Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!
Pairing : IchiRuki
Genre : Romance
Rate : M
Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Flashback
Di tanah hijau yang dipenuhi dengan nisan itu ia berdiri. Dengan setelan serba hitam dan sebuah payung yang berada di genggamannya, Ichigo mengikuti prosesi pemakaman salah satu teman sekelasnya dengan khidmat. Abarai Renji, lebih kepada sahabat daripada seorang teman setelah Uryuu. Ia menjadi salah satu korban tabrakan bus yang terjadi kemarin siang di jalan raya. Kondisinya semalam semakin kritis dan nyawanya tidak terselamatkan. Sahabatnya itu tercatat sebagai korban ke 7 yang memeninggal dengan usianya yang baru berumur 15 tahun.
Hujan semakin deras mengguyur. Sekebatan tadi ia melihat Uryuu berada di kerumunan pelayat dan menghilang dibalik pohon.
Laki-laki itu lebih terpukul lagi karena hari ini juga pemakaman 2 anggota keluarganya. Paman dan bibinya menjadi korban pembunuhan tadi malam.
Satu-persatu para pelayat meninggalkan area pemakaman. Ichigo sendiri yang paling belakang. Ia berjalan melewati pembatas antara kuburan satu dengan yang lainnya. Ketika ia mendengar suara tangisan menggugu dari seseorang, ia berbalik mencari. Entahlah bisa saja ia tak memperdulikan suara itu. Ini sebuah kuburan dan hal biasa jika ada tangisan adalah hal yang menyertai kematian mereka.
Suara itu berasal dari gadis yang tak lebih berumur dari 9 tahun. Ia memeluk pusara itu ditengah guyuran hujan deras dan sendirian. Ichigo memayungi tubuh gadis itu lalu berjongkok.
"Tou-san, kaa-san kalian membelikan gaun ini untuk ulang tahunku dan kalian bilang aku akan cantik." Ia mengelus gaun putih yang sebagian besar terkena lumpur karena cipratan air hujan.
"Kau bisa sakit jika menangis seperti itu terus," ucapnya.
Gadis itu hanya menggeleng.
"Dimana keluargamu yang lain?" tanya Ichigo.
"Tou-san dan kaa-san," Gadis itu menunjuk pusara yang satunya, "Mereka pergi karena aku."
Ichigo tanpa sengaja membaca nama mereka, "Kenapa mereka pergi karena kau?"
"Mereka melindungiku dari perampok," jawabnya, tangisannya tambah deras.
Ichigo mengulurkan tangannya dan membelai pipi gadis itu. Lalu menyunggingkan senyum dan membersihakan wajahnya dari rumput dan tanah. Gadis kecil itu terlihat sangat pucat.
"Bukankah itu membuktikan bahwa mereka sangat mencintaimu, hmm?" tanya Ichigo. Ichigo mengelus kepalanya pelan.
"Tapi aku menyebabkan kakakku tidak punya orang tua," ucap gadis kecil.
"Jadi bukankah sekarang kau yang harus melindungi kakakmu? Kau harus kuat dan gadis yang kuat tidak menangis," jawabnya.
Gadis itu cepat-cepat menyeka air matanya.
"Apa boleh seperti itu?" tanyanya.
"Tentu, bukankah mereka meninggalkanmu agar kau bisa bersama kakakmu?" tanya Ichigo.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum.
Ichigo melepas jaketnya kemudian memakaikan itu pada si gadis kecil.
"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu."
Gadis itu menggeleng. "Bibi dan pamanku pasti masih disini. Aku tadi hanya berlari kembali kesini saat mereka mengajakku pulang," jawabnya.
"Mereka membiarkanmu berada disini,"
"Sshtt.. Ini rahasia, tadi aku pergi tanpa memberitahu mereka. Merka pasti belum jauh dari sini."
"Kau gadis pintar pasti tahu dijalan mana mereka memarkir mobilnya." Ichigo mengulurkan tangan.
Gadis kecil itu menerima dan menggenggam tangan Ichigo, "Tentu."
Mereka berdua berjalan meninggalkan kedua pusara itu. Berjalan di jalan yang berpaving dengan tangan gadis itu yang menunjuk mobil yang beberapa sudah meninggalkan area pemakaman.
"Itu kakakku, bergaun putih."
Seseorang yang ditunjuk berlari mendekat menghampiri mereka dengan memanggil-manggil gadis itu dengan nama Ruki. Tapi gadis kecil melepaskan tangan Ichigo dan berlari pada kakaknya. Mereka saling bicara dan si gadis kecil kembali ke tempat Ichigo.
"Jaketnya aku kembalikan."
"Tidak. Kau simpan saja dan selalu ingat kata-kataku, oke. Ruki bukankah itu namamu?"
Gadis itu mengangguk, "Kemari sebentar," Ichigo menurunkan tubuhnya dan gadis itu mencium pipinya, "Terima kasih kakak baik hati." Ichigo hanya menyungging senyum dan gadis itu berlari kembali pada kakak perempuannya.
Flashback End
###
Uryuu menggebrak mejanya kesal. Damn! Ini tidak akan membantu. Sahabatnya itu -Ichigo- sudah bukan seperti dia yang dulu lagi. Semenjak kematian ibunya yang dulu memang ayahnya dan ayah Ichigolah dokter bedah yang menangani ibu Ichigo. Pria itu pasti punya dendam terpendam pada keluarga Ishida. Melalui Rukia. Pria itu pasti sudah berencana menghamilinya dan pergi meninggalkan Rukia.
Dan celakanya Rukia mencintai pria itu. Bahkan ia tak ingin Uryuu melakukan apa-apa. Rukia mengingatkan masa lalunya, tentang dirinya yang terpaksa berpacaran dengan seorang gadis yang bahkan sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Ia memacari gadis itu karena rasa bersalah. Gadis itu tidak lain adalah Rangiku Matsumoto. Dirinya sudah sangat menyakiti wanita itu.
Dulu dia berpacaran dengan Rangiku saat dia berumur 20 tahun, dia berada di semester 5 dan Rangiku kelas 2 SMA.
Flashback Ichigo POV
Pagi itu Uryuu mendapat pesan dari Rangiku. Gadis itu menginginkannya datang ke SMA. Tidak mungkin jika gadis itu yang pergi ke universitasnya jadi ia mengiyakan keinginan Rangiku. Ia kesana mengajak Ichigo setelah jam kuliah mereka selesai.
Ichigo masih berada di semester pertamanya. Ia berhenti 2 tahun setelah SMA nya. Katanya dia ingin langsung bekerja di perusahaan keluarganya dulu sebelum memutuskan untuk mengambil jurusan apa yang dipilihnya nanti. Tapi yang mengejutkan dia malah memutuskan untuk mengambil kedokteran. Kata Ichigo dirinya ingin berguna dulu bagi ibunya sebelum berguna bagi perusahaan keluarga.
Sebelum turun dari mobil Uryuu berkata padanya, "Sepupuku satu sekolah dengan Rangiku tapi sayang aku tidak berencana memeperkenalkan dirinya kepadamu."
"Cukup omong kosongnya Uryuu, kau sudah telat 7 menit 35 detik."
"Hah kau serius sekali, Ran tidak akan marah walaupun aku terlambat."
"Soal sepupumu itu aku yakin dia wanita yang sangat jelek."
"Oh, kau salah dude. Dia begitu cantik dan mendekati tipemu."
"Ya.. ya.. ya terima kasih. Aku sendiri tidak tahu tipeku apalagi kau."
"Oh, jadi Senjumaru bukan tipemu?"
"Sama sekali tidak," ucapnya datar.
"Kau terdengar cool, apa ini yang diajarkan pamanmu?"
"Dude, kau membuang 3 menit berbicara denganku. Cepatlah," ucap Ichigo kemudian pria itu keluar dari mobil.
Uryuu segera mengikuti, "Kesimpulannya pamanmu mengajarkan agar menghargai waktu dan menjaga image," ucap Uryuu terkekeh.
Ichigo berbalik lalu melemparkan kunci mobil pada Uryuu, "Kuberi kau 15 menit." Ichigo mendahului Uryuu menuju lobby dan berbelok di lorong yang berbeda. Ia menuju ke kiri sedang Uryuu ke kanan menuju ruangan Rangiku yang berada di ujung arah barat laut.
Ichigo mengamati majalah dinding yang terletak di 3 ruang dari ruangan guru itu. Tentu saja ia sudah hapal dengan SMA itu karena dirinya mantan murid.
Ia tersenyum mengingat perkataan Uryuu, tidak ingin memperkenalkan sepupunya. Tentu, ia ingat bahwa lelaki itu pernah bilang padanya jangan sampai mereka sampai jatuh cinta, menjadi pacar dan terlebih terikat hubungan pernikahan dengan keluarga satu sama lain entah itu adik maupun sepupu, jika nantinya putus atau bercerai dirinya dan Uryuu akan dalam keadaan yang tidak nyaman dan mereka tidak bisa melanjutkan persahabatan mereka yang terbina sejak SMP. Renji pun pasti akan setuju dengan pernyataan Uryuu itu.
Renji, sahabat mereka yang telah meninggal 5 tahun yang lalu dan ia juga sekelebatan mengingat si gadis kecil bergaun putih.
"Ruki, tidak bisakah kau menungguku?" teriak seorang gadis.
Ichigo langsung berbalik begitu saja dan tubuhnya mengenai seseorang yang berada dibelakangnya. Terdengar bunyi keras buku-buku yang terjatuh. Ichigo segera berjongkok membantu gadis bernama Ruki mengambil buku-buku super tebalnya.
"Sorry."
"Ah, aku yang tidak melihat kedepan," jawabnya.
"Kan, apa aku bilang, jalannya jangan terlalu cepat. Guru yang satu ini memang menyebalkan," ucap gadis yang suaranya bisa dikenali Ichigo, ia yang memanggil Ruki dengan suara lantang. Ia juga membawa buku-buku tebal yang bertumpuk dari perut sampai dibawah dagu.
"Tolong bantu temanku ini, aku harus ke ruang guru atau tidak tanganku ini bisa patah."
"Kau duluan Ruri, aku akan menyusul," jawab gadis bernama Ruki. Ia masih mengumpulkan buku-bukunya.
"Madam Elissa?" Tanya Ichigo menunjukkan buku kalkulus yang dibawanya.
Gadis itu mengangguk, "Kami representative kelas jadi begini." Ia tersenyum.
"Biar aku bawakan kesana." Ichigo sudah mendahului Ruki menuju ruang guru sehinga gadis itu mengikuti Ichigo.
Gadis bernama Ruri itu keluar dari ruangan saat Ichigo masuk. Berpamitan pada Ruki karena ia harus segera pergi karena ibunya sudah menjemputnya dan menunggu di depan sekolah.
Lana bersandar pada dinding disebelah pintu ruangan guru, menunggu Ichigo karena pria itu masih berbicara pada Madam Elissa sehingga dirinya tadi mendahului keluar, "Terima kasih. Bisa aku pinjam tanganmu?" tanya Ruki.
Ichigo memberikan tangannya, Ruki memberikan bungkusan cokelat pada Ichigo, "Aku tidak enak menolak pemberian dari Madam Elissa, jadi ini untukmu saja karena kau yang sudah bekerja keras," ucap Lana.
"Aku bekerja keras? Aku hanya membawakan bukumu dari sana sampai sini," jawab Ichigo.
"Ssstt, ini rahasia. Madam Elissa sangat menyayangiku jadi aku mendapatkan cokelat ini darinya setiap hari tapi aku alergi terhadap strawberry, jadi tidak apa-apa."
"Oke, aku akan menerimanya," jawab Ichigo. Saat dia menarik tangannya tanpa sengaja ia bersentuhan dengan Ruki dan itu terasa familiar.
"Baiklah, aku harus segera pulang, sampai jumpa," ucap Ruki. Gadis itu mendahului Ichigo pergi.
"Ruki," panggil Ichigo.
Gadis itu berbalik.
"Namamu bukan?" Tanya Ichigo.
Ia mengangguk dan tersenyum.
Senyum itu. Ya, itu milik si gadis kecil bergaun putih.
Flashback End
###
Ichigo memukul setir mobilnya kasar. Dia harusnya tadi bisa mengontrol emosinya. Tidak meledak-ledak seperti itu. Rukia, ya gadis itu. Dia harus segera menemuinya sejak tadi pagi ponselnya tidak dapat menjangkau gadis itu. Dia harus segera menemukannya. Di rumahnya sendiri ataupun di rumah keluarga Ishida.
Mobilnya melaju cepat di beberapa blok sebelum memasuki kawasan tempat tinggal Rukia. Ichigo segera turun dari mobil Audi nya dan memencet bel rumah Rukia. Lama menunggu tetapi tidak ada jawaban. Ichigo menunggu di kursi yang ada diteras itu. Mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan tidak sabar.
Rukia turun dari kamarnya ketika mendengar bunyi bel pintu rumahnya. Ia mengintip dari jendela. Walau dari belakang gadis itu cukup hafal jika punggung itu milik Ichigo.
Pria itu menggenggam ponselnya dan mendekatkan benda itu ke telinganya. Sepetinya dia sedang berbicara dengan seseorang.
2 bulannya harus berjalan dengan lancar. Ia tidak ingin mentalnya mengendur sekarang. Ia harus menjauhi Ichigo. Sebenarnya ia kembali ke rumahnya pagi ini, mengambil beberapa barang. Uryuu akan menjemputnya nanti sore sehingga Rukia bisa beristirahat seharian di rumahnya sendiri.
"Rangiku?" Ichigo memulai percakpan.
"Jangan bersikap formal, aku ingin bertanya apa kau tahu keadaan Rukia?"
"Benarkah?"
"Thanks Rangiku?" salamnya sebelum menutup telepon.
Ichigo mengangkat tubuhnya dari kursi saat itu juga Rukia menutup tirai. Pria itu berjalan meninggalkan rumah Rukia dan masuk kedalam mobilnya kemudian pergi begitu saja. Jauh didalam hatinya ia merasa kecewa.
###
Ichigo mengendarai mobilnya menuju rumah keluarga Ishida. Menurut berita dari Rangiku, Rukia pindah sehari setelah pesta pertunangan. Kenapa kesannya itu terlalu cepat? Bukankah masih ada sana dikeluarga Kuchiki?
Kurang dari 20 menit berkendara, Ichigo sampai di tujuannya, rumah keluarga Ishida. Pria itu memencet bel 2 kali sebelum pintu dibuka. Sedikit kecewa saat pintu terbuka dan bukan Rukia yang menyambutnya. Wanita itu sedikit kaget lalu menyungging senyum.
"Lama tidak jumpa Ichigo, Ya Tuhan kau sudah sangat besar," ucap bibi Kanae.
Ichigo langsung memeluk wanita itu erat. "Dan bibi sepertinya semakin cantik," jawab Ichigo.
"Kau mengolokku. Ayo masuk," ucap bibi Kanae.
Ichigo mengekor masuk. Ia dipersilahkan duduk di ruang tamu dan bibi Kanae menghilang dibalik pintu dapur. Rumah itu masih sama walau ada beberapa peralatan elektronik yang berganti.
Bibi Kanae kembali dari dapur dengan membawa dua cangkir teh. Ia meletakkan didepan Ichigo dan duduk di sebelahnya.
"Earl Gray kesukaanmu. Sudah makan siang?" tanya bibi Kanae.
Ichigo tersenyum, "Selalu saja jika aku kemari yang akan kau tanyakan pasti itu," jawab Ichigo.
"Karena bibi ingin mengajakmu makan siang, Ryuuken ada operasi pagi ini dan Uryuu terlalu sibuk."
"Ckck.. bagaimana mungkin mereka bisa mengabaikan wanita cantik sepertimu bibi?" tanya Ichigo.
"Dan mereka juga mengabaikan makanan lezat yang sudah aku siapkan," jawab bibi Kanae. Ia mendahului Ichigo untuk tertawa.
"Aku tahu dimana ruang makannya jadi aku mendahuluimu bibi," ucap Ichigo. Pria itu membawa cangkir tehnya dan menuju dapur.
Bibi Kanae mengikutinya di belakang dan masih menyungging tawa.
"Kau tega sudah berapa bulan kau disini tapi baru hari ini mengunjungiku," ucap bibi Kanae setelah mereka selesai makan siang.
Ichigo menyungging senyum, "Mungkin lebih dari 1 tahun bibi, aku sangat sibuk."
Bibi Kanae menyesap teh nya lalu sedikit mengolok, "Sombong sekali."
Ichigo menyungging senyum lalu terlihat serius, "Bibi, selain mengunjungimu aku juga ingin bertemu dengan Rukia."
"Rukia?" Bibi Kanae terlihat sedikit ragu, "Iya dia pindah kesini, tapi dia keluar tadi pagi bersama Uryuu."
Ichigo menyungging senyum kecewa, "Bahkan bibi juga mengira aku mendekati Rukia karena balas dendam? Apa Rukia juga berpikiran seperti itu?"
Ichigo melihat bibi Kanae sedikit ragu dan kemudian keraguan itu menghilang, "Rukia pindah kemari karena Sana, Ichigo. Sana tinggal dengan suaminya karena kehamilannya sudah memasuki bulan ke 9. Lagipula ia akan kelelahan jika harus membagi waktu, jadi kami meminta Rukia untuk tinggal disini selama masa perawatannya."
"Bibi belum menjawab point pertanyaanku."
"Ichigo.."
"Bukankah bibi tahu jika aku ingin sekali punya orang tua seperti kau dan paman. Saling mencintai?" ucap Ichigo, ada nada sedih disana, "Jika aku ingin balas dendam pada keluarga Ishida, kenapa aku harus menunggu 8 tahun sedangkan aku punya paman yang menyayangiku melebihi nyawanya sendiri dan menuruti semua permintaanku, akan sangat mudah untuk menghancurkan keluarga ini dengan uang dan koneksinya."
Mereka berdua bertatapan wajah Ichigo terlihat mengeras dan tidak luput dari pandangan bibi Kanae.
"Aku akan pulang bibi. Terima kasih untuk makan siangnya."
Ichigo sudah keluar dari rumah ketika mobil Uryuu memasuki gerbang. Bibi Kanae berdiri di pintu saat itu dan Uryuu segera turun dari mobilnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya kesal.
Ichigo menonjok pelan lengan Uryuu kemudian tersenyum, "Aku rindu kau melakukan itu padaku," jawabnya. Dulu sering sekali Uryuu melakukan tonjokan pelan seperti itu pada Ichigo entah saat senang ataupun bergurau.
"Sepertinya kau sedikit sakit," ejeknya, "Kau terlalu feminim."
"Begitukah?" tanyanya. Ichigo memandangi mobil Uryuu, mencari Rukia disana.
Uryuu melayangkan tinju ke wajah Ichigo. Pria itu tersungkur dan terdengar pekikan dari bibi Kanae.
"Ya Tuhan. Uryuu kau tidak seharusnya,.."
"Kaa-san, kita masuk," ucap Uryuu datar.
"Bibirmu berdarah," ucap bibi Kanae saat Ichigo berdiri.
Ichigo menyapukan jarinya menghapus darah segar yang keluar di sudut bibirnya.
"Jadi kau berfikir aku menyakiti Rukia? Apa kau tidak bisa melupakan perjanjian antara aku, kau dan Renji saat.."
"Kaa-san, kita masuk. Dia baik-baik saja," ucap Uryuu memotong perkataan Ichigo.
Ichigo hanya menghembuskan napas kesal.
###
Pria itu berjalan di koridor kantor dengan tergesa. Dia sudah telat 10 menit untuk rapatnya. Jas biru tuanya sedikit tak rapi tapi hal itu tidak mengurangi kegantengan dan kewibawaannya. Ia mengambil ponselnya.
"Kau sudah menemukannya?"
"Belum. Dia tidak bersama Uryuu seharian ini. Rumah sakit juga tidak ada."
"Oke. Pantau terus dan hubungi aku jika ada kemajuan."
Ichigo memasukkan ponsel cepat kedalan saku jasnya kemudian masuk ke ruang rapat. Melupakan sebentar tentang urusan Rukia dan keluarga Ishida yang salah paham padanya.
Dua jam kemudian Ichigo membuka ponselnya. Ada sms dari Rangiku untuknya. Gadis itu bilang bahwa Rukia sekarang berada di rumahnya sendiri sejak pagi.
Pria itu mengelus belakang lehernya dan menghembuskan napas pelan. Dia berlari menuju lift. Ia harus sampai kesana sebelum Rukia menghilang lagi.
Belum sempat Ichigo keluar dari mobilnya ia sudah melihat Rukia naik taksi sehingga ia mengikutinya dan gadis itu memang tinggal di rumah keluarga Ishida dan tidak mungkin Ichigo kesana lagi hari ini.
Rukia mendapatkan pesan suara dari Ichigo. Ia tadi menyadari pasti Rangiku memberiahukan keberadaannya pada Ichigo sehingga ia cepat-cepat keluar dari rumahnya dan siapa sangka memang begitulah yang terjadi.
"Aku akan memberimu waktu 2 bulan jika itu yang memang kau perlukan untuk menghindariku. Jaga kesehatanmu dan jangan terlalu stress pada terapimu, schatz," suara dalam dan tegas itu dua kali sudah diputarnya.
Rukia menatap langit-langit kamar tidurnya dan mengelus perutnya dan menangis lalu terlelap dalam tidurnya.
Pagi itu Rukia mendapatkan parcel penuh dengan cokelat dan sebuket bunga mawar merah dan note kecil didalamnya.
Lain kali jangan memaksakan diri untuk memakan strawberry. Aku tahu kau alergi pada buah itu. Aku berencana menganggumu dengan ini agar setiap hari ada waktu luang kau gunakan untuk memikirkanku. aku menyayangimu dan menunggumu, schatz.
IK
Dan paket itu hanya awalnya saja karena setiap hari Ichigo mengirimi hal yang sama dengan catatan yang berbeda dan jumlah tangkai bunga yang bertambah 9 buah setiap harinya hingga satu setengah bulan masa cutinya.
Hari ini Ichigo menyertakan puzzle pada setiap tangkai dan tidak memberi note dan itu berjalan untuk satu bulan ke depannya. Biasanya puzzle itu Rukia susun terlebih dahulu dan biasanya terdapat tulisan tetapi hari ini gadis itu tidak sempat melakukannya.
Ia terburu-buru karena ini hari masuknya. Ia mengenakan kemeja pendek, sweater dan celana panjang hitam dengan coat yang membungkus tubuhnya. Ia menggunakan heels yang tak lebih dari 5 cm. Kehamilannya sudah meninggalkan bulan ketiga. Ada beberapa perubahan yang terjadi pada dirinya. Pipinya bertambah chubby dan kulitnya bertambah cerah.
Rangiku tadi memberitahukan padanya jika ia sudah sampai kantor, Rukia harus segera ke ruangan direktur. Memberikan laporan tentang kesehatannya. Sehingga disinilah ia detik ini. Didepan pintu ruangan Ichigo.
Ia mengetuk pelan dan suara dari pria berbadan kokoh yang sedikit serak dan dalam itu menjawabnya, "Masuklah."
Jantung Rukia berdetak semakin cepat, hanya kurang dari dua bulan ia tidak mendengar suara Ichigo membuat pertahanan diri yang dibangunnya runtuh. Rukia memasuki ruangan beberapa saat setelah Ichigo mempersilahkannya masuk, ingin sekali ia segera memeluknya dan mencium pria itu tetapi Ichigo tidak menatap pada Rukia sama sekali. Ia sibuk membaca berkas-berkasnya.
Pria itu begitu menyesakkan napasnya karena pesona dan maskulinitasnya, dengan jas abu-abu dan dasi berpola, potongan rambut baru yang sedikit berantakan dan bibirnya yang sexy dan paduan wajahnya yang terlihat dingin.
"Sir," ucap Rukia, sial suaranya bergetar, "Ini laporan kesehatanku dari rumah sakit."
Belum ada suara dari Ichigo, "Kalau begitu, sir, aku akan keluar." ucap Rukia.
Gadis bermata amethyst itu itu berbalik dan segera menuju pintu, belum sempat ia memegangi kenopnya, dari belakang tubuhnya Ichigo menyusul dan mendahului Rukia, mengurung dirinya diantara pintu dan badan kokoh Ichigo, "You're too confident as if I will let you walk out from this room," bisiknya tepat ditelinga Rukia.
"Uh, sir.. aku.."
Belum sempat Rukia melanjutkan kata-katanya, Ichigo membalik tubuhnya menatap matanya dalam. Hembusan napas mereka seketika memanas dan detik berikutnya Ichigo mengeklaim gadis itu dengan bibirnya. Ia mencium Rukia seakan tidak ada hari esok atau seakan gadis itu tak akan pernah muncul lagi di hadapannya. Menuntut dan sedikit kasar.
"S..si.r," bisik Rukia. Ichigo menghentikan sebentar ciumannya dan kembali bertatapan dengan mata Rukia. Ia mencium Rukia lagi, kali ini lebih pelan, sabar dan dalam. Tangan Ichigo berada di pinggang dan tengkuk Rukia. Lalu berjalan ke bawah dan menuju ke depan, ke dada gadis itu. Tangan Ichigo yang satunya berpindah pada bibir Rukia. Ibu jarinya membuka bibir bawah Rukia. kembali menatapnya napas gadis itu memburu. Tangan Ichigo membelai pelan dada Rukia, terasa lebih penuh dari terakhir kali saat ia membelainya.
"Icch..ii.."
Ichigo mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rukia, "Ya seperti itu ucapkan namaku, schatz. Dengan bibirmu yang mengucapkannya, namaku itu seperti lantunan melodi."
"Ichigo, aku…"
"Jika hal ini sampai terjadi lagi, aku tidak bisa menyentuhmu selama ini, aku bisa gila. Seharusnya aku menikahimu saja," ucap Ichigo.
Rukia memundurkan wajahnya dan tubuhnya kaku seketika, "Aku tidak ingin menikah denganmu."
Ichigo menjauhkan wajahnya pula, ekspresinya dingin dan terlihat jauh dan sebuah ketukan dipintu menambah ketegangan wajah keduanya.
