Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!
Pairing : IchiRuki
Genre : Romance
Rate : M
Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Playlist : Shania Twain - You're Still The One
Meeting you was fate, becoming your friend was choice, but falling in love with you was completely out of my control. (Anonymous)
Ichigo menarik Rukia ke pelukannya sesaat setelah mereka masuk ke kamar mandi. Ia melepas resleting dress musim semi yang dikenakan Rukia perlahan sambil menghirup kuat-kuat aroma yang menguar dari rambut raven dan tubuh istrinya. Wangi berry yang terdapat disana. Ichigo tersenyum lalu mencium puncak kepala Rukia. Saat dirinya meloloskan dress itu dari bahu Rukia, Rukia mendongak menatap Ichigo dan tersenyum. Tak tahan lagi Ichigo segera mencium bibir Rukia.
"Kau alergi strawberry tapi masih memekai lipstik beraroma itu?" tanya Ichigo.
"Aku memakainya karenamu, apa kau tidak suka? Lagipula aku sudah bisa mengatasi alergiku," jawab Rukia.
"Aku suka. Terima kasih, schatz," jawab Ichigo.
Dengan sigap tangannya melepas dress Rukia hingga meluncur, tergeletak dilantai. Ichigo terkesima dengan pemandangan yang ada di depannya itu. Dilihatnya istrinya itu hanya memakai bra dan tidak mengenakan celana setelannya. Rukia sendiri sudah melepas bra miliknya lalu mendorong Ichigo agar masuk ke shower, menyebabkan tubuh Ichigo dan dirinya tersiram rain shower dari atas.
"Cepat berbalik," Rukia meminta Ichigo dan segera menuruti.
"Kau tak ingin membuka celanaku?" tanyanya.
Rukia menggeleng cepat dan sadar Ichigo tidak bisa melihatnya, Rukia menampar pantat Ichigo, "Kau yang harus membukanya sendiri."
Rukia mundur agar Ichigo tidak bisa meraih dirinya. Ia mengambil sabun di kanan tubuhnya. Menggosokkan sabun itu ke tangannya sedang Ichigo ternyata sudah melepas celana ketatnya.
Ichigo menyungging senyum tipis dan Rukia tertawa melihatnya. Ia mengamati punggung Ichigo terlebih dahulu. Begitu kencang, berotot dan bidang, begitu lebar. Ia mencium sebentar punggung Ichigo sambil mengusapkan tangannya. Pelan, bermain-main lama bahkan hingga ke daerah bokongnya.
"Kau, istri nakal," ucap Ichigo dan ia segera berbalik. "Kau terlalu berlama-lama di punggungku." Ichigo menarik tangan Rukia dan menuntun tangan itu pada tonjalannya yang sudah mengeras dan besar.
Semburat merah di pipi Rukia begitu kentara. Tangan Ichigo yang berada diatas tangan Rukia bergerak maju mundur, menikmati ritme mereka.
"Sepertinya aku harus dibilas lagi, bukan begitu, schatz?" tanya Ichigo. Ia menghidupkan rain showernya lagi.
"Aku sudah bersih dan kupikir sekarang giliranmu," sela Ichigo.
"Tapi aku bahkan belum menyabuni kaki, lengan bahkan dadamu," jawab Rukia.
Ichigo menggeleng, "Sekarang giliranmu dan jangan membantah, oke," Dirinya mengelus perut Rukia lalu mengambil sabun dan meratakan benda cair itu di tangannya.
Membimbing Rukia di pinggiran jacuzzy agar duduk, Ichigo berjongkok di depan Rukia. Meratakan sabun itu di kaki Rukia hingga ke atas pahanya.
Ichigo membuka suara, "Open your legs, schatz," mintanya.
Rukia hampir membuka suara sehingga Ichigo mendahuluinya, "Ingat, tidak ada bantahan."
Rukia hanya mengangguk lalu membuka kakinya menuruti perkataan Ichigo.
Ichigo menyungging senyum karena Rukia masih tetap sama, masih polos dan begitu menuruti permintaannya. Ichigo memposisikan tangannya pada pubis Rukia lalu menatapnya. Tuhan, istrinya itu terlihat sangat cantik, terlihat belia dan lebih muda daripada umur sebenarnya di mata Ichigo. Ia menurunkan tangannya sedikit.
"Lipatan di dalam harus aku bilas, bukan?" tanya Ichigo. Seketika itu juga Rukia berjengkit kaget, matanya terlihat sayu. Ichigo menggosok pelan, "Haruskah lebih kedalam?" tanyanya.
"Hhmm.. Yah.. Mmhh.. Itu..terserah..huh..kau," jawabnya terputus.
Tangannya mengekplorasi setelah ia mendapat izin dari Rukia. Keatas dan kebawah kemudian melingkar dan perbuatannya itu mendapat hadiah desahan dari Rukia. Istrinya itu baru saja orgasme. Ichigo tersenyum dan membawa bibirnya mendekati perut Rukia lalu menciumnya.
"Jika kau nanti lahir menjadi bayi laki-laki kusarankan agar kau nanti menikahi wanita polos seperti kaa-sanmu," ucap Ichigo. Rukia yang berpegangan pada rambut Ichigo menurunkan tangannya ke wajah Ichigo, "Jangan berbicara seperti itu kau membuatku malu."
Ichigo hanya tersenyum dan tangan kokohnya itu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Menyabuni perut Rukia dan naik keatas dada Rukia. Ichigo tidak membasuh bagian itu tetapi bibirnya menelusuri payudara Rukia mengecup lalu menjilat sebentar. Naik ke atas hingga leher Rukia.
Istrinya itu mendongak memberikan akses pada Ichigo. Setelah memberi beberapa kiss mark dirinya bangkit. Mata Rukia terbelalak dan semu merah kembali merajai wajahnya. Bukan hanya wajah tetapi tubuh Ichigo benar-benar tampan, kokoh dan sixpack. Benar-benar seorang pria dewasa.
Ichigo mengambil hand shower dan meminta Rukia untuk bangkit. Ia meminta Rukia untuk mengangkat salaah satu kakinya diatas pinggiran jacuzzi. Air yang terpancur dari handshower membuat gelenyar aneh didalam perut Rukia.
"Ichi," ucapnya tercekat, benar-benar terpengaruh oleh gairah.
"Ehem, ada apa schatz?"tanya Ichigo. Tangannya kembali menelusuri kewanitaan istrinya.
"Tidak bisakah kita memakai rain showernya dan segera ke kamar?" tanya Rukia ragu. Dirinya kemudian menutup mata, takut shampo yang menempel di kepalanya masuk kedalam mata.
"Baiklah, ide yang bagus," ucapnya lalu mencium pipi Rukia.
Dirinya menggandeng Rukia agar tepat dibawah rain shower. Rukia membilas wajah dan rambutnya Ichigo sendiri pun sama. Ketika mereka selesai, Ichigo mematikan shower dan membelai dada Rukia, menyentuh bagian kecoklatannya.
"Kau tahu sayang?"
"Tau apa Ichi?" tanya Rukia.
"Kau sangat cantik dan menakjubkan seperti ini. Kupikir, setelah bayi kita lahir," Ichi membelai perut Rukia. "Kita harus segera memberinya adik."
"Ide yang bagus," ucap Rukia menanggapi dan tertawa.
"Oke, mari keluar. No crushing, bumping or falling!"
Rukia mengangguk. Ichigo menyambar handuk sebelum mereka keluar dari kamar mandi dan meminta Rukia duduk di ranjang sedang dirinya mengeringkan tubuhnya lalu mengeringkan tubuh Rukia.
"Ichi, bahasa Jerman dari aku mencintaimu itu apa?" goda Rukia.
"Ich liebe dich. Kau hanya mempermainkanku?" tanya Ichigo, dirinya tahu Rukia sudah pasti mengerti frasa itu karena Ichigo sudah sering mengatakan padanya.
"Tidak, untuk apa begitu? Lalu apa bahasa Jerman untuk 'Kemari, peluk dan cium aku," ucap Rukia tersenyum lebar, dirinya agak mencondongkan tubuhnya kebelakang bertumpu pada salah satu tangannya sedang tangan yang lainnya membelai kiss mark yang diberikan Ichigo.
"Sayang, kau sedang menggodaku. Ajaran dari siapa itu? Dari Rangiku?" tanyanya.
"Mrs. Wildes aku juga sering membaca buku, tidak harus selalu Rangiku," jawab Rukia malu, ia mengalihkan pandangannya dari Ichigo.
"Kau tahu bukan? Aku lebih suka prakteknya," jawab Ichigo.
Tangannya sudah menjelajah pada paha dalam Rukia. Memaksa Rukia untuk
berbaring diatas kasur dan Ichigo segera menyusul. Mengeklaim bibir Rukia hingga lehernya dan memberi tambahan kiss mark yang lebih banyak dan tajam. Mereka saling mencumbu hingga saat hampir intercourse mereka. Ketika Ichigo ingin menyatukan dirinya dengan Rukia, pintu kamarnya diketuk keras dari luar.
"Kami-sama. Aku harap itu bukan Karin!" geram Ichigo.
Rukia mengelus bahu dan punggung Ichigo pelan.
"Siapa disana?" tanya Ichigo.
"Yuzu sudah pulang Ichi, tidak bisakah kita segera makan siang?" tanyanya.
"Karin, tunggu satu jam lagi atau aku benar-benar akan menendangmu ke rumah paman!"
"Jika kuhitung sudah satu jam sejak dari dapur tadi dan kau meminta waktu lagi. Aku kelaparan, Ya Tuhan!"
Ichigo memijat pelipisnya, "Satu jam lagi Karin, biarkan Yuzu ganti baju dan istirahat sebentar. Biarkan aku menyelesaikan urusanku," jawab Ichigo. Dirinya dengan pelan memasuki Rukia. Istrinya itu begitu ketat dan sempit.
Dari luar tidak ada lagi suara dari Karin. Tapi saat Ichigo bergerak pelan keluar masuk dari Rukia, adik bungsunya itu bersuara keras memanggil anjing peliharaannya dan berteriak untuk Ichigo.
"Satu jam, brother. Tidak lebih!"
Rukia tersenyum mendengar Karin, lalu membelai dada Ichigo "Bergeraklah sayang."
"I'm at your service, mademoiselle," jawabnya Ichigo sambil mencium punggung tangan Rukia.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Ichigo memeluk Rukia dari belakang. Tangannya diletakkan diperut Rukia sambil mengelusnya. Ia mencium tengkuk Rukia dan mendapatkan geliatan tubuh Rukia. Oh Damn! Dia membuat masalah dan itu berakibat buruk pada juniornya. Mereka harus bersiap-siap untuk makan siang. Rukia berbalik dan menatap Ichigo, mempertemukan mata mereka. Ichigo tersenyum kemudian mengecup Rukia agak lama. Mencium kening Rukia barulah ia bangit dari ranjang.
"Bersiaplah sayang kita harus segera turun untuk makan siang," ucap Ichigo.
Rukia bangun dari tidurannya, tersenyum dan memperhatikan Ichigo. "Apa aku tidak bisa melakukan sesuatu untukmu? Aku rasa aku bisa menggunakan mu..."
Ichigo tersenyum melihat kebawah tubuhnya, "Tidak schatz, ide buruk jika harus berjongkok dan aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu. Aku akan membereskan ini," Ia kembali mencium pipi Rukia.
"I love you."
"I love you too, schatz," ucapnya kemudian menghilang kembali ke kamar mandi.
Rukia turun duluan dari lantai atas. Ia menggunakan dress yang tadi ia pakai dan disambut senyuman oleh Karin dan Yuzu. Yuzu segera bergerak menarikkan kursi untuk Rukia.
"Terima kasih," ucap Rukia kemudian.
"Ichi tidak turun?" tanya Yuzu.
"Dia sedang di kamar mandi, sebentar lagi pasti turun."
"Sister apa itu kiss mark? Oh aku tahu kenapa kalian meminta waktu tadi," ucap Karin gadis itu memajukkan bibirnya.
Wajah Rukia memerah. Sedang Yuzu tertawa menanggapi.
"Kulitmu tambah cantik dan bersinar, apa itu pengaruh dari 'ehem' atau karena pembawaan dari bayi, kakaku yang cantik?" tanya Karin.
"Oh Karin, hentikan itu! Jangan sering menggoda istriku!" Suara Ichigo menyela saat dirinya masuk ke ruang makan. Pria itu terlihat santai dengan polo shirt putihnya dan celana jeans.
"Stay back, Denis! Jangan mencampuri urusanku!" ejek Karin.
Yuzu menghela napas, "Come on semuanya, aku sudah sangat lapar! Ichi duduk dan cepat pimpin do'a nya!" sela Yuzu.
"Dudukkan pantatmu segera, Deryl. Dosenku sudah mengecewakanku dan kau terlambat lebih dari 15 menitmu dari 1 jam yang kau minta," ucap Karin.
"Mengalah dan turuti segera permintaan mereka suamiku," ucap Rukia.
"Lihat, apa ini. Jadi kalian wanita bersekongkol?" tanya Ichigo.
Mereka bertiga hanya mengangguk kemudian disusul oleh suara Karin, "Ini belum seberapa, Del!"
Ichigo melirik Karin kesal seperti anak kecil kemudian memimpin do'a. Ruang makan hening beberapa saat.
"Shiori-san, tolong bawa 'itu' kemari." ucap Rukia.
Wanita paruh baya itu muncul dengan nampan yang berisi piring lebar. Bau menyengat begitu terasa ke hidung saat pelayannya itu semakin mendekat dan meletakkannya diatas meja dekat Ichigo.
"Tidak ada perkedel sapi yang lezat dan tidak gosong hari ini kakak tampanku," ucap Yuzu.
"Ingat ucapanku Dirk, ini belum seberapa!" ucap Karin, mengedipkan salah satu matanya. "Listnya masih ada disini," ia melambaikan buku kearah Ichigo lalu memasukkan sesendok makanan kedalam mulutnya.
"Rukia," Ichigo mendelik.
"Aku hanya menuliskan apa saja yang kuinginkan dalam masa ngidamku," jawab Rukia.
"Dibantu olehku," jawab Yuzu.
"Dan olehku, Dexter!" ucap Karin.
"What?" tanya Ichigo.
"Oh, shut up, Ramirez! Kau hanya perlu menurutinya, dan itu tidaklah sulit!"
Ichigo menusuk perkedel sapi gosong itu dengan garpunya dan memsukkan potongan besar ke dalam mulutnya. "Tentu aku menurutinya, tapi tunggu kau memanggilku apa? Ramirez? Apa itu nama kekasih barumu? Aku sudah bilang jangan berpacaran dulu Karin!" tanya Ichigo.
"Itu namamu," ucap Rukia.
"Wait? What?"
"Percaya ucapanku kan kakak ipar?" tanya Yuzu.
"Aku Skipper si pinguin dan kau musuhku, Ichigo si gurita," ucap Karin. Ia memajukkan garpunya ke arah wajah Ichigo, "Aku ingin memanggilmu Deryl, Denis, Dirk, Dexter, Del atau Ramirez sekalipun itu adalah hak-ku. Bersyukur saja kau tidak ku panggil Doris, Dr. Octavius Brine!"
Rukia tertawa dan Ichigo malah memasukkan tangannya kedalam paha dalam Rukia, mengelus agar Rukia menghentikan tawanya dan mempermalukan dirinya didepan adik-adiknya.
"Sayang, cepat selesaikan makanmu karena aku menantikan siesta* kita," ucap Ichigo, ia melirik sebal kearah Yuzu dan Karin, "Aku tidak tahu pengaruh apa yang akan ditimbulkan mereka padamu. Mereka gila."
"Tentu saja kakak ipar juga akan gila," jawab Yuzu.
Ichigo bangkit dari meja makan karena dia sudah selesai terlebih dulu, Rukia juga ikut dengannya.
"Kakak ipar, setelah siesta kami tunggu untuk berenang. Pakai bikini sexy yang kubelikan untukmu!" ucap Karin.
"Jangan lupa pada saat itu usir suamimu untuk membelikan rambutan dan membuatkan sup dari buah tropis itu," susul Yuzu.
Rukia tertawa dan segera Ichigo mencium bibirnya. Ichigo menggunakan tangannya dan menunjukkan simbol 'OK' pada permintaan adik kembarnya itu. Harinya tidak akan berwarna jika ia tidak mempunyai adik kembar seperti mereka.
Si kembar tertawa sedang Rukia mencubit lengan Ichigo tanda tidak setuju terlalu menonjolkan kemesraan mereka didepan adik-adik iparnya yang belum dewasa. Mereka berdua hilang dibalik pintu sedang Yuzu masih tertawa sedang si bungsu Karin saking senangnya ia memegangi perutnya yang sakit dan menghapus air mata yang keluar gara-gara tingkah lucu kakak-kakaknya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Suara percikan air dan tawa terdengar sampai dalam rumah. Si kembar begitu menikmati libur kuliah setengah hari mereka dengan benar. Tadi pagi Karin hanya memiliki 3 jam mata kuliah tetapi salah satu dosen killer - yang beberapa hari kemarin memberi kelasnya tugas - tidak bisa hadir hari ini sehingga tugas yang semalaman ia kerjakan dengan begadang tidak membuahkan hasil dan itu membuat dirinya sebal pada si dosen.
Mereka berdua sudah basah kuyup dan sekarang Karin duduk di pinggiran kolam sedang Yuzu menceburkan diri di kolam, berpegangan pada Karin. Rukia tersenyum mendapati mereka tertawa riang seperti itu.
"Kakakku sudah selesai dari siestanya," ucap Yuzu saat ia melihat Rukia menuju ke arah mereka.
Karin mendongak dan Rukia kembali tersenyum pada mereka. "Kau terlihat sangat cantik kakak," ucapnya.
"Terima kasih. Aku akan bergabung," jawab Rukia.
Saat dirinya sudah berada di besi pegangan kolam renang, tangan Rukia ditarik pelan oleh seseorang dari belakang. Bagaimanapun itu pasti Ichigo.
"Itu tidak sopan bung!" ucap Karin.
"Tidak butuh persetujuanmu, nona kecil," jawab Ichigo. Ia segera mencium kening Rukia.
"Kau belum memakai sunblock, schatz."
"Ichi please, stop dengan romantisme didepan kami. Kau bisa membuat kami diabetes," ucap Yuzu. Dirinya mulai menjauh untuk berenang kembali.
Karin memainkan kakinya didalam air. Ia melihat kearah Rukia yang sedang diolesi sunblock di kursi panjang. Karin tersenyum melihat Ichigo yang penuh cinta menatap Rukia dan dengan perlahan mengolesi perut kakak iparnya yang terlihat semakin besar untuk ukuran wanita hamil 4 bulan.
"Cantik dan sexy bukan?" tanya Karin.
"Ya," jawab Ichigo singkat.
Karin menepuk dahinya, lalu bangkit dari duduknya, "Yang kumaksud bikininya, Ramirez!"
"Ini sangat cocok untuk istriku jika ini hanya dipakai didepanku Karin. Hey, berhenti memanggiku Ramirez," ucap Ichigo.
"Tonton Pinguin of Madagascar dulu baru aku akan berhenti memanggilmu seperti itu!" ucap Karin.
"Apa hubungannya itu?" tanya Ichigo, ia segera memperhatikan Karin, "Kau menggunakan bikini yang terlalu memperlihatkan kulitmu, Karin!"
Karin hanya mengangkat bahu tidak peduli, "Salah satu list 'ngidam' istrimu! Uh, ini model terbaru Ichi."
Ichigo bertanya pada Rukia dengan ekspresi wajahnya dan Rukia hanya mengangguk mengiyakan.
"Kau terlalu banyak bekerja kupikir setidaknya ada hiburan?" jawab Rukia.
"Oke. Itu bisa aku pikirkan. Dan untukmu Karin, apa kau akan memakainya di pantai?"
"Tidak hanya Karin, Ichi. Aku juga," ucap Yuzu yang sudah menyusul. Ia membawaRukia agar segera masuk ke dalam kolam.
Ichigo menatap kesal pada Yuzu tetapi adiknya itu tidak memperdulikannya begitu juga ia pada Karin.
"Tinggal membeli pulau pribadi Ichi jika tidak ingin adikmu dan istrimu menikmati berjemur di pantai umum," jawab Karin.
Ichigo menyunggingkan senyum iblisnya lalu membopong Karin, adiknya itu meronta tetapi dengan cepat Ichigo melemparkannya kedalam kolam.
"Kau...!" teriak Karin saat ia berhasil menaikkan kepalanya diatas air.
"Tidak boleh mengumpat, anak manis!"
"Kudoakan kau tidak dengan segera menemukan buah rambutan!"
Ichigo hanya angkat bahu -menirukan Karin- dan segera pergi dari kolam renang. Dirinya dengan segera menuju garasi dan mengendarai mobil Audi R8 nya, membelikan Rukia buah yang begitu diinginkan oleh istri cantiknya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Ichigo membawa nampan dengan 3 gelas mangkuk yang berjajar rapi diatasnya. Ia berjalan menuju ruang keluarga. Adik kembar dan istrinya itu sedang berada disana menonton televisi. Mungkin acara yang membuat dirinya sekarang ini selalu dijuluki 'Ramirez' di chanel Nicelodeon.
Dirinya lelah, jujur itu yang sekarang dirasakannya. Bayangkan saja kalau dirimu harus mencari buah tropis dan itu tidak ada pada musimnya. Keluar masuk ia dari swalayan, minimarket dan supermarket ia jelajahi dan ia tidak mendapatkan buah itu. Apalagi yang fresh dan bukan buah kalengan. Duh, itu sangat melelahkan.
Mereka bertiga duduk berjajar di sofa hitam panjang dengan Rukia yang diapit Yuzu dan Karin. Ditangan istrinya itu ada seplastik crackers nabati. Kasihan istrinya itu, sampai saat ini masih sering mengalami morning sickness dan sering tidak bisa makan. Kebanyakan dirinya hanya memakan biskuit gurih itu agar perutnya bisa diisi makanan.
"Kakak, kau sangat terlambat!" ucap Yuzu. Ia menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul17.22, sudah sejak 3 jam yang lalu kakaknya itu keluar dari rumah.
Ichigo melirik kearah Karin yang sedang memakan chips kentang rasa barbeque dengan lahap dan tetap memperhatikan layar televisi 32 inch itu. "Semoga Tuhan mengampuni dosamu, Karin," ucap Ichigo sambil meletakkan nampan itu diatas meja.
"Amin," jawabnya singkat.
"Oh jadi doaku terkabul. Tuhan sangat baik hati," jawabnya.
"Sudah, kalian minumlah itu. Tapi kusarankan untuk menjauh dari ruangan ini!" ucap Ichigo.
"Tidak sebelum acaraku berakhir Ichi," ucap Karin yang tetap tak ingin mengalah.
Yuzu sudah mengambil salah satu dari gelas itu yang berukuran lebih kecil. Ada 3 gelas memang tetapi yang satu dari 3 itu lebih besar dan pasti itu untuk Ichi sendiri. Kakak lelakinya itu pasti akan beromantisan ria lagi dengan kakak iparnya.
"Karin, ayo menurut saja," ucap Yuzu.
"Sebentar kakak kedua, 3 menit lagi."
"Kusarankan agar kau menurut adik kecil," ucap Ichigo.
Karin menghentakkan kakinya kesal lalu berdiri. Melemparkan bantal sofa itu kearah Ichigo dan dengan cekatan Ichigo menangkapnya sebelum bantal itu mengenai wajah tampannya. Karin mengambil gelasnya dan segera keluar dari ruang keluarga menyusul Yuzu.
Rukia hanya tersenyum menanggapi tingkah kekanakan Ichigo lalu tertawa keras saat ia melihat bahwa Ichigo masih memakai celemek.
"Kau terlihat cantik, sayang," ucapnya.
Ichigo segera mengganti duduknya didekat Rukia. Mengelus pelan perut Rukia dan berbisik, "Lain kali saat kau memanggilku cantik, kau akan menyesal schatz."
"Cantik," komentar Rukia lagi.
Ichigo menyeringai dan langsung mencium bibir Rukia. Tangannya ia gunakan untuk membuka bibir Rukia. Sedikit jilatan didepan dan sudut bibir Rukia kemudian Ichigo memasukinya, jilatan di rongga lalu kecupan singkat yang mengakhiri ciuman mereka. Napas Rukia memburu hanya dengan ciuman itu.
"Gurih dan sedikit asin," ucap Ichigo. "Berhenti sebentar dengan crackers mu sayang."
Ichigo mengambil gelasnya yang berisi sup buah rambutan. Bukan hanya rambutan sebenarnya, pria itu tadi memberikan potongan buah asam dan manis yang lain seperti strawberry, semangka, lecy, anggur merah, kiwi, pepaya, melon, mangga dan kelapa muda. Ichigo tadi membuatnya dengan kuah air gula yang dimasak dengan kayu manis. Sup buah itu terlihat cantik berwarna putih karena bercampur dengan susu kental manis dan es kecil.
"Ini enak sekali tapi sepertinya ini melebihi target, lebih dari yang kuinginkan," jawab Rukia tersenyum. "Si kembar memang benar, sup buah buatanmu sangat enak."
Ichigo hanya tersenyum lalu kembali mencium Rukia.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Mereka makan malam pada pukul 7 malam dan selesai 40 menit kemudian. Suasana di meja makan jika ada Isshin, Ichigo menjadi lebih diam, cuek dan dingin. Rukia tidak tahu kenapa Ichigo seperti itu pada ayahnya, jika suaminya itu tidak menyalahkan paman Ryuken atas kematian ibunya, tetapi kenapa dia begitu menyalahkan dan membenci ayahnya?
Rukia sudah mengenal Isshin dari dia beranjak remaja. Aichmophobia-nya mendapatkan treatmen dari rumah sakit Kurosaki dan Isshin adalah teman dekat paman Ryuken. Ayah mertuanya itu penyayang dan sabar. Lelaki paruh baya itu juga sangat baik. Jadi apa penyebab hubungan anak ayah yang begitu renggang?
Rukia tersenyum saat Ichigo masuk ke kamar mereka. Dirinya sedang berada di depan kaca rias dengan gaun malamnya dan sedang menyisir rambut sepinggangnya. Ichigo mendekat dan memeluk Rukia dari belakang dan kepalanya menunduk, berada di bahu istrinya.
"Bersiap untuk tidur sayang?" tanyanya.
Rukia mengangguk, "Kepalaku sedikit pusing," jawabnya.
"Apa kau sakit? Apa perlu ke dokter?" tanya Ichigo terdengar cemas.
Rukia menyentuh wajah Ichigo yang sekarang sudah berada di sampingnya, "Tidak perlu, Ichi. Mungkin hanya karena aku tadi terlalu lama di kolam renang, agipula aku sudah meminum vitaminku."
"Apa kau yakin?" tanya Ichigo.
Ia mengangguk, "Dengan tidur lebih awal aku akan sembuh atau mungkin ini bawaan dari bayi kita," jawab Rukia.
Ichigo dengan sigap mengangkat Rukia ke ranjang mereka. Meletakkan dengan pelan tubuh istrinya lalu mencium keningnya.
"Kalau begitu segera istirahatlah, sayang," ucapnya. Ia mengelus-elus perut Rukia.
Rukia hanya mengangguk. Ichigo kembali mencium perut Rukia, menampakkan dengan aksi nya bahwa dia benar-benar sangat menyayangi Rukia dan jabang bayi mereka.
"Anaku sayang yang ada disini, daddy pikir kau sangat sehat hingga daddy bisa merasakan tendanganmu."
Rukia tersenyum sambil mengelus kepala Ichigo. Ichigo segera menyusul Rukia untuk tidur setelah mencium bibir istrinya. Ia tidur mendekat pada Rukia, meletakkan kepala Rukia didekat dadanya.
"Ichi," ucap Rukia.
"Iya schatz."
"White day nya boleh aku minta besok tidak?" tanya Rukia.
Suaminya itu tertawa pelan. Suara maskulin, sedikit serak dan dalam itu menggetarkan jiwanya. Ia ikut tersenyum mengimbangi Ichigo.
"Kenapa memangnya?" tanya Ichigo. Ia menatap Rukia dan membelai sayang rambutnya.
"Aku ingin...kencan," jawab Rukia agak ragu. "Aku meminta seharimu lagi, tapi jika banyak urusan di kantor, aku bisa menunda keinginanku," lanjutnya.
"Kenapa?" tanya Ichigo.
"Kita tidak pernah pacaran seperti pasangan lain dan pergi kencan..."
Ichigo menutup bibir Rukia dengan telunjuknya, "Bukan itu schatz. Kenapa kau berpikir aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan kantorku? Tentu saja aku bisa meluangkan semua waktuku untukmu."
Rukia tersenyum lalu mengecup pelan bibir Ichigo, "Terima kasih," ucapnya kemudian.
Ichigo mengelus pipi Rukia dan saat itu istrinya malah terlihat kesakitan.
"Tidak apa-apa, dia hanya menendang lagi," ucap Rukia. "Ichi, bisakah besok kita ke rumah sakit melakukan pemeriksaan?"
Ichigo langsung bangun dari tidurnya, dari matanya terlihat sangat cemas, "Pemeriksaan? Apa tidak sebaiknya sekarang saja? Apa anak kita menunjukkan gejala aneh? Aku akan menelepon Renji sekarang."
Rukia malah tersenyum kemudian berkata, "Sudah kubilang Ichi, aku baik mereka hanya menendang. Pemeriksaan rutin sudah kulakukan, aku hanya ingin melakukan USG."
"Mereka?"
Rukia mengangguk senang, "Iya. Aku pikir anak kita bukan 'dia' tetapi 'mereka."
"Jadi maksudmu anak kita kembar? Kembar, schatz?" tanya Ichigo antusias.
"Insting ibu hamilku berkata seperti itu. Kata Yuzu perutku terlalu besar untuk ukuran 4 bulan, juga tendangan mereka berubah-ubah."
Ichigo langsung mengambil tangan Rukia dan mencium punggung tangannya.
"Kau tahu ini hal yang sangat membahagiakan. Tuhan memberkatiku karena menyatukan kita dan memberkati kita dengan memberikan mereka." Ichigo mencium perut Rukia. Kebahagiannya benar-benar tidak bisa diuraikan dengan kata-kata.
"Ya. Aku sangat bahagia Ichi." Rukia menepuk kasur di sampingnya, "Ayo tidur lagi."
"Aku lupa schatz. Kau belum meminum susumu dan aku juga belum melepaskan dahagaku," ia membantu Rukia untuk bangun dan menunggu istrinya itu meminum segelas penuh susu itu.
Rukia menjilat sudut bibirnya, membersihkan sisa susu yang ada disana. "Bagaimana aku bisa membantu melepaskan dahagamu?" tanyanya polos.
"Dengan ciuman dari bibir strawberrymu itu!" jawab Ichigo dengan seringaian yang di terpampang di wajahnya.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Rukia tersenyum melihat Ichigo yang masih tidur pulas di ranjang mereka. Pagi ini dia sudah berdandan cantik memakai summer dress putih dengan detil di beberapa tempat, memakai kalung perak kecil dan anting putih. Wajahnya terdapat polesan bedak tipis dan blush on. Bibirnya mengkilat merah muda karena lipgloss.
Ia duduk di tepi ranjang lalu mencium bibir Ichigo. Hari ini adalah kencan pertama mereka, jadi Rukia tidak ingin Ichigo bangun lebih siang. Jam beker yang ada di atas nakas menunjukkan pukul 7 pagi.
Ichigo bergerak pelan, menggumamkan sesuatu lalu memperdalam ciumannya pada bibir Rukia. Rukia dengan segera dan sengaja menggelitik pinggang Ichigo hingga suaminya itu tertawa keras.
"Begini caramu membangunkan suamimu, nyonya Kurosaki?" tanya Ichigo memainkan rambut panjang Rukia yang menjuntai bebas di depan wajahnya.
Rukia mengerucutkan bibirnya, merajuk, "Kau janji akan kencan denganku tapi kau tidak bangun lebih pagi."
"Kau yang membuatku tidak tidur semalaman, sayang," jawab Ichigo menggoda Rukia.
Pipi Rukia memerah mengingat percintaan mereka tadi malam. Beberapa kali sampai jam menunjukkan ke angka 3 dini hari.
Rukia bangkit, "Uh, Alasan. Kau juga membuatku tidak tidur. Ayo cepatlah," ujar Rukia menarik selimut dari tubuh Ichigo hingga selimut yang tersingkap itu memperlihatkan ketelanjangan Ichigo dengan kejantanannya yang berdiri tegak.
Ichigo tersenyum senang lalu menarik Rukia pelan dan membaringkannya di ranjang lalu menindihnya. Satu sesi percintaan sebelum dia mandi bukan hal yang buruk juga.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Mereka berdua mendengarkan penjelasan dari Renji dengan seksama. Rukia tersenyum mengelus perutnya Ichigo pun ikut serta. USG sudah dilakukan beberapa waktu yang lalu. Salah satu jabang bayinya berjenis kelamin perempuan sedang bayi yang satunya tidak terlihat karena sedikit terhalang tetapi keadaan keduanya baik dan sehat.
Saat mereka keluar dari ruangan, Ichigo menarik Rukia duduk di pangkuannya pada kursi tunggu. Ichigo mencium bibir Rukia lalu mengeksploitasi lidah istrinya, memperdalam ciuman mereka hingga sebuah deheman keras memisahkan ciuman basah mereka berdua.
"Pagi yang sangat panas, bukan begitu?" tanya suara itu, berasal dari Grimmjow.
Rukia bangkit dari pangkuan Ichigo dan segera memeluk Grimmjow. Ichigo menyalami Uryuu yang berada di samping Grimmjow.
Kemudian pendangan Ichigo menghitam ketika Grimmjow mencium Rukia, tepat di bibirnya jika dilihat dari arah Ichigo, padahal sebenarnya tidak. Grimmjow hanya mencoba membuat Ichigo cemburu dan marah.
Ichigo mendorong pelan dada Grimmjow, menarik Rukia mendekat padanya kemudian dengan nada sedikit tidak suka ia membuka suara, "Tidak ada yang boleh lagi mengambil ciuman dari istriku. Di depanku!"
Grimmjow tertawa, "Aku hanya meberi salam, tuan Kurosaki. Di pipi. Wajahmu terlihat menakutkan."
"Hampir mengenai bibir, dan aku tidak suka. Apalagi Rukia bilang hubungan kalian rumit dan dekat."
Rukia melihat Ichigo yang masih terlihat marah lalu menyenggol pinggangnya.
Uryuu tertawa keras, "Possessive, eh? Bukakah sebaiknya kita duduk dulu, kasihan Rukia. Bagaimana jika, ruanganku?" tanyanya kemudian.
Mereka berempat duduk di meja bundar yang ada di ruangan Uryuu. Didepan mereka sudah ada gelas yang berisi minuman yang tadi disiapkan oleh Uryuu. Dari tadi tangan Ichigo tidak meninggalkan genggamannya pada tangan Rukia.
"Dia tidak akan pergi kemanapun, Ichi," ucap Uryuu dengan senyum.
"Aku possessive terhadap apa yang menjadi milikku. Jadi percuma kau bilang apapun padaku," jawab Ichigo.
"Apa itu kau tunjukkan untukku? Rukia sayang, selamat karena akan melahirkan bayi kembar," jawab Grimmjow.
Ichigo menghela napas kesal, "Aku menghamili Rukia karenamu. Kupikir yang akan bertunangan kau dan Rukia, karena kalian sepasang kekasih."
Uryuu dan Grimmjow tertawa mendengar penuturan Ichigo. Rukia hanya ber oh ria karena ia juga baru tahu alasan suaminya itu.
"Sudahlah! Aku akan kencan hari ini, kalian berdua merusak mood-ku," Ichigo bersungut. Lalu meminum kopinya, "Terima kasih untuk ini."
Ichigo membantu Rukia bangun dari duduknya, "Sampai jumpa lagi," ucap Rukia tersenyum.
"Hati-hati mengendarai mobilnya," ucap Uryuu.
Ichigo mengangguk, saat mereka berdua hampir menutup pintu, Grimmjow membuka suara, "Sampai jumpa lagi, Ichigo si masocist," ucapnya tertawa terpingkal.
Ichigo hanya mendengus mendengar penuturan Grimmjow. Brengsek sekali dia itu. Tadi dia bilang dirinya dulu saat kecil punya janji untuk menikahi Rukia sesaat setelah Rukia lahir. Walau pada akhirnya ia meminta izin Rukia untuk membatalkan janjinya itu karena ia jatuh cinta pada Nelliel, si putri cantik Senator.
Dia tadi juga menyebutnya masocist karena rela menderita untuk mendapatkan Rukia, gara-gara kesalah pahaman keluarga Johnson kepadanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang saat Ichigo mengendarai ke mobilnya ke taman. Rukia memperhatikan Ichigo, pulang dari rumah sakit ia belum membuka suara. Rukia yakin dia hanya sedang berkonsentrasi berkendara seperti permintaan Uryuu karena jalanan sangat ramai. Suaminya itu sangat tampan dengan kaos abu-abu yang dipadukan dengan blazer coat hitam dan celana jeans dan sepatu kulit.
Rukia menyentuh pelan bahu Ichigo dan membelainya, Ichigo menatapnya lalu tersenyum kemudian menyentuh kepala Rukia.
"Tidurlah dulu schatz, jika kau capek. Masih 15 menit lagi," ucapnya.
Rukia menggeleng, kemudian memperhatikan jalanan di depan. Lampu lalu lintas itu berwarna merah dan Ichigo menghentikan mobilnya. Rukia sedikit mendekat dan menarik Ichigo, saat dirinya mendapatkan perhatian Ichigo Rukia langsung mencium bibir suaminya itu.
"Menggodaku sayang?" tanya Ichigo.
Rukia hanya menganggukkan kepalanya lalu meletakkan tangan Ichigo ke dadanya. Tonjolan, Ichigo merasakan itu. Menjulang tinggi tanpa penghalang kecuali dress putih yang dikenakan Rukia. Kenapa dirinya tadi sampai tidak sadar jika istrinya itu tidak memakai bra.
Rukia menyingkap dressnya dan Ichigo menghirup napas dalam. Jakunnya naik turun. Dibawah sana Rukia juga tidak memakai dalaman.
"Aku merasa sangat panas, apa ini juga karena hormonku?" tanya Rukia.
Ichigo hanya langsung membungkam Rukia dengan ciumannya. Tangannya sibuk meremas lembut payudara Rukia.
"Sebentar lagi sayang, aku akan membantumu," bisik Ichigo. "Kau benar-benar menggairahkan saat ini."
Sepuluh menit kemudian mereka sudah berada dibangku taman. Keranjang tamasya mereka letakkan dibawah. Ichigo melepas blazernya kemudian menyuruh Rukia duduk di pangkuannya. Meminta Rukia menyenderkan pipinya di dada bidangnya. Ichigo melepas flat sandal Rukia lalu menutupkan blazernya di paha Rukia.
"Aku bisa menyentuhmu schatz tapi tidak dengan dadamu. Malam nanti akan aku perhatikan sepenuhnya bagian itu," ucap Ichigo.
Rukia mengangguk dengan rona merah yang melekat di pipinya, ia menatap Ichigo, "Lalu bagaimana denganmu?"
Ichigo tersenyum, "Aku bisa menahan diri. Terima kasih sudah bertanya, sayang."
Ichigo segera memposisikan tangannya. Ia tersenyum saat tau bahwa Rukia sudah sangat basah untuknya. Ia memasukkan satu jemarinya. Rukia semakin mendekatkan kepalanya pada leher Ichigo.
Masuk kemudian keluar. Beberapa kali hingga ia memasukkan jemarinya yang ke dua. Lalu memainkan ibu jarinya membelai benjolan kecil itu. Rukia melenguh pelan menikmati jemari Ichigo.
"Unghh.. Ichi, iya disitu tepat," ucapnya tergagap.
"G-spot sayang? Lalu bagaimana dengan ini?" tanyanya. Dia benar-benar membuat Rukia menggila.
Ichigo segera merasakan tangannya terjepit. Kewanitaan Rukia berkedut cepat membungkus tangan Ichigo, begitu panas, nikmat dan sexy.
Saat kunang-kunang dalam perutnya berkurang, Rukia mencium leher Ichigo sebentar, "Aku kira ini saatnya membuka keranjang bekal kita."
Ichigo tersenyum lalu mengeluarkan jemarinya perlahan, lalu menjalankan tangannya iti pada mulutnya dan menjilatnya.
"Aku setuju."
Ada beberapa muffin strawberry dan jus jeruk yang sudah ditata rapi didalam keranjang itu. Rukia sudah duduk disamping Ichigo. Mereka menikmati makanan itu sebagai pengganti makan siang mereka. Ichigo menyuapi Rukia.
"Aku masih bisa merasakan rasanya."
Kemudian Rukia menyuapi Ichigo sehingga Ichigo menjilati jemari Rukia. Sama seperti dulu saat Rukia berbagi roti selai strawberry waktu itu. Mereka mengakhiri makan siang mereka dengan ciuman di pipi. Dan sekarang saatnya nonton film di bioskop.
Kaichou No S ©_SheWonGirl_
Ichigo membantu Rukia turun dari mobil. Penutup kencan mereka hari ini adalah makan malam di restoran Italia. Ichigo memesan meja didekat jendela kaca. Membantu Rukia untuk duduk di kursinya.
"Nanti kau harus memakan semuanya sayang," ucap Ichigo.
Rukia tertawa, "Terdengar menakutkan. Kau pasti memesan banyak," jawabnya.
"Tentu saja, ada 3 orang yang harus ku jaga soalnya," jawabnya.
Beberapa saat setelah obrolan mereka pesanan Ichigo datang. Ia tidak bercanda dengan pesanan banyak dan memastikan Rukia memakan semuanya yang hampir memenuhi meja itu.
Saat selesai Ichigo menciun tangan Rukia dan segera meletakkannya di lengan. Ia tertawa kecil saat Rukia tak sengaja bersendawa.
"Kita akan pulang ke kondoku, schatz," ucap Ichigo.
"Kenapa ke kondo? Tidak pulang ke rumah?" tanyanya.
Ichigo berbisik, "Tidak. Ingat janjiku kan? Aku akan membuatmu berada di ranjang seharian. Kukira besok adalah hari yang tepat."
Rukia kembali mencubit Ichigo.
"Schatz, sepertinya kau harus berhenti berbuat itu atau aku akan membalasnya dengan 'menggigitimu," bisiknya lagi.
Rona merah kembali di pipi Rukia. Ia terlihat sangat malu.
"Ichigo!" ucap seseorang, suara dari seorang perempuan.
Wangi bunga begitu menguar saat wanita itu berjalan mendekat dan dengan cepat tanpa Rukia bisa mencegah, wanita itu berjalan melewatinya dan memeluk Ichigo-nya. Rona merahnya bertambah di pipi Rukia, bukan karena malu tapi karena marah saat wanita itu mencium pipi Ichigo. Hampir mengenai bibir.
"Tier?" jawab Ichigo kaget dan tidak bisa menolak pelukan wanita di depannya itu.
Bersambung . . . . .
ShuiRen
08.35 WIB
Facebook: ShuiiRen/Sheeva Orlando
Twitter: shewongirl
Wattpad : ShuiRen
*Siesta (pengucapan bahasa Spanyol: [ˈsjesta]) adalah tidur siang singkat setelah makan siang dalam budaya Spanyol. Kata siesta berasal dari Bahasa Spanyol, hora sexta - jam keenam (artinya, jika dihitung dari fajar sampai siang, maka diistilahkan "istirahat tengah hari").
