Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!
Pairing : IchiRuki
Genre : Romance
Rate : M
Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya.
Terima kasih buat readers yang meninggalkan komen dan dimasukin ke cerita yg difollow atau favorit. Maaf ga bisa bales komen, ga enak sendiri sudah begitu lama aku ga update cerita ini soalnya (_ _)
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Rukia sudah tertidur setengah jam yang lalu. Gadis itu masih terlihat sedikit berantakan. Grimmjow hanya membersihkan luka di kening gadis itu dan menghilangkan beberapa pecahan kaca yang mengenai telapak tangan Rukia. Pria itu menyelimutinya kemudian mengusap pelan pipi Rukia.
"Apa yang terjadi padamu sebenarnya?" gumamnya.
Flashback
Pria berambut biru itu menuntun Rukia pelan menuju kondonya. Hal yang ia lakukan selanjutnya adalah membawa gadis itu menuju kamar berukuran besarnya dan menyuruhnya duduk di ranjang.
"Duduklah akan aku ambilkan obat," ucapnya kemudian setelah Rukia duduk di ranjang. Gadis itu hanya memakai kemeja putih yang sobek dibagian lengan – kedodoran. Sedang kedua tangannya masih memegangi kemeja bawah lehernya.
"Grimm," ucap gadis itu serak. Ia mencoba memandng pria itu, "Terima kasih."
Pria biru menyungging senyum lalu segera keluar dari kamarnya. Hanya beberapa menit setelahnya pria itu kembali dengan membawa kotak P3K dan secangkir teh mint. Gadis itu sudah mengancingkan kemejanya dan merapikan kemeja bagian bawah yang berhasil menutupi setengah pahanya. Grimmjow menyodorkan teh itu.
"Minumlah. Kau terlihat kedinginan," ucapnya dan Rukia segera menerimanya. Pria itu duduk disampingnya dan mulai membuka P3K. Setelah ia yakin Rukia meminum teh setengahnya, ia mengambil cangkir itu dari tangan Rukia.
"Ini akan sedikit perih, jadi jangan mencubitku oke?"
Gadis itu hanya tersenyum dan Grimmjow mulai mengobati luka Rukia. Butuh kurang dari 10 menit bagi lelaki itu untuk menyelesaikan keduanya, luka di pelipis dan tangan Rukia. Setelah itu Grimmjow mencium kening Rukia sebentar.
"Berbaring dan istirahatlah. Jika kau perlukan, kita bisa bicara nanti," ucapnya.
Gadis itu hanya mengangguk, menurut pada Grimmjow lalu naik ke atas ranjang dan berbaring.
"Maaf memberimu masalah dan harus meminjamkan ranjangmu padaku," ucap Rukia pelan.
"Apa yang kau katakan?" tanyanya memberi jeda, lelaki itu menyelimuti Rukia hingga pinggangnya, "Cepat tutup matamu, cantik," lanjutnya.
Gadis itu tersenyum tipis dan menutup mata. Sedang pria bersurai biru itu tetap duduk di sisi ranjang menjaga hingga 30 menit kedepan ia kemudian mengusap pipi Rukia pelan, "Apa yang terjadi padamu sebenarnya?" gumamnya.
Dari arah pintu kamar terdengar sepatu high heels yang terus mendekat. Grimmjow sudah bersiap menatapnya dengan membalikkan badannya, masih duduk.
"Kupanggil kau tapi tidak menyahut, ternyata di kamar?" tanya gadis cantik yang baru datang itu. Ia menyunggingkan senyum sumringah dengan tangan yang menenteng tas belanjaan minimarket, ada beberapa sayur yang menyembul dari dalam tas.
"Ya, sejak tadi. Kau sudah mendapatkannya?" tanyanya lembut.
Ia menganggkat kantong belanjanya kemudian memperhatikan seeorang yang berada di ranjang.
"Dia, .. Rukia? Apa yang terjadi padanya?" tanyanya.
"Kita ke dapur. Aku tak ingin mengganggu tidurnya," ucap Grimmjow.
"Baiklah," ucap gadis itu, mendahului pria berambut biru pergi ke dapur.
"Kau mau roti bakar?" tanya gadis cantik berambut panjang. Cukup membuat segar mata karena ia memiliki rambut hijau menyala, masih setengah basah. Ia meletakkan belanjaannya diatas pantry.
"Tidak menolak jika kau membuatkanku satu atau dua porsi," jawab Grimmjow tersenyum. "Jangan lupa minuman kesukaanku dipagi hari."
Sekarang giliran gadis itu yang tersenyum dan ia segera membuat roti bakar –disertai susu putih hangat.
"Grimm apa yang terjadi pada Rukia? Keningnya?" tanyanya. Mereka berdua sudah duduk berhadapan dengan sepiring roti bakar dan segelas susu, di meja makan.
"Aku sendiri tidak tahu Nel. Dia ada didepan lift, duduk entah terjatuh atau apa dan aku membawanya kesini," jawab Grimmjow.
"Dia tidak berkata tentang sesuatu padamu?" tanyanya.
"Well, aku tidak bertanya, hanya memberi privasi. Cobalah nanti kau bicara padanya, dan juga Nel.."
"Ya?"
"Dia terluka lebih dari kelihatannya," ucap Grimmjow.
"Bukan hanya di kening?" tanya Nel kaget.
"Lengan dan tangan, pecahan kaca. Goresan di kaki dan dia tak memperbolehkan aku mengobati pahanya."
"Apa pakaiannya begitu parah hingga kau bisa melihat pahanya?" tanya Nel khawatir.
"Hanya kemeja yang sobek dibeberapa bagian."
"Apa kau tak berfikir bahwa Rukia.. Kau tahu maksudku kan?" tanya Nel.
"Diperkosa? Kurasa tidak Nel. Ada hal yang lain dan aku takut aku tidak tahu itu tentang apa," ucap Grimmjow, ia mendesah ringan.
Dari ruang tengah terdengar langkah kaki yang berjalan mendekat. Grimmjow dan Nelliel menunggunya untuk menampakkan diri.
Rukia tersenyum lebar di pintu dapur. "Selamat siang," ucapnya sumringah. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut tipis.
"Ini masih pagi sayang. Duduklah bersama kami," ucap Neliel. Ia mengangguk tersenyum.
"Apa aku akan mendapatkan sarapanku? Perutku mulai lapar," aku Rukia. Ia tetap tersenyum lalu mendekat dan duduk disamping Grimmjow.
"Tentu, kau mau berapa?" tanya Grimmjow.
"Boleh meminta 3?" tanya Rukia.
"Oke. Nona, kau dengar pesanannya kan? Kami minta 3 dengan saus madu dan susu cokelat," ucap Grimmjow.
Nelliel mengangkat bahu, "Tarifnya kali ini akan sangat mahal tuan," ucapnya dan segera berdiri dari duduknya, sedang Rukia dan Grimmjow hanya tertawa keras.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Rukia sudah sibuk dengan roti bakarnya, sedang Grimmjow sudah sibuk dengan ponsel touch screennya untuk Nelliel sendiri menikmati kopinya untuk gelas yang kedua. Rukia menuangkan lagi madu didalam botol keatas roti bakarnya, saat sebuah suara menginterupsi keheningan mereka.
"Nel, aku titip Rukia padamu, aku harus pergi ke tempat pameran, mereka menyuruhku agar datang kesana,"
"Apa tidak bisa menunggu nanti sore?" tanya Nelliel.
"Tidak, mereka sponsor yang paling bagus, tidak mungkin aku melepaskannya bukan? Sudah saatnya aku bekerja."
"Hey, tuan tampan, aku tidak perlu dititipkan seperti itu. Kau pikir aku anak playgroup?" tanya Rukia.
"Oh ayolah sayang, kau bahkan lebih kecil dari anak playgroup. Nel, jangan lupa apa yang kita bicarakan sebelumnya," jawab Grimmjow.
Rukia pura-pura tersedak lalu menengahi. "Jadi ada rahasia diantara kalian berdua?" tanya Rukia.
"Apa kau pikir tidak ada?" tanya Nelliel mencampuri.
"Ow. Kalian mencoba jadi antagonis rupanya, huh?" ucap Rukia memberenggutkan bibirnya.
Grimmjow hanya tertawa sambil berlalu dari sana, Nelliel meletakkan cangkir kopinya lalu menganggkat tubuhnya dari kursi.
"Mau kemana, Nell?" tanya Rukia.
"Menyiapkan air hangat untukmu, aku rasa kau harus mandi dan ganti baju, cantik," jawab Nelliel.
Rukia tersenyum kemudian berujar, "Maaf merepotkanmu untuk kesekian kalinya."
"Tenang, itu nanti juga masuk kedalam tagihan," jawab Nelliel.
"Kau menakjubkan," puji Rukia. Sedang gadis itu tertawa keras.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Nel sedang mengeringkan rambut panjangnya yang masih terlihat basah itu ketika bel kondonya berbunyi. Rukia sudah berada di kamar mandi sejak 20 menit yang lalu. Nelliel segera datang ke pintu depan dan membukanya. Dia seorang laki-laki yang tentu belum dikenal olehnya.
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Aku ingin menemui Grimmjow Jac, apa dia ada di dalam?"
"Grimm?" tanya Nelliel, "Dia sudah pergi sejak 30 menit yang lalu. Apa dia belum sampai di tempat pameran?" tanya Nelliel.
"Baiklah, terima kasih," ucap lelaki itu. "Aku akan menyusulnya."
Lelaki itu segera pergi dari sana sedang Nelliel masuk kedalam dan mencari hpnya. Ia segera menghubungi Grimmjow. "Grimm, apa kau mengatakan bahwa kau tinggal disini?"
"Apa yang kau bicarakan Nel? Mana mungkin aku mengatakan bahwa aku tinggal di kondomu," jawab Grimmjow dari seberang.
"Lalu siapa pria itu? Lelaki dengan rambut berwarna orange? Kau mempunyai teman dengan rambut seperti itu?"
"Tidak," jawab Grimmjow singkat.
"Nanti aku hubungi lagi, Rukia sudah keluar dari kamar mandi." Gadis itu mematikan teleponnya kemudian berbalik, "Kau sudah selesai Rukia?"
"Ya Nel. Air hangatnya benar-benar nikmat,"
"Kau baru saja menyebutnya apa? Nikmat?"
"Apa aku keliru dalam menggunakan kosa kata?"
"Oke. Aku mengerti manis dan kau terlihat lebih segar,"
"Terima kasih, tapi itu, bisakah kau mengantarkanku pulang?"
"Ya?" Nel mengatakannya dengan nada bertanya.
"Aku meninggalkan ponsel dan tasku."
"Aku tidak bermaksud untuk tidak sopan. Tapi sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kau diperkosa atau di jambret? Mungkin diculik?" tanya Nelliel.
"Dengan keadaanku seperti tadi wajar jika kau menyimpulkannya seperti itu. Tapi itu hanya karena salah paham,"
"Salah paham?"
Wajah Rukia memerah membayangkan Ichigo dan dirinya tidur bergelung di tempat tidur yang sama. Rukia hanya mengangguk cepat.
"Aku akan jujur tapi tidak sekarang,oke?" ucap Rukia mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, tapi Grimm mengkhawatirkanmu, jadi aku akan memberinya jawaban apa?"
Rukia menggigit bibir bawahnya, dengan gelisah ia membuka mulutnya, "Tidak bisakah kau berbohong padanya untukku?"
"Hanya salah paham?" tanya Nelliel.
Rukia hanya mengangguk cepat kemudian diikuti senyum mengerti dari Nelliel, "Oke, akan aku tagih janjimu," jawabnya lalu mengambil kunci mobilnya yang berada diatas meja riasnya.
"Ayo, aku antar."
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Ichigo memencet bel rumah itu beberapa kali. Sudah yang kedua kalinya ia datang kemari. Hampir saja ia memencet bel untuk yang ketiga kalinya, pintu itu sudah terbuka. Rukia membuka pintu itu. Keningnya sudah di obati dan gadis itu sudah terlihat segar dan rapi. Gadis itu tidak lagi menggunakan kemeja miliknya. Ia bernapas lega saat gadis itu menyunggingkan senyum tipis.
"Manajer, ada apa datang kemari?" tanya Rukia.
Nelliel masih menunggu di jalan didekat rumah Rukia, ia sedang menelepon Grimmjow dan memberitahukan keadaan Rukia padanya. Dan ketika mobil itu berhenti tak jauh didepan mobil miliknya, gadis berambut hijau itu terlihat terkesima. Dari dalam mobil itu keluarlah lelaki yang tadi sempat ke kondonya, mencari Grimmjow.
"Grimm, lelaki orange itu kemari."
###
Ichigo segera masuk ke dalam dan menutup pintu, ia meraih tangan Rukia dan segera menggiringnya kearah sofa. Ichigo duduk mendahului Rukia, lalu menyuruh Rukia secara tidak sengaja untuk duduk dipangkuannya. Ichigo memeluk Rukia dan membuat gadis itu sedikit kaget.
"Manajer, ada apa?" tanya Rukia.
"Aku minta maaf untuk pagi ini. Adikku benar-benar kurang ajar dan dia melukaimu," ucapnya penuh penyesalan.
Rukia menjauhkan diri dari Ichigo lalu menatapnya, "Aku tidak apa-apa manajer, lagipula aku yakin dia hanya emosi sesaat," jawabnya.
"Kepalamu masih sakit? Dan tanganmu diperban seperti ini kau bilang tidak apa-apa?" tanya Ichigo.
Rukia menggeleng, "Ini hanya luka kecil, tidak sakit," jawabnya.
Ichigo mendekatkan wajahnya pada wajah Rukia dan gadis itu malah megedipkan matanya beberapa kali. Ichigo memang mendekatkan wajahnya tetapi tangannya meremas telapak Rukia walau tidak begitu keras.
Rukia menyernyit sedikit menutup matanya, "Kau berani bohong padaku?" tanya Ichigo.
"Aku mengaku, memang sedikit sakit tapi sekarang hanya terasa perih," ucapnya, sudut matanya sudah mengeluarkan sedikit cairan.
Ichigo segera mengangkat Rukia dan gadis itu yang tidak diberi aba-aba sedikit kaget, "Lingkarkan tanganmu di leherku, aku akan membawamu ke kamar, kau harus istirahat," ucap Ichigo.
"Aku bisa berjalan sendiri," jawab Rukia.
Ichigo menyunggingkan seringai khasnya, "Apa kau pikir aku akan menerima kata tidak?" tanya Ichigo. Ia berjalan ke arah tangga dan naik menuju kamar Rukia.
"Kau sudah sarapan?" tanya Ichigo. Gadis itu hanya mengangguk. Dan beberapa langkah berikutnya mereka sudah ada dikamar Rukia.
Ichigo meletakkan tubuh Rukia diatas kasur dengan pelan. Lalu ia sendiri duduk disamping Rukia, menghadapnya. Pria itu mengelus pipi Rukia dengan sayang dan gadis itu tak bisa lagi menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah, gadis itu terlihat makin manis. Ia menyandarkan tubuhnya pada kepala meja. Rambut hitam legam panjangnya terurai sedikit berantakan. Kaos putih tipisnya membalut tubuh atasnya dan celana pendek warna biru tua dikenakannya dengan nyaman. Sekilas Ichigo tadi melihat ke dada Rukia. Sialnya gadis itu memang tidak memakai bra dan wangi buah peach menguar dari tubuhnya.
"Aku minta maaf. Asal kau tahu, tadi malam aku memang memperkosamu," ucap Ichigo, ambernya menatap lurus kedalam amethyst Rukia.
"Bagaimana mungkin manajer menganggapnya seperti itu? Kita, maksudku...Aku sadar saat melakukannya dan pagi tadi kau berbohong untuk melindungiku. Jika boleh tahu, siapa itu Yuzu?"
"Dia adikku, kembaran Karin. Dia shock dan demam, tapi sudah membaik. Dan untukkmu, kau harus tidur sekarang, sayang."
Rukia mengangguk malu dan wajahnya semakin memerah. Sedang tanpa disangka Ichigo mendekatkan wajahnya pada Rukia dan mengecup bibir pink gadis itu. Saat Rukia hampir membuka suara, Ichigo tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menggunakan serta lidahnya. Rukia membalasnya dan mereka bergulat untuk beberapa menit.
Ichigo menyudahi tetapi tangannya berpindah ke tengkuk dan pinggang gadis itu. "Pisahkan bibirmu dan apapun yang aku lakukan jangan pernah menggunakan lidahmu," bisik Ichigo.
Rukia memisahkan bibirnya tanda setuju akan perkataan Ichigo. Tangannya aktif bergerak pelan ditengkuk Rukia dan sekitar perut gadis itu. Ichigo menggunakan lidahnya untuk menjilati bibir Rukia. Pertama sudut bibir gadis itu dan membuatnya kegelian luar biasa, cukup lama. Tak sabar gadis itu menggerakkan tangannya menuju dada Ichigo. Baru kemudian Ichigo menggerakkan lidahnya pelan menuju tengah bibir gadis itu, untuk beberapa saat gadis itu menerima perlakuan Ichigo hingga menyebabkan napasnya memburu dan memberat, tetapi kemudian gadis itu menggunakan lidahnya, ingin membalas Ichigo. Ichigo menyeringai tipis lalu menjauhkan diri.
"Itu tanda permintaan maafku jika tadi malam aku bermain terlalu kasar," ucapnya.
Gadis itu sedikit kaget dan menggeleng tipis.
"Di kamar mandi?" tanya Ichigo. Dan Rukia membalasanya dengan gelengan cepat.
Wajahnya semakin panas memerah, mengingat kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu. Ichigo membelai kepala Rukia dengan sayang, "Kau benar-benar harus istirahat sekarang, aku akan menungguimu sampai kau tidur," ucap Ichigo.
Rukia memerosotkan tubuhnya untuk tidur. Sedang Ichigo benar-benar memegang kata-katanya, tidak meninggalkan Rukia.
Saat Rukia terlelap, Ichigo mendekatkan wajahnya pada perut Rukia, menyingkapkan pakaian Rukia dan menciumi perutnya, "Bertahan hiduplah disana, tumbuhlah dan menjadi janin. Kau harus ada agar aku bisa memiliki ibumu," ucap Ichigo posesif.
Ichigo tersenyum bahagia mengingat separuh dari rencananya berhasil. Mulai dari ia menyuruh Ikkaku untuk menyiapkan makan malam divisi keuangan dan membuat kesempatan agar Rukia tak pulang kerumah tadi malam. Ia merencanakannya dengan sempurna, menilik masa subur Rukia dan bercinta dengannya tanpa pelindung.
Ia hanya tinggal bersabar untuk satu bulan kedepan. Sebutan brengsek, bajingan, setan atau iblis pun tak akan jadi urusannya. Harus menghadapi Grimmjow, itu tak akan masalah baginya. SATU HAL YANG DI INGININYA HANYALAH AGAR RUKIA HAMIL BENIHNYA, MEMBERI KETURUNAN UNTUKNYA DAN MENGKLAIM GADIS ITU MENJADI MILIKNYA.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Rukia terbangun ketika ia mendengar suara lagu dari ruang samping. Itu kamar kakaknya. Ia mengambil jam beker dari nakas, dilihatnya jam itu menunjukkan pukul 10 pagi berarti nee-channya sudah pulang satu jam yang lalu.
Ia meletakkan kembali jam bekernya dan melihat pakaian dan tasnya tadi malam sudah ada di sampingnya. Rukia tersenyum lalu turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Ia turun menuju dapur.
"Nee-chan, masak apa?" tanya Rukia.
"Kau mengagetkanku. Kau tidak kerja Rukia?" tanya Hisana.
"Tidak. Aku mengambil cuti dadakan dan aku kira manajerku mengizinkan," jawabnya. Ia tersenyum tipis.
"Benarkah? Manajermu yang mengantarmu pulang minggu lalu saat kau pingsan?" tanya Hisana.
Rukia tersenyum tipis, "Begitulah."
"Hei," bentak Hisana, tak sengaja ia mengacungkan pisau kedepan wajah Rukia yang ada diseberang meja makan. "Kau mulai selingkuh dari Grimmjow sekarang?" tanyanya dengan nada serius.
Rukia mengepalkan tangannya dan mulai menepuk-nepuk dadanya. Sedang sudut matanya mulai mengeluarkan air mata. Ia mendorong kursi yang didudukinya kebelakang tapi yang terjadi malah ia terjerembab. Hisana melepas pisau yang dipegangnya lalu berlari menuju seberang meja.
Melihat adiknya yang terlihat menangis dan ketakutan, ia meraih Rukia ke pelukannya. "Rukia kau? Maafkan aku? Phobiamu itu? Apa itu kambuh?" tanya Hisana panik.
Hisana buru-buru melepaskan Rukia dan berlari menuju ruang tengah untuk memanggil ambulan.
T B C
*Fobia (gangguan anxietas fobik) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena.
*Aichmophobia –takut dengan segala benda tajam (seperti silet, jarum pentul, pisau, gunting, golok)
Lebih jelasnya cari di wikipedia. Dan juga phobia itu bisa sembuh dan bisa kambuh.
