(!) All Kaisoo moment.
(!) Mature Content.
CHAPTER 4
24 December 2012
Malam Natal. Sepertinya ini terlihat sangat biasa bagi Kim Jongin saat ini. Tidak mempunyai teman ataupun keluarga untuk berbagi kasih. Dan Kyungsoo? Jongin sudah hampir tidak tahu dengan keadaan sosok tetangga yang dicintainya itu. Bohong bila Jongin tidak peduli kepada Kyungsoo saat ini. Sebagaimanapun dia bisa lupa akan Kyungsoo tapi dalam beberapa saat dia akan memikirkannya dan merindukan Kyungsoo yang selalu menemaninya setiap saat.
Kadang setiap pagi dia akan melihat Kyungsoo yang sudah ada di halaman rumah untuk mengurusi tanaman bunga mataharinya dan saat sore hari dia pulang dan kembali menyirami tanamannya. Setiap malam membuatkannya makan malam dan menemaninya menghabiskan waktu ketika dia tidak bisa tidur hingga Kyungsoo sendiri yang terlelap lebih dulu. Dia merindukkan saat-saat itu.
Meski Jongin bersikap acuh dan menjauh. Tapi Jongin benar-benar tidak bisa melupakannya begitu saja. Bahkan sejauh ini mungkin tanpa Kyungsoo ketahui. Jongin akan melirik dibalik jendela rumahnya hanya sekedar melihat Kyungsoo pergi ataupun pulang dari kuliahnya yang kebetulan selalu melewati depan rumahnya. Dia seperti seorang pengintip. Namun Jantungnya selalu berdebar setiap saat ketika Kyungsoo berhenti di depan gerbang hanya sekedar melirik keadaan rumahnya untuk beberapa menit. Jongin tahu pasti Kyungsoo mengharapkannya untuk keluar dan ingin sekali menemuinya. Namun Jongin menyadari ini bukanlah saatnya.
Ingin sekali Jongin merayakan malam natalnya ini bersama Kyungsoo. Namun entah kenapa perasaannya lebih takut untuk kembali berbicara bahkan menemui pria itu. Ingat sekali diakhir musim gugur kemarin. Dia meninggalkan Kyungsoo begitu saja di Taman. Bukan tanpa alasan. Dia hanya ingin menahan rasa kesakitannya melihat Kyungsoo yang akan menangis dihadapannya. Sangat sakit harus melihat sosok yang dicintainya itu menangis dihadapannya. Namun perasaan kecewanya juga terus menghantuinya. Dia masih belum bisa memaafkan Kyungsoo. Lagipula Kyungsoo memandangnya sebagai penderita Bipolar yang hanya butuh rasa kasihan bukan melihatnya sebagai orang yang mencintainya.
Malam ini Jongin habiskan untuk menikmati malam Natal nya sendiri. Berjalan dan menikmati ramainya suasana kota Seoul saat malam Natal. Sangat meriah juga Ramai. Namun tetap Jongin merasa dia sendirian diantara keramaian ini. Namun beruntung bagi Kim Jongin. Dia tidak merasakan Episode Depresinya saat ini. Kondisi nya stabil dan dia bisa merasakan malam Natal ini. Meski hanya sendirian. Ya. Setidaknya dia keluar dan meninggalkan penjara rumahnya yang sudah hampir 2 minggu ini. Mengurung perasaan takutnya.
Jongin berjalan seorang diri. Dia merapatkan Coat dan Scarf-nya. Menahan suhu dingin yang bisa saja membuatnya membeku ini. Bahkan suasana malam ini begitu indah. Diantara Salju yang turun juga dibawah cahaya-cahaya berwarna-warni diantara pohon natal yang terpajang disetiap tepi trotoar Jalan, Jongin menikmatinya sendiri seraya memegang payung berwarna merahnya. Melindungi kepalanya dari setiap salju yang mungkin akan menjatuhi kepalanya hingga nantinya membuat kepalanya basah.
Jongin meringis kepada dirinya sendiri saat menatap beberapa pasangan yang berjalan bersama bahkan keluarga yang saling tersenyum satu sama lain di hari yang membahagiakan ini. Jongin merutuki dirinya sendiri. Kadang dia juga ingin marah kepada setiap orang yang ditemui. Marah karena bisa-bisanya mereka bahagia disaat keadaannya yang seperti ini. Tapi siapa dia? Ya. Hanya orang gila yang memasang topeng senyum kepalsuan diantara ribuan orang yang berbahagia di malam Natal.
Jongin menatap lekat setiap orang yang tersenyum dan tertawa bahagia kemudian Jongin langsung membuang tatapannya dan berdecih sendiri. Tidak peduli dengan tatapan orang lain yang tidak menyukai sikapnya yang bisa dibilang cukup kasar dan tidak sopan. Jongin terus melangkahkan kakinya sendirian dan kembali menatap sosok-sosok menyebalkan bagi Kim Jongin.
Tapi tidak dengan sosok yang saat ini yang membuat Jongin terpaku sesaat. Dia terdiam tidak bergerak seolah dia telah dibekukan oleh Salju musim dingin yang saat ini tengah turun. Sosok yang selalu membuat jantungnya berdebar dan tidak ingin dia kecewakan. Sosok yang telah secara perlahan membuatnya berubah. Dia sedang duduk menyendiri di sebuah Halte Bus di sebrang jalan. Beberapa kali dia menengadahkan kepalanya keatas. Menatap salju yang masih saja turun dan beberapa saat kemudian dia kembali menurunkan kepalanya dan membuang nafasnya begitu saja. Bahkan embun kecil itu dapat terlihat disetiap dia membuang nafasnya pelan. Sosok itu adalah Kyungsoo.
Jongin masih terdiam menatap Kyungsoo saat ini. Lebih dari dua kali Bus berhenti di haltenya namun Kyungsoo masih saja belum beranjak dari duduknya untuk menaiki bus tersebut. Dia masih tetap diam dengan tatapan sendu. Hingga akhirnya dia berdiri dan meninggalkan halte tersebut dan berjalan menjauh. Bahkan tanpa payung. Apa kepalanya tidak akan merasa kedinginan? Bahkan dia tidak memakai Hoodie ataupun Beanie Hat.
Jongin yang masih memperhatikan Kyungsoo disebrang jalan yang lain menatapnya sendu. Diperhatikannya Kyungsoo hanya berjalan pelan dan lemah. Bahkan kepalanya yang tertunduk beberapa kali menabrak beberapa orang yang berjalan berlawanan arah dengannya hingga dia beberapa kali meminta maaf. Bahkan dia sampai menabrak tiang lampu jalan dan dia juga meminta maaf. Jongin hanya tertawa kecil melihat tingkah lucu Kyungsoo saat itu. Bahkan ketika dia melihat ekspresi Kyungsoo yang menyadari bahwa dia menabrak tiang lampu jalan. Dia hanya tertunduk malu dengan tangan kanannya yag mengelus dahinya sendiri. Jongin masih tersenyum dan kadang tertawa melihat tingkah konyol bahkan terkesan bodoh Kyungsoo saat itu.
Hingga akhirnya Jongin memutuskan untuk mengambil Ponsel baru didalam saku jaketnya dan mencari nomor di daftar kontaknya hingga akhirnya dia menemukannya dan menunggu panggilan itu diangkat secepatnya. Jongin berharap banyak Kyungsoo mengangkatnya ketika dia melihat Kyungsoo meraih Ponsel didalam saku coat-nya dan membulatkan matanya ketika dia mengetahui siapa yang menelponnya. Kenapa Jongin menelpon Kyungsoo? Entahlah. Jongin sendiri pun tidak tahu kenapa akhirnya dia malah menelpon Kyungsoo yang jelas setelah sebulan lebih ini dia acuhkan.
Kyungsoo yang terkejut dengan panggilan yang dia dapatkan berusaha bersikap sebiasa mungkin dan tidak menunggu waktu lama Kyungsoo mengangkat dan menjawabnya.
"Halo?" Tanya Kyungsoo pelan mencoba sebisa mungkin menahan rasa kegugupannya.
Dapat! Jongin hanya tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya ketika melihat Kyungsoo juga melangkah berjalan kecil melanjutkan perjalanannya.
"Kau sedang apa hyung?" Tanya Jongin yang masih memperhatikan sosok yang ada disebrang jalan lainnya.
"Aku? A-aku menikmati makan malamku saat ini."
Jongin hanya berdesis kecil. Pintar sekali pria mungil ini berbohong. "Oh, Makan malam seperti apa?"
"Ya makan malam keluarga."
"Makan malam keluarga dengan berjalan sendirian di trotoar jalan?"
'DEG'
Kyungsoo terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa Jongin bisa mengatakan hal seperti itu. kenapa dia bisa tahu dia sedang sendirian saat ini. "Hey, Kau. A-aku sungguh sedang makan malam disini."
"Hyung, bahkan suaramu sangat gugup ketika kau menjawab pertanyaanku."
"Aku tidak berbohong!" Ucap Kyungsoo tegas.
"Aku bahkan tidak menuduhmu berbohong." Ucap Jongin santai sehingga membuat Kyungsoo otomatis terdiam tidak bisa menjawab apa-apa lagi. "Hyung? Kemana payungmu? Apa kepalamu tidak merasa dingin?" Tanya Jongin kembali.
Kyungsoo langsung terdiam dan tidak berkutik dari tempatnya berdiri saat ini. Dia berada tepat di tepi sebrang penyebrangan jalan yang kini lampu merah mulai menyala. Dia tidak beranjak sedikitpun. Dia masih terkejut kenapa Jongin bisa mengetahui bahwa dia tidak memakai payungnya saat ini. Kyungsoo mencari sekekeliling tempatnya berdiri saat ini. Mungkin Jongin benar-benar ada disini memperhatikannya tapi tidak ada siapapun. Dia hanya melihat beberapa orang yang ramai menyebrangi jalan. Sangat sulit mencari Jongin saat keadaannya seperti ini. Tapi tetap tidak ada.
Jongin yang memperhatikan apa yang sedang dilakukan Kyungsoo seolah mengerti dengan apa yang sedang Kyungsoo cari saat ini. Tentu saja dirinya. "Kau mencariku?" Tanya Jongin pelan.
"Kau berada disini?" Tanya Kyungsoo kembali.
"Ya. Aku disini."
"Dimana?"
"Tepat di sisi lain tempat penyebrangan jalan."
Kyungsoo langsung menatap kedepan. Mencari sosok sang pemilik suara. Dia berjinjit mencoba menatap ke sisi jalan lain. Salahkan tinggi tubuhnya yang terkesan kecil ini. Suara peringatan bahwa Lampu Hijau akan segera muncul kembali terdengar membuat beberapa penyebrang berlari dan semakin lama semakin sepi bahkan sampai kosong. Dan saat itu pula Kyungsoo yang masih berdiri di tepi jalan menatap Jongin yang saat ini tengah menatapnya sendu dengan payung merah yang kini tengah dipegangnya. Payung yang sama setelah terakhir kali Kyungsoo melihat Jongin memakai payung tersebut saat musim gugur. Kyungsoo merasakan jantungnya berdebar aneh saat ini.
Mereka saling terdiam. Saling menatap satu sama lain di tempat yang saling bersebrangan. Dengan jalanan yang ramai dilewati oleh mobil-mobil. Juga beberapa orang yang tengah menunggu lampu merah untuk menyebrang jalan. Hanya mereka yang saling membeku dengan jantung yang sama-sama berdebar juga panggilan yang masih tersambung.
"Hyung, Kau apa kabar?" Tanya Jongin pelan.
Antara rasa percaya atau tidak. Kyungsoo masih tetap terdiam. Merasa tidak yakin dengan Jongin yang kini tengah menatapnya lekat di sebrang jalan. Sungguh. Perasaannya benar-benar aneh saat ini. kembali mendengar suara Jongin dan kembali mendengar Jongin yang memanggilnya hyung.
"Aku. Baik." Ucap Kyungsoo sedikit tersenyum namun dia sama sekali tidak melihat Jongin yang menampakkan senyumannya. Dia masih terdiam menatapnya serius.
Hingga lampu hijau kembali mati digantikan lampu merah dan orang-orang yang kembali menyebrangi jalan. Hanya mereka berdua saja yang masih terdiam. Menatap satu sama lain begitu lekat. Seolah mereka ragu untuk saling mendekat satu sama lain.
"Kau senang aku menghubungimu hyung?"
"Aku sangat senang. Jongin."
"Kau senang kita kembali bertemu?"
"Lebih dari rasa senang." Ucap Kyungsoo dengan diikuti senyuman bahagianya.
"Kau merindukanku?"
Namun Kyungsoo terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Sungguh dia merindukan Jongin namun entah kenapa Kyungsoo merasa dia tidak bisa mengatakannya. Bahkan Jongin kali ini hanya mendesah kecil membuang nafasnya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu." Ucap Jongin yang masih bertahan dengan panggilannya kepada Kyungsoo.
"Bertanya tentang hal apa?"
Jongin hanya terdiam. Bahkan sampai lampu hijau kembali menyala. Kyungsoo masih terdiam menunggu dengan pertanyaan yang akan diberikannya kepada.
"Apa kau mencintaiku?"
Hening. Kyungsoo terdiam. Bahkan waktu seolah terhenti begitu saja bagi Kyungsoo. Cinta? Tunggu. Kyungsoo tidak pernah memikirkan hal seperti ini. Mencintai Jongin? Dia tidak tahu. Bahkan ketika dia melihat Jongin yang kini menyipitkan matanya dengan tatapan penuh harap. Dia hanya menundukkan wajahnya menatap kaki-kakinya sendiri. Dia mencintainya tapi dia tidak percaya dengan perasaannya. Sangat rumit.
"Hyung. Tatap aku!" Ucapnya pelan tapi masih terdengar tegas. Dan dengan terpaksa Kyungsoo kembali mengangkat wajahnya dan menatap Jongin saat ini.
"Aku pernah bilang bahwa aku takut akan kematian. Aku pernah bilang bahwa aku akan mati bila aku sudah melihat bunga sakura di musim gugur. Tapi tidak untuk saat ini. Aku akan benar-benar mati sekarang. Saat ini Kau adalah hidup dan matiku. Aku sadar, kau urat nadiku dan aku tidak akan pernah bisa hidup denganmu. Selamanya hanya hyung yang aku cintai." Ucapnya pelan seraya tersenyum menatap Kyungsoo.
Dan Kyungsoo hanya tetap diam. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Jongin saat ini. Bahkan apa maksud Jongin yang mengatakan bahwa dia akan mati saat ini? Kyungsoo sungguh tidak mengerti.
Namun disaat kekalutan hatinya akan memikirkan perasaannya dan memikirkan apa yang dikatakan Jongin kepadanya. Jantungnya seolah terhenti ketika Jongin mulai melangkah perlahan berniat turun dari trotoar dan berjalan menuju jalanan yang saat ini tengah ramai. Dia mencoba untuk bunuh diri kembali.
"Satu langkah. Aku beruntung bisa mengenalmu." Ucapnya melangkahkan satu kakinya. "Dua langkah. Aku beruntung bisa mencintaimu." Ucapnya lagi hingga akhirnya dia bertemu dengan langkah terakhir. Langkah tepat dimana dia akan benar-benar turun dari trotoar dan menuju jalanan langsung yang akan mempertemukannya dan menabrakan dirinya sendiri (mungkin) dengan mobil Van berwarna hitam yang kini telah terlihat berjalan cepat dari kejauhan. "Dan Tiga langkah. Aku–"
"AKU MENCINTAIMU!"
Jongin terdiam mendengar suara teriakan yang dapat didengarnya. Bukan hanya dari sambungan telponnya tapi benar-benar langsung dapat dia dengar dengan telinganya sendiri. Dia menggantungkan kakinya yang akan turun ditepi trotoar dan menatap Kyungsoo yang kini telah menangis dengan air mata yang sudah mulai membasahi pipinya. Bahkan dia terus menatap penuh harap Jongin dengan menggelengkan kepalanya seolah dia mengatakan jangan mati seperti itu dan meninggalkannya.
"Hyung–" Ucap Jongin pelan membatalkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya karena melihat Kyungsoonya saat ini tengah menangis.
"Kau bodoh! Aku mencintaimu! Jangan mati dengan cara seperti itu. Kau ingin meninggalkanku sendirian?" Ucapnya penuh penekanan. Terdengar sekali dia mencoba bicara ditengah isakannya.
Jongin hanya terdiam menatap Kyungsoo saat ini. Begitupun juga Kyungsoo. sepasang mata itu saling menatap satu sama lain. seolah saling menghubungkan bahwa terdapat kejujuran dan cinta saat ini. Bahkan ketika lampu merah telah kembali menyala. Kyungsoo lah orang pertama yang berlari menyebrangi jalan dan langsung menghampiri sosok yang baru dia sadari adalah pria yang dia cintai.
Kyungsoo dengan cepat langsung memeluk Jongin. Tangisnya semakin keras saat dia berhasil memeluk Jongin saat ini dan terus semakin erat. Bahkan dia mengabaikan semua tatapan aneh terhadap mereka berdua. Biarlah. Dia memang sudah terlalu aneh. Tapi dia tidak bisa kembali membohongi perasaannya. Jongin hanya diam terkejut dengan apa yang Kyungsoo lakukan saat ini.
"Aku benar-benar mencintaimu. Aku menyayangimu. Aku tidak tahu dengan perasaanku saat itu tapi sekarang aku menyadarinya. Jangan pernah pergi." Ucapnya seraya terisak keras.
Jongin menatap sedih sekaligus bahagia. Sedih harus melihat Kyungsoo menangis dihadapannya. Bahagia bahwa Kyungsoo melihat cinta yang ada didirinya. Dan Jongin masih diam membiarkan Kyungsoo untuk terus menangis didalam pelukannya. Dia tidak mau bila akhirnya dia marah dan menyesali perbuatannya karena harus melihat Kyungsoo menangis.
"Jangan menangis seperti ini hyung."
Kyungsoo menengadahkan kepalanya dan melepaskan pelukannya. Menatap dalam wajah Jongin dengan tatapan yang sulit dimengerti hingga beberapa saat kemudian Kyungsoo langsung menendang tungkai kaki kanan Jongin begitu saja dengan keras membuat Jongin mengangkat kakinya dan mengusap kakinya sendiri. Meringis dan menahan sakitnya sendiri.
"Yak! Kenapa menendangku?" Jongin berteriak kesakitan. Namun Kyungsoo hanya memasang wajah datarnya.
"Dasar bodoh!" Ucap Kyungsoo datar.
"Apa?"
"Bodoh! Bodoh kau bodoh!" Ucap kyungsoo berulang-ulang. "Kau ini bila mencintaiku apa harus kau mengakhiri hidupmu seperti itu. Kau ingin meninggalkanku dan membiarkanku menjadi manusia yang paling berdosa di dunia ini karena membiarkanmu mati begitu saja huh?" Teriaknya lagi yang langsung berjalan meninggalkan Jongin lebih dulu. Yang tepatnya mencoba melarikan diri untuk tidak menunjukkan wajah malu dan meronanya saat ini karena telah menyatakan perasaannya juga memeluknya didepan umum. Kyungsoo yang bodoh lebih tepatnya–dia baru sadar.
Jongin hanya tersenyum. Bahkan rasanya dia ingin tertawa keras saat ini melihat tingkah lucu dan lugunya Kyungsoo. Dia bahkan tahu saat Kyungsoo terus mengatakan bahwa dia bodoh terdapat semburat merah dipipinya. Dan itu membuat Jongin merasa gemas untuk mencubit kedua pipi Kyungsoo. Dan seketika rasa sakitnya sedikit menghilang dan berjalan cepat untuk menyusul Kyungsoo yang saat ini sudah berjalan cukup jauh.
Jongin kini beralih untuk memayungi di belakang Kyungsoo saat ini. Melindungi kepala kecil pria yang dicintainya dibandingkan kepalanya sendiri. Kyungsoo yang baru menyadari itu langsung berbalik dan menatap Jongin.
"Yak. Pakai sendiri payungmu." Ucap Kyungsoo ketus seraya menjauhkan Payung yang melindunginya. Namun Jongin semakin menunjukkan senyumannya.
"Kau merona hyung." Dan dengan cepat Kyungsoo menangkup kedua pipinya. Menundukkan wajahnya untuk mencoba menghindar dari tatapan Jongin yang saat ini menatapnya lekat. "Pipimu seperti apel merah. Aku ingin menggigitnya." Ucap Jongin kembali menggoda. Sejak kapan Jongin menjadi pandai berkata seperti ini?
"Aku hanya kedinginan." Timpal Kyungsoo mencoba memberi alasannya dan bersikap sebiasa mungkin.
"Tentu saja kau kedinginan. Kau hanya memakai coat tipis dan kepalamu–" Jongin mengacak kecil rambut Kyungsoo membuat Kyungsoo membulatkan matanya mencoba sebisa mungkin menahan ekspresi keterkejutannya. "Rambutmu basah karena salju hyung."
Kyungsoo hanya diam tersipu diperlakukan Jongin seperti ini namun kembali dia terkejut ketika dengan gerakan tiba-tiba Jongin menarik tangan Kyungsoo mendekat membuat mereka berdiri berhadapan di payung yang sama. Membuat jarak mereka begitu sangat dekat. Jongin mengalihkan payungnya kepada Kyungsoo dan Kyungsoo patuh saja untuk memegang payung itu. Bahkan ketika Jongin mulai membuka scarf yang melilit lehernya lalu dia pasangkan melilit menutupi kepala Kyungsoo layaknya hoodie dan melilitkannya kembali dileher Kyungsoo. Jongin mengusap pelan pipi Kyungsoo yang tadi basah karena air matanya sendiri. Menatapnya lembut dengan penuh ketulusan. Dan Kyungsoo masih mempertahankan ekspresinya yang terdiam polos dengan mata yang membulat besar.
Jongin sedikit tersenyum melihat Kyungsoo yang sangat terlihat lucu karena Scarf yang mengelilingi menutupi kepalanya. "Kau seperti burung hantu." Ucapnya sedikit tersenyum. Namun Kyungsoo hanya meliriknya tajam. "Jangan marah. Aku bercanda. Kenapa aku baru menyadari bahwa kau terlihat sangat lucu? Apa keningmu tidak apa-apa karena menabrak tiang lampu disana tadi?"
"Diamlah." Kyungsoo kini semakin malu. Bahkan kejadian memalukan itu Jongin melihatnya. Dia benar-benar memata-matai Kyungsoo saat ini. Tunggu. "Kau memata-mataiku?"
"Bisa dibilang seperti itu. Karena kau terlihat seperti orang kesepian." Ucap Jongin santai.
Kyungsoo menghela nafasnya. "Ya. Aku memang kesepian." Ucap Kyungsoo sedih dan mulai jujur. Lucu sekali bila tadi dia mengingat bahwa dia mengatakan sedang makan malam keluarga. Nyatanya dia masih di Seoul, tidak bisa pulang ke Busan untuk merayakan Natal bersama ayah dan ibunya.
Jongin menatap sayu wajah Kyungsoo saat ini. Hingga akhirnya dia melirik Payung yang kini tengah dipegang Kyungsoo dan menariknya kembali. Menggantikan genggaman tangan Kyungsoo menjadi genggaman tangannya. Sangat erat dan saling bertautan seolah tidak ingin terlepaskan. Jantung Kyungsoo seolah terhenti. Bahkan genggaman Jongin sangat erat dan berbeda daripada biasanya.
"Karena ada dua orang manusia yang kesepian disini kita harus menikmati malam ini bersama." Ucap Jongin seraya menatap tulus Kyungsoo.
Dan Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Nyaman. Mereka sudah tidak saling bertemu cukup lama. Dan sekarang secara tiba-tiba Jongin sudah berada sangat dekat dengannya. Saling berpegangan erat dan berjalan dibawah payung yang sama. Bahkan Kyungsoo berpikir bahwa kini mungkin Jongin sudah melupakan kejadian kemarin dan memaafkannya. Meskipun tidak sepenuhnya Kyungsoo akan mempercayai anggapannya sendiri. Setidaknya dia berjaga-jaga untuk kemungkinan buruk yang aka dia alami mendatang. Setidaknya dia sedang bersama Jongin yang terlihat sangat baik malam ini. Malam Natalnya kini dia tidak sepi kembali karena Jongin ada bersamanya. Begitupun Jongin. Saling mengisi kekosongan satu sama lain. Keajaiban malam Natal. Dia sangat berterima kasih kepada Tuhan.
"Aku ingin melakukan beberapa hal yang dilakukan pasangan lain."
Kyungsoo yang mendengar perkataan bodoh Jongin hanya diam tidak menjawab apapun. Ini terlalu konyol baginya untuk melakukan hal baru bersama Jongin. Menjadi sepasang kekasih.
"Hyung kau mendengarkanku kan?" Tanya Jongin cukup keras karena merasa Kyungsoo tidak menjawab keinginannya itu. Dia merasa kesal. "Kau menyesal ya?" Tanya Jongin yang kini menatap Kyungsoo dengan tatapan lugu. Bahkan seperti anak kecil. Kyungsoo melirik Jongin dan menghela nafasnya panjang. Kenapa Jongin begitu memiliki banyak ekspresi yang membuatnya selalu tidak bisa menolak apa yang diinginkannya.
"Kau ingin apa?" Tanya Kyungsoo yang kini sudah menyerah.
Jongin menampakkan senyumannya senang. Dan dia semakin mengeratkan genggaman tangannya yang sedari tadi tidak dia lepas sama sekali.
"Makan malam bersama, bermain bersama, berfoto bersama, membeli barang-barang yang sama lalu menikmati malam bersama."
Kyungsoo membulatkan matanya. "Apa maksudmu?" Pikirannya sudah dipenuhi dengan hal-hal aneh ketika Jongin dengan gembiranya mengatakan apa saja yang dia ingin lakukan bersama Kyungsoo. Bahkan jantungnya kembali berdebar kencang.
"Ya melakukan seperti apa yang dilakukan pasangan lain. Lihat itu, itu, itu dan itu, semuanya." Ucap Jongin menunjuk setiap pasangan yang dapat dia lihat tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Kyungsoo mengikuti arah tangan yang di tunjuk Jongin dan dia dapat melihat beberapa pasangan yang sedang berfoto bersama, ada yang sekedar berjalan-jalan mengenakan pakaian yang sama, makan kue ikan bersama bahkan ada yang berpelukan dan berciuman. Tunggu. Apa semua ini?
Kyungsoo langsung melepaskan genggaman tangan Jongin. Dan menatapnya takut. "Kau gila Jongin."
"Aku memang gila. Hyung tidak perlu mengingatkanku karena aku sudah tahu." Ucapnya datar. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya bingung harus mengatakan apa lagi. "Hyung tidak suka ya?" Tanya Jongin kembali.
"Bukan maksudku ini terlalu aneh Jongin. Kita–"
"Tidak normal." Balas Jongin.
Kyungsoo menatap lekat wajah Jongin yang kini kembali merubah ekspresinya. Kyungsoo tidak mengerti dengan arti tatapan Jongin saat ini. Namun perasaannya mengatakan kali ini bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang salah. Mungkin Jongin merasa tidak nyaman dengan apa yang dikatakannya. Kyungsoo terdiam dan menunduk. Merutuki nasibnya sendiri dan dia kembali takut Jongin akan kembali kehilangan mood-nya yang tadi telah membaik. Tidak ingin itu terjadi. Dengan cepat Kyungsoo meraih tangan Jongin dan menatap kedua tangannya dalam tidak berani untuk menatap Jongin secara langsung.
"Jongin maafkan aku." Kyungsoo sungguh benar-benar menyesal. Namun dia tidak bisa mendengar apa-apa. Jongin masih terdiam. Memasang wajah kecewanya dan menatap Kyungsoo yang menggenggam tangannya begitu erat.
"Tidak apa-apa. Sebaiknya kita pulang saja hyung." Ucap Jongin yang langsung berjalan membuat Kyungsoo yang tadi menggenggam tangan Jongin terlepas begitu saja. Kyungsoo hanya diam. Menatap sosok yang dicintainya berjalan menjauh. Kyungsoo tahu Jongin marah dan kecewa padanya. Tapi ini terlalu aneh bila mereka melakukannya. Namun mengingat keadaan Jongin saat ini. Dia kembali takut dengan Bipolar yang Jongin derita. Kyungsoo berharap sesampainya dirumah. Jongin tidak memiliki perasaan yang buruk sehingga dia menyebabkan Jongin kembali Depresi. Dia terlalu sakit melihat Jongin dengan ekspresi seperti itu.
Memilih menjauh. Mungkin itu yang dilakukan Jongin saat ini. Bukan karena dia membenci Kyungsoo. Bukan. Sangat mustahil bila Jongin bisa membenci orang yang dicintainya. Namun dia hanya menjaga jarak dengan apa yang sedang dia rasakan saat ini. Sungguh saat ini dia merasakan perasaanya sangat tidak baik saat ini. Mendengar apa yang dikatakan Kyungsoo mungkin ada benarnya. Mereka adalah pasangan aneh dan tidak normal. Jongin ketakutan bila akhirnya perasaan Kyungsoo hanyalah sebuah penghibur agar dia merasa senang. Dia takut bila Kyungsoo tidak mengatakannya secara tulus. Dia takut bila Kyungsoo hanya kasihan kepada cintanya.
Sampai mereka dirumah Jongin, tidak sekalipun Jongin melirik Kyungsoo. Dia takut bila nanti kemarahannya kembali terjadi seperti sebulan yang lalu. Dia masih ingat dimana dia beberapa kali mendorong tubuh Kyungsoo ke dinding dan ke lantai. Bahkan hingga hampir mencekiknya. Dia tidak mau Kyungsoo kembali tersakiti olehnya kembali. Dia akan benar-benar kehilangan jalan pikirannya, tubuhnya bahkan perasaanya sendiri bila Jongin sedang berada dalam keadaan Depresi seperti itu.
"Jongin." Suara lembut dan sangat halus memanggilnya yang kini baru saja akan menaiki tangga untuk langsung menuju kamarnya. Namun yang dipanggil hanya diam tidak melirik wajah yang memanggilnya saat ini–Kyungsoo.
"Kau masih marah dan kecewa kepadaku?" Tanya Kyungsoo mencoba sehalus mungkin tidak ingin membuat perasaan Jongin memburuk karena dia tahu. Dari gerak-gerik Jongin saat ini. Keadaannya memang menggambarkan dia dalam mood yang tidak baik.
"Tidak." Ucapnya singkat.
Kyungsoo menghela nafasnya panjang. Mencoba sesabar mungkin untuk membujuk Jongin. "Kalau begitu berbaliklah dan tatap aku sekarang."
Jongin hanya terdiam. Dia tidak ingin menjatuhkan semua yang telah dipegangnya sedari tadi. Dia tidak mau bila pada akhirnya saat dia menatap Kyungsoo keadaannya menjadi berubah dengan emosi yang tidak terkontrol. Dia takut juga cemas.
"Kumohon. Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja." Ucapnya kembali penuh harap agar Jongin dapat melihatnya. Melihat ketulusannya saat ini.
Tidak butuh waktu lama. Akhirnya Jongin menyerah dengan semuanya hingga akhirnya dia memutuskan untuk berbalik dan menatap sosok yang dicintainya tengah tersenyum, menatapnya dengan tatapan halus kepadanya. Ada perasaan lain didalam diri Jongin saat ini. Perasaan takut dan kecewanya perlahan seolah tertutupi dengan sebuah perasaan yang begitu hangat. Jongin tidak tahu itu apa tapi dia merasakan bahwa sepertinya saat ini dia ingin sekali menangis.
Kyungsoo yang seolah mengerti dengan perasaan Jongin saat ini secara perlahan berjalan mendekati Jongin yang kini berdiri di cukup jauh didepannya. Mencoba sehati-hati mungkin untuk membuat Jongin tidak takut. Semakin mendekat Kyungsoo semakin menampakkan senyumannya kepada Jongin meskipun kini Jongin hanya diam dengan tatapan yang begitu sulit untuk dijelaskan. Namun semuanya berakhir ketika Kyungsoo langsung memeluk halus tubuh Jongin. Memeluknya begitu erat namun begitu halus.
Hangat. Perasaan Jongin seketika begitu tenang ketika Kyungsoo memeluknya. Kedua kalinya Kyungsoo memeluknya seperti ini. Namun kali ini berbeda. Perasaannya ikut terhanyut dan seketika perasaan buruknya seolah menghilang begitu saja.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengatakan hal itu. Aku hanya belum terbiasa jadi kumohon jangan kecewa kepadaku. Kita akan melakukan semua yang kau inginkan." Ucapnya halus. Menyandarkan nyaman kepalanya di dada Jongin yang bisa begitu sangat jelas terdengar oleh Kyungsoo saat ini. Debaran halus detak jantung Jongin.
"Semuanya? Tidak. Aku tidak memaksamu hyung."
"Kali ini aku yang akan memaksamu." Ucapnya begitu halus yang mampu membuat Jongin kini terdiam bingung.
Kyungsoo kini melepaskan pelukannya. Berhadapan dan menatap lembut Jongin yang ada didepannya. Dia tahu, apa yang dilakukannya saat ini belum sepenuhnya akan membuat Jongin mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Namun, mulai malam ini. Dia akan melakukan apapun demi Jongin. Apapun itu asalkan dia lebih sering melihat Jongin tersenyum dan lepas dari semua penderitaannya yaitu Bipolar.
"Kita belum makan. Kau lapar kan? Aku akan membuat makanan yang enak untukmu." Ucap Kyungsoo diikuti senyuman halusnya.
"Ini sudah malam. Kau pasti akan lelah."
"Kata siapa aku lelah. Ini malam Natal. Aku tidak mungkin melewatkannya. Apalagi ini malam Natal pertama yang kita lewati. Ayo!" Ajak Kyungsoo halus dan menarik tangan Jongin untuk menuruni tanggannya dan berjalan menuju dapur untuk mulai makan malam bersama.
Jongin hanya tersenyum bahagia dengan apa yang dikatakan Kyungsoo. Untuk kali pertama. Dia merasakan hal yang menurutnya paling membahagiakan di Hari Natal. Dia tidak pernah sekalipun meminta apapun kepada Tuhan. Ataupun kepada Santa Claus yang menurutnya itu jauh dari kenyataan. Tapi untuk malam ini dia benar-benar berdo'a dan meminta agar di tahun berikutnya, dia masih bisa merayakan Natal bersama Kyungsoo. Tidak hanya tahun ini atapun tahun depan. Melainkan tahun-tahun berikutnya, dan selamanya. Dia ingin Kyungsoo berada di sisinya.
Jongin kini duduk di meja makan yang sudah sangat lama dia tinggalkan. Selama bertahun tahun, baru kali ini dia menempati dan menggunakan meja makan tersebut. Ya, sebenarnya dia sedikit tidak nyaman dengan tempat ini. Dia mengingat entah hampir berapa kali dia mencoba bunuh diri di dapur ini. Bahkan dia merasa aneh dengan perasaannya sendiri ketika melihat beberapa bercak merah tua atau hampir memudar mengotori dinding dapur. Dia sadar, tapi entah kenapa kali ini dia takut melihat hal-hal mengerikan itu. Padahal itu adalah darahnya sendiri, itu adalah salah satu hasil dari beberapa percobaan bunuh dirinya yang gagal. Dia baru sadar betul betapa menakutkan dirinya ini.
"Kau kenapa? Apa kau merasa tidak enak badan Jongin?" Ketika Kyungsoo datang dan menyusun beberapa piring yang akan mereka gunakan nanti.
Jongin menggeleng. "Aku baru sadar betapa menakutkannya diriku." Ucapnya pelan dengan menatap noda darah yang daritadi dia perhatikan.
Kyungsoo terdiam dan ikut melirik apa yang tengah Jongin tatap saat ini. Dia kembali menatap Jongin yang masih sama dengan ekspresinya–ekspresi ketakutan. Merasa suasana sedikit canggung. Kyungsoo pun terkekeh kecil dan Jongin kini mengalihkan pandangannya menatap Kyungsoo yang tiba-tiba saja tertawa.
"Kau sendiri merasa ketakutan. Apalagi aku. Pertama kali aku masuk kedalam dapurmu kupikir kau adalah seorang Phsyco dan seorang pembunuh sadis sekaligus memakan daging korbanmu seperti yang di film-film." Ucap Kyungsoo dengan ekspresi riangnya menatap Jongin.
Jongin masih bingung dengan apa yang dikatakan Kyungsoo. Kyungsoo hanya tersenyum kecil dan kembali meninggalkan Jongin. Mengambil Sup yang telah dia buat tadi dan membawanya kembali ke meja.
Kyungsoo duduk dengan nyamannya dan bersiap untuk menyantap masakannya sendiri. Bahkan dia sudah siap dengan sendok dan sumpit yang sudah ada ditangannya. Namun apa yang akan dilakukannya terhenti ketika dia menatap Jongin yang cemberut dan dengan mata yang melengkung ke bawah. Oh, ekspresi apalagi ini?
"Kenapa?" Tanya Kyungsoo pelan.
"Yang aku inginkan adalah makan malam yang special. Tapi menurutku ini makan malam yang sama seperti hari biasanya." Gerutu Jongin.
Kyungsoo menyipitkan matanya. "Makan malam memang dilakukan saat malam hari kan Jongin?"
"Hyung, kau belum pernah berkencan ya?" Tanya Jongin intens menatap Kyungsoo yang kini membulatkan matanya.
Apa-apaan dengan anak satu ini. Kyungsoo benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Jongin kepadanya. Oke, meskipun itu memang benar tapi apa harus Jongin mengatakan hal itu kepadanya–memalukan.
Jongin mengerucutkan bibirnya. "Tidak apa-apa. Aku juga belum pernah berkencan."
Kyungsoo rasanya ingin sekali memukul wajah Jongin dengan sendok yang ada ditangannya saat ini. Kalau dia sendiri belum pernah berkencan kenapa harus menanyakan hal konyol seperti itu. Dan sekarang Kyungsoo tahu kesamaan antara mereka berdua. Kenyataan bahwa mereka berdua sama sekali belum pernah berkencan apalagi berpacaran. Berarti mereka ada cinta dan kekasih pertama satu sama lain. Kyungsoo, pikirannya benar-benar sudah jauh sekarang.
Jongin melirik Kyungsoo yang kini masih terdiam memasang wajah polosnya. Dia benar-benar gemas dengan ekspresi Kyungsoo saat ini. Sekilas dia tersenyum dan beberapa detik kemudian dia menutup mata Kyungsoo yang membulat dengan telapak tanganya sendiri membuat Kyungsoo terkejut dan mencoba melepaskan tangan Jongin yang menutup matanya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kyungsoo heran setelah berhasil melepaskan tangan Jongin dari matanya.
"Apa yang kau pikirkan Hyung?" Tanya Jongin dengan diikuti kekehan kecilnya.
Kyungsoo hanya terdiam dan tidak memperdulikan Jongin yang masih tertawa. Dia memilih diam dibandingkan harus menceritakan apa yang dikatakannya. Akan sangat lucu bila pada akhirnya Jongin mengetahuiisi pikirannya tadi. Kyungsoo akan semakin malu pasti.
"Cepat makan atau aku yang habiskan." Ucap Kyungsoo yang langsung menyiapkan sendiri sup yang ada dimangkuknya.
Jongin sama sekali tidak bergeming. "Hyung masih tidak mengerti ya?" Dan Kyungsoo hanya melirik bingung apa yang dimaksud Jongin. Dari awal pun dia memang tidak mengerti. "Sudah kubilang makan malam ini tidak special. Kenapa harus makan sup lagi lagi lagi dan lagi?" Keluh Jongin.
Kyungsoo meringis. "Salahkan kenapa dikulkasmu hanya berisi bahan makanan yang tidak layak dikonsumsi. Kau makan Junk food lagi saat aku tidak ada disini?" Tanya Kyungsoo heran dan Jongin hanya diam berarti jawabannya memang iya.
"Kalau begitu kau harus setiap saat disini untuk membuatkanku makanan." Ucap Jongin memohon.
Kyungsoo menatap ekspresi Jongin yang kini menatapnya sendu. Dapat Kyungsoo artikan bahwa saat ini Jongin tegah memohon padanya. Kyungsoo menyerah dia tidak bisa mengelak apapun lagi bila itu berhubungan dengan Jongin. Lagipula dia juga merasa bahwa dia harus terus bersama Jongin. Terlepas dari itu, dia memang mencintai Jongin. Dia tidak akan pernah meninggalkannya begitu saja karena kini dia telah tahu bahwa dirinya adalah urat nadi Jongin yang membuatnya masih tetap hidup.
"Baiklah. Aku berjanji. Jadi apa yang ingin kau makan nanti?" Tanya Kyungsoo.
"Aku ingin memakan Bulgogi. Aku sudah lama tidak memakannya." Ucap Jongin dengan ekspresi memelas layaknya anak kecil. Kyungsoo hanya membuang nafasnya. Ekspresi Jongin sekarang lebih sering berubah-ubah. Kenapa dia bisa menjadi seperti anak kecil yang polos?
"Baiklah. Besok kita akan makan Bulgogi tapi malam ini, kau habiskan sup mu."
"Tentu saja aku akan menghabiskannya." Ucap Jongin yang langsung menyantap sup yang disiapkan Kyungsoo.
Jongin melirik lalu menarik tangan kiri Kyungsoo yang terulur dimeja. Menggenggamnya erat seolah tidak ingin dilepas. Kyungsoo yang terkejut hanya menatap bingung Jongin yang kini tersenyum tulus menatapnya. Begitu dewasa dan tampan.
"Makan malam yang romantis." Ucapnya dengan diikuti senyuman Kyungsoo yang ikut mengembang.
Kyungsoo memang jarang masuk kedalam kamar Jongin. Hanya beberapa menit dia masuk dan berakhir dengan usiran Jongin sendiri. Bahkan terakhir dia masuk kesini adalah ketika Jongin dalam keadaan depresi dan berperilaku kasar kepadanya dengan mendorong dan menghempaskan tubuh Kyungsoo beberapa kali secara kasar. Namun tidak untuk sekarang. Tidak untuk malam ini.
Kini Kyungsoo dibebaskan oleh Jongin sendiri untuk memasuki kamarnya. Bahkan Jongin sendiri lah yang menyeretnya masuk hingga sekarang dia duduk di ranjang dengan Jongin yang kini berbaring memeluk tangan Kyungsoo begitu erat. Kyungsoo hanya tersenyum lucu melihat tingkah Jongin yang layaknya anak kecil tidak ingin ditinggal oleh ibunya. Jongin tidak ingin tidur sendirian
Sudah hampir satu jam lebih Kyungsoo menunggu Jongin untuk tertidur namun Jongin sama sekali tidak memiliki tanda-tanda untuk tidur. Jangankan menutup mata, menguap pun Jongin sama sekali tidak melakukannya. Jongin masih tetap terjaga.
"Jongin. Kau harus tidur."
"Aku tidak bisa tidur hyung. Kau tahu sendiri bukan kalau Bipolar telah merenggut waktu tidurku." Ucapnya parau.
Kyungsoo hanya terdiam dan menatap sendu Jongin.
"Kau mengantuk ya hyung?" Tanya Jongin yang kini berbalik menatap Kyungsoo karena dia baru sadar bahwa Kyungsoo daritadi sama sekali tidak beristirahat karena harus mengurusnya.
Kyungsoo menggeleng halus dengan senyuman diwajahnya. "Aku mana mungkin bisa tidur kalau kau saja tidak tidur." Balasnya.
Jongin tersenyum dengan penuturan Kyungsoo saat ini. Bahkan itu terdengar manis baginya. Tidak mau membuat Kyungsoo kelelahan karena harus duduk menunggunya. Secara perlahan Jongin menarik tubuh Kyungsoo untuk ikut berbaring disampingnya dan entah dorongan darimana, Kyungsoo pun mengikuti apa yang dilakukan Jongin kepadanya. Hingga kini mereka berdua berbaring bersama. Saling berhadapan dengan tatapan yang sama dan jari-jari mereka yang saling bertautan erat tidak ingin dilepaskan.
"Aku ingin kau selalu seperti ini Jongin. Kau harus sembuh." Ucap Kyungsoo halus. Dan Jongin menjawabnya dengan sebuah senyuman dan anggukan mengerti.
Jongin merasa sangat bahagia. Karena untuk pertama kalinya dia merasakan hal yang benar-benar membuat hidupnya berarti. Itu adalah karena Kyungsoo. Dia bersyukur bahwa dia dapat menemukan orang yang tepat yang benar-benar mencintai dan menyayanginya dengan tulus.
Kyungsoo tersenyum. Dan pikirannya kembali teringat tentang kejadian beberapa minggu yang lalu. Dimana Jongin marah kepadanya karena menuduh dia bekerjasama dengan Jongdae. Semua yang dikatakan Jongin salah dan sepertinya saat-saat seperti inilah waktu yang tepat untuk Kyungsoo mengatakan semuanya. Tidak, Kyungsoo harus perlahan-lahan memberitahu Jongin dengan apa yang terjadi dengan kehidupannya sebelumnya. Tentang Keluarganya, tentang Jongdae, dan tentang Ibunya.
"Jongin." Ucap Kyungsoo parau dengan diikuti deheman kecil Jongin. "Kau masih marah kepadaku tentang kejadian beberapa minggu kemarin. Maksudku tentang kesalah pahaman antara aku dan Jongdae." Ucap Kyungsoo berhati-hati.
"Kesalah pahaman?" Jongin menyipitkan matanya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kyungsoo.
"Ya, itu semua salah paham Jongin. Maafkan aku yang terlalu mengikut campuri hubunganmu dengan keluargamu. Maafkan aku. Aku sama sekali tidak ada niatan yang buruk terhadapmu dengan Jongdae. Aku baru mengenalnya setelah kau memberikan suratmu. Aku benar-benar tidak sengaja. Maaf." Ucap Kyungsoo lirih dan menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dan menjauh dari tatapan Jongin yang menatapnya intens.
"Kau membaca suratku?" Tanya Jongin pelan. Dan Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya. "Apa? Apa aku salah? Jongdae, kau tidak ada urusan apapun dengannya?"
"Sama sekali tidak. Aku benar-benar baru mengenalnya hari itu."
Kyungsoo masih tidak berani menunjukkan wajahnya. Tubuhnya bergetar dan Jongin berusaha untuk menatap wajah Kyungsoo saat ini. Mencari kebenaran bahwa dia benar-benar tidak berbohong. Jongin menarik wajah Kyungsoo yang kini berhasil berhadapan dengan wajahnya langsung namun hatinya terkesiap ketika melihat Kyungsoo yang kini menangis dengan air mata yang benar-benar membasahi pipinya. Jongin membuat Kyungsoo benar-benar menangis karenanya.
Jongin mulai merasa ketakutannya. Dia ingat apa yang telah dia lakukan kepada Kyungsoo beberapa waktu kemarin. Dengan sigap Jongin menarik tubuh Kyungsoo kedalam pelukannya. Tangannya begitu erat memeluk di kepala dan pinggang Kyungsoo.
"Ya Tuhan, aku benar-benar telah menyakitimu. Kyungsoo." Bisiknya pelan.
Kyungsoo yang mendengar itu kini balas memeluk tubuh Jongin. "Tidak, kau tidak–"
"Maafkan aku. Aku telah menyakitimu maaf." Ucapnya lirih dengan memeluk tubuh Kyungsoo begitu hangat dan erat. Dia benar-benar tidak ingin membuat Kyungsoo menangis dan kesakitan karenanya.
"Jongin. Kau ingin mendengarkanku?" Tanya Kyungsoo yang kini perlahan mulai menenangkan kembali emosinya.
"Apapun itu asalkan aku tidak menyakitimu."
Kyungsoo mengangguk dalam pelukan Jongin. "Aku ingin menunjukkan sesuatu. Jangan menolak. Aku ingin kau bahagia." Ucap Kyungsoo bisiknya.
Jongin sedikit menjauhkan tubuhnya untuk menatap wajah Kyungsoo dia tidak mengerti apa yang dikatakan Kyungsoo saat ini. Dia ingin menanyakan apa yang Kyungsoo maksud namun ucapannya terpotong ketika tiba-tiba saja Kyungsoo mengecup bibirnya. Hanya menempel namun mampu membuat Jongin merasakan seluruh tubuhnya kaku tidak bergerak sama sekali. Bahkan dia melihat Kyungsoo yang memejamkan matanya. Kenapa dia begitu indah saat seperti ini. Dan dengan perlahan Jongin ikut menutup matanya dan menikmati apa yang tengah dia rasakan saat ini. Dan dengan beraninya kini Jongin mulai menggerakkan bibirnya dan benar-benar mencium bibir Kyungsoo saat ini. First kiss-nya dan dia juga tau bahwa ini merupakan first kiss bagi Kyungsoo. Dia benar-benar menikmati ciumannya saat ini.
Malam itu memang dingin. Salju yang turun dimalam natal itu juga semakin turun dengan lebat namun tidak melupakan keindahannya. Kini Jongin dan Kyungsoo sudah tidak merasakan kecanggungan lagi dijarak keduanya. Kini mereka bebas untuk saling menggenggam tangan, memeluk bahkan saling mencium satu sama lain.
Entah siapa yang memulai memang inilah keadaannya. Kyungsoo sudah benar-benar lupa akan semuanya. Mungkin dia sudah gila saat ini. Biarlah. Memang dia sudah terlanjur gila. Dengan mencintai Jongin benar-benar membuat hidupnya semakin Gila. Dia sudah tidak peduli lagi dengan sebuah batasan. Cinta, yang terpenting disini dia memang benar-benar mencintai Jongin secara tulus.
Tubuh atasnya kini sudah polos dengan kemejanya yang sudah terbebas dari tubuhnya. Dia hanya berbaring nyaman dengan memeluk tubuh Jongin yang juga kini dalam keadaan yang sama–Half Naked.
Seulas senyum tercipta dari bibir Jongin ketika melihat Kyungsoo yang kini menutup matanya dengan nafasnya yang terengah. Bahkan dia bisa terlihat cantik seperti ini. Inilah tingkat kegilaan yang dapat Jongin rasakan. DIa gila karena Kyungsoo. Dia benar-benar tidak bisa berpaling untuk menjauhkan tubuhnya dari tubuh Kyungsoo-nya.
"Kyungsoo." Ucapnya pelan memanggil. Untuk pertama kali dia memanggilnya tanpa sebutan 'hyung' seperti biasa.
Kyungsoo membuka matanya. Bahkan suara serak Jongin benar-benar telah membuatnya gila. Bagaimana dia bisa merasakan hal tabu yang pernah dia rasakan seperti ini? Bahkan tubuhnya seolah bergetar ketika ibu jari tangan Jongin mengusap lembut pipinya dengan penuh rasa sayang.
"Aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu." Ucapnya halus dengan suara paraunya.
Kyungsoo hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui bahwa apa yang dikatakan Jongin benar dan begitupun sebaliknya. Sedetik kemudian Jongin kembali menarik tengkuk Kyungsoo dan kembali menempelkan bibirnya di bibir plum manis milik Kyungsoo. Benar-benar dia menggilai bibir Kyungsoo saat ini.
Kyungsoo melengguh. Bahkan ketika lidah Jongin mulai menelusup dan mulai menuntut ciumannya untuk lebih dalam. Kyungsoo hanya bisa membalas sebisanya dengan tangan yang mengalung leher Jongin dan meremas surai rambutnya untuk beberapa kali. Ciuman mereka berdua begitu menuntut namun tidak bisa dielakkan lagi bahwa sentuhan lembut Jongin benar-benar membuat Kyungsoo merasa hilang.
"Eunghh.." Satu lengguhan keluar dari mulut Kyungsoo ketika secara tiba-tiba Jongin telah melepaskan tautan bibirnya dan berganti untuk menciumi leher putih milik Kyungsoo. Kyungsoo masih terdiam menikmati setiap apa yang dilakukan Jongin kepadanya. Bahkan dia sudah mulai merasakan rasa yang aneh dibagian sensitifnya. Bahkan secara tidak sadar dia mengalungkan kedua kakinya untuk mengalung di antara kaki Jongin, membuat tubuh mereka berdua saling merapat dan semakin dekat.
"Tuhan menciptakanmu sangat indah Kyungsoo. Sangat." Ucap Jongin dengan berbisik disekitar ceruk leher Kyungsoo membuat Kyungsoo sendiri merasa geli sekaligus merasa hangat dalam waktu yang bersamaan.
"Kau indah." Jongin menciumi seluruh wajah Kyungsoo termasuk bibirnya yang sedikit terbuka. "Kau memukau." Jongin beralih menciumi leher hingga ke tengkuknya. Terus turun kebawah hingga dia berhenti di sekitar dada milik Kyungsoo. "Dan kau selalu membuatku ingin terus menyentuhmu." Bisiknya pelan yang kini mulai melahap nipple merah muda yang sudah menegang.
Kyungsoo membusungkan dadanya sendiri. Merasa terkejut namun tetap merasakan nikmat. Nikmat yang tidak pernah dia sangka-sangka sebelumnya.
"Jongin.. hentikannn-ah~ aku merasa anehh. Aku ti-ahh.." Kyungsoo meringis ketika Jongin menggigit gemas niplenya. Tidak hanya gemas tapi juga keras.
"sstt.. diamlah. Aku akan bersikap sehalus mungkin. Aku tidak akan menyakitimu." Balas Jongin halus.
Oh, pesona apa yang telah membuat Jongin kini begitu terlihat tampan juga dewasa. Umurnya masih dibawah dua puluh tahun. Lebih muda darinya tapi dia bisa memiliki sisi yang berkarisma dan tentunya sangat luar biasa menggoda. Kyungsoo tidak habis pikir dengan sifat-sifat lain seorang Kim Jongin yang bisa membuatnya gila.
Jongin kembali dalam aktifitasnya. Kini dia sedikit duduk diantara kaki Kyungsoo Tidak sepenuhnya, dia menumpu kedua lututnya diantara tubuh Kyungsoo. Dan tangannya kini bergerak untuk mengusap halus tubuh polos Kyungsoo bahkan terus meremas halus kedua dadanya dan beralih memutar memeluk pinggang Kyungsoo.
Tanpa peringatan apapun Kini tangannya sudah masuk diantara belahan di belakang celana Kyungsoo. Meremasnya halus membuat Kyungsoo melengguh kembali dengan desahan yang tidak bisa lagi dia tahan juga matanya yang menutup dengan mulut yang terbuka. 'What a beatifull scene?' Jongin telah mendapatkannya sekarang.
Dengan tarikan halus, dengan begitu mudahnya Jongin melepaskan celana Jeans yang dipakai Kyungsoo dari bawah setelah dia membuka belt yang Kyungsoo pakai sebelumnya. Ternyata Kyungsoo memakai celana yang cukup longgar hari ini. Tidak sepenuhnya terlepas. Jongin membiarkan celanannya masih menggantung disekitar lututnya.
Tangan Jongin dengan perlahan mulai menyentuh, membelai dan meremas halus sekitar paha Kyungsoo hingga kepangkalnya. Kyungsoo yang merasakan sentuhan aneh diantara pahanya kini ikut menggenggam tangan Jongin. Jongin semakin naik dan tangannya semakin gencar untuk meremas bagian–bagian yang menurutnya sangat halus. Kyungsoo menggenggam begitu erat tangan Jongin untuk menghentikan kegiatan yang begitu menyiksanya. Namun, bukan menjauhkan tangan Jongin, kini justru Kyunsgoo semakin menuntut untuk menahan tangan Jongin untuk berada disana bahkan sampai tepat berada diatas sesuatu yang telah menyembul keras yang tertutupi celana dalamnya yang berwarna hitam. Jongin hanya tersenyum ketika dia meremasnya. Kyungsoo menggeram dan tangannya ikut meremas tangan Jongin. Semakin menuntut untuk menyuruhnya melakukan hal lebih.
"Lakukan.. lebiihh..ahh. Jong.." Ucapnya tersenggal karena dia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dikeluarkan. Apakah desahan atau sebuah ucapan memohon.
"Tenanglah. Kau penuntut sekali tuan Do." Balas Jongin yang kini semakin menggoda dengan tidak menyentuh pusat yang ingin Kyungsoo sentuh.
"Jangan menggodahh kuh.. ahh!"
Kini berbalik. Jongin lah yang kini berada dibawahnya. Kyungsoo sudah benar-benar gila kali ini. bahkan Jongin yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba Kyungsoo semakin dibuat terkejut ketika bibir Kyungsoo dengan halus kembali mencium bibir Jongin.
Jongin hanya tersenyum kecil ketika sadar dengan apa yang dilakukan Kyungsoo. Bahkan ciumannya sama menuntut seperti apa yang dilakukannya tadi.
Tanpa berlama-lama. Kini Jongin telah melepaskan sepenuhnya seluruh kain yang menutupi tubuh Kyungsoo bahkan dia sendiri melepaskan celana sendiri ditengah kegiatan 'ciuman panas' yang dihadiahi Kyungsoo kepadanya. Cukup sulit melepaskannya karena Kyungsoo yang menindihnya benar-benar menguncinya jadi dia hanya bisa melepaskannya dan mengantungkannya diantara satu betis kakinya.
Mereka berdua sudah benar-benar dalam keadaan tidak memakai apapun. Meskipun Jongin masih sulit bergerak untuk melepaskan celananya yang masih menggatung disebelah kakinya. Namun, dia masih merasa itu tidak akan mengganggunya. Toh. Dia sudah benar-benar menikmati apa yang tengah dilakukannya.
Tubuh mereka berdua saling bergesekan. Bahkan sentuhan kecil dari gesekan tersebut yang menyentuh kedua pusat kenikmatan mereka masing-masing membuat mereka semakin ingin dan ingin merasakannya—kejantanan mereka berdua.
"Eungghhtt Soo.." Jongin menggesekan kembali Juniornya dengan Junior milik Kyungsoo dengan begitu halus namun dapat membuai keduanya apalagi Kyungsoo yang kini telah melepaskan ciumannya dan beralih untuk ikut menggesekan kedua tubuh itu. Jongin terus memanggil nama Kyungsoo begitupun sebaliknya. Mereka tidak pernah saling memanggil hingga seintim ini.
"Jongin-ahh.." Desah halus Kyungsoo yang membuat Jongin semakin gencar menggesekan miliknya kepada milik Kyungsoo, Dan kyungsoo terus menikmati setiap apapun yang dirasakannya. Ini jauh lebih nikmat dari apapun yang pernah dirasakan. Dia ingin merasakan lebih dan lebih lagi.
Jongin memeluk tubuh Kyungsoo begitu erat dan dengan halus memutar tubuhnya untuk berguling kesisi lain. Begitu halus karena tidak ingin membuat mereka terjatuh dari Kasur berukuran single yang kini mereka tempati berdua. Begitu sempit bukan?
Jongin melepaskan aktifitasnya dan menatap Kyungsoo dengan senyum kecil. Dia tahu Kyungsoo kecewa karena dia telah menghentikan aktifitas yang membuatnya nikmat. Namun sekarang akan ada kenikmatan lain yang akan lebih membuat Kyungsoo semakin senang.
Jongin meludahi telapak tangan kanannya sendiri membuat Kyungsoo meringis jijik menatapnya.
"Kenapa? Ini menjijikan? Tidak apa-apa. Tenanglah." Ucap Jongin untuk menenangkan Kyungsoo. Kyungsoo sadar itu memang menjijikan tapi hubungannya memang lebih menjijikan. Tapi persetan dengan semuanya. Kali ini Kyungsoo benar-benar menginginkanya. Kyungsoo benar-benar menginginkan Jongin menyentuhnya.
Dengan gerakan pelan. Telapak tangan Jongin yang sudah basah oleh ludah kini mengusap antara selangkangan hingga bagian tubuh bawah Kyungsoo secara perlahan. Sesekali meremasnya membuat Kyungsoo melengguh pelan.
Kyungsoo merasakan ada sesuatu yang kini seakan ingin masuk kedalam tubuhnya. Dia tahu itu apa dan dia sadar. Dengan cepat Kyungsoo menahan pergelangan tangan Jongin yang sedang berusaha memasukkan jarinya kedalam hole milik Kyungsoo.
"Kau tahu kan ini pertama untuk kita berdua? Darimana kau tahu caranya?" Tanya Kyungsoo dengan polosnya.
Jongin menyunggingkan senyuman kecilnya. "Hanya insting."
Dan dengan perlahan Jongin berusaha melepaskan genggaman tangannya dari Kyungsoo namun dalam hitungan detik Kyungsoo kembali menahan tangan Jongin yang ingin melakukan aktifitasnya.
"Aku hanya ingin meyakinkan bahwa ini tidak sakit. Jadi kumohon. Jangan hanya bermain. Aku ingin cepat."
Sepenuhnya sadar Kyungsoo mengatakan hal semacam itu. Seakan dia yang menuntut. Sesungguhnya dia malu. Namun dia sadar betul apa yang akan dilakukannya pasti akan menyakitkan karena ini adalah pertama untuknya juga Jongin yang sama-sama tidak mempunyai pengalaman sama sekali. Bahkan Mereka sendiri tidak tahu kenapa mereka hingga berakhir seperti ini. Entah memang Kyungsoo atau Jongin sendiri yang memulai.
Jongin yang mengerti hanya mengangguk. Menjauhkan tangannya menjauh setelah dia berhasil melepaskan genggaman Kyungsoo. Tangannya mengusap pelan pipi Kyungsoo secara halus. Menatapnya dengan penuh perhatian. Dan Kyungsoo hanya bisa menutup matanya nyaman. Lagi dan lagi. Dia benar-benar terbuai dengan sentuhan Jongin.
"Aku akan memulainya sekarang juga bila itu yang kau inginkan Kyung. Mungkin ini sakit tapi percayalah padaku." Ucap Jongin yang masih menatap sendu wajah Kyungsoo yang matanya kini terpejam.
Kyungsoo masih terdiam dengan deru nafas yang kini mulai tidak beraturan kembali. Menunggu. Jongin hanya diam menunggu persetujuan Kyungsoo karena dia tidak ingin apa yang akan dilakukan mereka akan berakhir Kyungsoo yang kesakitan.
"Kyungsoo, tatap aku." Ucapnya begitu halus. Seolah sebagai suara penuntun. Kyungsoo membuka matanya dan dia benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya kemanapun selain mata Jongin. Mata berwarna kelam dengan tatapan yang tajam tapi tetap sendu.
Dalam hitungan detik setelah Kyungsoo membuka mataya, Jongin kini telah menguasai bibir Kyungsoo: Candu baru baginya. Ciuman yang terlihat menuntut namun masih bisa terbilang lembut. Bahkan ketika lidah mereka kini mulai bertautan tangan Kyungsoo sudah mengalung erat. Satu tangannya memeluk tubuh Jongin dan tangan lainnya dia simpan ditengkuk Jongin. Menempelkan tubuhnya begitu dekat dengan pelukan yang begitu sangat erat.
Jongin kini benar-benar memulai aksinya. Kedua tangannya kini beralih membelai kaki Kyungsoo hingga paha atas Kyungsoo menaikannya untuk menekuk dan mengangkang. Tubuh Jongin menghimpit area selangkangan Kyungsoo. Sudah merasa sedikit nyaman Tangan Jongin kembali membelai dan beralih kepinggul Kyungsoo. Menaikkannya dan kini mulai memposisikan miliknya tepat di lubang anal milik Kyungsoo.
Dia mengocok miliknya dan milik Kyungsoo yang kini masih setengah tegang. Kyungsoo terus melengguh berkali-kali. Suaranya melantun indah bagi telinga Jongin. Tidak ingin berlama-lama. Dia menghentikan aktifitasnya dan mulai menyiapkan intinya.
Jongin berusaha untuk memasukinya. Perlahan dan tidak terburu-buru. Bahkan ketika kepalanya mulai masuk. Tepat saat itu juga Kyungsoo menggigit keras bibir Jongin. Sudah tau pasti Kyungsoo merasakan kesakitan. Jongin berusaha untuk tidak terus menyiksa Kyungsoo. Mungkin ini akan terlihat terburu-buru tapi tidak ada pilihan lain.
'JLEB'
"Agghhtt!" Teriak Kyungsoo setelah Jongin melepaskan ciumannya. Kyungsoo menitikkan airmatanya menandakan bahwa dia memang begitu kesakitan. Apalagi setelah dia merasakan ada sesuatu yang basah dan berbau besi dapat dia cium: Darahnya.
"Maafkan aku.." Ucap Jongin halus dengan diikuti usapan tangannya menghapus air mata Kyungsoo.
Terdiam. Namun tidak butuh lama kyungsoo membuka matanya. Dia ingin menghentikannya karena merasa sakitnya begitu sangat luar biasa. Tapi dia tidak ingin mengecewakan Jonginnya. Sungguh dia sangat mencintai Jongin.
"Tidak apa-apa. Lakukan." Bisik Kyungsoo pelan.
"Tapi Kyung kau–"
"Aku percaya padamu." Kyungsoo memberikan kembali senyuman khasnya dan Jongin pun membalas senyuman pria yang dicintainya.
Kembali suara erangan dan desahan membisingkan seluruh isi kamar Jongin. Tidak ada lagi kesakitan ataupun air mata. Kedua nya benar-benar jatuh kedalam sebuah kenikmatan surga dunia. Mereka tidak memikirkan apapun selain membutuhkan satu sama lain.
Jongin bahkan melakukannya benar-benar dengan cara halus. Saat pertama dia mulai menggerakan juniornya di dalam lubang milik Kyungsoo. Sama sekali tidak ada gerakan kasar ataupun menuntut. Semuanya mengalir begitu saja. Begitu lembut dan tentunya tetap memabukkan. Bahkan Kyungsoo heran. Bagaimana mungkin Jongin begitu terlihat berpengalaman padahal ini adalah hal pertama yang mereka lakukan.
"Ahh.. Jongin.. euhmm di.. disana.." Lenguh Kyungsoo.
Jongin mengerti kini dia menemukan titik kenikmatan milik Kyungsoo. Dia semakin bersemangat dan semakin menambahkan tempo gerak maju-mundur-majunya. Di begitu menikmati saa saat seperti ini. Ketika Kyungsoo mendesah, melengguh dan memanggil namanya. Dan bahkan titik kenikmatannya juga dapat dia temukan ketika lubag milik Kyungsoo mulai meremas miliknya. Benar-benar memabukkan.
"Kyungsshh.. kau hebat.. ah.. dan kauh ind-dahhh.." Bisik Jongin.
Kyungsoo hanya bisa sedikit tersenyum tapi selebihnya dia lebih menikmati semua perlakuan Jongi, sentuhannya, gerakannya hingga kata-katanya. Dia menyukainya. Bahkan kini dia dapat merasakan seusatu yang begitu sangat bergejolak didalam perutnya dan sediki meringis ketika dia merasakan seperti ada seuatu yang ingin dia keluarkan.
"Jonginn.. aku.. merasakan. Ahhhh nyyahh! Jongii—ahh.. lepaskannnhh…!" Teriaknya ketika Jongin tau apa yang Kyungsoo maksud. Dengan sigap dia menggenggam erat milik Kyungsoo. Menutup lubangnya dan mengocok seduktif.
Kyungsoo semakin merasakan hal yang lain dari biasanya. Kenikmatan juga ketegangan. Bahkan peluh'nya sudah benar-benar membasahi seluaruh tubuhnya. Apalagi Jongin, dia benar-benar terlihat sexy dengan tubuh basah oleh keringatnya sendiri juga jangan lupakan poninya yang juga 'lepek' akibat peluh yang keluar dari dahinya.
"euuhhh Jongiinn-ahhh! Aku ingin mengelu—ah!" Desahan nikmatnya benar-benar keluar indah ketika Jongin melepaskan genggamannya hingga membuat Kyungsoo merasa lega telah mengeluarkanc cairan putih kental miliknya.
Kyungsoo tidak sepenuhnya menikmati orgasmenya karena saat itu juga Jongin semakin mempercepat gerakan pinggulnya dan semakin erat juga menaikan pinggul milik Kyungsoo seakan ingin memasukan sempurna seluruh miliknya dilubang Kyungsoo.
"Kyungsoohhhh sebentar laa—giihh!"
Dia semakin merasakan kenikmatannya ketika lubang Kyungsoo semakin meremas erat miliknya. Jongin benar-benar tidak bisa menahannya lagi.
"Jong—ahh!" Kyungsoo menggelinjang ketika mendapat gerakan tiba tiba Jongin yang memasukan miliknya dalam sekali hentakan.
"Kyungsoooo!" Teriak Jongin penuh kenikmatan dengan suara seraknya.
Jongin ambruk menindih tubuh Kyugsoo dan mengeluarkan cariannya begitu banyak di lubang Kyungsoo yang sedikit bercampur dengan darahnya. Tapi tidak ada kesakitan semua beralih menjadi sebuah kenikmatan. Keduanya tersenggal-senggal.
Jongin berguling dan kini berbaring berdampingan disisi Kyungsoo. mereka mengatur nafas masing-masing setelah mencapai puncak kenikmatan dan pelepasan mereka. Hanya butuh hitungan menit suara deru afas berat itu kini sedikit berkurang. Tidak ada suara. Jongin melirik keasampingnya dan Kyungsoo ternyata telah terlelap dalam tidurnya. Mugkin dia benar-benar kelelahan.
Jongin menarik selimut yang tidak biasa dia pakai yang ada dilantai kamarnya. Menyelimuti tubuh Kyungsoo begitu lembut hingga seluruh tubuhnya tertutupi. Jongin melihat pemandangan dihadapannya. Begitu indah dan cantik.
'Chup'
Sebuah kecupan kecil Jongin berikan kepada kyungsoo tepat dikeninganya. Begitu dalam dan penuh rasa sayang.
"Terima kasih kyungsoo. Aku mencintaimu."
Pagi natal. Kali ini Kyungsoo telah bangun dari tidurnya bahkan kini dia sudah membersihkan dirinya sendiri dan menggunakan pakaian yang lebih rapih sekarang. Menggunakan kemeja dan celana jeans yang baru. Sebelumnya dia sempatkan diri untuk pulang kerumahnya sekaligus mengambil beberapa bahan makanan untuk dia masak lalu membuatkan Jongin sarapan.
Sebenarnya dia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Bagaimana tidak. Dia bangun dan langsung berjalan seolah tidak ingat dengan apa yang mereka lakukan semalam. Sakit. Hal pertama yang kyungsoo rasakan adalah rasa sakit yang mendera pinggangnya dan tentu saja tubuh intim bagian belakangnya. Hanya meringois, Kyungsoo tidak menyangka bisa sesakit ini. Tapi bagaimanapun dia harus beraktifitas. Tidak mungkin dia terus berdiam diri. Mungkin tanpa butuh waktu lama sakitnya akan menghilang.
Kyungsoo masih ingat sekali dengan sentuhan yang diberikan jongin kepadanya. Begitu lebut dan penuh sayang. Begitupun saat ereka berciuman. Kyungsoo benar-benar menyukai bibir milik Jongin. Bahkan saat dia mandi dan memasak tadi sentuhan Jongin masih terasa diantara tubuhnya. Dia telah gila dan memikirkannya saja pipinya bisa merona hebat.
Pagi ini Kyungsoo telah membuat sarapannya. Karena Jongin tak kunjung bangun akhirnya dia memutuskan untuk pergi langsung ke kamar Jonging. Langkahnya perlahan masuk dan dapayt dia lihat Jongin masih saja nyaman dalam tidurnya. Untuk pertama kalinya dia melihat Jongin tertidur bahkan dia terlihat begitu sangat polos di matanya. Tidak ada yang menyangka bila anak muda ini mempunyai kelainan yang siapapun akan tidak sanggup untuk berlama-lama dengannya. Namun dibandingkan itu semua. Kyungsoo merasa beruntung. Dirinya masih bisa bertahan selama ini bersama Jongin. Ya, hampir 10 bulan mereka saling mengenal. Meskipun beberapa kali terjadi kesalah pahaman antara mereka tapi buktinya mereka tetap kembali bersama. Bila ada yang mengatakan jodoh itu ada di tangan Tuhan. Ya. Kyungsoo percaya. Meskipun ini terlampau aneh, tapi dia mencintai Jongin.
Karena dia Jongin perlahan sedikit berubah dan tinggal satu lagi yang harus dia lakukan untuk Jongin. Entah Jongin akan menerima kenyataannya atau tidak. Tapi hari ini adalah kesempatannya. Hingga akhirnya dia benar-benar bisa membahagiakan Jongin.
Kyungsoo melangkah mendekat dengan nampan berisi sup, Gyeran-jjim. Namun langkahnya terhenti ketika sesuatu seperti kertas menempel dikakinya. Merasa terganggu, Kyungsoo duduk dan menyimpan nampannya di nakas besar yang tidak jauh ada disamping ranjang Jongin. Dia kembali melirik kearah sesuatu yang menempel dikakinya dan langsung mengambilnya.
Selembar foto dengan 4 orang kucing yang sedang bergumul lucu bersama.
"Ah.. lucu sekali." Senyum Kyungsoo menatap foto yang ada ditangannya kini.
Kyungsoo mengamati dengan lekat foto tersebut seolah ada hal menarik yang tersimpan di foto tersebut. Hingga akhirnya dia kembali berniat untuk menempelkan kembali foto tersebut di dinding yang-mungkin-tadi-terjatuh.
Saat dia membalikkan fotonya untuk menempelkan sedikit selotip. Dia langsung terdiam ketika dia mendapati sebuah tulisan tangan yang bagus dan rapih. Dan dia tahu, dia pernah melihat tulisan tangan ini sebelumnya—tulisan tangan Jongin.
"Aku merindukan kalian. Bisakah kita seperti dulu? Jongin sendiri dan takut —Appa, eomma, Jongdae hyung, Jonginnie" 14-01-2008
Kyungsoo tertegun beberapa saat. Rindu, benarkah? Kyungsoo kini tahu sekarang. Bahkan sangat percaya. Jongin tidak benar-benar membenci keluarganya begitupun Ibunya. Dia hanya ketakutan dan sendirian. Kyungsoo dapat merasakan kembali rasa traumatis yang mungkin diderita Jongin saat ini. Dia bukan takut karena Bipolarnya, juga bukan takut kepada kematiannya dia hanya takut dia akan kehilangan keluarganya.
Kyungsoo beberapa kali mencoba menahan air matanya ketika dia kembali melirik kearah foto-foto lain yang juga tertempel didinding kamarnya. Kini dia bisa leluasa unuk mencari dan mengamati segala hal yang ada didalam kamar Jongin.
Dan tidak dapat dipercaya bagi Kyungsoo. Semua foto-fotonya menampilkan tulisan tangan yang sama melainkan kalimat-kalimat yang berbeda. Semuanya berhubungan dengan keluarganya. Bahkan tiap foto saling berhubungan satu sama lain, seolah tertulis menjadi sebuah cerita. Cerita dari ketakutannya yang harus hidup sendirian tanpa memiliki keluarga yang menemaninya. Jongin benar-benar memiliki sisi rapuh disini. Dia tidak bisa mengungkapkan semua perasaannya begitu saja dan mengatur segala emosinya karena Bipolar telah mengambil alih kontrol tubuh dan pikirannya kecuali hatinya.
"Euhhmm.. hyung? Kau sudah bangun?" Lirih Jongin yang kini masih bertelanjang dada. Hanya selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Mengejutkan Kyungsoo membuat dia mau tak mau berbalik dan menyembunyikan foto pertama yang masih dia pegang sedari tadi.
Kyungsoo menunjukkan senyuman seperti biasanya. "Selamat Natal Kim Jongin. Ayo bersiaplah, kita akan pergi kesuatu tempat sekarang." Ajaknya ceria.
To Be Continued
Soory for late update karena Laptop baru pulang service-san (gak peduli) :3 hehe.. Banyak banget yang nanya dari sekitar sebulan yang lalu kapan lanjut update tapi ya gini Laptop udah tua ya jadi sering sakit-sakitan Well thanks buat masukannya buat yang udah review. Bener bener terimakasih #DeepBow Bener-bener terharu.
Dan lupa ada yang pernah nanya apa itu ODB ya? Maaf baru bisa jawab. ODB itu singkatan dari Orang Dengan Bipolar. Jadi biasanya penderita Bipolar lebih sering dipanggil ODB.
Aku tidak bisa nyebutin satu-satu yang review tapi ah makasih banyak. Bener-bener berdosa setelah menghilang selama sebulan dan untungnya file gak ikut hilang saat di service. Maaf maaf benar-benar maaf.
Dan satu hal lagi. Next adalah Final Chapter dan kemungkinan akan dibagi menjadi dua sesi. Tapi entahlah.. baru rencana soalnya kepanjangan dan rumitttt cyinn~ .
I Won't Describe it but hopelly your can be like this story. Thankyou.
