Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!

Pairing : IchiRuki

Genre : Romance

Rate : M

Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya.

Ini bener-bener long "che legge" beneran lho xD (7k. buat mereka yang sudah merindukan fic ini)

Part ini special buat yang udah request yaitu mami Azalea Airys juga para readers yang sudah menunggu. Makasih untuk Reviewnya dan aku menunggunya lagi buat kebaikan fic ini.

Makasih juga yang sudah Fav aku dan Fav fic aku. Love you soo MUCH :*

Cari sendiri dibagian mana ada rated M nya :v

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Dang! Bibir rasa jelly strawberry milik Rukia tidak berubah sama sekali. Seharian ini dirinya tidak bertemu dengan gadis itu dan harus diakui olehnya ia rindu berat. Oh God, tidak bertemu sehari saja itu membuat dia gila apalagi harus merelakan dia untuk dimiliki orang lain. Hell! Dia tidak akan terima.

Rukia. Dia memakai gaun warna hijau muda dan itu membuat dirinya begitu cantik. Gadis itu memang begitu cocok dengan sesuatu yang berwarna hijau. Gaunnya begitu pas dengan aksen warna gradasi hitam dibagian bawah dan perutnya. Rambutnya ia biarkan terurai dan bergelombang dengan pemanis bandana warna hijau juga.

Rukia tadi sebenarnya tidak sengaja melihat mereka yang begitu serius berbicara di taman diluar ballroom. Karin dengan paras cantiknya begitu mempesona. Dan jangan lupakan kakaknya, Ichigo begitu tampan dan macho. Keluarga Kurosaki sepertinya memang dikutuk untuk itu. Mengingat ayah dan pamannya yang tak luput dari gelar tampan.

Rukia sudah mengikuti arah pandangan mereka sebenarnya, tetapi ia tidak menemukan apa-apa kecuali bunga-bunga yang sudah hampir mengering dan guguran daun karena sudah memasuki pergantian musim. Jadi dirinya memutuskan untuk mendekat. Tetapi sebelum dirinya sempat menyapa, Ichigo sudah menariknya lalu mengunci dirinya dan mencium bibirnya. Sungguh, hal itu membuat dirinya kaget.

"Oke, kurasa kalian butuh waktu berdua," ucap Karin dan gadis itu berlalu pergi.

Sedang Rukia hanya mendengar samar perkataan sang adik.

Ichigo melepas ciuman dari Rukia ketika adiknya sudah pergi menjauh. Ia tersenyum lalu mengecup kening Rukia.

Rukia mengalihkan pandangannya tetapi Ichigo kemudian memegangi dagunya, mengelus bibir Rukia dengan ibu jarinya.

"Apa itu tadi membuatmu terkejut?" tanyanya.

Rukia mengangguk kemudian menatap Ichigo, "Tapi itu kejutan yang manis," ucapnya.

Ichigo menyungging senyuman, "Apa sekarang kau mencoba merayuku?" tanya Ichigo.

Rukia mengedipkan salah satu matanya, menggoda Ichigo, "Aku hanya terlalu banyak belajar dari seseorang," jawabnya. "Tapi, apa tidak apa-apa kita berciuman disini?" tanya Rukia.

"Kau khawatir jika ada kolega yang melihatku? Kau manis sekali. Aku termasuk orang yang impulsif*, jadi aku tidak peduli," jawabnya.

Rukia tersenyum lalu menjulurkan sedikit lidahnya, mengejek Ichigo.

"Apa yang kau lakukan disini bersama Karin tadi?" tanya Rukia. Gadis itu sudah memposisikan tubuhnya membelakangi Ichigo. Menatap tempat yang diperhatikan oleh kakak beradik itu.

Disana hanyalah bunga yang mengering dan dedaunan menguning yang gugur.

Ichigo memperhatikan ruangan itu. Dinding kaca itu sudah tertutup rapat dengan tirai tanpa ada cela. Lelaki itu pasti menyadari jika tadi dia dan Karin memperhatikannya. Itu perkiraannya. Jadi lelaki itu segera menutup tirainya.

Untung saja sedetik sebelum Rukia memperhatikan mereka, Ichigo bergerak cepat mengalihkan perhatian Rukia. Dan brengsek sekali pria itu, menjaga Rukia tetapi bermain api dibelakang Rukia.

Tapi siapa wanita yang melakoni adegan itu bersama Grimmjow? Sepertinya Ichigo mengenali wanita itu? Apa dia wanita dengan panggilan Nell?

"Kami hanya mencari udara segar dan membicarakan beberapa hal."

Ichigo meletakkan tangannya di punggung Rukia lalu mengajaknya berjalan kedalam ballroom.

"Angin malam tidak baik untuk kulitmu, ayo kita masuk," ucap Ichigo. Sedang Rukia hanya mengikuti langkahnya dan menurut.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Gadis hijau tosca dengan tatanan messy updo dan gaun biru muda itu berjalan pelan dan anggun di lorong hotel. Ia sedang mencoba mencari ruangan ganti keluarga Jaegerjaquez. Bodohnya ia atau karena dia pelupa, dia meninggalkan ponselnya di kondo, lupa membawa bersamanya malam ini. Seharusnya dengan ponsel itu ia akan cepat menemukan ruangan ganti.

"Nell, mau kemana?" tanya suara dari belakangnya. Nelliel berbalik untuk melihatnya. Dan disanalah pria bernama Grimmjow berada di balik pintu hanya kepalanya saja yang melongok keluar.

"Mencari kamar ganti kalian, tamu sudah datang dan aku belum melihatmu," ucap Nelliel. Ia berjalan menuju Grimmjow.

Grimmjow tersenyum lalu menarik Nelliel kedalam ruangan.

"Masuk, Ibuku mencarimu," ucap Grimmjow. Pria itu dalam setelan Prada hitam. Rambutnya sudah kembali ke warna biru dan ia segera mengunci pintu.

Nelliel menatap ke arah meja rias. Ia mendengar Grimmjow menutup pintu lalu memandangnya dengan pandangan pura-pura kesal.

"Bukan bibi yang mencariku tapi kau bukan?"

"Kau tampak sangat cantik." Grimmjow berjalan mendekat ke Nelliel.

Gadis itu hanya tersenyum lalu menjawab, "Yes, I am."

Tangan Grimmjow segera menangkup wajah Nelliel. Pria itu mengecup bibirnya, lama.

"Grimmjow, lipstikku ..."

"Aku punya disana dengan warna kesukaanmu jadi tenang saja."

"Bukan itu, acara sudah hampir dimulai, ayo keluar."

Nelliel menarik tangan Grimmjow, tetapi pria itu tidak gentar dari tempatnya. Ia menarik Nelliel kedalam pelukannya kemudian kembali menciumnya, kali ini ia mengikutsertakan lidahnya. Mau tidak mau Nelliel membuka.

Grimmjow menciuminya sambil menarik Nelliel menuju dinding kaca. Ada celah yang belum tertutup dengan gorden dan Grimmjow mendorong Nelliel disana. Mengunci tubuh Nelliel hingga punggung gadis itu bersandar pada kaca.

"Malam ini aku akan memberimu kejutan jadi bisakah kita melanjutkanya dan datang sedikit terlambat ke pesta?" tanya Grimmjow.

Nelliel tersenyum lalu mengaitkan tangannya dibelakang leher Grimmjow lalu mencium bibirnya. "Datang terlambat ke pesta bukan hal yang baik, honey."

"Tapi ini baik untuk kita berdua," jawab Grimmjow.

"Kalau begitu aku menyetujuinya, jadi mulai sekarang aku jadi gadis nomor satumu?" tanya Nelliel.

"Bukankah sudah kukatakan, jika kau bisa merebut cintaku kau berhak memilikiku. Tapi kau dan dia tetap jadi prioritasku."

"Terdengar adil bagiku." jawab Nelliel. Ia kembali mencium Grimmjow.

Mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka. Bahkan Nelliel melepaskan ikat pinggang dan resleting celana Grimmjow. Mereka berdua ada pada dunia mereka sendiri. Bergerak liar membakar kalori. Grimmjow menggoda Nelliel dengan adanya dinding kaca yang tidak tertutup gorden. Menggerayangi tubuh gadis itu tanpa meninggalkan satu centipun bagian yang tidak tersentuh. Grimmjow mengambilnya dari belakang, menggerakkan tubuhnya maju mundur saat berada didalam Nelliel. Menciumi leher gadis itu sedang si gadis bersandar pada kaca. Tangannya sibuk meremasi gundukan kembar yang terasa penuh itu sedang satunya memegangi gaun Nelliel.

Grimmjow melihat keluar, disana ada beberapa orang yang berkumpul di taman. Ia tahu Nelliel sudah hampir mendekati klimaks jadi ia mengambil bibirnya, mencium gadis itu. Pandangan Grimmjow tetap menatap keluar. Anggapan bahwa ada orang yang melihatnya melakukan tindakan seperti itu menambah libidonya hingga ke bawah tubuhnya. Ia terus menegang hingga Nelliel mengeluarkan jeritan kecil dan Grimmjow segera menutup gorden. Tidak terima jika wajah sexy Nelliel bisa tertembus dari sana.

Grimmjow memutar tubuh Nelliel dan segera membopongnya, melingkari tubuhnya. Tetapi dari pintu terdengar sebuah ketukan.

"Grimmjow, apa kau didalam?" tanya Rukia.

Grimmjow belum menjawab dan Nelliel tersenyum kemudian mencium si pria biru itu.

Grimmjow duduk di sofa kemudian tiduran, menyuruh Nelliel yang berada di atasnya untuk bergerak, melanjutkan aktifitas mereka.

"Tidak mau menjawab?" bisik Nelliel.

"Memperhatikan wajah sexymu dan berada di dalammu, bagaimana mungkin aku bisa membiarkan orang lain mengganggu?" tanyanya.

Grimmjow hanya mengangkat bahu saat Nelliel memberinya tatapan mengintimidasi.

"Hallo,.. Grimmjow?" tanya Rukia sekali lagi. Ia mengetuk-ngetuk pintu.

"Iya Rukia, aku ada di dalam. Tunggu 10 menit aku mengalami gangguan."

"Apa butuh bantuanku?" tanya Rukia.

"Tidak, sweetheart. Kau dan aku akan malu jika mengetahui apa yang sedang terjadi padaku," jawab Grimmjow. (Nelliel masih bergerak naik dan turun, begitu pelan dan Grimmjow masih bermain-main dengan payudaranya)

"Ayolah Grimmjow, jangan bermain-main, bibi mencarimu," jawab Rukia.

"Percayalah padaku Rukia, kau akan menyesal jika tahu."

"Memangnya ada apa?" tanya Rukia.

"Terjepit resleting. Kau tahu bagaimana sakitnya," tanya Grimmjow, ia tersenyum geli. Nelliel pun juga ikut tertawa pelan.

"Lelaki dewasa yang ceroboh. Oke. Aku akan memberi tahu bibi, segera keluar setelah 10 menit," jawab Rukia. Terdengar suara heels gadis itu yang segera menjauh.

"Terjepit resleting?" tanya Nelliel. Tangannya bergerak-gerak pelan diatas dada Grimmjow dan gerakannya berhenti.

"Ayolah honey, sudah cukup. Bergeraklah secara cepat, jangan membuatku menunggu seperti ini."

Nelliel menggelengkan kepalanya pelan. Menyingkirkan gaunnya agar Grimmjow punya akses untuk melihat lebih jelas pada dada dan pinggulnya.

Nelliel terkekeh ketika Grimmjow mencubit putingnya. Ia melebarkan pahanya dan ia mengetahui fakta bahwa Grimmjow sekarang terasa lebih besar di dalamnya.

"Kurasa 10 menit waktu yang tidak cukup," jawab Grimmjow. Ia mulai menggerakkan jemarinya menggoda kemaluan Nelliel.

"Hah.. Yahh… sepertinya begitu," Nelliel menggigit bibirnya, "Jika.. Griimmm.. Uh tidak, jangan … " Nelliel menghalangi Grimmjow yang akan mengeluarkan kejantanannya. "Kau yang..emmhh… harus..bergerak."

Nelliel menunduk memberi ciuman pada Grimmjow dan setelah itu Grimmjow membalik tubuh mereka. Membuat Nelliel orgasme untuk ketiga kalinya.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Rukia berbisik pada bibi Akemi, memberitahukan padanya keadaan Grimmjow dan fakta bahwa hal itu membuat pasutri Jaegerjaquez itu tertawa terbahak karena anak laki-laki semata wayang mereka membuat wajah Rukia memerah.

Mereka berdua mengehentikan tawa mereka ketika beberapa tamu undangan menyapa. Tetapi masih menunjukkan senyum kegelian. Rukia meminta izin untuk menghampiri Rangiku karena sekelebatan matanya tadi menemukannya berada tak jauh dari pintu keluar.

Sepuluh menit yang dijanjikan Grimmjow mungkin tak akan ditepati pria itu. Lelaki itu selalu begitu di pesta orang tuanya. Sudah menjadi kebiasaan. Pria itu akan menampakkan batang hidungnya ditengah-tengah acara. Agar menonjol. Itu selalu menjadi alasannya.

Pesta dansa sudah di helat di ballroom. 15 menit sudah berlalu. Matanya mencari Grimmjow tetapi walau ia sudah memincingkan mata, Grimmjow tetap tak ditemukannya. Lelaki itu menyebalkan!

Beberapa dari kerabatnya, seperti Uryuu x Inoue, Bibi Kanae x paman Ryuken, kakaknya x Byakuya sudah berdansa disana dan mereka terlihat bahagia dan menikmati pestanya.

"Bisa menemaniku berdansa nona?" tanya Ichigo. Pria itu tiba-tiba sudah berada di depannya dan mengulurkan tangan.

Rukia menerima uluran tangan Ichigo dan pria itu menariknya pelan menuju lantai dansa dan mereka mulai bergerak mengikuti irama.

"Rukia."

"Yes, sir?"

"Aku akan menciummu jika sekali lagi kau memanggilku sir!"

Pipi Rukia seketika memerah. Tapi kali ini ia tidak mengalihkan pandangannya dari Ichigo. "Itu sudah menjadi kebiasaan."

Ichigo menaikkan satu alisnya.

"Ah, okay. Ichi."

"Oke, itu terdengar lebih manis." Kemudian hening sesaat. Ichigo memindahkan tangannya dari pinggang Rukia menuju belakang punggungnya agak ke bawah.

"Kau telihat agak gemukan," ucap Ichigo.

"A..anda menyadarinya?" tanya Rukia.

Ichigo tersenyum kemudian berbisik pelan, "Kau pikir sudah berapa kali aku menanggalkan pakaianmu?"

Bingo! Wajah Rukia tambah memerah dan Ichigo segera mendekatkan bibirnya pada bibir Rukia. Saat bibir mereka bertemu tiba-tiba seluruh ruangan menjadi gelap sehingga mereka segera memisahkan diri, dan tiba-tiba ruangan menjadi terang.

Alunan musik kembali menggema dan dari arah tangga bermodel "Y" (Bercabang) itu Grimmjow dan Nelliel turun dari sana dan tangan Nelliel bergelanyut manis di lengan Grimmjow. Para tamu undangan bertepuk tangan dengan meriah.

Ichigo meraih pinggang Rukia dan mendekatkan tubuh Rukia padanya. Gadis itu agak sedikit didepan tubuhnya. Rukia melihat ke arah tangan Ichigo yang berada di pinggangnya, Rukia tersenyum. Ichigo mengatupkan rahangnya kuat.

Dari sana dan segera disusul oleh suara Mr. Jaegerjaquez yang sibuk berbicara melalui mickrophone.

"Hadirin, kalian pasti tahu betapa bahagianya malam hari ini, selain pesta pernikahan kami yang ke-26 dan adanya alasan aku ingin segera mendapatkan cucu, ah seharusnya aku tidak mengatakan ini. Lihat sendiri bukan, istriku dan calon besan sudah melototiku." ucapnya.

Hadirin tidak bisa menahan tawa mereka.

"Baiklah, aku langsung saja. Malam hari ini juga sekaligus menjadi malam pesta pertunangan jagoanku, Grimmjow Jaegerjaquez dengan Nelliel Tu Odelschwanck."

Hadirin kembali bertepuk tangan dan Ichigo dibuat bingung oleh ini semua. Rukia ikut bertepuk tangan dan bahkan ia tertawa lebar? What the hell is this thing? Tunangan Grimmjow bukan Rukia?

Ichigo mengencangkan pegangannya pada pinggang Rukia.

"Sir.. Maksudku Ichi, ini agak sakit," ucap Rukia. Matanya masih memandang ke arah depan, memperhatikan Grimmjow dan Nelliel bertukar cincin.

"Kau dan Grimmjow, hubungan kalian apa?" tanya Ichigo.

Rukia mengingat perkataan dari Gin mengenai hubungannya dengan Rangiku beberapa waktu yang lalu kemudian ia tersenyum dan menatap Ichigo dengan pandangan innocencenya, "Hubungan kami cukup rumit dan dekat," jawabnya.

Ichigo mengendurkan tangan yang berada di pinggang Rukia. Gadis itu tadi bilang hubungannya dengan Grimmjow disebut cukup dekat dan rumit. Jadi apa maksudnya? Intinya?

Rukia melingkarkan tangannya pada lengan Ichigo dan memandangnya, "Ichigo, ayo kesana untuk memberi selamat."

Tangan Ichigo yang lain mengelus pelan tangan Rukia yang sudah terpatri di lengannya, "Dan setelah itu bisakah aku tahu, tentang kau dan Grimmjow?"

Rukia tersenyum kemudian sedikit panik, "Good God! Jangan bilang kau menganggap kami dalam sebuah hubungan. Jika ya, mana mungkin aku membiarkan kau melakukan itu padaku, di kama.."

Ichigo menyegerakan untuk menutup bibir Rukia dengan jemarinya,"Kita perlu kesana dan setelahnya kita harus bicara," ucapnya kemudian.

Uryuu melihat ke arah Grimmjow dan Nelliel. Mereka sudah dikerumuni tamu undangan. Dirinya sendiri sudah memberi ucapan selamat pada mereka, ia hanya pergi sebentar untuk mengambil sampanye sampai matanya menatap sosok Rukia. Gadis itu terlihat hampir terjatuh dan perutnya bisa mengenai meja.

Damn! Ia tak bisa menjangkau sepupunya itu karena jarak mereka.

Bayi Rukia!

Dan sekelebatan ia melihat Ichigo menangkap Rukia dan menyelamatkannya.

Disana Ichigo menampik dengan kasar tangan seorang wanita yang menyentuh lengan Rukia.

"Don't touch her," desis Ichigo.

Ekspresi wanita hamil yang menyentuh Rukia begitu kaget diperlakukan seperti itu.

"Aku hanya ingin bertanya apa dia baik-baik saja. Aku tidak sengaja menginjak gaunnya," ucap wanita hamil itu.

"Hypocrite," ucap Ichigo datar.

Belum sempat Rukia mengeluarkan suara, Ichigo merengkuh Rukia dan membawa dalam bopongannya. Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang, Ichigo membawa pergi Rukia dari ruang pesta.

"Lelaki itu benar-benar kasar dan menyebalkan," ucap Inoue.

"Senjumaru, kau baik saja?" tanya Uryuu. Pria itu mendekat kearah mereka berdua.

"Kalian saling mengenal?" tanya Inoue.

"Teman satu kampus. Terima kasih sudah bertanya, aku baik saja," jawab Senjumaru.

Uryuu mendekat lalu mencium pipi Senjumaru. Sedetik kemudian ia berdiri di samping Inoue. Merengkuh pinggangnya.

"Dia tunanganku," ucap Uryuu.

"Kalian terlihat cocok. Soal Ichigo, dia memang sudah dari dulu seperti itu, tapi aku baru tahu dia bisa bersikap seperti itu untuk seorang wanita," jawab Senjumaru.

"Aku juga baru bertemu lagi dengannya beberapa minggu yang lalu. Terlihat lebih emosional dan dingin," jawab Uryuu.

"Berarti kalian sudah jadi teman lama?" tanya Inoue.

"Aku sejak SMA dan Senjumaru, mantan pacar waktu kuliah di semester ke 3."

"Ah, tapi Uryuu sepertinya kau salah sangka. Sudah sejak dulu dia dingin seperti itu padaku, kebanyakan pada wanita maksudku. Aku kira gadis itu begitu spesial baginya," jawab Senjumaru. Mengingat dia pernah menyaksikan sendiri bagaimana Ichigo begitu penuh kasih sayang saat mencium Rukia apalagi ciuman lelaki itu begitu menuntut dan seakan-akan dia bisa saja bercinta dengan Rukia di lobby perusahaan.

"Dia sepupuku Senjumaru dan aku tidak yakin Ichigo benar-benar serius dengannya."

"Coba aku tanya, sudah berapa lama mereka saling mengenal?"

"Beberapa bulan, aku kira."

"Jangan simple minded Uryuu, gadis itu jauh lebih beruntung daripada aku," ucap Senjumaru.

"Maksudnya?"

Senjumaru hanya tersenyum kemudian menjawab, "Kau tidak memberiku selamat, ini anak ke-2 ku yang pertama sudah berumur 5 tahun."

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Rukia menarik jas Ichigo pelan kemudian menatapnya. Ia masih berada di bopongannya sampai saat ini. Pria itu duduk di bangku taman belakang hotel dan Rukia berada di pangkuannya sekarang.

"Aku pikir kau tadi terlalu kasar Ichi," ucapnya pelan.

"Damn! Jangan mencoba membelanya Rukia."

"Aku tidak membela. Lagipula dia bilang tak sengaja. Apa kau tadi melihat bagaimana reaksinya?" tanya Rukia.

"Aku tidak peduli, aku hanya mencemaskanmu. Kau tidak boleh shock lagi setelah perlakuan adikku."

"Bagaimana jika ada seseorang yang melakukan sikap seperti itu kepadaku?" tanya Rukia, matanya menatap kesal pada Ichigo.

"Aku ...,"

Rukia cepat memotongnya, "Oke, mari lupakan ini. Janji padaku kau tidak akan memperlakukan seorang wanita seperti itu lagi."

"Oke dan maaf. Kami-sama! Aku kira aku butuh liburan," ucap Ichigo. Ia menyusupkan salah satu tangannya kedalam rambutnya dan menariknya sebetar.

Rukia mengusap pelan pipi Ichigo, "Pekerjaan direktur tidak mudah aku kira," canda Rukia.

Ichigo memeluk Rukia, menempatkan sisi wajah Rukia pada bahunya, "Tidak mudah apalagi prasangkaku akan hubunganmu dan Grimmjow menambah rasa frustasiku, bahkan aku merencanakan skenario yang tidak elegan jika malam ini memang kau dan dia yang bertunangan," jawabnya jujur.

"Ya Tuhan, apa itu? Kau begitu nekat," jawab Rukia. Tangannya mengelus dada Ichigo.

"Kau tahu aku sangat menyayangimu bukan, aku pikir itu hal yang wajar," ucap Ichigo.

"Tapi Grimmjow bertunangan dengan Nelliel."

"Oh, ya dan itulah nyatanya. Aku seperti pernah mendengar nama keluarganya," jawab Ichigo, ia menyunggingkan senyum tipis.

"Lagipula aku dan Grimmjow sudah seperti sepupu sendiri," jawab Rukia. Ia bergerak untuk turun dari pangkuan Ichigo tetapi pria berambut orange itu tidak membiarkan Rukia melakukannya.

"Aku ingin seperti ini."

Rukia hanya mengangguk lalu kembali pada posisinya semula.

"Aku tidak tahu harus mulai darimana." Kemudian ia tersenyum sebentar, "Bibi Akemi dulunya mantan istri paman Ryuuken."

"Grimmjow dan Uryuu hanya beda ibu?" tanya Ichigo.

"Bukan, Grimmjow tetap anak dari Paman Willis dan Bibi Akemi sedang Uryuu kau sudah tahu sendiri, dia anak paman Ryuken dan Bibi Kanae. Ini terdengar membingungkan," keluh Rukia.

"Masa lalu mereka sedikit rumit. Kakek Jaegerjaquez tidak menyetujui hubungan paman Willis dan bibi Akemi walau saat itu bibi sedang hamil Grimmjow. Ia menjodohkan bibi Akemi dengan paman Ryuken, Padahal waktu itu bibi Kanae juga sedang mengandung Uryuu bahkan paman sudah melamarnya. Paman Willis sendiri pergi ke Italia selama 3 tahun dan membangun bisnis perhiasannya disana, lalu ia kembali dan menikahi bibi Akemi. Tidak terasa dunia ini begitu kecil."

"Dan aku berterima kasih dengan teori itu karena aku bisa menemukanmu," Ichigo menyapukan bibirnya pada kening Rukia, mengecupnya lama.

"Aku antarkan kau pulang?" tanya Ichigo. Dan Rukia hanya mengangguk setuju.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Ichigo belum mau menyingkirkan tangannya yang mengenggam tangan Rukia padahal mobilnya sudah berhenti didepan rumah Rukia.

Ichigo megelus pipi Rukia pelan lalu mencium Rukia. Mulai dari sudut bibirnya kemudian menggigit bibir Rukia agar membuka. Cukup lama hingga Ichigo memutuskan untuk menciumi dagu Rukia dan turun ke bawah menuju leher, kebawah lagi menuju dada Rukia.

Tangan Rukia tak sengaja semakin menggenggam kuat tangan Ichigo kemudian Rukia melepaskannya.

Ichigo tersenyum kemudian mengecup bibir Rukia lagi kemudian melepas tali gaun Rukia yang ada di belakang leher Rukia. Dadanya terekspose sempurna dan Ichigo mengelus mamai Rukia dengan ibu jarinya, "They've gotten bigger I think," ucap Ichigo kemudian ia menekannya.

Rukia hanya bisa mengeluarkan desahan manis dan mengangguk, "Aku tidak napsu makan tapi tubuhku bertambah gemuk."

"Dan kau telihat lebih sexy," Ia membawa mulutnya kesana dan menjilatnya naik turun.

"Ichi, hmm..mm," ungkap Rukia detik itu juga Ichigo menghisap dengan kuat.

Rukia mencari pegangan dengan cara memasukkan jemarinya ke rambut Ichigo, "Ichi.. emhh.. ak..aku tidak bisa malam ini," ucapnya.

"Why?" tanya Ichigo lembut. Ia tidak melepaskan hisapannya sedang tangannya bergerilya di gundukan yang satunya.

'Kandunganku baru berumur beberapa minggu,'- "Aku.. Jadwal menstruasiku," dustanya.

Ichigo menaikkan bibirnya, mengecupi bahu Rukia kemudian kembali ke bibir Rukia dan dengan terpaksa ia menyudahi ciuman itu. Rukia sudah begitu memerah karena rangsangannya. Tapi kemudian Ichigo menalikan kembali gaun Rukia. Ini tidak akan bagus untuk Rukia apalagi dirinya. Jadi dia harus menyudahinya walau tubuh bagian bawahnya menegang dan keras.

"Rukia. Bagaimana jika kau hamil anakku?" tanya Ichigo.

Rukia terbelalak. Apa Ichigo mengetahui kalau dirinya hamil? Atau itu sebuah lamaran pernikahan?

"Bagaimana jika kau harus hamil anakku untuk mengalahkan Uryuu?" tanyanya.

Tiba-tiba dari luar pintu mobil terdengar sebuah ketukan. Dari dalam mereka bisa melihat bahwa itu adalah Uryuu.

Rukia segera turun dari mobil Ichigo sebelum pria itu bisa mencegahnya.

"Umhh.. Hai Uryuu. Sudah lama?" tanya Rukia agak was-was.

Tak disangka Uryuu menyunggingkan senyuman. Berbeda dengan dua hari yang lalu saat Ichigo memulangkannya dari kencan 'sembunyi' mereka.

Rukia menggenggam kuat tas tangannya lalu berjalan mendekat pada Uryuu.

Pria itu mencium kening Rukia lalu menyuruhnya pergi ke dalam.

"Tunggu di dalam Rukia. Aku akan bicara pada Ichigo."

"Kenapa aku harus masuk Uryuu?"

"Angin malam tidak akan bagus untukmu Rukia. Pergilah ke dalam. Aku tidak akan menghajar Ichigo jadi kau bisa tenang," jawabnya lembut.

Rukia hanya mengangguk setuju.

Uryuu mengetuk kembali kaca mobil Ichigo dan dengan segera ia keluar. Membanting keras pintu mobilnya.

"Berapa kalipun kau mencoba mengancamku atau tindakan bodoh dan kriminal sekalipun aku tidak akan menjauhi Rukia," desisnya.

"Kau sudah bertindak terlalu jauh Ichigo. Terlalu jauh hingga aku begitu membencimu. Terlalu jauh." dengan itu Uryuu segera menyusul Rukia masuk ke dalam rumah.

"What the hell is that?" murka Ichigo.

Uryuu menarik rambutnya kesal setelah masuk ke dalam rumah. Sudah terlanjur ia mengetahui Rukia hamil anak Ichigo. 2 hari yang lalu saat ia masuk ke dalam kamar mandi Rukia. Mencarinya karena ia mengkhawatirkan gadis itu yang wajahnya terlihat pucat dan ia malah menemukan testpack bergaris merah dua.

Ini sudah terlanjur jauh. Sama seperti ucapannya dua hari yang lalu.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Sudah 2 minggu sejak pertunangan Grimmjow dengan Nelliel-putri politikus Perfektur Hokkaido- dilaksanakan tapi sejak itu pula Ichigo tidak menjumpai Rukia di kantor. Gadis itu selalu mengangakat telepon darinya membalas pesan-pesannya tetapi anehnya yah itu, Ia tidak bisa menjumpai Rukia di kantor bahkan tiap ia melihat Rangiku -yang bagai pinang dibelah 2- dengan Rukia tidak semenitpun mereka terlihat jalan bersama.

Ichigo segera menyuruh Hisagi untuk mencari tahu dan hal yang membuatnya marah tak lain Uryuu lagi. Rukia meminta izin cuti selama 2 bulan untuk kepentingan kesehatannya tapi Ichigo tahu itu hanya akal-akalan Uryuu yang berusaha menjauhkan Rukia dengannya.

Dengan tidak sabar Ichigo memecet tombol ponsel flipnya.

"Kita butuh untuk bertemu bro. Dan senang sekali jika aku bisa memukul wajah tampanmu itu." dengan itu Ichigo menutup sambungan telepon.

2 minggu yang lalu ia menjuluki dirinya berbuat terlalu jauh dan sekarang malah dia lah yang berbuat lebih dari terlalu jauh!

Flashback

Uryuu menarik rambutnya kesal karena emosi. Detik berikutnya ia mengatur napas ketika masuk kedalam rumah Rukia. Memikirkan sesuatu yang sudah diketahuinya yaitu tentang kehamilan Rukia. Uryuu langsung naik ke lantai dua dan menuju kamar Rukia.

"Rukia, boleh aku masuk?" tanya Uryuu.

"Tunggu sebentar, aku sedang ganti baju," jawab Rukia dari dalam.

Uryuu hanya menunggu sambil memegangi kenop pintu. Beberapa saat kemudian Rukia membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan dirinya masuk. Uryuu segera duduk di pinggiran ranjang dan memita Rukia duduk di sampingnya.

"Aku ingin berbicara hal penting denganmu Ruki, dan aku yakin kau sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan," ucap Uryuu.

Rukia duduk berjajar dengan Uryuu, mengambil napas panjang, "Apa soal malam ini bersama Ichigo?" tanya Rukia.

"Bukan. Tapi soal kehamilanmu. Aku menemukan ini di kamar mandimu," jawab Uryuu.

Rukia membuang muka, "Kenapa kau berpikir kalau itu punyaku?" tanya Rukia.

"Kau tidak pernah mengalihkan pandangan saat bicara Rukia jika kau lakukan berarti kau takut. Sudah aku bilang aku menemukan ini di kamar mandimu, jika bukan milikmu lalu punya siapa?"

Uryuu mengambil tangan Rukia dan menggenggamnya, "Jujurlah padaku Rukia, tidak mungkin ini milk Sana. Kehamilannya sudah lebih dari 6 bulan. Apa perlu meyakinkan diri dengan memakai ini?" tanya Uryuu.

Rukia menggeleng dan dari matanya sudah meneteskan cairan bening, "Maaf tidak memberitahukannya kepada kalian . . . Tapi, Uryuu, ... Aku tidak menyesalinya." ucapnya dengan tangisan sesenggukan.

Uryuu menyungging senyum mencoba menenangkan Rukia lalu membawa Rukia dalam pelukannya. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada Uryuu, "Kau benar-benar mencintai Ichigo?" tanya Uryuu.

"Aku mencintainya Uryuu, sangat," jawab Rukia.

Uryuu mengelus kepala Rukia, "Kau sudah memberitahu tentang kehamilanmu padanya?" tanya Uryuu.

Rukia menggeleng di pelukan Uryuu.

"Kenapa?" tanya Uryuu.

"Aku tidak tahu. Aku masih tidak tahu dia menganggapku sebagai apa. Lagipula jika apa yang kau katakan itu benar tentang dia yang ingin balas dendam pada paman melalui aku, aku belum siap untuk jauh darinya dan menjadi sakit hati," jawab Rukia.

"Jadi, apa yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya Uryuu.

"Membuat hatiku siap sebelum memberitahukan berita ini padanya," jawab Rukia.

"Good girl. Aku tahu kau wanita kuat sister. Tapi aku tidak akan pernah memaafkannya jika ia membuatmu sakit hati. Dia akan mendapat balasannya dariku," jawab Uryuu.

"Tidak Uryuu. Dalam hubunganku dengannya akulah yang bersalah. Kau sudah memperingatkanku. Tolong jangan sakiti dia jika dia memang tidak menginginkan bayi ini, aku siap menjadi seorang single mother."

"Aku tidak janji Rukia. Kau tahu bagaimana aku. Berapa usia kandunganmu sekarang?" tanya Uryuu.

"Uryuu... " Rukia mencoba merayunya agar dia tidak melakukan tindakan bodoh pada Ichigo.

"Aku tidak janji Rukia!" tegasnya.

Rukia menjauh dari dada Uryuu kemudian menatapnya, "Please, Uryuu," ucapnya lagi.

"Ruki, aku bertanya betapa usia kandunganmu?"

"Uryuu!" Rukia membentaknya, "Aku mengingatkan dirimu tentang pacar pertamamu! Semua akan terasa salah jika dipaksakan. Keduanya akan terluka! Dan aku sudah membulatkan tekadku. Tidak bisakah kau menghargainya?" tanya Rukia.

"Oke Ruki. Oke. Aku mengerti. Jangan membuat dirimu stress berlebihan!"

Uryuu menghela napas panjang, "Tidurlah! Besok aku akan menjemputmu dan kau akan pindah ke rumahku," ucapnya.

"Tidak. Kenapa aku harus pindah ke rumahmu?" tanya Rukia kesal.

"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dirumah sendirian sedang kau hamil muda. Lagipula Sana ada di rumah suaminya. Aku akan memberitahu ayah dan ibu, sekarang tidurlah dan menurut padaku Rukia!" ucap Uryuu. Pria itu membantu Rukia tidur lalu menyelimutinya. "Selamat malam," lanjutnya.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Rukia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya tertuju pada Ichigo. Sudah lima hari ini dia berada di rumah pamannya. Sudah 5 hari pula ia tidak masuk kerja. Uryuu meminta dirinya untuk mengambil cuti dan Rukia mengikuti permintaan Uryuu. Lagipula dia juga ingin agak jauh dari Ichigo. Dr. Kurosaki yang menjadi presdir di perusahaan mengizinkannya untuk meninggalkan perusahaan sementara waktu. Alasannya untuk terapinya dan hal itu memang benar. Pekerjaannya juga membuatnya capek. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya. Ia harus bisa mengontrol rasa stressnya.

Ichigo. Nama itu terdengar indah ketika diucapkan. Ia memang sangat mencintai pria itu jika tidak bagaimana mungkin ia membiarkan seorang pria mengambil hal yang setiap wanita jaga. Keperawanan. Sejak pertama kali bertemu pria itu sangat mengesankan bagi harinya. Ingat kejadian di lift khusus bukan?

Flashback

Pagi itu begitu terburu-buru karena Rukia bangun kesiangan padahal dirinya harus mengikuti interview di Kurosaki Group. Ia yang tidak terbiasa naik mobil pagi itu terpaksa meminjam mobil kakaknya. Lagipula Sana masih dalam masa cuti setelah pernikahan dan honeymoon-nya. Dokter Kurosaki yang selaku Direktur Utama di rumah sakit kakaknya bekerja memperbolehkan kakak perempuannya itu mengambil cuti yang lebih panjang. Waktu itu dirinya tidak tahu bahwa dokter Kurosaki adalah pemilik-presdir- dari Kurosaki Group juga. Ia baru tahu setelah insiden pemukulan yang dilakukan adik Ichigo karena waktu itu dokter Kurosaki meminta maaf karena ulah anak perempuannya. Kata Hisana dulu sebenarnya rumah sakit itu milik istrinya yang telah meninggal.

Rukia segera berlari saat melihat jam tangannya. Ia hanya punya waktu 5 menit lagi sebelum wawancara dimulai. Ia melihat lift yang paling dekat dengan mobilnya menutup sehingga ia berlari untuk mengejarnya tetapi nasib begitu sial mengenainya. Ia terjatuh terjungkal kedepan bahkan seluruh tubuhnya mencium lantai basement dan salah satu high heels nya melayang melewati kepalanya. Mau tak mau sebelum pintu lift tertutup ia melemparkan heelsnya dan lemparannya memang begitu pas sehingga menyebabkan pintu lift itu terbuka. Ia menghela napas panjang. Dia harus segera berdiri atau tidak ia akan tertinggal lift lagi.

Detik berikutnya saat Rukia mencoba bangun, terlebih dahulu dua tangan kekar mengangkat tubuhnya dari tengkurap yang memalukan. Entah pria itu sengaja atau tidak, salah satu tangannya mengenai payudaranya dan itu membuat wajahnya merona. Sedang pria yang satunya mengambilkan high heels dan tasnya.

Pria yang mengangkat dirinya tadi berbisik padanya dengan suara pelan, kuat dan dalam, "Lain kali harap berhati-hati."

Pria yang satunya yang lebih tua meletakkan heelsnya didepan kaki Rukia lalu memberikan tasnya, "Ini, nona," ucapnya sambil tersenyum.

Rukia membalas senyuman itu dengan raut muka malu. Bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya jatuh konyol seperti itu, "Arigatou," ucap Rukia.

Pria yang lebih muda -Ichigo- sudah masuk duluan kedalam lift sedang Kaien menyuruh Rukia untuk ikut masuk dan Rukia menurut.

Lift mulai berjalan. Rukia yang memang sangat malu selalu menatap ke lantai lift.

Rukia mencuri pandang sebentar pada Ichigo yang berdiri di belakangnya. Hembusan napas pria itu beberapa kali mengeai telinganya. Saat ia berbicara aroma mint begitu kental juga aroma maskulin dan parfumnya yang khas membuat detak jantung Rukia berdetak kencang.

"Boleh aku tahu dimana tempat wawancara?" tanya Rukia. Oh God! Dia bodoh. Kenapa ia tadi tidak langsung ke tempat resepsionis dan bertanya disana? Lagipula jika kedua orang ini tidak bekerja disini bagaimana?

"Accounting? Aku akan mengantarmu," ucap Ichigo di telinga Rukia. Ia memencet angka 9 dan menyebabkan tubuhnya sedikit menghimpit Rukia. Tubuhnya bagai tersengan listrik statis beberap detik.

Woaahh. Hang in there honey. Jaga hormonmu. Tubuh pria itu benar-benar mempengaruhi kinerja otaknya.

Diinnggg! Lift membuka. Rukia keluar diikuti oleh Ichigo. Pria itu memposisikan tangannya dipunggung Rukia, menunjukkan dimana seharusnya berada untuk wawancaranya.

"Disana," tunjuk Ichigo.

"Terima ka.." Rukia membalikkan badan untuk berterima kasih tetapi saat Rukia belum sempat mengucapkan semua kalimatnya pria itu sudah berbelok di lorong kantor.

Rukia tersenyum lalu berjalan menuju tempat yang ditunjukkan Ichigo. Disana sudah ada beberapa orang yang menunggu giliran untuk wawancara.

Flashback End

Rukia tersenyum mengingat kenangan bagaimana ia pertama kali bertemu dengan Ichigo. Ia mengelus perutnya dengan sayang. Bukan maksudnya untuk tidak memberitahukan Ichigo, hanya saja dirinya takut apa yang dikhawatirkan oleh Uryuu memang benar menjadi kenyataan. Terakhir saat mereka bertemu di pesta pertunangan Grimmjow, Ichigo meminta dirinya agar hamil anaknya untuk mengalahkan Uryuu jadi apa maksud Ichigo sebenarnya?

Lalu, satu hal lagi yang membuatnya ragu, 2 minggu lalu Ichigo baru saja diangkat menjadi direktur jika Rukia memberitahukannya sekarang itu akan terliat bahwa Rukia menjebak Ichigo dan tertarik pada lelaki itu karena hartanya. Jadi dia memutuskan untuk menunda memberitahukan berita kehamilnnya itu pada Ichigo. Mempersiapkan hatinya untuk dua kemungkinan yang sama-sama akan menyakiti hatinya.

Rukia melihat kearah ponselnya. Dua menit yang lalu sepertinya ia mendapat pesan singkat. Ia membuka ponsel flip hijaunya. Itu pesan dari Ichigo, pangerannya. Untuk saat ini entah dua bulan kedepan ia akan menjadi apa.

Malam Love. Apa kau sudah tidur? Aku merindukanmu.

Rukia menghela napas panjang sebelum membalas pesan dari Ichigo.

Malam . Aku insomnia. Aku juga merindukanmu.

Mau agar aku menemanimu? Aku akan menjagamu sampai kau tidur ?

:O Tidak perlu. Aku hanya akan meminum segelas susu dan akan tidur nyenyak.

Kalau begitu cepat minun susumu dan segera tidur. Kau terlihat jelek jika besok aku melihatmu dengan mata panda. Aku ingin segera bertemu denganmu dan memelukmu.

Semoga kau bisa cepat melaksanakan keinginanmu. Aku juga ingin memelukmu . B

Oh God. Jangan mengodaku Love. Aku sedang tidak berada di Jepang sekarang. Perjalanan dinas. Kemarin aku berharap bisa membawamu.

Kau lucu. Bagaimana mungkin kau bisa membawaku. Aku bawahanmu. Bagaimana nanti tanggapan karyawan lain? Aku akan tidur. Selamat malam.

Rukia memang mengantuk sekarang. Mungkin itu pembawaan bayinya jadi ia memutuskan untuk mematikan ponselnya.

Ichigo tersenyum menerima pesan dari Rukia. Ia membayangkan Rukia mengatakan pesan singkat itu tepat dihadapannya dengan wajah cemas dan kesal. Huh bukan. Dia ingin segera pulang dan bertemu dengan Rukia. Ichigo mebalas pesan Rukia dengan gaya singkat dan dominannya tetapi ketukan di pintu menyebabkan ia meletakkan ponselnya dan sebelum pesan singkat itu terkirim ponselnya seketika mati karena lowbatt.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Ichigo berjalan cepat menuju kantor Uryuu. Demi Tuhan! Dia sebenarnya tidak sudi datang ke rumah sakit ini walau ini milik keluarga dari mendiang ibunya apalagi sekarang pemiliknya sudah pindah tangan atas nama ayahnya. Ppfftt ... Dia bahkan tidak sudi menyebut dirinya ayah.

Kematian ibunya membuat dirinya membenci dokter bedah dan sejenisnya. Untung di tahun keduanya dulu saat kuliah ia segera hengkang. Memilih keluar dan mengambil jurusan manajemen di Jerman. Memilih jalur yag berbeda dari ayah bajingannya dan keinginannya sekarang adalah mengambil perusahaan yang sudah ditelantarkan ayahnya sedang pamannya fokus pada perusahaan keluarga yang satunya. Ah tapi ayahnya itu sedikit lucu, walau dia sudah mengambil alih rumah sakit ia tidak bisa melepaskan gelar Presiden Direktur dari perusahaan.

Ia begitu kesal kenapa ia harus datang kemari. Si brengsek Uryuu tidak bisa bertemu dengannya diluar. Jadwal bertemu dengan pasienlah yang membuat dia tidak bisa keluar walau saat istirahat.

Tanpa mengetuk pintu ia segera masuk kedalam ruangan Uryuu.

Uryuu mengangkat kepala dari berkasnya dan menyungging senyum, "Aku sudah menunggumu, Ichigo. Lama tidak berjumpa."

Ichigo menyunggingkan senyum tersinggung, "Oh ya, lama tidak bertemu bro."

"Tidak jadi ingin memukulku?" tanya Uryuu.

Ichigo menyunggingkan senyum sinis, "Aku hanya kasihan pada pengantin wanitanya jika aku memukulmu walau tawaranmu itu adalah hal yang paling menyenangkan saat ini," jawab Ichigo.

"Dimana Rukia?" ucapnya tajam.

"Di rumahku tapi dia bilang dia tidak ingin menemuimu 2 bulan ini," jawab Uryuu.

"Ha..," jawab Ichigo sarkastik, "Itu lucu. Dia masih menghubungiku dan kau bilang dia tidak ingin menemuiku?" tanya Ichigo.

"Tidak bisakah kau memberinya ruang agar dia melakukan hal yang dimintanya. Lagipula dia sedang ingin berkonsentrasi pada terapinya," jawab Uryuu.

"Itu hanya alasanmu," jawab Ichigo.

"Silahkan keluar dari sini dan pergi ke ruangan terapisnya. Aku sudah memberitahunya agar dia menjelaskan pada seorang pria sinting jika pria itu bertanya tentang keadaan sepupuku," jawab Uryuu emosi.

"Kenapa ia tidak ingin bertemu denganku?"

"Sudah aku bilang dia ingin konsentrasi. Kau kemanakan telingamu itu?" ucap Uryuu geram.

"Apa butuh waktu selama itu?" ucap Ichigo geram.

"Aku bilang temui terapisnya jangan kau tanyakan semuanya padaku. Lagipula Presdir mengizinkannya," jawab Uryuu.

"That damned old man! Dia tidak membertitahuku!"

"Bukankah lebih baik kau tidak mengetahuinya bukan? Aku sudah bilang padamu Ichi, jangan mendekati adikku tapi .. ah sudahlah, aku harap kau segera keluar dari ruanganku," ucap Uryuu.

"Aku mendekatinya karena aku menyukainya. Brengsek, kau sudah bilang jangan mendekati keponakanmu itu sejak kapan hah? Sejak tahun pertama kuliah!" bentak Ichigo.

"Buktikan kau serius padanya dulu jangan banyak bicara, a*shole!"

Ichigo segera keluar dari ruangan Uryuu dan menutup pintunya kasar.

"That damned old man! Kenapa dia tidak memberitahukannya padaku lebih dulu," geram Ichigo.

Kaichou No S ©_SheWonGirl_

Ichigo melangkah cepat di koridor rumah sakit menuju ruangan kerja ayahnya-yang tadi ia sebut dengan damned old man. Ingin menanyakan kenapa pria itu tidak memberitahukan keadaan Rukia pada dirinya.

Tetapi dari kejauhan ia sudah melihat ayahnya itu keluar dari ruangan dan berjalan di lorong. Ia melepas masker yang menutupi wajahnya jadi dengan segera Ichigo menghampirinya sebelum ia nanti akan pergi entah kemana.

"Aku ingin bicara," ucap Ichigo datar.

Ayahnya menghela napas panjang, terlihat begitu capek setelah keluar dari ruang operasi, "Baiklah, kita bicara di ruanganku," jawab ayahnya.

"Tidak. Aku ingin bicara disini," jawab Ichigo.

"Kita duduk disana," ayahnya menunjuk kursi tunggu dan segera berjalan tetapi Ichigo menghentikannya.

"Cukup dengan basa-basinya. Aku tidak punya cukup waktu apalagi kau," sengit Ichigo.

"Ingin bicara soal apa?"

"Kenapa tidak memberitahuku soal Rukia, soal cutinya. Kau tahu dia wanitaku," ucap Ichigo.

"Bukankah kau bersikap sedikit kekanakan? Aku hanya bersikap sesuai dengan posisiku, sebagai presdir dan sebagai seorang ayah," jawabnya.

"Aku hanya kesal kenapa selama dua minggu tidak ada yang memberitahuku!"

"Harusnya kau yang bertanya padanya kenapa dia tidak memberitahumu. Hubungan kalian lebih personal."

"Oke. Terserah,"

"Aku hanya mencoba menyembuhkan pobhianya karena kesalahan Karin, tapi kau kini menyalahkanku karena aku tidak memberitahumu?"

"Aku tidak menyalahkanmu karena Rukia dan aku tidak memintamu menjadi masochist, kau tak ingat?"

Ayah Ichigo terlihat sedikit limbung kemudian duduk di kursi yang dua langkah di depannya.

"Isshin, aku menyarankanmu untuk segera istirahat," ucap Ryuuken tiba-tiba didepan Ichigo. Tidak menyadari kalau itu dia.

"Halo, paman Ryuken," ucap Ichigo.

"Kau disini?" tanyanya.

"Ya, aku disini. Apa ayah tercintaku ini kelelahan? Apa intensitas terhadap stressnya diluar batasnya? Oh ayolah ayah, tidak lucu jika dokter bedah punya penyakit jantung, bukan?"

"Dia baru keluar dari ruang operasi Ichigo." Paman Ryuken memberikan pernyataan.

"Aku melihatnya. Sebenarnya aku akan lebih suka melihat dia medapat serangan jantung di depanku agar aku bisa segera mendoakan kematiannya dan tidak selalu dikabari melalui telepon."

"Jaga ucapanmu atau tidak, tutup mulutmu itu!" bentak Ryuken.

"Aku sudah lama tidak bertemu denganmu dan begini perlakuanmu padaku, paman?" tanya Ichigo.

"Hentikan. Jangan membuat gaduh disini," ucap Isshin.

"Kaulah yang harusnya diam, brengsek!"

"Anak macam apa kau Ichigo?" bentak Ryuken.

"Aku yang harusnya bertanya pada dia ayah macam apa dirinya? Aku sudah menyiksanya selama 8 tahun tapi dia tidak tahu apa kesalahannya!"

"Kau tidak seharusnya menyalahkan ayahmu terus-terusan karena kematian ibumu!"

"Are you fu*king kidding me? Aku tidak pernah menyalahkanmu atas kematian ibuku, paman dan berikan informasi itu pada anakmu! Aku tidak mendekati Rukia karena itu. Ibuku bertahan hidup dengan 30% prosentase keberhasilannya tetapi tanyakan pada dia dan pelacurnya kesalahan apa yang dibuat mereka!"

Ayah Ichigo menatapnya dan membelalakkan mata, terkaget. Sedang paman Ryuken tidak mengerti maksud Ichigo.

"Ha, aku baru saja memberimu clue bukan, ayahku. Jika adikku tidak menyebut kau dengan panggilan itu sudah lama aku ingin sekali membunuhmu," desis Ichigo. Ia mengendurkan dasinya dan berjalan menjauhi mereka. Pergi dari rumah sakit yang memberi banyak luka di hatinya.

Damn! Kenapa banyak orang yang menyangka ia mendekati Rukia karena kematian ibunya? Ia bahkan bertemu Rukia sejak gadis itu menginjak masa remaja dan jatuh cinta pada gadis itu saat dia menginjak dewasa. Pertemuan di lift bukanlah yang pertama kalinya tetapi itu sudah yang ke tiga kalinya.

Dan soal ayahnya sudah 8 tahun ia tidak mengucap sepatah katapun pada ayahnya, menyiksa batin ayahnya. Tetapi pria itu sama sekali tidak mengetahui kesalahannya? Brengsek!

24-12-2014

Bersambung . . . . .

Bercanda XD

Aku mau ngasih flashbackan di kamar mandi walau ini chapter yang telat untuk menulisnya, tapi kurasa ini perlu haha

Kondo milik Ichigo

Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Rukia terbangun karena kepalanya terasa pusing sekali. Akibat yang ditimbulkan oleh sake yang diminumnya tadi, sedikitpun belum meninggalkan tubuhnya, walau dengan air lemon yang diberikan oleh Ichigo sekalipun. Pusing hebat menderanya dan ia merasakan perutnya mual lagi. Ia melihat sebentar kearah Ichigo. Pria itu tidur begitu pulas di sampingnya. Rukia menggerakkan jemarinya untuk mengelus kening Ichigo yang mengeluarkan guratan kecil. Rukia menyungging senyum lalu mencoba pergi ke kamar mandi dengan langkah limbung dan tangan yang mengelus-elus kepalanya sendiri.

Rukia beberapa kali muntah di wastafel kamar mandi dan saat dirinya ingin kembali, ia terpeleset dan tak sengaja tangannya menyenggol gelas wadah sikat gigi. Bunyi yang disebabkan benda itu begitu keras hingga membuat Ichigo tersentak dan bangun dari tidurnya.

Rukia mencoba berdiri tetapi tubuhnya limbung sehingga ia terjatuh lagi dan pecahan kaca itu mengenai beberapa ujung jemarinya dan juga lututnya.

Ichigo langsung masuk begitu saja dan terkaget melihat Rukia yang berada di lantai dengan darah yang menetes. Pria itu langsung mengangkat Rukia keatas wastafel cabinet itu, mendudukkannya disana. Dengan cekatan pria itu langsung menghisap darah yang keluar.

Ichigo merawat luka Rukia dengan cepat. Rukia sendiri hanya mampu memandangi. Terlihat jelas di mata amber Ichigo bahwa pria itu benar-benar khawatir padanya.

"Arigatou gozaimasu, sir," ucapnya kala itu.

Ichigo tersenyum dan meyibakkan rambut panjang Rukia dari wajahnya lalu mencium pipinya, "Lain kali berhati-hatilah. Seharusnya tadi kau membangunkanku."

Rukia menggeleng, pipi dan telinganya terlihat memerah, "Aku sudah sangat merepotkanmu malam ini."

"Aku sangat senang jika kau repotkan setiap hari, jadi tidak apa-apa." ucap Ichigo. Ia bermaksud menurunkan Rukia dari sana tetapi gadis itu kembali mengaduh.

"Oucchh…"

"Masih ada yang sakit? Dimana?" tanya Ichigo. Dirinya agak memundurkan tubuh dan ia melihat celana cokelat muda panjangnya tertembus darah di lutut gadis itu.

Ia menatap Rukia serius, "Buka celanamu, schatz*, sekarang."

"Tapi, aku ..," Bagaimana mungkin dia bilang kalau dia tidak memakai celana dalam?

"Sekarang, Rukia," ucap Ichigo lagi, lebih mengintimidasi.

"Aku akan membukanya tapi kau harus berbalik," ucap Rukia.

"Oke, buka resletingnya saja dan biar aku yang mengerjakan sisanya."

Rukia hampir membuka suara tetapi Ichigo melarangnya sehingga Rukia melakukan perintah Ichigo saat pria itu juga berbalik.

Rukia menurunkan celana itu hingga betisnya. Wajahnya tambah memerah saat Ichigo meloloskan celana itu dari kakinya.

Ichigo memposisikan wajahnya tepat didepan lutut Rukia hingga gadis itu menarik kemeja yang dipakainya untuk menutupi paha.

Ichigo tersenyum, menyeringai tetapi melaksanakan tugasnya dengan baik. Merawat luka Rukia adalah hal pertama yang harus dilakukan olehnya. Rukia beberapa kali mengaduh saat alcohol itu menyentuh kulitnya yang terluka. Kurang dari lima menit Ichigo sudah selesai dan tangannya langsung menuju paha Rukia, membelai tangan Rukia.

"Singkirkan tanganmu, aku harus melihatnya," ucap Ichigo.

"Tidak, sir, hanya goresan kecil yang bisa sembuh sendiri," jawab Rukia.

"Rukia, tangan! Segera singkirkan mereka," ucap Ichigo.

Rukia menatapnya takut-takut dan menggeleng, "Tidak. Apapun yang akan kau lakukan aku tidak akan memindahkan tanganku," jawab Rukia.

Ichigo tersenyum manis lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Rukia, "Apa yang kau katakan itu benar?"

Ichigo mulai menjilat belakang telinga Rukia, keatas kebawah kemudian membuat gerakan melingkar. Tangannya aktif di punggung Rukia, mengelus pelan. Tangan satunya aktif bergerak di payudara kanan Rukia, membelai pelan, meremas sebentar lalu menggerakkan ibu jarinya tepat diatas putingnya. Bibir Ichigo menelusuri leher Rukia dan gadis itu mengeluarkan desahan tertahan.

"Ini .. tidak.. eemh.. adil."

Ichigo menekan ibu jarinya, memberi kiss mark di leher Rukia, "Ini adil. Sekarang ini aku doktermu dan kau pasienku, seharusnya kau menurut padaku," bisik Ichigo didepan bibir Rukia. Dirinya mencumbu Rukia dan memasukkan lidahnya di sudut bibir Rukia.

"Aku.. unngh.. tidak memakai.. haahh.. celana dalam."

"Aku sudah tahu sejak awal," Ichigo menyudahi ciumannya dan sedikit memundurkan tubuhnya. "Singkirkan tanganmu dan angkat kakimu yang terluka itu keatas."

Rukia menurut dan menaikkan kaki terlukanya itu keatas, sedikit meringis merasakan nyeri pada lututnya. Ichigo langsung melayangkan bibirnya pada paha dalam Rukia dan menjilatnya, "Desinfektan. Kurasa cukup dengan ini."

Tapi Ichigo tidak menyudahi. Bibirnya dibawa semakin keatas, "Damn! Kau basah dan berkilau. Rukia, jika aku berkata aku ingin bercinta denganmu, apa jawabanmu?"

"Ya. Aku tidak tahu mantra apa yang kau gunakan padaku. Perutku bagai dihinggapi ribuan kupu-kupu."

"Itu artinya kau menginginkanku, darling." Ichigo melepas jubah mandinya, "Dan akupun merasakan hal yang sama denganmu."

Milik Ichigo begitu besar dan menegang. Rukia hampir tidak percaya pada pengelihatannya. Dengan secepat kilat Ichigo melepaskan kemeja Rukia. Memberikan beberapa kissmark didada Rukia.

"Aku harus segera memasukkan milikku kedalam dirimu, schatz, kau lebih dari siap."

Rukia menatap Ichigo ragu, "Aku seorang gadis perawan."

Ichigo agak tersentak kaget lalu tersenyum, 'Grimmjow belum menyentuh Rukia? Itu bagus! Aku yang akan jadi pria pertama dan terakhirnya.'

"Apa kau mempercayaiku untuk ini? Menyerahkannya padaku?"

Rukia mengangguk.

"Ini akan sakit tapi aku berjanji kau akan menikmati setelahnya."

Ichigo mulai memasukkan kejantanannya pada kewanitaan Rukia. Rukia menggigit bibirnya keras mengimbangi invasi Ichigo yang dilakukan pada tubuhnya. Baru setengah milik Ichigo yang masuk, dinding Rukia berkedut cepat. Gadis itu mendapatkan klimaks nya yang pertama.

Ichigo mencium bibir Rukia agar gadis itu tidak panic. Didalam Rukia benar-benar tidak bisa di deskripsikan dengan kata-kata. Ia begitu ketat dan nikmat.

Ichigo mengangkat Rukia dan sekaligus menghentakkan tubuhnya agar miliknya masuk sepenuhnya dan itu menyebabkan jeritan kecil yang keluar dari bibir tipis Rukia. Punggungnya merasakan tetesan air mata milik Rukia.

Ichigo mengelus kepala Rukia dan mencium telinganya, "Pegangan padaku dengan erat, darling. Aku akan memenuhi janjiku."

Ichigo membawanya ke kamar. Menindih tubuh Rukia dan menggerakkan dirinya keluar masuk. Ranjang itu menjadi saksi bersatunya tubuh mereka.

Jeritan kecil keluar dari mulut Rukia saat dia mendapatkan orgasmenya yang ke dua disertai desisan keras dari mulut Ichigo.

Tak berhenti dengan itu, Ichigo menggerakkan jemarinya pada payudara Rukia dan dia mendapatkan orgasmenya yang ketiga disertai Ichigo yang kembali menanamkan benihnya pada rahim Rukia.

Ini tadi alurnya 5 hari setelah pertunangan Grimm Nell dan 2 minggu setelah pertunangan Grimm Nell ( dan Rukia sehari setelah pertunangan Grimm Nell memang izin cuti 2 bulan) :D

*Impulsif : suatu tindakan yang didasarkan dengan adanya dorongan untuk mengekspresikan keinginan.

*Schatz : panggilan saying dalam bahasa Jerman