Between Two Light

.

Kimi no Na Wa, Papa Shinkai punya

Fiction story by Chococinno Brown Sugar

.

Taki x Mitsuha

.

Chapter 2. Pararel

.

Warn! Typo, Semi-Cannon, atau mungkin AU readers yang tentukan. Fic senang-senang, suka-suka authornya aja.

Just a little bit more, a little bit more, could you?

.

.

.

"Mitsuha"

Tachibana Taki terbangun dari tidurnya dengan nafas tersenggal laiknya orang sehabis olahraga, ia berkeringat dingin –dan air mata menggenang di sudut matanya. Tachibana Taki menangis untuk alasan yang tidak ia pahami.

Kepalanya terasa berdenyut hebat akibat terbangun dengan sekali hentak, ia memegangi dahinya mencoba meredakan nyeri.

Indera lihatnya berputar ke sekeliling, untuk mendapati dirinya berada di tempat yang tidak asing, kamar tidurnya. Jam weker masih berdering diatas nakas samping ranjangnya, sinar mentari pagi menerobos masuk lewat gorden yang tak tertutup sempurna, buku-bukunya masih berjejer dikoordinat yang sama, lengkap dengan peralatan menggambarnya, tidak bergeser sedikitpun sejak terakhir kali ia ingat.

Beberapa saat ia terdiam, menenangkan diri sebelum lengannya beranjak meraih tombol diatas jam wekernya.

Ini bukan pertama kali ia terbangun dengan keadaan terkejut seperti itu, setidaknya sudah puluhan kali ia merasakan hal yang sama, dan ia tidak tahu sejak kapan mulanya.

Aroma pengharum ruangan otomatis tercium menenangkan, saat inilah Taki baru paham fungsi dari aroma terapi.

Masih ada beberapa jam untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.

Pria belasan tahun itu kembali membaringkan tubuhnya disana, mencoba mengingat mimpi yang baru ia alami, dan ia menyadari kalau usahanya sia-sia, karena ia tidak pernah bisa mengingat apa yang impi.

Nada dering ponsel menginvasi telinganya, menyadarkannya ke alam sadar. Sebuah tanda pesan masuk. Jemarinya meraih ponselnya untuk menemukan sebuah nama disana,

"Taki-kun"

Taki sedikit terkejut, sebelum kehangat –yang tak ia mengerti- menyelimuti hatinya, pula catatan yang ditinggalkannya di ponselnya selama mereka bertukar tubuh, tidak ada yang menghilang, ia ingat semuanya. Jejarinya lancar menegtik pesan balasan.

"Mitsuha"

.

.

.

"Mitsuha"

"Miyamizu Mitsuha"

Suara pemberitahuan kereta sama sekali tidak menyinggung telinganya, dan ketika kereta yang Taki tumpangi berhenti sempurna, ia menyerobot keluar.

Taki berlari kencang mengejar gadis itu, iya yakin betul kalau gadis itu adalah Miyamizu Mitsuha, yang ada pada foto tampilan kekasihnya. Taki tidak mengerti apa yang mendorongnya melakukan hal itu, yang ia imani adalah ia harus berbicara dengannya –apa?

-apa?

Langkahnya semakin cepat, berlari mengejar gadis berkuncir pita merah itu.

Ketemu,

Disana, disebuah anak tangga, diatas sana berdiri gadis itu. Angin senja menerbangkan helaian riap malamnya, serta seragam sekolah menengah atas yang masih lekat ia kenakan pada jam pulang sekolah.

"Mitsuha"

Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, namun lidahnya kelu bahkan untuk menyapa 'hai' pun ia tak sanggup, hanya merapal nama yang sama berkali-kali.

Gadis berkuncir pita merah itu tampak kebingungan, gesturnya seolah sedang mencari sesuatu, dan setelah agak lama barulah ia menyadari kehadiran Taki disana.

Dua insan berbeda usia itu bertemu pandang dalam vakum, sebelum-

" –Mitsuha, bagaimana bisa kau.." terhenti. Segala ucap menguap begitu saja. Tidak ada rangkaian kata yang pantas terlontar, baginya, ada banyak pertanyaan yang tak bisa tersuarakan. Tidak ada.

Mulutnya terbuka lebar, terengah, mencoba meraup udara sebanyak mungkin. Ia kelelahan tanpa sebab.

Gadis itu menatap Taki bingung, jejarinya saling bertautan mencengkram temali ranselnya, bibirnya digigit kuat-kuat. Gadis tampak kebingungan, seperti orang yang baru bangun dari tidur –dan sama sekali tidak mengenalinya.

'Kau sedang bermimpi?'

"Mitsuha ini aku, kau tidak ingat?" nadanya sedikit ditinggikan, nyaris berteriak. "Mitsuha"

Si gadis masih hening, tidak ada timbre dari bibirnya yang sudah memerah nyaris berdarah karena terlalu lama ia gigit, cemas dengan alasan yang tidak Taki tahu.

Taki tidak mengerti mengapa Mitsuha tidak mengenalinya, ini aneh, benar-benar aneh, mengapa Mitsuha tidak mengenalinya.

"Mitsuha"

–mengapa?

Inginnya ia berteriak, mengatakan kalau ia sangat mengenalinya, dan mengetahui Mitsuha tidak mengenalinya membuat Taki sedikit marah dan sedih.

"Aku?" riaknya semakin kebingungan, menunjuk pada wajah sendiri, memastikan kalau yang panggil pemuda tanggung itu adalah dirinya.

Tachibana Taki tidak bergerak selangkahpun dari tempatnya, mereka masih dalam posisi yang sama, berada di kedua sisi tangga tanpa berniat untuk mengeksekusi jarak.

"Ma... maaf, kau... siapa?"

–mengapa?

Langit semakin gelap ditelan waktu, membuat bayangan gadis itu jatuh menutupi anakan tangga. Taki masih sibuk dengan degup jantungnya yang berdentam-dentam, masih mengehela nafas berat.

"Aku harus buru-buru, saat ini seseorang sedang menungguku, aku berjanji kencan dengan seseorang"

Hendak berlari sebelum langkahnya terhenti,

"eh?" ia berbalik, ajaib, gadis itu seperti mengalami amnesia mendadak. Kernyit dahi Taki semakin tercetak jelas, ia belum bisa menangkap apa yang terjadi, yang dilihatnya hanyalah iris mata gadis itu pecah menjadi tangis

"Mitsuha"

Sang empunya nama menoleh, menatap Taki lekat, ujung matanya diseka dengan jemari lentiknya.

"kau mengingatku," bulir air mata yang membasahi wajah gadis belasan tahun itu mulai mengering, ia tersenyum tulus, garis matanya menyipit, ikut tersenyum. "Taki-kun?"

Segala keheranan berkumpul dalam satu titik di kepalanya, pertanyaan yang tidak bisa termuntahkan.

Kenapa? kenapa harus seperti ini?

Alih-alih suara yang terdengar, malah air mata menetes di sudut matanya.

Seharusnya tidak seperti ini.

"Mitsuha"

"Maaf taki-kun, aku buru-buru sebelum kereta terakhir, aku takut ketinggalan kereta."

Gadis itu melambai ramah, kurva senyum masih tak enyah dari wajah manisnya, memberikan salam perpisahan.

Taki masih tertegun dalam diamnya, sebelum sosok itu menghilang sempurna ditelan jarak.

Kalau ia diberi kesempatan sekali lagi untuk bertemu gadis itu, Taki tidak akan melepasnya lagi.

.

.

.

Menatap langit yang temaram. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu persatu seperti kartu domino. Kembali Tachibana Taki diombang-ambing oleh ingatannya sendiri. Udara senja yang seharusnya segar justru mencekiknya perlahan.

Perjalannya menuju apartemennya hanya terpaut lima menit berjalan kaki, namun hatinya enggan pulang, kepala serta pikirannya masih terguncang. Ia bahkan tidak tahu apa ia bisa mempercayai dirinya sendiri, penglihatannya, atau justu semua yang ia lihat hanyalah delusi.

Sebenarnya Mitsuha itu siapa? Dirinya itu siapa?

Ia bukan manusia spesial, ia tidak memiliki kelebihan yang menonjol, tapi mengapa harus ia yang memiliki alur hidup begitu rumit, mengapa ia bahkan tidak bisa mempercayai dirinya sendiri. Karma kah?

Jasnya, dasinya, sudah berantakan sempurna, seberantakan isi kepalanya. Langkahnya gontai diseret paksa, ditolak perusahaan tadi pagi sama sekali tak membekas dalam ingatannya.

Taki memutuskan untuk pergi ke minimarket, membeli beberapa makanan instan, serta minuman isotonik.

Dan langkah kakinya membawa pada taman sepi. Duduk di salah satu ayunan disana, memakan onigiri yang baru dibelinya, masih sambil melamun, menerawang.

Jengah juga, ia membuka ponselnya, ia membaca catatan-catatan di diari virtualnya, ia tidak mengerti mengapa banyak dari catatan itu ditulis oleh Mitsuha, bertemu pun tidak pernah, apalagi bertukar ponsel.

Mitsuha lagi.

Dan catatan itu ditulis dengan bahasa yang akrab, pada delapan tahun lalu. Tepat pada tahun dimana itomori hancur dihantam meteor.

Decitan ayunan yang berkarat mendominasi hening disana, udara malam semakin menusuk, Taki memutuskan untuk pulang dan melupakan semua yang terjadi, biarlah waktu yang membawanya pada jawaban.

.

.

.

"Mitsuha" Tachibana Taki terbangun dari tidurnya dengan nafas tersenggal akibat jam weker yang nyaring bersuara.

Lagi,

Pemandangan yang ia lihat sama sekali familiar, pula dengan aroma pengharum ruangan otomatis, sama persis.

Pipinya digenangi air mata yang mengering. Ia menangis entah karena apa. terengah serta berkeringat dingin. Mimpinya pula tak ia ingat, dilihatnya jemari yang tremor,

Keadaan yang tidak asing, apa ini yang disebut deja vu?

Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dikejar nalar, perpindahan waktu bukan sesuatu yang awam, banyak yang mengatakan waktu adalah monster yang dapat menelan seseorang kedalam pertanyaan tak berujung.

Dan kalau Taki benar-benar ditelan oleh waktu, ia ingin terjebak pada masa dimana ia ada bersama kekasihnya, Mitsuha.

Taki bangkit dari tidurnya. Air yang mengucur dari keran wasafel terasa begitu sejuk ketika menyentuh kulit wajahnya. Mimpi buruk harus segera dilupakan sebelum menjalari pikiran dengan hal-hal negatif –walaupun Taki tidak tahu mimpinya buruk atau baik.

Dan Tachibana taki hampir berteriak ketika melihat pantulan dirinya pada cermin,

Dirinya ada di usia belasan, usia ketika ia masih menginjak bangku sekolah menengah atas.

"Aku... terlihat muda?"

Irisnya menyipit, menyelidik. Pantulan di cermin benar miliknya, bukan milik mahluk halus dan sejenisnya.

Seingatnya kemarin ia baru saja ditolak di perusahaan, dan seharusnya hal itu adalah kabar buruk, tapi mengapa wajahnya tampak lebih muda seperti mendapatkan hal paling membahagiakan.

Tunggu, apa ia kembali ke masa lalu?

"eehhhhhh?"

.

.

.

TBC (again)

.

Akhirnya chap 2 nya beres juga. Agak bingung meluruskan plotnya karena pas ngetik cerita selalu berkembang dan melenceng, duh susah ya bikin multichap hohohoho. Chap ini lebih pendek dari chap sebelumnya, dan maaf kalau banyak typo ataupun kalimat yang gak nyambung, saya gak edit lagi duh maaf ya, buru-buru soalnya.

Karena...

Saya mau hiatus dulu karena something important gitu lah, gak juga sih. Maaf kalau nanti chap 3 nya lamaaaaaaaa update. Oke sekian, makasih sudah mau baca ^^

Maaf banget ya.

Salam hangat,

Chococinno Brown Sugar