Kyuhyun mengusap pergelangan tangannya. Tepatnya pada bekas luka sayat di kedua pergelangan itu. Luka yang ditorehkan oleh sang eomma kandung. Sebagai usaha penebusan dosa. Dia selamat, keberuntungan atau justru malapetaka.
Jujur Kyuhyun tidak bisa merasa bersyukur karena selamat jadi kejadian tragis itu. Bagaimana bersyukur jika begitu sadar bukan pelukan yang ia dapat. Jangankan wajah cemas sang appa yang dia lihat, melainkan kemurkaan yang tak berujung hingga sekarang. Dulu dia tidak mengerti perubahan sikap appanya yang begitu drastis. Dari seorang penyayang menjadi sosok yang menakutkan.
Pembawa sial. Appanya menyebut dirinya seperti itu. Dulu dia begitu memahaminya. Semakin dia dewasa semakin dia mengerti semua kebencian dan dendam sang appa. Dan dia mulai belajar menerima. Menerima semua perlakuan sebagai bentuk penebusan dosa yang dikatakan eommanya. Eomma yang tidak selamat dari insiden bunuh diri, menyisakan Kyuhyun dengan luka yang tidak kunjung sembuh. Menyedihkan tapi ini yang harus dia terima. Sekali lagi sebagai penebusan dosa.
Kyuhyun berjengit merasakan dingin yang menyentuh pipinya. Dia menoleh cepat, melayangkan tatapan protes pada sosok sahabat yang menjulang tinggi di sampingnya.
Changmin terkekeh kemudian mendaratkan tubuhnya disamping Kyuhyun. Kali ini menyodorkan minuman kaleng dingin dengan lebih sopan. Kyuhyun menerimanya masih sedikit kesal.
"Apa yang kau lamunkan?" tanya Changmin setelah mereka sama-sama meneguk minuman masing-masing. Dihadapan mereka adalah hamparan lapangan hijau tempat anak-anak klub sepak bola berlatih. Dan Changmin termasuk dalam anggotanya. Dia sedang berlatih saat melihat Kyuhyun di luar lapangan duduk melamun. Dia meminta pelatih untuk break sejenak, dan mengambil kesempatan itu untuk mendekati sahabatnya. Ini hari Jum'at, Kyuhyun selalu mengambil cuti kerja di hari ini. Sudah dipastikan Kyuhyun berada di luar lapangan sepak bola menonton Changmin berlatih.
Kyuhun menggeleng kecil menanggapi pertanyaan Changmin. Kembali meneguk minumannya. Kemudian menerawang ke depan. Anggota yang lain sudah kembali masuk lapangan. "Kau sudah harus kembali berlatih." katanya mengingatkan.
Terdengar desahan Changmin. Sejujurnya dia belum puas, apalagi tidak mendapatkan apa-apa dari Kyuhyun. Padahal dia sengaja meminta waktu istirahat untuk mendekati sahabatnya yang melamun. Mencoba memberi perhatian namun hanya ini yang dia dapat. Kyuhyun terbiasa menutupi perasaannnya meski itu kepada Changmin sekalipun. Changmin tidak suka satu sifat Kyuhyun yang menurutnya tidak baik untuk dilakukan. Namun seperti yang dia tahu Kyuhyun keras kepala.
"Baiklah. Tunggu aku sampai selesai. Kuantar kau pulang nanti." Changmin meletakkan minumannya dan bersiap untuk kembali ke lapangan. Kyuhyun mengangguk sebagai jawaban.
Sepeninggal Changmin Kyuhyun memutar kaleng minum ditangannya. Pikirannya kembali menerawang. Hal itu tidak luput dari perhatian Changmin yang sesekali memperhatikannya dari tengah lapangan. Diam-diam Changmin mendesah. Dia selalu khawatir berlebihan, khususnya di hari seperti ini sekali tiap tahun. Kyuhyun selalu berbeda. Sangat suram dan sulit fokus.
Begitu mendapat aba-aba dari pelatih bahwa latihan selesai, Changmin bergegas berlari ke tempat Kyuhyun. Meyentak bahu Kyuhyun sedikit keras. Hal itu membuat Kyuhyun terkejut.
"Tunggu aku sebentar. Aku hanya akan mengambil tas di loker." kata Changmin yang tidak bisa menyembunyikan cemas di wajahnya.
Kyuhyun mengangguk tersenyum kecil.
"Jangan melamun!" seru Changmin memperingatinya sebelum berlalu dengan cepat.
Senyum Kyuhyun memudar. Baru dia sadari kaleng yang dia mainkan sudah tidak ada ditangannya melainkan terlantar di bawah kakinya dengan isinya meluber keluar. Pantas Changmin nampak cemas tadi. Kyuhyun mendesah panjang. Ini di luar kendalinya. Bahkan getaran kecil di kedua tangannya membuatnya cemas akan diri sendiri. Dia lagi-lagi seperti ini. Hari, tanggal dan bulan ini. Setiap tahun akan selalu menjadi pengingatnya akan kejadian buruk di masa lalu. Beruntung hari ini tidak hujan atau bisa dipastikan Kyuhyun tidak akan keluar dari flatnya sejengkalpun.
0000
Changmin memaksa pulang namun tetap kalah oleh keinginan Kyuhyun. Jadi disinilah mereka berada sekarang. Pemakaman.
Changmin melirik Kyuhyun yang hanya berdiri mematung sambil melihat nisan sang eomma. Sudah 25 menit seperti itu tanpa seucap katapun. Changmin maklum pun tidak protes. Tapi tetap saja dia selalu tidak suka pemandangan ini. Sudah ada disini seharusnya Kyuhyun mengucapkan sesuatu.
"Kyu," dan Changmin hanya bisa menelan ludah saat melihat itu. Mata yang kosong dan datar. Changmin menghela nafas pelan dan diam-diam berbalik. Memilih membiarkan Kyuhyun sampai sahabatnya puas berdiri disana memandang nisan sang ibu kandung tanpa tahu apa yang dipikirkan sahabatnya.
Changmin mengibas udara kosong. Mengusap rambutnya dengan kesal. Kesal karena tidak pernah bisa menyelami pikiran Kyuhyun. Kesal karena merasa tidak berguna untuk sahabatnya. Dan kesal karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyeret pergi sahabatnya yang tampak menyedihkan di hadapan pusara sang eomma. Demi apapun Changmin hanya ingin mengurangi beban Kyuhyun. Ingin membuatnya tersenyum di hari ini dan ingin membuatnya melupakan apa yang pernah terjadi. Apapun itu di masa lalu. Sayangnya kekuatannya sendiri seolah terbang dan terhempas jauh begitu melihat raut menyedihkan itu di wajah sahabatnya. Dia ikut merasa tidak berdaya.
Changmin menoleh mendapati Kyuhyun telah kembali.
"Ayo pulang."
"Aku akan menginap." tidak memberi kesempatan pada Kyuhyun menjawab Changmin memutus kontak mata mereka, dengan segera mengambil helmnya dan menaiki motor sport merahnya. "Aku tidak bisa meninggalkanmu yang seperti ini. Naiklah. Kita akan tidur berdesakan dalam satu ranjang malam ini."
Kyuhyun terkekeh pelan. Dia naik di belakang Changmin dan segera mengeratkan tangannya di perut sang sahabat. Menenggelamkan wajah tanpa helm pada jaket hitam yang dikenakan Changmin. "Gomawo, Changmin-ah."
Changmin mengangguk. Tersenyum miris merasakan eratnya pelukan Kyuhyun. "Gweanchana. Lakukan sepuasmu. Aku akan berhenti begitu kau selesai." Changmin tidak mendapati jawaban tapi dia bisa merasakan anggukan di punggungnya.
Changmin menyalakan motornya, pergi dari area pemakaman. Bersamaan dengan itu Changmin yakin Kyuhyun sedang menangis di balik punggungnya. Dia tahu pasti. Dan dia tidak akan menghentikan laju motornya sampai Kyuhyun bilang berhenti. Meskipun itu harus berputar-putar tidak jelas dan mendapati tatapan aneh di sepanjang jalan yang dia lalui lantaran posisi Kyuhyun yang memeluknya erat seperti sepasang kekasih. Peduli setan dengan mereka. Yang terpenting baginya adalah memberi kenyaman Kyuhyun untuk menangis sepuasnya tanpa ada orang yang menyadari.
0ooooo
Kyuhyun tidak begitu ingat apa yang terjadi kemarin. Yang dia tahu dia menangis sesenggukan di punggung sahabatnya dan sekarang dia bangun di pelukan Changmin di kasur sempit di flatnya. Dan satu lagi seragam sekolah yang kemarin dikenakannya sudah berganti dengan kaos oblong putih dan celana kain selutut. Dia tidak ingat dia berganti pakaian. Kemudian matanya melihat pada Changmin yang masih terpejam nyenyak. Tahulah sekarang siapa orang yang sudah dia repotkan. Wajahnya merona merah lantaran kesal dan malu. Kesal karena terus-terusan merepotkan Changmin dan malu karena lagi-lagi Changmin mengurusnya.
Kyuhyun memutar kepalanya demi melihat jam berapa sekarang. Matanya melebar melihat jam dinding. Dengan tidak elit dia melepas pelukan Changmin dan mendorong bocah tiang itu hingga jatuh dari ranjang yang tidak begitu tinggi tapi tetap saja yang namanya jatuh pasti sakit. Changmin mengaduh cukup keras. Kyuhyun berdecak masa bodoh. Dia melompat dari ranjang dan sesegera mungkin menyambar handuk di gantungan dekat kamar mandi. Namun dia berhenti tatkala tidak mendapati Changmin bergerak.
Dongkol Kyuhyun mendekat dimana Changmin kembali tidur. "Astaga Shim Chwang! Cepat bangun! Ini sudah setengah tujuh! Dan demi Tuhan aku akan mengulitimu jika sampai aku kena hukum karena terlambat!" tidak sampai disitu Kyuhyun juga menendang pantat Changmin cukup keras. Cukup untuk membuka mata Changmin.
Kyuhyun memutuskan meninggalkan Changmin yang masih mencoba mengumpulkan kesadarannya sambil sesekali mengusap pantatnya yang berdenyut. Kyuhyun lebih baik mandi dan bergegas. Sebelum Changmin sadar dan heboh sendiri.
Benar saja baru saja Kyuhyun menanggalkan pakaiannya didalam kamar mandi, Changmin yang kesadarannya telah terkumpul berteriak heboh. Sekali sentakan dia bangun dan berlari, berhenti di depan pintu kamar mandi. "Yak Kyuhyun cepat mandinya! Eh jangan! Jangan mandi, cukup cuci muka dan gosok gigi! Astaga kenapa kau tidak membangunkanku?! Ayolah Kyuhyun, bergegaslah! Kita terlambat!" teriak Changmin heboh menggedor pintu. Kyuhyun yang juga ikut cemas karena dikejar waktu ditambah dengan teriakan Changmin jadi sebal sendiri. Dia balas berteriak. Meneriaki Changmin untuk diam agar dia bisa mandi dengan hati tenang. Tapi apalah daya Changmin sudah kalap tidak bisa diam. Alhasil keduanya saling meneriaki dari dalam kamar mandi dan di luar kamar mandi.
0000
Beruntung. Dengan acara mandi kilat, mengenakan seragam sembarangan dan berkendara ugal-ugalan akhirnya mereka sampai di sekolah tepat saat satpam sekolah hampir mengunci gerbang. Tetap saja sudah terhitung telat. Beruntungnya mereka hanya terkena ceramahan cukup panjang dari Han Songsaenim kemudian di suruh segera masuk ke kelas masing-masing.
Keduanya mendesah panjang di koridor menuju kelas dua di lantai dua. Changmin membenahi seragamnya yang dia pakai asal-asalan, begitu juga Kyuhyun. Hanya saja Kyuhyun tidak seberantakan Changmin yang bahkan tidak mengancingkan seragamnya dengan benar. Dia hanya kurang menyimpulkan dasinya.
"Kita teledor." ucap Changmin memasukkan ujung bajunya ke balik celana.
Kyuhyun terkekeh kecil. "Aku tidak akan mengijinkanmu menginap lagi."
Changmin menatapnya sengit. "Memang kau bisa melarangku? Ingat kau tidak bisa sendiri tuan Kim."
Mata Kyuhyun menyendu. Changmin langsung menyesali apa yang dia katakan. "Mianhe, bukan maksud,"
Kyuhyun menepuk bahu Changmin seraya tersenyum menenangkan. "Kau benar. Aku tidak bisa sendiri. Gomawo."
Changmin berdecih. Bosan mendengar ucapan terima kasih yang akhir-akhir ini sering dia dengar dari mulut Kyuhyun. "Berhenti berterima kasih. Atau aku akan berhenti jadi temanmu."
Kembali Kyuhyun tertawa. Kali ini lebih riang. "Aku tahu kau tidak akan melakukan itu, Shim Changmin. Kau sahabat terbaikku." Kyuhyun merangkul bahu Changmin erat membuat Changmin tersenyum senang mendengar pujian Kyuhyun.
"Kyuhyun-ah?"
Keduanya berhenti mendengar sapaan seseorang. Keduanya berbalik. "Eoh, Kibum hyung?" sapa Kyuhyun balik pada orang yang tadi memanggilnya.
Kibum berjalan lebih dekat. Di tangannya ada sebuah map hijau yang dia gulung. "Terlambat?" tanya Kibum dengan ekspresi datar.
Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yeah. Hehehe." jawab Kyuhyun canggung. "Kibum hyung sedang apa?"
Kibum mengangkat mapnya. "Sedikit urusan dengan Kepala Sekolah."
Kyuhyun manggut-manggut.
"Temanmu?"
Changmin yang merasa ditunjuk segera menegakkan punggung dan memberi salam pada Kibum seraya memperkenalkan diri. "Shim Changmin imnida, sunbaenim."
"Heum. Choi Kibum. Panggil saja Kibum hyung, seperti Kyuhyunie memanggilku." kemudian atensi Kibum kembali pada Kyuhyun yang asyik melihat mereka berkenalan tanpa dia kenalkan. "Kyuhyun-ah, kau kerja hari ini?"
"Eoh? Iya, hyung."
"Baiklah kita bertemu di café nanti. Kalian lekaslah masuk kelas, jam pertama akan segera mulai."
Kyuhyun mengangguk dan berpamitan pergi dengan menarik Changmin yang diam. Menatap takjub pada Kibum. Setelah jauh Kyuhyun menegur Changmin.
"Kau kenapa?"
"Apanya?"
"Kau menatap Kibum hyung seperti itu."
"Bagaimana kau bisa kenal Kibum sunbae?" Changmin balik bertanya.
Kyuhyun mengernyit heran. "Kami pernah berdiri di halte yang sama, bersin berbarengan, kemudian dia memberiku tissue. Lalu kami bertemu di café. Ternyata dia adik dari Donghae hyung. Kau tahu Donghae hyung, kan?"
Changmin mengangguk. "Dia dan Donghae hyung saudara? Mustahil!" decak Changmin tidak percaya. "Mereka sangat berbeda." Changmin ingat yang namanya Donghae hyung adalah mahasiswa yang bertingkah kekanakan dan berisik. Berbeda sekali dengan Kibum yang kalem dingin.
Kyuhyun mengiyakan. Dia tahu maksud Changmin.
"Tapi sulit dipercaya dia menyapamu, Kyunie. Kau tahu? Hampir tiga tahun sekolah disini Kibum sunbae tidak sekalipun pernah berinteraksi dengan murid lain kecuali dalam hal tertentu. Kecuali satu orang. Itupun karena orang tua mereka berteman kudengar. Dan apa yang tadi kulihat? Dia menyapamu? Bahkan memanggilmu seolah kalian sudah sangat akrab? Kyuhyun-ah? Kyuhyunie? Kau macam adiknya saja." tidak cukup keheranan Changmin rasanya. "Kalian bahkan berjanji bertemu di café? Dan sejak kapan kau nyaman dengan orang yang baru beberapa kali kau temui?"
Kyuhyun berkedik bahu tidak peduli. "Sudahlah. Ingat, kita sudah sangat terlambat Chwang. Dan kau masih memikirkan hal tidak penting? Ah!" Kyuhyun mengibaskan tangan dan memutuskan untuk berlari agar cepat sampai di kelasnya. Changmin untuk sejenak bengong kemudian tersadar oleh suara bel pelajaran pertama dimulai. Diapun berlari menyusul Kyuhyun. Meskipun berbeda kelas tapi kelas mereka bersebelahan. Kyuhyun di A dan Changmin di B. kyuhyun menghilang masuk ke kelasnya begitu juga Changmin yang segera masuk kelasnya sendiri.
0000000
Kibum benar-benar datang. Eunhyuk sahabat Donghae heran apalagi Donghae, jauh lebih heran. Adiknya itu dinginnya minta ampun ngalahin es di kutub-kutub. Jangankan nyapa orang yang tidak di kenal, nyapa saudara sendiri saja sekedar heum. Lhah kenapa ini sama Kyuhyun dia bela-belain nyamperin ke café? Kenal juga baru meski satu sekolahan. Yang kenal dengan Kibum patut heran.
"Atau jangan-jangan dongsaengmu…." Eunhyuk menggantung kalimatnya. Dia melirik Donghae yang menunggu kelanjutan kalimatnya tanpa curiga. "Hombreng?"
"Hombreng apa?"
Eunhyuk menepuk jidatnya yang tidak bersalah. "Hombreng itu Homo, ikan! Nama kerennya itu!" "Apa?!" jerit Donghae mengagetkan Eunhyuk. Donghae melihat Kibum yang duduk di kejauhan sambil menikmati membaca buku. Kyuhyun sempat menemuinya tadi. Tapi karena ada kerjaan dia harus pergi, memang ini dalam jam kerja. Kibum sendirian namun tidak pergi. Dia duduk tenang sambil membaca buku.
"Hei, Hyuk jangan bicara sembarangan." Donghae takut juga jika adiknya beneran homo. Mau ditaruh dimana wajah Choi yang terhormat? "Appa bisa membunuhnya, sesayang apapun appa pada kami dia tetap akan membunuhnya." Donghae memelas.
"Karena itu kenapa tidak coba kau pastikan?"
Donghae menatap Eunhyuk. "Caranya?"
Eunhyuk berfikir. Matanya memandang Kibum tidak berkedip. Donghae yang melihat temannya nampak serius memandang Kibum ikut melakukan hal yang sama. Memandangi Kibum tidak berkedip. Mereka keasyikan hingga tidak menyadari Heechul di belakang keduanya berkacak pinggang dengan wajah berang. Sejak tadi dia perhatikan duo berisik ini hanya berdiri mengobrol. Nah, sekarang malah melakukan hal absurt seperti memandangi Kibum seperti orang bodoh. Ck ck ck. Heechul menggeleng tidak sabar. Dia mengangkat kedua tangannya setinggi kepala kemudian menjatuhkannya dengan keras, amat keras, ke pundak masing-masing karyawannya.
Donghae dan Eunhyuk berteriak kaget. Mengumpat panjang pendek sambil mengusap dada. Syok sekaligus murka. Ingin marah tapi tidak jadi karena wajah murka Heechul menyurutkan emosi mereka sampai ke menciut nyalinya. Keduanya cengengesan.
"Apa kalian, hah?!" Heechul melotot. Kedua karyawannya saling sikut. "Bukannya kerja malah asyik mengobrol! Memangnya apa yang kalian bicarakan? Sudah bosan kerja, ha?!"
Keduanya menggeleng buru-buru. Meski keduaya tidak akan kesulitan uang seandainya dipecat, tapi mereka merasa sayang jika harus meninggalkan tempat yang sudah dianggapnya rumah kedua.
"Bukan, bos." buru-buru Donghae menjawab. Beralih ke belakang Heechul dan memijit pundak bosnya. Merayu. "Kami suka disini. Mana mungkin bosan. Iya, kan Hyuk?"
Euhyuk mengangguk cepat-cepat. Ikut membujuk dengan memijat tangan Heechul. "Apa Heechul hyung tidak merasa aneh? Kibum datang lagi. Menemui Kyuhyun."
Heechul mengernyit. Matanya beralih memandang Kibum. "Apa anehnya?"
Donghae mendesah. Melupakan pijatannya dan beralih ke depan Heechul. "Seumur-umur dia tidak tertarik dengan orang lain. Seumur hidupnya hanya satu temannya, itupun entah dianggap teman atau kotoran."
Eunhyuk dan Heechul sontak meringis mendengar perkataan Donghae yang terakhir.
"Dan sekarang dia menyempatkan datang ke sini untuk bertemu Kyuhyun? Pikirkan bos, adikku yang super dingin itu ada kemungkinan tertarik dengan Kyuhyun? Eunhyuk bilang dia Homo!" Donghae tidak sadar mengeraskan suaranya hingga mengambil alih atensi para pengunjung. Heechul yang menyadari tatapan para pengunjung segera menenangkan Donghae.
"Rendahkan suaramu! Kau ingin pelangganku kabur?"
Donghae merengut tapi tetap meminta maaf. Dia hanya sedang kalut bin cemas sekarang. Adik tersayangnya meskipun tidak ada manis-manisnya dia tetap sayang, cemas akan nasibnya.
Heechul berdecak. "Sudah kau pastikan?"
Donghae menggeleng. Kali ini Heechul mendelik pada Eunhyuk. "Hyuk! Jangan sembarangan bicara! Hal seperti ini tidak boleh menuduh tanpa bukti!"
Eunhyuk hanya diam. Dia takut juga kalau bosnya marah. Heechul menghela nafas. Dia melenggang pergi disaksikan Donghae dan Eunhyuk. Dia berhenti di depan Kibum bicara sebentar kemudian duduk. Donghae dan Eunhyuk saling pandang kemudian melotot bersamaan. Pikiran mereka sama. Heechul akan langsung bertanya pada Kibum. Eunhyuk menjambak rambutnya frustasi. Heechul itu wajahnya saja yang cantik dan kalem. Tapi sikapnya seenaknya sendiri dan tidak sabaran. Bagaimana bisa dia menanyakan hal yang kemungkinan bisa menyinggung perasaan kepada orang yang bersangkutan langsung? Rasanya Donghae lebih suka berenang dengan ribuan ikan hiu daripada mendapat tatapan super sengit nan dingin dari dongsaengnya. Dan dia lebih memilih menguliti Eunhyuk penyebab dari pikiran buruknya itu.
Dan benar saja. Donghae langsung merinding di tempat mendapat tatapan mematikan dari adiknya. Tidak sadar dia menyambar tangan Eunhyuk dan mencengkramnya erat. Sampai Eunhyuk meringis dan memukul tangan Donghae meminta dilepaskan. "Ini karenamu Eunhyuk-ah! Monyet jelek, aku akan menendangmu ke hutan Amazon jika dongsaengku sampai membenciku."
Eunhyuk hanya bisa pasrah. Niatnya menggoda Donghae malah dia yang ujung-ujungnya apes. Donghae yang marah bisa lebih mengerikan dibanding Heechul. Berdo'a saja Kibum tidak begitu marah pada Donghae.
"Hyungie, kenapa kalian hanya bersantai disini? Kalian tidak lihat aku dan Wooki hyung sibuk dari tadi?!" Kyuhyun datang dengan kesal. Namun reaksi keduanya diluar perkiraan Kyuhyun. Keduanya langsung bergelayut di lengannya seperti parasit.
"Kyuhyunie, bujuk Kibum agar jangan marah, ne?"
"Kyuhyunie selamatkan aku."
Begitulah kira-kira keduanya merengek yang ditanggapi tidak tahu menahu oleh Kyuhyun.
000
Kyuhyun tertawa terpingkal. Kibum disampingnya dengan tenang menyesap kopinya. Donghae dan Eunhyuk menggaruk kepalanya keki. Heechul melirik keduanya dengan sengit. Dan yang lain ikut terkekeh bersama Kyuhyun. Semuanya berkumpul di jam tutup café.
"Aigo perutku." keluh Kyuhyun yang tidak bisa berhenti tertawa. Sungmin mendekat dengan segelas air putih.
"Minum ini, Kyu."
Kyuhyun menerimanya. Ryewook sudah di belakangnya mengelus punggung Kyuhyun. Kyuhyun masih terkekeh. Dia sulit berhenti tertawa. Kibum disampingnya jadi heran. Yang lain sudah berhenti tertawa dan memperhatikannya. Setelah beberapa menit akhirnya Kyuhyun berhenti tertawa dengan wajah merah dan nafas tersengal.
"Sudah tenang?" tanya Heechul kalem. Kyuhyun mengangguk. Meneguk air yang diberikan Sungmin.
"Kibum hyung, kau homo?" tayanya pada Kibum.
"Tidak." jawab Kibum tegas.
Kyuhyun mengangguk. Telunjuknya mengarah pada Donghae dan Eunhyuk bergantian. "Dasar otak udang!" katanya menusuk lengkap dengan death glarenya.
"YAK!"
"Jangan kurang ajar, Kyuhyunie!"
Keduanya menanggapi tidak terima. Shindong menahan keduanya agar tenang. Bagaimanapun yang salah mereka.
"Tapi," mereka diam mendengarkan Kyuhyun yang kembali bersuara. Kali ini pada Kibum. "Bahkan Changmin juga heran? Kibum hyung, kenapa kau tertarik padaku?"
Kibum termangu. Kini semua mata tertuju padanya. Menanti jawaban yang benar-benar masuk akal dan bisa diterima. Hanya sejenak dan Kibum sudah kembali pada sikapnya. Tetap tenang tidak terusik oleh tatapan-tatapan penuh intimidasi mereka. Hanya sekali dia membalas menatap Kyuhyun. Sebelum beralih ke pintu café. Disana muncul Changmin yang kemudian memanggil Kyuhyun.
"Sudah malam. Cepat pulang dan istirahatlah." Kibum menyuruh Kyuhyun dengan dirinya sendiri yang berdiri. "Donghae hyung, aku pulang. Siwon hyung sudah di depan."
Seolah kode mereka semua bubar. Tidak terkecuali Kyuhyun. Tidak mendapat jawaban, meninggalkan keheranan di hatinya. Tapi dia masa bodoh. Dia meminta Changmin menunggu, selagi dia berlalu ke ruang loker untuk mengambil tas dan berganti baju.
000
"Kau jadi suka bermain di tempat Donghae, Kibum?" heran Siwon. Donghae yang berada di belakang ikut memperhatikan. Namun Kibum hanya bergumam sambil memperhatikan jalanan.
Donghae mendesah. "Bummie, kau marah. Mianhe, ini semua karena Eunhyuk. Dia mengaku hanya menggodaku. Mianhe."
Siwon memperhatikan Donghae melalui kaca spion atas kemudian beralih pada Kibum yang diam. "Kalian bertengkar?"
"Hanya lelucon, hyung. Gweanchana Donghae hyung." Kibum mendahului Donghae menjawab dengan masih tetap memperhatikan jalanan. Setelah itu ketiganya diam. Siwon fokus pada jalanan di depan. Donghae memilih memainkan HPnya. Kibum yang memandang keluar tanpa berkedip.
Tanpa sepengetahuan kedua hyungnya Kibum menghela nafas dalam. Pertanyaan Kyuhyun terulang lagi dipikirannya. Pertanyaan yang juga diajukannya pada dirinya sendiri.
'Kenapa aku tertarik padanya? Seolah sudah lama aku menunggunya. Menunggu saat kami akan bertemu. Kyuhyun, siapa dirimu sebenarnya?'
TBC
