Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!
Pairing : IchiRuki
Genre : Romance
Rate : M
Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Gadis bermata amethyst itu tersenyum tipis ketika dirinya dan Ichigo masuk ke ruangan kerja. Rangiku tersenyum jahil pada Rukia dan menatap penuh arti pada Ichigo.
Ichigo mengangkat jari telunjuknya didepan hidungnya, lalu menggerakkan sekitar 45 derajat, "Nona Matsumoto, konsentrasi. Kerjakan laporanmu. Aku segera memintanya," ucap Ichigo sambil berjalan mendekat.
Rukia tersenyum tipis mendengar penuturan Ichigo dan gadis itu segera duduk di kursinya. Sedang pria itu hanya melewati meja mereka berdua. Ia berjalan ke meja dibelakang Rukia. Berbicara dengan Hisagi.
"Apa itu? Waktu istirahatku belum berakhir. Dia dan kau saja yang mengkorupsi waktu," ucap Rangiku.
"Tidak ke kantin?" tanya Rukia.
"Entahlah Ruki, apa karena besok aku izin cuti, aku tidak napsu makan," jawab Rangiku sambil mengangkat bahu.
"Bagaimana mungkin kau tidak napsu makan. Italia, bukankah akan menjadi liburan yang hebat?" tanya Rukia.
Rangiku hanya tersenyum tipis, sedikit memaksakan, "Semoga. Kau mau kubawakan apa?" tanya Rangiku.
"Apapun yang kau berikan, aku tidak akan mungkin menolak," jawab Rukia tersenyum.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Ichigo menghilang dari ruang kerja setelah ia berbicara dengan Hisagi dan pria itu juga ikut menghilang dengannya. Entah kemana perginya, itu mungkin menjadi rahasia mereka berdua. Hanya, yang diketahui oleh karyawan lainnya, Ichigo dan Hisagi kembali setelah angka menunjukkan pukul 6 sore, waktu pulang kerja. Segera setelah Ichigo duduk manis di kursinya dengan tenang, Rangiku segera mendatanginya dan menyerahkan laporan D.O nya. Ichigo masih sibuk mengendurkan dasinya.
"Penampilan yang tidak rapi, tidak akan cocok dengan image-mu Kurosaki, sir!" ucap Rangiku.
"Terima kasih, tapi temperatur ini benar-benar membuatku gerah," jawab Ichigo, ia hanya memandang kearah berkas yang dibawa Rangiku.
"Aku tidak keberatan jika melihat perut ratamu, sir. Tapi akan lebih menyenangkan jika Rukia yang menggantikanku," ucap Rangiku jahil.
"Laporannya Nona Matsumoto," ucap Ichigo sambil berdehem singkat. Rangiku menyerahkan folder hijau laporan D.O nya itu pada Ichigo.
Masih belum mau menyerah untuk memojokkannya. Sungguh! Menggoda salah satu keluarga Kurosaki, itu sudah ada dalam kamusnya beberapa bulan terakhir ini. Hal itu sangat, mendebarkan atau sebut saja menyenangkan.
"Aku tahu, sir. Kau akan melakukan sesuatu pada Rukia saat aku mengambil cutiku," ucap Rangiku lagi, menyela konsentrasi Ichigo.
"Dan contoh dari imajinasimu itu apa, miss?" tanya Ichigo. Ia mulai menatap sebal pada Rangiku.
"Itu bukan menjadi urusanku, sir. Yang terpenting aku akan setuju dengan sesuatu atau ide gila yang coba kau realisasikan," jawab Rangiku.
"Sudah cukup?" tanya Ichigo datar.
"Aku dibelakang kalian, aku mendukungmu," jawab Rangiku. "Laporanku, sir?" lanjut Rangiku.
"Sedikit buruk miss," jawab Ichigo segera.
"Tanggapan macam apa itu, sir. Aku sudah memeriksanya 3 kali hari ini dan itu tidak mungkin akan salah." Rangiku memajukan sedikit bibirnya. "Oke, aku tidak akan berbicara yang tidak-tidak lagi, jadi bagaimana laporanku sir," tanyanya.
"Cukup memuaskan, dan tolong berhentilah sebentar nona, aku perlu menandatanganinya," jawab Ichigo.
Rangiku memutar bola matanya kesal. 'What the hell!' Ia melirik sambil menunggui tanda tangan Ichigo. Tak berapa lama, pintu ruangan terbuka. Gadis bermata amber memasuki ruangan. Pamitnya tadi, ia pergi ke kamar mandi.
"Rukia, mau makan malam denganku?" tanya Rangiku.
Gadis itu tersenyum, hampir menjawab tapi Ichigo segera menyela.
"Dia sudah punya janji denganku, Matsumoto dan ini, laporanmu sudah aku tandatangani," ucap Ichigo, pria itu menyodorkan kembali folder hijau. Ia menatap Rangiku sedikit kesal, menunjukkan emosinya.
"Bagaimana kalau kita makan bertiga?" tanya Rukia.
"Tidak!" jawab Ichigo dan Rangiku kompak. Rangiku segera mengambil folder itu dari meja Ichigo. Ia kembali pada mejanya, meletakkan folder itu dan berjalan cepat kearah pintu.
"Aku duluan dan malam ini semoga kalian dapat bersenang-senang," ucap Rangiku cepat dan segera menutup pintu.
Rukia memiringkan kepalanya, "Maksud dari bersenang-senang itu apa? Bukankah kita hanya akan lembur?" tanya Rukia polos.
'Wanita sialan itu, dia terlalu bisa membacaku,' Ichigo menyunggingkan senyum tipis, "Kau mau makan malam dimana?"
"Aku boleh memilih tempatnya?" tanya Rukia ceria.
"Tentu saja, kau boleh menentukannya," jawab Ichigo.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Rukia dan Ichigo sudah duduk di bangku taman kota. Mereka berdua masing-masing memegang burger dan minuman soda. Sama-sama menikmati makanan mereka dalam keheningan.
"Aku tidak menyangka kau memilih ini sebagai menu makan malammu," ucap Ichigo.
"Otou-san dan aku dulu sering makan seperti ini, disini," jawab Rukia sambil menyunggingkan senyuman, "Dia hanya akan membeli satu burger dan coke lalu dibagi dua, walau aku tahu dia memberikan potongan terbanyak kepadaku."
"Satu potong dibagi dua, itu terdengar manis," jawab Ichigo.
"Tidak, sebenarnya hanya untuk mengelabuhi kaa-san, dia akan marah jika kami tidak makan malam di rumah, jadi kami menyisakan tempat di perut kami," jawab Rukia sambil tertawa renyah.
Mau tak mau Ichigo ikut tertawa walau tidak terlalu keras. Pria itu mengambil sapu tangan dari sakunya kemudian menyerahkannya pada Rukia. Gadis itu menerima dan menggunakannya.
"Aku mulai merindukan mereka," ucap Rukia terdengar sendu. "Sebaiknya kita segera kembali dan memulai lembur kita," ucap Rukia.
Pria itu tersenyum dan Rukia mendahului bangkit dari duduknya. Mereka berdua meninggalkan taman sebelum guyuran hujan mulai menerpa.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Rukia dan Ichigo mengerjakan lembur mereka dalam waktu kurang lebih 2 jam. Walau singkat tetapi mereka menggunakan waktu dua jam secara efisien, benar-benar mengerjakan tugas mereka.
Beberapa kali Rukia masih mencuri pandang kearah Ichigo. Berdua dengannya di ruangan mau tidak mau membuatnya nervous, yah walau dari awal sejak mereka makan berdua di taman dengan suasana tenang dan menyenangkan itu Rukia sudah deg-degan tak karuan.
Saat Rukia kembali ke aktivitasnya, Ichigo melangkah pergi ke ruangan kopi dan ia kembali dengan membawa dua buah kopi panas. Ia mengajak Rukia duduk di sofa kulit berwarna cokelat di ruangan itu.
"Melelahkan?" tanya Ichigo.
"Tidak, mana mungkin melelahkan kita hanya menambah 2 jam kerja," jawab Rukia. Gadis itu mulai meneguk kopinya.
Ichigo memperhatikan Rukia, entah kenapa ia jadi sedikit ragu. Bisakah ia? Tapi jika tidak ia lakukan bisa jadi ia akan kecewa dikemudian hari.
Ichigo segera meletakkan kopinya ke atas meja. Rukia meletakkan cangkir kopi dan cawannya diatas pangkuannya, kedua tangannya sibuk memegangi. Gadis itu tersenyum dan dengan cepat Ichigo menarik dagu Rukia tepat didepan wajahnya sedang tangan satunya -telapak tangannya- menutupi cangkir yang dipegang Rukia. Takut jika kopi panas itu akan menumpahi tubuh Rukia lagi.
Saat Rukia dalam keadaan tidak siap, Ichigo mengecup bibir Rukia pelan. Pria itu segera menjauhkan wajahnya dari wajah Rukia kemudian tersenyum memperhatikan Rukia yang terkaget dan sedikit melongo, masih tidak percaya kalau Ichigo menciumnya.
'Dang! Dia terlihat manis,' Ichigo menyunggingkan senyum simpul.
Ichigo menarik pinggang Rukia agar tubuh Rukia mendekat kepada dirinya, sedang tangan satunya ia letakkan di tengkuk Rukia. Ichigo kembali mendekatkan wajahnya. Yang ia lakukan kali ini adalah menjilat bibir Rukia kemudian mengecupnya. Rukia yang terbawa suasanapun segera membalas hingga ciuman itu menjadi panas dan masing-masing dari mereka kehilangan napas. Barulah mereka berhenti.
Ichigo mengelus-elus punggung Rukia, "Ciuman rasa kopi tidak buruk juga walau aku lebih suka ciuman rasa strawberry," ucap Ichigo.
"Strawberry?" tanya Rukia.
"Ya, di kamar mandi flatku, aku berharap kau tidak melupakannya sayang," jawab Ichigo. Pria itu kembali mengecup bibir Rukia kemudian mengelus kepalanya pelan, "Aku antarkan kau pulang," lanjut Ichigo. Pria itu segera bangkit dan menuju mejanya.
Hanya selang beberapa detik setelah Ichigo meninggalkannya yang duduk di sofa, wajah Rukia memerah.
Ia dicium lagi oleh Ichigo. MIMPINYA TADI MALAM TERLALU INDAH. WAIT! TADI MALAM IA BAHKAN TIDAK BERMIMPI.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Gadis berbaju biru laut itu berjalan pelan di belakang Ichigo. Mereka berdua berjalan menuju lift, bukan yang biasanya. Gadis itu tersadar setelah ia melewati lift yang biasanya ia pakai, tentu saja karyawan lainnya juga memakai itu.
"Rukia, jika kau berjalan sepelan itu kau tidak akan bisa menyusulku," ucap Ichigo.
Gadis itu segera melangkahkan kakinya semakin lebar, "Sir, kita mau kemana? Bukankah liftnya ada disana?" tanya Rukia.
"Kita memakai lift satunya," jawab Ichigo.
Kedua orang itu memasuki lift yang lebih kecil daripada lift yang biasa mereka pakai. Lift itu adalah lift yang menjadi saksi pertemuan mereka pertama kali tentu saja-ditambah Xander juga menjadi saksi. Ichigo dan Rukia pertama kali bertemu di lantai basement saat Rukia melakukan wawancara kerja dan setelah gadis itu diterima, ia baru tahu kalau lift yang dipakainya itu hanya khusus dipakai oleh para direksi dan staff nya. Untuk karyawan biasa ada lift lain, lift itu mengharuskan mereka masuk ke gedung terlebih dahulu, sedangkan lift itu langsung bisa menuju basement yang digunakan untuk tempat parkir.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ichigo.
"Tidak, hanya mungkin sedikit nostalgia," jawab Rukia menyungging senyum.
"Tidak ada Kaien disini," jawab Ichigo, ia ikut tersenyum.
Rukia hanya mengangguk menurut. Tetapi selang beberapa detik setelahnya, gadis itu membuka suara.
"Sir, jika serangga atau hewan sejenisnya dari tanaman bisa berpindah tempat, apa kemungkinan mereka bisa masuk ke pakaianku?" tanya Rukia, gadis itu sedikit bergetar.
Ichigo menyernyitkan dahi menatap Rukia, "Kau takut pada serangga? Apa ada sesuatu yang bergerak-gerak di tubuhmu?" tanya Ichigo.
Rukia menurunkan tas tangannya kemudian kedua tangannya mengelus-elus punggungnya kasar, mencoba menghilangkan sesuatu yang terselip dibalik pakaiannya.
"Sir, tolong keluarkan mereka," ucap Rukia, sudut matanya sudah hampir mengeluarkan air mata.
Bergerak cepat, Ichigo membuka kancing blazer biru laut Rukia dan melucutinya, melemparkan secara sembarangan ke lantai. Tak lupa pria itu juga melepaskan kancing bawah kemeja putih Rukia. Lalu pria itu berganti berdiri di belakang Rukia. Pria itu menaikkan kemeja yang dipakai Rukia lalu menelusuri punggung Rukia, mencari hewan kecil penyebab ketakutan Rukia dan serelah menemukannya,, pria itu menjentiknya agar menghilang.
"Kurasa sudah hilang. Kau sudah tidak apa-apa," tanya Ichigo.
Rukia berbalik, pria itu menatap Rukia. Menatap wajah Rukia, Ichigo mendekat pada gadis itu. Menghapus liquid bening yang sedikit keluar di sudut mata. Gadis itu masih bergetar.
Ichigo membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Rukia, "Jika kau bersikap manja seperti ini, mungkin aku bisa saja memakanmu sekarang karena kau sangat manis," ucap Ichigo, ia kembali mengecup bibir Rukia.
Pria itu segera menjauh dan mengambil blazer biru Rukia. Gadis itu menangis saat Ichigo berbalik ke arahnya setelah mengambil blazer. Tunggu. Gadis pujaannya itu benar-benar menangis? Kumbang kecil bajingan! Rukia menangis gara-gara makhluk yang tak lebih besar dari kunang-kunang? Gadis itu bahkan bisa tersenyum ceria setelah dirinya memarahinya karena salah angka dalam pajak 2 bulan lalu. Tapi ini gara-gara seekor kumbang? Ia yang menjadi si lelaki sialan atau kumbang itu yang benar-benar menyebalkan? Bahkan Rukia tak bergerak, diam disana.
"Rukia..?"
"Maaf. Aku tidak bermaksud untuk seperti ini tapi aku benar-benar takut," ucap Rukia.
Pria itu mendekat kearah Rukia kemudian memeluknya dan mencium pipinya, "Maaf," ucapnya singkat. "Menjadi lebih baik?" lanjutnya.
Rukia mengangguk di bahu Ichigo, tapi tiba-tiba pria itu mendorong pelan Rukia menuju dinding lift. Pria itu mengendus dibalik telinga Rukia kemudian menjilat daun telinganya dan berakhir dengan sebuah gigitan dan erangan pelan dari Rukia.
Tangan Ichigo mengelus punggung Rukia, salah satu kelemahan gadis itu adalah punggungnya sedang tangan satunya meraba pelan perut Rukia dan bergerak menuju ke atas.
"Bisakah kita?" tanya Ichigo.
Rukia mengerang merasakan lidah Ichigo sudah menuju leher jenjangnya, gadis itu memberi akses kepada Ichigo.
"Malam ini bisakah kita?" jawab Ichigo hampir sebuah erangan.
Rukia mengangguk pelan, mata gadis itu berkilat sayu sedang mata Ichigo terbakar oleh gairah. Hari ini dia jadi bajingan lagi. Oh ya. Tentu. Itu ajaran dari paman kécé-nya.
###
"Aku harus menjawab teleponnya," lanjut Rukia.
"Kau hampir sayang, aku tidak memperbolehkannya," jawab Ichigo.
"Please," bisik Rukia di telinga Ichigo.
Ichigo menyerah dan mengeluarkan dirinya dari Rukia. Menurunkan betis Rukia dari tangannya. Ia mengambil tas Rukia dan mengeluarkan hp flip hijau kecil itu. Rukia masih bersandar tak berdaya di dinding lift, saat Ichigo berbalik Rukia menatap bagian bawah tubuh Ichigo.
Ichigo tersenyum, "Angkat. Kuberi waktu 2 menit dan aku tidak memberi ruang, aku harus berada di dalammu," ucap Ichigo.
Rukia mengangguk patuh. Sebelum Rukia sempat mengangkat teleponnya, Ichigo mengangkat kaki Rukia yang satunya, membawa berat tubuh melenguh, "Ichi," bisik Rukia.
"Bertumpulah di bahuku, love. Kau tidak akan apa-apa," ucap Ichigo hampir sebuah erangan.
Rukia menganggkat teleponnya, meletakkan satu tangannya dibahu Ichigo. Pria itu menciumi rahang Rukia dan berkonsentrasi pada Rukia.
Sebisa mungkin Rukia membuat suaranya terdengar normal. "Halo.. Uryuu,"
"Belum pulang Rukia?" tanya Uryuu dari seberang.
"Oh... God...," Rukia hampir berteriak sehingga Ichigo merebut hp itu dari Rukia, menjauhkan dari mulut keduanya.
Rukia mendongakkan kepalanya atas rasa itu. Ia merasa pusing bahkan tangannya menjambak rambut Ichigo.
"Aku tidak akan berbagi suara sexymu itu pada orang lain," bisiknya.
"Rukia... Rukia... kau baik saja?" telepon itu masih bersuara nyaring mencari pemiliknya.
Rukia melirik sebal pada Ichigo, takut jika suaranya tadi didengar oleh Uryuu, "Sialan, Uryuu!" ucap Rukia dan Ichigo tahu itu ditunjukkan padanya.
"Kumbang, kau tahu! Ini semua salahmu," bentak Rukia. Ichigo memainkan lidahnya di leher Rukia.
"Apa kau masih takut pada kumbang karena gurauanku sewaktu kau masih kecil," tanya Uryuu.
"Tentu! Ya itu tidak salah," jawab Rukia.
"Kau baik saja Rukia?" tanya Uryuu, ada nada cemas dan bingung dari suaranya.
"Aku baik saja. Tolong antarkan kakak, aku akan pulang satu jam lagi," jawab Rukia lalu memutuskan hubungan telepon itu.
"Ichi aksimu tadi horor," ucap Rukia, pipinya memerah lalu meraih wajah Ichigo dan menciumnya.
Ichigo hanya tersenyum, "Kau menikmatinya," jawabnya. Ichigo berhenti sejenak dari aktivitasnya. "Untung itu hanya Uryuu, jika itu Grimmjow aku akan membuatmu menyesal telah mengangkat telepon."
"Aww… aku takut," jawab Rukia imut kemudian tertawa pelan.
Ichigo memperlihatkan wajah datarnya, sama saat ia dalam mode kerja, sama saat ia sedang tidak bercanda. Rahang pria itu mengatup rapat, keras dan tegas.
Rukia hanya mengangguk dan Ichigo menurunkan salah satu kaki Rukia yang berada di pinggangnya. Meminta Rukia untuk berdiri dengan satu kaki.
"Aku hanya meyakinkanmu," ucap Ichigo.
"Dan aku tahu kau tidak bercanda," jawab Rukia.
"Apa aku menakutimu?" tanya Ichigo.
"Tentu tidak," jawab Rukia.
"Terima kasih Rukia. Aku menyayangimu," jawab Ichigo.
Aktivitas mereka terganggu lagi oleh suara handphone yang ada di tangan Rukia. Ichigo segera memincingkan mata.
"Banyak sekali yang mengganggu kita malam ini, siapa?" tanya Ichigo lembut.
"Grimm," jawab Rukia, ia menggigit bibirnya gugup.
"Aku rasa aku harus menepati janjiku," jawab Ichigo sambil menyunggingkan seringaian.
Rukia terlihat takut tetapi ia mengangkat juga telepon dari Grimmjow.
"Halo, Grimm?" ucap Rukia.
"Apa kau sudah pulang? Tadi Uryuu mengantar nee-san pulang," ucap Grimmjow.
"Mmm... Aku belum pulang."
"Baru makan malam?" tanya Grimmjow.
"Snack, es krim strawberry, Emmm... Ini sangat nikmat," jawab Rukia.
Brengsek! Gadis ini benar-benar begitu nikmat. Ichigo tersenyum mendengar reaksi Rukia. Kata-kata itu ditunjukkan padanya. Membuat dirinya semakin bergairah.
"Kau makan es krim strawberry? Jangan bercanda manis! Siapa yang membuatmu memakannya?" tanya Grimmjow.
"Ichi... Ermmm... maksudku.. dia manajer Kurosaki yang menyuruhku memakannya, traktiran," jawab Rukia.
"Apa dia sekarang didepanmu? Berikan teleponmu padanya," ucap Grimmjow sumringah.
"Kulakukan," jawab Rukia. Gadis itu meletakkan teleponnya ditelinga Ichigo.
"Halo Grimmjow," ucap Ichigo, begitu sulit dirinya mencoba konsentrasi karena begitu hangat di dalam Rukia.
"Kau bajingan bro. Itu sebuah pujian, bagaimana kau bisa merayu gadisku untuk memakan es krim stawberry?" tanya Grimmjow.
Ichigo menjilat bibir Rukia, "Ung... ya kau tahu, tinggal memberi tatapan intimidasi dan sedikit rayuan. Apa nona Rukia tidak suka strawberry? Lain kali aku akan mencoba mengingat," jawab Ichigo.
"Apa kau juga sedang makan es krim?" tanya Grimmjow.
"Tidak, aku sedang meminum jusku."
"Oke sampaikan pada gadisku, aku dalam perjalanan kerumah, aku akan menunggu," ucap Grimmjow.
"Baik, kau hati-hatilah," jawab Rukia mendahului Ichigo. Ia mencengkeram bahu Ichigo keras dan mengeluarkan erangan, sebelum disadari Grimmjow, Ichigo membungkam Rukia dengan ciumannya. Lalu mematikan telepon dari Grimmjow tanpa salam.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Ichigo tersenyum melihat ke arah Rukia. Mobilnya sudah terparkir didepan rumah Rukia. Gadis itu mencoba mengeluarkan dirinya dari seatbelt yang melintasi tubuhnya. Ichigo menepati perkataannya. Mereka melanjutkan kejadian di lift di dalam mobil Ichigo.
Gadis itu tetap belum bisa membuka seatbeltnya sehingga Ichigo mencoba menolongnya. Tapi wajah keduanya malah begitu dekat. Setelah Ichigo berhasil membuka seatbeltnya, Rukia mengecup bibir Ichigo cepat.
"Apa itu ucapan selamat malam?" tanya Ichigo.
Rukia hanya mengangguk.
"Bagaimana jika aku ingin lebih. Setidaknya french kiss," tanya Ichigo.
"Pervert! Selamat malam, aku juga menyayangimu. Terima kasih untuk hari ini." Rukia menyungging senyum.
Ichigo membalas senyuman dan gadis itu memandangnya lalu membuka pintu mobil, tapi sebelum sempat tangan Rukia membuka pintu, Ichigo menariknya dan memberi ciuman.
Sebuah ketukan menyadarkan mereka berdua dan Rukia segera menjauh dari Ichigo, membuka pintu mobil, keluar dan menutup pintunya.
"Grimmjow," ucap Rukia terlihat kaget.
"Ya? Cepat masuk dan mandilah manis, Sana-nee sudah menyiapkan air panas untukmu," ucap Grimmjow.
Rukia tidak menatap ke wajah Grimmjow, malahan mengabaikan tatapannya. "Oke terima kasih telah memberi tahu, aku akan masuk," jawab Rukia lalu berlari masuk.
"Dia agak aneh," ucap Grimmjow lalu mengetuk kaca mobil Ichigo.
Ichigo menurunkan kaca mobilnya dan Grimmjow meletakkan kedua tangannya di tempat kaca. "Aku tidak melewatkan sesuatu? Kaca mobilmu keren bahkan aku tidak bisa melihat kedalam, kau tidak mencuri ciuman dari gadisku kan?" tanya Grimmjow.
"Bagaimana kalau iya?" tanya Ichigo.
Grimmjow hanya tersenyum lalu berkata, "Aku hanya bercanda. Bagaimana dengan jus yang kau minum tadi?" tanya Grimmjow.
"Jus ku? Rasanya tidak ada duanya, manis dan memikat," jawab Ichigo.
"Wow, aku jadi ingin mencicipi," jawab Grimmjow sambil tertawa.
"Tidak akan aku berikan," jawab Ichigo serius.
"Oh oke, tidak ingin berbagi rupanya? Mau masuk?" tanya Grimmjow.
"Tidak, aku akan langsung pulang. Sepertinya ramai, apa ada sesuatu?" tanya Ichigo.
"Ya, kau tahu aku, Sana-nee dan Uryuu, membahas pertunangan," jawab Ichigo.
"Pertunangan?" tanya Ichigo, rahangnya mengatup keras.
"Yup. Dua minggu lagi, tenang bro aku akan mengundangmu," jawab Grimmjow.
"Okay." jawab Ichigo datar.
"Hati-hati dijalan dan aku harus masuk sekarang, terima kasih sudah mengantar little angel ku," ucap Grimmjow.
Ichigo hanya menjawab, "Okay," lagi.
Grimmjow segera berjalan menjauh dari jalan dan menuju kedalam rumah.
Fu*k! Kenapa pertunangannya dipercepat!
Ichigo membanting tangannya di setir mobil.
Brengsek!
Bersambung ...20-11-14
Part Sebelumnya 10-07-14 Hahahaha, ternyata lama ga diupdate2 XD
