti seekor puppy. Jongdae terkekeh geli.
Tangan mungil milik pemuda bermata rusa itu masih sibuk mencatat daftar belanja yang harus dibeli. Saat ia tidak mendapat referensi, ia mengetuk-ngetukan pulpen yang ia pegang ke kepalanya. Dan langsung menjentikan jarinya saat mendapatkan Referensi. "Tao-ya.. Kau ingin topping apa?"
Tao mengetukan jari telunjuknya di dagu runcing miliknya. "Jeruk, Gege" Luhan mengangguk. Lalu Luhan mengangkat tangannya dan menjentikan jari telunjuknya tepat dihadapan Chanyeol
Chanyeol yang sudah paham langsung menjawab "Jeruk"
Luhan menunjuk Jongdae. "Jeruk" Luhan kembali mencatat. Dan matanya langsung melirik Baekhyun yang sedang menenggelamkan kepalanya diatas meja. Luhan memukul pelan kepala Baekhyun. "Baek, Banyak yang memilih Jeruk. Jadi kita memakai topping jeruk saja, Oke?" Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku mau strawberry"
Chanyeol terkekeh mendengar suara manja Baekhyun "Hey Byun. Kau terlihat seperti anak kecil yang merengek meminta balon" Tetapi Chanyeol langsung membeku saat netranya melihat tatapan sinis dari Baekhyun. Chanyeol mencebikkan bibirnya hingga menampakam lensung pipinya.
Handponenya bergetar. Dengan gesit Chanyeol mengambil handponenya yang tersimpan di saku celana pendeknya. Handpone berwarna hitam dengan sedikit garis berwarna merah masih saja bergetar. Chanyeol menatap handponenya datar saat melihat nomor yang menelponnya. Nomor Jongin dengan nama 'Blackkai' di kontaknya. Chanyeol baru ingat, Tiga orang tidak waras dan idiot akan berkunjung ke rumahnya. Chanyeol mendekatkan handpone ke telinga peri miliknya. "Yopseo, hitam"
"..."
"Kau memang hitam, Oke. Terserah. Lagi pula sejak kapan kalian meminta izin jika main kerumahku? Biasanya kalian seperti orang mabuk salah masuk rumah."
"..."
"Kau Berisik, Bodoh! Sudahlah aku tutup. Ada Hyung-ku disini. Dan dua manusia kurcaci dan satu raksasa bermata panda" Chanyeol melirik Baekhyun berharap pemuda mungil itu menggertaknya. Tapi nyatanya tidak. Baekhyun hanya asik memainkan ponselnya. Chanyeol tersenyum miring.
"..."
"YaYaYa. Terserah. Aku tidak peduli. Tebak saja sendiri"
Chanyeol langsung memutuskan sambungannya dengan Jongin. Chanyeol berani bersumpah, Jongin itu paling berisik diantara mereka berempat. Kris yang paling cuek dan -sok Cool. Sehun yang benar-benar Setan. Yeah setan. Sehun memang benar-benar sosok yang terlihat sangat dingin. Tapi jika jiwa setan miliknya sudah bangkit, tidak akan ada yang bisa menahan jiwa setannya. Sedangkan Chanyeol? Cukup satu kata mendeskripsikan pemuda jangkung yang lebih pendek beberapa centi dari Kris. Yaitu; Idiot.
"Chanyeol. Siapa yang menelpon?" Luhan bertanya seraya bangkit dari duduknya dan bergerak kearah kulkas. Mengambil minuman kaleng untuk mereka. "Lulu.. Aku ingin Jus Staw~~ Be~~Ry" Baekhyun meminta dengan nada yang dipermainkan. Sehingga seperti melakukan Aegyo. Jongdae memandang Baekhyun datar. Baru saja Jongdae ingin membuka suara tetapi Chanyeol lebih dulu membuka suaranya. "Aku tidak punya Stawberry. Lagipula aku bukan anak kecil yang merengek meminta susu rasa stawberry"
Chanyeol tambah terkekeh saat Baekhyun mengembungkan pipinya. "Payah! Susu Stawberry saja tidak punya"
Semuanya tertawa. "BaiBai.. Kau terlihat sangat cantik ketika mengembungkan pipimu seperti tadi"
Krik
Semua mendadak hening saat ucapan polos Tao menggema disekirar ruang makan. Ketiganya melirik Baekhyun yang terlihat sangat kesal. Dan langsung bergidik ketika melihat wajah Baekhyun yang terlihat .. Garang? Jongdae tau. Sangat tau malah kalau Baekhyun benci dibilang Cantik. Semuanya langsung menahan nafas saat Baekhyun bangkit dan berjalan menuju Tao.
Tao Selamatkan dirimu! Sepertinya Baekhyun akan mengeluarkan jurus hapkidonya.
Tetapi respon Tao hanya tersenyum tanpa dosa. Ya Tuhan Panda! Jongdae menyenggol lengan Tao menggunakan sikunya.
Yup! Sampai. Baekhyun menggenggam pinggul milik Tao. Chanyeol terkekeh sedangkan Luhan menepuk dahinya pelan. Ternyata Masih ada yang lebih idiot dari teman-temannya -pikir Chanyeol.
Ruangan yang hening tiba-tiba dikejutkan dengan tawa Tao. "Ampun BaiBai.. Ini sangat geli"
Baekhyun menyeringai "Dengar ya, Panda! Aku ini tampan. Bukan Cantik!"
Sekarang terdengar suara tawa dari dua orang. Baekhyun terdiam. Matanya mendelik kesal pada sosok jangkung dihadapannya. Chanyeol sedang mentertawainya. "Diam, Tiang!"
Chanyeol semakin tergelak "Aku tidak mau diam, Pendek!"
Sekarang semuanya mentertawai Baekhyun. Baekhyun melipat kedua tangannya didepan dadanya. Dan mendengus kesal. "YEOLIDIOT KAMI DATAAAANG"
Baekhyun, Luhan, Jongdae dan Tao menutup telinganya saat mendengar suara bising di ruang Tamu. Kecuali Chanyeol. Chanyeol paham betul siapa yang datang. Tiga teman idiotnya. Ugh~ pasti rumahnya akan hancur!
"Aku didapur"
Suara bariton Chanyeol terdengar. Telinga perinya dapat mendengar derap langkah. "Hei idiot ! Kami mencarimu sampai mengelilingi mansion ini"
Chanyeol mendengus mendengar perkataan Jongin. "Hiperbola"
Jongin mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Chanyeol. "Menjijikan"
Jongin menolehkan wajahnya saat ada yang mengejeknya. Matanya berbinar saat melihat Baekhyun yang sedang memandang dirinya dengan tatapan... Tidak terbaca?
Jongin melangkah mendekati Baekhyun. Kedua tangan besarnya menangkup kedua pipi Baekhyun dan menggerakannya secara brutal. "Wow. Kau mengganti rambutmu ya?"
Baekhyun memukul pelan tangan Jongin yang menggenggam pipinya. Baekhyun menggeleng. "Tidak. Aku hanya merubah style-nya"
Jongin mengangguk. Lalu tersenyum tanpa dosa "Rambutmu bagus. Kau terlihat lebih cant..."
"...Aargh"
Jongin meringis saat pukulan dari Baekhyun mengenai kakinya. Demi apapun itu sangat sakit! "Aku tampan, oke. Ingat itu"
Keduanya sangat asik bercanda tanpa menghiraukan sosok Chanyeol yang memandang sinis kearah mereka
.
..
"Aku Luhan. Kakak Tiri Chanyeol" Luhan sedikit membungkukan tubuhnya memperkenalkan diri pada teman-teman Chanyeol yang menatapnya. Kai tersenyum pada Luhan " Hallo, Hyung. Aku Kim Jongin. Biasanya fansku memanggilku dengan sebutan Kai. Tapi Jongin lebih baik"
Mata Jongin tidak sengaja melirik Baekhyun yang ternyata menatapnya dengan tatapan jijik. "Apa?" Jongin bertanya. Baekhyun tidak menjawab.
"Yo Ssup! Aku Wu Yifan. But its more than good if you called me Kris. Itu terlihat lebih keren" Luhan menatap Kris canggung. Ia kira Kris adalah tipe-tipe lelakibersifat dingin. Tapi nyatanya?
"Senang bertemu denganmu"
Kris mengangguk dan memberi deathglarenya pada Baekhyun yang bergaya seolah-olah ingin muntah. "Sehun"
Krik.
Ruangan hening sejenak. Well, Sehun benaar-benar irit bicara. "Senal berkenalan denganmu, Sehun" Sehun tidak menjawab. Luhan mengerjapkan matanya "Oh ya." Chanyeol terkekeh melihat Hyungnya.
"Dasar albino sok cool" Baekhyun mendesis. Chanyeol terkekeh geli karena perkataan Baekhyun masih bisa didengar. Tapi Baekhyun memang benar. Sehun benar-benar sok cool pada orang yang baru ia kenal. Yah walaupun dengan Chanyeol juga terlihat cuek, tapi Sehun bisa diajak bercanda.
Sehun menatap Baekhyun tajam. Sedangkan yang ditatap menyernyit jijik "Apa? Kau memang sok cool oke. Padahal jika idiot ya.. Idiot saja"
Sehun tidak mengerti kenapa Baekhyun sangat cerewet dipagi hari. "Diam Pendek..." Sehun menggertak. Tetapi balasan Baekhyun malah seolah ia mengejek Sehun dengan pembicaraan yang sama."... Mau apa kau disini? Oh Kau habis tidur dengan Chanyeol ya?" Sehun menyeringai tipis. Luhan tersentak. Ternyata spesies seperti Sehun bisa berbicara juga. Chanyeol menahan wajahnya agar tidak terlihat merona. Sedangkan yang ditanya hanya menatap Sehun datar. Ambigu sih, pertanyaanya.
"Apa Masalahmu? Ini Juga Rumah sahabatku, si manusia rusa ini.." Baekhyun mendorong pelan kepala Luhan menggunakan jari telunjuknya.
"... Dan Ya! Aku memang tidur dengan Chanyeol" Tiga orang disamping Chanyeol membolakan matanya. Terlalu kaget dengan kenyataan ini.
"Woah Dude! Kau benar-benar melakukan 'itu' ?" Kris bertanya dengan campuran bahasa Korea dan Inggris yang sangat acak-acakan. Baekhyun menatap Kris datar. Ia tidak mau menjelaskan. Biarkan saja empat orang bodoh itu menampilkan ekspresi terkejut-idiot milik mereka.
"Aku tidur bersama Baekhyun. Tidak melakukan apapun. Hanya memejamkan mata dan memeluk..." Chanyeol menyeringai saat Baekhyun membolakan matanya. Sial! Harga dirinya bisa jatuh kalau orang lain tau Baekhyun tidak menolak Pelukan Chanyeol "...Guling"
Baekhyun menghembuskan nafasnya lega. Untung saja Chanyeol tidak mengatakan hal aneh-aneh. "Dude aku kira kalian memeluk satu sama lain. Ah aku kecewa!"
"Diamlah hitam. Urus saja kulitmu yang semakin gelap" Baekhyun berkata tanpa dosa. Jongin tertawa. Ia menyatukan kedua tangan kanan dan kirinya dan menumpukan kedua tangan itu didagunya "Hey Sayang.. Itu eksotis" Jongin melirik Chanyeol dan menahan tawanya saat melihat raut jijik -tapi cemburu milik B Chanyeol. "Woah aku terharu! Kau terlalu eksotis sehingga menampakkan kulit seperti orang negro" Baekhyun berkata dengan wajah datar. Jongin meringis. Bagaimana mungkin si kotak, panda dan kakaknya Chanyeol betah bersahabat dengan Baekhyun?
Tapi Jongin tersenyum puas saat melihat raut wajah Chanyeol. Biarkan saja si idiot itu menyesal.
By The Way... Siapa yang memberi usul taruhan pertama kali?
...
"Nah dan Baekhyun akan membelikan bahan-bahan di supermarket." Luhan berkata seolah-olah ia adalah bos-nya. Sialan. Rusa saja Sombong! "Kenapa harus aku?" Baekhyun mencicit. Luhan yang mendengar itu terkekeh.
"Hukuman kalian karena membuat bising saat pertama kali datang" Luhan menepuk Bahu Baekhyun sebanyak tiga kali. Baekhyun menghembuskan nafasnya. Setidaknya ia tidak bersama Chanyeol.
Munafik.
Biarlah. Demi melindungi harga diri. Baekhyun menarik pergelangan Tangan Jongin. Dengan sedikit Sempoyongan, Jongin mulai bisa berdiri. Baekhyun mengulas senyum lebar. Tapi menurut Jongdae, Tao dan Luhan itu adalah Simbol kematian yang akan dekat.
Ha..ha
Hiperbolis.
Baekhyun melangkahkan kakinya berjalan mendahului Jongin yang ada dibelakangnya.
"ngg -Jongin. Jika kau keberatan, bagaimana jika aku saja yang mengantar Baekhyun?"
Suara Jangkrik berbunyi sesaat Chanyeol berbicara. Chanyeol mendadak gugup. Jongin tertawa. Tangannya terulur untuk merangkul Baekhyun. "Tentu saja aku bisa mengantarkan..."
Jongin mendekatkan wajahnya ke telinga Baekhyun "..Masa Depanku" Lanjutnya. Jongin menyeringai saat lirikan mata elangnya mendapati Chanyeol yang sedang menatap mereka tajam. "Yach! Bodoh!"
Jongin terlonjak kaget saat Chanyeol menarik kerah Belakang kaos yang ia pakai. Jongin terkekeh. Sedangkan Chanyeol menatap Baekhyun dalan. Meringis. Itu yang dilakukan Chanyeol saat hanya mendapat tatapan dingin dari Baekhyun. Baekhyun menarik pergelangan tangan Jongin dengan kasar. Dan segera menuju pintu keluar. Chanyeol terlihat sangat frustasi. Luhan meringis melihat kondisi adiknya. "Rasakan itu ! Kau tidak akan bisa mendekati bacon kami" lagi-lagi dengan polos Tao berkata tanpa penyesalan. Kris menendang kaki Tao dihadapannya. "Apa Naga jelek?"
Kris mendengus.
"Hyung, Kau berjanji membantuku" tentu saja itu pertanyaan untuk Luhan. Luhan menghela nafasnya pelan.
"Entahlah, Chanyeol" Chanyeol mengusap wajahnya frustasi saat mendengar jawaban ambigu hyung-nya. "Masalahnya aku juga mempunyai janji dengan Baekhyun"
Chanyeol langsung mengalihkan pandangannya "Apa?"
Luhan menghela nafasnya pelan. Berharap agar Chanyeol tidak marah dengannya. Berharap hal ini bukan menjadi alasan Chanyeol yang semakin tidak ingin memanggil Ibu Luhan dengan sebutan 'ibu'
"Aku berjanji padanya..."
Luhan menghela nafas untuk kedua kalinya. "... Aku tidak akan membiarkan orang yang menjadikan sahabatku alat pertaruhan mendekati kembali sahabatku. Apalagi menyentuhnya. Walau seujung rambut-pun aku tidak akan pernah mengizinkannya"
Semua yang disana membola. "Tapi Hyung, kau juga berjanji padaku agar lebih mudah mendekatinya" Chanyeol berkata dengan lirih.
"wow" Jongdae mendesis. Ini benar-benar mirip seperti drama ditelevisi yang ia tonton pukul 15.45
"Maka dari itu, Chanyeol. Aku benar-benar tidak tau harus melakukan apa"
Chanyeol tertegun saat melihat mata Luhan berkaca-kaca. Ia paham posisi hyungnya. Disaat ia bingung harus memilih sahabat atau saudara tirimu. "Aku bukan tidak mengizinkanmu, Chanyeol..."
"... Aku hanya takut, Baekhyun kembali tersakiti disini. Aku menyayanginya. Sangat. Tapi aku juga menyayangimu"
"Aku setuju! Aku tidak ingin bacon kami tersakiti" Jongdae berteriak layaknya peserta demonstrasi. Luhan tersenyum sekilas dan bergerak mendekati sang adik. Tangannya ia ulurkan untuk menangkup wajah sang adik.
".. Chanyeol, Jika kau benar-benar bisa memperlihatkan bahwa kau... Menyukainya? Cepat atau lambat, aku pasti menepati janjiku, oke?" Luhan berbisik. Ini privasinya.
Luhan tersenyum lega saat melihat Chanyeol mengangguk pelan. Kemudian ia melepas genggamannya dan menepuk bahu Chanyeol "Nah, Semoga berhasil. Adikku"
mereka berdua tersenyum lebar.
...
Jongin mendengus kesal sambil mendorong trolli belanjaan milik Baekhyun. Jongin kesal karena anak itu benar-benar Hyper aktif. Seperti saat ini. Baru saja Baekhyun meletakkan Buah Jeruk di keranjang, pemuda mungil itu kembali berlari ke tempat tersedianya buah stawberry. Baekhyun memang seperti anak kecil, sih. Pantas Chanyeol jadi terpikat pada Baekhyun. Jongin tau? Tentu saja! Jongin sangat pandai membaca pikiran seseorang. Dengan idiotnya, Chanyeol berusaha memanggil Baekhyun keluar kelasnya dengan cara memecahkan jendela kelas Baekhyun menggunakan bola basketnya.
"Aku sangat ingin mengerjai si Byun Pedas itu. Hh pasti ia akan dihukum oleh wali kelasnya" Masih jelas dipikiran Jongin alasan yang dilontarkan Chanyeol. Dan bodohnya, kedua idiot yang lain -Kris dan Sehun hanya menurut. Jongin tau Chanyeol merindukan Baekhyun karena dua hari setelah kejadian pernyataan taruhan, Baekhyun sama sekali tidak keluar dari kelasnya. Entah apa yang dipikirkan manusia mungil itu."Hitam! ..."
Jongin terlonjak kaget saat telinganya mendengar suara Baekhyun memanggilnya? Gotcha! Kau mengakui kalau kau hitam, kay.
"Yach! Bodoh! Kenapa lama sekali" Jongin meringis. Apa setiap Luhan, Jongdae, Tao dan Baekhyun shopping mereka berkomunikasi dengan cara berteriak?
Hell please, idiot. Ini bukan pasar.
"Iya berisik. Kau saja yang hyperactive" Jongin mendengus. Kakinya melangkah lebar agar cepat sampai ditempat yang Baekhyun maksud. Setelah sampai Jongin meneguk air ludahnya kasar saat melihat Baekhyun memasang wajah innocentnya. "Jongin.. Uhm Aku ingin..."
Jongin mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Baekhyun yang menggantung. "Jus Stawberry. Tapi hanya untukku. Boleh ya? Aku tidak membawa uang" Jongin menahan senyumnya saat mata elangnya melihat Baekhyun memilin pakaian yang Baekhyun kenakan dengan tangannya. Akhirnya Jongin terkekeh. "Ambil semaumu." Jongin tersenyum sambil mengusak pelan rambut hitam milik Baekhyun. Baekhyun berbinar dan langsung mengambil beberapa botol jus dan susu stawberry.
Setelah selesai, Baekhyun tersenyum lebar sehingga matanya menyipit. Mata Bulan sabitnya. Bagian tubuh yang paling disukai oleh ketiga sahabatnya "Terimakasih, Jongin. Walaupun kau hitam tapi, yeah kau jauh lebih baik dari teman idiotmu" Jongin mendelik. Dia kembali dibilang hitam. Jongin tidak membalasnya. Salahkan saja puppy eyes Baekhyun yang memaksa Jongin untuk tidak marah. "Uhm Baek"
Baekhyun menolehkan wajahnya. Tanpa menjawab apapun. Jongin melanjutkan "Apa yang Chanyeol lakukan padamu tadi malam?"
Baekhyun mendelik. Jongin mendadak panik. "Tidak ada hanya bermain games. Siapa yang kalah ia akan menuruti permintaan sipemenang" Baekhyun mulai melangkahkan kakinya kembali. Disusul Jongin yang mendorong Trolli belanjaan Baekhyun. "Oh ya? Siapa pemenangnya?" Jongin mulai bertanya. Baekhyun mengetukkan jari telunjuk didagunya dan beberapa kemudian raut wajahnya menjadi datar "Aku hampir saja menang! Tapi tenaga Chanyeol terlalu kuat"
Jongin terkekeh. Baekhyun kalah, tentu saja. Tubuh raksasa melawan tubuh kurcaci mana bisa? Okey itu penghinaan. "Lalu, ia meminta apa darimu?" Terjadi keheningan saat selama beberapa detik Baekhyun mengambil gula pasir dan meletakkannya di trolli belanjaannya. Kemudian mereka kembali melangkahkan kakinya.
Baekhyun melipat kedua tangannya didepan dada "Ia meminta maaf dan berkata ia ..." Baekhyun menahan nafas. Baru ingat dengan siapa ia bercerita. Baekhyun menoleh dan sedikit mengangkat wajahnya mengingat perbedaan tingginya dengan Jongin. Mata Jongin menatap lurus kearah matanya. "Mengatakan apa?"
Melihat gerakan Baekhyun yang tidak nyaman, Jongin berusaha merubah raut wajahnya. "Kau bisa mempercayaiku, Baek"
Baekhyun menghela nafas beratnya "Ia mengatakan.. Ia Menyukaiku. Ia tertarik padaku"
Jongin membolakan matanya. Wow.. Chanyeol melakukan gerakan cepat ternyata. "Lalu apa kau menerima pernyataan Chanyeol?"
Baekhyun meringis. Menatap Jongin gusar. "Aku belum bisa menghapus rasa sakitnya..." Baekhyun menggigit bibir bawahnya "...Aku tidak tau apa yang sedang kalian rencanakan. Tapi kumohon. Jangan ganggu aku dan sahabat-ku." Jongin tertegun melihat wajah malang milik Baekhyun. Jongin meringis.
Dengan terpaksa "..Ya" Jongin mengangguk.
Tanpa mengetahui temannya sedang dalam misi mendekati lelaki mungil disampingnya.
...
Sekarang Luhan, Baekhyun, Tao dan Chanyeol sedang sibuk membuat adonan kue didapur. Sedangkan Jongin, Kris, Sehun dan Jongdae menonton film. Keempatnya tampak sibuk. Yeah Sibuk;
Tao dan Luhan; benar-benar sibuk membuat kue
Baekhyun; Sibuk memanjai perutnya dengan Stawberry
Chanyeol; Sibuk menatap Baekhyun.
Kegiatan Baekhyun terhenti saat merasakan sepasang mata yang meneliti dirinya. Baekhyun menatap Chanyeol datar "Apa?"
"Aku tertarik padamu" Baekhyun tersedak mendengar perkataan Chanyeol. Dengan langkah gugup Baekhyun bangkit dan mendekat kearah Luhan dan Tao. Mengambil wadah untuk mengocok telur. Sialnya, Chanyeol berada disampingnya sambil memotong jeruk. Baekhyun mendesah.
"Baek, Aku benar-benar menyesal"
Baekhyun mengangkat wadahnya dan segera berpindah tempat. Baekhyun bersyukur Chanyeol tidak mengikutinya. Baekhyun mulai mengocok pelan telurnya Baekhyun mulai mendecak kesal saat kocokan telurnya tidak kunjung merata. Baekhyun tersentak saat tangan besar yang ia ketahui milik Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun yang memegang alat pengocok telur. Baekhyun semakin tersentak saat tangan Chanyeol memegang sisi meja.
Tanpa sadar Baekhyun berada didalam rengkuhan Chanyeol.
"Jangan menggunakan tekanan dari tubuhmu jika ingin telurnya merata" Baekhyun bergidik saat hembusan nafas Chanyeol mengenai tepat di tengkuknya. Baekhyun berusaha melepas rengkuhan Chanyeol. Tetapi yang ada, Chanyeol semakin merapatkan tubuhnya. "Luhan... Ssh Lu" Baekhyun berusaha meminta pertolongan pada Luhan. "Ia berada diluar. Memberi kita kesempatan untuk membicarakan hal ini" Baekhyun kembali mendesah kegelian saat hidung milik Chanyeol bersentuhan dengan leher jenjang miliknya. "C-Chanyeol.. Cukuphh"
Sejenak Chanyeol menghentikan aktifitasnya. "Lepaskan aku, Chanyeol. Kumohon" Baekhyun berbicara. Terdengar memohon tapi tetap saja nada dingin masih merasuki Baekhyun.
"Aku Minta maaf atas pertaruhan itu"
Baekhyun kembali memejamkan matanya. Selain menahan geli, Baekhyun juga mencoba menahan rasa sakit yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Baekhyun menganggap dirinya sangat bodoh. "Aku tidak tau apa yang kau rencanakan, Chanyeol-ah" Chanyeol terdiam mendengar perkataan Baekhyun. Mencoba mencerna perkataan simungil. Tangannya yang menggenggam tangan Baekhyun mulai bergerak melingkarkan tangannya di perut datar milik Baekhyun dan menyandarkan kepalanya dipunggung milik pemuda berambut "Aku tidak merencanakan apapun, Baek. Aku hanya merencanakan masa depanku yang aku pastikan saling berdampingan denganmu" Chanyeol kembali melekatkan permukaan bibirnya pada bahu Baekhyun. "Aku mencintaimu Baek"
Akhirnya! Akhirnya Chanyeol mengatakan kata keramat itu.
Chanyeol terlonjak kaget saat tangannya merasakan tetesan air. Chanyeol menyernyit. Apa diluar hujan? Hey, tidak mungkin rumahnya bocor.
Dengan perlahan Chanyeol memutar tubuh mungil Baekhyun hingga bertatapan dengannya. Mata phoenixnya membola saat melihat mata Baekhyun memerah karena menangis. Chanyeol tersenyum miris saat Baekhyun tidak memandangnya. Dengan penuh kelembutan, Chanyeol mengusap pelan mata Baekhyun yang basah "Apa aku menakutimu?"
"Tentu saja.. Hks Stupidyeol" Chanyeol terkekeh saat mendengar jawaban Baekhyun yang sangat terisak. "Aku tidak akan dibodohi lagi olehmu. Sudah cukup aku dipermalukan. Jujur. Aku tidak mau mengenalmu lagi, Chanyeol. Tapi..."
Baekhyun menunduk "... Aku berjanji pada Luhan untuk membantunya meluluhkan hatimu agar kau mau memanggil Tante Hyejeong dengan sebutan ibu"
"... Aku tidak mungkin mengingkari janjiku karena aku seorang gentleman"
Baekhyun mengerutkan keningnya saat mendengar Chanyeol yang tertawa menyeramkan. "Baek. Aku akan langsung memanggil tante Hyejeong dengan sebutan Ibu jika kau mau jadi kekasihmu" Baekhyun tersentak dan mendorong Chanyeol sehingga rengkuhannya terlepas. "Dalam mimpimu, Bodoh! Idiot! Mati saja!" Chanyeol terkekeh saat melihat Baekhyun menghentakkan kakinya. Dan bergegas keluar dapur "Omong-omong.. Aku serius soal.. Aku mencintaimu" Baekhyun terhenti mendengar perkataan Chanyeol.
"Kau pikir aku percaya?"
Chanyeol menghembuskan nafasnya frustasi. "Oh Chanyeol yang idiot baru saja ditolak~"
"Diam kau hitam!"
ketiga teman idiotnya tertawa.
Tak terasa hari ini sudah hari senin. Cahaya gemerlap sang mentari mulai bergerak seolah-olah penyusup yang masuk kedalam rumah pemuda mungil. Baekhyun mulai menggeliat malas dikasurnya. Lalu kembali memejamkan mata.
Seorang wanita dengan pakaian piama khas untuk seorang ibu sedang berjalan menaiki tangga membangunkan anaknya yang sangat pemalas. "Byun Baek.. Cepat Bangun atau aku akan menyirammu dengan air panas!"
Byun Hyosung atau Ibu Baekhyun berkacak pinggang saat memperkirakan sang anak belum bangun dari tidurnya. Mungkin kamar Baekhyun tidak dikunci? Dengan perlahan Hyosung membuka pintu sang anak. Dan benar saja. Anaknya masih tertidur pulas sambil memeluk gulingnya. "Bacon bodoh... Cepat bangun dan pergi kesekolah. Aku akan memukulmu ketika aku menghitung sampai tiga kau tak kunjung bangun" Hyosung meringis. Anaknya itu memang maniak tidur.
"Satu..."
Hyosung mulai menghitung. Tetapi mata bulan sabit milik anaknya belum terbuka.
"Dua"
Hyosung menyeringai "...Ti -"
"Nggh Chanyeol" Hyosung tidak melanjutkan ucapannya. Anaknya menyebut nama.. Chanyeol? Park Chanyeol? Ya Tuhan! Untuk yang membangunkannya itu Sang ibu. Jika ayahnya, mati sudah riwayat Baekhyun.
Sang anak mulai mengerjapkan mata bulan sabitnya. Baekhyun tersenyum "Pagi ibu"
Sang ibu menatap Baekhyun sinis. "Pagi juga yang baru memimpikan Chanyeol"
Baekhyun membeku. Mati. Pasti sang ibu akan mengadu pada Sang ayah "Aku bersumpah aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Entah kenapa tiba-tiba ia datang ke mimpiku. Bahkan aku membencinya, bu"
Hyosung memutar bola matanya malas. "Cepat mandi. Waktunya sekolah. Tidak ada waktu mendengar curhatanmu. ah ya, adikmu Kyungsoo akan kembali ke Seoul dua hari lagi" Sang ibu berjalan keluar kamarnya. Baekhyun membola. Shit. Orang sialan itu kembali.
Baekhyun jadi tidak berminat untuk mandi.
Apa Hubungannya?
Dengan gaya yang angkuh sosok pemuda tinggi berlapiskan seragam khas SMA Gyeongdam mulai melangkah mendekati kelasnya. Sesekali ia menolehkan wajahnya kekanan dan kekiri seperti mencari seseorang. Park Chanyeol. Sedari tadi menunggu sosok mungil yang berhasil memikat hatinya di depan kelas. Untuk menghilangkan bosan, Baru saja ia ingin menautkan headset ke telinganya, tetapi telinga perinya sudah menangkap gunjingan dari siswi di SMA Gyeongdam. "Hey, Tingkah Daehyun di SNS benar-benar membuat penasaran" Ujar salah satu siswi berambut pendek atau kita bisa memanggilnya Namjoo sedang mengajak sang teman yang berwajah mirip panda. atau kita bisa menyebutnya Naeun. Chanyeol mulai memasang telinganya.
"Oh ya? Memangnya kenapa?" Naeun bertanya dengan raut wajah bingung.
Namjo memasang wajah datar. "Kau tidak mengetahuinya?" Namjoo semakin jengkel saat Naeun hanya mengangguk polos.
"Kau tau Baekhyun kan?" sepertinya Namjoo mulai masuk ke inti pembicaraan. Chanyeol menajamkam pendengarannya. "... Daehyun menulis sebuah status di SNSnya 'Thanks B. You're ma love' Kau tau sendirikan, Daehyun menyukai Baekhyun. Apa mereka berpacaran?" Naeun berbinar
"Semoga itu terjadi. Aku mendukung hubungan mereka. Mereka benar-benar cocok" mereka berdua tertawa dan mengangguk tanda menyetujui.
"Kau benar, Naeun-ie mungkin Taehyung adik kelas kita yang akan menjadi anaknya" keduanya kembali tertawa. Tanpa menghiraukan raut wajah Chanyeol yang sudah sangat membara. Mata Phoenix Chanyeol dapat melihat pemuda cukup tinggi dengan eyeliner tipis berjalan mendekatinya. Dengan penuh amarah, Chanyeol bergegas mendekati pemuda itu.
Baekhyun mengayuh sepedanya yang
sudah beberapa hari ini tidak ia gunakan. Lidahnya masih
mengalunkan sebuah lagu. Hal itu terus ia lakukan hingga sampai di SMA
Gyeongdam. Baekhyun berjalan sambil menutup telinganya. Berjaga-
jaga agar jeritan fans Chanyeol tidak bisa memasuki indra pendengarannya. Baekhyun mengerutkan keningnya. Tumben sekali disini sepi.
Bukannya Bagus? Baekhyun tersenyum lebar. Ia bisa hidup tenang sekarang.
Baekhyun sedikit bersiul ketika ia berjalan melewati lorong. Sepi. Sangat sepi. Hari ini bukan tanggal merah, kan?
Baekhyun memasang raut wajah bingung saat banyak siswa siswi yang mengerubungi sesuatu didepan kelasnya. Dengan perlahan, kaki mungilnya ia gerakkan mendekat ke pusat kejadian.
Bagaimanapun Baekhyun adalah anggota OSIS yang mengatur masalah kepribadian. Baekhyun semakin penasaran karena ada yang menyebut "Chanyeol ayo lawan!"
Baekhyun memutar bola matanya malas. Chanyeol lagi. "Daehyun-ah! Ayo balas! Kenapa diam saja"
Baekhyun membola. Baekhyun berlari mempercepat langkahnya. Baekhyun berdesir seiring derap kakinya terdengar. "Chanyeol! Cukup! Ya Tuhan!" Semua siswa bergerak mundur. Wah. Kalian berurusan dengan anggota OSIS. Baekhyun langsung terlonjak saat Chanyeol mendorongnya hingga kedinding. Matanya melirik Daehyun. "Daehyun-ah!"
Chanyeol terkekeh miris. "Apa itu yang membuatmu menolakku?" Chanyeol mengusap pelan pipi chubby milik Baekhyun. Dan Baekhyun membolakan matanya saat Chanyeol mencium bibirnya sekilas. Tidak hanya Baekhyun. Semuanya! Daehyun terutama. "Kau Milikku. Ingat itu, Baby"
Baekhyun melayangkan tatapan sinisnya untuk Chanyeol.
To Be Continued...
A/N : yayaya aku tau aku benar-benar telat update xdd maafkan aku! Untuk OB aku menunda sedikit waktu update. Btw, aku benar-benar terbang~~~ saat melihat Chanbaek di EXOLOGY. Demi apapun jika kalian menyadarinya, ada salah satu foto Baekhyun yang menggenggam tangan Chanyeol. Oh damn! ChanBaek is Real, Right? Aku tau banget chap ini mengecewakan. Tapi...
FF ini ga akan berjalan sejauh ini tanpa review kalian. So,
Mind To Review?
