Jokaku—Matsuyama, Jepang

Juli, 2012

Lima tahun lalu…

"Selamat ulang tahun, Pangeran. Sejahtera untuk pangeran!"

Beratus-ratus ucapan selamat sudah menjadi hal lumrah yang didapatkan seorang pangeran setiap tahunnya saat hari lahirnya tiba. Baik dari pejabat tertinggi istana, hingga rakyat biasa sibuk menyiapkan hadiah atau menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengucapkan rasa syukur karena kehadirannya sang pangeran di tengah-tengah mereka. Ya, semua merasa bahagia pada hari ulang tahun sang pangeran kedua, tidak ada pengecualian.

Sasuke Uchiha (12).

Putra mahkota kedua kerajaan Jepang mendapatkan berkah dari sang pencipta karena dia dilahirkan di dalam lingkungan yang sangat baik. Berbeda dari aturan kerajaan pada umumnya, Jepang menganut sistem kekaisaran yang modern. Tidak hanya teknologi saja yang berkembang, Jepang mengalami banyak perubahan pada pemikiran para pemimpinnya. Bahkan kemajuan pemikiran tersebut berimbas pada kebudayaan Jepang. Acara minum teh yang sangat diagung-agungkan oleh rakyat Jepang bisa menjadi santai dan hangat, seperti saat ini.

Jika dahulu, acara hari lahir sang pangeran haruslah mengalami proses upacara yang panjang, sekarang sang pangeran bisa merasa tenang karena banyak tradisi yang sudah tidak dilakukan lagi pihak istana. Ya, tradisi sang pangeran harus duduk selama berjam-jam ketika para tetua memberi petuah sudahlah dihapus dari aturan istana. Sekarang, sang pangeran hanya perlu duduk tenang di hadapan orang banyak saat orang-orang itu mengucapkan selamat padanya, kemudian berlanjut dengan acara makan malam bersama.

Acara makan malam tidaklah sesantai acara makan malam yang dilakukan di hotel berbintang lima, atau restoran bertema dunia barat. Guna menghormati budaya leluhur, dan tetap mempertahankan budaya, acara makan malam diselenggarakan di salah satu istana yang sudah ada sejak zaman Showa. Seorang Raja dan permaisurinya dipersilahkan duduk di singgasana, tempat paling tersorot dan sedikit tinggi dibandingkan orang lain. Sedangkan pangeran, menteri, dan orang-orang penting bagi negara duduk berjajar sesuai dengan kedudukan mereka, saat Sasuke duduk bertepatan di tempat paling dekat dengan sang raja dan permaisuri.

Sasuke menatap kedua orang tuanya. Seperti yang lainnya, kedua orang tuanya sangat bahagia di malam ini. Ah, tentu saja, siapa yang tidak akan bahagia, saat anak mereka sudah dinyatakan dewasa dan pantas untuk berburu—mencari pasangan. Sasuke sedikit menerawang. Kira-kira, seperti apa pasangan yang didapatkannya? Apakah dia akan mendapatkan, beta atau omega? Apakah pasangannya akan secantik dan semenarik ibunya?

Tiba-tiba Sasuke merasa terusik dengan pikirannya sendiri. Ia sama sekali tidak ingin mengecewakan orang-orang di sekitarnya, walau dia hanya putra kedua. Ia ingin mendapatkan omega terbaik. Ia ingin mendapatkan seorang omega yang sempurna untuknya, dan bisa melahirkan anak-anak yang membanggakan bagi kerajaan ini. Sasuke menerawang, mudah-mudahan pada saat pencarian pasangan itu, ia bisa mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kriteria rakyatnya.

"Jadi, Pangeran kedua berjenis Ultimate Alfa—Panthera—seperti Yang Mulia?" salah satu menteri yang diundang Fugaku—sang kaisar—angkat bicara.

Fugaku—sang kaisar—tertawa bangga. Siapa yang tidak akan bangga jika memiliki dua anak yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin? Bukan hanya sebagai seorang Ultimate Alfa, Sasuke ditakdirkan menjadi seorang Panthera, atau jenis Alfa pendominasi tingkat tinggi yang bisa merubah wujudnya. Ya, berbeda dengan alfa pada umumnya, jenis alfa tingkat tinggi seperti Sasuke, bisa melakukan perubahan wujud menjadi setengah hewan, layaknya nenek moyang mereka. Oleh karena itu, selain memiliki kecerdasan di atas rata-rata, Ultimate alfa bertipe kerajaan Uchiha memiliki kekuatan yang sulit ditandingi.

"Ya. Pangeran kedua patut menjadi kebanggaan bagi rakyat dan istana," jawaban Fugaku berhasil membuat Sasuke tersipu malu, tengah ditatap oleh orang-orang penting di negara ini dengan penuh kekaguman.

"Sepertinya waktu berjalan begitu cepat," ucap tamu yang lainnya, sedikit mengalihkan pembicaraan.

"Benar sekali, Yang Mulia," sahut yang lainnya.

"Jika tidak salah ingat, di umurnya yang sekarang, sang Pangeran kedua sudah pantas mulai melakukan pencarian pada calon pasangannya," salah satu dari mereka mulai mengangkat topik pembicaraan yang sedang dihindari oleh Sasuke.

Deg

Kepercayaadirian Sasuke sedikit terusik saat acara berburu pasangan mulai diangkat ke permukaan. Rasa takut pada dirinya semakin meningkat. Bagaimana jika dia tidak bisa mendapatkan pasangan sempurna seperti Uchiha-Uchiha terdahulu? Bagaimana jika ia salah memilih pasangan? Sasuke berusaha menutupi setiap kecemasannya dengan senyuman canggung, berharap tidak ada satupun orang yang sadar dengan ekspresinya sekarang.

"Ya, berhubung tahun lalu, pangeran mengalami demam tinggi pada saat acara pencarian, di tahun ini pangeran kedua baru bisa memulainya," jawab Fugaku sembari melirikan mata ke arah Sasuke, dan Sasuke hanya mengangguk sopan, menjawab ucapan ayahnya.

"Putra Mahkota dan Putri Izumi tiba!" penjaga kaisar yang sengaja diperintah untuk berjaga di depan pintu istana ini memberi laporan.

Tidak beberapa lama, sosok pemuda bersurai hitam dengan rambut terikat satu, dan memiliki guratan tanda lahir di wajahnya masuk ke dalam istana ini. Di samping pemuda tersebut terdapat seorang gadis yang sengaja menggunakan pakaian kimono berbahan sutra gelap dengan motif bunga teratai pada bagian bawahnya. Rambut gadis tersebut dibiarkan tergelung rapih, menampilkan lekuk wajah mungilnya. Ia tersenyum manis saat kepalanya menunduk, memberi hormat pada kedua calon mertuanya.

"Selamat malam, Yang Mulia, Ibu suri, salam sejahtera untuk semuanya," salam dari Itachi—putra pertama dari sang kaisar.

"Hahahaha, silahkan duduk anakku," Fugaku yang sedang berbahagia mempersilahkan anak sulungnya untuk mengambil tempat di hadapan Sasuke, dengan didampingi Izumi—calon pengantinnya—yang akan duduk di sampingnya.

Itachi menyadari jika suasana di dalam ruangan ini sangat hangat, berbeda pada saat orang-orang ini sedang bersitegang saat membahas negara. "Maaf aku terlambat, Yang Mulia," ucap Itachi, terdengar sedikit penasaran dari nada suaranya. "Apa ada hal menarik yang saya lewatkan?"

"Santai saja, Pangeran. Kami hanya sedang membahas calon seperti apa yang diinginkan adikmu, dan sepertinya ia tertarik memiliki calon seperti Putri Izumi," jawab Fugaku, menggoda Sasuke.

Godaan asing Fugaku membuat kedua mata Sasuke terbelalak dan membuat dirinya salah tingkah. "Yang Mulia," ucap Sasuke, berharap Fugaku tidak berkata tidak-tidak di hadapan kakaknya.

"Hahahaha…" tawa semua orang di tempat itu saat mereka menyadari betapa mudahnya Sasuke digoda.

"Kau pasti sulit akan mengalami kesulitan untuk melaksanakan impianmu itu, Sasuke," balas Itachi, tidak ingin tertinggal untuk menggoda sang adik.

"Eh?" kedua mata Sasuke mengerjap, tidak mengerti ucapan kakaknya.

"Karena Izumi hanya ada satu di dunia, dan dia milikku," lirik Itachi pada Izumi membuat pipi Izumi bersemu merah, mendapat godaan dari orang yang dicintainya. Seluruh ruangan itupun kini mentertawakan Izumi.

Sasuke mencuri pandang ke arah kedua orang tuanya, dan kakaknya. Ia tersenyum sangat tipis. Ah, sepertinya dia tidak perlu khawatir. Melihat pasangan ayah dan kakaknya, sepertinya keluarga Uchiha selalu mendapatkan pasangan terbaik. Hei, jangan lupa, jika Sasuke sudah ditakdirkan menjadi Ultimate Alfa, dan sebagai seorang pendominasi tingkat tertinggi, kemungkinan mendapatkan pasangan terbaik, pastilah nyaris seratus persen. Dan, bukan kakaknya saja yang bisa mendapatkan pasangan sesempurna Izumi, melainkan dirinya juga.

Ya, Sasuke yakin itu…

Karena…

Bagaimanapun caranya, dia akan mencari pasangan sempurna itu…


Clothes Have no Gender

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rating: T+—M

Genre: Action, drama, criminal, hurt/comfort, romance, family, friendship

Pairing: Sasuke and Naruto

Other Cast: Pain, Itachi, Shikamaru, Kiba, Gaara

Warn: AU, OmegaVerse, OOC, M for Criminal themes, Bad language, School life, and other.

Cerita ini hanyalah untuk kesenangan belaka, bukan untuk kebutuhkan materiil.

Happy reading.

Me present for 2017.


Suna—Jepang

"Astaga! Benarkah Pangeran kedua akan datang kemari?!"

"Astaga, aku tidak menyangka bisa melihatnya langsung."

"Ini benar-benar hebat. Aku tidak sabar untuk melihatnya."

Naruto mendesah malas saat orang-orang di sekitarnya terus membahas topik yang sama. Oh, ayolah! Bagaimana perasaan seseorang yang sejak bangun pagi, berangkat ke sekolah, hingga mencapai sekolah, dan jam istirahat terus mendengar gosip mengenai seorang pangeran yang akan datang ke tempat mereka yang notabene tempat yang bisa dibilang tidak terlalu besar untuk dikunjungi oleh pihak istana.

Naruto tidak masalah jika seseorang membicarakan seorang pangeran karena pada hakikatnya seorang pangeran itu memang orang terkenal yang pantas diperbincangkan, tetapi jika dia harus meladeni orang-orang untuk mendengar topik yang sama? Ugh, Naruto rasa itu terlalu berlebihan. Lagipula, tidak mungkin seorang pangeran berburu di tempat anak-anak seperti mereka ini. Pangeran pastilah akan mencari omega, atau betanya di tempat yang terbaik di Suna.

"Naruto!" Sakura—gadis berparas cantik—masuk ke dalam kelas dengan tergesa-gesa. Ia menggoyang tubuh Naruto.

"ASTAGA SAKURA!" Naruto yang sedang memasang headset terkejut dengan kedatangan Sakura.

"Naruto! Apa kau dengar, jika Pangeran kedua akan melakukan acara berburunya?" Sakura bertanya dengan nada antusias.

Naruto mendesah untuk kesekian kalinya di dalam waktu lima menit ini. Astaga. Mana mungkin Naruto tidak tahu jika ibunya, sopir bis sekaligus penumpang, serta teman-teman sekelasnya terus membicarakan hal yang sama. Naruto bahkan harus memasang headset agar terhindar dari topik pembicaraan ini. Tetapi, kedatangan Sakura merubah mood Naruto seketika. Naruto yang merasa tenang terpaksa harus menanggapi teman kecilnya ini.

Tidak berapa lama, sosok gadis bersurai pirang yang memiliki paras sangat cantik memasuki kelas Naruto. Ia merupakan Ino—sahabat dari Sakura. Berbeda dengan Naruto yang lincah, Ino terlihat lebih tenang sekaligus berperangai manis. Ia merupakan gadis yang diidolakan oleh para alfa dan beta di luar sana. Melihat dari sifat dan pembawaannya, Ino memang terlihat lebih dewasa dari Sakura. Bahkan di umurnya yang sembilan tahun, Ino sudah mendapatkan masa pubernya dan mengetahui jika dirinya merupakan seorang omega yang memiliki kriteria di atas rata-rata.

"Ino?" sapa Naruto dengan senyuman tipis. Jangankan teman-temannya, Naruto yang merupakan sahabat kecil Ino saja selalu mengidolakan gadis ini.

"Ah, benar-benar hebat, ya? Seluruh stasion televisi menyiarkannya," puji Ino, tiba-tiba ikut ke dalam perbincangan di antara Sakura dan Naruto.

"Yaaaaa…. Seandainya, salah satu dari sekolah kita terpilih menjadi pasangannya pasti hal ter—eh Naruto?!" jawab Sakura.

Naruto mendumel di dalam hati. Ia berharap gadis-gadis di sekitarnya berhenti berhayal atau lambat-laun mereka akan gila. Iapun membereskan tempat tulisnya. Ia segera beranjak dari tempat duduknya, hendak pergi dari tempat ini saat jam pelajaran belum usai. Percuma saja dia tinggal di tempat ini, seluruh guru tidak konsen mengajar. Mereka semua sibuk membenahi keponakan, anak atau anak tetangga untuk ditawarkan pada sang pangeran. Astaga. Ini semua sudah gila. Naruto tidak percaya dampak kekuasaan seorang Ultimate Alfa bisa sampai sejauh ini.

"Maaf. Ada tempat yang harus aku lukis!" ucap Naruto pada kedua teman kecilnya.

Sakura mendecih dikala melihat sifat Naruto yang sepertinya tidak terlalu suka dengan perbincangan di antara mereka. Oke, Sakura mengerti jika Naruto berbeda dari anak lainnya. Sejak Sakura mengenal Naruto, Sakura tidak pernah melihat Naruto tertarik dengan status omega, alfa atau beta. Naruto selalu berpikir, jika semua hal tidak usah diputuskan oleh status mereka karena hal tersebut hanyalah berakhir menjadi suatu diskriminasi yang tidak disukai Naruto sejak awal.

"Astaga, anak itu!" gumam Sakura, tadinya dia berharap sahabat kecilnya ini memiliki keinginan seperti anak-anak lainnya.

"Terkadang, aku tidak percaya jika dia turunan seorang bangsawan," ucap Ino, tidak percaya dengan sifat Naruto yang terlalu cuek. Padahal ia tahu sendiri, Naruto berasal dari keturunan terbaik alfa, atau omega.

"Bangsawan? Kau pasti tertipu oleh leluconnya," ucap Sakura dengan kekehan.

"Ya, sepertinya begitu hahaha…" Ino pun hanya tertawa ringan, sulit sekali mempercayai silsilah keluarga Naruto.

.

.

.

Dengan tergesa-gesa Naruto turun dari bis. Ia harus tiba tepat waktu sebelum obyek lukisannya hilang. Sejak awal Naruto ingin sekali melukis sepeda yang selalu digunakan oleh pengantar bunga dan diparkirkan di pinggir café—tempat minum kopi itu memesan serangkai bunga. Sangat disayangkan, untuk mendapatkan obyek itu Naruto harus menempuh jarak cukup jauh dengan waktu kedatangan pengantar bunga itu hanya dua bulan sekali.

Naruto baru saja tiba di halte bis, saat sepeda yang dinanti-nantinya baru dibawa pergi oleh sang pemilik. Naruto membuka-tutup mulutnya, menatap ke seberang jalan sana, hendak berteriak dan merengek pada orang itu agar mengizinkannya untuk melukis sepeda favoritenya tersebut. SIAL! Bagaimana bisa dia telat melukis? Ini benar-benar menyebalkan. Jangan bilang dia harus menanti dua minggu lagi untuk memperoleh obyek gambarnya. Hufff, padahal belum tentu obyek itu akan datang ke tempat ini lagi, bukan?

Naruto mengeluh. Iapun merasa sia-sia jika harus menggambar sepeda itu di tempat lain karena latar café itu yang pas untuk dijadikan obyeknya pelengkapnya.

Naruto menendang-nendang batu. Ia melangkah menuju halte, kemudian duduk di bangku halte itu. Ia menatap ke depan. Huff… hari ini sepertinya suasananya sangat sepi. Bahkan hanya dirinya yang duduk di halte ini. Baru saja Naruto akan memasang headset pada telinganya, tiba-tiba ia melihat sosok asing yang berdiri di seberang jalan sana. Sosok tersebut hanya berdiri di pinggir jalan—seolah manequin yang sangat indah, terutama saat sosok tersebut terlihat sempurna.

"Indah," hanya kata itu yang bisa Naruto apresiasikan untuk pemuda tersebut.

Naruto tidak pernah melihat sosok sempurna seperti anak berumur sekitar dua belas tahun yang memiliki rambut blue-black ini. Kedua mata bocah ini sangat tajam seperti elang, hidungnya mancung, dan kulitnya semulus keramik mahal yang selalu dibawakan ayah Naruto sebagai oleh-oleh.

Naruto tidak bisa berpaling dari obyek di hadapannya. Tanpa sadar ia mengeluarkan buku sketsa, kemudian mulai menggoreskan pensil pada buku tersebut. Ia sangat berkonsentrasi untuk melukis obyek di hadapannya. Demi Tuhan, untuk pertama kalinya Naruto menjadikan manusia sebagai obyek gambarnya. Ini pertama kalinya Naruto terkesan dengan obyek hidup.

Sudah lima belas menit berjalan, dan akhirnya Naruto nyaris menyelesaikan gambarnya. Dia terlalu semangat hingga tangannya bergerak cepat. Iapun tinggal melakukan finishing, pada saat obyek yang sejak tadi dilihatnya menghilang. Eh, kemana dia? Naruto mengerutkan keningnya. Sedikit, ia merasa kecewa karena tidak bisa melihat obyek indah itu lagi.

Ish, dia menghilang!

Naruto pun menggerutu pelan sembari menggores-goreskan gambarnya dengan pensil, saat ia merasa ada yang berdiri di hadapannya.

"Kau sedang apa?" tanya seseorang, membuat jantung Naruto mencelos.

Naruto mendongakan kepalanya, kemudian wajahnya memucat. Oh, sial! Kenapa bisa obyeknya tiba-tiba berdiri di hadapannya? Naruto langsung menutup buku sketsanya. Ia hendak menyembunyikan gambar yang baru saja diperolehnya. Ugh, jangan bilang ia akan terlibat masalah sekarang ini karena dia telah menggambar seseorang tanpa izin.

"Aku tidak melakukan apapun," Naruto berusaha menyembunyikan kegugupannya. Kedua matanya bergerak kesana-kemari, pertanda dia tidak terlalu pandai berbohong.

"Apa kau menggambarku diriku tanpa seinzin dariku?" bocah di hadapan Naruto lebih terdengar memberikan pernyataan daripada pertanyaan.

"Tidak. Jangan terlalu percaya di—

Dengan kasar bocah itu menarik buku gambar Naruto, membuat Naruto terperangah. Hei, jangan bertindak kasar. Tidakkah dia tahu, di dalam sana banyak sekali karya Naruto.

Naruto bangkit, hendak mengambil buku yang dijauhkan oleh sang perebut dengan cara menyebalkan. Ugh, brengsek. Kenapa dia terkesan sangat pendek untuk sekarang ini, padahal umur mereka sepertinya tidak terlalu berbeda jauh, bukan?

"KEMBALIKAN!" teriak Naruto, meloncat-loncat, hendak merebut kembali buku sketsanya.

Bocah itu menjauh dari Naruto, kemudian membuka satu-persatu gambar yang telah diciptakan oleh Naruto. Bocah tersebut sangat terpukau dengan gambar yang dilihatnya. Hei, bagaimana bisa bocah seumur Naruto menggambar sebaik ini? Bahkan gambarnya terlihat sangat hidup, walaupun hanya menggunakan pensil? Bocah itu menggeleng. Bukan saatnya dia terkesima dengan kreasi bocah asing di hadapannya. Iapun melihat bagian akhir buku sketsa bocah berambut pirang ini.

Binggo!

Ternyata benar, dirinya telah menjadi obyek gambar.

"Kau berbohong! Kau benar-benar menggambarku," gumam bocah bermata elang ini.

"Kembali—

"Tidak mungkin aku kembalikan. Ini sebagai bayaran karena kau telah menggambarku tanpa seizinku!" ucap bocah bermata elang itu, dengan nada penuh tekanan dan dominan.

"A—apa?!"

Tidak perlu melakukan tes atau apapun untuk mengetahui termasuk jenis apa bocah di hadapan Naruto ini. Dari sikapnya dan tatapannya, Naruto dapat menilai jika bocah di hadapannya termasuk jenis alfa.

Persuasif, manipulatif, dan pendominasi.

Terlihat sekali jika bocah di hadapannya ini sangat pandai mempemainkan emosi lawannya. Naruto menghela nafas. Kenapa di saat seperti ini, ia harus berurusan dengan sosok menyebalkan. Ugh!

Naruto merotasi kedua bola matanya. "Astaga, cepat kemba—

Tunggu!

Sepertinya…

Naruto mengadahkan kepalanya. Ia kemudian membuka sleting tas ranselnya, kemudian mengambil payung di dalam tas ransel itu. "Cepat kemari!" Naruto memerintah bocah di hadapannya untuk mendekat ke arah dirinya. Ia membuka payung di tangannya. Ia berharap tidak terjadi kejadian buruk pada buku sketsanya.

Bocah di hadapan Naruto menatap Naruto seolah Naruto ini orang gila. "Hah, apa kau gila? Untuk apa kau membuka payung di tengah-tengah cuaca terik seper—

Zaaaasssshhhhhhhhh

Beruntung sekali bocah ini. Saat hujan tiba-tiba datang, Naruto sudah memayunginya. Keadaan tiba-tiba menjadi mendung, membuat bocah di hadapan Naruto ini mengerjapkan matanya.

"Kau pasti bercanda?" bocah yang sedang dipayungi Naruto terkejut setengah mati.

Bagaimana bisa tahu seolah hujan akan datang?

"Hmmm hujan," gumam Naruto. "Cepat ikut aku!" perintahnya, dan dengan sukarela bocah bermata tajam yang selalu meganggu Naruto ini mengikuti Naruto.

Apa boleh buat, dia tidak memiliki tempat berteduh saat pemberhentian bis ini tidak memiliki selter. Uh, inilah tempat terpencil. Selalu saja ada infrastruktur yang kurang.

.

.

Tidak ada tempat berteduh, akhirnya mereka melakukan tindakan cukup berbahaya. Mereka berdua menanti hujan berhenti sembari berdiri di bawah pohon besar. Ah, seandainya ada petir, mereka berdua pasti akan mati tertimpa pohon. Keheningan terjadi di antara mereka. Tidak saling mengenal, membuat mereka berdua hanya menikmati keheningan.

Bocah di samping Naruto ini melirikan matanya sejenak. Ia meneliti secara baik-baik fisik Naruto. Errr… jujur di umurnya yang sekarang, bocah ini seharusnya bisa membedakan mana omega, alfa, dan beta. Tetapi, bocah ini sama sekali tidak bisa mendefinisikan termasuk kategori mana Naruto berada. Bahkan secara fisik pun bocah ini tidak dapat membedakan Naruto, ketika Naruto sangat tampan untuk ukuran omega dan memiliki sifat terlalu manis untuk dikatakan alfa. Ugh, skill Naruto pun mengindikasikan jika dia ini seorang omega. Akan tetapi, kecepatan Naruto berlari…bocah ini bingung sendiri.

Kau ini apa? Omega atau alfa… atau beta?

"Bagaimana bisa kau tahu akan terjadi hujan?" keheningan yang menyiksa pun dipecahkan oleh bocah di samping Naruto. Untuk pertama kalinya dia yang membuka suara ketika berada di dekat orang asing.

"Insting," jawab Naruto sembari menatap bocah di sampingnya, kemudian tersenyum lebar, menyebabkan kedua matanya menyipit, membuat wajah Naruto semakin terlihat menawan.

"I—insting?" gumam bocah itu. Ia bingung kenapa ia menjadi gugup seperti ini. Apakah akibat senyuman Naruto, atau jawaban yang baru saja didengarnya?

Naruto tidak menjawab lebih lanjut kebingungan bocah di sampingnya.

Suasana kembali sunyi-senyap. Bocah di samping Naruto hanya berharap semua ini segera berakhir. Ia ingin pulang karena tubuhnya mulai terasa dingin. Akan tetapi, bocah ini tidak mungkin merubah transformasi di tempat ini. Apabila dia berubah, bisa-bisa dia malah membuat orang-orang yang kebetulan melewati tempat ini tertarik pada dirinya.

Tiba-tiba Naruto menutup payung yang sejak tadi menjadi tempat berlindung mereka berdua selain pohon besar ini.

"Ho—hoi…" sang bocah yang sedikit risih jika terkena air tidak suka jika Naruto menutup payungnya saat hujan masih terlihat turun. Namun, dugaannya salah. Hujan yang sejak tadi mengusik mereka berhenti bertetapan dengan tertutupnya payung tersebut. Hujan itu mengecil secara perlahan.

"Apa?" gumam bocah ini, terkejut untuk kedua kalinya.

Di—dia benar-benar bisa meramal cuaca?!

"Dibalik cuaca mendung selalu tersimpan hal indah," gumam Naruto, sembari menatap bocah di sampingnya. "Apa kau setuju?"

Bocah di samping Naruto tidak dapat menjawab. Ia hanya bisa menatap paras indah Naruto. Astaga. Kenapa bocah di samping Naruto ini seperti berhalusinasi, jika Naruto seperti bercahaya?

Ciiittt… Citttt….

Matahari mulai menunjukan sinarnya kembali. Seiring dengan lembabnya udara sekitar, burung-burung yang sejak tadi bersembunyi di dalam sarang mereka mulai keluar dari peraduannya. Burung-burung itu berterbangan mengelilingi pohon di sekitar mereka. Naruto mengadahkan kepalanya. Ah, aroma setelah hujan ini sangat enak untuk dinikmati. Naruto memejamkan mata, menikmati bunyi gesekan dedaunan, angin, serta suara cuitan burung.

Sang bocah merasakan degup jantungnya. Untuk kesekian kalinya ia dibuat takjub oleh Naruto. Oh, bagaimana bisa ada seseorang yang bisa menyesuaikan diri dengan alam seperti ini. Bahkan, bocah yang terkenal sebagai Ultimate Alfa pun tidak mungkin bisa seperti ini. Bocah inipun melirikan matanya ke belakang. Ia terlonjak saat melihat puluhan ulat bulu turun ke arah mereka—mendekati Naruto. Bukan hanya ulat bulu saja, tupai dan burung-burung pun mulai bermain di sekitar mereka.

Naruto membuka matanya. Ia mengadahkan tangannya, kemudian salah satu burung berwarna hitam dengan kuning di bagian perutnya hinggap di tangannya. Burung itu sibuk meloncat-loncat di sekitar tubuh Naruto, dan begitu juga binatang-binatang lainnya. Bocah yang melihat semua ini hanya bisa berkesimpulan jika Naruto pasti akan menjadi primadona para hewan apabila pergi ke hutan.

"Kau ini apa? Snow white? Hahaha… Bahkan ulat bulu pun sampai mendekatimu," ucap sang bocah, takjub sekaligus terlalu bingung dengan pemandangan di depannya.

"…." Naruto tersenyum miring, kemudian mengambil salah satu ulat bulu di belakangnya. Ulat bulu itu berwarna hitam berduri panjang-merah.

"He—hei!" sang bocah melangkah mundur ketika melihat hewan di tangan Naruto.

"Dia tidak akan membuatmu gatal. Percaya dan peganglah!" ucap Naruto, memerintah bocah di hadapannya untuk mengulurkan tangan.

Be—benarkah?

Dengan ragu bocah di hadapannya ini mengulurkan tangan ke arah Naruto. Ia tidak mau terserang penyakit gatal. Bisa-bisa banyak orang kerepotan jika dia sakit. Tetapi, rasa penasaran menggelitik keingintahuannya. Ia ingin tahu, apa benar ulat bulu itu tidak akan membuat dirinya gatal? Kenapa bisa? Apakah semua ini akibat sihir dari bocah bersurai pirang di hadapannya ini? Sebenarnya siapa laki-laki bersurai pirang ini? Kenapa dia terlihat seperti peri? Peri hutan!

Rasa geli menjalar di telapak tangan bocah itu. Ia melihat ulat di tangannya menggeliat, kemudian bergerak-gerak ke atas bawah, seperti sedang menari. "Apa dia sedang menari?" tanyanya, tidak yakin.

"Ya, sepertinya dia menyukaimu," jawab Naruto, dengan senyuman yang tidak menghilang dari bibir merah mudahnya.

"Benarkah?" dengan antusias sang bocah menatap Naruto. Ia tidak menyangka bisa disukai ulat bulu juga.

"Tidak," jawab singkat Naruto, berhasil membuat senyuman bocah di hadapannya menghilang. Ugh.

Melihat ekspresi bocah di hadapannya ini, Naruto tertawa terbahak-bahak. Oh, astaga. Lihatlah ekspresi bocah di hadapannya. Kenapa bisa ada seseorang yang kecewa karena tidak disukai oleh ulat bulu? Naruto menghapus air di sudut matanya. Ia menatap bocah di hadapannya, dengan tawa yang masih keluar dari bibirnya.

"Hahahahaha… Wajahmu itu… Darimana kau berasal? Aku sama sekali belum pernah melihat dirimu?" disela-sela tawanya Naruto bertanya, membuat bocah di hadapannya mengerang sebal, kemudian menaruh kembali ulat bulu di tangannya pada pohon, dan membiarkan ulat bulu itu bergabung dengan ulat bulu lainnya.

"Ah, aku hanya sedang mengikuti ayahku bertugas," jawab bocah itu sembari menatap lurus ke depan, tiba-tiba mood-nya berubah buruk.

"Hoooo…." Naruto mengangguk-anggukan kepalanya. Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi dia tidak pernah diajarkan oleh ibunya untuk selalu ingin tahu urusan orang lain. Akhirnya, Naruto menahan diri agar tidak menyinggung lebih banyak bocah di sampingnya.

Bocah di samping Naruto menatap Naruto sejenak sebelum mengulurkan buku sketsa yang sejak tadi dijaganya ke tangan Naruto.

Dengan segera Naruto mengambil buku sketsa itu.

"Terima kasih," ucap Naruto, membuat bocah di sampingnya heran. Untuk apa orang ini mengucapkan terima kasih pada barang yang telah diambil oleh orang lain?

"Hn," jawab bocah itu—tidak mau mengungkit hal tidak penting dan berakhir perdebatan.

Keheningan kembali terjadi di antara mereka. Naruto yang tidak tahu harus berbicara apalagi memilih untuk melihat gambarnya secara satu-persatu. Iapun tersenyum senang, ketika tidak ada satu gambarpun miliknya yang rusak. Naruto akan menutup buku sketsanya pada saat matanya terfokus pada gambar terbarunya. Ia menatap gambar terakhirnya sebelum ia mencabut kertasnya dari buku sketsa tersebut, kemudian mengulurkannya pada bocah di sampingnya.

"Untukmu," tawar Naruto, meminta bocah di sampingnya untuk mengambil gambar itu.

"Hn?" bocah di samping Naruto heran.

Kenapa tiba-tiba Naruto memberikan salah satu gambarnya? Bukankah daritadi dia bersikukuh untuk mempertahankan gambar-gambar itu?

"Gambar ini untukmu. Anggap saja gambar ini sebagai hadiah pertama pertemanan kita," ucap Naruto, membuat bocah di sampingnya mengedipkan kedua matanya.

Berteman?

Bocah di samping Naruto ini tidak menyangka bisa mendapatkan teman di tempat yang tidak dia duga-duga. "Benarkah?" tanyanya.

"Tidak," jawab datar Naruto, untuk kedua kalinya dia ingin menggoda bocah di sampingnya.

"Astaga!" erang frustasi sang bocah.

Bagaimana bisa dia bertemu dengan orang semenyebalkan ini?

"Hahahahaha…." Naruto tertawa sangat keras. Bahkan ia sampai memegangi perutnya. "Maaf, maaf. Habis wajahmu itu sungguh lucu. Ambilah. Aku rasa kau pantas menyimpannya. Maafkan aku telah menjadikanmu obyek tanpa izin," Naruto mengibas-ngibaskan kertas di tangannya agar bocah itu segera memungutnya.

Bocah itu menatap sejenak ekspresi Naruto sekarang ini. Ia sangat tertarik dengan gambar ini. Tetapi, tidak mungkin dia mengambil orang sembarang. Namun, melihat ekspresi Naruto, sepertinya Naruto benar-benar ingin memberikan gambar ini pada dirinya.

"Hn," bocah itu mengambil gambar tersebut, kemudian menatapnya dengan takjub. Senyuman tipis tersirat di bibirnya, pertanda dia sangat menyukai gambar ini.

Naruto sangat senang saat ada seseorang yang terlihat sangat menyukai gambarnya. Iapun menatap bocah di hadapannya lekat-lekat. Patut Naruto akui, jika baru kali ini dia merasa ingin sekali berteman dengan seseorang. Ya, walau dia bukanlah tipe yang memiliki sedikit teman, tetapi dia belum pernah merasa seperti ini saat bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya. Bahkan, Naruto berharap bisa bertemu dengan bocah di hadapannya di lain kesempatan. Ya, dia sangat berharap, sehingga dia memutuskan memberikan salah satu gambar terbaiknya untuk membuat bocah di hadapannya mengingat dirinya.

"Aku sudah dijemput," ucap bocah di hadapan Naruto dengan ekspresi sulit diartikan.

Eh?

Naruto melihat ke depan, tempat bocah di sampingnya memandang.

Naruto melihat tiga pria berpakaian hitam mendekat ke arah mereka. Nafas ketiga pria itu terengah-engah. Mereka bertiga berdiri di hadapan bocah dekat Naruto ini, kemudian meminta sang bocah untuk mengikuti mereka. Naruto memastikan jika bocah itu mengenal ketiga pria tersebut. Setelah melihat gelagat tidak mencurigakan dari ketiga pria itu, Naruto mengerti jika bocah itu mengenal ketiga pria tersebut.

Nggg… namun dari penampilan tiga orang itu, Naruto tahu jika bocah di dekatnya ini bukanlah bocah biasa. Ia sepertinya bukan berasal dari tempat ini dan dijaga oleh ketiga pria itu.

"Ah, sampai jumpa lagi," ucap bocah itu, berpamitan pada Naruto. Iapun mengulurkan tangannya, membuat Naruto terhenyak dari lamunan. "—Terima kasih untuk gambarnya."

Naruto menyambut uluran tangan itu. Mereka berdua bersentuhan, kemudian tersentak kaget saat ada aliran listrik yang tidak dikenal menghantam tubuh mereka, dan membuat mereka menjadi kikuk. Terasa aneh saat berjabat tangan seperti ini, tetapi mereka enggan untuk melepas jabatan tangan itu.

"Hmm… i—iya…" jawab kikuk Naruto.

"Dah," kata bocah itu.

Bocah itupun melangkah pergi setelah menyunggingkan senyuman sangat tipis, terlampau amat tipis untuk dilihat orang-orang. Sedangkan Naruto hanya bisa melambaikan tangan perlahan, sembari menatap punggung bocah itu yang terus menjauh dari hadapannya. Entah kenapa dia merasa tidak rela melepas kehadiran bocah itu. Ada apa dengan dirinya? Bagaimana bisa dia yang biasanya cuek mengalami perasaan seperti ini? Apakah dia… jatuh cinta seperti orang dewasa? Naruto tersenyum miris, mengatakan pada dirinya sendiri, dia benar-benar bodoh jika jatuh cinta pertama kalinya pada orang asing.

Sungguh bodoh.

.

Dengan wajah kusut Naruto melangkah ke kediamannya. Entah kenapa mood-nya menjadi buruk saat ini. Setelah dia tidak dapat menggambar obyek yang dia inginkan, iapun harus pulang telat. Ha-ah, Naruto berharap ibunya tidak akan memukuli dirinya. Bagaimanapun juga, ibunya sangat galak. Ia pasti menangis histeris, saat Naruto sakit. Kemudian sangat panik, jika Naruto tidak diketahui kabarnya satu jam saja.

Naruto sibuk menyiapkan diri untuk menerima omelan ibunya saat dia melihat mobil yang sangat dia kenalnya. Ekspresi Naruto berubah sumringah, kemudian dia berlari ke arah halaman rumahnya, dan menyambut sosok yang baru saja keluar dari mobil. "Tou-saan?!" teriak Naruto sembari memeluk ayahnya.

"Naruto!" Minato yang baru saja tiba dari dinas menyambut anaknya. Ia langsung megendong Naruto. "Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Minato sembari mencubit pipi gembil Naruto.

"Aku rindu, Papa!" Naruto berucap manja. Ia menyenderkan kepalanya pada pundak Naruto.

Minato tahu jika Naruto bersikap manja seperti ini, pasti sang anak sedang berlindung pada dirinya. Iapun tersenyum miring saat sadar Naruto masih memakai pakaian sekolahnya. Ah, anak ini, jangan-jangan pulang telat. "Sepertinya anak papa mulai nakal, ya?" sindir Minato.

"Ish, cepat bantu Naru. Naru tidak mau terkena omel, Kaa-san," Naruto memukul ringan pundak ayahnya. Kemudian mengecup pipi ayahnya.

"Ya, ya, ya. Ayo kita masuk, dan kita lihat bagaimana reaksi ibumu?" ucap Minato, saat Naruto terkekeh. Senang, sosok favoritenya telah kembali dan siap membela dirinya.

.

.

.

Kushina tidak berhenti menatap jam dinding di ruang tengah. Ia benar-benar cemas karena anak semata wayangnya belum saja pulang. Kushina sudah menelepon pihak sekolah dan pihak sekolah mengatakan jika Naruto sudah pulang daritadi. Sekarang, Kushina menyesali betapa cerobohnya dia. Kenapa dia mengizinkan Naruto berkeliaran sendiri saat Naruto masih bisa dibilang… kecil. Kushina mengerang frustasi. Ia siap pergi mencari Naruto, ketika pintu kediamannya terbuka.

"Kaa-saaann!" Naruto berlari ke arah Kushina, kemudian memeluk Kushina.

"Kau kemana saja, Naruto!" Kushina hendak menjitak kepala Naruto karena terlalu cemas, ketika dia menyadari sosok yang sudah cukup lama tidak dilihatnya. Kushina mendongakan kepala, kemudian terkejut dengan keberadaan Minato.

"Mi—Mina—

"Kejutan sayang," ucap Minato, ketika Kushina langsung menghambur ke pelukannya dan menangis tersedu-sedu, melepaskan rindu selama delapan bulan ini.

Saat itu, Naruto hanya tersenyum lebar. Ia berharap keharmonisan kedua orang tuanya tetap bertahan sampai kapanpun.

.

.

.

Keesokan harinya…

Mood Naruto sangat baik di hari ini. Ia telah melupakan proyek menggambarnya. Ia telah melupakan quiz yang baru saja berlangsung di kelasnya. Naruto terlalu senang di hari ini karena malam kemarin, ia telah berkumpul dengan seluruh anggota keluarganya. Hei, Naruto bukan saja berkumpul dengan ayahnya, iapun mendapatkan ramen yang cukup banyak kemarin malam karena kedatangan sang ayah. Kemudian, iapun terselamatkan dari amukan ibunya karena ibunya terlalu fokus dengan sang ayah.

Akan tetapi….

Ada satu hal yang sulit dilupakan oleh Naruto yaitu kehadiran sosok bocah tersebut. Sepanjang malam Naruto selalu membayangkan wajah bocah itu. Bagi Naruto, sosok bocah itu sangat sempurna di matanya, bahkan cocok untuk terus menjadi obyek lukisannya. Ah, Naruto ingin sekali menggambar wajah itu untuk kesekian kalinya, kemudian memajangnya di buku sketsa terbaiknya.

Dengan tergesa-gesa Naruto mulai mengeluarkan buku sketsanya. Ia siap menggambar, saat Sakura membuka pintu kelasnya, kemudian mendatangi Naruto dengan tergesa-gesa.

Apalagi sekarang?

Niat menggambar Naruto terhenti seketika.

"Dia benar-benar tampan," ucap Sakura dengan nafas yang terengah-engah, dan keringat mengalir di lehernya.

Naruto menaikan sebelah alisnya. Ia menatap sekitar. Ya Tuhan, apa Sakura tidak sadar, jika dia sedang menebar feromon omeganya?

"Benarkah?" tanya Naruto, tidak antuasias tetapi berusaha sopan. Ia mengambil sapu tangan yang selalu disiapkan ibunya di dalam tas kemudian menyerahkannya pada Sakura.

Sakura sadar jika dia telah melakukan kesalahan. Tetapi, hal itu tidak menurunkan niatnya untuk mengangguk semangat. "Ah, kau harus melihatnya, Naruto!"

"Hahaha…" Naruto tertawa kecil sembari menggeleng.

Sakura memukul pundak Naruto main-main. "Isssh, kau ini apa tidak maksud mencari Alfa atau beta?"

Naruto menatap lucu Sakura. Hei, bagaimana bisa Sakura mengatakan jika dia harus mencari alfa atau beta, padahal orang tua Naruto sendiri belum memeriksakan Naruto? Astaga. Apakah selama ini Sakura berpikir jika Naruto ini seorang omega? Naruto menggeleng. Padahal, banyak orang mengatakan jika sosok Naruto itu tidak jelas. Ya, seperti biasa, komposisi tampan dan cantik di waktu bersamaan itu membuat sakit kepala, sehingga orang-orang pun tidak tahu jenis apa dirimu ini.

"Tidak ada alfa yang menginginkanku," jawab acuh Naruto. Ia malas berdebat dengan Sakura mengenai dirinya ini omega atau alfa.

"Eh, kenapa?" Sakura memiringkan kepala, terlihat prihatin dengan temannya. Jangan-jangan Naruto kurang percaya diri?

"Mereka terlalu takut tersaingi dengan ketampananku," jawab Naruto, dengan ekspresi sedih, tetapi membuat siapapun yang mendengarnya sebal.

"Ish, kau ini!" Sakura memukul main-main lagi pundak Naruto.

"Bagaimana jika kau menerima salah satu dari fansmu saja? Hmm…mungkin kau bisa mempertimbangkan Hinata-chan?" tawar Sakura, dengan seringai menjijikan di bibirnya.

Naruto merotasi matanya. Sudah menjadi rahasia umum, jika gadis yang merupakan salah satu keturunan omega dan alfa terbaik di kota ini menyukai Naruto. Bahkan tidak satu atau dua kali, Naruto mendapatkan cokelat dari Hinata. Yaaa, walau Naruto tidak keberatan, tetapi Naruto merasa kasihan saja pada Hinata. Ia kasihan pada gadis kecil itu karena harus menyukai Naruto yang sudah memiliki komitmen untuk tidak memiliki pasangan sampai kapanpun.

"Hahahaha…" Naruto tertawa geli dengan ucapan Sakura, kemudian dia berdiri dan mendekatkan diri pada Sakura.

"Sudahlah, Sakura. Aku benar-benar tidak berniat untuk berkeluarga, bahkan kedua orang tuakupun sudah menerima keputusanku, begitu tahu kemungkinan besar aku adalah seorang omega."

"Isssh, kasihan Bibi Kushina," Sakura mendengus. Ia secara tidak sadar melipat kedua tangannya di depan dada saat Naruto mendekat, bersifat melindungi.

"Di dalam hati terkecilnya pasti ingin menimbang cucu," Sakura berhayal.

"Ugh, kau memang tidak bisa menerima takdir jadi seorang omega? Bukankah sudah tidak aneh seorang omega mengandung, baik laki atau wanita?"

"Sakura, aku belum dipastikan menjadi seorang omega," Naruto mulai lelah. Kemudian, dia melirikan matanya dengan pandangan menggoda.

"Tetapi, Bagaimana jika dirimu saja yang menjadi omegaku?"

"Ehhhh?" Sakura memeluk dirinya sendiri, takut dengan pandangan Naruto.

"Kau pasti berca—Naruto, apa yang kau lakukan?!"

Seluruh bocah di dalam kelas ini memekik ngeri saat melihat Naruto yang seperti ingin menerkam Sakura. Oh, ayolah! Mereka ini masih terlalu kecil untuk melakukan tidak-tidak. Jadi, sangat aneh, jika ada manusia yang bersikap seolah mengalami heat. Wajah anak-anak di sekitar Naruto mulai pucat-pasi. Mereka seharusnya mulai memanggil guru, tetapi pemandangan di depan mereka terlalu menyenangkan untuk tidak dilihat. Alhasil, semua hanya menonton, membuat suasana kelas menjadi hening.

"Hm, tidak apa-apa. Hanya saja, aku sepertinya tertarik untuk berburu—detik ini," jawab Naruto, serentak anak-anak di kelas itu menahan nafas mereka. Oh, sial. Sepertinya mereka akan dewasa tidak pada waktunya.

Sakura menatap horor pergerakan Naruto. Kini dia terjepit di antara tubuh Naruto dan meja. Ugh, entah kenapa tiba-tiba Sakura menjadi salah tingkah.

"E—eh—jangan, Naru—APA YANG KAU LAKUKAN, U—Ug—

Sakura memejamkan matanya, ketika wajah Naruto mendekat.

A—apa yang dia lakukan?

Jangan-jangan dia mau…

Eh?

Kenapa tidak ada ciuman itu?

Kemana ciu—

Sakura membuka matanya, dan melihat Naruto memandanginya dengan geli.

"Pfffftttt… HAHAHAHAHAHA.." Naruto tertawa terpingkal-pingkal, puas mengerjai Sakura.

"Eh?" Sakura mengerjapkan matanya, bingung.

"Hahahahaha, Ya, Tuhan, Sakura, kau kenapa?" tanya Naruto sembari membantu Sakura menegakan tubuh kembali.

Sakura menatap sekeliling. Seluruh anak di kelas itu tertawa geli, melihat dirinya. Wajah Sakura merah padam. Ia menatap teman kecilnya ini sebal. "Ka—Kau?"

"Kau berpikir aku akan menciummu?" goda Naruto sembari mengangkat-angkat alisnya.

"Na—DASAR BODOH!" Sakura memukul kepala Naruto.

BLETAK!

"AW!" pekik Naruto, sembari mengelus-elus kepalanya.

"Rasakan!" seru Sakura, ketika Naruto hanya terkekeh, di tengah-tengah rasa sakitnya. Sakura menghentak-hentakan kakinya, kemudian menutup pintu dengan kasar.

Kasihan pintu itu.

.

.

.

Tidak seperti kemarin, di hari ini, Naruto terpaksa harus dijemput oleh sopir yang disewa oleh ibunya. Ia pulang dan lekas masuk ke dalam kediamannya. Namun, langkahnya terhenti dikala melihat kesibukan di dalam rumahnya. Ada apa ini? Kenapa semua orang terlihat sibuk? Naruto menatap penampilan kedua orang tuanya. Lihatlah! Bahkan kedua orang tuanya bergaya tidak wajar. Naruto menggaruk tengkuknya. Ia bingung, mau kemana kedua orang tuanya?

"Cepat pasang dasimu!"

"Oh, Tuhan, mana sepatu hak tinggiku!"

"Sayang, kau lihat jam tanganku?"

"Mungkin kau lupa menaruhnya di kamar mandi."

"Errrr… Kalian sedang apa?" tanya Naruto, mengintruksi kesibukan kedua orang tuanya.

Kushina yang panik karena terlambat pergi ke acara yang hendak didatanginya menatap Naruto. "Nanti saja bertanya—astaga, Naruto! Kenapa kau masih berdiri di situ? Cepat siap-siap. Kaa-san dan Tou-san akan pergi untuk menghadiri undangan istana," Kushina nyaris lupa jika anak semata wayangnya pun harus didandani.

Mendengar kata istana, Naruto terpukau. Baru kali ini, dia dan kedua orang tuanya akan menghadiri acara yang diselenggarakan oleh istana, dan pastinya acara tersebut akan melibatkan orang banyak, serta dekorasi yang mewah. Naruto menjadi tidak sabar, ingin melihat seperti apa pesta yang diadakan istana di tempat terpencil seperti ini?

"Wow…" gumam Naruto, takjub.

"BUKAN WOW! CEPAT SIAP-SIAP!" Kushina mendorong Naruto ke dalam kamar mandi, meminta anaknya segera bersiap-siap.

"Oh.. oke.." jawab Naruto, kemudian menutup pintu kamar mandi.

Namun…

"Kaa-san, aku memakai baju apaaaaaa?" Naruto baru ingat jika dia tidak menyiapkan apapun untuk datang ke tempat pesta itu.

Ugh, Kaa-sannya ini ada-ada saja!

.

.

Tangan Kushina dingin seketika saat mobil suaminya memasuki area hotel yang disewa istana untuk pesta kali ini. Kushina menatap sang suami, saat mobil mereka harus mengantri—menuju tempat parkir. Iapun menatap suaminya dengan gugup. Oh, lihatlah! Pakaian-pakaian yang digunakan orang-orang terlihat sangat mewah, saat Kushina pun bisa dibilang tidak memakai pakaian murahan. Tetapi, lihat cara jalan orang-orang itu. Mereka memasuki area pesta dengan penuh kepercayadirian.

"Apa benar kali ini, kau diundang, Sayang?" tanya Kushina—tidak yakin.

Bukannya menghina sang suami, tetapi baru kali ini dia mendatangi undangan besar seperti ini. Bukan undangan biasa, melainkan undangan yang menyangkut masa depan pangeran kedua. Ugh, pastinya akan banyak jenis yang memiliki kelas atas hadir di pesta ini. Mereka semua pasti datang ke pesta ini bukan seperti dirinya yang hanya ikut meramaikan, kebanyakan orang-orang datang ke pesta ini untuk memperoleh keuntungan bisa berbesanan dengan salah satu anggota istana.

"Hmmm ya. Tidak salah lagi. Di undangan itu tertera namaku, kan?" ucap Minato sembari mengelus pipi Kushina yang memerah.

Kushina memejamkan matanya sejenak sebelum mendesah pelan. "Aaaaahhh akhirnya aku bisa melihat pesta yang diselenggarakan oleh istana," Kushina berusaha menenangkan diri.

Naruto yang duduk di bangku belakang tersenyum mengejek. "Syukur ya Kaa-san, akhirnya impian besar Kaa-san tercapai," ucap Naruto.

Kushina menatap sang anak dengan pandangan kesal. "Entah kenapa setiap kau berbicara selalu terdengar menyebalkan seperti Pamanmu, Anakku," sindir Kushina, pada sang anak yang selalu mengingatkannya pada salah satu saudaranya.

"Dan akupun tidak jauh tampan seperti Pamanku," narsis Naruto sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Bagaimana penampilanku, Kaa-san? Apakah aku sudah siap untuk mendapatkan gadis tercantik di tempat ini dan mengalahkan pangeran-pangeran istana itu?" Naruto memamerkan pakaian formal yang ternyata sudah dipersiapkan ayahnya, sama halnya dengan baju ibunya.

Kushina menatap sang anak. Kushina tidak dapat memungkiri jika anaknya sungguh mempesona di umurnya yang masih terbilang sangat muda. Rambut, dan mata yang mewarisi sang ayah membuat Naruto terlihat sangat menawan. Apabila Naruto tersenyum, siapapun bisa terpikat dengan senyuman itu. Bukan hanya itu, sifat Naruto yang mudah bergaul, membuatnya cepat disukai oleh orang lain. Kushina sendiri—jika bukan ibu Naruto—akan menilai, Naruto merupakan anak paling menarik di dunia ini.

"Naruto, tolong, jangan bertindak konyol," tapi Kushina tidak mungkin membiarkan Naruto terlalu percaya diri dan bertindak konyol di depan orang-orang. Ia terlalu tahu siapa Naruto.

Bukannya menjawab, Naruto malah mengecup pipi Kushina. "Ayo, kita turun, Kaa-san cantik!" katanya, ketika dia sadar, Minato telah berhasil memakirkan mobil mereka.

.

.

.

Naruto sangat takjub melihat suasana pesta ini. Bukan hanya dekor mewah saja yang dipamerkan oleh pihak istana, melainkan orang-orang yang diundang oleh pihak istana. Tidak satu atau dua kali Naruto melihat para omega yang berasal dari kalangan artis memasuki area pesta yang diadakan di lantai terbawah hotel ini, melainkan berkali-kali. Bukan artis saja, orang-orang yang selalu muncul di berita yang ditonton ibunya pun turut hadir di tempat ini. Ya, pesta ini begitu mewah, sehingga para wartawan pun turut meliput acara ini secara langsung.

"A—apa yang sedang mereka lakukan? Apakah di sini sedang diadakan konser Boyband dari negeri seberang?" ucap Naruto dengan pandangan takjub. Ia tidak dapat membayangkan makanan apa yang disajikan oleh pihak istana. Pastinya makanan itu akan membuat dirinya melayang—terlalu menikmati.

Kedua mata Naruto teralihkan pada banyak sosok yang seumurannya sedang mengantri dengan dikawal oleh orang tua mereka. Anak-anak itu terlihat menahan sakit, berwajah pucat pasi, saat darah diambil dari tangan mereka. Di sisi lain, Naruto pun melihat kumpulan orang-orang yang akan memasuki suatu ruangan. Untuk apa ruangan itu? Naruto mengedipkan kedua matanya, penasaran. Sepertinya, ruangan itu sama pentingnya dengan pengambilan darah itu.

"Mereka sedang memastikan kategori mereka secara spesifik," tiba-tiba Minato menjawab pertanyaan Naruto, kedua matanya fokus pada sosok anak yang darahnya sedang diambil oleh salah satu petugas medis kerajaan.

Dari ucapan ayahnya, Naruto menangkap jika para omega, atau beta sedang melakukan tes yang lebih dalam. Ah, Naruto pikir selama ini, tes seperti itu hanya diperuntukan untuk para alfa karena status secara spesifik sangat dibutuhkan alfa untuk lingkungan pekerjaan mereka. Naruto menerawang. Ia cukup kagum dengan pihak istana. Mereka pasti sudah menentukan kategori yang terbaik untuk pangeran-pangeran mereka. Melihat cara mereka menyeleksi, pihak istana pasti menginginkan omega atau beta terbaik untuk pangeran kedua.

"Hahahaa, aku kira di dunia ini hanya alfa saja yang dimasukan ke dalam kategori," Naruto hanya terkekeh, tidak dapat berkomentar apapun dengan peristiwa hebat ini. Bayangkan, anak-anak dari orang hebat itu rela mengantri hanya untuk diambil sampelnya. Padahal Naruto yakin tempat seperti ini lebih pantas untuk berpesta yang menyenangkan dibandingkan melakukan hal-hal seperti itu.

"Naru-ku ingin mencoba?" Kushina menatap Naruto antusias. Ia cukup berharap anaknya mau di tahun sekarang, walau umur Naruto belum genap 12 tahun.

Naruto tahu, jika semua orang tua ingin sekali memeriksakan kategori anak mereka, semenjak umur sepuluh tahun. Tetapi, sayangnya di umur sepuluh tahun, tes terkadang berakhir meleset karena faktor umur mereka yang masih belum matang; ada kalanya seorang alfa dinyatakan omega, dan sebaliknya. Oleh karena itu, undang-undang lebih menghimbau tes lebih baik dilakukan pada anak umur dua belas tahun, seperti pangeran kedua sekarang. Kemudian, siapapun yang telah melakukan tes tersebut, bisa melakukan pemburuan.

Pemburuan dilakukan bukan semata-mata untuk bersenang-senang. Bagi kalangan atas, pemburuan dilakukan untuk menentukan nasibnya. Bagi kalangan atas omega, semakin cepat mereka menemukan alfa, semakin cepat mereka mempelajari pasangan mereka. Dengan begitu, saat sang omega mengalami heat, sang alfa bisa mempelajari karakter heat omega dengan baik. Dan, apabila mereka melakukan hubungan lebih serius, seperti pernikahan, mereka tidak perlu saling mempelajari kembali karena mereka sudah saling mengenal.

Dengan memiliki alfa, omega pun akan terlindungi. Kemungkinan omega diperlakukan buruk berkurang, jika memiliki alfa. Oleh karena itu, omega berlomba-lomba mencari alfa terbaik untuk mendapatkan perlindungan. Namun, tetap saja, omega yang terbaik yang akan mendapatkan alfa terbaik.

"Untuk apa? Tidak bisa masak, pemalas, menyebalkan, sering membuat kesal Kaa-san, apa Kaa-san ingin mempermalukan diri Kaa-san?" tanya Naruto, dengan nada humor.

" Tetapi, jika kategorinya omega tertampan, aku siap mengantri paling depan," Naruto menaruh jari jempol dan telunjuknya di bawah dagu, memamerkan jiwa sok kegantengannya.

"Astaga, Naruto…" Kushina tidak habis pikir dengan sifat ajaib anaknya ini.

Naruto terkekeh kecil, kemudian melangkah mundur. Ia ingin berkelana. Siapa tahu, dengan berkeliaran di tempat ini, dia dapat menemukan sesuatu yang menarik, dan menjadi obyek gambarnya.

Kushina sadar, jika jiwa petualang anaknya kembali. "Naruto!" tegur Kushina.

"Iya, Kaa-san tercantik?" Naruto menatap Kushina dengan senyuman menawan yang siapapun sulit menolaknya.

"Anak itu…Jangan jauh-jauh. Kita akan bertemu di tempat ini," ucap Kushina, memperingati Naruto.

"Hmmm," Naruto menganggukan kepala. Ia memang tidak ada berniat jalan jauh di tengah-tengah ratusan manusia seperti ini.

.

.

.

Naruto hanya bisa tertegun saat setiap orang memaksa anaknya untuk mengetes darah. Ia bersyukur, jika kedua orang tuanya bukanlah orang pemaksa. Kedua orang tuanya tidak pernah membuat Naruto merasa tidak nyaman. Naruto membayangkan jika dirinya dipaksa seperti itu, ia pasti akan mengamuk. Astaga! Lihatlah, bahkan ada yang menangis tersedu-sedu, dan orang tuanya tetap memaksa untuk memeriksa anaknya. Apakah mereka tamak atau bodoh? Kenapa hanya untuk mendapatkan perhatian pangeran kedua, mereka harus memaksa anaknya seperti itu?

"Naruto?!" seseorang menegur Naruto.

Naruto menolehkan kepalanya ke samping. Ia melihat sosok sahabatnya yang berdandan sangat cantik. Oh, ternyata Sakura pun ada di tempat ini. Sakura mengenakan dress berwarna pink selutut. Ia membiarkan rambut sebahunya terurai. Melihat penampilan Sakura, Naruto hanya tersenyum tipis. Seperti biasanya, Sakura manis.

"Sakura?" Naruto membalas sapaan Sakura.

"Astaga. Kau ada di sini, Naruto?" ucap Sakura, tidak percaya Naruto yang biasanya tidak mau datang ke acara apapun hadir di tempat ini.

"Hmm, kebetulan ayahku di undang untuk kali ini," jawab Naruto.

"Ugh," tiba-tiba Sakura mengeluh sambil menyentuh lengannya.

Dahi Naruto mengerut, menatap Sakura khawatir. "Kenapa?"

"Aku baru saja melakukan tes," ucap Sakura dengan bibir mengerut lucu. Ia menatap Naruto yang sedang menatapnya heran.

"Tes kesehatan—bukan tes omega karena sudah jelas aku ini jenis apa," lanjut Sakura, ketika Naruto hanya ber-oh ria.

"Apa sakit?" tanya Naruto.

Bukannya hanya diambil darah saja? Kenapa Sakura terlihat menderita?

"Bukan seperti itu…." Sakura memijat tengkuknya, tiba-tiba kikuk.

"Lalu?" Naruto menatap Sakura dengan tatapan tajamnya.

Sakura melihat tatapan Naruto, kemudian dia mengerang frustasi. Ugh, kenapa Naruto terlihat menarik dengan balutan pakaian mewah itu. Sial. Padahal Naruto selalu tampil keren pada saat sehari-hari, sekarang dia berpenampilan seperti ini, membuat Sakura sebal. Sakura menggerutu sendiri karena Naruto itu sangat menarik, saat Naruto sendiri tidak terlalu menyadarinya. Narsisnya Naruto hanya dilakukan untuk membuat orang sebal, ketika Naruto sendiri tidak tahu dirinya memang benar-benar tampan. Seandainya Naruto sadar, pasti dia tidak akan berteriak dirinya ini tampan karena dia cukup malu.

"Jangan menatapku seperti itu, Bodoh!" Sakura menegur Naruto.

"Lalu, seperti apa? Apa seperti ini?" Naruto memiringkan bibirnya, dan memperdekat langkahnya pada Sakura.

"NARUTO!" Sakura memperingati Naruto.

"Hahahaha…" Naruto pun tertawa terpingkal-pingkal. Ia memang paling suka menggoda Sakura hingga pipi Sakura merona.

Sakura mendecih. Ia tidak mau berbicara dengan Naruto untuk sementara waktu sampai ide gila terbesit di otaknya. Sakura menatap Naruto antusias. "Naruto, bagaimana jika kau melakukan tes juga?"

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Jangan bercanda. Aku tidak mau!" tolak Naruto, tanpa pikir dua kali.

Sakura memegang pergelangan tangan Naruto. "Sudahlah. Aku ingin tahu hasilnya. Lagipula, tahun ini merupakan masa-masa awal kita berburu kan," ucap Sakura, antusias.

Naruto mendecih. "Sakura, sudah aku katakan, aku tidak tertarik untuk mengikuti acara berburu seperti itu," Naruto menepis tangan Sakura dan berhenti mengikuti langkah Sakura.

Sakura berhenti melangkah, menatap Naruto sebal. "Aku hanya penasaran, spesies macam apa dirimu. Terkadang aku tidak mengerti, kenapa kau bisa—LIHATLAH! Entah kenapa orang-orang selalu menatapmu seperti itu," ucap Sakura, sembari menunjuk orang-orang yang menatap Naruto dengan antusias, seolah berkata jika Naruto merupakan… sasaran empuk untuk berburu.

Naruto yang sejak asyik sendiri tidak menyadari tatapan orang-orang sampai Sakura menunjukannya. Ia melihat banyak sekali orang yang menatapnya. Eh, apa penampilannya salah? Tidak. Naruto merasa penampilannya biasa saja dan sesuai dengan tema. Tetapi, kenapa orang-orang memandangnya seperti ini? Apakah orang-orang itu berniat jahat pada dirinya? Tunggu! Naruto menjadi curiga. Jangan-jangan orang-orang ini mengira dirinya omega, atau alfa yang bisa diburu untuk anak mereka? Ugh!

"Ah, jangan-jangan kau ingin mengatakan, kenapa aku begitu menarik?" Naruto menatap Sakura dengan seringai menyebalkan.

"Astaga, Naruto dan gombalanmu. Mulutmu itu sangat menyebalkan sekali," erang Sakura, frustasi karena setampan-tampannya Naruto, sikap menyebalkannya itu tetap ada.

Naruto tertawa. Ia akhirnya mengalah pada Sakura. "Ya, sudah. Antar aku. Aku akan mencobanya," ucap Naruto. Tidak ada salahnya bukan, jika dia mencoba. Lagipula, jika dia omega atau alfa, ia tidak memiliki keinginan untuk berburu dan melakukan hal-hal konyol seperti orang lain—sampai kapanpun.

.

.

.

Saat Naruto menunggu untuk diperiksa, Naruto melihat tidak ada satupun anak yang tidak didampingi oleh orang tuanya, kecuali dirinya. Saat seperti ini, Naruto hanya bisa tertawa. Ia merasa dirinya seperti anak hilang, atau anak yang tidak diperhatikan. Tetapi, bukan hal itu yang terjadi sebenarnya. Naruto yang secara tiba-tiba melakukan tes, tentu saja tidak memberitahu kedua orang tuanya yang sepertinya sedang sibuk. Lagipula apapun hasilnya hal tersebut tidak akan berpengaruh pada kehidupan Naruto.

Naruto mendengar jika pemeriksaan kali ini lebih cepat. Negara telah menemukan cara pemeriksaan jenis rakyat mereka dalam waktu lebih cepat, dan metode yang lebih baik. Dengan begitu, tidak ada lagi anak-anak yang merasa tersakiti. Tidak ada lagi acara berdebar-debar dari para orang tua untuk menemukan hasil tes. Namun tetap saja, masih ada anak-anak manja yang menangis karena takut dengan jarum atau benda-benda untuk tes itu.

Naruto sedikit terlonjak saat nomor antriannya dipanggil. Ia menatap Sakura yang sejak tadi mendampinginya. Naruto bersama Sakura berdiri di hadapan dokter yang akan memeriksanya. Naruto duduk di hadapan dokter itu, kemudian menyerahkan salah satu tangannya.

"Hai!" sapa sang dokter, menatap Naruto ramah.

"Hai, juga," Naruto menjawab sapaan dokter dengan nada menyenangkan.

Sang dokter sudah siap mengambil darah Naruto, saat Naruto memasang wajah memelas. "Tolong jangan sakiti aku, Dokter. Aku ini sangat sensitif," rajuk Naruto, agar terdengar manja, ketika Sakura merasa ingin muntah.

Sejak kapan Naruto sensitif?

Dengan berlebihannya, Naruto menutup matanya. "Ugh, pasti ini sa—

"Sudah, adik manis," ucap dokter, membuat Naruto berhenti berbicara, kemudian menatap sang dokter yang memiliki jenis beta.

Naruto mengedipkan kedua matanya, bingung. "Sudah? Waw, cepat sekali. Terima kasih dokter tampan," puji Naruto, tidak percaya jika pemeriksaan itu berakhir cepat. Iapun pun mendapatkan tawa dari orang-orang di sekitarnya, ketika Sakura yang merasa malu hanya ingin menenggelamkan dirinya di kolam belakang hotel ini.

Dasar, Naruto bodoh!

.

Naruto beranjak dari tempat itu. Selintas dia melihat sampel yang baru saja diberikannya pada dokter mulai dibawa masuk. Naruto jadi penasaran, akan seperti apa hasilnya? Entah kenapa setelah diperiksa, dia menjadi antusias. Tetapi, lagi-lagi Naruto berpikir, untuk apa dia antusias? Lebih baik Naruto menikmati acara ini, dibandingkan berpikir panjang seperti anak-anak lain. Naruto pun menatap Sakura yang dengan setianya berdiri di sampingnya.

"Lalu, kita kemana sekarang, Sakura?" tanya Naruto, berharap ada sesuatu yang menarik di tempat ini.

"Sekarang, kita tunggu saja hasilnya," ucap Sakura yang tahu jika hasil itu akan diperoleh dengan cepat. Ia berharap menjadi orang yang pertama tahu, siapa Naruto sebenarnya.

Naruto nyaris menjatuhkan rahangnya. Astaga. Apa yang ada di dalam otak Sakura? Tidakkah Sakura berpikir jika hasil itu bisa saja keluar lama? Naruto menatap ke arah dokter yang baru saja memeriksanya. Iapun melihat dokter itu dihampiri oleh ketiga dokter, dan dua pria berpakaian hitam. Naruto mengerutkan keningnya. Sepertinya, telah terjadi ketegangan di antara mereka. Ada apa? Apakah ada yang salah? Sepertinya telah terjadi sesuatu di tempat ini.

"Lihatlah tingkah mereka. Misterius sekali. Apa mereka menemukan manusia terjangkit penyakit? Chk, chk, chk," Naruto berdecak, bermaksud membangun lelucon kembali.

"…" Sakura melihat ke arah mereka menatap. Apa maksud si bodoh ini?

"Astaga, mereka melangkah ke arah kita!" tiba-tiba firasat Naruto tidak enak saat orang-orang itu menunjuk ke arah dirinya. "Sakura, katakan sejujurnya, selama ini kau mengidap penyakit apa?!" Naruto memasang wajah panik, masih berpikir jika orang-orang itu pastilah tidak menunjuk ke arah mereka, melainkan ke arah sosok pria di dekat mereka. Ia hanya ingin menggoda Sakura.

Mulut Sakura membuka-tutup. Apa? Si ini bodoh bilang dia berpenyakit?! Ada juga yang berpenyakit itu Naruto. Ia berpenyakit rubah gila!

"Aku tidak mengidap penyakit apa-apa, Bodoh!" apabila mereka tidak ada di tempat resmi seperti ini, Sakura sudah menjitak kepala Naruto. Tetapi, kenapa orang-orang itu benar-benar melangkah kemari.

"Tapi kenapa—

"Permisi, dimana orangtuamu, Nak?" dokter yang mengambil sampel darah Naruto, serta kedua orang berpakaian hitam itu menatap Naruto dan Sakura.

Naruto menolehkan kepalanya ke arah Sakura. "Sakura, dimana orang tua—

"Dirimu, Nak," dengan tergesa-gesa dokter itu meminta Naruto untuk mencari kedua orang tuanya.

"Eh, aku?" tunjuk Naruto pada dirinya sendiri.

Dokter itu mengangguk cepat.

Uh.

Naruto sebenarnya tidak ingin memberitahu keberadaan orang tuanya berhubung firasatnya tidak enak. Tetapi, dia terpaksa harus mencari kedua orang tuanya, berhubung dia tidak tahu harus melakukan apa. Naruto pun melihat sosok kedua orang tuanya sedang sibuk berbincang-bincang dengan pria berambut seperti nanas. Naruto menunjuk kedua orang tuanya pada orang-orang yang berdiri di hadapannya. Tanpa mengucapkan satu patah katapun pada Naruto, orang-orang itu melangkah ke arah Kushina dan Minato.

Sakura dan Naruto hanya bisa mematung bingung. Kemudian Naruto terkekeh bodoh.

"Sepertinya akulah yang terjangkit penyakit," ucap Naruto—terdengar tegar, ketika Sakura menatap Naruto datar. Tiba-tiba Naruto memeluk Sakura, dan menangis tidak jelas dipundak Sakura.

"Huweeee bagaimana ini? Huweeeee…. Aku masih ingin hidup dan menggambar pemandangan dua gunung dengan sawah di sisi kiri dan kanannya," ucap Naruto, tidak jelas.

Sakura memutar kedua bola matanya, jengah. "Please, Naruto," ucap Sakura.

Naruto semakin mengeluarkan suara tangisannya yang lebih terdengar kera sedang muntah di telinga Sakura.

"Jangan lupa gambar rumah petaninya," kekeh Sakura, yang kali ini ikut ambil andil dalam lelucon Naruto. Di dalam hatinya pun Sakura berharap sahabatnya ini baik-baik saja. Walau Naruto menyebalkan, tetapi Sakura sangat menyayangi sahabatnya ini.

.

.

.

Kushina dan Minato saling bertatapan saat anak semata wayang mereka menatap mereka berdua dengan khawatir. Kushina tidak menyangka anaknya akan memeriksakan dirinya. Ish, jika tadi tahu Naruto akan memeriksa diri, Kushina pasti akan mendampinginya seperti ibu-ibu lain. Tetapi, bukan itu poinnya sekarang. Kushina tidak menyangka akan didatangi oleh salah satu pengawal istana, dan diminta keterangan. Ia tidak menyangka, anaknya bisa berada di salah satu kamar yang disiapkan oleh pihak istana.

Kushina sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dengan sampel yang dimiliki oleh anaknya. Kushina hanya mendapatkan keterangan dari para pemeriksa sampel, beberapa sampel yang diperiksa mereka jatuh secara cerobohnya, dan salah satunya merupakan sampel Naruto. Ya, semua terjadi seperti biasa. Para pemeriksa sampel itu siap terkena marah dan pemecatan, ketika mereka mulai berniat membersihkan ceceran darah. Namun, hal aneh telah terjadi. Salah satu darah yang tercecer bersifat tidak biasa dibandingkan darah pada umumnya, membuat semua para dokter dan peneliti penasaran.

"Kaa-san!" Kushina yang pucat-pasi menatap kembali Naruto.

Kushina memeluk Naruto gemas. "Ughhh, baby! Kenapa kau bersedih?" tanyanya, ketika ekspresi Naruto sangat cemas. Kali ini, Naruto tidak main-main. Ia takut, dirinya mengalami sesuatu yang aneh.

"Aku terkena penyakit, kan, Kaasan? Dan dokter sudah berbicara padamu?" tanya Naruto, mengambil kesimpulan sendiri.

"Huweeee…" tangis buaya Naruto.

"Cup, cup, cup semua akan baik-baik saja," Kushina menepuk-nepuk punggung Naruto.

"Jangan menangis, nanti ketampananmu hilang."

Mendengar ucapan terakhir Kushina, tangisan Naruto berhenti seketika. Ia mengurai pelukannya, dan merapihkan rambutnya, bersikap tampan kembali. "Benar juga," seketika sifat sok kegantengan Naruto kembali.

"….." Kushina dan Minato hanya bisa saling tatap.

Anak siapa, manusia di hadapan mereka ini?

Kushina menghela nafas. Waktu bercanda telah habis. Kini ia harus serius. "Naruto, Kaa-san ingin berbicara padamu," Kushina menatap Naruto serius, membuat Naruto bingung, tidak biasanya, Kushina menatapnya seperti ini.

.

.

.

"Calon terpilih? A—apa itu sejenis makanan?" teriak Naruto, berlebihan. Untung saja mereka berada di dalam kamar hotel berbintang lima yang kedap suara. Sehingga suara tujuh oktaf Naruto tidak terdengar keluar.

Naruto tidak percaya, di dalam hotel semewah ini, ia harus memperdebatkan kebebasannya. Ia harus mempertahankan harga dirinya. Astaga! Naruto tidak dapat membayangkan dirinya, jika dibawa ke istana, kemudian mengikuti aturan-aturan istana. Bukan hanya itu saja, ia tidak dapat membayangkan jika dirinya yang dicap orang-orang omega harus mengandung! Astaga. Mengandung dari orang asing, di waktu kelak nanti. Naruto pasti bermimpi buruk sekarang ini.

"Naruto…" Kushina berharap Naruto mengerti posisi mereka sekarang.

"TIDAK! AKU TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU MENIKAH ATAU APAPUN! SAMPAI KAPANPUN! APA KAA-SAN LUPA JANJI KAA-SAN PADA DIRIKU?!" histeris Naruto—sikap kekanakannya muncul, menolak mentah-mentah tawaran Kushina.

Kushina menatap Minato, berharap sang suami angkat bicara. Mau bagaimanapun, jika di saat seperti ini, hanya Minato yang bisa menenangkan Naruto.

"Naruto… tenangkan dirimu," pinta Minato, sembari mengsejajarkan tubuhnya dengan Naruto.

"Semua akan baik-baik saja. Hal ini tidak seburuk yang kau bayangkan," ucap Minato, berharap Naruto bisa memikirkan semuanya dengan pikiran tenang.

Naruto menggeleng ribut. "Aku tidak mau," gumam Naruto, kukuh dengan keputusannya.

Minato dan Kushina saling pandang, seolah berkata melewati pandangan itu, 'Bagaimana ini?' Mereka pun akan memberi pengertian lagi pada Naruto, sampai saatnya terdengar ketukan pintu. Kushina segera beranjak ke arah pintu, mengintip dari lubang di tengah pintu itu siapa yang berkunjung ke kamar mereka, sebelum Kushina membuka pintu dengan panik, membungkuk hormat, mempersilahkan sosok yang berdiri di belakang pintu itu untuk masuk.

"Silahkan, Yang Mulia," Kushina mempersilahkan Fugaku yang didampingi tiga pengawal untuk masuk ke dalam kamar.

Minato yang masih menenangkan Naruto langsung beranjak ke arah Fugaku, kemudian berajoji. Oh, kenapa Yang Mulia harus datang ke tempat ini, saat Naruto masih belum tenang. Minato hanya berharap anaknya tidak membuat ulah.

"Minato. Aku tidak percaya bisa melihatmu di ruangan ini," ucap Fugaku, menatap kawan lamanya dengan takjub.

"Ya, Yang Mulia," Minato tersenyum tipis sebelum menatap Naruto yang hanya diam saja dengan khawatir.

Fugaku ikut melihat ke arah Naruto. "Jadi, ini putramu?" tanyanya.

"Iya, Yang Mulia," ucap Minato. "Lalu, dimana Pangeran ke—

"Yang Mulia, bisakah aku istirahat sejenak aku sungguh lelah," seorang anak berumur dua belas tahun, masuk ke dalam kamar itu, kemudian berdiri di samping ayahnya, menatap sang ayah dengan raut wajah lelah.

Fugaku mengelus kepala sang anak. "Hanya tinggal beberapa jam lagi. Tunggu sebentar lagi. Sekarang temui anaknya sahabat lama ayahmu ini dulu," bujuk Fugaku yang tahu anaknya sudah terlalu banyak bekerja di hari ini.

"Ha-ah, semua dikatakan kawan lama oleh Yang mulia," desah anak tersebut, dengan ekspresi kesal.

"Ka—kau?" suara Naruto mengintruksi perbincangan di antara anak itu, dan sang kaisar. Ia mencuri perhatian seluruh orang di tempat itu.

Minato yang sadar, jika sejak tadi dia melupakan Naruto fokus kembali pada anak semata wayangnya. Sepertinya ini saatnya dia meminta maaf pada sahabat kecilnya. "Yang Mulia, maaf atas kelancangan saya, tetapi sepertinya putra saya, Naruto, belum si—

"Apakah dia pangeran kedua, Kaasan, tousan?" tatapan Naruto yang sejak tadi fokus pada sosok anak yang tengah memandangnya juga, kini berubah pada Kushina dan Minato.

"Eh?" Kushina dan Minato mengangguk bersamaan.

"Apakah dia pangeran kedua yang sedang melakukan pemburuan?" tanya Naruto lagi, memastikan tidak salah orang.

"Iya, Sayang. Dia Pangeran kedua," ucap Kushina, dengan raut wajah nyaman. Ia merasakan firasat buruk.

Tatapan Naruto kembali pada bocah di hadapannya. Ia meneliti bocah di hadapannya dari atas hingga bawah tanpa peduli sang kaisar pun melihat gerak-geriknya. Naruto tersenyum misterius dan mendekat ke arah bocah itu.

"Hei," sapa Naruto.

"…." Bocah yang masih terpukau dengan kehadiran Naruto hanya bisa menatap bodoh Naruto. Ia tidak percaya bocah—yang berharap dia temui lagi—kini berdiri di hadapannya.

Ah, bahkan terlalu merindukan bocah berambut pirang ini, ia selalu memandangi gambar Naruto—yang sudah dipajang di kamarnya—itu setiap malam.

GRAP!

Naruto tiba-tiba memeluk bocah di hadapannya dengan erat. Seolah mereka berdua adalah kawan lama yang tidak bertemu dengan bertahun-tahun. Akhirnya, dia menemukannya. Akhirnya dia menemukan sosok yang dia inginkan. Sosok yang selalu ia pikirkan setiap saatnya. Naruto memeluk semakin erat, bocah didekapannya, enggan untuk melepaskan sosok yang berhasil telah merenggut perhatiannya.

"Aku calon pendampingmu. Aku omega tercantik di Jepang ini, seperti Kaasan," ucap Naruto yang tiba-tiba memproklamasikan jenisnya yang masih diteliti.

"Salam kenal, Yang Mulia. Aku pandai memasak, dan siap mengurangi sifat menyebalkanku," ucap Naruto dengan seenak perutnya, terdengar berbohong untuk mempromosikan diri.

"Senang bisa mendampingimu untuk seumur hidup," Naruto pun tersenyum bahagia—senyuman yang tidak pernah hadir dikehidupannya, membuat Minato merasa tidak enak untuk memisahkan dua anak anaknya dan pangeran kedua, walau sifat Naruto sangat tidak sopan.

Kushina merasa pusing seketika karena anaknya selalu penuh kejutan dan melakukan segalanya dengan tiba-tiba. "Sa—Sayang kepalaku pusing. Topang aku. Topang aku," ucap Kushina, terhuyung-huyung. Sekarang, apa yang harus dia katakan pada sang kaisar, ketika sang kaisar merasa tidak enak pada para pengawalnya yang juga menyaksikan kejadian ini.

"Ah, kolestrolku. Ah, sakit," keluh Kushina, ketika Minato hanya bisa menopangnya.

Bocah yang sejak tadi hanya terkejut, mulai bereaksi. Merasakan kehangatan di tubuhnya, secara perlahan, tangan bocah ini bergerak, membalas pelukan Naruto. Ia mengecup pundak Naruto, kemudian menghirup aroma Naruto dalam-dalam.

"Sasuke Uchiha. Sasuke—panggil aku itu saja," balas Sasuke, membuat seluruh rahang orang di tempat ini nyaris terjatuh, bahkan sang kaisar sekalipun, tidak percaya Sasuke yang sejak tadi bersikap dingin pada calon lainnya, menyambut hangat Naruto. Menyambut sosok yang tidak terduga kedatangannya.

Bersambung…