Bahaya
Disclaimer :
Naruto © Masashi kishimoto
Based on story by Agatha Christie
Warning : AU, OOC, Miss Typo, And Other.
Rated : Teen
Genre : Mystery, Crime, And Bit Romance.
Summary : Uzumaki Nagato selalu merasa ada bahaya disekitarnya, tapi Ia tak tahu bahaya macam apa yang akan datang, terlebih lagi Ia malah mencintai Istri sahabatnya, Apakah itu bahaya yang dimaksud Perasaannya? AU! Complete!
Tidak banyak yang dibicarakan oleh Paman dan Kemenakan itu sepanjang perjalanan singkat menuju ke jalan.
Juugo sang Sopir Orochimaru, sudah menunggu di jalan. Mereka pun masuk kedalam mobil. Orochimaru minta maaf telah menyuruh Nagato ikut bersamanya, dan menegaskan bahwa ia cuma perlu beberapa menit untuk bicara. Akhirnya mereka sampai di rumah Orochimaru.
"Perlukah aku menyuruh mobil menunggumu, Nak?" tanyanya saat mereka turun dari mobil.
"Oh, tidak usah repot-repot, Paman. Aku naik taksi saja nanti."
"Baiklah. Aku tak ingin menyuruh Juugo menunggu terlalu malam kalau tidak terpaksa sekali. Selamat malam, Juugo" kata Orochimaru pada sopirnya, dibalas oleh anggukan oleh Juugo.
"Wah, di mana aku menaruh kunciku?" kata Orochimaru lebih pada dirinya sendiri serta setengah bertanya.
Mobil itu melaju pergi meninggalkan rumah Orochimaru, sementara Orochimaru berdiri di undak-undak, seperti sia-sia memeriksa saku-sakunya.
"Pasti tertinggal di mantel satunya," katanya akhirnya. "Bisa tolong pencet bel? Aku yakin Suigetsu masih belum tidur."
Suigetsu yang berpembawaan tenang itu membuka pintu enam puluh detik kemudian dengan terheran-heran.
"Salah menaruh kunci, Suigetsu," Orochimaru menjelaskan. "Tolong bawakan dua gelas soda ke perpustakaan, ya?"
"Baik, Tuan Orochimaru."
Orochimaru melangkah ke ruang perpustakaan dan menyalakan lampu-lampu. Ia mengisyaratkan pada Nagato agar menutup pintu setelah masuk.
"Aku tidak akan lama. Nagato. Ada sesuatu yang ingin Kukatakan padamu. Apakah ini cuma bayanganku saja, ataukah Kau memang punya... katakanlah perasaan khusus terhadap Nyonya Konan?"
Wajah Nagato memerah.
"Pain itu teman baikku."
"Maafkan Aku, tapi itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Aku yakin kau menganggap pandangan-pandanganku mengenai perceraian dan hal-hal semacamnya terlalu puritan, tapi mesti Kuingatkan padamu bahwa Kau satu-satunya kerabat dekatku dan ahli warisku "
"Tidak bakal ada perceraian," kata Nagato dengan marah.
"Memang tidak ada, untuk alasan yang barangkali lebih bisa dipahami olehku daripada olehmu. Aku tak bisa memaparkan alasan itu sekarang, tapi Aku ingin memperingatkanmu. Konan tidak tepat untukmu."
Nagato menatap mata pamannya dengan tajam.
"Aku mengerti... dan izinkan Aku mengatakan bahwa barangkali Aku mengerti lebih baik daripada yang Paman kira. Aku tahu alasan kehadiran Paman pada acara makan malam tadi."
"Oh ya?" Orochimaru jelas tampak terkejut "Bagaimana Kau bisa tahu?"
"Anggap saja itu sekadar tebakan. Ucapanku benar, bukan, bahwa Paman hadir untuk alasan yang berkaitan dengan... profesi Paman."
Orochimaru mondar-mandir di ruangan tersebut.
"Kau benar sekali, Nagato. Tapi tentu saja Aku tidak bisa mengatakannya padamu, walau kurasa tak lama lagi rahasia ini akan tersebar juga."
Nagato merasa jantungnya melompat.
"Maksud Paman, Paman sudah... mengambil kesimpulan?"
"Ya, ada kegilaan dalam keluarga itu dari sisi si ibu. Kasus yang menyedihkan... amat sangat menyedihkan."
"Aku tak percaya, Paman."
"Aku yakin tidak. Bagi orang awam, sedikit sekali tanda-tanda yang terlihat."
"Dan bagi ahlinya?"
"Buktinya sudah jelas. Dalam kasus semacam itu, si pasien mesti dimasukkan ke rumah sakit jiwa, sesegera mungkin."
"Ya Tuhan!" Nagato terkesiap. "Tapi orang tak bisa dirumahsakitkan seperti itu dengan begitu saja."
"Nagato! Pasien di rumah sakit jiwakan hanya kalau keberadaan mereka di tengah masyarakat bisa membahayakan komunitasnya."
"Bahaya ini sangat serius. Kemungkinan besar yang dialaminya adalah penyakit yang jarang. Itulah yang terjadi dalam kasus ibunya."
Nagato memalingkan muka sambil mengerang, lalu membenamkan wajah di kedua tangannya. Konan, Konan yang putih dan rambut birunya yang indah!
"Dalam keadaan ini," Orochimaru melanjutkan dengan santai," aku merasa wajib memperingatkanmu."
"Konan," gumam Nagato. "Konanku yang malang."
"Ya, memang, kita semua mesti merasa kasihan padanya."
Sekonyong-konyong Nagato mengangkat kepala. "Aku tidak percaya."
"Apa?"
"Kubilang aku tidak percaya. Dokter-dokter bisa saja membuat kesalahan. Semua orang tahu itu. Dan mereka selalu sok yakin kalau menyangkut bidang mereka."
"Nagato," kata Orochimaru dengan marah.
"Kubilang aku tidak percaya. Lagi pula, kalaupun benar demikian, aku tidak peduli. Aku mencintai Konan. Kalau dia mau ikut denganku, akan kubawa dia pergi jauh-jauh lepas dari jangkauan dokter-dokter yang suka ikut campur. Aku akan menjaganya, mengurusnya, menaunginya dengan cintaku."
"Kau tidak boleh berbuat begitu. Apa kau sudah gila?",
Nagato tertawa mengejek.
"Kalian pasti akan menganggap begitu aku yakin."
"Coba kau pahami, Nagato." Wajah Orochimaru yang pucat seperti ular itu merah padam oleh kemarahan tertahan. "Kalau kau melakukan tindakan itu, tindakan memalukan itu, habislah sudah. Aku akan menarik kembali uang saku yang saat ini kuberikan padamu, dan aku akan membuat surat wasiat baru, meninggalkan keseluruhan hartaku pada berbagai rumah sakit "
"Silakan berbuat sesuka Paman dengan uang itu," kata Nagato dengan suara pelan. "Aku tetap mesti memiliki wanita yang kucintai."
"Wanita yang..." Nagato menyela cepat.
"Paman berani mengucapkan satu kata saja yang menjelek-jelekkan dia, dan demi Tuhan, akan kubunuh Paman!" teriak Nagato.
Suara pelan denting gelas membuat mereka sama-sama membalikkan tubuh. Karena terbakar oleh perdebatan mereka tadi, keduanya tidak mendengar Suigetsu melangkah masuk dengan membawa nampan berikut gelas-gelas. Wajahnya tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun, sebagaimana layaknya pelayan yang baik, tapi Nagato bertanya-tanya, seberapa banyak yang telah didengarnya.
"Itu saja, Suigetsu," kata Orochimaru dengan tegas. "Kau boleh pergi tidur."
"Terima kasih, Tuan. Selamat malam, Tuan."
Suigetsu mengundurkan diri.
Kedua orang itu saling pandang. Interupsi sesaat tadi telah meredakan kemarahan mereka.
"Paman," kata Nagato, "mestinya aku tidak bicara kasar seperti tadi. Aku mengerti bahwa dari sudut pandang Paman. Paman benar sekali. Tapi aku sudah lama mencintai Konan. Sejauh ini, aku tak pernah menyatakan cintaku pada Konan, berhubung Pain adalah sahabat baikku. Tapi mengingat situasi sekarang ini, fakta itu tidak penting lagi. Salah kalau Paman menganggap faktor uang bisa membuatku berubah pikiran. Kurasa tidak ada lagi yang bisa dibicarakan di antara kita. Selamat malam."
"Nagato..."
"Sungguh, tak ada gunanya berdebat lebih lanjut. Selamat malam, Paman Orochimaru. Aku menyesal, tapi bagaimana lagi."
Nagato cepat-cepat keluar, menutup pintu di belakangnya. Lorong rumah Orochimaru gelap gulita. Ia melewatinya, membuka pintu depan dan keluar ke jalan, sambil membanting pintu di belakangnya.
Sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang di rumah di depan sana, dan Nagato menghentikannya, lalu berangkat ke Galleries di pusat kota Ame.
Di pintu ruang dansa Nagato berdiri sejenak. Kebingungan, kepalanya terasa berputar. Musik jazz yang riuh rendah. Wanita-wanita yang tersenyum. Ia merasa seperti melangkah masuk ke dunia lain.
Apakah tadi ia bermimpi? Mustahil rasanya bahwa percakapan tidak bersahabat dengan pamannya tadi benar-benar terjadi. Itu dia. Konan melangkah lewat, bagaikan bunga Mawar biru, Bunga Mawar biru seperti menyiratkan perasaannya saat ini. Dalam gaun biru keputihan yang melekat ketat di tubuh Konan yang ramping. Konan tersenyum pada Nagato, wajahnya tenang dan damai. Pasti semua ini hanya mimpi.
Orang-orang sudah berhenti berdansa. Konan ada di dekatnya, tersenyum kepadanya. Bagaikan dalam mimpi, ia mengajak wanita itu berdansa. Sekarang Konan ada dalam pelukannya. Musik yang keras sudah mengalun kembali.
Ia merasa Konan agak lunglai dalam pelukannya.
"Capek? Mau berhenti?"
"Kalau kau tidak keberatan. Bisakah kita mencari tempat untuk bicara? Ada yang ingin kukatakan padamu."
Ini bukan mimpi. Nagato tersentak kembali ke bumi. Benarkah tadi ia menganggap wajah Konan tenang dan damai? Wajah yang dilihatnya ini dihantui kecemasan dan ketakutan. Seberapa banyak yang diketahui Konan?
Nagato menemukan sebuah sudut yang sepi, dan mereka duduk berdampingan.
"Nah," katanya, berusaha menampilkan sikap santai yang sama sekali tidak ia rasakan. "Katamu ada yang ingin kaukatakan padaku?"
"Ya." Konan menunduk, memainkan rumbai-rumbai gaunnya dengan gugup. "Tapi agak... sulit."
"Katakan saja, Konan."
"Hanya ini... aku ingin kau... pergi dulu untuk sementara."
Nagato terperanjat. Ia sama sekali tidak menduga Konan akan berkata begitu.
"Kau ingin aku pergi? Kenapa?"
"Sebaiknya aku jujur saja, bukan? Aku... aku tahu kau... orang yang baik, dan kau sahabatku. Aku ingin kau pergi karena aku... aku telah membiarkan diriku menyukaimu."
"Konan."
Kata-katanya membuat Nagato tertegun... tak sanggup bicara.
"Tolong jangan menganggap aku begitu sombongnya hingga membayangkan kau... kau bisa jatuh cinta padaku. Aku hanya... aku tidak terlalu bahagia... dan... oh! Aku lebih suka kau pergi saja"
"Konan, apa kau tidak tahu bahwa aku sudah mencintaimu... amat sangat mencintaimu... sejak pertama kali aku melihatmu?"
Konan mengangkat wajahnya dengan terkejut, menatap Nagato.
"Kau mencintaiku? Kau sudah lama mencintaiku?"
"Sejak awal."
"Oh!" serunya. "Kenapa tidak kaukatakan padaku? Waktu itu? Waktu aku masih bisa bersamamu? Kenapa baru menceritakan sekarang, saat sudah terlambat? Tidak, aku pasti sudah sinting aku tidak tahu apa yang kukatakan. Aku tidak mungkin bisa bersamamu."
"Konan, apa maksudmu sudah terlambat'? Apa... apa karena pamanku? Karena apa yang diketahuinya? Karena pendapatnya?"
konan mengangguk tanpa berbicara. Wajahnya basah oleh air mata.
"Dengar. Konan, kau tidak perlu mempercayai semua itu. Jangan dipikirkan. Kau akan ikut bersamaku. Kita akan pergi ke Kota Kiri, ke pulau-pulau yang hijau bagaikan permata. Kau akan bahagia di sana. Dan aku akan menjagamu, melindungimu selalu."
Dirangkulnya wanita itu dan didekatkannya kepadanya, ia merasa Konan gemetar oleh sentuhannya. Namun Sekonyong-konyong Konan merenggutkan diri darinya.
"Oh, tidak. Apa kau tidak mengerti? Aku tak bisa sekarang. Akan sangat buruk akibatnya. Buruk, buruk sekali. Selama ini aku ingin menunjukkan sikap baik dan sekarang... sekarang akibatnya bakal buruk."
Nagato ragu-ragu. Merasa bingung oleh kata-kata Konan. Konan menatapnya dengan pandangan memohon.
"Kumohon," katanya. "Aku ingin bersikap baik..."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Nagato berdiri dari duduknya dan meninggalkannya. Sesaat ia merasa sangat tersentuh, sekaligus galau oleh apa yang dikatakan Konan tadi. Ia mengambil topi dan mantelnya, dan bertubrukan dengan Pain.
"Halo, Nagato, kau pulang cepat."
"Ya. aku sedang tidak berminat berdansa malam ini."
"Malam ini sangat buruk," kata Pain dengan murung. "Tapi kau pasti tidak secemas aku saat ini." Sekonyong-konyong Nagato takut kalau kalau Pain ingin mencurahkan isi hati kepadanya. Jangan sampai, jangan!
"Yah, sampai jumpa," katanya cepat-cepat. "Aku mau pulang."
"Pulang? Bagaimana dengan peringatan dari arwah itu tadi?"
"Aku akan ambil risiko, Selamat malam, Pain."
Flat Nagato tidak jauh. Ia berjalan kaki pulang, karena merasa perlu menghirup udara malam yang sejuk untuk mendinginkan otaknya yang panas.
Ia membuka pintu dengan kuncinya lalu menyalakan lampu di kamar tidur. Dan seketika, untuk kedua kalinya malam itu, perasaan yang ia sebut sebagai Bahaya tadi muncul kembali. Perasaan itu begitu kuat, hingga sesaat bisa mengalihkan pikiran tentang Konan dari benaknya.
Bahaya! Ia ada dalam bahaya. Pada saat ini di ruangan ini ia berada dalam bahaya! Sia-sia ia mencoba mengibaskan rasa takutnya.
Barangkali sebenarnya usahanya hanya dilakukan setengah hati. Sejauh ini, Tanda Bahaya itu telah memberinya peringatan yang membuat ia bisa menghindari malapetaka. Sambil tersenyum sendiri karena kepercayaannya pada takhayul, ia memeriksa seisi flatnya dengan hati-hati. Mungkin saja ada orang masuk dan bersembunyi di sini. Tapi pencariannya tidak menghasilkan apa-apa. Pelayannya, Zetsu, sedang pergi, dan flat itu benar-benar kosong.
Nagato kembali ke kamar tidurnya dan melepaskan pakaian perlahan-lahan, sambil mengerutkan kening pada dirinya sendiri. Perasaan sedang terancam bahaya itu masih tetap tajam. Ia beranjak ke laci untuk mengambil saputangan, dan sekonyong-konyong tertegun. Ada onggokan yang tidak ia kenal di bagian tengah laci. Sebuah benda keras.
Jemarinya dengan gugup dan cepat menyibakkan saputangan itu dan mengambil benda yang tersembunyi di bawahnya. Tenyata sebuah revolver.
Dengan sangat heran Nagato memeriksa revolver itu dengan saksama. Polanya agak tidak biasa, dan belum lama ini satu pelurunya telah ditembakkan. Selain itu, tidak ada petunjuk lain. Seseorang telah menaruh revolver ini di lacinya sore itu. Tadi benda ini tidak ada ketika ia berpakaian untuk makan malam ia yakin itu.
Ketika hendak menaruh revolver itu kembali ke dalam laci, ia terkejut oleh bunyi bel pintu. Lagi dan lagi, kedengaran sangat nyaring dalam keheningan flat kosong tersebut.
Siapa yang datang pada jam selarut ini? Dan hanya satu jawaban yang muncul atas pertanyaan tersebut jawaban yang muncul secara naluriah dan tak ada hentinya.
'Bahaya-bahaya-bahaya...' Dituntun oleh naluri yang tidak ia pahami, Nagato mematikan lampu, mengenakan mantel yang tergeletak di sebuah kursi lalu membuka pintu lorong.
Dua laki laki berdiri di luar, dan sekilas Nagato melihat seragam mereka. Polisi!
"Tuan Uzumaki?" tanya pria yang berdiri paling depan.
Nagato merasa lama sekali ia baru menjawab, padahal hanya beberapa detik kemudian ia menjawab pertanyaan tersebut dengan meniru nada datar pelayannya.
"Tuan Uzumaki belum pulang. Anda ada keperluan apa dengannya pada jam selarut ini?"
"Belum pulang, ya? Baiklah, kalau begitu kami akan masuk dan menunggu saja."
"Tidak, tidak bisa."
"Coba dengar. Namaku Inspektur Uchiha Itachi dari Kepolisian Kota, dan aku punya surat perintah penangkapan untuk tuanmu. Kau boleh melihatnya kalau mau."
Nagato membaca kertas yang disodorkan padanya, atau pura-pura membacanya, lalu bertanya dengan nada bingung,
"Untuk apa ini? Apa kesalahannya?"
"Pembunuhan terhadap Tuan Orochimaru, dan korban adalah paman Tersangka." kata Inspektur Itachi.
Dengan pikiran bergemuruh, Nagato mundur. Ia beranjak ke ruang tamu dan menyalakan lampu. Sang Inspektur mengikutinya.
"Periksa seluruh tempat ini," perintah Inspektur Itachi pada petugas satunya. Kemudian ia beralih pada Nagato.
"Kau tetap di sini, Bung. Jangan coba-coba menyelinap pergi untuk memberitahu tuanmu. Omong-omong, siapa namamu?"
"Zetsu, Inspektur." Sahut Nagato asal.
"Kapan kira-kira tuanmu pulang, Zetsu?"
"Saya tidak tahu, Inspektur, dia pergi ke acara dansa di Galleries Pusat kota Ame."
"Dia keluar dari sana sekitar satu jam yang lalu. Kau yakin dia belum kembali?"
"Saya rasa belum, Inspektur. Mestinya saya mendengar kalau dia pulang."
Pada saat itu, petugas satunya muncul dari ruang yang bersebelahan, membawa revolver di tangannya. Ia menyodorkannya pada sang Inspektur dengan agak bersemangat. Sebersit rasa puas melintas di wajah sang Inspektur.
"Ini buktinya," katanya. "Dia pasti masuk dan keluar lagi tanpa sepengetahuanmu. Dia sudah kena sekarang. Aku akan pergi. Kisame, kau di sini saja. Siapa tahu dia kembali, dan awasi orang ini. Mungkin dia tahu lebih banyak tentang majikannya daripada yang pura-pura diperlihatkannya."
Sang Inspektur lekas-lekas pergi. Nagato berusaha mendapatkan detail-detail peristiwanya dari Kisame yang tampaknya senang berbicara.
"Kasusnya cukup jelas," kata Kisame. "Pembunuhan itu diketahui hampir seketika itu juga. Suigetsu, pelayan korban, baru saja hendak tidur, ketika dia merasa mendengar bunyi tembakan. Dia turun lagi, dan menemukan Tuan Orochimaru sudah tewas, ditembak di jantungnya. Dia langsung menelepon kami dan kami pun datang, lalu mendengar kisahnya."
"Karena itu, kasusnya dianggap sudah cukup jelas?" tanya Nagato.
"Tentu saja. Si Uzumaki ini pulang bersama pamannya, dan mereka bertengkar, tepat saat Suigetsu masuk membawakan minuman. Korban mengancam akan membuat surat wasiat baru, dan tuanmu mengancam akan menembaknya. Tidak sampai lima menit kemudian, terdengar suara tembakan. Ya, cukup jelas. Dasar bodoh anak muda itu " kata Kisame mengejek.
Cukup jelas? Semangat Nagato serasa terbang saat ia menyadari beratnya bukti-bukti yang mengarah kepadanya. Ini benar-benar bahaya besar, bahaya mengerikan. Dan tak ada jalan keluar, kecuali melarikan diri. Ia memutar otak. Akhirnya ia menawarkan untuk membuat secangkir teh bagi Kisame. Kisame menerima dengan antusias. Kisame sudah memeriksa keseluruhan flat itu, dan ia tahu tidak ada pintu belakang.
Nagato diizinkan pergi ke dapur. Begitu berada di dapur, Nagato menaruh ketel di kompor, lalu pura-pura sibuk dengan cangkir dan tatakan. Kemudian lekas-lekas ia menyelinap ke jendela, dan membukanya. Flatnya terletak di lantai dua, dan di luar jendela ada lift kecil dari kawat, yang bergerak naik-turun pada tali dari baja. Lift itu biasa digunakan oleh pedagang.
Cepat bagai kilat Nagato sudah berada di luar jendela, berayun-ayun melalui tali baja itu. Tangannya luka dan berdarah oleh tali itu, tapi ia terus turun tanpa pikir panjang.
Beberapa menit kemudian Nagato muncul dengan waspada dari bagian belakang blok tersebut. Ia berbelok di sudut, dan bertumbukan dengan sosok seseorang yang sedang berdiri di tepi jalan. Dengan sangat heran ia menyadari bahwa orang itu adalah Pain. Pain sepenuhnya sadar akan bahayanya situasi saat ini.
"Ya Tuhan! Nagato! Cepat, jangan berlama-lama di sini."
Diapitnya lengan Nagato dan dibawanya ke sebuah jalan samping, lalu sebuah jalan lagi. Ada taksi kosong. Mereka memanggilnya, dan melompat masuk. Pain memberikan alamatnya pada si sopir.
"Tempat paling aman untuk saat ini. Di sana kita bisa memutuskan, apa yang mesti dilakukan selanjutnya, untuk menghilangkan jejak dari orang-orang tolol itu. Aku tadi datang karena ingin memperingatkanmu sebelum polisi tiba, tapi aku terlambat."
"Aku malahan tidak tahu aku sudah dengar tentang peristiwa itu. Tapi, Pain, kau tidak percayakan..."
"Tentu saja tidak, sobat, sama sekali tidak. Aku kenal betul dirimu. Tapi tetap saja urusan ini sangat berat bagimu. Mereka datang dan bertanya macam-macam, jam berapa kau tiba di Galleries itu, kapan kau pulang, dan sebagainya. Nagato, siapa, kira-kira yang membunuh pamanmu?"
"Tak bisa. kubayangkan, siapa pun pelakunya, dialah yang menaruh revolver itu di laciku, kurasa. Pasti dia sudah mengawasi kami dengan cukup saksama."
"Benar juga kata pemanggil arwah itu, 'Jangan pulang.' Ucapan itu ditujukan bagi pamanmu yang malang rupanya. Tapi dia pulang juga, dan tewas ditembak."
"Peringatan itu juga berlaku bagiku," kata Nagato. "Aku pulang dan menemukan revolver yang sengaja ditaruh orang lain di laciku, dan aku didatangi seorang Inspektur polisi."
"Yah, kuharap peringatan itu tidak berlaku bagiku." kata Pain. "Kita sudah sampai."
Pain membayar taksi, membuka pintu rumah dengan kuncinya, dan membawa Nagato naik tangga gelap yang menuju ruang kecil di lantai satu.
Pain membuka pintu dan Nagato berjalan masuk.
Pain menyalakan lampu, lalu ikut masuk.
"Cukup aman di sini, untuk saat ini," katanya.
"Sekarang kita bisa membahas, apa yang sebaiknya dilakukan." sahut Pain.
"Aku benar-benar bodoh," kata Nagato dengan tiba-tiba. "Mestinya kuhadapi saja urusan ini. Sekarang aku bisa melihatnya dengan lebih jelas. Keseluruhan peristiwa ini memang sudah direncanakan. Kenapa kau tertawa?"
Pain tertawa terbahak-bahak, tak terkendali, sambil bersandar di kursinya. Ada kesan mengerikan dalam suara tawanya, juga dalam keseluruhan sosoknya. Matanya berkilat kilat aneh.
"Memang plot yang sangat cerdik," katanya terengah-engah. "Nagato, Sobatku, habislah Kau." kata Pain sambil menyeringai keji.
Pain mendekatkan telepon ke arahnya.
"Kau mau apa?" tanya Nagato.
"Menghubungi Kepolisian. Memberitahukan bahwa buruan mereka ada di sini, sudah tak berkutik. Ya, aku mengunci pintu sewaktu masuk tadi, dan kuncinya ada di sakuku. Tak usah menoleh-noleh ke pintu di belakangku. Itu pintu ke kamar Konan, dan dia selalu menguncinya dari sebelah sana. Dia takut padaku. Sudah lama takut padaku. Dia selalu tahu kalau aku sedang memikirkan pisau itu, pisau panjang yang tajam itu. Tidak, kau tidak..."
Nagato hendak menyerbu ke arah Pain, tapi Pain sekonyong-konyong sudah mengeluarkan sepucuk revolver yang tampak sangat mengancam.
"Ini revolver yang kedua," kata Pain sambil tertawa kecil. "Aku menaruh revolver yang pertama di lacimu setelah menggunakannya untuk menembak pamanmu. Apa yang kaupandangi? Pintu itu? Percuma. Kalaupun Konan mau membukanya dan dia mungkin mau membukanya untukmu, aku akan menembakmu sebelum kau sempat mencapainya. Bukan di jantungmu, bukan tembakan untuk membunuh, tapi sekadar untuk melumpuhkanmu. supaya kau tidak bisa kabur. Aku penembak yang sangat hebat, kau tahu. Aku pernah menyelamatkanmu dulu. Dasar aku bodoh. Tidak, tidak, aku ingin kau digantung ya, digantung. Bukan kau yang ingin kubunuh dengan pisau itu. Pisau itu untuk Konan, Ya, Konan yang cantik, begitu putih dan lembut. Pamanmu tahu. Itu sebabnya dia hadir malam ini, untuk melihat apakah aku gila atau tidak. Dia ingin aku dimasukkan ke rumah sakit jiwa supaya aku tidak membunuh Konan dengan pisau itu. Tapi aku sangat cerdik. Kuambil kunci pintunya, dan kunci pintumu juga. Aku menyelinap pergi dari tempat dansa itu. Begitu tiba di sana, kulihat kau keIuar dari rumah pamanmu, dan aku masuk. Kutembak dia. Lalu aku keluar lagi. Sesudahnya aku pergi ke tempatmu dan menaruh revolver itu di lacimu. Aku sudah berada di Galleries lagi, hampir bersamaan dengan saat kedatanganmu. Kumasukkan kembali kunci pintumu ketika aku mengucapkan selamat malam padamu. Aku tidak keberatan menceritakan semua ini padamu. Tidak ada orang lain yang mendengarkan, dan saat kau digantung, aku ingin kau tahu bahwa akulah pelakunya,... Oh oh, ini sangat menggelikan! Apa yang sedang Kaupikirkan? Apa yang Kaupandangi?"
"Aku sedang memikirkan beberapa ucapanmu tadi. Kau sendiri sebenarnya lebih baik tidak pulang, Pain." kata Nagato penuh penekanan.
"Apa maksudmu?"
"Lihat di belakangmu!" Pain membalikkan tubuh.
Di ambang pintu ruang yang bersambung dengan ruang itu berdiri Konan... dan Inspektur Itachi...
Pain bertindak cepat. Revolvernya meletus satu kali dan mengenai sasarannya. Ia tersungkur di meja. Sang Inspektur lari menghampirinya, sementara Nagato tertegun menatap Konan, seperti dalam mimpi. Berbagai pikiran berkelebat dalam benaknya. Pamannya, pertengkaran mereka, salah pengertian besar di antara mereka, hukum perceraian Ame City yang takkan pernah membebaskan Konan dari suaminya yang sinting, ucapan 'kita semua mesti mengasihaninya', plot yang telah disusun Konan dan Orochimaru, namun bisa tercium oleh Pain yang cerdik, seruan Konan padanya, 'Buruk, buruk sekali!' Ya, tapi sekarang...
Sang Inspektur menegakkan tubuh kembali.
"Dia sudah mati," katanya kesal.
"Ya," Nagato mendengar dirinya sendiri berkata. "Sejak dulu dia memang penembak jitu..."
.
.
.
The End
Maaf baru bisa update , Soalnya saya sedang sibuk di real world.
Berniat review?
