Choi Jung Woon pengusaha sukses. Beberapa perusahaannya bergerak di banyak bidang berbeda. Dia juga memegang saham mutlak sebuah Rumah Sakit dan yayasan Pendidikan. Sejak usia muda dia orang yang tekun dan pekerja keras. Dia orang yang mengagumkan dan banyak menerima sanjungan. Dia sempurna, dan masih sempurna di usianya yang tidak lagi muda.

Kehidupan rumah tangganya pun bahagia, meski kehilangan istri begitu cepat, namun dia bisa menjalankan perannya dengan baik. Putra terkecilnya yang dulu sempat terjerat kematianpun bisa selamat dengan keberuntungan.

Hidup seorang Choi Jung Woon sempurna. Namun akhir-akhir ini lelaki yag masih tegap itu sedikit muram. Itu terlihat saat dia sendirian seperti sekarang. Sebuah dosa masa lalu menjerat hatinya sudah sejak lama. Berapa lama? Dia mulai menghitungnya sejak dia kehilangan sekretaris pribadinya. Sudah 16 tahun, atau lebih?

Jung Woon merebahkan kepala, memejamkan mata untuk sejenak. Melepas penat dan pikiran yang mengganggunya. Dosa yang tidak bisa dia hapuskan. Dosa yang dia simpan rapat-rapat. Tidak ada seorangpun yang tahu. Hanya dirinya dan 'dia'.

'Aku seorang yang brengsek.' rutuknya dalam hati.

Dia selalu merasa berdosa jika mengingatnya. Merasa menghianati almarhumah sang istri dan menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Beruntung sang istri meninggal tanpa tahu apa yang sudah dia lakukan. Tapi bagaimana dengan 'dia'?

'Apa kau baik-baik saja, Youjin-ssi? Kau pergi begitu saja. Tapi aku juga hanya diam. Bahkan sekalipun tidak berusaha mencari kebenaranmu. Apa kau mengalami kesulitan setelah hari itu? Apa suamimu bisa menerimamu setelah apa yang kulakukan?'

Semua yang dipertanyakannya dalam benak itu sekarang menjadi sebuah beban yang terasa sangat mengganjal. Dia sudah lama berdiam dalam kenyamanannya. Tidak peduli dengan nasib dan masa depan perempuan itu. Sekarang entah kenapa dia merasa harus mencari tahu semuanya. Memastikan keadaan wanita yang sudah dia koyak kehormatannya.

Maka dengan tekad yang sudah dia pertimbangkan beberapa hari ini, Jung Woon meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Seseorang yang dia percaya akan bisa membantunya untuk mencari keberadaan Cho Youjin, mantan sekretarisnya.

"Aku ingin mendapatkan semua informasi tentangnya. Lakukan dengan cepat." memberi perintah tanpa basa-basi.

Langit berubah mendung perlahan. Semakin lama semakin gelap hingga siap menumpahkan tangisannya.

0o0o0o

"Tuhan, hujan ini sungguh menyebalkan." keluh Ryewook. Dia berdiri di depan dinding kaca, berkacak pinggang sejak 10 menit lalu. Memperhatikan hujan di luar yang semakin deras. Belum lagi angin yang juga bertiup kencang. Heechul menyuruh menutup café lebih awal, tapi dengan adanya hujan yang semakin lebat ini siapapun akan sulit keluar. Jadi meskipun mereka sudah membereskan café dan membalik tanda open menjadi close, meniadakan aktifitas café, belum ada satupun dari mereka yang beranjak pergi.

"Itu akan berlangsung lama." kata Eunhyuk. "Hey, Ryewookie kemari jangan berdiri disana!" serunya, mengajak Ryewook bergabung bersama di lingkaran Sungmin, Heechul, dan Donghae.

Ryewook memutar kepala melihat mereka yang sedang menikmati teh jahe hangat, sebelum memutuskan untuk bergabung. Pemuda mungil itu mendesah lega setelah duduk di salah satu kursi. Mulai merasakan hangat setelah meneguk air jahe yang disediakan Sungmin.

Baru saja Ryewook merasa lega dan nyaman saat suara gelegar petir menyambar. Semua orang terlonjak dari kursi, diikuti lampu padam. Semuanya gelap, di luarpun gelap.

Hening. Semua diam tak berkutik dalam suasana itu.

"Ini yang tidak kusuka." lirih Donghae yang sudah mencari pegangan dari orang sebelahnya.

"YA! Perhatikan tanganmu!" seru Heechul kemudian. Tangan Donghae tidak sengaja meraup wajahnya.

"Mian, Heechul hyung." Donghae beralih disisi lainnya. Memeluk sebuah lengan dengan erat.

"Donghae, kau ini benar-benar." dengus Eunhyuk keberatan namun tidak berusaha melepas pegangan Donghae.

Diam lagi. Masing-masing gelisah. Ryewook mengeratkan genggaman tangannya pada badan cangkir. "Eumm ada yang ingin menyalakan lilin?" cicitnya entah pada siapa. Matanya bergerak namun hanya bayang-bayang yang mampu ditangkap matanya.

Pendar terang muncul dari arah dapur. Donghae memeluk lengan Eunhyuk lebih kuat. Matanya ngeri memperhatikan cahaya remang tersebut, semakin mendekati pintu dapur. "Shindong hyung menyalakannya. Tapi dia terlihat mengerikan dengan lilin di wajahnya." suara Donghae bergetar. Meskipun tahu itu Shindong yang berjalan mendekat pada mereka, tetap saja dia kerdil nyali jika dalam gelap.

Shindong hampir tertawa keras mendengar ketakutan Donghae. Dia berjalan konstan, dan meletakkan lilin di tengah-tengah meja mereka. "Ini cukup membantu?"

Sungmin mengangguk. "Gomawo Shindong hyung."

"Dimana si bocah?"

Pertanyaan Heechul membuat mereka terdiam. Shindong yang berdiri mulai gelisah. "Kupikir bersama kalian."

"Aishhh." Heechul beranjak cepat. Merogoh ponsel dalam sakunya, yang baru dia ingat bisa berguna di saat gelap, segera menyalakan aplikasi senter. Begitu senter menyala, Heechul menyorot sekitar yang tidak tertangkap cahaya lilin.

Sungmin beranjak untuk ikut mencari. Begitu juga Shindong.

"Aku tidak melihatnya di sekitar sini tadi." kata Ryewook.

"Ruang loker." seru Eunhyuk berbarengan dengan gelegar petir di langit. Semua terlonjak. Donghae sukses menyembunyikan wajah di lengan Eunhyuk. Ryewook melepas cangkirnya dan memeluk diri sendiri, spontan karena kaget.

Heechul terdiam sebentar saat gelegar itu datang. Di detik berikutnya dia sudah berlari ke ruang loker, dimana diyakini si bocah yang dimaksud adalah Kyuhyun, berada disana. Sungmin dan Shindong mengikuti di belakang.

Heechul menjeblak pintu dan menyorot senternya ke seluruh ruang. Hingga dia menyorot pada seseorang yang meringkuk di sudut paling jauh dari pintu. Dengan tubuh bergetar, kedua tangan melingkari kepala, dan berusaha menggelung dirinya sekecil mungkin. Tidak ada suara yang dihasilkan.

Heechul menarik tubuh bergetar itu, namun dia memberontak dan mendorong Heechul. Ponsel terlempar dan jatuh menelungkup, gelap seketika. Kyuhyun menjerit menyambut kegelapan, dan kembali menggelung diri.

Heechul mendesis. Dia bangkit dari jatuhnya dan tanpa berusaha mencari penerangan, Heechul kembali menarik Kyuhyun. Kali ini lebih kuat, melawan pemberontakan Kyuhyun, dan dia berhasil membawa anak itu dalam rengkuhannya.

"Sssst, ini aku. Heechul hyung. Kau bersamaku." kata Heechul untuk menenangkan gerakan pemberontakan Kyuhyun. Kedua lengannya merengkuh kuat tubuh kurus itu. Meyakinkannya bahwa dia berada di tempat aman. "Aku disini, Kyuhyun-ah. Hyung disini."

"Heks." gerakan itu berhenti berganti isakan kecil. Heechul merengkuh kepala belakang Kyuhyun yang wajahnya tenggelam pada dada bidangnya. Heechul mengusapnya. "Sudah baik-baik saja sekarang. Tenanglah."

Heechul merasakan kedua tangan Kyuhyun meremat bajunya, sehingga diapun menambah intens rengkuhannya. Kyuhyun nampak tenggelam dalam tubuh Heechul yang menggoyangkannya perlahan untuk melemaskan ketegangan dari tubuh yang didekapnya.

Sungmin dan Shindong hanya memperhatikan di ambang pintu. Menyerahkan semuanya pada Heechul. Karena jika banyak orang yang mendekat Kyuhyun akan semakin histeris. Baru setelah dirasa Kyuhyun tenang dalam perlindungan Heechul Sungmin berjalan perlahan. Mengambil ponsel Heechul, membaliknya hingga bisa menerangi ruangan.

Heechul menatap Sungmin sekilas, beralih pada Shindong. "Bisa kau ambilkan air?"

Shindong mengangguk dan segera pergi untuk mengambil air. Eunhyuk yang melihatnya sempat menanyakan apakah mereka menemukan Kyuhyun, Shindong membalasnya singkat dan kembali melanjutkan urusannya.

Eunhyuk mendesah lega, meski tidak sepenuhnya. Dia melihat pada Donghae dan Ryewook. Dia tahu dia harus tetap berada disini untuk kedua orang ini. Orang-orang yang takut dalam gelap.

"Dia baik-baik saja, kan?" Donghae bertanya pelan.

"Heechul hyung pasti bisa menanganinya." sahut Eunhyuk.

Ryewook hanya dia memandang nyala lilin di tengah meja. Shindong keluar dari dapur membawa segelas air putih dan menghilang lagi dalam lorong pendek menuju ruang loker.

Sungmin menatap nanar Kyuhyun yang masih betah berada dalam dekapan Heechul. Wajahnya masih bersembunyi, meski Heechul sudah berhenti menggoyang tubuhnya. Pemuda itu sudah tidak setegang tadi.

"Ini airnya, hyung."

Sungmin mengambil alih air dari Shindong. Heechul mencoba menjauhkan Kyuhyun, namun pemuda itu masih bertahan menempel.

"Kyunie, minumlah sedikit. Itu akan membuatmu enakan." bujuk Heechul. Sungmin mendekatkan air, Heechul berusaha mengalihkan wajah Kyuhyun.

Akhirnya, meski sedikit Kyuhyun mampu meneguk air tersebut. Dan segera kembali meringkuk pada dada Heechul.

"Hyung, jika lampunya tidak segera menyala bagaimana?" Shindong bertanya, matanya mengawasi Kyuhyun yang meringkuk seperti balita ketakutan mencari perlindungan ibunya. Jika dalam keadaan biasa, dia pasti sudah ditertawakan semua orang. Namun dalam keadaan ini, siapa yang akan tertawa. Mereka tahu Kyuhyun sangat berbeda saat hujan dan yang terburuk adalah gelap. Anak itu seolah trauma pada kegelapan. Dan lebih buruk saat hujan, gelap dan petir. Beruntung mereka cepat menemukan Kyuhyun. Sehingga anak itu tidak berada di fase kritisnya.

"Aku bisa mengantarkan Kyuhyun dengan mobilku." kata Heechul. "Jika lampu ditempatnya juga padam, aku akan menginap. Kalian sendiri bagaimana?"

Sungmin tersenyum lega. "Aku akan menunggu hujan reda, baru bisa pulang hyung. Donghae bisa dijemput hyungnya, Eunhyuk dan Ryewook bisa ikut mereka."

"Aku juga akan menunggu hujan reda." Shindong tidak perlu khawatir karena rumahnya dekat dari café.

Setelah sepakat, Shindong segera memberi tahu Donghae, Eunhyuk dan Ryewook. Namun karena hujan yang masih deras mereka memilih untuk sedikit bertahan lebih lama di café. Begitu juga Sungmin dan Shindong.

"Dia tertidur?" Ryewook bertanya melihat Kyuhyun memejamkan mata di atas punggung Heechul. Sungmin berada di belakang menenteng tas Kyuhyun, terus berjalan hingga keluar café. Heechul memintanya untuk mengambil mobil dan memarkir tepat di depan café.

Heechul mengangguk menjawab Ryewook. "Kalian pulanglah begitu hujannya reda." kata Heechul kemudian. "Donghae kau menghubungi hyungmu?"

"Aku akan menghubunginya nanti. Bos tenang saja. Bawa Kyuhyunie pulang dan pastikan dia baik-baik saja sebelum kau meninggalkannya."

Sungmin masuk, mengatakan pada Heechul mobilnya sudah siap. Heechulpun pergi setelah memastikan semua karyawannya tidak apa dia tinggal.

Pada akhirnya Heechul memutuskan menginap. Ranjang Kyuhyun kecil, tapi itu tidak menghalanginya untuk tetap berada di tempat tersebut. Kyuhyun masih tidur saat mereka sampai. Dan masih tidur saat Heechul membaringkannya. Heechul memutuskan ikut berbaring setelah tidak menemukan lilin untuk penerangan.

0o0

Kyuhyun terbangun dengan kondisi tidak baik. Nafasnya cepat dan dadanya berdetak keras. Dia harus mencengkramnya untuk menenangkan diri. Beruntung ruangannya terang. Dia tidak sadar seseorang berbaring di sebelahnya.

Kyuhyun bangkit susah payah. Nafasnya berhembus dari mulutnya yang kering. Terseok dia berjalan menuju sisi dapur yang selama ini hanya berguna untuk merebus mie instan dan memanaskan makanan yang dia beli dari luar.

Dengan tangan bergetar dia berusaha mengisi gelas dengan air putih dari teko plastik, meminumnya dengan tegukan besar. Merasa belum sepenuhnya tenang dia kembali mengisi gelasnya dan meminumnya dengan cara yang sama.

Kyuhyun meneguk ludah. Ingatannya tentang mimpi yang membangunkannya kembali berbayang di pelupuk mata. Hujan, gelegar petir, dan lampu padam. Dia sendirian dan merasakan sakit. Wanita itu, eommanya menjulang tinggi dengan menggenggam sebilah pisau dapur. Dirinya yang kecil beringsut menjauh dengan jejak darah. Dia terbangun tepat saat sang eomma mengangkat pisaunya.

Kyuhyun jatuh terduduk. Memeluk diri dan menekuk kedua lututnya. Air matanya mengalir oleh ketakutan yang memenuhi dirinya. Rasa takut oleh malam kelam itu kembali. Dia takut. Butuh perlindungan.

Heechul dengan mata masih terpejam menggerakkan tangan mengusap sisi kosong di sampingnya. Dia membuka mata merasa ada yang ganjil. Melihat sisi kosong itu dia bangkit dengan gusar. Namun segera mematung melihat sosok yang dia cari berada di bagian dapur.

"Kyuhyunie." Heechul memanggil seraya mendekat dengan cemas melihat posisi Kyuhyun yang ganjil. Dia jelas mendengar isakan dan tubuh itu bergetar.

Heechul duduk di depannya berusaha bertanya dan memberi perhatian. Karena tidak ada jawaban dia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Alhasil dia hanya diam, membiarkan Kyuhyun menangis.

Kurang lebih 15 menit dalam posisi itu, tangis Kyuhyunpun sudah reda, Heechul membuka mulutnya. "Kau masih takut?"

Tidak ada respon. Heechul menghela nafas. Mengalihkan pandang untuk memperhatikan sekeliling, bukan pertama kali Heechul mengunjungi tempat Kyuhyun. Tidak ada yang berubah sejak pertama kali dia berkunjung. Kecuali beberapa barang yang bertambah.

"Beruntung aku sempat menekan saklar saat masuk tadi, jadi kau tidak histeris saat bangun. Tapi tetap saja, kenapa kau menangis?"

Ada pergerakan kecil dari Kyuhyun. "Hyung menginap?"

"Ish, bagaimana bisa meninggalkanmu bocah? Aku takut kau menjadi mayat besok pagi. Aigo, ini bahkan masih tengah malam. Kenapa kau bangun?"

Kyuhyun mengusap wajahnya. Kemudian malu-malu mengangkat wajah melihat bosnya. "Tidur bersamamu aku jadi mimpi buruk. Ada penyihir yang mengejarku."

Heechul menggertakkan gigi, kedua tangannya mengepal di atas kedua lutut. Sudut bibirnya terangkat hanya lantaran kesal. "Ha-ha..lucu sekali." sinis Heechul masih menahan diri untuk tidak mengoyak kepala Kyuhyun dengan gigi-giginya.

Kyuhyun hanya nyengir. Menutupi sendu yang masih berbayang di kedua matanya. Heechul jelas bisa melihatnya, membuatnya hatinya bertalu nyeri.

Heechul menghentak berdiri. Meregangkan tubuh. "Ahh aku masih mengantuk."

"Hyung bisa kembali. Aku sudah tidak apa."

Heechul berkacak pinggang. "Kau mengusirku? Tidak ada kata terima kasih dan sekarang mengusirku? Bagus sekali etikamu, bocah!"

Kyuhyun mengedipkan mata. Membuat Heechul berhasrat ingin mencubit gemas pipinya. "Aku pikir hyung lebih nyaman berada di ranjang empukmu sendiri, milikku sangat keras, kau akan bangun dengan rasa sakit di sekujur tubuh besok."

Heechul tidak berkata apa-apa. Kyuhyun memperhatikannya yang memasang wajah berfikir. Penasaran dia bertanya. "Heechul hyung memikirkan apa?"

"Euhmm jadi kau bangun dengan pegal-pegal setiap hari?"

Kyuhyun meringis. Menggaruk kepala.

"Hey, itu tidak bagus untuk pertumbuhanmu. Kau tinggi tapi kurus."

"Apa hubungannya?" Kyuhyun merengut sebal. Dia bangkit dan melangkah kembali ke kasur kerasnya. Berbaring tidak menghiraukan Heechul yang lagi meradang ditinggalkan begitu saja. "Aku akan tidur lagi. Terserah hyung mau pergi atau menginap."

Heechul menurunkan kedua tangannya pasrah. Berjalan kembali ke ranjang sempit untuk berdua itu. "Jangan tega mengusirku tengah malam begini." ucapnya begitu berbaring di sebelah Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Heechul yang menarik selimut menutupi tubuh dan dirinya. Menatapnya lama hingga Heechul balas menatapnya dengan tanya.

Kyuhyun menarik senyum manis. Berbalik memunggungi Heechul yang menggeleng tidak mengerti. Sampai dia mendengar nada pelan Kyuhyun saat mengucapkan terima kasih. Heechul balas dengan menepuk pucuk kepala Kyuhyun dengan sayang. Dia merasa lega dan cemas bersamaan.

Kyuhyun pintar sekali menutupi perasaannya.

0o0o0o0

Heechul keluar kamar mandi. Mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Dia melihat Kyuhyun yang sudah bersiap-siap akan ke sekolah. Memasukkan beberapa bukunya ke dalam ransel sekolah.

"Kau akan pergi sekarang?" Heechul menggantung handuk di pintu kamar mandi. Menghampiri Kyuhyun setelahnya, tepatnya mengambil arloji yang diletakkannya di meja belajar Kyuhyun, memakainya dan mengambil jas putihnya di gantungan baju di dinding.

"Mianhe Heechul hyung, aku tidak punya apa-apa untuk sarapan." Kyuhyun menyesal tidak bisa menjamu tamunya dengan baik. Persediaan mie instannya habis, dia mengurangi kebiasaannya memakan mie instan menuruti anjuran dokter, tapi tetap memakannya saat dia terdesak penghematan. Hanya ada air putih.

"Tidak perlu merasa tidak enak. Aku menginap bukan untuk minta sarapan." hibur Heechul. Matanya sedikit melirik keadaan dapur yang sederhana. Ada kompor kecil diatas meja beton, sebuah panci diatas kompor, tabung gas dibawah meja, dan sebuah galon air di lantai. Disudut meja beton ada rak kecil, berisi peralatan makan standart, juga sebuah teko berisi air putih. Tanpa sadar Heechul menghela nafas. 'Apa dia tidak berfikir membeli ricecooker dan yang lainnya?'

"Heechul hyung." panggil Kyuhyun menyadarkan Heechul. "Kau ingin sesuatu?" tanya Kyuhyun yang menyadari sudut mata Heechul melirik dapur. Mungkin bosnya itu ingin kopi atau semacamnya di pagi hari? Tapi dirinya tidak memiliki apapun.

Heechul menggeleng. Merapikan jasnya. "Ayo pergi sekarang. Kuantar kau ke sekolah, tapi sebelumnya ayo isi perut buncitmu dulu. Aku yang traktir."

Kyuhyun manyun. Menatap perutnya yang datar. "Kau menghina, hyung."

Heechul hanya memasang wajah mengejek. Merogoh kunci mobil yang semalam masih berada di saku celana. Dia berjalan menuju pintu. Namun Kyuhyun masih bergeming, bahkan ranselnya masih berada di atas meja.

"Ada apa? ayo cepat bergerak!" ajak Heechul tidak sabar.

Kyuhyun menggeleng. "Heechul hyung pergi sendiri saja. Aku akan sarapan di sekolah."

Heechul mendesis kesal. Melangkah lebar pada Kyuhyun dan menyeret anak itu. Kyuhyun yang terkejut buru-buru menyambar ranselnya. "H-hyung!"

"Kau jangan menolak rejeki! Sudah baik aku mau menraktirmu!" omel Heechul masih menyeret Kyuhyun. Baru setelah sampai di luar pintu dia membiarkan Kyuhyun mengunci pintunya, kemudian diseretlah lagi Kyuhyun itu. Kyuhyun masih berupaya menolak sekali tapi Heechul semakin mendesaknya.

Setelah mengisi perut, kenyang Heechul baru mengantar Kyuhyun ke sekolah.

"Sampai." seru Heechul menghentikan mobilnya dekat gerbang sekolah.

Kyuhyun membuka sit belt. "Gomawo Heechul hyung."

"Hum. Belajar yang rajin, bocah!"

Kyuhyun keluar mobil. Saat akan melangkah menuju gerbang dia justru tertegun. Wajahnya menunjukkan keterkejutan. Tidak jauh di depannya ada Henry dan sang appa.

"Wae, Kyuhynie? Kyuhyun." Heechul mengernyit tidak suka Kyuhyun tidak menjawab panggilannya. Daripada itu entah apa yang diperhatikan si bocah sampai wajahnya terlihat mengerikan. Heechul memandang ke depan, mencari tahu objek semenarik apa yang membuat Kyuhyun diam seperti itu. Tidak ada yang aneh, hanya beberapa siswa yang berdatangan dan seorang siswa yang sedang tertawa kepalanya diusap sang ayah. Sepertinya itu ayahnya?

Heechul kembali melihat Kyuhyun. 'Apa dia sedang merindukan, appanya?'

TBC

Thursday, September 8, 2016

9:38 AM

Thursday, September 22, 2016

7:03 AM

Nggak bisa kebut sekarang. Meskipun sudah ada beberapa chapter siap posting. Untuk yang coment kagak ingat sama chapter sebelumnya, gampanglah tinggal prev chapter sebelumnya dan dibaca ulang hehehe.

Nulis itu gak bisa instan. LBB saja saya garap satu tahun. Kalau cuma rancangan doang mah bisa satu bulan selesai. Tapi selesai kerangka masih harus pengembangan dan pernak pernik. Biar storynya lebih logis, lebih mudah dipahami, dan yang pastinya bisa dinikmati. Saya juga harus bolak balik internet untuk cari bahan, membuat kesinambungan perrchapternya, itu melelahkan sekali. Belum lagi masalah referensinya suka gak bener. Jadi kembali rubah ini itu.

Saya juga harus extra nahan diri buat kelebaian dan pilih kasih charanya gak keluar. LML ini saja saya sudah merasa gagal kok. Terlalu awal di posting. Hancur perchapternya. Tetep lanjut karena sudah terlanjur jalan,

Terus kenapa tetep dipublish? Saya hanya melakukan perbandingan. Coba-coba buat dengan cara author lain publis story.

Diterima syukur gak diterima ya tetep bersyukur. Masih bisa nulis saja, alhamdulillah buat saya.

Reviewer terima kasih buat reviewnya. Saya merasa jadi ada dialog diantara kita.

Oh, ya…..saya tidak menemukan bentuk OSIS di Korea itu kayak gimana sih? atau malah gak ada? Terus istilahnya apa? saya pusing sejak beberapa bulan lalu bolak balik buka internet gak menemukan referensi bagus untuk OSIS Korea Selatan.

Kalau ada yang punya info tolong, ne saya dikasih tahu. Ini ada hubungannya dengan next ff. itu saya pending karena belum ada bahan dan harus fokus di ini dulu.

Semoga diantara reviewer bisa kasih saya infonya. Semoga juga LML bisa segera menuju End.

Text Me

Sima Yu'I

(SY'I)

Berlanjut….

Henry tertawa menerima usapan di kepalaya. Sedikit kasar tapi dia suka saat Young Woon melakukan hal itu. Dia merasa sangat disayang.

"Ingat, ya. Jangan pergi sebelum appa menjemputmu nanti."

Young Woon berbalik untuk masuk ke mobil. Sebelum pergi dia tersenyum pada Henry, yang dibalas lambaian tangan semangat. Henry tentu saja senang, sepulang sekolah nanti appanya berjanji untuk mengajaknya keluar. Sudah cukup lama dia tidak berjalan dengan sang ayah.

Henry berpaling setelah mobil sang ayah pergi. Satu langkahnya mendadak terhenti. Tidak jauh darinya ada Kyuhyun berdiri mematung. Mereka saling memandang untuk beberapa saat. Hingga Henry lebih dulu memutus kontak. Dan dengan canggung juga terburu melangkah memasuki gerbang.

Heechul keluar dan berdiri disisi mobil. Dia tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada Kyuhyun. Pemuda itu tiba-tiba saja diam dan tidak berkedip memperhatikan sepasang ayah dan anak tadi. Bahkan terlihat tegang. Heechul memperhatikannya hingga Kyuhyun berpandangan dengan murid itu, ada sesuatu yang janggal. Bagaimana si murid itu jadi canggung dan bergegas pergi.

"Kyuhyun!" Heechul hanya mencoba menyadarkann Kyuhyun yang seolah terjebak. "Kyuhyun-ah!" panggilnya lagi. Barulah Kyuhyun menoleh terkejut, linglung sebentar kemudian menarik senyum tanpa arti. "Ada apa? Kau melupakan sesuatu?" tanya Heechul.

Kyuhyun menggeleng.

0o0

Kyuhyun mengganti seragamnya dengan seragam olah raga. Kemudian bergabung dengan teman-temannya yang lain di lapangan. Setelah semua murid berkumpul, guru olah raga segera meminta mereka berbaris dan memberi instruksi. Olah raga hari itu adalah pengambilan nilai untuk basket. Ada dua penilaian. Penilaian untuk dribel dan memasukkan bola. Setelah pemanasan 15 menit mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok putra dan kelompok putri. Masing-masing diambil satu orang untuk mencatat nilai.

Kelompok putri melakukan pengambilan nilai untuk dribel sedangkan putra memasukkan bola di ring. Setelah selesai mereka akan bergantian. Untuk dribel, dalam satu menit akan dinilai berapa kali pantulan yang bisa dilakukan. Begitu juga dengan memasukkan bola. Masing-masing memiliki dua kali kesempatan.

Kyuhyun melakukannya dengan baik meski bukan yang terbaik. Dia segera meyingkir ke tepi lapangan dan bersantai disana. Beberapa temannya juga melakukan hal sama. Setelah semua penilaian selesai, sedang masih ada waktu, mereka dibebaskan untuk melakukan olah raga bebas. Anak-anak lelaki bermain basket, sedang yang perempuan justru berkerumun dan bergunjing. Kyuhyun sendiri hanya diam menonton di tepi lapangan.

Di lapangan sepak bola ada murid kelas sepuluh yang juga dalam pelajaran olah raga. Murid lelaki sedang asyik sepak bola. Saat memperebutkan bola putih itu, tidak sengaja bolanya tertendang dan melambung jauh mengenai seorang senior yang sedang berjalan di koridor.

"Yak Minho kau menendang bolanya keluar!" teriak salah satu pemain.

"Omo! Kau mengenai kepala orang!" pekik yang lain.

Minho sudah mengkeret takut. Henry mendesah. "Aku akan ambil bolanya." katanya segera berlari menuju sunbae mereka.

Kyuhyun memperhatikan bagaimana bola itu melambung dan Henry berlari-lari kecil menuju koridor. Henry nampak membungkuk meminta maaf. Namun sunbae tersebut masih menahan bolanya. Sepertinya adiknya dalam masalah.

"Hati-hati saat bermain. Kau pikir kepalaku dinding! Kalau kepalaku gegar otak aku tuntut kau!" marah senior tersebut. Henry hanya mendengarkan saja. Matanya menatap pada bola putih yang diapit lengan kiri senior cerewetnya.

"Jeongmal mianhe sunbaenim." ucap Henry sungguh-sungguh. Dia berharap omelan seniornya segera selesai dan dia bisa mendapatkan bolanya kembali. Tapi apa, sunbae yang terlihat urakan ini justru mengomel lebih panjang. Membuat Henry jadi jengah.

"Kau masih terlihat baik-baik saja, sunbaenim, bahkan bisa berbicara sangat panjang." interupsi seseorang mengalihkan perhatian Henry dan sunbae tersebut.

"Kyuhyun-ah!" sunbae itu menyebut nama Kyuhyun semangat.

Henry memicingkan mata. Terlihat tidak suka melihat keberadaan Kyuhyun. Kyuhyun tentu saja merasakan hal itu, namun mencoba mengabaikannya. "Bisa aku minta bolanya?"

Zhou Mi mengangguk ringan. Menyerahkan bola pada Kyuhyun. Namun belum juga tangan Kyuhyun mendapatkan bola tersebut Zhou Mi menarik kembali tangannya. Yang otomatis bola tidak berpindah tangan. "Tunggu dulu, hobae ini harus bertanggung jawab dengan sakit kepalaku."

"Dia sudah minta maaf, kan? Sunbae menginginkan apa lagi?"

Henry tidak peduli dengan percakapan mereka, membuang muka ke arah lain. Zhou Mi memperhatikannya. "Hey, ada apa dengan wajahmu! Kau anak tingkat pertama, bersikaplah lebih sopan. Kau meminta maaf tapi tidak tulus. Sekarang meminta maaflah dengan benar!"

Henry mengatupkan rahangnya dengan keras. Menahan diri untuk marah. Menarik nafas sekali. "Jeongmal mianhe, sunbaenim." katanya dengan halus seraya membungkuk dalam.

"Hum-hum!" Zhou Mi mengangguk puas. "Berterima kasihlah pada sunbaemu ini." perintah Zhou Mi menunjuk pada Kyuhyun.

Henry mengerut kening kesal. Kyuhyun menggeleng, berharap Henry tidak melakukannya. Namun Henry melakukannya juga. Barulah Zhou Mi menyerahkan bola langsung kepada Henry, yang langsung pergi setelah tanpa kata lagi.

Kyuhyun menatap kepergian Henry. 'Pasti dia merasa dipermalukan', pikir Kyuhyun yang melihat raut tidak suka adiknya.

"Itu tadi tidak perlu, sunbae." protes Kyuhyun pada Zhou Mi.

Zhou Mi merangkul Kyuhyun dengan gembira. Wajahnya berbeda sekali dengan tadi bersama Henry. "Panggil aku 'hyung', sudah kukatakan untuk memanggilku 'hyung'. Kau keras kepala." nyatanya Zhou Mi mengabaikan protesan Kyuhyun.

Kyuhyun menurunkan lengan Zhou Mi kemudian bergeser menjauh. "Kibum hyung mengatakan agar aku menjauhimu."

Zhou Mi mencebikkan bibir. "Kibum itu dimatanya aku selalu salah. Memang apa salahnya bersenang-senang. Tapi tentu saja, aku tidak akan membuatmu jadi buruk sepertiku. Jadi berteman denganku, ne?"

'Menyadari diri sendiri buruk?' "Kenapa harus aku?"

Zhou Mi tersenyum miring. "Karena kita terhubung dengan Kibum."

Kyuhyun menelengkan kepala tidak paham. Namun memutuskan tidak bertanya lebih jauh karena dia harus segera kembali ke lapangan.

0o0o0o0

"Zhou Mi itu terobsesi dengan Kibum. Sejak kecil dia selalu berusaha mendekati Kibum. Mengajaknya bermain atau pergi keluar. Tapi Kibum mengabaikannya. Zhou Mi ingin seperti Kibum. Menurutnya Kibum itu keren dan terlihat dewasa. Dia berusaha bersikap seperti itu juga. Tapi apa hasilnya; Zhou Mi itu aktif, cengengesan, playboy, vokal, dan…pokoknya sangat berbeda dengan Kibum. Tapi dia tetap bersama Kibum. Itu bagus. Setidaknya Zhou Mi satu-satunya teman setia Kibum."

Kyuhyun mengangguk mengerti. Penjelasan Donghae cukup dia pahami. "Memang lebih menyenangkan jika ada perbedaan, ya."

Donghae mengangguk. "Kenapa Kyuhyunie ingin tahu tentang Zhou Mi?"

"Hehe, Zhou Mi sunbae mengajakku berteman. Dia bilang karena kami terhubung dengan Kibum hyung. Sekarang aku mengerti."

Donghae cukup terkejut mendengarnya. Dia mengusap dagu layaknya orang dewasa berfikir. "Akan buruk tidak jika kau bergaul dengan anak itu?" gumamnya seolah menimang sesuatu.

Kyuhyun kiranya mengerti apa yang dipikirkan Donghae. "Tenang saja, aku bukan seseorang yang mudah terpengaruh kebiasaan orang lain." Kyuhyun menepuk lengan Donghae berpamitan pergi untuk kembali bekerja. Donghae juga memutuskan untuk tidak terlalu terbebani, kembali kepada pekerjaannya.

Kyuhyun melayani seorang pelanggan wanita. Mencatat pesanannya dan berlalu.

"Heechul hyung coffe latte meja 10." Kyuhyun menyerahkan kertas pesanannya. "Dia juga ingin bertemu denganmu."

Heechul berhenti melihat kertas pesanan, menatap Kyuhyun yang memberi kode dengan dagunya ke meja yang dimaksud. Heechul melihat kesana, meja yang dimaksud Kyuhyun duduk seorang wanita baju putih, rambut gelombang panjang berwarna hitam. "Aku akan menemuinya. Panggil Ryewook untuk menggantikanku disini."

Kyuhyun mengangguk pergi. Heechul membuat pesanan wanita tersebut dan mengantarkannya sendiri, saat dia pergi Ryewook sudah berada di posisinya.

"Coffe latte." Heechul meletakkan minuman tersebut di depan wanita itu, yang sedikit terkejut memandang Heechul. Kemudian tersenyum kikuk. Tangannya bergerak menyisipkan helaian rambutnya di belakang telinga.

Heechul duduk di depannya, tangannya bersedekap dan matanya menatap lurus pada wanita yang kini menunduk. Dia tidak bisa dikatakan ramah. Ini masalah pribadi sepertinya. "Ada apa kau tiba-tiba muncul?"

Tersentak mendengar nada ketus itu, wanita tersebut mengangkat wajahnya, tersenyum kecut. "Bagaimana kabarmu?"

"Hm, seperti yang kau lihat. Bagaimana juga dengan pernikahanmu?"

Wanita itu sukses terdiam, menggigit kecil bibir bawahnya. "Heechul oppa, untuk masa lalu aku sungguh minta maaf. Aku sudah sangat keterlaluan dan,"

"Itu hanya masa lalu." potong Heechul. "Meski mempengaruhi dulu, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Jangan terbebani." kali ini sedikit lunak Heechul menurunkan kedua tangannya di atas lutut.

Wanita itu kembali menunduk. "Tetap itu menjadi salahku. Kau pasti menderita. Aku meninggalkanmu disaat appamu," wanita itu menghentikan ucapannya. Air matanya menetes. "Mungkin karena itu aku dibalas sekarang. Lelaki itu meninggalkanku. Dia pergi bersama wanita lain."

Heechul tidak mengatakan apapun. Tidak juga bersimpati atau mencemooh. Dia hanya tidak tahu bagaimana perasaannya. Yang jelas wanita di masa lalunya ini nampak begitu menyesal dan rapuh.

Wanita itu mengusap air matanya. Mengangkat kepalanya lagi dan tersenyum. "Oppa, mohon maafkan aku. Sudah terlambat, tapi aku harus mengatakannya. Aku tidak bisa merasa tenang setelah melakukan hal sekeji itu kepadamu. Jeongmal mianhe, oppa." air matanya menetes kembali namun segera dia mengusapnya.

Heechul menarik nafasnya dalam. "Kau sudah mendapatan maafku, Jaerim-ah. Lanjutkan hidupmu dan temukan kebahagiaanmu. Semoga kau lebih beruntung kelak."

Tidak kuasa Jaerim meneteskan air mata, namun kali ini dia tersenyum penuh syukur dan terima kasih. Heechul memang selalu baik padanya dan mencintainya dengan tulus. Tapi dia yang menghianatinya dan lemah oleh desakan orang tua. Jaerim dengan kejamnya meninggalkan Heechul untuk menikah dengan lelaki lain yang tentu saja lebih baik menurut kedua orang tuanya. Tapi apa sekarang, seperti karma dia juga disakiti suami idaman, diselingkuhi dengan wanita lain yang jauh lebih cantik dan berbobot. Jaerim dibuang tanpa apapun lagi.

Hal pertama yang terpikir oleh Jaerim adalah menemui Heechul, meminta maaf atas semua kesalahan di masa lalu. Kemudian melanjutkan hidupnya kembali. Berusaha lagi dan mencoba mencari kebahagiaannya sendiri.

"Gomawo oppa, jeongmal gomawo."

"Jadi kau tinggal dimana sekarang?" tanya Heechul mencoba mengalihkan pembicaraan yang sedih-sedih itu.

"Beberapa blok dari sini. Hangeng ge memintaku tinggal bersamanya, tapi aku menolak. Aku akan melakukan interview minggu depan."

"Itu bagus. Semoga berhasil."

Jaerim mengangguk berterima kasih. Setelah diceraikan Jaerim memang memilih untuk kembali ke korea. Meski berdarah cina, namun dia berkebangsaan korea. Dia tinggal di korea sebelumnya. Setelah menikah dia dibawa suaminya ke cina, menuruti keinginan orang tuanya untuk tinggal di cina. Saat dia memutuskan untuk kembali ke korea setelah bercerai, orang tuanya mencoba mencegahnya namun kali ini Jaerim akan mengambil keputusannya sendiri. Setelah percekcokan kecil akhirnya orang tua Jaerim melepasnya juga. Bagaimanapun mereka merasa bersalah pada nasib buruk yang terjadi pada pernikahan Jaerim. Menantu yang dipaksakannya tidak sebaik yang mereka pikir. Mereka hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan putrinya di kemudian hari.

"Aku ada janji bertemu dengan Hangeng ge. Aku pamit sekarang oppa." Jaerim mengambil dompetnya.

"Tidak perlu. Kali ini gratis untukmu."

"Tapi,"

"Datanglah lagi lain kali, dan aku pastikan biayanya akan melambung khusus untukmu."

Jaerim tertawa. Memasukkan kembali dompetnya. Dia menghela nafas lega. Wajahnya kembali menampakkan rona cerianya. "Gomawo oppa. Kau tidak tahu betapa leganya perasaanku sekarang. Aku harap kita tetap berteman baik."

"Tentu saja. Datanglah lagi. Ajak Hangeng juga, aku sudah lama tidak melihatnya."

Jaerim mengangguk. Menunduk kecil lalu pergi.

Heechul menghela nafas lega. Setelah Jaerim muncul dan meminta maaf, ganjalan yang sejak dulu ada dalam hatinya langsung terangkat. Sungguh ajaibnya perkataan maaf yang diucapkan dengan tulus disertai etikat baik. Padahal hal kejam yang dilakukan Jaerim dulu sangat tidak bisa diampuni. Jaerim meninggalkannya tanpa kata, saat appanya meninggal, menikah dengan orang yang lebih kaya darinya. Seolah menghinanya yang miskin dan hanya mahasiswa rendahan. Namun kini semuanya berakhir dengan baik.

"Mantan yeojachingue ya bos? Cantik, matanya hitam berkilau." Eunhyuk muncul menduduki tempat Jaerim tadi. Menggoda bosnya tanpa sungkan.

Heechul menaikkan alis. Bukan hanya Eunhyuk saja yang sudah ada di sekitarnya, melainkan semua karyawannya, kecuali mereka yang bertugas di dapur.

"Kalian menguping sejak tadi?" tanya Heechul dengan aura gelap.

Kyuhyun menarik tangan Ryewook untuk pergi. Lebih dulu sadar akan aura Heechul yang berubah, berbeda dengan Donghae dan Eunhyuk yang masih berada disana bahkan sempat-sempatnya menggoda lagi.

Heechul meraih vas bunga di meja, menggeram seakan-akan ingin meremukkan vas tersebut. Barulah Donghae dan Eunhyuk sadar, dan buru-buru pergi.

Kyuhyun terkekeh kecil, beralih pada meja yang baru ditinggal seorang pelanggan. Mengambil serbet, menyingkirkan gelas dan piring, lalu mengelapnya. Memastikannya bersih sebelum ditinggalnya untuk menaruh wadah kotor di tempat pencucian.

Jam 6 karyawan di café Heechul bergantian istirahat untuk makan malam. Heechul lumayan royal sebagai bos. Semua karyawannya mendapat jatah makan. Untuk yang sift siang ataupun malam tidak ada perbedaan. Café akan buka sejak jam 9 pagi hingga jam 11 malam. Pergantian karyawan jam 4 sore namun karyawan untuk sift malam akan datang di jam 3 untuk persiapan. Jam 3 hingga jam 4 adalah free time. Donghae dan Eunhyuk biasanya akan bertukar sift jika jadwalnya bentrok dengan jadwal kuliah. Ryewook dan Kyuhyun selalu mengambil sift malam kecuali di hari minggu, sebagai pelajar. Sungmin dan Shindong mereka mengambil kerja full time. Selama satu minggu setiap karyawan diberi libur sehari, bebas menentukan waktu cuti mereka secara bergilir. Tidak mengambil cutipun akan mendapat bonus.

Cheonchul Café sudah besar dan berjalan lancar berbeda sekali dengan dulu. Dulu Heechul ikut melayani karyawan, meskipun sekarang dia tetap menjadi barista dan menjaga kasir, itu semata-mata agar dia bisa berbaur dengan karyawannya. Kalau ingat masa lalu awal berdiri cafenya dia jadi ingat Kyuhyun. Dari semua karyawannya yang sekarang, Kyuhyun bia disebut senior. Atau tidak, ya?

Heechul terkekeh sendiri.

"Ada apa, bos?" tanya Ryewook saat mereka bersiap menutup café. Dia yang paling dekat dengan kasir bisa melihat bosnya itu tertawa sendiri.

Heechul menggeleng. "Tidak ada."

Ryewook tidak terlalu perduli sebenarnya dan kembali pada pekerjaannya membalik kursi satu persatu. Heechul melihat Kyuhyun yang menurunkan gordyn-gordyn.

"Sekarang tidak bisa! 15! Ya, saat usiamu 15 tahun kau boleh kembali lagi kemari. Aku rasa kau bisa bekerja part time nanti. Bagaimana?"

Sebuah janji yang sudah dia tepati sekarang. Siapa yang akan memperkerjakan anak 12 tahun saat itu, dia juga tidak. Pada akhirnya dia brjanji pada Kyuhyun akan menerimanya bekerja saat usianya 15 tahun. Dan benar saja Kyuhyun kembali saat usianya 15 tahun. Heechul tidak bisa mengelak. Memberi Kyuhyun pekerjaan hingga sekarang. Mungkin karena itulah dia merasa hubungan bos dan karyawan dengan Kyuhyun jadi terasa sedikit berbeda. Kyuhyun memiliki porsi lebih dibanding karyawan lain.

Kyuhyun memeriksa ponselnya. Changmin mengiriminya pesan sejak satu jam lalu. Isinya permintaan maaf karena tidak bisa menjemputnya. Kyuhyun segera membalas pesannya, menulis tidak apa-apa, Kyuhyun tidak kesal Changmin tidak menjemputnya. Sebaliknya dia senang Changmin memikirkan diri sendiri. Dia juga tahu kalau Changmin semakin sibuk berlatih. Tentu sahabatnya membutuhkan waktu istirahat lebih banyak untuk menjaga staminanya, bukannya malah sibuk memikirkan mengantar jemput Kyuhyun bekerja. Liburan musim panas akan segera mulai, itu berarti pertandingan klub sepak bola. Kyuhyun akan sangat paham kalau Changmin lebih banyak menghabiskan waktu disana dibanding bersama dirinya.

"Kyunie, tidak dijemput?"

"Changmin sedang sibuk berlatih, jadi tidak enak kalau mengganggu jam istirahatnya, hyung."

"Ayo naik, hyung antar kamu pulang." ajak Donghae. Dia memakai helmnya kembali.

"Tidak perlu. Aku akan pulang dengan bus saja."

Donghae memutar matanya. "Ayo denganku saja. Kupastikan kau sampai rumahmu lebih cepat. Ayo." desak Donghae. Kyuhyun tidak bisa menolak lagi.

TBC

Thursday, September 15, 2016

6:34 PM

Balasan review:

Annisah563_Sep 21 c5_ya, Kyuhyun pernah mencoba bunuh diri dan digagalkan Leeteuk

Cuttiekyu94_Sep 21 c5_Henry memang pengecut tapi pasti ada alasannya

Miharu Aina_Sep 21 c5_kekeke Kyuhyun sibuk sekolah, kerja ma beban hidup, kagak sempetlah ngelirik yg begituan

Sheehae89_Sep 21 c5_kesalahan fatal Mianhe mianhe mianhe sudah saya benerin

Kyuli99_Sep 21 c5_semoga Henrynya gak begitu selamanya

Leny chan_Sep 21 c5_ini sudah next. Tapi gak janji begini terus.

Angel sparkyu_Sep 21 c5_iya sakitnya ada di jantung, tapi aku gak tahu pasti disebut apa. saya mau perjelas saja di lain narasi sakit jantungnya Kyuhyun lebih karena dampak tekanan batin berkepanjangan. Tapi tetep gak mau cantumin nama spesifiknya. Cukup dengan sakit jantung.

Yuliyuzumaky_Sep 21 c5_yap sakit jantung. itu kurang narasinya, keterangannya harusnya begini, obat yang dimaksud Leeteuk yang gak boleh dikonsumsi Kyuhyun adalah obat anti depresan yang dijual sembarangan dan cara konsumsinya pun serampangan. Saat itu Kyuhyun berada di titik terendahnya jadi obat yang dia telan semakin banyak. Leeteuk tahu dan menghentikannya karena segala macam obat pun akan berdampak pula pada ginjal. Sedangkan obat yang diberikan Leeteuk dan yang lebih diutamakan adalah obat jantung. begitu.

Michhazz_Sep 21 c5_sakit jantung lebih karena dampak stress, tekanan batin berkepanjangan.

Jihyunelf_Sep 21 c5_untuk jawaban ini masih beberapa Chapter lagi, sabar ne

Rahma94_Sep 22 c5_itulah gak enaknya kalau posting perchapter. Tapi sudah terlanjur begini hahaha jadi mohon kemurahan hatinya untuk membaca ulang

MissBabyKyu_Sep 22 c5_ini salah saya berarti membangkitkan jiwa shipper anda wkwkwk saya ingin mencoba menulis shipper juga ah *lah kenapa? saya juga suka Kihyun ko. Ehem padahal pernah bilang ya gak suka boylove hihi tapi saya juga pernah bilang saya membaca segala jenis bacaan nonfiksi dengan berbagai genre, tanpa pandang bulu benar.

Dydy_Sep 22 c5_saya gak janji

_22 Sep c5_hallo Lee Gyu Won = . kalau begini kan jadi tahu hem hem. Ini cepet tapi gak janji begini terus ya. Ini ada rencana updatenya lama lagi. Banyak yang membuatku gak sreg, ini aja maju mundur mau update. Dari 100% Cuma menang 65%.

auliaMRQ_Sep 22 c5_he'eh, dicuekin semenit aja rasanya pengen kubur diri ini malah didesak buat ninggalin rumah. Hiks

abelkyu_Sep 22 c5_paket komplit wkwkwk sabar Kyu

yulianasuka_Sep 22 c5_amin

sofyanayunita1_Sep 22 c5_haha

ladyelf11_Sep 22 c5_kalau operasi gak sampai 100% kesembuhannya tapi masih cukup tinggi kesempatan sembuh daripada kematian. Itu akan tergantung juga dengan gaya hidup.

Atik1125_Sep 22 c5_saya gak hiatus ko sumpah hehehe

Songkyurina_Sep 22 c5_Cuma jantung ko ginjalnya masih lumayan sehat

Younghee_Sep 22 c5_saya juga suka.

Erka_Sep 22 c5_gampang tinggal baca ulang. Saya juga buat lanjutin Chapternya harus buka-buka lagi. Supaya tetap pada jalurnya.

Kuroi Ilna_Sep 22 c5_hehehe Zhou Mi memang liar

Apriliaa765_Sep 22 c5_memang sengaja dibuat semalang mungkin

Annishi692_Sep 22 c5_ yaaah jangan sebel sama Henry dong. Henry anak baik huhuhu. Semua akan terjawab di chapter chapter yang akan datang.

kyuonata_ff Kyuhyun langka kah? Memang semoga dibca ulang dan ulang hihi. Ini cepat tapi jangan berharap bisa begini terus. Saya gak niat buat update asap.

yolyol_Sep 22 c5_Kyuhyunnya sakit jantung, ya. Do'a anda terkabul. Ini update.

ayame_Sep 22 c5_next. Selamat membaca

Sima Yu'I

(SY'I)