EPILOG


Kadang aku perlu mengatakan apa yang aku rasakan, apa saja yang aku khawatirkan dan apa sebenarnya keinginanku kepada orang lain—secara spesifik. Sebuah kesempatan untuk mencari seseorang yang mengerti itu memang sulit. Ada, namun tidak aktif. Hanya memberi sebuah kata namun tanpa dorongan langsung. Aku mencoba memahami kemungkinan-kemungkinan yang terjadi ketika aku melangkah berjalan menyusuri kehidupanku setelah kepergian Kyungsoo. Apakah akan ada sosok yang sama seperti dirinya? Aku rasa tidak.

Selama perjalanan aku berpikir dalam pikiran sendiri, perasaan sendiri dan kata-kata sendiri. Sesuatu yang mengganjal hati kadang sering sulit untuk diungkapkan. Tetapi ketika satu kata saja yang terganjal sebelumnya terucap, kata-kata yang lain akan terus terucap tanpa henti mengeluarkan semua beban yang telah aku rasakan hampir satu tahun ini yang harus hidup tanpa Kyungsoo.

Aku tidak mengerti dengan Nyonya Do sebenarnya. Sungguh. Untuk menjadi seorang ibu dari yang begitu sangat mencintai Kyungsoo, anak tunggal satu-satunya. Dia masih terlihat nampak tenang mendengarkan keluh kesahku. Sungguh. Bahkan aku tidak yakin bila ibunya benar-benar menerimaku yang telah membuat Kyungsoo ikut terjebak dalam sebuah perasaan tidak normal dengannya yaitu Cinta. Tapi dia masih bisa menanggapinya dengan begitu tenang dan lapang dada. Beruntunglah bagi siapapun yang mempunya seorang ibu sepertinya. Dia bahkan mampu menguraikan benang kusut yang tidak dapat tertolong lagi dalam hitungan detik—kisah hidupnya.

Kyungsoo. Pikiranku kembali melayang ketika aku baru saja sampai dirumahku. Langsung membaringkan tubuhku begitu saja dilantai rumah dan menatap langit-langit rumahku yang gelap. Aku malas untuk menyalakan lampu rumahku bila seperti ini. Perasaan buruk itu kembali lagi. Oh, Tuhan tolonglah. Bahkan aku takut untuk menatap masa depanku nanti dengan Bipolar ini.

Perasaan itu kembali. Dunia terasa gelap, sepi, dan kering kerontang. Berjuta pikiran dan khayalan menggantung dan melayang di atas kepalaku layaknya bintang—dan tentu saja tidak akan pernah bisa kugapai. Atas masa depanku nanti, apa aku gagal karena aku tidak bisa menuntun tubuhku dan batinku yang selalu tidak sejalan? Mereka selau bertolak berlawanan. Ragaku sakit dan menolak ketika aku ingin berakhir, tapi batinku mengatakan untuk segera mengakhirinya. Dan saat itu aku gagal. Tidak ada Kyungsoo lagi yang akan menjaganya.

Mood buruk hendak menguasai seluruh ragaku dan siap menenggelamkanku untuk pergi lebih jauh. Tapi aku sadar ini bukan yang pertama kalinya, ini bukanlah diriku. Suatu saat aku akan kembali membaik meski tidak yakin akan terus sebaik dulu bersama Kyungsoo. Tuhan, kumohon bahkan didalam pikiranku saat ini hanya ada satu nama yang saat ini sedang duduk berdampingan dengan-Mu yaitu Kyungsoo. Aku tidak siap untuk berperang melawan hari esok.

Kututup mataku. Dan satu kalimat yang teringat dalam pikiranku dengan sebuah suara yang baru saja dia kenal beberapa jam sebelumnya. Terus mengatakan Kyungsoo tidak menyukai diriku yang menangis. Dia selalu ikut merasakan sakit saat melihatku menangis. Dia ingin melihat Jongin terus bahagia dan tersenyum. Maka dari itu dia akan bahagia dan merasa tenang. Ya.. dia harus tersenyum.


I Am a Bipolar.


2014, 14 January.

Setelah acara pameran foto yang digelar Jongin terbilang sukses dengan antusias orang-orang yang begitu luar biasa mengagumi semua karyanya. Kini Jongin bisa kembali menstabilkan perasaanya. Sungguh kemarin adalah hari terburuk yang pernah diterimanya. Dia harus menerima kenyataan bahwa Kyungsoonya telah pergi. Benar-benar pergi. Jongin menyesal. Seharusnya di ulang tahun Kyungsoo kemarin. Dia tidak mengharapkan untuk Kyungsoo selamanya pergi meninggalkan kehidupannya. Searusnya dia mengatakan hal sebaliknya. Mengembalikan Kyungsoo dan terus bersama denganya selamanya. Tapi semua itu terlambat.

Bahkan sosok yang datang kemarin. Entah itu hanya ilusi atau mungkin Kyungsoo memang sengaja datang untuknya. Dia benar-benar masih tidak tahu. Setidaknya dia sedikit mengerti. Kedatangan Kyungsoo kepadanya untuk meminta maaf dan mengungkapkan perasaan menyesalnya. Seharusnya Jongin lebih bersikap baik saat itu. Meski terdengar sedikit gila. Dia bertemu dengan roh Kyungsoo yang masih mengkhawatirkan keadaan hidupnya di dunia.

Jongin berjalan pelan mengitari bukit dengan lapang yang terbentang luas—yang tertutup salju putih tipis. Tempat yang sangat nyaman. Tentu saja ini adalah tempat yang paling disukai Kyungsoo. Apalagi ini adalah tempat terakhir bagi Kyungsoo. Ya. Tempat terakhirnya untuk tidur dengan tenang. Selamanya.

Langkahnya terhenti ketika dia melihat sebuah nisan kayu kecil di bawah pohon yang mungkin usianya masih terbilang berumur belasan bulan. Jongin tidak tahan lagi menahan air matanya. Dia benar-benar tidak menyangka. Akhirnya. Penantian satu tahunnya berakhir disini. Terpisahkan akan dunia.

Namun kini dia mencoba menghentikan tangisnya dan mengusap pelan airmatanya menghilangkan jejak kesedihannya. Dia sudah bertekad. Mulai saat ini dia harus tersenyum bagi Kyungsoo, Meski dia sendiri tidak yakin. Seberapa lama dia akan tersenyum dengan kondisinya. Dan sekarang kembali dia menunjukkan senyumannya. Menatap seolah ada Kyungsoo disana tengah menunggunya.

"Hai.. kau. Apa kabar? Aku sangat merindukanmu tuan Kim Kyungsoo." Ucapnya halus. Mengingat kalimat terakhir yang dikatakan Kyungsoo kepadanya sungguh dia tidak menyangka itu akan menjadi kalimat tersedih yang pernah dia dengar.

Jongin terduduk dan menyimpan sebuket bunga Matahari. Bunga yang paling disukai Kyungsoo. Bunga yang telah membawanya hingga menjadi tetangga yang dekat dengan Kyungsoo. Bunga yang telah membuatnya melihat warna baru. Dan tentunya bunga yang telah membawanya menemui dunia baru yaitu Kyungsoo.

Setelah menatap sesaat bunga itu dan membayangkan beberapa momen indahnya dengan Kyungsoo. Kini dia beralih mengeluarkan dua buah mangkok keramik kecil dari dalam tas kertasnya. Menyiapkannya lalu menuangkan sup rumput laut dari termos.

"Hari ini ulang tahunku. Seharusnya aku membuatkan ini untuk ulang tahunmu kemarin. Maaf. Jadi aku akan merayakan ulang tahun ini lagi untukmu. Untuk kita berdua." Ucap Jongin sedikit tersenyum. "Sebenarnya selama kau tidak ada. Aku sedikit belajar memasak. Jadi kuharap kau akan menyukainya Hyung." Ungkap Jongin kembali menceritakan kisahnya.

Merasakan cuaca yang bisa dibilang sangat dingin. Dengan salju yang masih menutupi permukaan rumput. Jongin memilih membaringkan tubuhnya dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Seolah kini dia tengah berbaring berdampingan bersama Kyungsoo. Menatap langit yang terbilang cerah.

"Bagaimana keadaan Surga disana? Apa begitu indah. Kau kenapa tidak mengajakku? Aku sering mencoba untuk mati tapi selalu gagal. Sekarang kau malah mendahuluiku. Kau benar-benar meninggalkanku hyung. Sekarang siapa yang menjadi urat nadiku untuk tetap hidup?"

Jongin sedikit tersenyum. Entah kenapa dia memang merasakan Kyungsoo ada disampingnya saat ini. Memang gila. Jongin memang selalu menjadi pria gila. Tapi untuk saat ini dia ingin bersikap normal. Sekali saja.

"Hey hyung.. kalau aku pergi juga apa kau akan mengizinkanku? Aku sangat merindukanmu. Aku benar-benar sangat mencintaimu." Ucapnya kembali begitu sangat pelan bahkan terdengar seperti berbisik. Dan tanpa sadar air matanya kini mengalir diantara pipinya. Kembali. Dia menangis dan dia memang benar-benar tidak bisa tersenyum hanya untuk beberapa menit saja.

Matanya terunduk lemas menatap setangkai bunga matahari yang kini ada di genggamannya. Hal indah apa yang pernah ditemui Jongin selama ini hanya tersisa bunga matahari ini. Dia menghembuskan nafasnya melepaskan semua kemarahan yang selama setahun ini dia pendam. Semuanya itu tidak benar. Jongin memang pria terburuk untuk memahami perasaan orang lain. Dia egois.

Dia menatap langit yang terbilang cukup cerah dengan matahari yang sedikit menghangatkan suhu cuaca saat ini yang terbilang cukup dingin. Dia berhenti melangkah dan sesaat menutup matanya. Satu yang harus dipahami tentang penderitaannya.

Bipolar Disorder. Kelainan yang dialaminya ini tidak akan pernah sembuh. Tidak akan pernah. Obat-obat yang selama ini dikonsumsinya hanya bisa digunakan untuk meredakan stressnya. Bahkan Bila dia meminum terlalu banyak moodstabilizer. Itu tidak akan merubah keadaan agar kondisinya membaik. Malah akan semakin buruk karena tekanan pikirannya yang selalu meluap-luap.

Jongin hanya pasrah saja dengan penderitaannya saat ini. Kehidupannya akan tetap sama. Mengalami setiap fase dan episode yang terus berputar seumur hidup. Entah itu dalam kondisi baik dan buruk bahkan mood dan stress yang terbilang ekstrim. Kini kembali kepada dirinya sendiri. Apa dia sanggup untuk melewati sepanjang hidupnya seperti ini atau tidak.

Bahkan hal yang lebih sulit lagi baginya sekarang adalah Kyungsoo. Dia telah menghilang dari sisinya, dari dunianya. Dan selamanya tidak akan pernah kembali. Dia telah kehilangan urat nadinya yang terus menjaganya agar tetap hidup. Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Menunggu sakura di musim gugur? Dia telah melihatnya. Saat Kyungsoo datang ketika kondisi hubungan mereka sedang memburuk di musim gugur dua tahun kemarin. Dan dia tidak melihatnya kembali setelah itu. Sudah lengkap semuanya. Apa dia harus mengakhiri semuanya sekarang?

Jongin kembali membuka matanya dan kini dia melihat mobil tua berwarna merah miliknya yang seolah menunggunya di tepi jalan. Mobil Ferrari F340 itu meski sudah bisa dibilang terlihat sangat kuno karena diproduksi pada tahun 2008 tetapi kondisi mesinnya masih terlihat sangat bagus. Jongin sendiri tidak menyangka. Selama bertahun-tahun mobil itu dia tinggalkan tetapi masih terawat cukup baik. Hal gaib dan kenyataan yang mengatakan bahwa Kyungsoo lah yang merawat mobilnya saat dia masih bersamanya. Hal seperti ini saja sungguh dia tidak mengetahuinya.

Jongin melangkah mendekati mobilnya. Dan masuk seperti biasa seakan tidak akan membuatnya celaka seperti pikirannya dulu. Dia kini bisa melawan ketakutannya. Meski sedikit ada rasa benci. Kendaraan semacam ini telah membuat orang-orang yang dicintainya pergi meninggalkannya selamanya.

Jongin masih belum berniat menjalankan mobilnya. Dia duduk dan menyandarkan punggungnya di jok belakang kemudi sesaat. Dia menyimpan setangkai bunga mataharinya di samping Jok-nya. Dia menutup mata. Kyungsoo. Satu hal yang membuatnya beruntung bisa mengenal, mencintai dan memilikinya. Karena dia hidupnya berubah. Dia jalan keluar dari semua masalahnya. Dan dia berterima kasih akan hal itu.

Dia membuka matanya dan tatapannya kembali tertuju kearah beberapa tumpukan kertas yang tidak jauh ada disampingnya. Dia menatapnya sekilas dan membaca setiap tulisan tangan kecil pria itu. Sangat indah. Kini dia mengerti arti dari Goresan kecil sebuah tangan adalah cerita terindah seseorang untuk dikenang. Semua surat yang berisi cerita lengkap yang dialaminya bersama Kyungsoo ditulis disini dan dia benar-benar memberikannya kepada Ibunya. Benar-benar sebuah Cerita indah untuk dikenang. Bagi ibu Kyungsoo dan lebih jelas baginya—dia mendapatkan semua surat ini dari ibu Kyungsoo langsung kemarin.

Tanpa sada Air mata Jongin kembali menetes. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya ketika membaca kembali kenangan-kenangan yang pernah dialaminya bersama Kyungsoo. Dia merasa dirinya dibawa oleh mesin waktu dan kembali mengenang semua hal yang pernah dilewatinya. Tangannya meremas kecil kumpulan kertas yang dibacanya itu. Dia menjatuhkannya begitu saja dan kembali benar-benar menangis karena harus mengingatnya. Salah. Kesalahannya membiarkan Kyungsoo pergi menggunakan bus itu. Seharusnya dia melewatkan rasa khawatirnya dan membiarkan Kyungsoo pergi dengan mobilnya sehingga dia tidak mengalami kecelakaan tragis itu.

"Hyung.. kau mendengarkanku? Kau mendengarkanku sekarang. Kumohon izinkan aku sekali saja. Hanya untuk saat ini. Aku merasa bersalah.." Bisiknya ditengah isakan tangisan bersalahnya. "Aku merindukanmu.. aku mencintaimu. Jadi izinkan aku untuk bertemu kembali denganmu."

Dia kembali membuka matanya dan menormalkan kondisi. Mengambil sebotol putih kecil dan mengeluarkan sebuah obat yang biasa dia minum—Lithium. Ini adalah sebuah obat yang terbilang sangat keras. Zat Adiktik? Bukan. Sama seperti Depakote namun memiliki efek yang lebih membuat siapapun merasa lebih tenang dan merasa terbang. Jongin sekalipun tidak berniat untuk menggunakan ini. Bahkan tidak pernah. Hanya kali ini. Dia ingin mencobanya. Untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya. Merasa sedikit tenang dia mengatur nafasnya sekilas. Dia melirik kembali bunga matahari yang ada disampinya. Dia tersenyum seolah mendapatkan keyakinan dan persetujuan.

"Maaf. Aku tidak bisa berjanji."

Permintaan maafnya hanya bisa dia berikan kepada Jongdae, Ibunya, Ayahnya, Nyonya Do, Boneka kelinci putih yang telah setia menemaninya selama 10 tahun, Dokter yang telah merawatnya selama ini, dunia yang sempat mengucilkannya dan tentunya kepada Kyungsoo.

Dengan sigap dia memasukkan kunci mobilnya. Tangannya sedikit bergetar tapi keadaanya jauh lebih baik sekarang. Dia memegang kemudinya kuat dan menatap tajam jalanan lurus dan luas dihadapannya. Untuk sekarang. Kali ini dan terakhir kalinya dia cukup untuk merasakan penderitaan yang dialaminya. Dia tidak bisa berjanji untuk hidup lebih baik lagi. Tidak bisa. Urat nadinya telah tiada tinggal dirinya yang kini menghitung mundur waktu kehidupannya. Apa yang terjadi dimasa depan. Tidak akan ada yang tahu. Apa dia akan bertemu kembali dengan Kyungsoo atau tidak. Setidaknya dia telah membalas rasa bersalahnya kepada ibunya, kepada Kyungsoo. Hidupnya akan segera berakhir

Dan dengan segali gerakan. Jongin menarik perseneling mobilnya dan menancap gas mobilnya cepat hingga mobil itu berjalan lurus dengan cepat. Entah dimana berakhirnya.


"Anda melakukan perkejaan yang luar biasa tuan Kim." Ucap sebuah suara yang kini menyadarkan lamunan Jongin yang kini menatap lekat salah satu foto yang ada di pamerannya. "Saya baru sadar. Betapa hebatnya otak kanan seorang penderita Bipolar sehingga bisa membuat sebuah Karya yang hebat seperti ini."

Jongin melirik dan membalas senyuman wanita dengan pakaian formal dan rapi itu. Dari kalung nama yang dipakainya. Dia yakin wanita itu adalah seorang Pers.

"Saya terlalu lama menyembunyikan diri sehingga saya baru memberanikan diri melangkah." Balas Jongin diikuti senyumannya.

"Boleh kita mulai untuk wawancara?" Tanyanya kembali dengan Sopan.

"Tentu." Jawab Jongin tersenyum.

Wanita itu kini telah bersiap dengan alat Recording-nya dengan seorang rekannya yang kini sesekali mengambil foto mereka berdua. Wawancara berjalan begitu lancar seperti biasa. Jongin bersyukur dengan kondisinya saat ini. Kemarin setelah dia pergi ke Busan dan menemui Ibu Kyungsoo sehingga menerima kenyataan Kyungsoo yang telah meninggal. Keadaannya hari ini jauh lebih baik dari biasanya. Entahlah apa yang terjadi di dalam hatinya. Moodnya cepat sekali berubah karena Bipolarnya.

Hingga Wartawan itu kini sampai dibeberapa pertanyaan terakhir.

"Diantara foto-foto yang Anda pamerkan. Ada satu yang membuat semua orang tertarik dan begitu juga saya sendiri. Bahkan Anda enggan untuk melelangnya ketika ada yang menawarkan foto itu dengan harga tinggi. Apa itu sangat special untuk Anda?"

"Maaf? Foto yang mana?" Jongin sedikit sulit menanggapi pertanyaan yang dilemparkan wartawan dihadapannya.

"Foto yang tepat dibelakang Anda saat ini." Jawabnya kembali yang membuat Jongin berbalik dan melirik foto yang sempat ditatapnya tadi sebelum diwawancara. Dia menyunggingkan senyumannya.

Tentu saja ini adalah foto favoritnya. Kyungsoo dengan bunga mataharinya. Foto yang sebelumnya merasa enggan untuk dia pamerkan tapi malam kemarin dia merubah rencananya dan membawa foto ini juga foto Kyungsoo lainnya. Dia ingin menunjukan sosok pria yang telah menjadi inspirasi hidupnya hingga akhirnya dia bisa menggapai impiannya untuk membuat sebuah Pameran foto.

"Pria itu terliat sangat tampan namun manis. Siapa dia? Apa ada makna ataupun penjelasan lain yang membuat Anda sangat menspecialkan foto ini?"

"Dia seorang calon Dokter. Anak yang begitu sangat mencintai keluarganya dan dia bisa membuat siapapun yang ada disampingnya bahagia. Ya.. dia salah seorang yang membuatku bisa seperti ini."

Wartawan itu tersenyum dan ikut menatap foto Kyungsoo yang tengah menatap lembut bunga matahari yang ditanam oleh tangan Kyungsoo sendiri. Memberi warna baru dihalamannya.

"Suasana pameran ini terlihat seperti dalam musim panas. Padahal sekarang musim dingin. Apa anda tidak merasa takut dengan kesalahan waktu untuk mengadakan pameran ini?" Tanyanya kembali kedalam sesi wawancaranya.

"Semua orang yang berkunjung kesini menikmatinya." Balas singkat Jongin.

"Memang benar. Anda benar-benar ahli dalam mendobrak hal apapun yang diluar dugaan semua orang." Pujinya.

"Menurutku sama saja. Ketika anda bisa membuat bunga matahari ada di musim dingin, bukan berarti Anda juga tidak bisa membuat bunga sakura ada di musim gugur." Jawabnya kembali menatap lekuk indah wajah Kyungsoo yang kini ada dihadapannya.

"Lalu setelah ini. Apa ada sesuatu yang akan Anda lakukan?"

"Ada."

"Bisa Anda sedikit berbagi kepada kami?"

"Saya ingin menemui pria ini dan menanyakan apakah saya berakhir disini atau terus berjalan. Saya memiliki janji yang sulit sekali untuk saya lakukan sehingga saya harus bertanya kepadanya. Hitungan waktu. Duniaku dan kondisiku mungkin akan berakhir dalam hitungan jam ini." Ucapnya tersenyum dengan tatapan mata tidak beralih dari foto besar Kyungsoo. Dia sangat mencintainya.


THE END


21052015 ENDING Dari Bulan January berakhir di bulan Mei.

Tarik nafas… Buang… Tarik nafas… buang. Oke.. Aku author jahat /jahat banget malah TToTT Sory for the ending of IAAB. Jujur.. hal yang paling aku gak suka itu liat fanfic kalo berakhir sad ending karena suka nangis berhari-hari. Tapi aku malah bikin nangis anak orang yang baca fanfic ini Maaf.. *Sampe-sampe sepupu marah-marah dan ngejambak rambut karena endingnya harus seperti ini. Serius. Beneran.. Dan itu ternyata sakit :"v #Curhat Sekali lagi saya mohon maaf karena bikin kecewa readers *bow Peluk Kecup readers kkk~

Lebih dari 50k words yangaku tulis. Dan taraa.. mungkin udah setebel naskah novel-_- Tiap chapter punya sisi cerita masing-masing. Banyak sekali yang nanyain kenapa suka panjang banget bikin fanfic yang tiap chapternya sampe 10k words. Alasannya.. Aku adalah tipe orang suka sama bacaan panjang. Intinya tidak tanggung. Jadi setiap chapter yang ku buat sengaja aku bikin jalur cerita yang berbeda-beda dan gak nanggung. Makanya proses editing dan perbaikan tiap cerita dari saran readers cukup lama untuk di update. Ditambah Laptop tua yang udah hampir sakaratul maut gini.. Maaf banget yang selalu dibikin nunggu lama..

Well aku gak tau mau bilang apalagi. Ini adalah Fanfic yaoi pertama dan terpanjang yang pernah aku buat. Of course with my favorit OTP Kaisoo 3 I AM A BIPOLAR telah berakhir. Kisah cinta seorang penderita bipolar yang menemukan jalan keluar dari balik kehidupan gelap dan kesunyiannya dari seorang calon Dokter bernama Do Kyungsoo. Atau Kim Kyungsoo.. ha~~

Terima kasih banyak buat yang sering ngeriview, Fav, Follow bahkan yang jadi Siders.. Banyak-banya terima kasih karena masih banyak yang menikmati cerita ini. Meski sebenernya panjang beeuutt kayak rel kereta api -_- Belum tau juga apa mau bikin fanfic baru atau nggak.. Sibuk beut euh~

Thanks a lot to SFA30, darkestlake, frostlightx, ShinJiWoo920202, kkimjane, Sen, ArraHyeri2, Ryanryu, Sdhkywsj, DyOnly One, Kittensun, Kaisoodotcom, Re-Panda68, Kentaurides, luwinaa, FlowArra23, flowerdyo, Jjongjjong, humaira9394, kaisooship, diokyungsooxs, IlanaWu, blegedes, Lovesoo, Mrs. Kim, BangMinKi, BlackkXX, Kimkyungshoot, exoghotic, IndahOliedLee, Sehunerp, Sofia Magdalena, Lovehyunfamily, Org, , Tuyulgundul. Dan semua yang telah membaca fanfic ini dari awal hingga akhir juga siders^^

Akhir kata.. Love you more more~ EXO, Kaisoo, Kaisoo shipper, EXO L and everyone who came to read my fanfiction. Thankyou~ Saranghae.

If you want to know me. Follow me on twitter aliyahputrii ^o^

Salam Blossom..