WARNING(s) : TYPO, ABAL-ABALAN, GAJE, OOC, etc

Disclaimer : FT punya Hiro-sensei, aku hanya meminjam karakter-karakternya


Sekarang waktu menunjukan jam 18.45, keadaan kota sudah sangat sepi, tidak ada orang yang berlalu lalang di jalan.

"Kalian siap?" tanya Krystal.

"Tentu saja." balas yang lainnya.

"Oke, jadi aku dan Retta akan tetap berada disini, untuk berjaga-jaga kalau mereka mulai menyerang kota, Viera dan Lucy akan pergi ke guild mereka, ingat! Jangan sampai ketahuan, tugas kalian hanya membebaskan para sandera, dan hancurkan guildnya, mengerti?" jelas Krystal.

Akhirnya mereka semua mulai siap-siap di posisi masing-masing, Lucy dan Viera bergegas pergi ke hutan, Retta dan Krytal berpencar untuk menjaga kota.

Waktu sudah menunjukan jam 19.00 tapi belum ada pergerakan apapun dari lawan, sampai akhirnya 15 menit sudah berlalu, tiba-tiba ada suara orang dari sekitar pasar, Krystal yang berada di dekat situ langsung berlari menuju pasar, ada sekelompok orang yag sedang mengambil bahan-bahan makanan disana, Krystal langsung muncul di hadapan mereka.

"Apa yang kalian lakukan?"

"Tch, harusnya kami yang bertanya padamu, kenapa ada anak kecil disini? Kau mau mati? Ingat ya, kami ini dari Black Khronos, jangan macam-macam dengan kami." ucap salah satu dari mereka.

"Hoo, benarkah? Aku tidak takut dengan kalian." ujar Krystal sambil menunjukan grinnya.

"Kau! Berani sekali dengan kami, kau tidak akan lolos." seru mereka.

"Cih, Water Demon Roar!" seru Krystal dan tepat mengenai mereka.

"Anak kecil sialan...Fire Magic: Purple Fire, Poison!" salah satu dari mereka mulai menyerang, dan dengan mudahnya di hindari oleh Krystal.

"Kau sebut itu serangan? Water Lock!" sebuah bola air mulai menjebak mereka, "kalian tau? Kalian tidak bisa keluar dari sana, dan kalian akan kehabisan nafas karna kalian tidak bisa bernafas dalam air." ujar Krystal, dan benar saja, mereka mulai kehabisan nafas dan tidak sadarkan diri.

Krystal menghilangkan air itu, dan para dark mage itu jatuh ke tanah, Krystal mengikat mereka dengan tali sihir agar tidak bisa terlepas dan membawa mereka bersamanya.

Kini Retta juga sedang bertarung di dekat alun-alun kota, jumlah mage yang sedang dia hadapi lebih banyak dari lada Krystal tadi.

"Ugh, kapan ini akan selesai..." ucap Retta, dia menciptakan sebuah pedang lagi, dan menyerang mereka semua.

"Fencing Magic: Blade of Flashing Lightning!"

Retta mengayunkan pedangnya kearah mereka, menciptakan sebuah petir dan mengenai hampir setengah dari mereka semua.

"Retta!" teriak seseorang dari kejauhan.

"Krys! Butuh bantuan disini!" seru Retta.

"Baiklah, ayo kalian semua, serang aku!" teriak Krystal "Water Demon Destruction Wave!"

Mereka berdua bertarung hingga sekuat tenaga, melawan dark mage sebanyak itu memang cukup menguras tenaga.

"Ini yang terakhir, Fencing Magic: Exploding Flame Blade!" seru Retta.

Serangan Retta tadi mengakhiri pertarungan ini, mereka berdua terlihat kecapekan.

"Kerja yang bagus Retta!" ucap Krystal sambil tersenyum, Retta juga tersenyum.

"Aku ingin tau bagaimana keadaan mereka berdua." ucap Retta.

"Ya, aku harap mereka baik-baik saja."


"Jadi, siapa yang akan menyerahkan diri?" tanya Viera.

"Aku saja, kau bisa menggunakan sihirmu didekat sini, katamu kau menjadikan mimpimu kenyataankan? Aku akan mengulur waktu." ucap Lucy.

"Baiklah Lucy, aku mempercayaimu." ujar Viera, lalu mereka berdua berpencar.

Lucy sudah berada di depan guild itu, dia menarik nafas dan membuka pintunya.

"Lihat siapa yang datang! Mau apa dia?" tanya seseorang.

"Mana kutau." jawab seseorang.

"Aku menyerahkan diriku kepada kalian." ujar Lucy.

"Huh? Menyerahkan diri?" tanya seseorang.

"Ya." jawab Lucy singkat.

"Baiklah, Tibo! Ikat dia dan bawa dia ke ruang bawah tanah!" seseorang yang dipanggil Tibo tadi mulai mendekati Lucy.

'Kena kalian, I open thee, door of the Fire Goddess, Hemera!' seru Lucy dengan suara pelan, lalu sebuah cahaya muncul di samping Lucy.

"Halo Lucy-sama." sapa Hemera.

"Hemera, serang mereka!" seru Lucy, Hemera pun mengangguk dan mulai menyerang mereka.

"Sial! Kita ditipu olehnya, ayo serang!"

Semuanya mulai menyerang Lucy, dan Lucy pun mengambil kunci Erebus.

"I open thee, door of the Darkness God, Erebus!" seru Lucy, dan Erebus muncul di samping Lucy.

"Apa yang harus aku lakukan Lucy-sama?" tanya Erebus dengan suaranya yang datar.

"Serang mereka."

"Dengan senang hati."

Erebus mulai menyerang mereka semua, seseorang muncul dari belakang Lucy, Lucy mengeluarkan Fleuv d' Etoile-nya, melilitkanya di badan orang itu dan melemparnya ke dinding.

"Dreaming Magic: Earthquake!" seru seseorang, lalu guild itu mulai bergetar hebat, bahkan Lucy hampir susah berdiri.

"Close the gate of Hemera, close the gate of Erebus." ucap Lucy, setelah mereka berdua menghilang, Lucy segera kabur dari guild itu, tidak lama setelah Lucy keluar, guild itu pun hancur berserakan.

"Viera!" seru Lucy.

"Lucy! Kita berhasil!" seru Viera.

"Kau sudah membawa keluar para sandera?" tanya Lucy, Viera mengangguk.

"Ya, mereka sudah kusuruh untuk berlari keluar hutan." ujar Viera.

"Baiklah, kita harus segera menyusul mereka."

Lucy dan Viera segera berlari menjauh dari guild itu, sampai Viera menghentikan larinya.

"Ada apa Vi? tanya Lucy.

"Aku melihat sesuatu di sekitar sana, apa kau mau menemaniku melihatnya?" tanya Viera.

"Baiklah, ayo."

Mereka berdua berjalan menuju tempat yang di tunjuk Viera tadi, mereka tidak melihat apa-apa disana, hingga Lucy menemukan sesuatu.

"Hey! Ini kunci celestial." ujar Lucy, dia mengambil kunci berwarna hijau emerald itu dari sekitar pohon.

"Aku tidak pernah melihat ada kunci celestial seperti itu." ujar Viera.

"Ya, karna ini kunci dewi, tidak ada yang pernah melihatnya, hanya beberapa orang di dunia ini yang mempunyainya." jelas Lucy.

"Oh begitu, ya sudah, kita harus pergi sekarang." ucap Viera, Lucy pun mengangguk dan mereka berdua berlari dari tempat itu


"Kerja yang bagus! Aku sangat berterima kasih kepada kalian." ujar Mayor Don.

"Tidak masalah, itu sudah tugas kami." ujar Lucy.

"Baiklah, ini uang kalian." ucap Mayor Don sambil memberikan uang kepada Krystal.

"Terima kasih, kami harus pergi, sampai jumpa." ujar Krystal sambil tersenyum.

Para gadis berjalan keluar dari rumah Mayor Don lalu pergi ke pusat kota.

"Oke, karna kita masih ada waktu sampai kita pulang nanti, bagaimana kalau kita berbelanja?" tanya Retta.

"Ide bagus!" ujar Lucy.

"Ini uang dari mayor," Krystal memberikan masing-masing 125.000 jewels "kalau kurang pakai uang kalian masing masing ya!"

Mereka semua berkeliling untuk mencari oleh-oleh untuk mereka sendiri dan orang-orang di guild.

"Mainan ikan ini lucu, kira-kira Happy bakal suka gak ya?" tanya Lucy.

"Harga mainan ikan itu hanya 5.000 jewels saja, kau ingin membelinya?" tanya penjaga toko.

"Baiklah aku beli satu." ucap Lucy sambil memberikan uang ke penjaga toko itu.

"Ini dia, terima kasih sudah berbelanja di tokoku."

Lucy langsung pergi ke toko-toko lainnya, mencarikan oleh-oleh untuk Wendy, Juvia, Carla, Lily, dan mungkin Kiyo.

Setelah berjam-jam mereka berkeliling kota untuk mencari hadiah, mereka bertemu lagi di penginapan.

"Jadi apa yang kalian dapat?" tanya Viera.

"Aku membeli suling ini untuk Rin, ini suling sihir loh, dia kan pengguna Music Magic, pasti bakal cocok." ujar Retta sambil menunjukan sulingnya.

"Kau tidak membelikan kakaknya hadiah?" tanya Krystal.

"Ng, aku membelikannya satu."

"Apa itu?" tanya Lucy.

"Aku...aku tidak akan memberi tau."

Lucy, Viera dan Krystal hanya tertawa terbahak-bahak.

"Baiklah, kalau aku membeli gantungan petir ini untuk Ren, lalu gantungan es untuk Kiyo, dan beberapa hadiah lain untuk semuanya di guild." ujar Krystal.

"Aku membelikan mainan ikan untuk Happy, pita untuk Carla dan Wendy, kiwi untuk Lily, kalung untuk Juvia dan Kiyo, tentu saja dengan model yang berbeda." jelas Lucy.

"Hoo, kau membelikan Kiyo hadiah?" tanya Retta.

"Ya, sebagai ucapan terima kasih kepadanya karna telah menolongku." jelas Lucy.

"Krystal kan menolongmu juga, kenapa kau tidak memberinya hadiah?" tanya Viera.

"Itu...uangku habis jadi aku tidak bisa membelikannya sesuatu." ujar Lucy seditik gugup.

"Haha, baiklah Lucy, oh ya...apa yang kau beli Vi?" tanya Krystal.

"Hanya beberapa bibit pohon untuk Eva, dan buku-buku untuk Keigo, kalian tau kan kalau Keigo suka membaca?"

"Yup, bagaimana kalau kita check out sekarang? Aku ingin segera pulang guild." ucap Retta.

"Karna kau ingin segera memberikan Ren hadiah?" tanya Lucy disertai anggukan dari Krystal dan Retta.

"Oh diamlah kalian, jangan ungkit-ungkit itu lagi." ujar Retta dengan kesal.

"Baik baik, ayo kita berangkat sekarang." ucap Viera.

Mereka pun bersiap-siap untuk pulang, pergi ke meja resepsionis untuk check out, setelah itu mereka langsung pergi ke stasiun, membeli tiket, dan masuk ke dalam kereta.

Tidak ada yang berbicara selama perjalanan, mereka terlalu lelah, sampai akhirnya mereka semua tidur satu persatu.

"Lucy..."

"Lucyy..."

"Lucy?"

"HEI, LUCY BANGUN."

Akibat teriakan Krystal tadi, akhirnya Lucy pun bangun, hampir saja dia terjatuh dari kursinya.

"Krys, kau bisa kan tidak perlu membangunkanku dengan berteriak?" tanya Lucy, wajahnya tampak suntuk.

"Maaf, habisnya dari tadi kau tidak bangun-bangun." ujar Krystal.

"Tidak apa-apa, lagi pula dimana kita sekarang?" tanya Lucy.

"Kita hampir sampai, makanya aku membangunkan mu."

Lucy hanya mengangguk pelan dan mulai berdiri untuk mengambil barang-barangnya.

10 menit kemudian mereka sampai, para gadis turun dari kereta dan segera kembali ke guild.

"Hai minna! Kami kembali!" teriak Krystal.

"Selamat datang Krys, Vi, Retta, dan Lucy" sapa Eva "bagaimana pekerjaan kalian?"

"Ya semua berjalan dengan lancar, oh ya, aku membelikan sesuatu untukmu." ujar Viera, dia mengeluarkan kantong kecil dari tasnya.

"Apa itu?"

"Ini bibit pohon Acacia, karna kau suka menanam bibit seperti ini kan?" tanya Viera.

"Ya aku suka, terima kasih Vi." ucap Eva sambil tersenyum.

"Sama-sama, oh ya aku bisa titipkan buku-buku ini padamu kan? Tolong berikan ke Keigo ya." tanya Viera.

"Tentu saja, aku akan memberikan buku ini kepadanya." ucap Eva, Viera mengatakan terima kasih lalu pergi dari sana.

"Lucy!"

"Oh, Kiyo...ada apa?" tanya Lucy.

"Tega sekali kau meninggalkanku disini, kau bahkan tidak mengajakku melakukan misi bersama." ujar Kiyo, Lucy hanya tertawa mendengarnya.

"Maaf, maaf. Lain kali aku tidak akan meninggalkanmu deh, oh ya, ini hadiah untukmu. Ini juga sebagai ucapan terima kasih telah menolongku waktu itu." ujar Lucy sambil memberikan sebuah kalung kepada Kiyo.

Kalung itu berbentuk salib, hampir mirip dengan kalung kepunyaan Gray, yang berbeda hanya ukirannya dan bentuknya sedikit berbeda.

"Woah, ini keren Luce." ujar Kiyo, lalu dia langsung memakai kalung itu.

"Kalung itu cocok denganmu." ucap Lucy sedikit memerah.

"Terima kasih."

"Ya, sama-sama, oh ya...kau melihat Wendy?"

"Hmm, terakhir kali aku melihanya sih tadi dia berada di dekat bar, setelah itu aku tidak melihatnya lagi." jelas Kiyo dan Lucy hanya mengangguk.

"Hey Kiyo." sahut Krystal.

"Ada apa?"

"Nih untukmu." Krystal memberikan gantungan kunci kepada Kiyo.

"Terima kasih Krys." ucap Kiyo samhil menunjukan grinnya.

"Yup, hey, apa kau melihat Ren?" tanya Krystal.

"Dia berada di taman belakang, coba saja kau kesana."

"Oke, terima kasih."

Krystal langsung pergi dari sana, meninggalkan Lucy dan Kiyo berdua.

"Aku juga ingin mencari Wendy dan yang lainnya, mau ikut?" tanya Lucy, Kiyo mengangguk dan mereka berdua pergi untuk mencari Wendy.

Di taman belakang, Ren sedang tidur-tiduran di bangku taman, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Dia baru saja ingin beranjak dari sana sampai seseorang memanggilnya.

"Ren!" panggil seseorang.

Ren membalikkan badannya, memperlihatkan Retta yang sedang berdiri di belakangnya.

"Retta? Ada apa?" tanya Ren.

"Ng, ini ada hadiah untukmu," ujar Retta sambil menunjukan hadiahnya "semoga kau suka."

Itu adalah sebuah pistol dengan ukiran petir di sampingnya, pistol itu sangat keren, saat Ren mengarahkan pistol itu ke sebuhan pohon, dan menekan pelatuknya , sebuah peluru melesat ke pohon itu lalu pohonya seperti tesambar petir dan rubuh, Ren terkejut dengan hasilnya.

"Woah, ini keren! Terima kasih telah memberiku ini." seru Ren sambil menunjukan senyumnya yang menurutnya paling keren.

"Haha, sama-sama...oh ya, aku bisa menitipkan hadiah untuk Rin kan?" tanyanya sambil memberikan sebuah suling kepada Ren.

"Tentu saja, sekali lagi terima kasih."

"Sama-sama."


"Bagaimana? Kau tau dimana dia berada?" tanya seseorang.

"Tentu saja tuan, dia berada di sebuah guild bernama Scarlet Destiny, dan sepertinya dia mendapat kekuatan baru." jawab laki-laki itu.

"Hoo, jadi begitu? Dan apakah kau sudah menyuruh yang lain untuk menyerang guild-guild itu?"

"Sudah, dan malam ini kami akan bergerak, tuan tidak perlu khawatir, semuanya pasti berjalan dengan lancar."

Laki-laki yang di panggil tuan itu hanya menyeringai.

"Dengan hal ini, dewan sihir pasti akan bergerak. Aku sudah bisa memprediksi apa yang aka mereka lakukan," ujarnya "jadi jangan kacaukan ini kau mengerti?"

"Aku mengerti, permisi." setelah mengatakan itu dia menghilang, laki-laki tadi tersenyum lagi.

"Lihat apa yang akan kau lakukan Heartfillia."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC~

Oke, gimana chap ini? Maaf kalau lebih pendek dari chap sebelumnya dan ada typo-typonya XD

Terus aku tau kalau deskripsi poistol dan kalungnya itu jelek banget, karna aku lemah banget kalau di suruh mendeskripsi sesuatu :')

Lalu pas chap 8 atau 9 aku bakal bikin OVA gitu, cuma aku bingung, kalau boleh kalian vote dong.

1. Secret Santa.

2. Festival Kembang Api.

Lalu, untuk chap 6, aku bakal update hari senin atau selasa, karna aku ga bisa update weekend nanti, ada lomba soalnya :D

Itu aja untuk chap 5, makasih buat yang susah ngereview dan memfollow cerita ini.

Mind to R&R?

-SkySorceress72-