Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!
Pairing : IchiRuki
Genre : Romance
Rate : M
Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Gadis raven bermata lemon itu sudah sedikit demi sedikit memberesi mejanya, mulai dari menyimpan pekerjaannya dan mencopy soft filenya, dia juga sudah memasukkan beberapa lembar kertas ke dalam tas sakura merahnya. Bukan kertas penting tentu saja, tapi ia tak bisa membuangnya, bukan pula kertas milik perusahaan, lagipula ia hanya pegawai biasa, mana mungkin diizinkan membawa berkas dari kantor. Apalagi dia bagian pajak, bisa-bisa dia dituduh memanipulasi data. Hanya kertas sobekan corat-coretnya yang tak jauh dari penghitungan pajak dan beberapa kata-kata pribadi – yang ia yakin dia akan malu jika sampai dibaca orang. Berikutnya ia memasukkan hp flip ungunya kedalam tasnya lagi. Beberapa dari rekan sekantornya sudah pulang duluan. Jam di dinding sudah menunjukkan angka 6. Boleh menyebutnya sore ataupun malam.
Gadis raven itu menunduk, memberesi high heels bertalinya dan memakainya degan hati-hati dan sebuah suara yang datang dari gadis sexy disampingnya itu sedikit mengganggunya.
"Sudah selesai Rukia?" tanya Rangiku.
Dengan gerak cepat gadis raven itu mengangkat kepalanya dan menyebabkan kepala mungilnya itu membentur, mengenai laci tempat keyboarnya.
"Awwwhhh," pekiknya.
"Itu pasti sakit sekali, kau tidak apa-apa?" tanya Rangiku. Tanganya sudah terulur untuk membantu Rukia.
Sedang gadis raven itu hanya bisa mengelus kepalanya sayang. Di sisi lain, manajer orangenya sepertinya malah menertawakannya.
"Berhati-hatilah Kuchiki, sepertinya nasibmu hari ini begitu buruk, bukan begitu," ucapnya santai.
Gadis itu menuju arah si manajer, sedikit melirikkan matanya, 'Dia menyebalkan, bukan begitu,' pikirnya.
"Terima kasih atas peringatanmu manajer, aku akan berusaha mengingatnya," jawabnya kaku.
"Dan aku berpikir kau bukan pengingat yang baik, sayang," ucapnya cepat, dia sudah berjalan keluar ruangan sebelum Rukia dan Rangiku terkesiap dari kekagetan mereka.
"Ran, kau tadi mendengar dia bilang apa? Sayang?" tanya Rukia, ia hampir memekik.
"Entahlah, jangan tanya aku Rukia. Aku sendiri tidak bisa mempercayai pendengaranku," jawab gadis itu cepat.
Kedua gadis itu berpandangan, lalu menggeleng dan melupakan apa yang terjadi. Mereka berdua lalu mulai bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan, pulang. Harus melewati lift menuju lantai pertama dan menuju lobby perusahaan.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Hanya menunggu beberapa menit, gadis berambut pirang berdada penuh itu sudah diambil oleh pacarnya, baca saja ia dijemput oleh Ichimaru Gin. Gadis raven itu melepas tanda pengenal yang dia kenakan sedari tadi, lalu mencoba memasukkannya kedalam tas. Oh, gadis itu ingat ia belum memeriksa train card pass miliknya, siapa tahu ia tak sengaja meninggalkannya atau bagaimana. Sudah beberapa kali gadis raven mengalami hal yang menyebalkan seperti itu. Kartunya tertinggal di kantornya, padahal ia sudah berada di stasiun.
Gadis itu duduk lagi di kursi lobby lalu mengobok-obok isi tasnya. Tidak ketemu, tapi ia mencari lagi, siapa tahu terselip didalam novel roman yang dibawanya tadi. Tapi hasilnya tetap saja nihil, tak berhasil, tak ada dan lenyap tak berbekas. Apakah tertinggal di meja kerjanya? Gadis raven segera berdiri dan berjalan lagi ke arah lift. Sebuah keharusan untuknya mencari di meja kerjanya.
Gadis raven yang sudah keluar dari lift itu segera mengambil hp flip nya dan mencoba menghubungi kakak perempuannya.
"Nee-chan, sudah sampai dimana?" tanya Rukia segera.
"Benarkah, nee-chan sudah sampai di perpustakaan? Tunggu sebentar nee-chan, sepertinya train card pass ku tertinggal, aku harus mengambilnya sebentar," jawab gadis itu terburu-buru. Ia bahkan sudah berlari di koridor kantornya. Terlebih ia tidak sadar jika berpapasan dengan manajernya. Ah, bahkan ia melupakan fakta bahwa high heelsnya bisa patah untuk kedua kalinya.
Gadis itu meletakkan tasnya segera, barulah ia mencari disekitar mejanya. Ia belum mematikan teleponnya yang menghubungkan dirinya dengan nee-channya.
"Nani?" pekiknya dan gadis itu sekali lagi membenturkan kepala mungilnya pada laci tempat keyboard komputernya. Kembali, gadis itu megelus belakang kepalanya dengan sayang.
"Nee-chan, aku akan mematikan teleponku sekarang dan kau harus menghubung Byakuya-nii sekarang juga, jangan membuat aku bersalah. Mencari waktu kosong untuk kalian berdua itu sangat sulit. Aku akan segera menemukannya, jadi nee-chan tidak usah khawatir,"
Diseberang sana kakak perempuan gadis itu mengatakan sesuatu.
"Please, nee-chan, jangan membuat aku menyesal. Ke perpustakaan bisa kapan-kapan dan bukan berarti kau mengingkari janji kita. Aku nanti bisa memasak tamagoyaki," jawa Rukia, ia tersenyum senang setelah mengetahui kakak perempuannya itu setuju.
Baru beberapa detik setelah ia mematikan hubungan teleponnya, sekarang hp itu berbunyi dengan layar yang menunjukkan nama yang berbeda.
"Grimm?" tanya Rukia tak percaya, bahkan gadis itu hampir berteriak kegirangan. "Kapan kau pulang ke Jepang, sayang?" tanya gadis itu meggebu.
"Haha, maaf, aku mengeluarkannya dengan tak sengaja. Mau aku jemput?" tanya Rukia.
Pemuda di seberang masih menjawabnya, menjelaskan sesuatu padanya.
"Oh, ya aku hampir lupa. Bahkan dirumah kakekmu akan ada banyak butler yang bisa menjemputmu,"
Jawaban dari sana lagi.
"Baiklah, aku akan kesana saat kau pulang, beri aku kejutan dan biarkan aku terkesan," jawab Rukia.
Lalu dari seberang hanyalah terdengar suara keras lalu salam, dan mematikan sambungannya.
Saat gadis itu masih menyunggingkan senyum khasnya. Ia dikagetkan dengan sebuah tangan yang mendarat di bahunya. Ia tersentak kaget lalu segera menghadapkan wajahnya pada seseorang yang ada di belakangnya.
"Manajer, kau mengagetkanku," pekik Rukia, ia hampir marah.
Manajer orangenya itu hanya menampakkan wajah datar sebagai jawabannya lalu membuka suara, "Kau gadis paling menyebalkan yang pernah aku temui. Apa aku harus menunggu setengah jam lagi agar aku bisa bicara denganmu?" tanyanya ketus.
Gadis itu menyernyitkan kening, sedikit bingung tapi akhirnya ia membuka suara, "Manajer sudah dibelakangku dari tadi? Berapa lama?" tanya Rukia.
"Untuk yaang kedua kalinya saat kau membenturkan kepalamu pada laci hari ini," ucapnya cepat.
Gadis itu menggigit bibirnya, wajahnya sedikit memerah, malu, "Maaf aku tidak menyadari kehadiranmu manajer! Dan juga sepertinya anda menaruh kutukan pada setiap perkataan yang anda ucapkan padaku, hari ini benar-benar sedikit sial. Oh, ya Kknapa anda ingin berbicara denganku?" tanya Rukia lagi.
"Jika kau sangat peduli pada perkataanku seharusnya kau tidak membuatku marah," desisnya. Manajer orangenya itu lalu menaikkan bibirnya sedikit, kesal lalu melemparkan sesuatu ke meja kerja Rukia. Ia mengencangkan dasinya dan berjalan keluar dari ruangan.
Rukia hanya masih terbengong di tempatnya, lalu ia mengamati sesuatu yang ada di mejanya, yang dilemparkan oleh manajer orangenya. Ia memegangnya, dan gadis itu tau itu benda apa. Itu train card pass nya. Lalu dari mana si orange itu mendapatkannya? Apa ia menemukannya terlebih dahulu sebelum dirinya? Ah sudahlah, ia harus pulang sekarang dan memasak tamagoyaki untuk santapan malamnya. Nee-channya mungkin tak akan pulang malam ini karena ia sudah bersama tunangannya. Jika dikatakan oleh hukum bahkan mereka sudah menjaddi suami istri. Gadis itu harus cepat karena nantinya dia juga harus mampir ke minimarket untuk membeli bahan-bahannya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Pagi itu si gadis raven tak datang terlambat ke kantor. Ia harus menemui manajernya terlebih dahulu. Berbicara personal sebelum kegiatan bekerja dimulai. Kemarin dia sudah membantunya menemukan train pass nya, hari ini gadis itu harus menunjukkkan rasa terima kasihnya. Jam didinding kantor masih menunjukkan pukul 07.30, teman-teman sejawantya bahkan belum datang. Ia membuka pintu kantornya pelan dan masuk ke dalamnya. Ruangan itu masih sama, apakah menurutnya kantor itu bisa dirubah dalam semalam saja? Ruangan itu masih sama tentu saja, saat pintu dibuka didepan sana aalah ruang gerak kosong sekitar kurang lebih 12 meter – hanya diisi dispenser air putih - barulah ada seperangkat sofa. Disepanjang sofa, dinding kantornya berupa kaca. Disitu ada tanaman hias yang diletakkan agar ruangan itu tiak terlalu kering. Lalu setelahnya itu tembok biasa yang didepannya melekat almari berkas yang berjajar 3. Barulah meja kerja sekat yang bisa diisi dirinya dan 11 teman lainnya. Gadis itu mengedarkan pandangan ke kanan tubuhnya. Ya, setelah pintu jika ia berjalan kearah kanan maka itulah meja manajernya. Tepat scara garis vertikal dengan mejanya. Dan dibelakang meja manajernya itu juga ada almari penyimpanan berkas, milik manajernya saja. Hanya satu. Soal jam dinding, ruangan itu ada tiga. Cobalah untuk percaya.
Yang pertama ada di belakang meja manajer, menempel ditembok tepat diatas mejanya. Setelah pengangkatan Ichigo menjadi manajer keuangannya, si orange itu hanya merubah almari penyimpanan agar diletakkan dipojok ruangan. Barulah mejanya berada di sampinya, agak kedepan. Yang kedua ada di dinding samping, tepat diatas salah satu teman sekantornya dan yang ke tiga ada diatasdispenser air. Gadis itu masuk, ia kemudian duduk di meja manajernya. Mencoba-coba kursinya dan jawabannya ya, karena ia ingin mencoba duduk disana tapi tidak punya pikiran untuk mengambil alih posisinya. Gadis itu tersenyum senang. Kursi manajer itu nyaman, tidak senyaman kursi dorong miliknya. Tapi, bukankah milik direktur akan lebihnyaman dari ini. Pikirnya. Gadis itu tersenyum lagi barulah ia meletkkan tas hitam -dengan aksesoris mote dan rantai ccb-nya diatas meja. Ketika gadis itu membuka resleting tas miliknya, tiba-tiba ia mendengar suara.
"Ada yang bisa aku bantu nona?" tanya suara itu dan Rukia tahu itu suara manajer orangenya.
Reflek gadis itu memundurkan tubuhnya, lalu berdiri dari duduknya. Ia memandang kearah manajernya dan ia berpegangan pada sisi kursi manajer itu. Tapi sial, tangannya terpeleset dan menyebabkan dirinya lebih malu dari yang seharusnya.
Gadis itu menyibakkan rambut kirinya, telinga porselennya sudah memerah. "Maaf, manajer bukan maksudku untuk ..." Hening. Gadis itu tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mewakili perilakunya. Hanya bisa menatap manajer amber itu dengan manik amethystnya.
"Jika kau ingin, aku akan duduk ditempatmu hari ini, nikmati saja tempat itu," ucapnya. Si manajer itu sudah hampir berjalan menuju meja Rukia tapi Rukia menariknya pelan dan menahan Ichigo dengan tangannya.
"Tunggu manajer. Anda salah paham," ucapnya, "Ah, maaf," lanjutnya. lalu ia mepaskan tangan Ichigo dan mengambil tasnya.
Gadis itu mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah wadah makanan atau biasanya kotak bekal yang berukuran 9x9 cm dan menyerahkannya pada Ichigo.
"Aku bermaksud memberikan anda ini, sebagai ucapan terima kasihku kemarin," jawab Rukia.
Manajer orange itu hanya memandang datar pada Rukia. "Kau ingin meletakkannya di mejaku dan berharap aku akan memakannya tanpa mengetahui siapa yang memberikannya padaku?"
"Aku hanya ingin meletakkannya dulu lalu nanti aku akan berbicara pada anda," jawabnya cepat. Kedua tangannya masih terulur pada Ichigo.
"Apa itu?" tanyanya singkat.
"Muffin strawberry, tadi pagi aku membuatnya dan aku ingat anda menyukainya jadi aku..." ucapan Rukia terpotong oleh Ichigo, "Terima kasih," ucapnya lalu dia mengambil kotak itu dari tangan Rukia. "Ke mejamu sekarang," ucapnya lagi.
Gadis itu memandang turun pada kemeja putih yang ia kenakan. Apakah ada yang salah sekarang? Dan itu terjadi lagi. Kancingnya lepas satu lagi seperti kemarin. Gadis itu segera memegangnya dan pandangan Ichigo mengikuti arah taangan Rukia.
"Ke mejamu sekarang Kuchiki, temanmu sebentar lagi akan datang," ucap Ichigo.
Gadis itu terlihat bingung dan wajahnya memerah, membayangkan jika teman pertamanya yang akan membuka pintu melihat kondisi mereka dan bisa menyebabkan kesalahpahaman. Menganggap mereka melakukan indecent things.
"Kuchiki, di mejamu dan duduk disana," ucap Ichigo datar.
'Dasar gadis bodoh,' pekik pikiran Rukia. Dari tadi si orange itu menginstruksikan agar dirinya duduk di mejanya bukan masalah kemeja putihnya.
Gadis itu tersenyum sebelum ia berlalu dari hadapan Ichigo. Lalu berucap,"Baik manajer," dan ia berjalan menjauh dari sana dan duduk di meja kerjanya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Gadis itu masih berkutat lagi dengan komputer di depannya. Memasukkan angka-angka yang membuat pusing kepala karena jumlah digitnya. Dari lembar kerja excel ke lembar kerja command promptnya masih ada lainnya path dan estp-nya. Ia harap ia tidak akan menua karena terlalu memusingkkan pekerjaannya.
Diliriknya meja manajer. Gadis mungil selain dirinya – Hinamori Momo – yang masuk ke perusahaan ini tiga bulan setelah dirinya sedang berbicara dengan manajer orange itu.
"Laporanmu aku terima. Pergilah ke bagian marketing minta D.O dan beberapa faktur untuk minggu ini. Kerjakan laporannya dan serahkan pada Kuchiki, aku ingin segera mengakhiri laporan keuangan bulan ini," ucap Ichigo, bagi Rukia dia sudah bisa cukup jelas mendengarnya dan dia harus cepat-cepat menyelesaikannya. Apalagi dia mendapat tugas tambahan jika pajak pasal 25 harus dikerjakan hari ini juga.
"Huh, benar juga apa kataku kan, dia sangat manis pada pegawainya selain dirimu," ucap Rangiku, setengah berbisik. Gadis raven yang mendengarnya itu hanya tersenyum simpul. Bukankah kalimat itu yang mengucapkan kemarin adalah dirinya?
"Ruki, ingin makan apa hari ini?" tanya Rangiku. Ia sudah menyelesaikan pembuatan faktur beberapa menit yang lalu. Bahan sudah menyelesaikkan pekerjaan dengan menggunakan mesin tik manualnya.
"Sepertinya aku tidak akan turun ke kantin, pekerjaanku bertambah Ran, pasal 25," jawab Rukia. Ia mendesah kecewa.
"Lalu? Bagaimana?" tanyanya.
"Aku sudah membawa roti kacang dan air mineral itu sudah lebih dari cukup."
"Itulah sebabnya kau tidak bisa tumbuh," jawabnya.
"Oh, ayolah senpai, jangan mencelaku seperti itu," ucap Rukia.
Keduanya hanya tertawa tipis, takut akan kejadian tak terduga- jika manajer itu akan muncul lagi diantara keduanya- seperti kemarin.
Jam memang sudah semakin menunjukkan waktu yang mendekati makan siang, istirahat. Tapi gadis itu masih saja sibuk. Hanya beberapa menit yang lalu ia sibuk membalas e-mail dari Grimmjow.
Beberapa temannya sudah keluar dari ruangan. Tak terkecuali Rangiku.
"Kau ingin menitip sesuatu Rukia?" tanyanya.
"Tidak Ran, terima kasih. Roti di dalam tasku itu benar-benar sudah cukup," jawabnya.
"Baiklah kalau begitu, oh ya satu hal lagi, kau tampak cute dengan bando merahmu itu," ucapnya. "Dan tampak sexy dengan heels itu," bisiknya.
"Benarkah? Kau membuatku tersipu Ran, cepatlah atau kau tidak akan kebagian tempat," ucap Rukia.
"Jangan meragukan kemampuanku, aku bisa dengan mudah merayu nantinya," jawab Rangiku.
Rukia tertawa, "Soal yang satu itu aku tak akan meragukannya, senpai," jawab Rukia.
"Jangan menggodaku dengan senpai, aku merasa sangat tua."
"Kalau begitu kenapa tidak segera menikah saja?"
Rangku hanya memberenggut lalu tersenyum. Gadis itu membalasnya dan kemudian Rangiku sudah hilang dari balik pintu setelah gadis itu mengucap salam pada Rukia.
Bukan sengaja, tapi kenyataannya, beberapa hari ini memang Rukia hanya memasukkan roti isi kacang hijau kedalam perutnya disaat istirahat makan siang. Malas jika harus antri di kantin perusahaan sedangkan pekerjaannya masih banyak.
Hari ini dia memakai kemeja putih panjang dan dimasukkan ke dalam rok merah selutut yang merekah di bagian bawahnya. Gadis itu mempercantik rambutnya dengan bando merah dengan aksen rantai hitam dibagian atasnya. Soal high heelsnya, ia memakai platform high heels warna merah dengan bagian bawah putih transparan, masih bertali dibagian atas mata kakinya.
Gadis itu mengeluarkan sebotol air mineral dan roti isi dari dalam tasnya. Ia membuka plastiknya, membuangnya di keranjang sampah kering yang ada disekitar mejanya. Dan meletakkan diatas kertas setelah membaginya dengan dua bagian. Gadis itu masih tetap mengetik dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menyuapkan roti ke dalam mulutnya.
"Sepertinya enak," ucap suara yang sudah berada di sampingya.
Gadis itu menghadap padanya dengan mulut yang masih penuh dengan roti isinya.
"Harusnya saat kau makan seperti itu kau tinggalkan dulu pekerjaanmu," ucapnya datar. Sedatar mukanya dan itu adalah manajernya.
Dengan gerak cepat gadis itu mengambil roti separuhnya lagi dengan tangan kanannya. Lalu mencoba menelan makanannya. Untung ia berhasil dan tidak tersedak.
"Mau mencoba?" tanya gadis itu. Ia mengulurkan tangan kanannya.
"Baik hati sekali," jawabnya. Pria orange itu menarik tangan kiri Rukia ke arah wajahnya. Dengan segera ia memasukkan roti gigitan Rukia ke dalam mulutnya.
Gadis itu tersentak lalu mendesis, "Manajer."
Pria berambut orange itu hanya menatap Rukia. Menatap mata amethyst gadis itu dengan mata ambernya. Menolak saat gadis itu saat hampir mengalihkan pandangannya.
"Kenapa? Keberatan? Bukankah kau menawariku? Kau tak punya penyakit rabies atau sejenisnya kan?" tanyanya. Ia memasukkan potongan terakhir roti itu ke dalam mulutnya tetapi menolak untuk melepaskan tangan Rukia.
Gadis itu hanya menggeleng pelan. Wajah putihnya sudah memerah lagi seperti kepiting rebus. Sedang pria orange itu mengangkat bibir sampingnya ke atas. Tersenyum separuh tapi keren dan sexy. Pandangan itu tak lepas dari gadis Kuchiki. Senyuman itulah yang hampir bisa membuatnya gila.
Pria bermata amber itu menjulurkan lidahnya, menjilat jari telunjuk Rukia pelan. Gadis itu sedikit ternganga. "Manajer, tolong …."
"Tolong apa? Diamlah," perintahnya. Dari suaranya pria itu tak mau dibantah. Ia masih memendang lekat gadis di depannya.
Tak berhenti disitu saja, si mata amber menjilati sela-sela jari Rukia, bahkan memasukkan dua jari Rukia kedalam mulutnya. Gadis itu hanya diam saja. Hembusan napas Ichigo di jemarinya membuat dia seperti berada diatas awan. Hampir saja gadis itu mengeluarkan desahan, tapi ditahannya dan itu membuat belakang kepalanya terasa ngilu kegelian. Jantungnya berpacu cepat dan aliran darahnya seperti dipercepat. Hal terakhir yang bisa gadis itu lakukan hanyalah menggigit bibir bawahnya.
Pria bermanik amber itu pelan-pelan meletakkan tangan Rukia di paha gadis itu sendiri. Kemudian membukuk lagi dan berujar lembut, hampir sebuah bisikan. "Terima kasih, itu tadi terasa nikmat."
Tubuh gadis itu bergetar, grogi bahkan bagian bawah tubuhnya panas, mati rasa. Yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah memandang punggung manajernya yang sudah berjalan menuju meja kerjanya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Setengah jam sudah berlalu dari waktu yang begitu membuat gadis itu bagai di alam mimpi. Oh, jangan bercanda. Itu tentu saja, manajer orangenya itu begitu menggoda di depannya. Ya ampun. Tadi malam ia bahkan tidak memimpikan hal ini akan terjadi. Gadis itu masih saja berkutat dengan komputernya. Mengalihkan dirinya yang super malu dari manajer orangenya.
"Rukia, hey. Manajer memanggilmu, apa kau tak dengar?" tanya Rangiku, ia menyenggol lengan Rukia dengan tangan panjangnya.
"Hnn..eh, apa?" tanyanya kaget.
"Dia meminta laporannya, kau tak dengar?" tanya Rangiku.
"Ya, sebentar lagi manajer, aku akan mem-print outnya terlebih dahulu," ucap Rukia dari mejanya. Ia menatap manajernya dan segera saat mata lemonnya bertemu dengan amber manajernya, ia langsung mengalihkan pandangan darinya. Ia masih merasa malu. Sangat.
Tak butuh sampai dua menit print out itu keluar. Gadis itu menjepitnya dengan penjepit kertas lalu menuju meja manajernya.
Dan ya, aku belum menjelaskannya. Meja manajer itu hanya berisi sebuah laptop, berkas-berkas yang tertumpuk-tapi tak terlalu tinggi-dan ditata dengan rapi, ada sebuah printer kecil disana dan yang terakhir kalender meja.
Gadis itu berdiri di kanan meja saat manajer amber itu membolak-balik laporan dari Rukia. Ada hawa tak nyaman yang dirasakan oleh Rukia yang keluar dari aura si manajer rambut orange. Apa dia membuat kesalahan?
Dan detik itu juga kekhawatirannya jelas terbalaskan.
"Pajak lebih besar dari keuntungan perusahaan bulan ini? Apa kau bercanda?" tanya Ichigo. Ia masih mencermati laporan dari Rukia. Kemudian barulah ia menatap Rukia. Wajahnya penuh pertanyaan dan ia ingin jawaban pasti.
"Maaf, manajer anda tahu bahwa aku hanya melanjutkan laporan dari Cirucchi-san yang mengundurkan diri 2 minggu yang lalu sebelum aku menempati posisinya," jawab Rukia.
"Tentu aku tahu. Saat itu juga aku berpindah dari divisi marketing ke divisi keuangan. Haruskah itu kau beritahu padaku, huh?" tanyanya.
"Maaf manajer bukan maksudku seperti itu, tapi untuk bulan depan aku akan bisa meningkatkan keuntungan jika aku memakai …"
"Ya memakai laporan yang lebih simple, aku tahu itu. Caranya pun aku juga tahu. Lalu untuk bulan ini bagaimana?" tanya Ichigo.
Gadis itu terlihat bingung. Jika ia harus meningkatkan laba bulan ini tidak mungkin. Penyetoran bermacam-macam pajak sudah dilaksanakan, gaji karyawan sudah dikeluarkan dan tidak ada pilihan lain. Tentu saja tidak.
"Oke, ini sudah terlanjur, aku tahu." ucap Ichigo, ia menghela napas sebentar lalu masih menunjukkan wajah datarnya. "Perlihatkan aku laporan keuangan bulan lalu dan bulan sebelumnya,"
Dengan segera gadis itu membuka almari berkas yang ada di sebelah Ichigo, ia mengambilkan laporan yang diminta Ichigo dengan segera dan menyerahkannya saat itu juga. Si rambut orange itu membolak-balikkan laporan itu dengan cepat. Bahkan karyawan yang di naunginya hanya bisa bertanya-tanya ada apa dan kenapa pria itu mencari laporan dua bulan sebelum ia menjadi manajer keuangan. Apakah ada yang salah.
Raut muka pria itu sedikit tegang, bahkan gadis itu tak pernah melihat ekspresi yang seperti itu.
"Ambilkan laporan keuangan 5 bulan yang lalu Kuchiki," ucap Ichigo.
Gadis itu menyernyit tak mengerti tapi saat itu juga Rangiku melangkah, laporan 5 bulan yang lalu itu berarti laporan 7 bulan yang lalu – dua laporan tadi di tambah 5 bulan – tentu saja Rukia belum masuk ke perusahaan itu. Dirinya baru disini setengah tahun.
Gadis sexy itu menyerahkannya pada Rukia dan Rukia memberikannya pada Ichigo. Lagi. Pemuda itu membalikkan berkas-berkas itu tak sabar. Bahkan sekarang wajahnya sudah memerah, mungkin karena marah.
"Katakan padaku, kapan rapat koordinasi terakhir kali dilaksanakan?" tanya Ichigo kepada Rukia.
"Beberapa hari setelah aku masuk ke perusahaan ini," jawab Rukia, "Itu setengah tahun yang lalu manajer," lanjutnya.
"Lalu, rapat gabungan?" tanya Ichigo tak sabar.
"Direksi dan divisi manajer?" tanya Rukia.
"Ya," ia sudah mengepalkan tangan kekarnya.
"Itu dilakukan 2 bulan setelahnya," jawab Rukia pasti.
"Lalu RUPS? Bulan depan?" tanya Ichigo, sepertinya ia semakin tak sabar.
"Iya, bulan depan, memangnya ada apa manajer?" tanya Rukia.
Pria itu masih megepalkan jemarinya. Lalu bangkit dari mejanya dan menggasak laporan keuangan itu kearah kirinya. Menyebabkan laporan itu tercecer dilantai.
"Brengsek," umpat Ichigo.
Beberapa karyawannya kaget sekali termasuk Rukia. Sedang pria itu masih diliputi oleh amarah. Dengan cepat ia mengambil hp flip hitamnya dari kantong jasnya. Mencoba menghubungi seseorang. Sedang para karyawan bawahannya hanya memandangnya tegang.
"Dimana kau?" desisnya kesal.
Suara dari seberang sepertinya sudah menjawabnya dan mengatakan sesuatu.
"Tetap disitu! Jika aku tak menemukanmu aku akan menghajarmu! Pegang kata-kataku,"
Pria itu jelas marah. Bahkan begitu marah sampai ia menarik dasi yang melekat di kemejanya dengan kasar. Lalu pria itu berjalan cepat kearah pintu dan keluar dari ruangan.
Masih hening suasana ruangan itu jika saja telepon di meja Ichigo tak berbunyi. Rukia yang masih bergetar panic itu mengangkatnya.
"Halo, dengan divisi keuangan," Suara bergetar gadis itu terdegar begitu kentara.
"Kuchiki bawakan aku laporan sialan itu padaku. Sekarang juga," ucap Ichigo. Masih ada nada marah yang begitu kental terasa.
Gadis itu hanya bisa mengangguk dan tak bisa mengeluarkan suaranya. Dan setelah beberapa detik berlalu terdengar suara hubungan telepon yang terputus.
