Warning : Content shonen-ai, incest, mungkin OOC/ memang OOC, Typo(s), AU,AT, etc.

Chara/Pair : Hotaru, Shinrei

SAMURAI DEEPER KYO

Disclaimer : Kamijyo akimine

Brotherpapa © hagane runa

.

.

.

Sudah tiga tahun aku menjadi siswa Sma, tentu saja aku akan menyatakan sedikitnya perasaan ini pada orang 'itu'

"Kenapa kau tertawa sendiri?" Tanya temanku, Bontenmaru.

"Hehhehhe.. tidak apa-apa.. bukan masalah.." jawabku singkat

"Heii awas! Ada papanya Hotaru, si Hotaru udah dijemput" teriak Akira

"Hei kau! Jangan dekat dekat dengan Keikoku, " kata Shinrei sambil menodongkan pistolnya ke Bontenmaru yang sedari tadi merangkul Hotaru

"Shinrei, ngapain kau ke sini?!" bentakku

"Ya jemput lah, ini kan juga dulunya sekolahku. Samurai gakuen."

Ya. Dia adalah ketua grup yakuza. Terdengar menyeramkan memang. Tapi tidak juga. Kenapa aku bisa menjadi anaknya? Begini ceritanya..

"Hai namamu.. Keikoku, kan? Perkenalkan namaku Shinrei. Kita sama-sama baru saja kehilangan orang tua, bukan? Aku tahu kau itu adikku, walau kita hanya setengah darah. Kalau kau mau, kau bisa memanggilku papa" ia tersenyum dengan manis. Ia terlihat dewasa. Padahal aku yakin dia hanya berbeda satu tahun denganku.. ya.. aku ingin sekali punya papa yang memiliki senyuman secerah matahari.

"Iya, papa"

Ia selalu menjagaku. Tetapi suatu hari sepertinya entah kenapa ia makin protektif. Aku sih, diam saja. Tidak masalah buatku.

Gadis-gadis di sekolahku terpesona setiap ia datang ke sekolah. Dulunya ia memang popular sih. Ia juga menjadi ketua osis tetapi kenapa sekarang bisa jadi ketua kelompok yakuza? Haaa.. aku tidak mengerti. Saat para gadis itu berteriak kesenangan, hatiku sakit.

"Mulai sekarang akulah yang akan menggantikan ayah dan ibumu untuk menjagamu, Kei.." katanya. Sejak saat itu Shinrei menjadi papaku, sejak saat itu juga dia menjadi cinta pertamaku. Sejak itu aku bertekad kalau aku sudah cukup dewasa, aku akan mengatakannya. Kembali lagi ke topik, ia habis menodongkan pistol ke Bontenmaru, itu yang membuatku marah. Langsung saja aku pulang.

.

.

Sampai Di rumah, seperti biasa. Kami disambut para pelayan. Langsung saja aku segera berlari ke dalam rumah mencari Akari. Pasti ia bisa membantu. Aku bercerita padanya tentang semuanya. Dan akhirnya ia membantuku.

"Mungkin penampilan bisa membuat ia tertarik padamu, Hotaru.." kata Akari

"Bagaimana caranya?"

"Sini, kupilihkan pakaian yang bagus untukmu." Ia langsung membuka lemariku dan mencocokkan semua pakaian yang menurutnya bagus.

Saat aku selesai berhias diri, kulihat penampilanku sangat keren dengan baju tanpa lengan berwarna hitam memperlihatkan otot-otot lenganku. Dan tak lupa mengikat kemeja lengan panjangku di pinggang. Ahh tampan sekali aku ini, itu sih menurutku. Aku kaget ketika Shinrei membuka paksa pintu ruangan dimana aku dan Akari berada. Ia mematung seketika saat melihat ehem.. penampilanku. Kulihat dipipinya bersemu merah. Ia langsung menghampiriku dan berkata.

"Kenapa kau berpenampilan seperti itu?" wajah kaget dan bingungnya menjadi Satu

"Karena aku ingin" Akari permisi untuk keluar dari ruangan.

"Shin.. sadarlah.." aku membuka kaus tanpa lenganku dan menarik membimbing tangan Shinrei agar menuju dadaku yang sudah bidang.

"Aku ini sudah dewasa. Lihatlah sendiri. Dadaku bidang, lenganku berotot, wajah dan suarakupun berbeda, harusnya kau sadar!"

"A.. aa.. jadi.. sudah ada orang yang kau sukai ya? Kalau begitu, ajak saja kemari. Aku janji tidak akan menodongkan pistol kepadanya"

"Bodoh. Aku tidak akan mengajak siapapun ke sini. Aku malu menjadi bagian dari yakuza"

Langsung saja aku berlari meninggalkan kamar itu. Tiba-tiba ada yang membekapku dari belakang. Entah kenapa aku jadi sangat mengantuk. Hilang semua kesadaranku.

"Halo.. Shinrei di sini?"

"Kalau kau ingin Hotaru selamat, cepat datang ke pelabuhan. Jangan bawa orang. Mengerti!"

"He… hei?! Siapa kau?!" panggilan terputus. Shinreipun langsung berlari menuju pelabuhan tanpa membawa senjata apapun. Apapun.

.

.

Brakkk..

"Akhirnya kau datang juga, Shinrei-sama"

"Kau! Ternyata kau! Apa yang kau inginkan dariku, hah! Jabatan?!"

"Hmm.. HMM HAHHAHHAHHA fufufu, kenapa kau berfikir begitu?"

"Hentikan, jangan tembak dia. Tembak saja aku. Bagiku.. Keikoku lebih penting daripada hidupku sendiri."

Akari yang berkhianat langsung mengangkat pistolnya. Untung aku segera sadar dan menendang tangannya agar tembakannya meleset. Untungnya hanya tanganku yang terikat jadi aku bisa melindunginya.

"Sial kau, Hotaru! Kutembak kau!"

Jderr

Crashhh….

Shinrei segera berlari kearah Hotaru dan seketika Shinrei tertembak dibagian perutnya

"Aarghh.. unghh… kurang.. ajar kau" Shinrei terjatuh dan memegangi perutnya yang sudah berlumuran darah. Aku tidak terima. Dengan susah payah, akhirnya simpul yang menjerat tanganku terbuka. Aku langsung menghajar Akari hingga tak berdaya dan langsung menghampiri Shinrei.

"Keikoku.. ungghh.. maaf.. maafkan aku" kata Shinrei

"Sstt.. sudah.. jangan bicara dulu, lukamu.." langsung saja ku gendong dia dengan gaya ala bridal, ia dan menuju rumah sakit. Darahnya banyak sekali berceceran. Aku segera membawanya ke UGD dan ia segera mendapatkan pertolongan pertama.

.

.

Saat ia membuka matanya ada perasaan lega yang menjalar di dadaku. Syukurlah.

"Kei.." kulihat bibirnya pucat, sangat berbeda dari biasanya. Kugenggam tangannya dan menjawabnya

"Hmm?"

"Bagaimana dengan Akari?"

"Dia sedang dikejar polisi. Shinrei, sejujurnya aku menyukaimu.. maaf aku baru bilang sekarang"

Kulihat tangannya menggapai wajahku dan berusaha memelukku. Kupeluk ia seperti benda yang sangat berhati hati saat menyentuhnya.

"Daisuki mo.." kata yang keluar dari bibirnya membuat seluruh tubuhku memanas kesenangan. Bahagiaku.. kebahagiaan yang ternilai harganya. Karena hanya ini yang kuinginkan selama ini

.

.

.

OWARI…

A/N : MOSHI MOSHI YOOOO … haahh… selesai lagi satu drabble.. fyuhh. Hope you like it readers..