Halo, Saya muncul disini bukan untuk update tentang new chapter IAAB ataupun sekuel dari ini. Melainkan saya muncul disini seolah harus menulis tentang sesuatu apa sebenarnya Bipolar dan alasan saya bisa membuat cerita ini. Dan juga mengatakan kepada seseorang yang mungkin butuh kekuatan saat ini.
Akhir –akhir ini saya memang sedang disibukkan dengan kegiatan harian saya sehingga belum sempat mengobrak-abrik ffn *termasuk akun saya sendiri* hingga akhirnya malam ini saya baru menemukan sebuah komentar baru di akhir chapter fanfic terakhir ini.
Saya cukup memakan waktu untuk berpikir apa yang harus saya lakukan. Membalasnya atau membiarkannya. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk menjawabnya lewat PM. Namun tidak ada akun sehingga mengharuskan saya menjawabnya disini. Mungkin ini juga sebagai pengetahuan bagi kalian.
Dear..
Sejak awal saya mengatakan bahwa saya membuat cerita ini berdasarkan pengalaman dan imajinasi saya dari berbagai media yang saya cari. Saya bukanlah seorang Psikologi ataupun Psikiater. Sejujurnya saya tak berminat tentang ilmu kedokteran atau sebagainya. Tetapi memang saya pernah merasakan 'hidup di sekitar' rumah sakit.
Awal kemunculan dari fanfic ini muncul berasal dari rasa penasaran saya saat pertama kali mendengar kata Bipolar Disorder—mungkin tidak pertama kali tapi sekali-kali—Hingga akhirnya rasa penasaran saya berlanjut ketika Robin William meninggal. Masih ingatkah dengan kasus kematian Robin William? Satu hal yang membuatku tertarik akan kasus kematiannya yang diduga karena bunuh diri akibat ia mempunya gangguan riwayat Bipolar. Sejak saat itu saya mulai mencari tahu.. apasih Bipolar? Apa sampai separah itu?
Dengan men-searching melalui internet, menurut saya itu tidak cukup untuk menjawab semua rasa penasaran saya. Sehingga akhirnya saya ikut masuk kedalam sebuah komunitas Peduli Bipolar di salah satu akun sosial media. Saya bukan penderita Bipolar namun saya disana menjadi seorang pendengar. Dan sedikit demi sedikit pengetahuan saya bertambah dari orang-orang yang menderita hal seperti itu. *Saya tidak akan mengatakannya karena memang itu cukup private* Maaf.
Dari media, buku, internet yang say abaca juga orang-orang yang secara sukarela menceritakan pengalamannya *meskipun secara online* Kebanyakan depresi adalah hal yang paling menakutkan ketika mereka sendirian. Saya tidak tahu apakah itu benar atau tidak, karena saya tak pernah merasakannya. Tapi saya akan mengatakan penderita Bipolar itu luar Biasa hebat. Mereka bisa tetap bertahan melawan penderitaannya. Ketika buku mengatakan otak kanan penderita bipolar lebih cerdas dibandingkan orang lain. Saat itu saya percaya, ketika saya mengetahui orang-orang yang terkenal, berbakat bahkan Jenius merupakan pengidap Bipolar juga. *Kalian bisa googling siapa saja tokoh dunia menderita ODB* Dan saya menekankan dicerita ini. Tak ada yang harus kau benci dari seorang penderita Bipolar. Tak ada yang harus kau jauhi. Mereka sama. Mereka adalah manusia normal seperti kita. Hanya didalam dirinya keadaan kadang membuatnya selalu merasa berbeda, berada diambang sisi positif atau negative 'ATAU' merasa sering sekali kesepian karena kebanyakan mereka mengatakan, "kalian aja gak ngertiin gue. Gak ada yang peduli juga ama yang gue rasain, jadi buat apa gue cerita?" Dan saat itu sebenarnya mereka butuh teman.
Dear …
Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Penderita ODB memang memiliki hal-hal yang berbeda-beda dari tingkah laku dan penangannya. Ada yang lebih banyak diam, lebih butuh waktu sendirian, menangis atau mungkin merasa jatuh bangun seperti apa yang kamu rasakan.
Aku tak tahu saran apa yang harus aku berikan. Mungkin aku hanya bisa mengatakan kamu jangan menyerah dengan hal ini. Wajar kok kamu untuk mencari pengertian dari orang terdekat kamu buat ngertiin kondisi yang saat ini kamu alami (Meskipun kau tak mengatakan secara langsung Bipolar itu kepada mereka) Kenapa? Karena kamu juga butuh tempat untuk beristirahat dari semua yang udah kamu rasaain.
Ada beberapa orang yang tergantung oleh obat untuk mengerem rasa sakit mereka tapi jujur aku tak menyarankan itu *meskipun saya bukanlah seorang ahli kedokteran atau farmasi* Sebaliknya penanangan dari orang terdekat adalah hal yang paling alami dilakukan.
Aku tak tahu kamu ada di tahap apa ataupun tipe apa? Aku juga gak bisa menduga-duga begitu saja. Kecuali kamu memang mau untuk berkonsultasi dengan seorang Psikiater. Itu akan menjadi lebih baik.
Bolehkah aku memberi saran? Coba menulislah sebuah diary. Mungkin ini terdengar membuang waktu tapi mungkin ini adalah hal kecil yang bisa kamu lakukan ketika kamu merasa kesepian. Apa yang kamu tulis, apa yang kamu curahkan semuanya adalah isi hati kamu, entah itu ungkapan kemarahan, kesedihan, kekecewaan, atau kebahagian. Tapi tetaplah ingat.. jangan sakiti dirimu. kamu masih memiliki Keluarga, teman, sahabat, saudara, atau mungkin pacar. Aku yakin kalau kamu bercerita sebaik mungkin mereka juga bisa menjadi pendengar terbaik kamu. Lama-kelamaan mereka mengerti. Meskipun ada hal yang paling penting dan paling utama yaitu Berdo'a. Dekatkan dirimu kepada-Nya. Insyaallah.. Dia selalu mendengarkanmu dan selalu menjagamu.
Cobalah berpikir positif. Lakukan apa yang bagi dirimu benar bukan karena keegosian—yang bipolar itu lakukan—Itu bukan kamu! Kamu adalah kamu! Jangan biarkan bipolar yang mengendalikanmu tapi buatlah kamu yang mengendalikan Bipolar itu.
Kehidupan yang lebih baik itu pasti akan datang. Taukan? Hujan saja bisa memberi pelangi meskipun tak setiap hari. Hidup juga seperti itu. Meski tak setiap hari kamu merasakan bahagia. Ada hari dimana kamu benar-benar merasakan Bahagia yang amat sangat hebat bagi dirimu.
Jangan hentikan langkahmu untuk berjuang. Seperti Jongin—dalam kisah ini—yang menyerah begitu saja. Siapa sih yang gak sedih ketika orang yang benar kita cintai pergi? Saya ingin melihatmu bahagia juga.. lewati semuanya dan kau akan arti dari sebuah kehidupan. Jangan menyerah hanya karena Bipolarmu. Mohon maaf sebesar-besarnya bila aku mengatakan perkataan yang salah, aku ingin kau semangat untuk tetap menjalani hidupmu.
Dan juga tambahan. Saya belum sempat berterima kasih kepada readers semua yang menaruh simpati akan cerita ini meski pada akhirnya menjadi kisah sedih yang secara tak langsung membuat beberapa readers kecewa. Ini adalah imajinasi saya. Tapi saya hanya ingin menyisipkan sebuah makna, "Mungkin Jongin menyerah akan semuanya karena harus kehilangan orang yang dicintainya. Tapi dibalik itu dia sudah menjadi seorang pemenang yang berhasil melewati masa kehidupan sulitnya."
Saya hanya akan memberikan sebuah pemikiran simple jongin. Keluarga-Hidupnya-Kyungsoo. Dia tak ada tujuan lain setelah memperbaiki hubungannya, Meraih mimpinya dengan kehidupan yang lebih baik, dan memiliki Kyungsoo sebagai cintanya. Ia memiliki daftar yang sangat singkat namun membutuhkan waktu yang cukup lama hingga akhirnya ia harus berakhir setelah mendapatkan semuanya. Inilah jawabannya kenapa Jongin harus berakhir.
Satu hal saja. Jangan seperti Jongin dicerita ini. Lanjutkan hidupmu karena masih banyak orang yang membutuhkanmu dan mencintaim dan kalian juga memiliki orang yang kalian cintai dan ingin kalian bahagiakan selain membahagiakan dirimu sendiri. Life must go on!
Maaf untuk semuanya bila saya pernah menyinggung akan sesuatu hal yang tak ingin kalian ketahui atapun secara tak langsung menyinggung perasaan orang lain. Saya selalu mempertimbangan matang-matang apa yang saya tulis agar tak mengecewakan. Saya hanya author baru yang untuk pertama kalinya membuat cerita yang serumit ini. Saya juga masih dalam proses belajar jadi tetap dukung saya
Terima kasih atas segala perhatiannya dari fav, follow hingga reviewsnya. Aku sangat senang akan responnya. Terima kasih banyak *Deep Bow*
Dan untuk Wanted. Saya akan update new chap secepatnya. Terima kasih.
Love for you~ Love for all! Gnite~
