Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!

Pairing : IchiRuki

Genre : Romance

Rate : M

Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Chapter III

Gadis raven betubuh mungil itu hanya bisa memandangi gagang telepon meja manajernya itu dengan pandangan penuh tanda tanya. Sedang gadis bernama Hinamori Momo dan Matsumoto Rangiku itu memberesi berkas yang sudah dilemparkan ke lantai kiri meja manajer orangenya itu dengan segera. Beberapa karyawan lainnya masih membicarakan perilaku Ichigo yang tiba-tiba brutal itu, belum mau kembali pada pekerjaan masing-masing. Momo memberikan berkas-berkas itu pada Rangiku dan gadis polos itu segera kembali ke meja kerjanya. Dengan segera Rangiku meletakkan berkas malang itu di meja Ichigo, belum ingin mengembalikannya ke almari berkas berbahan alumunium di pojok ruangan itu.

"Sadar Rukia, sampai kapan kau akan terpesona pada sebuah ganggang telepon manajer jabrik itu?" tanya Rangiku.

"Oh, eh.. ah iya Ran," jawab Rukia. Barulah si mata lemon itu mengembalikan ganggang ke tempatnya.

"Aku tidak mengerti alasannya marah besar seperti itu. Aku yakin dia orang yang sangat baik dalam hal menjaga tempramen," ucap Rangiku.

"Hnn... ya, aku pikir juga begitu, atau memang masalahnya tidak sesimple itu?" tanya Rukia. "Ya, oke aku tahu, beberapa bulan belakangan ini pendapatan perusahaan memang menurun, tapi apa rasa kagetnya harus ditunjukkan dengan hal seperti itu tadi?" lanjut Rukia.

"Dan kau tahu jeritan tak percayanya dengan segala jenis pajak 'Keuntungan perusahaan lebih kecil dari pajak?' memangnya untuk perusahaan besar seperti ini pajaknya juga akan sedikit? Bahkan keuntungan bulan ini jika dibagi untuk pemegang saham saja, maka setiap orang akan mendapatkan uang yang mengalahkan gaji kita selama lebih dari 10 bulan," pekik Rangiku tak percaya.

Ya, seharusnya dia tahu. Seharusnya Ichigo tahu. Untuk perusahaan sebesar ini pajak perusahaan tidak akan main-main dalam nominalnya. Mulai pajak listrik, pajak air, pajak kendaraan dinas, pajak mobil perusahaan yang digunakan para manajer dan komisaris, beberapa pembelian kondomium baru untuk para manajer baru, pajak bumi dan bangunan, pajak tanah kosong yang dimiliki oleh perusahaan, dan beberapa pajak eksport import. Apa itu hanya bernilai jutaan? Tentu tidak, anak manis. (PPh 21, 23, 25, PPh pasal 4 ayat 2, PPN)

Dan Rukia hanya bisa menggelengkan kepalanya, sedikit pusing dan mual jika ia mengingat dialah yang menjadi penghitung akhir dari semua pajak-pajak itu. Ia memegangi kepalanya yang mulai berdenyut-denyut.

"Aku pikir saat kau mengatakan dia itu eccentric* hanyalah candaan, Ran," ucap Rukia akhirnya.

"Tentu tidak, aku benar-benar ikhlas saat mengatakkannya dan sekarang kau baru setuju, huh?" tanyanya. Gadis pirang kuning itu tertawa. "Oh, ya tadi apa yang dikatakannya padamu?" tanya Rangiku.

"Oh, hampir saja aku melupakan tentang hal itu. Ran, boleh aku bertanya?" tanya Rukia. Gadis mata amethyst itu memberi jeda. Membiarkan gadis disampingnya untuk menjawab terlebih dahulu.

"Yaa, tentu saja. Memangnya kenapa?" tanya Rangiku.

"Apa kau tau dimana manajer orange itu sekarang berada agar aku bisa memberikan laporan keuangan sialan itu padanya sekarang juga?" tanya Rukia, ia menyunggingkan senyumnya, menutup sedikit matanya.

"Tentu tidak," jawab wanita itu logis. "Oh, ya ampun. Dia gila," ujar Rangiku setelah ia tahu maksud tersirat dari pertanyaan Rukia.

"Aku setuju padamu dan kali ini aku benar-benar jujur," ucap Rukia. "Sampai jumpa, Ran," ucap Rukia.

"Kau mau kemana?" tanya Rangiku.

"Ruang CCTV, ingin tahu ke arah mana dia pergi," jawab Rukia, gadis itu sudah membopong berkas-berkas sialan itu ke tangannya.

"Ya, sampai jumpa – hati-hati –," imbuh gadis itu dalam hati.

Gadis surai raven itu sudah meninggalkan ruangan dan melewati pintu serta segera menutupnya kembali.

"Dan aku baru tahu, kohaiku itu benar-benar polos atau dia memang tercetak sedikit baka," desis Rangiku.

Gadis bertubuh sintal itu segera kembali ke meja kerjanya. Mengambil ponsel touch screennya dan menghubungi seseorang, teman 'spesial'nya.

Saat telepon disana diangkat dan hubungan itu tersambung, gadis itu kemudian berucap, ia tak sudi mendengarkan suara cempreng yang tidak terlalu penting karena setiap wanita sintal itu menghubungi dirinya di jam kerja yang terdengar hanyalah ocehan nasehatnya.

"Kirimi aku nomor Kurosaki Ichigo sekarang, please," ucap Rangiku datar.

Sedang seseorang yang disana itu menjawabnya pada saat dia bicara,"Jangan menghubungiku saat jam kerja, Matsumoto," pekiknya.

"Aku tak peduli, please," jawabnya lagi dan menutup panggilan singkat itu secara cepat.

Tapi dalam beberapa hitungan – yang diperkirakan gadis itu dari angka 10 ke angka 1 – di angka 7 hp miliknya bergetar menandakan ada e-mail masuk ke dalamnya.

From : ssilver_boy docomo dot ne dot jp

Subject :Nomor

+8187812412xxx

PS : Sudah berapa kali aku katakan jangan meneleponku saat di kantor.

From : Sexy_Ran docomo dot ne dot jp

Subject : Re :Nomor

Thanks, jangan banyak bicara. Lalu apa gunanya kau membawa ponsel ke kantor. Sekali saja kau tak membalas e-mailku atau telepon dariku dan entah itu penting atau tidak, rasakan, jika aku akan membully gadismu Chu~~ :*

PS : namamu alay, kenapa harus ada 2 s?

Gadis sexy itu segera memforward pesan dari si ssilver boy kepada si gadis mungil surai raven tersebut dengan menghapus PS dari ssilver boy yang tidak terlalu penting. Gadis berambut pirang kuning itu tersenyum setelah bisa membantu gadis amethyst itu yang sedikit kesusahan.

From : Sexy_Ran docomo dot ne dot jp

Subject : Jabrik

+8187812412xxx

Itu nomornya, gunakan seperlunya, aku takut dia akan membentakmu lagi. Kalau kau tidak ingin dibentak, cium saja dia. Aku pikir itu bisa menyelesaikan masalah. :D

Ya, gadis itu bisa membantu Rukia dan menggodanya sekaligus jika mau. Yang dilakukannya memang sangat membantu dan membuat gadis lemon itu sedikit malu. Terbuki setelahnya, ia membalas pada Rangiku dengan mengalihkan pembicaraan.

From : Rukichappy docomo dot ne dot jp

Subject : Re : Jabrik

Aku yakin kau akan segera mengirimi e-mail padaku. Terima kasih. Aku tidak mempunyai teman manajer tampan dari divisi IT yang begitu bisa diandalkan.d(*A*)b

From : Sexy_Ran docomo dot ne dot jp

Subject : Re : Re : Jabrik

Kau bilang dia apa? Tampan? Ayolah, dia itu lelaki pendek yang berhenti tumbuh :p

Oh, kau ingin melawan wanita samping, huh, rupanya? w( OAO)w

From : Rukichappy docomo dot ne dot jp

Subject : Re : Re : Re : Jabrik

Mencoba membuatnya cemburu, ingin sekali mencobanya.

Tadi pagi dia sudah membuatku iri -_-"

From : Sexy_Ran docomo dot ne dot jp

Subject :JEALOUS

Ayolah darling, iri akan membuatmu kehilangan pesona, sudahlah hubungi dia dan praktikkan ciumannya xD

From : Rukichappy docomo dot ne dot jp

Subject :Re : JEALOUS

Aku hanya bercanda. Hatiku sudah terpaut lama padanya TAT

Tidak se simple itu cantik :p

Dan ya, aku harus menghubunginya.

Gadis pirang itu tersenyum. Sedang gadis raven yang berada di dalam lift itu juga tersenyum. Ketika pintu lift itu terbuka, si gadis Kuchiki keluar. Menunggu sebentar di luar lift lantai 10 kantor tempatnya bekerja. Ia bersandar di dinding dekat lift – hanya tubuh samping kanannya-, lalu memencet nomor ponsel milik manajernya.

Lama sebelum manajer itu mengangkat panggilannya. Ketika ia mengangkatnya pun si orange itu terdengar masih marah, begitu sarkastik.

"Siapa?" tegasnya.

"Maaf manajer, aku tidak tahu dimana anda sekarang jadi aku ..."

"Lantai 15, ruangan direktur idiot perusahaan ini, mengerti?" ucap Ichigo datar. Lalu mematikan hubungan pendek itu.

Rukia memandang ponselnya sengit dan menggeram pelan lalu melotot seram, "Seharian ini kau membuatku ingin menerkammu," ucap Rukia frustasi.

"Kenapa tidak kau lakukan?" tanya sebuah suara yang ada di belakangnya.

Gadis itu tersentak kaget, menaikkan tubuhnya. Sedikit takut ia menghadap belakang, tapi dilakukannya kemudian.

Gadis itu menarik poninya yang menjuntai tepat ditengah wajahnya lalu menepuk keningnya.

'Sial, ini seperti déjà vu' bantah batinnya tak terima.

Sedang seseorang yang berbicara – kenapa tidak kau lakukakan – itu sedang asyik berkonsentrasi teleponan dan melewati Rukia begitu saja tanpa menunjukkan muka bersalah, bahkan tak memandangnya.

"Aku jadi mengerti kenapa pengusiran setan itu diperlukan," desis Rukia tak terima. Dan sesuatu yang ia ucapkan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan situasi yang dihadapinya sekarang.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Baru kali ini si gadis raven menjejakkan kaki di lantai 15, lantai paling atas diperusahaan ini selama ia bekerja setelah 6 bulan yang lalu. Ada sedikit rasa grogi yang tiba-tiba melandanya. Padahal ia tahu, dirinya hanya akan mengantar laporan yang diminta Ichigo ke ruangan sang direktur. Gadis itu walau grogi tetap saja berjalan cepat, tak mau menyesali hidupnya hari ini dengan dampratan dari Kurosaki sekali lagi.

Hal pertama yang Rukia lakukan adalah melapor di bagian resepsionis sekaligus sekretaris milik direkturnya yang ada di koridor itu. Menanti-nanti sambil dia duduk di ruang tunggu yang ada di lantai itu sambil menikati teh yang sudah disuguhkan pada dirinya. Menyesapnya perlahan sambil menikmati pemandangan yang ada di luar jendela.

Gadis itu mendengar pertengkaran yang terjadi di luar ruang. Sepertinya, salah satu yag berujar adalah suara milik manajer orangenya. Gadis itu dengan segera meletakkan cangkir kopinya diatas meja dan keluar dari ruang tunggu direktur itu.

Saat gadis itu keluar, hal pertama yang dilihatnya adalah manajer orangenya itu meremas krah kemeja yang digunakan oleh seseorang yang berada di depannya.

"Tidak bisakah kau sabar untuk 2 atau 3 tahun lagi?" desis lelaki orange itu kesal. Sepertinya lelaki di depan Ichigo itu tidak bergeming. Dia diam di tempatnya.

Gadis raven itu mendekat ke arah mereka berdua dengan sedikit berlari. Oh, apa yang harus dilakukannya sekarang? Melerai? Itu tidak mungkin, bukan suatu ide yang bagus. Menjerit? Oh, tidak. Ia akan dibawa kerumah sakit jiwa nantinya. Diam saja? Oke, itu mungkin pilihan yang paling baik, seperti yang dilakukan oleh sekretaris itu yang masih duduk di tempatnya dan tak bergeming. Lalu apa? Beberapa hari lagi mendengar kabar bahwa Ichigo akan dipecat? Itu hal yang membuatnya tidak waras tentu saja. Jika lelaki tampan bertubuh sexy itu akan meninggalkan posnya itu sudah pasti akan membuat hatinya tambah merana. Itu hal yang tidak akan bisa ditanggungnya.

"Tunggu dulu," ucapnya hampir menjerit.

Pria orange itu menatap ke arah Rukia lalu melepaskan tangannya dari krah kemeja orang yang berada di hadapannya. Mata ambernya yang dipenuhi amarah melembut. Ya bisa di katakan sedikit.

"Kau sangat terlambat, Kuchiki," desis Ichigo marah. Lelaki itu menatapnya hangat. Perkataan dan matanya sedikit berbeda jalur. "Berapa yang kau bawa?" tanya Ichigo.

"Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi bukankah manajer dapat membicarakannya dengan cara yang lebih baik. Beliau direktur kita, manajer," ucap Rukia, ia membelokkan arah pembicaraan mereka. Sedikit takut-takut ia berkata seperti itu. Takut jika ia dikira menggurui.

"Aku mengerti pointmu tapi saat ini aku benar-benar ingin menghajarnya," desis Ichigo lagi, arah matanya sekarang menuju direkturnya.

Gadis itu mengikuti arah mata Ichigo, gadis lemon dari tadi belum bisa melihat wajah milik direkturnya karena ia berdiri di belakangnya.

"Tapi itu bukan pilihan yang baik, . oh ya ampun," ucap gadis itu terkaget.

Sedang direktur yang sudah terlihat wajahnya itu sedang menyunggingkan senyum manis.

"Terima kasih sudah datang, nona, aku tak tahu apa yang akan terjadi jika kau tak segera kemari," ucapnya. Ia menyunggingkan senyuman lagi.

Gadis itu terpesona pada lelaki -selain Ichigo- yang berada di depannya. Wajah direkturnya itu begitu mirip dengan Ichigo, hanya terlihat lebih tua 15 tahun dari Ichigo. Surainya segelap surai raven miliknya. Usianya paruh baya tetapi masih terlihat begitu keren. Jika ia sudah menjadi ayah, mungkin dia mempunyai 2 anak yang berumur belasan dan kurang dari 7 tahun.

Rukia sadar, ia telah terpengaruh pada sesuatu yang tidak seharusnya dan di tempat yang tidaak tepat. Rukia lalu tersadar dan menyerahkan berkas laporan keuangan yang dibawanya pada Ichigo.

"Delapan bulan," ucap Rukia, berharap Ichigo mengerti maksudnya.

Ichigo menerima laporan itu dan dengan segera ia menyerahkan pada direkturnya secara kasar, "Ayolah tampan, apa kau pikir di ruanganku tak ada berkas seperti ini, dua kali lipat malah. Laptopku juga menyimpan soft copynya," ucapnya datar lalu tersenyum.

Nah, itu yang tidak Ichigo pikirkan dengan baik. Terlalu marah akan perbuatan si lelaki berambut hitam. Ada rona malu di wajahnya dan kemudian rahangnya mengeras.

Rukia sedikit tersenyum melihat wajah Ichigo lalu dirinyalah yang maju dan menerima laporan itu lagi.

"Lagipula bukankah kau membutuhkannya jika kau ingin tahu apa yang aku lakukan dengan uang itu?"

"Paman! Hentikan! Ayo kembali Kuchiki," ucapnya dengan segera. Tak ingin melanjutkan perdebatan mereka di ruang terbuka.

Sedang gadis itu menatap Ichigo bingung lalu menatap direktur itu lebih bingung lagi. Kemudian dirinya menunduk, memberi hormat kemudian menyusul Ichigo pergi.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Kedua orang itu sudah menaiki lift menuju lantai bawah. Dari kaca pengamatan Rukia, manajernya ini seperti lelaki yang kebingungan. Lift terbuka di lantai 12 beberapa orang sekaligus memasuki lift itu. Mau tak mau gadis raven dan manajer orange itu mundur, bersandar pada dinding lift.

Pria orange itu menatap ke arah Rukia disaat gadis itu menatap ke depan. Ia menjulurkan tangannya dan mengambil berkas itu dari tangan Rukia tanpa bersuara. Gadis itu memandangnya dan saat pandangan mereka bertemu si orange itu menatapnya biasa saja. Lift berhenti di lantai 9 beberapa dari mereka turun bersamaan pula. Meninggakan gadis itu dan manajernya berdua yang berdiri begitu dekat. Tidak perlu diragukan lagi, jantung gadis itu bergerak 3 kali lebih cepat dari biasanya, apalagi dengan gerakan tanpa sengaja, lengan Ichigo tak sengaja menggesek lengan mungilnya.

"Manajer," ucap Rukia lirih, gadis itu menatap ke arah Ichigo, sedang pemuda jabrik itu masih menatap ke depan.

"Hnn?" ucapnya singkat.

"Soal direktur, apa dia emmhh... mengkorupsi uangnya?" tanya Rukia sedikit takut.

Ichigo hanya menghela napas panjang, kemudian berucap, "Bukan tapi hal ini lebih dari sekedar buruk Kuchiki. Maaf, tapi kau tidak akan mengerti tentang hal ini, aku juga. Jalan pikiranya sulit ditebak."

"Ya ampun, aku baru tahu dia benar-benar nekat dan idiot," desis Ichigo.

"Apa hal ini akan membawa dampak buruk padanya di kemudian hari," tanya Rukia, dan ia memang sudah tahu jawabnnya. Tentu saja, ya. Itu jawabannya.

"Ya, sebentar lagi. RUPS," jawab Ichigo singkat.

Rukia mengerti. Jika direktunya mengkorupsi bahkan kata Ichigo 'lebih dari sekedar itu' – yang membuat Rukia semakin tak mengerti – posisi direkur bisa saja diganti, diajukan di rapat RUPS yang akan diadakan sebulan lagi. Lalu lelaki yang sangt disukainya ini sepertinya tidak terima jika pamannya itu digantikan oleh orang lain.

"Manajer, bisakah anda menunduk sebentar?" tanya Rukia.

"Hnnn?" ucapnya tapi dirinya menundukkan sedikit tubuhnya.

Tanpa disangka dan dinyana, gadis amethyst itu mengecup pipi Ichigo cepat. Segera saat Ichigo mengamati wajah gadis itu, wajahnya sudah memerah.

"Kata Rangiku sebuah ciuman bisa membantu memecahkan masalah, dan aku pikir aku juga sudah menyebabkan masalah pada anda hari ini jadi ..." gadis itu kehilangan kata-katanya.

Sesaat kemudian Ichigo menanyainya, "Ciuman? Di pipi?" tanyanya sedikit tak terima.

Gadis itu menatapnya tak mengerti, "Iya, pipi?" ucapnya. Dirinya ragu juga dengan ucapannya sendiri.

"Ciuman itu disini," ucap Ichigo, ia menempelkan telunjuknya di bibirnya sendiri, "Jika di pipi itu namanya kecupan," lanjutnya.

"Sepertinya kau di kerjai," ucap Ichigo lalu terkikik geli.

Dan gadis itu yang terbawa suasana menjadi bersemu merah dibeberapa tempat di wajahnya.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Flashback

Pria berambut orange itu meninggalkan ruangannya dan berjalan cepat menuju lift. Satu hal yang ada di pikirannya sekarang adalah menuju ruangan direkturnya, meminta penjelasan pamannya, adik dari ayahnya, Shiba Kaien.

Pria itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi pesawat telepon kantornya. Ia menunggu sampai seseorang diseberang sana untuk mengangkatnya dan ternyata yang mengangkat gadis mungil yang sering ia bully ketika ada kesempatan.

"Halo, dengan divisi keuangan," Suara bergetar gadis itu terdegar begitu kentara.

"Kuchiki bawakan aku laporan sialan itu padaku. Sekarang juga."

Dan ketika gadis itu tak bisa mengeluarkan suaranya, lelaki itu segera menutup sambungannya.

Lalu, ada apa sebenarnya dengan laporan keuangan perusahaan itu selama tujuh atau delapan bulan ini sebenarnya. Ia akan mengutuk dirinya sendiri jika hal ini dilakukan pamannya itu untuk kepentingan Ichigo. Bukan, hal yang akan dilakukannya pertama kali adalah menonjok mukanya dan memanggilnya si brengsek atau bajingan.

Empat belas bulan yang lalu setelah dirinya mendapat gelar S2 di Jerman, hal yang dilakukan pertama kali oleh pamannya adalah menghentikan dirinya kembali ke Jepang dan mengurus perusahaan anak cabang disana yang bermasalah dengan pendistribusian dan kesalahan manajemen dalam marketingnya. Jika sampai sesuatu yang dikhawatirkannya menjadi kenyataan dan paman kécénya itu sudah merencanakannya sejak 8 bulan yang lalu, maka ia akan benar-benar marah besar. Oh jangan lupa, lagipula kontrolnya tadi sudah tak berguna saat ia melihat laporan keuangan itu yang dikemas rapi tapi di dalamnya tersembunyi bau busuk yang begitu berarti.

Dia bukan menyalahkan Rukia, tentu saja tidak. Tapi ia menyumpah pada Cirucchi yang membantu pamannya dalam hal ini dan bodohnya komisaris perusahaan ini, kenapa membiarkan kursi jabatan manajer keuangan perusahaan ini untuk kosong lebih dari 8 bulan itu? Dan kenapa dirinya tidak memproteskan hal itu pada kotak saran di perusahaannya dan meminta pos manajer keuangan itu untuk diisi 8 bulan yang lalu. Sudah selama itu dia bekerja disini. Menjadi salah satu karyawan bagian marketing karena kepandaiannya dalam mengontrol bisnis yang begitu membantu manajernya dulu.

Dan setelah dua minggu yang lalu ia diangkat menjadi manajer keuangan, baru hari ini dia mendapati sesuatu yang mengganjal seperti bom waktu yang siap diledakkan-laporan keuangan yang dimanipulasi. Dan seketika ia keluar di lantai 15, hp flip hitamnya berbunyi. Dari penelepon yang nomornya sudah ada di dalam kontaknya. Lalu ia hanya segera menjawab, sedikit kaku.

"Siapa?" tegasnya. Oh God, untuk ukuran gadis polos seperti dirinya, tentu pria itu terlalu meninggikan suaranya.

Flashback End

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Gadis Kuchiki itu memperhatikan meja manajer lagi. Dua kali dalam hari ini – walau ia dimarahi – tapi ia juga mendapat hal yang membuatnya bersenang hati. Gadis raven yang sudah duduk di meja kerjanya itu tersenyum geli jika mengingat obrolannya dengan si manajer orange di dalam lift tadi.

"Hey, Ruki. Kau terlihat sedikit menakutkan, ada apa?" tanya Rukia.

"Aku tadi mempraktekkan e-mailmu tapi dia bilang kau mengerjaiku," jawab Rukia polos.

"Nani?" pekik suara Rangiku keras. Untung saja manajer orangenya tidak ada di mejanya sekarang. Jika iya, maka dirinya tidak akan selamat dari tatapan mematikan milik Ichigo.

"Kau mempraktekkannya?" tanya Rangiku tak percaya.

"Jadi benar kau mengerjaiku, Ran?" tanya Rukia.

Gadis itu menyunggingkang senyuman menyesal dan haru, antara percaya dan tidak saat gadis itu mengatakan hal yang sebenarnya pada dirinya. Gadis itu benar-benar polos, ya ampun.

"Maaf," ucapnya tercekat. "Kau menciumnya? Dimana?" tanya Rangiku.

"Pipi," ucap Rukia, gadis itu memerah saat membayangkan perbuatannya tadi.

"Ya ampun, untunglah Ruki, lalu kau melakukannya dimana?" lanjutnya.

"Lift?" ucapnya ragu.

"Tak apa Ru, selangkah lebih maju, oke," ucapnya.

Ya. Perkataan Rangiku ada benarnya. Ia harus maju.

"Oh ya Ran."

"Ya, ada apa?"

"Pernahkah tanganmu dijilat oleh Gin?" tanyanya ragu, "Maksudku saat kau menyuapinya lalu ada butiran-butiran makanan itu ditanganmu, apakah dia.. pernah melakukannya?" lanjutnya.

"Oh, itu akan sangat romantis Ru, tapi Gin belum pernah melakukannya padaku. Aku akan mencobanya di kencan berikutnya, terima kasih nasehatmu. Kau pernah melakukannya? Dengan siapa?" lanjutnya.

"Oh, itu. Aku.. melihatnya di dorama tadi malam," jawab Rukia, wajahnya memerah lagi.

"Kau begitu mengagumkan, Ru." Puji Rangiku atas wajah Rukia yang bersemu merah, ia berkata jujur.

"Arigatou," ucapnya lembut.

Lalu gadis itu kembali menatap ke meja manajernya. Kotak 9x9 cm nya – dengan tinggi sepanjang cokelat pepero – yang diberikan tadi pagi masih disana, 8 muffin yang diletakkan di dalamnya belum berkurang satu bijipun. Gadis itu hanya menghela napas panjang tanda kecewa lalu menggembungkan pipinya.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Ketika jam menunjukkan pukul 16.57 JST pria berkepala orange itu baru kembali ke ruang kantor. Dengan terburu-buru, ia masuk ke ruangan dan sesekali menjawab telepon dengan bahasa Jerman.

"Dich um einen Gefallen bitten?*" ucapnya.

Beberapa dari bawahannya hanya bisa memandang sebentar lalu memberesi meja mereka sendiri karena sebentar lagi saatnya pulang sedang sepasang mata amethyst itu begitu bersemangat memperhatikan. Sedang saat Ichigo mengambil tas kerjanya dan hampir keluar dari ruangan, pria itu kembali lagi ke mejanya. Mengambil kotak bekal yang diberikan oleh gadis raven.

"Einen moment bitte,*" ucapnya lagi lalu mengapit ponselnya antara bahu dengan telinganya lalu memasukkannya kedalam tas. Barulah ia benar-benar keluar dari kantornya dan gadis bersurai raven itu mengembangkan senyuman lebar di bibirnya.

Dua hari setelah kejadian itu, pria berambut orange hanya bisa menyibukkan diri di luar kantor. Ia hanya muncul disaat jam makan siang. Yang ia lakukan adalah mengembalikan kotak bekal milik Rukia dan untungnya gadis itu ada di dalam ruangan seperti beberapa hari yang lalu. Pria itu masih menggodanya dengan roti isi kacang hijau. Pria itu memakan potongannya dari jari Rukia tapi kali ini tanpa menjilat tangannya dan sebelum pria orange itu meninggalkan si gadis raven, dia bilang dia sangat menyukai muffin strawberry buatan Rukia dan tentu saja hal itu sukses sekali membuat si gadis mungil bersemu wajahnya dan hatinya berteriak gembira.

Gadis raven itu masih berkutat dengan pekerjaannya – pembuatan faktur – yang sebenarnya bisa dilakukannya besok pagi, tetapi dia memilih lembur hari ini dan besok hari senin ia bisa agak lebih santai. Lagipula tidak ada salahnya sesekali lembur apalagi jika ada tambahan gaji. Ia hanya tinggal sendirian di ruangan itu, teman-temannya yang lain lebih suka tidak lembur hari ini – malam minggu – ingin mereka habiskan dengan keluarga dan orang-orang terkasih mereka. Sedang Rangiku, gadis itu bilang dia akan mempraktekkannya – soal jilatan tangan – hari ini. Mencobanya.

Ruangan itu sudah meremang, hanya satu lampu yang dihidupkan. Itu saja hanya tepat di sekitar tempat duduk Rukia. Gadis itu berjalan menuju arah meja dispenser. Ia mengambil satu cangkir lalu membuat kopi hitam untuk dirinya sendiri barulah kemudian ia menuju sofa yang kelihatannya empuk itu. Bukan tujuannya untuk duduk di sofanya, tetapi gadis itu duduk membelakangi pemandangan. Ia duduk di atas sandaran, menyebabkan kakinya tak menginjak ke lantai walau dia sudah mengenakan heels yang tinggi. Ia mencoba memperhatikan meja manajernya dari situ. Ia menyesap kopinya kemudian ia meletakkan di pangkuannya, dan ketika itu sebuah suara mengagetkannya.

"Kau belum pulang?" ucap sebuah suara.

Dan ketika itu juga, gadis raven mengeluarkan jeritan kecil, tubuh mungilnya yang tidak bisa seimbang itu jatuh ke bawah, ke sofa dan kopi hitam panas yang baru diteguknya sekali itu membanjiri tubuh bagian depannya. Gadis itu terjatuh ke sofa dengan kepalanya duluan dan menindih kaki seseorang yang berada disana. Sedang cangkir itu sudah tergeletak disamping gadis itu.

"Aku mengagetkanmu?" tanya orang itu dan suara itu milik Ichigo.

Gadis raven itu meoleh ke arahnya.

"Apa itu panas?" tanya Ichigo saat dirinya menatap ke arah Rukia.

Gadis itu hanya diam saja tetapi sudut matanya mulai basah.

"Ya Tuhan, maafkan aku, itu pasti sakit," ucap Ichigo, ia sudah mulai bangkit dari tidurannya lalu membantu Rukia untuk duduk dengan benar. Mereka duduk berhadapan sekarang, duduk dengan benar.

Pria itu sudah mulai memegangi kemeja Rukia, lalu membuka satu kancingnya.

"Manajer mau apa?" tanyanya, tangan kanannya sudah memegangi lengan Ichigo.

"Membuka bajumu dan mendinginkan tubuhmu, aku tidak akan memaafkan diriku jika kopi sialan itu meninggalkan bekas luka bakar di tubuhmu," ucapnya, ada kilatan marah saat ia mengatakan itu. Pria itu sepertinya benar-benar serius tak akan memaafkan dirinya jika hal itu sampai terjadi.

"Tapi manajer…"

"Kumohon," ucap Ichigo, mata ambernya menatap lembut pada Rukia.

Rukia begitu terbawa suasana karena tatapan manis dari Ichigo - yang pernah ditunjukkan padanya saat pertama kali bertemu. Wajah gadis itu memerah, walau ruangan itu memang remang tetapi karena malam ini bulan purnama jadi wajah memerahnya terlihat begitu jelas. Kemudian gadis itu pun menurunkan tangannya lalu membuang muka kearah samping, malu.

Ichigo membuka kancing baju Rukia dengan tempo cepat tanpa menghilangkan kesan lembut yang dibuatnya. Pria itu memperhatikan wajah tirus gadis raven itu lagi, wajahnya tambah memerah sampai ke telinga, sementara gadis itu memainkan bibirnya gugup, si pria orange itu menyunggingkan senyuman.

"Kau memakai leopard underwear seperti ini, siapa yang ingin kau rayu?" tanya Ichigo. Ia menyunggingkan senyuman khasnya lagi.

Gadis itu secepat kilat menatap Ichigo dan menggeleng penuh semangat, "Ran memaksaku membelinya."

"Dan kau mengikuti sarannya," ucap Ichigo. Itu pernyataannya.

Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya cepat.

"Gadis yang manis," ucap Ichigo lagi.

Rukia menatapnya tak mengerti.

"Kau yang manis," jawab Ichigo seakan tahu apa yang dipikirkan gadis manis di depannya. Tubuh Ichigo bergerak mendekat ke arah Rukia, sedangkan gadis itu malah semakin memundurkan tubuhnya.

"Angkat kakimu dan berbaringlah di sofa," ucap Ichigo datar.

"Ah, ehnn," ucap Rukia, gadis itu mengangguk setuju.

Sedang pria orange itu mengangkat tubuhnya dari sofa, memberikan ruang agar gadis itu mengangkat kakinya. Seperti tak di duga gadis itu, si kepala orange dengan perhatian melepaskan heels yang dipakai Rukia.

"Leopard lagi, huh?" tanya Ichigo ketika dirinya sudah melepaskan satu heels dari kaki mungil Rukia.

Gadis itu tidak menjawab karena ia yakin pertanyaan Ichigo tak perlu dijawab olehnya. Pertanyaan retoris.

Satu lagi heels yang dibuka oleh pria itu dan tentu saja gadis raven segera menaikkan kaki porselen nan mungilnya. Tidak berhenti di situ saja, pria orange itu menyusul si gadis raven di sofa. Mengisi sela-sela kaki Rukia dengan kakinya sendiri.

"Manajer," ucap Rukia hamper tercekat.

"Aku bilang tidak ingin meninggalkan bekas, sayang," ucap Ichigo. Tubuhnya sudah mendekat pada Rukia dan mau tak mau gadis itu memundurkan tubuhnya, menyenderkan kepalanya di pinggiran sofa. Sedang tubuh Ichigo sudah bertumpu pada kedua sikunya. Pria itu menatap gadis raven dengan intens.

"Angkat kepalamu dan miringkan," ucapnya, ingin dituruti.

Gadis itu hanya bisa menelan ludah dengan sangat sulit, lalu melakukan perintah Ichigo dengan tertib.

"Aku memang seperti itu sayang, dominan*," ucapnya cepat seakan bisa membaca pikiran Rukia.

Pria itu sudah merendahkan tubuhnya, lalu dengan segera meletakkan wajahnya di bahu Rukia. Pria itu menjilatnya, membersihkan serbuk kopi hitam itu dari tubuh Rukia dengan mulutnya. Kemudian turun ke bawah hingga belahan payudaranya. Sedikit terganggu dengan bra Rukia, pria Kurosaki itu menariknya ke bawah. Dan seketika itu tubuh gadis dibawahnya menggeliat resah.

"Hhhhnnngg, … mana…jer …tang..ngan," ucapnya dengan desahan tertahan. Bibirnya ditutupinya dengan punggung tangan mungilnya.

Ichigo menghentikan aksinya, lalu menatap wajah gadis itu. Peluh sudah menyeruak keluar dari beberapa titik, wajah gadis itu masih memerah. Kemudian, pria itu, Ichigo, menggoda. Menggerakkan dua jemarinya yang tidak sengaja menyentuh aerola Rukia. Gadis itu menggeliat resah lagi. Bahkan paha gadis itu beberapa kali mengenai kakinya. Membuat rok lipit selutut milik gadis itu bergerak naik, mengekspose sedikit pahanya.

'Ekspresif,' pikir Ichigo. Lelaki itu menyunggingkan senyum mautnya lagi.

"Maaf," ucapnya dengan nada sungkan.

Lalu pria itu memulai kembali, sekarang tangannya berada di kedua sisi tubuh Rukia, menyentuhnya. Meletakkan jempol tangannya tepat dibawah payudara. Ia memulai dibagian perut gadis raven terus turun hingga pusar gadis itu. Lalu berhenti. Benar-benar berhenti dengan peluh yang sekarang berganti menetes dari wajahnya.

Gadis itu masih membekap mulutnya dengan punggung tangannya. Ia takut mengeluarkan suara aneh yang akan dipikir oleh manajernya 'itu menjijikkan'. Matanya berubah sayu, benar-benar sayu.

Pria itu memegang tangan Rukia, lalu mencium punggung tangan bekas untuk menyumpal bibirnya. Pria itu melirik gadis raven dengan sudut matanya. Memperhatikan perut gadis itu yang masih kembang kempis tak beraturan. Gadis itu terangsang.

"Jangan membuat wajah yang mengatakan kau ingin bercinta denganku, sayang," bisik Ichigo parau.

Gadis itu masih menatapnya dengan pandangan sayu, begitu kosong hingga dia tak bisa berkata apa-apa.

Pria itu sekali lagi mendekatkan wajahnya, sekarang pada wajah Rukia lalu mengecup bibirnya. Manis. Pria itu tak bisa menahan lagi untuk tidak mencium bibir gadis itu. Tak ada perlawanan, bahkan gadis itu membiarkan Ichigo melumat bibir tipis miliknya dan tangan mungilnya menelusuri kepala Ichigo, meremas rambut orange itu lembut lalu membalasnya.

Sekitar lima menit pria orange itu menciumi si gadis raven, selama itu juga hanya empat kali pria orange itu membiarkan gadis raven dan dirinya sendiri menghirup napas. Lalu setelah itu, gadis raven terdiam. Ia pingsan.

"Jangan tertidur tanpa perlindungan sayang, lain kali jika kau tak berpakaian lengkap seperti ini aku akan bercinta denganmu walau itu artinya aku memperkosamu," bisiknya didepan wajah Rukia. Lalu dia mengecup bibir Rukia lagi.

"Dan jangan membuatku menunggu lama, penuhi hati dan pikiranmu dengan namaku. Aku tak akan membiarkan ruang kecil walau disudut hatimu ada nama laki-laki brengsek Grimmjow itu," desisnya. Ia mulai memberi kiss mark di bahu Rukia dan beberapa tempat lainnnya. Pria itu jatuh cinta kepada gadis lemon itu. Dan itu bukan hanya delusi* semata.