Info: Ff ini udh di posting di aff sampai 25 Chapter ^^

.

.

Chap. 9 Aku hanya ingin bahagia.

.
.
.
.
donghae sedang menatap langit malam ini, begitu indah bintang yang bekelip disana, hatinya sedang gundah dan sedang bersedih, entah mengapa fikirannya kosong malam ini, dia tak bisa tidur maupun memejamkan mata.

dibalkon dikamar yang indah ini, dia membalikkan tubuhnya menatap jendela kamarnya, semua indah dan sangat indah, perlahan dia memasuki kamar yang luas dan menyentuh setiap detail barang yang ada disana, sama seperti pertama kali memasuki kamar ini, dia menyentuh setiap barangnya, hanya dengan suasana hati yang berbeda.

siwon tak akan menikahinya, entah apa yang harus dia lakukan nanti, fikirannya berputar, tak mungkin dia akan tetap tinggal disini, dia harus mengucapkan selamat tinggal pada kamar yang indah ini, tapi setelahnya mau kemana dia nanti?.

sudah seminggu lebih dia disini, selama itu pula hidupnya tetap tak mendapatkan kebahagiaan yang dia cari, semakin hari keluarga ini seolah tak memperduilikan kehadirannya, bahkan terbilang mengabaikan dan menganggapnya tak ada.

siwon .. setelah malam itu dia tak pernah terlihat lagi dirumah, donghae bahkan tak pernah melihatnya setelah malam itu lagi.

"apa yang harus aku lakukan umma?"

donghae merbahkan tubuhnya dikasur, dia menatap langit, dan berdoa, semoga hari esok lebih baik dari hari ini.

.
donghae keluar dari kamar sudah agak siang, seperti biasa, ketika dia keluar dari kamar, rumah itu terlihat sepi, menghela nafas, apa yang akan dia lakukan hari ini, semua terasa membosankan.

donghae menuruni tangga dengan lesu, tidak bersemangat, ini terlalu sunyi dan dia tak menyukainya, biasanya jika rumah tak ada orang, dia akan bernyanyi sambil bekerja untuk menghilangkan kesunyiannya, tapi hari ini dia sedang malas untuk benyanyi.

jadi donghae hanya menuruni tangga dengan lesu dan menundukkan wajahnya, karna menunduk dan tidak fokus dia menabrak sesuatu yang membuat dia terjungkal kebelakang.

"ahh.. " donghae mengelus pantatnya yang tersa sakit karna habis mencium lantai, dia jatuh terduduk.

"maafkan aku, kau tidak apa apa?" sepasang tangan membantunya berdiri, doanghae belum melihat siapa yang ditabraknya, tapi dia mengenal suara ini, jadi dia perlahan mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang membantunya.

"yunho oppa" wajah donghae terlihat imut ketika menatap yunho, pria yang ditabraknya tadi.

yunho jadi gemas dan mengacak rambut donghae "ais.. kau lucu sekali" yunho tersenyum.

.
dan disinilah mereka, berada ditaman bermain, diamana yunho memaksa untuk mengajaknya bermain, tadi yunho datang kerumah siwon memang berniat bertemu dengan donghae dengan alasan ingin mengembalikan baju donghae yang terbawa olehnya.

pada saat yunho akan pulang donghae menatap sendu, karna tak ada lagi yang menemaninya, setidaknya mereka berbicara sedikit tadi.

entah mengapa yunho merasakan jika donghae sedang kesepian, jadi entah mengapa dia memiliki ide untuk mengajak donghae bermain.

dan entah mengapa pula dia mengajak donghae bermain ditaman hiburan seperti ini. jadi disinilah yunho mengajak donghae.

wajah donghae yang berbinar membuat yunho bahagia, "kau baru pertama kesini?"

donghae menganggukkan wajahnya semangat, "aku hanya melihatnya ditv, aku ingin sekali kesini, tapi.. tidak bisa" wajahnya berubah keru, dan cepat merubahnya sebelum yunho melihat, dia memutar wajahnya keseluruh wahana permainan, disini tidak terlalu ramai, karna ini bukan hari libur.

"mengapa tak bisa?"

donghae tersenyum, dan menggeleng.

"kau mau mencoba?"

"bolehkah?"

"tentu, apapun yang kau mau kau tinggal tunjuk saja, kita akan bermain disana"

"baiklah, jika begitu aku ingin kesana " donghae menunjuk komedi putar.

"okee.. " yunho menunjukkan isyarat oke dengan jari nya.

dan dengan semangat donghae menarik tangan yunho untuk menuju permainan yang dia inginkan.

dia terlihat bahagia hari ini, entah mengapa bersama yunho membuat dia nyaman dan merasakan bahagia.

.
hari ini leeteuk sedang berkumpul bersama temannya, seperti biasa, mereka akan mengadakan perkumpulan untuk mendiskusikan tentang pelelangan yang hasilnya akan diberikan untuk amal.

mereka sedang berbicara, tentang tema apa yang nanti akan mereka adakan, mencari dibeberapa sumber, internet dan beberapa sumber lainnya.

entah mengapa salah satu dari mereka membuka majalah, hingga sang ibu yang terlihat cantik bertanya padanya "mengapa kau membuka majalah nyonya oh, apa kita bisa mendapat ispirasi dari sana?"

nyonya oh yang membuka majalah mengalihkan perhatiannya pada nyonya shin yang tadi bertanya padanya "inspirasi bisa datang dari mana saja nyonya shin, termasuk dimajalah"

"kau bukan melihat produk bermerek yang mereka pasang, nyonya oh"

nyonya oh hanya tersenyum anggun dan melanjutkan pencariannya, hingga majalah itu berhenti pada satu model yang sedang menunjukan fose anggun, dan seolah memperkenalkan dompet yang dipegangnya.

"wahh kau lihat, dompet ini sangat indah" nyonya oh berkata, dan meletakkan majalah itu dimeja, untuk menunjukkan foto itu pada temannya.

tiga wanita disana terlihat tertarik dan melihat kemajalah termasuk leeteuk yang tadi sedang sibuk dengan internet bersama rekannya.

"ahh.. aku mengenal wanita ini" kata leeteuk, dia seolah bangga.

"kau mengenalnya, bukankah dia anak dari tuan lee?" kali ini nyonya shin yang bicara.

leeteuk terlihat tertarik "kau mengenalnya?"

"tentu, aku kenal akrab dengan ibunya, lalu bagaimana kau mengenal mereka nyonya choi?"

"ohh dulu tuan lee tetangga saya, bahkan sekarang anaknya tinggal dirumah saya"

"yona ada dirumah anda ?" kali ini nyonya oh yang bertanya dia menunjuk foto yona yang ada dimajalah.

leeteuk tersnyum "bukan dia, tapi adiknya"

"adiknya?" nyonya shin terlihat bingung, dan merubah wajahnya seolah dia mengingat "maksud anda lee donghae"

"anda mengenalnya juga?"

"tentu saja saya mengenalnya" nyonya shin menegakkan duduknya "dari yang aku dengar, ibu dari lee donghae itu merebut tuan lee dari nyonya victoria lee"

"apa maksud anda?"

nyonya shin sedikit menyeringai dan dia mulai menceritakan semua kepada leeteuk, yang lain mendengar antusias, mereka justru terkejut dengan cerita nyonya shin.

.

siwon terlihat lelah, dia baru pulang bekerja, sudah tiga hari ini dia harus berada dijeju untuk mengatasi cabang perusahaan yang ada disana, dia ingat dia belum sempat berpamitan pada donghae, jadi ketika dia pulang dia berniat mencari donghae dan memberikan oleh oleh yang dia bawa.

entah mengapa setiap melihat barang yang menggemaskan dia ingin memberikannya pada donghae, dia memberikan switer biru pada donghae, switer yang lucu dan pasti sangat menggemaskan jika donghae memakainya, dia jadi tersenyum sendiri ketika membayangkan donghae memakainya.

mengingat pakaian, dia jadi ingat jika pakaian yang waktu itu dia belikan belum sempat donghae memakainya, sedikit kesal karna ternyata donghae lebih memilih pergi bersama yunho bukan dengannya, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa dengan itu.

siwon memberikan barangnya pada maid yang menyambutnya, ini baru jam 6 sore ketika pulang, entah mengapa dia ingin cepat pulang dan bertemu donghae.

"donghae dimana ajuma?" siwon mengganti sepatu dengan sandal rumah yang diberikah oleh maidnya

"nona lee tidak ada dirumah tuan"

siwon mengkerutkan keningnya "kemana? pergi bersama umma?"

"tidak tuan, tadi nona lee pergi bersama tuan jung "

"jung yunho? dia kesini?"

maid itu menganggukan kepalanya, entah mengapa siwon tak suka mendengarnya, "baiklah, siapkan aku air panas aku ingin mandi"

"baik tuan"

siwon memasuki kamarnya dan merebahkan badannya dikasur, menutup wajahnya dengan salah satu lengannya, "kemana mereka pergi?" entah mengapa siwon menjadi cemas, ingatan tentang pesta itu mengganggunya, dimana yunho juga memberikanperhatian lebih pada donghae, dan jujur.. dia tak menyukainya, bahkan mereka harus sedikit berdebat untuk siapa yang mengantar donghae pulang,, bersyukur jaejong menengahi hingga donghae bisa pulang bersamanya.

suara deringan ponsel mengagetkannya, dia mengambil mengambil ponsel yang dia letakkan dinakas.

melihat siapa yang menelpon 'my kimbumie'

siwon tersenyum dan mengangkatnya "hallo"

.

ini sudah malam ketika mobil yunho berhenti didepan rumah siwon, dan tersenyum melihat donghae yang terlihat sangat pulas tertidur, mulutnya menganga dan itu benar benar lucu dimata yunho "bagaimana wanita bisa tidur seperti ini hehe "yunho terkekeh.

yunho berniat membangunkan donghae, tapi diurungkannya, entah menapa dia menyukai cara tidur donghae dan wajah donghae yang terlihat lugu ketika tertidur, keningnya mengkerut ketika ada satu tetes air mata yang jatuh kepipi donghae.
air mata itu keluar dari mata donghae yang terpejam, donghae sedikit terisak dan yunho terkejut karnanya.
jadi secara perlahan tangannya terangkat menyentuh pipi donghae dan menghapus air mata donghae.

perlahan isakan itu tak terdengar lagi ketika yunho membelai lembut wajah donghae.
"mimpi apa yang membuatmu bersedih donghae?"
yunho bertanya, kepada donghae yang tertidur, semakin lama dia mengelus entah mengapa wajahnya terus mendekat kearah donghae, ada sesuatu yang membuat dia menyayangi wanita yang kini tertidur.

dia berbisik ditelinga donghae, "mimpi buruk, mimpi buruk pergilah.. jangan ganggu tidur donghae" yunho tersenyum dan mengecup pipi donghae.

tok tok tok

suara ketukan kaca mobilnya mengagetkannya, dia tersenyum canggung ketika melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya.

perlahan dia membuka kaca, dan melihat jelas wanita paruh baya yang kini sedang tersenyum padanya.

"leeteuk ajuma"

.
mobil hitam mewah itu sedang berjalan dijalan raya yang terlihat ramai, wanita paruh baya yang masih cantik duduk dibangku belakang, duduk dengan anggun seolah memberitahukan jika dia bukanlah wanita biasa, wanita pintar dan cantik dari kalangan atas dan elit, wanita itu sedang memegang ponsel yang diletakkan ditelnganya.

"aku sudah mengatakannya pada nyonya choi, sesuai yang kau inginkan nyonya lee "

"..."

"hahaha.. tetang saja, aku tau bagaimana jika aku diposisimu waktu itu"

"..."

"kau terlalu baik padanya, jika aku, mungkin aku sudah membuang anak itu sejak dulu"

.

.
.

"jadi... karna kau tak bisa mendapakan siwon, sekarag kau beralih kepada yunho... " leeteuk mendengus mengejek "lucu sekali, kau kira dengan begitu mudah kau mendapatkannya, jangan bermimpi,.. wanita seperti mu tidak akan pantas untuk mereka"

donghae menundukkan wajahnya, dia tak berani menatap wajah leeteuk yang menatapnya dengan pandangan menjijikan, setelah yunho membangunkannya ketika dimobil, dia kaget jika leeteuk sudah menunggunya, dia keluar dari mobil yunho dan setelah yunho berpamitan, yunho pulang, dan dia lihat leeteuk masih tersenyum ketika yunho berpamitan.

tapi ketika yunho menghilang wajahnya berubah menjadi menakutkan dan kata kata itu langsung keluar dari mulut leeteuk.

"ku harap kau bisa segera untuk pergi dari rumah ku, dan jangan pernah bermimpi untuk menjadi menantu ku.. ahh dan satu lagi, ku rasa kau masih memiliki harga diri untuk tidak kembali kepada keluarga lee dan menjadi parasit untuk keluarga mereka"

leeteuk masuk kedalam mobil yang memang terparkir didekatnya, mobil itu masuk kedalam pintu gerbang yang terbuka, memasuki halaman luas untuk bisa sampai keruamah mewah keluarga choi. donghae masih terdiam, dia memegang erat boneka ikan yang dipeluknya, boneka yang dibelikan yunho untuknya tadi, meredakan kesedihannya, entah mengapa leeteuk yang lembut berubah menjadi menakutkan dan berkata kasar seperti itu padanya.

.

donghae memasuki halaman ruamah dengan lesu, dia masih menundukkan wajahnya dan duduk diatas rerumputan dihalaman luas rumah ini, taman ini indah, maid disni sungguh apik menjaganya, bunga bunga tumbuh subur donghae jadi tersenyum melihatnya, menaikan wajhnya dia menatap langit lama, bintang sudah tak terlihat malam ini, udara pun terasa dingin, seolah terbiasa dengan cuaca dingin donghae hanya diam sambil memeluk boneka pemberian yunho.

"apa yang harus aku lakukan kedepannya?" donghae menghela nafas, bahkan ada kumpulan asap yang keluar dari mulutnya

donghae melihatnya kemudian terkekeh sendiri, hal kecil yang membuatnya mudah tertawa dan menghilangkan kepenatan sejenak, donghae mencoba meniupkan lagi dan lagi, udar dingin membuatnya mengeluarkan asap dari mulutnya.

sesatu yang hangat menutupi bahunya, donghae mendongkan wajahnya dan meliat siwon sedang tersenyum padanya, donghae menatap polos, dan menyentuh sesuatu yang menutupi bahunya, sampai siwon duduk disampingnya.
"kau menyukainya?"

tatapan donghae terlihat bertanya, siwon memperbaiki switer yang dia letakkan dibahu donghae.
"aku melihat ini ditoko yang berada dipulau jeju, entah mengapa ku rasa kau akan cocok ketika menggunakannya, ku harap kau manyukainya"

donghae tersenyum dan menganggukan wajahnya, dari matanya penuh dengan kerinduan, siwon yang sudah beberapa hari ini tidak dia temui kini ada dihadapannya.

"udara sangat dingin, apa yang kau lakukan disini?"

donghae memalingkan wajahnya dari siwon, dia memandang taman bunga yang ada dihadapannya. "bunga bunga ini sangat indah"

siwon ikut melihat bunga mawar dan bunga lili yang tertanam indah disana "hmm.. ummaku yang memilihnya, umma sangat menyukai bunga"

mereka terdiam, kesunyian, udara makin terasa dingin, donghae masih betah menatap taman yang ada dihadapannya.
sedangkan siwon, sudah berkali kali merapatkan switer yang dia gunakan "kau tidak merasa dingin?" pertanyaan siwon menjadi pemecah kesunyian setelahnya.

donghae menggeleng "aku sudah terbiasa dengan udara dingin" kemudian tersenyum.

senyum itu indah, dibawah cahaya yang redup, siwon bisa melihatnya dan ... terpana.

parlahan ada sesuatu yang menarik siwon untuk mendekatkan wajahnya kearah donghae, donghae merasakan nafas hangat sampai kewajahnya langsung menatap siwon, wajah siwon begitu dekat,.. sangat dekat.

donghae merasakannya.. nafas siwon yang hangat, dan perlahan donghae memejamkan wajahnya, sampai...

sentuhan terasa dibibirnya, sesuatu yang lembut dan membuat sesuatu bergetar pada dirinya, sesuatu yang indah dan begitu nikmat.
bibir siwon menempel pada bibirnya, donghae tidak tau mengapa siwon menempelkan bibirnya pada bibirnya, tapi dia sungguh menyukainya, perlahan siwon menggerakkan bibirnya, dan donghae hanya diam menikmati.

siwon ... entah apa yang dia lakukan sekarang, yang dia tau, dia menyukai apa yang sekarang dia lakukan, dia menggerakkan bibirnya dan mengemut bibir donghae secara bergantian, atas dan bawah, dia tau donghae tak melukan apa apa, jadi pelahan dia mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh kedua pipi donghae dan menggigit ringan bibir donghae.

"ahh.. " desahan donghae yang membuat dirinya membuka sedikit mulutnya, dan membuat dia merasakan sesuatu yang basah masuk kedalam mulutnya dan membelit lidahnya.

siwon menahan kepala donghae agar donghae tetap pada posisi yang dia inginkan, ciuman itu terasa nikmat donghae yang pertama kali ini merasakan tak bisa melakukan apapun, hanya menerima dan menikmati perlakuan siwon.

menyatukan lidah, mengemut bibir dan mengabsen gigi donghae.. entah mengapa itu sungguh nikmat membuat siwon terus ingin memperdalam ciuman dan mencari kenikmatan disana.

"eunghhmmm .." donghae mendesah, siwon semakin dalam memabukkan. saliva sudah membasahi dagu donghae, siwon menurunkan ciumannya keleher donghae, secara otomatis donghae mengangkat wajahnya, tangan donghae makin kencang mermas boneka yang dipegangnya.

posisi duduk mereka membuat donghae lemas, siwon seolah tak sadar dia menjatuhkan donghae pada rerumputan dan kembali mencium bibir donghae.

tangan siwon membuang boneka yang dipegang donghae dan memposisikan tangan donghae pada bahunya.

donghae hanya mengikuti alur siwon, seolah mereka berdua terhipnotis, donghae mendesah ketika siwon menyentuh bagian tubuhnya.
"euhmmm.. "
siwo menindihnya, ditaman yang sunyi ini dengan cahaya lampu yang tak terlalu terang, mereka menikmati percumbuan mereka yang semakin panas.

"ahh... " donghae mendesah ketika tangan siwon menyentuh dadanya.

mendengar desahan donghae siwon menjadi lupa diri, desahan itu begitu nikmat didengarnya, membuat dia ingin terus melakukannya sampai ...

kriiinggg...

sura ponsel mengejutkannya..
dia tersadar dengan apa yang dia lakukan sekarang, posisinya sekarang membuat dia sedikit terkejut, dia melihat donghae sedang mengatur nafasnya, wajah donghae yang seperti itu.. membuatnya.. ingin melakukannya lagi.

tapi dia cukup waras untuk tidak melakukan lebih, suara ponsel masih mengganggunya.

"maafkan aku" masih dalam posisi yang sama, siwon berada diatas donghae menumpukkan kedua tangganya, entahlah dia enggan untuk bangun, sangat menyukai wajah donghae yang mengatur nafas.

"haa haaa.. apaa.. yaang baruu kitaa lakukan " suara donghae terdengar putus putus, dia memegang dadanya.

mata mereka kembali bertemu, donghae masih mengatur nafas dan itu menghipnotis siwon untuk menurunkan wajahnya dan mencium donghae lagi.

tapi...

kriiiingg...

suara ponsel itu mengganggu konsentrasinya, jadi yang dia lakukan hanya memeluk donghae, dan memejamkan matanya.

donghae merasa tertindih, membalas pelukan siwon 'hangat fikirnya'

"apa itu suara ponselmu?"

"hm?" pertanyaan siwon mengagetkannya.

siwon menghela nafas dan mendudukan dirinya, dia mentap donghae dan membantu donghae untuk duduk.

dan tersenyum "ponselmu berbunyi"

donghae tersenyum canggung, dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku yang ada dibajunya.

siwon mengkerutkan keningnya melihat ponsel donghae yang ... tertinggal jaman.

"hallo"

"..."

"ahh .. yunho oppa"

Dan nama yang keluar dari mulut donghae, entah mengapa membuat siwon tak menyukainya.

.
.

dibangku penguasa perusahaan besar cho grup terdapat pria paruh baya yang sedang menyandarkan angkuh tubuhnya, didepannya tepat dibalik meja yang ada dihadapannya, terdapat seorang pria tampan yang sedang duduk dibangku dengan setenang mungkin.
"bagaimana penawaran ku, kau menikah dengan anakku, dan tinggalkan istri dan anak mu"

pria yang lebih muda terlihat berfikir "tapi aku menyayangi keluarga saya presedir"

"aku akan memberikan kuasa perusahaan jika kau mau meninggalkan mereka dan menikah dengan anak ku"

"tapi.."

"aku tak suka penolakan lee songhyun, kau adalah pria yang sangat berbakat, sejak awal aku menyukai kinerja mu, jadi terimalah penawaranku" tuan cho menghela nafas "aku tau anakku sedang hamil, tapi apa yang aku berikan padamu, itu sesuai dengan keadaannya sekarang, terimalah penawaranku, dan kau akan hidup dengan kemewahan"

"saya tidak mau meninggalkan keluarga saya yang sangat saya sayangi tuan, bahkan anak kami baru berumur satu tahun"

"kau tau jika kau menolak, keluarga mu akan menerima akibatnya"

lee songhyun diam, dan kemudian menatap lekat tuan cho yang duduk dihadapannya, "baiklah presedir"

"semoga kau bisa ku andalkan"
.

"bukankah keluarga cho sangat licik, bahkan keturunannya yang bernama donghae itu, melakukan hal yang sama, dia hanya hidup dengan berfoya foya menghabiskan uang mereka tanpa mau bekerja, dan kalian tau, karna dia tak mendapatkan warisan dari keluarganya, dia selalu mencari pria kaya dan menghabiskan uangnya, bahkan keluarga lee selalu diancam olehnya jika mereka tak memberikan uang padanya" nyonya shin bercerita dengan antusias, menceritakan kebohongan kejadian yang sesungguhnya.

tentu ketiga wanita yang mendengar cerita itu terdengat shok "bagaimana bisa ada keluarga seperti itu?" nyonya park berkata dengan sedikit ngeri.

"tapi dari yang saya lihat, dia tidak seperti itu nyonya shim" kata leeteuk, dia sungguh tak percaya menerima kenyataan, donghae bukan anak tuan lee dan kenyataan tentang donghae wanita yang nakal.

"kau pasti tertipu dengan wajahnya yang lugu, awal bertemu pun aku sama, aku tertipu dengan wajahnya, tapi setelah mengenalnya, dia ternyata adalah wanita penggoda dan sangat licik"

leeteuk jadi mengelus dada, dia merasa cemas dan salah membawa donghae, tapi dia mencoba untuk tenang dan tidak mudah percaya "mereka terlihat menyayangi donghae, dan bahkan mereka langsung menyetujui ketika aku meminta donghae untuk menikahi anakku, bukankah mereka sama saja mempermainkanku?"

nyonya shin terlihat tanang dan bersedih "mereka memang menyayangi donghae oleh karena itu mereka merwatnya dengan baik, tapi kenyataan donghae selalu berulah dan susah dikendalikan, nyonya lee menceritakan pada saya, jika donghae dibawa kekorea oleh keluarga kaya, dia ingin menjelaskan tentang kelakuan donghae, tapi donghae keburu mengancam mereka, jadi mereka tak bisa melakukan apapun, donghae berniat untuk mengambil hati anaknya untuk bisa menikmati uangnya, saya tidak menyangka jika itu keluarga anda nyonya choi"

leeteuk terdiam mencerna perkataan nyonya shim yang panjang, nyonya ohh mencoba menangkan "kau harus bersabar, dan segera kau usir dirinya, sebelum dia menghancurkan kehidupan anakmu nyonya choi"

leeteuk sungguh khawatir, dia sungguh membenci wanita penggoda dan wanita matere yang mendekati anaknya hanya karna uang.

.
leetuek terihat cemas dengan apa yang baru dia ceritakan pada suaminya, mereka sedang berada dikasur ketika leeteuk bercerita dengan mimik yang tak percaya.

kangin justru kaget mendengarnya, bagaimana bisa donghae yang terlihat lugu melakukan hal semenjijikan itu "kau yakin mereka tidak salah orang sayang"

"tentu tidak, donghae yang mereka ceritakan adalah donghae yang sekarang ada dirumah kita, aku sungguh khawatir jika donghae menghancurkan anak kita"

kangin mencoba menengkan, dia memeluk leeteuk "kau tenanglah sayang"

"aku tak bisa tenang, aku harus melakukan sesuatu sebelum wanita itu menggoda anakku"

"kita fikirkan yang terbaik, kita tak boleh mengusirnya begitu saja, harus ada alasan yang jelas atau dia harus pergi dengan keinginananya sendiri"

leeteuk kembali terlihat sedih"lalu apa yang harus aku lakukan suami ku?"

"tenanglah aku akan memikirkannya".

.
.

tbc.