BONUS 2
00000000000000000
Kyuhyun kecil tersenyum saat sampai di tempat yang dituju. Mengabaikan rasa dingin dia melangkah menuju gereja dimana sang appa dan calon eommanya akan melangsungkan pernikahan. Kaki kecilnya yang terbalut sepatu pinjaman mengayun riang.
'Dengar, kau tidak akan datang besok. Jangan merengek apalagi menangis. Ada kau pernikahanku tidak akan menyenangkan. Menurut padaku, jangan keluar dari rumah. Mengerti?!'
Kyuhyun ingat jelas peringatan sang appa. Jadi dia berhenti di depan pintu. Mengintip ke dalam. Kursi tamu penuh para undangan. Bunga-bunga di pasang dimana-mana, sangat cantik. Kyuhyun tersenyum takjub, menatap kagum dekorasi gedung yang dipenuhi mawar putih.
Setelah asyik mengamati, matanya mencari sosok yang dia cari. Seorang lelaki gagah berstelan kemeja hitam dengan hiasan bunga di saku jasnya, berdiri bersebelahan dengan wanita bergaun putih yang sangat indah. Pasangan itu berdiri di depan seorang pendeta yang sedang membacakan sumpah pernikahan. Kyuhyun tidak berkedip melihat mereka. Pipinya menempel di sisi pintu, tangannya berpegangan dengan separuh badannya bersembunyi di balik pintu. Dia mematuhi peringatan sang appa, meski dengan sedikit kenakalannya. Menyusup keluar rumah dan bersembunyi disini untuk mengintip acara sang appa.
Sesungguhnya dia hanya ingin berada disini. Melihat appanya tersenyum bahagia bersama eomma barunya. Senyum yang tidak bisa dia lihat lagi. Appanya jadi sangat keras sejak kejadian menyedihkan itu, 8 bulan yang lalu. Tidak tersenyum dan selalu marah-marah. Kyuhyun hanya takut sang appa marah lagi, akhir-akhir ini appanya sudah bisa tersenyum meski bukan untuknya, Kyuhyun tidak ingin merusak suasana itu.
Kyuhyun tetap berada pada posisinya. Memperhatikan bagaimana sang appa menikmati pesta bersama Hera. Wanita yang pernah dibawa pulang dan disebut sebagai calon istrinya. Sekarang keduanya telah resmi sebagai suami istri. Kyuhyun senang. Tentu saja. Dibayangannya dia memiliki seorang eomma. Bukan berarti dia ingin menggantikan eomma kandungnya. Sayangnya utuh pada eomma kandungnya dan sekarang dibagi dengan eomma barunya. Dia hanya anak-anak. Ditinggal eommanya dengan cara yang menyakitkan. Ingin memeluk appanya mencari perlindungan dari ketakutannya. Sayang sang appa berubah total. Menatapnya penuh kebencian. Harapannya dialihkan pada orang baru. Eomma barunya mungkin akan bisa menyayanginya.
"Kyuhyunie."
Kyuhyun berkedip. Dia tidak sadar seseorang telah ada dihadapannya. Masih di posisinya Kyuhyun menengadahkan kepala, melihat siapa yang memanggilnya. Wanita itu tersnyum lebar kemudian merendahkan diri hingga sejajar dengan Kyuhyun. "Appa bilang Kyunie tidak enak badan, jadi Kyunie tidak datang?" kata Hera lembut dan perhatian. Tangan kanannya sudah beralih menyentuh kening Kyuhyun. Merasakan perbedaan suhu bocah manis dihadapannya.
"Kyunie tidak panas. Kyunie oke?"
Kyuhyun mengangguk seraya tersenyum senang. Dia suka Hera. Sejak awal bertemu bersikap baik dan lembut padanya.
Hera balas tersenyum. Mengusap kepala Kyuhyun. Memperhatikan bocah dihadapannya yang nampak menggemaskan dengan atribut musim dingin. Hera menoleh ke belakang. Mencari suaminya yang tadi mengobrol dengan para tamu. Hera saja yang pergi tanpa bicara saat melihat sosok kecil mengintip di balik pintu gedung. Menyadari bahwa itu adalah anak suaminya tanpa berfikir lagi Hera pergi menghampiri.
"Kyuhyunie ikut masuk." ajak Hera, tangannya menggamit tangan kecil Kyuhyun. Namun Kyuhyun bergeming. Menatap Hera ragu. "Wae?" tanya Hera merasa Kyuhyun bertahan di posisinya.
Kyuhyun menunduk. Dia ingin masuk tapi disana ada appanya. Dia masih ingat larangan ayahnya. "Kyunie mau pulang."
Hera mengernyit heran. "Nanti pulang sama-sama. Eomma Hera juga akan pulang ke rumah Kyunie bersama Henry. Kita pulang ramai-ramai, ne?"
"Nanti appa marah. Kyunie nakal tidak menurut pada appa. Kyunie ketahuan."
Hera mengernyit bingung. Namun kemudian dia seolah memahami. Bukan hal baru bagi Hera mendapati hal semacam ini. Young Woon tidak bersikap baik pada Kyuhyun. Bahkan dulu enggan mengenalkan Kyuhyun padanya seandainya bukan dia sendiri yang memergoki ada seorang anak kecil di rumah calon suaminya.
Menekan perasaan marah yang tiba-tiba muncul Hera mengukir senyum. "Appa sedang bahagia, tidak mungkin marah." Hera ragu dengan ucapannya sendiri. Namun membiarkan Kyuhyun pulang sendiri dia khawatir. Meskipun dia menduga Kyuhyun juga sendirian datang ke tempat ini. Dia tahu Young Woon berbohong Kyuhyun sakit. Lelaki itu hanya tidak ingin melihat Kyuhyun di pestanya. Sampai sekarang Hera tidak mengerti kenapa sikap Young Woon seperti itu? Padahal pada Henry putra Hera, Young Woon memperlakukannya dengan baik.
Hera memandang Kyuhyun. "Kyunie tidak mau bertemu Henry?"
Kyuhyun ingin. Tapi, "Appa…." cicit Kyuhyun enggan bergerak.
Hera tersenyum miris. Young Woon sangat keras pada Kyuhyun. Bahkan menurutnya cenderung berlebihan. Menghela nafas Hera pun memutuskan. Dia memanggil seseorang yang dia kenal dari keluarganya, meminta tolong untuk mengantarkan Kyuhyun pulang ke rumah. Dia melakukannya diam-diam. Menghindari dipergoki Young Woon. Dia juga tidak ingin lelaki yang dia cintai itu memarahi Kyuhyun di depan umum. Sangat tidak bagus untuk perkembangan mental Kyuhyun. Tidak sulit membujuk Kyuhyun yang memang dasarnya seorang anak yang penurut.
0o0o0o0o0
Mereka menjadi keluarga bahagia. Seharusnya, jika itu hanya Young Woon, Hera dan Henry. Tanpa Kyuhyun. Young Woon menjadi seorang ayah yang sangat baik, penyayang dan ramah pada Henry. Namun kemudian sikapnya akan berubah terbalik jika menghadapi Kyuhyun. Nada bicaranya tidak pernah leembut, terkesan dingin dan matanya selalu melebar penuh amarah dan kebencian.
Seperti hari ini. Hera terpaku melihat Young Woon membentak Kyuhyun cuma-cuma. Dia ingin mengatakan sesuatu saat Young Woon lebih dulu tersulut emosi karena Kyuhyun tidak sengaja memecahkan gelas.
"Hentikan Young Woon! Kau menakuti anakmu!" Hera menarik Kyuhyun merapat padanya. Bisa dirasakan tubuh Kyuhyun bergetar. Anak itu memeluk pinggangnya dengan erat.
"Jangan menghalangiku Hera! Dia anak nakal, aku harus mendidiknya!"
"Itu bukan mendidik! Kau melampiaskan kemarahanmu! Itu hanya gelas! Dan kau memarahinya hanya karena itu?! Sakit dan perasaan Kyuhyun tidak lebih berharga dari sebuah gelas, begitu?!"
Young Woon mengatupkan rahangnya rapat. Memandang Hera dengan nafas naik turun dengan cepat. Amarahnya belum reda tapi dia juga tidak ingin menyakiti Hera. Dia tidak ingin bertengkar. Maka dengan melempar pandang menggertak pada Kyuhyun, Young Woon berbalik. Naik ke atas dan menghilang di dalam kamar.
Hera menghembuskan nafas prihatin. Semakin hari dia semakin tahu bagaimana bengisnya Young Woon pada Kyuhyun. Dia sangat terkejut saat pertama kali dia mendengar Young Woon membentak Kyuhyun. Benar-benar bukan sosok seorang ayah. Seperti orang lain. Dia tidak menyangka Young Woon bisa berbuat seperti itu.
"Maafkan Kyunie, eomma. Kyunie tidak sengaja." cicit Kyuhyun di sela sesenggukannya.
Hera memandangnya lembut. Tangannya mengusap kepala Kyuhyun menenangkan. "Gweanchana? Apa kau terluka?"
Kyuhyun mengangguk. Mengusap air matanya yang terus mengalir dan menunjukkan kakinya yang terluka terkena pecahan gelas. Perih tapi hatinya jauh lebih sakit. Dia masih tidak mengerti kenapa ayahnya begitu banyak berubah. Hera membantu membersihkan wajahnya yang penuh air mata. "Sudah, ne jangan menangis. Ayo, eomma obati lukamu."
Kyuhun didudukkan di kursi dapur. Hera mengambil kotak obat. Membersihkan darahnya, mengolesinya dengan obat merah dan ditutup dengan plester luka. Selesai.
"Cha, sudah selesai." Hera tersenyum mengusap kepala Kyuhyun. Henry muncul entah dari mana dan menghampiri mereka.
"Eoh? Kyu hyung kenapa?" tanya Henry. Telunjuknya hampir menyentuh luka Kyuhyun namun segera ditahan Hera.
"Jangan sentuh, Henry-ah. Kaki Kyu hyung sedang sakit. Tangan Henry kotor?" Hera memperhatikan keseluruhan badan Henry. Kemudian berdecak mengetahui putranya dalam keadaan kotor. "Kau bermain lumpur? Uh, sangat kotor. Cepat pergi mandi." lalu pada Kyuhyun. "Kyu juga mandi. Eomma akan siapkan makan malam."
Henry manyun. Kyuhyun beranjak dari kursi dan mengulurkan tangan pada Henry. "Henry mandi sama hyung, ne?"
Henry mengangguk antusias. Menggenggam tangan Kyuhyun dan berjalan bersama. "Hyung nanti bantu Henry mengerjakan PR, ne? PR nya sulit sekali."
"Euhm." angguk Kyuhyun ceria.
Hera tersenyum melihat kedekatan kedua putranya. Bersyukur Henry bisa menjadi teman dan dekat dengan Kyuhyun. Kyuhyun juga menerima Henry dengan baik.
0o0o0o0o0
"Appa pulang! Henry lihat apa yang appa bawa untukmu, chagi!"
Henry yang sedang menonton kartun dengan Kyuhyun segera melompat berdiri, berlari menuju sang appa. Kyuhyun mengikuti dengan langkah pelan. Henry sampai didepan Young Woon yang langsung mengangkat tubuhnya seraya meletakkan semua bawaannya diatas meja. Kyuhyun tersenyum kecil. Dia senang saat melihat sang appa tersenyum seperti itu, meskipun bukan untuknya, dia bersyukur dia masih bisa melihat senyum hangat appanya.
Hera muncul dari dapur dan menghampiri mereka. Menyambut suaminya yang pulang dari luar kota. "Kau pulang lebih cepat?" Hera merangkul bahu Kyuhyun mengajaknya lebih mendekat.
"Pekerjaan disana selesai lebih awal, jadi aku bisa segera pulang." Jawab Young Woon menurunkan Henry. Beralih merangkul Hera, mengecup puncak kepalanya dengan sayang. Rindu juga tiga hari berada diluar kota. Young Woon melepas rangkulannya dan beralih kepada anak-anak. Tidak sengaja matanya melihat Kyuhyun yang berharap diberi pelukan juga. Namun wajahnya langsung berubah masam. Dia berdecak dan memilih tidak peduli.
"Henry-ah, bukalah itu. Ada banyak makanan dan mainan untukmu." kata Young Woon mengabaikan Kyuhyun. Henry melonjak senang. Dia segera berbalik pada bungkusan-bungkusan diatas meja. "Woaaaa! Kyu hyung lihat ini kereeen!" Henry mengeluarkan pistol-pistolan dan mobil remote dari kardus, menunjukkannya pada Kyuhyun.
Kyuhyun ikut berbinar melihat mainan-mainan tersebut. Dia sudah lama tidak bermain, semua barang mainannya lenyap entah kemana. Henry menyodorkan mobil remote pada sang hyung. Kyuhyun menjulurkan tangan siap menerima mainan tersebut, namun sebuah tangan lebih besar lebih dulu mengambilnya. Kyuhyun memandang kecewa pada si pelaku serobot yang rupanya adalah sang appa.
Young Woon merendahkan tubuhnya seraya menimang mobil-mobilan didepan wajah Henry dan Kyuhyun, namun fokusnya hanya pada Henry. "Henry-ah, semua mainan ini untukmu. Kau tidak boleh membaginya pada yang lain. Mengerti?" Young Woon berkata lembut.
Henry yang masih polos menatap appanya dengan bingung, kemudian menatap Kyuhyun. "Kyu hyung dapat apa, appa?" tanya Henry lugu.
Hera buru-buru menyahut sebelum Young Woon menjawab. "Kau boleh membaginya, Henry. Kalian hanya berdua, bermain dengan adil dan akur, ne." tanpa memperhatikan Young Woon yang menatap tajam dirinya, Hera segera menarik Henry dan Kyuhyun, tidak lupa juga mengambil mobil-mobilan di tangan suaminya dan diberikannya pada Kyuhyun. "Pergilah. Bermain di halaman."
"Ne, eomma! Ayo, Kyu hyung!" Henry menarik Kyuhyun dengan ceria, tidak memahami situasi dan kondisi seperi apa yang sedang terjadi.
Young Woon menegakkan tubuh. Hera sibuk membereskan oleh-oleh lain berupa kue-kue kering, serta bekas bungkus-bungkus mainan tadi. Hera tahu Young Woon sedang menatapnya dengan tajam, namun dia berusaha mengabaikan hal tersebut. Hera ke belakang, menyimpan kue kering di dalam kulkas dan membuang bungkus yang tak terpakai ke tempat sampah. Kemudian kembali ke depan dengan segelas minuman dingin. "Minumlah, kau akan lebih tenang." kata Hera menyodorkan minuman tersebut.
Young Woon mengambil minuman itu namun bukan diminum melainkan ditaruhnya di meja. "Sampai kapan kau akan membela anak itu? Aku ini tidak menyukainya! Bagiku tidak ada anak lain di rumah ini, selain Henry. Hanya Henry anakku!"
Hera mendengus lelah. "Kau juga mau sampai kapan menuruti emosimu itu? Sejak awal anakmu adalah Kyuhyun. Aku berterima kasih karena kau menerima dan menyayangi Henry dengan sangat baik. Tapi bisakah kau bersikap adil? Jangan buat ada jarak diantara mereka. Jangan ciptakan kecemburuan yang nantinya bisa menjadikan permusuhan! Aku tidak suka situasi dimana kau selalu menyisihkan Kyuhyun seolah dia tidak ada. Itu sangat menyakitkan untuknya."
Young Woon berdiri, berhadapan dengan Hera. "Atas dasar apa aku harus melakukannya? Cih, anak? Dari mananya aku harus menganggap anak sial itu sebagai anakku? Anak tiriku lebih baik dari pada dia!"
Hera masih ingin menyahut, masih ingin mendebat namun Young woon segera pergi dengan emosinya. Hera menghela nafas panjang. Mengambil kembali minuman tadi dan membawanya ke dapur.
Tanpa mereka berdua sadari ada seorang anak yang berdiri di balik pintu rumah. Anak itu berdiri mematung mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Dia tidak begitu mengerti pembicaraan itu namun hatinya sangat sakit mendengar kalimat appanya di akhir.
"Kyu hyung, cepatlah! Aku tidak sabar memainkan mobil-mobilan ini!" seru Henry dihalaman rumah. Kyuhyun melempar senyum pada Henry sebelum memasuki rumah seperti niatan awal. Mencari buku panduan untuk memainkan mobil-mobilan baru Henry yang pasti ada di dalam dus mainan tadi.
0o0o0o00o0
"Kyu!" panggil Changmin. Changmin menghentikan sepedanya di dekat Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum menyambut teman di jalannya. Changmin teman pertama Kyuhyun. Pertama kali bertemu saat dirinya yang seorang diri pergi menuju gereja saat pernikahan sang ayah. Mungkin karena kasihan melihat dirinya yang hanya mengenakan kaos tipis dan sendal rumahan di cuaca dingin Changmin meminjamkan semua atribut musim dinginnya kepada Kyuhyun. Jadi dia merasakan hangat hingga sampai gereja. Ternyata mereka bertemu di kemudian hari saat berangkat sekolah.
Bertemu di jalan, dan berteman di jalan juga. Maksudnya mereka hanya terlihat bersama saat di jalan pergi dan pulang sekolah. Changmin ada di sekolah lain berbeda dengan Kyuhyun yang satu sekolahan dengan Henry. Kyuhyun jarang keluar rumah kecuali Henry juga keluar rumah, itupun masih sangat jarang. Jadi, Changmin cukup kesulitan mengajaknya bermain. Apalagi rumah mereka berbeda kompleks.
"Ayo, kubonceng." ajak Changmin yang dibalas gelengan oleh Kyuhyun. "Wae? Kau lebih cepat sampai kalau kubonceng."
Kyuhyun menunjuk ke depan pada segerombolan anak yang berseragam sama dengan Kyuhyun. Changmin mengikuti arah tunjuk Kyuhyun dan mengangguk paham. Di gerombolan itu ada Henry, yang Changmin tahu Henry adalah adik Kyuhyun. Kyuhyun seorang hyung yang baik, makanya dia tidak akan mau dibonceng Changmin selagi Henry berjalan kaki ke sekolah. Kyuhyun hanya memastikan adiknya baik-baik saja saat di jalan. Pergi dan pulang dalam keadaan selamat.
"Kenapa kau ikut berjalan juga? Sekolahmu lebih jauh, tidak takut telat?" heran Kyuhyun pada Changmin yang justru menuntun sepedanya dan berjalan disampingnya.
Changmin mendesah. "Sebenarnya aku malas sekali ke sekolah. Sekolahku sangat membosankan."
Kyuhyun mengernyit heran. "Seperti apa?"
Changmin menggeleng. "Yang jelas disana sangat membosankan!"
"Kenapa masih pergi ke sekolah?"
Changmin menyengir lebar. "Aku lebih malas berada di rumah mendengar ocehan ahjuma (bibi pembantu). Lagi pula kalau tidak pergi ke sekolah aku tidak bertemu denganmu. Aku jadi merindukanmu. Hehehe."
Kyuhyun terkekeh juga. "Changmin, kau lucu. Kenapa kau akan merindukanku?"
"Karena kau temanku."
Kyuhyun melebarkan senyumnya. Mereka berjalan tanpa mengobrol lagi. Changmin dengan tenang menuntun sepedanya sambil mengoceh soal bola dan hal-hal lain. Sesekali Kyuhyun akan menyahuti sambil tidak melepaskan pandangannya pada Henry yang berjalan beberapa langkah di depan bersama teman-temannya.
0o0o0o0o0
Malam itu Hera menyambut suami yang memang ditunggu kedatangannya. Young Woon sendiri merasa heran. Biasanya kalau dia pulang larut malam Hera sudah tidur. Namun sekarang seolah istrinya sengaja. Bahkan sikapnya pun sedikit dingin. Hera menyambutnya tanpa banyak bicara, seolah menyimpan atau menahan sesuatu untuk dibicarakan. Keduanya memasuki kamar. Young Woon mengganti pakaian, Hera mengambil baju kotor Young Woon dan meletakkannya ke tempat cucian. Kemudian kembali ke kamar dengan membawa secangkir teh.
Hera duduk di kursi rias sambil menunggu Young Woon meletakkan cangkir teh yang sudah kosong di nakas samping tempat tidur. "Kau kenapa, Hera?" tanya Young Woon yang sudah tidak sabar melihat gelagat istrinya.
Hera mengambil secarik amplop dan memberikannya pada Young Woon. Young Woon membuka amplop tersebut. Hera menunggu namun melihat ekspresi suaminya yang biasa-biasa saja bahkan mencampakkan amplop itu seolah tidak penting, dia mulai tidak tahan untuk diam.
Hera membuang nafas berat. "Aku mendapat pemberiahuan sekaligus surat tagihan pelunasan uang sekolah Kyuhyun. Kau tidak merasa harus menjelaskan sesuatu?"
"Apa yang harus kujelaskan?"
Hera menatap suaminya tidak mengerti dengan tanggapannya. "Kau membayar lunas uang sekolah Henry, tapi menunggak uang sekolah Kyuhyun? Kau kesulitan uang?"
"Tidak, Hera." jawab Young Woon. "Aku hanya merasa kenapa itu harus menjadi tanggunganku? Apa peduliku dengan sekolahnya? Aku sudah lama menyuruhnya untuk berhenti sekolah. Tapi dia tidak menurut."
Hera mengernyit. "Kau memang tidak ingin membayar sekolahnya. Begitu?"
"Hentikan, Hera! Kenapa kita selalu mempermasalahkan hal yang sama? Kenapa selalu anak itu?! Kau bukan ibunya jadi berhenti peduli padanya!"
"Dia sudah jadi anakku. Tanggung jawabku juga!" balas Hera tidak mau kalah. "Cukup Young Woon! Kenapa kau selalu bersikap seperti ini? Kyuhyun anakmu kenapa memperlakukannya seperti itu? Kesalahan apa dia perbuat sampai kau sekejam ini padanya?"
"Salahnya karena dilahirkan!" Seru Young Woon tanpa menahan volumenya. "Salahnya karena dia ada dan tumbuh di rahim istriku! Karena dia, istriku depresi dan bunuh diri! Semua karena dia! Sudah cukup tujuh tahun aku hidup dalam kebohongan! Cih, menyayanginya? Aku bahkan jijik, sangat jijik mengingat aku pernah menyayanginya! Kutimang dia sebagai anak! Anak yang kuidamkan! Anak kebanggaanku! Tapi semuanya palsu! Aku membesarkan si pembawa sial! Aku kehilangan semuanya karena dia! Dan kau tanya kesalahan apa? Kesalahannya karena bersikeras untuk hidup! Dia selamat dalam kejadian itu dan sekarang menjadi benalu di rumahku!"
Hera menggeleng tidak percaya. Semarah itukah. Sebenci itukah? Dia sudah mendengar ceritanya bagaimana Youjin meninggal. Kuhyun ada didalamnya. Menjadi korban. Tapi bagaimana Young Woon bisa geap mata dan hatinya menyalahkan Kyuhyun? Hera memalingkan wajah ke arah lain. Air matanya mengalir, dia mengusapnya dengan cepat. Keadaan membisu untuk beberapa waktu hingga keduanya tenang.
"Bukan salahnya." kata Hera pelan. "Tidak masuk akal kau menyalahkan Kyuhyun atas kematian istrimu! Kau tahu sendiri Youjin memang tidak waras,"
"HERA!" raung Young Woon mendengar kalimat itu. Dia mencengkeram bahu Hera dengan kuat, menekankan pada dirinya akan kesalahannya.
"Young Woon, sakit!"
"Jangan sebut Youjin seperti itu. Dia tidak akan seperti itu jika bukan karena Kyuhyun. Ini semua salahnya." desis Young Woon. Dia melepas Hera begitu sadar kekasarannya. Ini yang dia takutkan. Dia masih labil,meski sudah lama berlalu. Tapi perasaannya masih kuat pada Youjin dan masih cukup sensitif dengan keberadaan Kyuhyun.
Hera menatap Young woon. "Sesukamu jika tetap bersikukuh dengan sikapmu. Tapi jangan halangi aku untuk melakukan apa yang menurutku benar."
"Hera, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?"
Young woon menggeram. Kenapa Hera begitu sulit mengerti? Kyuhyun adalah sumber penderitaannya. Setelah kematian Youjin dia tidak ingin peduli lagi dengan anak itu. Kyuhyun diusir karena Young woon tidak sudi mengurusnya lagi. Namun Kyuhyun sangat keras kepala. Diusir berkali-kali, berkali-kali itu pula Kyuhyun kembali ke depan pintu rumahnya. Hingga dengan sangat terpaksa membiarkannya memasuki rumah. Tentu saja dengan konsekuensi dibenci dan diabaikan Young Woon. Statusnya sebagai anak bagi Young Woon hanya karena nama Kyuhyun terlanjur tercantum di kartu keluarga. Hanya sebatas tinta di atas kertas yang bahkan mudah pudar oleh udara, air dan waktu. Semudah itu pula kasih sayangnya menjelma menjadi kebencian. Kenyataan yang menorehkan luka begitu dalam dan sangat menyakitkan.
"Kau seperti tidak punya otak, Young Woon. Menyalahkan anak yang tidak tahu apa-apa. Dia masih sangat kecil untuk bisa mengerti penderitaanmu. Seharusnya kau lebih tegar dengan persoalanmu bukan sebaliknya melampiaskan semuanya kepada anakmu. Dia masih begitu lugu dan tidak tahu apa-apa. Apa pantas kau melimpahkan semua padanya?"
Young Woon menggeram marah. "Terserah maumu, Hera! Urus saja jika kau menginginkannya! Aku tidak peduli dan tidak akan menyumbangkan apapun padanya!" dengan itu Young Woon keluar kamar. Pintu dibantingnya cukup keras. Hera hanya mampu menghela nafas pasrah. Cukup putus asa untuk memberi pengertian pada Young Woon. Dia bisa memahami Young Woon tapi tidak bisa menerima perlakukannya terhadap Kyuhyun. Kyuhyun masih terlalu dini untuk memahami persoalan orang tuanya. Namun sakit di dalam hati Kyuhyun tidak memandang usia. Tidak mengerti namun merasakan sakit.
0o0o0o0o0
Kyuhyun mengeratkan lingkaran tangan di kedua kakinya. Memeluknya erat menempel ke tubuhnya. Suara berisik di balik dinding mereda disusul dengan suara bantingan pintu. Dia bisa menebak ulah siapa itu. Appanya akan memilih menghindar namun dengan kemarahan. Dia selalu merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Pertengkaran mereka selalu menimbulkan perasaan bersalah padanya. Dia tahu perdebatan hingga percekcokan mulut kedua orang tuanya adalah karena dirinya. Hanya tentang dirinya.
Kyuhyun memandangi kedua pergelagannya. Bekas sayatan yang begitu kentara menghiasi kedua tangannya. Tidak bagus. Hanya menimbulkan perasaan sakit. Fantasi semu yang menggerogoti hati dan memberikan tekanan pada mentalnya.
Kyuhyun beralih ke ranjang. Memastikan Henry yang sudah tidur tidak terganggu. Lega melihat Henry masih nyenyak dalam tidurnya, diapun beralih ke sebelah yang kosong untuk kembali merebahkan diri.
Eomma, kenapa aku bertahan?
Kenapa Tuhan menyelamatkanku dan membawamu pergi?
Tidakkah kau kecewa, aku yang ingin kau bawa masih tertinggal disini.
Eomma, aku rindu.
Kembalilah dan bawa aku.
Aku menyukai Henry dan eomma Hera, sungguh.
Tapi appa tidak sebaik dulu.
Aku merasa tidak nyaman di sekitarnya.
Aku dibenci appa.
Tapi aku menyayanginya.
Tapi aku juga tidak ingin appa marah-marah terus.
Dia lebih menyayangi Henry dan menyebutku anak sial.
Eomma, kenapa kau meninggalkanku?
TBC
Friday, March 4, 2016
7:47 PM
Sunday, October 16, 2016
2:48 PM
Sima Yu'I
(SY'I)
