Warning : Content shonen-ai, mungkin OOC/ memang OOC, Typo(s), AU,AT, etc.
Chara/Pair : Hotaru, Shinrei atau seballiknya
SAMURAI DEEPER KYO
.
.
.
May I miss you? © hagane runa
Yang namanya manusia pasti pernah merasakan suatu perasaan yang disebut "rindu" bukan?
Atau sering di sebut juga menginginkan seseorang berada di dekat kita. Wajar.. manusia memiliki hati dan akal. Itu berarti mereka memiliki perasaan, anugrah yang Tuhan berikan kepada setiap makhluk-Nya.
Biasanya yang rasa rindunya meluap-luap adalah kalangan remaja. Benar, bukan?
Iya.. ya.. sudah pasti benar. Apalagi yang dirasakan oleh si pirang ini. Entah ada angin apa ia merasa rindu dengan seseorang. Yah sebut saja sang kakak yang ia rindukan, Shinrei orangnya.
Sejak awal liburan musim panas ia berlibur bersama Yu an sekeluarga untuk menikmati liburan di pantai. Tentu saja keluarga Yu an memiliki villa yang cukup besar di sana yang pasti cukup untuk mereka singgahi. Entah lupa, bodoh atau bagaimana ia tidak mengajak Shinrei. Alhasil, Shinrei tidak ikut dan sekarang ia tidak ada subjek yang akan dijahilinya. Bermain di pantai? Setiap hari bisa ia lakukan bahkan sepanjang musim panas. Berjemur? Haah.. ia tidak mau kulitnya terbakar. Menelpon? Aah.. sebenarnya ingin sih dia melakukannya, Cuma ia terlalu gengsi untuk menelpon. Hingga akhirnya Yu an memergoki Hotaru yang kelihatannya terkesan gelisah, galau, merana di balkon villa.
"Yoo.. Hotaru, sedang apa kau sendirian haah, anak ayam?" Yu an mengejutkan Hotaru yang sedang melamun menghadap ke pantai.
"Aku sepertinya bosan" jawabnya singkat.
"Haa.. kalau begitu besok kita akan pulang.. jaa aku mau berselancar dulu. Beri tahu pada Shinrei bahwa besok kita akan kembali." Yuan berjalan menuju lantai bawah sambil berbicara setengah berteriak pada Hotaru.
"Hmm.. iya"
.
.
"Moshi moshi.. Shinrei di sini.. " Shinrei mengangkat gagang telepon dan berbicara dengan nada khasnya.
"Bakaniki, besok aku akan pulang" Hotaru langsung bicara tanpa menjawab salam Shinrei.
"Are? Keikoku, kenapa tidak jawab salamku dulu baru lanjut bicara-"
"Berisik.. apa kau sehat?" Tanya Hotaru padahal sebenarnya ia segan untuk menanyakannya.
"Ahh.. se.. sehat kok. Ngg.. besok pulang jam berapa?" Tanya Shinrei.
"Sore sebelum makan malam tentunya"
"Hai' hai' aku mengerti."
"Kimi ni aitakutte yo.." Kata Hotaru dengan suara yang hampir tak terdengar tetapi Shinrei selalu bisa mendengarnya.
"Etto, aitakutte mo Keikoku"
"-Jaaa" panggilan tersebut langsung terputus sepihak. Hotaru langsung memutus panggilan tersebut dan jantungnyapun berdebar kencang karena kaget atas respon Shinrei tadi.
"Are? Telponnya ditutup? Hidoi na.. ia pun tak mau dengar kata perpisahan sebelum menutup telpon. Huuh.." kata Shinrei sambil menaruh kembali telpon rumah yang ia pegang.
.
.
Keesokannya..
"Tadaima.." ucap Hotaru sambil melepas sepatunya lalu menaruhnya di rak. Iapun melenggang masuk ke rumahnya lebih dalam.
"Okaerinasai!~ he? Sudah pulang. Pas sekali, ini waktunya makan malam." Balas Shinrei dengan gembira.
"Sejak kapan kau bisa memasak? Apa ini bisa dimakan?" Tanya Hotaru dengan datarnya
"Hii tentu saja bisa. Liburan kali ini aku belajar memasak yahh walaupun mungkin rasanya biasa. Tapi ini bisa dimakan, kok.." Jawab Shinrei dengan nada lirih diakhir kalimat yang ia ucapkan.
"Iya iya.. itadakimasu!" Hotaru duduk dan mengambil sumpitnya dan langsung memakan hidangan yang Shinrei buat.
".. Bagaimana.. rasa.. nya?" Shinrei tampak ragu saat ekspresi Hotaru tidak menunjukkan ekspresi . biasanya juga tidak sih, tapi Shinrei kan juga penasaran atas hasil buatannya.
".. ini..-"
"-tidak enak"
Shinrei sudah pasrah kalau memang rasanya tidak enak. Ia sudah siap kalau komentarnya memang mengatakan seperti itu.
"tidak enak kalau kau tidak mencoba memakannya, Shin"
Shinrei bingung. Iapun langsung mengambil sumpitnya dan mencoba memakan masakannya itu. Ia pun menyuap makanan itu ke dalam mulut. Rasanya enak. Seketika ia menangis. Ia mengucek kedua matanya menggunakan lengan kanannya yang sedari tadi memegang sumpit. Hotaru melihat di tangan Shinrei ada balutan plester dan sedikit luka bakar. Hotaru berdiri dari kursinya dan menghampiri Shinrei mencoba membuka tangannya untuk mengusap lelehan air mata yang mengalir dari matanya.
"Sudah, tidak usah menangis dasar cengeng. Masakanmu benar-benar enak, karena dimasak dengan sungguh-sungguh." Sambil mengusap tangan Shinrei yang banyak dibalut oleh plester. Mungkin itu adalah gabungan dari luka bakar, iris maupun terkena minyak panas.
"Hontou ni.. Arigatou kei" kata Shinrei sambil berusaha tersenyum.
"Douita.. sudahlah ayo kita makan"
"Mmm" angguk Shinrei mantap sebagai balasan dari ajakan Hotaru.
.
.
OWARI..
A/N : haloo.. nee.. abis pulang sekolah langsung nulis fic. Biasa, hutang deadline jadi ya.. harus nambah juga fanfik yang mesti di setor ato dipublish. Hope you like it aja dah. Sebenernya ngepublishnya nunggu sampai semua udah selesai di buat. Jadi gomen ya kalau terlalu lama menunggu. Author tahu kok kalau menunggu itu gak enak XD well.. sampai jumpa di drabble berikutnya. Klik next.
