Kibum kecil memperhatikan sang appa yang membereskan bajunya untuk dibawa pulang. Baju-baju itu akn dibawa untuk di cuci. Dua hari pasca operasi Kibum sudah mulai membaik. Bekas jahitnanya tinggal menunggu kering sepenuhnya. Tapi dia sudah ingin pulang, tidak betah berada di rumah sakit. Sayang dokternya belum mengijinkannya pergi.
"Kibum-ah, appa tinggal sebentar, ne? Nanti ada Donghae hyung yang datang menemanimu." kata Choi Jougwoon pada putranya yang berbaring. Dengan sayang dia mengelus rambut arang sang putra.
"Appa mau kemana?"
Jungwoon tersenyum kecil. "Appa menemui seseorang dulu. Appa harus buru-buru sebelum mereka pergi. Appa harus ucapkan terima kasih pada mereka. Tidak apa appa tinggal, ya? Donghae hyung tidak akan lama."
"Pendonor Kibum?" tanya Kibum yang dibalas senyum oleh sang appa.
Kibum mengangguk mempersilahkan sang appa pergi. Namun belum lama pintu kamar rawatnya ditutup Kibum beringsut bangun. Menahan sedikit nyeri dari bekas operasi. Kibum berdiri di ranjang, melepas tabung infus dari gantungan. Dengan perlahan dia turun dari ranjangnya. Dia berniat mengikuti sang appa. Kibum juga ingin berterima kasih. Tapi takut sang appa tidak mengijinkan karena dokter belum memperbolehkannya banyak bergerak. Karena appanya bilang mereka akan pergi jadinya Kibum nekad diam-diam mengikuti sang appa.
Beruntung tempat yang dituju appanya tidak jauh. Hanya berjarak tiga kamar rawat dan appanya telah menghilang ke dalam kamar tersebut. Kibum berhenti di depan kamar, membuka pintu sedikit agar dia bisa mengintip ke dalam.
"Sudah akan pergi?"
Kibum bisa melihat appanya bertanya.
"Ya. Anak ini sudah sehat." jawab lelaki lainnya dengan nada datar.
"Dokter bilang seharusnya Kyuhyun masih harus menginap," seorang wanita berkata seolah menahan kekesalan.
"Tidak, Hera-ya. Anak ini sudah kuat jadi kita bawa pulang saja." kata lelaki itu menahan suaranya. Tangannya juga memegang lengan si wanita seolah memintanya untuk tidak berdebat.
"Tidak apa kalau masih harus dirawat. Aku yang menanggung semua biayanya. Begitu juga biaya putramu yang satunya lagi." appa Kibum menengahi perdebatan dingin kedua orang itu. Jungwoon beralih pada seorang anak yang duduk diam sejak tadi diatas ranjang rumah sakit. "Siapa namanya tadi? Kyuhyun?"
"Ya, namanya Kyuhyun, Jungwoon-ssi." jawab si wanita.
Jungwoon mengelus kepala bocah itu. "Terima kasih, Kyuhyun-ah. Karenamu putra ahjussi bisa kembali sehat. Ahjussi harap kau juga segera pulih. Dan nanti bisa ahjussi kenalkan pada putra ahjussi. Dia juga ingin berterima kasih kepadamu."
Deheman mengalihkan Jungwoon dari bocah tersebut. "Tidak perlu repot, Jungwoon-ssi. Kyuhyun akan kami bawa pulang hari ini. Terima kasih atas niat baik anda juga bantuannya."
"Akulah yang harus berterima kasih. Berkat ginjal putramu, putraku bisa terselamatkan. Sudah seharusnya aku membalasnya. Semoga putramu yang lain juga segera pulih."
Lelaki itu mengangguk. Setelahnya Kibum tidak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan. Fokusnya hanya pada anak itu. Duduk diam diatas kasur. Menunduk tanpa melakukan apapun. Kibum ingin masuk ked alam dan mengucapkan terima kasih atau menjadi teman anak itu. Tapi sebelum langkahnya menerobos masuk seseorang sudah menarik lengannya. Menyeretnya menjauh dari kamar tersebut.
"Kibumie, kenapa kau keluyuran? Kau tahu hyung cemas mencarimu? Appa bisa marah padaku kalau tahu kau tidak ada. Beruntung hyung yang menemukanmu lebih dulu." Donghae pelaku penarikan itu terus mengoceh tentang bagaimana khawatirnya dia jika appa mereka marah. Kibum mengabaikannya. Dalam langkahnya dia sempat menoleh ke arah kamar itu. Berjanji dalam hati suatu saat dia akan menemui anak itu dan mengucapkan sendiri ucapan terima kasihnya.
'Aku pasti menemuimu nanti, Kyuhyun. Pasti akan menemuimu.'
"Kibumie, sudah sampai. Ayo bangun." mimpinya buyar oleh tepukan pelan di pipinya. Kibum membuka mata dan melihat Siwon yang membangunkannya. Kibum berkernyit.
"Wae?" Siwon bertanya melihat raut adiknya. "Ada yang salah?"
Kibum menggeleng. "Hanya bermimpi." gumam Kibum pelan. Ya mimpi dari masa lalu yang menyadarkan Kibum atas sebuah janji yang belum di tepatinya. Jadi begitulah takdir merangkai pertemuan ini. Pikir Kibum. 'Kaukah itu Kyuhyun? Atau hanya kebetulan nama yang sama?'
"Kibum-ah, ayo masuk! Siwon hyung, ayo!" panggil Donghae di depan pintu.
Kibum segera turun mengikuti Siwon yang lebih dulu menyusul Donghae memasuki rumah. Pasti sang appa sudah menunggu ketiga putranya yang seharian berada di luaran. Meskipun appa mereka sibuk dengan bisnis namun selalu meluangkan waktu untuk memastikan putra-putranya pulang ke rumah dengan selamat. Appa yang penyayang dan disayang ketiga putranya.
oooo
Berbeda dengan seorang di lain pihak. Sendirian dan kesepian. Kyuhyun memandang sendu ruangan, tempat tidur yang sedikit berantakan, dapur kecil, sebuah meja yang sering digunakannya untuk makan, lemari pendek tempat dia menyimpan pakaian dan sebuah pintu sebuah kamar mandi. Sempit dan tidak banyak barang yang dia miliki. Dia menyewanya pertahun dengan harga yang bisa dijangkaunya.
Changmin pergi begitu mengantarnya dengan selamat sampai kontrakan. Dia melepasnya dengan senyum. Namun begitu berbalik dan menutup pintu hanya dingin dan sepi yang menyambutnya.
Kyuhyun mencoba tersenyum meski matanya memanas. Rumahnya, rumah dimana sang appa tinggal bukan tempat yang nyaman untuknya. Banyak luka. Tapi setidaknya disana ada eomma tirinya yang akan selalu tersenyum padanya. Disana ada Henry yang dulu sering merajuk kepadanya. Disana ada pula sang appa yang hanya memandangnya dengan tatapan dingin. Namun disana dia tidak sendiri. Sayang dia hanya duri dalam daging. Keberadaannya hanya menjadi benalu. Benalu bagi sang appa. Dan akar dari semua pertengakaran yang terjadi antara eomma dan appanya. Persis yang dikatakan Henry. Dia perusak kedamaian keluarga itu. Jadi keputusan tepat untuk keluar dari sana. Dan seberat apapun itu dia merasa sudah melakukan hal yang benar. Semua demi mereka. Henry yang pernah menganggapnya seorang hyung dan eomma Hera yang menyayanginya layaknya anak sendiri.
Tapi tetap saja, dia merindu. Rindu pada rumah yang ia tinggali sejak dia dilahirkan. Rumah yang penuh kenangan. Rumah dimana appa yang dia hormati berada. Rumah yang menyaksikan betapa sang appa pernah menyayanginya. Ya, Kyuhyun ingat pernah begitu bahagia tinggal di rumah tersebut. Kenangan masa kecil yang begitu manis tertinggal disana.
Kyuhyun menjatuhkan tasnya dan beralih membekap mulutnya. Tangisnya pecah dan dia tidak ingin suaranya keluar dari ruangan ini. Jadi sekuat tenaga dia tidak terguguk.
Ada yang merana dan ada yang begitu bahagia dalam belaian kasih orang tua. Kyuhyun secuil orang yang merasakan kesendirian setelah merasakan limpahan kasih sayang. Begitu merasa kecil dan butuh pegangan. Mencoba berdiri tegak meski jiwanya hancur oleh kepahitan hidup. Dia sendirian. Bertahan sampai akhir. Mencoba meraih puing meski tangannya terluka. Dia hanya berharap dengan senyum oemma yang pernah sekali dia lihat, dia mampu bertahan agar tidak jatuh dalam kegelapan. Menekan segala rasa sakit untuk kembali tersenyum dan meraih genggaman hangat itu.
0000
Hari minggu yang mendung. Kibum bermalasan di sofa TV. Beberapa buku teronggok terbuka di meja. Remote di sebelahnya. Kibum menatap acara yang tayang dengan wajah datar.
Kibum mendesah. Memutar kepala untuk melihat ke atas, tepatnya di lantai dua. Berharap ada seseorang yang akan turun dan menemaninya. Siwon atau sang appa. Donghae baru saja berangkat untuk ke café. Setahunya Donghae akan pergi ke café lebih awal di hari minggu dan lebih awal juga.
Pemuda itu beranjak dari duduknya. Memilih untuk melihat dua kamar di atas. Yang pertama dia datangi adalah kamar sang appa yang lebih dekat. Mengetuk pintunya pelan. Menunggu hingga suara dari dalam mempersilahkannya masuk.
Ayahnya sedang bersantai di atas ranjang, mengenakan kaca mata baca untuk membaca koran. Lelaki baya itu tersenyum lembut pada sang putra.
"Ada apa, Kibum?" tanyanya memberi isyarat agar Kibum duduk di dekatnya.
Kibum menurut, duduk di tepi kasur sang ayah. "Tidak ada yang turun sarapan."
Jung Woon mengangkat kedua alisnya. Kemudian terkekeh kecil. "Kau kesepian?"
Kibum mengernyit. Dia tidak suka dituduh kesepian, dia hanya merasa tidak terbiasa. Sekalipun di hari minggu semua anggota keluargaya pasti akan tetap melakukan sarapan bersama. Tapi tidak untuk hari ini.
"Donghae hyung kesiangan. Dia terburu pergi tadi." kata Kibum.
"Mianhe. Appa merasa sangat lelah. Bagaimana dengan Siwon?"
Kibum mengedikkan bahu.
"Appa."
"Ye?"
"Kenapa lama sekali?"
Jung Woon kembali mengalihkan atensi pada si bungsu. Menerka apa yang sedang dibicarakan Kibum.
"Pendonor ginjalku. Appa sungguh-sungguh mencarinya?"
Jung Woon tidak suka tatapan Kibum. Dia membuka kaca matanya dan menutup koran. "Akan appa beri tahu begitu appa mendapat info tentangnya." katanya meyakinkan.
Kibum mendengus kecil. Matanya menatap hal kosong. "Aku mungkin menemukannya." katanya lirih.
"Kau bicara apa, Kibum-ah?" Jung Woon tidak menangkap dengan baik apa yang baru digumamkan sang putra. Terlalu pelan untuk telinganya yang menua.
Kibum menggeleng. "Aku ingin keluar. Boleh?"
"Dengan siapa?"
Kibum menatap tidak suka. "Aku sudah cukup dewasa untuk berkeliaran seorang diri, appa. Jangan terlalu berlebihan padaku." Kibum beranjak.
"Minta Siwon untuk mengantarmu." bagaimanapun sang ayah tidak biasa jika putranya yang pernah diujung maut itu berkeliaran tanpa pengawasan.
"Aku bosan menjadikannya sopirku." sahut Kibum tidak peduli, keluar dari kamar sang ayah.
0ooooo
Kyuhyun membersihkan meja yang baru ditinggalkan oleh seorang pelanggan.
"Kyuhyun."
Kyuhyun menoleh. Terkejut melihat Kibum yang memanggilnya dan bergerak duduk begitu saja di kursi yang mejanya sedang dia bersihkan.
"Kibum hyung? Kau datang untuk apa?" tanyanya heran. Sebelumnya dia tidak melihat Kibum sebagai pelanggan yang sering datang. Akhir-akhir ini saja pemuda yang lebih tua darinya itu sering dia lihat di café. Setidaknya sudah tiga kali ini dia muncul.
Kibum membuka buku yang dia bawa, namun matanya menatap Kyuhyun. "Aku pelanggan, Kyuhyunie."
Kyuhyun menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung. "Iya." Kyuhyun mengeluarkan note dan pen dari saku celemeknya. "Hyung mau pesan apa?"
"Es kopi saja."
Kyuhyun mengangguk seraya menulis pesanan Kibum.
"Kau yang antar." pesan Kibum lagi sambil fokus membaca buku.
"Oke." balas Kyuhyun.
Kyuhyun menepuk punggung Donghae yang dia lewati. "Adikmu, Hae hyung." beritahunya sambil mengedikkan kepala pada meja Kibum. Donghae menoleh memastikan. Dia hendak bertanya tapi Kyuhyun sudah keburu pergi.
Donghae menghampiri Kibum. "Bum-ah." panggilnya. Tapi Kibum tidak beralih dari bukunya. "Bummie~"
"Jangan ganggu aku, hyung. Bekerja saja."
Donghae manyun. "Apa yang kau lakukan disini? Kau datang dengan siapa?"
"Bosan. Sendirian."
Donghae menghela nafas panjang. "Appa dan Siwon hyung tahu kau pergi?"
"Heum." jawab Kibum malas.
Kyuhyun datang membawa pesanan Kibum. Meletakkannya di hadapan Kibum. Saat akan pergi Kibum memanggilnya. Donghae masih disana.
"Ada pesanan lagi?"
Kibum menggeleng. "Kau pulang jam berapa?"
Kyuhyun menoleh pada Donghae yang dibalas dengan keheranan juga.
"Sekitar jam 3? Wae?"
"Aku hanya ingin mengajakmu keluar."
Donghae sukses membuka mulutnya lebar-lebar. Kyuhyun mendesis kecil. "Emm. Sebenarnya Changmin akan menjemputku."
"Dia tidak ada latihan?"
Terkutuklah Kibum! Kenapa dia tahu dengan Changmin yang latihan? Sahabatnya itu semakin sibuk latihan sehubung dengan jadwal pertandingan yang semakin dekat.
"Ah iya. Tapi,"
"Lanjutkan pekerjaanmu. Aku tunggu disini." Kibum memutuskan dengan membuka kembali bukunya. Fokus disana mengacuhkan Kyuhyun juga Donghae yang mematung.
Kyuhyun menarik Donghae pergi. "Aku mulai curiga dengan adikmu, hyung. Kurasa Hyuk hyuk benar dia homo."
"Kyunie~" wajah Donghae sudah akan menangis. Kyuhyun menggeleng prihatin dan pergi membiarkan Donghae merana.
Kibum itu teguh dengan ucapannya. Kyuhyun dibuat berdecak, kesal. Dia berharap Kibum bosan menunggunya berjam-jam dan memilih untuk membatalkan 'kencan'. Eh ternyata Kibum masih duduk di kursi yang sama dan menghabiskan tiga gelas minuman. Satu es kopi, satu air putih, satu kopi pahit. Apa perutnya tidak akan bermasalah?
Dengan berkacak pinggang Kyuhyun memperhatikan Kibum dari kejauhan. Heechul yang merasa heran menegurnya.
"Bisa kau mengusirnya, bos?"
"He?!"
Ctak.
Kyuhyun meringis. Benar-benar sakit. Menatap kesal Heechul yang justru menjitak kepalanya.
"Dia itu pelanggan. Seenaknya saja kau minta mengusirnya!"
"Memang kau tidak keberatan dia duduk disana berjam-jam? Meja itu bisa saja dipesan pelanggan lain jika dia segera pergi."
"Kau ada masalah dengannya? Dia seniormu, bukan?"
Angguk Kyuhyun. "Tadi dia mengajakku 'kencan' setelah habis jam kerjaku. Kau tidak khawatir padaku?"
Heechul meringis. "Jadi dia homo sungguhan?" suara Heechul mengecil seakan takut orang lain dengar.
"Kemungkinan." entah kenapa Kyuhyun menajawabnya dengan yakin. Tidak ingat bagaimana Donghae memasang wajah melas menangisnya. Sekarang saja pria tampan yang kekanakan itu tidak terlihat, sedang maratapi orientasi seksual adiknya di ruang karyawan.
Heechul melipat tangannya. "Jangan sembarangan Kyuhyunie. Kau yang menertawakan duo aneh itu lebih keras dari yang lain."
"Tapi dia mengajakku 'kencan' hyung! Dengan nada otoriter dan bahkan tidak mendengar penolakanku. Bayangkan, bagaimana kalau besok aku tidak muncul setelah hari ini? Kau tidak kasihan padaku?" sekarang dia yang merasa merana. Dia berlebihan sekali.
Heechul semakin meninggikan alisnya. "Kyuhyunie. Aku lebih suka saat kau berbuat jahil, tapi sungguh kau berlebihan."
Kyuhyun berdecak.
"Sudah, pergi sana makan. Sudah waktunya makan siang."
Kyuhyun manyun.
"Ajak Donghae juga. Ingat kau harus bertanggung jawab dengan moodnya."
"Bukan salahku. Salahkan Kibum hyung." tolak Kyuhyun berlalu. Mood Donghae hancur bukan karena dia, Kyuhyun yakin itu. Donghae sendiri juga berada disana. Mendengar dan melihat sendiri keabsurdan adiknya. Jadi Kyuhyun menolak dipersalahkan.
Donghae sembunyi di ruang karyawan. Ada sebuah meja di tengah ruang yang cukup luas itu. Biasa digunakan untuk makan atau bersantai di jam istirahat mereka. Donghae duduk disana dengan wajah muram. Apalagi kalau bukan karena Kibum.
'Dia sangat tertarik dengan Kyunie. Wae?'
"Donghae hyung."
Donghae menoleh. Melihat Kyuhyun yang masuk dengan membawa senampan makan siang. Ada dua mangkuk nasi, sepiring lauk, dua mangkuk sup, dan dua gelas air putih. Kyuhyun meletakkan tepat di tengah meja.
"Ayo makan." ajaknya menaruh semangkuk nasih di depan Donghae beserta sumpitnya. Melihat wajah murung Donghae Kyuhyun tidak tega juga. "Kau harus percaya pada adikmu, hyungie. Mungkin Kibum sunbae sedang ada perlu denganku."
"Ya. Aku jelas mengenal adikku, Kyunie." jawab Donghae dengan nada yang tidak biasa. Dan disaat seperti itu Kyuhyun merasa Donghae menjadi seseorang yang berbeda. Bukan Donghae yang ceria, polos, ramah dan kekanakan. Lebih terlihat seperti pria tua yang banyak pikiran.
Donghae mengambil sumpitnya. Begitu juga Kyuhyun. Mereka memulai makan mereka dengan diam.
"Kyuhyun-ah."
Kyuhyun memberi atensinya.
"Bertemanlah dengan Kibumie."
Terdengar seperti seorang kakak.
"Dia tidak punya banyak teman. Entahlah. Dia tidak terlihat tertarik untuk menjalin hubungan semacam itu. Ini untuk pertama kali dia ingin keluar dengan seseorang. Jadi tolong. Mungkin jika kau, Kibum bisa berteman."
Kyuhyun menatap nasinya. Ini petama kali seseorang meminta hal semacam ini. Jadi sangat sulit untuk menolak. Apalagi Donghae sudah seperti kakak untuknya. Semua orang di dalam café ini sudah menjadi keluarga baginya yang sendirian.
Jam 3 sore seperti yang sudah ditetapkan. Kyuhyun mengakhiri jam kerjanya dan menghampiri Kibum yang masih menunggu. Cukup takjub dengan ketahanan pemuda itu yang tidak mati bosan sejak jam 10 hingga sekarang. Kibum dan Kyuhyun keluar bersama.
"Akan kemana?" tanya Kyuhyun begitu di luar café.
"Kau ingin kemana?"
Pulang. Tidur sebentar. Lalu mengerjakan tugas sekolah. Begitu seharusnya dia ingin menjawab. Tapi demi mengingat permintaan Donghae tidak apalah dia mengabaikan dulu hal itu. "Em, aku tidak ada ide."
Kibum nampak berfikir. "Kau ingin bersenang-senang?"
"He?"
Kibum menarik tangan Kyuhyun.
0o0
Kibum memperhatikan Kyuhyun yang tengah asyik di salah satu game di game center. Ya. Kibum menarik Kyuhyun ke tempat ini. Apa salahnya. Anak seumuran Kyuhyun bukannya wajar jika bersenang-senang dengan ini. Bukan hanya bekerja dan sekolah.
Kibum mendesis kecil saat ingat beberapa waktu lalu. Kyuhyun bilang tidak pernah pergi ke tempat seperti ini. Tidak mengenal tentang permainan game dan sebagainya. Kibum harus sedikit memaksa dan mengajarinya bagaimana memainkan game yang sekarang dimainkan Kyuhyun. Begitu mengerti bocah itu tenggelam dengan kegiatannya. Melupakan Kibum.
Tapi Kibum senang. Dia bisa bebas memperhatikan raut wajah Kyuhyun sesuka hatinya. Apalagi keceriaan dan senyum sumringah Kyuhyun saat mendapatkan poin tinggi.
"Aaa! Aku menghabiskan banyak waktu." dia menggerutu tapi wajahnya nampak gembira. Dua jam penuh dia menghabiskan waktu di game center.
"Kau ingin kesini lagi lain kali? Aku bisa mendaftarkanmu menjadi member."
Kyuhyun buru-buru menggeleng. Dia membayangkan berapa banyak waktu dan uang jika dia menjadi member dan terus datang ke tempat ini. Sepertinya jika itu dilakukan dia akan ketagihan. "Ini tidak cocok denganku."
"Kau terlihat menikmatinya tadi?"
"Sekali-kali hyung. Tapi tidak jika dilakukan setiap hari." wajahnya untuk sejenak murung. Kibum tidak luput memperhatikan itu.
"Jika kau ingin, katakan saja padaku. Aku akan menemanimu."
Kyuhyun tersenyum canggung. Menemani yang dimaksud Kibum adalah mentraktiknya. Mana bisa dia menerima hal semacam itu terus menerus.
Kibum merogoh ponselnya yang berdering. "Ye, Siwon hyung?"
'Kau masih lama? Hyung akan menjemputmu.'
"Anni. Aku tidak makan malam di rumah. Jangan khawatir aku bersama temanku. Bye, hyung."
Cepat. Pikir Kyuhyun. Kibum menyimpan kembali ponselnya. "Kau lapar?"
Kyuhyun menggeleng. Kibum tersenyum miring. "Jangan menahan diri, Kyunie. Aku sangat lapar, temani aku makan."
Kyuhyun mengacak rambutnya di belakang Kibum, langkahnya terlihat terpaksa mengikuti senior yang lebih pendek darinya itu.
"Tenang saja. Aku akan mengantarmu pulang setelah ini."
0ooooo
Kyuhyun mengelus perutnya. Kenyang dengan makanan enak. Tidak dia sangka kalau Kibum akan mengajaknya ke restaurant mewah. Saat melangkah masuk saja dia merasa kikuk. Tapi bagaimana bisa dia makan begitu rakus begitu menghadapi hidangan penuh daging. Kyuhyun malu saat ingat bagaimana dia makan dengan cepat dan tanpa aturan.
"Hhhh. Aku harus menolak dengan tegas lain kali." putus Kyuhyun.
Kyuhyun bangkit dari tidurannya. Ingat bahwa pekerjaan sekolahnya masih menunggu. Sebelum perang dengan segala macam soal dia mendahulukan ke kamar mandi, mencuci muka agar lebih segar, juga mengganti pakaiannya.
Saat keluar dari kamar mandi ponselnya berbunyi. Changmin mengiriminya pesan.
'Kau sudah berada di rumah? Aku tadi ke café, tapi Heechul hyung bilang kau keluar dengan Kibum sunbae? Apa yang kalian lakukan?'
Changmin berniat menjemputnya, ternyata. Kyuhyun menyesal. Dia segera mengetik balasan.
'Heum. Aku sudah menolak, tapi Kibum hyung memaksa. Kami pergi ke game center, lalu dia mentraktirku makan. Hanya itu. Mianhe, aku tidak tahu kau akan datang.'
Baru beberapa detik pesannya terkirim Changmin justru menghubunginya.
"A,"
'Kau pergi ke tempat itu?! Tega! Aku pernah memaksamu kesana tapi kau menolaknya habis-habisan! Tapi kau pergi kesana dengan Kibum sunbae?!'
Kyuhyun meringis. Dia lupa kalau Changmin suka sekali bermain game. Dulu dia sering mencoba mengajaknya untuk pergi ke tempat seperti itu. Tapi karena beberaa hal Kyuhyun selalu menolak. Alasan yang paling penting adalah, seperti yang dikatakan Kyuhyun juga kepada Kibum. Kyuhyun takut ketagihan dan tidak bisa berhenti. Dia akan menghabiskan banyak uang hanya untuk berrmain di tempat itu dan lupa untuk menyisihkan uangnya untuk keperluan lain. Dia bekerja bukan untuk berfoya-foya. Andai dia bukan 'Kyuhyun yang ini' tapi Kyuhyun yang memiliki keberruntungan dia rasa dia akan punya kesempatan bersenang-senang seperti itu lebih sering.
'Kau luluh pada orang baru~' Changmin merajuk.
"Jangan berlebihan, Chang. Kau pikir aku mengikutinya begitu saja? Dia menyeretku kesana kemari seolah aku boneka mainannya."
'Aku tetap tidak terima! Tidak adil!'
Kyuhyun menghela pasrah. "Baiklah. Jadi apa maumu?"
Kyuhyun yakin si tiang berjalan itu sedang tersenyum sekarang. Kyuhyun malas untuk berdebat panjang jadi lebih baik menuruti kemauan Changmin.
'Menginap disini. Aku sendirian dan kesepian. Ada beberapa soal yang tidak kumengerti.'
"Penakut dan pemalas." cibir Kyuhyun.
'Heeeyyy. Tidak mau tahu kau harus datang!'
"Jemput atau tidak." putus Kyuhyun. Matanya melirik tas ranselnya yang teronggok dibawah dekat meja belajarnya.
'Segera datang!' sahut Changmin penuh semangat. Dia juga memutus sambungan tanpa pamit, benar-benar sopan.
Kyuhyun membereskan beberapa buku tugasnya untuk dibawa besok ke sekolah, seragam sekolah, sepatu bisa pinjam milik Changmin, tidak lupa juga dia mengambil jemurannya pagi tadi di beranda sempit flatnya. Dia selesai dengan semua hal itu tinggal menunggu Changmin yang 20 menit kemudian memberinya pesan bahwa dia sudah sampai. Kyuhyun menarik ranselnya yang terlihat sangat menggembung.
Setidaknya malam ini dia tidak akan tidur sendirian.
0ooooo
"Kau bersenang-senang Kibumie?" Donghae mengangkat kedua alisnya jenaka.
Kibum mengabaikannya. Mengambil air putih dari dalam kulkas dan menuang ke dalam sebuah gelas. Dia meminumnya. Donghae masih memasang wajah jenaka itu.
"Hyung, kau tidak ada urusan lain?"
Donghae justru merangkul bahu sang adik. "Aku yakin adikku tidak abnormal. Kyuhyun-ah mengatakan agar aku percaya pada adikku. Jadi kenapa kau mendekati Kyuhyun?"
Kibum menatap Donghae. Menyempar lengannya sedikit kasar. "Bagaimana jika aku adalah 'gay'?"
Raut jenaka itu luntur seketika. Donghae memasang wajah ingin menangisnya lagi. Kali ini lebih dramatis, dia bahkan sudah meneteskan air mata. "Kibumie~"
Kibum menyeringai jahil. "Hyung bodoh." katanya berlalu pergi.
Sampai ditangga terdengar teriakan heboh Donghae yang baru sadar dikerjai Kibum. Kibum tersenyum kecil, menaiki tangga dengan perasaan riang. Hari yang menyenangkan untuknya. Hari terbaik yang pernah ada.
Donghae menarik gelas Kibum dan duduk di kursi pentry. Pikirannya menerawang. Keningnya berkerut seolah berfikir keras. "Kibum menjahiliku? Sejak kapan?"
Kemudian senyumnya mengembang. "Aku rasa perasaannya sedang sangat baik. Kibum Kibum."
0ooooo
Siwon mengetuk ruang kerja sang ayah. Tanpa menunggu jawaban dia memasuki ruang pribadi si kepala keluarga di rumah itu.
Siwon berniat memberi tahu sang ayah jika Kibum sudah sampai rumah. Tapi sepertinya Jung Woon sedang melamun di kursi kerjanya. Posisinya yang separuh memunggungi pintu membuatnya tidak sadar jika Siwon ada disana.
Pria muda itu melirik sesuatu yang diperhatikan ayahnya dengan penuh. Matanya memicing melihat seorang wanita berpakaian formal berdiri di sebelah foto Jung Woon memeluk sebuah map coklat. Itu seperti….
"Youjin ahjumma?"
Jung Woon berbalik dengan kaget. "Siwon-ah?" terdengar nada menegur yang tidak disengaja. Siwon buru-buru meminta maaf. Jung Woon menerima permintaan maaf itu, foto disimpannya di dalam sebuah buku sampul hitam dan dimasukkan ke laci kerja.
"Bukankah itu Youjin ahjuma?" tanya Siwon ingin tahu.
"Benar."
Siwon mengangguk kecil. Dia mengenal Youjin sebagai sekretaris sang ayah. Dulu wanita cantik dan lembut itu sering datang ke rumah. Kebanyakan untuk urusan pekerjaan. Saat itu istri Jung Woon yang sedang mengandung Kibum sedang dalam keadaan tidak baik selama mengandung. Jung Woon tidak suka jika harus meninggalkan sang istri, jadi dia banyak melakukan pekerjaannya di rumah dan akan datang ke kantor di saat-saat terpenting dan sangat mendesak saja. Selama itulah Youjin yang membantu memperlancar pekerjaan Jung Woon. Siwon cukup mengenal Youjin karena wanita itu begitu baik bahkan bisa dekat dengan Donghae yang dulu sering rewel dan cengeng.
"Bagaimana kabarnya sekarang? Rasanya sudah sangat lama." Siwon mendengar jika Youjin ahjuma mengundurkan diri tidak lama setelah kelahiran Kibum. Entah kenapa. Jung Woon tidak pernah membahas hal itu. Hanya sekali saat Siwon bertanya. Siwon tersenyum kecil. "Kalau dipikir appa akan cocok dengan Youjin ahjuma. Dia wanita yang baik, kami cukup dekat dengannya. Apalagi Donghae, anak itu dulu sering memeluk Youjin ahjuma dan tidak mau melepasnya."
Jung Woon tahu itu, bagian Youjin yang juga cukup membantu di rumah ini. Mengurus kedua putranya yang saat itu lepas dari tangan istrinya. "Eomma kalian sangat lemah saat itu. Beruntung kita masih memiliki Kibum."
"Ya. Kita beruntung. Tapi dia memang wanita yang cantik, appa."
Jung Woon menatap Siwon. "Siwon, jangan menggoda appa. Eomma kalian satu-satunya. Tidak ada yang lain lagi. Appa melihat foto itu tidak sengaja. Lagipula Youjin sudah menikah."
"Benarkah?" Siwon nampak kecewa. Namun kemudian dia menatap ayahnya masih mode menggoda. "Bagaimana jika tidak?"
Jung Woon mendesis pelan. Siwon terkekeh, puas menggoda sang ayah. Dia dulu tidak tahu jika wanita yang sering membantunya me-pawangi Donghae sudah menikah. Dia tahu lama setelah Youjin tidak pernah muncul lagi di rumahnya.
"Kibum sudah sampai. Dan moodnya sangat baik, kurasa." Siwon mengingat saat dia berpapasan dengan Kibum diujung tangga. Adiknya menyapanya lebih dulu. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Itu bagus. Seperti apa?" Jung Woon tertarik rupanya.
"Wajahnya cerah. Dia tersenyum dan 'hallo Siwon hyung'. Bukan aku menyapa pertama, tapi dia."
Jung Woon mengangkat alisnya. Dia bersedekap. "Apa dia sedang jatuh cinta?"
Siwon menggeleng dengan raut jenaka. "Kupikir tadi juga seperti itu. Tapi bukan, Donghae bilang Kibum menemukan teman yang cocok untuknya. Hanya itu. Klise, bukan?"
Jung Woon tersenyum. Dia menepuk lengan Siwon. "Itu sangat berbeda jika Kibum." Kata sang ayah memahami benar bagaimana Kibum.
0ooooo
Kyuhyun menatap ponselnya yang berdering sejak beberapa saat lalu. Tidak ada niat untuk menjawab panggilan tersebut.
Changmin keluar dari kamar mandinya. "Kenapa tidak diangkat?" dia mendengar posel itu berdering sedari dia sibuk menggosok gigi.
Kyuhyun justru mensilent ponselnya tanpa menolak panggilan itu. Dibiarkan ponselnya dalam keadaan layar menyala masih menampilkan id pemanggil, dalam keadaan diam. Changmin merasa heran, dia melihat ponsel itu.
"titik?" Changmin menatap Kyuhyun. "Kau menamai nomor ini dengan '.'? Kau aneh Kyunie."
Kyuhyun berkedik bahu. Berniat membaringkan tubuhnya lebih dulu. Ranjang Changmin cukup lebar untuk dua tubuh. Jadi mereka akan tidur bersama. Changmin menyusul Kyuhyun kemudian setelah melempar pandang sekali lagi pada ponsel yang masih menyala layarnya. Dalam hati mendesah kasihan pada si penelepon yang diacuhkan Kyuhyun.
Sedangkan jauh di seberang, seseorang sedang menatap ponselnya dengan nafsu meremukkan benda padat itu. Setelah beberapa detik menatap kejam pada ponselnya dia menyerah. Meletakkan ponselnya sembarangan di meja kerjanya. Tepatnya meja dengan ukuran lebar di sudut kamarnya bersebelahan dengan jendela.
Lelaki itu melepas kaca mata baca yang sedari lalu ia kenakan. Dia mendesah, menyandarkan kepala pada punggung kursi yang berbusa. Memutar kursinya menghadap jendela.
"Anak nakal. Kau harus mengambil obatmu, bodoh." ucapnya dengan pelan.
Tidak lama dia mendengar ponselnya berdering. Segera dia mengangkat panggilan itu. Berharap bocah nakal yang beberapa saat lalu dia coba hubungi. Namun rupanya dia salah.
"Ne, Hangeng-ah?" lelaki itu memijit perpotongan hidungnya.
'Hyung lemas sekali?'
"Bocah itu belum mengambil obatnya."
'Dia takut kau tagih, hyung.'
"Tidak lucu, Han." lelaki itu berkedip pada jendela. Meskipun orang yang mengenalnya menyebut dia pelit tapi orang di seberang line tahu jelas dia tidak meminta uang obat untuk bocah yang dia maksud. Dia bahkan selalu dengan berat hati menerima uang dari anak itu. Meski pada akhirnya uang yang dia terima selalu dia setorkan untuk biaya perawatan si bocah. "Ada apa?"
'Aku mencoba melengkapi berkas miliknya. Bisa hyung membantuku? Kau yang mengajukan diri sebagai wali, jadi ini sudah tanggung jawabmu. Bisa kita bertemu besok?'
"Kau benar-benar tahu bagaimana memanfaatkan waktuku, Han." desisnya. Baru saja sehari dia di rumah sudah harus membuat janji dengan dokter spesialis itu.
Hangeng terkekeh. 'Aku sudah menunggumu lama, Leeteuk hyung. Dan ini harus segera diselesaikan.'
"Baiklah. Lagipula bocah nakal itu memang tanggung jawabku."
Diam sejenak. 'Leeteuk hyung aku harus mengatakan ini. Desak anak itu. Sepertinya memang tidak berbahaya. Tapi serangannya tidak terduga. Dia harus dibedah secepatnya.'
"Aku berusaha, Han. Aku sudah kembali. Kita lakukan apa yang bisa kita laukan."
'Kau baik, Leeteuk hyung. Ini tidak seperti dirimu dua tahun lalu. Kau berubah.'
Leeteuk terkekeh. "Ya. Aku merasa lega dengan perubahanku."
'Jam 4 kau ada waktu?'
"Hum. Aku datang ke tempatmu."
'Aku tunggu, hyung. Selamat malam.'
"Malam, Hangeng-ah."
Leeteuk menimang ponselnya. Kemudian melakukan sesuatu dengan ponsel itu. Mengetik sebuah pesan dan mengirimnya. Dia tersenyum kecil kemudian beranjak dari sana untuk segera bersiap tidur.
Besok dia sudah mulai kembali masuk kerja, setelah hampir satu bulan mengikuti penataran di luar kota. Dia melirik sekilas pada beberapa kotak makanan ringan yang diletakkannya di sudut nakas, oleh-oleh yang sudah dia siapkan untuk rekannya. Diatas nakas ada botol plastik putih bening berukuran segenggaman tangan. Leeteuk meraih botol tersebut. Melihat butiran obat didalamnya.
"Anak malang."
0oooo
TBC
Oke aku update 2 chapters.
setelah ini bakal lumayan sangat lama.
aku lumayan sibuk dan sedikit malas,
tapi pasti aku usahakan.
*cari free wifi sulit juga hahaha
untuk semua review maaf sekali q belum sempet bales. alhamdulillah aku sudah baca
semua review. tapi gak bisa buat listnya. maaf lagi.
tapi janji aku pasti balas satu-satu. kecuali yang gak log in.
sekian. see u all
Thursday, February 18, 2016
1:36 PM
Friday, August 5, 2016
8:34 PM
