Memory of The Song

.

Rated : T

Genre : Romance/Friendship

Main Character : Vongola 1st + Shimon 1st + OCs + Elena + Lavina

Main Pairing : G x Lavina

Major Pairing : Vongola1st x OC (kecuali G & Spade) | Daemon Spade x Elena

Warning : Many OCs, Crack Pairing (GxLavina), AU!Story (When 1st Gen live at the future)

.

Katekyo Hitman Reborn create by Amano Akira and OC create by Me.

.

Chapter 1—The Only Girl Who I Love (Before)

.

Anak perempuan berusia 6 tahun—Gokudera Lavina. Ayah dan ibunya adalah seorang musisi yang terkenal di Jepang. Sudah sering berkeliling dunia untuk mengadakan konser dimana-mana. Ia adalah anak tunggal, dan tidak akan memiliki saudara karena ibunya tidak bisa memiliki anak lagi.

Ia sering berpindah-pindah, dan karena tubuhnya yang lemah—ayah dan ibunya tidak pernah memperkenalkannya pada kolega ataupun pada media. Semua dunia hanya tahu jika mereka berdua tidak memiliki anak hingga sekarang.

Ibunya dan ayahnya melatih dengan keras anak perempuan itu sejak masih sangat kecil. Mereka tidak ingin terlihat memiliki anak (yang menurut mereka) lemah dan banyak kekurangan itu. Jika memang tubuh anak itu lemah, maka sebelum ia terjun ke dunia sebagai anak mereka, kemampuan bermusik harus mereka latih dengan sangat keras.

Bahkan terkadang sangat keras.

Ia tidak diperbolehkan bermain, ia tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang banyak. Ia hanya diperbolehkan untuk berada di rumah dan bermain piano.

Bukannya ia tidak suka, ia sangat menyukai piano. Namun, pada akhirnya Lavina sendiri ingin hidup seperti anak-anak normal pada umumnya. Hingga akhirnya, saat ayah dan ibunya berpindah lagi di Sicilly Italia, ia memberanikan diri untuk kabur dari rumah.

"Jangan sok bodoh!" Ia bisa mengerti bahasa Italia. Itu adalah salah satu pekerjaannya di rumah untuk belajar bahasa tempat yang akan mereka kunjungi, "—kau hanya anak buangan yang ditinggal oleh orang tuamu!"

"Apa katamu?!"

Lavina menoleh untuk menemukan beberapa anak yang berhadapan dengan anak laki-laki berambut magenta yang berada didepan anak-anak seusia mereka.

"Benar bukan? Aku ingin bertanya, dimana keluargamu? Kau bahkan tidak punya uang untuk menetap di rumah. Dan kau hanya bisa mencuri dan tinggal diatas selembar koran! Kalian semua!" itu perkataan yang kasar, itu yang dipikirkan Lavina. Ia menoleh pada anak laki-laki berambut magenta itu yang menatap mereka tajam.

"CHE! Setidaknya kami tidak menjadi orang kaya yang koruptor dan memakan uang-uang yang kotor!"

"Kau hanya iri bukan?! Kami bisa makan banyak dan enak sementara kau hanya bisa makan sisa-sisa dan berbagi dengan anak-anak kotor lainnya!"

"Cukup!" Ia bisa melihat anak itu yang tersenyum aneh sambil menggertakkan tangannya, "—kalian benar-benar ingin cari mati huh? Baiklah—"

Suara beberapa pukulan dan juga beberapa suara teriakan terdengar saat itu. Lavina hanya bisa menutup mata dan menunggu hingga suara itu selesai, dan menemukan anak berambut magenta itu menang dari ketiga anak laki-laki yang usianya bahkan lebih tua darinya.

"Che! Itulah sebabnya aku tidak suka dengan orang yang lebih tua!"

"Ah!" Suaranya tanpa sadar lebih besar terdengar saat seorang pria dewasa dengan salah satu anak yang membully anak-anak itu datang. Dan bahkan mengejek anak-anak itu juga. Namun tidak ada rasa takut dari anak berambut magenta yang menginjak dan mengejek orang-orang itu sebelum berlari.

Ia tidak tahu apa yang membuatnya tertarik, namun Lavina pada akhirnya berlari, dan mencoba untuk mengikuti orang-orang itu.

.

.

"Aku lebih suka memanggilmu seperti itu."

Gadis itu tertawa lepas, menatap G yang tampak sedikit kesal namun hanya menghela napas dan berjalan mendekat lagi. Gadis bernama Lavina itu memiringkan kepalanya dan tersenyum pada G, "—aku hanya bercanda. Sudah lama tidak bertemu G. Kau tidak banyak berubah..."

"Aku lebih terkejut padamu yang tidak banyak berubah sejak 20 tahun yang lalu," ia terlihat sama menariknya jika G membandingkan Lavina dengan 20 tahun yang lalu, "beberapa wanita akan lebih menonjolkan dirinya secara berlebihan kau tahu?"

Beberapa wanita yang mendengar itu tampak mencuri dengar saat mengetahui kalau G yang notabe jarang untuk membicarakan tentang wanita mulai berbicara.

"Kau tidak suka?"

"Tidak—kurasa aku lebih suka tipe wanita seperti itu daripada yang suka bersolek dan memakai wewangian yang menyengat meskipun mahal," G tampak berbicara dengan santai dan tidak memperdulikan semua perempuan yang tampak terkapar patah hati mendengar itu.

"G, kau kenal sahabat Tsukiko?"

"Ah Giotto," G bahkan hampir melupakan dua rekannya yang bersama dengannya saat itu. Giotto menyadari sikap G yang tampaknya menjadi lebih lembut didepan gadis yang tidak pernah ia lihat sebelumnya itu, "—aku mengenalnya saat usia kami 6 tahun. Sebelum aku bertemu denganmu. Kalau tidak salah keluargamu pindah ke Italia saat itu bukan?"

"Begitulah, salam kenal—namaku adalah Gokudera Lavina."

"Namaku adalah Giotto Taru—dan ini adalah Daemon Spade," Giotto membungkuk juga saat Lavina membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam. Mempelajari budaya Jepang (karena Tsukiko) membuat Giotto tahu jika orang-orang Jepang membungkukkan badannya untuk memberikan salam.

"Giotto Taru? Pemilik perusahaan Vongola?"

"Dan tangan kananku, Gaspa—" sebuah sikutan keras mengenai lambung Giotto dari G yang berada disampingnya dan membuatnya mengaduh, "—ma-maksudku, G."

"Eh? G yang tidak bisa membaca dan menulis saat pertama kali bertemu itu?"

"Hei-hei, saat itu usiaku 6 tahun dan kurasa aku tidak pernah bersekolah kau tahu," G tampak menghela napas dan menatap Lavina yang tertawa melihat wajah G yang kesal.

Sementara percakapan itu terdengar oleh Spade dan Giotto yang menatap kedua insan yang saling mengobrol didepan mereka. Menatap sang badai yang tampak sedikit berbeda, mereka tahu itu semua ada hubungannya dengan gadis berambut perak bernama Lavina itu.

"Kalau kau butuh bantuanku, kau bisa menghubungi ini—"

Bahkan Giotto tidak pernah melihat G memberikan nomornya sembarangan. Perempuan yang diberikan nomor oleh G hanyalah Elena dan juga Tsukiko. Dan yang lebih mengejutkan saat G melayangkan ciuman di pipi Lavina sebelum berbalik kearah Giotto yang sudah menganga.

"Ayo, sudah saatnya kau mengerjakan laporanmu!"

"T—tunggu G, kukira kau ingin bersama dengan Miss Lavina—" yang saat itu masih membatu dan tidak bergerak.

"Tidak, Vongola lebih penting—jadi jangan banyak alasan!"

Sementara Giotto, G, dan Spade berjalan keluar dari cafe itu, Tsukiko hanya melambaikan tangannya pada Giotto sebelum menoleh pada Lavina yang masih diam tidak bergerak sebelum wajahnya sedikit memerah.

"Kau tahu kalau salam dengan ciuman di pipi itu biasa di Italia sebagai salam perjumpaan kan?"

"A—aku tahu..." Lavina memegang pipinya dengan sebelah tangan sambil menatap kertas bertuliskan nomor yang ada di tangan satunya. Ada apa dengannya sebenarnya? Wajahnya terasa cukup panas.

"Kau yang tidak pernah berubah kau tahu...?"

.

.

"Kau tahu G," Giotto berjalan bersama dengan G dan juga Spade menuju ke mobil Limo putih dengan lambang Vongola yang terparkir didepan cafe itu dan menaikinya. G berjalan didepan Giotto untuk memastikan keselamatan dari boss itu.

"Aku tidak pernah melihatmu memberikan salam dengan ciuman di pipi seperti tadi."

...

G hanya diam dan tidak menoleh ataupun marah. Namun, saat Giotto menoleh sedikit untuk melihat wajah sang tangan kanan, ia tidak bisa menahan tawanya saat melihat bagaimana merahnya wajah G saat itu.

.

.

"Membaca?"

G sudah cukup mengenal Lavina sejak 1 minggu yang lalu mereka berkenalan. Hampir setiap hari G pergi ke rumah Lavina dan masuk dari pintu belakang. Menghabiskan waktu hingga kedua orang tua anak perempuan itu pulang di ruangan dengan piano putih ditengah ruangan.

"Uhm—seperti ini," ia menunjuk salah satu deretan huruf yang ada di buku yang ia baca untuk belajar, "ini dibaca, I-ta-li-a. Lalu yang ini—"

G yang tidak pernah bersekolah tentu saja tidak pernah mengetahui caranya untuk membaca dan menulis. Saat mendengar Lavina yang menunjukkan beberapa deret huruf dan kata-kata, ia merekam semuanya dengan jelas.

"Lalu ini—"

"Piano. Benar bukan?" Lavina menoleh pada G yang tampak mengeja dengan benar. Matanya membulat, cukup terkejut karena jawaban dari anak itu benar. Ia bahkan tidak menunjukkan deretan huruf yang benar dari a hingga z, "aku menghapal caramu membaca dan deretan huruf yang ada disana."

"Wow, aku tidak pernah melihat cara belajar membaca sepertimu! Bagaimana kalau kutunjukkan cara membaca? Aku juga belum terlalu lancar membaca, terutama alfabet seperti ini. Tetapi kita bisa belajar bersama-sama," G menoleh pada Lavina yang dengan semangat mengatakan itu.

"—kau pasti bisa menguasainya dengan cepat kalau kau bisa belajar seperti itu."

"Terserah saja," G memalingkan wajahnya dari Lavina yang tersenyum lebar padanya.

.

.

Buka, tutup, buka, tutup—

"Kau tahu G, kenapa kau tidak meminta nomornya kemarin?"

Suara dari Don Vongola itu membuat yang bersangkutan tersentak hampir mematahkan handphone flip yang ada di tangannya. Satu hari berlalu, dan G sama sekali tidak mendapatkan panggilan dari Lavina. Entah sudah berapa kali ia mencoba memeriksa handphone hingga tidak sadar saat ini ia menjadi pusat perhatian semua orang di ruang makan.

"Nfufufu~ sepertinya memang kemarin itu membuatmu berubah eh?"

"Eh? Kenapa? Kenapa? Apakah ada sesuatu yang tidak kuketahui?"

Elena menatap kekasihnya yang tampak tertawa dan G yang menatapnya tajam seolah mengatakan 'diamlah!' namun Daemon tidak menggubris. Semuanya menoleh pada Spade, sebelum menoleh pada Giotto untuk meminta penjelasan.

"Kau tahu, kemarin itu G—" dan mulut Giotto disumpal roti oleh G yang duduk di dekatnya. Mengetahui Giotto tidak akan mungkin bisa berbicara, semuanya kembali menoleh pada Spade yang menikmati steaknya.

"Kemarin G menemukan musim seminya, dan aku tidak menyangka kalau seleranya cukup tinggi meskipun tidak semenarik Elena tentu saja," kedipan dari Spade dan membuat G dan yang lain (selain Elena) ingin muntah, "—aku punya fotonya sebagai bukti~"

Ia menunjukkan foto yang entah sejak kapan dipotret oleh Spade saat G mencium pipi Lavina. Dan sebelum semua orang melihatnya dengan jelas, sebuah pisau dapur melayang dengan akurat mengenai handphone yang ada di tangan Spade hingga hancur.

"Daemon Spade..." semuanya menoleh, melihat bagaimana merahnya wajah G saat itu, "—sejak kapan kau memotretnya kepala semangka!"

"Nfufufu~ Giotto membantuku kau tahu~?"

G menatap tidak percaya Giotto yang sudah dikerumuni oleh semuanya selain Spade dan Alaude yang menyendiri disana sambil menunjukkan foto yang sama seperti yang ada di tempat Spade.

"Maa-maa, aku tidak menyangka G-dono akan melakukannya!"

"EXTREEEME DIA SANGAT CANTIK!"

"Ah, aku pernah melihatnya di TV! Ia pianis terkenal itu bukan?"

"Lampo-sama tidak mau kalah dengan tako-head, ia akan mencari yang lebih manis daripada gadis ini."

"Benar bukan? Kau tidak akan tahu bagaimana G bersikap didepan—" genggaman tangan yang sangat erat seolah bisa menghancurkan tulang bahunya. Menoleh dan menemukan G yang sudah menatapnya tajam.

"Gi-o-tto—!"

Sepertinya belum saatnya kepala Giotto dilubangi oleh peluru G, karena semua itu terselamatkan oleh suara handphone yang berdering. Hingga pada akhirnya, G melihat nomor yang ada di handphonenya—nomor yang tidak dikenal.

Jangan-jangan...

"...Nona Lavina..." suara yang seolah melanjutkan apa yang ia pikirkan terdengar, membuatnya menoleh dan menemukan Giotto yang tersenyum menyebalkan begitu juga dengan yang lainnya selain Alaude dan Spade.

DHUAK!

Dan sebuah benjolan masing-masing didapatkan oleh semua orang disana selain Alaude dan juga Spade.

"Halo?" G memutuskan untuk membuka pintu dan keluar dari ruang makan untuk memulai perbincangan. Dalam hati, mungkin tanpa sadar ia berharap kalau yang menghubunginya adalah seorang perempuan berambut perak dengan iris emerald yang—

"Kau berharap kalau ini adalah telpon dari Lavina bukan?" Tsukiko. G yang mendengar suara perempuan menyebalkan yang sialnya sudah ia anggap sebagai adik sendiri—terutama saat tahu sahabat dan bossnya menyukainya—itu terdengar. Dan lebih lagi, itu tepat sasaran.

"Che, siapa yang berharap? Ada apa menghubungiku?"

"*chuckle* Aku ingin mengirimkan kue yang dipesan oleh Giotto-san," terkadang G ingin tahu kenapa ia bisa tahan bersama dengan Giotto saat pemuda itu mungkin yang suatu saat akan membuatnya beruban. Kue lagi? Dan ia tidak tahu.

"Aku akan membuangnya saat kau memberikannya kemari."

"Ah, aku sedang membantu Fabio-san untuk membersihkan cafe. Jadi aku tidak bisa mengantarkannya."

"Lalu, kenapa kau menghubungi? Dan nomor siapa ini? Kukira aku sudah menyimpan nomormu."

"Oh, ini bukan nomorku," suara ketukan pintu di pintu depan yang ada didekatnya membuat G mendekat. Tidak ada maid ataupun pelayan yang berada didekat sana, "ini nomor Lavina~"

Suara batuk yang dipaksakan terdengar dari G.

"Kembali ke masalah tadi—aku meminta bantuan pada seseorang untuk mengantarkan kue itu ke mansion," G mengambil kartu untuk membuka kunci pintu. Dan membukanya, "kau bisa menebak siapa yang kusuruh?"

"Aku mengantarkan kue ini untuk Giotto-san."

...

Didepan pintu itu, tampak gadis berambut perak yang tampak mengenakan dress biru muda membawa kotak kue berwarna putih, "—oh, aku ingin menghubungimu. Tetapi handphoneku tertinggal... G."

"Lavina..."

.

.

"Selamat pagi, namaku adalah Gokudera Lavina. Maaf mengganggu kalian..."

Setelah kepergian dari G, semua orang menikmati makanan mereka seolah tidak ada peristiwa yang baru saja terjadi. Namun, saat yang dibicarakan beberapa saat yang lalu tiba, mau tidak mau mereka menghentikan makan mereka dan melihat gadis berambut perak yang ada didepan mereka saat itu.

G tahu membawa Lavina akan menjadi bumerang untuknya. Namun tentu saja sama sekali tidak mungkin ia mengusirnya begitu saja setelah Lavina datang bukan?

"Nfufufu, Signora Lavina—senang bertemu dengan anda lagi."

"Bagaimana kau bisa kembali kemari Lavina?"

"Tsukiko tidak bisa datang kemari karena membantu Fabio-san, jadi aku membawakan pesanan Giotto-san kemari," Giotto hampir menjatuhkan kursinya saat matanya membulat dan tersenyum seperti anak kecil. Kuenya sudah datang—kue favoritnya yang dibuat oleh gadis favoritnya, "—tetapi sepertinya G mengambilnya."

Giotto menatap horror G yang tersenyum kesal padanya. Bukan hanya karena kue yang tidak diberitahukan keberadaannya, namun karena senyuman usil yang diberikan oleh Giotto padanya saat masuk ke ruang makanan bersama Lavina.

"Aku akan 'membereskan' kue milikmu—boss."

Ia paling tidak suka dengan nada yang diberikan G apalagi dengan panggilan boss yang tidak pernah ia suka meluncur dari mulut sahabatnya itu.

"G, mereka—" G menoleh pada Lavina dan menyadari jika gadis itu tidak mengenal siapapun kecuali dirinya, Giotto, dan juga Spade.

"Maaf tidak memperkenalkan diri!" Alih-alih G yang memperkenalkan semuanya, Elena segera memutusnya dan tersenyum. Ah, selagi menunggu Tsukiko untuk tinggal dengan mereka—mungkin—sebagai tunangan dari Giotto, mungkin akan ada perempuan lainnya yang akan menemaninya di mansion ini.

Karena kebanyakan maid tidak tinggal di mansion ini.

"Namaku adalah Elena, kekasih Spade—lalu disana adalah Asari Ugetsu, Lampo, Knuckle, dan yang pendiam itu Alaude. Senang bertemu denganmu Lavina," Elena menjabat tangan Lavina setelah berjalan kearahnya.

"Senang bertemu dengan anda Lavina-san."

"Jadi... apakah kalian berdua—" Elena tampak mencoba untuk mengamati, dan mengelilingi kedua pasangan itu dengan senyuman penuh arti, "—berpacaran?"

"Huh?"

"E—eh?" Lavina dan G tampak terkejut mendengar perkataan Elena yang blak-blakan itu. Mengibaskan tangannya didepan tubuhnya, Lavina menggeleng dan tersenyum gugup, "—G hanya sahabat kecilku! Kami sama sekali tidak punya hubungan seperti itu!"

Entah kenapa semuanya menghela napas kecewa. Bahan gosip mereka sepertinya tidak terbukti. Dan G bersumpah ia akan menghajar mereka habis-habisan saat Lavina pergi.

"Tinggalkan saja mereka, jangan dengarkan apapun yang mereka katakan dengan serius."

"Ah baiklah," Lavina mengangguk polos menatap kearah G yang menepuk kepalanya pelan, "—baiklah, aku akan kembali ke tempat Fabio-san."

"Kau sudah mau pergi?" Elena kecewa. Ia cukup senang melihat bagaimana anggota perempuan mereka mungkin akan bertambah, "—kau akan mengantarkannya bukan G?"

"Huh? Aku punya banyak pekerjaan!"

"Kau mau membiarkan seorang perempuan pulang sendiri?"

"Tetapi dia—"

"Tidak apa-apa Elena-san, G pasti ingin tenggelam dalam pekerjaannya bukan?" Elena menoleh pada Lavina yang tersenyum santai mengatupkan kedua tangannya di depan, "—aku akan pulang duluan."

Semuanya menatap G dengan tatapan menusuk. Seolah ingin mengatakan 'kau ingin membiarkannya pulang sendiri?'

"Che, jangan pulang dulu."

"Hm?"

"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku, setelah itu aku akan mengantarkanmu," G memalingkan wajahnya yang entah kenapa sedikit terlihat memerah. Dan sebelum Lavina berucap, Elena memegang kedua bahunya dan tersenyum.

"Kalau begitu aku akan memberikan tur di mansion ini pada Lavina!" sekaligus menanyakan bagaimana kehidupan G saat kecil~

"Baiklah, kalau aku belum selesai kau bisa ke ruanganku saja. Jangan pulang sendiri, aku tidak ingin dibunuh oleh mereka semua..."

Kalimat terakhir dikatakan dengan nada berbisik sambil G menghela napas dan meninggalkan ruangan itu dengan Giotto entah sejak kapan ia seret dengan memegang jubahnya. Lavina hanya sweatdrop, sementara yang lainnya seolah menganggap itu hal yang biasa.

"Ayo!"

"Uhm..."

.

.

"Kau sudah bisa membaca buku itu?!"

Lavina mengerti kalau G adalah anak yang jenius saat mengetahui caranya belajar membaca dan menulis. Hanya dalam waktu 3 bulan, dan buku yang dibaca oleh G bahkan lebih rumit daripada yang dibaca oleh Lavina.

"Itu adalah buku ayahku yang bahkan tidak dimengerti oleh ibuku."

"Tetapi saat mengerti apa yang ada didalam sini, semuanya terlihat menarik. Aku tidak bisa berhenti membaca buku-buku ini," ia kembali membaca dan tidak menghiraukan Lavina yang ada didekat sana. Tentu itu membuatnya kesal.

"Tu—tunggu, kau sudah bisa menulis dengan hiragana?!"

"Jepang itu menarik. Bahasanya sedikit susah untuk dimengerti, tetapi beberapa hari yang lalu aku sudah bisa mempelajari Kanji," G menunjukkan sebuah kaligrafi yang ditulis olehnya dan sukses membuat Lavina sweatdrop sekaligus terkesan.

"Kalau kau bersekolah aku tidak akan heran kalau kau menjadi juara dan dianggap jenius," G yang mendapatkan pujian itu hanya menggaruk dagunya dengan wajah yang memerah.

"I—ini bukan hal yang susah..."

"Tetapi aku jadi sedikit kesepian karena kau hanya memperhatikan buku-buku ini," Lavina tertawa dan menyenderkan tubuhnya di kursi itu, "—kau teman pertamaku. Jadi aku ingin lebih banyak bermain denganmu."

...

"...che, merepotkan."

G menghela napas dan menutup buku yang ia baca sebelum akhirnya menoleh pada Lavina yang membulatkan matanya melihat apa yang dilakukan oleh G.

"Aku ingin mendengarmu bermain Piano, bagaimana kalau kau memainkannya?"

Lavina terdiam, sebelum tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ia menarik tangan G, dan akhirnya membawanya duduk di kursi piano bersama dengannya, "jangan-jangan kau bisa juga memainkan piano?"

"...aku tidak tertarik. Lagipula yang terbaik ada disini bukan?"

Dan entah bagaimana Lavina merasa wajahnya memerah saat melihat G tersenyum padanya. Sungguh, entah kenapa hanya bersama dengan G yang membuatnya seperti ini. Mungkin, karena ia tidak mengenal baik semua orang selain G?

"Mainkan, aku sudah membuang waktu membacaku untuk menemanimu."

"Baiklah!"

.

.

"Sikap workaholicnya itu sudah ada sejak dia kecil?!"

Elena menatap tidak percaya pada Lavina yang berjalan disampingnya sambil bercerita tentang masa kecil G bersama dengannya. Lavina tertawa pelan, mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Elena.

"Dulu ia sama sekali tidak berhenti untuk membaca sesuatu saat ia baru bisa belajar membaca. Pada saat aku sadar, ia malah jadi lebih pintar dariku, bahkan dari anak-anak seusianya dan yang lebih tua darinya," Elena memang kagum pada pengetahuan G yang menunjukkan kalau ia adalah anak yang jenius.

Tetapi ia tidak bisa membayangkan bagaimana G yang tidak pernah sebelumnya bersekolah bisa sepintar itu. Dan pertanyaannya segera terjawab karena Lavina.

"G tidak akan pernah berhenti bekerja meskipun itu artinya ia tidak makan, tidur, dan juga bergerak dari kursinya. Ia benar-benar parah," Elena menggelengkan kepalanya, sementara Lavina tampak memiringkan kepalanya.

"Kalau ia tidak banyak berubah, sangat mudah untuk membuatnya beristirahat."

"Eh?"

.

.

"G? Apakah aku mengganggumu?"

G melirik dari sudut laporan yang ia pegang dengan sebelah tangan. Kacamata yang membingkai mata rubynya bergerak sesuai dengan gerakan kepalanya. Namun, melihat Lavina disana—ia hanya bergumam sebelum melanjutkan lagi pekerjaannya.

"Kudengar kau bekerja sejak tadi malam dan tidak tidur sama sekali?"

"Pekerjaanku masih sangat banyak. Maaf kalau kau menunggu lama," G tampak menatap kearah Lavina yang tersenyum tidak enak sambil menggelengkan kepalanya, "dimana Elena?"

"Sedang pergi bersama Spade-san."

...

"Duduklah, aku akan menyelesaikan ini secepatnya dan akan mengantarkanmu," Lavina tampak mengangguk dan duduk di sofa yang ada di dekatnya. Menatap G yang tampak menyelesaikan pekerjaannya dalam diam—ia tidak pernah berpikir kalau G akan terlihat serius dan tidak emosional, "—uh... ada yang salah?"

Lavina tersentak saat mendengar G menanyakan hal itu. Ia bahkan tidak sadar saat ia ternyata memandangi pemuda itu sedaritadi.

"Tidak... a—aku hanya berpikir kalau ternyata sikapmu tidak berubah sejak dulu. Bagaimana kalau aku menghentikanmu dengan cara yang sama?" Kali ini G mengalihkan perhatiannya dari laporan dan menatap Lavina yang tersenyum, "—aku ingin memainkan piano untukmu."

.

.

"Aku akan memaksanya untuk berhenti bekerja meskipun itu artinya aku harus—" Giotto berjalan menuju ke ruangan tangan kanannya. Namun, terhenti mendengar nada piano yang terdengar samar dan berasal dari ruangan musik yang ada didekat sana.

Dan ia juga menemukan Ugetsu, Knuckle, Elena, dan Lampo yang mengintip dari celah pintu yang sengaja dibuka.

"Ada apa?"

"—Sssst!" Knuckle yang paling ribut meminta Giotto untuk diam? Oke, ini aneh. Dan suara piano ini, apakah ada yang memainkan piano? Dan Giotto bergerak mencoba mendekat hingga mengintip dari celah pintu itu juga.

Ia melihat bagaimana G duduk di sofa ruang musik dan menutup matanya dengan kedua tangan menyilang di depan tubuhnya. Dan tentu saja sang pemain musik—Lavina tampak memainkan melodi indah yang sama seperti yang didengar Giotto di cafe saat itu.

"Kau tahu? G-dono dengan mudah keluar dari ruangannya saat Lavina-san mengatakan akan bermain piano agar ia beristirahat."

...

"Wow, aku bahkan tidak bisa melakukan itu!"

"Sepertinya memang tako-head menyukai Lavina-san."

"Hei jangan dorong-dorong!"

Dan suara berisik dari depan pintu sebenarnya terdengar dari G yang tampak menahan diri dengan empat persimpangan di atas kepalanya. Ia bersumpah akan memberikan mereka pelajaran setelah ini semua selesai. Dan untuk sekarang...

Sudah lama ia tidak bersantai dan tenang seperti ini...

Ting Tong!

Suara bel berbunyi menandakan seseorang datang. Giotto dan yang lainnya menoleh pada sumber suara dan beberapa percakapan samar terdengar antara salah satu butler dengan tamu yang sedang ada di depan pintu.

Dan beberapa saat kemudian, sang butler datang—menghampiri semuanya sambil menatap heran sebelum bergerak mengetuk pintu dan membukanya.

"Maaf mengganggu anda sekalian Signor G, Nona Lavina. Tetapi ada seseorang yang mencari Nona Lavina didepan," Lavina dan G saling bertatapan sebelum mereka berdiri dan berjalan mengikuti sang butler. Tidak lupa G menatap tajam 'para pengintip' sementara Lavina cukup bingung karena semua orang berkumpul di depan pintu.

"Abaikan mereka," dan dengan begitu Lavina mengangguk mengikuti G.

.

.

"Kukira Fabio -san ataupun Tsukiko tidak akan menjemput."

"Mungkin ada sesuatu yang tertinggal selain handphonemu?" Lavina memerah malu karena sikapnya yang terlihat kekanakan. Melupakan hal penting seperti handphone yang sekarang ada di tangan Tsukiko. Nomor yang menghubungi Gpun memang nomor dari Lavina.

"Lavina."

Alih-alih wajah tua dari Fabio yang berusia 50-an tahun ataupun wajah Tsukiko yang mereka kenal, yang muncul adalah pria berpakaian rapi dan tampak seolah meneriakkan 'hei, aku orang kaya' tanpa mengatakannya. Rambut pirangnya dan juga mata birunya tampak menatap langsung gadis didepannya yang membeku.

"Ayahmu mengatakan untuk menjagamu disini. Tetapi maaf, aku punya urusan mendadak dan terlambat datang."

"L—Lucio. Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?" G menatap Lavina dengan tatapan bingung. Jadi, Lavina mengenal pria didepannya saat ini? Siapa dia?

"Tentu saja, aku datang menjemput dan temanmu mengatakan kalau kau ada di mansion Vongola. Tidak susah untuk menemukannya karena markas ini adalah bangunan terbesar di kota kecil ini. Aku hanya tinggal mengatakan pada temanmu kalau aku adalah tunanganmu," jawaban itu tampak seolah menendang keluar G dari semua pertanyaannya.

"Apa...?"

"Siapa dia?" Pria bernama Lucio itu mengerutkan dahinya dan menatap G yang menoleh pada keduanya dengan tatapan tidak percaya. Lavina yang merasa tidak enak tampak berdiri diantara keduanya, dan menoleh pada pria itu.

"Lucio, dia adalah G—teman kecilku sekaligus tangan kanan dari Vongola. Dan G—dia adalah Lucio Cassanove. Pemilik perusahaan Cassanova," jeda jelas terdengar seolah Lavina ingin menelan bulat-bulat perkataan yang selanjutnya akan meluncur dari mulutnya.

"—dia adalah tunanganku."

Chapter 1, Complete—

[ Next, Chapter 2—Love You More Than Before ]

Njay. Oke fine—ada kesalahan pas Lavina main piano pertama kali di prologue. Ya Lavina memang main piano sambil duduk. Itu salah ngetik entah kenapa jadi berdiri.

#...

Makasih Hikage Natsuhiko sudah review pertama dan memberitahu kesalahan ^^ ini sudah lanjut :) untuk Cocoa2795 ah, kalau cerita GxLavina yang fokus sama mereka berdua kalau ga salah di ffic indo ada kok satu. Kalau di inggris juga ada—tapi kebanyakan di flash back aja. Makasih juga untuk Natsu Yuuki.

Ini kelanjutannya ^^