Warning : Content shonen-ai, incest, mungkin OOC/ memang OOC, Typo(s), AU,AT, etc.

Chara/Pair : Hotaru, Shinrei

SAMURAI DEEPER KYO

Mendokusei, suki, bitter and sweet © hagane runa

.

.

A/N : moshi moshi.. yaaak.. akhirnya drabble dengan judul ini berhasil juga disempurnakan idenya hehhe..

Tapi gak tau juga sih kalau readers yang baca. Sejujurnya runa suka banget sama drabble yang ini karena sebelum diketik, udah lama tersimpan di memori otak bagian masa lalu XD yosha.. happy reading mina..

.

.

Aku adalah Shinrei dari keluarga mibu. Hal yang bisa kulakukan adalah menari. Jika aku menari semua orang seketika akan menjadi tahananku. Maksudnya adalah, aku berusaha semaksimal mungkin agar tarianku ini dapat memikat banyak mata dan hati para penonton yang melihatku. Kata tuan Fubuki, aku adalah harta yang berharga di sanggarnya. Mengapa demikian? Karena akulah yang bertahan untuk mengikuti ajaran dari Fubuki sensei, itulah panggilan yang kusebut saat tidak dihadapannya. Bagaimanapun juga, jika aku tidak sedang menari di sanggar atau dipanggung aku hanya akan menari didepan orang yang istimewa bagiku.

"Bagaimana Keikoku? Hari ini kau akan menontonnya kan?" tanyaku

"Tarianmu biasa saja. Sepertinya aku tidak datang. Mungkin aku datang tapi aku akan tidur di sana" jawabnya dengan malas

"Ya.. sudah.. aku tidak memaksa juga sih" kataku sambil kecewa di dalam hati. Ya, tentu saja.. jawabannya pasti begitu. Baik makna kata-kata maupun nilai tarianku dia sama sekali tidak memahaminya.

.

.

"Oii Shin, kenapa wajahmu murung?" Tanya Yukimura sambil meminum sake di depanku bersama dengan Kyo

"Ah.. ahaha.. haah.. tidak apa-apa kok, aku tidak apa-apa" aku mencoba meminum sedikit saja sake yang disodorkannya kepadaku barusan.

"Yukimura, jangan beri dia sake, bodoh!" kata Kyo tiba-tiba

"Kenapa?"

"Kau tidak lihat, dia belum cukup umur dan sepertinya ia mabuk. Lihat wajahnya

"E? astaga.. kau benar. Sudah kubilang kan kalau mengajak ngobrol seseorang yang bermasalah itu harus disuguhkan sake, agar dia bisa bicara sepuasnya saat mabuk.

.. Dan sepertinya saat itu juga aku meracau tak jelas saat kesadaranku mulai menurun…

Hari berganti hari dan akupun memberikan sesuatu untuk Hotaru, memang sih bukan barang mahal.. tapi ya.. hanya ingin kasih saja, sebagai tanda aku menyayanginya. Mungkin. Aku memberitahunya kalau memakai yukata itu saat datang ke pentas tari airku. Saat itu pula bibirku keliru atau entah bagaimana sebuah kata terlontar dari mulutku

".. aku menyukaimu, Kei.."

"…"

"A? gomen.. aku tidak bermaksud.."

"Kau menyukaiku ditambah aku tidak menyukaimu hasilnya pasti negatif, aku tidak menyukaimu. Itu rumus penjumlahan yang mudah sekali"

Setelah aku melewati momen itu ia langsung kembali ke lantai atas. Kenapa tidak tersampaikan? Keikoku sejak dulu memang begitu ya padahal aku tidak bercanda. Aku tahu dia memang polos, tapi kalau begini terus aku merasa sedang dalam bahaya.

.

.

Saat di sekolah, aku melihat ia sedang bersama Yu an.. ia blushing, tapi aku tidak tahu kenapa.. aku pura-pura saja mengajaknya pergi ke suatu tempat. Ku bawa ia ke ruang olahraga.

"Kei, apa yang tadi sedang kau bicarakan dengan Yu an?" tanyaku dengan nada yang sangat sangat biasa

"Dari pada membicarakan hal itu .. latihannya sudah selesai kan, perlihatkan tarianmu, Shin" jawabnya

"hal itu?"

Hal apalagi yang harus di sembunyikan? Aku akui yang hanya kuinginkan dan aku miliki hanya kau tapi kenapa sepertinya aku hanya terkesan sebagai pajangan, bukan dianggap keluarga, kakak, teman, atau siapalah.. apa aku ini hanya parasit? Atau pelangi yang kehadirannya sangat sebentar lalu menghilang? Atau lebih buruk! Seperti sampah yang tak pernah dijamah kehadirannya. Mengertilah.. aku bukan orang yang mudah untuk berkata mengucap berbagai kata afeksi atau cinta dan semacamnya.. tapi kenapa?!

Tanpa sadar aku menghilangkan jarak diantara kami dan tanpa sadar aku.. menciumnya. Belum! Aku bahkan tidak menyentuh wajahnya sama sekali. Ia mendorongku dengan keras. Akupun terbentur loker di ruang olahraga. Di dalam hati aku hanya bertanya, kenapa.. rasanya menyesakkan. Akupun berdiri dan berjalan menuju pintu keluar sambil berkata "Aku tidak akan menari di depanmu lagi" setelah itu aku lari keluar dan mungkin mencari tempat yang bisa membuatku sedikit tenang.

Sambil berlari aku selalu berfikir..jika ia memang membenciku lari, mati atau apapun akan kulakukan. Bagaimanapun aku memang tidak bisa bersamanya. Karena itu, apapun yang kulakukan biarkan saja, bagaimanapun tak apa hingga akhirnya aku dihadang oleh kakak kakak senior di sekolahku. Mereka termasuk anak berandal. Hal yang kulakukan adalah memberi perlawanan sekuat yang kubisa sambil meluapkan amarahku tapi lama-lama tenagaku habis hingga akhirnya aku dipukuli habis-habisan oleh teman-temannya. Sebelum kesadaranku habis, aku melihat sekelebat rambut pirang memukuli segerombol anak yang baru saja memukuliku. Saat itulah kesadaranku hilang. Semuanya hitam. Gelap.

.

.

Saat aku tersadar, tercium bau rumah sakit. Sangat menyengat. Aku mencoba menyesuaikan cahaya yang mulai masuk memenuhi penglihatanku. Disamping ranjangku terdapat si pirang sedang tertidur. Saat aku mencoba menggerakan sebelah tanganku, ternyata tanganku sedang terluka. Patah tulang lebih tepatnya. Aku tak sadar meringis kesakitan dan itu membuatnya terbangun.

"Shin.. syukurlah kau sudah siuman" katanya.

"Kei.. Keikoku.. gomen, kau jadi terbangun"

"Tidak apa, lebih baik aku terbangun setelah melihatmu siuman. Kau tak sadarkan diri selama dua hari penuh."

"Apa?!"

"Shin.. apa aku sudah terlambat? Aku belum terlambat kan?"

"A.. apa maksudmu?"

"Aku sadar, aku hampir saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Yang tidak kusadari sebelumnya" ia mendekatkan diri ke arahku dan tiba-tiba saja ia merebut start cium. Ia mencium bibirku.. pada awalnya sangat sangat pahit dan entah kenapa seketika rasa itu berubah menjadi sangat manis. Akupun tak sadar air mataku mengalir dari kedua mataku. Mungkin ini yang namanya terbalaskan. Hati itu aneh ya? Perasaannya bisa berubah kapan saja dan sering tidak menyadari sesuatu yang jaraknya sangat-sangat dekat dengan kita. Sungguh aku sangat bersyukur hingga hati ini rasanya berdebar- debar ingin berdetak lebih cepat…

".. Bitter.. b.. but sweet in the end.." bisikku sambil kembali mengistirahatkan seluruh badanku yang rasanya remuk agar kembali pulih.

"Oyasumi.." kata terakhir sebelum aku masuk ke dunia mimpi yang lebih indah dari hari ini

.

.

OWARI.

A/N : hahahaaa gimana readers? Hope you all like it.. thaks for reading *ojigi