Tawa terderdengar dirumah mewah nan elegan "jadi kabar baik apa yg ingin kalian sampaikan kepada kami nak?" pria paruh baya tersenyum menatap anak dan menantunya yg sedang duduk didepan mereka.
sepasang suami istri itu tersenyum, duduk bersebelahan dan saling mengkaitkan tangan diatas meja makan.
"Aku sedang hamil umma" wanita muda dan cantik tersebut terlihat bahagia, dan melihat sekilas suami yg menggenggam tangannya, mereka saling menatap dan tersenyum bersama .
"Secepat itu?",wanita paruh baya yg duduk disebelah pria paruh baya, terlihat terkejut.

"Kami juga tidak menyangka jika stella akan hamil secepat ini umma" pria yg menjadi suami wanita yg disampingnya terlihat bahagia ketika menatap sang mertua.
"Tapi kenyataannya, dia hamil setelah melahirkan lima bulan yg lalu dan kandungannya ini sudah memasuki bulan kedua"

Pria dan wanita paruh baya diam, dan tak lama mereka mulai merasakan kebahagiaan pasangan yg ada didepannya "ini benar cucu kami?"

Stella mempoutkan bibirnya, "jika aku anak kalian sesungguhnya, ini pasti cucu kalian umma"

Mereka tertawa bersama "maafkan umma nak, umma agak sensitif mendengar kau hamil"

"Umma, aku sudah memiliki suami yg baik umma"
Stella duduk menghadap sang suami, dan memeluknya "hei, lee songhyun, kau tega sekali tidak membela ku"
Lee songhyun membelai lembut rambut istrinya. "Mereka hanya bercanda sayang"

Mereke tersenyum.

"Kau hebat songhyun, aku tak salah memilih menantu, terimakasih kau bisa menerima stella untuk menjadi istri mu"

Songhyun masih dalam memeluk istrinya, dan tersenyum "aku yg seharusnya berterimakasih aboji, aku juga tidak sempurna sebelumnya, dan kau yg memilihku menjadi menantu dengan menjaga perasaan ku, terimakasih"

Nyonya cho, ibu dari stella tersenyum, dan menggenggam tangan menantu yg diletakkan diatas meja makan, "kau sangat baik nak, suami ku tak salah memilihmu menjadi menantu kami"
Stella melepaskan pelukannya, dia duduk dan tersenyum bahagia"haruskan kita merayakan ini?"
Mereka semuasaling bertatapan dan tersenyum "ide yg bagus" nyonya cho terlihat antusias.
Mereka memulai diskusi untuk pesta.

Hwaaaaa... Hikkssss... Hwaaa... Hikkssss...
Suara tangis balita berumur lima bulan terdengar, yg dimeja makan menghentikan diskuinya.

perasaan kesal dan tak suka, ada diwajah mereka .

"Ada apalagi dengan anak itu, ini sangat mengganggu, dan kemana ajuma kang?" wanita paruh baya terlihat kesal.
Stella membuang kasar nafasnya "jika membunuh anak bayi tidak berdosa, mungkin anak itu sudah mati ditanganku"
Stella berdiri, menghampiri suara tangisan.

"Apa selalu mengganggu kalian? mengapa tidak kalian tinggalkan dipanti asuhan?"

"Jika kita orang biasa, mungkin itu sudah kami lakukan aboji, tapi itu tidak mungkin mengingat kalian adalah pembisnis ternama"

Nyonya cho terlihat kesal, dia mengepalkan tangannyanya yg diletakkan diatas meja "jika pria brengsek itu tidak memperkosa stella, mungkin anak sialan itu tak pernah lahir, bahkan untuk digugurkan saja sangat sulit"

.

.

.

********AKU INGIN BAHAGIA******

Chap 4. Aku ingin bahagia

.

.

Donghae diam, matanya memutar keseluruh ruangan, mulutnya membemtuk huruf O tanpa dia sadari, matanya membulat lucu 'rumah yg indah' batinnya.

Nyonya choi tersenyum, melihat tingkah lucu dongae, yg terdiam kagum melihat rumahnya, ada boneka berbentuk ikan terlihat agak kusam didekapannya. "donghae, mengapa kau diam saja sayang"
Donghae tersentak, ketika nyonya choi menyentuh bahu donghae.
Donghae tersenyum bahagia "ajuma, rumah ini sangat indah, bahkan lebih indah dari rumah appa"

"Terimakasih sayang, kau anggaplah ini rumah mu sendiri"

Donghae mengangguk lucu. Nyonya choi melirik wanita didepannya. Dan kembali tersenyum melihat donghae.

"Donghae, ini nara, maid dirumah ini, nara yg akan mengantar mu kekamar mu"
Donghae tersenyum "salam kenal nara, aku donghae" donghae membungkukkan badannya didepan nara. Nara menjadi salah tingkah menanggapi.
Membalas membungkuk, nara sedikit kaku.
Nyonya choi tersenyum melihat kelucuan dongahae.
"Baiklah donghae, kau masuklah kekamar mu, bila ada kebutuhan apapun kau bisa panggil nara, dia yg akan melayani mu selama kau tinggal disini"

Donghae berjalan menaiki tangga, mengikuti nara yg membawa kopernya.

Nyonya choi masih berdiri, ia melihat donghae yg semakin meninggalkannya, masih dalam keadaan tersenyum melihat lucunya donghae. Dongae sangat menyukai siwon anaknya padahal dia belum melihat siwon, bahkan donghae masih menyimpan boneka yg diberikan siwon dulu.
Dia menjadi kagum kepada donghae. 'Kau akan bahagia dengan donghae siwon, karna dia sangat mencintai mu'

Nyonya choi masih ingat waktu donghae pergi, siwon menangis dan kebahagiaan diwajahnya menghilang selama seminggu, bersyukur karna nyonya choi hamil waktu itu, jadi siwon kembali bahagia.

.

.

Donghae kembali kagum, wajah sama yg dipasang ketika memasuki rumah besar ini 'kamar yang indah, lebih indah dari kamar unnie', kamar ini sangat mewah, donghae tak mengenal nama nama barang yg berada didalam kamar ini, yg dia tau kamar ini sangat luas dan indah, berwarna putih dan telihat lembut ada kasur besar, tv, sofa dan lemari buku, bahkan ada meja kecil dikanan kiri kasur itu.
mungkin ada ruang lain untuk lemari pakaian seperti kamar kakaknya, dan donghae yakin jika ada kamar mandi didalam kamar ini.
Sisa barang lain donghae tidak mengenalnya.
Yg pasti ini sangat indah. Donghae melihat nara yg berjalan membawa koper donghae, wanita tinggi berpakaian maid itu berhenti ketika dia sudah mendekati kasur yg ada diruangan itu.
"Maaf nona, apa pakaian nona mau saya rapikan?"
Donghae tsrsenyum dan berjalan masuk lebih kedalam, sambil berkeliling, menyentuh apapun yg ada didalam.
"Tidak usah nara, biar aku saja yg merapikan. Apa ini kamar ku nara?"
Donghae terlihat bahagia.
"Iya nona, apa ada hal lain lagi yang bisa saya bantu?"
Donghae terlihat berfikir dan kembali tersenyum, hanya saja senyum ini terlihat malu malu, meremas malu boneka ikan yg dipeluknya. "Hmmm.. Mmm.. Boleh aku bertanya nara?"
Nara tersenyum melihat tingkah donghae, bahkan dongae mengetuk ngetuk, ujung sepatu plat yg dia gunakan dilantai.
"Itu.. Hmm.. Apa .. Mmm.. Apa siwonie juga tinggal disini?"

"Iya nona, ini rumah tuan siwon, jadi tuan siwon tinggal disini, bahkan kamar tuan siwon ada disebelah kamar ini nona"

Dongha membulatkan matanya"disebelah?" donghae terkejut, seikit mengeraskan suaranya.

Nara terkekeh, "iya nona"

Donghae kembali tersipu.

.

.

Dikantor siwon kembali disibukkan dengan pekerjaannya, sedikit memijat kepalanya yg terasa sakit.
"Sepertinya aku butuh dokter"
Dia memejamkan matanya, dan bersandar dibangku yg didudukinya.

Tok Tok Tok.

"Masuk" siwon masih dalam keadaan terpejam.

Seseorang masuk, orang itu menggelengkan kepalanya melihat keadaan pria yg dihadapnya kini terlihat mengnaskan.
"Kau terlihat mnyedihkan siwon"
Pria itu duduk tanpa dipersilahkan.
Siwon membuka mata, dan menegakkan badannya ketika mengetahui siapa yg dihadapannya

"Kapan appa pulang?"

Pria itu menyandarkan tubuhnya, menyilangkan kedua tangannya didadanya.
"Sejam yg lalu"

"Kau langsung kesini?"

Pria itu mengangguk.
Siwon memutar malas matanya."kau sudah tua appa, setidaknya istirahatlah sehari untuk istri mu"
Pria paruh baya itu terkekeh."aku kesini hanya ingin mengajak mu pulang bersama siwon"
Siwon mngerutkan keningnya. "Tumben, ada apa?"
"Ibumu membawa oleh oleh dari china, dia ingin memberitahumu secepatna, makanya aku disini karna perintahnya"
Siwon terkekeh"wanita tua itu selalu saja memanjakan ku, akukan bukan anak kecil lagi appa"

"Tunggu sampai kau tau siwon, kau pasti akan menyukainya, jadi ayo kita pulang"

Siwon melirik jam mewah ditangan kananya "ini masih jam 3 sore appa"
"Aku tau, umma mu akan marah jika aku terlalu lama menjemputmu"
Mereka terkekeh.

.

.

Donghae merebahkan dirinya diatas kasur setelah nara pergi, "waaahhhh... Ini sangaaaat empuuuukkkkk... Sama seperti kasur umma appa kyunie dan unnie... " dia terlihat senang, mengguling gulingkan badannya diatas karus. kasur ternyaman yg pernah dia tiduri, mengingat dia hanya tidur dikamar kusam sejak lahir.
"Akhirnya aku bisa tidur dikasur empuuuuukkk..."
Donghae tertawa bahagia sambil menggulingkan tubuhnya kekanan dan kekiri.

Dia melirik koper yg ada disamping kasurnya, dia tersenyum dan mengambil koper dan meletakkannya diatas kasur.

Membukanya dan tersenyum, baju yg diberikan umma dan unnienya sebelum dia berangkat kekorea.
Bahkan koper dan tas yg dia pakai hari ini adalah pemberian dari unnienya.

Mengambil baju yg terlihat sama bentuk dan warna yg berbeda, semua dres selutut dan berlengan pendek. Ada 6 warna, biru langit, putih, kuning, hijau dan coklat yg dia kenakan. Ditambah satu baju yg berwarna pink yg diberikan umma nya ketika makan malam bersama.
Baju lamanya tak dibawa, karna terlihat menyedihkan menurut ummanya.

Donghae Meletakkan baju itu diatas kasur dan tersenyum.

Mereka sangat baik, dan donghae menyayangi mereka.
Ingatannya kembali, sebelum dia berangkat kekorea.

.

*Flashback.

"Kau tau disana kau harus terlihat pintar, hindari jika mereka menyuruh mu membaca, mereka tidak boleh tau jika engkau tak bisa membaca"
Victoria menjelaskan, duduk manis disofa dan majalah ditangannya, matanya fokus pada majalah.
Donghae membulat kan mulutnya lucu, duduk dilantai sambil membersihkan meja didepannya, dia menatap victoria yg tak memperhatkannya.

"Mengapa aku harus menyembunyikannya umma?"

Victoria menutup majalannya, meletakkan majalah itu dipangkuannya, tangannya diletakkan diatas majalah.
Menatap malas kearah donghae.
"Tak ada pria yg menyukai wanita bodoh donghae, jadi usahakan kau bersikap baik, makan dengan baik dan berbicara yg baik, dan jangan pernah bilang jika kau selalu membersihkan rumah"

Donghae terlihat mengerti.
Victoria kembali bersuara"jadi kau taukan apa yg harus kau lakukan"
Donghae mengangguk lucu.
Victoria tersenyum"jadi jangan kembali sebelum kau menjadi istri siwon, kau mengerti donghae"
Donghae mengangguk semangat, tangan masih membersihkan meja didepannya.

"Aku akan memberikan kau uang untuk tinggal disana, dan baju baru, kau tidak boleh terlihat menyedihkan"

Donghae menghentikan kegiatannya "uang?"

Victoria tersenyum"kau senang"
Donghae mengangguk bahagia"tentu umma, aku tak pernah memiliki uang sebelumnya"

Victoria kembali membuka majalahnya "kau tau, bahkan yonha menambahkan uang yg ku berikan pada mu, dia sudah menyiapkan tas dan koper untuk kepergian mu donghae, bukankah yonha sangat menyayangi mu"

Donghae tersenyum dan menundukan wajahnya."unnie memang sangat baik padaku"

*flashback end.

.

.

Donghae membuka tas yg ada disampingnya, bahkan kakaknya membelikan dia dompet untuk meletakan uangnya.
Terimakasih "unnie, umma, appa aku sangat menyayangi kalian."

.

.

"Ahh rumah terlihat berbeda tidak ada donghae"
Yonha menyandarkan tubuhnya disofa.
Victoria memutar malas matanya.
"Umma, donghae pergi, dan sekarang tak adalagi yg membawakan belanjaan ku"

"Kau menyayangi donghae?"

Yona terkekeh"aku membutukannya umma, dia sangat membantuku umma. Dia adalah bahan percobaan untuk mengasah keahlian ku"

"Kau sudah mahir sekarang, kau tak perlu kucing percobaan untuk mangasah keahlianmu mengunting rambut"
Yona mengangkat bahunya acuh.
Kembali teringat pertama menggunting rambut donghae, waktu itu dia masih sma dan bercita cita ingin menjadi hairstaylist terkenal, seikit hancur tapi anak itu tetap terlihat bahagia meski rambutnya digunting tak menentu.
Dia kembali melirik ummanya yg sedang membuka majalah.
"Umma kau yakin donghae tak kembali"
"Hmm.."
Yona menggelengkan kepalanya. "Dia tak akan kembali, tapi kau memberikan uang satu jam pendapatanku" yonha menggelengkan kepalanya "itu uang yang sangat sedikit"

Victoria menatap anaknya "sedikit untuk mu, tapi banyak untuknya, lagi pula kausudah menambahkan nya bukan"
"Karna aku tidak setega dirimu umma, aku ingin memberikan kenangan baik untuknya, setidaknya tas dan koper yg kuberikan akan menjadi hadiah berharga untuknya."
Victoria memutar malas matanya.
"Kau memberikan yg bekas yonha"
Yona terkekeh"tapi itu barang mahal umma, dari pada umma, membelikan baju baru semua yg murahan, aku bahkan tak ingin menggunakannya"

.

.

Dan disinilah siwon berdiri bingung didalam rumahnya, dia melirik umma dan appanya yg sedang tersenyum kepadanya.
Ada wanita asing, dan tidak terlalu tinggi sedang tersenyum malu malu didepannya. Siwon Sedikit menunduk karna kemungkinan tinggi wanita itu skitar 153 cm. Sedangkan siwon memliki tinggi 187 cm. Perbedaan yg membuat dia harus menundukkan pandangannya untuk melihat wanita itu. 'Siapa anak kecil ini?' batin siwon bingung.
"Anak ini siapa umma?" siwon menunjuk donghae yg berdiri didepannya. Melihat umma nya yg berada disamping donghae.
Donghae masih menunduk malu malu, nyonya choi tersenyum.
"Kau ingat donghae sayang?"
Siwon mengekrutkan keningnya 'donghae?'
"Anak tuan lee songhyun, appa kyuhyunie" lanjut nyonya choi.

"Ahh.. " Siwon mendapat pencerahan, 'kyuhyunie' tentu dia ingat, banyak foto anak imut dan menggemaskan itu di album masa kecilnya, mengingat dia sangat dekat dengat gadis mungil yg sudah ada disyurga dengan ibunya.
Siwon tersenyum, melihat donghae yg masih menundukan wajahnya tersenyum malu, sambil meremas jemarinya.

"Kau donghae, kyuhyun nuna?"

Donghae mengangguk lucu, dia
masih belum berani menatap siwon 'siwon sangat tampan' fikirnya.

Siwon tersenyum, menampilkan kedua dimplenya "kau masih terlihat hmm.. Lucu"

Siwon mengulurkan tangannya "senang bertemu denganmu donghae"
Donghae menyambut dengan malu malu, tangan siwon sangat besar dan sangat hangat fikir donghae.
"Se.. Se... Nang berte..mu deng...an mu.. La..gi siwo..nie" donghae sedikit tergagap karna jantungnya berdetak sangat kencang.

Siwon sedikit mengerutkan keningnya, tangan donghae tak sehalus tangan wanita yg pernah berjabat tangan denganya.

Tak ingin mempermasalahkannya, siwon kembali menatap tanganya, yg digenggam oleh kedua tangan donghae, wanita itu terlihat menyukai tangan siwon.

.

.

"Hmm.. Jadi bagaimana kabar mu donghae?"
Siwon mencoba mencairkan suasan, dari tadi yg dia lihat dongae hanya menundukkan wajahnya ketika mereka hanya berdua duduk dibangku belakang milik keluarga choi.
Sedangkan umma dan appanya berada didalam meninggalkan mereka berdua.
"Baik"
"Bisa ku lihat wajah mu donghae?"
"Hm?" donghae mengangkat wajahnya, menatap bingung siwon

Kembali menunduk malu karna siwon tersenyum kepadanya.
"Kau sangat lucu donghae," siwon terkekeh "kau takut pada ku?"
Donghae menggeleng lucu
"lalu?" siwon menatap intens donghae.
"Itu.. Itu... Karna.. Aku.. Aku malu",dongae gugup, bicara terbata.
"Apa yg membuat mu malu donghae?"
"Mmm... Karnaa... Kar..naa.. Kau .. Sangat tam..pan si..wonie..."
Wajah donghae bersemu, dia menutup lucu wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Siwon tertawa.
"Kau benar benar menggemaskan donghae, tidak ku sangka kau masih belum berubah, masih menjadi anak yg pemalu"

.

.

.

Ketiga pria dan dua wanita kini menatap intens kedua objeknya.
Objek mereka duduk disofa, yg satu terlihat gelisah dan yg satu terlihat santai menanggapi tatapan mereka.
" berhenti menatap kami seperti itu, kau lihat jika dia takut dengan tatapan kalian" siwon objek tatapan sahabatnya, mencibir.
"Kau bilang dia istrimu" jaejong membulatkan lucu matanya, dan menunjuk kearah donghae yg sedang duduk gelisah disamping siwon.
Siwon terkekeh. "Hmm.. Kami sudah menikah"
Pernikahan adalah topik yg dibicran siwon dan donghae ketika mereka duduk ditaman belakang rumah siwon sore tadi.
Plak.
"Akhh.. Yah heechul" siwon menatap tajam pada wanita cantik yg memukul kepalanya, pukulan dengan sendok yg dipegangnya.
"Apa?" wanita itu kemabali menatap siwon, siwon cemberut dan yg lain terkekeh, terkecuali donghae yg menatap cemas siwon.

"Ini sakit" siwon mengelus kepalanya.

"Apa maksud ucapan mu. siwon?lalu bagaimana dengan.."
"Kau menyebalkan cullie, dia istri semasa kecilku, dia dari china dan sedang liburan kesini, aku mengajaknya karna ku kira dia butuh teman ketika berada dikorea"siwon menggelengkan kepalanya setelah dia menyela ucapan wanita cantik yg terlihat galak duduk dihadapannya.

"Jadi ... Siapa namamu anak manis?" yunho mencondongkan badannya.
"Hmm.. Lee donghae, senang berkenalan dengan kalian" donghae membungkukan badannya meski dalam keadaan duduk.

"Heyy bukankah tidak sopan jika berbicara sambil menunduk" heechul menyilangkan kedua tangannya, memuar matanya dan berkata dengan sedikit menyebalkan.
'Bahkan pakainnya sangat norak' fikirnya, melihat donghae yg hanya menggunakan dress berwarna biru polos.

Donghae mengangkat wajahnya, melihat orang orang yg ada dihadapannya, 'mereka semua sangat indaahh' donghae berteriak didalam hati.
"Maaf"
Donghae kembali menundukkan wajahnya, kebiasaan ketika berhadapan dengan orang baru ditambah mereka sangat indah.

Mereka menghela nafas, dan menatap siwon seolah bertanya 'apa dia selalu seperti itu'
Siwon hanya mengangguk dan tersenyum.

"Donghae, donghae.. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu" yunho terlihat berfikir.

Jaejong memutar malas matanya, "itu nama merk permen yunho"
(Anggap aja ada permen yg bermerek donghae)

Yunho menggelengkan kepalanya"sepertinya bukan .. "
Yunho kembali berikir, sang kekasih yg duduk didekatnya hanya memutar malas matanya.

"Kau dari china?"

"aku dan zoumi juga berasal dari china," hangeng menyikut lengan zoumi yang sedang memfokuskan dirinya kepada ponsel yg dia pegang.
"Apa?",zoumi menatap bingung hangng yg duduk disampingnya.
Hangeng menatap malas zoumi, dan menggelengkan kepalanya "singkirkan ponsel mu zoumi" zoumi menatap malas hangeng dan kembali fokus dengan ponselnya, "ini pekerjaan, akan bahaya jika aku mengabaikan ini"
Yang lain hanya mengelengkan kepala"kau bukan bekerja, tapi sibuk dengan henry"

"Henry memberiku pekerjaan yg sulit, jadi aku harus menanggapi, jika tidak, dia akan merajuk dan kakanya akan membunuh ku yun"

Siwon menatap remeh zoumi, "itu resiko yg harus kau terima"

"Kau kakak ipar menyebalkan siwon"
Mereka terkekeh.
berbincang, bercanda dan saling mengejek, duduk ditempat mereka kumpul di caffe jajong kekasih yunho.
Mereka sesekali bertanya kepda dongae, donghae hanya menanggapi seadanya dan hanya tersnyum bila ada hal yg lucu yg mereka ucapkan..

.

.
Meski jujur, ada beberapa kata kata mereka yg donghae tak mengerti, karna mereka menyelipkan beberapa kata asing bagi donghae.

Tbc.

Cerita awal adalah flashback masa kecil donghae.