Author POV

.

Rooftop Taebaek High School

"Bagaimana?" Kyungsoo bertanya lagi untuk kesekian kalinya. Suara nya bergetar saat ia mulai bertanya pada punggung Chanyeol. Ingatkan Chanyeol yang masih membelakangi Kyungsoo, mencari kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Kyungsoo. Jawaban yang meyakini Kyungsoo bahwa rasa itu tak benar. Rasa cinta itu tak lain hanya rasa iba Kyungsoo saja pada dirinya. Jujur, Chanyeol sudah lelah selama ini mengikuti permainan Kyungsoo, ia sudah mendapatkan waktu yang tepat seperti sekarang. Saat Jongin sadar ternyata Kyungsoo berarti baginya. Jadi keputusan yang Chanyeol ambil tepat kan?. Tapi realitanya berbeda, Kyungsoo malah menaruh rasa padanya, hal itu membuat Chanyeol terperangkap dalam suatu perasaan bimbang. Haruskah ia percaya pada Kyungsoo walaupun kemungkinan besar ia dapat dipermainkan kembali ? Atau Tetap meninggalkannya namun dengan perasaan bersalah ketika esok ia menemukan fakta bahwa Kyungsoo yang ternyata benar-benar menaruh rasa padanya?.

Lelaki itu diam, otaknya berpir keras antara dua pilihan itu, membiarkan dirinya kembali dipermainkan lagi? Atau menjadikan dirinya seseorang yang egois untuk menjaga perasaannya?. Ditambah suara isakan kyungsoo yang sekali dua kali lolos, membuat Chanyeol seakan teriris oleh pisau tak kasat mata. Ia semakin bingung harus menentukan yang mana. Ini lebih sulit daripada soal kalkus, demi apapun! Soal itu ia dapat selesaikan dalam waktu kurang lebih lima belas menit untuk sepuluh soal. Tapi ini? Ayolah ia bukan disuruh untuk berkutat dengan rumus kalkulus ia hanya dihadapkan pada dua pilihan dan harus memilih salah satu diantara pilihan tersebut.

Fyuuhhhhh...

Chanyeol terdengar membuang napasnya. Ia telah menemukan jawabanya. Ya, pilihannya. Dengan perlahan ia berbalik menghadapkan tubuh jangkungnya pada perempuan yang sedang menunduk sambil meremas ujung rok nya. Bahunya bergetar pelan dan terdengar isakannya yang membuat Chanyeol seakan menjadi seorang tersangka yang siap dihukum mati karena membuat Kyungsoo menangis.

"K-kyung ma-maaf aku-"

"Aku tak bisa" ,dengan cepat Chanyeol membalikkan badannya, tak sanggup jika masih harus bertatapan dengan Kyungsoo. Pengecut, ya itulah kata yang diucapkan Chanyeol pada dirinya sendiri.

Tangannya dengan cepat memegang engsel pintu dan hendak menariknya, namun sebuah tangan mendorong pintu itu untuk kembali tertutup. Itu tangan Kyungsoo. Ya, wanita itu memblokade jalan keluar Chanyeol. Chanyeol menoleh ke Kyungsoo yang tangan mungilnya masih menapak di pintu besi bercat putih yang dibeberapa bagiannya sudah berkarat itu. Gadis itu mendongak agar bisa melihat wajah Chanyeol. Dipandangnya lekat-lekat wajah itu.

Kyungsoo POV

Wajahnya belum pernah ku lihat sedekat ini. Ia ternyata memiliki mata yang besar di balik kacamata nya itu. Aku menelusuri setiap lekuk wajahnya. Tangan ku terangkat begitu saja menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya. Ia tampak terkejut sebentar, ekspresinya itu lucu sekali. Ia terlihat seperti anak TK yang terkejut karna temannya menemukan tempat 'persembuniannya'. Aku tersenyum sekilas melihat wajahnya, mengabaikan fakta bahwa tadi aku menangis tersedu karena lelaki ku bergerak turun, membelai pelan pipinya yang tirus, lalu menangkupnya. Kembali aku memandang matanya. Kali ini lebih intens hingga aku bisa melihat dengan jelas wajah ku terpantul di bola matanya. Terjerat, itulah yang aku rasakan. Susah sekali untuk berpaling dari dari mata nya. Ia seakan menarikku untuk masuk lebih dalam ketempat indah yang belum pernah aku datangi. Dekat dan dekat, wajah ku. Hingga aku dapat merasakan nafasnya yang sedikit tidak teratur berhembus di depan keningku.

Dorongan dari mana, aku mengalungkan tangan ku dn berjinjit lalu

CHU~

Author POV

Ciuman pertama, itu diibaratkan saat kita memberikan sesuatu yang berharga yang selama ini kita jaga. Entah itu kepercayaan, perasaan atau khormatan kita sendiri. Begitu juga Kyungsoo gadis itu memberikan ciuman pertamanya pada Chanyeol, tak semata-mata ciuman pertamanya yang ia berikan. Tapi juga hati dan perasaannya yang coba gadis itu utarakan. Ciuman yang mengutarakan perasaan tulus darinya untuk lelaki yang sekarang hanya mematung diam dengan ekspresi terkejut luar biasa karena tindakan Kyungsoo. Kyungsoo menutup matanya diiringi setetes air mata yang jatuh, perlahan turun membuat aliran kecil di pipi nya lalu bermuara ke bibirnya. Hingga Chanyeol dapat merasakan air mata itu mengenai bibirnya juga.

Lama Kyungsoo mencium bibir Chanyeol, ia berharap ini akan berlangsung selamanya karena rasanya sungguh indah. Seperti ada sesuatu yang meletup-letup di jantug mu dan ribuan kupu-kupu yang seakan-akan keluar dari perut. Lambat laun Chanyeol juga sudah menemukan titik di mana ia merasa sensasi yang berbeda yang belum pernah ia rasakan selama ini. Sesuatu yang membuat nya merasa hangat. Tubuhnya tiba-tiba merasakan hangat, terlebih hatinya. Kehangatan yang seolah menyembuhkan luka di hati Chanyeol, luka itu tertutup sempurna. Dengan perlahan namun pasti Chanyeol membalas ciuman Kyungsoo. Bibirnya memagut pelan bibir berbentuk hati milik Kungsoo. Tangannya menapak ragu ke pinggang Kyungsoo, masih canggung tapi akhirnya tangannya telihat pas di pinggang ramping Kyungsoo. Keduanya seakan terlarut dalam sensasi baru yang baru mereka rasakan saat ini. Indah, ciuman pertama mereka dibingkai oleh langit senja Seoul.

Kyungsoo dan Chanyeol berjalan bersama, sengaja Kyungsoo menelpon supirnya untuk tidak usah menjemputnya agar bisa pulang bersama dengan Chanyeol. Perempuan itu malu sekali karena kejadian di atap sekolah tadi. Seharusnya kan laki-laki dahulu yang mencium perempuannya bukan si perempuan yang mencium laki-lakinya, rutuknya dalam hati. Gadis itu menunduk, tangannya menggenggam ponsel erat sebagai pelampiasan degupan hatinya yang tak stabil. Chanyeol pun tak jauh berbeda, ia sesekali memandang ke arah Kyungsoo lalu kembali menatap jalan yang ia lewati. Ia menggengggam tali ranselnya yang menjuntai erat-erat karena rasa gugupnya itu, ia juga beberapa kali menelan ludahnya kasar dan membenarkan letak kacamatanya yang sedikit turun.

"K-kyungsoo" ,Chanyeol memanggil nama Kyungsoo. Ia berhenti, Kyungsoo pun berhenti dan membalikkan badannya ke Chanyeol yang tertinggal beberapa langkah darinya.

"Nde?" ,balas Kyungsoo pelan.

"Ki-kita ini apa?" ,tanya Chanyeol. Chanyeol itu tidak menderita gangguan bicara ia hanya terlalu gugup saja jika bersama Kyungsoo.

"Itu yang seharusnya aku tanyakan padamu Chanyeol. Semua tergantung padamu, aku tau aku pernah mempunyai niat buruk padamu. Maaf" ,Kyungsoo menunduk ia melihat ke arah ujung sepatunya.

"Maafkan aku" ,ulangnya suara gadis itu parau.

"Ini semua tergantung padamu tetap mempercayai ku yang pernah mengkhianatimu atau membiarkan ku pergi" ,Kyungsoo menegakkan dagunya. Menatap Chanyeol yang juga sedang menatapnya. Kyungsoo tersenyum tipis.

"Jadi Chanyeol, kita ini apa?" ,Kyungsoo balik menanyai Chanyeol dengan pertanyaan yang lelaki itu ajukan padanya tadi. Chanyeol hanya diam, ia hanya bisa menatap Kyungsoo dengan tatapan yang gelisah. Suara lelaki itu hanya sampai di tenggorokkannya saja. Saat bibirnya membuka hendak memberi jawaban, suara itu seakan sirna dan dia tak memiliki daya untuk bicara alhasil ia menutup bibirnya lagi. Begitu berulang kali, hingga

"Aku pergi" ,tak kunjung dapat jawaban Kyungsoo akhirnya membalikkan badannya lalu berjalan menjauhi Chanyeol. Ia tahu Chanyeol pasti akan menolaknya. Mana ada orang yang dengan tangan terbuka menerima seseorang yang sudah melukain perasaannya.

..

..

..

"Kajima" ,Kyungsoo merasa seseorang memeluknya dari belakang.

"Kajima" ,ucap Chanyeol lagi. Ia mengeratkan pelukannya ke tubuh mungil Kyungsoo. Kyungsoo seakan kehabisan nafas beberapa saat, merasa tidak percaya dengan lelaki yang sedang memeluknya saat ini. Ini mimpi? Kyungsoo bertanya dalam hati. Matanya berkaca-kaca setelah Chanyeol mengeratkan pelukannya.

Ini bukan mimpi, pelukannya terasa begitu nyata

..

..

"Chanyeol!" ,Kyungsoo memanggil Chanyeol yang sedang sibuk dengan buku yang sedang ia baca. Merasa namanya dipanggil Chanyeol pun memutus kontak matanya dengan tulisan membingungkan di buku yang ia baca, buku tentang Patofisiologi.

Chanyeol tersenyum tipis, matanya mengikuti gerakan Kyungsoo yang sedang menaruh tas ransel di bangku yang ada di depannya, lalu memutar bangku itu agar menghadap ke dirinya.

"Masih membaca buku rumit itu lagi?" ,Kyungsoo menunjuk buku yang di pegang Chanyeol. Chanyeol segera memasukkan buku itu ke dalam rak meja nya. Ia tahu Kyungsoo tak nyaman dengan itu. Kyungsoo perempuan pintar, masuk sepuluh besar nilai paling tinggi di Taebaek. Gadis itu juga suka membaca, namun kebanyakan dari buku bacaannya adalah novel tentang pemecahan sebuah kasus pembunuhan, apolkatik, hard science fiction, disaster intinya jauh dari koleksi novel perempuan yang kebanyakan bergenre drama romantis. Dan ia tidak suka buku ensiklopedia dan buku patofisologi yang Chanyeol baca.

Chanyeol mengangkat kedua tangannya.

"Aku sudah tidak memegangnya" ,ucap Chanyeol. Ia melihat Kyungsoo yang tersenyum kecil sambil menatapnya.

"Hei, kau ini seperti anak kecil saja" ,Kyungsoo menumpukkan tangannya di meja sambil menatap Chanyeol lebih intens.

"Aku bukan anak kecil, aku hanya memberi tahu mu bahwa aku benar-benar sudah tidak mebuka buku patofisiologi ku, Kyung" ,jelas Chanyeol.

"Ya ya ya terserah, yang penting nanti kita makan di taman aku sudah memasak untuk makan siang kita" ,Kyungsoo mengganti topik pembicaraan mereka.

"Baiklah"

..

..

Kyungsoo dan Chanyeol sedang duduk di bangku kayu di taman sekolahnya. Mereka berdua sedang memakan bekal yang di masak Kyungsoo.

"Rasanya tidak terlalu buruk kan?" ,tanya Kyungsoo ketika Chanyeol baru saja menyuapkan sesedok spaghetti ke mulutnya. Jujur saja ia gugup setengah mati untuk memasak makanan ini. Ia berkali-kali mengulang membuat spaghettii ini untuk bekal makan siangnya dengan Chanyeol. Ya, Chanyeol anak dari seorang pemilik restoran makanan barat ternama di Seoul, Viva Polo. Ayahnya Park Siwon, dikenal sebagai pengusaha hebat di bidang kuliner. Jadi dari latar belakang Chanyeol, Kyungsoo berpikir Chanyeol akan memuntahkan makanan yang hanya kelebihan sedikit garam karena rasanya tidak pas. Oleh karena itu Kyungsoo membuatnya dengan sangat hati-hati.

GLEK..

Chanyeol menelan makanan Kyungsoo.

"Kenapa bilang rasanya buruk? Ini enak" ,jawab Chanyeol. Lalu kembali menyendok spaghetti yang ada di kotak bekal berwarna biru laut.

Kyungsoo menghembuskan nafas leganya.

"Kalau begitu aku akan membuatkan mu lagi besok" ,ucap Kyungsoo sambi memutar garpu di spaghettinya.

"Jangan, aku tidak mau merepotkan mu. Aku bisa beli makanan di kantin atau membawa bekal dari rumah" ,Chanyeol menoleh ke Kyungsoo yang batal memasukkan spaghetti ke mulutnya.

"Chanyeol... aku tidak kerepotan. Aku senang membuatkannya untuk mu" ,kata Kyungsoo dengan nada merajuk. Sungguh, walaupun harus bangun lebih pagi untuk membuat bekal makan siang Kyungsoo rela karena dapat melihat Chanyeol makan dengan lahap hasil masakannya. Rasanya senang sekali.

"Mmm.. baiklah terserah padamu saja" ,balas Chanyeol. Mereka berduapun melanjutkan makan siang mereka dengan keadaan tenang.

..

..

"Kai!" ,Sehun memanggil Kai yang sedang melakukan lay up shot.

Bola basket yang dilempar Kai masuk dengan sempurna.

Kai hanya melengos, tidak menanggapi panggilan Sehun. Lelaki berkulit coklat itu malah duduk di bangku panjang yang diperuntukkan untuk pemain dan juga pelatih di lapangan basket indoor sekolahnya ini. Tubuh atletis berototnya terlihat mengilap karena keringat yang membasahi tubuhnya. Ia mengibas-ngibaskan rambut hitam basahnya, agar tak terlalu basah. Percayalah, setiap perempuan yang melihatnya pasti akan langsung terpesona. Pesona seorang Kim Jongin memang sulit di tolak oleh perempuan. Tampan, kaya, tubuh atletis, dan walaupun angkuh tapi itulah yang malah semakin membuat para gadis tergila-gila oleh dirinya. Serta tak ketinggalah aura yang mengerikan selalu menguar dari tubuhnya.

Sehun sahabat karib Jongin yang bernama beken Kai itu hanya memandang datar kelakuan sahabatnya dan menghela nafas lelah. Beberapa minggu ini Kai tidak seperti biasanya. Ia tahu, Kai sedang patah hati karena Kyungsoo. Semenjak insiden Kyungsoo menampar Kai di kantin, Kai menjadi seseorang yang semakin liar dan juga pendiam. Tapi itu juga salahnya, seharusnya ia tak berlaku kasar dengan menanyakan apa urusan Kyungsoo untuk mencampuri kehidupannya.

Jelas-jelas Kyungsoo itu sahabatnya.

Atau mungkin...

Lebih dari sahabat?

Sehun duduk di sebelah Kai yang sedang meminum air putih dari botol minumannya.

"Kai" ,Sehun memanggil namanya lagi.

"Tadi malam kau bertengkar di bar kan?" ,tanya Sehun tanpa memandang Kai. Sehun memperhatikan bola basket yang masih memantul karena lemparan Kai tadi.

Mood Kai yang sedang buruk bertambah buruk lagi karena Sehun mengingatkan pertengkarannya tadi malam di bar. Umurnya memang belum legal untuk masuk ke bar, namun karena uang dan koneksi yang ia miliki Kai bisa dengan muda masuk ke pitch-black, nama bar yang dikunjungi Kai tadi malam. Mendengar ucapan Sehun, Kai pun langsung mengemasi barangnya dan membawa tas nya sembarangan tanpa menanggapi Sehun. Ia sedang tidak mau berbicara dengan siapapun sekarang, suasana hati nya buruk pikirannya kacau hanya karena Kyungsoo.

"Hei, aku akan membantumu merebut Kyungsoo lagi" ,Kai menghentikan langkahnya karena ucapan Sehun. Sehun berdiri lalu berjalan ke arah Kai yang hanya mematung diam. Ia menepuk bahu Kai.

"Apapun caranya aku akan membantumu", Sehun meremas bahu Kai. Sahabat akan selalu membantu sahabatnya dengan cara mereka sendiri. Termasuk Sehun, ia memiliki cara tersendiri untuk membantu sahabatnya mendapatkan apa yang sahabatnya tadi inginkan.

..

..

Kyungsoo menutup novelnya, yang di sampulnya bergambar dua orang lelaki yang sedang duduk di bangku yang berbeda. Yang duduk di bangku dengan sandaran lebih besar adalah guru yang sedang menggenggam tangan muridnya yang duduk di bangku yang sadarannya lebih kecil sambil menunduk.

"The Giver?" ,Chanyeol membaca tulisan berwarna putih pada cover novel itu.

"Oh.. kau pernah membacanya?" ,tanya Kyungsoo. Chanyeol menggeleng.

"Aku lebih suka membaca novel tentang galaxy empire, generation ship, terraforming dan eksplorasi luar angkasa dan juga komik, ya! Aku sangat suka one piece" ,balas Chanyeol semangat. Kyungsoo tersenyum tipis. Setidaknya Chanyeol lebih terbuka, tidak terlalu pendiam padanya dan sering tesenyum sekarang.

"Aku bingung padamu Chan, kau selalu membawa buku yang tak ada hubungannya sama sekali. Patofisiologi dan The Martian apa hubungannya. Kau bilang suka kimia, tapi membaca buku biologi dan antariksa? Membingungkan" ,Kyungsoo memgerucutkan bibirnya sambil menatap Chanyeol. Sampai-sampai membuat Chanyeol gugup. Ia membenarkan letak kacamatanya lagi dan menelan ludahnya kasar karena tenggorokkannya terasa sangat kering setelah Kyungsoo menatapnya dengan tatapan menggemaskan yang mematikan. Matanya bulat, polos seperti seekor anak kucing yang mengeong meminta sekali dua kali belaian pada kepalanya. Ah... Chanyeol kuatkan dirimu.

"Ah tentang itu.. aku sebenarnya mempunyai banyak cita-cita aku ingin menjadi dokter bedah, bekerja di NASA atau menjadi ahli kimia analitik atau ahli biokimia" ,Chanyeol medongak. Matanya menerawang jauh ke langit biru dengan awan putih yang berarak. Kyungsoo terlarut pada ucapan Chanyeol. Ia memandang dari samping wajah Chanyeol yang terkena sinar matahari.

"Oleh karena itu, aku mempelajari biologi, kimia dan antariksa. Karena aku hanya dapat mewujudkan satu cita-cita ku saja walaupun begitu setidaknya aku pernah sedikit mempelajari ketiganya? Mempelajari hal-hal yang aku sukai" ,Chanyeol menoleh ke arah Kyungsoo setelah menyelesaikan ucapannya. Gadis itu tampak sedikit kaget, karena Chanyeol yang tiba-tiba menoleh. Badannya menegang sebentar.

"Do what you want to do, follow your heart and the way will be open. Kyungsoo-ya~"

..

..

..

"Chanyeol, aku ingin Blue Lemonade di Mango six! Kita kesana ya? Yayaya" ,Kyungsoo menarik-narik lengan Chanyeol, membujuk lelaki itu. Ia ingin blue lemonade, membayangkan minuman berwarna biru berperisa lemon itu membasahi tenggorokkannya yang luar biasa kering. Ah, ia ingin itu sekarang!.

"Ta-tapi" ,Chanyeol menggaruk rambutnya yang tak gatal. Ia ingin menolak namun tak enak.

"Baiklah" ,ucap Chanyeol pasrah. Kyungsoo menggamit lengan Chanyeol riang. Kaki pendeknya ia langkahkan lebar-lebar dan cepat. Chanyeol yang mempunyai kaki panjang bahkan sesekali terseok karena mengimbangi langkah Kyungsoo.

Sampailah mereka berdua dipintu keluar sekaligus masuk sekolah elite mereka. Kyungsoo hendak melangkahkan kakinya lebih jauh namun seseorang dengan postur atletis dan tampang sangar menghalangi langkah Kyungsoo dan otomastis Chanyeol. Kyungsoo segera meleas rengkuhannya pada lengan Chanyeol setelah melihat orang itu.

"Yo-yoon Sung oppa?" ,ujar Kyungsoo seperti sebuah pertanyaan. Yoon sung mengangguk memberi hormat pada nona mudanya.

"Aku kan sudah mengirimi oppa pesan agar tidak usah menjem-

"Nona, dua jam lagi anda ada jadwal les bahasa inggris privat di rumah dengan Nam ssaem. Anda harus pulang sekarang nona" ,potongYoon Sung sambil melihat jam tangannya lalu beralih ke Kyungsoo dan melirik tajam ke arah Chanyeol yang berdiri tepat di samping nona mudanya itu.

"Tapi oppa aku hanya akan pergi sebentar, janji sebentaaaaaar saja bersama Chanyeol~ jebal-yo" ,Kyungsoo menggenggam tangan Yoon Sung. Memberi keyakinan bahwa ia akan pergi membeli minuman sebentar saja bersama Chanyeol.

"Jebal, jebal" ,Kyungsoo memandang Yoon Sung memelas. Membuat hati kecil Yoon Sung bergetar. Manamungkin ia tega menolak permohonan nona mudanya ini?

"Tapi, tidak ada naik bus atau subway. Nona muda dan.." ,Yoon Sung menggantung ucapannya dan menatap tajam ke Chanyeol.

"Tuan Park" ,sambungnya kembali menatap Kyungsoo. "Akan ku antar menggunakan mobil pribadi, arra?"

"Baik, baiklah. Ayo pergi sekarang aku haus sekali"

..

..

..

"Aku pesan satu blue lemonade dan satu milkshake pisang" ,ucap Kyungsoo pada pelayan kafe sekaligus penjaga kasir di sana.

"Totalnya dua belas ribu won" ,ucap pelayan itu ramah. Kyungsoo pun membuka dompetnya dan hendak mengambil kartu kreditnya disana, namun

"Ini" ,Chanyeol menyodorkan credit cardnya pada penjaga kasir itu. Tangan kirinya menggenggam pelan tangan Kyungsoo dengan maksud menghalangi gadis itu agar tidak mengeluarkan kartu kreditnya. Gadis itu terdiam sebentar menatap Chanyeol, ia belum bisa membaca situasi ini. Sedangkan penjaga kasir itu menggesekkan kartu kredit Chanyeol pada mesin EDC lalu meminta Chanyeol memasukkan pin dari kartu kreditnya.

"Aku yang traktir" ,ucap Chanyeol pada Kyungsoo. Kyungsoo diam, ia memasukkan kartu kreditnya kembali ke dalam dompet givenchy nya. Tak lama pelayan itu membawa nampan berisi segelas blue lemonade dan milkshake pisang pesanan Kyungsoo serta struk pembelian di sana.

..

..

..

Kyungsoo dan Chanyeol duduk di dekat jendela. Sesaat setelah duduk, Kyungsoo dengan segera mengambil blue lemonadenya lalu meminumnya. Cairan berwarna biru itu seakan menjadi pemadam di tenggorokannya yang sedang terbakar oleh api yang berkobar. Sementara Chanyeol, ia mengaduk sebentar milkshake nya sambil mengamati Kyungsoo. Ia mengulum senyum melihat Kyungsoo yang bertingkah seperti anak kecil. Melihat gadis itu dengan tidak sabaran membuka kemasan sedotan berwarna hitam lalu dengan tergesa memasukkannya ke dalam cup blue lemonadenya dan menenguk dengan sekali nafas.

SLURP

Kyungsoo meminum blue lemonade nya dengan rakus sampai tersisa es batunya saja. Bahkan sampai menimbulkan bunyi karena ia masih menyeruput minumannya yang sudah habis itu. Chanyeol menggeleng sambil tersenyum. Ia tak habis pikir Kyungsoo memiliki banyak sisi dalam dirinya. Gadis itu bisa berubah menjadi seorang yang dingin, pendiam dan berwajah datar. Bisa menjadi kekanakan dan manja dapat pula menjadi seorang yang dewasa. Mimpi apa Chanyeol hingga ia dapat menjadi kekasih resmi Kyungsoo.

"Hey, pelan-pelan tak ada yang akan meminta minuman mu" ,ujar Chanyeol. Mendengar ucapan Chanyeol, Kyungsoo langsung berhenti meminum blue lemonade nya. Ia tersenyum malu, dan menggaruk rambutnya yang tak gatal. Kyungsoo mengumpat dalam hati karena sikapnya yang memalukan itu.

"Ah.. memalukan sekali ya?" ,tanya Kyungsoo pelan namun masih bisa didengar Chanyeol.

"Tidak, aku hanya khawatir jika kau tersedak Kyung" ,jawab Chanyeol.

"O-oh.." ,gumam Kyungsoo. Entah kenapa wajahnya memerah hanya karena perhatian kecil yang diberikan Chanyeol. Kyungsoo pun berusaha menutupi rona merah diwjahnya dengan menunduk. Tiba-tiba saja suasana canggung melingkupi Chanyeol dan Kyungsoo. Chanyeol yang melihat Kyungsoo diam dan menunduk, merasa ada sesuatu yang salah. Tapi seingatnya ia tak berbuat hal yang salah?. Perempuan memang sulit dibaca dan dipahami. Menurut Chanyeol lebih mudah memahami bab Termodinamika serta Implus dan Momentum daripada perempuan. Setidaknya walaupun sulit termodinamika dan implus mempunyai patokan rumus yang tetap. Sementara perempuan tidak, perempuan tidak memiliki rumus yang harus dikerjakan agar seseorang mengerti dirinya.

..

Chanyeol agak sungkan membuka obrolannya lagi dengan Kyungsoo. Itu karena Chanyeol adalah seseorang yang pasif. Ia mempunyai niat bertanya tapi tak berani ia utarakan. Tapi jika ia tak bertanya, ia tak akan pernah tau apa yang salah pada dirinya. Sekian waktu berkontradiksi dengan pikirannya, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.

"Kyung"

Kyungsoo yang tadinya menunduk langsung mendongakkan kepalanya karena namanya dipanggil.

"Nde?"

"Apa aku berbuat salah?" ,tanya Chanyeol to the point. Kyungsoo menggeleng.

"Tidak, kau tidak berbuat kesalahan" ,jawab Kyungsoo.

"La-lu tadi kenapa kau terus diam dan menunduk?" ,Chanyeol menaikkan satu alisnya.

"Tidak kok, tidak aku hanya..." ,Kyungsoo menggantung ucapannya. Ia mencari jawaban lain, tidak mungkin kan secara gamblang ia akan bicara bahwa hei kau tak salah aku hanya merona karena mu!. Tidak, tidak Kyungsoo segera menggelengkan kepalanya.

"Kyung kau pusing?" ,tanya Chanyeol saat menangkap gelagat Kyungsoo. Raut wajahnya khawatir.

"Tidak Chanyeol, aku tidak pusing hanya..." ,mata gadis itu bergerak ke kanan dan ke kiri dengan gusar. Hingga matanya berhenti pada sebuah benda di meja.

"Hanya ingin meminjam ponsel mu"

"Ha? Ponsel?"

"Y-ya ponsel mu" ,jawab Kyungsoo.

"Untuk a-

"Lihatlah tempat ini mempunyai pencahayaan yang bagus, interior nya juga bagus. Aku harus selca" ,ucapan Kyungsoo begitu saja melontar dari mulutnya.

"Oh.. baterai ponsel mu habis?" ,tanya Chanyeol sambil menyerahkan ponsel nya pada Kyungsoo. Kyungsoo pun menerima ponsel Chanyeol dengan agak ragu.

"Ya- baterai ponsel ku habis" ,jawab Kyungsoo sedikit gugup. Kyungsoo tersenyum, menutupi kebohongannya.

"Tapi tak apakan ku pakai?" ,Chanyeol menggeleng mendengar pertanyaan Kyungsoo.

"Pakai saja, tak apa"

Kyungsoo pun membuka ponsel Chanyeol. Ia mengernyit sebentar.

"Ponsel mu tidak diberi password?" ,tanya Kyungsoo.

"Tidak, aku mudah lupa pada sesuatu" ,balas Chanyeol.

Kyungsoo POV

Aku menggeser layar ponsel milik Chanyeol. Sebenarnya meminjam ponselnya hanya alibi ku saja. Di ponselnya hanya ada beberapa aplikasi bawaan dari ponsel ber iOs nya dan satu aplikasi unduhan perpesanan. Bahkan di gaerinya tidak ada foto sama sekali, dan di LINE nya pun hanya berisi kontak ku, teman satu klub nya Chen, Goo ssaem guru kimia, dan roomchat dari bimbelnya. Sedikit tidak sopan mungkin aku membuka tanpa izin akunnya, tapi kepalang tanggung. Aku penasaran dengan Chanyeol, penasaran dengan... kehidupannya? Ia terkesan tertutup tapi sebenarnya tidak. Ia tipikal orang yang akan terbuka pada orang yang sudah dekat dengannya. Ia sudah lumayan bercerita banyak padaku, tapi kurasa ia punya banyak cerita yang perlu ia bagi pada seseorang.

"Kyung kau tidak jadi selca?"

"Nde?"

"O-oh, aku tiba-tiba jadi tidak mood?" ,elakku.

"Omong-omong kau tak punya aplikasi permainan di ponsel mu?" ,tanya ku. Wajar kan aku bertanya seperti itu, biasanya kan seseorang setidaknya punya satu game di ponselnya.

"Tidak, aku tidak punya game. Aku sudah stop"

"Stop?" ,heran ku. Ia mengangguk.

"Dulu saat aku kelas lima aku kencanduan game, saat liburan semester pertama aku menghabiskan lima hari penuh di kamar ku dengan bermain game yang dikirimkan oleh kakek ku. Kakek ku membelikan ku beberapa kaset game saat itu sebagai hadiah karena nilai ku sedikit naik. Saat itu aku mempunyai mindset harus menyelesaikan sesuatu yang aku mulai. Karena aku sudah menghabiskan satu cd game saat itu dan masih ada lima jadi ya... aku memainkannya terus sampai akhirnya pada hari kelima ibu menemukan ku pingsan di depan tv" ,cerita Chanyeol.

Aku mengembalikan ponselnya, aku menaruhnya di samping gelas milkshake yang sudah tersisa busa berwarna kuning pastel.

"Aku tak menyangka kau maniak games" ,ucap ku.

"Itu dulu, sejak saat itu ayah ku membuang playstation dan compact disc games ku. Termasuk pemberian kakek" ,nadanya agak lirih saat ia menyebut kakek. Lalu ia menunduk lesu.

"Chanyeol hei" ,aku menggoyangkan bahunya.

"Ah.. maaf"

"Kita sudah hampir satu jam di sini, lebih baik kau pulang tak enak dengan Yoon Sung ahjussi sudah menunggu lama" ,ucapnya.

"Baiklah, oh iya pulang bersama bagaimana?" ,tawar ku. Ia berdiri dari tempat duduknya.

"Tidak usah aku bisa naik bus" ,tolaknya. Aku ikut berdiri lalu memakai tas ku.

"Baiklah-baiklah" ucap ku sambil berjalan bersebelahan dengannya.

"Hati-hati di jalan dah~" ,aku melambaikan tangan ku dan masuk ke mobil. Ia membalas ku dengan melambaikan tangannya juga. Yoon Sung oppa sudah menjalankan mobilnya namun Chanyeol masih berdiri di sana, aku pun membuka kaca mobil ku dan memberi gestur telepon padanya. Ia pun tersenyum dan menggoyangkan ponselnya.

Aku tersenyum layaknya orang gila setelah menutup kaca mobil dan duduk dengan benar. Ah, Chanyeol itu manis sekali kan?

"Nona anda baik-baik saja?" ,Yoon Sung oppa bertanya padaku.

"Nde? Ah- aku baik-baik saja" ,jawabku sedikit gelagapan.

..

Author POV

"Tuan Muda anda harus pulang bersama ku sekarang juga" ,ucap sosok lelaki yang tiba-tiba hadir di belakang Chanyeol. Chanyeol sedikit terkejut mendengarnya, ia lalu membalikkan badannya.

"Boo hyung, astaga kau membuatku kaget" ,Boo Taek hanya memutar matanya malas. Sedangkan Chanyeol mengelus dadanya.

"Ayo kuantar pulang, kau ini anak Park Siwon" ,tutur Boo Taek.

"Lalu? Apa hubungannya?"

"Park Chanyeol, Tuan Muda ku. Anak dari Tuan Siwon dan Nona Yoona yang seorang pebisnis kuliner nomor satu di Seoul, Cucu dari almarhum Park Hae Jin pemilik sekaligus pendiri Blenda Inc—"

"Ya lalu apa urusannya? Aku benci bau mobil hyung kau tau itu kan" ,potong Chanyeol kesal. Ia benci omelan Boo Taek selaku supir pribadi dan temannya sejak kecil.

"Chanyeol, ayolah jika kau naik bus terus aku terancam kehilangan pekerjaan ku. Kau pasti juga akan selalu kena omel ibu dan ayah mu kan. Kau itu anaknya setidaknya hargailah mereka, orang tua mu itu orang penting kau tau kan? Ayah dan ibu mu pasti disangka tak menyediakan fasilitas untuk anaknya. Aku tau niat mu bagus ingin mandiri, tapi pikirkan harga diri orang tua mu" ,oceh Boo Taek. Chanyeol menyerah jika sudah Boo Taek sudah berbicara panjang lebar.

"Baiklah-baiklah" ,dumel Chanyeol sambil membuka pintu mobil pribadinya lalu menutupnya dengan keras. Mobil hadiah ulang tahun Chanyeol yang ke lima belas, dua tahun lalu. Ia dihadiahi Mercedes Benz S 500 L. Mobil pabrikan Jerman itu ia dapatkan karena mendapatkan nilai tertinggi di ujian akhir.

Boo Taek menggelengkan kepalanya heran pada tingkah Chanyeol selama ini. Pagi-pagi menyelinap keluar rumah hanya karena ingin naik bus untuk pergi ke sekolah. Padahal ada puluhan mobil yang menganggur di garasi. Pulang pun Chanyeol menolak untuk di jemputnya. Orang tua nya uring-uringan karena sikap Chanyeol itu.

Fyuhhhh...

Tapi hari ini Boo Taek bisa membawa Chanyeol pulang ke rumah megahnya. Kesenangan tersendiri untuknya. Lelaki yang umurnya hanya terpaut delapan tahun dari Chanyeol itu masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya ke distrik gangnam.

Mobil berwarna hitam itu berhenti diperempatan karena lampu dengan tiga warna berbeda yang terletak menggantung itu menunjukkan warna merah untuk pengendara bermotor dan warna hijau untuk pejalan kaki. Boo Taek menyamankan duduknya, tersenyum sebentar lalu melirik ke arah kaca spion yang ada di atasnya. Di sana Chanyeol hanya diam memandang ke arah jendela dengan tatapan datar tanpa tertarik.

"Hei bocah" ,Boo Taek memanggil Chanyeol. Boo Taek akan memanggilnya bocah jika dalam keadaan santai seperti ini. Chanyeol juga sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Mereka berdua dekat sejak kecil, Boo Taek adalah anak dari pelayan yang bekerja di rumah Chanyeol. Tak heran jika mereka dekat karena Chanyeol yang notabene nya adalah anak rumahan dan Boo Taek yang kesehariannya juga berada di lingkungan rumah Chanyeol.

Chanyeol hanya berdehem menanggapinya. Ia masih memandang ke arah luar.

"Perempuan itu tadi siapa? Pacar mu ya?" ,tanya Boo Taek masih menatap spion di atasnya. Ingin melihat bagaimana ekspresi Chanyeol menanggapi pertanyaan nya.

Chanyeol mengernyit tak suka.

"Ini privasi ku" ,jawab Chanyeol. Boo Lampu sudah berubah warna menjadi hijau. Sambil terkekeh pelan ia menginjak pedal gas.

"Oh apa? Privasi? Haha" ,Boo Taek menyemburkan tawanya. Ia tahu Chanyeol tertutup tapi ia tak pernah mengatasnamakan nya sebagai sebuah privasi. Chanyeol mendengus tak suka. Setelah lulus dan mendapat gelas sarjana satu ilmu teknik informatika orang ini semakin menyebalkan saja.

"Sudahlah hyung menyetir saja yang benar" ,ucap Chanyeol sambil berdecak.

"Hei hei sudahlah aku pernah berada di posisi mu juga" ,kata Boo Taek setelah berhenti tertawa. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan yang ada di depannya.

"Ah.. perempuan tadi namanya Do Kyungsoo kan anak dari pemilik rumah sakit Kangshin?" ,tebak Boo Taek. Bukan menebak sih, dia memang sudah tau sejak lama. Ia hanya berniat menggoda Tuan Mudanya saja.

Godaannya berhasil Chanyeol terlihat sedikit kaget dan ia mengginggit bibirnya. Boo Taek tersenyum geli.

.

.

.

"Huffttt.. lelahnya.." ,Kyungsoo menghela nafasnya lelah. Ia baru masuk ke kamarnya setelah selesai les privat bahasa inggris di ruang baca. Perempuan itu merebahkan tubuh mungilnya di kasur ukuran queen size dengan selambu berwarna babypink yang menjuntai. Kamarnya girly sekali, ibunya yang mendesain bukan dia. Ia lebih suka kamar dengan cat berwarna putih gading atau warna netral lainnya daripada warna pink yang membuatnya sakit mata. Tapi ya mau bagaimana lagi, Kyungsoo tak mau jika ibunya nanti membakar seluruh koleksi novelnya. Jadi perempuan bermata bulat itu menurut saja dengan apa yang dilakukan ibunya.

Ponselnya yang ia lempar sembarangan ke kasur bergetar menandakan pesan masuk. Dengan malas ia merangkak naik, mengambil ponselnya lalu menyandar di kepala ranjang. Gadis itu tersenyum saat membaca pesan dari Chanyeol, lelaki itu bertanya padanya apakah ia sudah selesai les. Dengan cepat Kyungsoo mengetik balasan lalu mengirimnya. Selang beberapa detik setelah Chanyeol membaca balasan Kyungsoo, Chanyeol mengirimkan sebuah pesan yang membuat Kyungsoo memekik kegirangan. Wanita itu teriak-teriak dan bergulung-gulung bahagia diatas ranjangnya. Jantungnya berdegup cepat karena rasa senang. Setelah merasa sedikit tenang, Kyungsoo mengetikkan balasan "Ya" ke Chanyeol.

.

.

.

"Kyung, apa lusa kau kosong? Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat"

"Ya, aku kosong :)"