Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!
Pairing : IchiRuki
Genre : Romance
Rate : M
Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya.
Aha, lama tidak jumpa haha Ada yang kangen saya xD
Kalo ada yang tanya kemana saya, saya beberapa bulan ini sibuk upload di watty
Special buat Danik aja, Love ya girl
Rukia masih berada di UGD. Sejak diperjalanan ke rumah sakit gadis itu mengalami sesak napas bercampur rasa cemas hingga menyebabkan kejang. Hisana masih menunggui di luar dengan tangisan yang tergugu. Gadis itu ada di dalam pelukan Uryuu, dan Uryuu memeluknya, mencoba menenangkan.
"Ia akan baik-baik saja, Sana. Dia gadis manis yang kuat, kau tau itu kan?"
"Sekali lagi dia akan menderita, ia tak akan baik-baik saja, Uryuu?"
"Jika dia menderita kita akan membantunya. Kita Sana, kau aku dan ayahku," ucapnya memberi pengertian.
"Aku kakak yang jahat Uryuu. Aku jahat, aku membuka luka lama Rukia. Sekarang aku penyebabnya, bukan mereka tapi aku!" ucap Hisana, badannya gemetar keras.
"Tidak! Jangan katakan hal seperti itu. Jangan menyalahkan dirimu."
"Tidak Uryuu, dia gemetar. Rukia kejang, aku takut."
"Dia malaikat kecil kita dan dia akan baik-baik saja," ucap Uryuu ia membelai kepala Hisana dengan lembut. Beberapa menit berlalu dengan suara isak tangis dari Hisana, Uryuu hanya mengelusi punggung gadis itu dan memeluknya sayang.
Dua dokter terlihat keluar dari UGD, salah satu diantaranya adalah ayah Uryuu, Ryuuken Ishida.
Uryuu segera bangkit, "Tou-san, apa Rukia..,"
"Dia baik saja Uryuu, hanya shock dan kami memberinya obat tidur," ucap dokter yang satunya.
"Hisana, apa yang terjadi? Kau bilang Rukia hanya takut karena kau mengacungkan pisau padanya? Tapi kami menemukan luka di pahanya, dan dari tangannya kami menemukan serpihan kaca," tanya Isshin.
Hisana semakin menangis tergugu, "Aku tak tahu paman, aku tak tahu. Kemarin dia pasti mengalami hari yang buruk dan aku tak tahu. Aku salah paman,"
"Kita ke ruanganku, Sana. Kau harus istirahat," ucap Ryuuken.
"Tapi paman, Rukia.. Ini salahku,"
"Apapun itu, sampai disini saja kau menyalahkan dirimu. Jika nanti Rukia butuh pskiater, aku akan mendapatkan yang terbaik. Kau istirahat, setelah Rukia sadar, kita bisa bertanya padanya apa yang terjadi tadi malam. Aku tak ingin keponakanku yang satunya juga sakit."
Hisana menurut dengan perkataan Ryuuken, Uryuu mengangguk menyetujui perkataan ayahnya dan menyuruh Hisana untuk mengikuti Ryuuken.
"Kau bisa masuk Uryuu tanpa harus menunggu izinku," ucap dokter yang tadi menjawab pertanyaannya.
"Terima kasih dokter Kurosaki," ucap Uryuu dan dia segera masuk.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Uryuu duduk dikursi dekat ranjang Rukia terbaring. Ia mengelus kening Rukia pelan.
"Kuharap kau baik-baik saja, manis," ucap Uryuu. Ia kemudian mengambil ponsel dari seragam dokternya, ia mencoba menghubungi Grimmjow.
"Grimm, bisa kau cari informasi apa yang terjadi pada Rukia tadi malam?" tanya Uryuu.
"Kau melihat lukanya Uryuu?" tanya Grimmjow.
"Kau mengetahuinya? Sekarang Rukia ada di rumah sakit,"
"Kita bicara, aku akan segera kesana."
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Ichigo tersenyum simpul diruang kerjanya. Ini jam istirahat jadi tidak ada karyawan disana. Mengingat kejadian tadi malam di kamar mandi. Brengsek! Hanya membayangkannya saja ia menjadi gila. Gadis itu benar-benar sudah memiliki jiwanya, mengontrolnya secara maya.
Baiklah. Berhenti sebentar Ichigo! Kau harus pergi ke rumah sakit dan menjenguk Yuzu. Tadi pagi dia hanya bisa meneleponnya, belum sempat untuk datang. Jadi siang ini ia memutuskan untuk menungguinya.
"Kau terlambat!" bentak Karin ketika Ichigo masuk kedalam kamar rawat Yuzu.
"Karin, nii-chan sibuk, kau tahu!" ucap Yuzu menengahi.
Ichigo hanya memandang datar kearah Karin lalu berjalan menuju ranjang Yuzu.
"Jangan mengabaikanku!" ucap Karin.
Ichigo meletakkan bunga lily di meja dekat ranjang Karin, lalu menyerahkan sekotak besar cokelat dan mencium kening Yuzu.
"Maaf baru bisa menjengukmu," ucapnya.
"Ichi!" bentak Karin.
"Aku mendengarmu Karin dan aku benar-benar sibuk. Tanyakan pada paman jika kau tak percaya. Kau bahkan bukan pacarku tapi kau cerewet sekali," ucap Ichigo, masih menatap datar pada adiknya.
"Oh, wanita itu tidak cerewet sepertiku jadi kau menomorduakan kami?"
"Karin, jangan berbicara seperti itu, ini di rumah sakit," Yuzu menengahi.
"Aku tidak menomorduakan siapapun Karin, dan dia punya nama, Rukia."
"Aku tidak butuh namanya dan aku masih marah kepadamu."
"Ichi, jangan dengarkan Karin, dan jika boleh tahu apa yang terjadi? Kau menghilang dalam 10 hari dan soal Rukia itu, siapa dia?"
"Maaf tidak memberi kabar, aku hanya pergi ke Jerman dan Italia, itu murni urusanku. Dan Rukia, dia gadis yang kucintai," ucap Ichi jujur. Ia menyungging senyum bahagia.
"Apa dia gadis liftmu?" tanya Yuzu.
Ichigo hanya tersenyum.
"Hentikan itu Ichi, senyumanmu menjijikkan!" sengit Karin. Ia sendiri duduk disamping Yuzu, sedang Ichigo duduk di kursi penunggu.
"Tadi malam dia hampir diperkosa dan aku menyelamatkannya."
"Selamat dari mulut buaya dan masuk ke mulut serigala. Kau memperkosanya!" ucap Karin datar.
"Itu yang memang harus kulakukan Karin, hanya cara itu agar aku bisa merebut Rukia."
"Jadi kalian?" tanya Yuzu
"Hei, apa sekarang aku sedang diinterogasi dan aku mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kukatakan pada adikku yang menginjak dewasa?"
"Kau! Apa kau tidak berpikir kalau dia hanya pura-pura polos? Aku tidak masalah jika kau menyukainya, tapi sikap polosnya itu aku tidak suka, seperti dibuat-buat," ucap Karin. "Juga, maaf soal pagi ini," Barulah Karin turun dari ranjang dan keluar dari kamar rawat Yuzu.
"Dia hanya terlalu mencintaimu, kau tau kan Ichi?" tanya Yuzu.
"Tentu Yuzu, tapi Rukiaku tidak seperti yang dibayangkannya, dia benar-benar alami, polos dan manis."
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Rukia sudah siuman. Pengaruh obat tidur yang diberikan oleh dokter Kurosaki begitu efektif untuknya. Hisana masih menunggui. Mereka tadi sudah berbicara, disaksikan oleh Grimmjow dan Uryuu yang ada disampingnya.
"Aku memperburuk keadaanmu Rukia," ucap Hisana.
"Ini... nee-chan, sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini, dan aku harap kalian tidak terlalu mencemaskanku," ucap Rukia sambil memandangi mereka bergantian.
Uryuu mengangguk mengerti lalu mengajak Grimmjow untuk pergi keluar. Memberi ruang pada Rukia dan Hisana.
"Jika kejadiannya tidak seperti ini mungkin malah terlalu buruk. Aku akan berbicara pada dokter Kurosaki, kau pulanglah dulu."
"Kabari aku," jawab Grimmjow.
Uryuu hanya mengangguk setuju. Mereka berdua berpisah jalan ketika sampai di lorong di belokan kedua.
Hp touchscreen milik Grimmjow bergetar, menandakan ia mendapat pesan. Segera setelah Grimmjow membaca pesan dari Nelliel, dia berlari menuju parkiran mobil.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Karin berjalan-jalan dirumah sakit, mencoba menemui ayahnya tetapi ia melihat ayahnya dan seorang gadis mendorong gadis lainnya di kursi roda dari kejauhan. Mereka masuk ke salah satu ruang rawat dan tak berapa lama gadis itu sadar, perempuan yang ada di kursi roda itu Rukia.
Karin segera mengejar mereka. Karin masuk begitu saja ke kamar Rukia. Didalam ruangan itu hanya ada Rukia sendirian, tadi memang dilihatnya ayah dan gadis satunya keluar dari sana.
"Apa luka yang kusebabkan begitu parah hingga kau dibawa ke rumah sakit?" tanya Karin, ia hanya berdiri didekat pintu.
Rukia terduduk dari tidurannya lalu tersenyum, "Tidak, mereka hanya sedikit lecet. Aku hanya menjalani pemeriksaan untuk penyakitku yang lain."
"Aku tidak akan minta maaf atas apa yang aku lakukan, kau pantas mendapatkannya."
Rukia menggeleng pelan, "Harusnya aku yang minta maaf padamu karena aku, manajer menamparmu."
"Well, urusanku denganmu sudah selesai," ucap Karin cepat. Ia sudah meraih gagang pintu.
"Apa adikmu sudah membaik? Yuzu?"
Karin menatap datar pada Rukia lalu keluar begitu saja dari kamar perawatan. Tapi tiba-tiba saja ia ditarik oleh seseorang dari belakang.
"Apa itu caramu menunjukkan itikad penyesalan?" tanya seorang wanita, ia Rangiku Matsumoto. Dia datang menjenguk Rukia setelah tadi ia dihubungi oleh Hisana. Ia meminta bantuan Rangiku agar menemaninya.
"Jangan sok mengenalku, bibi!" ucap Karin cepat.
"Kau! Hei, bilang apa kau?"
"BIBI. Dan jangan sok kenal denganku apalagi menasehatiku."
"Ada apa dengan sikapmu nona, jika kau salah kenapa tidak mengakuinya dan minta maaf. Apa sikapnya yang polos dan baik hati itu mengganggumu?"
"Apa masalahmu!" bentaknya.
"Karin, cukup dengan intonasi seperti itu. Masuk kedalam dan minta maaf pada Rukia," ucap Ichigo yang sudah ada di belakang Matsumoto.
"Kau menyebalkan Ichi, kau tahu itu," ucap Karin.
"Kau lebih menyebalkan dan sekarang masuk kedalam, minta maaf dan setelah itu aku akan pulang ke rumah. Kau dengar itu Karin? Aku akan pulang ke rumah!"
Karin tersenyum senang. Lalu dengan cepat ia masuk ke dalam ruang perawatan Rukia lagi, diikuti oleh Matsumoto dan Ichigo.
"Yang perlu kau tahu nona Rukia, aku dan Yuzu itu tua Yuzu," ucapnya.
Rukia hanya tersenyum tipis.
"Hisana bilang phobiamu kambuh, Rukia?" tanya Matsumoto.
"Dan kau penyebabnya Karin!" ucap Ichigo datar. "Aichmophobia*!"
"Jadi ini karenaku? Kau masuk rumah sakit karena aku?" tanya Karin, ia menatap Rukia lalu menatap pada Ichigo dengan pandangan menyesal. Karin kembali menatap Rukia lalu menunduk, "Aku minta maaf," ucapnya sungguh-sungguh.
"Lain kali jaga sikapmu, kembalilah ke kamar Yuzu, dia harus berkemas," ucap Ichigo.
Karin menurut pada Ichigo dan lelaki itu meminta agar Matsumoto memberi mereka waktu untuk berdua.
Ichigo mendekat pada Rukia, "Aku baik saja, manajer. Mungkin hanya perlu beberapa kali terapi," ucap Rukia mendahului sebelum Ichigo membuka suara.
"Aku mendengarnya dari Grimmjow," jawab Ichigo.
"Jadi itu penyebab memar di wajahmu, manajer?"
"Untung dia tidak melakukannya dengan sekuat tenaga, aku prihatin dengan apa yang menimpa orang tuamu, dan karena adikku, kau harus mengalami masa sulit lagi."
Rukia hanya bisa menangis sesenggukan, mencoba menumpahkan rasa sedihnya sekali lagi karena kehilangan kedua orang tuanya saat ia berumur 12 tahun dan Ichigo hanya bisa merengkuh Rukia kedalam pelukan hangatnya.
Ichigo, pria itu bertemu dengan Grimmjow di parkiran rumah sakit. Sebelumnya Ichigo bertemu dengan gadis yang berada di flat Grimmjow. Entah siapa nama gadis itu, Grimmjow hanya memanggilnya dengan sebutan Nel. Ia yakin gadis itu sengaja menabrakkan mobilnya, walau secara pelan. Menghalangi Ichigo yang akan pulang dari rumah sakit. Menghentikannya lalu memberi tahu Grimmjow bahwa ia bertemu dengan Ichigo. Gadis itu cukup yakin bahwa akulah penyebab Rukia masuk ke rumah sakit.
Hal pertama yang dilakukan Grimmjow adalah memukul ku. Lalu berteriak bahwa aku telah menyakiti malaikatnya. Mengutuki sikap adikku yang tak bisa menjaga kemarahannya dan langsung menganiaya Rukia, serta mengacungkan pisau yang sudah pernah menjadi barang haram bagi Rukia.
Aku tidak menyalahkannya atas itu, tidak marah dengan kalimat kasar yang ia lontarkan menuju adikku, aku sakit karena mendengar ia menyebut Rukiaku sebagai malaikatnya, pelindungnya.
Aku ada disana dan aku gagal. Gagal melindungi Rukia dan gagal menjadi contoh bagi Karin.
Aku tahu, Karin hanya menumpahkan kekesalannya padaku. Keegoisanku yang tak ingin pulang ke rumah ayahku, keegoisanku agar hidupku tak di jamah oleh keluargaku sendiri. Aku menjauh dan Karin kesal. Itu saja masalahnya, tapi menjadi besar karena dia membawa Rukia. Gadis dengan masa lalu buruk yang berhubungan dengan pisau.
Keluarganya pernah menjadi korban perampokan dan kedua orang tuanya meninggal terbunuh. Ibunya mencoba melindungi Rukia dan akhirnya dialah yang meninggal karena luka tusukan, sejak saat itu pisau besar nan tajam menjadi momoknya, selalu hadir dalam mimpinya dengan lumuran darah segar yang menetes seperti aliran anak sungai.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
"Maafkan aku, aku begitu lepas kendali Nel," ucap Grimmjow ketika ia tiba di kondo Nelliel.
Gadis itu hanya tersenyum. "Kenapa harus minta maaf, itu tanda kau sangat menyayangi Rukia, oke."
"Harusnya aku mengingat kata Uryuu," ucap Grimmjow.
"Soal apa?"
"Gangguan mental," jawab Grimmjow cepat. Nelliel menatap kaget pada Grimmjow.
"Masih untung Rukia hanya mendapatkan kembali phobianya, jika tadi malam ia tidak diselamatkan oleh Ichigo, maka dia akan berakhir seperti itu," lanjutnya.
"Oh, ya Tuhan," ucap Nelliel tercekat.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Genap empat belas hari berlalu setelah kejadian di rumah sakit. Ichigo sudah kembali ke rumah ayahnya dan ia masih tetap sibuk mengurusi berkas-berkas yang diselidikinya.
Pamannya itu sangat pintar menyembunyikan kejahatannya. Kejahatannya bukan artian korupsi yang sebenarnya. Ia tahu pamannya memang mengambil beberapa persen uang perusahaan tiap bulannya, tapi itu tidak masuk kedalam rekening pribadinya. Yang ia pikirkan apa pamannya menggunakan uang itu untuk kepentingan Ichigo, menanamkan modal dan bisa untung besar tapi pamannya mengklaim itu pekerjaan Ichigo dan mempermudah Ichigo untuk memperoleh kursi Direktur misalnya?
Tapi sampai saaat ini Ichigo belum memiliki petunjuk.
"Ayah, aku sudah diperbolehkan untuk ...,"
"Tidak. Satu bulan Karin, bukan dua minggu," ucap ayahnya cepat.
Mereka berempat sedang sarapan bersama di meja makan, dengan satu piring roti selai dan susu putih, terkecuali Ichigo, dia lebih memilih kopi.
"Aku belum menyelesaikan perkataanku," rengeknya.
"Jaga sikapmu dan perbaiki Karin, dua minggu yang lalu kau membuat ayah kecewa dan sekarang jangan kau tambahi," jawab ayahnya cepat.
"Aku sudah merefleksikan diri, aku salah dan aku sudah minta maaf, lagipula aku berhasil membawa Ichi pulang ke rumah," ucap Karin tak ingin kalah.
"Tapi dia belum mau bicara denganku," jawab ayahnya sambil tersenyum kecut.
Ichigo menatap datar pada Karin lalu pada ayahnya. Diseruputnya kopi yang masih separuhnya lalu dia berdiri dan berkata, "Aku berangkat, come on Yuzu," ucap Ichigo.
"Kau tidak mengajakku?" tanya Karin.
"Tidak," jawab Ichigo cepat.
"Aku tidak berangkat tanpa Karin, Ichi-nii," jawab Yuzu.
"Oke. Aku berangkat sendiri," jawabnya dan segera setelah berkata seperti itu, Ichigo menghilang dibalik pintu.
"Tou-san, ini pasti sulit," ucap Yuzu.
"Dia butuh waktu untuk memaafkanku, Yuzu."
"Apa dia masih seperti itu pada keluarga Ishida?" tanya Yuzu.
"Sepertinya ya," jawab ayahnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Rukia keluar dari rumah sakit sehari setelah ia menginap. Setiap seminggu sekali dia mengikuti sesi pemulihan. Sekarang Grimmjow lebih protektif padanya, tak beda dengan big sis-nya dan juga Uryuu. Tiap ia bekerja, mereka bertiga akan bergantian mengantar jemputnya. Selainnya, tak ada yang berbeda dengan harinya, masih sama. Masih mengurusi berkas-berkas pajak, d.o, faktur dan komputernya.
Masih mencuri pandang meja manajernya dan mengagumi ketampanannya walau sebenarnya sikap Ichigo masih dingin, datar sedikit stoic tapi jika mereka sedang berdua ia akan begitu lembut padanya.
Beberapa kali Ichigo menggunakan bahasa Jerman jika ia mengobrol lewat telepon genggamnya, beberapa kali Rukia melihat kerutan di dahi Ichigo, si tampan itu jika melakukan gerakan menggabungkan alisnya terlihat lucu, tapi Rukia kadang tersenyum geli jika membayangkan Ichigo akan terlihat lebih tua dari usianya jika ia terlalu sering melakukan hal itu.
"Nona Kuchiki aku butuh laporannya besok," ucapnya ketika Ichigo datang mendekat.
"Yes, sir," jawab Rukia semangat.
"Jangan terlalu memaksanya, sir," sela Matsumoto, "Apa karena aku akan mengambil cuti jadi kau seenaknya pada kami?" tanya Matsumoto.
"Tidak ada hubungannya Matsumoto-san, minggu depan ada rapat pemegang saham, direktur meminta kita untuk mengakhiri laporan bulan ini," jawa Ichigo datar.
"Aku mendengar kabar ia akan mengundurkan diri, apa itu benar?" tanya Matsumoto.
"Jangan mulai bergosip Matsumoto-san, kembali pada fakturmu!"
"Ayolah manajer, kabar itu bahkan santer terdengar, bahkan anda salah satu kandidatnya."
"Gosip." jawab Ichigo cepat dan beberapa detik setelahnya, Ichigo mendapat panggilan telepon. "Ya, aku akan berada disana dalam beberapa menit," jawab Ichigo.
Ichigo segera keluar dari kantornya dengan tergesa, paman kece nya memanggil agar dia datang segera ke kantornya. Kali ini mungkin jika Ichigo tidak menurutinya, akan terjadi bencana.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Pria dengan setelan jas biru tua itu berjalan tergesa menuju lift. Ia harus cepat sebelum pamannya mengancamnya lagi. Sebenarnya ada apa dengannya? Dua bulan ini pamannya itu terlalu mempressure Ichigo. Biasanya dia akan selalu mendukung Ichigo, apapun itu. Hal ekstrem yang dilakukan Ichigo pun pasti mendapat persetujuaannya. Lebih dari siapapun ia akan selalu mendukungnya.
Ia menghela napas berat di dalam lift. Dia sudah lelah. Pamannya itu pasti juga lelah. Ichigo tahu. Mengurusi 2 perusahaan -textile dan tas- yang secara garis besar menjadi milik keluarganya - kecenderungan saham lebih dari 70% yang jadi milik keluarga Kurosaki - pasti menguras habis tenaga dan pikirannya. Sejak muda, pamannya itu sudah memikul semuanya. Ayahnya yang seharusnya mengurusi perusahaan textile malah melepasnya. Mengejar mimpinya untuk menjadi dokter ahli bedah jantung. Dan oh shit! Ia tidak sudi untuk mengingatnya. Cukup. Dokter dan sebangsanya itu membuatnya muak.
Tapi, sekarang Ichigo belum siap menjadi direktur di sini. Bukan karena ia tidak mampu, hanya saja ia belum mendapatkan Rukia nya. Belum mendapatkan pujaannya. Belum mendapatkan gadis yang mengontrolnya secara maya. Gadis itu, sebenarnya dia punya kekuatan apa? Apa dia di dukuni? Jesus! Itu simple Ichi, kau hanya mencintainya. Jangan berpikir dia punya teman makhluk astral* atau sejenisnya.
Ichigo membuka pintu ruangan pamannya. Didapatinya beberapa orang yang hampir keluar dari ruangan direktur itu. Mereka bukan orang-orang biasa. Jadi, pamannya mempercepat pengunduran dirinya sebagai direktur?
"For God sake uncle, kau benar-benar melakukannya. Dan itu lebih cepat dari yang seharusnya," ucap Ichigo.
Ia dan pamannya sudah duduk di sofa kulit berwarna putih di ruangan pamannya. Dirinya tadi bertemu dengan para pemegang saham perusahaan dan berbicara sebentar. Walau dia hanya manager, percayalah nama Kurosaki akan memberikan efek yang berbeda.
"Hanya melakukan sesuai prosedur, Ichi. Sudah menentukan pilihan? Aku harus mengundurkan diri secara baik-baik atau secara ekstrim?
"Kau tahu jawabannya paman, tapi ini terlau cepat," jawab Ichigo.
"Aku senang kau menurut padaku. 9 harimu tidak memberimu petunjuk, huh?" ucap pamannya sambil tertawa.
"Karena kau bajingan pintar," jawab Ichi datar.
"Kuanggap itu sebagai pujian, jadi bagaimana denga gadismu?" tanyanya.
"Masih dalam proses," jawab Ichigo.
"Apa itu? Kau tidak pd untuk merebut dia dari kekasihnya?" tanya Kaien.
"Kau tahu aku luar dalam paman, jadi jangan meragukanku," jawab Ichigo cepat.
"Tapi tidak dengan Chirucchi bukan," ucap Kaien.
"Jangan menyebut namanya, dia yang meninggalkanku. Rukia berbeda dengannya," jawab Ichigo.
"Ow, namanya Rukia? Yuzu bilang sesuatu tentang si gadis lift, apa ia bekerja disini?"
"Dia bawahanku sekarang dan kau sudah pernah bertemu dengannya," jawab Ichigo jujur.
"Dia gadis itu?" tanya Kaien. Ia tersenyum kemudian berkata lagi, "Tipemu sekali, gadis itu lebih penurut dan polos."
"Aku tidak percaya kita membicarakan ini," ucap Ichigo.
Kaien bangkit dari duduknya. Mata Ichigo mengikuti kearah mana pamannya itu pergi. Kaien masih menyungging senyuman dan ia segera membuka kulkas yang ada di pojok ruangan. Pria itu mengambil 2 kaleng minuman soda. Barulah dia kembali ke sofa. Kaien memberikan sekaleng untuk Ichigo.
"Jadi, apa yang sudah kau lakukan?" tanya Kaien. Pria itu meneguk sodanya.
"Kau baru saja memaksaku untuk jadi direktur dan sekarang menanyakan ini padaku?"
Pamannya menggedikkan bahu cuek, "Siapa tahu aku bisa memberi saran atau membantumu?" ucapnya menggoda Ichigo.
Ichigo meneguk sodanya, pamannya itu tahu kalau Ichigo mencoba menghindar. Melihat ke arahnya, Kaien sudah bisa menebak keponakannya.
"Kau hanya melakukan "itu" padanya sekali?" selanya.
Ichigo terbatuk karena tersedak soda. Ia melotot kesal pada pamannya lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangan, baru ia mengendurkan dasinya.
"Lakukan lagi," lanjut pamannya.
"You want me what?"
"Kau mendengarku Ichi."
"You've got to be kidding me."
"Aku dengar dari Karin, kau sudah pulang ke rumah tapi kau bahkan tak berbicara pada ayahmu?" ucap Kaien mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak harus berbicara dengannya."
"Kau masih belum menerimanya? Masih menyalahkannya?"
Ichigo meletakkan kaleng sodanya, "Aku tidak memintanya menjadi masochist*, aku harus kembali paman," ucap Ichigo. Pria itu segera bangkit dari duduknya.
"Ayahmu ..."
"Aku tahu dia mendengar ini. Aku harus berdamai dengan diriku sendiri sebelum berdamai dengannya," jawab Ichigo sebelum dia meninggalkan tempat duduknya. Pria berambut orange itu segera keluar dari ruangan.
"Dia mewarisi salah satu sifatmu, bro," ucap Kaien. Sedang ayah Ichigo yang berada di ruang kopi direktur itu tersenyum kecut.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Dua kembar kakak beradik itu keluar dari lift di lantai 10. Mereka berdua menyunggingkan senyum ceria. Duo kembar itu ingin mengejutkan kakaknya dengan datang ke kantor tanpa memberi tahu setelah itu mereka ingin mengajaknya makan siang.
Yuzu dan Karin segera saja membuka pintu ruangan divisi keuangan itu. Seperti dugaan mereka, lelaki itu lebih suka berada dalam satu ruangan dengan para bawahannya daripada mendapat ruangan tersendiri, mungkin baginya agar bawahannya lebih terorganisir dan juga mendapat pengawasan lansung.
Mereka sedang sibuk bekerja hingga tidak ada yang memperhatikan mereka, sampai sebuah suara dibelakang mereka yang menyahut.
"Ada apa kalian kemari?" tanya Ichigo. "Kenapa sudah pulang?" lanjutnya.
"Rapat staff, jadi kami pulang lebih awal, kami ingin mengajakmu makan siang bersama," jawab Yuzu.
Karin menutup pintu pelan, "Bisa kau mengajak dia?" tanya Karin.
"Dia siapa?" tanya Ichigo.
"Kau tau siapa, Ichi. Wanita itu," jawab Karin.
"Kuchiki-san. Kami ingin mengobrol dengannya," jawab Yuzu.
"Oke. Kalian ingin makan siang dimana?" tanya Ichigo.
Kedua adik Ichigo itu menjawab bersamaan, "Restoran China," jawab Yuzu. "Restoran Jepang," jawab Karin.
Ichigo tersenyum simpul, "Restoran Jepang, Yuzu, baru China," jawab Ichigo.
"Tentu, aku tahu apa yang terjadi jika kau tidak menuruti Karin," jawab Yuzu.
Karin menatap kesal pada kedua kakaknya lalu mendahului pergi dari sana.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Mereka berempat duduk di restoran Jepang tempat biasa Ichigo makan dengan adik-adiknya. Rukia duduk disamping Ichigo dengan blazer hijau daun yang senada dengan roknya. Rambutnya ia rapikan dengan jepit diatas telinganya, terurai namun terlihat rapi.
Sedang dua adik Ichigo itu duduk didepan mereka. Yuzu dengan rambut pirang yang terkucir kuda dengan poni samping, tas ransel cokelat tua dan t-shirt warna biru donker dan jeans belel, sedang si modis Karin dia terlihat begitu cantik terlihat lebih feminim dengan dress formal 3/4 warna orange, rambut terurai dengan bandana imut serta poni depan dan tas tangannya terlihat classy.
Mereka terlihat sudah menyelesaikan makan siang, Rukia buru-buru berujar, "Terima kasih untuk makan siangnya," ucap Rukia.
"Jika lain kali kami mengajakmu lagi, itu tak akan apa-apa bukan?" tanya Yuzu.
"Tentu," jawab Rukia.
Ichigo berdiri dari duduknya, terlihat sepertinya ia ingin meninggalkan meja. "Aku beri waktu 15 menit. Aku juga harus menjawab teleponku," ucap Ichigo.
Yuzu terlihat mengangguk mengerti dan Ichigo segera pergi dari meja mereka.
"Nona, aku ingin minta maaf soal kejadian 2 mingguan yang lalu."
"Tidak apa-apa. Lagipula aku sudah baikan sekarang," ucap Rukia.
"Kau bohong. Mana mungkin hanya baru dua kali terapi kau sudah baikan," sela Karin.
Rukia tersenyum tipis, "Aku berkata jujur. Aku sudah mengalami kemajuan."
"Karin, jika kau mengatakannya dengan nada seperti itu kau membuat orang bisa salah paham. Nona, dia khawatir tapi ia merupakan salah satu manusia yang kekurangan ekspresi. Mewarisi sifat kakakku," ucap Yuzu dan Rukia mengangguk mengerti sedang Karin terlihat kesal.
"Begini nona. Karin waktu itu khawatir kepadaku yang masuk rumah sakit, dia juga sedang kesal dengan ayah kami dan fakta bahwa Ichi pergi selama hampir 10 hari tanpa memberi kabar semakin membuat Karin kesal, dan pagi itu, ia melihat kau ada di kondo kakakku. Jujur, bahkan kami - keluarganya - tidak pernah diperbolehkan masuk kesana dan aku pikir Karin kesal juga karena itu."
Rukia mengangguk pelan lalu berkata, "Tidak apa, jika aku berada dalam posisi Karin mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama," ucap Rukia penuh pengertian.
"What are you, really? Setidaknya kau bisa untuk tidak memaafkanku secepat itu," ucap Karin kesal.
"Aku mohon akhiri ini. Kalian berdua membuatku tidak nyaman. Kau benar-benar menyesal kan dan meminta maaf padaku, dan jujur itu lebih dari cukup," jawab Rukia.
"Baiklah, terserah. Aku akan menyusul Ichi," jawab Karin.
Rukia menggaruk kepalannya yang tidak gatal, "Itu, apa aku membuatnya marah?" tanya Rukia.
Yuzu tersenyum simpul, "Tidak. Dia hanya tidak mudah dipahami," jawab Yuzu jujur.
Karin berjalan kesal ke arah Ichi yang sedang duduk di bangku taman restoran itu. Ia menendang salah satu kaki Ichigo lalu duduk disampingnya.
"Karin, untuk apa itu?" tanya Ichigo datar walau kakinya terasa sakit oleh pukulan heels yang dipakai adiknya.
"Wanita itu, apa dia benar begitu baik hati, huh?" tanya Karin kesal.
"Tentu," jawab Ichigo singkat.
"Aku harap ia tidak pura-pura, kau tahu aku sangat benci model wanita seperti itu!"
"Dia bukan seorang gadis yang merebut pacarmu, Karin," jawab Ichigo.
Karin menatap kesal pada Ichigo sedang Ichigo memiringkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum liciknya. Kakaknya itu sedang mengejeknya. Karin bangkit lalu menendang kaki yang tadi sudah ditendangnya.
"Sakit KARIN KUROSAKI!" bentak Ichigo, sedang Karin tidak menggubrisnya dan berlari menuju parkiran.
"Adikku itu, aku harap dia jadi gadis manis yang normal, bukan gadis tsundere menyebalkan!"
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Mereka berempat berpisah di parkiran kantor Kurosaki Group. Karin dan Yuzu segera masuk ke dalam mobil mereka sendiri - dengan supir yang menunggui mereka dari tadi - sedang Rukia dan Ichigo segera berjalan masuk ke kantor, menuju lift.
"Rukia, maaf tidak memberi tahumu terlebih dahulu, tapi bisakah nanti malam kau ikut lembur denganku?" tanya Ichigo.
Rukia tersenyum manis, pipinya sedikit memerah, "Apa hanya aku, manajer?"
"Ya, aku belum memberi tahu pada yang lain dan dari bantuanmu aku rasa itu sudah cukup," jawab Ichigo.
"Anda bisa duluan. Aku harus menghubungi Grimmjow, memberitahunya," ucap Rukia.
Ichigo mengangguk setuju tapi ia tak beranjak dari samping Rukia, 'Silahkan saja. Setelah malam ini aku benar-benar akan menghapus Grimmjow dari kehidupanmu. Kaien Kurosaki terima kasih atas usulanmu.'
Rukia besandar di dinding parkiran basement itu dan mengambil hp flip ungunya lalu menghubungi Grimmjow.
"Grimmjow, maaf, tidak usah menjemputku, hari ini aku harus lembur," ucap Rukia.
"Pekerjaan dadakan Rukia?" tanya Grimmjow segera.
"Begitulah, tidak apa kan jika aku pulang sendiri. Lagipula nanti malam pembukaan pameran lukisanmu, aku takut mengganggu," ucap Rukia.
"Matsumoto, apa dia juga lembur?" tanya Grimmjow.
"Aku rasa tidak, dia bilang dia akan keluar dengan Gin malam ini," jawab Rukia.
"Kau tahu Uryuu dan kakakmu tidak bisa menjemputmu, apa ada orang lain yang kau kenal untuk mengantarmu pulang?" tanya Grimmjow.
"Aku tahu kau mengkhawatirkanku, tapi ..."
"Bolehkah aku berbicara dengannya?" tanya Ichigo.
Rukia menatapnya sebentar lalu memberikan ponselnya pada Ichigo. Lelaki itu tersenyum simpul lalu memulai pembicaraan dengan Grimmjow.
"Aku tahu phobianya kambuh juga termasuk salahku, tapi jika aku mengantar Kuchiki-san, itu tidak apa kan?"
"Aku mendengarnya dari Rukia. Itu karena salah paham dan aku mengerti, tolong jaga Rukiaku dengan baik kali ini," jawab Grimmjow.
"Tentu, aku berjanji," jawab Ichigo. 'Dan aku harap kau tidak menyesali keputusanmu malam ini, untuk sekarang dan kedepannya.'
"Oke, terima kasih. Senang bisa berbicara denganmu dan juga aku ingin kapan-kapan kita bisa keluar bersama," jawab Grimmjow.
"Tentu," jawab Ichigo.
Grimmjow mematikan teleponnya. Ichigo tersenyum lalu menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya. Mereka berdua melanjutkan perjlanan menuju lift kantor mereka.
"Grimmjow, ada apa?" tanya Nelliel. Gadis itu sedang berjalan ke arahnya dengan membawa beberapa berkas.
Grimmjow sedang memandangi lukisan karyanya. Kemudian pria itu menatap si gadis hijau, "Tidak ada apa-apa Nel, hanya Rukia bilang dia akan lembur," jawab Grimmjow, pria itu hanya tersenyum.
TBC
*Aichmofobia (berasal dari bahasa Yunaniaichmo yang artinya tombak dan phobos yang berarti takut) adalah rasa takut berlebihan dan irasional terhadap benda-benda tajam
*Astral=nama lain dari makhluk halus atau makhluk gaib
*Masochist adalah seseorang yang memperoleh kepuasan seksual bila disiksa baik secara emosional maupun fisik oleh orang lain atau dirinya sendiri.
