CHAPTER 5


"Hyung kita akan kemana?" Tanya Jongin yang masih penasaran dengan tujuan perjalanannya kali ini.

Pagi-pagi sekali setelah aktifitas bercinta mereka semalam. Jongin dapat menemukan Kyungsoo telah rapih dengan kemeja dan sweeteer berwarna hijaunya. Telah menyiapkan sarapan didalam kamar dan berdiri siap menunggunya bangun—atau mungkin hanya kebetulan.

Mata Jongin terbuka dan hal pertama yang dapat dia temukan adalah senyuman khas milik Kyungsoo telah menyambut paginya. Satu hal yang tidak dapat dia percaya adalah bahwa dia bisa tidur.

Dan kini setelah hampir selama satu jam Kyungsoo menyeretnya untuk mandi, bersiap-siap dan juga sarapan. Mereka kini telah berada di stasiun subway. Kyungsoo terlihat tenang seperti biasanya. Tapi tidak untuk dirinya. Dia begitu takut. Entah kenapa perasaan itu muncul tiba-tiba saat mereka pertama kali menginjakkan kakinya di stasiun ini.

Jongin merasakan perasaan aneh. Tidak, dia membatin untuk dirinya sendiri. Dia berharap dirinya tidak dalam keadaan buruk. Akan bahaya bila diluar tiba-tiba saja Episode Manic atau Depresi akan muncul saat ini. Dia tidak menginginkan itu. Apalagi saat ini dia bersama Kyungsoo. Jongin memundurkan kakinya tanpa disadari menjauhi kereta yang beberapa detik lalu sudah tiba dan berhenti untuk mengantar penumpang ketujuannya masing-masing.

Baru saja Kyungsoo melirik untuk mengajak Jongin. Dia terdiam ketika melihat Jongin yang kini melangkah mundur dengan tatapan kosong. Kyungsoo berjalan mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi. Karena dia merasa heran sebelumnya keadaanya baik-baik saja. Kenapa tingkahnya berubah kembali. Oh, Jangan sampai dia mengalami perubahan mood kembali.

"Jongin, kau baik-baik saja?" Tanya Kyungsoo khawatir. Namun Jongin masih diam menatap Kyungsoo dengan begitu datarnya.

Kyungsoo bingung. Apa yang harus dia lakukan saat ini. Hari ini adalah kesempatannya untuk mengajak Jongin ketempat yang seharusnya mereka kunjungi namun bila keadaan Jongin kembali seperti ini, dia tidak yakin untuk melanjutkannya. Dia khawatir bila pada akhirnya kondisi perasaan Jongin menjadi lebih buruk.

Kyungsoo menatap lekat-lekat wajah Jongin. Menunggunya untuk berbicara agar dia bisa memastikan apakah Jongin baik-baik saja atau tidak.

"Hyung? Kita akan kemana?" Tanyanya kembali dengan suara yang lebih terdengar seperti berbisik. Pertanyaan sama yang Jongin lontarkan sedar tadi.

Kyungsoo tersenyum. Nampaknya dia baik-baik saja. Dia hanya kebingungan. "Kita akan pergi kesuatu tempat yang pasti kau sendiri ingin mengunjunginya." Ucap Kyungsoo halus. Tanganya menarik pergelangan tangan Jongin dan membawanya berjalan masuk menuju kereta. "Untuk hari ini, kali ini aku yang akan membuatmu bahagia Jongin." Ucapnya kembali setelah mereka menemukan tempat duduk untuk mereka. Lagipula hari ini adalah Hari Natal. Tidak banyak orang yang berpergian. Mereka pasti sedang menghabiskan waktu bersama keluarga. Merayakan Natal bersama.

Jongin masih terdiam menatap Kyungsoo yang mengatakan hal sehalus itu. Perasaanya yang tadi merasa aneh juga dipenuhi ketakutan kini berubah dengan cepat dimulai saat Kyungsoo menarik tangannya untuk masuk. Bahkan genggamannya tidak pernah terlepas hingga saat ini. Jongin hanya bisa memberikan senyumannya kepada Kyungsoo saat ini.

"Gyeongju?"

Kyungsoo melirik wajah kebingungan Jongin saat ini. Dia tahu, Jongin pasti merasa bingung kenapa dia memabawa Jongin kesini, ketempat kelahirannya. Lebih tepat adalah kota keluarga Jongin berada. Ya, memang ini tujuannya.

"Kau ingin membawaku pulang kerumah?" Tanya Jongin lagi dan sekarang Kyungsoo mendapatkan sebuah tatapan tajam kepadanya. Mungkin Jongin akan marah.

"Tidak." Balas Kyungsoo singkat dan kembali menarik tangan Jongin untuk keluar dari stasiun subway.

"Aku tidak bercanda hyung. Aku tidak mau pulang, aku tidak mau menemui Jongdae." Ucapnya mencoba melepaskan genggaman erat tangan Kyungsoo di telapak tangannya yang saling bertautan.

"Hyung!" Teriaknya kembali dengan menghentikan langkah Kyungsoo didepannya. Kini mereka saling terdiam. Jongin menatap Kyungsoo nya marah sedangkan Kyungsoo masih dengan tatapan lembutnya. "Aku tidak ingin menemuinya."

"Memangnya aku mengatakan kita akan bertemu dengan Jongdae hyung?" Ucap Kyungsoo dengan ekspresi datarnya.

"Maksudmu?"

"Kita akan ketempat lain?"

"Kemana?"

"Kesuatu tempat. Kita akan menemui seseorang disana?"

"Temanmu?"

"Bukan, Ibumu." Bisik Kyungsoo halus dan yang dia dapatkan adalah sebuah tatapan bingung.


Jongin melangkahkan kakinya perlahan memasuki sebuah gedung besar bernuansa putih dan biru langit. Dia tidak tahu nama tempat ini namun yang jelas dia tahu. Ini adalah rumah peristirahatan. Tempat disemayamkannya abu kremasi orang-orang yang telah meninggal. Antara enggan tapi kenyataannya dia masih melangkah mengikuti Kyungsoo yang menuntunnya masuk didepan dengan Sebuket bunga aster putih ditangannya.

Jongin masih terheran. Mungkin Kyungsoo bercanda mengajaknya kesini. Untuk apa dia menemui lagi ibunya. Kenyataannya ibunya memang telah meninggal. Apa harus dia juga menuruti keinginan Kyungsoo saat ini? Rasa-rasanya dia ingin berhenti dan lari saja meninggalkan tempat ini. Namun tetap, dia merasakan sebuah dorongan kuat yang membuatnya terus masuk dan masuk lebih jauh lagi kedalam ruangan yang dipenuhi dengan almari denga etalase kaca memenuhi dinding ruangan.

Mungkin ini sudah lorong ke 8 yang Jongin lewati dan dia masih saja kalut dalam pikirannya hingga saat Kyungsoo berhenti melangkahkan kakinya. Menatapnya yang telah membungkuk member penghormatan didepan sebuah etalase kaca di barisan ke 3. Dan Jongin, dia masih terdiam takut untuk menatapnya.

Kyungsoo melirik kearah Jongin yang jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Dia tahu bagaimana perasaan Jongin saat ini. Setidaknya Kyungsoo berharap, Jongin tidak melakukan hal buruk saat ini.

"Jongin.. kemarilah." Ucap Kyungsoo halus, namun Jongin masih tetap diam. Merasa enggaan dan takut untuk mendekat. "Ibumu.. dia sedang menunggumu sekarang." UCap Kyungsoo lagi dengan nada membujuk. Tatapannya pun mengartikan bahwa ini-tidak-apa-apa.

Kembali. Dengan jantung yang semakin berdebar, Jongin memberanikan langkah kakinya mendekat kearah Kyungsoo. Dia masih menatap wajah orang yang dicintainya ini hingga dia berdiri tepat dihadapan Kyungsoo. Enggan untuk melirik kesisi lain karena dia tahu. Dia akan melihat sosok yang selama ini paling dia benci didunia ini.

Kyungsoo memberikan bunga Asternya yang entah kenapa Jongin terima begitu saja. Kembali gerak tubuhnya tidak dapat dia kendalikan dengan pikirannya.

"Tidak apa-apa. Sekali ini, lihat dia."

"Kenapa kau membawaku kesini Hyung? Apa tujuanmu sebenarnya?"

"Tujuanku adalah bahwa Ibumu masih menyayangimu, begitupun dengan kau. Kau juga masih menyayanginya."

Jongin memicingkan matanya dan menggeleng dengan tatapan kosong. "Tidak, semuanya bohong. Aku benar-benar membencinya."

Kyungsoo menghentikan langkah mundur Jongin dengan memberikannya langsung sebuah foto yang langsung dia selipkan diantara jemari Jongin.

"Kau yang menulis ini. Kau menyayanginya. Kau menyayangi keluargamu." Balas Kyungsoo kembali.

Hening.

Jongin kini sadar dengan apa yang dia tulis dulu. Tulisan yang dibuat saat dia sedang merasa dalam dibawah tekanan bipolarnya. Dia benar-benar sangat ingat.

Dia menulis pesan ini sesaat setelah dia menelpon ibunya untuk datang ke Seoul bersama ayahnya. Memaksanya untuk datang dan menjemputnya langsung agar dia benar-benar bisa pulang. Keadaan saat itu sebenarnya dia memang merindukan sebuah kehangatan keluarga.

Sebulir bening air mata langsung jatuh diantara pipi Jongin. Dia kini memberanikan diri untuk melirik kesisi kanannya yang sedari tadi mencoba dia hindarkan dari pandangannya.

Tangisannya kini benar-benar jatuh ketika kini dia melihat abu kremasi ibunya terpajang disana diantara ribuan Abu lainnya. Sebuah foto keluarga lengkap ada disana. Begitupun fotonya yang masih kecil bersama ibunya. Terpajang rapih dan manis dengan bingkai putih. Jongin tidak tahu apa yang dia rasakan. Antara rasa sesak dan sakit dia dapatkan diantara dadanya. Dia semakin menggenggam erat buket bunga yang dipeganya juga menutup rapat kedua matanya untuk menahan air matanya.

"Aku ingin menceritakan sesuatu." Ucap Kyungsoo menekan halus pundak Jongin membuat dia kembali membuka matanya. Melirik Kyungsoo dengan mata yang benar-benar merah dan basah. "Kau harus tau kenyataannya. Kau tidak bisa seperti ini terus."

Setelah mendengar semua cerita Kyungsoo. Jongin mendadak tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Dia tidak tahu bagaimana perasaan juga pikirannya. Pandangannya seolah menghitam tidak dapat melihat apa-apa. Dia hanya membatin Apa artinya ini? Namun dia tidak mendapatkan jawaban apapun.

Semakin mundur. Menjauh. Dan langsung terjatuh terduduk dilantai keramik dengan keras. Dia semakin menangis dengan kedua tangannya yang kini menekan erat menutup kedua telinganya. Meninggalkan buket bunga aster yang dipegangnnya tadi jatuh kelantai begitu saja.

"Hentikan.." lirih Jongin. Tidak ingin lagi mendengarkan cerita Kyungsoo yang kenyataannya membuat dirinya merasa sakit.

"Jongin kumohon dengarkan dulu aku." Ucap Kyungsoo.

"HENTIKAN!" Teriak Jongin dengan tangisan yang semakin keras dapat Kyungsoo dengar.

Kyungsoo merasa bersalah melihat Jongin seperti ini. Dia tidak ingin melihat orang yang dicintainya seperti ini. Dia juga menangis melihat keadaan dimana Jongin harus menerima fakta bahwa Ibunya tidak pantas untuk dibenci. Ibunya akan datang menemuinya. Ibunya mengalami kecelakaan demi menjemput putra bungsu kesayangannya.

Kyungsoo menghambur dan kini memeluk erat tubuh Jongin yang masih menangis.

"Maafkan aku.. maaf. Maaf telah membuatmu seperti ini."

Namun yang Kyungsoo dapatkan hanyalah sebuah isakan keras. Isakan penuh rasa sakit dan mungkin kemarahan. Tapi dia tidak tahu apa artinya.

"Aku jahat.." Lirih Jongin. Begitu sangat pelan, membuat Kyungsoo sendiri melepaskan pelukannya untuk menatap Jongin. Apa benar dia tidak salah dengar tadi.

"Hyung.. aku jahat." Lirihnya kembali masih dengan wajah yang menunduk dengan tangisan yang belum terhenti. "Dia meninggal karenaku.. eomma meninggal karenaku. Aku jahat hyung! Aku jahat!"

Kyungsoo tersentak mendengar apa yang dikatakan Jongin. Kembali dia memeluknya untuk sekedar menenangkannya dan apa yang dikatakannya salah.

"Tidak Jongin.. tidak!"

"Itu benar.. eomma meninggal karenaku. Kalau bukan karena aku yang memaksanya.. dia tidak akan mati seperti itu. Aku jahat hyung.. aku bodoh telah membuatnya pergi. Seharusnya aku yang mati, bukan dia."

Kyungsoo semakin erat memeluk tubuh Jongin. Dia juga semakin menangis mendengar kata-kata yang diutarkan Jongin. Semuanya tidak benar. Cukup lama menunggu Jongin untuk sedikit tenang. Kyungsoo kini melepaskan pelukannya dan beralih menyimpan kedua tangannya diatas bahu jongin dengan tatapan yang halus—sperti biasanya.

"Dengar. Kau sama sekali tidak salah. Ibumu menyayangimu. Dia datang demi dirimu."

"Aku adalah anak paling jahat karena telah membunuh ibuku sendiri."

"Siapa yang mengatakan kau seorang pembunuh?" Tatap Kyungsoo tajam. Dan Jongin semakin menundukkan wajahnya. "Temui dia dan katakan apa yang ingin kau katakan sekarang. Dia menunggumu untuk bicara kepadanya."

"Aku tidak bisa." Lirih Jongin.

"Meskipun itu demi aku?"

Jongin melirik Kyungsoo saat ini. Tatapannya melembut membuat hatinya kembali hangat dengan tatapannya. Entah sihir apa yang telah merasuki tubuhnya. Jongin hanya berpikir mungkin saat ini yang mengendalikan jiwanya bukanlah karena Bipolar, mungkin karena Kyungsoo.

Jongin hanya terdiam saat tangan halus itu menariknya untuk kini kembali berdiri dan menghadapa foto ibunya. Terlihat muda dan begitu cantik. Jongin menganggap ibunya meninggal karena perbuatannya. Dia adalah pembunuh. Bukan ibunya yang jahat, melainkan dirinya.

"Eomma.." Suaranya bergetar ketika dia kini memanggil sebuatan 'eomma' kepada ibunya yang telah bertahun-tahun hampir dia lupakan. Dia tidak dapat lagi menahan tangisannya. "Maaf, kumohon eomma.. maafkan aku."

Tanganya mendekat seolah ingin menyentuh foto ibunya namun yang dia rasakan adalah rasa dingin dari etalase kaca. "Maafkan aku.. sungguh aku tidak membencimu. Aku menyayangimu.."


Kyungsoo kembali setelah hampir selama 15 menit dia keluar hanya untuk membeli sebuah minuman. Dan dia masih mendapati Jongin yang masih terduduk menyandar dan menatap foto ibunya di almari kaca, tempat abu kremasi ibunya disemayamkan. Jongin merasa enggan untuk meninggalkan ibunya saat ini.

Kyungsoo tahu. Mungkin ini sangat berat bagi Jongin. Harus menerima kenyataan dimana bahwa dirinya harus menanggung sebuah kesalahan besar selama-bertahun tahun karena tidak ingin mempercayai keluarganya. Kyungsoo tadi sempat membujuk Jongin untuk pulang tapi dia tidak mau. Dia beralasan masih ingin menemani ibunya. Dia takut ibunya kesepian karena ibunya selalu takut untuk ditinggalkan.

Entah apa yang kyungsoo rasakan tapi dia melihat sosok Jongin yang polos dapat dia lihat sangat jelas. Dia seperti seorang anak yang ingin bertukar posisi yang kini menjaga balik ibunya. Tapi satu yang membuat Kyungsoo bersyukur karena Jongin tidak berbuat hal yang tidak-tidak. Kyungsoo hanya takut bila Jongin akan kembali kepada episode manic. Tapi dugaanya salah. Jongin baik-baik saja dan dia masih bisa mengontrol emosinya untuk tetap diam.

Kyungsoo menyerahkan sekaleng minuman Orange Juice kepada Jongin. Dia hanya melirik sekilas dan tetap diam tidak menerimanya. Kyungsoo tertunduk dan kembali menarik tangannya. Ikut terduduk berdampingan disamping Jongin bersama.

"Ini sudah hampir larut. Sebaiknya kita pulang."

"Aku ingin disini."

"Jongin.."

"Dia akan kesepian hyung."

Kyungsoo menyentuh halus telapak tangan Jongin membuatnya melirik dan kini menatap mata Kyungsoo.

"Ibumu pasti telah memaafkanmu. Kau bisa pulang dan menemuinya kembali di lain waktu."

"Tapi hyung—"

"Percayalah kepadaku." Ucapnya menggenggam erat telapak tangan Jongin.

Sesaat mereka saling terdiam dan kini Jongin balik menautkan tangannya diantara jari-jari Kyungsoo. Mengenggamnya begitu erat seolah tidak ingin terlepas.

"Aku ingat perayaan ulang tahunku yang terakhir."

Kyungsooo memandang heran wajah Jongin yang kini berubah sendu dan kembali menatap foto ibunya.

"Eomma mengatakan, perayaan bukanlah seuatu yang penting. Yang lebih penting dari itu adalah darimana kita mendapatkan ucapan kasih sayang yang tulus dari orang-orang yang mencintai kita." Kyungsoo semakin menatap bingung. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Jongin. Dan dapat dilihatnya sekilas senyum Jongin kini tampakan. "Aku tidak ingin menyia-nyiakan orang yang mencintaiku lagi."

Jongin kini menatap Kyungsoo, Wajahnya berubah. Kini tatapannya jauh lebih cerah dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Dia menampakkan senyumannya dengan mata yang berbinar cerah.

"Ayo hyung. Kita pulang." Ajak Jongin halus.


Kyungsoo masih menatap lurus kearah Jongin yang kini tengah makan dengan lahapnya. Dia sudah menuruti keinginan Jongin kemarin untuk makan Bilgogi. Meski bukan dia yang membuat. Tapi hanya ini yang bisa dilakukannya. Gyeongju ke Seoul membutuhkan waktu yang cukup panjang. Dia tidak akan sempat untuk berbelanja dan memasak. Mereka akan pulang larut malam.

Wajah teduhnya kini lebih dapat dia lihat. Beban Jongin sepertinya sudah dia lepaskan dan kini Jongin merasa lega dengan semua itu. Lihatlah dari cara dia tersenyum dan makan. Entah kenapa itu terlihat berbeda dari biasanya.

"Kau tidak makan hyung?"

Suaranya membuyarkan kamunan Kyungsoo yang tengah menatao sendu Jongin. Wajahnya memerah, dia ketahuan.

"Aku makan." Ucap Kyungsoo menyembunyikan salah tingkahnya.

Jongin hanya tersenyum kecil. "Ingin kusuapi?"

"Kau ingin menggodaku huh?" Ucap Kyungsoo membalas candaanya.

"Aku serius hyung. Aaaa…" Kini tanpa dorongan apapun Kai sudah menyumpitkan potonga kecil daging tepat dimulut Kyungsoo. Dia berniat sekali untuk menyuapinya.

"Kenapa aku harus makan? Jangan-jangan ada racunnya." Balas canda Kyungsoo.

Jongin mengembungkan kedua pipinya yang kini menunjukkan wajah anak kecilnya. "Kau mau membalas perkataanku dulu kepadamu ya?" Ucapnya kembali menarik tangan yang tadi sempat digunakan untuk menyuapi Kyungsoo.

"Kau cepat tanggap juga ya."

"Menyebalkan." Desis Kai yangmembuat Kyungsoo terkekeh geli melihat sikap Kai saat ini. Keadaanya benar-benar baik. Membawanya untuk bercanda seperti ini seolah membuatnya tidak ingat bahwa Kai memiliki kelainan Bipolar dalam dirinya.

"Suatu hari nanti akan kuajak kau kerumahku." Ucap Kyungsoo menatap sendu wajah Kai yang kini masih menikmati makanannya.

"Kerumahmu? Kerumah kedua orang tuamu? Dimana?" Tanya Jongin tanpa menatap benar-benar sedang menikmati makan malamnya.

"Ya, benar. Ke Busan."

"Aku akan senang akan hal itu." Balas Jongin yang kini menatap Kyungsoo menunjukkan senyumannya bahagia. "Aku merindukkan bagaiama suasana keluarga sesungguhnya."

"maksudmu?" kyungsoo mengernyitkan keningnya. Dia bingung dengan apa yang dikatakan Jongin kali ini.

"Tidak apa-apa." Balas Jongin kembali menunjukkan senyuman bodohnya.

Kyungsoo hanya mendesis melihat sikap Jongin yang selalu setengah-setengah saat berbicara. Sepertinya Jongin benar-benar ingin memancingnya untuk mengetahui lebih jauh dirinya. Pria yang penuh misteri. Mungkin ini julukan yang tepat untuk Kyungsoo berikan kepada Jongin saat ini.

"Hyung, kau ingin mengantarku?"

"Kemana? Aku akan mengantarmu selagi masih banyak waktu untuk kita pergi hari ini."

"aku tidak terlalu yakin akan hal ini, tapi aku ingin pulang kerumah. Aku ingin bertemu dengan Jongdae."

Sebuah senyuman kini mengulas wajah Kyungsoo. Dia benar-benar tidak menyangka Jongin akan mengatakan hal ini. Pada akhirnya Jongin benar-benar menyerah untuk menghadapi keegoisannya dan perlahan mulai menerima kenyataan sebenarnya.

"Tentu. Tentu akan mengantarmu. Denga senang hati." Ucap Kyungsoo bahagia.


Jongin merasa begitu nyaman dengan segaris senyum di wajahnya. Selama bertahun-tahun, perasaan yang telah menghilang kini kembali. Rasa kebahagiannya sepertinya lebih mendominasi dibandingkan rasa lelahnya. Dia bahkan merasa lupa denga apa yang dideritanya.

Bipolar. Kelainan sialan yang membuatnya tidak bisa mengontrol emosi, perasaan hingga pikirannya. Tapi hari ini. Keajaiban Natal kembali dia dapatkan. Dia merasa dia adalah pria normal. Sama seperti Kyungsoo, sama seperti Jongdae. Dia baik-baik saja—seperti itu.

Mengingat beberapa jam tadi saat kembali pertemuannya setelah bertahun-tahun terjadi mereka bertemu diwaktu yang benar-benar dalam keadaan yang baik.

Jongdae yang tengah menikmati waktu Natalnya sendiri dikejutkan dengan kedatangan Jongin yang entah bagaimana sudah berada didepan pintu rumahnya. Santa Claus? Apa mungkin dia yang mengirrimnya. Bahkan Jongdae masih bisa melihat wajah adiknya yang tetap sama. Dia seperti adik kecilnya yang masih berumur 6 tahun. Terlihat polos dengan wajah yang malu untuk menatapnya.

"Selamat Natal." Hanya bisikan kecil yang keluar dari bibir Jongin. Sungguh dia tidak tahu harus mengatakan apalagi. Belasan tahun tidak saling berbicara adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan Jongin lagi saat ini.

"Selamat natal juga, Jongin, adikku." Balas Jongdae begitu sangat halus. Seolah menerima dengan hangat ucapan Jongin kepadanya.

Sebuah kehangatan dapat Jongin rasakan ketika sebuah panggilan kecil dia dapatkan kembalidari Jongdae, Kakaknya. Dia benar-benar ingin menangis sekarang.

"Maafkan aku selama ini." Bisik Jongin yang masih enggan menatap wajah Jongdae dengan suara yang bergetar menahan tangis.

"Aku sudah memaafkanmu lebih dulu. Bahkan aku yang seharusnya meminta maaf."

"Aku yang salah."

"Aku yang salah Jongin."

"Ayolah aku yang bodoh."

"Adikku tidak bodoh."

Tetesan kecil mengalri dari sudut bola mata Jongin. Mendengar perkataan itu benar-benar membuatnya semakin merasa bersalah karena telah membenci Jongdae, satu-satunya keluarga yang dia miliki.

"Maaf." Isaknya lagi.

Jongdae sudah tidak tahan lagi. Dia langsung merengkuh tubuh adiknya. Memeluknya dengan begitu erat. Sungguh dia merindukan momen-momen seperti ini sepanjang hidupnya. Bisa memeluk Jongin, memeluk adiknya kembali.

"Maafkan aku, hyung. Maaf." Bisiknya dengan diikuti isakannya. Bahkan suaranya brgetar ketika dia kembali mengatakan 'hyung' kepada Jongdae. Selama bertahun-tahun dan mulai hari ini. dia tidak ingin menyia-nyiakan panggilan itu kembali.

"Aku memaafkan aku. Aku menyayangimu Jongin." balas Jongdae haru. Setidaknya dia memiliki sedikit perasaan Jongin. Dia kini kembali. Adiknya kembali kedalam pelukannya.

Kereta berhenti, menyadarkan lamunan dia sebelumnya. Dia melirik kearah luar. Satu stasiun lagi mereka akan sampai ditujuan untuk pulang. Jongin melirik kesampingnya dimana Kyungsoo kini tengah terlelap tidur dengan nyaman di bahunya. Dia tidak tega untuk membangunkan tidur nyenyak kekasihnya. Pasti dia sangat kelelahan. Tapi mereka juga harus pulang agar Kyungsoo benar-benar bisa beristirahat dengan nyaman.

"Hyung.." Bisik Jongin pelan.

Satu panggilannya mampu membuat Kyungsoo terusik dari tidurnya. Dia kini membuka matanya dan mengerjapkan matanya lucu beberapa kali.

"Kita sudah sampai?" Tanya Kyungsoo parau."Aku ketiduran ya?"

"Satu stasiun lagi dan kita sampai. Kau nampak kelelahan hyung."

"Hm.. ya.. Aku merasa tubuhku sangat pegal saat ini." Jawabnya dengan sedikit merenggangkan kedua tangannya yang seolah kaku.

"Sesampainya dirumah kau bisa beristirahat lagi Hyung."

Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya halus menyetujui saran Jongin. Dia memang benar-benar lelah saat ini. Bahkan tanpa sadar dia sudah tertidur dan menyandar di bahu Jongin. Untung kereta yang ditumpanginya saat ini adalah kereta terakhir, tidak terlalu banyak yang menaiki kereta—sangat lengang. Kyungsoo tidak terlalu malu lagipula sejujurnya dia sangat merasa nyaman untuk bersandar kepada Jongin. Dia begitu hangat.

"Kau akan terus bersandar dibahuku seperti ini?"

"Tunggulah beberapa menit lagi. Aku sedang mengumpulkan nyawaku." Ucap Kyungsoo yang masih terlihat sangat mengantuk.

Jongin hanya berdesis dan tertawa kecil menanggapi apa yang dikatakan Kyungsoo kepadanya. Lama-kelamaan Kyungsoo kini yang lebih manja kepadanya. Padahal dia merindukan Kyungsoo yang cerewet seperti biasa. Menyuruhnya makan dan meminum obat secara terus-menerus.

"Aku masih tidak percaya kau bisa secepat ini berubah. Kupikir tugasku sudah selesai sekarang" Bisik kembali Kyungsoo tanpa membuka matanya. Begitu sangat pelan.

"Eh, Apa?"

"Tidak ada."


January, 01 2013.


Untuk pertama kalinya Jongin memasuki kedalam rumah Kyungsoo. Pertama kali dia kesini dia hanya sampai di depan pintu saja tidak sampai masuk. Itupun saat dia mengajak Kyungsoo untuk pergi karena kemauannya sendiri. Tapi kini Jongin kembali karena Kyungsoo menyuruhnya. Dia tidak tahu alasannya tapi Kyungsoo sangat memaksanya untuk datang.

Awalnya dia merasa malas untuk kerumah Kyungsoo. Perasaannya merasa tidak senyaman biasanya sejak 3 hari kemarin. Bahkan dia sendiri merasa tidak ingin untuk bertemu atau menatap Kyungsoo. Hanya sekedar berjaga-jaga agar moodnya tidak terlihat buruk dihadapan Kyungsoo. Dia tidak ingin menyakiti atau membuat khawatir Kyungsoo-nya.

Dia masih ingat tadi malam. Kyungsoo secara terus menerus mengetuk pintu rumahnya dari sore. Dia tahu apa yang diinginkan Kyungsoo yaitu merayakan malam Tahun bersama. Tetapi karena moodnya yang buruk Jongin memilih diam dan tidak menemui Kyungsoo yang mungkin telah berjam-jam menunggunya diluar.

Mungkin dengan datang ke rumahnya hari ini dapat sedikit menghilangkan rasa penyesalannya karena telah membiarkan dan mendiamkan Kyungsoo untuk beberapa hari ini. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan Kyungsoo kepadanya nanti. Mungkin dia akan mengomel dan marah kepadanya atau diam dan menyembunyikan perasaanya seperti biasa—hanya kepadanya.

Jongin berjalan kecil menatap setiap isi rumah yang ada didalamnya. Keadaanya sangat berbeda. Begitu rapih, bersih dan cantik. Tidak seperti rumahnya yang berantakan, kotor dan terlihat tua. Bahkan meskipun hanya berisi barang-barang seadanya tapi semuanya adalah barang modern.

Hal konyol yang baru disadari Jongin saat ini adalah betapa lamanya dia menyembunyikan dirinya sendiri dai kehidupan luar. Bahkan dia baru kali ini melihat TV LCD di rumah Kyungsoo yang sangat besar. Lihatlah barang-barang elektronik lainnya. Jongin merasa dirinya mengalami perjalanan waktu dari jaman dulu ke era modern.

"Kau sedang apa?" Tanya Kyungsoo heran yang menatap Jongin yag kini tengah memperhatikan tv-nya. Jongin yang terkejut sontak membalikkan tubuhnya dan menatap Kyungsoo dengan penuh keterkejutan. Kyungsoo sedikit tertawa melihat ekspresi Jongin. "Kau ini lucu sekali."

Kyungsoo kini mendekat dan meraih pergelangan tangan Jongin dan mengusapkannya pelan ke pipinya sendiri. "Masih hangat. Kupikir kau sakit karena tidak ingin menemuiku." Ucapnya tersenyum.

"Eh, hyung kalau boleh aku tahu. Tahun ini tahun berapa?"

Kyungsoo kembali menatap heran yang menanyakan hal semacam itu dengan polosnya. Apa Jongin bercanda. Apa dia benar-benar tidak tahu dengan tahun berapa ini.

"Kenapa?"

"Aku hanya merasa heran saja. Aku merasa menjadi orang tua saat ini."

Kyungsoo tertawa mendengar pernyataan Jongin yang terlihat lucu. "Ya. Kau memang orang tua. Kau hidup di jaman batu dan tahun ini adalah jaman logam. Ayolah.. ikut aku. Kau harus membantuku." Tanpa pikir panjang Kyungsoo langsung menyeret Jongin kedalam kamarnya dan ekspresi Jongin masih tetap sama—innoncent.

Saat pertama Jongin diseret kekamar Kyungsoo hal yang paling bisa dijelaskan saat ini adalah berantakan. Sangat berbanding terbalik dengan ruangan lainnya. Bajunya yang berantakan dan nakas meja yang kini mulai sedikit kosong.

"Berantakan sekali."

"Tentu saja. Maka dari itu aku menyuruhmu kesini untuk membantuku membereskan ini."

"Semua ini?!"

"Ya.. Bantu lipat semuanya dan tolong masukkan kedalam koper."

Jongin hanya mengangguk meng-oh-kan. Tapi beberapa detik kemudian dia kini baru tersadar. Tunggu, koper? Untuk apa?"

"Koper? Kenapa koper? Kau masih mempunyai lemari Hyung."

Kyungsoo menatap Jongin dan kini matanya mulai menyendu. "Aku harus magang di rumah sakit sekarang Jongin."

"Hyung.. kau kan masih bisa menggunakan subway. Jarak rumah sakit kesini bahkan tidak sejauh dari Seoul ke Incheon."

"Aku magang di rumah sakit lain Jongin. Aku akan kembali ke Busan, kerumahku. Jadi aku bisa bekerja di rumah sakit ayahku."

"Hyung ingin meninggalkanku selamanya ya?"

"Siapa yang mengatakan selamanya? Aku hanya pergi sementara."

"Pembohong!" Ucap Jongin pelan menatap Kyungsoo yang kini terlihat bingung harus mengatakan apalagi. Sepertinya dia salah bicara lagi saat ini.

"Jongin dengarkan aku dulu." Kyungsoo menarik tangan Jongin kedalam genggamannya dan lagi. Jongin menghempaskannya dan menjauhkan tangannya sendiri dari tangan Kyungsoo. Berbalik dan melangkah pelan meninggalkan Kyungsoo yang kini mematung melihat ekspresi Jongin.

Kyungsoo salah. Dia berpikir keadaanya telah membaik. Tapi tidak sepenuhnya. Dia kembali menjadi Jongin yang dulu bila dia merasa tertekan atau merasakan sesuatu yang tak nyaman bila ada yang telah merusak moodnya.

Jongin hanya berjalan meninggalkan Kyungsoo. Hatinya merasa sakit tapi disisi lain dia merasa tidak ingin pergi begitu saja dari rumah ini. tetapi langkah kaikinya sendiri yang menuntunya untuk berjalan keluar dari dalam rumah Kyungsoo dan berhenti tepat dihalaman rumah Kyungsoo sendiri.

Dia tidak tahu harus melakukan apalagi. Perasaannya campur aduk. Antara dia ingin marah, kecewa dan sedih. Bahkan kakinya terasa tidak sanggup lagi untuk berjalan. Dia membungkuk dengan kedua tangan bertumpu dilututnya dan menahan kakinya agar tidak jatuh. Sepertinya kakinya ikut membeku karena cuaca dingin diluar saat ini. Apalagi saat ini Jongin hanya menggunakan sweeter tipis tanpa jaket tebal ataupun scarf.

Siapapun. Sungguh.. dia rasanya ingin menangis saat ini.

"Jongin."

Kyungsoo yang baru saja keluar dari rumahnya langsung menyentuh pundak Jongin halus. Dia merasa khawatir dengan keadaan Jongin. Dia takut Jongin kembali memburuk karena tekanan yang dialami olehnya dan tentu Bipolarnya.

Lagi. Dan lebih kasar dari sebelumnya Jongin menghempaskan tangan Kyungsoo menjauh dari tubuhnya dan segera berlari meninggalkan Kyungsoo juga rumahnya. Dia membutuhkan rumahnya saat ini. Dia membutuhkan kamarnya yang akan membuatnya tenang.

Kyungsoo yang terkejut ikut berlari untuk mengejar Jongin. Tanpa alas kaki Kyungsoo berlari mengejar Kyungsoo. Dia harus sesegera mungkin menenangkan Jongin saat ini sebelum keadaan yang lebih buruk kembali menimpa Jongin. Dia bertanggung jawab dengan semua yang terjadi kepada Jongin. Apalagi kali ini Jongin seperti ini karena dirinya.

'Grap!'

Kyungsoo berhasil meraih tangan Jongin dengan kuat. Bahkan saat ini Kyungsoo tidak peduli lagi dengan suhu dingin yang dirasakannya ditelapak kakinya sekarang karena salju. Yang dia pedulikan saat ini adalah Jonginnya.

"Lepaskan!"

"Tidak Jongin! Kau salah paham. Dengarkan aku dulu baik-baik."

"Kubilang lepaskan!"

"Jongin!"

"LEPASKAN BODOH!" Jongin berteriak keras dan kembali menarik tangannya kasar hingga membuat Kyungsoo ikut terhempas jatuh keaspal yang membeku.

Kyungsoo hanya sedikit meringis ketika siku tangannya harus menahan tubuhnya sendiri saat dia jatuh. Beberapa tetangga yang kebetulan sedang berada diluar kini berdatangan mengerubungi mereka berdua. Dan tentunya yang diperhatikan mereka saat ini adalah Jongin. Mereka menatap Jongin dengan tatapan penuh kebencian dan amarah. Dan Kyungsoo sendiri masih tersungkur dan menahan tangisnya sendiri.

Jongin merasakan ketakutan yang sangat besar saat ini. Sesaat dia melirik Kyungsoo hingga akhirnya mereka bertatapan untuk beberapa detik.

"Hei! Sialan! Jangan ganggu tetanggamu sendiri seperti inI!"

"Dia memang tidak beres!"

"Seharusnya kau pikirkan siapa kau sebenarnya! Dasar orang gila yang aneh!"

Umpatan dan cacian trus diungkapkan beberapa orang kepada Jongin saat ini. Dan Kyungsoo sendiri dibantu untuk berdiri oleh beberapa orang lain. Dia benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena dia sendiri merasa terkejut dengan kejadian yang dialaminya saat ini.

Tubuh Jongin sedikit bergetar. Dengan tatapan yang kosong dia memundurkan tubuhnya perlahan menjauhi kerumunan yang kini beberapa orang menatapnya begitu kejam. Tatapan yang paling tidak disukainya. Dia hanya bisa menutup kedua telinganya rapat tidak ingin mendengarkan beberapa umpatan dan cacian yang dilayangkan kepadanya. Dalam hatinya dia terus mengatakan kepada dirinya sendiri. 'Benarkah? Benarkah? Benarkah?'

Hingga akhirnya dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain berlari cepat meninggalkan kerumunan dan memasuki kedalam halaman rumahnya. Langsung masuk begitu saja dengan pintu yang terbanting saat ditutup. Jongin benar-benar tidak ingin mendengarkan hal itu.

Dan kini Kyungsoo hanya menatap sendu kearah pintu rumah Jongin yang sudah tertutup rapat. Telapak tangannya menutup sikunya sendiri yang kini sedikit berdarah. Bahkan mungkin rasa sakit yang dialaminya saat ini tidak seberapa dengan rasa sakit yang dialami Jongin saat ini. Semuanya karenanya sehingga Jongin harus mengalami hal buruk seperti tadi. Dia tidak bisa melakukan apa-apa sebagai kekasihnya.

"Maafkan aku, Jongin."


Jongin melangkah cepat dan beberapa kali melemparkan apapun yang dia temui dihadapannya. Entah itu barang tumpul sekalipun dia akan tidak segan untuk memukul dan menendangnya keras. Dia ingin marah. Sangat. Dia ingin marah kepada orang-orang yang telah mengatakan hal buruk kepadanya seperti itu. Dia sangat membencinya dan ini adalah kali pertama dia mendapatkan hujatan kasar seperti itu. Rasanya dia ingin membunuh dirinya sendiri bila memang benar kenyataannya dia gila dan aneh. Tapi yang lebih membuatnya ingin marah adalah Kyungsoo.

Entah menghilang kemana rasa sayangnya saat ini. Bahkan untuk sekarang rasa benci dan kecewanya lebih mendominasi dari perasaan peduli dan cintanya kepada Kyungsoo. Dan untuk menumpahkan perasaan marahnya. Dia memukul keras apapun yang ada dengan tanganya sendiri. Hingga dia tidak peduli dengan darahnya yang kini mulai keluar kana luka yang dibuatnya sendiri. Dia terlalu sakit harus menerima kenyataan seperti ini dan luka tangannya tidak akan pernah sebanding dengan apapun. Dia benar-benar berharap Tuhan benar-benar mengirimkan malaikat untuk sesegera mungkin mencabut nyawanya saat ini. Dia benar-benar sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi untuk hidup. Hingga tanpa sadar kini dia menangis terduduk dengan tubuh bersandar di dinding rumahnya. Meninggalkan kekacauan rumahnya yang kini sudah sangat berantakan.


Kyungsoo terus menggigiti kuku-kuku jarinya kecil. Dia kini terduduk dilantai dan menyandarkan tubuhnya disisi ranjangnya. Kedua kakinya menekuk dan tagannya memeluk erat kakinya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Apa dia harus tidur atau tetap terjaga saat ini. Yang jelas yang dia rasakan saat ini ketakutan yang teramat besar.

Suara keras itu, teriakan itu dan bantingan-bantingan benda itu. Dia tahu semuanya dan dia ingat suara itu pernah terjadi beberpa bulan yang lalu. Tepat disaat dia pertama kali menjadi tetangga Jongin. Pikirannya kini menghayal jauh. Dia takut Jongin terluka, dia takut Jongin akan melakukan hal buruk dan satu-satunya yang dia pikirkan sangat keras adalah Tentang Jongin yang kemungkinan akan melakukan percobaan bunuh diri. Dia tidak tahu harus apa lagi. Dia ingin menemui Jongin saat ini tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.

Kyungsoo beberapa kali mengusap kepalannya kasar.

"Ya.. Tuhan.. apa yang aku lakukan. Seharusnya aku tidak mengatakan itu. Seharusnya aku tidak pergi dengan keadaan Jongin yang sudah sangat jelas begitu buruk. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Tolong jaga dia."

Dia hanya menunduk dan berdo'a berharap tidak ada kejadian buruk yang menimpa Jongin. Dia sangat mencintai Jongin. Bila sesuatu yang buruk terjadi kepadanya itu semua karena salahnya dan dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri selama dia hidup. Bahkan sepertinya tangisannya saat ini tidak akan merubah apapun.

Ini adalah hari kepergiannya. Namun Kyungsoo masih merasa enggan untuk pulang. Itu semua karena Jongin. Dua hari ini dia masih mencemaskan Jongin. Kyungsoo telah mencoba untuk menemuinya namun Jongin tidak mau membukakan pintunya. Bahkan kemarin Jongin menempelkan sebuah memo didepan pintunya "Jangan temui aku." Menjelaskan bahwa Jongin benar-benar tidak ingin menemuinya. Tapi setidaknya dengan pesan itu Kyungsoo tahu bahwa Jongin baik-baik saja. Tidak mati karena percobaan bunuh diri yang terus terbayang dikepalanya.

Seharusnya dia pergi tadi siang. Tapi dia masih memutuskan untuk menundanya hingga malam ini. Mungkin pesan yang dikirimnya kemarin kepada Jongin dapat dibaca olehnya bahwa dia akan pergi hari ini dan jongin mau menemuninya untuk sementara. Namun hingga semalaman ini Jongin masih tidak ada kabar. Dia seolah menghilang.

Perasaannya berkecamuk saat ini. Kyungsoo menangis. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Apa dia harus benar-benar pergi saat ini atau kembali ke rumah Jongin untuk mencoba menemuinya meskipun sudah sangat jelas Jongin melarangnya untuk menemuinya. Tapi sungguh perasaanya benar-benar tidak nyaman.

Sekarang sudah masuk jam 8 malam. Dia harus segera pergi saat ini sebelum malam semakin larut. Sesekali dia melirik kearah jendela. Menatap Keadaan rumah Jongin yang begitu gelap dengan suasana yang sepi. Sama seperti halnya rumah kosong. Kembali untuk terakhir kalinya. Kyungsoo mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Jongin kembali. Entah keberapa puluh kalinya dia melakukan ini tapi dia hanya memastikan bahwa Jongin baik-baik saja—namun tetap tidak ada jawaban.

Memikirkan banyak kemungkinan yang terjadi. Mungkin Jongin kini benar-benar kecewa dan benci kepadanya hingga dia tidak mau menemuinya kembali. Entah kemana perginya seorang Kyungsoo yang percaya diri dan selalu bisa mengalahkan semua rasa takutnya untuk menghadapi kondisi Jongin. Tapi saat ini sangat jauh berbeda. Kyungsoo merasa dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Meski dia akan kembali lagi dia tidak tahu apa nanti Jongin dapat menerimanya kembali atau tidak sama sekali.

Kyungsoo menarik kembali kopernya dan kini berjalan dengan perasaan kalut dihatinya. Dengan perasaan berat dia mengunci pintu rumahnya sendiri untuk dia tinggalkan sementara waktu ke Busan untuk bekerja magang di rumah sakit ayahnya. Kyungsoo sedikit menghembuskan nafasnya menghadapi kenyataan bahwa dia tidak bisa menemui Jongin hingga dihari dimana dia harus pergi.

Sekali lagi kini Kyungsoo kembali melirik kearah rumah Jongin untuk sedikit membesarkan hatinya bahwa Jongin akan baik-baik saja. Dan tetap sama tidak ada yang berubah. Kyungsoo kini pasrah bila Jongin memang membencinya. Dia beralih menuju mobilnya yang kini sudah terparkir siap dikemudikan. Tetapi tatapannya terkunci ketika seseorang kini telah berdiri didepan gerbangnya dengan tatapannya yang sendu tapi begitu sangat dalam. Dengan scarf yang melilit di lehernya dan jekat tebal yang dipakainya. Jongin berdiri menatap Kyungsoo dengan kedua tangan masuk kedalam saku jaketnya menahan suhu dingin mala mini karena dia telah menunggu Kyungsoo hampir selama 4 jam. Kurang lebih selama itu yang mampu membuat kakinya sendiri tidak bisa bergerak dan mati rasa.


Jongin kini duduk diteras halaman rumah Kyungsoo dengan kedua tangan yang ditangkup oleh Kyungsoo. Berusaha untuk menghangatkan tubuh Jongin yang kini bergetar karena kedinginan. Jongin sendiri tidak tahu kenapa dia mau saja untuk masuk mengikuti ajakan Kyungsoo bahkan hingga tangannya kini dipegang erat oleh Kyungsoo. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut Jongin saat ini.

"Berapa lama kau diam disana?" Tanya Kyungsoo tanpa menatap Jongin yang masih sibuk menghangatkan tangan Jongin. Sesekali dia meniupnya untuk sekedar berbagi kehangatan. Namun tetap tidak ada jawaban. "Kau tahu kan cuaca saat ini begitu sangat dingin. Kenapa kau harus berdiri disana. Bagaimana jika salju turun dan membuatmu sakit huh?" Tanya Kyungsoo masih lembut seperti biasanya.

Jongin hanya diam tidak mengatakan apa-apa selain memperhatikan Kyungsoo yang kini masih tetap perhatian kepadanya. Bahkan dia merasa menyesal telah melukai Kyungsoo kemarin. Seharusnya dia bisa mengontrol kembali emosinya dan mendengarkan semua penjelasan Kyungsoo. Mungkin bila dia adalah orang normal dia bisa melakukan itu. Tapi tidak dengan dirinya sebenarnya. Dia bukan orang normal. Dia adalah penderita Bipolar yang setiap saat akan merubah mood kapan saja dan dimana saja.

Sebenarnya alasan dia kesini adalah untuk meminta maaf kepada Kyungsoo. Dia merasa sangat menyesal dan bersalah. Namun dia tidak tahu harus melakukan apa saat dia telah berada di depan pintu gerbang rumah Kyungsoo. Dia ingin masuk hanya saja hatinya seolah berkata lain sehingga memutuskan dia untuk menunggu. Sejak dia menerima pesan Kyungsoo yang akan pergi. Dia tidak dapat berpikir apa-apa lagi sehingga akhirnya dia memutuskan datang. Mungkin dia akan lebih menyesal karena tidak dapat melihat Kyungsoo saat pergi nanti.

"Biar kubuatkan dulu Teh hangat. Kau sangat kedinginan jongin." Baru saja Kyungsoo ingin bangkit dari duduknya Jongin menahan tangan Kyungsoo agar tidak pergi. Dan kembali menarik tangan Kyungsoo untuk tetap duduk.

"Tidak, aku hanya membutuhkanmu saat ini hyung."

Kyungsoo belum sempat memberi komentarnya tapi mulutnya seolah terkunci rapat ketika dengan tiba-tiba Jongin memeluknya begitu erat seolah tidak ingin melepaskannya. "Maafkan aku hyung.. maaf. Sungguh aku benar-benar menyesal." Bisiknya pelan.

"Jongin."

"Aku seharusnya belajar dari kejadian-kejadian yang pernah kualami tapi aku masih belum bisa mengontrol emosiku sendiri. Aku sangat terlihat buruk kemarin."

"Jongin.. dengarkan dulu aku—"

"Bila kau ingin mengatakan ini semua salahmu itu salah hyung."

Kyungsoo terdiam. Jongin mengetahui apa yang akan dikatakannya. Dia tidak tahu harus mengatakan apalagi selain menunduk menahan tangisannya dipelukan Jongin saat ini.

"Baiklah ini salah kita berdua." Jawab Kyungsoo halus mencoba mencari jalan tengah. Jongin menarik kepalanya dan menatap wajah Kyungsoo yang kini malah menunjukkan senyumannya. "aku salah, kau salah. Aku minta maaf, kau juga minta maaf. Kita impas. Tidak ada lagi masalah."

"Bagaimana mungkin menjadi semudah itu hyung?"

"Aku yang memudahkannya. Jadi sudahlah. Aku tidak ingin terlarut dalam masalah. Setidaknya kali ini aku senang karena kau dapat memelukku lagi seperti biasanya. Aku berpikir aku akan kehilanganmu selamanya Jongin." Ucapnya lagi dengan menunjukkan senyumannya seperti biasa.

Jongin ikut menyunggingkan senyumannya. Dia merasa beruntung bisa memiliki Kyungsoo yang benar-benar memiliki hati sangat lembut. Bahkan begitu sering dia menyakiti Kyungsoo tapi dia masih bisa saja memaafkannya. Kembali dia memeluk tubuh Kyungsoo erat begitupun dengan Kyungsoo yang membalas sama eratnya untuk membagikan kehangatan kepada tubuh Jongin yang sangat dingin.

"Aku juga hyung. Kupikir aku akan kehilanganmu. Katakan kalau kau memang benar-benar untuk pergi sementara waktu hyung."

"Itu memang benar. Aku tidak akan lama. Aku pasti kembali."

Cukup lama mereka terhanyut kedalam pelukan. Hingga akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk yang pertama melepaskan pelukan itu dan beralih kembali menggenggam tangan Jongin yang masih saja dingin.

"Seharusnya kau menghangatkan tubuhku dengan pelukanmu seperti tadi." Ucap Jongin kembali menatap Kyungsoo yang sama sekali tidak menatapnya.

"Diamlah.. Kau masih selalu saja protes dengan apapun yang telah aku lakukan."

Jongin sedikit tersenyum menatap Kyungsoo-nya. Dia pasti akan sangat merindukan Kyungsoo ketika dia pergi nanti. Meskipun dia sedikit merelakan kepergian Kyungsoo yang hanya untuk sementara takut. Entah kenapa hatinya tetap berkata lain untuk mencegahnya pergi. Meskipun dia melakukan itu Kyungsoo pasti akan tetap pergi.

Sesaaat Jongin memperhatikan Kyungsoo. Suara isakan kecil terdengar darinya namun tetap dia masih menunduk menyembunyikan wajahnya ketika Jongin mencoba mengamati apa benar dia menangis atau tidak.

"Hyung.. kau menangis."

"Tidak." Dia mengelak dengan mengatakannya pelan. Padahal sudah sangat jelas pasti dia menangis apalagi suara terdengar bergetar menahan sesak dan tangisan yang mungkin akan keluar lebih keras lagi.

"Hyung.. kenapa kau yang menangis? Seharusnya aku yang menangis."

"Jangan.. kau jangan menangis. Nanti siapa yang akan mengusap air matamu saat aku tidak ada huh?"

"Maka dari itu janganlah menangis karenaku."

"Aku tidak menangis karenamu." Ucap Kyungsoo menaikkan wajahnya kini menatap kembali Jongin. Dan dapat terlihat jelas matanya sudah berair dan memerah tanda bahwa dia memang telah menangis. "Aku menangis Karena siapa nanti yang akan merawat tanamanku. Bunga matahariku pasti tidak akan terurus karena kau hanya mengurus tanaman kaktusmu saja."

Kyungsoo berbohong karena dia tidak ingin secara langsung menunjukkan kesedihannya. Itu akan semakin membuatnya semakin merasa enggan untuk pergi. Apalagi mengingat kondisi Jongin yang kadang stabil ataupun merasakan frustasi. Dia takut Jongin akan menyakiti dirinya sendiri lagi.

Mendengar alasan itu. Jongin hanya berdesis dengan senyuman kecil dibibirnya. Dia tahu Kyungsoo berbohong kepadanya. Bagaimana bisa disaat seperti ini dia lebih memikirkan tanaman bunga mataharinya dibandingkan kekasihnya sendiri. Tapi Jongin memilih diam tidak menanggapi ucapan Kyungsoo kepadanya.

Sebaliknya. Jongin malah mendekatkan wajahnya dan mengecup pelan kedua mata Kyungsoo yang berair secara bergantian. Begitu halus juga lembut. Dan Kyungsoo hanya menutup matanya merasakan bibir itu menyenuh kelopak matanya.

"Sudah. Jangan menangis lagi." Ucap Jongin kembali. Dia tidak ingin terus melihat Kyungsoo menangis lagi. Itu terlalu menyakitkan baginya. Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya kecil menyetujui apa yang dikatakan Jongin. Lagipula dia merasakan sedikit rasa nyaman.


Mereka masih bertahan ditempatnya masing-masing. Kyungsoo yang menggenggam tangan Jongin erat dengan kepala yang menyandar di bahu Jongin. Bahunya memang selalu menjadi tempat ternyaman baginya.

"Hyung.. sampai kapan kau akan menunggu kepergianmu?"

Jongin sadar. Keinginannya untuk sementara diam bersama Kyungsoo membuatnya akan semakin enggan untuk melepaskan Kyungsoo pergi. Tapi Kyungsoo harus tetap pergi apalagi malam semakin larut.

"Entahlah. Aku merasa tidak ingin untuk pergi."

"Hyung—"

"Aku takut tidak melihatmu lagi."

"Apa yang kau katakan?" Jongin menatap Kyungsoo dengan raut wajah kebingungan. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kyungsoo tadi.

"Kau yakin ingin melepasku pergi."

"Aku mana mungkin menghalangimu pergi. Apalagi ini bersangkutan dengan tugasmu yang akan menjadi Dokter. Lagipula kau mengatakan pergi untuk sementara. 6 bulan saja kan?"

"Iya. 6 bulan." Ucap Kyungsoo lemas dengan menundukkan kepalanya.

Jongin tanpa aba-aba langsung berdiri dan menarik koper Kyungsoo dan berjalan begitu saja keluar meninggalkan Kyungsoo yang kini menatap kebingungan dengan apa yang dilakukan Jongin.

"Kau mau membawa koperku kemana Jongin?"

"Tentu saja membantumu membawanya."

"Aku pergi menggunakan mobil Jongin."

"Mobil? Ah.. tidak tidak.. jangan gunakan mobil lagi." Ucap Jongin mengelak. Dia masih takut kejadian buruk menimpa Kyungsoo nanti berakhir seperti ibunya. Dia masih memiliki rasa trauma yang besar dengan mobil.

Kyungsoo bergerak dan berjalan cepat untuk menahan kepergian Jongin yang baru saja akan melewati gerbang rumahnya. Dia menahan tangan Jongin untuk mencegahnya.

"Apa karena traumamu? Percayalah. Aku akan baik-baik saja." Ucap Kyungsoo yang tahu bagaimana keadaan Jongin.

"Hyung. Kau tidak boleh menggunakan mobil."

"Semalam ini aku harus pergi menggunakan apa ke Busan?"

"Menggunakan Subway hyung."

"Tidak ada Subway yang menuju Busan Jongin."

"Pesawat?"

"Jangan bercanda Jongin. Tidak akan terjadi apa-apa."

"Aku katakan tidak boleh!" Jongin bersikeras dan sedikit berteriak kearah Kyungsoo. Menyadari dengan apa yang baru saja dilakukannya. Jongin langsung terdiam ketika melihat Kyungsoo ikut terdiam karena teriakan yang diterimanya. Dia bersalah. "Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi kepadamu. Aku ingin menjagamu karea kau adalah satu-satunya orang yang aku miliki saat ini."

Kyungsoo membuang nafasnya perlahan. Baiklah dia mengalah. Demi Jongin apapun dia lakukan agar Jongin bisa lebih nyaman dan merasa tidak terlalu mengkhawatirkannya.

"Baiklah. Aku akan menggunakan Bus."

"Tapi hyung—"

"Tidak akan terjadi apa-apa bila aku menggunakan Bus. Percayalah."

Sesaat Jongin terdiam. Ada sedikit keraguan yang dirasakannya tapi dia tidak bisa mengatakannya. Hingga beberapa detik kemudian dia merasakan tangan Kyungsoo yang kini menekan halus di pipinya dan bibir itu mengecup bibirnya begitu sangat singkat—Kyungsoo menciumnya.

"Ayo antar aku ke halte sekarang." Ucap Kyungsoo tersenyum menarik halus tangan Jongin untuk pergi sedangkan Jongin sendiri masih mematung dengan apa yang dilakukan Kyungsoo kepadanya. Terjadi begitu sangat cepat.

"Jangan lupa untuk makan sayuran. Minumlah obatmu dengan teratur. Kau harus lebih sering menemui doktermu dan sering-seringlah mengunjungi Jongdae Hyung."

"Kau telah mengatakan itu berulang kali Hyung. Bahkan mungkin berpuluh-puluh kali. Apa tidak ada kata lain. Aku hampir mengingat semua itu."

Kyungsoo sedikit tertawa menyadari betapa cerewetnya dia terhadap Jongin. Tentu saja dia mengatakan itu karena dia merasa khawatir dengan keadaan Jongin selepas dia pergi untuk 6 bulan kedepan. Bahkan sepertinya Jongin sudah sedikit bosan mendengar semua yang dikatakanya. Terlihat sangat jelas kini Jongin yang beberapa kali mengacak rambutnya dan mengusap telinganya.

"Ada. Kau harus bersungguh-sungguh menjadi seorang photographer sekarang."

"Photographer?" Jongin melirik Kyungsoo bingung dan Kyungsoo hanya tersenyum dengan apa yang dikatakannya.

"Iya. Kau mengatakan ingin membuat pameran photomu sendiri. Jadi gapailah impianmu itu."

"Aku tidak yakin."

"Heii.. kenapa begitu." Ucap Kyungsoo kecewa dengan menyikut pelan sisi tubuh Jongin yang kini kembali tidak menatapnya.

Tidak ada lagi suara diantara mereka. Apalagi malam ini hanya mereka berdua yang ada di Halte. Mereka menuggu bus terakhir yang akan mengantarkan Kyungsoo ke Busan. Semoga saja masih ada dan mereka tidak telat.

"Hyung aku memiliki permintaan."

"Apa itu?" Tanya Kyungsoo semangat.

"Datanglah disaat hari ulang tahunku nanti. 14 Januari. Aku ingin merayakan ulang tahunku bersama denganmu."

"Benarkah? Ulang tahunku 12 Januari." Jongin kembali melirik Kyungsoo yang kini merubah tatapannya dengan wajah antusias. "Wah.. kebetulan sekali. Ulang tahun kita bisa saling berdekatan seperti ini. Baik aku akan datang."

Jongin tersenyum dengan pernyataan Kyungsoo kepadanya. "Benarkah? Kalau begitu aku akan merayakan ulang tahun untukmu dan kau harus merayakan ulang tahun untukku hyung."

"Ya.. aku akan merayakannnya untukmu." Ucap Kyungsoo tersenyum berjanji untuk datang demi Jongin. "Bila ada waktu kau harus berkunjung kerumahku. Pergilah ke Busan."

Sekilas Kyungsoo meraih dompetnya dan mengeluarkan kartu namanya. Berisi nomor lengkap dan alamat lengkap rumahnya di Busan. Lalu memberikannya kepada Jongin yang dia terima begitu saja.

"Kenapa aku harus pergi kesana?"

"Hanya berjaga-jaga saja?" Ucap Kyungsoo datar yang kini berdiri karena Bus yang dia tunggu kini telah datang.

"Yak! Hey! Katakan yang lebih jelas hyung."

"Apa maksudmu? Sudahlah aku harus segera pergi. Bus-nya sudah datang."

Kyungsoo buru-buru masuk kedalam bus. Mencoba menghindari pertanyaan Jongin yang mungkin akan lebih jauh lagi. Bahkan dia sendiri tidak tahu kenapa dia mengatakan hal seperti itu. Konyol sekali. Dia duduk dengan nyaman disalah satu kursi dan dia bisa melihat Jongin yang kini masih menatapnya bingung.

Kyungsoo sedikit terkikik geli melihat ekspresi Jongin yang sangat lucu. Dia membuka jendela bus dan sedikit mengeluarkan kepalanya.

"Hey pria aneh. Cepatlah pulang sebelum kau mati membeku disana." Ejek Kyungsoo. Sekali saja. Dia ingin mengajak bercanda Jongin. Bagaimana ekspresinya nanti. Hingga Mobil Bus kini bergerak Jongin masih saja mematung menatapnya heran.

"Hei.. kau berhutang penjelasan kepadaku Do Kyungsoo!"

"Namaku bukan Do Kyungsoo. Namaku Kim Kyungsoo!" Teriaknya begitu sangat keras. Dia menunjukkan senyum cerahnya. Dia akan sangat merindukan Jonginnya nanti. Kyungsoo melambaikan tangannya dan berlalu dengan bis yang membawanya pergi.

Jongin yang masih mematung semakin terdiam ketika Kyungsoo mengatakan namanya Kim Kyungsoo. Entah kenapa dia merasa pipinya kini mulai panas. Ada apa ini? Bahkan kini senyuman Kyungsoo terus terbayang dikepalanya.

Dia benar-benar digilai oleh Kyungsoo dan sepertinya Kyungsoo lebih gila darinya. Jongin hanya tersenyum dan menggaruk pelan kepalanya. Dia sedikit merasa malu tapi juga bahagia dalam waktu yang bersamaan. Sungguh dia sangat mencintai Kyungsoo. Sedikit konyol tapi Jongin ingin Kyungsoo untuk cepat-cepat kembali pulang dan tinggal bersamanya kembali.

Namun hari-harinya untuk menunggu Kyungsoo berakhir sia-sia saja. Sejak hari terakhir mereka bersama dan mengantarkan pergi Kyungsoo. Dia tidak pernah kembali. Tidak ada. Dia benar-benar menghilang. Tidak ada kabar ataupun lainnya. Bahkan nomornya sudah tidak aktif.

Jongin terlalu lelah untuk menunggu. Hingga satu tahun dia meyakinkan Kyungsoo pasti akan kembali tapi kenyataannya dia tidak pernah kembali lagi. Bahkan rumah Kyungsoo yang bersisian dengannya telah dikosongkan begitupun dengan mobilnya yang telah menghilang entah pergi dibawa kemana oleh beberapa orang kurir beberapa bulan setelahnya. Sangat aneh.

Hingga sampai saat ini. Kini dia menyadari bahwa Kyungsoo tidak benar-benar mencintainya—mungkin—dia hanya main-main—dengan perasaanya. Lihatlah. Dia tidak menepati janjinya kembali. Membuat Jongin harus menjadi seseorang yang lebih buruk. Jauh lebih buruk dibandingkan sebelum-sebelumnya.


09.45 P.M

Malam ini Jongin memilih untuk menyendiri didalam ruangan galerinya. Entahlah dia sama sekali tidak ingin melihat sosok yang telah mengingkari janjinya. Seharian ini Jongin mencoba menghindarinya. Dia ingin Kyungsoo sadar bahwa kehadirannya sekarang percuma saja. Sia-sia saja. Tidak ada yang harus diharapkan lagi diantara mereka. Semuanya telah berakhir satu tahun kemarin—dan Jongin menganggapnya begitu.

Dia menatap beberapa foto yang telah berbingkai dengan rapi terpajang dibeberapa dinding. Dan semuanya adalah foto-foto Kyungsoo. Secara bergantian Jongin mengamatinya. dilihatnya saat ini adalah foto perjalanan mereka di Pulau Jeju. Kyungsoo yang terduduk dengan damainya diantara rerumputan hijau yang menghadap langsung kearah laut lepas. Juga salah satu yang jadi favoritnya. Kyungsoo dengan bunga mataharinya. Bunga yang menyadarkannya bahwa Kyungsoo adalah dunia baru dalam kehidupannya. Dia matahari yang telah mencerahkan kehidupan gelapnya selama bertahun-tahun.

Jongin terdiam menikmati setiap lekuk wajah yang tersenyum itu. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Tapi ini adalah satu-satunya foto yang membuatnya merasa hangat. Tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin perasaan kecil yang masih tersisia di sudut hatinya yang paling dalam. Tapi Jongin sendiri mencoba mengusir semua itu.

2 hari lagi, tepat dihari ulang tahunnya. Impiannya telah benar-benar terbangun dengan sempurna. Dia bisa menyelenggarakan pameran fotonya sendiri. Entah mungkin sugesti yang telah diberikan Kyungsoo dulu kepadanya. Itu adalah satu-satunya yang paling diingat oleh Jongin. Dia harus meraih impiannya. Dia harus mengadakan pameran fotonya sendiri. Dan tinggal menunggu hari itu. Impiannya akan benar-benar terwujud. Ada sedikit perasaan bangga namun juga kecewa.

Hal yang paling dia kecewakan adalah Kyungsoo kembali datang diwaktu yang tidak tepat. Sejujurnya kemarin malam dia sudah sedikit nyaman dengan moodnya yang membaik. Memastikan bahwa di hari pameran nanti dia akan baik-baik saja. Tapi dia kembali datang dan menghancurkan semuanya.

Menyedihkan memang tapi satu hal yang Jongin sembunyikan. Adalah foto-foto ini. Foto-foto yang bisa dibilang foto yang menjadi favoritnya. Setiap photographer tentu pasti akan memiliki karya terbaiknya untuk dipamerkan. Tapi tidak untuk Jongin. Dia merasa tidak ingin menujukkan foto ini kebanyak orang. Entahlah. Dia merasa ini adalah satu-satunya baginya. Tidak untuk orang lain. Hanya persembahan khusus kepada dirinya sendiri.

Jongin hanya menutup matanya dan menghembuskan nafasnya keras. Bila seperti ini. Bayangan masa lalu itu akan selalu terulang dan terus berputar dipikirannya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Apa dia harus marah ataupun berteriak? Dia tidak ingin melakukannya sekarang. Karena seseorang pasti tengah memperhatikannya saat ini. Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan Kyungsoo.


Jongin baru saja keluar dari dalam ruangannya. Dia melihat kearah sekeliling rumahnya. Begitu sangat sepi dan tidak ada sama sekali tanda-tanda kehidupan dirumahnya. Begitu sangat hening seperti biasanya. Baru saja dia membalikkan tubuhnya untuk pergi kekamarnya. Dia dikejutkan dengan kemunculan Kyungsoo yang sudah ada dihadapannya. Tersenyum manis dan cerah seperti biasa dia tunjukan. Senyuman tanpa rasa bersalah. Dia pikir Kyungsoo telah pergi lagi.

"Waktunya makan malam."

"Aku tidak ingin." Jongin langsung melangkah melewati Kyungsoo begitu saja. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan Kyungsoo. Dia masih bersikap baik seperti itu. Apa dia tidak sadar dengan apa yang telah dilakukan kepadanya.

"Baiklah aku bersalah. Aku tidak datang." Ucap sebuah suara yang mampu membuat Jongin menghentikan langkahnya. Dia berhenti tanpa berani berbalik karena dia menyadari suara itu adalah suara Kyungsoo. "Jadi maafkan aku." Ucapnya parau.

Jongin berbalik dan menatap Kyungsoo. Apa benar dia mengatakan hal seperti itu. Namun baru seperkian detik dia berbalik. Kini dia mendapati wajah cerah Kyungsoo menghilang tergantikan oleh wajah sendu juga pucat. Dan Jongin tidak bisa mengatakan apa-apa lagi setelah melihat ekspresi Kyungsoo yang seburuk itu.

"Maaf. Aku tidak menepati janjimu Jongin. Maaf." Ucapnya kembali dengan diikuti tangisan yang kini mulai terisak jelas terdengar ditelinga Jongin.

Jongin sedikit tersentak mendengar suara isakan tangisan itu. Lagi rasa sakitnya kembali membuncah. Bukan, bukan rasa sakit karena telah dikecewakan Kyungsoo. Melainkan kembali melihat Kyungsoo menangis. Hal yang paling Jongin benci dan tidak ingin dilihat.

"Hyung.." Suara Jongin bergetar. Kini hatinya seolah tertarik kembali dengan perasaan masa lalunya. Tangisan Kyungsoo benar-benar menyadarkannya bahwa Kyungsoo masih sama. Kyungsoo yang mempunyai hati lembut dan mudah menangis tentu itu sangat jelas—menangis karena Jongin.

"Aku bersalah atas semuanya. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Aku benar-benar ingin bertemu kembali denganmu. Saat ini. Meski sekali aku ingin kembali bertemu denganmu untuk mengatakan ini." Isaknya lebih keras.

Jongin benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Apalagi ketika melihat tubuh kecil itu hampir tersungkur jatuh terduduk. Jongin sudah lebih dulu berlari dan menggapai tubuh Kyungsoo untuk tidak jatuh. Memeluknya sangat erat. Tubuhnya begitu sangat dingin.

"Hyung.. ada apa denganmu. Kenapa kau seperti ini?"

"Aku mencintaimu Jongin. Aku mencintaimu.." Bisik Kyungsoo kepadanya.

Jongin hanya bisa memeluk erat tubuh Kyungsoo. Ada perasaan lain yang melingkupi hati Jongin. Perasaan bahagia. Kembali. Dia dapat mendengar pengungkapan isi hati Kyungsoo kepadanya. Dia juga merasa ingin mengatakannya namun dia merasa ragu untuk mengatakan itu.

Dan tanpa banyak bicara lagi. Jongin hanya menggendong tubuh Kyungsoo yang sudah dingin dan lemas kedalam kamarnya. Entah apa yang dipikirkannya. Dia hanya mengikuti instingnya bahwa keadaan Kyungsoo sangat buruk saat ini. Setelah dia masuk kedalam kamarnya. Dengan segera dia membaringkan tubuh Kyungsoo diranjangnya. Menyelimutinya begitu sangat rapat. Sedangkan Jongin sendiri memilih duduk ditepi ranjang menatap wajah Kyungsoo yang pucat.

"Aku tidak berniat meninggalkanmu. Aku mencintaimu.." Beberapa kali Kyungsoo berbisik kalimat yang sama berulang-ulang. Membuat Jongin semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

"Jelaskan apa yang terjadi?" Bisik Jongin bertanya pelan. Namun Kyungsoo malah semakin terus mengatakan kalimat yang sama secara berulang-ulang.

Pikirannya semakin tidak bisa berpikir realistis. Dia tidak mengerti dengan semua yang dikatakan Kyungsoo kepadanya. Hingga membuatnya terdorong untuk mendekatkan wajahnya. Menempelkan bibirnya dengan bibir Kyungsoo. Menciumnya singkat agar Kyungsoo dapat diam kembali. Dia sangat merindukan bibir Kyungsoo nya dulu.

Kyungsoo hanya terdiam. Menutup matanya. Begitupun dengan Jongin. Sekilas mereka saling melumat kecil hingga akhirnya Jongin kembali melepaskannya. Masih tetap sama tapi perbedaan kecil yang dirasakannya bahwa Kyungsoo masih terasa sangat dingin.

"Selagi aku dalam keadaan baik. Jelaskan kepadaku apa yang terjadi." Bisik Jongin. Begitu sangat dekat. Bahkan Kyungsoo dapat merasakan deruan nafas Jongin yang halus.

Kyungsoo tidak menjawab apa-apa. Dia hanya menarik tubuh Jongin dan memeluknya sangat erat. Dia sangat merindukan tubuh Jongin yang selalu menjadi tempat terhangat dirinya. Dan Jongin dia hanya mematung mendapati perlakuan tiba-tiba Kyungsoo kepadanya.

Tidak ingin banyak berbicara. Jongin memutuskan untuk diam dan tidak bertanya apa-apa. Membiarka Kyungsoo memeluk tubuhnya sesuka hatinya. Lagipula perasaan Jongin juga sedikit menghangat. Perasaan yang telah menghilang tapi sangat dia rindukan kini kembali. Dan lagi. Perasaan benci dan kecewa itu menghilang entah kenapa. Bahkan kini Jongin membalas pelukan Kyungsoo sama eratnya.

"Jongin?" Ucap Kyungsoo yang beberapa menit terdiam. Dan Jongin hanya membalas dengan sebuah deheman. "Apa kau masih mencintaiku"

Jongin hanya terdiam. Dia tidak yakin dengan perasaanya saat ini. Tapi dia memiliki dorongan kuat bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama kepada Kyungsoo. Masih sama seperti dulu. Dia ingin mengatakannya sungguh tetapi lidahnya terasa kelu untuk mengatakannya saat ini.

"Jongin?" Kembali Kyungsoo memanggil Jongin dengan diikuti tatapannya berharap Jongin menjawab pertanyaanya karena dia takut. Takut Jongin tidak mengatakannya berarti dia tidak mencintainya lagi.

"Ya." Jawab Jongin pelan. "Ya, aku mencintaimu Hyung. Masih mencintaimu."Ucap Jongin yang kini berhasil mengatakannya.

Sebuah senyuman bahagia terlukis di wajah Kyungsoo. Wajahnya kini kembali berubah cerah. Bahkan suhu tubunya kembali menghangat normal. Jongin yang menyadari perubahan itu masih menatap bingung. Mencoba berpikir apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Dia masih merasa ini adalah sebuah mimpi. Kembali bertemu Kyungsoo dan kini memeluknya juga mengatakan kembali perasaan cintanya.

"Aku akan merayakan ulang tahunmu. Karena aku sudah berjanji tahun lalu. Aku tidak bisa menepatinya jadi sekarang waktunya aku menepati janjiku."

"Jangan mengatakan apa-apa lagi. Jangan katakan janji kepadaku. Aku tidak terlalu mempercayai kata itu sekarang."

"Sungguh. Jadi datanglah kerumahku besok. Datanglah ke Busan."

"Kenapa aku harus pergi kesana?" Namun Kyungsoo hanya diam tidak menjawab.

Kyungsoo sedikit merapatkan kepalanya diantara ceruk leher Jongin. Begitu sangat hangat juga nyaman seperti biasanya. Namun beberapa menit mereka terdiam. Kini Kyungsoo merasakan hal lain lagi. Bibir itu kembali menyentuhnya. Entah sejak kapan kini Kyungsoo benar-benar sadar bahwa Jongin kembali menciumnya. Begitu sangat lebut namun juga begitu dalam. Kyungsoo tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain seidikit menyunggingkan senyumnya lalu menutup mata bahagia.

Jongin juga tidak tahu. Tetapi kembali pikirannya memang diisi oleh Kyungsoo bahkan ciuman ini dia tidak rencanakan sebelumnya. Itu berjalan begitu saja. Tapi sungguh dia merindukan ciuman ini. Ciuman yang selalu menjadi candunya. Rasanya dia ingin memberhentikan waktu saat ini juga. Dia ingin lebih lama lagi untuk merasakan momen-momen seperti ini. Hingga pada akhirnya matanya kini mulai memberat dan berubah menjadi gelap. Semuanya tidak ada yang bisa dia rasakan kembali saat ini. Hanya sebuah keheningan yang begitu sangat menenangkan hatinya. Sangat damai.


Jongin terbangun dari tidurnya. Dia sedikit terganggu dengan cahaya matahari yang kini menyinari langsung kearah matanya. Terasa sulit untuk membuka mata tapi Jongin berusaha untuk membukanya. Dia sedikit menguap kecil dan merenggangkan tubuhnya. Dia merasakan tidur yang sangat nyaman semalam ini. Dia sedikit mengusak selimut yang menyelimuti rapat tubuhnya. Hingga beberapa detik kini dia sadar seseorang telah kembali menghilang dari sisinya.

Jongin buru-buru bangkit dan mengedarkan seluruh pandangannya disetiap sisi ruangan kamarnya. Tentunya mencari Kyungsoo. Apa mungkin dia menghilang kembali. Jongin masih berharap Kyungsoo berdiri disampingnya seperti kemarin yang menunggunya untuk bangun dan sarapan. Tapi dia tidak ada.

Jongin meloncat dari ranjangnya dan berlari keluar dari kamarnya mencari kebaradaan Kyungsoo.

"Kyungsoo. Kyungsoo Hyung!" Beberapa kali Jongin berteriak mencari keberadaan Kyungsoo disetiap sudut dan ruangan rumahnya tapi tetap sosok yang dicarinya tidak ada.

Jongin berjalan menuju pintu depannya. Dan mendapati bahwa pintu rumahnya memang masih terkunci dari dalam. Jongin kini berbalik mulai berpikir apa yang sebenarnya telah terjadi. Apa benar kemarin adalah Kyungsoo, Apa benar Kyungsoo kembali meninggalkannya. Seharusnya dia tidak tidur bila menyadari bahwa Kyungsoo akan pergi kembali meninggalkanya.

Kembali Jongin berlari menuju kamarnya. Memastikan dan mencari beberapa petunjuk lain yang memungkinkan Kyungsoo memang datang tapi tidak ada sama sekali petunjuk yang didapatkanya. Dia melirik kearah ponselnya. Mengambilnya dan melihat waktu yang kini telah menunjukkan tanggal 13 Januari. Berarti benar kemarin dia memang melewati hari itu bersama Kyungsoo. Itu semua bukan mimpi. Tapi kini kemana perginya Kyungsoo? Mana mungkin setelah dia mengatakan maaf dia kembali pergi begitu saja meninggalkannya. Sama seperti di hari Natal kemarin.

Jongin tidak bisa berpikir apa-apa. Dia benar-benar Gila karena Kyungsoo. Dia mengacak rambutnya kasar. Dan terduduk ditepi ranjangnya. Mencoba mengingat apa saja yang terjadi kemarin tapi tidak ada yang dapat menjelaskan semuanya. Memikirkan semua ini membuat perasaannya kembali memburuk dan merasa kacau.

Baru saja dia ingin menendang nakas besar yang ada disamping ranjangnya. Gerakannya terhenti ketika melihat sebuah kotak yang tidak asing lagi dipandangannya kini terpajang disana lengkap dengan sebuah kartu yang warnanya kini sedikit memudar kecoklatan.

Jongin langsung mengambilnya dengan cepat. Seingatnya dia tidak menyimpan apapun di nakas mejanya. Dia memperhatikan dengan seksama kotak yang terbungkus kertas kado itu. Beberapa menit dia mencoba mengingatnya kini dia teringat bahwa kotak ini adalah hadiah natal yang diberikan Kyungsoo kemarin. Tapi bagaimana bisa benda ini kembali ada dikamarnya. Seingatnya dia telah membuang kado ini. Kembali tatapannya kini terfokus kepada sebuah kartu nama yang telihat sudah usang juga tua. Busan, kini dia tersadar. Kartu nama ini juga pernah diberikan Kyungsoo beberapa saat sebelum dia pergi.

Jongin mencoba menghubungkan semua yang diingatnya dengan kedua benda ini. hingga dia menemukan sebuah kesimpulan bahwa Kyungsoo pasti benar-benar mengharapkannya untuk pergi mengunjunginya di Busan. Di tempat tinggalnya. Dia masih ingat dengan perkataan Kyungsoo semalam yang menyuruhnya untuk datang ke Busan. Mungkin ini petunjuk agar Jongin menjungi Kyungsoo kembali. Tapi konyol sekali. Kemarin Kyungsoo ada disini. Kenapa dia malah pergi dan menyuruhnya datang sendiri. Seharusnya mereka pergi bersama-sama bila Kyungsoo memang mengharapkan dia untuk datang.

Dan kotak yang ada di tangan kirinya. Jongin bertanya-tanya sebenarnya apa yang ada didalam kotak ini. Hingga tanpa pikir panjang lagi kini dia benar-benar memberanikan diri untuk membuka kado natalnya tersebut. Jongin menyipitka matanya ketika menyadari apa yang ada didalam kotak kadonya—kunci mobilnya. Kunci mobil yang pernah dia lemparkan kepada Kyungsoo karena tidak ingin mencoba mengendarai kembali mobilnya.

Menyambungkan semua hubungan dari setiap apa yang diterimanya. Kini Jongin benar-benar sadar bahwa Kyungsoo berniat menyuruhnya untuk pergi ke Busan. Kerumahnya dengan menggunakan mobil yang telah lama dia tinggalkan karena rasa traumatisnya.

"Oh Tuhan. Dia benar-benar membuatku gila karena sebuah mobil." Desis Jongin pelan.


Jongin tidak tahu apa yang telah mendorongnya hingga akhirnya dia benar-benar berada di Busan. Mungkin karena keinginan Kyungsoo kemarin membuat Jongin tanpa pikir panjang kini menuruti keinginan Kyungsoo dan datang langsung ke Busan menuju rumahnya hanya bermodalkan kartu nama usang ditangannya. Mungkin setelah ini dia bisa kembali bersama Kyungsoo dan bisa bersama-sama lagi seperti dua tahun yang lalu.

Jangan bayangkan Jongin yang datang menggunakan Bus ataupun menggunakan mobilnya sendiri. Sampai sekarang dia tidak bisa melupakan rasa traumanya. Bahkan dia ke Busan menggunakan pesawat. Dia mencari jalan tengah untuk tidak membuatnya takut. Setidaknya dia masih bisa sampai di Busan dengan jarak waktu tempuh yng lebih cepat menggunakan Pesawat terbang.

Senyumnya tidak bisa dia hentikan. Senyuman itu secara terus menerus terpajang diwajahnya. Entahlah. Perasaanya terasa begitu sangat bahagia saat ini. Padahal keadaanya kemarin terlihat buruk. Dan lagi dia menuruti semua yang disarankan Kyungsoo dua tahun kemarin. Makan yang teratur dan sehat juga meminum obatnya dengan rajin. Sepertinya Kyungsoo terasa telah menyemangati hidupnya kembali.

Meskipun sesungguhnya dia masih heran dengan kedatangan Kyungsoo kemarin datang yang secara tiba-tiba begitupun menghilang dengan tiba-tiba juga. Meninggalkannya kembali. Namun hal aneh yang dirasakannya adalah dia tidak merasakan kecewa yang pernah dialaminya saat hari natal kemarin. Ini berbeda. Malah bebannya terasa lepas begitu saja.

Dan tanpa sadar kini dia telah tepat berada digerbang rumah yang lumayan terbilang sangat besar. Jongin sedikit menerawang bagaimana bahagianya kehidupan keluarga Kyungsoo. Beruntung sekali. Dia hidup dengan nyaman dan tentunya tidak pernah dipikirkan bahwa keadaan sebenarnya jauh dari cukup. Dia benar-benar melakukan hidup mandirinya.

Tidak ingin membuang waktu. Kai masuk kedalam gerbang itu. Tidak ada penjaga atau alat pengaman lainnya seperti yang ada dirumah-rumah besar lainnya—contoh dirumah keluarganya. Keadaan rumah ini begitu sangat lengang juga sepi. Namun tidak bisa dielakkan lagi kalau halaman rumahnya pun sangat indah oleh taman pekarangan meski harus tertutup salju.

Jongin menatap pintu jati dihadapannya. Dia benar-benar tidak yakin dengan yang dilakukannya saat ini dan memang benar. Dia hanya mengikuti jalan hatinya. Mungkin setelah ini dia bisa bertemu kembali Kyungsoo dan menemukan kembali kebahagiaanya yang sudah hilang.

'Tuk Tuk'

Dengan penuh keberanian Jongin mengetuk pintu rumah itu pelan. Dan setelah itu dia menunggu. Cukup lama hingga akhirnya pintu besar itu terbuka dan menampakkan sesosok wanita paruh baya. Tidak. Mungkin umurnya memang sudah lebih dari empat puluh tahunan tapi dia masih terlihat sangat muda dan tentunya anggun.

Wanita itu kini menatap lekat Jongin bingung. Tentu dia heran. Siapa yang bertamu kerumahnya. Bahkan pemuda ini. Dia sama sekali belum pernah melihatnya sama sekali.

Canggung. Jongin bingung harus mengatakan apa. Ini kali pertamanya lagi bertemu dan bertatap langsung dengan orang asing. Perasaan takutnya kembali muncul tapi sejauh ini. Dia tidak mungkin merusaknya.

"Selamat siang nyonya. Aku teman dari Do Kyungsoo."

Wanita itu sekilas mengernyitkan keningnya. Memandang Jongin secara lekat dan memperhatikannya dari atas hingga bawah seolah menerawangnya. Jongin yang diperlakukan seperti itu hanya menunduk. Sebenarnya dia merasa risih. Tapi dia harus apa? Dia harus menyembunyikan kelainannya sebelum wanita ini menyadari keanehannya dan mengusirnya pergi.

"Kau Jongin? Kim Jongin?" Ucap wanita itu lirih.

Jongin menaikkan wajahnya bingung. Bagaimana wanita ini tahu. Bahkan dia sama sekali belum pernah menemui wanita ini sebelumnya. Tidak pernah. Tapi dilihat dari penampilannya kemungkinan dia adalah Ibu dari Kyungsoo. Itu pasti. Oh, apa jangan-jangan Kyungsoo menceritakan banyak hal tentangnya kepada ibunya?—sial.

"Benar kau Jongin?" Kembali wanita itu bertanya karena Kai masih tidak menjawab pertanyaannya. Dan Jongin hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil. Kalau boleh jujur dia gugup setengah mati saat ini.

"Senang bisa bertemu denganmu Jongin. Ayo masuk." Ajaknya yang langsung menggandeng tangan Jongin halus. Sama persis seperti seorang ibu yang menggandeng putra kesayangannya. Perasaan jongin sedikit menghangat saat ini mendapatkan perlakuan seperti ini. Bahkan dia baru pertama kali melihat wanita ini dan dia sudah membuatnya merasa nyaman. Sama seperti ibunya.

Wanita yang lebih tepatnya ibu dari Kyungsoo itu langsung menundukkan halus tubuh Jongin di sofa. Dia menatap penuh perhatian kearah Jongin.

"Kau ingin minuman? Eomma akan membuatkannya untukmu." Ucapnya halus.

Kai terkejut dengan apa yang baru didenganya. Dia menatap bingung kearah wanita itu sekarang. "Eomma?"

"Ya. Eomma. Panggil saja aku begitu. Aku akan merasa senang bila kau memanggilku seperti itu. Sama seperti panggilan Kyungsoo kepadaku. Kyungsoo selalu menceritakan banyak hal kepadaku tentangmu. Bila kau tidak keberatan tolong panggil aku seperti itu. Teman Kyungsoo akan kuanggap anakku juga." Ucapnya begitu sangat lembut.

Entahlah perasaan Jongin saat ini. Dirinya seolah menghangat akan percakapan yang baru dimulainya saat ini bersama Nyonya Do. Tapi jujur dia merasa senang. Sungguh. Dia bahkan lupa untuk mengatakan panggilan 'eomma' kepada ibu kandungnya sendiri selama bertahun-tahun. Kali ini dia tidak akan melewatkan kesempatan ini.

"Ya, Eomma." Ucap Jongin sedikit gugup namun itu dimaklumi oleh Nyonya Do sehingga dia hanya tersenyum menunjukkan rasa bahagianya.

Kini dia berjalan pergi untuk meninggalkan Jongin beberapa saat untuk menyiapkan minuman. Dan disinilah Jongin sekarang. Rumah Kyungsoo ternyata begitu sangat nyaman. Jongin baru menyadari seperti inilah rumah keluarga yang bahagia. Bahkan lihatlah foto keluarganya. Kyungsoo adalah anak tunggal dan pasti adalah satu-satunya orang yang paling dibanggakan dan dicintai kedua orangtuanya. Begitu sangat beruntung.

"Kau menikmati perjalananmu?" Sahut suara itu kembali. Kini Nyonya Do kembali datang dengan segelas minuman dan menaruhnya tepat dimeja yang berhadapan dengan Jongin. Sedangkan dia sendiri duduk dikursi lain yang menghadap langsung Jongin.

"Ya. Hm.. sebenarnya tidak." Jawab Jongin sedikit bingung.

"Kau menggunakan apa kesini?" Tanyanya lagi. Dan begitu sangat halus. Khas seorang dokter psikiater. Dan Jongin merasa dia tengah berbicara dengan dokter psikiaternya di Seoul.

"Aku menggunakan pesawat. Aku tidak bisa menggunakan mobil dan Bus."

"Suatu saat kau harus mencoba menggunakannya. Kau tidak boleh kalah oleh ketakutanmu." Ucapnya lagi. Jongin sedikit tertegun dengan apa yang dikatakannya. Tapi dia sadar tentu dibalik ini semua itu karena Kyungsoo. Dia pasti menceritakan semua kepadanya. Atau oh.. jangan bilang dia juga menceritakan tentang kisah cinta mereka berdua kepada ibunya sendiri?

Jongin kini menyadari kedatangan sebenarnya kesini. Tentu saja untuk menemui Kyungsoo. Sungguh sejak dia masuk ke rumah ini. Sangatlah sepi sama sekali tidak ada siapa-siapa kecuali nyonya Do sendiri.

"Hmm.. yang lain kemana? Eomma?" Tanya Jongin masih sedikit sulit mengatakanhya karena belum terbiasa.

Nyonya Do hanya tersenyum memakluminya. "Appa Kyungsoo sedang ada dirumah sakit saat ini. Dia sedang bekerja."

"Lalu Kyungsoo?"

Terdiam. Ibu Kyungsoo tiba-tiba saja menatap Jongin dengan tatapan bingung juga tidak percaya. Jongin yang merasa ganjil dengan tatapan itu kembali bertanya. "Aku sama sekali tidak melihatnya. Apa dia sedang dirumah Sakit juga?"

"Jongin.. kau bercanda?" Tanya nyonya Do yang menatapnya masih dengan tatapan tidak percaya bahkan sekarang dia meneggakan tubuhnya sedikit menegang. "Kau tidak tahu?"

Jongin menggeleng pelan. Dia memang tidak tahu—lebih jelasnya tidak mengerti—maksudnya apa yang dikatakan nyonya Do kepadanya.

"Oh Tuhan.. Jongin. Benarkah?" Ucap nyonya Do yang kini semakin terkejut. Bahkan sekarang dia beralih untuk duduk disamping Jongin dan tanpa aba-aba apapun langsung memeluknya erat. Sangat erat. "Benarkah kau tidak tahu tentang Kyungsoo? Jongin.. jawab pertanyaanku!" Ucapnya masih terdengar halus tapi tdak dapat Jongin pungkiri kalau suaranya sedikit bergetar—seperti akan menangis.

"Aku benar-benar tidak mengerti."

"Kyungsoo telah meninggal setahun yang lalu Jongin." Ucapnya pelan dengan diikuti isakan kecil.

Membeku. Seketika jantung Jongin berhenti berdetak. Benarkah? Maksudnya apa dari semua ini. apa ini hanya sebuah lelucon atau apa? Semua itu tidak mungkin bahkan Kyungsoo masih menemuinya pada saat hari natal dan kemarin dihari ulang tahunnya. Jongin merasakan nafasnya terasa sedikit sesak. Ini terlalu cepat. Terlalu mendadak. Apa maksudnya telah meninggal setahun yang lalu? Jangan main-main. Jongin masih terus mencoba mengelak didalam hatinya sendiri.

"Maaf. Bila aku tahu, mungkin aku akan mengatakannya lebih awal kepadamu Jongin. Ya Tuhan.. maafkan aku." Balasnya lagi mencoba sebisa mungkin menstabilkan keadaan Jongin karena dia tahu. Kemungkinan terburuk yang akan dia dapatakan adalah sebuah emosi yang tidak terkendali karena dia tahu—Jongin adalah pria yang dicintai Kyungsoo dalam situasi yang sulit—Pria penderita Bipolar Disorder yang kebetulan hidup bertetangga dengan anaknya—Ibu Kyungsoo tahu semuanya. Lebih dari tahu.

"Itu tidak mungkin." Bisik Jongin masih tidak percaya. "TIDAK!" Teriaknya yang kini seolah memberontak meminta dilepaskan. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarkannya. Semuanya tidak mungkin. Mustahil. Mana mungkin Kyungsoo meninggalkannya dengan cara seperti ini?

"Tenanglah Jongin. Kumohon tenangkan dirimu." Nyonya Do yang telah terbiasa menghadapi pasien yang tidak jauh beda sama seperti Jongin bisa tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Apalagi kepada Jongin yang telah dia anggap seperti anaknya sendiri—Jauh sejak Kyungsoo sering menceritakan Jongin kepadanya—Dia hanya bisa memeluknya erat. Mencoba menanahan kehisterisan Jongin yang kini mulai menangis keras. Bahkan dia juga tidak bisa menahan tangisannya lagi ketika melihat kondisi Jongin secara langsung seperti ini. Apalagi mengingat kesedihan ini disebabkan oleh Kyungsoo, anaknya. Dia juga ikut merasa bersalah.

"Dia meninggal karena kecelakaan bus yang ditumpanginya untuk pulang ke Busan Jongin. Jadi percayalah. Kyungsoo sekarang telah meninggal." Bahkan ibu Kyungsoo mengingat kecelakaan tragis yang diterima putra tunggalnya juga ikut merasa tertekan harus mengingat itu kembali. Tapi dia sudah sedikit mengikhlaskannya. Berbeda dengan Jongin yang baru mengetahuinya.

"Bus? Bus ke Busan?" Tanya Jongin yang kini menatap lekat tidak percaya. Sungguh benarkah penyebabnya karena kecelakaan Bus itu? Berarti kecelakaan itu terjadi saat dia pergi untuk pulang dan fakta yang menyebabkan Kyungsoo mengalami kecelakan ini adalah karenanya. Tentu. Itu karenanya.

Nyonya Do mengangguk pelan dengan air mata mengalir dari sudut bola matanya. "Ya Tuhan. Aku telah membunuh Do Kyungsoo ku. Aku penyebab kecelakaan itu." Bisiknya lagi pelan.

"Tidak! Apa maksudmu mengatakan itu?"

"Kalau bukan aku yang melarangnya pulang menggunakan mobilnya sendiri. Dia tidak akan pernah menggunakan Bus itu. Aku penjahatnya. Aku yang telah membunuhnya. Sama seperti aku membunuh eomma."

Nyonya Do kembali memeluk erat tubuh Jongin yang kini tatapannya mulai mengosong. "Semuanya sudah ditakdirkan. Kau bukan pembunuhnya. Aku bahkan tidak menganggap kau membunuh anakku Jongin. Percayalah tentu dia pasti telah bahagia di Surga."

"Aku membunuhnya.." Bisik Jongin masih merasa tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya terhadap pria yang dicintainya.


To Be Continued


Sesuai keinginan ending dibagi dua sesi. Dan Sesi terakhir memang sesi epilog nya. Ya meski kenyataan sebenarnya sih kepanjangan.
Well terima kasih yang masih setia baca fanfic ini. Bagi yang fav, follow hingga reviewers juga pembaca baru terima kasih.

Aku akan menyeselsaikan ini secepatnya sebelum sibuk buat tes masuk Universitas karena sudah disibukkan sejak Minggu kemarin. Maaf bila terlalu lama diupdate.

Dan oh iya ada yang banyak nanya apakah ini akan berakhir sad ending atau happy ending? Auhor tidak tahu. Readers lah yang akan mengambil kesimpulan dari cerita ini dan memang akhirnya ada di Epilog nanti. Gimana Kai? Gimana Kyungsoo? Oh.. berdosa banget bikin Kaisoo begini. Jadi maaf bila ada yang kecewa dengan endingnya nanti.

Gak bisa ngebales review satu-satu tapi semuanya BIG THANKS, LUV YA! Ikut terharu masih ada yang nunggu ini. Terimakasih *kiss*

EPILOG 98% Processed to update.

Salam Blossom^^