Kyuhyun merasakan sesak menghimpit dadanya. Tidurnya tidak tenang, tubuhnya menggeliat penuh peluh. Sprei yang ditidurinya sudah berantakan dan selimut melorot hingga ujung kakinya.

Masih berusaha membuka matanya lebih lebar, mengalihkan rasa sakitnya dengan mencengkram sprei di bawah tubuhnya. Kyuhyun memaksakan diri untuk bangun. Meski kepayahan dia mampu bangkit dari ranjang rumah Leeteuk. Berjalan menuju meja yang tidak jauh dari tempat tidur. Di sebelah meja ada tasnya, dia meletakkan obatnya di dalam tas itu, yang kini menjadi tujuannya. Kali ini dia butuh menelan obat tersebut. Dia tidak bisa menahannya lagi.

Kyuhyun menelan satu butir obatnya. Duduk menyandar di dinding menunggu hingga obatnya bekerja. Tangannya yang gemetar mengusap peluh di kening. Badannya bersandar lemas namun nafasnya perlahan mulai beraturan.

Matanya sayu memandang udara kosong. Perasaan sedih datang tiba-tiba menusuk tepat dasar hatinya. Air matanya mengalir.

"Aku lelah. Sangat lelah, Tuhan." dia membenturkan kepalanya pelan menghantam dinding yang bisu. "Appa, eomma, Henry biarkan aku kembali. Tolong aku ingin kembali."

Kyuhyun menarik kedua kakinya, menyembunyikan wajah disana sekaligus meredam isakan menjadi sehalus mungkin. Kyuhyun tidak ingin Leeteuk bangun dan mendapati dirinya selemah ini. Tidak ada seorangpun yang boleh melihat dirinya yang ini. Atau mereka akan semakin mengasihaninya. Dia tidak ingin kepedulian yang berdasarkan hal tersebut. Tidak. Jika dia selemah itu bagaimana dia mampu untuk menghadapi appanya.

0o0o0o0

Kyuhyun memang bangun pagi, sebelum Leeteuk malah. Harusnya begitu Leeteuk bangun dia sudah disuguhi sarapan. Tapi apa, hanya segelas kopi susu. Kyuhyun sendiri sibuk dengan lantai rumah.

"Saem, aku tidak bisa memasak."

Sungguh tidak ada rasa bersalah yang bisa dilihat Leeteuk dari mata yang sedang menatapnya itu.

"Lalu kenapa tidak bilang kemarin?"

"Kau tidak bilang memasak juga tugasku?" itu pembelaan.

Jika bisa Leeteuk ingin sekali menguyel kepala pemuda yang sedang mengepel itu. Namun urung dan lebih memilih duduk menikmati segelas kopi. Enak, komentarnya dalam hati setelah menyesap cairan coklat campuran kopi dan susu.

Leeteuk mengalihkan mata memperhatikan Kyuhyun yang masih pada kegiatannya. "Sepagi ini kau sudah mengepel?"

"Aku juga sudah mencuci, membersihkan dapur dan halaman. Kalau masih ada baju kotor yang tertinggal tolong letakkan saja di tempat cucian, aku akan mengerjakannya setelah kembali nanti."

Leeteuk masih fokus pada wajah muridnya yang berbeda hari ini. Entah perasaannya saja atau memang wajah pemuda itu sedikit pucat hari ini?

"Saem, kau mendengarku?" Kyuhyun memandangi gurunya dengan penasaran. Rupanya gurunya sedang tidak fokus. "Saem!"

Leeteuk tersadar, memberi atensi di kedua mata Kyuhyun. "Apa?"

Kyuhyun mendesah hingga kedua bahunya juga ikut turun. Kembali meneruskan pekerjaannya. "Aku akan pergi melihat pertandingan Changmin. Itulah kenapa aku lebih awal mengerjakan tugasku."

Leeteuk ber-oh tanpa mengeluarkan suara. Kembali mengangkat cangkir kopinya. "Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Leeteuk sebelum menyesap kembali kopinya. Namun dia waspada dengan semua respon tubuh Kyuhyun. Dia menangkap sedikit gesture berbeda saat dia melontaran pertanyaan barusan.

"Kamar di rumahmu sangat nyaman, saem. Kasurnya empuk berbeda sekali dengan yang ada di tempatku. Aku hampir tidak bisa bangun karena terlalu nyaman." nada yang ceria dan seolah mengalir tanpa beban. Namun sekali lagi Leeteuk bisa menangkap hal yang berbeda.

"Kapan berangkat?" memutuskan untuk tidak membuat Kyuhyun curiga bahwa dia bisa menangkap keganjilan itu, Leeteuk lebih baik mengalihkan perhatian Kyuhyun.

Kyuhyun lebih dulu melihat jam dinding. Masih jam 8, "Jam 10 sudah mulai."

"Jadi kau harus berangkat jam 9."

"Karena itu aku bangun lebih awal."

Leeteuk mengangguk paham. Dia ingin menyesap lagi kopinya dan sadar itu sudah habis. Dia tersenyum kecut, ternyata memang enak sampai dia tidak sadar kopinya sudah habis. "Kau belajar membuat kopi dari siapa? Heechul?"

Kyuhyun mencibir, memeras kain pelnya. "Mana mau Heechul hyung mengajariku? Aku belajar dari Hera eomma. Apa itu enak?"

"Heum. Bisa buatkan aku yang seperti itu setiap pagi?"

Kyuhyun tersenyum senang. "Tentu. Aku sudah selesai, boleh aku bersiap sekarang?"

Leeteuk mengangguk. Kyuhyun mengangkat ember air pelnya membawanya ke belakang, membersihkannya baru kemudian dia segera pergi mandi dan bersiap. Leeteuk sendiri membawa cangkir kopinya ke dapur. Dia berniat membuat sarapan untuk mereka berdua. Leeteuk tidak biasa melewatkan sarapan, dia juga tidak akan membiarkan Kyuhyun keluar rumah tanpa mengisi perut dulu.

Hanya sarapan sederhana. Nasi goreng campur sosis,telur dan kol. Cukup untuk dua porsi. Sudah siap begitu Kyuhyun keluar dari kamarnya.

"Duduk sini, sarapan dulu."

Kyuhyun melihat ke meja makan kemudian beralih di jam dinding. Masih ada waktu jadi dia duduk dan menyantap sarapan yang dibuatkan Leeteuk. Dia tidak suka sayuran. Tapi karena kolnya diiris tipis dan panjang tercampur halus di nasi saat dimakan rasanya enak-enak saja, justru segar. Kyuhyun memakannya dengan lahap.

"Kau pulang jam berapa?"

"Euhm.." Kyuhyun mencoba mengira-ngira tapi kemudian mengedikkan bahu. "Tidak tahu. Jika tidak ada acara lain aku bisa segera pulang."

"Kau bawa obatmu?"

Kyuhyun memajukan bibirnya. "Iyya." jawabnya sedikit sewot. Kyuhyun selesai menghabiskan nasi goreng di piringnya, menutup acara sarapannya dengan meneguk habis segelas air putih. Namun saat dia akan pergi Leeteuk menahannya.

"Kau belum meminum obatmu."

"Aku akan menelannya nanti."

Leeteuk menyorongkan air putihnya yang belum tersentuh. Dan bergesture agar Kyuhyun meminum obat di hadapannya. Ini salah satu alasan kenapa dia berharap Kyuhyun akan bersedia menerima pekerjaan darinya. Dengan tinggal di bawah atap yang sama Leeteuk bisa lebih leluasa mengawasinya. Hal yang harusnya dia lakukan setelah mendengarkan hasil pemeriksaan terakhir kali. Hankyung mengeluhkan tentang obat yang harus diminum tepat waktu dan harus tepat tiga kali sehari. Hankyung juga mengatakan bahwa kemungkinan interval kambuh Kyuhyun lebih sering. Tapi bagaimana Leeteuk bisa tahu kalau dia tidak memasang matanya 24 jam pada Kyuhyun, jadilah ide untuk memberi pekerjaan pada Kyuhyun terpikir.

Dengan terpaksa Kyuhyun melakukan apa yang dipaksakan oleh Leeteuk. Menelan obatnya. 'Hahh semalam dan pagi ini. Orang ini benar-benar tidak mengerti keadaanku.' keluh Kyuhyun dalam hati. Memandang tidak rela pada obatnya yang berkurang.

"Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku harus ke sekolah."

Kyuhyun tidak ingin bertanya apa yang akan dilakukan Leeteuk pergi ke sekolah di liburan musim panas ini. Padahal pasti sekolah sepi sehubung kelas tambahan masih minggu depan baru dimulai.

O0o0o0o

Kyuhyun akhirnya sampai di GOR kota. Melihat jam diponselnya tepat jam 10. Kyuhyun bergegas melangkah. Saat sampai di dalam para pemain sudah bersiap untuk lompatan pertama. Dia melihat Changmin beradu dengan lawan untuk merebut bola pertama itu. Peluit ditiup dan bola siap di lempar, Changmin dan lawan melompat berusaha lebih dulu meraih bola. Changmin mendapatkannya lebih dulu.

Kyuhyun tersenyum bangga saat melihat sahabatnya mendapatkan bolanya.

"Jangan berdiri disini." Kyuhyun terkejut mendapat teguran tersebut. Lebih terkejut lagi dia melihat Kibum yang menegurnya.

Kibum meraih lengan Kyuhyun, menariknya hingga ke bangku penonton. Ada Zou yang sudah duduk juga disana.

"Duduk disini, Kyunie!" Zou Mi ganti menarik lengan Kyuhyun. Mendudukkannya disisinya. Kibum menghela dan duduk di sebelah Kyuhyun.

Kyuhyun masih terkejut mendapati kedua seniornya ada di pertandingan ini. "Zou Mi hyung kalian suka basket?" tanyanya yang tidak bisa menahan penasarannya.

"Lumayan." jawab Zou Mi. "Tapi Kibum ingin sekali pergi kesini, jadi aku mengikut saja." Zou Mi tersenyum lebar kemudian beralih melihat ke lapangan.

Kyuhyun melirik Kibum di kirinya. Senior tampannya itu sedang fokus pada pertandingan di lapangan. Kyuhyun berkedik bahu dan memilih untuk ikut fokus pada pertandingan Changmin.

0o0o0o0

Changmin dan timnya saling berjabat tangan dengan lawan mereka usai pertandingan. Tim Changmin menang, itu artinya mereka akan maju ke babak berikutnya yang terjadwal minggu depan.

Changmin melambai ke arah penonton, tepatnya pada sahabatnya Kyuhyun. Namun murid-murid perempuan dari sekolahnya juga sekolah tetangga jadi heboh, mereka pikir dia melambai kepada mereka.

Kyuhyun beranjak begitu para pemain bubar begitu juga Kibum dan Zou Mi. Kyuhyun berencana menunggu Changmin didepan, Kibum berencana ikut, Zou Mi tadinya ingin ikut tapi seorang perempuan menarik lengannya dan pergi entah kemana. Tinggal Kyuhyun dan Kibum yang sekarang berdiri bersebelahan menunggu Changmin selesai berganti pakaian.

"Kibum hyung kau bisa pulang lebih dulu."

"Aku berencana mengajakmu keluar."

Entah sudah berapa kali mereka bertemu dan bicara, tapi tetap saja Kyuhyun merasa canggung. Terlebih lagi menurut Changmin Kibum seolah sengaja mendekatinya. Dia jadi sedikit cemas dengan itu.

Changmin yang sudah selesai keluar lebih dulu untuk menemui Kyuhyun. Dari jauh dia bisa melihat Kyuhyun bersama Kibum. Dia berhenti melihat mereka berbicara, entah apa. Dia melihat tidak suka pada Kibum. Dia semakin curiga dengan orang itu.

"Kyunie." panggilnya mendekat.

"Chukkae Changmin-ah!"

Bukannya membalas dengan senyuman dan terima kasih dia malah memeluk Kyuhyun. "Aku senang melihatmu datang."

Kyuhyun menepuk-nepuk bahu belakang Changmin. Dia sudah biasa dengan kelakuan aneh Changmin jadi tidak soal jika mendapatkan pelukan seperti ini. Namun berbeda dengan Kibum. Senior satu itu berdehem hingga Changmin melepas pelukannya.

Teman-teman satu tim Changmin keluar dari ruang ganti. Changmin melambai pada mereka. "Kyu, ikut kami, ok. Pelatih akan mentraktir untuk pertandingan hari ini."

Kyuhyun tidak menolak. "Ajak Kibum hyung juga."

"Kupikir sunbae akan pulang?"

Kibum menatap Changmin. "Tidak. Aku berencana ikut denganmu."

Changmin mendecak diam-diam. Niatnya agar Kibum merasa disisihkan kemudian sadar diri dan menyingkir. Tapi malah dia yang merasa disingkirkan. Selama di café tempat pelatih Yunho menraktir mereka, Kibum duduk di dekat Kyuhyun dan mengajak Kyuhyun terus berbicara dengannya. Alhasil Changmin hanya bisa melihat interaksi mereka.

Saat mereka akhirnya pulangpun Changmin harus rela membiarkan Kyuhyun diantar Kibum. Awalnya Kyuhyun sudah setuju untuk pulang dengan Changmin tapi seorang teman timnya minta diantar pulang. Jadi Kyuhyun beralih minta diantar Kibum.

"Kibum hyung suka basket?" tanya Kyuhyun memecah kebisuan di dalam mobil Kibum. Pertanyaan yang sama yang dilontarkannya pada Zou Mi.

"Tidak juga."

"Tidak?" heran Kyuhyun.

"Aku datang ke tempatmu. Tapi pemilik tempat itu bilang kau menginap di tempat lain?"

"Kibum hyung datang ke tempatku? Untuk apa?"

Kibum tersenyum. "Aku menduga kau akan pergi melihat pertandingan tim basket jadi kupikir aku akan melihatnya juga. Mengisi waktu luang. Aku datang untuk mengajakmu berangkat bersama. Tapi kau malah tidak ada."

"Oh." Kyuhyun mengangguk menerima alasan tersebut. "Bagaimana kabar Donghae hyung?"

"Baik. Tadinya dia ingin ikut, tapi Hyukjae hyung datang dan mengajaknya pergi."

Siapa bilang Kibum itu irit bicara? Meski Changmin yang bilang, dia tidak percaya jika melihat Kibum yang selama ini. Kibum cukup banyak bicara menurutnya. Buktinya dia bertanya singkat tapi Kibum menjawabnya dengan detail dan panjang.

"Kyunie, kau ingin ke game center?"

Tuh kan. Selalu Kibum yang berinisiatif mengajaknya keluar.

"Tidak hyung. Aku ingin segera pulang saja."

"Ke flatmu? Atau?"

"Akan kutunjukkan jalannya."

"Dimana itu?" Kibum masih ingin jawaban yang pasti.

Kyuhyun menggaruk kepalanya. "Aku bekerja di sebuah rumah. Kerja tambahan."

"Ini liburan, Kyunie. Kau masih menambah pekerjaanmu? Untuk apa uang yang kau dapat?"

Kyuhyun diam. Kibum seolah sadar dengan pertanyaannya. "Mianhe, tapi kupikir anak muda akan memanfaatkan waktu seperti ini untuk bersenang-senang."

Kyuhyun memandang ke depan. "Tidak semua orang, hyung."

"Kau kesulitan ekonomi?" tanya Kibum terus mengejar.

"Yeah. Aku murid beasiswa, asal hyung tahu."

"Ya, aku tahu."

Kyuhyun melihat Kibum. "Dari mana tahu?"

Kibum melihat Kyuhyun sebentar sebelum beralih melihat ke depan. Dia menyetir jadi harus tetap melihat jalur. "Ya hanya tahu. Bukankah kau masih punya orang tua?"

Kyuhyun diam sejenak. "Heum. Tapi aku ingin mandiri."

"Itu alasanmu memilih tinggal sendiri?"

"Ya." bohong Kyuhyun menatap keluar. Dia mulai tidak suka. Ingin segera sampai di rumah Leeteuk.

"Kau tidak nyaman aku bertanya seperti itu?"

"Entahlah."

"Yang mana yang salah. Aku hanya ingin tahu tentang temanku."

"Kibum hyung, sudahlah. Bicarakan hal lain saja."

"Tidak Kyuhyun. Aku ingin tahu semuanya tentang dirimu. Aku penasaran dan aku harus memastikan sesuatu!" Kibum tidak sadar dengan ucapannya sendiri. saat sadar dia mendapati Kyuhyun menatapnya dengan tajam.

"Kyu, itu,"

Kyuhyun menggeser duduknya hingga menempel pada pintu. "Kau menakutiku Kibum hyung. Apa benar kau gay?"

Kibum memutar matanya malas. "Jika aku gay sudah sejak lama aku menyerang bocah manis sepertimu! Lagipula harusnya kau curigai temanmu sendiri yang main peluk seperti itu! Tidak tahu itu tempat umum, ya!"

Antara kesal dan speechles Kyuhyun mendengar omelan Kibum barusan. "Changmin maksud hyung?"

"Siapa lagi?"

Kyuhyun tertawa. Semakin lama semakin keras. Kibum melempar tatapan tidak suka.

"Hyung kau ini lucu! Tidak tidak, kau dan Changmin sama lucunya!"

"Jangan samakan aku dengannya!" Kibum menolak tidak suka.

Kyuhyun meredakan tawanya meski wajahnya memerah. "Changmin selalu curiga denganmu. Dia bilang Kibum hyung aneh. Kibum sunbae ada maksud mendekatimu, Kyunie. Aku tidak suka. Orang seperti itu patut dicurigai." Kyuhyun meniru perkataan Changmin.

Kibum merasa benar sudah waspada terhadap Changmin. Tapi maksudnya tidak buruk. Sungguh.

"Tapi apa maksud perkataan hyung tadi? Memastikan apa?"

Kibum diam. Dia memutar stir kekanan saat Kyuhyun menginteruksikan untuk belok kesana.

"Hyung kau belum menjawabnya." desak Kyuhyun saat Kibum bertahan dengan sikap diamnya. "Akan kuanggap kau benar-benar gay dan aku tidak akan lagi mau berbicara denganmu jika kau tidak menjawab."

"Memastikan kau adikku yang hilang diculik penjahat." jawab Kibum main-main.

Kyuhyun berdecak kesal. Tahu Kibum tidak serius ingin menjawab pertanyaannya. "tidak lucu, pabbo."

"YA! Ucapanmu tidak sopan, Kyunie!"

Kyuhyun berkedik bahu tidak peduli, mengalihkan wajah keluar jendela. Dia tersenyum menyadari kecanggungannya dengan Kibum mulai mengikis. "Andai aku benar-benar memiliki seorang hyung." gumamnya pelan yang bisa didengar Kibum.

"Jika begitu aku hyungmu."

"Mana bisa begitu. Aku anak pertama, Kibum hyung."

"Jadi kau punya adik?"

Sudah terlanjur bilang, pikir Kyuhyun. "Heum. Aku sangat menyayanginya dan kulakukan apapun agar dia bahagia."

Entah hanya perasaannya atau memang ada nada sedih dalam suara Kyuhyun. Kibum tidak memastikan karena wajah pemuda itu berpaling darinya. "Tidak apa, kau bisa menganggapku hyungmu."

Kyuhyun tertawa kecil. "Apa anak bungsu bisa memiliki jiwa seorang hyung? Aku rasa tidak."

"Coba saja. Aku akan menajadi hyungmu mulai sekarang."

Kyuhyun berpaling melihat Kibum yang menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Kyuhyun bisa merasakannya. Kibum melihatnya dengan mata yang membuatnya yakin. Kibum ingin menjadi hyungnya. Benarkah? Bolehkah?

Jika memiliki seorang hyung, bisakah dia memiliki kekuatan lebih untuk bertahan? Jika memiliki seorang hyung pasti ada yang akan mengerti dirinya dan melindunginya. Dia ingin sekali-kali dilindungi oleh tangan yang berbeda dari tangan seorang Ibu. Karena selama ini dia sudah melindungi orang lain sebagai saudara lalu kenapa jika dia juga ingin dilindungi oleh tangan seorang saudara juga?

Bolehkah?

0o0o0o0

"Yo Kyuhyunie!"

Kyuhyun ingin menendang lelaki itu. Seseorang yang dengan santainya duduk dilantai dan berpesta dengan si pemilik rumah. Oke dia memang bukan pemilik hak dari rumah yang sedang digunakan untuk berpesta kecil-kecilan entah dalam rangka apa, tapi yang jelas lantai tempat mereka duduk sekarang kotor oleh bungkus makanan, kulit kacang dan noda-noda lainnya. Jangan lupakan juga dua orang yang sudah terlihat mabuk itu.

Awas saja jika mereka tidak bisa melangkah sendiri nanti.

Kyuhyun memilih mengabaikan sapaan itu dan pergi ke kamarnya sebelum sebuah tangan menahan pergelangan kakinya. Kyuhyun menatap wajah memerah Leeteuk.

"Kau mabuk, saem."

Leeteuk mengangguk-angguk tidak sadar. "Hankyung akan menginap disini. Aku mengundangnya,"

"Berpesta?" potong Kyuhyun kesal.

Leeteuk menggeleng. Kemudian tersenyum. "Untuk membantuku mengawasi anjing nakal."

Kyuhyun mengernyit. "Dia dokter manusia, kurasa."

Kali ini Hankyung yang mengangguk. "Anjing kecil itu harus segera ditangani. Sunbaeku ini merasa stress bagaimana harus membujuknya."

Hahhh, kali ini Kyuhyun mulai paham. Pemuda itu berjongkok. Menahan kedua bahu Leeteuk yang sudah tidak bisa duduk tegak. "Seorang guru dan seorang dokter mabuk bersama. Sungguh hal yang sangat menarik untuk dilaporkan."

Hankyung menjatuhkan kepalanya ke atas meja, tidak peduli jika disana berserakan kulit kacang. Dia sudah tidak mampu membuka matanya.

Kyuhyun menghela nafas. Ini masih sore dan mereka berdua tidak tahu diri, yang begini yang menyusahkan dirinya. Kyuhyun mengguncang bahu Leeteuk membuat gurunya itu membuka matanya lebar-lebar, namun kalah dengan pengaruh alkohol.

"Bepindahlah. Aku akan membereskan semua ini." meski memerintah tapi toh Kyuhyun juga yang berusaha mengangkat tubuh gurunya. Memindahkannya ke kamar Leeteuk. Begitu juga dengan Hankyung, dia berdo'a dalam hati semoga uisa muda itu tidak ada jadwal apapun di rumah sakit.

Setelah memindah keduanya, Kyuhyun melempar ranselnya ke kamarnya sendiri dan kembali ke ruangan itu untuk membersihkannya dan mengepel lantainya.

Sewaktu-waktu dia berhenti dan mengusap dadanya. 'Apa semakin parah? Dua orang itu terlihat stress. Semoga mereka tidak lebih depresi dariku. Akan kacau nanti.' lalu kembali meneruskan kegiatannya.

0o0o0o0

"Ah!" pekik Hera merasakan sakit diujung jarinya. Spontan dia menjatuhkan pakaian yang sedang dia jahit. Jarinya tertusuk jarum tanpa sengaja.

Hera memasukkan jarinya ke dalam mulut. Menghentikan darahnya dengan cara mengemut dan meludahi luka tusuk itu.

"Aku pulang!"

Wanita itu menoleh ke arah pintu. Melihat Henry masuk.

"Kau sudah pulang? Apa kau bersenang-senang?"

Henry menghampiri ibunya. Melihat baju di lantai, dia hendak mengambilnya. "Awas, masih ada jarum disana!" peringat Hera tidak ingin Henry terluka.

Henry mencari jarum yang masih terhubung dengan benangnya, mengambil baju itu dengan hati-hati. Menaruhnya kembali di pangkuan sang ibu. "Eomma terluka lagi? Kau butuh kaca mata eomma."

"Mata eomma masih sehat, Henry-ah." Hera melihat jarinya, sudah tidak ada darah yang keluar. Matanya masih sehat, tentu saja hanya saja dia sedang melamun saja sewaktu bekerja. Dia kembali melanjutkan kegiatannya menjahit kancing baju suaminya.

Henry memperhatikan ibunya dalam diam. Ibunya terlihat menua, tapi dia masih nampak cantik. Apalagi saat tersenyum. Dulu dia sering melihat ibunya tersenyum dan itu sangat menyenangkan. Tapi sekarang, dia lebih sering melihat ibunya termenung. Masih ringan senyum, tapi tidak sepenuh hati. Henry tahu benar apa alasannya.

"Eomma, aku pergi ke atas, ne."

Hera tersenyum menanggapi putranya.

Pemuda itu menjatuhkan diri di ranjangnya. Sedang pikirannya berkelana pada ingatan masa kecilnya. Dirinya bersama sang ibu. Sebelum ada seorang Young Woon dan Kyuhyun. Adalah hari yang menyenangkan. Ibunya periang, giat bekerja dan selalu ramah. Dia hidup bahagia seingatnya. Walaupun dia tetap merindukan sosok seorang ayah. Dia selalu iri melihat teman sebayanya yang selalu di gendong ayah mereka di punggung atau dibahu mereka. Seseorang lelaki yang terlihat keren, bisa diandalkan dan selalu mengajak mereka jalan-jalan atau bermain. Dia iri pada mereka yang memiliki ayah. Harapannya terbesarnya dalah seorang ayah.

Hingga saat itu, saat Young Woon datang di rumah mereka, dia tahu itu adalah sosok yang akan dia sebut 'appa'. Henry sangat senang. Tentu saja. Itu seperti mimpi yang akan menjadi kenyataan. Dia akan memiliki seorang ayah.

Henry tidak keberatan dengan keberadaan Kyuhyun. Sebaliknya Kyuhyun begitu baik dan membuat dirinya merasa nyaman. Henry masih ingat Kyuhyun mampu menjadi sosok kakak yang sempurna hingga dia merasa memiliki keluarga bahagia.

Yang terlambat dia sadari adalah bahwa sikap sang appa begitu berbeda kepada Kyuhyun. Dia masih kecil untuk memahami semua itu. Sampai usianya menginjak belasan akhirnya dia paham. Appanya tidak suka dengan Kyuhyun. Karena itu dia sering mendengar percekcokkan kedua orang tuanya diam-diam. Awalnya Henry masih menganggap baik-baik saja karena mereka masih berusaha menjaga perasaannnya dengan tidak bertengkar di hadapannya. Namun pada akhirnya hal itu tidak terkontrol lagi. Tahun berganti dan mereka semakin sering berdebat, tidak perduli lagi jika itu dilihat oleh matanya.

Sejak itu pandangannya kepada Kyuhyun berubah. Sejak dia mengerti apa masalah mereka, dia juga mulai menyalahkan Kyuhyun. Tertekan dengan keadaan rumah, Henry pun jadi berubah. Dia lebih sering keluar dan menginap di tempat teman-temannya, terlibat perkelahian dan prestasinya juga menurun. Hera yang merasa cemas dengan sabar menanyainya, yang justru dibalas dengan sikap ketus. Berbeda jika sang appa. Henry lebih menempel pada ayahnya karena suatu alasan.

Hingga suatu hari dimana seorang Kyuhyun yang datang kepadanya. Masih dengan sikap seorang hyung, dia dengan sabar menghadapi Henry.

Henry tidak ingat apa saja yang dia katakan kepada Kyuhyun hari itu. Tapi yang jelas semua beban yang ada di hatinya dia utarakan tanpa menahannya lagi. Dia juga ingat dia beberapa kali menggunakan kalimat buruk dan nada kasar kepada Kyuhyun. Hingga berujung pada kalimat itu. Kalimat yang secara langsung mengusir Kyuhyun dari rumah.

Hera yang paling terpukul dengan keputusan itu. Henry tahu bagaimana ibunya dengan terpaksa menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan Kyuhyun. Semua hanya demi dirinya. Demi rumah tangganya bersama Young Woon dan demi memberikan Henry sebuah keluarga yang bahagia.

Henry menyilangkan lengannya saat merasakan air mata mengalir di sudut-sudut matanya. Memikirkan semua membuat dirinya tenggelam dalam rasa bersalah. Namun lagi-lagi dia harus menepis semuanya. Dia masih ingin menikmati semuanya. Menikamti kasih sayang seorang ayah dan keluarga yang seharusnya.

"Mianhe."

O0o0

Hera memasukkan kembali baju suaminya setelah selasai dijahit. Dia ingin turun untuk memasak makan malam saat dilihatnya meja kerja suaminya berantakan. Dia merapikan meja tersebut lebih dulu. Tapi tidak sengaja dia menemukan sebuah kertas lusuh terselip di antara map-map. Hera menarik kertas tersebut.

Beberapa waktu kemudian dia mengembalikan lagi surat tersebut diantara map-map lalu pergi turun. Dia mulai bekerja untuk memasak makan malam. Namun dalam diam itu, Hera merasakan sakit dalam hatinya.

'Aku tidak akan pernah bisa menggantikan dirinya.'

Rasa kecewa dan sakit hatinya mengetahui sang suami masih menyimpan surat cinta mendiang istri pertamanya. Bukan pertama kali dirinya mendapati hal semacam ini. Setelah sekian lama dia akhirnya meragukan kedudukan dirinya dalam hati sang suami. Bagaimana dirinya di mata seorang Young Woon? Pengganti yang tidak akan pernah duduk di tempat yang seharusnya.

Air mata Hera berjatuhan. Hatinya yang begitu perih menghadapi kenyataan ini. Kenyataan bahwa cinta suaminya hanya untuk sang istri yang sudah meninggal. Tidak peduli sudah berapa lama tapi tetap dia tidak bisa meraih hati sang suami. Lalu apa arti dirinya? Hanya sebuah kebetulan belaka? Lalu apa arti rumah tangga yang dia bina hingga kini?

Dia sudah merasa tertipu. Semua sikap baik Young Woon hingga pinangan yang mengejutkan itu. Dia pikir lelaki itu tulus memilihnya karena jatuh cinta. Namun setelah perlahan dia akhrinya mengerti. Young Woon hanya berusaha menghapus masa lalu dengan menikahinya, namun tanpa sadar dirinya sendiri tidak ingin keluar dari bayang seorang Youjin. Namun Hera tetap bertahan, menanggung semua luka seorang istri untuk putra-putranya. Impian Henry dan kebaikan Kyuhyun. Hanya demi mereka.

0o0o0o

Siwon masuk ke ruang kerja sang ayah untuk meletakan map disana. Tapi mataya melihat sebuah berkas terbuka. Dan dia tertarik dengan itu. Ada sebuah foto yang wajahnya dia kenal sebagai Youjin ahjuma. Ahjuma baik hati yang pernah dia anggap sebagai ibu.

"Ini putranya?" Siwon bergumam sendiri melihat seorang anak kecil di tengah Youjin dan seorang lelaki. "Lelaki ini sepertinya aku pernah lihat?"

Tapi Siwon tidak ingat dimana dia melihat lelaki tersebut. Siwon beralih pada berkas dibawahnya. Membacanya. Matanya melebar. Dengan tidak sabar dia mengangkat berkas tersebut dan dibacanya dengan lebih teliti.

'Apa ini? Youjin ahjuma gila dan bunuh diri bersama putranya? Yang benar saja! Tapi kenapa appa tertarik dengan ini? Untuk apa?'

Andai punya lebih banyak waktu Siwon ingin menghabiskan membaca lembar demi lembar kertas itu hingga habis tapi sayang dia tidak ingin kepergok sang ayah sedang membaca berkas miliknya tanpa ijin. Entahlah dia merasa ayahnya menyembunyikan sesuatu. Jadi dengan tidak rela Siwon menutup berkas berisi biografi singkat Cho Youjin dan meninggalkan ruang kerja sang ayah. Andai Siwon bertahan untuk membuka lembar berikutnya dia akan lihat ada biodata lengkap Kim Young Woon beserta istri keduanya. Dia pasti akan tahu ada nama Kim Kyuhyun juga disana.

Siwon kembali ke kamarnya. Masih memikirkan berkas yang baru dibacanya hingga dia duduk di kursi kerja dalam kamar pribadinya. Dia masih ada pekerjaan di meja tersebut. Namun baru saja dia berniat mengambil satu map teratas dia menghentikan gerakannya.

Dia ingat sekarang!

Lelaki itu adalah lelaki yang ada di rumah sakit waktu dulu. Sudah sangat lama. Tapi dia yakin lelaki dalam foto tersebut adalah orang yang sama dengan yang dia lihat hari itu. Hari operasi cangkok ginjal Kibum. Lelaki yang dilihatnya beberapa kali berbicara dengan sang ayah. Sesuatu seperti ginjal dan perjanjian.

Siwon mendadak menghentikan pemikirannya saat dia mulai menduga-duga dan menghubungkan sesuatu. 'Dia yang mendonor untuk Kibum-kah? Atau seseorang dari keluarganya? Aku yakin sekali dia bilang berterima kasih dan tidak masalah. Mereka saling membantu dan,'

Siwon menelan ludahnya. Dia tidak ingin berfikiran buruk kepada sang ayah. Dia juga tahu bagaimana Kibum ingin bertemu dengan pendonornya dan mengucapkan terima kasihnya sendiri. tapi dia juga merasa bahwa sang ayah tidak ingin Kibum tahu identitas si pendonor. Maka itu Siwon tidak menemukan berkas apapun di Rumah Sakit mengenai pendonoran ginjal Kibum. Padahal benar ada operasi cangkok ginjal waktu hari tanggal dan tahun itu. Tapi berkas mengenai itu semua seolah lenyap. Dia bahkan sempat menerka ayahnya melakukan hal tidak benar. Tapi dia menepisnya dengan berfikir positif. Jika pendonoran dilakukan pasti sudah mendapat ijin dari segala pihak dan tidak ada keterpaksaan dari keputusan itu. Soal berkas yang tidak ada mungkin hanya kesalahan pengelola arsip.

Siwon menghentikan untuk berfikir jauh. Dia meraih map yang hendak diambil awal tadi. Membukanya dan mulai memepelajari berkas tersebut sebelum membubuhkan tanda tangannya.

0o0o0o0

'Kau pulang dengan selamat, utuh tidak kurang apapun?'

"Shim Changmin kau berlebihan. Kibum hyung itu orang baik. Hentikan curiga padanya."

'Tidak bisa. Aku harus tetap waspada.'

"Ya, terserah."

'Bagaimana pekerjaan barumu? Kau yakin tidak apa tinggal dengan orang asing?'

Kyuhyun meringis, merasa bersalah belum memberi tahu perihal siapa bos yang memberinya kerja tambahan. "Changmin-ah, dia Leeteuk songsaenim."

Diam di seberang. Kyuhyun sampai harus melihat ponselnya siapa tahu sambungannya tidak sengaja terputus. Tapi, tidak. "Changmin-ah, kau masih disana?"

'Kyuhyunie, berapa kali kukatakan aku harus-jadi-orang-pertama yang tahu semuanya. Dan kau baru memberi tahuku sekarang? Kau bahkan diam saat kita bertemu tadi? Dan pasti Kibum sunbae tahu lebih dulu, iya?'

"Tidak, dia tidak tahu."

'Mana mungkn, dia mengantarmu tadi!'

"Iya, tapi kujamin dia juga belum tahu. Dia tidak turun dari mobil. Dan tidak mengantarku sampai dalam rumah. Jadi kau tetap yang pertama tahu. Puas, Shim Changmin?"

'Heum.'

Kyuhyun menatap ponselnya tidak percaya, seolah itu Changmin, dia sudah jelaskan tapi tanggapannya masih seperti itu? "Changmin kusarankan kau mencari kekasih saja! Agar kau punya fokus lain dan tidak merusuhi hidupku!" seru Kyuhyun dengan kesal kemudian mematikan ponselnya.

Yang benar saja! Orang-orang disekitarnya sungguh aneh. Changmin yang kelewat over protektif. Leeteuk dan Hankyung yang kelewat peduli. Kibum yang sangat interest padanya. Dan masih banyak yang lain.

Dia sudah dibuat pusing dengan Leeteuk dan Hankyung. Mereka tidak sengaja membongkar kegelisahan mereka sewaktu mabuk sore tadi. Membuat dirinya sendiri merasa sulit. Dia sudah begitu banyak menyusahkan kedua orang itu. Mereka begitu keras menjaganya dari depresi dan ancaman jantung. Sedangkan apa yang dia lakukan? Dia akui niatan untuk bunuh diri selalu ada. Karena itu dia lebih sering menyiksa diri sendiri daripada sebaliknya. Dia pernah melukai dirinya dengan silet dan benda tajam lainnya, itu sebabnya Leeteuk sering memeriksa lengan ataupun tubuh dibalik bajunya. Jika ada luka baru sudah dipastikan Leeteuk akan senang hati membiusnya dan mengikatnya di ranjang pesakitan.

Kyhyun meraih obat jantungnya diatas meja. Mungkin satu-satunya cara membalas kebaikan mereka dengan bersikap lebih baik kepada tubuhnya sendiri.

"Baiklah, mulai sekarang aku akan meminummu dengan rutin. Akan kutepis jauh-jauh perasaan ingin mati itu." Kyuhyun mengusap dadanya sendiri. "Dan kau juga harus bertahan. Aku masih ingin hidup. Akan kuraih kembali tangan appa dan kudapatkan kembali senyumnya. Saat itu kau boleh berhenti. Kita akan sama-sama selesai."

TBC

Wednesday, September 21, 2016

7:55 AM

Tuesday, October 4, 2016

12:32 AM

Apa yang kutulis ini? Kacau! Hiks, tapi inilah hasilnya.

Selamat datang untuk pembaca baru! Dan maaf tidak bisa balas rivew.

Untuk chapter 8 kemarin, aku tidak tahu itu kenapa setelah diposting jadi amburadul gitu. Tapi sudah saya posting ulang dan semoga jadi lebih baik.

Maaf untuk typo dan kalimat-kalimat yang gak bisa dipahami dan terima kasih.

Sima Yu'I

(SY'I)