Hankyung bangun saat hari sudah pagi. Dia memijat keningnya yang berdenyut akibat mabuk. Disebelahnya Leeteuk masih tertidur dengan damai. Hankyung tidak ingat dia berpindah ke kamar Leetuk. Dia juga tidak yakin orang yang disebelahnya yang memindahkannya. Mereka sama-sama mabuk, dia ingat, apalagi Leeteuk yang begitu mabuk bisa tidur dimana saja. Tidak akan berfikir untuk memilih tempat nyaman apalagi memikirkan kenyamanan orang lain.

Jadi, siapa yang memindahkannya?

Hankyung masih memijat keningnya saat beranjak masuk ke kamar mandi di luar kamar Leeteuk. Disana dia berpapasan dengan Kyuhyun yang baru selesai dari kamar mandi.

"Eoh? Selamat pagi, uisa Han." sapa Kyuhyun sambil lalu.

Hankyung bergumam pelan. Ah dia ingat sekarang. Samar-samar dia ingat melihat Kyuhyun kemarin, sepertinya dia juga sempat mengatakan sesuatu. Tapi apa? Karena tidak kunjung ingat Hankyung memilih melupakannya dan masuk kamar mandi.

0o

Hankyung keluar dari kamar Leeteuk sudah dengan pakaian rapi. Tapi tidak terlihat dia akan pergi. Pakaiannya saja hanya pakaian santai. Meski santai versi Leeteuk dan Hankyung berbeda. Jika Leeteuk kesehariannya akan memakai hem atau kemeja sedangkan Hankyung lebih suka memakai kaos.

Dia sudah membangunkan Leeteuk dan sekarang temannya itu berada di kamar mandi. Hankyung pergi ke dapur, berniat membuat sesuatu untuk dinikmati pagi hari. Namun Kyuhyun sudah berdiri di sana melakukan sesuatu. Saat dia mendekat dia mencium aroma kopi.

"Baunya enak." komentar Hankyung. Ada dua cangkir yang disiapkan Kyuhyun.

"Uisa, suka kopi? Aku membuatnya untuk Leeteuk saem dan uisa Han." Kyuhyun memberi tahu.

Hankyung tersenyum senang menerima satu cangkir kopi yang sudah siap. Sedang cangkir lainnya dibawa Kyuhyun ke meja makan. Diletakkan disana.

"Aahh." Hankyung mengecap bibirnya merasakan sisa kopi. Benar-benar berbeda dengan kopi yang biasa dia minum. Dengan antusias dia kembali menyesapnya seraya melangkah ke meja makan dan duduk.

"Han hyung kau tidak pergi ke Rumah Sakit?" tanya Kyuhyun baru sadar Hankyung terlihat santai.

"Aku sedang mendapat jatah libur." Jawab Hankyung. Dia meletakkan cangkirnya meski tidak melepas kaitan jari dari pegangan cangkir. "Kyu, kau ingin pergi ke pantai? Aku dan Leeteuk hyung berencana pergi."

Kyuhyun nampak berfikir.

"Kau harus ikut." Leeteuk yang sudah keluar dari kamar mandi sempat mendengar pembicaraan mereka. Menginterupsi mengalihkan kedua pasang mata itu kepadanya. Dia terus berjalan hingga masuk ke dalam kamar.

Hankyung dan Kyuhyun saling pandang. "Kami memang berencana mengajakmu."

Kyuhyun masih belum menjawab. Nampak sekali kalau dia meragu. Hingga Leeteuk keluar dengan pakaian santai ala dirinya. Yang sekarang terlihat berbeda dengan kancing kemeja yang tidak dikaitkan, memperlihatkan kaos putihnya dan celana pendek berkantung luar. Pria itu langsung duduk dan meminum kopi buatan Kyuhyun. Wajahnya nampak lebih cerah setelah menenggak kopinya, padahal kemarin sempat mabuk berat.

"Apa yang kau pikirkan? Bersiaplah, kami menunggu." perintah Leeteuk dengan nada tidak ingin ditolak.

Kyuhyun masih diam di tempat. Hankyung memandangnya heran. Kyuhyun tidak menolak juga tidak mengiyakan. Dia sedang bingung, ya?

"Kalian sengaja?" Kyuhyun melipat kedua tangan diatas meja. Menatap kedua orang di depannya bergantian. "Kalian mabuk kemarin. Tahu, apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Kyuhyun memainkan nada bicaranya menjadi sedikit misterius. Memancing penasaran keduanya. Saat bertanya Kyuhyun justru tersenyum lebih mencurigakan.

Keduanya menjadi gusar. Apa mereka sudah mengatakan hal-hal yang memalukan? Atau hal-hal yang bersifat rahasia? Ah, keduanya jadi merasa menyesal.

Kyuhyun tersenyum geli melihat kedua wajah itu memucat, sudah seperti orang yang akan kebongkar rahasianya. Kekeke padahal Kyuhyun hanya berniat mengerjai saja. Sedikit saja tak apa, kan?

"A-apa yang kami bicarakan?" tanya Hankyung terbata.

"Euhmm entahlah. Banyak sekali. Kalian meracau tentang betapa nasib sangat tidak adil. Dewa cinta, gadis sial dan…banyak sekali. Aku tidak ingat semuanya."

Mereka saling pandang, saling bertanya melalui kontak mata. Antara percaya dan tidak, siapa diantara mereka yang berbicara seperti itu saat mabuk. "Siapa tepatnya yang mengeluh seperti itu?" kali ini Leeteuk yang mengajukan pertanyaan.

Kyuhyun mengulum bibirnya guna menahan tawa. "Menurut hyungdeul siapa?" dan malah semakin menggoda keduanya.

Leeteuk menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Hankyung sudah menelungkupkan kepala diatas meja. "Hyung, sudah kukatakan aku tidak ingin menenggak soju! Tapi kau memaksaku! Pasti aku sangat cerewet dan mengatakan yang tidak-tidak!" protesnya pada Leeteuk. Dia memang berniat menemani Leeteuk saja kemarin tapi lelaki itu justru memaksanya ikut minum. "Astaga! Siapa yang kumaki gadis sialan?" gumamnya kemudian.

"Aku memang sering menolak pernyataan cinta tapi aku tidak pernah memaki mereka sekalipun dalam hati. Jadi itu pasti dirimu yang berkata kasar." Leeteuk yakin dia tidak akan memaki meski saat mabuk sekalipun.

Kyuhyun berdecak dalam hati. 'Si narsis Leeteuk.'

Hhhhh. Kyuhyun bangun. Minatnya untuk mengerjai mereka mendadak anjlok. "Sudahlah. Aku akan mengerjakan tugasku dulu."

"Jadi ikut, kan?" Leeteuk tidak lupa dengan awal pembicaraan mereka.

"Iya." jawab Kyuhyun berlalu. Leeteuk tersenyum. Hankyung masih mencoba mengingat-ingat apa saja yang dia katakan sewaktu mabuk. Aneh, mungkin hanya dia saja yang tidak ingat. Nyatanya Leeteuk ingat kejadian kemarin, meski samar. Tapi dia yakin dia sudah mengatakan sesuatu tentang anjing nakal dan menanganinya. Maka itu Leeteuk tidak sepenuhnya terjebak dalam kejahilan Kyuhyun barusan.

"Han."

Hankyung menghentikan usahanya mengingat. Menatap Leeteuk yang memanggilnya.

"Kau terlihat bodoh." oloknya dan dengan tenang menyesap kopinya kembali.

0o0o0o0

"Pantai pantai!" Donghae bernyanyi riang sedari dalam mobil. Dan kini dia berdiri takjub begitu sampai di pantai tempat mereka akan menghabiskan waktu seharian ini. Dia tidak sabar untuk berenang dan menyelam melihat terumbu-terumbu karang.

Sepertinya Donghae sudah tidak bisa menunggu lagi, kakinya bergerak seakan ingin segera berlari. Dia menoleh meminta persetujuan sang ayah hanya dengan binar matanya. Begitu mendapatkan anggukan, Donghae segera mengayun tungkainya berlari. "Pantaaaai, I'am comiiiing!"

Siwon menutup wajahnya dengan satu tangan sedangkan tuan Choi Jung Woon tertawa kering. Rasanya seterbiasa apapun mereka dengan sifat dan sikap Donghae, mereka tetap merasakan yang rasanya malu saat pemuda sebesar Donghae bertingkah bak anak kecil. Wajahnya yang tampan dan mempesona sangat kontras dengan semua itu.

"Aku tahu kalian malu." ucap Kibum nampak terbiasa dengan situasi ini.

Jung Woon terkekeh mengiyakan. "Cha, kita juga harus pergi." merangkul Kibum tuan Choi berjalan menuju pantai dimana Donghae sudah melepas kaos dan menyeburkan diri. Siwon berjalan belakangan, memeriksa ponselnya sebentar.

Siwon berjalan cepat menyusul sang ayah dan Kibum. "Appa." panggilnya menghentikan langkah tuan Choi. "Kau tidak memeriksa e-mailmu?"

"Kenapa?"

"Kau sedang ditunggu klaen sekarang."

"Mwo?!" Donghae segera menghampiri mereka. "Appa, kau akan pergi? Kita baru saja sampai."

Tuan Choi terlihat sangat menyesal. "Sebentar." kemudian menyingkir untuk menghubungi asistennya. Dia berharap bisa membatalkan pertemuan dan menikmati waktunya bersama keluarga. Namun sayang, klaen itu sudah menunggu sejak dua hari lalu untuk bertemu dengannya dan sekarang adalah hari terakhir mereka berada di Korea. Siang ini mereka akan kembali ke negaranya.

"Mianhe, ne." sesal tuan Choi. Donghae manyun namun akhirnya paham juga setelah Siwon memberi pengertian. Kibum memang maknae tapi Donghae jauh lebih manja dibanding si kecil itu.

"Aku akan mengantar appa." Siwon juga pamit pergi.

"Cepat kembali, hyung." pesan Donghae melepas mereka pergi.

Donghae dan Kibum berdiri bersisihan. Tidak ada yang bicara atau bergerak. "Kibum, kau ingin main pasir?"

Kibum menatap sinis Donghae. "Ingat umur, hyung!" kemudian berlalu untuk duduk tidak jauh dari sana. Dibawah tenda yang disediakan di pantai tersebut. Donghae mengedikkan bahu tidak peduli.

Rupanya Siwon cukup lama pergi. Dua jam. Dia sampai terburu memarkir mobil di parkiran di sekitar pantai. Memeriksa ponselnya yang sejak tadi bergetar. Salah satu adiknya pasti mencoba menghubunginya lagi.

"Siwon-ssi?"

Siwon mengalihkan mata dari layar ponsel ke seseorang yang menegurnya. Matanya langsung nampak cerah. "Hankyung uisa? Kau ada disini?"

Hankyung mengangguk. "Aku bersama temanku. Leeteuk-ssi dan Kyuhyun-ssi." kata Hankyung mengenalkan dua orang yang berdiri sedikit dibelakangnya.

Siwon menyalami Leeteuk. Mereka berkenalan singkat, kemudian beralih pada pemuda di sebelah Leeteuk. Siwon tersenyum lebar, masih ingat dengan wajah itu. Kyuhyun, teman kerja Donghae sekaligus teman yang sedang didekati Kibum. "Kyuhyun, bukan?" tanyanya dengan yakin.

Kyuhyun tersenyum kecil. "Nde."

Yang mengejutkan mereka adalah; Siwon yang kemudian maju dan merangkul Kyuhyun dengan akrab. Hankyung dan Leeteuk saling pandang tidak mengerti.

"Bisa dibilang kami sudah saling kenal, ne, Kyuhyun-ah? Oh Donghae dan Kibumie juga ada." Siwon mencari dan melihat sosok-sosok yang dia maksud. Siwon menunjuk ke pantai. "Itu mereka."

Semua mengalihkan mata ke pantai. Kyuhyun dan Hankyung bisa memastikan sosok yang dimaksud Siwon, berbeda dengan Leeteuk yang hanya familiar dengan namanya Donghae, teman sekerja Kyuhyun.

"Ayo bergabung saja." ajak Siwon.

"Aku tidak keberatan." Hankyung menatap Leeteuk dan Kyuhyun. "Tapi aku sedang tidak sendirian."

"Oh ayolah Hankyung hyung kita sudah bertemu kenapa tidak membuatnya lebih baik? Kibum pasti juga senang melihat Kyuhyun." Siwon beralih pada Kyuhyun yang masih dirangkunya. "Kau dekat dengan Kibum, Kyuhyun-ah? Aku sudah mendengarnya. Kibum menemukan seorang teman yang dia sukai. Itu kau, bukan?"

Kyuhyun tersenyum canggung. Siwon mengajak mereka, sedikit memaksa karena Leeteuk sepertinya keberatan. Tapi demi menjaga perasaan Siwon yang ternyata adalah atasan Hankyung, direktur di Rumah Sakit tempat Hankyung bekerja, mereka memutuskan mengikuti keinginan Siwon.

Siwon berjalan di dekat Kyuhyun. Sepertinya dia tertarik dengan Kyuhyun, itu kesan Leeteuk saat melihatnya.

"Apa Kibum menyusahkanmu, Kyu?"

Kyuhyun menggeleng. "Tidak, siwon-ssi. Kibum hyung sangat baik. Dia sering membuatku nyaman."

Siwon balas tersenyum. "Panggil saja hyung."

Kyuhyun menatap Siwon tidak tahu pasti apa maksudnya.

Siwon memajukan mulutnya. "Tidak adil rasaya, kau memanggil Kibum dan Donghae hyung tapi memanggilku seformal itu. Jika kau bisa merasa nyaman dengan mereka, kau juga harus merasa nyaman denganku."

Leeteuk dengan halus menarik lengan Hankyung. Mereka cukup dekat untuk mendengar percakapan Siwon Kyuhyun.

"Apa Direktur-mu memang sebaik itu?" bisik Leeteuk.

Hankyung tertawa halus. "Mereka keluarga terhormat bukan karena hartanya saja, hyung tapi juga kepribadian mereka. Mereka orang-orang baik, percayalah."

Leeteuk mengangguk-angguk mengerti.

Mereka akhirnya sampai ditempat Kibum dan Donghae berdiam diri. Kibum nampak terkejut dan senang mendapati orang yang dibawa Siwon. Tepatnya keberadaan Kyuhyun. Namun sebelum itu dia juga menyadari keberadaan Leeteuk.

"Anyeonghaseyo Leeteuk songsaenim." sapanya dengan kesopanan penuh.

Leeteuk mencoba mengingat wajah anak yang sedang menyapanya.

Menyadari Leeteuk tidak mengenali Kibum padahal Kibum juga salah satu siswa di sekolah tempat Leeteuk mengajar, Kyuhyun berusaha membantu. "Kibum-ssi juga ada di sekolah yang sama. Dia kelas tiga."

Mata Leeteuk bersinar seolah mengatakan 'Oh'. "Mianhe, aku tidak begitu hafal semua wajah murid."

Siwon tersenyum. "Gweanchana, aku rasa itu bukan salah Leeteuk-ssi sepenuhnya. Kibum anak yang pendiam dan lebih suka sendirian. Dia juga lebih suka tidak terlihat dan menonjol."

Kyuhyun merasa tidak begitu. "Benarkah? Kibum hyung cukup terkenal. Leeteuk saem, kau benar tidak tahu Kibum hyung? Dia siswa paling pandai dan banyak penggemarnya. Mana mungkin Leeteuk saem tidak pernah mendengar namanya?"

Leeteuk tertawa kaku. Masalahnya Leeteuk itu memang guru konseling sebelum mengambil tanggung jawab juga sebagai wali kelas. Dia lebih banyak mengurung diri di dalam ruangan pribadinya. Dia bertemu murid hanya saat upacara atau kunjungan beberapa murid ke ruangannya. Tapi sepertinya dia memang pernah mendengar nama Kibum. "Mungkin? Oh, ya beberapa murid perempuan mengeluhkan perasaan mereka pada seorang murid idola bernama Kibum. Itu kau? Kenapa kau mengabaikan mereka, bahkan tidak menerima satupun hadiah tangan mereka? Aku kesulitan setiap kali mereka melakukan sesi curhatnya."

Hal itu justru mengundang tawa semua orang. Donghae tertawa paling keras melihat wajah masam adiknya. Kebongkarlah bagaimana tidak berempati sekali si Kibum itu. Kibum mengabaikan mereka dan memilih menarik lengan Kyuhyun. Mengajaknya pergi dari gerombolan itu. Donghae berlari menyusul keduanya.

Kelompok itu terbagi menjadi dua. Leeteuk, Hankyung dan Siwon hanya duduk-duduk di salah satu tenda sambil menikmati minuman dingin dan mengobrol. Sedangkan tiga lainnya terlihat di tepian pantai. Sesekali kaki mereka terendam air saat ombak sampai di garis pantai. Ketiganya terlihat sangat menikmati itu. Hingga Donghae mengusulkan sesuatu.

"Kyuhyunie buka bajumu, ayo berenang. Kita berlomba." ajak Donghae sambil tangannya menarik kaos Kyuhyun. Tapi Kyuhyun menahannya.

"Anniyo!" tolak Kyuhyun.

Kibum tiba-tiba maju dan ikut menarik kaos Kyuhyun. "Ayo Kyunie, terima tantangan Donghae hyung. Aku akan jadi juri kalian." Kibum menarik ujung kaos di bagian kiri. Sedangkan Donghae dibagian depan. Kyuhyun berusaha menahan kaosnya.

"Aku tidak pandai berenang, hyungie!" tolak Kyuhyun. Namun Donghae tidak peduli dan masih berusaha membuka kaos Kyuhyun. Kibum memanfaatkan hal itu untuk melihat pinggang Kyuhyun. Dan dia melihatnya bekas luka melintang dipinggang Kyuhyun.

"Kau terluka Kyuhyunie?" tanya Kibum.

Donghae menghentikan aksinya dan beralih memperhatikan tubuh Kyuhyun mendengar kata luka. Dia takut jika perbuatannya sampai melukai Kyuhyun.

Kyuhyun menurunkan kaosnya menutupi pandangan Donghae dan Kibum pada bekas lukanya. "Ini luka lama, hyungie. Bekas operasi."

"Heuumm kau punya banyak bekas luka, ya. Kedua pergelangan tangamu juga. Apa itu juga bekas operasi? Operasi apa?" tanya Donghae.

Kyuhyun diam, Kibum larut dalam pikirannya, dan Donghae menunggu jawaban. Kyuhyun melebarkan mulutnya tersenyum. "Donghae hyung jadi berlomba?"

Donghae langsung teralihkan, mengangguk antusias. "Tapi aku akan tetap memakai kaos." syarat Kyuhyun.

"Oke. Kibum jadi juri!"

Kibum mengangguk saja. Saat keduanya masuk ke dalam air setelah dia memberi aba-aba, kibum memicing memperhatikan Kyuhyun. 'Aku selalu yakin itu memang dirimu, Kyuhyunie.'

Menjelang siang semua sudah merasa lapar. Mereka memutuskan untuk bertolak dari pantai mencari restauran terdekat. Masih dengan rombongan Leeteuk yang bergabung dengan rombongan Siwon, menggabungkan dua meja menjadi satu dan memesan makanan porsi besar.

Kibum menyumpit udang tepung, "kau ingin ini, Kyuhyunie?" menawarkan pada Kyuhyun disebelahnya.

"Aku alergi udang." tolak Kyuhyun mengambil makanan jenis lain.

"Kau sama dengan appa." sahut Donghae dengan mulut penuh.

"Benarkah?" Kyuhyun menanggapinya sedikit tidak peduli.

"Kapan-kapan mainlah ke rumah, Kyuhyun-ah."

Suara Siwon menarik perhatian semua orang. Lelaki itu tersenyum ramah. "Kau teman Kibumie, jadi pintu rumah kami juga terbuka untukmu."

"Terima kasih Siwon hyung."

Donghae menyenggol lengan Kyuhyun. "Jangan hanya berterima kasih. Kau harus datang lain kali."

"Kau juga bisa menginap." saran Siwon. "Kibum terlihat menginginkannya." kemudian melirik Kibum yang hampir menyemburkan makanannya mendengar saran Siwon.

Siwon tertawa. "Kibum itu tidak bisa langsung mengatakan keinginannya. Jadi biar kami yang mengatakannya, Kibumie."

Kibum memicing pada Siwon yang tidak mau diam. Tangannya sudah meremas sumpit yang digunakannya untuk makan. "Aku tidak seperti itu."

Kyuhyun mengaduk nasinya, memperhatikan mereka. Hingga dia berhenti hanya memperhatikan Kibum. Diingatnya lagi perkataan Changmin. Ada penasaran yang mulai tumbuh di hati Kyuhyun. Kibum itu benarkah ada maksud tertentu?

Setelah makan mereka berpisah karena memiliki tujuan masing-masing. Rombongan Leeteuk memutuskan untuk pulang sedangkan rombongan Siwon masih ingin pergi ke suatu tempat. Jadilah mereka berpisah tepat jam dua siang itu.

0o0o0o0o0

'Jadi kalian pergi ke pantai? Senangnya~' ada nada iri dari Changmin.

Kyuhyun melempar handuknya ke ranjang lalu menghampiri jendela. "Kami bertemu dengan Kibum hyung, Donghae hyung dan Siwon hyung. Lalu mereka mengajak kami bergabung. Hari ini Leeteuk saem beruntung tidak mengeluarkan uang seperserpun karena Siwon hyung."

'Pasti sunbae itu kesenangan bertemu denganmu.'

Kyuhyun menopangkan diri di kusen jendela. "Tidak juga. Kami biasa saja. Aku lebih banyak bermain dengan Donghae hyung malah."

'ah si ikan itu.'

"Changmin, nada bicaramu tidak menyenangkan. Apa semua baik-baik saja?"

Changmin diam di seberang telepon. Terdengar helaan nafas. 'Aku ingin berlibur, Kyuhyunie. Latihan terus membuatku lelah. Kau juga lebih sibuk bekerja pada Leeteuk songsaenim dan bersenang-senang dengan si Kibum itu.'

"Mianhe." Kyuhyun merasa menyesal. "Kau ingin kutemani?"

'Kau mau?' suara Changmin berubah antusias.

Kyuhyun tertawa. "Aigo, Changmin-ah. Tunggu aku. Aku ijin dengan Leeteuk saem dulu."

'Kujemput. Berikan alamatnya.'

Kyuhyun menutup telepon setelah memberikan alamat Leeteuk. Lalu keluar untuk meminta ijin si pemilik. Leeteuk sedang duduk dengan Hankyung di ruang santai, membicarakan sesuatu sambil menonton TV. Kyuhyun tidak begitu fokus pada apa yang mereka bicarakan.

"Saem," panggil Kyuhyun menghentikan pembicaraan mereka. Keduanya menoleh pada Kyuhyun. "Aku ijin menginap di tempat Changmin. Boleh? Jangan khawatir aku akan pulang pagi-pagi."

Leeteuk berfikir sebentar sebelum mengiyakan. "Besok aku akan keluar dengan Hankyung, jadi pulang lah sebelum aku pergi. Sekitar jam 8?"

Kyuhyun mengangguk menyepakati. "Kau berjalan ke halte?" tanya Leeteuk saat Kyuhyun berlalu.

"Changmin akan datang menjemputku."

"Dia terlihat baik-baik saja." kata Hankyung setelah Kyuhyun menghilang ke dalam kamar.

"Siapa yang sangka dia menanggung beban hidup yang belum tentu bisa ditanggung semua orang." sambung Leeteuk. "Aku berfikir untuk mengambil tindakan. Aku perlu bicara dengan orang tuanya."

Hankyung nampak ragu dengan keputusan Leeteuk. "Kau akan membelakanginya, hyung? Kyuhyun-ah tidak akan suka."

"Mau bagaimana lagi. Aku harus mengetahui alasan kenapa seorang ayah bisa membenci anaknya. Dengan begitu aku bisa menjembatani kedua orang itu. Kyuhyun tidak melakukan aksi apapun, hanya menerima semuanya dengan pertahanan diri. Tapi dia hancur dari dalam. Dia tidak bisa terus seperti itu atau dia runtuh tanpa aba-aba suatu saat nanti." Leeteuk terdiam. Kemudian lirihnya, "dia selalu menyembunyikan semuanya. Aku disini dan selalu menawarkan diri untuk tempat penampungan tapi dia tetap dalam pendiriannya."

Hankyung mengangguk mengerti. "Memang sulit menangani yang seperti itu."

Kyuhyun berjalan lewat di ruangan itu lagi saat akan keluar.

"Changmin sudah datang?" tanya Hankyung.

"Belum. Aku ingin menunggu di depan."

Beberapa menit menunggu akhirnya Changmin datang tepat saat Leeteuk keluar hendak menemani Kyuhyun. Changmin hanya basa-basi dengan Leeteuk sebentar kemudian pergi bersama Kyuhyun.

0o0o0o0o0

Kim Young Woon nampak gusar membuka-buka sebuah album berukuran besar. Membolak-baliknya mencari sesuatu. Dia terdiam berfikir, hingga dengan kesal menutup album tersebut dan menyimpannya kembali di laci paling bawah lemari kerjanya. Kemudian berjalan keluar kamar. Tujuannya adalah dapur tempat sang istri sedang membuat teh untuknya.

"Hera-ah, kau membuka album di bawah lemari?"

"Iya." jawab Hera tanpa mengalihkan wajahnya pada sang suami. Dengan tenang mengaduk teh.

"Kau mengambil sesuatu dari sana?" tanya Young Woon menajamkan suaranya.

Hera menaruh sendok teh, mengangkat cangkir dan diberikanya pada suaminya. "Foto itu yang kau maksud? Kuberikan pada Kyuhyun." jawabnya enteng.

Young Woon nampak terkejut. "Untuk apa kau memberikan itu padanya?! Lancang kau Hera!"

Hera mnurunkan kembali teh yang sempat disodorkan, Young Woon pun nampak tidak akan mengambil tehnya. "Apa salahnya seorang anak menyimpan foto keluarganya? Aku yakin Kyuhyun sangat senang bisa memilikinya." Hera tersenyum saat mengingat Kyuhyun berbinar dan terharu saat menerima foto tersebut. "Kau tega sekali Young Woon. Kau berusaha menghapus sebuah keluarga dari hidup anak itu, tapi kau sendiri tidak berani membakar habis semua kenangan itu." Hera bisa menyimpulkannya dari bagian album yang seperti bekas dibakar.

Young Woon membuang wajah. "Jauhkan tanganmu dari semua itu. Aku menyimpannya bukan untuk disentuh anak itu! Apalagi dimiliki olehnya!"

"Dan kau bisa sepuasnya memandang masa lalumu?"

Young Woon menatap Hera. "Apa yang salah dengan itu? Apa kau juga tidak pernah mengingat masa lalumu?"

"Tentu saja. Aku masih mengingat mantan suamiku. Karena aku pernah mencintai lelaki itu. Tapi aku bukan dirimu. Aku bukan seseorang yang tidak mampu melepas cinta di masa lalu."

"Aku tidak seperti itu!" sanggah Young Woon dengan suara tinggi.

"Kau seperti itu!" ngotot Hera tidak mau kalah. Hera meletakkan cangkir cukup keras hingga menimbulkan suara nyaring. Matanya menatap tajam suaminya. "Memang perlu kaca untuk bersolek. Dan butuh orang lain untuk menilai diri kita yang sebenarnya. Aku sudah menghabiskan waktu untuk menilaimu selama ini. Dan kurasa itu cukup. Aku mulai muak dengan tingkahmu."

"Apa maksudmu? Apa ini tentang Kyuhyun?! Kau mulai bertingkah aneh lagi sejak anak itu datang. Sudah kukatakan seharusnya dia tidak ada di rumah ini. Dia tidak seharusnya menginjakkan kaki lagi disini!"

"Kau selalu menyalahkannya! Memang apa yang diperbuat Kyuhyun? Apa dia mengganggumu? Apa dia melukaimu atau menghinamu? Dia anak yang baik, membanggakan dan anak yang begitu tabah menerima semua sikapmu. Anak sebaik itu, bagaimana bisa kau begitu membencinya?"

Young Woon mendengus sinis.

"Katakan padaku Kim Young Woon!" Hera meraih lengan Young Woon. "Apa kesalahan Kyuhyun sampai kau begitu membencinya? Apa yang dilakukan anak sekecil itu saat itu hingga kau membencinya sampai sekarang?"

Namun Young Woon hanya diam. Selalu seperti itu. Saat perdebatan mereka memasuki pertanyaan itu lelaki itu hanya diam menolak untuk menjawab. Hanya ada raut kemarahan dan kekecewaan yang tesirat di wajahnya. Namun sepatah katapun tidak bisa menjelaskan kepada Hera kenapa Kyuhyun, sejak bocah yang masih berusia 7 tahun itu mulai dibenci sang ayah.

Hera sungguh tidak memahami karena memang tidak pernah diberi pemahaman. Seolah itu disimpan hanya untuk Young Woon. Hanya lelaki itu dan masa lalunya. Hera sungguh terluka dengan itu. Sebuah rahasia yang tidak akan dibagi kepadanya. Dia merasa disisihkan.

Hera membuang wajahnya dengan sedih. Air matanya mengalir. "Aku tahu, kau tidak akan pernah bisa membaginya denganku. Aku bukan seseorang yang sanggup mengubahmu. Mengubah masa lalumu atau membuatmu cukup bahagia hingga menghapus semua keburukan. Aku tidak cukup berharga, bukan."

Young Woon tidak memahami apa yang sedang Hera bicarakan. Dahinya berkerut mencoba memahami perkataan Hera.

Hera terseyum miris. "Kau tidak akan bisa mencintaiku, Kim Young Woon. Youjin adalah cintamu sebenarnya. Hanya dia bukan aku atau putraku."

"Apa yang sedang kau bicarakan sekarang? Kau menuduhku tidak menyayangi Henry? Atau tidak mencintaimu? Apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan?! Kau istriku bagaimana bisa aku tidak mencintaimu? Jangan berlebihan jika pandangan kita sedang berbeda Hera-ah!"

Hera mengangguk balas menatap suaminya. "Benar! Itu semua persis yang aku pikirkan! Aku istrimu! Tapi tidak pernah memiliki hatimu! Henry hanya anak tirimu! Kau menyayanginya, tentu saja! Tapi kau memandangnya juga memandangku sebagai pengganti! Kau punya masalah pada masa lalumu! Dan menjadikan aku dan Henry sebagai….sebagai kesempatan kedua? Atau pelampiasan?!"

"Hera, berhenti mengada-ada!" peringat Young Woon.

"Kau tidak bisa melihat dirimu sendiri Young Woon! Kau orang munafik yang pernah kukenal! Kau menutup matamu, menutup semuanya hanya untuk sebuah mimpi! Keluar dari mimpimu! Hera bukan Youjin! Henry bukan Kyuhyun! Jika kau ingin bahagia, keluar dari mimpimu dan lihat kami dengan hatimu!"

Young Woon menggeleng semakin tidak memahami istrinya. Wanita itu menangis di depannya dan mengocehkan hal yang benar-benar tidak dia pahami. Sungguh dia hanya datang untuk menanyakan sebuah foto yang menghilang dalam album yang dia simpan. Album keluarga lamanya. Album kenangan di masa lalu, album sebagai benda pengingat kebahagiaannya di masa lalu. Dengan istri yang kurang sempurna tapi begitu dicintainya dan seorang putra yang begitu dia sayangi. Dia bisa duduk berjam-jam untuk melihat dan mengingat kenangan lalu.

Kenangan.

Masa lalu.

Young Woon menatap Hera yang sudah sesenggukan. "Kau tidak pernah mencintaiku, Young Woon. Mungkin kau menyukaiku. Tapi tidak sampai mencintaiku! Kau melihat mimpimu dalam diriku dan Henry. Kau menikahiku untuk semua mimpimu itu. Keluarga. Kita bukan keluarga, Young Woon. Kita tidak pernah menjadi keluarga. Keluarga bagimu hanya Youjin dan Kyuhyun! Tapi keluarga itu sudah hancur dan kau melimpahkan semua kesalahan kepada Kyuhyun! Mengalihkan kasih sayangmu kepada Henry dan menciptakan jarak antara mereka." Hera meremas dadanya, menahan sakit hati yang sudah dipendamnya bertahun-tahun. Pertahanannya sudah goyah. Sudah begitu lama dia berjuang dan hanya bisa melihat semua ketidak adilan yang terjadi di rumah ini. "Ini sudah cukup. Aku sudah menyerah. Mari kita akhiri semuanya. Ceraikan aku Kim Young Woon."

0o0o0o0o0

Siwon mengetuk ruang kerja ayahnya membawakan secangkir kopi. Dia masuk dan meletakkan kopi di meja.

"Terima kasih, Siwonie."

Siwon menjawabnya dengan senyuman. Dia menunggu hingga ayahnya meminum kopinya lalu barulah dia mengutarakan pertanyaan.

"Appa, aku pernah melihat berkas di mejamu."

Choi Jung Woon mendongak, menatap putranya. Mencoba mengingat berkas apa yang dilihat Siwon.

"Appa sedang mencari Cho Youjin ahjuma?" tanya Siwon perlahan.

Jung Woon menelan ludahnya pelan. Mencoba bersikap tenang. "Ya. Kenapa? Kau membacanya?"

"Hanya sampai lembar muka. Jadi Youjin ahjuma sudah meninggal?"

Jung Woon menghela nafas. "Iya. Appa juga baru tahu saat berkas itu datang."

"Tapi kenapa appa menacari tahu? Ada sesuatu yang belum selesai?"

Jung Woon menghela nafas panjang. "Di masa lalu Youjin banyak membantu appa mengurus kalian. Jadi appa hanya penasaran sekarang bagaimana dia dan keluarganya. Kami juga berteman cukup baik meski dia hanya bawahan appa. Appa bermaksud menyambung hubungan itu kembali. Tapi rupanya Youjin sudah meninggal."

Siwon mengangguk. "Kita bisa berkunjung ke keluarganya. Aku juga ingin melihat putranya. Dia punya seorang putra, bukan?"

Jung Woon menatap putranya lebih dalam. "Kau sudah membaca sampai mana sebenarnya?"

"Hanya satu lembar appa, sungguh. Putranya belum meninggal, itu yang tertulis. Dan lelaki itu," Siwon memandang sang ayah. "Appa apa kau sudah menemukan pendonor Kibum?" dan tiba-tiba Siwon mempertanyaan topik lain.

Jung Woon menyandarkan punggungnya. "Siwon-ah, langsung katakan saja maksudmu."

Siwon tersenyum kecil. Dia tahu pasti pikirannya bisa ditebak sang ayah dengan mudah. "Sebenarnya aku pernah melihat lelaki itu. Kim Young Woon. Saat kejadian Kibum dulu. Saat ayah bilang mendapatkan pendonor untuk Kibum. Aku melihat lelaki itu beberapa kali bersama denganmu. Jadi apa lelaki itu yang mendonor untuk Kibum? Atau orang lain yang berhubungan dengan Kim Young Woon?"

Jung Woon diam menatap putranya dengan intens. Kemudian dia bilang, "bisakah kau hanya tahu sampai disitu saja, Siwon? Appa tidak ingin membaginya denganmu. Biarkan semua ini menjadi sesuatu milikku."

Siwon cukup terkejut dengan perkataan sang ayah. "Bahkan Kibum?"

Jung Woon mengangguk. "Akan kuberikan berkas itu untuk kau baca hingga selesai. Tapi janji pada appa kau akan diam dan tidak memberitahu apapun pada Kibum."

"Appa ini tidak adil. Appa tahu Kibum sangat ingin bertemu dengan pendonornya? Bagi Kibum dia sudah seperti dewa. Seseorang itu menyelamatkan nyawanya!" Siwon merasa tidak terima.

"Aku tahu itu Siwon! Tapi tidak semua hal yang terlihat baik, juga baik adanya. Appa melakukannya untuk Kibum dan untuk janjiku pada lelaki itu. Setelah kejadian itu dia meminta pada appa untuk tidak mengungkit-ungkit masalah ini lagi. Jadi tolong, appa meminta padamu jangan bicarakan appapun pada Kibum semua yang kau tahu hari ini."

Siwon terlihat kurang puas, tapi akhirnya dia diam menyetujui ayahnya. Dan masih mengejar untuk informasi terakhir, "jadi siapa pendonor Kibum?"

0o0o0o0

Siwon menutup pintu kamarnya. Menyandarkan diri disana. Dalam tangannya tergenggam berkas yang diberikan sang ayah. Wajahnya menyiratkan ketidak percayaan dan syok.

'Pendonor Kibum, Kim Kyuhyun, putra Kim Young Woon.'

Siwon jatuh terduduk, melepas berkas setelah meremasnya dengan kuat. Dia merasa takdir sedang bermain sekarang. Orang yang dicari adiknya ternyata tidak jauh-jauh darinya. Kim Kyuhyun. Kyuhyun bahkan sudah lama dikenal Donghae. Kyuhyun yang itu. Kyuhyun yang jadi pusat perhatian Kibum akhir-akhir ini. Kyuhyun yang membuat Kibum tertarik untuk menjalin pertemanan.

Siwon membenturkan kepalanya kebelakang. Dia merasa ini sangat rumit.

'Jadi, bagaimana bisa anak seumuran, tidak anak itu bahkan lebih muda dari Kibum. Bagaimana dia bisa menjadi donor, appa? Dia terlalu muda untuk itu!'

'Aku tidak ingin membicarakannya Siwon. Sudah cukup pergilah.'

'Ini tidak akan selesai, appa! Jelaskan semuanya kepadaku!'

Siwon tidak bodoh. Sejak dia memegang jabatan di Rumah Sakit itu dia mulai mencari kebenarannya. Awalnya dia hanya ingin membantu sang adik untuk menemukan 'dewa'nya. Tapi kejanggalan-kejanggalan mulai dia rasakan. Dia ingat betul Rumah Sakit mereka yang menangai operasi Kibum. Namun tidak ada satupun berkas yang mencantumkan hal tersebut. Benar rekam medis Kibum tersusun rapi dalam arsip. Tapi tidak satu lembarpun yang mencantumkan pendonor Kibum. Siwon semakin curiga karena Dokter Shin pun seolah menghindari pertanyaan itu dan berusaha sedikit mungkin membuka mulut.

Hari ini semuaa menjadi jelas. Sangat jelas. Dan betapa Siwon merasa ayahnya begitu mengerikan. Siwon bahkan bisa merasakan tubuhnya gemetar merasakan kegelapan itu. Ayahnya. Ayah yang selalu dibanggakan. Ayah yang selalu sempurna dimatanya. Bagaimana bisa melakukan hal gelap seperti itu?

'Kami saling membantu Siwon. Dia memberikan hidup pada Kibum dan sebaliknya aku memberikan hidup untuk putranya. Itu sebuah perjanjian. Sudah berakhir hari itu juga dan jangan mengungkitnya lagi.'

Siwon merengkuh tubuhnya sendiri. semakin merasa menggigil.

Oh betapa inginnya Siwon menutup mata dari kebenaran ini. Tapi begitu matanya bisa melihat dia merasa begitu hancur.

'Kau melanggar hukum, appa.'

'Heum. Aku hanya seorang ayah yang menginginkan putranya hidup dengan baik. Aku tidak sempurna memang, tapi aku akan mampu melakukan apapun untuk putraya. Tidak apa kau membenci appa sekarang tapi appa berhasil menyelamatkan nyawa Kibum.'

Siwon menggigit lengannya menahan isakan. Air matanya lolos tidak tertahan. Dia bisa memahami perasaan ayahnya. Menggoyahkan hatinya dari kesalahan sang ayah. Tapi dia juga merasa kesal dan marah.

Siwon meredakan tangisnya. Mengusap air matanya dengan kasar. Dia bangkit terburu menuju meja kerjanya. Meraih ponsel dan segera menghubungi seseorang.

'Ne, Siwon hyung?'

"Zou Mi-ah," Siwon menatap tirai kamarnya yang bergerak pelan diterpa angin malam. "bantu aku. Berikan aku informasi lengkap Kim Kyuhyun."

Siwon menoleh pada berkas yang terlantar di lantai. Genggamannya pada ponsel menguat. "Fokuskan info hanya pada Kim Kyuhyun. Segala hal bahkan hingga yang bersifat rahasia sekalipun."

Setidaknya Siwon akan berusaha membalas budi menggantikan Kibum. Jika dia mengetahui segalanya, mungkin dengan itu dia bisa berusaha membantu Kyuhyun. Memudahkan hidupnya. Memenuhi segala kebutuhannya. Apapun yang bisa dia lakukan untuknya akan dia lakukan.

TBC

Wednesday, October 5, 2016

7:43 PM

Sunday, October 9, 2016

6:46 PM

Maaf! Maaf maaf maaf maaf….

Lama nungguin ya? Saya kebut ini. Sibuk melu kerjo nek sawah bapak emak aku. Maaf ya…

Saya cicil lho dari tanggal 5, sayangnya begitu sampai rumah dan buka lepi badan udah pegel dan udah gak bisa mikir. Jadi lama deh. Saya punya file lainnya tapi untuk chapter chapter pertengahan dan akhir, kagak tahu pasti. Jadi untuk melengkapi chapters lainnya harus muter otak lagi. Ambil bagian ini ambil bagian itu, baru jadi dirangkai jadi satu chapters. Saya juga harus bolak balik lagi lihat chapters sebelum-belumnya biar gak ada miss-nya.

Tapi kalau ini masih ada juga gak nyambung sama chapters sebelum-belumnya mohon maafkan saya dan tegur saya. Asal jangan tegur masalah waktu update ya?

Sejak awal saya sudah gak janji bakal update cepet.

Dan ada yang berharap ama next bonus?

Sabar ya. Saya baru buka buku buat nglengkapin bonus. Saya akan cari waktu untuk lanjut mengetik dan edit.

Oke sekian cuap cuap saya.

Selamat membaca dan oh satu lagi. Ada yang bilang saya updatenya selalu pagi. Iyyakah? Iya kayaknya hehehe. Bukan karena malam buat edit dan pagi baru bisa update. Kagak begitu juga. Memang benar malam buat edit dan sebagainya tapi niatnya begitu selesai akan update, berarti harusnya malam kan? Tapi ternyata begitu saya pindah file ke ponsel terus nyambungin internet buka webnya sambil tiduran. Eh malah tidur beneran. Begitu bangun, baru keinget mau update ff.

Begitulah ceritanya. Hehehe

Saya juga lagi sebel ma aplikasi ffn buat android nya udah di download tapi nyambungnya Cuma bisa kalau ada jaringan wifi. Jadi terpaksa balik lagi ke web. Yang penting lancar-lanacar saja. Sayangnya ya itu textnya kagak bisa persis plek. Misalnya saya ketik dengan cetak miring eh ternyata setelah saya upload di doc manager tdak cetak miring. Terus banyak lagi. Bisa cetak miring dan sebagainya kalau di ketik langsung. Tapi kan sebel ketik ulang. Jadi terpaksa lagi, untuk perkataan dalam hati dan flasback saya pakenya (') ini.

Semoga ffnya tetep bisa dimengerti dan dinikmati dengan segala kekurangan dan kekurangannya lagi.

Sekian dan terima kasih.

Maaf ya kagak bisa bales rivew. Lain kali oke.

Sima Yu'I

(SY'I)