Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!
Pairing : IchiRuki
Genre : Romance
Rate : M
Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya.
Untuk kali ini saya upload lagi dan semoga tidak menyalahi guidelines di FFn.
Part IV
Pria bersurai orange itu sudah mulai membenahi kemeja yang dipakai si gadis mungil. Ia mengancingkannya dari bawah dengan tetap menyunggingkan senyum manis. Tadi gadis itu sudah tersadar, hanya sebentar dan kemudian tertidur. Mungkin karena kelelahan.
Pria itu berhenti beberapa saat sebelum tangannya mengancingkan kemeja Rukia yang terletak tepat dibawah payudara milik gadis itu. Pria orange itu menggerakkan tangannya menuju cup bra leopard milik Rukia lalu sedikit memelorotkannya hingga menampakkan bagian kecoklatannya. Pria itu mendekatkan wajahnya lalu menjilatinya. Gadis itu memendesah dalam tidurnya. Hal terakhir yang pria itu lakukan sebelum melepaskannya adalah mengigit dengan bibirnya.
Ichigo memperhatikan sebentar, saliva miliknya menempel begitu basah disana. Ia melepaskan cup bra Rukia lalu mendesah pelan sambil memegangi pelipis kanannya dengan telapak tangan miliknya.
"Kau membuatku menjadi penjahat, sayang," ucap Ichigo. Barulah ia melepaskan jas kerjanya lalu menutupkannya pada kaki si gadis manis.
Hal yang dilakukannya kemudian adalah mengelap peluh yang muncul di wajah cantik gadis Kuchiki itu dengan punggung jemarinya. Saat memperhatikan wajah Rukia, si pria senja teringat akan ancaman yang diberikan oleh pamannya, Kaien Shiba.
"Segeralah mencintaiku," mohonnya lalu mengelus lembut pipi Rukia.
Lalu pria itu meninggalkan ruangan kantornya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Flashback
"Siapa?" tegasnya. Oh God, untuk ukuran gadis polos seperti dirinya, tentu pria itu terlalu meninggikan suaranya. Nomor gadis yang sudah berada di ponselnya lebih dari sebulan yang lalu, bahkan sudah ada sebelum dia diangkat menjadi manajer keuangan.
"Maaf manajer, aku tidak tahu dimana anda sekarang jadi aku ..."
Itu suara gadis mungil yang begitu menawan hatinya. Untunglah gadis itu masih bersuara biasa, tidak terpengaruh gertakannya.
"Lantai 15, ruangan direktur idiot perusahaan ini, mengerti?" ucap Ichigo datar. Lalu mematikan hubungan pendek itu. Dia sedikit mengendurkan dasinya bukan gugup, hanya sedikit masih tertinggal rasa amarah kepada pamannya.
Lelaki orange itu segera berjalan menuju ruangan pamannya. Ia menerima telepon dari Rukia saat dirinya sudah berada di luar lift. Sedikit frustasi ia menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Bajingan itu membuatku gila," desisnya.
Barulah setelah ia berucap seperti itu untuk memuaskan mulutnya, ia berjalan lebih cepat ke ruangan direktur. Saat dirinya melewati resepsionis, tak ada sekretarisnya disana jadi ia memutuskan untuk langsung masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu dan langsung bersuara begitu keras.
"Paman! Aku ingin bicara," gertaknya tak sabar. Lalu wajah tampannya berubah kaget saat itu juga.
Ia tidak sopan masuk begitu saja kesana sedang pamannya sedang berbicara dengan beberapa orang di sofa yang terletak di sebelah kanan pintu.
Pamannya hanya menyunggingkan senyum manis sambil menatapnya sedang beberapa pasang mata lainnya mengikuti arah pandangan pamannya.
"Anak tampan, kemarilah," ucap paman ravennya. Ia masih menyunggingkan senyum manisnya.
"Maaf, aku bicara nanti saja, sepertinya aku mengganggu," ucapnya, dia menarik slot pintu, bermaksud menutupnya.
"Tidak baik anak tampan, mereka ingin bertemu denganmu," jawab Kaien. Ia masih tetap menyunggingkan senyumnya.
Sebenarnya pria orange itu malas jika harus bertemu orang-orang baru, apalagi itu tidak ada hubungan apapun dengannya, entah masalah pekerjaannya yang dijabat sekarang maupun dalam hal pribadinya. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk masuk juga, hanya formalitas.
Pria orange itu menyunggingkan senyum sambil masuk ke kantor pamannya. Dari aksen dan wajah mereka sepertinya mereka adalah klien dari US. Setelah ia masuk, mereka menjabat tangan Ichigo dan memberi salam, hanya sebatas itu lalu mereka berpamitan dan keluar.
"Antonio Xavier dan Ian McAlister," ucap pamannya.
"Ya, itu memang nama mereka bukan?" ucap Ichigo sengit.
Paman tampannya itu menyunggingkan senyuman lagi kemudian berucap, "Hanya ingin mengingatkan, mereka mitra penting."
"Mitramu, bukan mitraku, paman," tegasnya.
"Sebentar lagi punyamu," jawabnya santai.
"Hentikan!" sungutnya marah, "Jadi, laporan keuangan juga masuk dalam rencanamu?" tanya Ichigo.
"Begitulah, sangat rapi bukan?" tanya Kaien.
"Paman!" bentak Ichigo. Ia menggedor meja yang ada di depannya. Wajahnya memerah karena marah. Ia begitu kesal padanya.
"Kenapa? Perusahaan ini milik ayahmu! Jabatanku ini milikmu."
"Beri aku waktu," ucap Ichigo frustasi dalam duduknya.
"Waktu? Sekarang, besok atau kapanpun itu akan sama saja anak tampan," ucap pamannya, ia mulai tidak sabar.
"Tapi bukan dengan cara seperti ini! Dipecat karena korupsi?" ucap Ichigo, nadanya mulai meninggi.
"Karena aku tidak bisa memikirkan cara yang lebih halus dari itu."
"Kau hanya ingin memojokkanku," ucap Ichigo cepat.
"Tentu! Keras kepalamu itu menyulitkanku," jawabnya penuh alasan.
Gigi Ichigo mulai bergemeletuk kacau. Ia sudah mulai tidak sabar akan jawaban-jawaban dari mulut pamannya. "Akan sangat menggelikan jika aku tiba-tiba menjadi direktur dan aku tak punya pengalaman paman."
"Tidak akan ada yang menertawakanmu, sudah cukup baik reputasimu di Jerman 8 bulan lalu. Itu sudah cukup bagimu. Menjadi direktur 2 perusahaan itu tidak mudah, tampan," lanjut pamannya. Dengan perkataannya itu sinar mata Ichigo melembut lalu sedikit gelisah.
"Apa yang menghalangimu sebenarnya? Kenapa kau tidak ingin menjadi direktur?" tanya Kaien.
"Tidak ada," jawabnya singkat. Ia menatap pamannya datar.
Kaien menghela napas, "Apa alasanmu berhubungan dengan wanita?"
Ichigo memasang poker face pada pamannya. Malas mengikuti arah pembicaraan mengenai hal ini.
"Aku anggap diammu sebagai ya, Ichigo. Lalu apa masalahnya?" tanya pamannya.
"Dia punya pacar dan aku baru berniat merebut dia dari kekasihnya," jawab Ichigo. Sedang wajahnya menunjukkan pandangan mematikan yang kadang ditunjukkannya pada bawahannya.
"Wow, so brave," ucap Kaien, ia mulai bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah pintu, "Aku tidak peduli bagaimana kau mendapatkannya, yang aku mau dia menjadi milikmu dua bulan lagi," lanjutnya.
Kaien pergi meninggalkan Ichigo di ruangannya. Lalu dengan segera pemuda orange itu mengejar pamannya dengan kasar dibanting pintunya lalu dia menarik krah kemeja pamannya.
"Aku mengerti, akan aku lakukan dan soal direktur…" Ichigo berhenti sebentar "Tidak bisakah kau sabar untuk 2 atau 3 tahun lagi?" bentak Ichigo kesal. Sedang pamannya itu tidak bergeming. Dia diam di tempatnya.
Dan saat itulah gadis mungil Ichigo datang mendekat dan sedikit berteriak sarkastik*.
Dan saat itu pula ia tahu, pamannya tidak akan main-main soal membuat dirinya sendiri menjadi tersangka penggelapan uang jika Ichigo tidak menurutinya. Ia terlalu mengenal pamannya. Terlalu mengenal mata hijau aqua seriusnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Alarm jam di kamar Kuchiki terdengar begitu berisik. Si empunya hanya bisa menengkurapkan tubuhnya lalu menindihi kepalanya sendiri dengan bantal dan kaki mungilnya ia pukulkan ke kasurnya. Gadis itu belum sukarela bangun dari tidur pendeknya.
Dengan cepat ia gunakan tangannya meraih jam beker di meja dekat tempat tidurnya. Jemarinya dengan cekatan menyumpal jam bekernya. Karenanya dengan sadis ia meng - off kan benda mati itu. Ia menekan bantal diatas kepalanya lebih kuat dan itu hanya bertahan beberapa detik.
Gadis itu gila. Ya! Mana mungkin tidak? Terlalu banyak hal yang terjadi, oh ayolah, gadis itu membayangkannya saja sudah malu. Dia membuang bantalnya kearah samping. Ia bangkit dari tidurnya lalu duduk dengan sedikit nervous lalu menggigit jari telunjuknya, berpikir bagaimana caranya untuk berhadapan dengan manajernya hari ini.
Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal tetapi kemudian mengingat kejadian tadi malam secara konstan*. Dari kejadian tumpahan kopi, kenyataan bahwa tadi malam ia membiarkan tubuh bagian depannya terekspos, manajer yang menjilatinya hingga ciuman itu.
Ya Tuhan, dirinya masih bisa merasakan betapa hangatnya napas si orange itu yang menerpa wajahnya, merasa betapa lembut bibir manajernya menyapu bibir mungilnya secara intens dan berkebutuhan. Dari mengecup hingga memagut. Dari menjilati hingga menggunakan lidah mereka untuk beradu dan bagian paling mengesankannya adalah dirinya membalas – walau ia yakin dirinya tak semahir gadis seumurannya – meremas-remas rambut manajernya dan disaat itu pula gadis raven mengetahui betapa bidangnya dada Ichigo. Gadis itu memerah, dan tambah memerah saat dirinya ingat bahwa Ichigo berkata dia bisa saja memperkosa Rukia sambil menggerakkan bibirnya sendiri dan lelaki itu terlihat lebih sexy.
Dan hal selanjutnya ia tak tahu lagi karena seketika itu pandangan Rukia mengabur lalu pingsan. Sungguh memalukan! Yang paling membuatnya merasa malu lagi, dia sudah ada di kamar tidurnya ketika ia terjaga pukul 1 dini hari dan hal itu pula yang menyebabkannya tak bisa tidur kembali.
Rukia segera bangkit dari tempat tidurnya lalu berlari keluar dari kamarnya turun ke lantai satu, hal pertama yang dilakukannya ialah menuju dapur mencari nee-sannya dan disanalah ia.
"Pagi-pagi sudah ribut sekali Rukia, ada apa?" tanya kakaknya, Hisana. Ia sedang sibuk membentuk telur yang ia buat menjadi tamagoyaki dengan campuran potongan daun bawang dan wortel.
"Nee-chan, yang mengantarku tadi malam siapa?" Tanya Rukia. Ia gugup dan menenangkan dirinya dengan menggigit bibir bawahnya.
"Rambutnya nyentrik. Sepertinya dia bernama Kurosaki Ichigo jika aku tak salah ingat," jawab nee-channya lalu dia menatap kearah Rukia.
Rukia sedikit melongo lalu bersua, "Aku … ya Tuhan, aku melakukan hal bodoh nee-chan," ucapnya.
Nee-channya terkikik geli, mengabaikan Rukia sebentar lalu menuangkan telur lagi, ini yang ke lima kali sehingga tamagoyaki itu sudah terbentuk sedikit rapi. "Ya, sejak awal," jawabnya singkat.
"Huh?" tanya Rukia sedikit tak mengerti.
"Dia bilang kau lembur sampai tertidur dan dia membopongmu, dari ruanganmu ke parkiran lalu dari jalan hingga ke kamarmu," jawab nee-channya.
"Aku pikir itu masih normal," jawab Rukia asal. Ia mengira tadi nee-channya mengetahui hal yang terjadi sebelum ia tertidur.
"Tapi kau sama sekali tidak terjaga sweetheart. Kau tidur seperti babi kekenyangan," ejek nee-channya. Ia sudah tertawa lebar lagi dan masih berkonsentrasi ke tamagoyakinya.
"Jangan mengejekku, nee-chan," kesal Rukia.
"Oh itu belum apa-apa sayang!" ucap nee-channya, ia sudah menatap sepenuhnya ke Rukia, "Kau bahkan tak membiarkan dia menidurkanmu diatas kasur dan memeluknya sambil memanggil chappy…. chappy..," lanjutnya sambil menirukan suara Rukia saat menyebut kata chappy.
Wajah Rukia begitu pucat saat ia membayangkan hal yang begitu memalukan. Lebih memalukan daripada saat ia tak sadarkan diri karena ciuman.
"Nee-chan," ucap Rukia tercekat, "Beritahu aku bagaimana caranya menatap Ichigo hari ini," pekiknya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Ichigo terbangun ketika dirinya mendengar suara bel kondominiumnya berbunyi. Dengan sedikit malas ia merangkak keluar dari selimutnya kemudian ia keluar dari kamar besarnya. Sebelum membuka pintu, ia menatap pada layar peepholenya, melihat siapa yang mendatanginya pagi-pagi seperti ini dan ya, dirinya mengenal orang itu. Dengan cepat Ichigo membuka pintu kondominiumnya.
"Halo," sapa orang itu.
"Hai, Sado. Masuk?" tanyanya datar.
"Tidak perlu, aku hanya mengantar dokumen pesananmu," jawab Sado. Ia mengulurkan kumpulan dokumen yang sudah berada di dalam bag folder. "Aku hanya tidak ingin saat aku sampai disini kau sudah tidak ada," lanjutnya.
Ichigo menerima bag folder itu, "Oh, begitu. Terima kasih untuk ini," jawabnya sambil mengacungkan bag folder itu.
"Kurasa itu saja, maaf mengganggu pagimu kawan," ucap Sado.
"Tidak masalah," jawab Ichigo ia menaikkan sedikit bibirnya tersenyum singkat.
"Sampai jumpa," ucap Sado sebelum pergi dari hadapan Ichigo.
"Yoo," jawabnya santai.
Pria orange itu segera masuk kembali. Meletakkan dokumen itu diatas meja tamu, kemudian pria itu berjalan kembali kedalam kamar dan menuju kamar mandi. Ia membasuh mukanya beberapa kali di wastafel lalu mengosok gigi dan tanpa bisa diingkari wajah Rukia muncul dalam bayangannya. Tadi malam ia mengantarkannya pulang kerumah – tidak dalam keadaan sadar – tentu saja.
Ada satu hal yang membuatnya tambah menyukai gadis itu. Dia punya sisi childish yang menyebabkan gadis itu tambah imut di mata Ichigo. Hal lucu yang terjadi karena itu adalah saat dirinya mencoba meletakkan tubuh gadis itu diatas tempat tidur, tetapi gadis raven itu malah mengencangkan pegangan tangannya pada punggung kekarnya sedang tangan yang satunya milik gadis itu meraba-raba bagian depan tubuhnya, dari dada sampai ke pinggangnya, mengira ia adalah boneka kelinci besar yang digunakan Rukia untuk menemani tidur dan memanggilnya Chappy.
Sedikit menahan geli dan rasa ingin mencubit Rukia malam kemarin karena Hisana, kakak Rukia sedang memperhatikannya, jadi dirinya menahan diri, berusaha membuat wajah datar semirip bata.
Sedang kakak perempuan Rukia tertawa geli dan berkata padanya. "Maafkan adik manisku. Errrmm.. maaf aku belum tahu namamu," ucap Hisana.
"Kurosaki Ichigo," jawabnya, ia menyunggingkan senyuman walau tipis. Ichigo tak jadi menidurkan Rukia, badan kekarnya ia tegakkan lagi.
"Kurosaki-san, maaf menyusahkanmu," ucap Hisana. Ia menyunggingkan senyuman. "Setidaknya, … maksudku duduklah dulu diranjang dan bisakah kau biarkan Rukia tidur dulu seperti itu dipangkuanmu 10 sampai 15 menit lagi?"
"Sepertinya bukan masalah besar," jawab Ichigo datar.
"Terima kasih," ucap Hisana kemudian.
Ichigo duduk di ranjang. Kamar itu begitu manis, terdiri dari warna antara ungu muda, putih dan pink. Ada juga beberapa peralatan yang terbuat dari kayu. Guci-guci kecil keramik dan photo anime bertema kelinci yang menghiasi dinding kamar itu. Cermin panjang yang bisa menampakkan seluruh tubuh dan sprei warna hijau muda.
Hisana ikut duduk, agak jauh dari Ichigo kemudian kembali berkata, "Adikku beruntung mempunyai teman sepertimu dan juga tidak biasanya dia seperti ini," ucapnya.
"Ya?" Ichigo berkata dengan nada bertanya.
"Tertidur sampai seperti itu dan menganggap seseorang menjadi bonekanya," ucapnya lalu ia menunjuk pada boneka kelinci yang berukuran jumbo yang diletakkan diatas meja, tak jauh dari ranjang Rukia.
Ichigo tersenyum, dan senyum itu begitu manis, mengalihkan pandangan dari boneka ke wajah Rukia, "Mungkin dia kelelahan," ucapnya dan tanpa sadar tangannya kembali menyibakkan rambut yang menutupi wajah Rukia.
"Baiklah, aku akan keluar dan membuatkanmu sesuatu," ucap Hisana tersenyum, barulah ia bangkit dan pergi dari kamar Rukia.
Saat Ichigo mengatakan 'Tidak usah repot', Hisana sudah tidak ada di kamar Rukia. Jadi disinilah ia sekarang, dikamar ungu muda Rukia, membopongnya, mengamatinya dan tubuh mereka dekat.
Pria itu menghela napas ketika Rukia merancau dalam tidurnya. Gadis itu sudah seperti afrodisiak* baginya dan dalam khayalannya, Ichigo menganggap itu sebagai desahan.
Gadis raven didekapannya, dan bibir itu…. Rasanya pria itu ingin sekali lagi mendekatkan bibirnya, merasa, menjilat, mengecupnya, menyesapnya lalu mengulumnya,dan bermain-main disana, menggoda Rukia. Meraba-raba tubuhnya dan menelanjanginya, menindihnya dan…. Oh, sial. Tenang Ichigo. Gadis manismu memang dipangkuanmu sekarang tapi ini salah, dasar tolol. Kau harus bisa menjaga diri.
Ichigo meletakkan Rukia dengan hati-hati ke kasurnya, tapi tangan gadis itu tak bisa diam saja. Ia tetap saja meraba-raba dada Ichigo dan karena tangan itulah Ichigo hampir menggeram. Pria itu dengan cepat melepaskan tangan Rukia dari jasnya dan secepat kilat menyambar boneka kelinci dan diletakkan disamping Rukia, barulah pria itu mencuri kecupan di pipi gadis Kuchiki.
Dengan langkah cepat ia keluar dari kamar Rukia dan turun dari tangga, tapi saat Ichigo turun, dia berpapasan dengan Hisana.
"Sudah ingin pulang Kurosaki-san?" tanya Hisana.
Ia hanya mengangguk singkat, "Sampai jumpa Kuchiki nee-san," ucapnya lalu berlalu.
"Ano… Kurosaki-san, tehnya?" tanya Hisana. Ditangannya memang terdapat nampan yang berisi dua cangkir teh.
"Maaf telah merepotkan tapi lain kali saja, Kuchiki nee-san, sampai jumpa" jawabnya. Ia menunduk memberi salam kemudian Ichigo benar-benar keluar dan pergi, yang terdengar hanya suara mobilnya yang semakin menjauh.
Sedang Hisana masih berdiri di tangga, menyungging senyuman. Barulah ia kembali ke dapur rumah miliknya dan meletakkan nampannya disana, meminum satu tehnya.
Ichigo hampir menelan pasta giginya ketika bel pintu kondominiumnya berbunyi, dipencet berkali-kali dengan cepat. Berisik sekali! Siapa lagi sebenarnya yang mengganggunya pagi-pagi seperti ini?
Ia berkumur dengan cepat, mengambil ponselnya dulu di kamar karena dari tadi tak berhenti berbunyi. Ia melihat ke layarnya. Oh, si menyebalkan.
Ichigo memencet tombol dial up dan menghubunginya. Dan saat penerima telepon itu hampir bicara, Ichigo mendahuluinya.
"Pulanglah. Aku tidak akan membukakan pintu untukmu!" hanya seperti itu dan pria itu menutup teleponnya.
Untung bagi Ichigo karena gadis yang ditelepon tadi dan sudah ditolaknya itu tidak mengganggunya lagi. Tidak dengan e-mail, telepon atau lolongan bel pintu yang berbunyi nyaring. Ichigo segera bersiap diri, mengambil suit yang akan digunakan hari ini. Ia melangkah masuk lagi ke kamar mandi, membersihkan diri dengan mandi pagi.
Rukia yang masih menyunggingkan wajah 'sedikit tertekan' itu hanya bisa mengulak-alik nasi putih yang ada di depannya. Ia dan nee-channya sedang sarapan dengan itu, dilengkapi tamagoyaki dan saus tomat. Harusnya ketiga jenis itu yang sudah disajikan untuk saling melengkapi, bisa menggugah selera karena Rukia sangat suka dengan menu simple itu sebagai sarapan hari ini..
Rukia menaikkan kaki kirinya keatas kursi, menekuknya lalu meletakkan kepalanya tepat di siku kaki dan melepaskan sumpit dari tangannya. Nee-channya yang duduk didepannya hanya bisa menyungging senyum. Perbedaan Rukia dan kakaknya, jika Rukia tidak punya lesung pipi maka tidak dengan Hisana.
"Ru, celana dalammu bisa terlihat, kenapa kau bisa segalau itu memikirkan kejadian tadi malam? Anggap saja hal biasa, sama halnya saat kau mabuk dan sebangsanya," ucap Hisana.
Rukia menurunkan kakinya dan menegakkan tubuhnya, memang benar dari kmarin ia tidak berganti baju, masih mengenakan pakaian kerja, lalu ia menatap nee-channya.
"Tapi dia atasanku nee-chan, seperti kau dan supervisormu, semacam itu," keluhnya.
"Itu malah lebih simple, kau kelelahan bekerja untuknya jadi cukup berterima kasih saja, bagaimana?"
"Akan aku coba," jawab Rukia. Ia tersenyum cerah.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Gadis Kuchiki itu terhenti di tangga ketika ia mendengar nada panggilan masuk di ponselnya. Ia membuka hp flip ungunyadan menjawab.
"Selamat pagi Ran," jaawab Rukia, seperti biasa -atau sebutlah kadang-kadang, gadis berdada besar itu menghubunginya dipagi hari walaupun sebenarnya mereka bisa saja membicarakannya setelah Rukia sampai di kantor.
"Tadi malam ada apa?' pekik gadis itu kegirangan.
"Hnnnn...?" Rukia bertanya.
"Ayolah kohai, aku tahu terjadi sesuatu. Tadi malam manajer menghubungiku, dia menanyakan rumahmu," jawabnya dengan nada yang masih sama.
Oh, damn! Kenapa pria orange itu malah menghubungi Rangiku bukan temannya yang lain. Bukan masalah sebenarnya, Rangiku pintar menyimpan rahasiatetapi sebagai balasannya maka hari ini Rukia tak akan bisa tenang ditempat duduknya. Ia akan ditanyai lagi dan lagi. Lebih tajam dan lebih dalam jika ia merasa Rukia membohonginya.
"Oh," ucap Rukia berlagak tenang.
"Ayolah sayang, jujur padaku dan aku akan mencari cara agar ia lebih dekat padamu."
'Oh Tuhan, betapa baik dan manisnya ia. Terima kasih sudah memberi senpai seperti dia'. Rukia membuka mulutnya, "Sebenarnya hampir tidak terjadi apa-apa."
Hell yeah, mana mungkin ia akan jujur pada Rangiku jika dirinya sudah 50 langkah lebih maju walau tanpa sengaja. Arrrgg... dia mengingat jilatan Ichigo lagi pada tubuhnya dan perut rampingnya terasa geli seperti dihinggapi ratusan kupu-kupu. Jika ia jujur, gadis kuning pirang itu akan menyuruh Rukia untuk lebih menggoda lagi, jika perlu Rukia harus menari stiptise* didepan Ichigo, ia yakin seperti itulah komentar yang akan diberikan oleh Rangiku.
"Kau sedang tidak bohong kepadaku kan Ru?" tanyanya.
"Ayolah senpai untuk apa aku berbohong kepadamu? Dia hanya mengantarku. Itu saja," jawab Rukia.
"Lalu kenapa dia harus bertanya alamat rumahmu kepadaku?" tanyanya tak terima.
"Aku tidak sadarkan diri senpai," jawab Rukia, 'Karena aku tertidur seperti babi kekenyangan,' imbuhnya dalam hati.
"Kau pingsan Ru? Apa kau kelelahan? Tidak enak badan? Sudah minum obat? Apa hari ini perlu akau izinkan pada manajer kalau kau sakit?"
Lihat? Dia bahkan lebih perhatian daripada nee-channya, lebih cerewet daripada mendiang ibunya.
"Satu-satu senpai. Aku memang pingsan dan itu karena kelelahan. Nee-chan sudah memberiku suplemen dan hari ini aku masuk kerja. Manajer meneleponmu karena dia tak ingin mengganggu tidurku, kemarin aku tertidur di mobilnya dan aku hanya diantar pulang. Jika kau tak percaya, kau bisa bertanya pada nee-chanku, dia belum pergi ke rumah sakit," jawab Rukia komplit.
"Syukurlah. Apa ditengah jalan ia melakukan sesuatu padamu? Tidak mungkin tidak karena aku tahu dia menyukaimu."
'Ya, dia melakukan sesuatu! Menelanjangi tubuh bagian atasku dan menggoda tubuh bagian bawahku. Tapi itu hanya terjadi di mimpiku,' ucapnya dalam hati. Seketika wajah porselennya memerah. Ya Tuhan, jangan sampai ia bermimpi hal seperti itu lagi. Bisa-bisanya ia menjadi gadis pevert.
"Tidak," jawabnya datar, "Kau terlalu banyak nonton dorama senpai. Aku akan menutup teleponnya sekarang, senpai."
"Baiklah, kita lanjutkan percakapan ini di kantor," jawab Rangiku dan ia malah yang pertama kali menutup telepon.
Oh, please, jangan. Jangan lakukan percakapan yang membahas tentang tadi malam, sudah cukup buruk untuknya karena dengan membicarakan Ichigo logikanya bisa kalah oleh nafsunya.
"Huh, ..." Rukia menghela napas tanda lelah. Lelah karena pikiran mesumnya. Arrrgg... Ichigo mengubah dirinya menjadi wanita yang tidak seharusnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Dan benar tentu saja, Rangiku masih menunjukkan wajah penuh tanda tanya saat Rukiasudah datang ketempat duduknya. Tapi Rukia mengisyaratkan 'aku sudah menjawab semuanya' dengan tatapannya dan seketika itu juga Rangiku mengalah, tidak akan menanyainya.
Kedua gadis itu sudah berkutat dengan komputernya, seperti biasa menjalankan tugas hariannya. Rangiku dengan faktur-fakturnya dan Rukia dengan pasal-pasal manisnya.
Ichigo baru datang kekantor setelah jam menunjukkan pukul 10.30 JST. Sedang wajahnya dipasang seperti biasa, datar tanpa ekspresi, kaku seperti batu dan rapuh seperti kaca – jika sudah menyangkut emosinya – akhir-akhir ini yang kemungkinan besar karena pamannya.
Belum genap satu jam setelah Ichigo mendudukkan pantat di kursinya, Rukia memunculkan diri – setelah si Hinamori menanyakan tentang laporannya – membawa beberapa berkas tentang pajak pasal 21. Ichigo menerimanya dan Rukia menunggu. Suasana hening sehingga membuat situasi agak canggung.
"Manajer, soal tadi malam ...,"
"Nona Kuchiki," sela Ichigo.
"Eennhh... Ya," jawabnya halus.
"Kau berdiri disini dan menghadapku untuk apa?" tanyanya datar. Ia menatap Rukia lurus.
"Laporan pajak pasal 21," jawab Rukia. Ia tersenyum manis.
"Lalu apa hubungannya tadi malam dengan pajak 21 yang kau berikan padaku?" tanyanya, sedikit menaikkan nada bicaranya. Beberapa rekan Rukia menatapnya, bukan karena mendengar apa yang dikatakan oleh manajer orange itu, tetapi karena raut muka manajer itu yang sedikit berkabut.
"Tentu tidak manajer, hanya saja aku ..."
"Kau membuatku kecewa dan menurunkan penilaianku kepadamu. Jika tidak, seharusnya kau lebih profesional nona, jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan," ucapnya, masih dengan nada yang mengintimidasi.
Raut muka Rukia terlihat kecewa, ia merasa tersakiti. "Aku bukan ingin membahasnya, hanya saja aku ingin berterima kasih padamu, manajer. Secepatnya... aku tak ingin dianggap sebagai gadis tak tahu terima kasih," jelasnya. Amethystnya hampir berkaca.
Ichigo masih menatap Rukia dengan wajah datarnya. "Tidak perlu berterima kasih. Perbaiki ini, kau salah menghitung nominal dibagian tengahnya dan ini mempengaruhi semuanya," ucapnya.
Rukia hanya tertunduk lalu mengambil laporannya dan kembali ke meja kerjanya. Seharian itu dirinya seperti orang bodoh yang mengharapkan cintanya dibalas oleh si manajer. Kejadian malam lalu bukan suatu hal spesial bagi Ichigo, dan Rukia sadar akan hal itu. Seharian pula ia mencoba menghapus gambar-gambar erotis tentang dirinya dan manajernya itu dari kepala mungilnya. Mencoba melupakan hasrat liarnya yang sudah terbunuh tanpa ia berusaha mengikuti instingnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Jam sudah mulai menunjukkan pukul 6 malam. Rukia masih sibuk dengan ponsel yang ia genggam, membalas beberapa e-mail yang masuk. Ia menunggu Grimmjow di lobby perusahaan. Malam ini, lelaki berambut biru itu bermaksud membawanya ke mansion mewahnya, mempertemukan dirinya dengan kakek Grimmjow, sebenarnya lelaki itu juga ingin mempertemukan Rukia pada kedua orang tuanya, hanya saja kedua orang tua Grimmjow sedang liburan, honeymoon mereka yang entah keberapa.
Hanya selang sepuluh menit setelah lelaki itu mengiriminya e-mail dan dia sudah ada di hadapan Rukia. Gadis itu bersorak kegirangan, menumpahkan dengan cara memeluk pria biru itu dengan erat.
"Grimm, aku menyayangimu," ucapnya seketika, agak keras.
Banyak pasang mata memperhatikan mereka, sedikit ada tontonan seperti adegan dalam sebuah dorama. Pria biru itu hanya menyunggingkan senyuman lebar lalu melepas pelukan gadis itu. Lalu dengan segera pria itu mencium pipi Rukia dan berkata, "Aku juga menyayangimu anak manis."
"Maaf, jadwalku tak terduga jadi aku tidak bisa kesana secepatnya padahal sudah seminggu ini sejak kau pulang dari Jerman," ucap Rukia, ia benar-benar menyesal.
"Tidak apa-apa anak manis, aku juga sedang sibuk. Jadi?"
"Baiklah, kita berangkat," jawab Rukia sumringah. Ia melingkarkan lengannya pada lengan lelaki biru itu. Sedang lelaki itu mengacak rambut Rukia pelan dan mereka berdua pergi dari lobby perusahaan.
Di kejauhan lelaki dengan setelan jas hitam itu membuka hp flipnya dan menghubungi seseorang di seberang.
"Selamat malam manajer Kurosaki," jawab lelaki diseberang itu dengan sumringah.
"Ikkaku, buatkan pengumuman untuk divisi keuangan mengenai hal ini besok pagi," ucap Ichigo.
"Baik, dengan senang hati," jawab seseorang yang bernama Ikkaku itu. Dan hubungan telepon pun terus berlanjut.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Rukia mengenakan dress formal berkancing hari ini. Berwana hitam dengan aksen warna putih yang manis, juga ada ikat pinggang kecil yang bertengger di tempatnya. Gadis itu mengepang kecil rambut di kepala kirinya, hanya untuk mempercantik penampilannya. Ia mengenakan stiletto putih dengan hak tinggi dan juga mebawa tas hitam yang digunakannnya beberapa hari yang lalu.
Gadis itu melihat ke jam tangan mungil berwarna silver miliknya. Masih menunjukkan angka 7.30, ia tidak akan datang telat ke kantornya sehigga ia berjalan santai setelah ia berhasil keluar dari stasiun kereta.
Paginya sama seperti biasa. Ia duduk sambil bertanya pada Rangiku melihat beberapa teman-teman kerjanya berkelompok membicarakan sesuatu, "Ada apa Ran?" tanyanya.
Gadis itu tersenyum senang, "Oh itu, manajer akan mentraktir kita sabtu depan."
Gadis raven itu tersenyum tipis, "Begitu ya?" tanyanya.
"Kau akan datang kan?" tanya Rangiku.
"Mungkin Ran, aku tidak begitu yakin," jawab Rukia.
"Ayolah manis, satu setengah bulan yang lalu kau tidak ikut dalam pesta penyambutannya dan sekarang kau akan melewatkan kebaikan hatinya?" tanya Rangiku.
"Dulu kaarena nee-chanku sakit Ran, mana mungkin aku berpesta sedang dia sendirian?" tanya Rukia meminta pengertian.
"Ya, semoga saja sabtu depan tidak terjadi sesuatu yang akan menghalangimu datang. Kadang aku berfikir dia terlalu galak kepadamu dengan sebab kau tidak mendatangi pesta penganggkatannya," ucap Rangiku.
"Mana mungkin karena itu senpai, kau mengada-ada. Baiklah akan aku usahakan," jawab Rukia kemudian.
Sedang Rangiku membalasnya dengan senyuman.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Sabtu depan ...
Gadis raven itu khawatir jika terjadi sesuatu dengan Ichigo, sudah 9 hari setelah pengumuman itu dibuat, Ichigo tidak lagi datang ke kantor. Tidak ada keterangan dimana dia. Kehadirannya juga alpha. Tidak ada yang mengetahui keberadaannya, bahkan direkturya sekalipun karena beberapa kali pria itu mendatangi ruangan mereka. Bahkan ia berkata Ichigo tak ada di kondonya. Ia juga bilang Ichigo tak ada di rumah orang tuanya.
Seharian ini yang dilakukan gadis raven itu hanya melamun. Hari ini sudah sabtu depan yang dijanjikan oleh Ichigo - mentraktir divisi ini - tapi sampai detik ini dia tak mnampakkan diri.
Gadis raven itu berkata dengan mata yang sedikit berkaca, "Apa sebenarnya yang terjadi padanya Ran?" ucapnya.
Gadis Matsumoto itu tak langsung menjawab, "Kita sama-sama tidak tahu Ru, kita doakan yang terbaik saja. Ayo pulang, sudah waktunya."
Beberapa rekan mereka memang sudah membersihkan meja, merapikan diri mereka dan bersiap untuk pulang, tetapi beberapa detik kemudian pintu ruangan itu dibuka secara kasar.
Pria berambut orange itu datang, sedikit tidak rapi tapi selain itu tidak ada yang aneh dengan tubuhnya.
Yang pertama kali ia ucapkan, "Ayo, kita makan malam," ucapnya, dia tidak memasang wajah datar seperti biasa. Ada senyum tipis yang manis menghiasi wajahnya.
Beberapa rekan laki-laki Rukia langsung mendatangi Ichigo dan bersahut-sahutan bertanya pada Ichigo kemana perginya lelaki itu 9 hari terakhir ini. Sedang Rukia menepuk-nepuk dadanya lalu dia menangis sesenggukan. Bahagia bisa melihat Ichigo hari ini dan Rangiku, gadis itu mengelus-elus kepala Rukia pelan.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Semua orang di diivisi keuangan sudah berjalan menuju restoran –untuk pegawai biasa– sedang Ichigo sudah duluan sambil membawa mobilnya ke restoran tradisional. Ichigo menghilang ke luar negeri 9 hari ini, dan untungnya walau penerangan sedikit terlambat, tidak menyebabkan janjinya kepada bawahannya untuk diingkari.
Rukia masih mencoba menenangkan diri ketika ia berjalan ke restoran, masih didampingi Rangiku.
"Sudah tenang Rukia?" tanya Rangiku.
Gadis itu hanya mengangguk. Rekan-rekannya sudah memasuki memasuki restoran dan gadis itu menyurh Rangiku agar menyusul mereka, sedang dirnya beralasan akan membersikan muka di wastafel yang ada di depan, pojok restoran. Rangiku menurut dan gadis Kuchiki itu segera berjalan kearah dari arah pintu Ichigo menunggu Rukia, menyilangkan kedua tangannya.
Sudah 9 hari ia tak melihat gadis itu dan perasaannya masih sama. Jantungnya masih berdetak kencang dan tubuhnya masih mendamba. Rukia membasuk mukanya 3 kali tetapi tiba-tiba dari arah samping ada seorang gadis yang tak sengaja menyenggolnya. Ichigo berjalan mendekat tetapi tiba-tiba gadis itu malah bersua senang, bukan marah.
"Orihime-chan," ucapnya senang, jelas dari suara nyaringnya. Ichigo berhenti, mengamati.
"Waahhh, Rukia-chan," jawab gadis berambut orange itu, juga senang, ia memeluk Rukia begitu saja, "Maaf, aku mengagetkanmu, ah.. kau butuh tisu," lanjut gadis itu. Ia merogoh kedalam tasnya dan mengambilkan beberapa lembar tisunya.
Rukia tersenyum menerimanya dan mengelap wajahnya, barulah mereka berdua cipika cipiki satu dengan lainnya.
"Kau sendirian?" tanya Rukia.
"Tentu tidak, aku bersama Urryu," jawab gadis itu, pipinya merona merah.
"Kencan?" tebak Rukia senang.
"Orihime," ucap seseorang dari kejauhan dan orang itu tak lain si mata empat Urryu. Ia tersenyum menatap keduanya.
Lelaki itu langsung setengah berlari dan berhenti didekat Orihime, lalu melingkarkan tangan kanannya padanya. Sedang tangan kirinya mengacak rambut Rukia pelan, baru Rukia tersenyum dan memeluknya.
"Aku merindukanmu," ucap Rukia senang.
Pemuda berkaca mata itu melepaskan pelukan, "Jika kau tanya aku, maka kujawab tidak," jawab Urryu
"Urryu-kun, jangan seperi itu," ucap Orihime, ia memajukan jarinya dan mencubit Ishida sebentar.
Ishida tertawa, "Aku hanya bercanda, Hime dan kau pendek," Ishida menatap Rukia,"Jika merindukanku harusnya kau ke rumah," lanjutnya.
"Sombong sekali, setiap aku ke rumahmu hanya ada bibi Katagiri sedang kau dan paman selalu sibuk di rumah sakit. Apa itu jadi salahku?" tanyanya, ia memajukan bibirnya.
"Kalau begitu malam ini bagaimana? Aku dan ayah ada di rumah," tanyanya.
"Tidak bisa, aku dan teman-teman sedang makan malam bersama," jawab Rukia, ia tertawa, menunjukkan gigi putihnya. "Kalian kenapa bisa terpisah tadi?"
"Double date Rukia-chan, dan kami kehilangan mereka," jawab Orihime.
Rukia tertawa nyaring, "Mereka hanya ingin berdua saja, mungkin," jawab Rukia cepat.
Orihime ikut tersenyum, "Oh, ya aku mendengar kabar tentang Grimm-san, aku ikut bahagia," ucap Orihime.
"Perjuangan yang melelahkan dan akhirnya bisa terlewati, aku sedikit bangga padanya," ucap Urryu. Ia tersenyum simpul.
"Begitulah, dan pertunangan menakjubkan itu akan terjadi bulan depan," jawab Rukia senang. "Mau makan bersama kami?" lanjutnya.
"Akan sangat menyenangkan Rukia-chan, tapi hari ini kami ingin makan ditempat biasa," jawab Orihime, dia merona lagi dan lebih erat memegang tangan Ishida yang berada di pinggangnya.
"Kapan kalian menyusul?" tanya Rukia. Ia sedikit merona.
Orihime hanya tertunduk malu sedang Ishida langsung menjawabnya, "Secepatnya jika bisa, mana mungkin aku mau kalah dengan si biru," ucap Ishida, sedikit menaikkan volumenya.
"Nona Kuchiki," ucap Kurosaki dengan nada pelan dan dalam. Ia sudah berada di belakang Rukia.
"Kurosaki-san, lama tidak berjumpa," sapa Ishida. Ia tersenyum simpul, sedikit dipaksakan.
"Jika kau tidak ingin menyapaku, kau tidak perlu memaksakan dirimu, Ishida," jawab Kurosaki datar, hampir dingin.
Rukia berbalik, tahu ada yang tidak beres, jadi dia mencoba memecah kebekuan suasana yang terjadi tiba-tiba. "Maaf manajer, kami terbawa suasana jadi kami mulai bercakap-cakap," ucap Rukia.
"Tidak bisakah kau menghargai rekan-rekanmu? Mereka menunggumu dan kau berdiri seperti perunggu di jalanan ramai seperti ini?"
Damn! Pria itu benar, rekan-rekan kantornya, sudah pasti mereka menunggunya. Tapi tunggu, kenapa ada nada khawatir di kalimatnya ataumemang Rukia yang salah tanggap.
"Urryu, sepertinya kita harus cepat atau kita tidak akan kebagian tempat," ucap Orihime, mencoba meloloskan diri dari tatapan angkuh Kurosaki padanya dan Ishida.
"Baiklah Hime, sampai jumpa Rukia," ucap Ishida, dia menggunakan tangan kirinya lagi untuk membelai puncak kepala Rukia.
Ichigo masih disana dengan pandangan datar yang mematikan.
"Tunggu Urryu. Ano, ini Rukia-chan," ucap Orihime, ia mengulurkan bandul kelinci berkuran besar pada Rukia.
"Whooaaa,, chappy," ungkapnya senang.
"Aku memberikannya padamu," ucap Orihime.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Rukia.
Gadis itu hanya menggeleng dan tersenyum, "Aku tahu kau akan menyukainya, sampai jumpa," ucapnya cepat. Mereka berdua meninggalkan tempat itu, masih tersenyum pada Rukia lalu kemudian berbalik dan berjalan lurus. Gadis itu bergelanyut di lengan Ishida dan meletakkan kepalanya pada bahu lelaki mata empat itu.
Rukia mensejajarkan dirinya dengan Ichigo, lelaki itu masih menatapnya datar dan Rukia membalasnya dengan tersenyum. Dengan gerak cepat Rukia menggelanyutkan tangannya dilengan Ichigo dan mencoba bersandar sebentar kemudian dengan sentakan cepat ia melepaskan Ichigo.
"Ternyata nyaman," ujarnya ceria. "Jangan tersinggung manajer, aku hanya melakukan lelucon."
Ichigo menarik Rukia kearahnya, pria itu memeluk gadis mungil itu dengan erat, tak ingin melepasnya, meletakan satu tangan disela rambut Rukia sedang yang satunya dipinggang kecil Rukia, "Kau mengcopy pacarnya dan sekarang aku mencontoh gerakan Ishida. Apa perlu aku melanjutkannya? Kau lihat itu? Haruskah aku hanya menggunakan bibirku atau beserta lidahku," bisik Ichigo serak di telinga Rukia.
Gadis itu lemas seketika. Mencoba tetap berdiri tegak diatas platform heelsnya dan percuma. Saat Ichigo mencoba melepasnya, gadis itu seperti kehilangan setengah nyawa, setengah dari jiwanya dengan bibir yang sedikit membuka dan wajah merah merona.
Ichigo mendogakkan wajah Rukia, memindahkan tangan dari pinggang Rukia ke dagu gadis itu, "Tutup bibirmu sayang atau aku akan melumatnya sekarang!" bisiknya didepan wajah Rukia. Pria itu menaikkan ujung bibirnya, menyeringai. Lalu menautkan jemarinya pada jemari Rukia dan membawanya masuk ke dalam restoran. Gadis raven itu mengikutinya dengan sukarela.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Gadis itu meneguk segelas air yang sudah dihadapannya. Berharap air itu bisa menghilangkan sedikit nervous nya. Tetapi siapa sangka malah air itu merubah suhu tubuhnya. Badannya serasa melayang dan sedikit panas. Dia meneguk segelas penuh sake dalam beberapa kali. Sekarang tubuhnya merasakan sedikit akibatnya. Gadis itu hanya tersenyum ketika ia ditanya oleh Rangiku apa dia sudah menghabiskan semuanya. Padahal Rangiku panik setengah mati, takut jika kejadian yang pernah menimpa Rukia dulu terjadi lagi hari ini. Tapi gadis itu bilang, ia tak akan apa-apa.
Makanan datang, dari makanan pembuka, makanan khas jepang sebagai makanan utama dan dessertnnya.
"Kuchiki-san, aku melihat kau tadi diluar, bagaimana kau mengenal Inoue Orihime?" tanya salah seorang rekannya.
"Dia pacar sepupuku, aku tahu dia cantik tapi jangan macam-macam atau kau berurusan denganku," jawab Rukia, ia menunjukkan kepalan tangannya sambil cemberut.
Beberapa dari mereka tertawa karena menganggap itu lucu.
"Aku tidak mau berurusan denganmu, akan menjadi hal yang rumit," jawabnya.
Ya. Inoue Orihime. Sebelumnya dia adalah aktris sekaligus model, beberapa waktu yang lalu. Mungkin sudah satu tahun yang lalu atau lebih, dia memilih mundur dari dunia entertainment. Lebih memilih membuka usaha fashion yang ada di pusat Tokyo yang terdiri dari lima lantai. Ia mundur karena Ishida Urryu. Dia jatuh cinta pada kakak sepupunya itu saat si mata empat menangani kesembuhan Orihime karena keracunan makanan. Ada beberapa antisnya yang memberikan makanan kepadanya dan itulah penyebab ia bisa keracunan.
"Kau hanya ingin mengejekku," jawab Rukia.
Percakapan mengalir begitu saja sambil mereka menikmati makan malam yang sudah ada. Setelah mereka makan malam, kegiatan lanjutan mereka adalah minum sake dan tentu saja pemenang ronde meminum kali ini adalah Matsumoto Rangiku, bahkan Shuuhei Hisagi dan Izuru Kira kalah telak oleh dirinya.
Mereka keluar dari restoran ketika jam menunjukkan pukul 8 malam. Rukia terhenti saat merasa kepalanya pusing, perutnya terasa mual dan tenggorokannya mulai panas. Ternyata konsentrasinya terhadap sake memang masih buruk. Ia buru-buru pergi ke kamar mandi ditemani oleh Rangiku – sebenarnya diikuti. Gadis Matsumoto itu tahu jika Rukia memang tidak pandai minum-minum.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Gadis itu sudah berada diluar restoran sekarang, ia masih ditemani oleh Rangiku karena ia menunggu Gin Ichimaru. Wajahnya sedikit pucat.
"Kau bilang tak akan apa-apaa tapi buktinya?" ucap Rangiku kesal.
"Ayolah senpai, aku hanya ingin menikmati sake, beberapa hari ini aku stress, kepalaku selalu berdenyut-denyut pusing," jawabnya tak mau kalah.
"Lalu bagaimana sekarang Ru? Apa nee-chanmu ada dirumah?" tanya Rangiku.
"Ya, dia ada jadi tidak usah khawatir, hiikkk... kau bisa pulang dengan Gin, Ran," jawabnya.
"Apa kami tak perlu mengantarmu? Oh, mereka mulai berpengaruh padamu?"
"Mungkin tapi tak apa. Ya Tuhan, aku akan sangat berterima kasih senpai, tapi jangan, hiikk .. kumohon. Dari sini ke rumahku butuh waktu hampir satu jam, dan kembali dari rumahku ke rumahmu bisa memakan waktu hampir dua jam, hiikk... apa kau ingin Gin kelelahan? Aku juga tahu senpai, kau ingin malam mingguaan hiikk.. dulu dengannya," jawab Rukia.
"Setidaknya biarkan kami mengantarmu ke stasiun," ucap Gin saat ia mendekat.
"Jika itu bisa membuat kalian lega, aku akan hiikk... menurutinya," jawab Rukia aneh, sakenya sudah mulai berpengaruh buruk pada dirinya.
"Biar aku saja yang mengantarnya," ucap seseorang dari arah lain, dan mereka tahu itu suara manajer orangenya.
"Anda yakin?" tanya Rangiku, "Jika anda yang mengantarnya aku tidak akan khawatir," ucapnya.
"Aku senang bisa menitipkanmu pada manajer, Ru" ia mengalihkan padangannmya pada Rukia dan mendorong pelan Rukia kearah manajer yang sudah membukakan pintu untuknya.
"Hiikk... ya, sampai jumpa," ucap Rukia, ia sudah dibimbing Ichigo masuk dikursi depan.
"Matsumoto, aku masih seorang laki-laki," ucap Ichigo datar, sedang Rangiku tersenyum mengerti maksud dari Ichigo.
"Ayo Gin, kita juga pulang," ucap Rangiku. Sedanng pacarnya itu hanya tersenyum lalu menggandeng Rangiku kearah mobilnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Diperjalanan yang terdengar hanyalah suara cegukan yang dialami oleh Rukia, menggema di mobil porche hitam milik Ichigo. Lelaki itu menyuguhkan sebotol air pada Rukia, menyuruh dia untuk meneguknya. Tetapi setelah sepuluh menit berlalu, gadis itu memegangi perutnya.
"Manajer, bisa menepi sebentar, aku sudah tidak tahan," ucap Rukia.
Ichigo hanya menurut dan dengan gerak cepat Rukia keluar dari mobil, memuntahkan lagi isi perutnya, ini sudah yang ke empat kalinya.
Tangan Ichigo tiba-tiba sudah berada di leher belakangnya, membantu Rukia. Ia duduk jongkok dibelakangnya, mengikuti posisi Rukia.
Ichigo dengan telaten membantu Rukia, bahkan gadis itu terheran-heran akan sikapnya. Tapi sejurus kemudian ia menghawatirkan dirinya sendiri. Tubuhnya bahkan seperti tak punya tenaga lagi, sedang wajahnya pucat pasi.
"Masuklah, aku tidak akan mengantarmu pulang. Aku tahu nee-sanmu tidak ada dirumah, aku sudah menghubunginya," ucap Ichigo, ia menarik pelan Rukia agar masuk kembali ke mobilnya.
"Nee-chanku? Bagaimana bisa?" ucap Rukia, ia mulai mual lagi.
"Jangan banyak bertanya dan diamlah atau kau akan muntah lagi," jawab Ichigo. Ia sudah masuk dulu ke dalam mobilnya dan Rukia segera menyusulnya.
Mobil itu bergerak lagi tidak pelan tidak pula dengan kecepaatan tinggi. Ichigo menuju kondo elite tempat tinggalnya dan membawa Rukia ke lantai dua puluh lima kamar 173.
Ichigo menggandeng Rukia ke kamarnya. Menyuruh gadis itu duduk di ranjangnya, sedangkan pria itu lansung menuju almari pakaiannya, mencarikan kemeja bersih untuk Rukia. Setelah ia mendapatkannya, ia meletakkan kemeja itu didekat Rukia.
"Gantilah dengan ini," ucap Ichigo minta dituruti. Ia masih menatap Rukia lalu menggerakkan wajahnya.
Pria itu membuka dasinya lalu melepas jas hitamnya barulah kemeja putihnya, ia melemparkannya kedalam keranjang cuciannya. Sedang gadis itu masih menatap Ichigo dengan wajah memerahnya.
"Apa kau ingin melihat tubuh telanjangku nona?" tanyanya.
"Huh ...?" tanya Rukia, dia masih belum mengerti maksudnya. Sake memperlambat kerja otaknya.
"Kau tidak ingin ganti baju? Apa kau ingin aku membantumu?" tanyanya.
"Oh.. ah, tidak terima kasih. Iya ...kamar mandi," ucap gadis itu kacau sambil memegangi rambutnya, menyibakkannya dan telinga miliknya sudah memerah, lebih parah dari wajahnya. Ia sudah berdiri dari ranjang dan mengambil kemeja putih Ichigo, "Dimana itu?" tanyanya lagi.
Ichigo menunjuk kamar mandinya dengan dagunya. Ia sangat suka ekspresi bodoh gadis itu tadi.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Ichigo menyuruh Rukia membaringkan diri dan memberinya air lemon, air lemon bagus untuk menghilangkan efek sake yang dideranya. Setelah gadis itu meminumnya, dia berusaha keras agar dirinya tidur di sofa daripada Ichigo yang mengalah. Perdebatan tempat tidur itu berlansung selama hampir setengah jam dan akhirnya mereka sepakat tidur di ranjang bersama. Tetapi malang bagi gadis itu, amethystnya nyalang tak bisa menutup. Ia masih terjaga ketika Ichigo sudah tertidur karena dirinya memanggil-manggil manajer orangenya itu dan tidak ada sahutan. Akhirnya gadis itu menyerah dan mencoba memejamkan mata lagi dan ia berhasil.
Ketika pagi hari datang, posisi tidur mereka begitu dekat. Kepala Rukia berada di lengan Ichigo, bahkan wajahnya sudah berada di depan dada bidang Ichigo. Napas pria itu mengenai puncak kepala Rukia, begitu hangat. Gadis itu tersenyum, wajahnya sedikit memerah merona. Manis.
Rukia mendongakkan wajahnya, ia menggunakan tangannya untuk mengelus pipi Ichigo beberapa kali. Rukia terkaget saat ada suara seorang gadis dari arah belakangnya mengucapkan sesuatu padaanya.
"Kau siapa?" desisnya marah.
Rukia memutar lehernya, disana ada seorang gadis yang berumur sekitar 20 tahun, berdiri di dekat ranjang dan menatapnya sebal.
Rukia mencoba bangkit dari tidurnya dan terduduk di ranjang.
"Maaf, aku ...,"
"Berdiri sekarang juga," ucap gadis itu, hampir berteriak.
Rukia hanya menurut, mengikuti perintah gadis itu. Tetapi saat Rukia sudah berdiri, bahkan tidak dalam posisi siap, gadis berambut hitam itu menampar pipinya keras dan mendorong tubuh Rukia bahkan pelipisnya mengenai meja dan benturan itu menyebabkan jatuhnya sebuah gelas dan lampu meja. Keributaan itu mau tak mau membuat Ichigo membuka mata.
"Dasar wanita jalang," bentak gadis itu, ia melemparkan tas tangannya pada Rukia.
Ichigo membelalakkan matanya ketika melihat Rukia tersungkur dilantai, dianiaya oleh gadis itu.
"Karin! Hentikan!" teriaknya marah.
Rukia hanya bisa menangis sesenggukan, merasakan perih yang mendera pelipisnya. Basah dan tercium bau darah dari sana, terasa sakit.
Ichigo beranjak hampir turun dari ranjangnya tapi Karin mengancamnya, "Berhenti disana atau aku akan membunuhnya," ucapnya kasar.
"Tutup mulutmu, Karin," bentak Ichigo.
Ichigo mendaratkan sebuat tamparan diwajah satin milik Karin.
Dengan bengis gadis itu berkata, "Kau menampar adikmu untuk membelanya?"
Ichigo membantu Rukia untuk berdiri, kemudian melindungi Rukia di belakang tubuhnya.
Tapi tetap saja, gadis itu berhasil menarik Rukia dan sentakannya membuat gadis Kuchiki kembali tersungkur ke lantai, "Keluar dari sini, pelacur," bentaknya keras pada Rukia.
"Brengsek kau Karin! Ayah dan Ibu tak mengajarkan kau untuk berbuat kasar seperti ini," bentak Ichigo.
Gadis itu berada diantara Ichigo dan Rukia, lalu dengan segera gadis itu berucap, "Kau yang mengjarkanku, bajingan! Kau tidak memperbolehkan aku datang kesini, tidak pernah pulang kerumah. Membuat Yuzu menangis setiap harinya karena kau menghilang selama sepuluh hari. Lalu dipagi hari aku datang kesini, mengetahui kau sudah ada dirumah dan tak tahukah betapa kecewanya aku? Kau bahkan tidak mempedulikan kami lagi! Disaat aku dan ayah sibuk menunggui Yuzu dirumah sakit, kau bercinta dengan wanita itu sepanjang malam!" ucap Karin, gadis itu terengah menghirup napas, mencari pasokan udara untuk mengisi tenggorokannya.
Ichigo terbelalak kaget mendengar Yuzu diopname dirumah sakit, ia merasa bersalah.
"Aku minta maaf soal Yuzu, tapi ini tidak ada hubungannya dengan Rukia. Kami tidak melakukan apa-apa," ucap Ichigo.
"Apa kau sekarang sedang membuat drama? Kau memeluknya. Ia hanya memakai kemeja dan itu terbuka 3 kancing, kakak. Dadanya penuh kiss mark, kau menyangkalnya? Kau benar-benar sudah menjadi bajingan yang sesungguhnya."
"Hentikan omong kosong ini. Kau menyakiti Rukia, Karin!" bentak Ichigo.
Karin mengambil sebilah pisau yang ada di meja, lalu mendongkannya pada Rukia, "Kubilang pergi dari sini perempuan!"
"Karin, jangan gila!" bentak Ichigo.
Badan Rukia bergetar hebat melihat sebilah pisau itu mengacung ke arahnya. Air matanya tambah mengalir deras sedang nafasnya putus-putus, hampir kejang.
"Ma ... af," ucap Rukia memegangi kemeja terbukanya. "Aku .. er..gi," ucapnya mencoba bangun dari tersungkurnya dan kemudian gadis itu berlari pergi.
Karin membanting pisau itu ke lantai kemudian menangis diam. Ichigo terlihat tak percaya adik manisnya bisa melakukan hal seperti ini.
"Aku kecewa padamu," desisnya.
Dalam sela tangisnya gadis itu menjawab, "Kau lebih membuatku kecewa, Ichi-nii."
"Terima kasih. Aku memang bajingan yang sebenarnya, bahkan aku ingin merebut dia dari tunangannya," jawab Ichigo. Pria itu berlari dari kamar kondonya, mengejar Rukia, sedang adik kecilnya tambah menangis dalam diamnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Normal Pov
Rukia berlari keluar dari kondo Ichigo, menelusuri lorong kondo itu sambil menangis menahan sakit hati, kening dan rasa pening di kepalanya. Ia hanya mengenakan kemeja Ichigo dengan penampilan yang sangat jauh dari normal. Gadis itu berjalan sambil memegangi tembok, berpegangan. Saat gadis itu menemukan liftnya, ia malah jatuh terduduk disana, di depan pintu lift yang terbuka.
Saat Ichigo hampir memanggilnya, dari dalam lift itu keluar si rambut biru dan menolong gadis itu untuk berdiri, dan dengan segera gadis pujaan hatinya memeluk erat pada Grimmjow.
On the screen
Pria biru itu keluar dari lift. Melihat ada seseorang yag tertunduk dan duduk lemas didepan lift, Grimmjow berjongkok sebentar, mencoba bertanya pada gadis itu.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanyanya. Ia mengulurkan tangannya, mengajak untuk berdiri.
Gadis bermata amethyst itu kenal dengan suara dalam dan lembut milik seseorang yang ada di hadapannya jadi ia menerima uluran tangannya, ikut berdiri sesuai permintaan tak langsung dari Grimmjow.
Gadis itu mendongak, menatap Grimmjow dan lelaki itu kaget melihat gadis itu adalah Rukia. Terbelalak juga melihat darah yang mengucur di kening gadis itu.
"Grimmy," ucapnya serak lalu berhambur ke pelukannya, memeluk Grimmjow erat.
Sedang pria orange itu menahan celosan hatinya. Hatinya berkedut tak suka.
"Kita harus ke kondoku dan membersihkan lukamu, manis," ucap Grimmjow, ia membimbing Rukia kearah kondonya. Kamar 170 tanpa banyak bicara dan bertanya karena itulah sifatnya.
T B C
*sarkastik : mengolok, merendahkan.
*konstan : terus-menerus
*Afrodisiak adalah bahan yang bisa berfungsi untuk meningkatkan libido (gairah seksual).
