Hari Minggu ini cerah sekali, secerah Kyungsoo. Gadis itu sedang mematut dirinya di depan cermin besar berbingkai ukiran putih di kamarnya. Ia menyerongkan badanya ke kanan dan ke kiri sekadar mengecek penampilannya. Perempuan itu terlihat sangat bersinar dan cantik dengan dress selutut berwarna peach serta riasan ringan di wajah cantiknya. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai sampai menutupi punggung. Tak lupa ia menyemprotkan parfum Fancy buatan penyanyi Jessica Simpson. Dengan campuran aroma kayu cendana, bunga cempaka, dan vanilla sebagai dasarnya dan dibubuhi wangi jasmine, almonds, red berries dan pear sebagai sentuhan akhir, menimbulkan kesan manis dan segar pada si pemakai.
Dengan senyum sumringah Kyungsoo menyambar over shoulder bag keluaran Guess berwarna baby pink hadiah dari sepupunya, Myungsoo. Setelah itu ia segera keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.
"Good morning Eomma! Appa!" ,Kyungsoo menyapa kedua orangtuanya yang sedang duduk di meja makan kayu panjang dengan belasan kursi yang sayangnya setiap hari hanya di gunakan tiga kursi. Ayah dan ibu Kyungsoo yang melihat putrinya sudah tampil cantik di pagi hari mengernyit bingung. Tak biasanya anak gadisnya sudah cantik, sepagi ini.
Di kecupnya pipi Donghae ayahnya dan kening Ji Eun ibunya.
"Tumben sekali sudah rapi, mau pergi kemana sayang?" ,tanya Ji Eun. Ibu Kyungsoo.
"Mmm.. pergi bersama... Baekhyun? Ke Seounyudo Park" ,jawab Kyungsoo.
"Ah.. Baekhyun yang sekarang bersekolah di sekolah khusus untuk perempuan itu?" ,sambar Donghae. Seraya mengambil roti tawar yang sudah dilapisi selai kacang oleh istrinya.
"Iya Appa, sudah lama aku tidak bertemu dengan Baekhyun. Jadi hari ini aku ingin hangout dengannya bolehkan?" ,tanya Kyungsoo dengan nada merajuk. Donghae terseyum kecil menatap anak gadis sematawayangnya.
"Tanya Eomma mu" ,ujar Donghae.
"Appa tidak mau jika Eomma mu mendiami Appa lagi karena memberikan mu izin pergi bersama temanmu ke mall bulan lalu" ,lanjut Donghae. Ji Eun yang kesal pada suaminya itu memincingkan matanya lalu menyikut tangan Donghae.
Ini hari libur, hari untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Ji Eun ingin sekali menghabiskan waktu bersama anaknya, memasak bersama, berbagi cerita, bermain piano dan menyanyi. Tapi sepertinya niat itu harus Ji Eun urungkan. Anaknya sudah beranjak dewasa, ia semakin sulit menghabiskan waktu berdua dengan Kyungsoo. Dan, itu membuatnya sedih. Di hari biasa Ji Eun sibuk dengan rutinitasnya sebagai dokter anak, sementara Kyungsoo sibuk dengan sekolah dan lesnya.
"Eomma bolehkan?" ,Kyungsoo mengerucutkan bibirnya dan menatap ibunya penuh harap. Ji Eun menghembuskan nafas nya.
"Ya sudah sana, jangan pulang terlalu malam. Diantar Yoon Sung kan?"
"Iya, aku tidak akan pulang larut Eomma" ,Kyungsoo pun melingkarkan tangannya ke bahu ibunya lalu mengecup pipinya. Ji Eun pun memjamkan matanya dan mengelus tangan Kyungsoo yang melingkar di bahunya.
Donghae tersenyum kecil melihat dua malaikatnya, rasanya senang sekali. Tak lupa Kyungsoo juga mengecup pelipis Donghae.
"Aku pergi dulu ya Eomma, Appa" ,Kyungsoo pun melambaikan tangannya kepada orang tua nya. Lalu berlari kecil keluar dari rumah.
"Lihatlah anak mu Donghae, ia sudah gadis" ,ucap Ji Eun sambil melihat Kyungsoo yang berlari kecil sehingga rambut hitam panjangnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Ini sama ketika ia melihat Kyungsoo sebelas tahun lalu, saat ia baru saja masuk ke sekolah dasar. Kyungsoo kecil yang berlari dengan kobaran semangatnya masuk ke gerbang sekolah.
Donghae berdiri dan berjalan mendekat ke istrinya. Ia lalu mencium rambut istrinya, menyesapi aroma yang tak pernah berubah selama dua puluh tahun bersama dan memeluknya dari belakang.
"Aku tahu kau kesepian, bagaimana kalau membuat adik untuk Kyungsoo?" ,bisik Doghae menggoda sang istri. Ji Eun yang sudah hafal dengan tingkah suaminya hanya terkekeh pelan lalu menyikut perut Donghae.
"Kau ini, aku sudah tidak muda lagi Donghae"
"Tapi tenaga mu tak ada bedanya dengan gadis usia dua puluhan" ,Donghae terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Ji Eun mendengus geli. Suaminya ini humoris dan juga romantis, tipenya sekali.
"Oppa ke Seounyudo Park ya" ,ucap Kyungsoo yang sudah duduk manis di jok mobil.
"Baik nona" ,Yoon Sung pun segera melajukan mobilnya keluar dari kediaman Kyungsoo yang megah di daerah Gangnam.
Ponsel Kyungsoo berbunyi, pesan masuk. Dengan segera Kyungsoo membaca pesan tersebut. Chanyeol, si pengirim pesan bertanya Kau sudah dalam perjalanan?. Dengan senyum manis Kyungsoo mengetik balasan Ya, aku sudah dalam perjalanan. Agak macet, mungkin aku akan sedikit terlambat.
Kyungsoo mengirim pesannya sambil tersenyum malu. Sayang sekali Chanyeol tidak bisa menjemputnya ke rumah. Jika Chanyeol menjemput ke rumahnya pasti ia tidak akan mengkambing hitamkan baekhyun dan berbohong ke orang tuanya. Hehe maaf ya eomma, appa, baekhyun, batin Kyungsoo sambil terkekeh. Omong-omong perihal Chanyeol yang tidak bisa menjemput Kyungsoo itu karena Chanyeol menjemput seseorang spesial yang akan dikenalkannya pada Kyungsoo. Awalnya Kyungsoo sedikit kecewa. Namun, jika dipikir-pikir lagi Chanyeol yang tertutup akan mengenalkan "seseorang spesial" kata Chanyeol bukankah itu sesuatu.. yang.. sedikit Wah? Atau benar-benar Wah?. Kyungsoo yang jelas senang. Senang sekali, sejak tadi malam ia menerka-nerka siapa "orang spesial" itu hm.. mungkin orang tua Chanyeol? Oh,, tidak-tidak hubungannya belum sejauh itu. Kakak sepupunya? Mungkin, tapi setahunya Ayah Chanyeol adalah anak tunggal. Ibu Chanyeol memiliki seorang kakak yang sudah menikah namun tidak mempunyai anak dari pernikahan tersebut.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya, tak mau ambil pusing siapa orang spesial itu. Yang jelas siapapun orangnya Kyungsoo dengan senang memberikan senyuman hangat serta memperlakukan orang itu dengan baik.
..
Boo Taek mengangkat barang terakhir yaitu keranjang dengan anyaman rotan ke bagasi mobil van berwarna hitam. Setelah nya ia menoleh ke belakang.
"Apa masih ada barang lagi?" ,tanya Boo Taek pada Chanyeol.
"Tidak, ada hyung" ,jawab Chanyeol sambil berjalan santai ke arahnya. Di belakang Chanyeol ada dua anak laki-laki yang mengikuti langkahnya. Boo Taek pun menutup pintu bagasi lalu bersandar di sana.
"Mana yang lain?"
"Huang Ahjumma, Raejin, Sohye, dan Eun Bi masih di atas" ,Chanyeol membuka pintu untuk Jae Seok dan Moonbin.
"Ayo masuk duduk di belakang" ,Chanyeol memerintahkan Moonbin dan Jaeseok untuk duduk di kursi bagian belakang. Setelah duduk di kursi Chanyeol memasang sabuk pengaman pada kedua anak itu.
"Appa" ,Jaeseok memanggil Chanyeol.
"Hm? Ada apa? Kurang nyaman duduk di belakang?" ,tanya Chanyeol perhatian. Jaeseok menggeleng.
"Aniyeo, hmmm memang kita mau pergi kemana?"
"Apa kita akan pergi ke Lotte world? Atau ke Seoul Grand Park?" ,potong Moonbin. Anak itu bertanya dengan nada antusias. Hingga membuat Chanyeol tersenyum lalu mengelus kepala Moonbin.
"Tidak, bin-ah. Kita akan pergi ke..." ,Chanyeol menggantung ucapannya. Membuat dua anak kecil itu penasaran sekali.
"Kemana Appa?" ,tanya Jaeseok penasaran.
"Rahasia!" ,Chanyeol terkekeh. Kedua anak lelaki dihadapannya itu terlihat sangat sebal pada jawabanya. Moonbin mengerutkan alisnya kesal, sementara Jaeseok mengerucutka bibirnya sebal.
"Sudah sudah jangan cemberut begitu nanti kalian juga akan tahu akan pergi kemana. Intinya kalian bisa bermain sepuasnya di sana" ,ujar Chanyeol sambil mengelus bergantian kepala Moonbin dan Jaeseok.
"Appa!" ,Rae Jin menarik-narik kemeja Chanyeol. Lelaki berkacamata itu membalikkan badannya lalu menyingkir, memberi jalan untuk Eun Bi, Sohye, Hwang ahjumma dan Raejin agar masuk ke dalam.
"Raejin kenapa tidak masuk ke dalam?" ,tanya Chanyeol yang masih menemukan Raejin berdiri di hadapannya. Raejin menggeleng, matanya berkaca-kaca. Garis bibirnya menurun. Membuat Chanyeol segara memegang wajah Raejin yang hendak menunduk.
"Hey, kenapa Raejin menangis hm?" ,tanya Chanyeol dengan nada yang lembut. Ia menyejajarkan tubuhnya dengan berjongkok.
"Apa seseorang mengganggu Raejin lagi di sekolah?" ,Chanyeol kembali bertanya. Raejin menggeleng pelan.
"Tidak.." ,jawab Raejin dengan suara seraknya. Chanyeol menyingkirkan anak rambut yang jatuh di dahi Raejin agar dapat melihat dengan jelas wajah anak itu.
"Lalu.. apa Raejin ingin membeli sesuatu?" ,Raejin senantiasa menggeleng. Membuat pemuda berumur tujuh belas tahun itu bingung.
"Apakah Appa akan menikah?" ,Raejin bertanya takut-takut. Chanyeol terkejut sebentar lalu tertawa, darimana Raejin berpikir bahwa ia akan menikah?. Orang-orang yang ada di dalam mobil langsung mencondongkan badannya ke arah pintu karena mendengar pertanyaan Raejin.
Jaeseok dan Moonbin yang sedari tadi sibuk dengan adu tamiya nya bahkan sampai menghentikan kegiatan sakral mereka itu. Eunbi yang berumur lima tahun dan Sohye yang berumur enam tahun tentunya paham dan langsung menoleh ke arah Bibi Hwang.
"Bibi apakah Appa akan menikah dengan seorang putri kerajaan?" ,tanya Eunbi polos.
"Apakah nanti istri Appa akan menjadi Eomma kita juga?"
Bibi Huang yang bingung menjelaskan hanya menyuruh anak-anak untuk diam dan duduk dengan benar. Ia sendiri juga bingung kenapa Raejin bertanya seperti itu pada Chanyeol.
"Kenapa tiba-tiba Raejin bertanya seperti itu?" ,tanya Chanyeol setelah ia berhenti tertawa.
"Ta-tadi malam, aku mendengar pembicaraan Appa dan Bibi lewat telepon bahwa hari ini kita akan bertemu dengan teman perempuan Appa"
Chanyeol terkejut dengan penjelasan Raejin. Anak ini menguping ternyata. Sebenarnya tadi malam Chanyeol menelpon Bibi Huang untuk menanyakan kondisi anak-anak, namun pembicaraan mereka meluas sampai Chanyeol menceritakan tentang sekolahnya, hingga tanpa sadar ia juga melibatkan Kyungsoo dalam ceritanya.
"Aku takut jika Appa akan meninggalkan ku, Sohye, Moonbin, Eun Bi dan Jae Seok kalau Appa menikah nanti..hiks..hiks" ,isak Raejin.
"Raejin-ah dengar, Appa tidak akan pernah meninggalkan kalian. Sejengkal pun, karena Appa tidak akan bisa, kalian anak-anak baik dan manis. Appa sangat menyayangi kalian, jadi.." ,Chanyeol menggantung ucapannya. Lelaki berkacamata itu menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Raejin.
"Jadi.. jangan pernah berpikir Appa akan pergi meninggalkan kalian. Oke?" ,Chanyeol mengepalkan tangannya ke depan menyodorkan tos.
"Oke" ,Raejin tersenyum lalu membalas kepalan tangan Chanyeol.
..
Kyungsoo sudah sampai ke Seonyudo Park, ia berjalan sambil melihat ke sekeliling. Mungkin Chanyeol sudah datang dan ada di sekitar tempatnya berjalan ini. Saat Kyungsoo masih menyapukan pandangannya, ponselnya berdering dan nama Chanyeol tertera di sana. Dengan segera Kyungsoo menggeser tombol berwarna hijau.
"Yeobseyo"
"Yeobseyo, Apa kau sudah sampai?" ,tanya suara di seberang sana.
"Iya aku sudah sampai, kau dimana?" ,Kyungsoo memutar badannya. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Chanyeol. Namun ia belum menemukan keberadaan kekasihnya itu
"Kita menggelar tikar di sini saja, ya?" ,Boo Taek berhenti di bawah pohon maple. Kedua tangannya penuh dengan barang-barang. Ia menoleh ke belakang, bertanya pada pemuda yang tertinggal beberapa langkah darinya.
"Ya hyung" ,jawab pemuda di belakangnya. Setelah mendengar ucapan itu, Boo Taek segera meletakkan beberapa keranjang anyaman rotan di rerumputan yang ada di bawahnya dan membentangkan tikar bermotif kotak-kotak berwarna merah dan putih. Chanyeol lekas datang dan membantu Boo Taek merapikan bagian dari tikar yang masih terlipat dan menaruh keranjang-keranjang penuh berisi makanan di tengah-tengah tikar tersebut.
"Anak-anak kemari!" ,Chanyeol berteriak pada anak-anaknya. Dan segerombolan anak-anak itu menghampirinya.
"Nah sekarang lepas sepatu kalian, tata yang rapi, dan duduk di sana mengerti?" ,Chanyeol menunjuk tikar pada akhir kalimatnya.
"Ne appa" ,jawab anak-anak itu berbarengan. Dengan patuh anak-anak itu melepas sepatunya sendiri lalu menatanya dengan rapi di samping tikar, barulah setelah selesai menata sepatu, mereka duduk di atas tikar. Entah kenapa hal tersebut membuat perasaan Chanyeol menghangat.
"Mereka bertumbuh dengan bagus, karena mereka memiliki Appa sepertimu Chanyeol" ,Chanyeol tidak tau sejak kapan Bibi Huang berdiri di sampingnya dan mengucapkan kalimat tadi. Walaupun ia sedikit kaget namun Chanyeol idak bisa menyembunyikan senyumannya karena mendengar ucapan Bibi Huang.
"Itu karena bibi, aku hanya membantu semampu ku. Bibi lah yang membuat mereka bisa bertahan dan bertumbuh sebagus ini" ,pemuda jangkung itu berkata sambil tersenyum. Dan bibi Huang menimpalinya dengan senyuman pula. Ia sudah hapal sifat Chanyeol, pemuda yang rendah hati.
"Ah! aku hampir lupa Bi, kurasa dia sudah datang aku harus menemuinya dulu" ,Chanyeol menepuk dahinya lalu ia berlari ke arah barat setelah ia menyelesaikan ucapannya.
"Hati-hati jangan berlari terlalu kencang" ,peringat Bibi Huang. Walau ia tau bahwa Chanyeol tak mendengarnya karena Chanyeol sudah berlari lumayan jauh.
Pemuda dengan marga Park itu menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah jembatan yang menjadi akses masuk ke taman Seounyudo. Ia mengambil ponselnya yang ada di saku lalu menelpon Kyungsoo. Tak lama setelah panggilan terhubung, ia mendapati suara Kyungsoo di sana.
"Yeobseyo"
"Yeobseyo, Apa kau sudah sampai?" ,tanya Chanyeol. Ia melirikkan matanya ke sgala arah mencari Kyungsoo, ia bahkan berjinjit beberapa kali. Kyungsoo memiliki badan yang mungil, jadi ia cukup kesulitan mencari Kyungsoo di keramaian seperti ini.
"Iya aku sudah sampai, kau dimana?" ,tanya Kyungsoo. Tepat saat Chanyeol memutar badannya, ia menemukan Kyungsoo. Perempuan berambut hitam itu berdiri membelakanginya. Walaupun Kyungsoo berdiri membelakanginya Chanyeol tetap tau itu Kyungsoo. Satu tahun waktu yang cukup untuk merekam Kyungsoo dalam benaknya. Pemuda itu tersenyum lalu berkata
"Kau memutar tubuhmu ke arah yang salah, Kyung" ,Chanyeol berjalan mendekat dengan senyum yang masih terpampang di wajahnya. Setelah mendengar ucapan tersebut Kyungsoo memutar tubuh ke arah sebaliknya.
Chanyeol merasa waktunya melambat, pendengarannya seakan tak berfungsi, nafasnya terasa sesak ketika ia melihat Kyungsoo memutar tubuhnya. Terasa begitu dramatis, rambut panjang yang tergerai indah itu sedikit beterbangan karena hembusan angin, wajah cantik bak dewi yang perlahan terlihat, kulit seputih susu dan selembut sutra yang nampak serasi dipadu dengan warna peach yang melingkunginya. Kyungsoo benar-benar sempurna!. Chanyeol sangsi ia sebenarnya melihat seorang bidadari atau manusia. Chanyeol bergeming seperti orang bodoh beberapa saat. Hingga Kyungsoo datang dan melambaikan tangannya di hadapan Chanyeol.
"Chanyeol, Chanyeol? Hei jangan melamun" ,Kyungsoo senantiasa menggerakkan tangannya. Perempuan itu berupaya menyadarkan Chanyeol dari lamunannya. Dan Chanyeol baru kembali ke dunia nyata saat Kyungsoo menepuk pelan pipi nya.
"Oh Kyung? Kau kenapa bisa-"
"Chanyeol-ah jangan banyak melamun oke? Dan omong-omong aku sudah mematikan sambungan telepon, jadi kau bisa memasukan ponsel mu ke dalam saku" ,potong Kyungsoo.
"Ah, ah ya" ,Chanyeol segera menjauhkan ponselnya dari telinganya lalu memasukkan kembali ke saku celananya. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan merutuk dalam hati betapa bodoh tingkahnya itu.
"Umh katanya kau akan mengenalkan ku pada seseorang?" ,tanya Kyungsoo. Chanyeol dapat menangkap minat di mata Kyungsoo yang sedang menatapnya.
"Disana, ayo" ,ajak Chanyeol. Kyungsoo pun mengangguk lalu berjalan beriringan dengan pemuda itu. Mereka berdua berjalan tanpa salah satu dari mereka membuka pembicaraan. Chanyeol sebenarnya ingin membuka pembicaraannya dengan Kyungsoo, namun sepertinya perempuan itu sedang asyik melihat keramaian yang ada di sekitarnya. Jadi Chanyeol mengurungkan niatnya itu.
"Chanyeol! lihat itu!" ,Kyungsoo berseru ketika ia melihat pertunjukan biola yang menurutnya menarik. Ia menggamit lengan Chanyeol dan menariknya ke arah kerumunan orang yang sedang melihat pertunjukan tersebut. Chanyeol sedikit terkesiap karena perlakuan Kyungsoo namun selanjutnya ia tersenyum.
"Wah... lihat permainannya bagus..Dia berbakat sekali" ,mata Kyungsoo berbinar. Ia bertepuk tangan dan bibir nya terus menggumamkan kata wah. Perempuan berpipi chubby ini benar-benar terlihat seperti bocah berumur lima tahun. Chanyeol seperti melihat Eun Bi di dalam Kyungsoo. Bagaimana bisa perempuan berumur tujuh belas tahun ini masih memiliki tatapan mata yang polos dan senyuman seperti bayi. Chanyeol benar-benar takjub akan hal itu.
Kyungsoo bertepuk tangan sangat keras ketika lelaki pemain biola itu menyelesaikan permainannya. Orang-orang yang lain pun bertepuk tangan dengan keras. Hingga membuat Chanyeol mengutus tatapannya ke Kyungsoo.
Perempuan itu berjalan ke depan, untuk memberi koin kepada pemain biola tadi. Dengan senyum manis Kyungsoo menaruh dua buah koin di tas biola yang dialih fungsikan itu.
"Permainan mu bagus, kau berbakat" ,puji Kyungsoo kepada si lelaki pemain biola. Sementara yang dipuji hanya tersenyum. Tersanjung pasti, ia senang dipuji oleh perempuan cantik dihadapannya.
"Terima kasih" ,pemain biola itu tersenyum ke arah Kyungsoo.
"Kau pasti akan sukses. Fighting!" ,Kyungsoo menampilkan senyumnya lalu berlari meninggalkan si pemain biola yang hendak menanyakan namanya itu. Saat si pemain biola dengan nama lengkap Lee Dongmin baru berjalan beberapa langkah mengejar Kyungsoo. Matanya menangkap si perempuan cantik pemberi semangat itu berjalan seraya menggamit lengan seorang lelaki, ia segera menghentikan langkahnya.
"Sudah milik orang ternyata" ,gumam Dongmin sambil mendesah. Tapi lelaki itu mengulas senyumnya. Walau perempuan itu sudah milik orang. Ia akan meningat wajah perempuan itu dengan jelas di otaknya. Ia tidak akan melupakan perempuan cantik yang memberikannya semangat hari ini. Karena perempuan tadi terlalu sayang untuk dilupakan.
Kyungsoo melihat ke sekelilingnya banyak orang-orang mendirikan tenda di sana, menggelar tikar dan makan, beberapa ada yang melakukan permainan ringan, ada juga yang sedang bermain gitar dan bernyanyi. Mereka terlihat bersenang-senang bersama teman dan keluarganya, Kyungsoo jadi sedikit iri.
"Kyung, Kyungsoo" ,suara Chanyeol yang memanggil namanya memecah atensi Kyungsoo pada hal yang membuatnya iri. Ia segera menoleh pada Chanyeol yang ada di sampingnya.
"Ya?"
"Kau lihat di sana?" ,Chanyeol meluruskan telunjuknya. Pemuda itu menunjuk sekumpulan orang yang sedang duduk melingkar di bawah pohon maple.
"Hm, aku melihatnya. Ada yang salah?" ,tanya Kyungsoo. Ia melihat sekumpulan orang tersebut. Kebanyakan dari mereka anak-anak yang sedang tertawa dan bermain.
Chanyeol menyudahi tunjukkannya. Ia memasukkan kembali tangannya kedalam saku. Helaan nafas keluar dari bibirnya.
"Mereka orang-orang yang ingin aku ketemukan dengan mu"
"Anak-anak itu, mereka yatim piatu. Ada yang dibuang oleh orang tuanya, ada pula yang terpisah karena kematian. Kau akan tau betapa kuat dan kokohnya mereka setelah saling mengenal. Aku ingin kau mengenal mereka begitupun juga sebaliknya" ,ucap Chanyeol sambil memandang anak-anaknya yang sedang bercengkrama ria. Sementara Kyungsoo, ia juga menatap anak-anak itu dan mendengarkan ucapan Chanyeol dengan seksama.
"Jadi.. Mereka adalah orang spesial?"
"Ya, merekalah orangnya. Ayo temui mereka" ,Chanyeol berjalan terlebih dahulu. Kyungsoo masih termangu di tempatnya sejenak, lalu beberapa detik kemudian perempuan itu menyamai langkah Chanyeol.
Chanyeol berdehem, ia meminta perhatian dari beberapa orang yang ada di hadapannya. Orang-orang tersebut langsung mengalihkan atensi nya ke Chanyeol. Namun dengan cepat mereka beralih ke sosok wanita cantik yang ada di sebelah pemuda yang berdehem tadi.
"Emh semuanya kenalkan ini Kyungsoo"
"Annyeonghasseo, Kyungsoo imnida" ,Kyungsoo tersenyum manis lalu menundukkan kepalanya.
"Jadi ini adalah-
"Wah... Noona cantik sekali!" ,seru Moonbin. Anak lelaki itu terpukau setelah melihat perempuan yang ada di sebelah Appa nya. Jae Seok beserta yang lain memandang Moonbin dengan tatapan malas.
Bibi Huang tersenyum hangat. Wanita paruh baya itu berdiri dan menyalami Kyungsoo.
"Ah, jadi ini yang namanya Kyungsoo? Ternyata lebih cantik dari yang Chanyeol ceritakan" ,ujar Bibi Huang. Kyungsoo yang mendengar ucapan Bibi Huang itu hanya tersenyum malu.
"Bibi!" ,nada antara merajuk dan menegur keluar dari mulut Chanyeol. Ah malunya dia.
"Ayo kemari nak duduk" ,ajaknya. Kyungsoo pun tersenyum manis dan mengikuti ajakan Bibi Hwang. Perempuan itu duduk dengan sopan di sebelah Bibi Hwang. Sementara Chanyeol duduk agak jauh, di sebelah Moonbin tepatnya.
"Chanyeol sering menceritakan mu loh nak" ,ucapan Bibi Huang itu langsung membuat pipi Kyungsoo maupun Chanyeol merona. Kyungsoo tersenyum malu sementara Chanyeol memandang Bibi Huang dengan tatapan bi jangan membuat ku malu di depan teman wanita ku.
"Anak-anak ayo perkenalkan diri kalian pada Kyungsoo unnie" ,Bibi Huang menyuruh Moonbin dan saudara-saudaranya untuk memperkenalkan dirinya satu per satu.
Kyungsoo ingat, mereka adalah anak-anak yang sama dengan anak-anak yang ditemui Chanyeol di rusun tempo hari. Namun Kyungsoo memanfaatkan wajah inosennya. Ia tetap bersikap tenang, walaupun awalnya sempat sedikit terkejut.
Setelah masing-masing dari anak-anak itu mengenalkan dirinya Kyungsoo menyimpulkan, Moonbin anak yang paling ceria diantara saudara-saudaranya. Jaeseok anak yang sedikit pendiam serta pemalu. Eunbi dan Sohye memiliki sifat yang tak jauh berbeda, mereka berdua sama-sama menggemari boneka beruang dan dongeng. Sementara Raejin, yang paling tertua terlihat tak acuh. Ia sibuk membaca novel yang ada di tangannya tanpa melihat Kyungsoo saat memperkenalkan dirinya. Melihat itu Chanyeol menegur Raejin secara halus serta menyuruhnya untuk meminta maaf ke Kyungsoo. Raejin dengan setengah hati meminta maaf pada Kyungsoo dan memaksakan senyumannya. Kyungsoo rasa, Raejin sedikit tidak suka padanya. Atau mungkin sikapnya memang seperti ini pada orang baru.
Setelah sesi berkenalan itu, Bibi Huang mempersilahkan semua nya untuk makan. Kyungsoo awalnya terlihat canggung untuk mengambil makanan namun Bibi Huang memaksa Kyungsoo dengan lembut untuk mengambil dan memilih makanan yang ditata di tengah-tengah tikar.
"Jangan malu-malu nak, ayo ambil yang mana kesukaan mu." Bibi Huang menepuk punggung tangan Kyungsoo, lalu memberikan piring berwarna putih dengan hiasan bunga pada gadis bersurai coklat itu.
"Iya, terimakasih Bi." Sambil mengulas senyum Kyungsoo menerima piring itu. Netranya tak sengaja bertegur dengan obsidian Chanyeol. Lelaki itu memperhatikan Kyungsoo dari tadi. Dengan blubberry chesse cake di tangannya, Chanyeol intens memperhatikan Kyungsoo. Gadis itu tersenyum manis, membuat Chanyeol berdebar tak karuan. Setelah dapat mengendalikan jantungnya, Chanyeol membalas senyuman nya dan memberi isyarat agar Kyungsoo juga ikut makan.
Kyungsoo membantu Bibi Huang merapikan piring dan makanan yang tersisa lalu memasukkannya kedalam keranjang rotan. Selanjutnya mereka berdua melipat tikar dan menyerahkannya pada Boo Taek untuk dibawa kembali ke mobil. Sementara Chanyeol menemani anak-anak bermain. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Kyungsoo dan Bibi Huang menyusul Chanyeol dan anak-anak di area bermain.
"Aku senang Chanyeol mempunyai teman spesial" ,ujar Bibi Huang. Membuat Kyungsoo sedikit tersentak dengan kalimat teman spesial yang Bibi Huang sematkan padanya.
"Sebelumnya, Chanyeol sosok yang tertutup dengan kehidupan pribadinya. Ia tak pernah bercerita tentang keluarganya, sekolahnya atau hal lain mengenai kehidupan pribadinya. Tapi akhir-akhir ini ia lebih sering menelpon ku, bercerita tentang sekolah nya, tuan dan nyonya park serta seorang perempuan bernama Kyungsoo." Bibi Huang tersenyum dan mengedipkan matanya, berniat menggoda Kyungsoo. Salah tingkah, itu yang dialami Kyungsoo. Semburat merah muncul di kedua pipi chubby nya.
"Ah, Bibi" Gadis itu tertawa sumbang karena rasa malu yang menderanya.
"Terimakasih, sudah membuat Chanyeol menjadi orang yang lebih baik" Bibi Huang menepuk lengan Kyungsoo dan tersenyum tulus.
Ucapan Bibi Huang membuat dada Kyungsoo berdenyut nyeri, ia mengingat hal jahat yang dilakukannya dulu pada Chanyeol. Ia memanfaatkan kebaikan hati Chanyeol, seseorang yang ternyata benar-benar mencintainya. Untuk kepentingannya sendiri. Bahkan kepentingan itu -kim jongin- masih terasa abstrak baginya. Ia tak bisa melihat bahkan meraba perasannya sendiri saat itu untuk Kim Jongin. Cinta? Sekadar suka? atau Rasa ingin melindungi. Namun seiring berjalannya waktu, Kyungsoo benar benar terjebak dalam permainannya sendiri. Ia benar benar jatuh hati pada Chanyeol. Dan saat itu Kim Jongin baru menyadari penting nya sosok Kyungsoo di sampingnya.
Sayangnya waktu sudah terlambat.
Namun Kim Jongin bukanlah sosok yang menyerah pada waktu.
Ia selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan walau waktu sudah mengubah perasaan seseorang.
Dan satu-satunya jalan untuk mengembalikan waktu dan perasaan seseorang itu adalah dengan menyingkirkan orang yang membuat perasaan seseorang itu berubah.
..
Kyungsoo duduk di bangku kayu yang tersedia dipinggir area bermain. Mengamati Chanyeol dan anak-anaknya yang sedang bermain bersama. Kyungsoo tak tau apa permainan yang dilakukan mereka, mungkin permainan lari dan tangkap?
Permainan apapun itu tidak penting bagi Kyungsoo, yang terpenting adalah melihat Chanyeol tersenyum gembira bersama anak-anak. Sekarang daftar hal yang disukai Kyungsoo bertambah, ia memasukkan senyuman Chanyeol diurutan atas.
Moonbin berhasil meraih kerah kemeja Chanyeol, lalu menarik nya dengan kencang hingga sebagian bahu Chanyeol terlihat. Otomatis Chanyeol menjatuhkan bola yang ada ditangan kanannya badannya terjatuh ke bagian kiri. Bola itu jatuh menggelinding dan dengan sigap Jaeseok mengambilnya.
"Ye! Kita menang" Jaeseok mengangkat bola nya tinggi-tinggi dan bersorak senang atas kemenangannya dan saudara-saudaranya. Keempat anak itu berhasil mengalahkan Chanyeol. Walaupun dengan cara yang agak kasar.
"Tepati janji Appa, belikan kami es krim" Tagih Moonbin Saat Chanyeol baru berdiri dan sedang menepuk nepuk bajunya, menghilangkan tanah yang menempel.
"Baiklah baiklah" Chanyeol terlihat sedikit kesal dan hal itu membuat Moonbin terkikik geli.
Chanyeol menepati janjinya, ia membelikan lima cone es krim ke anak-anaknya. Walaupun Raejin tidak ikut dalam permainan, Chanyeol tetap membelikannya satu cone es krim rasa caramel kesukaannya.
"Apa kau pernah membaca The Dead Returns? Penulisnya sama dengan novel yang sedang kau baca" Kyungsoo bertanya pada Raejin yang duduk di sampingnya. Anak itu sedari tadi begitu tenang membaca dan krelihatannya tidak terganggu dengan keramaian yang ada di sekitarnya.
Raejin sedikit terganggu namun ia tetap menjawab dengan cuek sambil membalik halaman.
"Belum, aku baru punya satu dari Akiyoshi Rikako." Kyungsoo mengulas senyumnya. Ia memaklumi sikap Raejin yang cuek padanya.
"Aku punya The Dead Returns, jika kau mau besok aku akan menitipkannya pada Appa mu" Tawar Kyungsoo.
"Terserah." Raejin mengendikkan bahunya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku.
Setelah membeli es krim untuk anak-anak, Chanyeol kembali ke area bermain. Dia meminta ijin kepada Bibi Huang untuk pergi bersama Kyungsoo.
"Mau kemana?" ,tanya Kyungsoo. Chanyeol membawanya keluar dari taman untuk mencari taksi.
"Bertemu kakek ku" ,jawab Chanyeol. "Ayo masuk" Chanyeol membuka pintu taksi dan mempersilahkan Kyungsoo masuk ke dalam.
Chanyeol menghentikan langkahnya di depan nisan yang terbuat dari batu marmer. Park Haejin 1947-2004. Kyungsoo membaca tulisan berwarna emas yang terukir di sana. Rasa iba menyeruak di dada Kyungsoo ketika melihat Chanyeol yang bersimpuh di samping pusaran kakeknya. Bisa Kyungsoo tebak dengan mudah, hubungan Chanyeol dan kakeknya dulu pasti sangat dekat.
Lelaki itu meletakkan rangkaian bunga Lili yang ia bawa di atas gundukan tanah.
"Harabeoji.. aku datang," ucapnya sambil mengusap nisan itu. Menganggapnya sebagai tangan kakeknya yang sudah tiada. Kyungsoo ikut bersimpuh di samping Chanyeol. Ia menyentuh bahu Chanyeol yang bergetar dan membelainya perlahan, menenangkannya.
"Dulu," Chanyeol mempersiapkan dirinya untuk menceritakan masa lalunya. "Aku sangat dekat dengan Kakekku dibandingkan dengan kedua orang tua ku. Kedua orang tua ku sibuk mengurus bisnis mereka dan aku lebih sering berada di rumah kakek daripada di rumah orang tua ku. Aku dititipkan kepadanya. Aku menyayanginya lebih dari aku menyayangi diriku sendiri dan siapapun, karena ia mengajarkan ku banyak hal, memberikan ku kasih sayang yang tidak pernah aku rasakan dari orangtua ku sendiri. Sampai suatu hari aku menemukan kakekku sudah tidak bernyawa di atas tempat tidurnya. Ia mengalami serangan jantung."
Air mata mengalir dari kedua mata Chanyeol, walaupun ia bercerita dengan nada yang datar dan tenang. Kyungsoo ikut menitikkan air matanya, ketika ia mendengar cerita Chanyeol. Dengan segera ia mengusap air mata itu dan menepuk tangan Chanyeol yang mengepal di atas paha.
"Aku yakin, Kakek mu pasti bahagia di sana. Karena ia memiliki cucu yang luarbiasa sepertimu, Chan-a."
Setelah kembali dari kompleks pemakaman, Chanyeol mengajak Kyungsoo untuk makan di cafe bergaya vintage. Chanyeol sering berkunjung ke sini setelah mengikuti bimbel, walaupun cafe ini ramai rasa hangat, nyaman dan tenang masih terasa. Tak heran jika Kyungsoo dan Chanyeol lupa waktu karena terlarut dalam suasana. Makanan yang mereka pesan sudah habis, namun obrolan mereka masih terus berjalan terkadang juga diselingi tawa. Rasa canggung yang biasanya Chanyeol rasakan menguap begitu saja, hilang bersamaan dengan waktu yang terbuang.
Ketika mereka menghabiskan gelas ke empat Caramel Machiato, Yoon Sung -supir pribadi kyungsoo- datang untuk menjemput. Lelaki itu bilang, nona mudanya tidak boleh pulang terlalu larut karena besok harus sekolah. Dengan terpaksa Kyungsoo mengiyakan Yoon Sung, ia baru sadar jika ini sudah pukul tujuh malam. Jadi sudah banyak waktu yang ia habiskan bersama Chanyeol hari ini.
"Terimakasih untuk hari ini ya, sampai jumpa besok" Kyungsoo mengucapkan terimakasih dengan senyuman sebagai hadiah, begitulah Chanyeol menganggapnya. Chanyeol menganggukan kepalanya sambil tersenyum kecil. Ia baru melangkahkan kakiknya ke halte bus saat mobil yang ditumpangi Kyungsoo sudah tidak terlihat dari jarak pandangnya.
..
"Angket ini harus diisi lengkap dan dikumpulkan kepada ku besok. Ada yang mau kalian tanyakan?" setelah membagikan lembaran angket, Jisoo selaku ketua kelas memberikan pengumuman lalu bertanya kepada teman-temannya barangkali ada yang kurang jelas dari pengumumannya.
"Bukannya angket ini diberikan saat kelas duabelas nanti? Ini kan angket peminatan siswa" ,tanya Donghyuk.
"Aku kurang tau soal itu. Yang jelas isi saja lalu kumpulkan pada ku besok. Hm," jawab Jisoo lalu kembali duduk dibangku nya.
Kyungsoo memandang lembaran angket itu dengan tatapan kosong selama beberapa saat, setelah itu ia mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas. Teman-temannya terlihat sedang mengisi angket itu dengan mudah dan sangat yakin. Mereka seakan sudah menentukan cita-citanya tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Ia iri.
Kyungsoo selalu ditekan ibunya untuk menjadi seorang dokter. Sementara Kyungsoo tidak menginginkan itu. Ia ingin menjadi seorang detektif. Novel yang sering ia baca mengantarkan dirinya menggemari sosok Holmes, Poirot dan masih banyak lagi tokoh detektif fiksi yang digemarinya. Dari kegemarannya itu lah ia ingin menjadi seorang detektif.
Chanyeol merasa Kyungsoo sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu biasanya akan makan sambil bercerita banyak hal, tapi sekarang ia hanya memakan saladnya dalam diam. Dan hal itu membuat Chanyeol khawatir.
"Kyung, kau sedang sakit?," tanya Chanyeol pelan. Kyungsoo menggeleng.
"Tidak, aku baik-baik saja chan-a" Kyungsoo tersenyum -meyakinkan Chanyeol bahwa dia baik-baik saja- walau terlihat dipaksakan. Mendengar jawaban Kyungsoo, Chanyeol tersenyum tipis "jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, ceritakan pada ku. Aku siap mendengarnya," ucapnya seakan tau bahwa ada sesuatu yang mengusik Kyungsoo. Kyungsoo tertegun sebentar lalu mengangguk pelan. Setelah itu mereka melanjutkan makan siangnya di sisa waktu istirahat dalam diam.
Bel pulang sudah berbunyi, Gong ssaem guru sejarah menutup pembelajarannya dan keluar dari kelas setelah mengingatkan sebanyak tiga kali tentang tugas untuk minggu depan.
Seperti biasanya setelah bel pulang berbunyi Chanyeol dan Kyungsoo akan berjalan beriringan sampai ke gerbang sekolah. Namun, ketika mereka melewati koridor, Kyungsoo tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Ada ap-
"Aku ingin bicara," potong Kyungsoo.
Mereka berdua duduk di bangku kayu jati yang ada di area taman sekolah. Pohon yang tumbuh rindang di atasnya membuat Kyungsoo merasa lebih rileks. Ia meluruskan kakinya dan menghirup nafas dalam-dalam. Menyerap oksigen sebanyak yang ia bisa karena hal itu membuat otot-otot nya rileks dan sesuatu yang mengusik pikirannya hilang untuk sementara.
"Duduk di sini membuat dirimu lebih rileks kan?" Kyungsoo membuka pembicaraan dengan bertanya pada Chanyeol yang sedari tadi memperhatikannya.
"Ya kurasa." Chanyeol menyandarkan punggungnya ke kayu jati kokoh yang ada di belakangnya, ia mencoba merileks kan dirinya sendiri. Mengikuti Kyungsoo. "Kau juga terlihat rileks Kyung," ujar Chanyeol dengan kedua mata tertutup dan tarikan nafas terdengar setelahnya.
"Aku selalu merasa lebih baik jika berada di bawah pohon, mereka seperti memberiku energi lewat udara bersih yang mereka hasilkan." Kyungsoo mengendurkan bahunya, lalu ikut menyandarkan punggungnya.
"Alasan yang unik."
"Chan-a, apa kau pernah merasa dibebani oleh tuntutan yang diberikan oleh orang tua mu?" ,tanya Kyungsoo. Gadis itu memandang dedaunan yang tergantung di atasnya, menyipitkan matanya saat cahaya matahari mengintip dari sela-sela dedaunan.
"Tentu saja pernah, saat aku kelas enam sekolah dasar. Saat itu kakek ku baru saja meninggal. Nilai ku merosot, aku mendapat nilai nol disetiap mata pelajaran ah.. itu bahkan tidak pantas di sebut nilai." Chanyeol menghela nafasnya "Aku tidak mau belajar, setiap hari aku hanya menangisi kepergian kakek ku. Setelah itu ibu menasihati ku ia berkata bahwa menangisi kepergian kakek hanya membuatnya sedih disana. Jadi aku berhenti untuk menangis dan kembali belajar. Tapi tetap saja nilai ku jelek dan akhirnya ibuku membuat keputusan yang cukup besar. Ia berhenti membantu ayah ku mengurus bisnis untuk sementara dan memfokuskan dirinya mengurusku."
"Lalu, di mana bagian kau merasa di tekan oleh ibu mu?" Merasa tertarik dengan cerita Chanyeol, Kyungsoo mengubah posisi duduknya. Ia menggunakan satu tangannya sebagai bantal untuk kepalanya.
"Saat ia menemaniku belajar, entah saat aku belajar sendiri atau bersama guru privat ku. Secara tak langsung ia membuat ku tertekan, ibu seperti membebani ku bahwa aku harus mendapatkan peringkat pertama walaupun ia tidak mengatakannya." Jawab Chanyeol.
"Tapi apa akhirnya kau mendapat peringkat pertama?"
"Ya, aku mendapatkan peringkat pertama. Kau tau dulu itu bagai sebuah keajaiban untukku." Tawa halus keluar dari bibir Chanyeol, kalimatnya terdengar lucu. Dulu ia sangat kesusahan untuk mendapatkan nilai enam puluh, namun sekarang sambil tertidur pun ia akan dapat nilai seratus. Kyungsoo ikut tertawa, ia tak menyangka si jenius yang ada di sampingnya ini pernah mendapat nilai nol.
"Tapi, tekanan yang diberikan ibu ku nyatanya malah memotivasi ku bukan malah membuat ku jatuh. Ya memang berat pada awalnya tapi akhirnya aku terbiasa."
"Apa ia masih memberi mu tekanan itu?"
"Kurasa tidak. Aku tidak pernah merasakan tekanan itu lagi. Setidaknya untuk sekarang."
"Kau pasti senang sekali, aku iri padamu" mendengar ucapan kekasihnya Chanyeol membuka matanya, ia menoleh menatap Kyungsoo yang ada di sampingnya. Wajah ayu itu tak secerah biasanya. Binar di matanya hilang. Hal itu membuat hati Chanyeol mencelos. Ia tak rela kehilangan binar di mata Kyungsoo.
"Mau berbagi cerita?" Dengan senyum menenangkan Chanyeol bertanya, namun matanya tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir pada gadisnya.
Kyungsoo tidak mengatakan jawabannya, tidak pula mengangguk atau menggeleng. Ia hanya terdiam sambil menatap mata indah Chanyeol yang tersembunyi di balik lensa minus 2.5
"Ibu ku.." Kyungsoo menghela nafasnya. "Menentang cita-cita ku, ia menginginkan ku menjadi seorang dokter. Ia bilang aku harus menjadi dokter, karena seorang do memang dilahirkan untuk menjadi dokter. Terdengar konyol bukan?" Kyungsoo tertawa hambar "Keluarga ku, semuanya memang berprofesi sebagai dokter. Mungkin yang dikatakan ibu ku memang benar. Tapi, aku tidak menginginkannya. Kau tau di dalam sini rasanya-" Kyungsoo meletakkan kepalan tangannya di atas dada. "-menyesakkan. Bahkan menulis hal yang aku inginkan di masa depan, aku tidak bisa."
Tangan Chanyeol terulur, ia tidak bisa mencegah untuk membelai surai kelam milik Kyungsoo. Dengan perlahan ia mengusap rambut Kyungsoo yang di tangannya terasa seperti kain sutra dengan kualitas terbaik.
"Kyungsoo, aku memang belum pernah merasakan hal itu. Tapi kau tau? Itu hanya sebuah kertas dengan beberapa pertanyaan mudah yang harus kau isi. Lagipula kertas itu tidak akan berpengaruh dengan masa depan mu. Mungkin saja di masa depan kau menjadi sosok yang diinginkan ibu mu. Dan mungkin saja di masa depan kau bisa menjadi sosok yang kau inginkan. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan kita tidak berhak untuk mengetahuinya, Kyung."
..
Malam itu, ketika kedua jarum jam berhenti di angka dua belas. Kyungsoo merasa dirinya begitu yakin, sangat yakin. Dengan keyakinan yang ada di hatinya ia menulis "형사" pada kolom yang dengan pertanyaan; Apa pekerjaan yang kau minati?.
"Follow your heart, and the way will be open Kyungsoo-ya"
Keyakinan itu tumbuh begitu saja saat Kyungsoo mengingat ucapan Chanyeol tempo hari. Ia yakin pada dirinya sendiri bahwa ia harus mengikuti kata hatinya, bukan mengikuti titah orang lain. Karena seperti yang diucapkan Chanyeol, ia percaya jika ia mengikuti kata hatinya maka jalan akan terbuka. Tidak peduli apa pun rintangan yang dihadapinya di jalan itu, ia akan tetap mengikuti kata hatinya.
Kyungsoo menekan saklar berwarna putih yang ada di atasnya, lampu dengan pijar terang yang menggantung di langit-langit itu mati dan menyisakan lampu tidur yang berpendar lemah di meja nakas. Setelah itu barulah Kyungsoo merebahkan badannya, meluruskan kakinya, lalu menarik selimut tebal sampai menutupi badannya yang mungil. Saat ia hendak menutup matanya, sesuatu terlintas dipikirannya. Ya, ucapan terima kasih untuk Chanyeol. Kyungsoo pun menegakan badannya lalu mengambil ponsel miliknya yang ada di samping lampu tidur dengan cepat ia menulis pesan yang mengungkapkan rasa terimakasihnya pada Chanyeol.
"Chan-a, terimakasih."
Jam dua belas malam dan Chanyeol masih terjaga. Terjaga ditemani dengan buku-buku tebal berisi soal. Sudah menjadi kebiasaan baginya, setelah pulang dari bimbel pukul delapan malam lalu membersihkan diri sebentar ia langsung duduk di kursinya membuka catatan dan mengerjakan soal.
Ponsel Chanyeol bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Ia mengernyit, Jongdae teman satu ekstrakulikulernya tidak mungkin mengirim pesan saat tengah malam, begitu juga dengan Jung ssaem guru pembimbingnya di ekstrakulikuler. Dengan penasaran ia membuka pesan itu. Chanyeol tidak bisa menyembunyikan senyumannya ketika nama Kyungsoo tertera di sana.
"Chan-a, terimakasih"
Chanyeol menggerakkan bibirnya, mengeja pesan itu. Ia mengernyit lalu membenarkan letak kacamatanya.
"Untuk apa Kyungsoo berterimakasih? Kurasa aku tidak melakukan apa pun." Chanyeol berucap pada dirinya sendiri. Jemarinya mengetikkan balasan untuk pesan itu.
"Terimakasih untuk apa Kyung? Hari ini kupikir, tidak ada hal spesial yang kulakukan untuk mu. Omong-omong ini sudah larut malam, kenapa belum tidur?"
Dengan cepat Chanyeol menekan tombol kirim. Pesan itu langsung di baca oleh Kyungsoo. Namun bukannya membalas pesan yang dikirim Chanyeol, perempuan itu malah menelfonnya.
"Halo" suara lembut itu menyapa Chanyeol walaupun suara itu sedikit serak, ia tetap menyukainya.
"Halo?" Chanyeol menjawab dengan kata yang sama namun dengan nada bertanya, dan itu mengundang tawa perempuan diseberang sana.
"Kau lucu" ucap nya setelah berhenti tertawa.
"Apa yang lucu?" Chanyeol tidak bodoh, tapi dia benar-benar tidak tau apa yang membuat gadis itu tertawa dan berkata lucu.
"Benar-benar tidak tau?" Chanyeol menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak" helaan nafas gadis itu terdengar, Kyungsoo menggeleng dan tersenyum.
"Kau mengucapkan halo dengan nada bertanya, Chan-a." masih dengan senyumnya Kyungsoo menjelaskan. Gadis itu mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping lalu mengeratkan lagi selimut tebal yang membungkus tubuh mungilnya.
"Ah.. Begitu" Chanyeol menggaruk rambutnya, ia tak menyangka tadi bicara seperti itu. Kyungsoo tersenyum tipis mendengar kepolosan Chanyeol. Setelah itu mereka terdiam, tidak ada pembicaraan. Tapi keduanya masih enggan untuk menutup sambungan telepon.
"Terimakasih" akhirnya Kyungsoo membuka suara nya. Dan Chanyeol mengernyit, ia heran kenapa gadis itu mengucapkan terima kasih lagi padanya.
"Untuk apa Kyung? Hari ini aku tidak memberimu sesuatu hal yang spesial?"
"Siapa bilang tidak? Kau memberiku"
"Memberi apa? Aku tidak me-"
"Tidak, kau memberikannya. Kau memberi keyakinan pada ku untuk memilih jalan ku. Kau pernah bilang, aku harus mengikuti kata hati ku. Dan aku melakukannya sekarang. Kau juga berhasil meyakinkan ku perihal kertas itu," potong Kyungsoo.
"Oleh karena itu aku berterimakasih padamu, kau orang pertama yang membuatku meyakini pilihanku sendiri Chan-a," ujar Kyungsoo dengan nada yang lebih lembut.
"Terimakasih," ulangnya lagi.
Chanyeol mengerjapkan matanya beberapa kali. Suara Kyungsoo sudah tidak terdengar tapi gadis itu belum mematikan telepon. Lelaki itu mencerna ucapan Kyungsoo, ia terlalu terkejut atas ucapannya. Orang pertama yang membuat ku yakin dengan pilihan ku, membuat Chanyeol tak karuan. Perasaannya berpadu dengan kinerja jantungnya menimbulkan degupan kencang namun menyenangkan.
"Y-ya, sama-sama." Chanyeol menganggukkan kepalanya. Pipinya dihiasi rona merah. Telapak tangannya mengusap tengkuk. Salah tingkah.
"Ah, iya kenapa kau belum tidur? Ini sudah hampir pukul satu malam" Kyungsoo bertanya ketika dia melirik jam yang terpajang di dinding. Ia juga baru sadar ini sudah hampir jam satu.
"Aku sedang belajar, mempelajari materi-materi untuk besok. Dan mengisi soal-soal. Kau sendiri kenapa belum tidur?" Chanyeol menyangga dagunya dengan tangan kirinya.
"Aku sedang- tidak bisa tidur saja. Omong-omong kau selalu belajar sampai tengah malam seperti ini?"
"Hm, Ya begitulah."
"Juara umum sekolah memang tidak main-main ya." Kyungsoo terkekeh, dan Chanyeol mengikutinya. Terdengar seperti sindiran, tapi Chanyeol tak keberatan. Sebenarnya Chanyeol tidak terlalu memusingkan tentang juara umum itu karena ia lebih mempertahankan nilai daripada mengejar target.
"Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur Kyung."
"Oke, aku akan tidur. Tapi kau juga harus tidur setelah aku mematikan sambungan ini. Jangan terlalu banyak belajar. Itu membuat mu lebih tua. Apalagi kau melakukannya sampai tengah malam. Kerutan di wajah mu akan muncul tiga kali lebih cepat jika seperti itu," omel Kyungsoo.
"Baik nona, hamba akan tidur setelah ini." Chanyeol tertawa pelan setelahnya. Kyungsoo pasti menggemaskan sekali jika sedang mengomel seperti itu. Bibirnya akan mengerucut, kedua alis nya bertaut serta pipi merona merah yang menggembung. Jika Kyungsoo ada di hadapannya sekarang mungkin ia sudah mencubit pipinya.
"Kau benar-benar harus tidur, Chan"
"Iya, nona muda. Hamba berjanji akan tidur setelah ini"
"Berhenti memanggilku nona muda, kau terdengar seperti Yoon Sung oppa jika begitu."
"Oke maaf. Aku benar-benar akan tidur setelah ini Do Kyungsoo"
"Baiklah, Jalja. Sampai bertemu besok"
"Jalja"
Kyungsoo tersipu mendengar Chanyeol mengucapkan selamat malam untuknya. Ya ampun kenapa aku jadi mudah merona begini? batin Kyungsoo. Ia memegang pipinya lalu mengangguk sambil bergumam ya.
Setelah itu Kyungsoo mematikan sambungan teleponnya. Menaruh ponsel di atas nakas dan bergelung di bawah selimut.
"Ah manisnya"
"Dia menggemaskan sekali"
Kyungsoo merapalkan kalimat itu berulang kali, kakinya menendang-nendang dan tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Untuk pertama kalinya Kyungsoo menemukan lelaki seperti Chanyeol. Seorang yang pintar namun juga bodoh. Lemah tapi ternyata kuat.
Chanyeol memang bukan cinta pertamanya. Tapi lelaki itu membuat Kyungsoo merasakan beberapa hal untuk pertama kalinya. Kekasih pertama. Ciuman pertama. Keyakinan pertama. Semuanya pertama, dan baru ia rasakan. Gugup tapi menyenangkan. Dan Kyungsoo harus berterimakasih akan hal itu.
Setelah menggosok giginya dan mematikan lampu belajar, lelaki itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dengan lampu kamar masih menyala ia memejamkan matanya. Chanyeol tidak bisa tidur dalam gelap. Hal itu membuatnya tidak nyaman, kecuali ada seseorang yang memeluknya ia akan baik-baik saja. Nafasnya mulai teratur, otot di tubuhnya sudah terlihat rileks, dan dengkuran halus terdengar. Ia sudah berada di alam bawah sadarnya.
"Tidak masuk ke kamar?," tanya Donghae pada istrinya Ji Eun. Mereka baru saja sampai di rumah pukul satu malam, kesibukan sebagai dokter dan anggota dewan direksi rumah sakit membuat mereka pulang larut setiap hari.
"Aku ingin melihat Kyungsoo," jawab Ji Eun.
"Kau beristirahatlah dulu, aku akan menyusul." Ji Eun tersenyum tipis sambil membelai lengan suaminya yang terlihat sangat lelah. Donghae mengangguk sambil tersenyum lalu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.
Ji Eun membuka pintu kamar Kyungsoo, suara decitan engsel tetap terdengar walaupun ia sudah berhati-hati. Wanita itu berjalan pelan menghampiri anaknya yang sudah tertidur pulas. Ketika sudah sampai di sisi ranjang, Ji Eun menekuk lututnya. Menyamakan tubuhnya dengan tinggi ranjang. Di usap kening anaknya dan dicium penuh kasih sayang.
"Jalja." Ji Eun mengusap surai Kyungsoo lalu membenarkan letak selimutnya. Setelah itu ia berdiri dari posisi berlututnya dan hendak berjalan keluar. Tapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat meja belajar Kyungsoo yang masih berantakan. Buku satu dengan yang lain saling bertumpukkan dengan tidak beraturan.
"Ia pasti belajar dengan keras," ucap Ji Eun. Tangannya menutup satu per satu buku yang bersebaran, lalu menatanya di rak sesuai ukuran buku. Satu-satunya kertas yang terselip diantara tumpukkan buku itu mencuri perhatiannya. Ji Eun hanya penasaran saja apa isi kertas itu, jadi setelah menutup kamus bahasa inggris dan menaruh benda itu di tempatnya. Ji Eun membaca lembar kertas itu.
"Angket peminatan siswa." Ji Eun mengucapkan judul yang tertera di lembaran itu. Selanjutnya ia membaca setiap pertanyaan dan jawaban Kyungsoo. Awalnya ia memang terlihat biasa-biasa saja, namun ketika ia melihat jawaban Kyungsoo pada salah satu pertanyaan, alisnya mengerut tidak suka lalu ia melebarkan matanya. Ji Eun sedikit meremas kertas itu lalu membawa dirinya keluar dari kamar Kyungsoo. Tangannya menggenggam kertas itu semakin kuat.
..
Putih, semuanya. Chanyeol hanya dapat melihat putih saat ini.
"Haraboeji." Chanyeol memanggil kakeknya dan suaranya menggema. Tidak ada sahutan. Ia memanggil kakeknya lagi dan hasilnya sama. Hanya ada gemaan suaranya dan tidak ada mulai panik, ia memejamkan matanya erat-erat. Dan sekarang putih tidak lagi terlihat. Hitam. Semuanya berganti hitam. Namun nafasnya mulai teratur. Ia perlahan membuka matanya dan sinar lampu membuat kornea matanya harus menyesuaikan diri karena terlalu lama menutup mata. Pandangannya buram sebentar lalu ketika ia mengerjapkan matanya lalu semuanya sudah terlihat jelas. Ketika ia menoleh ke kanan, ia menemukan kakeknya yang sedang duduk di kursi, tepat di samping tempat tidurnya.
"Haraboeji," panggil Chanyeol.
Yang dipanggil hanya tersenyum dan mengusap rambut cucu nya yang berumur delapan tahun penuh kasih sayang.
.
.
.
TBC
Note: sorry for supadupa late update ╥﹏╥ Terimakasih buat kalian yang sudah mau menunggu ff ini update, merelakan waktunya untuk membaca ff ini, mereview dan klik tanda follow+fav!. Swag sayang kalian, pengen peluk satu-satu ಥ⌣ಥ i hope kalian ga kecewa sama chapter ini. Dan doakan serta support swag biar cepat update chapter selanjutnya ya~ i love you~ /kiss
-swag✿ฺ
