Hai semua, ketemu lagi dengan saya, kali ini ceritanya bakal lebih panjang jadi semoga gak kecewa sama chap ini, dan aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, asekk xD
WARNING(s) : TYPO, ABAL-ABALAN, GAJE, OOC, etc
Disclaimer : FT punya Hiro-sensei, aku hanya meminjam karakter-karakternya
No One POV
Seorang laki-laki sedang berjalan di pinggir kota Magnolia, menikmati angin sore sambil menendang batu-batu kecil di depannya.
"Ugh, aku mau cepat sampai di guild! Dan menantang Lightning Freak itu duel! Aku tidak akan kalah kali ini!" Ujarnya dengan semangat yang berkobar-kobar.
Akhirnya dia berlari sampai-sampai dia tidak melihat apa yang ada di depannya, dan hasilnya dia terjatuh akibat sebuah 'batu besar' yang menghalangi jalannya.
"Batu sialan! Kau menantangku duel?" Sepertinya dia sudah gila, dia bahkan berbicara seperti itu kepada sebuah 'batu'? Demi Mavis.
"Huh? Itu bukan batu, apa itu?" Akhirnya setelah sekian lama dia mencaci batu tak berdosa itu, dia baru menyadari kalau itu sama sekali bukan batu.
"Apa? Seorang gadis? Oh tidak dia juga terluka parah, aku harus segera menolongnya."
Dia mengangkat gadis itu di punggungnya, mencari bantuan di sekitar sana, tapi hasilnya nihil, dia sama sekali tidak menemukan apa-apa.
"Hey, apa kau serius? Tidak ada bantuan disini." Dia mulai berpikir, setelah akhirnya memutuskan sesuatu.
"Baiklah, akan ku bawa dia ke guild, semoga dia belum mati saat kita tiba nanti." Dia mulai berlari meninggalkan Magnolia dan pergi menuju guildnya.
Akhirnya dia sampai di depan guildnya, tanpa ampun dia menendan pintu itu hingga rusak, oh malangnya nasibmu pintu.
"Kiyo! Apa kau harus selalu seperti itu? Bisa tidak sih masuk ke dalan guild dengan santai, tidak merusak properti yang ada disini?"
Seorang gadis dengan rambut berwarna biru langit dan bermata biru tua itu mendekati dia, berencana memarahi pemuda itu lebih lanjut.
"Oh Krystal! Tepat pada waktunya, aku butuh bantuanmu, gadis ini terluka, kau harus cepat menyembuhkannya!" Ucap pemuda yang dipanggil Kiyo tadi. Sepertinya ia tidak mendengarkan omelan yang dilontarkan kepadanya.
"Huh?" Krystal masih memproses ucapan Kiyo tadi.
Kiyo pun berface palm, sejak kapan gadis ini menjadi sangat lemot? Akhirnya Krystal menyadari kalau Kiyo sedang membawa seseorang di punggungnya.
"Oh tidak, dia terluka parah, cepat ke ruang perawatan! Kenapa kau tidak memberi tahuku?" Omel Krystal, Kiyo yang mendengarnya hanya bisa menunjukkan flat facenya.
-Di Ruang Perawatan-
"Jadi bagaimana keadaannya?" Tanya Kiyo.
"Huh, untung saja kita tepat waktu, kalau saja dia tidak langsung di tangani secepatnya, mungkin dia sudah mati." Jelas Krystal, dan Kiyo hanya menghela nafas.
"Untunglah dia tidak mati."
"Tapi aku masih penasaran, dimana kau menemukannya?" Tanya Krystal.
Kiyo pun menceritakannya, tidak ada yang terlewat sedikitpun, bahkan kejadian yang sebenarnya sangat tabu diceritakan ke orang lain.
"Hah?" Hanya itu kata yang keluar dari mulut Krystal setelah Kiyo selesai menceritakannya.
"Kenapa?" Tanya Kiyo.
"Kau itu bodoh atau gimana sih? Kau mencaci maki sebuah batu yang membuatmu jatuh? Itu batu Kiyo! Sebuah batu! Kau gila kah? Dan lagi kau tidak tau kalau itu seorang manusia? Buta kah kau?" Ujar Krystal kesal, walaupun tidak terima di hina seperti itu Kiyo hanya mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang dia tolong tadi.
Sebenarnya, apa yang sudah terjadi? Kenapa dia bisa terluka parah seperti itu?
Akhirnya Krystal dan Kiyo berjalan keluar dari ruang perawatan, membiarkan gadis itu istirahat dengan tenang.
Pagi mulai menjelang, matahari mulai menampakan sinarnya, burung-burung berkicau, pohon-pohon yang basah karna hujan semalam, kaca yang berembun, membuat pagi itu sangatlah damai.
Lucy bangun dari tidurnya, menatap ke sekelilingnya, ia sama sekali tidak punya ide dimana dia sekarang.
Lucy mencoba untuk bangun, tapi dia sama sekali tidak bisa melakukannya. Akhirnya dia pun menyerah dan kembali berbaring, Lucy melihat sekeliling tubuhnya, tubuhnya penuh dengan perban, 'siapa yang telah melakukannya?''
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu mulai terbuka, memperlihatkan seorang pemuda berambut Silver tua dan bermata biru dongker.
"Hey, kau sudah sadar rupanya. Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya.
"Aku baik-baik saja, tapi dimana aku? Dan siapa kau?" Tanya Lucy dengan hati-hati, dia masih harus waspada, karena dia tidak tau apakan pemuda itu baik? Atau jahat?
"Ah maaf, aku lupa memperkenalkan diriku, namaku Kiyo Elbourne, aku seorang mage, dan kau sedang berada di ruang perawatan guild ku." Ujarnya tersenyum sambil menyodorkan tanganya, "kalau kau?"
"Aku Lucy Heartfillia, aku juga seorang mage, tapi itu dulu." Jawab Lucy sambil menjabat tangan Kiyo.
"Dulu?" Tanya Kiyo.
"Yah, aku menjadi mage setelah seseorang mengambil kunci-kunciku, kau tau betapa berharganya kunci-kunci itu kepadaku," Kiyo hendak bertanya lagi kepada Lucy sampai dia langsung berbicara lagi, "ah, aku seorang Celestial Mage"
"Wow, itu salah satu sihir langka kan? Kau punga berapa kunci?" Tanyanya.
"Aku mempunyai 10 kunci emas dan 5 kunci silver" disambut dengan 'oh' dari Kiyo.
"Oh ya, pertanyaan yang mengganjal dipikiranku dari awal aku menemukanmu, bagaimana kau bisa terluka separah itu? Siapa yang menyerangmu?"
Lucy sedikit kaget mendengarnya, tapi dia tau kalau dia memang harus menceritakan cerita itu, sekarang atau tidak pernah, walaupun ia sedikit enggan untuk bercerita sekarang.
Kiyo yang melihat ekspresi Lucy hanya bisa diam, sepertinya kejadian ini memang sangat berat untuknya.
"Kalau kau tidak mau bercerita juga tidak apa-apa, maaf kalau pertanyaan ini membuatmu tidak enak." Ujar Kiyo, dan Lucy langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit enggan bercerita sekarang, tapi aku akan menceritakannya sekarang."
Lucy mulai mengambil hafas sebelum mulai bercerita.
"Aku...di tuduh."
"Apa? Di tuduh?" Tanya Kiyo bingung.
"Ya, aku dituduh...membunuh...nakamaku sendiri."
Dan perkataan itu sukses membuat Kiyo kaget. 'Dia dituduh membunuh? Kenapa?'
Lucy mulai bercerita dari awal, dimana ia melakukan misi dengan Levy dan Cana, pulang ke guild, di serang oleh nakamanya, guild marknya dihapus, bahkan kunci-kuncinya juga diambil, bagaimana dia berhasil kabur, dan pergi ke pinggir kota Magnolia dan tidak tau lagi apa yang terjadi selanjutnya.
Lucy menundukkan kepalanya, menghalangi matanya dengan poninya, berusaha agar tidak menangis, walaupun ia tau ini akan susah.
Tiba-tiba ia merasakan 2 lengan kekar melingkari pinggangnya, dia mendongakkan kepalanya dan melihan Kiyo sedang memeluknya, ya, memeluknya.
"Ki-Kiyo...apa yang kau-"
"Menangislah..."
"Huh?"
"Menangislah, aku tau ini sangat berat untukmu, apa lagi saat kuncimu diambil, aku tau betapa sakitnya sesuatu yang penting bagi kita diambil oleh seseorang, percayalah, menangis membuat mu sedikit lebih baik."
Lucy pun menangis di dalam pelukan Kiyo, mengeluarkan semua uneg-uneg yang dia simpan di dalam hatinya, suara tangisan Lucy sangat menyayat hati, menggambarkan bagaimana sedihnya hal yang dialaminya, Kiyo mengelus rambut Lucy agar dia lebih rileks, dan tangisan itu berlangsung sangat lama.
Waktu sudah menunjukan pukul 07.30, berarti sekitar 1 jam lebih Lucy menangis, tapi sebenarnya dia sangat malu, dia menangis selama itu sambil memeluk seorang laki-laki, mukanya pun memerah karnanya.
"Hey Lucy, kenapa mukamu memerah? Apa kau demam?" Tanya Kiyo, dengan santainya dia mendekatkan dahinya ke dahi Lucy, berniat untuk mengecek apakan Lucy demam atau tidak.
Tapi sebelum hal itu terjadi, dia malah mendapatkan pukulan dari Lucy dipipinya, dan suksek membuatnya terpental ke dinding.
"Heyy, kenapa kau memukulku? Sakit tauu." Ucap Kiyo sambil mengelus pipinya akibat hadiah dari Lucy barusan.
"Ah maaf, aku refleks melakukannya tadi, aku tidak sengaja sungguh." Lucy memohon maaf kepada Kiyo berkali-kali, walaupun Kiyo bilang tidak apa-apa, tetap saja Lucy merasa tidak enak.
"Aku akan panggil Krystal, dia orang yang telah menyembuhkanmu. Sekalian, aku juga akan mengambil makanan untukmu, kau belum sarapan kan?" Tanya Kiyo, dan dibalas dengan anggukan dari Lucy, lalu Kiyo segera pergi keluar ruangan, mencari Krystal dan mengambil makanan untuk Lucy.
Tak lama kemudian, terdengan suara ketukan dari pintu ruang perawatan, seeorang membuka pintunya, menampakkan Kiyo yang sedang membawa nampan dan Krystal disana.
"Hai, aku Krystal Aidou, panggil saja aku Krystal atau Krys, senang bertemu dengamu. Bagaimana dengan tubuhmu?" Tanyanya.
"Hai juga aku Lucy Heartfillia, aku juga, tubuhku baik baik saja, terima kasih sudah merawatku."
"Sama-sama, itu sudah menjadi tugas ku." balas Krys dengan senyumnya.
Kiyo menaruh nampan tadi di meja kecil dekat kasur Lucy.
"Lucy, makanlah terlebih dulu, kau butuh tenaga." Ucapnya.
"Ah, terima kasih Kiyo." Senyum Lucy, Kiyo pun menunjukan grinnya.
Krystal yang melihat itu hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Wah, sejak kapan Kiyo bisa selembut dan sebaik itu? Setahuku Kiyo itu serampangan, idiot, bahkan dia mencaci sebuah 'batu' karna membuatnya terjatuh? Huh, kiddo." Sindir Krystal, dan membuat sebuat pertigaan muncul di dahinya.
"Hey, kau mau mati ya! Ngajak berantem?" Teriak Kiyo
"Apa? Kau menantangku?" Balas Krystal tidak mau kalah.
Mereka berdua mulai bertengkar, memukul, menampar, bahkan menjambak rambut, pertarungan yang sedikit tidak elit.
Dan sepertinya perkelahian ini tidak bisa dihentikan, Lucy hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua, berharap mereka tidak mengancurkan barang barang disini.
Lucy pun menghabiskan makanannya, dan ia segera berbaring lagi, mencoba untuk tidur, walaupun di dekatnya ada dua orang orang yang sedang bertengkar.
Huft, ini akan menjadi hari yang melelahkan.
TBC~
Oke fix, mereka berdua itu terlalu kekanakan, dan sepertinya, adegan KiLu itu terlalu cepat terjadi ya wkwk.
Jadi, gimana chap ini? Gak mengecewakan kan? Semoga tidak.
ChristianAmrokuzan : Tidak, Lucy gak bakalan jadi dark ataupun gray, terima kasih udah mau baca :D.
Fic of Delusion : Wah, seneng deh kalau kamu suka sama ceritanya :D tenang itu bukan ibu Lucy kok hehehe.
Oke deh, cukup segini untuk chap 2, sampai jumpa di chap 3 :D
-SkySorceress72-
