Penderitaannya memang tidak pernah lepas. Dibalik semua keadaannya yang berangsur membaik. Tetapi tetap saja. Dia akan kembali seperti dulu. Menjadi sosok yang keras, frustasi dan penuh keputus–asaan dan rasa ketakutan. Itu akan kembali. Kapanpun dan dimanapun itu. Aku tidak bisa membuatnya sembuh. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa membuatnya menjadi sosok seperti apa yang aku inginkan. Manusia yang selayaknya hidup didunia.

Aku mengingat sebuah kalimat di sebuah buku. Hidup ini indah dan memang kita tidak bisa lari dari masalah. Cara menghapus masalah tersebut dengan bagaimana cara kita menghadapinya. Aku ingin mengatakan kalimat ini kepada Jongin saat ini juga tapi sangat jauh untuk dia mengerti. Mungkin dia egois. Tapi tidak. Dia hanya takut.

Jongin. dia akan merasakan saat dimana dia sudah tidak percaya dengan apa yang dia pikirkan. Entah itu kesenangan, kebenaran, kesedihan bahkan kesalahan. Hanya satu yang dia ingin benar benar rasakan. Kedamaian hati. Antara kehidupan dan kematian. Dibalik kameranya dia baru akan sadar. Bahwa dunia ini tidak sekejam dengan apa yang ditatapnya secara langsung. Ataupun dunia yang menatapnya saat ini.


I AM, A BIPOLAR.


CHAPTER 3


Kyungsoo masih mengikuti langkah kaki Jongin yang berada didepannya. Entah sudah berapa jauh mereka berjalan sejak Jongin datang secara tiba-tiba dan mengajaknya untuk pergi. Meski sejujurnya dia merasakan rasa senang. Tapi entah kenapa dibalik itu semua dia merasakan sedikit rasa khawatir. Ingin sekali Kyungsoo menanyakan tentang keadaannya. Jangankan untuk bertanya. Berbicarapun Kyungsoo tidak berani melakukannya. Maka selama perjalanan mereka berdua hanya saling terdiam.

Cukup jauh jarak yang mereka tempuh. Kyungsoo sama sekali tidak menyarankan untuk memakai mobil karena dia yakin. Kejadian kemarin pasti akan terulang lagi. Kyungsoo tidak ingin melihat Jongin terus sakit.

Menyebrangi penyebrangan Jalan. Dan akhirnya mereka sampai ditempat kemana mereka akan pergi. Seoul stasion. Kyungsoo melirik bingung kepada Jongin dan akhirnya dia memutuskan untuk membuka suaranya. Namun belum sempat Kyungsoo bertanya seolah Jongin sudah membaca apa yang akan ditanyakan Kyungsoo. Jongin dengan cepat menjawabnya.

"Kita akan menggunakan Arex hyung." Ucapnya singkat seraya tersenyum.

"Arex?" Kyungsoo terkejut ketika Jongin mengatakan salah satu alat transportasi cepat yang akan membawa mereka ke Bandara–Airport Express. "Hey.. kita akan ke bandara? Kita akan kemana?" Tanya Kyungsoo heran. Namun Jongin. dia hanya menjawabnya dengan senyuman tipis yang membuat Kyungsoo terdiam.

Jongin melirik kearah jadwal keberangkatan. "Kereta kita akan berangkat sebentar lagi. Ayo hyung." Dengan cepat Jongin menarik tangan Kyungsoo dan Kyungsoo hanya diam tertegun. Sangat beda perasaannya ketika Jongin menggenggam tangannya. Ada apa ini?

"Aishh.. kakiku pegal. Seharusnya kita menggunakan bis saja." Ucap Kyungsoo berceloteh didalam kereta yang akan membawa mereka ke Bandara.

Jongin hanya menatap datar Kyungsoo. "Kau kan sudah tau aku tidak bisa menggunakan mobil, taksi ataupun bus. Itu mengerikan."

"Kalau begitu kau bisa cari cara lain lain hari." Ucap Kyungsoo masih memijat pelan kakinya.

"Kita bisa saja menggunakan motor hyung."

"Ishh.. kenapa kau tidak memakai motor bila kau bisa mengendarainya?"

"Motorku hilang." Ucap Jongin pelan. Kyungsoo melirik kearah Jongin dan menatap wajahnya yang sangat sayu. "Saat itu aku berniat pergi membeli makanan. Tapi entah kenapa aku malah pulang tanpa menggunakan motor. Saat aku sadar bahwa motorku tidak ada. Aku kembali dan aku lupa dimana menyimpan motorku."

Kyungsoo terdiam menatap sedih Jongin. Jongin menyadari hal itu dan sedikit terasa kecanggungan diantara mereka berdua saat keheningan yang mendominasi. "Kerja otakku sangat buruk kan hyung?" Ucap Jongin tertawa kecil. Meski memang dipaksakan.

Untuk beberapa saat mereka terdiam cukup lama. Hingga Kyungsoo kembali membuka suaranya. "Apa kau tidak tahu bahwa motor adalah penyebab kecelakaan dan kematian tertinggi diantara alat transportasi lain? Kau tidak takut hanya menggunakan motormu untuk berpergian?" Tanya Kyungsoo hati-hati.

"Mobil penyebab kematian yang lebih menakutkan." Ucap Jongin tanpa tambahan dan alasan apapun. Dan Kyungsoo sedikit mengerti. Jongin benar benar merasakan Traumatis. Dan kembali keheningan yang tercipta diantara mereka berdua hingga akhirnya sebuah suara menyadarkan lamunan Jongin.

'GIMPO AIRPORT'

"Hyung. Kita sudah sampai. Ayo turun." Ajak Jongin buru-buru.

Kyungsoo menatap sekilas kearah tanda petunjuk diantara pintu kereta yang menunjukkan mereka sampai di Gimpo airport. Perjalanan cukup cepat sekitar 20 menit telah membawanya ketempat dimana dia sendiri tidak tahu akan dibawa kemana oleh tetangganya ini.

"Kemana kita?" Tanya Kyungsoo kebingungan ketika langkahnya terus ditarik halus Jongin menuju sebuah terminal keberangkatan.

"Kita akan pergi ke Jeju island." Ucap Jongin dengan santainya. Kyungsoo sedikit terkaget dan Jongin kembali melirik Kyungsoo. "Tenanglah. Aku sudah membelikan tiket untukmu."


Menempuh perjalanan cukup panjang. Tapi akhirnya semua kelelahan terbayar ketika mereka sampai di pulau Jeju. Sesungguhnya inilah kali pertama untuk Kyungsoo pergi ke Pulau Jeju sendirian. Tidak. Tepatnya dengan seseorang yang sebelumnya adalah orang asing bagi kehidupannya. Namun lambat laun semuanya berubah. Teman, keluarga atau mungkin lebih dari itu. Mereka sendiri tidak tahu.

Tidak banyak bicara diantara mereka setelah sampai. Karena setelah itu. Jongin langsung sibuk dengan kameranya sendiri. Bahkan saat mereka sudah turun dari pesawat. Kameranya sudah setia berada ditangan sang pemilik. Kyungsoo masih ingat. Ketika dia mencoba tidur untuk menghilangkan rasa kebosanannya. Dia melihat Jongin yang masih saja sibuk merawat kameranya. Sangat detail bahkan entah berapa lama Jongin mengelap setiap permukaan lensa yang banyak dia bawa didalam tasnya.

Mereka hanya berkeliling di pulau Jeju. Bahkan ketika Kyungsoo ingin mengajak Jongin ketempat Wisata jongin menolaknya. Bahkan dia pergi jauh. Sangat jauh dari tempat beberapa wisata yang dia sediakan. Padahal Kyungsoo yakin Jongin akan menemukan foto yang bagus bila dia mengambilnya di tempat yang sudah terawat baik. Seperti museum atau tempat bersejarah.

Jongin menolak karena sebuah alasan. 'Itu bukan dunianya'. Hanya itu yang dia jawab. Dan Kyungsoo dia kembali diam mencoba mengerti. Seperti saat ini. Kyungsoo mengekor dibelakang Jongin yang melangkah dengan semangatnya menuju sebuah Puncak. Dia seperti tidak mempunyai rasa lelah. Berbeda dengan Kyungsoo yang sesekali terdiam menarik nafasnya beberapa sesaat setelah merasakan lelah dan menarik nafas tipisnya yang hanya bisa sedikit diperoleh paru parunya. Bahkan Kyungsoo rasa tenggorokannya mulai mengering. Andaikan Kyungsoo tahu bahwa Jongin akan membawanya ketempat setinggi ini tanpa transportasi apapun dia akan membawa Air. Tetapi Transportasi apa. Mereka berjalan melalui jalanan setapak. Mungkin hanya sepeda yang bisa melewati jalanan ini. Namun demi apapun. Kyungsoo benar benar lelah. Meskipun dia membawa sepeda Kyungsoo tidak akan kuat mengayuh sepedanya.

"Jongin." Ucap Kyungsoo lirih yang mulai sangat kelelahan.

Jongin melirik kearah Kyungsoo yang cukup tertinggal jauh dibelakangnya. Jongin menyadari bahwa Kyungsoo begitu sangat kelelahan. Terlihat dari posisinya berdiri saat ini yang membungkuk dan kedua tangannya bertumpu diantara kedua lututnya.

"Ayolah hyung.. sedikit lagi." Ucap Jongin.

"Aku lelah jongin. Aku ingin minum." Jawab Kyungsoo sangat pelan.

"Kau akan menemukan air ketika kita diatas." Ucapnya lagi dan langsung berjalan kembali mengabaikan Kyungsoo yang sudah setengah mati merasakan kelelahan. Kyungsoo melirik sekilas kearah Jongin yang kembali berjalan tanpa memperdulikannya. Kyungsoo sedikit mendesis pelan. Tapi mau tak mau dia harus melanjutkan perjalananya. Tidak mungkin dia harus berhenti saat ini juga. Ditengah jalan seperti ini. Siapa yang akan menolongnya? Jongin? ayolah dia akan mengabaikannya. Dan kembali Kyungsoo memaksakan diri untuk berjalan dengan sisa tenaganya yang terkuras.

Melangkah. Melangkah. Melangkah.

Akhirnya Kyungsoo sampai mencapai puncak. Dia tersenyum senang karena akhirnya dia akan menemukan Air disana. Namun sekian detik dia terdiam. Menegakkan kembali tubuhnya yang sudah sangat lemas dan berjalan perlahan menghampiri Jongin yang kini berdiri di sisi tebing tinggi yang langsung menghadap kearah lautan lepas.

Pandangan kyungsoo tidak bisa lepas menatap laut. Rasa lelahnya sedikit demi sedikit menghilang begitu saja. Begitu juga rasa hausnya. Dia hanya menatap takjub dengan apa yang dia lihat saat ini. Sangat Indah. Bahkan Kyungsoo membayangkan gambaran Surga seindah ini. Hal terindah yang bisa dia lihat selama 20 tahun hidupnya. Ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa Indah.

"Inilah duniaku Hyung." Ucap Jongin menatap Kyungsoo yang masih memandang lurus dengan senyumannya yang manis seperti biasa. Kyungsoo sama sekali tidak merespon apa yang dikatakan Jongin. Mungkin hampir tidak terdengar olehnya. Jongin hanya tersenyum menatap wajah Kyungsoo yang bercucuran keringat tergantikan dengan wajah senyuman kepuasan.

Jongin melirik sesaat kearah belakang. Melihat semak-semak Hijau yang tumbuh subur. Jongin meninggalkan Kyungsoo. Membiarkan Kyungsoo menatap ketakjubanya saat ini. Jongin menatap sekitar dedaunan yang sedikit basah itu. Mungkin sebelumnya tempat ini tertutupi embun pagi. Padahal ini adalah musim panas. Tapi Jongin bersyukur. Setidaknya dia bisa menemukan air disini meskipun tidak seberapa.

Jongin menyisihkan Lengan kemejanya hingga kesiku. Mengacak pelan semak yang penuh dengan embun tersebut dan dengan sabar menangkupkan kedua tangannya menunggu tetesan demi tetesan disetiap embun tersebut diantara dedaunan. Sudah merasa cukup. Jongin berjalan cepat kearah Kyungsoo dengan hati-hati agar air yang dikumpulkannya tidak tumpah.

"Hyung!" Ucap Jongin pelan yang kini sudah berada disamping Kyungsoo. Kyungsoo melirik dan menatap bingung apa yang tengah dilakukan Jongin saat ini. "Aku menemukan air. Kau haus kan? Ayo minum." Ucapnya halus.

Kyungsoo sedikit menyipitkan matanya. Dia sedikit khawatir dengan apa yang jongin bawa saat ini. Bagaimanapun Kyungsoo adalah seorang calon Dokter. Dia akan merawat kesehatannya juga. Jongin menatap heran. "Kenapa? Ini air embun yang aku kumpulkan. Tidak apa-apa. Ini sangat segar. Cepatlah aku tidak mungkin terus menahannya untuk tidak menetes dan tumpah. Sangat sulit aku mengumpulkannya." Ucap Jongin seraya mengarahkan tangannya kearah mulut Kyungsoo.

Kyungsoo sedikit terdiam. Menatap air yang ada ditangan Jongin lalu menatap matanya sekilas. Dan jongin menatapnya serius dan mengatakan bahwa tidak apa-apa. Namun saat ini bukan sumber air yang Jongin dapatkan yang dia pikirkan sekarang. Melainkan bagaimana cara dia meminumnya. Cukup lama berpikir akhirnya Kyungsoo pun meminum air yang ada di tangan Jongin. Menempelkan sedikit bibir bawahnya di ujung jemari Jongin. Tangannya ikut menangkup diantara tangan Jongin supaya air itu tidak tumpah dan dengan perlahan Jongin mengalirkan airnya kearah mulut Kyungsoo perlahan. Kyungsoo meminumnya hingga habis. setelah itu Kyungsoo kembali melepaskan tangannya diantara tangan Jongin dan menatap sekilas Jongin yang tersenyum kepadanya. Senyuman yang sangat berbeda hingga Kyungsoo sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya dia minum langsung dari tangan orang lain. dan kini masalah dahaganya pun selesai. Dan kembali dia lirik. Jongin sudah kembali lagi sibuk memotret.

"Duniamu sangat indah. Aku iri kepadamu. Kau lebih dulu tahu tempat seindah ini. Kau pantas memilikinya." Ucap Kyungsoo yang terduduk diantara rerumputan. Jauh di tepi tebing yang saat ini sedang Jongin tempati untuk mngambil gambar dari lensa kameranya.

Jongin menatap Kyungsoo dan kembali membidik beberapa gambar disekelilingnya. Termasuk Kyungsoo dan Kyungsoo sendiri tidak tahu bahwa sekarang dia adalah model dari foto yang Jongin ambil. Wajah tenangnya, tatapan sendunya dengan senyuman manisnya itu terasa sangat menyatu dengan alam ketika Jongin secara diam-diam mengambil gambarnya dari posisi menyamping. Jongin cukup puas melihat hasil bidikannya dengan sosok Kyungsoo didalamnnya. Dia mengulum senyuman dan menatap Kyungsoo yang masih menikmati suasananya saat ini. Menghampirinya dan duduk disampingnya.

"Kalau pun ini milikku. Aku tidak pantas memiliknya." Ucap jongin pelan yang membuat perhatian Kyungsoo teralih menatap Jongin. "Ini adalah ciptaan Tuhan yang Dia buat untuk manusia. Hanya saja Tuhan sepertinya menciptakan ini untukku. Dan aku menganggapnya ini adalah Titipan-Nya untukku." Ucap Jongin.

Kyungsoo mengangguk mengerti memang benar apa yang dikatakan Jongin. "Kau sering kesini?" Tanya Kyungsoo.

"Tentu saja. Aku banyak belajar dari sini. Bahkan aku menemukan bagaimana cara aku untuk tetap hidup adalah disini."

Kyungsoo kembali terdiam. Menatap sayu wajah Jongin yang menatap lepas kearah lautan biru yang ada dihadapannya.

"Aku ingin mati. Aku minum banyak pil itu tapi kenyataannya aku takut. Dan saat itu aku berharap ada yang melarikan aku kerumah sakit. Aku menyiramkan beberapa botol penuh bensin ditubuhku. Tapi aku takut ketika aku mulai menyalakan api itu dan aku berharap ada yang mematikan api kecil di korek api itu. Aku berjalan tanpa arah hingga diriku terdiam ditengah Jalanan yang tengah ramai. Aku melihat sebuah Bus jauh tepat dihadapanku. Aku takut dan memejamkan erat mataku. Takut bila bus itu menabrakku dengan tubuhku yang nanti tidak utuh. Aku menggoreskan pisau dinadiku. Namun seberapa kuat aku menggoreskannya aku tetap takut. Aku takut bila pisau itu benar-benar memutus urat nadi di tanganku. Dan yang paling aku takutkan ketika aku berdiri sendiri dengan pikiran kosong disini. Berdiri di tepi tebing. Dengan sekuat apapun aku mencoba untuk meloncat kebawah namun aku kembali takut. Ketika melihat sesosok gadis kecil yang tidak jauh dibelakangku terjatuh dari atas batu itu ketanah yang jaraknya hanya seberapa. Dan lagi. Aku mengurungkan niatku untuk meloncatkan diriku. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya tubuhku nanti saat aku jatuh diantara batu karang yang ada dibawah. Mungkin luka goresnya lebih parah. Jauh lebih parah dari gadis kecil itu alami." Jongin menghela nafas panjang. "Aku ingin bahagia. Tapi aku hanya diam dan menunggu kebahagian itu datang dengan sendirinya dan sama sekali tidak berusaha untukku meraihnya. Aku mempercayai adanya Tuhan tapi untuk beberapa saat aku pernah tidak mengakui keberadan-Nya. Karena aku kecewa kepada Tuhan."

Jongin kembali membuka suaranya. "Aku mempercayai cinta hyung tapi aku takut untuk mengharapkannya. Aku takut ketika aku mengarapkan cinta tapi orang itu tidak melihat cinta yang ada didiriku. Aku hanya ingin dimengerti tapi tidak ada yang mau mengerti keadaanku. Penderita ODB memang sangat menderita kan hyung?" Ucapnya menatap polos kearah Kyungsoo yang menatapnya sedih.

Kyungsoo terdiam. Dia sama sekali tidak bisa berkata apapun. Dia hanya bisa diam dan menundukkan wajahnya. Beberapa saat saling terdiam dan Kyungsoo kembali mengangkat wajahnya. "Jadi ini alasanmu tetap tinggal menyendiri dan menjauhi orang-orang. Karena mereka menatapmu berbeda dengan apa yang kau harapkan. Kau mencari seseorang yang menatapmu tulus apa adanya dirimu?"

"Ya. Hanya saja aku tidak ingin dilihat sebagai seorang penderita Bipolar yang lemah." Ucapnya pelan. "Kecendrungan penderita ODB mempunyai pemikiran jauh dari apa yang orang normal biasa pikirkan. Bahkan mereka mempunyai tingkat kejeniusan yang lebih dari yang orang lain bisa. Dalam artian mereka adalah sosok yang bisa mengekspresikan perasaannya dalam bentuk lain. itu yang aku dengar dari dokter psikiaterku dan seperti saat ini aku menjalankan hobiku. Dan aku tahu dan menyadari. Tingkat kejeniusanku ada disaat aku memegang kamera." Jelas Jongin.

Jongin kembali menatap lurus kedepan dan Kyungsoo masih menatapnya lekat. Mendengarkan semua curahan hatinya yang lebih terlihat sangat tenang kali ini.

"Sebelum aku mati. Aku melakukan apa yang kucintai untuk melihat namaku ada diantara daftar Penderita Bipolar yang terkenal. Aku tidak kecewa dengan apa yang kurasakan saat ini. Aku percaya Tuhan memberiku seseorang untuk memberikanku kekuatan dan kemampuanku berasal dari sana." Jongin melirik wajah Kyungsoo yang kini tengah menatapnya. "Kau tahu Albert Einstein. Manusia dengan IQ yang sangat tinggi juga cerdas itu. Hyung harus menyadari bahwa dia adalah penderita Bipolar juga sama sepertiku. Dan aku ingin sosokku dikenal seperti dia. Banyak tokoh dunia yang sangat terkenal karena kemampuannya yang sangat luar biasa bahkan diatas kewajaran. Hyung tidak akan pernah menyadari bahwa orang-orang tersebut adalah Penderita Bipolar Disorder."

"apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Kyungsoo pelan.

"aku ingin mempunyai Pameran fotoku sendiri."


October, 12. 2012.


Sapuan angin menusuk kesetiap penjuru kulit sang pemilik. Kyungsoo merapatkan Jaketnya saat dia baru saja keluar dari Rumahnya yang hangat. Sepertinya Musim gugur telah datang. Terlihat dari Pohon-Pohon di sekitar jalanan di depan rumahnya sudah berubah warna menjadi kecoklatan muda. Juga Angin dari barat yang bertiup Kencang yang memberi tanda bahwa dalam waktu dekat Musim dingin juga akan datang.

Kyungsoo mengunci pintunya beberapa saat sebelum dia pergi. Tapi suara decitan Pintu yang cukup samar dari kejuahan menghentikan gerakannya. Dia melirik kearah Sebrang mendapati Jongin dengan memakai Kemeja dan sweater Krim tipis yang Kyungsoo tau itu adalah Sweater yang Jongin pakai sejak pertama kali mereka bertemu. Kyungsoo membatin melihat penampilan Jongin yang sedikit rapi. Kyungsoo hanya membatin kemana dia akan pergi sepagi ini.

Cukup lama Jongin terdiam. Menggenggam secarik kertas yang diyakini itu adalah amplop. Memandang sayu bergantian antara surat yang dia pegang dan juga Kotak surat yang saat ini telah berada didepan matanya sendiri.

Berada didepan rumah yang sudah cukup lama yang dia tinggalkan. Jongin sendiri lupa akan terakhir kali dia disini. Tapi semuanya tidak berubah banyak. Bahkan Kotak surat tua yang terbuat dari Kayu ini masih bertahan lama.

Beberapa saat Jongin seolah Ingin memasukkan suratnya. Namun setiap dia akan melakukannya. Dia akan menarik kembali tangannya dan mengurungkan niatnya lalu menundukkan kepala beberapa saat. Hingga terus dia melakukan hal yang sama hingga beberapa kali.

Jongin ragu dengan apa yang dilakukannya kali ini. Mengirimkan surat. Seperti apa yang dikatakan Kyungsoo beberapa minggu lalu sebelumnya. Kenapa bisa-bisanya dia mengikuti saran Kyungsoo saat ini. Memang benar. Jongin terus diayang-bayangi apa yang dikatakan Kyungsoo saat itu. Goresan kecil sebuah tangan adalah cerita terindah seseorang untuk dikenang. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Kyungsoo saat itu. Dia memang ingin berubah. Dia ingin Bahagia. Dan jongin berusaha untuk menemukan Kebahagiaanya lagi saat ini. Jongin hanya menarik nafas beratnya lalu beberapa saat kemudian dia kembali menatap lekat Kotak surat yang ada dihadapannya. Sudah terlanjur sangat Jauh. Lebih baik Jongin melakukannya. Dia meyakinkan dirinya sendiri dan memasukkan suratnya kedalam kotak surat.

Beberapa menit Jongin menatap Rumah yang tertutupi oleh pagar beton tinggi. Pagar yang seakan menjadi pembatas kehidupannya yang dulu dan sekarang. Rumah Jongin dan keluarganya yang ditempati dirinya dahulu sebelum semuanya kehidupan keluarganya berubah. Jauh dari adanya kata Kebahagian.

Dan dengan langkah cepat Jongin langsung berbalik dan berlari kecil untuk meninggalkan rumahnya dulu. Dia takut dia akan kembali akan kenangan buruknya 13 tahun yang lalu. Meninggalkan kenangan Jongin kecil yang bersembunyi dan menangis didalam ruangan kecil dan gelap. Meninggalkan kenangan semua suara teriakan dan bentakan. Juga meninggalkan semua kenangan kebencian yang dia dapatkan.

Cukup Jauh Jongin telah pergi meninggalkan rumahnya. Kyungsoo berjalan pelan keluar dari balik Pohon yang sebelumnya menjadi tempat persembunyiannya. Tanpa Jongin sadari Kyungsoo mengikuti Jongin secara diam-diam. Kyungsoo sebelumnya tidak berniat mengikuti Jongin saat itu karena dia sendiri akan pergi ke Toko buku. Namun, dia urungkan niatnya ketika melihat Jongin yang memasuki stasiun Subway. Dan pada akhirnya Kyungsoo benar-benar mengikuti Jongin hingga akhirnya dia sampai ditempat yang cukup jauh dari Seoul.

Kyungsoo memperhatikan apa yang dilakukan Jongin sebelumnya. Berdiri dihadapan sebuah rumah dia menatap lekat Kotak surat yang terpasang di Pagar rumah hingga akhirnya Jongin memasukan sesuatu kedalamnya. Kyungsoo tidak tahu rumah siapa yang Jongin datangi tadi. Dan dengan perlahan Kyungsoo melangkah mendekati Kotak surat tadi setelah melihat keadaan bahwa Jongin telah benar-benar pergi.

Dan Kini Kyungsoo telah tepat berada ditempat Jongin berdiri sebelumnya. Melirik Kotak surat yang tidak terlalu tertutup sempurna juga beberapa surat didalamnya. Ini mungkin bisa dibilang tindakan kriminal. Tapi Kyungsoo menyampingkan semua pemikirannya itu dan membuka kotak surat itu perlahan. Meraih semua surat yang ada didalamnya dan mencari surat yang tadi Jongin masukkan. Dia mendapati sebuah amplop polos berwarna coklat tanpa coretan apapun didalamnya dan Kyungsoo meyakini bahwa itu adalah Surat yang Jongin masukkan tadi.

'Krak'

Belum sempat Kyungsoo membuka surat yang tadi Jongin masukkan. Sesosok pria keluar dibalik Pintu gerbang rumahnya dan menatap Terkejut Kyungsoo yang tengah memegang semua surat yang tengah dipegangnya. Kyungsoo hanya diam tergugup. Dia tidak mengetahui siapa tepatnya sosok Pria yang tengah menatapnya bingung ini. Tapi Kyungsoo meyakini bahwa ini adalah sang pemilik rumah.

Ya. Itu benar. Itu adalah sang pemilik rumah yang otomatis pemilik semua surat yang dipegang Kyungsoo saat ini. Kim Jongdae. Kakak dari Kim Jongin.


Malam ini Kyungsoo hanya diam menggigiti kecil pensil yang ada ditangannya. Bahkan bukunya sendiri dia abaikan. Kyungsoo melirik sesaat kearah Jongin yang tengah termenung sendirian. Duduk sendirian di tempat paling sudut rumahnya. Sejak dia datang kerumah Jongin. Jongin memang terdiam seperti itu.

Meskipun Jongin menurutinya untuk makan. Tapi beberapa menit setelah Jongin menyelesaikan makannya. Jongin kembali ketempat sebelumnya dan kembali terduduk dan melamun sendiri sampai saat ini. Jongin sama sekali tidak berbicara bahkan beraktifitas seperti biasanya. Dia sangat murung. Entah apa yang dipikirkan Jongin saat ini namun itu membuat Kyungsoo sendiri khawatir dengan keadaannya.

Ibu Kyungsoo memberitahukan bahwa Bipolar mempunyai dua Episode. Namun sebetulnya ada tiga episode. Episode Mania, Episode Hipomania dan Episode Depresi. Dan Kyungsoo meyakini saat ini Jongin tengah mengalami Episode Mania.

Bebera hari sebelumnya Jongin sangatlah tidak bisa diam. Jongin yang seperti anak berusia 10 tahun muncul. Ceria, banyak bertingkah, banyak bicara juga banyak tertawa. Bahkan Kyungsoo lebih kewalahan mengontrol Jongin dalam Episode Hipomania ini dibandingkan dia saat mengalami episode Depresi. Jongin layaknya anak kecil yang Nakal dan membuat Kyungsoo hampir kehilangan kesabarannya. Apalagi saat Jongin banyak menceritakan cerita-cerita aneh. Ingin sekali Kyungsoo menjahit mulut Jongin yang terus tidak bisa diam hingga malam larut menjelang.

Tapi tetap saja. Kali ini Kyungsoo benar-benar khawatir dengan keadaan Jongin. dalam waktu yang tidak akan lama. Kyungsoo yakin Jongin akan mengalami lagi Episode Depresi dan sebisa mungkin Kyungsoo sudah menyiapkan mentalnya sejak sekarang. Mungkin untuk saat ini Kyungsoo harus membiarkan Jongin dulu. Membiarkannya untuk tetap tenang seperti ini.

Kyungsoo kembali keposisi awalnya dan memegang Pensilnya dengan posisi yang benar. Namun saat dia kembali membaca kata 'Kecelakaan' didalam buku Prakteknya. Kyungsoo kembali teringat dengan apa yang dikatakan Jongdae tadi Siang. Apa yang dikatakan Kakaknya Jongin saat Secara tidak sengaja Dia menemukannya saat tengah mencari surat yang Jongin berikan untuk kakaknya.


Kyungsoo mengamati setiap keadaan rumah yang kini dimasukinya. Dan ini sangatlah jauh berbeda dengan keadaan Rumah jongin. sangat Jauh. Rumah Jongin memang besar sama besarnya dengan rumah ini. Namun keadaanya tidak dapat diperbandingkan karena pasti sangat berbeda.

Keadaan Rumah Jongin sangatlah gelap. Jendela yang selalu tertutup rapat. Warna cat dinding lama yang memudar dan tanpa hiasan. Disetiap dinding rumah jongin semuanya kosong. Tidak ada satupun foto ataupun hiasan. Yang ada hanya sebuah jam dinding tua yang terpajang disana. Namun Kyungsoo terkejut bila melihat keadaan dirumah Keluarga Jongin disini. Sangatlah nyaman layaknya rumah keluarga. Meskipun hanya ditempati oleh Jongdae seorang diri. Bahkan Foto keluarga yang lama masih terpajang rapi diruang tamu. Foto Ayah, Ibu dan Jongdae juga Jongin kecil yang dipenuhi dengan senyuman. Cukup sulit dipercaya bila melhat kenyataan sekarang bahwa keluarga yang difoto ini sudah jauh berbeda. Mungkin Kyungsoo bisa mendeskripsikan dengan kata yang cukup kasar. Keluarga yang Gagal. Fotonya bukan hanya satu. Bahkan masih banyak. Salah satunya juga Foto Jogin kecil yang tengah mengayuh sepeda roda tiganya dengan dipeluk ibunya. Sungguh. Senyuman itu. Kyungsoo ingin sekali melihat Jongin seperti difoto itu. Bahkan ketika melihat foto ibunya untuk pertama kalinya. Kyungsoo yakin Ibunya pasti sangat menyayangi Jongin.

Kyungsoo kembali mengalihkan pandanganya dan bersikap biasa setelah Jongdae datang membawa segelas Air ditangannya dan memberikannya kepada Kyungsoo.

"Jadi kau temannya Jongin?" Tanya Jongdae ramah. Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Jongin sejak pertama kali mereka bertemu. Dia menyapa dengan sangatlah dingin dan datar. Dan Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya pelan. Jongdae tersenyum. "Sulit dipercaya Jongin mempunyai teman setelah dia pergi dari sini. Namun aku bersyukur bila ada yang memperhatikan Jongin."

"Aku hanya membantunya untuk hidup agar lebih baik lagi. Karena aku tidak bisa melihat Jongin terus terpuruk dalam masa hidupnya." Jawab Kyungsoo.

"Sepertinya kau kenal baik dengan Jongin?" Namun Kyungsoo hanya menundukkan kepalanya pelan. "Tidak apa-apa. Aku senang. Jongin tidak pernah membiarkan aku untuk menemuinya. Dia sangat membenciku. Tapi bila ada kau. Setidaknya Jongin diperhatikan dengan baik. Mungkin dulu aku memang salah telah sering mengacuhkannya hingga akhirnya dia membenciku. Tapi sejujurnya aku selalu mengawasi keadaannya secara diam-diam. Sebelum Jongin mengetahui apa yang aku lakukan. Aku akan terus bertanya secara diam-diam kepada Dokter Psikiaternya tentang keadaannya tanpa sepengetahuan Jongin. Karena aku selalu mengkhawatirkan keadaanya." Ucap Jongin.

Kyungsoo beberapa saat terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Jongin pernah mengatakan kepadanya bahwa dia mirip Jongdae. Mungkin ini maksudnya. Jongdae selalu bersikap memperhatikannya berlebihan. Namun Jongin yang tidak mengerti. Jongdae melakukan ini karena dia khawatir dan Jongdae menyayanginya layaknya kakak kandung yang harus melindungi adiknya. Namun Jongin terlanjur terlalu membenci Jongdae.

Kyungsoo menatap Surat yang dipegangnya dan menatap Jongdae. "Ini surat yang aku temukan. Sebelumnya aku tidak berniat untuk Mengambilnya juga membacanya. Namun aku penasaran apa yang dia tulis." Ucap Kyungsoo menggeserkan pelan Amplop yang ada dimeja kepada Jongdae. Dan Dia menatap bingung Kyungsoo. "Ini adalah surat dari Jongin. dia tadi kesini memasukan suratnya sendiri kedalam kotak surat." Ucap Kyungsoo pelan.

Jongdae mengambilnya pelan. Cukup terkejut saat dia tahu bahwa Jongin pergi kerumahnya dan hanya untuk memberikan sebuah surat. Jongdae belum sepenuhnya merasa senang mendapatkan surat dari Jongin sebelum dia membacanya dan dengan perlahan Jongdae menyobek pinggir amplop coklat itu dan mengambil secarik kertas didalamnya. Membukanya dan mulai membacanya.

Hai (hyung.) Jongdae.

Untuk kali pertama aku menulis sebuah surat untukmu. Aneh bukan? Maksudku jangan terkejut. Aku hanya ingin mencoba berbicara kepadamu. Jongdae, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku tidak pandai (berbicara) menulis surat. Tapi mungkin aku sudah salah. Tidak datang di pemakamannya juga tidak ikut memperingati hari kematiannya. Aku meminta maaf kepadamu. Aku tidak berpikiran baik saat itu. Dan saat kau pergi kesini dan (memukulku) bersikap buruk kepadaku. Aku sadar aku yang salah.

Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi. Kau baik kan disana? Aku disini baik-baik saja. Aku menjadi orang yang lebih baik ketika Orang itu dia datang menjadi tetanggaku. Dia mengingatkanku kepada sosok yang telah mati jauh tidak ada disini. Aku konyol sekali. Terimakasih. Hanya itu saja yang aku katakan. Aku tidak tahu harus menulis apalagi.

Jongin.

Jongdae meneteskan air matanya dengan apa yang ditulis Jongin didalam suratnya. Meskipun beberapa saat dia tertawa kecil melihat beberapa kata salah yang dia tulis. Antara bahagia dan terharu yang saat ini Jongdae rasakan. Ada rasa tidak percaya Jongin mengatakan maaf kepadanya juga ada tulisan yang tercoret dengan kata Terimakasih didalamnya. Jongdae tersenyum dan membiarkan air matanya terus menetes. Dia melipat kembali surat yang dipeganya dan memberikan kepada Kyungsoo untuk dibaca.

"Dia harus belajar lagi cara menulis? Ahh.. anak itu. bahkan dia masih ragu untuk menyebutku Hyung." Ucapnya terisak.

Kyungsoo pun menerima surat itu dan ikut membacanya. Tulisan tangan yang beberapa disetiap katanya terdapat beberapa coretan yang kasar namun masih bisa dibaca. Mungkin itu adalah kata yang salah. Kyungsoo membacanya perlahan dan dia terkejut dengan apa yang ditulis Jongin. Dia meminta maaf. Dia mengatakan Hyung dan terimakasih meskipun pada akhirnya itu adalah kata yang tercoret. Namun yang makin membuatnya terkejut adalah ketika Jongin menceritakan tentang keadaanya 'Ketika dia datang menjadi tetanggaku.' Dan Kyungsoo yakin itu adalah dirinya.

"Sosok Tetangga itu adalah kau kan?" Tanya Jongdae menatap Kyungsoo setelah dia mengusap air matanya. Kyungsoo hanya menatap lalu menunduk malu. "Aku yakin dia merindukan Eomma." Lanjutnya.

"Jongin merindukan eommanya?" Tanya Kyungsoo lagi.

Jongdae mengangguk. "Sosok yang telah tiada itu adalah Eomma. Hanya saja dia tidak bisa menyebutkannya dan menggantikannya dengan kata Sosok." Ucap Jongdae lagi.

Kyungsoo kembali diam. Mungkin Jongin hanya butuh waktu agar dia bisa menerima semuanya. Dan kembali dia merasakan ingin tahu lebih lanjut antara Jongin dan ibunya. Seakan tidak cukup dengan apa yang diceritakan Jongin. Kyungsoo ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Ibu jongin dan membuat dia sendiri merasakan Trauma sangat berat terhadap mobil.

"Jongdae hyung." Ucap Kyungsoo pelan dan Jongdae menatap Kyungsoo. "Apa boleh aku tahu apa yang sebenarnya yang terjadi terhadap Eomma kalian yang sudah meninggal?" Tanya Kyungsoo hati-hati. Merasa Jongdae menatapnya aneh. Kyungsoo segera menjelaskannya. "Aku hanya ingin tahu saja. Karena beberapa kali Jongin mengatakan kepadaku bahwa dia sangat membenci ibunya dan dia mengatakan bahwa eommanya mengingkari Janjinya ketika Jongin mulai percaya kepadanya. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Kyungsoo.

Jongdae menghela nafas berat lalu menatap Kyungsoo. "Tidak apa-apa. Kau adalah teman yang baik untuk Jongin saat ini. Aku akan menceritakannya agar kau tahu yang sebenarnya dan kau tidak salah paham. Aku berharap kau bisa menjelaskan ini semua kepada Jongin agar dia tahu kenyataannya." Ucap Jongdae pelan dan Kyungsoo mengangguk mengerti. Dan Jongdae mulai menceritakan semuanya.


Suatu pagi. Masih di awal musim semi. Jongdae mendengarkan percakapan antara ibunya dengan seseorang ditelpon dan dia yakini itu adalah Dokter Psikiater Jongin. Ibunya sangat khawatir dengan keadaan Jongin saat itu karena dia masih cukup muda untuk menderita Bipolar. Apalagi setelah Keluarganya mendapatkan kabar bahwa Jongin masuk rumah sakit karena dia telah menelan beberapa obat-obatan dengan dosis tinggi sehingga dia tidak sadarkan diri. Dan setelah Ibunya mendapatkan telpon dari rumah sakit. Dia mengajak Jongdae untuk mengantarnya kerumah sakit untuk melihat keadaan Jongin. Karena untuk pertama kalinya dia melakukan percobaan bunuh diri.

Namun saat mereka sudah berada disana. Jongin sudah sadar dan dia tidak mengizinkan siapapun masuk termasuk Ibu dan kakaknya. Dia akan berteriak dan membentak setiap orang yang membujuknya. Termasuk Dokternya sendiri. Jongdae masih bisa melihat ibunya yang terus menangis dibalik Pintu dan Jendela kamar rawat Jongin. Dan saat itu Jongdae sadar bahwa ibunya sangat mengkhawatirkan keadaan Jongin. Beberapa kali dia juga membujuk Dokter ataupun siapapun yang bisa masuk kedalam kamar Jongin untuk membujuknya agar dia bisa masuk tapi hasilnya tetap sama. Jongin tidak membiarkan keluargannya untuk masuk.

Untuk beberapa hari Ibu tidak mau beranjak dari tempatnya saat itu. Dia masih tetap duduk menunggu diluar. Berharap anaknya akan membiarkan untuk menemuinya. Beberapa kali Jongdae membujuk untuk pulang dan berstirahat. Tapi Ibunya bersikeras untuk tetap menunggu. Dan saat itu pula Jongdae menyadari tentang keadaan Jongin. Setelah menatap keadaan Jongin secara langsung. Kini dia tahu. Apa yang diderita Jongin sangatlah berat. Dia juga menyesal telah membiarkan adiknya menjadi seperti ini. Pergi meninggalkan rumah dan membencinya termasuk juga ibunya. Sejak saat itu Jongdae juga ikut berusaha untuk mendekati Jongin tapi hasilnya hanya penolakan yang dia dapatkan.

Sudah seminggu sejak kejadian itu dan Jongin diperbolehkan untuk kembali pulang kerumahnya. Jongdae melihat untuk pertama kalinya selama hampir beberapa tahun senyuman ibunya itu kembali saat Jongin keluar berjalan dengan didampingi seorang suster dari dalam kamar rawatnya. Namun, Jongin berjalan begitu saja tanpa menanggapi tatapan ibunya yang telah menunggu penuh harap. Wajahnya seketika berubah melihat apa yang dilakukan Jongin yang seolah bersikap bahwa dirinya adalah orang lain. Dia tidak bisa melakukan apa-apa termasuk juga Jongdae. Karena mereka akan tahu. Ketika mereka mencoba kembali berbicara kepada Jongin. Mereka takut keadaannya kembali memburuk. Air mata itu kembali mengalir lagi dipipi ibunya. Sulit dipercaya bahwa senyuman yang tadi di tunjukkan ibunya adalah senyuman pertama dan terakhir yang dia lihat.

Selang beberapa minggu kemudian. Ibu Jongin terus mencoba menghubungi nomor telepon rumah Jongin untuk membujuknya agar pulang. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Jongin menghiraukan semua panggilan yang terus berdering di telpon rumahnya. Namun malam itu suara telpon Jongdae bordering dan itu adalah nomor Jongin. Dengan cepat Jongdae memberikan kepada ibunya yang masih berbaring diatas sofa setelah hampir selama berhari-hari mencoba menghubungi Jongin dan kini Jongin yang menghubunginya.

Dengan dipenuhi rasa bahagia Jongdae membangunkan ibunya dan memberikan panggilan dari Jongin. Jongdae memasang Loadspeaker agar dia bisa mendengar apa yang Jongin bicarakan dan akhirnya Ibunya mengangkat panggilan Jongin.

"Halo Jongin. Akhirnya kau menghubungi eomma." Ucap ibunya sangat bahagia. Namun hanya keheningan yang mereka dapatkan. Jongin sama sekali tidak berbicara. Dia tetap diam. Beberapa kali ibunya memanggil nama Jongin dan akhirnya Jongin membuka suaranya untuk pertama kalinya kepada ibunya.

"Ada apa?" Tanya Jongin pelan karena dia tahu yang selama ini sering menghubungi telepon rumahnya adalah ibunya.

"Jongin pulanglah. Maafkan eomma. Eomma akan merawatmu disini." Ucap ibunya penuh harap.

"Untuk apa aku bersamamu? Kau akan bersikap tetap sama." Ucapnya sedikit kasar namun sangat tenang seolah apa yang dikatakannya adalah hal yang biasa.

Saat itu juga Jongdae ingin sekali berteriak marah kepada Jongin karena beraninya berkata kasar kepada ibunya sendiri. Namun dengan cepat ibu Jongdae yang menyadari hal itu menghalangi Jongdae dan akhirnya Jongdae mengurungkan niatnya.

"Apa yang kau inginkan Jongin agar kau bisa kembali pulang kerumah?" Tanya ibunya pelan.

Dan hanya kembali keheningan. Jongin sama sekali tidak bersuara. Mungkin dia tengah berpikir atau mungkin membiarkan panggilannya begitu saja. Namun dengan sabarnya Ibu Jongin menunggu suaranya kembali.

"Jongin?"

"Aku ingin pulang bila kau datang menjemputku besok siang." Ucap Jongin pelan.

Ibunya sangat senang dengan apa yang dikatakan Jongin. "Baiklah eomma akan datang. Tunggu besok eomma akan menjemputmu bersama Jong–"

"Datanglah bersama Pria itu. pria yang membuat keluarga kita berantakan." Ucap Jongin memotong perkataan ibunya.

Beberapa saat Ibu berpikir siapa sosok pria itu dan dia baru menyadari bahwa itu adalah mantan suaminya. Ayah dari Jongdae dan Jongin. "Maksudmu Appa? Tapi Jongin–" Belum sempat Ibunya member alasan Jongin kembali memotong perkataan ibunya.

"Bawa Pria itu bersamamu dan jemputlah aku. Aku akan pulang bila kalian membujukku bersama. Aku sudah mempercayai dirimu saat ini. Datanglah tepat waktu. Aku tidak mau dikecawakan lagi." Ucap Jongin yang langsung menutup Panggilannya begitu saja.

Jongdae melihat tatapan ibunya saat itu yang tiba-tiba melemah. Dan beranjak pergi meninggalkannya. Melangkah menuju kamarnya sendiri. Jongdae tahu itu adalah keinginan yang sangat berat bagi Ibunya. Dan bisa-bisanya Jongin menginginkan hal itu. Namun Jongdae sadar. Yang dibutuhkan Jongin sebenarnya adalah keluarga yang bahagia. Seperti dulu bukan seperti sekarang.

22 maret. Pagi-pagi sekali ibunya sudah bersiap-siap dan telah memakai pakaian rapi. Mungkin dia berencana untuk pergi secara diam-diam namun Jongdae mendapati ibunya saat baru saja dia keluar dari kamarnya. Jongdae segera berlari dan menahan ibunya.

"Eomma akan pergi sekarang? Biar aku mengantarkannya." Ucap Jongdae sedikit khawatir.

"Ya. Eomma akan pergi. Tapi tetaplah disini Jongdae. Eomma akan pergi sendiri lagipula eomma harus menjeput appa mu." Ucapnya terburu-buru.

"Appa? Eomma tahu keberadaan Appa?" Ucap Jongdae terkejut.

Dia mengangguk. "Eomma akan terus mencarinya meskipun dia tidak ada. Eomma harus membawa Jongin pulang. Eomma tidak mau mengecewakan Jongin. Sudahlah eomma takut terlambat." Ucapnya dan melangkah pergi terburu-buru dan pergi meninggalkan Rumah menggunakan mobilnya.

Selama seharian itu Ibunya mencari keberadaan mantan suaminya namun dia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya itu. Bahkan sepertinya Ibunya lupa bahwa Jongin memintanya untuk menjemputnya siang ini. Namun Ibunya tetap terus mencari Ayah Jongin untuk membawanya menjemput Jongin bersama. Hingga malam menjelang Ibunya masih mencari keberadaan Ayah Jongin saat ini. Bahkan dia telah cukup jauh meninggalkan Seoul. Dia sekarang berada di Gangnung.

Sudah cukup menyerah mencarinya akhirnya ibunya memutuskan untuk datang sendiri menjeput Jongin. Namun jalanan yang akan dilewatinya ditutup oleh kepolisian setempat karena saat itu terjadi hujan lebat juga Badai. Sangat berbahaya bila mobil melewati jalanan yang tepat berada di tebing pantai. Jalanan yang licin, kerikil-kerikil yang berjatuhan juga angin laut akan membahayakan pengendara. Mungkin saja akan membuat mobil tergelincir.

Meskipun jalan dialihkan ketempat lain. Namun itu sangatlah jauh. Butuh semalaman hingga akhirnya Ibunya sampai di Seoul. Dan akhirnya ibunya menunggu disana hingga Badai mereda dan jalan dibuka.

Malam itu Jongdae mendapatkan sebuah pesan dari Jongin.

'Kau sudah menghilangkan kepercayaanku ketika aku sudah mulai percaya kepadamu. Jangan datang lagi kepadaku.'

Jongdae yang terkejut mulai kebingungan harus mengatakan apa. Berarti ibunya tidak berada di Seoul. Dia belum menjemput Jongin. Dan sekarang dimana ibunya sekarang. Dengan cepat Jongdae mengirimkan pesan Jongin tadi kepada ibunya.

Dia yang tengah menunggu ditepi jalan pun membuka pesan dari Jongdae dan terkejut dengan apa yang dikatakan Jongdae tentang pesan Jongin. dia benar-benar lupa bahwa Jongin memintanya untuk datang siang tadi. Dia melirik kearah Jam tangannya. Masih pukul 8 malam. Setidaknya hari ini belum berakhir.

Mengabaikan semua larangan juga tanda penghalang. Dengan terburu-buru ibunya menyalakan kembali mesin mobilnya dan dengan cepat menginjak gas dan mencoba melewati Jalan yang ditutup saat itu. beberapa polisi dan orang yang berada disana mencoba menghalangi apa yang dilakukan eommanya namun dia tetap saja berusaha pergi. Dan akhirnya ibunya benar-benar melewati jalan yang ditutup tersebut.

Dia terburu-buru ingin segera menemui Jongin. berharap bahwa Jongin tidak kembali kecewa kepadanya dan menjemputnya pergi. Dia sangat terburu-buru menjalankan mobilnya. Bahkan dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas 120 km/jam.

Alasan jalanan yang ditutup kini benar-benar terjadi. Ibunya yang kini mengabaikan semua tanda bahaya disana kini merasakan dampaknya. Saat dijalanan yang lurus dengan kecepatan yang tinggi dia menjalankan mobilnya tanpa halangan apapun tapi dia baru tersadar ketika melihat sebuah batu berukuran sedang berada ditengah jalan. Ibunya mencoba membanting setir. Keadaan jalanan yang licin membuat ban mobilnya bergeser lebih jauh ke badan jalan hingga bagian belakang mobilnya menabrak tebing disampingnya. Karena terkejut dia kembali menginjak gasnya namun kerikil kecil yang jatuh dari tebing membuatnya kembali tidak bisa mengendalikan laju mobilnya saat dia mencoba membelokkan mobilnya. Dia mencoba mengerem namun jalanan yang licin tidak dapat membantunya banyak. Dan lagi mobil itu menabrak tebing. Lebih keras dari tabrakan yang pertama hingga membuat mobil itu terbanting dan berputar-putar hingga akhirnya melintas jauh meninggalkan badan jalan dan menabrak keras pembatas Jalan sehingga mobil itu Jatuh bebas begitu saja kedalam Laut.

Dan selang beberapa Jam jongdae mengirimkan pesan Jongin kepada ibunya. Jongdae mendapatkan kabar dari kepolisian bahwa Ibunya mengalami kecelakaan sehingga membuat kehilangan nyawanya. Saat itu Jongdae terkejut ketika ibunya menerobos jalanan yang ditutup. Dan dia baru sadar. Bahwa pesannya pasti adalah penyebab Ibunya menerobos jalanan itu. Dia menyesal harus mengirimkannya. Seharusnya dia menghubungi ibunya untuk menyuruhnya pulang. Saat itu juga jongdae menghubungi Jongin tentang keadaan ibunya. Dia mengirimkan pesan secara detail. Dimana, kapan dan bagaimana ibunya mengalami kecelakaan tersebut. Beberapa kali Jongdae mencoba menghubungi ibunya tapi tidak ada jawaban sama sekali. Jongdae tidak bisa menceritakan yang sebenarnya saat itu karena dia sendiri masih shock dan dia juga tidak tahu apakah Jongin akan mendengarkan ceritanya. Jadi dia tetap diam sampai saat ini.


Jongdae beberapa kali mengusap air matanya. Dan Kyungsoo tertegun. Dia juga ikut menangis mendengar cerita Jongdae. Kyungsoo menghapus air matanya dan mulai mencoba bicara.

"Jadi eommanya tidak mengingkari janjinya. Dia masih tetap berusaha pergi untuk menjemput Jongin?" Tanya Kyungsoo pelan.

"Iya. Aku pernah bicara kepadanya bahwa Eommanya memang datang untuk menjemputnya. Namun dia membantah. Dia malah berkata bahwa Ibunya pergi ketempat lain karena kecelakaannya terjadi jauh di Seoul. Jauh ditempat Jongin saat ini juga rumah. Dan dia malah semakin membenci eomma."

Kyungsoo terdiam. Kini sudah jelas semuanya. Kyungsoo sudah tahu sebenarnya. Ternyata benar Ibunya tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Kyungsoo beberapa kali meremas pelan surat yang ada ditangannya dan mencoba menahan tangisnya. Hingga beberapa menit kemudian sebuah sentuhan dapat dia rasakan. Jongdae memegang halus punggung tangan kyungsoo pelan dengan tatapan penuh harap.

"Maukah kau membantuku kali ini?" Tanya Jongdae kepadanya. "Kumohon buat Jongin untuk tidak kembali membenci eommanya." Ucapnya memohon.

Kyungsoo tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi dia tahu bahwa apa yang diharapkan Jongdae sama dengan apa yang diharapkannya. Jongin harus merubah pandanganya. Jongin harus menghilangkan rasa bencinya. Dan dengan perlahan. Kyungsoo menganggukan kepalanya menyetujui apa yang diminta Jongdae kepadanya.


Sudah hampir 5 hari Jongin mengurung diri dikamar. Suara teriakan, isakan, umpatan juga cacian terus terdengar di telinga Kyungsoo. Kyungsoo membiarkannya? Tidak. Kyungsoo hanya tidak bisa masuk kedalam kamar Jongin yang terkunci rapat. Selama berhari-hari setelah dia pulang dari kuliahnya. Dia akan diam berdiri didepan pintu kamar Jongin. Dan selama beberapa hari juga suara keras dan menakutkan selalu terdengar. Seperti suara bantingan keras. Dan Kyungsoo tidak tahu apa itu.

Kyungsoo ingin sekali mendobrak pintu kamar Jongin dan menenangkannya. Sayang. Kekuatannya tak sekuat itu. jadi dia hanya bisa diam menunggu dipenuhi kecemasan dan rasa khawatir. Bahkan Kyungsoo bisa tidur terduduk disana hanya karena menunggu pintu kamar Jongin terbuka. Jongin sama sekali tidak makan. Pintunya tak terbuka sedikitpun. Kyungsoo semakin khawatir. Semakin Jongin berteriak kesakitan dia semakin takut bahwa Jongin melakukan hal buruk di dalam kamarnya. Entah kenapa bayangaan percobaan bunuh diri itu kembali terbayang di ingatan Kyungsoo.

Sungguh malam ini Kyungsoo sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia baru pulang dari kuliahnya. Jadwal belajar dan prakteknya yang padat cukup membuat Kyungsoo kewalahan. Namun entah kenapa rasa khawatir Kyungsoo tidak pernah hilang. Dia berniat untuk langsung beristirahat saja dirumahnya. Tapi kembali. Setelah dia memarkirkan mobil di bagasinya. Matanya tertuju kerumah yang ada disampingnya. Dia memikirkan Jongin. Takut hal buruk terjadi kepadanya.

Rasa takutnya yang lebih mendominasi membuatnya mau tak mau memilih rumah Jongin. Hanya berjaga-jaga. Itu alasan dia meskipun dia sudah cukup lelah dengan kegiatannya seharian ini.

Gelap. Sepi. Hening. Itulah yang dia rasakan sejak dia masuk kedalam rumah Jongin. Oh dan jangan lupakan rumah Jongin sudah hampir 2 minggu ini tidak dikunci karena sebelum Jongin mengalami episode Depresi. Kyungsoo selalu mengunjungi rumahnya untuk sekedar menemani Kim Jongin seraya belajar. Suara Teriakan dan bantingan keras yang biasa Kyungsoo dengarkan sudah menghilang digantikan sebuah keheningan.

Takut. Itu yang pertama dirasakan Kyungsoo. Keadaan seperti ini pernah kyungsoo alami. Saat pertama kali dia mengenal Jongin. dia juga pernah mengalami keadaan ini dan berakhir dengan sebuah percobaan bunuh diri. Bertemu dengannya dengan keadan pergelangan tangannya yang tergores pecahan gelas kaca.

Kyungsoo langsung berlari naik keatas menuju kamar Jongin. masih hening. Dan dengan cepat Kyungsoo berlari.

'Dak! Dak! Dak'

Kyungsoo mengetuk pintu kamar Jongin keras. "Jongin buka. Kau tidak apa-apa! Jongin kumohon buka!" teriak Kyungsoo terus mencoba memanggil Jongin.

Keadaannya sangat hening. Kyungsoo terus mengetuk pintu kamar Jongin kasar. Berteriak terus memanggil namanya berharap yang dipanggil mengerti dan menunjukan keadaannya bahwa dia baik baik saja. Semakin hening dan tetap tidak ada jawaban. Kyungsoo secara tidak sadar meneteskan air matanya. Menangis. Dia khawatir, cemas juga takut. Dia tidak ingin Jongin berakhir seperti beberapa bulan kemarin.

Kyungsoo terperosot jatuh terduduk. Ketukannya semakin melemah. Dia menangis. Dia tidak ingin Jongin mati. Ya. Memang hanya itu yang dipikirkan Kyungsoo saat ini.

"Jongin. Kumohon buka. Bila kau merasa kesal, marah, benci. Berteriaklah kepadaku. Jangan seperti ini. jangan bersembunyi." Ucapnya melemah seraya terisak. "Jangan membuatku takut. Ayo buka."

'Klak'

Pintu itu terbuka. Setelah berhari hari terkunci. Akhirnya sipemilik kamar itu membuka pintunya. Kyungsoo langsung terdiam. Menatap pintu yang terbuka kecil dan kaki yang berdiri tepat dihadapannya. Kyungsoo mendongakkan wajahnya. Dan menatap sosok Jongin yang hanya berdiri diam dibalik celah pintu yang terbuka sedikit itu.

Cukup bahagia. Hal buruk yang Kyungsoo bayangkan tidak benar-benar terjadi. Dia langsung berdiri tanpa menghapus air mata yang membasahi pipinya dia menatap Jongin lekat penuh khawatir.

"Kau tidak apa-apa? Kau kenapa, aku akan-"

"Diamlah dan pergi dari rumahku." Ucap Jongin pelan namun cukup menyayat hati Kyungsoo yang berdiri menatap Jongin tidak percaya.

"Jongin aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kau melakukan tindakan buruk." Balas Kyungsoo mencoba sehalus mungkin.

"Berhentilah berkata seperti itu. siapa Kau? Kenapa kau selalu mengurusi hidupku?" beberapa saat Jongin tertawa meremehkan. "Bodohnya aku. Kenapa aku bisa jatuh dan mempercayai apa yang kau katakan."

"Apa yang kau katakan?" Tanya Kyungsoo cukup keras. Sungguh dia tidak mengerti dengan Jongin saat ini.

"Bersikap baik. Memperhatikanku, menolongku, membantuku. Kau melakukannya karena sebuah paksaan kan? Tidak pernah setulus hati dengan semua yang kau lakukan padaku. Kupikir kau memandangku tulus. Tapi kau sama seperti orang lain. menatapku seperti penderita Bipolar yang lemah." Ucapnya seraya menatap lekat sosok Kyungsoo yang menatapnya bingung.

"Aku sudah cukup lelah untuk hari ini Jongin. Jangan semakin membuatku kesal karena ucapanmu." Teriak Kyungsoo.

"KAU BISA PERGI SESUKAMU SEKARANG!" membalas teriakan Kyungsooyang tentunya lebih keras dan kasar.

Tatapannya semakin lekat. Nafasnya tersenggal-senggal. Jongin benar-benar berbeda. Ada apa dengannya. Bahkan Kyungsoo hampir menangis kembali mendengar teriakan Jongin kepadanya.

Jongin menggeram kesal. Dia mencoba menutup pintunya kembali tapi Kyungsoo langsung menendang pintu kamar Jongin hingga semakin terbuka lebar. Mendorong tubuh sosok yang lebih tinggi darinya untuk masuk. Jongin yang merasa kesal menghempaskan tangan Kyungsoo dari tubuhnya. Menatapnya kesal dan penuh dengan tatapan kemarahan.

"SUDAH KUBILANG PERGI!" Bentaknya lagi.

Kyungsoo meraih tangan Jongin. mencoba menenangkannya dengan apa yang sedang dialaminya. Ya dia tahu dia mengalami Fase Depresi sekarang. Wajar bila Jongin terus membentak dan berteriak kesal kepadanya.

Namun lagi Jongin menarik tangannya dan beralih berbalik mendorong tubuh Kyungsoo hingga menabrak dinding kamarnya.

'BUGH'

Bahkan suara tabrakan antara punggung Kyungsoo dengan dinding itu sangat keras. Kyungsoo hanya bisa meringis. Ketakutan juga hanya bisa menangis. Untuk pertama kalinya Jongin bersikap kasar kepadanya. Bahkan dia tidak berani menatap Jongin yang saat ini sedang menekan erat kedua bahunya. Mengunci pergerakannya sehingga Kyungsoo tidak bisa melakukan apa-apa. Ingin dia lepas dan menghindar. Namun tenaganya tidak cukup kuat melepaskannya. Dia Takut saat ini.

"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Jongin. namun Kyungsoo hanya diam tidak mengerti. Kyungsoo berusaha melepaskan dirinya. Dan Lagi Kyungsoo merasakan sakit dipunggungnya saat Jongin kembali membanting punggungnya lebih keras. Bahkan foto-foto yang tertempel di dinding kamar Jongin ikut terlepas dan terjatuh saking kerasnya bantingan tangan Jongin kepada tubuh Kyungsoo. "KATAKAN SIAPA KAU!" Dia berteriak.

"Apa maksudmu?" Tanya Kyungsoo menahan tangis dan sakitnya.

"aApa maksudmu? APA MAKSUDMU KAU BILANG?" Jongin berteriak dan mengepalkan tangannya.

'BRAK'

Jongin memukul dinding yang ada dihadapannya. Tepat disamping wajah Kyungsoo. Kyungsoo diam dan memejamkan matanya rapat. Dia benar-benar ketakutan.

"Apa yang kau lakukan dirumah Jongdae huh? Katakan!" Ucap Jongin tegas.

"Kau?" Kyungsoo menatap Jongin. dia berpikir apakah Jongin tahu tentang kunjungannya yang menemui Jongdae di rumah keluarganya.

"Ya. Aku tahu. Aku tahu semuanya. Aku melihatnya. Kau masuk kedalam rumah itu bersama Jongdae. Dan kembali keluar dalam rentan waktu yang cukup lama. Aku tahu. Kalian pasti merencanakan sesuatu untukku. Benarkan?" Tanya Jongin.

Kyungsoo membelalakkan matanya. Dia tekerjut, dia bingung, dia tidak tahu harus melakukan apa. Sehingga dia hanya bisa diam.

Jongin mendengus. Tersenyum miris menatap Kyungsoo. "Benar. Kau merencanakan sesuatu untukku."

"Tidak. Bukan itu." Ucap Kyungsoo pelan.

"Lalu apa? Kau orang suruhan Jongdae untuk mengawasiku begitu? Cih.. Shit! Damn it!" Umpatnya kesal. Dan mendorong Kyungsoo keras hingga dia terjatuh tersungkur kebawah lantai dengan kerasnya. Beruntunglah tidak ada barang tajam ataupun benda yang terdapat di tempat Kyungsoo terjatuh tadi hingga Kyungsoo hanya merasakan sakit ditubuhnya menghantam lantai karena Jongin yang mendorongnya.

Kyungsoo menangis. Dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Jongin kepadanya. Ini salahnya. Kenapa dia tidak berhatai-hati. Seharusnya dia memastikan Jongin benar-benar pergi beberapa hari itu. Jongin selama beberpa minggu ini telah mengetahui apa yang dilakukannya. Dia tahu saat dia menemui Jongdae. Dan beberapa minggu ini dia sadar bahwa Jongin diam dan bersikap bahwa dia baik-baik saja. Salahnya di fase Depresinya. Kyungsoo malah membuat Jongin seperti ini. Merasakan kesakitan lebih dari biasa dia rasakan. Kecewa. Kyungsoo yakin Jongin kecewa padanya. Dan dapat dia lihat Jongin yang berdiri tidak jauh dihapadapanya. Sedang menggeram kesal. Beberapa kali dia berteriak. Mengusap wajahnya kasar dan meremas rambutnya sendiri. Merasa frustasi dan putus asa. Bahkan beberapa kali dia menendang apapun yang ada didekatnya menjadi pelampiasan kekesalannya. Kyungsoo sudah tidak tahan lagi menatap Jongin saat ini. Bakan ketika membanting kasar boneka kelinci putih usangnya itu kearah Kyungsoo yang hampir saja mengenai kepalanya.

"Maafkan aku." Ucapnya lirih. Dia tahu. Jongin sedang salah paham kepadanya. Tapi dia tidak mungkin menjelaskan secara langsung apa yang sebenarnya terjadi. Jadi Kyungsoo memilih diam dan seolah mengakui kesalahannya. Tindakan bodoh.

Jongin berbalik. Menatap Kyungsoo kesal. Dia mendekat dan mencengkram kuat rahang Kyungsoo. Kyungsoo kembali menangis dan menahan kesakitannya. "Kumohon maafkan aku." Ucapnya tersenggal karena dia merasakan sesak untuk bernafas. Dan kembali. Jongin mendorong tubuh Kyungsoo kelantai dengan kerasnya.

Jongin mendekat dan duduk menatap Kyungsoo. Kyungsoo terlalu takut jadi dia hanya memilih diam dan menjauhkan sedikit tubuhnya karena dia takut akan terjadi hal lebih buruk kepadanya.

"Kenapa kau melakukan ini kepadaku?" Ucap Jongin pelan.

Gerakan Kyungsoo terhenti. Dia diam dan menatap Jongin kali ini. dan tatapannya berubah. Dari tatapan marah berubah menjadi sebuah tatapan yang sayu dan penuh kelemahan. Kyungsoo hanya diam tertegun menatap Jongin saat ini seraya menahan isakannya.

"Aku percaya kepadamu. Kau yang membuatku hidup menjadi lebih baik. Kau selalu mengingatkanku akan apapun. Dan hanya kau yang mengerti tentang keadaanku. Aku bahkan telah menganggapmu adalah sebagian dari hidupku. Sisi kosong yang sudah lama ku tinggalkan di dalam hatiku hanyalah berisi dirimu. Kenapa kau melakukan ini kepadaku?" Untuk beberapa saat keheningan yang tercipta. Saling bertatapan dengan sebuah kebisuan tercipta. "Tahukah kau bahwa beberapa bulan ini aku merasakan sebuah kenyamanan? Bertahun-tahun aku melupakan rasa itu dan rasa itu kembali saat kau ada untukku. Aku tenang dan saling berbagi tawa kebahagian. Aku mempunyai teman dan aku bisa kembali merasakan apa itu sebuah rasa kasih sayang."

Kyungsoo masih diam. Menatap Jongin dengan tatapan tidak mengerti dan Jongin masih menatapnya dengan tatapan yang sama. Tidak berpaling sama sekali. Jongin perlahan mengusapkan kedua tangannya kearah pipi Kyungsoo yang benar-benar sudah basah oleh air matanya sendiri. Menyentuh halus dengan tatapan yang lembut.

"Kenapa kau meruntuhkan kepercayaanku? Aku bahagia saat bersamamu. Aku nyaman saat bersamamu. Aku senang saat bersamamu. Apakah aku merasakan hal seperti itu hanya sepihak? Apakah aku saja yang merasakan keanehan ini? atau memang karena kelainanku? Apa Bipolar ini yang telah mengacaukan semuanya. Aku selalu memikirkanmu ketika aku sendirian. Apa kau juga melakukan hal yang sama?" Dan kini semua ucapannya diiringi dengan sebauah cairan bening yang keluar dari matanya. Matanya berkaca-kaca. Dia menangis.

"Bodohnya aku. Aku menganggap kau adalah orang yang aku sayangi dan aku berpikir tidak bisa hidup tanpamu. Mungkin hanya perasaan sepihak bahwa sebenarnya aku mencintaimu." Ucapnya pelan dengan disertai sebuah aliran air mata yang lebih banyak mengaliri pipinya.

Kyungsoo hanya menggeleng tidak percaya. Tidak. Ini salah. Apa yang dimaksud Jongin bahwa dia sebenarnya mencintai Kyungsoo. Dia hanya tertunduk dengan tatapan kosong. Tidak percaya dengan semua yang dikatan Jongin kepadanya. Apa yang dimaksud Cinta? Jelas ini salah. Ini tidak normal.

"Ini tidak normal? Benarkan?" Tanya Jongin menatap Kyungsoo dengan sebuah senyuman miris. Kyungsoo menaikan wajahnya dan menatap Jongin lagi dengan tatapan yang sangat kosong. Dan masih merasakan tangan Jongin yang masih menekan halus pipinya "Aku tidak tahu dan tidak akan pernah ingin tahu apa yang kau rencanakan dengan Jongdae sebenarnya. Tapi berhentilah mengunjungi rumahku. Keluarlah dan tinggalkan aku sendirian lagi disini. Aku tidak ingin kembali merasakan kesakitan seperti ini. Aku tidak ingin melihatmu." Ucapnya pelan.

"Jongin." ucap Kyungsoo pelan. Namun Jongin kembali menatapnya tajam.

"Aku membencimu hyung." Bisiknya pelan membuat Kyungsoo yang mendengarnya kembali meneteskan air matanya ketika Jongin mulai menjauhkan sentuhannya di pipi halus Kyungsoo.

Jongin menggeram kesal. Dia duduk sendirian di sudut kamarnya yang gelap. Tangisan kesakitan dan sebuah teriakan keputus asaan yang terus dia lakukan. Bisa-bisanya dia merasakan hal seperti ini sekarang. Dan semua itu terjadi karena Kyungsoo. ya dia hanya menyalahkan Kyungsoo. Salahkan Kyungsoo yang datang kedalam kehidupannya. Salahkan Kyungsoo yang telah membuatnya percaya. Salahkan Kyungsoo yang memberikan kasih sayang. Salahkan Kyungsoo yang telah membuatnya menerima banyak harapan di masa depan bersamanya. Dan salahkan Kyungsoo yang membuatnya Jatuh Cinta.

Ternyata ketakutannya memang nyata. Jongin mempercayai cinta tapi dia takut untuk mengharapkannya. Dia takut ketika dia mengarapkan cinta tapi orang lain tidak melihat cinta yang ada di diri Jongin sendiri. Ya. Sebelumnya dia telah melihatnya. Kyungsoo tidak melihat cinta yang ada didalam hati Jongin.

Ini gila. Ini tidak normal. Ini menjijikan. Dia mengumpat dirinya sendiri. Ini perasaan yang aneh tapi dia benar-benar merasakannya. Dia belum pernah mengalami hal tersebut tapi dia tidak sepolos itu untuk mengingkarinya. Dia memang mencintai Kyungsoo.

Jongin sudah benar-benar percaya bahwa Kyungsoo adalah orang yang telah di berikan Tuhan kepadanya untuk memberinya sebuah kekuatan. Tapi dalam sekejap. Kepercayaan itu hilang. Dia mendapat sebuah pukulan keras ketika dia mendapati Kyungsoo yang memasuki rumah Jongdae dan keluar dari rumah itu. tepat dengan mata kepalanya sendiri. Awalnya Jongin memang sudah berniat pergi namun dia merasakan sesuatu yang tidak enak dan ingin kembali mengambil surat yang tadi dia masukan kedalam kotak surat. Itu hal bodoh yang pernah dia lakukan sehingga dia memilih untuk mengambilnya kembali. Namun dia terhenti ketika melihat sosok yang cukup dikenalnya sedang bercakap-cakap dengan orang yang dia benci, Jongdae. Itu Kyungsoo. Kai menunggu. Dia terus memastikan apakah itu memang Kyungsoo dan cukup lama dia menunggu akhirnya Kyungsoo kembali keluar sendirian. Jongin bersembunyi di balik sebuah mobil yang terparkir ketika Kyungsoo melangkah melewati tempatnya berdiri saat itu. dan mulai detik itu juga Jongin benar-benar merasa dibohongi.

Sakit. Benar memang sakit. Dia seolah dibohongi. Apa selama ini Kyungsoo datang karena sebuah perintah dari seorang Jongdae? Apa yang Kyungsoo lakukan hanya sebuah sifat simpati dan rasa kasihan? Tidak ada namanya ketulusan. Ini sangat menyakitkan.

Untuk beberapa minggu belakangan ini Jongin berusaha tetap diam. Mengontrol emosinya sendiri. Bahkan disaat dia sedang mengalami Episode Hipomania. Dia beruntung. Dia seakan lupa dengan apa yang tengah membelit pikirannya tentang Kyungsoo. Dia masih bisa tertawa dan bertingkah layaknya anak keci. Disaat episode Mania dia kembali merasakan kegganjalan di dalam hatinya. Ya. Dia kembali ingat tentang Kyungsoo dan Jongdae. Dia termenung mencoba membuang rasa ketidakpercayaannya itu karena dia sadar. Rasa percayanya jauh lebih besar dibandingkan dia yang ingin mengelaknya. Satu alasan yang pasti. Dia tidak ingin menyakiti Kyungsoo. dia menyadari bahwa selama ini dia mencintai Kyungsoo. Sebuah perasaan yang Gila yang baru pertama dia rasakan saat ini.

Namun akibat kejadian tadi. Dia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Dia menyakiti Kyungsoo. antara dia Marah, Kesal, Benci. Dia juga merasakan bahwa dia tidak ingin menyakitinya bahkan membuatnya menangis. Namun semuanya sudah terlambat. Jongin lebih memilih apa yang sedang dipikirkannya dan terus membebaninya saat itu. Rasa marahnya lebih besar dibandingkan rasa pedulinya. Dia sudah tidak mempercayai Kyungsoo lagi.

Kyungsoo menutup pelan pintu kamarnya. Dia baru saja kembali dari rumah Jongin setelah memintanya untuk pergi dari rumahnya. Ya pergi untuk selama-lamanya. Pergi dari hadapan Jongin dan meminta untuk tidak pernah kembali kerumahnya termasuk kehalaman rumahnya untuk mengurus tanaman bunganya.

Kyungsoo langsung mendudukkan dirinya pelan. Dia masih diam dihadapan pintu kamarnya yang tertutup rapat. Dia menekuk dan memeluk kedua lututnya. Menjatuhkan kepalanya dan menenggelamkan kepalanya diantara lutut kakinya. Ini salahnya. Dia telah menyakiti Jongin. tapi semuanya tidak benar. Ini semua hanya kesalah pahaman.

Dia melupakan semuanya. Dia melupakan semua rasa sakit yang ada tubuhnya akibat Jongin yang terus membanting dan mendorongnya. Bahkan dia benar–benar lupa dengan rasa lelahnya hari ini. Hanya satu lagi yang terus mengikat pikiran Kyungsoo saat ini. Apa maksudnya dari Jongin yang mencintainya?

Kyungsoo mencoba menepis anggapan itu. Tidak benar. Tidak patutnya Jongin mencintainya. Ini benar-benar tidak normal. Kyungsoo terus menyangkal didalam hatinnya. Namun semakin dia mensugestikan pikirannya untuk menyangkal. Semakin sakit dan terasa sesak dada Kyungsoo saat ini. Dia kembali menangis memikirkan hal itu.

"Kenapa aku seperti ini? Salah. Ini salah. Aku tidak mungkin mencintainya juga." Desis Kyungsoo sendiri menahan sakit didadanya. Entahlah. Hatinya terasa tertusuk oleh ribuan jarum saat ini. Sungguh dia seakan tidak bisa bernafas.

Dia menangis karena kecerobohanya. Dia menangis dengan pernyataan Jongin yang mengatakan dia mencintainya dan dia juga menangis karena dia ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Namun. Itu mustahil. Jongin tidak akan pernah mau lagi menemuinya. Dia membencinya sekarang, Jongin tidak akan pernah menpercayainya lagi. Apa waktu akan menjawabnya? Dia berharap Tuhan mendengarkan do'anya saat ini. Dia ingin Jongin mendengarkannya dan mempercayainya kembali. Dia ingin Jongin melupakan rasa cinta itu kepadanya. Dan setelah itu dia benar-benar akan pergi. Jauh. Apabila Jongin memang benar-benar membencinya. Setidaknya dia diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan Ibunya dulu sebelum dia meninggal.


29 November 2012.


Musim gugur akan segera berakhir dan tinggal menghitung hari musim dingin akan segera datang. Kyungsoo membenci saat-saat seperti ini. Cuaca akan berubah menjadi semakin dingin. Dan betapa cerobohnya dia yang meninggalkan Coat yang biasa dia pakai di Loker rumah sakit. Ya. Dia baru pulang dari praktek bedahnya di rumah sakit. Sebentar lagi Kyungsoo akan melakukan tugas magang pertamanya untuk mendapatkan latihan dari dokter di Rumah sakit langsung. Meskipun dia baru menjalani satu tahun kuliahnya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengikuti tugas ini seperti seniornya. Hanya Kyungsoo yang bisa dibilang mahasiswa yang cerdas di angkatannya sekarang ini. dia bisa mempelajari semuanya secara cepat sehingga dosennya tidak ragu untuk mengikutkan Kyungsoo bersama senior lainnya. Sebuah keberuntungan.

Kyungsoo baru saja keluar dari wilayah rumah sakit. Namun sialnya. Gerimis tiba-tiba turun. Air yang sangat dingin. Hujan musim gugur atau mungkin hujan dimusim dingin. Hujan yang turun sebelum akhirnya nanti digantikan oleh salju. Untung saja Kyungsoo bergerak cepat. Dia mengambil sebuah payung berwarna biru muda didalam tasnya dan bergegas memakainya. Berlari menuju ketempat yang lebih teduh. Dinginnya air hujan itu cukup menusuk kulit Kyungsoo saat ini. Apalagi dengan keadaanya yang hanya memakai sweeter tipis. Meskipun hanya Gerimis. Kyungsoo merasa tertusuk jarum diantara kulit-kulitnya. Dingin air hujan itu sangat menusuk. Ayolah bahkan ini baru air hujan bukan salju.

Kyungsoo hanya berjalan setapak di trotoar jalan. Satu lagi kecerobohannya. Dia tidak tahu bahwa hari ini akan hujan. Kalaupun dia sadar dan tahu akan terjadi hal seperti ini. Mungkin dia akan membawa mobilnya. Namun Kyungsoo tidak bisa terus menyalahi semuanya. Mungkin Kyungsoo harus menerima bahwa ini adalah hari sialnya.

Dia berjalan pelan. Menunduk menatap telapak kakinya sendiri yang tengah melangkah diantara basahnya trotoar karena hujan gerimis tersebut. Terasa berbeda. Entahlah. Dia merasa ada hal lain yang tengah mengganjal diantara jantungnya. Atau mungkin itu Hati. Apa karena Jongin? Kyungsoo benar-benar tidak tahu. Bahkan rasanya hari ini dia malas sekali untuk pulang kerumahnya.

Dia menatap keatas. Gerimis tak kunjung berhenti. dia melirik kearah sekitar dan menemukan tempat yang sepertinya cocok untuk perasaan gundah nya saat ini. Taman kota. Kyungsoo pun memutuskan untuk sedikit menenangkan pikirannya dan memasuki wilayah taman kota tersebut. Lagipula hari masih sore.

Daun-daun itu berguguran diterpa oleh angin halus khas angin musim gugur. Pergantian musim akan segera tiba. Seharusnya Kyungsoo senang karena musim dingin adalah musim kesukaannya. Dia akan menikmati banyak kebahagian. Salju, Natal juga Tahun baru. Benar-benar bulan favoritnya. Tetapi sekarang dia malah menemukan sebuah titik kemalasan didalam dirinya saat ini. Apakah mungkin karena Natal ini adalah natal pertamanya karena dia tidak bisa pulang seperti tahun kemarin? Menikmati hari natal bersama keluarganya karena dia harus mempersiapkan diri untuk tugas magangnya nanti. Atau mungkin dia kehilangan rasa semangatnya karena Jongin. Sungguh kenapa dia harus memikirkan Jongin kembali? Meski jujur didalam hatinya dia memang merindukkan Jongin. Sosok yang sudah hampir sebuan ini tidak dia temui. Jongin seolah menghilang.

Setiap hari Kyungsoo berharap Jongin keluar dari dalam rumahnya dan menampakan dirinya. Tapi itu tidak pernah terjadi. Sejak kejadian itu. Jongin benar-benar semakin bersembunyi. Bahkan Kyungsoo tidak berani untuk mengunjungi dan memasuki rumah Jongin sejak saat itu. Tapi dia harus berpikir ulang bila dia benar-benar ingin masuk kedalam rumah Jongin. Pertama, dia harus berpikir bagaimana dia masuk kedalam halaman rumah Jongin karena sejak sebulan yang lalu. Gerbang pintu rumah Jongin kini telah terkunci rapat dan dan bergembok. Seolah melarang siapapun untuk masuk. Kyungsoo pernah berpikir bahwa Jongin mungkin pindah dan meninggalkan rumahnya namun dia menepisnya setelah dia melihat sendiri bahwa lampu di depan rumah Jongin menyala dan mati secara teratur. Menandakan bahwa Jongin masih menempati rumahnya tersebut.

Aneh memang Kyungsoo hampir setiap saat memikirkan Jongin. Entah dia sedang beraktifitas, belajar ataupun sebelum terlelap tidur dia selalu memikirkan Jongin. Seperti saat ini. Kyungsoo terus merutuki perasaannya yang saat ini sedang dia rasakan. Tunggu, perasaan apa ini? Dia benar-benar merindukan seorang Kim Jongin?

Dia melangkah pelan dengan wajah yang terus dia tundukkan menatap kakinya sendiri yang melangkah kecil. Sesekali tangannya terulur merasakan tetesan air hujan yang jatuh menerpa kulitnya. Kyungsoo menghela nafasnya dalam lalu melepaskannya begitu saja. Hari-harinya terasa sangat membosankan akhir-akhir ini. Jongin benar-benar melumpuhkan semangatnya kali ini.

Entah apa tujuan Kyungsoo sendiri memasuki taman ini. Yang dia lakukan hanya terus berputar-puter mengelilingi sekitar Taman Kota yang sekarang cukup sepi. Tentu saja sepi. Siapa yang ingin datang ke taman dengan keadaan gerimis seperti ini. Kyungsoo menatap beberapa orang yang masih ada disekitar taman. Ya sekedar menunggu hujan reda. Namun matanya berhenti menatap fokus kepada seseorang yang kini tengah duduk sendiri dengan paying berwarna merahnya dan menengadahkan kepalanya. Menatap pohon Sakura yang kini hanya menyisakan beberapa daun kering disetiap dahannya karena sepenuhnya daun-daun tersebut sudah hilang dan gugur. Apalagi saat ini. Dedaunan yang tertinggal itu gugur tertiup bersama angin diantara hujan gerimis yang menemaninya. Dan pria yang terduduk itu. Dia Nampak seperti sedang menunggu.

Kyungsoo semakin mendekat dan hanya dalam jarak yang tidak cukup jauh tersebut Kyungsoo menyadari. Bahwa pria itu sudah tidak asing lagi baginya. Perasaannya terhenyak, Jantungnya berdebar dan dia merasakan perasaan aneh yang kini menyelimuti hatinya. Kyungsoo tidak tahu harus berkata apa ketika melihat sosok yang selama sebulan ini tidak dia lihat. Kim Jongin ada tidak jauh ditempatnya berdiri sekarang.

Kyungsoo melangkahkan kakinya mendekat. Entah kenapa dia ingin sekali menyapa Jongin kali ini. Dia tidak tahu apa nanti Jongin mungkin akan mengacuhkannya atau lebih buruk kembali membentaknya. Setidaknya dia ingin mendengar suara Jongin saat ini.

"Jongin." Ucapnya lirih dengan penuh harap agar Jongin mendenganya.

Dan benar saja. Jongin meliriknya dengan sebuah tatapan sendu.

"Kau disini?" Tanya Kyungsoo kembali namun Jongin hanya diam dan membuang tatapannya kearah lain. Entahlah, Jongin merasa sakit saat melihat Kyungsoo kembali.

Kyungsoo menyadari pasti Jongin tidak menyukai kehadirannya saat ini. Kyungsoo keras kepala memang tapi dia tidak ingin memiliki hubungan dingin seperti ini. Dia tidak mau Jongin terus marah padanya hanya sebuah kesalahpahaman. Dan dirinya pun akhirnya memberanikan diri untuk duduk disamping Jongin. Tidak peduli bahwa bangku kayu itu basah karena hujan saat ini.

"Sudah lama kita tidak bertemu. Apa yang kau lakukan?" Tanya Kyungsoo menatap Jongin berharap dia menyadari kehadirannya.

Beberapa saat hanya keheningan yang Kyungsoo dapatkan. Namun, tidak lama Jongin membuka suaranya. "Aku sedang menunggu bunga Sakura." Ucap Jongin pelan tanpa menatap sosok yang diajaknya bicara.

Kyungsoo mengernyitkan dahinya. Menatap bingung Jongin saat ini. Apa dia hanya sedang main-main dengan jawabannya. "Sakura? Tunggu. Ini musim gugur. Tidak ada bunga Sakura yang mekar dimusim gugur Jongin. Bunga Sakura hanya akan mekar di musim semi." Jelasnya.

"Aku tahu itu." Ucapnya datar.

"Lalu kalau kau tahu kenapa kau menunggunya?"

"Aku hanya memastikan apa aku akan Mati secepatnya." Ucapnya santai.

Kyungsoo membulatkan matanya. Apa maksud Jongin yang mengatakan hal itu. Apa maksudnya Jongin ingin melakukan percobaan bunuh diri lagi atau dia sudah terlalu bosan untuk menjalani duniannya. Sungguh Kyungsoo berpikir semua ini terjadi pasti karena ulahnya.

"Jongin." Ucap Kyungsoo parau.

"Setiap tahun aku menunggu dan berharap untuk bisa melihat Bunga Sakura mekar di Musim gugur. Kenapa aku masih bisa hidup di dunia yang kejam ini karena aku ingin melihat itu semua. Hanya sekali dan setelah itu aku akan rela untuk mati begitu saja. Itu harapanku tapi aku tidak pernah melihatnya hingga aku masih hidup sampai sekarang."

Kyungsoo tidak bisa mengalihkan tatapannya dari wajah Jongin saat ini hingga akhirnya dia menggenggam erat tangan Jongin yang ada disampingnya. Dan Jongin ikut melirik, menatap wajah Kyungsoo yang sudah mulaiberkaca-kaca.

"Jangan seperti itu." Ucap Kyungsoo lirih.

Beberapa saat Jongin terdiam. Menatap wajah sayu Kyungsoo dengan mata yang berkaca-kaca seperti itu membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi beberapa saat kemudian diasadar. Dia tidak boleh seperti itu. Dia ingat apa yang Kyungsoo lakukan kepadanya. Dia ingat saat dia mengatakan perasaan Cintanya kepada Kyungsoo dan dia ingat sekali bagaimana tatapan Kyungsoo saat dia mengatakan hal itu. Tatapan bagi Jongin sangat menyakitkan. Dengan cepat Jongin menarik tangannya dan melepaskan genggaman erat Kyungsoo ditangannya. Perasaannya terhenyak. Dia merasakan sesuatu yang aneh didalam hatinya saat ini.

"Pernahkah kau melihat cinta yang aku miliki saat ini kepadamu?" Tanya Jongin menatap lekat Kyungsoo. Namun Kyungsoo hanya diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Ini terlalu mendadak. Dan tentunya terlalu aneh. "Aku lelah harus memiliki perasaan seperti ini." Ucapnya lagi yang langsung berjalan meninggalkan Kyungsoo yang kini hanya diam terduduk menatap punggung Jongin yang menjauh dan menghilang.

Jongin ingin sekali menangis saat ini. Dia tidak rela meninggalkan Kyungsoo seperti ini. Tapia pa yang harus dia lakukan. Perasaannya terlalu sakit untuk menatap Kyungsoo lebih lama lagi. Hanya cinta sepihak. Dan Jongin benci harus melihat Kyungsoo yang harus menatapnya dengan tatapan Kosong dan Tidak bermakna baik untuk Jongin. Tatapan gila, aneh, tidak normal atau mungkin Jijik. Namun dia juga akan luluh bila melihat Kyungsoo menangis dihadapannya. Dia harus melakukan apa? Jongin memilih pergi saat itu juga.

Dan Kyungsoo saat ini masih terdiam dengan tatapan sendu. Masih terduduk dan termenung sendirian. Kenapa perasaannya begitu sakit saat ini? Kenapa dia ingin sekali berteriak ketika Jongin berjalan meninggalkannya? Cinta? Tunggu. Apa yang sebenarnya dipikirkan Kyungsoo saat ini. Namun, beberapa menit dia terdiam. Kini dia sadar dengan apa yang ditanyakan Jongin sebelumnya. Cinta. Jongin memang memiliki Cinta kepadanya tapi Kyungsoo sendiri tidak mengerti dengan perasaan yang dimilikinya saat ini. Karena Kyungsoo masih merasa bahwa perasaan ini tidak normal segaligus terlampau aneh. Apa yang harus dia lakukan dengan perasaannya sendiri?


To Be Continued


Sorry for late update *bow bersalah banget nggak tepat waktu buat update soalnya sibuk amatugas dan kerjaan :"

Terimakasih buat reviews, Saran dan kritiknya. Bener-bener diperbaiki buat chap 3 ini semoga bisa lebih dinikmati untuk dibaca. *Bow :)

dan buat One fufu~ Maaf banget /gak teliti saya .hihi, maafin yah maafin? maafin dong :D /maksa

gak tau harus bilang apalagi selain bilang Terima kasih, Terima Kasih dan Maaf. Di Tunggu Chap 4 ^^