Kyuhyun merenggut lengan atasnya. Mencengkeramnya cukup kuat. Dia berdiri di depan jendela kamar Changmin, kacanya berembun tebal. Iris matanya menatap sayu pada keadaan di luar. Sedang telinganya menangkap suara alam itu.
"Kyu, aku sudah selesai. Ayo berangkat." seru Changmin menginteruksi.
Tidak ada pergerakan dari Kyuhyun.
Changmin mendekat, menepuk pelan bahu Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dengan wajah yang membuat hati Changmin mencelos. "Kau butuh earphone?"
Kyuhyun menunduk menggeleng. "Aku tidak ingin keluar. Tapi harus." lirihnya.
"Tidak apa." Changmin berjalan ke meja belajarnya. Mengambil sesuatu di laci meja. Kembali pada Kyuhyun, dia memasangkan sesuatu di telinga Kyuhyun. "Putar saja musiknya. Begitu sampai di sekolah, hujan tidak akan mempengaruhimu. Kau berada di gedung dalam. Kau sudah biasa melakukan ini, bukan?"
Kyuhyun mengangguk. Menghela nafas dalam-dalam.
Changmin menatap Kyuhyun yang mengenakan jas hujan miliknya, sedangkan dia sendiri mengenakan jas hujan milik sang ayah. Dahinya sedikit berkernyit. 'Kenapa ketakutannya semakin parah?' disisi lain dia merutuki musim ini. Kenapa rasanya musim hujan yang hanya berselang beberapa minggu ini terasa sangat lama?
'Semoga tidak ada badai.' do'a Changmin dalam hati.
Keduanya berjalan memasuki garasi. Tidak berapa lama motor Changmin keluar membelah hujan. Kyuhyun memeluk pinggang Changmin, memejamkan mata berkonsentrasi pada lagu yang sedang memutar dari MD.
0
Kyuhyun sampai dengan selamat. Namun Changmin merasa khawatir dengan rona pucatnya sehingga menyarankan agar Kyuhyun menyamankan diri sebentar di ruang UKS. Kyuhyun menolak dengan tegas, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Dia masih bisa mengatasi keadaan itu. Changmin akhirnya melepasnya dengan sedikit tidak rela.
Baru saja satu langkah memasuki kelas, si ketua kelas, memberitahunya bahwa wali kelas mereka memanggilnya ke ruangannya. Kyuhyun mendesah halus. Melangkah ke kursinya untuk meletakkan tas.
"Jadi dia sudah kembali." gumam Kyuhyun lirih.
Kyuhyun pikir sms semalam dikirim orang itu dari seberang kota sana. Rupanya wali kelasnya sudah kembali. Alarm bersiap untuknya. Siap diomeli. Siap diceramahi. Siap untuk recokan sang guru yang kadang membuatnya merasa memiliki orang tua. Membuatnya tanpa sadar tersenyum kecil.
Sampai di depan ruangan, Kyuhyun mengetuk pintunya. Masuk setelah mendapat perintah dari dalam.
Leeteuk memangku kedua tangan di atas meja kerja. Menyambut Kyuhyun dengan seulas senyum yang selalu dikagumi para murid perempuan. Yang membuat Kyuhyun justru aneh dengn sikap tenangnya.
"Duduklah, Kyuhyun."
Tanpa banyak cakap Kyuhyun menurut untuk menempati kursi di depan meja Leeteuk. Saat dirinya menyamankan diri di kursi kayu tersebut, Leeteuk justru beranjak dari kursinya. Memutari meja sebelah kiri dan berhenti di sebelah Kyuhyun, yang untuk sejenak tidak menyangka pergerakan sang guru.
Leeteuk menangkap tangan kiri muridnya, melepas blazer hitam tersebut dengan satu gerakan. "Apa yang anda lakukan?" tanya Kyuhyun terkejut, mencoba menarik tangannya saat Leeteuk berusaha membuka kancing lengannya. Leeteuk menahannya dengan cukup kuat.
Kyuhyun memalingkan wajah, memilih menatap tembok putih ruangan, daripada melihat tingkah absurd sang guru yang sedang meneliti permukaan kulitnya, setelah berhasil menyingsing kain lengannya tinggi-tinggi.
"Syukurlah." Leeteuk tersenyum kecil. Merapikan kembali lengan kemeja Kyuhyun kanan dan kiri, tidak lupa memakaiankan kembali blazernya. Namun baru saja Leeteuk mengangkat blazernya, dengan sedikit kasar Kyuhyun merampas blazer tersebut.
Leeteuk tertawa geli melihat tatapan tajam Kyuhyun. Memilih mengabaikannya dan kembali ke kursinya sendiri. mengambil sebuah botol kecil dan diletakkan tepat di depan Kyuhyun.
Setelah mengenakan kembali blazernya, Kyuhyun menatap semakin jengkel sang wali kelas. "Kau bilang obat-obatan akan merusak ginjalku. Begitu aku berhenti mengkonsumsinya, justru kau dan dokter itu mengejarku untuk memakan ini." hilang sudah sopan santunnya.
Leeteuk menggeleng atas sikap kurang ajar itu. "Kyuhyun-ah, murid genius sekolah ini, kalau kau meminumnya seperti tahun kemarin dan entah apa obat tidak jelas itu, dokter seluruh negeri juga akan berpendapat sama denganku. Lain hal jika ini diresepkan dan dianjurkan langsung dari dokter." masih tersenyum, Leeteuk sangat gemas dengan bocah dihadapannya. "Ambil dan konsumsi sesuai aturan."
Kyuhyun menghela nafas berat. Memandang botol obat yang tak kunjung di ambilnya. "Kenapa aku tidak mati saat itu saja."
"Kau ingin kupukul?!"
"Kau ingin mengirimku ke rumah sakit jiwa, itu yang benar." Kyuhyun menatap kedua mata sang guru. Seolah menekankan apa yang baru saja diucapkan.
Keramahan di wajah Leeteuk memudar. Guru 35 tahun itu memutus kontak mata yang terasa menusuknya. Apa yang dikatakan pemuda di hadapannya pernah terlintas dulu, dulu saat awal-awal dirinya mengetahui gangguan yang dialami muridnya. "Bukan Rumah Sakit Jiwa, Kyuhyun-ah. Psikiater. Tapi melihatmu sekarang kurasa itu tidak perlu?"
Kyuhyun mengedikkan bahu acuh. Menatap botol obat yang sangat tidak dia suka. "Aku tidak akan sembuh hanya dengan obat. Beri aku waktu. Akan kuputuskan tentang operasi itu."
Leeteuk mengangkat kepalanya. Menatap Kyuhyun yang hendak beranjak. "Ambil itu."
Kyuhyun mendesah keras. Berat hati menyambar obat yang dipaksakan kepadanya. Dia bisa menolak Hangeng tapi sangat sulit menolak Leeteuk. Keras kepalanya sangat tidak bisa dibantah. "Kau sudah akan pergi? Masih ada waktu."
"Saya sudah cukup mendengar anda, songsaenim. Permisi."
Leeteuk terkikik kecil. "Jangan pernah melupakanku, Kyunie. Kau bisa mengeluhkan apapun padaku. Bahkan membicarakan hal yang tidak perlu sekalipun. Aku akan selalu menerimamu."
Kyuhyun berhenti di depan pintu. Tertegun mendengar kalimat yang membuatnya merasakan sesuatu dalam hatinya bergejolak. Kenapa harus ada orang yang sebaik ini dan begitu peduli kepadanya? Kenapa bukan keluarganya? Ayahnya, yang sangat dia inginkan, misalnya. Kenapa bukan beliau?
"Jangan terlalu mengkhawatirkanku, saem."
Pintu ruang Leeteuk kembali ditutup sempurna. Setelah Kyuhyun pergi menyisakan si guru yang termenung di kursinya. Merutuki kalimat terakhir Kyuhyun. Karena bagaimana dia bisa tidak peduli pada bocah yang pernah hampir mati di depan matanya. Juga bocah yang menggila di hadapannya. Bagaimana dia bisa mengabaikannya, sekalipun dulu dia sangat ingin tidak ikut campur.
Leeteuk menyandarkan punggung pada sandaran kursi, menengadahkan kepala tanpa niat melihat plavon ruangan. Menutup mata. Pemandangan itu muncul kembali sebagai ingatan.
Hari dimana dia merasa sangat malas dan ingin tidur seharian, namun tidak di ruangannya, membawanya melangkah pergi ke ujung tangga. Berniat mengasingkan diri di atap sekolah. Ada spot teduh dan nyaman untuk berdiam diri. Namun apa yang dia temukan? Bocah tahun pertama yang berniat bunuh diri. Bersiap melompat di balik pagar pembatas. Sedikit saja, jika dia melewatkan satu detiknya dia tidak akan sempat menyambar lengan bocah tersebut.
Leeteuk masih ingat bagaimana dirinya mengumpat bahkan ketika masih mempertahankan berat tubuh menggelantung itu agar tidak terlepas dari genggamannya. Bocah itu juga tidak membalas cengkeramannya. Mengabaikan dirinya yang berusaha mati-matian menariknya kembali. Memandangnya seolah siap mati dan tidak ingin ditolong.
Kenapa?
Kenapa?
Sisi hatinya yang lembut merasa terusik oleh sorot mata itu. Keputus asaan. Penderitaan. Luka yang begitu dalam. Mata yang kosong tanpa gairah hidup.
Bocah itu bahkan tertawa begitu keras seolah mengejeknya yang telah berhasil menyelamatkan dirinya dari ambang kematian. Namun tidak. Bocah itu menertawakan diri sendiri. Mengumpat dan memukuli dadanya seolah nyeri disana adalah sebuah penghalang. Bocah itu meronta, meminta lepas dari segala hal di dunia. Memutuskan untuk mati sebagai jalan keluar. Namun dirinya menggagalkan langkah itu.
Tapi kenapa bukan dirinya yang dimaki?
Leeteuk hanya bisa menatap diam bocah dihadapannya. Yang duduk dengan bahu bergetar dan suara nafas memburu pasca menggila. Wajah itu menunduk dalam, tidak bergerak.
'Matilah ditempatmu bukan disini. Pengecut sepertimu,' suaranya tertelan begitu saja saat wajah itu mendongak. Menatapnya dengan mata merah basah. Bibir keringnya bergetar, juga matanya yang sayu serta hampa. Hingga Leeteuk menelan kembali apa yang ingin diucapkannya.
Belum pernah dirinya melihat kehampaan di mata seseorang yang begitu dalam. Seolah ada lubang tanpa dasar disana. Mengerikan dan menyakitkan. Dia berharap tidak bertemu lagi dengan bocah itu. Namun entah takdir atau apa, hari berhujan di bulan Juli satu tahun lalu, ketika dia berada di jalan pulang tengah malam. Tidak sengaja melihat bocah itu berkeliaran dengan baju selembar yang tentunya menyiksa tubuhnya. Tubuh kurus yang nampak rapuh tanpa pelindung diguyur hujan tanpa ampun, siapapun akan mengira dirinya gelandangan.
Leeteuk menghadapi dilema, dimana dirinya yang tidak suka perduli dengan urusan orang lain dan dorongan kuat yang entah dari mana berasal. Dengan menggeram dia menghentikan mobil dan berlari menerobos hujan. Hanya demi menarik bocah gila itu dan memasukkannya ke dalam mobil. Membawanya ke kediamannya karena tidak satupun pertanyaannya yang digubris si bocah.
Dan apa yang dia temukan saat pagi menjelang, hampir membuat jantungnya meloncat keluar. Bocah itu melukai dirinya sendiri di dalam kamar mandi miliknya, dengan air hangat mengucur yang berubah warna menjadi merah begitu bergabung dengan darah di lantai. Leeteuk murka, tentu saja. Namun lagi-lagi dia hanya bisa menggeram marah saat gelapnya lubang dalam kedua manik itu menatapnya.
Sejak saat itu Leeteuk mendapati dirinya yang sudah melangkah jauh. Dia tidak bisa melepas bocah itu. Tidak jika dua kali keburukan terjadi di depan matanya. Dia selalu mengawasinya. Mengajaknya bicara di saat waktu-waktu luang. Mencari semua informasi yang sekiranya dia perlukan. Bukan hal mudah, namun dirinya juga tidak ingin menyerah. Hingga dia mendapatkan satu kenyataan, Kyuhyun anak yang begitu malang.
0oo0
Prak!
Kyuhyun menatap marah pada lelaki di hdaapannya. Pelaku yang telah membuang barang miliknya.
'Apa yang kau lakukan?'
'Mau sampai kapan kau meminum itu?! Jika berniat mati sekali lagi, aku bersumpah akan mengurungmu di rumah sakit jiwa, Kim Kyuhyun!'
'Aku tidak bisa tanpa itu, brengsek! Aku ketakutan, aku sendirian, dan aku hampir gila dengan semua ini! Dan kau membuang semua obatku!' Kyuhyun meraung tidak terkendali. Kepada Leeteuk dia bisa memaki dan bertindak kasar.
'Kau memang sudah gila! Lihat dirimu yang bahkan mengabaikan jantungmu dan terus menelan pil sialan itu!'
Kyuhyun meraih kerah lelaki dihadapannya, menatapnya dengan nyalang. 'Kau tahu aku gila. Aku depresi dan hanya obat itu yang bisa menenangkanku. Jika kau punya solusi lebih baik, kenapa tidak kau katakan saja. Atau kau memang menungguku overdosis, ha?!'
Leeteuk merubah sorot matanya lebih lembut. Sejujurnya dia juga kesulitan menangani bocah stress dihadapannya. 'Kau lebih tahu apa yang bisa menenangkan dirimu. Bahkan seribu psikiaterpun belum tentu bisa mengangkat lukamu. Aku hanya bisa memberikan diriku untuk menguatkanmu, Kyuhyun.'
Kyuhyun menggenggam obat di tangannya dengan kuat. Obat berbeda dari obat yang dikonsumsinya dulu. Ini akan menguatkan jantungnya. Namun obat yang dulu untuk menekan depresinya. Dia mana tahu tubuhnya menyimpan penyakit seperti itu? Bahkan dia merasa dia baik-baik saja, nyeri didadanya hanya dianggapnya rasa sakit karena beban hidupnya. Hingga dokter yang pernah dia datangi mengatakan hal buruk tentang jantungnya.
Entah apa istilah yang mereka pakai. Dia hanya tahu bahwa jantungnya sakit. Belum terlalu berbahaya, masih bisa ditekan dengan obat. Namun obat ditebus dengan uang. Dia tidak punya banyak uang untuk menebus obat rutin. Bahkan sering tidak menelan obat demi penghematan. Selama dia merasa tubuhnya tidak apa-apa, maka artinya dia masih baik-baik saja.
Apa yang salah dengan itu? Dia bukan dokter yang bisa tahu isi tubuh bagian dalamnya atau melihat seberapa berat penyakitnya. Dia hanya tahu bahwa dia masih membutuhkan uang untuk hidup dan terus hidup. Gaji yang tidak besar, hidup seorang diri, dan memenuhi kebutuhan sendiri dengan tangan sendiri, adalah keterbatasan agar tidak mudah mengeluarkan uang. Sekalipun untuk hal sepenting macam obat. Orang miskin cenderung menunggu sekarat baru akan mengeluarkan uang adalah hal biasa. Dirinya juga seperti itu.
Lalu kenapa bahkan Leeteuk, atau dokter berketurunan cina itu memaksanya untuk mengambil obat? Sekalipun Leeteuk akan senang hati memberinya secara gratis, tapi apakah iya dia harus memakan kebaikan orang lain yang merupakan perwujudan dari kasihan, terus menerus? Hatinya menolak. Dia bisa menerima kebaikan lain namun bukan kebaikan yang seperti ini.
0o0
Hujan berhenti namun langit tetap gelap. Kyuhyun beralih melihat ke depan. Seorang guru pria sedang menerangkan di depan, sebuah penggaris kayu di tangan. Mulutnya terus berbicara, sesekali mengetuk tulisan di papan tulis dengan penggarisnya. Kyuhyun memperhatikan namun tidak sungguh-sungguh mennagkap apa yang diucapkan sang guru. Telinganya berdenging dan dadanya sedikit nyeri. Namun tubuhnya masih baik-baik saja.
Kyuhyun menghela nafas lega saat bel istirahat berdering. Seketika wajah-wajah suntuk dan tegang itu berubah ceria. Dengan semangat mereka menutup buku masing-masing. Begitu guru pergi, semua murid segera berhambur keluar. Tentu mereka kelaparan dan segera menuju ke kantin untuk mendapat makan siang.
Kyuhyun membereskan mejanya dengan tenang. Fokusnya berada pada denyut nyeri di dadanya. Dia mengatur nafasnya. Biasanya ini akan berhasil dalam beberapa detik.
Mejanya sudah bersih, namun Kyuhyun tidak juga beranjak. Dia menunggu nyerinya lenyap. Dia memiliki obatnya, kenapa tidak segera diambil dan diminumnya? Jawabannya jelas. Dia tidak ingin bergantung pada obat. Dia percaya semakin dia bergantung pada obat semakin manja penyakitnya.
Kyuhyun terlalu meremehkan.
"Kyuhyun-ah!"
Kyuhyun menoleh. Changmin berdiri di pintu tidak berniat untuk masuk hingga Kyuhyun beranjak dari kursinya. "Kantin?" tanya atau tawar Kyuhyun.
"Maaf. Aku harus ke lapangan. Aku juga tidak bisa mengantarmu pulang nanti." Changmin nampak sangat menyesal.
Kyuhyun tersenyum kecil. Dia menepuk bahu Changmin. "Aku mengerti."
"Kau yakin?"
Kyuhyun mengangguk. "Sudah, pergi sana."
Changmin masih tidak bergerak.
"Ada apa lagi?"
"Kau akan pergi ke kantin dan memakan makan siangmu, bukan?"
Kyuhyun mengernyit tidak suka. Changmin selalu berlebihan, itu yang dia pikir. "Bukan hanya karena kau pergi, aku melupakan makan siangku. Cepat pergi. Aku sudah mengusirmu kedua kali."
Changmin tersenyum kecil. Dia mengangguk. "Akan kusempatkan waktu agar bisa mengantarmu ke café, tunggu kabar dariku." katanya sebelum pergi meninggalkan Kyuhyun.
Kyuhyun mendesah. Sikap Changmin membuatnya merasa memiliki seorang kekasih. Changmin itu setia. Selalu membantunya juga selalu menopangnya. Entah wanita mana yang akan beruntung kelak memiliki seorang Changmin.
Kyuhyun berjalan. Tentu saja ke kantin. Dia tidak ingin Changmin khawatir masalah perutnya. Dia juga tahu bahwa dia harus memenuhi kebutuhan pokoknya agar tidak sakit. Jika sakit dia akan rugi. Tidak bisa bekerja, tidak pergi sekolah dan terjebak di dalam kamar sunyi seorang diri. Sangat tidak menyenangkan.
"Kyuhyun-ah."
Kibum menyapa di depan kantin. Kyuhyun cukup terkejut.
"Kibum hyung makan siang disini?"
Kibum mengangguk. Mereka masuk ke kantin bersama. Kyuhyun sedikit bingung saat memesan. Biasanya ada Changmin yang akan melayaninya. Dirinya tinggal duduk tenang menunggu makanan datang. Ternyata cukup menyulitkan juga tidak ada Changmin.
"Kyunie, cari tempat saja. Aku pesankan sesuatu." Kibum menepuk bahunya. Kyuhyun merasa canggung tapi sebelum menolak Kibum sudah lebih dulu merengsek maju untuk memesan.
Kyuhyun memutuskan mencari tempat duduk. Seperti biasa dia mengambil duduk disudut kantin. Tempat yang tepat untuk melihat seluruh sudut kantin. Dari tempatnya dia bisa mengawasi pintu juga. Senyum Kyuhyun merekah kecil melihat sesuatu yang biasa dia lihat. Satu-satunya alasan kuat yang mendorongnya pergi ke kantin adalah ini.
Henry.
Henry duduk bersama Taemin, entah dimana Minho, disalah satu tempat di kantin tersebut. Kyuhyun memperhatikan bagaimana 'adiknya' berinteraksi dengan temannya, saling bercanda dan tertawa bersama. Henry juga terlihat sesekali menyapa beberapa teman lain. Kyuhyun tahu Henry memiliki banyak teman dan dia lega akan hal itu.
"Kau menunggu lama?" Kibum datang membawa dua nampan makanan. Kyuhyun segera meraih satu nampan untuk membantu.
"Maaf Kibum hyung, aku merepotkanmu."
"Tidak."
Kyuhyun tidak memperhatikan sekitar yang mulai berubah. Beberapa anak mulai berbisik-bisik. Dan Kyuhyun masih sibuk dengan makanannya. Kibum disampingnya juga nampak menikmati makanan, namun telinganya dengan jelas mendengar berbagai bisikan penghuni kantin.
Kibum mendesah halus. Dia tidak habis pikir, apanya yang aneh jika dia berada di kantin dan duduk bersebelahan dengan Kyuhyun?
Ah mungkin Kibum lupa image dirinya dimata semua warga sekolah.
Kibum mencoba mengabaikan semuanya. Mengalihkan perhatian pada Kyuhyun yang rupanya tidak terusik oleh perubahan di sekitar, membuat Kibum tersenyum kecil.
"Kau cukup cuek, Kyuhyunie." Kibum memasukkan sepotong ikan ke mulutnya.
Kyuhyun menoleh. "Maksud hyung?"
Kibum balas menoleh. Tersenyum. Dan suara pekikan terdengar. Yang tentu saja berasal dari murid perempuan di kantin ini.
"Ada apa dengan mereka?" Kyuhyun mengalihkan atensinya di seluruh kantin. Tiba-tiba merasa tengkuknya merinding menyadari semua mata sedang terarah ke tempatnya. "Apa kita sudah menarik perhatian?"
Kibum geli melihat Kyuhyun yang innocent. "Sudahlah, abaikan mereka. Makan dengan tenang."
Kyuhyun manyun tidak suka. Memilih menunduk dan mencoba fokus pada apa yang dia makan. Melirik Kibum yang nampak dengan tenang menyantap makan siang. Kyuhyun heran dengan ketenangannya itu. Bagaimana dia bisa setenang itu dengan puluhan pasang mata yang menghujam kearahnya.
Kyuhyun menelan makanannya, terasa menelan batu. Meneguk jusnya sebagai akhir dari acara makan siang yang luar biasa. Benar-benar berbeda dari hari biasanya.
"Kau tidak menghabiskan makananmu?"
Kyuhyun menggeleng. "Aku sudah kenyang, hyung."
Kibum menerima alasan tersebut. "Kau tidak bersama Changmin?"
"Dia ada kegiatan di klub."
"Benar juga. Team mereka akan segera bertanding. Dia pasti sibuk."
Kyuhyun mengangguk. Tanpa sadar matanya menangkap sosok sang adik. Henry sedang menatap ke arahnya juga. Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Bicarapun tidak akan sampai di telinga dengan jarak ini. Kyuhyun menarik sudut-sudut bibirnya, tersenyum pada Henry. Sayang, Henry justru memalingkan wajah. Memutus kontak mata sekaligus menolak Kyuhyun.
Kibum menangkap raut kecewa di wajah Kyuhyun. Kemudian mengalihkan mata pada objek yang dilihatnya.
"Kau ke café' hari ini?"
Kyuhyun mengangguk. "Aku hanya libur di hari Jumat."
"Kenapa di hari itu?"
Kyuhyun hanya tersenyum menanggapi.
"Kibum!"
Keduanya menoleh pada seorang siswa yang tanpa permisi menduduki kursi di seberang meja mereka. Kyuhyun tidak mengenal siswa ini. Dia tinggi dan tampan.
"Apa yang kau lakukan?" Kibum bertanya datar. Kyuhyun mengira mereka bermusuhan.
Siswa itu tertawa. "Haish kau ini." tangannya terjulur mencomot sepotong wortel dari piring Kibum, namun matanya lurus menatap Kyuhyun. "Hei Kyuhyun-ssi apa yang sudah kau lakukan pada Kibum? Dia sangat," siswa ini melirik Kibum dengan senyum liciknya, "bertingkah tidak biasa. Bisa kau ajari aku?"
"E?!" Kyuhyun meladeninya dengan wajah tidak tahu. Tidak tahu maksud pembicaraan ini, juga tidak tahu siapa siswa yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Tutup mulutmu dan pergilah." ucap Kibum lagi dengan dingin.
"Kau lihat!" siswa ini tersenyum jenaka. "Begitulah dia sebenarnya. Dingin dan tidak peduli. Ne Kyuhyun, bagaimana cara kau merubahnya?"
Kyuhyun berkedip menatap siswa yang sepertinya adalah sunbaenya. Dan jelas adalah orang yang mengenal Kibum. Kyuhyun berdehem canggung, sekilas melirik pada Kibum yang nampak tidak peduli namun kesal terlihat dengan dia yang hanya memainkan makanannya dengan sumpit. "Maaf ee.."
"Oh." siswa itu seolah tersadar, mengulurkan tangan cepat, "Teman sekelas, dan satu-satunya sahabat Choi Kibum, Zhou Mi."
Kyuhyun tersentak merasakan bagaimana Zhou Mi menggoyangkan tangannya dengan semangat. Sepertinya dia memang orang yang seperti itu. Kyuhyun tersenyum canggung. "Kim Kyuhyun. Salam kenal sunbaenim."
Zhou Mi tertawa, menepuk bahu Kyuhyun penuh persahabatan. "Jangan canggung. Kau terlihat dekat dengan Kibum, itu berarti aku juga temanmu. Panggillah aku seperti kau memanggil Kibum. Zhou Mi hyung, heum?"
Kyuhyun mengangguk kaku. Kibum masih tidak perduli disebelahnya. Beruntunglah seorang siswi muncul menggaet lengan Zhou Mi ini untuk pergi. Dia tidak menolak. Berpamitan pada Kyuhyun dan Kibum dengan senyum lebarnya. Dan Kyuhyun masih juga canggung menanggapi sunbae satu itu.
"Itu kekasihnya. Baru didapatkannya kemarin."
Kyuhyun menoleh pada Kibum yang buka suara.
"Dia banyak bicara, sikapnya buruk, hobynya berpacaran dan selingkuh. Jangan dekat-dekat dengannya."
"Wae?"
"Karena dia akan mengajarimu mendapatkan seorang wanita dan bersenang-senang ala dia."
"Apa itu buruk?"
Kibum menatap Kyuhyun datar. Kemudian berkedik. Kyuhyun mengambil minumannya dan menenggak cairan orange itu saat mendengar Kibum kembali berkata. "Kesenangan dunia, SEX." sukses membuat Kyuhyun tersedak. Cairan yang harusnya masuk ke lambungnya, mengalir keluar dengan sangat tidak elit.
Kibum menahan senyum geli, menarik tissue di meja dan menyerahkannya pada Kyuhyun. "Seolah kau mendengarnya pertama kali."
"Kupikir yang seperti itu hanya ada di TV." Kyuhyun membersihkan mulutnya mengabaikan Kibum yang menatapnya tidak percaya. Seolah pemuda itu tidak hidup di jaman modern. Atau memang Kyuhyun tidak memperhatikan sekitarnya dan tidak mengetahui pergaulan bebas yang juga ada di sekolah ini.
"Jadi kau hanya harus menjauhi Zhou Mi!" larang Kibum tegas. Dia tidak bisa bayangkan jika Kyuhyun terpengaruh pergaulan bebas Zhou Mi, temannya itu bisa mempengaruhi siapapun, kecuali Kibum tentu saja.
TBC
Monday, August 8, 2016
Thursday,September 8, 2016
Wednesday, September 21, 2016
Akhirnya saya kembali. Semoga masih ditungguin, ya. Selamat membaca.
Maaf tidak bisa balas review satu satu. Saya jadi orang yang gak sabaran beberapa waktu ini dan itu nyebelin sekali, ujung-ujungnya ngehancurin mood. Kalau ada yang mau ditanyain bisa lewat PM. 100% bakalan saya balas kalau PM *dasar pemilih -_-
Thanks to:
ladyelf11.
riritary9.
Younghee.
Phn19.
andnrtnty.
sekochiss.
emon el.
.
annisah563.
KhaCho.
kyuonata.
Kuroi Ilna.
MissBabyKyu.
Annishi692.
auliaMRQ.
Hyunhua.
jihyunelf.
sheehae89.
Atik1125.
Cuttiekyu94.
Awaelfkyu13.
yolyol.
aprilside.
michhazz.
KyuZet97.
sofyanayunita1.
Apriliaa765.
Cho kyunhae.
abelkyu.
angel sparkyu.
Nanakyu.
okaocha.
Leny chan.
yuliyuzumaky.
Ulh913.
vavaifa.
Ai no Est.
maya kyu.
yulianasuka.
.
Songkyurina.
Retnoelf.
Dydy.
Erka.
kyuli99.
AtikahSparkyu.
Miharu Aina.
miniiim.
Rangeralone.
meimeimayra.
Lee Gyu Won.
.
Permenkaret.
PeanutYesung.
Anna505.
rain.
Rahma94.
Choding.
kyunoi.
readlight.
kyuhyunssi.
Yang follow n favorite belum ada list. Mian.
Begitulah list yang bisa saya buat. Kalau ada nama yang belum tercantum bisa protes kepada saya.
Sekali lagi cuma bisa berterima kasih dan mohon maaf sebesar-besarnya gak bisa balas rivew kalian. Yang penting ini ff bisa dilanjut, iyya to? Hehe.
Sekian lah ini sudah panjang. See u saja. Pai pai.
Sima Yu'I
(SY'I)
