'Mari menebus dosa bersama, Kyuhyun-ah. Dosa pada appa yang begitu menyayangi kita.'

Kyuhyun terbangun dengan peluh bercucuran dan kepala pening. Rasa sakit itu kembali muncul menghantam keras di tempat yang sama. Tangan kanannya meremat baju di dada sedang tangan kiri menarik helaian rambut demi mengurangi rasa sakit. Namun hatinya mencelos saat pandangannya justru menubruk pada luka sayatan melintang di pergelangan tangan kirinya. Dengan bergetar dia mangangkat tangan kanannya sejajar dengan tangan kiri di depan wajahnya. Sayatan yang sama juga menghiasi pergelangan tangan kanannya. Wajahnya berubah sendu.

Gelegar petir menyentaknya. Spontan Kyuhyun meringkuk miring. Memeluk kedua lutut menempel rapat di dadanya. Dia bahkan berusaha menyembunyikan kepalanya di antara tangan. Tubuhnya meremang dan menggigil. Kyuhyun memejamkan mata erat-erat, mengigit bibirnya dengan kuat. Berharap hujan tidak turun agar dia dapat kembali tidur. Ini masih tengah malam dan tubuhnya masih butuh istirahat.

"Eomma…" rintihnya terisak masih dalam posisi itu.

Demi apapun dia tidak membenci hujan. Dia tidak membenci apapun didunia ini. Namun ada banyak yang dia tidak suka. Tidak suka saat hujan, tidak suka sayuran, tidak suka olahraga, tidak suka gelap, tidak suka darah. Dan hujan seperti sekarang membuatnya tenggelam pada masa lalu. Itu menyakitinya, mengingatkannya dengan kejadian kelam. Hal tragis yang akan menghantuinya hingga akhir hayat.

"Eomma….." kembali Kyuhyun merintih dalam isakan. Entah apa maksudnya dia memanggil eommanya. Membencikah atau menyayanginya setelah semua hal yang terjadi dihidupnya? Akan lebih adil jika dia membenci wanita itu tapi seperti yang tertulis tadi, Kyuhyun tidak membenci apapun didunia ini. Dia hanya tidak suka semua yang terjadi karena ibunya.

0ooooooo

"Aaaa aku lapar sekali!" keluh pemuda dengan kelebihan tinggi disamping Kyuhyun. Mereka memasuki kantin yang sudah ramai oleh siswa siswi lain. Changmin mencebik kesal. Dia suka makan, sangat suka. Hanya saja paling tidak suka kalau kantin dipenuhi siswa seperti ini. Dia butuh banyak tenaga dan waktu untuk mendapatkan jatah makanan. Tapi tentu saja seorang Shim Changmin tidak akan mengalah untuk mendapatkan kekasih abadinya. Maka dia memberi perintah pada Kyuhyun untuk mencari tempat duduk sedangkan urusan makanan dia yang akan menanganinya. Kyuhyun menurut saja, toh sahabatnya itu tahu apa yang ingin dia makan.

"Kyu hyung!" panggil seseorang membuat Kyuhyun menoleh. Seorang junior melambaikan tangan padanya. Kyuhyun tersenyum kecil kemudian menghampiri hobaenya tersebut.

"Minho-ah." sapanya. Dia mengedar pandang pada dua teman Minho yang lain. Taemin dan Henry. Kyuhyun tersenyum pada mereka. Taemin balas tersenyum lebar berbeda dengan Henry yang bersikap cuek bahkan tidak peduli.

"Hyung mau makan?" tanya Minho mengalihkan Kyuhyun dari Henry.

Kyuhyun mengangguk. "Aku mencari kursi. Changmin sedang memesan makanan."

"Disini saja, hyung masih ada tempat." ajak Taemin.

Kyuhyun ingin tapi seseorang pasti merasa terganggu. Jadi dengan terpaksa dia menolak ajakan itu. "Aku cari tempat lain saja. Kalian tahu, kan berapa banyak makanan yang akan dibawa si tiang itu. Dan berapa berantakannya dia saat makan."

"Kebiasaan buruk Changmin hyung." angguk Minho cukup tahu kebiasaan Changmin. Kyuhyun pamit pergi ke sudut kantin yang terdapat kursi kosong. Dia menunggu Changmin disana. Sesekali dia mencuri lihat untuk memperhatikan meja dimana ketiga hobaenya tadi berada. Dia memperhatikan salah satu diantara mereka.

'Hyung pergilah! Ada kau, rumah jadi tidak nyaman! Mereka terus bertengkar hanya karena mendebatkanmu! Appa selalu marah-marah dan kami semua merasa tidak nyaman! Kumohon pergilah!'

Kalimat terakhir yang ia dengar dari saudara kecilnya. Hari itu adalah hari berhujan, Kyuhyun memutuskan keluar dari rumah. Meski oemma Henry sekaligus oemma tirinya tidak merelakannya keluar rumah tapi dua pasang mata memandangnya seolah mendorongnya keluar dari rumah. Tidak, bukan hanya keluar dari rumah tapi juga keluar dari kehidupan mereka. Sekarang setelah hari itu dia hanya berharap hubungannya dengan Henry akan membaik seperti sebelumnya. Tapi hanya penolakan yang terus ia dapat. Dan entah sejak kapan dia mulai belajar mengawasi adik tirinya itu dalam diam.

"Kyu!"

Atensi Kyuhyun beralih spontan pada Changmin yang tidak ia sadari sudah berada di sebelahnya. Lengkap dengan banyaknya makanan dan tiga kaleng minuman dingin diatas meja. Dua kaleng untuk Changmin satu untuk dirinya.

"Kapan datang?" tanya Kyuhyun linglung. Changmin berdecak dan lebih memilih untuk memakan makanannya.

"Memandanginya saja akan percuma. Bicara baik-baik dengannya juga tidak ada hasil. Jadi kusarankan jangan lakukan apapun. Itu hanya membuat hatimu terluka. Dan Kyuhyunie, aku paling tidak suka jika hatimu terluka. Cukup yang kemarin-kemarin, tidak lagi." kata Changmin panjang lebar. Mau tidak mau Kyuhyun tersenyum menerima kalimatnya. Karena Kyuhyun tahu Changmin tulus mengatakan itu.

Kyuhyun menarik satu kaleng membuka dan meminumnya. "Bagaimana latihanmu?" dia mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Lancar. Kami optimis memenangkan pertandingan. Kau harus menonton. Akan kuberi pertunjukan menarik nanti." dan senyum lebar Changmin mengundang tawa Kyuhyun.

"Tidak." geleng Kyuhyun. "Jika yang kau maksud tarian memalukanmu itu, lupakan. Lebih baik tidak kau lakukan."

"Kenapa? Semua anak menyukainya. Bahkan ikut menari."

"Tarian cacing kepanasan itu? Yang benar saja Shim Changmin. Itu Show off teraneh yang pernah aku lihat. Akan lebih baik jika berteriak sekeras-kerasnya sambil memutari lapangan."

"Dan memutar boxer?" Changmin mangangkat tangan kanan dan memutar telunjuknya seolah sedang memutar celana boxer. Alhasil Kyuhyun tertawa semakin keras begitu juga Changmin. Gelak tawa keduanya mengundang perhatian anak-anak lain. Pasalnya keduanya terkenal sebagai siswa cool yang pendiam, tidak banyak bicara dan cuek. Dan pemandangan seperti ini hanya terlihat jika mereka sedang bersama. Setelah keduanya berpisah di kelas masing-masing mereka akan kembali menjadi siswa pendiam yang terkesan enggan untuk diganggu. Beruntung mereka memiliki wajah tampan yang enak dipandang dan prestasi yang membanggakan kalau tidak sudah pasti akan banyak anak yang tidak menyukai mereka.

0ooooooo

Bel pulang sekolah Kyuhyun mendapatkan sms dari Changmin. Permohonan maaf karena tidak bisa mengantarnya ke café karena mendadak ada rapat klub. Setelah membalas pesan Changmin Kyuhyun menyimpan hp-nya di saku celana dan kembali memasukkan buku-bukunya. Dia keluar menuju lemari lokernya, mengganti sepatu dan mengambil mantel. Udara kembali dingin dan langit mendung.

Sialnya baru saja berjalan beberapa langkah dari sekolahnya hujan turun. Tadinya hanya gerimis lama-lama jadi cukup lebat. Kyuhyun berlari ke halte. Berteduh sekaligus menunggu bus menuju café. Dia tidak sendirian. Ada beberapa orang berseragam sama dengannya, hanya saja dia tidak mengenal mereka. Tidak menghiraukan sekelilingnya Kyuhyun memandang ke depan. Dingin.

"Hatchiih!"

Kyuhyun mengusap hidung seraya menoleh. Dia bersin bersamaan dengan orang lain. Disampingnya berdiri seorang pemuda yang sedikit lebih pendek darinya. Pemuda itu juga sedang mengusap hidungnya. Kemudian rasa gatal itu kembali menggelitik hidung Kyuhyun. Kembali dia bersin dan kali ini sendirian.

"Ck." berdecak. Kyuhyun kesal sendiri. Dia merogoh celana, mencari sesuatu untuk membersihkan hidungnya. Tapi dia tidak menemukan apapun dikantung celananya.

"Ini."

Gerakan Kyuhyun berhenti. Dia melihat sebungkus tissue yang sudah dibuka disodorkan kepadanya oleh pemuda yang tadi bersin bersamanya. Dengan sungkan Kyuhyun menarik selembar tissue. "Gomawo."

Kyuhyun memperhatikan pemuda itu. Rambut hitam, kulit putih dan tampan. Dia jadi ingat Donghae hyung di café. Dia selalu iri dengan ketampanan Donghae meski dia tidak mau mengakuinya bahkan sering mengolok Donghae dengan sebutan ikan. Dan sekarang orang tampan lainnya yang membuatnya iri. Meski tinggi dibawahnya tapi ketampanannya yang berkarisma membuatnya berdecak dalam hati.

Bus yang ditunggu Kyuhyunpun datang. Dia segera naik bersama satu dua orang lainnya dan menempati kursi kosong dekat jendela. Sekali lagi dia melihat pemuda itu. Mungkin menghafal wajahnya. Siapa tahu lain kali mereka bertemu lagi dan Kyuhyun punya kesempatan berbuat baik untuk membalas kebaikannya hari ini.

ooo

Pemuda itu bernama Kibum, masih memandang pada bus yang sudah menjauh. Heran sendiri dengan kelakuannya yang aneh. Seumur-umur Kibum selalu cuek bahkan berkesan punya dunia sendiri. tidak peduli dengan sekitar dan dengan orang lain. Tapi tadi entah ada apa dengan dirinya yang menawarkan tissue pada orang yang tidak dikenalnya. Lihat wajahnya saja baru tadi. Padahal mereka mengenakan seragam sekolah yang sama. Tapi memangnya siapa yang dikenal Kibum di sekolah? Dia hanya punya satu teman dekat yang sibuknya minta ampun untuk berkencan.

Bunyi klakson membuyarkan renungan Kibum. Pemuda tampan lainnya terlihat setelah kaca jendela mobil diturunkan, tersenyum lebar.

"Mianhe. Sudah lama menunggu?" tanyanya begitu Kibum masuk ke dalam mobil.

"Hn."

"Rapatkan mantelmu udaranya semakin dingin."

Perhatian itu hanya mendapat balasan gumaman dari Kibum. Pemuda yang lebih tua tersenyum tanpa rasa tersinggung. Sudah cukup hafal dengan tabiat adiknya yang kelewat pendiam. Dia memilih melajukan kembali mobilnya menembus hujan.

"Bagaimana kalau kita ke tempat kerja Donghae? Kau belum pernah ke sana bukan?"

"Boleh."

Ooo

"Ayolah, Kyu. Kau hanya perlu duduk dan bernyanyi disana. Tidak perlu menari atau berakrobat. Hanya ber-nya-nyi."

Heechul masih mendesak dan pemuda 17 tahun itu masih ngotot menolak. Entah bagaimana, sudah hampir dua tahun dia bekerja di café ini belum sekalipun ada yang menyanyi untuk pelanggan. Lhah sekarang entah pelanggan sialan mana yang mendesak Heechul untuk menghiburnya dengan sebuah nyanyian.

Kyuhyun melirik sebal pada Ryewook yang hanya nyengir minta maaf. Karena sialnya si Ryewook yang biasanya suka bernyanyi di waktu-waktu santai mereka sedang dalam keadaan tidak fit. Radang tenggorokan ringan yang menyebabkan suaranya menggeram seperti seekor sapi.

"Cukup dengan keras kepalamu, Kyuhyun! Berani kau menolak akan kubuat kau minta ampun!" mungkin karena sebal dan takut kehilangan pelanggan tetapnya Heechul habis kesabaran. Bukan lagi permohonan tapi ancaman yang terlontar dari mulutnya. Dia sudah bersiap menggulung lengan baju dan menatap garang kepada karyawan mudanya. Nafas Heechul memberat, mulutnya mengatup rapat. Suara seperti geraman bercampur dengan dengusan membuat Kyuhyun merinding.

"Sabar, hyung Kyuhyun akan bernyanyi! Dia akan bernyanyi!" Donghae memegangi Heechul yang merengsek maju. Ryeewook menghalangi di depan Kyuhyun.

"Lakukan saja, Kyu atau kau mau diapa-apakan Heechul hyung? Hanya beryanyi. Puaskan si bos dan pelanggan. Ayolah. Ini juga pekerjaan." desak Eunhyuk yang juga tidak nyaman dengan keadaan ini.

"Mwo? Tapi aku dibayar untuk jadi waiterss bukan bernyanyi!" tolak Kyuhyun masih keras kepala. Meski takut dia masih saja keras kepala.

"Kurang ajar!" seru Heechul. "Baiklah!" cetus Heechul menyentakkan lengannya hingga lepas dari Donghae. Setelah lepas dia merapikan bajunya. Dengan pandangan tajam dia menatap Kyuhyun di belakang Ryewook yang masih berjaga-jaga. "Heh magnae kau benar-benar licik! Akan ada bayaran sendiri jika pelanggan puas dengan nyanyianmu. Tapi awas saja," dan Heechul menunjukkan kepalan tangan lengkap dengan wajah beringas, yang sebenarnya membuat Kyuhyun ingin tertawa.

"Cepat bersiap!" perintah Heechul masih merasa kesal.

"Sip!" balas Kyuhyun yang segera melenggang keluar.

Heechul menghela nafas. "Si Evil itu benar-benar. Aku tidak bisa bayangkan kalau aku benar-benar memukulnya."

"Kami juga tidak bisa bayangkan, bos." sahut Eunhyuk diangguki yang lain.

Heechul berkacak pinggang. Kembali lagi wajah berangnya. "Cepat kembali bekerja!"

Dengan satu teriakan ketiga pegawainya berlari keluar dari ruang loker sekaligus ruang karyawan. Heechul menggeleng tidak habis pikir. Semua waiterssnya ada dalam satu ruang dan tidak ada satupun yang berjaga didepan? Bagaimana kalau pelanggan datang dan tidak ada satupun yang melayani mereka? Lalu pelanggannya pergi dan dia kehilangan bakal uangnya? Bisa rugi dia. Dan demi apapun Heechul tidak mau merugi.

Heechul ikut melenggang keluar dan kembali di belakang meja kasir. Dia mengedar pandang pada para pelanggan dan berhenti tersenyum pada seorang pelanggan wanita yang meminta sebuah lagu. Si pelanggan balas tersenyum dan kembali terfokus pada Kyuhyun yang duduk di bagian kosong, panggung dadakan.

Kyuhyun tentu saja gugup. Dia pernah bernyanyi, tapi dulu saat di elemantary school didepan teman sekelasnya. Sekarang dia pasrah saja. Toh jika pelanggan tidak puas bosnya juga yang akan malu. Sedangkan dia hanya dipaksa bosnya untuk bernyanyi.

Suara alunan musik terdengar. Kyuhyun bersiap memantapkan hati dan mentalnya menunggu detik dimana dia harus bernyanyi. Semua pelanggan memnadangnya menunggu dengan penasaran.

Jibeh oh neun kileun ddae ron neo moo kireo

Na neun deo ook deo ji chi kot hae

Heechul yang sedang mengelap gelas berhenti seketika. Dia bengong begitu suara Kyuhyun terdengar.

Moon eul yeol ja ma ja cham ee deul reot ta ga

Ggae myon ah moo doh eop seo

Donghae dan Eunhyuk tidak sadar berangkulan. Ryewook tersenyum sendiri sambil memeluk nampan kosong.

Jop eun yok joh sok geh mom eul nwi seul ddae

Jak geun tal paeng ee han ma ri ga

Nae geh roh ta ga wa jak geun mok soh ri roh

Sok sak yeo chweot seo

Yang di dapur untuk sejenak terdiam saling pandang kemudian tersenyum. Mereka melanjutkan memasak dengan semangat lebih dari sebelumnya. Bahkan shindong sesekali menggelengkan kepala dan mendecah kagum.

Eon jehn ga meon heut nal reh

Cheo neol go geo chil eun se sang ggeut

Ba da roh kal keo ra go

Ah moo doh mot bwat ji man

Ki yo sok geut din ga deul ri neun pa doh soh ri dda ra seo

Na neun yong weon hi kal rae

Moh doo eo din ka roh cha reul tal ri neun kil

Na neun moh toong ee ka geh eh seo

Tam bae han kae bi wa nok neun ah ee seu keu

Rim deul go kil roh na seot seo

Hae neun nop ee deo seo na reul jji reu neun deh

Jak geun tal paeng ee han ma ri ga

Eo neu sae ta ga wa nae geh in sa ha go

Noh rael heung eol keo ryeot seo

Eon jehn ga meon heut nal reh

Cheo neol go geo chil eun se sang ggeut

Ba da roh kal keo ra go

Ah moo doh mot bwat ji man

Ki yok sok geot din ga deul ri neun pa doh soh ri dda ra seo

Na neun yong weon hi kal rae

Nae moh deun keol ba chyeot ji man

Ee jehn moh doo poo reun yeon gi cheo reom

San san ee heut teo ji go

Nae geh nam ah it neun chak geun himeul ta hae

Ma ji magk goom sok geh seo

Moh doo it ggeh, moh doo it ggeh

Hae jool ba da reul keon neol keo ya

Eon jehn ga meon heut nal reh

Cheo neol go geo chil eun se sang ggeut

Ba da roh kal keo ra go

Ah moo doh mot bwat ji man

Ki yok sok geot din ga deul ri neun pa doh soh ri dda ra seo

Na neun yong weon hi kal rae

Sebuah tepukan membuyarkan mereka semua yang terpaku akan nyanyian Kyuhyun. Semuanya betepuk tangan begitu pula dengan rekan pegawainya. Kyuhyun tersenyum malu. Dia berdiri dan segera berlalu dari hadapan pelanggan.

Heechul menyusulnya ke dalam ruang loker. Sebuah pelukan dan tepukan banggamelayang di punggungnya. "Itu… luar biasa! Amazing, Kyuhyun! Kupikir hanya Ryewook yang bersuara merdu. Tidak kusangka." Heechul menggeleng takjub. "Euhm aku jadi berfikir untuk,"

"A! Tidak tidak tidak. Aku tidak akan bernyanyi. Hanya untuk kali ini saja bos." potong Kyuhyun cepat. Dia tahu kemana arah pikiran Heechul. Heechul berdecih. Tapi dalam hati dia tidak akan menolak jika ada pelanggannya yang menginginkan ada nyanyian, lagi.

Sedangkan di depan Donghae kedatangan tamu. "Siwon hyung, Kibumie!" sapa Donghae baru menyadari dua orang yang berdiri tak jauh dari pintu café. Tidak ada yang menyadari kedatangan mereka karena semua orang fokus pada Kyuhyun.

Donghae menghampiri kedua saudaranya. "Kapan kaliyan datang? Eoh Kibumie tumben sekali kau datang ke sini?"

"Aku yang mengajak sekalian menjemputnya tadi. Donghae-ah aku baru tahu café ini menyediakan hiburan juga?"

Donghae tertawa. "Tidak, hyung tadi hanya permintaan pelanggan. Lihat kan peralatannya juga sederhana." tunjuk Donghae pada kursi tinggi yang tadi diduduki Kyuhyun.

Siwon nampak manggut-manggut mengerti. "Tapi suaranya seperti profesional"

"Setuju hyung. Semua pelanggan terpesona dengan suaranya. Hebat."

"Dia bekerja disini?"

Keduanya menoleh pada satu orang yang sejak tadi diam. Kibum.

"Ya. Kyuhyun teman sekerjaku. Ah!" donghae menjentikkan jarinya. "Aku selalu penasaran, seragam sekolah Kyuhyun sama dengan seragammu? Kau mengenalnya juga?"

Kibum menggeleng. Dia memang tidak mengenalnya. Ini saja baru kedua kalinya dalam sehari dia melihat wajah si Kyuhyun itu. Sepulang sekolah di halte tadi dan di café ini.

"Kalau kau tidak mengenalnya itu wajar Kibumie. Aku bahkan sanksi ada yang kau kenal di sekolah." perkataan Donghae menghasilkan sikutan yang lumayan keras dari Siwon. Tapi seperti yang mereka tahu Donghae tidak pernah memiliki maksud buruk terlebih kepada saudaranya sendiri. Dia hanya bicara tidak lebih dari itu.

"Duduklah." Donghae mengalihkan pembicaraan. Memita mereka memilih duduk dan memesan. "Nanti kukenalkan Kyuhyun padamu Kibum. Semoga kalian bisa akrab." kata Donghae sebelum meninggalkan mereka. Tidak lebih 15 menit Donghae kembali lagi bersama Kyuhyun dan pesanan Siwon dan Kibum.

Kyuhyun terkejut melihat Kibum. Lebih terkejut lagi ternyata dua orang yang duduk itu adalah saudara Donghae. Lagi-lagi Kyuhyun dilanda iri. Seorang tampan lain yang ternyata ketiganya bersaudara. Oh pantas saja. Ketampanan dan karisma yang sama meski memiliki aura yang berbeda. Tuhan memang adil.

000

Henry memasuki kamarnya dengan lesu. Menjatuhkan asal tas punggungnya dilantai kemudian menghempaskan diri sendiri di tempat tidur. Kedua matanya memandang kosong ke langit-langit kamar. Hari ini dia mengacuhkan Kyuhyun. Seperti biasa dia lakukan.

'Akhirnya hyung memutuskan keluar dari rumah. Baguslah. Terima kasih. Aku yakin hubungan appa dan oemma akan membaik. Dan Kyu hyung pasti akan lebih baik berada jauh dari kami.' Henry berbicara hari itu. Malam menjelang kepindahan Kyuhyun. Dia menyempatkan diri menemui Kyuhyun di dalam kamar sang hyung. Bagaimanapun Henry harus berterima kasih karena Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk pergi. Namun kalimat yang keluar adalah kalimat kelegaan. Bersyukur karena Kyuhyun akan pergi. Itu menyakiti hati Kyuhyun. Henry tahu tapi tidak peduli.

Kyuhyun tersenyum kecil. 'Syukurlah. Aku harap seperti itu.' sebisa mungkin dia tidak menunjukkan luka dalam hatinya. Karena Henry adiknya dan dia ingin Henry tumbuh di dalam keluarga yang hangat. Jika untuk mewujudkan hal tersebut harus dengan dia pergi dari kehidupan mereka dia akan melakukannya.

Keduanya menoleh pada pintu yang dibuka dari luar. Oemma tersenyum kaku pada keduanya. 'Henry-ah sudah malam. Biarkan Kyu hyung istirahat.' ucapnya datar.

Henry mengedikkan bahu kemudian pergi. Dia masih bisa mendengar sang oemma menghela nafas. Yang dia yakini itu ditujukan kepadanya. Henry hanya acuh berjalan lurus menuju kamarnya sendiri.

Tidak berapa lama kemudian pintu kamarnya terbuka dan muncullah oemmanya. Matanya sedikit sembab. Dia tahu Hera menyayangi Kyuhyun, dan itu pasti sulit melepas hyungnya pergi.

'Keterlaluan kamu, Henry-ah! Teganya kamu berkata seperti itu pada hyungmu!'

Henry berkernyit sedikit tidak paham. Namun kemudian dia sadar kenapa oemmanya bisa tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu, bukan kebiasaan oemmanya yang akan selalu mengetuk kamar putra-putranya agar diijinkan masuk. Dan ini kedua kalinya sang oemma tidak mengetuk pintu, pertama tadi saat di kamar hyungnya dan sekarang di kamarnya? Sesuatu pasti terjadi. Apalagi melihat raut wajah sang oemma yang tegang. Oemmanya pasti mendengar apa yang dia katakan pada Kyuhyun.

'Bagaimana bisa kamu berterima kasih atas keputusan hyungmu? Kyuhyun hyung mu akan pergi. Hidup di luar rumah ini. Jauh dari pandangan kita, hidup terpisah dari kita. Dan kau tidak bersedih hati?!'

'Apa yang harus kutangisi? Kyu hyung pergi adalah kunci appa dan oemma agar tidak bertengkar setiap hari. Karenanya aku memberi pengertian pada hyung dan menyarankannya agar keluar dari rumah. Hidup di luar akan lebih baik untuknya. Lagi pula appa membencinya. Hidup disini hanya akan mengacaukan ketentraman rumah ini.'

'Henry-ah!' tegur oemma dengan tidak percaya.

'Itu kenyataannya, oemma! Ada hyung di rumah ini keadaan rumah jadi tidak nyaman. Oemma dan appa selalu bertengkar. Aku tidak suka keadaan seperti itu. Apa salahnya dia mengalah dan pergi? Aku melakukan hal benar menurutku.' Henry bersungut.

Dan satu tamparan Henry dapat dari oemma kandungnya. Henry menatap oemmanya tidak percaya. Dia tidak mengerti kenapa oemmanya sangat marah hanya karena hyungnya memutuskan untuk hidup di luar.

'Kau pikir karena siapa kau masih bisa bernafas dan hidup seperti sekarang?!' teriak oemma kalap. Dia mengusap air matanya dengan kasar namun cairan bening itu terus mengalir. 'Benar kau sembuh karena appamu. Appa yang mengusahakan uang untuk operasimu. Usaha appamu menjual ginjal hyungmu! Usaha appamu menyeret hyungmu yang ketakutan! Tapi bukan kata manis yang didapatkannya MELAINKAN SEBUAH TAMPARAN!'

Henry yang syok tersentak oleh genggaman kuat di kedua lengannya. 'sang oemma menatapnya dengan tatapan kecewa dan terluka. Dan apa yang kau lakukan sekarang? Kenapa kamu berubah seperti ini, chagi? Dulu kau sangat membanggakan hyungmu. Dulu kau begitu manis dan selalu mencari hyungmu. Kenapa Henry-ah? Begitu lelahkah kau dengan keadaan rumah ini? Maafkan oemma chagi, tapi jangan melimpahkan kesalahan kepada hyungmu. Dia sudah cukup menderita. Siapa lagi kalau bukan kita yang menyayanginya?'

Kenangan itu sering kembali diingatan Henry. Panas tamparan tangan oemmanya masih bisa dia ingat jelas. Namun yang membuatnya sangat terpukul adalah kenyataan bahwa appanya menjual ginjal hyungnya untuk menyelamatkannya. Dia bisa membayangkan bagaimana takutnya sang hyung yang baru berusia 8 tahun. Dan bagaimana appanya yang memang dia tahu tidak pernah menyukai sang hyung, menyeret hyungnya untuk dimasukkan ke ruang operasi.

Menyesal. Dia sangat menyesal. Setiap kali melihat sosok hyungnya dia merasa sangat malu. Itulah sebabnya dia selalu menghindari Kyuhyun. Kata maaf saja tidak bisa menebus perlakuannya. Kyuhyun baik, dia tahu itu. Appa lebih menyayangi Henry yang hanya anak tirinya dibanding Kyuhyun yang anak kandungnya. Tapi Henry tidak pernah tahu apa alasannya.

Padahal dulu dia sangat menyayangi hyungnya. Selalu menyeretnya untuk menemaninya. Dia tidak bisa jika tidak menempel pada hyungnya. Entah bagaimana hari itu dia merasa sangat muak dan lelah dengan keadaan rumah dan bisa berbicara seperti itu kepada hyungnya. Yang berujung keluarnya Kyuhyun dari rumah.

'Hyung pergilah! Ada kau, rumah jadi tidak nyaman! Mereka terus bertengkar hanya karena mendebatkanmu! Appa selalu marah-marah dan kami semua merasa tidak nyaman! Kumohon pergilah!'

Itu kalimatnya untuk mendesak Kyuhyun pergi.

"Mianhe, jeongmal mianhe, hyungie." Henry menutupi wajahnya saat air matanya mengalir. Sesak memenuhi dadanya. Dia tahu dia menyesal tapi tidak berlaku baik untuk menebus kesalahan. Dia tidak pernah mengucap maaf pada Kyuhyun. Tidak pernah mengajaknya untuk kembali pulang. Tidak pernah membalas sapaan hyungnya. Tidak pernah balas menatap saat Kyuhyun jelas-jelas memandangnya. Perasaan malu membuatnya tidak sanggup berdekatan dengan Kyuhyun. Alhasil hubungannya dengan sang hyung semakin jauh.

TBC

Maaf, menunggu lama. Setiap mau update masih kendala sama diri sendiri.

Ini sudah akan bisa diterima sama readerdull apa gak?

Ini sudah memuaskan apa gak?

Ah, kalau update sekarang padahal belum sampai end, nanti ceritanya bakal berubah lagi, bakalan ribet ngrombaknya. Entar dulu. Tamatin dulu.

Eh, tapi mereka sudah nungguin. -.-

Dannn pada akhirnya aku update. -_- maaf. Kenapa? Karena aku suka ngerubah dan bolak balik alurnya untuk satu cerita. Jadi aku selalu gak puas jika update perchapter. Kadang, seringnya, pasti ada saja cahpter belakang bakal mempengaruhi chapter depannya. Jadi setiap ada Chapter baru pasti ada perubahan yang harus di chapter depan.

Ada yang ngerti gak aku ngomong apa diatas? Aku sendiri bingung sumpah.

Tapi semoga untuk chapter ini sudah fix dan gak ada perubahan lagi.

Maaf untuk telatnya. Dua minggu, ya?

Habis mood oleh diri sendiri. huhuhu.

Oh, ya.

Untuk seorang reader di LBB, bernama Khacho, *semoga orangnya ada nongol disini, please jangan stuk di LBB, sudah kehabisan tissue disana kan? -_- saya ingin sekali membalas review kamu. Tapi kamunya gak log in. jadi bingung balesny gimana. Hiks.

LBB dibaca berulang kali. Saya gembira! Terima kasih banyak, Khacho!

Untuk pertanyaan kenapa judul ffnya LBB, karena karena…

Saya sulit ngejelasinnya. Kalau dibilang saya terinspirasi sama soundtreknya naruto, yup soundtreknya menginspirasi. Saya juga sangat suka animenya. Apalagi jiwa persahabatannya naruto dan kegelapan hatinya sasuke. Keren. *kok melenceng, sih. gegara pengen banget nulis di fandom itu. Tapi pa nasib lah.

Itu karena, serius, waktu pertama niat nulis LBB adalah yang kebayang banget adalah ada burung kecil yang belajar terbang. 'berusaha' 'perjalanan' 'proses' …..dan bebas mengudara.

Apa bedanya sih sama manusia? Cuma manusia itu komplek di perasaan. Terlihat ringan di lihat, tapi begitu dijalani, uh banyak banget yang menumpuk di hati.

*aku yakin pada bingung. Saya juga. Nasib orang yang gak bisa menjabarkan apa yang ingin disampaikan. Hiks.

Kyuhyun itu sempurna. Tapi, hatinya tidak. Dia kecilnya naif, hanya ingin bebas bermain, belum ngerti tanggung jawab.

Remajanya, dilimpah kasih sayang.

Masih remajanya, baru sadar keluarga kandung tetep keluarga kandung.

Pemuda dewasanya *ini bener gak?. Dia belajar bertanggung jawab.

Dalam proses itu, aku selalu berfikir burung itu pasti akan terbang suatu saat nanti.

Yeah meski pada akhirnya tragis, pembacanya bilang gitu. Kalau menurutku dia sudah sampai di langit biru yang dia tuju. Yang dia harapkan, yang dia inginkan, yang dia impikan, sudah tercapai *meski ternyata di apusi soal Kibum *tidak ada yang sempurna, kebahagiaan juga bukan pengecualian.

Ampuni saya yang banyak cuap-cuap. Jangan dibaca jika ini mengganggu. Cukup storynya saja sampe TBC makanya ini ditaruh paling bawah.

Terima kasih yang sudah mampir. Untuk Khacho, semoga jawaban saya memuaskan penasaran anda? Kalau tidak tolong dipuas-puasin ajah hehehe.

Saya gak pandai buat judul, biasanya malah terkesan maksa. Apa yang terlintas ya itu yang aku comot judul.

Sudah-sudah semakin panjang. Yang terakhir yang bilang saya update asap, untuk yang ini saya tidak janji, sekalipun sudah empat chapter yang sudah saya tulis. Saya selalu kurang puas dengan hasilku. Jadi saya akan simpan itu sampai saya ditagih-tagih *wah saya jadi songong wkwkwk kagak kagak santai saja. Saya akan berusaha agar saya bisa memaksa diri saya untuk tetap melanjutkan ini hingga selesai.

Oh satu lagi, saya hampir lupa. Tadinya LML ini mau saya buat jadi satu cerita campur aduk dari Kyu masa kecil dan Kyu masa remajanya. Tapi berhubung itu akan menjadi multichap yang sangat panjang, saya batalkan. Kyu masa kecil saya simpan dulu, pending, hingga Kyu masa remaja ini kelar di End.

Sudah selesai.

Sekali lagi saya mohon maaf, jika setelah baca chapter ini kurang puas. Bilang saja nanti bisa saya delete dan gak diupdate lagi. See you.

(Monday, 08 February 2016)

(Monday, 08 August 2016)

11:19 PM