Mimpi yang berupa flashback
Hidung mungil itu di kecup yang membuat sang bocah tertawa geli dan senang.
"Appa, kalau dikecup hidung Kyunie nanti jadi panjang?" bocah itu mengerjap polos, ada sedikit protes dari binar matanya.
"Iyyakah? Sini appa kecup sekali lagi." sekali lagi appa muda itu mengecup ujung hidung putra kecilnya.
"Kyunnie tidak mau hidung Kyunnie panjang, appa." rengek sang bocah langsung menutupi hidungnya, menghalau sang ayah yang masih ingin mengecupi hidungnya. "Nanti seperti pinokio yang berbohong. Kyunnie tidak berbohong."
"Ommo! Bisa seperti itu?! Arraseo, nanti appa kasih obatnya agar hidung Kyunnie tidak panjang seperti pinokio."
"Obat? Pahit?"
Sang appa menggeleng. Tersenyum gemas pada wajah mungil anaknya. "Obatnya seperti ini." menangkup kedua pipi gembil sang anak, si ayah menggesekkan ujung hidungnya dengan ujung hidung putranya, yang lagi-lagi membuat bocah itu tertawa gembira. Ayahnya yang gemaspun memeluknya dengan erat.
Mimpi flashbacknya berakhir
Kim Young Woon terbangun tengah malam. Melihat disebelahnya Hera tidur dengan pulas. Young Woon masih berbaring, mengerjap-ngerjapkan matanya yang tidak bisa tidur lagi. Yang berakhir dengan dirinya sekarang duduk termenung di ruang keluarga.
Lelaki baya itu mengusap wajahnya dengan letih. Merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Kedua matanya menatap langit-langit ruangan. Pikirannya melayang pada mimpi yang barusan mengusik tidur nyenyaknya. Membuatnya ingat kejadian pagi tadi. Saat dia mengantar Henry ke sekolah. Saat dia memperlakukan Henry penuh sayang, sudut matanya menangkap siluet lain. Seorang murid yang sudah lama dia singkirkan dari hidupnya. Namun tidak benar-benar bisa disingkirkan, sosoknya masih ada dalam pikirannya, hati Hera dan di sekitar Henry.
Kim Kyuhyun.
Kyuhyun.
Hatinya sadar dengan jelas bahwa Kyuhyun bukan sosok yang harus disalahkan. Tapi Young Woon juga hanya manusia biasa yang tidak terelak dari perasaan marah dan benci. Wajah Kyuhyun mengingatkannya pada almarhumah sang istri pertama, istri yang sangat dia cintai Cho Youjin. Dia bisa memandang lama wajah Kyuhyun, namun dengan itu juga kemarahan dan kebenciannya muncul semakin nyata. Karena itu lebih baik dia mengelak. Menganggap Kyuhun tidak ada dan sudah mati.
Jika dulu dia menyambut kehadiran Kyuhyun dengan suka cita, berbalik dengan sejak kematian sang istri tercinta. Hanya ada kemurkaan, kecewa, marah, sakit hati dan kebencian yang mendalam. Bahkan setelah dia mencoba untuk melanjutkan hidupnya dengan menikah lagi dan menyayangi Henry sebagai anak sendiri, Young Woon masih terjebak pada kisah kelam masa lalu.
Itu sangat sadis untuk seseorang yang sudah menikah lagi seperti dirinya. Dia harus memikirkan bagaimana perasaan Hera dan Henry dan kebahagiaan mereka. Bukan tenggelam pada kegelapan yang merongrong hatinya. Meskipun Hera, istrinya yang sekarang, begitu menyayangi Kyuhyun, justru dirinya yang tidak rela. Young Woon merasa terkhianati. Pada akhirnya dia merasa tenang setelah Khuhyun dengan kebesaran hatinya meninggalkan rumah ini. Setidaknya dia tidak naik darah setiap kali pulang ke rumah dan terlibat percekcokan dengan Hera. Hal seperti itu banyak berkurang sekarang. Hera juga menurutinya untuk tidak menemui Kyuhyun, setelah dia terpaksa mengeluarkan ancaman.
Dengan letih dia mengusap wajahnya yang mulai berkeriput. Tercenung kembali oleh perdebatan sore tadi tentang keinginan Hera mengundang Kyuhyun pulang. Apa maksudnya?! Sedetik saja dia tidak ingin melihat wajah anak itu kembali. Namun Hera bersikeras juga memohon.
Hera selalu melakukan semuanya untuk Kyuhyun, apapun itu. Dan sering kali menentang perintahnya. Seperti dulu sewaktu dirinya memutuskan memutus semua biaya kehidupan dan pendidikan Kyuhyun. Dia bahkan berencana mengirim anak itu ke panti asuhan, namun Hera selalu menghalangi. Bahkan ketika akhirnya dia benar memutuskan untuk tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk Kyuhyun, Heralah yang mengambil alih tanggung jawab atas anak itu. Istrinya mengambil beberapa pekerjaan yang dapat dikerjakannya di rumah. Menerima pesanan kue, menjahit boneka, memasang kancing dan sebagainya. Semua hanya agar Kyuhyun mendapatkan apa yang juga didapatkan Henry. Pakaian, pendidikan dan segala keperluannya, meskipun pada kenyataannya Kyuhyun tidak mendapatkan selayak yang Henry dapat. Tidak pakaian bagus, mainan, sepeda, ataupun kasih seorang appa.
Hingga Young Woon suatu hari merasa sangat murka dan marah. Hari itu mendekati ujian akhir. Karena Kyuhyun bersekolah di swasta, yang masih harus membayar uang semester. Berhubung Hera sedang tidak memiliki uang sama sekali dia memintanya pada Young Woon. Karena itulah lelaki itu sangat marah. Dia merasa bahwa Kyuhyun semakin dan semakin merongrong kehidupannya. Terlebih lagi menjadikan wanita yang dia nikahi harus menderita dan banting tulang untuk bocah itu.
Young Woon ingat hari itu, dia sangat marah dan kalap menerobos masuk kamar Henry dan Kyuhyun. Menemukan Kyuhyun sendirian dan menghajarnya tanpa ampun. Menulikan telinganya sendiri dari teriakan Hera dan gedoran pintu yang dia kunci.
Seingatnya itu untuk kedua kali Young Woon melukai fisik Kyuhyun. Dia merasa mengerikan sekali dirinya hari itu. Namun sungguh dia merasakan kepuasan setelahnya. Dan dia semakin merasa dirinya bukan dirinya lagi. Dia sudah tenggelam terlalu dalam oleh kegelapan hatinya sendiri.
'Aku tidak mampu, jadi ini benar kulakukan. Youjin-ah kau begitu menderita karena anak itu. Jadi biarkan aku menjadi kejam.'
0o0o0o0
Hera sedang melayani suami dan putranya sarapan. Lalu bergabung duduk bersama mereka.
"Henry-ah, tanyakan pada hyungmu apa dia bisa pulang ke rumah hari ini."
Henry mengangkat kepalanya menatap pada eomma dan appanya bergantian. Appanya nampak kesal namun tidak mengatakan apapun.
"Wae, eomma?"
"Berapa lama dia akan menyembunyikan wajahnya dari eommanya. Aku sangat merindukannya Henry. Liburan musim panas ini aku ingin dia menghabiskan waktu di rumah."
Henry beralih menatap appanya. Seolah tahu apa yang dipikirkan putranya Hera menyahut. "Appamu sudah setuju. Sekalipun Kyuhyun tidak mau kau harus menyeretnya."
Henry diam. Sangat keberatan dengan perintah sang eomma. Lagipula kenapa appanya hanya diam saja? "Kyu hyung akan ikut kita berlibur?" tanya Henry ingat dengan rencana liburan mereka. Mereka akan pergi ke rumah orang tua eommanya di pedesaan. Untuk menginap beberapa hari di daerah laut itu. Mereka akan pergi setelah pengajuan cuti Young Woon di ACC.
"Eomma akan mengatakannya saat hyungmu datang."
Sang kepala keluarga menghela nafas kasar. Sumpit di letakkannya menandakan dia mengakhiri sarapan. "Kau sudah selesai, Henry-ah? Ayo pergi appa mengantarmu."
Henry mengangguk. Menyudahi makannya yang bahkan belum berkurang setengah. Dia mengikuti appanya keluar rumah. Hera hanya mengantar sampai pintu. Menatap sedih pada dua lelakinya yang masih bersikap begitu.
'Henry-ah, kau berjanji pada eomma untuk berbaikan dengan hyungmu. Tapi kenapa kau bertingkah begitu berat?'
Henry melirik appa di kursi kemudi. Lelaki baya terlihat serius memperhatikan jalan. Jadi dia ragu untuk membuka mulutnya. Memilih berpaling memperhatikan jalan dari jendela pintu.
"Kau tidak perlu mengatakannya jika kau ragu Henry." suara Young Woon memecah kebisuan dalam mobil.
Henry menata jawabannya lebih dulu. "Aku akan mengatakannya. Eomma sangat merindukan hyung. Sudah berapa lama eomma tidak melihat Kyu hyung?" mungkin bersikap lebih bijak tidak apa. Henry tidak ingin mengecewakan eommanya. Dia juga sadar diri, Kyuhyun tetaplah anak appanya. Dibandingkan dia yang hanya anak tiri. Sebaik apapun Young Woon kepadanya selama ini, Kyuhyun tetaplah yang lebih berhak atas semua hal yang sudah dia peroleh. Hanya saja dia ingin lebih lama bersikap egois.
"Appa, sebenarnya apa alasanmu bersikap buruk pada Kyuhyun hyung?" tanya Henry menatap sang appa.
Young Woon tidak menjawab. Namun terlihat jelas lelaki itu mengeratkan genggamannya pada stir dan wajahnya yang mengeras. Henry tidak ingin melanjutkan pertanyaannya. Walau dia sangat penasaran. Sangat ingin tahu kenapa ayah kandung bisa membenci putranya sendiri, kesalahan apa yang membuat Kyuhyun dibenci sang appa?
Henry turun di depan gerbang. Kali ini Young Woon tidak turun seperti yang dia lakukan sebelum-belumnya. Namun dia tetap tersenyum dan melambai pada Henry kemudian pergi.
Henry berjalan memasuki gerbang. Memikirkan bagaimana cara dia mengatakan pesan ibunya pada Kyuhyun. Semenyesal apapun dirinya, dia hanya pengecut yang akan menghindar. Mengabaikan janjinya pada sang ibu. Ibunya mungkin tidak tahu bagaimana renggangnya hubungan kedua pemuda itu. Atau berpura-pura tidak tahu.
Sebuah motor melaju disamping Henry degan kecepatan standart karena berada di area sekolah. Motor tersebut berhenti di parkiran. Begitu melihat siapa pemilik motor itu Henry memutuskan untuk menghampiri.
"Changmin hyung!" panggilnya melihat Changmin akan pergi dari parkiran. Mempercepat langkahnya Henry menyusul Changmin.
"Ada apa?" tanya Changmin yang tidak sadar terdengar ketus. Entah kenapa setiap kali melihat Henry dia berubah ketus tanpa dibuat-buat.
Henry tersenyum kecut. Sadar bahwa Changmin sudah tidak menyukainya lagi sejak bertahun-tahun lalu. "Bisa kau sampaikan pada Kyuhyun hyung? Eomma mengundangnya ke rumah. Hari ini."
Alis Changmin semakin menukukik tajam. Dia sangat kesal dengan kelakuan Henry ini. Sebegitu burukkah pikirannya hingga tidak ingin menyampaikan pesan Hera ahjuma langsung kepada Kyuhyun? "Kau benar-benar pecundang Henry!" seru Changmin menghentikan langkah hobaenya yang pergi begitu saja setelah mengatakan apa yang dia inginkan.
"Aku minta tolong, Changmin hyung. Sampaikan saja apa yang aku katakan." kata Henry dan kembali melangkah.
Changmin memejamkan mata, menahan kemarahannya. Menghela nafas dalam hingga beberapa saat hingga emosinya menurun.
Changmin tidak mengerti kesalahn seperti apa yang diperbuat Kyuhyun hingga keluarganya sendiri mengucilkannya. Mengusirnya, dan tidak sekalipun perduli padanya. Changmin ingat pertama kali dia melihat Kyuhyun. Bocah itu berjalan di tengah salju hanya dengan pakaian tipis.
"Appaku menikah hari ini. Aku akan pergi ke gereja."
Karena kasihan Changmin melepas mantelnya yang hangat dan mengenakannya pada Kyuhyun kecil. Bahkan mengganti sandal rumahan Kyuhyun dengan sepatu miliknya. Tidak sampai disana, Changmin berlari masuk kedalam rumahnya dan keluar lagi dengan sarung tangan dan sebuah kupluk rajut. Semua dipakaikannya pada Kyuhyun.
"Lebih hangat, bukan? Kau bisa pergi melihat pernikahan appamu sekarang."
Saat itu yang terpikir oleh Changmin adalah membuat Kyuhyun hangat. Melihatnya sendirian berjalan di jalan bersalju, merasakan kesepian dalam hatinya. Anak itu sendiri, kedinginan tanpa orang dewasa. Changmin hanya ingin berbagi kehangatan. Karena dia tahu bagaimana rasanya sendirian di hari bersalju seperti itu.
'Hari itulah, aku merasa untuk pertama kali aku tidak akan sendiri jika kami berbagi kehangatanku. Kyuhyun-ah, sampai kapan aku mampu bertahan menopangmu? Kau terlalu rekat menutup hatimu. Aku tidak mampu membukanya.'
0o0
Pengumuman liburan musim panas sudah diumumkan. Semua murid menyambutnya dengan suka cita. Siapa yang tidak senang dengan libur sekolah? Apalagi liburan panjang seperti ini.
Namun ada juga yang terlihat tidak semangat. Apalagi kalau bukan nilai hasil evaluasi semesteran. Beberapa orang tua lebih memutuskan untuk mengisi liburan anak mereka dengan kelas tambahan. Kalau pun ada jatah rekreasi paling hanya beberapa hari.
Changmin terkekeh kecil melihat beberapa anak di kelasnya berwajah masam. Mereka yang nilai evaluasinya rendah sudah pasti terpaksa ikut kelas tambahan tersebut. Beruntung dirinya yang lolos dengan nilai sangat baik. Jadi dia bisa fokus untuk pertandingan musim panas ini.
Cling cling.
Changmin merogoh ponsel disaku celana.
'Apa yang kau lakukan? Ayo ke kantin.'
Changmin tersenyum. Liburan akan dimulai besok, dan hari ini beberapa kelas dikosongkan. Pemuda jangkung itu beranjak dari duduknya karena Kyuhyun sudah berdiri menunggu di depan pintu.
"Seharusnya kau memanggil." protes Changmin dengan cara Kyuhyun mengajaknya keluar.
Kyuhyun mengedikkan bahu, acuh. Keduanya berjalan bersama pergi ke kantin. Sayangnya kantin penuh. Keduanya hanya bisa membeli roti isi dan minuman kaleng, kemudian membawanya ke taman. Mencari tempat nyaman dan teduh untuk menikmati jam kosong dan roti isi mereka.
"Ah andai seperti ini terus." Changmin menyamankan duduknya di bawah pohon mapel. Beralas rumput dan menyender pada pohon. Kyuhyun duduk di sebelahnya. "Membayangkannya saja sudah membuatku antusias."
Kyuhyun memakan roti, mendengarkan Changmin yang mengeluh dan berandai-andai. Dia hanya bisa memberi senyuman pada sahabatnya itu. Dia berharap sama juga. Sayangnya mana bisa hidup sesantai ini?
"Kyunie."
"?" Kyuhyun merespon dengan tatapan mata.
"Kau akan pergi ke rumahmu?" Changmin sungguh bertanya dengan hati-hati. Dia sudah mengatakan pesan dari Henry pagi tadi. Dan baru sekarang dia bisa memastikannya lantaran Kyuhyun yang hanya diam saat mendapat pesan yang disampaikannya.
"Hem." Kyuhyun mengangguk sekali, memalingkan wajah ke depan, menikmati rotinya. "Ini kesempatan untuk melihat mereka. Begitu ada undangan harus kugunakan dengan baik. Aku sangat kaget saat kau mengatakan pesan Henry tadi. Tapi aku senang. Aku akan berkunjung setelah sekian lama."
Changmin meremas roti di tangannya. Berapa lama Kyuhyun tidak pulang? Kyuhyun keluar dari rumah tersebut selang beberapa hari setelah masuk di Senior High School. Jadi satu tahun lebih.
"Kau sendiri, siapa yang akan melihat hasil nilaimu?"
Seolah baru menyadarinya, Changmin meringis kecil. "Entahlah."
Kyuhyun kembali menatap sahabatnya. Orang tua Changmin tidak di Korea. Seingat Kyuhyun Changmin sudah sendiri sejak mereka saling kenal. Kedua orang tuanya melakukan bisnis di luar negeri dan hanya akan pulang sesekali saja.
"Kau tidak akan mengirimnya lagi pada orang tuanmu?" tanya Kyuhyun. Tahun-tahun sebelumnya juga, Changmin tidak memberitahukan hasil evaluasinya kepada kedua orang tuanya. Lembaran hasil itu memang dikirimkan ke rumah tapi pembantu yang menerimanya dan Changmin sendiri yang akan menyimpannya. Sedikit menyesakkan, tapi Changmin terlihat baik-baik saja.
"Aku tidak tahu, apa aku harus kasihan padamu atau tidak?" Kyuhyun ragu karena Changmin selalu ceria menurutnya. Dia memang pernah mengeluh kesepian tapi dia merasa itu hanya sebatas keluhan tanpa arti.
Changmin tertawa. Dia suka melihat wajah bingung Kyuhyun. "Kyuhyunie, apa yang kau pikir membuatku terlihat perlu dikasihani? Aigo, dulu sih aku sering mengeluh tapi tidak lagi sejak hari itu."
"Hari yang mana?"
"Rahasia." Changmin mengerling jahil. Membuka bungkus roti dan memakan isinya. Dia menatap ke depan. "Eoh, itu Kibum sunbae." tunjuknya.
Kibum nampak berjalan bersama Zhou Mi. Zhou Mi seperti biasa selalu terlihat ceria dan penuh energi. Dan sok akrab. Lihat saja, dari jauh saja sudah melambai tangan heboh ke arah Kyuhyun.
"Dia melambai ke kita?" heran Changmin. "Dia melambai padamu, Kyuhyunie?! Kau mengenal Zhou Mi sunbae?" Changmin tidak menyangka.
"Dia teman Kibum hyung."
Changmin mengangguk. Bilang bahwa dia sudah tahu itu. Satu-satunya teman Kibum di sekolah ini. Setidaknya satu-satunya orang yang betah bersama Kibum, si pendiam tidak banyak omong itu.
"Yo, Kyuhyunie!" sapa Zhou Mi saat sampai. Kibum langsung mendudukkan diri di dekat Kyuhyun.
"Abaikan dia Kyuhyun-ah. Dia hanya bersembunyi dari yeoja yang sedang menggila."
Changmin dan Kyuhyun menatap Zhou Mi speechles. Kyuhyun rasa Changmin juga tahu popularitas Zhou Mi sebagai playboy. Apalagi memangnya yang membuat yeoja menggila kalau bukan karena pemuda tampan itu memutuskan hubungan sepihak dengan entah apa alasannya.
"Lalu kenapa kemari? Ini cukup terbuka sebagai tempat bersembunyi!"
"Hey bocah, kenapa kau makan mentah-mentah omongan si batu es ini!" sergah Zhou Mi pada Changmin.
"Kalau begitu kau pergilah." usir Kibum tanpa hati.
Zhou Mi mencibir. "Aku datang untuk Kyuhyunie. Kenapa kau mengusirku? Kyuhyun-ah tidak menolakku, ya kan Kyuhyunie?" Zhou Mi berkedip pada Kyuhyun. Membuat pemuda pucat itu mengangguk pasrah.
"Kau terlalu baik pada sampah itu."
"YAK Kibumie! Kapan kau akan bersikap baik padaku!"
Kyuhyun menarik lengan Changmin, memeluknya kemudian berbisik di telinga sahabatnya. "Aku jadi ingat Heechul hyung."
Changmin terkikik. "Setidaknya aku melihat Kibum sunbae banyak omong tidak hanya padamu."
Setelah adu mulut kecil-kecilan itu keduanyapun diam. Zhou Mi yang sedari tadi berdiri mendudukkan diri di dekat Changmin. Wajahnya kembali ceria detik berikutya seolah sebelumnya tidak terjadi apapun.
"Ne, Kyuhyunie liburan nanti akan kemana?" tanyanya.
"Zhou Mi sunbae, Kyuhyunie tidak akan kemana-mana." Changmin yang menjawab.
"Kenapa? Aku dan Kibum berencana ke pulau Nami. Kalian ikut, ya." itu ajakan.
Kibum mendecih. Kapan dia setuju tentang rencana liburan itu. Ah Zhou Mi memang selalu seenaknya saja.
"Itu pasti menyenangkan. Tapi, aku ada pertandingan." sesal Changmin.
"Mian Zhou Mi hyung, aku ada kerja part time."
Zhou Mi berbinar mendnegar dia dipanggil hyung-
"Dan kapan aku setuju untuk liburan bersamamu?!" desis Kibum kesal. "Aku tidak akan kemana-mana."
-kemudian memasang wajah tidak berdaya oleh penolakan Kibum.
"Itu benar Zhou Mi sunbae. Bukannya kau sudah kelas tiga? Sebaiknya belajar dengan rajin daripada berlibur." saran changmin.
"Padahal dia ada kelas musim panas." Kibum mencoba memperingati.
Zhou Mi mendesah berat. "Aku liburan juga untuk menyegarkan otak. Mana mungkin satu bulan penuh belajar saja. Itu membosankan." keluhnya. Dia melirik Kibum. "Kibum kau tidak mungkin menghabiskan waktumu untuk belajar, kan. Kenapa kau tidak ikut aku saja?" bagi Zhou Mi yang penting dia punya teman untuk mengisi liburannya dan menghindari kelas tambahan.
"Tidak mau." tolak Kibum mentah-mentah.
Zhou Mi mengacak rambutnya frustasi. Apa dia tidak pergi saja? "Baiklah. Kalau begitu aku akan berlibur di rumahmu saja, Choi Kibum!"
"YA!" Kibum ingin sekali mematahkan leher Zhou Mi sekarang.
0o0o0o0
"Nikmati liburan kalian, sampai jumpa lagi."
Jam sekolah hari itu ditutup. Semua anak bersorak gembira. Kyuhyun segera keluar begitu wali kelasnya pergi. Tepat saat Changmin juga keluar dari kelasnya. Keduanya berjalan bersama.
Changmin berjanji untuk mengantarnya pergi ke rumah sang appa.
"Kau yakin Kyu?" tanya Changmin.
Kyuhyun terkekeh. "Kenapa jadi kau yang gelisah?" Kyuhyun menepuk punggung sahabatnya. Changmin menyalakan motor, menunggu Kyuhyun untuk naik.
"Kyuhyunie!"
Kyuhyun urung naik ke motor Changmin mendengar panggilan tersebut. Kibum nampak melangkah lebar menuju dirinya.
"Kau akan pergi ke café? Bukannya ini terlalu awal?" tanya Kibum.
Changmin mematikan mesin motornya. Melepas helm dan memperhatikan Kibum dan Kyuhyun. Dibenaknya masih tidak percaya seorang Kibum terus menerus mendekati seorang Kyuhyun.
"Aku libur hari ini, hyung."
Kibum terdengar senang. "Mau keluar denganku?"
Kyuhyun melihat Changmin. "Tentu saja, Changmin-ah juga boleh ikut. Kita bisa bersenang-senang bertiga."
"Aku pikir Kibum sunbae akan menghabiskan waktu dengan Zhou Mi sunbae?" pancing Changmin.
"Dia ada kencan." jawab Kibum langsung.
"Mianhe Kibum hyung. Aku ada urusan keluarga. Hari ini aku pulang."
"Pulang?" heran Kibum.
"Lain kali kita bisa pergi bersama, hyung. Aku pergi, ne." pamit Kyuhyun. Changmin memakai kembali helmnya, menyalakan motor, Kyuhyun naik di belakangnya berpamitan sekali lagi pada Kibum. Motor melaju meninggalkan Kibum yang masih berfikir kata 'pulang' yang dipakai Kyuhyun.
'Benar juga, dia hanya menyewa di tempat itu.'
Kibum jadi penasaran rumah tinggal Kyuhyun sebenarnya. Siapa orang tuanya. Bagaimana kehidupannya. Siapa tahu dia juga bisa lebih memastikan Kyuhyun adalah Kyuhyun yang selama ini dia cari.
0
Kyuhyun harus meyakinkan Changmin kalau dia baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Terkadang Changmin itu suka berlebihan kalau mengkhawatirkannya. Padahal tempat yang akan dia masuki adalah rumah orang tuanya sendiri. seolah dia akan celaka saja kalau dia masuk ke sana.
Meski berat akhirnya Changmin menuruti Kyuhyun agar meninggalkannya, padahal dia inginnya menunggu. Dia tidak tenang sebenarnya tapi Kyuhyun berusaha keras agar dirinya yakin padanya.
"Baiklah, kabari aku apapun yang terjadi." putus Changmin. "Masuklah, aku akan pergi setelah kau masuk."
Kyuhyun mendesah. Mengalah, dia melangkah memasuki pintu pagar. Kyuhyun memperhatikan sekeliling dengan jelas. Dia tersenyum melihat bunga-bungaan yang nampak segar di pekarangan rumah. Hasil dari kecakapan Hera bercocok tanam. Perasaan Kyuhyun dipenuhi rindu yang meluap sekarang. Langkahnya melebar saat dia mendekati pintu rumah.
Kyuhyun menoleh, melihat Changmin yang masih betah menunggunya. Benar-benar tidak akan pergi sebelum Kyuhyun masuk ke dalam rumah. Kyuhyun geli sendiri, namun begitu menghadapi pintu di depannya, dia diserang gugup.
Setelah mengatur hatinya, Kyuhyun mengangkat tangan menekan bel disamping pintu. Tidak menunggu lama Henry muncul membuka pintu.
"Sudah datang?" hanya basa-basi. Canggung Henry membuka jalan mempersilahkan Kyuhyun masuk.
Changmin melihatnya. Entahlah, dia sedikit lega begitu pintu ditutup, menelan keberadaan Kyuhyun. Changminpun mulai menstarter motor dan melajukannya menuju rumahnya sendiri yang terletak beberapa blok dari rumah Kyuhyun. Berbeda kawasan perumahan.
"Kyuhyun-ah!" Hera buru-buru menuruni tangga dan berlari memeluk Kyuhyun. "Ya Tuhan akhirnya kau datang." Hera memeluknya begitu erat. Menyalurkan kerinduan dan kelegaan.
Kyuhyun tertawa kecil. Balas memeluk singkat sang ibu. Akhirnya mereka melepas pelukan, namun Hera tidak juga melepas tangannya. Dia mengusap wajah Kyuhyun dengan mata yang berkaca-kaca, rasa haru menyelimuti dirinya. "Lihat dirimu, sayang. Kau semakin tampan."
"Gomawo eomma."
Hera tertawa senang, menyeka sudut matanya yang berair. Menggamit lengan Kyuhyun Hera menariknya ke tempat duduk di ruang keluarga. Disana ada appanya dan Henry, yang lebih dulu pergi saat Hera menerjang Kyuhyun. "Sapa appamu. Aku buatkan minum sebentar." Hera mengusap bahu Kyuhyun menegarkan sang putra.
Kyuhyun berjalan lebih dekat setelah Hera berlalu. "Anyeong appa." sapa Kyuhyun membungkuk sopan.
Henry menatap lurus pada layar TV seraya memperhatikan Kyuhyun dengan ekor matanya. Appanya bahkan tidak merespon sapaan Kyuhyun. Membuat kakaknya berdiri canggung. Tidak berani duduk juga tidak pergi. Henry mengambil remote mengganti saluran.
"Apa yang kau lakukan Kyuhyunie, duduklah." Hera datang lagi membawa beberapa gelas dalam nampan. Dia menyenggol kecil Kyuhyun dan menunjuk sebuah sofa single kosong. Artinya dia harus duduk disana. Kyuhyun bergerak dalam kecanggungannya, menduduki sofa single tersebut selagi Hera menata gelas di meja. Ditaruh tepat di depan masing-masing dari mereka. Hera duduk di salah satu kursi lain sambil memangku nampannya. Dia tersenyum pada Kyuhyun.
"Bagaimana kabarmu Kyuhyunie?" tanya Hera.
"Baik eomma." Kyuhyun memangku ranselnya. Suasanya sangat aneh disini. Tapi Hera seolah tidak peduli.
"Jika berat hidup sendiri, segera pulanglah. Eomma tidak tenang membiarkanmu sendirian."
"Gweanchana, aku betah di tempatku eomma. Sungguh jangan khawatir. Mianhe baru sempat berkunjung sekarang."
Hera terdiam mendengar perkataan Kyuhyun. Dia ingin perrcaya dengan semua yang dikatakan putranya. Tapi soal berkunjung? Mungkin jika bukan dia meminta Kyuhyun tidak akan pernah datang lagi, sekalipun ingin. Hera melirik suaminya. Mengeluh dalam hatinya. Untuk meminta ijin kunjungan Kyuhyun saja dia harus berdebat panjang dengan sang suami. Berapa kali dia memohon dan berharap Young Woon akan luluh. Tapi syukurlah, hari ini tiba juga.
"Henry-ah, kenapa kau diam saja?" tegur Hera pada Henry.
Henry menatap ibunya kemudian beralih pada Kyuhyun. Hanya sekilas dia berpaling ketempat lain. "Tidak ada yang ingin kukatakan."
Hera menghela nafas diam-diam. "Aku sudah mendapat hasil evaluasi semestermu. Itu menakjubkan. Kau selalu membanggakanku Kyuhyunie."
Kyuhyun tersenyum. Sedikit malu karena dipuji.
"Hari ini kau harus menginap."
Perkataan Hera menarik perhatian ketiga pria itu. Namun Hera masih lurus menatap pada Kyuhyun. Tersenyum.
"E-eomma itu,"
"Itu tidak bisa, Hera." potong Young Woon. Hera balas menatap suaminya. Ketajaman mata itu tidak membuatnya takut.
"Sudah sangat lama. Kau bahkan tidak mengijinkan ibunya memeluknya hanya semalam saja?" balas Hera tidak kalah tajam.
Young Woon meremas kain celananya. Dia bangkit berdiri meninggalkan ruang keluarga. Hera menghela nafas panjang, mendinginkan kepalanya. "Kyuhyunie, minumlah. Aku akan bicara dengan appamu sebentar."
Kyuhyun menatap gelas diatas meja, tidak berniat mengambil dan meneguk isinya. Ketegangan masih tersisa di ruangan itu. Seandainya dia tidak harus datang.
"Hal seperti itu yang selalu membuatku muak."
Kyuhyun mengangkat kembali wajahnya, menatap Henry yang barusan berkata. Henry menatapnya dengan dingin. "Kepergianmu tidak merubah apapun. Tapi itu cukup membuat tenang rumah ini. Jadi lihat apa yang terjadi hari ini saat kau ada."
Kyuhyun menghembuskan nafas dari mulutnya. Tersenyum kecil. "Mianhe, ne."
Henry mendengus. 'Kenapa kau tersenyum? Pergilah. Kenapa memaksa jika hatimu terluka.'
Hera masuk ke dalam kamar dimana Young Woon berlari menghindar.
"Jangan terlalu kejam, yeobo." Hera menyebut nama panggilan Young Woon. "Semalam saja. Kau menolak keras saat aku ingin mengajaknya berlibur. Jadi biarkan dia menginap semalam saja. Hindari dia jika kau merasa muak. Kau bisa melakukan banyak hal agar tidak harus bertatap muka dengannya."
Young Woon berbalik menatap Hera.
"Kumohon. Aku merindukannya." pinta Hera.
"Baik. Hanya malam ini. Paginya dia harus sudah pergi."
0o0o0o
"Ini hadiah untukmu."
Kyuhyun menerima paper bag berukuran besar tersebut. Melihat apa isinya.
"Itu hadiah untuk nilai evaluasimu yang membanggakan." Hera duduk di ranjang, disamping Kyuhyun.
Kyuhyun ingin menangis di pangkuan wanita ini. Wanita yang telah berhasil menjadi sosok ibu baginya. Tidak sekalipun membedakan dirinya dengan Henry. Menggantikan sosok mengerikan yang menghantui setiap malamnya. Hera adalah malaikatnya.
Hera terkejut menerima pelukan tiba-tiba Kyuhyun apalagi dirasakannya tubuh pemuda itu bergetar. Hera mengusap punggungnya. "Bersabarlah. Eomma tahu kau sudah banyak menderita. Maafkan eomma, ne, hanya sebatas ini eomma mampu membantumu." air mata Hera mengalir. Merutuki ketidakmampuannya menghadapi Young Woon.
Kyuhyun mengusap air matanya kemudian melepas pelukan mereka. Menampilkan senyum lebar. "Kau sudah melakukan lebih dari cukup eomma. Banyak hal luar biasa yang sudah kau lakukan untukku." ucap Kyuhyun tulus. Mengingat semua hal yang sudah dilakukan Hera selama ini. Hera yang membiayainya saat Young Woon memutus biaya pendidikannya. Hera yang selama ini bekerja sampingan hanya agar Kyuhyun bisa membeli baju ganti. Hera yang selalu merengkuhnya saat dia untuk pertama kali dipukuli Kangin sewaktu dulu. Hera yang menangis menggila saat Young Woon memasukkannya ke ruang operasi. Dan banyak hal lainnya yang tidak bisa Kyuhyun sebutkan satu-satu. Semua hal dilakukan oleh Hera hanya untuknya.
"Eomma aku senang akhirnya eomma akan ikut berlibur. Selama ini eomma selalu menolak berlibur jika aku tidak ikut."
"Dan kau selalu menolak dengan alasan mabuk kendaraan. Alasan konyol."
Kyuhyun terkekeh. Alasan konyol itu bukan dari mulutnya tapi hanya karangan Toung Woon agar tidak mengikut sertakan Kyuhyun dalam liburan keluarga. Sayangnya Hera tahu hal itu dan berakhir dengan dia menolak ikut liburan juga. Tapi Young Woon tetap pergi hanya dengan Henry.
"Kyu-ah," Hera meraih tangan Kyuhyun menggenggamnya dengan erat. "Apa berat hidup sendiri?"
Kyuhyun tahu Hera tidak sepenuhnya tenang memikirkannya. "Eomma, kau terlalu khawatir. Aku baik-baik saja. Aku memiliki Changmin dan banyak teman lainnya. Aku tidak sendiri, aku mengisi waktuku dengan baik. Percayalah, atau eomma akan selalu merasa berdosa setiap saat."
Hera mengangguk menahan senyumnya. Mengelus tangan dalam genggamannya. "Baiklah, eomma percaya saja. Tapi ingat, kalau kau kekurangan uang jangan sungkan bilang pada Henry. Eomma bisa menitipkan uang padanya agar diberikan padamu. Terus terang eomma tersinggung saat kau menolak uang saku yang eomma berikan waktu itu."
"Karena aku masih bisa menangani kebutuhanku eomma. Ayolah eomma apa kita akan membicarakan hal ini semalaman?" rajuk Kyuhyun pura-pura.
Hera tertawa menjitak sayang kepala Kyuhyun. "Dasar nakal."
Henry berbalik. Tidak ingin mengganggu mereka dengan kemunculannya. Dia memilih kembali turun ke bawah, menunggu sampai ibunya puas melepas rindu dengan putra kesayangannya.
"Wae, Henry?" tanya Young Woon melihat Henry kembali turun.
Henry tersenyum. Merebahkan kepala dipangkuan sang ayah. "Anni. Hanya belum mengantuk."
"Tsk. Mereka menjarah kamarmu?"
Henry tertawa.
"Biar appa urus."
Henry menahan pinggang ayahnya. "Jangan appa. Setidaknya biarkan eomma bahagia, dia sangat merindukan Kyuhyun hyung."
Young Woon menatap Henry. Kembali menyamankan dirinya. "Kau tidak cemburu?"
Henry menerawang. Cemburu? Tentu saja. "Kyuhyun hyung yang seharusnya cemburu lebih besar. Aku memiliki cinta appanya, bukankah itu sangat tidak adil?"
Young Woon tidak menyahut. Henrypun seolah tidak peduli.
TBC
