BONUS 3
Hari minggu Young woon berencana membawa keluarga kecilnya untuk berlibur ke pantai. Sejak pagi Hera sudah sibuk menyiapkan bekal untuk di bawa suami dan putranya. Sedangkan Young woon mengurus Henry. Hera memutuskan tidak pergi karena Kyuhyun tidak ikut. Young woon sengaja tidak mengajaknya. Mengetahui itu diapun memutuskan untuk tidak ikut juga. Hera khawatir dengan Kyuhyun yang akan sendirian di rumah.
Kyuhyun berdiri di pintu menyaksikan bagaimana appanya memakaikan baju pada Henry sambil bercanda. Membicarakan tentang apa yang akan mereka lakukan di pantai nanti. Hingga Young Woon menggoda Henry dan tertawa bersama. Kyuhyun menunduk sedih. Dia jadi ingat bagaimana dulu appanya juga melakukan hal yang sama padanya. Dulu ketika Young Woon masih mnyayanginya dan eomma Youjin masih hidup. Itu adalah saat yang sangat dirindukan Kyuhyun.
Kyuhyun memutuskan pergi menghampiri eomma Hera di dapur.
"Eomma, ada yang bisa kubantu?" tanya Kyuhyun menyembunyikan sedihnya.
Hera tersenyum pada Kyuhyun dengan kedua tangan yang masih sibuk menata bekal. "Tidak. Ini sudah selesai." dua bekal sudah siap. Hera memasukkannya ke dalam tas kain.
Young Woon menggandeng Henry menuruni tangga. Keduanya nampak berpakaian bagus. Henry berceloteh tidak berhenti. Hera diikuti Kyuhyun membawa bekal ke meja ruang tamu. Hera menghampiri Henry, merapikan sedikit bajunya kemudian mencubit gemas pipi moci sang putra.
"Henry jangan nakal, ne." pesannya.
"Kau yakin tidak ikut?" tanya Young Woon menyayangkan liburan tanpa sang istri. Hera menegakkan diri beralih menatap suaminya.
"Jaga saja Henry dan bersenang-senanglah. Kami juga akan bersenang-senang, iya kan Kyunie?" Hera merangkul Kyuhyun dengan sayang. Kyuhyun tersenyum tipis. Young Woon berdecak kesal.
"Terserahlah. Apapun yang kukatakan kau tidak akan mendengarnya." Young Woon mengangkat Henry di lengannya kemudian keluar. Hera mengikutiya keluar dengan membawa bekal. Kyuhyun ikut keluar namun hanya sampai teras menyaksikan keluarganya.
Hera memasukkan bekal di kursi belakang. Kemudian mencium kening Henry. Young Woon memeluk istrinya dan mendaratkan kecupan ringan di pipi. Setelah ritual tersebut Young Woon dan Henry masuk ke dalam mobil. Hera menunggu hingga mobil melaju meninggalkan halaman lalu berbalik menuju rumah. Dia menghampiri Kyuhyun yang masih berdiri disana.
"Nah, Kyunie kita juga harus bersiap."
Kyunyun memiringkan kepalanya, menatap Hera. "Bersiap untuk apa?"
Hera mencubit pipi Kyuhyun gemas. "Jalan-jalan!"
"Tapi eomma, Kyu janji bermain dengan Changmin."
Hera berfikir mengingat siapa Changmin. Changmin memang tidak pernah datang ke rumah. Tapi Kyuhyun pernah bercerita tentang Changmin pada Hera. "Oh. Changmin yang itu! Temanmu di jalan itu?"
Kyuhyun mengangguk senang Hera mengingatnya. "Bolehkah?" binar Kyuhyun penuh harap.
"Jadi kita batal jalan-jalan." keluh sang eomma. Kyuhyun menunduk bersalah. Hera tersenyum. Tangannya mengusap kepala Kyuhyun. "Jangan bersedih. Kyunie boleh pergi."
"Jeongmal?" Kyuhyun tersenyum senang.
Hera mengangguk. "Jadi kalian akan bermain dimana?"
Kyuhyun kembali murung. "Di taman kompleks. Boleh, eomma?"
"Tentu saja boleh, sayang. Changmin menjemput atau kau pergi sendiri?"
"Changmin jemput pakai sepeda." jawab Kyuhyun.
"Kalau begitu Kyunie sarapan dulu sama eomma." Hera menggandeng tangan Kyuhyun masuk rumah. Pintu dibiarkan terbuka.
Kyuhyun senang Hera memberinya ijin. Dia jarang keluar rumah. Karena Young Woon tidak suka. Lagipula dia harus menemani Henry. Dan karena hari ini Henry pergi bersama Young Woon Hera memberinya ijin untuk bermain di luar cukup lama.
"Ingat, ya. Jangan pulang kesorean. Sudah ada di rumah sebelum appa pulang." bukan apa-apa, hanya takut kalau Young Woon akan memarahi Kyuhyun jika tahu anak itu bermain di luar. Hera juga membekali Kyuhyun dengan uang jajan dan sekotak sandwich. Changmin sudah menunggu di depan pagar dengan sepedanya. Kyuhyun pergi setelah menerima bekal dan berpamitan.
Hera memperhatikan Kyuhyun yang tersenyum lebar menghampiri temannya. Jarang-jarang Hera bisa melihat bocah itu tersenyum selebar itu. Saat bersama Henry senyumnya berbeda. Kyuhyun akan bersikap dewasa saat bersama Henry, menempatkan diri sebagai seorang hyung. Menjaga dan melindungi Henry, tersenyumpun terkesan sebagai senyum dewasa. Hera bersyukur tapi rasa miris di hatiya juga tidak bisa hilang. Kyuhyun masih terlalu muda untuk mengalami semua ini. Entah kapan Young Woon akan berhenti menyalahkan Kyuhyun dan menyayanginya.
Padahal ingin jalan-jalan dengan Kyuhyun hari ini. Tapi ya sudahlah. Sebagai gantinya Hera membersihkan rumah dan memilah barang-barang. Hera memilah berkas-berkas milik suaminya. Berkas penting akan disimpannya di tempat seharusnya dan yang dirasanya sudah tidak ada gunanya akan disimpannya di gudang belakang. Saat itulah Hera menemukan kehidupan masa lalu suaminya.
Hera membawa kertas-kertas tidak terpakai untuk disimpannya di gudang. Disana dia menemukan buku album foto bekas terbakar di tepiannya. Menurut Young Woon semua benda yang berhubungan dengan masa lalu telah dimusnahkannya. Semua benda pribadi milik Youjin hingga foto-foto keluarga kecil Young Woon telah dibakar tanpa sisa. Tapi rupanya masih ada sebuah album yang diselamatkan. Entah siapa yang melakukannya dan menyimpannya di dalam gudang, di pojok yang tersembunyi.
Hera berhenti di lembaran dimana beberapa foto keluarga yang berisi Young Woon, Youjin dan Kyuhyun. Hera takjub dengan foto tersebut. Young Woon nampak sangat hangat dengan Kyuhyun berada di pangkuan dan satu lengannya merangkul Youjin. Senyumnya lebar dan sarat akan kebahagiaan padahal Youjin di sebelahnya hanya diam mematung dengan sorot kelam. Hera mengusap wajah suaminya lalu beralih pada wajah Kyuhyun yang nampak menggemaskan, memeluk boneka t-rax berwarna coklat tanah, lengan kekar Young Woon melingkari perutnya.
"Kalian pernah sangat bahagia." monolog Hera dengan hati miris. Teringat bagaimana sikap Young Woon selama ini pada Kyuhyun. Pernah dia bertanya pada Kyuhyun apakah dia membenci sang appa. Kyuhyun menggeleng dan mengatakan bahwa appanya sangat menyayanginya. Tapi sampai kapan pemikiran seperti itu akan bertahan? Akankah kelak Kyuhyun akan berbalik membenci appanya?
Hera menghela nafas dalam, menutup album dan menyimpannya kembali di sudut yang tak terlihat. Membiarkannya disana untuk seseorang yang sengaja meletakkannya disana seolah benda itu adalah sebuah rahasia.
o0o0o0o
Kyuhyun turun dari boncengan Changmin.
"Lain kali kita main lagi, Kyunie!"
"Tidak tahu. Jika appa pergi seharian aku baru bisa bermain keluar."
Changmin manyun. "Appamu tidak asyik!"
Kyuhyun terkekeh kecil. "Aku masuk, ne." pamit Kyuhyun yang diangguki Changmin.
Kyuhyun melambaikan tangan pada Changmin sebelum kembali melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. "Aku pulang!"
Tidak ada yang membalas salam Kyuhyun. Rumah terlihat sepi padahal pintunya tidak dikunci. Kyuhyun berjalan berkeliling ruangan mencari Hera. Namun eommanya tidak nampak dimanapun. Dia teringat dengan gudang belakang rumah jadi dia memutuskan untuk mendatangi tempat itu.
"Eomma!" Kyuhyun memanggil di depan pintu gudang yang terbuka sedikit. Dia yakin eommanya ada di dalam.
Hera yang baru berdiri dari menyimpan album foto yang dia temukan mendengar panggilan Kyuhyun di luar. Buru-buru dia berjalan keluar.
"Eomma sedang apa?" tanya Kyuhyun menyambut kemunculan Hera.
"Eomma menyimpan kertas-kertas bekas di dalam. Kau sudah pulang?" Hera melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 15. "Aigo sudah selama ini rupanya." Hera terkejut sendiri melihat berapa banyak waktu yang dia habiskan untuk membersihkan rumah. "Ayo masuk rumah. Eomma sudah selesai disini."
Hera memutar balik Kyuhyun dan menggiringnya masuk ke dalam rumah utama. Dalam perjalanan yang tidak begitu jauh Hera menanyakan apa saja yang dilakukan putranya itu seharian ini bersama temannya Changmin. Kemudian Kyuhyun menceritan apa saja yang dilakukannya hari ini. Mereka bermain bola dengan anak-anak kompleks lainnya. Saat siang makan sandwich bersama Changmin kemudian bersepeda keliling lalu pulang.
Hera mendengarkan cerita Kyuhyun sambil membuat dua gelas jus jeruk.
"Kau senang?" Hera memberikan jus pada Kyuhyun.
"Sangat senang!" jawab Kyuhyun antusias. Dia meminum jusnya hingga tandas. Hera berdecak dan tersenyum melihat Kyuhyun menghabiskan jusnya dengan cepat. Hera sendiri meminum jusnya dengan pelan.
Kyuhyun pergi ke kamarnya untuk mandi begitu juga dengan Hera yang baru merasakan lelahnya bekerja seharian hingga lupa waktu. Hera menghabiskan jusnya dan meletakkan gelas bekasnya juga bekas Kyuhyun di tempat cucian, berniat langsung mencucinya. Namun suara telepon rumah terdengar menginterupsi kegiatannya. Hera menunda cuciannya, mengeringkan tangan dan segera menghampiri telepon.
"Hallo?"
Hera menunggu suara di seberang. Mendengarkan tanpa banyak bicara. Ekspresinya langsung berubah syok. Dia menggenggam telepon dengan erat.
Kyuhyun turun dengan keadaan sudah segar dan berganti pakaian. Dia melihat Hera masih menerima telepon. Kyuhyun tidak menghampiri Hera dan memilih duduk menunggu di ruang TV. Hera menutup telepon dan buru-buru berlari menaiki tangga. Kyuhyun hanya memperhatikan bagaimana ibunya berusaha menaiki tangga dengan cepat, memasuki kamar dan kembali dengan kardigan cream dan dompet di tangannya. Kyuhyun segera berdiri saat Hera sampai di anak tangga terakhir.
"Eomma, kenapa?"
Hera berhenti. Menatap Kyuhyun yang sejenak dia lupakan. Hera nampak linglung melihat pintu dan Kyuhyun bergantian. Kyuhyun mendekat, memegang tangan Hera. "Eomma akan pergi kemana?" tanya Kyuhyun melihat Hera yang bersikap aneh. Perasaannya jadi tidak enak.
Hera menarik tangannya, meletakkannya di kepala Kyuhyun. "Kyu, jaga rumah, ne? Eomma pergi sebentar." kata Hera sedikit gagu. Dia menepuk bahu Kyuhyun sekilas dan melangkah lebar ke pintu.
Kyuhyun menatap pintu rumah yang sudah ditutup. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya buruk. Hera nampak sangat kacau. Sendirian di rumah, Kyuhyun kembali ke sofa yang diduduki semula. Tidak melakukan apapun. Beberapa saat dia bertahan disana. Di menit ke sepuluh dia beranjak. Mengunci pintu depan dan pergi ke kamarnya.
Kyuhyun merebahkan diri di ranjang yang dibaginya dengan Henry. Ranjang berukuran kecil untuk anak-anak. Bocah delapan tahun itu tersenyum mengusap bantal bagian Henry, disisi kanan dekat meja belajar, bantal biru yang sering digunakannya dulu. Dia senang berbagi segalanya. Namun tak luput merasa sakit saat kasih sayang sang ayah terlimpah ruah kepada Henry.
Kejadian mengerikan itu telah merenggut nyawa sang eomma dan hampir pula mengambil nyawanya. Beruntung dia selamat. Namun semua telah berubah begitu dia sadar. Kasih sayang Young Woon telah berganti dengan kemarahan. Kyuhyun kecil menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga sang eomma seperti pesan appanya. Dia membiarkan eommanya memegang benda tajam dan bermain dengan benda tersebut. Menyayat kedua tangan Kyuhyun juga menusuk diri sendiri. Begitulah dia pikir kenapa sang appa sangat berubah.
Kyuhyun memiringkan badan ke kiri, menghadap tembok berlapis kertas motif beruang. Dalam diam pikirannya melayang. Wajah sang ibu kandung berbayang dimatanya. Menciptakan senyum dan bibir ranum itu bergerak. Perlahan mengucap sedih.
"Eomma, mianhe. Kyunie tidak bisa menjaga eomma, juga tidak bisa membantu eomma untuk menebus dosa pada appa. Bahkan appa menjadi sangat marah."
Kemudian Kyuhyun menceritakan banyak hal pada sang eomma dalam bayangannya. Tentang perasaannya, bagaimana harinya, tentang eomma Hera yang baik, Henry yang manis dan appa. Kyuhyun akan bercerita tanpa terlewatkan hingga tertidur tanpa sadar. Tidak setiap hari dia lakukan. Hanya saat tidak ada Henry di kamar ini atau saat rumah sangat sepi seperti sekarang.
Si polos Kyuhyun yang belum memahami banyak hal. Masih berfikir kemarahan sang ayah disebabkan kelalaiannya menjaga sang eomma. Si polos yang malang.
o0o0o0o0
Hera terduduk lemas di salah satu kursi tunggu rumah sakit. Matanya menatap kosong. Sejak mendapat telepon dari rumah sakit dirinya bukan seperti dirinya. Pikirannya kacau dan semakin kacau setelah mendengar penjelasan dokter beberapa saat lalu. Young Woon baik-baik saja hanya luka ringan yang tidak berarti, namun Henry, putrannya…..
Hera meremas kain celana bahan yang dikenakannya. Air matanya kembali mengalir setelah tidak sempat kering. Mengingat betapa parah keadaan Henry yang dikatakan sang dokter. Kecelakaan beruntun yang menimpa suami dan anaknya menyebabkan dia berduka. Korban lain selain suaminya ada yang meninggal. Yang lain di rawat termasuk suaminya. Dan Henry dalam keadan sekarat.
Hera menahan diri agar tidak meraung di sini. Menghapus air matanya dia segera beranjak. Menatap nanar pada ruangan ICU dimana putranya masih dipantau secara intensif. Melangkah pelan Hera pergi menuju ke ruangan lain. Ruang rawat biasa yang berada di lorong lain.
Young Woon sudah sadar saat Hera memasuki ruangannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" taya Hera tanpa nada menuntut.
"Maaf. Sebuah mobil menghantam dari arah depan, aku mencoba banting stir untuk menghindar tapi dari arah belakang ada mobil lain yang akan menyalip dan…." Young Woon memejamkan matanya mencoba mengingat. Dan semua yang muncul di kepalanya adalah hal yang sangat mengerikan. Pintu di sebelah Henry terbuka dan Henry….
"Henry. Bagaimana keadaannya?" tanya Young Woon diliputi kecemasan sekarang.
Hera tidak bisa menahan air matanya. Dia menghambur memeluk suaminya dan menangis dengan keras. "Putraku sekarat. Dokter bilang dia tidak akan selamat."
Young Woon lemas seketika mendengar berita buruk tersebut. "Tidak mungkin." hanya itu yang bisa dia katakan dengan bergumam. Dia tidak bisa mempercayai jika putra kesayangannya dalam keadaan kritis. Young Woon menangis juga. Berbagi beban dengan Hera.
Dan disinilah mereka sekarang. Di depan seorang dokter yang menangani Henry. Dokter paruh baya dengan tatanan rambut klimis. Nampak ramah namun tegas. Dokter tersebut menerangkan dengan hati-hati perihal Henry. Henry mengalami luka dalam yang serius, terutama pada organ vitalnya akibat benturan.
"Tidak adakah yang bisa dilakukan, dokter?" tanya Young Woon berharap ada harapan untuk Henry.
"Kami masih menunggu kondisi putra anda. Jika kondisinya mengalami kemajuan, kami bisa melakukan operasi. Tapi perlu kami beri tahu operasi ini hanya memiliki 50 % keberhasilan."
Suami istri itu saling berpandangan. Young Woon meraih tangan Hera meremasnya dengan pelan. Kemudian memandang dokter tersebut. "Lakukanlah. Apapun lakukan demi keselamatan putra kami."
"Kami akan berusaha. Sebelumnya anda bisa menyiapkan biayanya lebih dulu."
0o0o0o00
Young Woon menatap lesu buku tabungannya. Jumlah yang sangat sedikit dari yang dia butuhkan untuk operasi Henry.
"Aku memiliki ini," Hera menyerahkan kalung simpanannya.
Young Woon menatap istrinya dengan perasaan bersalah. Menjadi istrinya belum bisa dia manjakan sekarang harus berkorban harta pribadi untuk suatu yang seharusnya tanggung jawabnya.
"Jangan berfikir macam-macam. Henry putra kandungku. Ini tidak seberapa dibanding nyawanya," Hera menunduk menangis. Young Woon segera merengkuh Hera dalam pelukannya.
"Maafkan aku."
Hera menggeleng dalam pelukannya. "Ini jadi tanggung jawab bersama. Tapi nilai kalung ini kecil, tidak akan cukup menutupi biaya operasi Henry."
Benar. Tabungan dan kalung Hera masih jauh dari menutupi. Young Woon yang harus dirawat sehari lebih lama pun harus keluar lebih cepat agar biaya yang dia keluarkan tidak membengkak lebih banyak.
"Aku akan coba mengajukan pinjaman pada perusahaan."
0o0o0o0o0
Ajuan pinjaman Young Woon tidak bisa dikabulkan perusahaan karena perusahaan sendiri sedang dalam keadaan kekurangan. Atasannya merasa menyesal tidak bisa membantu.
"Maaf Kim-ssi."
Young Woon permisi dengan hati berat. Setelah ini entah dia harus meminjam kemana. Saat dia keluar dari ruangan sang atasan Young Woon disambut rekan-rekan kerjanya. Mengutarakan empati mereka dan menyerahkan uang sumbangan. Young Woon menerimanya dengan syukur. Sekalipun tidak banyak dalam keadaan saat ini itu sangat membantunya.
Setelah dari kantor dia pergi menuju ke Rumah Sakit. Namun di rumah sakit dia sudah di sambut oleh isak tangis Hera. Keadaan Henry memburuk dan harus segera masuk kamar operasi.
"Hera, tenanglah." hanya itu yang bisa diucapkan Young Woon seraya memeluk istrinya. Berdua mereka menangis.
0o0o00o0o0
Young Woon berjalan di lorong Rumah Sakit sambil melamun. Beberapa temannya sudah dia hubungi, berharap dapat pinjaman. Namun tidak ada yang sanggup memberi pinjaman sebanyak yang dia inginkan. Dia masih harus mencari kekurangan yang berjumlah besar.
Dia berheni berjalan. Menghapus matanya yang basah. Dia sudah menyayangi Henry seperti anaknya sendiri. terlebih lagi Henry terluka saat bersamanya. Dia merasa bersalah dan bertanggung jawab atas hal ini.
"Tuhan. Kasihanilah aku. Berikanlah pertolongan padaku."
Young Woon akan berjalan kembali ketika pandang matanya melihat seseorang berbicara dengan seorang dokter. Entah kenapa kakinya terasa terpaku disana. Dan seolah ditarik dia melangkah mendekat dan berhenti di jarak 3 meter.
"Katakan berapa biaya yang harus aku bayar untuk menyelamatkan putraku. Berapapun, sebut sebanyak apa itu asal kau dapatkan donor ginjal itu dan selamatkan putraku. Aku mohon. Dia hal terakhir yang diberikan istriku. Dia sangat berharga bagiku. Kumohon." lelaki itu memohon bak pengemis. Tidak dipedulikannya pakaiannya yang mahal serta penampilannya yang berwibawa memohon pada seorang dokter dengan putus asa.
"Sajangnim. Kita pun tahu tidak ada donor ginjal untuk putramu. Tidak mudah mencari donor dalam waktu sesingkat ini. Maafkan aku."
Dokter itu berlalu dengan penuh penyesalan. Lelaki kaya itu jatuh terduduk. Wajahnya keruh sepi harapan. Dia mengangkat kedua tangan dan menutupi wajahnya. Bahunya berguncang hebat oleh tangis.
Young Woon masih berdiri menyaksikan bagaimana lelaki yang terlihat sangat kaya itu menangis terguguk. Dalam hati bahkan seorang kayapun tidak bisa menggunakan uangnya unuk menyelamatkan putranya. Apalagi dirinya yang yang tidak memiliki harta seberapa, bagaimana bisa menyelamatkan Henry. Dia berbalik dengan hati ikut prihatin pada lelaki tersebut juga pada dirinya sendiri. apakah sekarang dia berpasrah pada takdir? Membiarkan Henry meregang nyawa karena kurang biaya? Sungguh ironis.
Dua langkah Young Woon berhenti. Entah pemikiran apa yang membuatnya berbalik. Berjalan lurus dan duduk di sebelah lelaki yang masih menangis itu.
"Berapa banyak yang bisa kau berikan untuk sebuah ginjal?"
Pertanyaan itu membuat lelaki tersebut membuka wajahnya dan menoleh pada Young Woon.
TBC
Wednesday, April 13, 2016
8:04 AM
Kyuhyun tidak mengerti. Dia disambut ayahnya sepulang sekolah. Padahal dia tahu lelaki itu beberapa hari ini terus berada di rumah sakit menemani Henry yang sedang dirawat. Beberapa kali pulang ke rumah saat dirinya masih berada di sekolah. Pulang untuk mandi dan pergi lagi. Kyuhyun jadi merasa kesepian beberapa hari ini karena rumah jadi sangat sepi tanpa Henry, Hera dan Young Woon. Namun entah ada apa dengan hari ini. Young Woon menyambutnya di depan pintu. Menggiringnya masuk ke dalam rumah. Menyuruhnya segera berganti pakaian dan makan.
Kyuhyun takut-takut melirik appanya dari ekor matanya. Sekarang keduanya berada dalam taksi. Entah akan pergi kemana. Young Woon tidak banyak bicara untuk memberi tahunya. Kyuhyun juga takut bertanya. Ayahnya masih sama seperti sebelumnya. Bersikap dingin.
Kyuhyun mengenali bangunan dimana taksi berhenti. Rumah Sakit. Benar, mungkin sang ayah mengajaknya untuk menjenguk Henry. Sejak Henry di rawat belum sekalipun dia datang menjenguk.
Young Woon menggandeng tangan Kyuhyun yang membuat bocah itu terkejut. Sejak hari naas itu baru kali ini appanya sudi menggandengnya lagi. Itu cukup melambungkan hati polos si bocah. Tangan besar yang masih dia ingat dulu sering menimang dan mengusapnya dengan penuh kasih. Dia sangat merindukannya. Merindukan appa yang akan tersenyum hangat dan tak segan merengkuhnya dalam pelukan.
"Appa." lirih Kyuhyun hampir menangis senang. Sang appa menjulang tinggi disampingnya tidak bergeming pada Kyuhyun. Kyuhyun memberanikan diri membalas genggaman sang ayah. Sekali saja, jika hari ini adalah hari keberuntungannya dia ingin merasakan tangan hangat itu lagi dan lagi. Jika hanya sebentarpun.
Pintu lift terbuka. Kyuhyun bergerak masuk seiring pergerakan Young Woon. Padahal tak sedetik saja appa melirik pada Kyuhyun namun bocah itu merasa sangat senang sepanjang perjalanan. Dia yang dalam gandengan sang ayah merasa kembali menjadi seorang anak. Hingga lift terbuka dan dia kembali melangkah dimana Young Woon melangkah. Dia menikmai sentuhan tangan itu lagi. Genggaman besar seorang ayah, meski bukan seperti itu bagi Young Woon sendiri.
Setelah cukup lama berjalan akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu. Ayahnya mengetuk sekali. Menunggu seseorang didalam mempersilahkannya masuk. Ketika suara itu mengijjinkannya masuk maka Young Woon menarik Kyuhyun masuk juga.
Kyuhyun melihat heran. Ruangan yang dia masuki bukan sebuah kamar rawat. Tidak ada Henry ataupun Hera. Melainkan seorang lelaki berpakaian putih dan seorang lelaki lain yang berpakaian bagus seperti pekerja kantoran.
"Aku membawanya."
Kyuhyun menatap ayahnya, masih dengan perasaan heran. Apa maksud perkataan ayahnya?
"Dia masih kecil." ujar dokter itu melihat iba pada Kyuhyun.
Lelaki dengan pakaian mahalnya beranjak lebih dulu menghampiri Kyuhyun. Bibirnya tertarik membentuk senyum. Tangannya terulur menyentuh sisi wajah Kyuhyun. Membelai pipinya dengan ringan. "Lakukan tes padanya."
"Sajangnim?" dokter itu seakan keberatan namun urung protes saat orang yang dipanggil sajangnim itu menatapnya dengan mata memohon. "Aku tidak ingin kehilangan putraku. Tidak apa. lakukan tesnya dan selamatkan putraku, uisa Shin."
Dokter itu menarik nafas panjang dan dalam. Dia beralih menatap Kyuhyun yang berdiri dengan bingung. Dokter itu meninggalkan kursinya, menghampiri Kyuhyun. Dia mengulas senyum ramah. "Ayo, nak."
Young Woon melepas gandengannya membuat Kyuhyun kembali menoleh pada sang ayah. Dia ingin bertanya namun tangan lain telah menggantikan genggaman sang ayah. Menariknya meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah Kyuhyun dibawa pergi oleh sang dokter, Young Woon memberanikan diri membuka suara. "Maaf Choi-ssi, soal kesepakatan kita,"
Sebelum selesai kalimatnya, lelaki itu menepuk pundak Young Woon. Tersenyum kecil. "Begitu hasil tesnya keluar kau bisa mendapatkan imbalanmu. Jangan khawatir Kim-ssi, aku tidak akan melanggar perjanjian kita."
"Apa itu akan lama? Putraku mungkin tidak banyak waktu."
"Seharusnya menunggu beberapa hari untuk mendapatkan hasil tesnya. Namun putraku juga tidak memiliki banyak waktu. Dokter itu tahu apa yang harus dilakukannya. Kau jangan khawatir. Berdo'alah. Kau dan aku butuh untuk berdo'a."
Young Woon mengangguk membenarkan. Dia dipersilahkan oleh lelaki itu untuk duduk di kursi sebelahnya. Maka diapun duduk dan menunggu hasilnya bersama lelaki itu. Dalam diam memendam cemas. Menunggu dengan memupuk harapan dalam do'a.
0o0o00o0
Hera hendak mengunci pintu rumah saat melihat sebuah taksi berhenti di depan pagar. Dia urung mengunci pintu begitu tahu siapa yang turun dari dalam taksi. Hera berdiri menunggu suaminya memasuki pekarangan hingga sampai di depannya.
"Young Woon-ah, kau dari mana? Aku mencoba menghubungimu tapi kau tidak membalasnya."
"Aku ada urusan."
"Kau sempat pulang sebelum ini, bukan? Kau melihat Kyuhyun? Aku pulang tapi tidak ada siapapun di rumah. Aku bertanya pada Changmin tapi dia bilang Kyuhyun sudah pulang. Kemana dia?" Hera cemas. Dia tahu akhir-akhir ini mereka jarang berada di rumah. Dia takut Kyuhyun merasa diabaikan. Meski kondisi Henry kritis dia menyempatkan diri untuk pulang, untuk mengecek keadaan Kyuhyun karena Young Woon tidak bisa dihubungi.
"Jangan cemaskan dia. Kembalilah ke Rumah Sakit. Henry sudah bisa dioperasi."
Hera menatap Young Woon terkejut. "Kau… benarkah? Kau sudah melunasi biayanya? Young Woon, anakku akan selamat?"
Young Woon mengangguk. Hera menangis lega mendengar kabar itu. Dia memeluk suaminya. "Terima kasih. Terima kasih."
Young Woon mengusuk punggung Hera. "Ini sudah jadi tanggung jawabku. Henry tidak akan apa-apa. Dia akan baik-baik saja." dia melepas pelukannya. Menghapus air mata Hera. "Bergegaslah ke Rumah Sakit. Tidak ada yang menunggui Henry saat ini."
Hera mengangguk. Dia melangkah hendak pergi, namun dia kembali berbalik. "Young Woon-ah." panggilnya. "Dari mana kau mendapatkan uangnya?"
Young Woon tertegun mendapat pertanyaan itu. Dia tidak mungkin menyembunyikannya pada Hera. Tapi jika memberi tahu Hera maka pasti perempuan itu tidak akan suka dengan apa yang dia lakukan. "Jangan sekarang. Pergilah. Henry membutuhkanmu. Aku akan menyusul nanti."
Ada keraguan namun memikirkan Henry yang sudah aman dengan biaya operasinya Hera memilih untuk tidak mendesak Young Woon. Dia menuruti suaminya untuk segera pergi ke Rumah Sakit.
0o0o0o0
Kyuhyun meringkuk di atas ranjang itu. Meremas selimut putih yang menutupi setengah badannya. Air matanya tidak berhenti mengalir sejak beberapa waktu dia berbaring diatas ranjang ini.
'Menurutlah. Kau ingin Henry sembuh, bukan? Buat dirimu berguna. Lakukan ini dan selamatkan saudaramu.'
"Appa," panggil Kyuhyun dengan air mata mengalir. Terisak kecil.
Setelah apa yang dia lewati bersama dokter itu akhirnya dia terdampar di kamar ini. Young Woon sempat menemuinya. Saat itulah dia bertanya tentang kenapa dia disuntik dan diambil darahnya. Orang-orang berseragam putih itu juga melakukan banyak hal yang tidak dia mengerti.
'Henry tidak akan selamat jika tidak segera diobati. Membutuhkan banyak uang. Ada orang baik yang akan membayar biayanya. Namun orang itu juga meminta tolong. Putranya sedang sakit dan membutuhkan pertolongan. Kau akan menolong anak itu memberikan ginjalmu padanya.'
'Kau akan operasi besok. Sekarang kau harus menginap dulu disini.'
Kyuhyun merapatkan diri dalam selimutnya. "Eomma." kembali terisak. Dia takut. Penjelasan ayahnya sedikit banyak bisa dipahaminya. Dia harus memberikan ginjalnya untuk menyelamatkan Henry. Dia ingin Henry sembuh, tentu. Tapi dia juga takut. Terlebih dia merasa sakit hati. Merasa menjadi tumbal oleh ayahnya sendiri. setidaknya temani dia untuk melawan perasaan takutnya. Dia tidak ingin sendiri. Dia ingin berpegang dan bersembunyi dalam perlindungan seseorang.
Pintu itu terbuka perlahan. Sosok dokter yang tadi membawanya memasuki ruangan. Kyuhyun buru-buru mengusap air matanya dengan selimut. Tapi apa yang ingin disembunyikannya sudah terlanjur diketahui si dokter.
"Kyuhyun?" panggil dokter itu seraya duduk di kursi sebelah ranjang.
Kyuhyun tidak menyahut pun tidak berbalik. Beberapa lama dokter itu tidak memanggil lagi. Ruangan menjadi sepi. Kyuhyun hendak memejamkan mata namun batal oleh usapan tangan di bahunya.
"Kau takut, eoh?" kata dokter itu masih mengusap bahunya. "Gweanchana. Aku akan melakukan yang terbaik. Kau tidak akan merasakan sakit. Uisa berjanji."
Air mata yang tadinya kering kembali mengalir. Kyuhyun bangun dengan cepat dan menghambur, memeluk dokter itu. Tangisnya pecah disana. "Kyunie takut. Kenapa appa tidak disini? Aku ingin ditemani. Kyunie akan menjadi anak penurut. Kyunie akan menyelamatkan Henry. Tapi kenapa Kyunie tidak ditemani? Kyunie ingin ditemani." Kyuhyun sesenggukan memeluk dokter itu. Tidak peduli lagi apakah dia mengenal dokter ini atau tidak. Dia hanya butuh perlindungan untuk melawan ketakutannya.
Dokter itu merasa iba, mengusap rambut Kyuhyun juga punggungnya. Menenangkannya. "Sudah. Jangan menangis, ne uisa yang akan menemanimu. Tidak apa-apa. Jangan menangis lagi." dokter itu terus mengatakan kalimat menenangkan hingga Kyuhyun jatuh teridur dalam pelukannya.
0o0o0o0o0o0
Young Woon merasa sangat murka. Saat pagi tiba dan persiapan operasi Henry dimulai. Namun tiba-tiba mereka menghentikan persiapan tersebut. Lelaki itu muncul sebelum Young Woon pergi mencarinya dan menanyakan apa yang terjadi.
"Putramu menghilang dari ruang rawatnya. Anakku menunda operasinya begitu juga anakmu sampai kau membawa anakmu yang satunya kembali kemari."
Kyuhyun kabur disaat seperti ini?!
Young Woon menahan amarahnya sejak mendengar penjelasan itu dari mulut tuan Choi. Dia harus segera mencari Kyuhyun dan membawanya kembali agar Henry bisa segera bisa dioperasi.
"Young Woon, tunggu apa maksudnya ini?" Hera mengejarnya meminta penjelasan.
Namun Young Woon balik mencekal lengan istrinya dan mendorongnya agar kembali ke ruang operasi. Menunggu disana sampai dia kembali membawa Kyuhyun.
"Tidak! Aku butuh penjelasan! Apa hubungan ini dengan Kyuhyun?! Kenapa kau harus membawanya dan kenapa mereka membutuhkan Kyuhyun untuk operasi?! Ada apa dengan Kyunhyun?"
Young Woon tidak punya waktu untuk ini. Tapi Hera terus mengejarnya tanpa memberinya kesempatan waktu untuk lepas. Alhasil dia dengan tidak sabar menarik lengan Hera. Memutuskan untuk membawanya ikut serta. Dia mencoba menjelaskannya di dalam taksi. Mereka menuju rumah.
Ada pertengkaran kecil di dalam taksi setelah Hera mengetahui kenapa mereka membutuhkakn Kyuhyun. Dia tidak terima. Sungguh dia tidak bisa menerima jika harus menumbalkan Kyuhyun demi Henry.
Hera mengejar suaminya yang melangkah lebar-lebar dan cepat menuju rumah. Dia sedikit kesulitan dengan langkah lelaki itu.
"Young Woon, tunggu!" mencoba memanggil menghentikannya dan percuma. Suaminya sudah sampai di pintu membukanya dan tidak dikunci. Dia tersenyum mengartikan dugaannya benar. Kyuhyun tidak mungkin pergi kemanapun. Anak itu mana tahu tempat lain selain rumah untuk kabur?
Hera segera masuk rumah. Young Woon sudah ada didalam menyerukan nama Kyuhyun dengan suara besar. Anak yang dipanggil belum juga kelar membuatnya semakin tidak sabar dan mulai emnjelajah di seluruh tempat di rumah. Dan dia menemukannya.
Kyuhyun berjengit saat suara sang ayah menggema di seluruh rumah. Dia semakin emringkuk dalam ketakutan. Tidak berapa lama setelah itu pintu kamar mandi terbuka, tempat bersembunyinya, memunculkan sosok Young Woon dengan wajah dinginnya. Dengan kasar dia meraih tangan kecil Kyuhyun, menariknya berdiri dengan paksa.
Kyuhyun terisak. "Appa, Kyunie takut."
"Brengsek! Jangan membuat semua orang kesusahan karenamu! Ayo kembali!"
Kyuhyun menggeleng. Namun Young Woon lebih mampu menariknya, menyeretnya hingga ke lanatai bawah. Hera segera menyongsong badan suaminya. Menahannya melangkah lebih jauh. Dia memohon agar Young Woon membatalkan keputusannya menyerahkan Kyuhyun. Namun Young Woon bergeming.
Hera beralih memeluk kaki suaminya. Pandangannya terhalang oleh air mata dan suaranya serak karena banyak memohon dan menangis. Namun tidak sedikitpun Young Woon surut pada niatnya.
"Hentikan itu, Hera! Dengar, dia masih akan hidup dengan satu ginjal! Tapi Henry..dia mungkin tidak akan bertahan! Ini satu-satunya kesempatan untuk menolongnya! Mengertilah dan pergi jangan halangi aku!" Young mencoba melepaskan pelukan Hera pada kakinya, yang justru membuat wanita itu semakin keras mennagis. Young Woon nampak sangat frustasi hingga dia berteriak marah dan membenatak Hera. "Diam! Jangan menangis! Tetangga akan berfikir kita sedang bertengkar!"
Kyuhyun terlonjak dalam cengkeraman sang ayah. Dia ikut menangis dengan keras. Membuat Young Woon semakin tertekan. Dia emndorong Kyuhyun hingga anak itu terjerembat jatuh. Tangan itu bergerak cepat. Sangat cepat menyentuh pipi Kyuhyun. Hera tertegun mendengar sauar keras itu. Pelukannya pada kaki Young Woon lepas. Dia menoleh mencari sumber suara yang membuat hatinya ngilu.
Kyuhyun mematung. Rasa panas di pipi kirinya menjalar perlahan namun menyakitkan. Air matanya jatuh namun isakannya berhenti seketika.
Hera bangkit dan mendorong suaminya dengan keras hingga terjajar mundur. Kemudian beralih pada Kyuhyun. Memeluk anak itu yang nampak terguncang.
"Jangan seperti ini, Yong Woon. Kumohon. Pasti ada cara lain untuk menyelamatkan Henry. Kita akan berusaha sekeras apapun tapi jangan membuatku ikut berdosa dengan menumbalkan Kyuhyun. Dia anakmu, Young Woon. Jangan korbankan dia demi anakku."
Young Woon merasa tangannya bergetar. Dia tidak bermaksud menampar wajah kecil itu. Tapi itu sudah terjadi. Dia memantapkan hati. Menyingkirkan rasa sesal yang mulai merayap. Menyingkirkannya jauh-jauh.
"Kami sudah membuat kesepakan." Young Woon berusaha mengontrol suaranya sekarang. Dia bergerak menghampiri kemudian berjongkok di depan dua orang itu. Matanya menghindari tatapan memohon Hera. Dia hanya akan fokus pada anak yang menjadi urusannya. "Dengar, Kyuhyun. Sudah kukatakan, bukan. Kau melakukan ini untuk menyelamatkan Henry. Dia adikmu, kau akan bertanggung jawab untuk dirinya. Itu tugasmu sebagai seorang kakak."
Hera menggeleng, menyangkal semua perkataan Young Woon. Pelukannya mengerat pada tubuh Kyuhyun yang hanya diam.
"Bukan hanya Henry. Ada anak lain disana yang membutuhkanmu juga. Dia sangat membutuhkanmu, Kyuhyun. Kau harus menolongnya agar kau juga bisa menolong Henry. Tapi jika tidak, kau akan jadi pembunuh mereka."
"Hentikan, Young Woon!" seru Hera merasa Young Woon sudah keterlaluan.
Kyuhyun mengangkat wajah, pipinya nampak memerah. Memandang ayahnya dengan nanar. Dia tidak ingin menjadi pembunuh. Dia tidak ingin siapapun pergi seperti ibunya. Tapi dia juga tidak bisa melawan ketakutannya. Dia kabur karena merasa takut.
"Ayo, ikut aku. Selamatkan Henry, kumohon."
Hera terkejut saat tangan mungil itu meyambut tangan Young Woon. Namun tubuhnya seoalh membeku dengan apa yang dia lihat. Tubuhnya lemas saat Kyuhyun akhirnya bangkit dan pergi dengan Young Woon. Dirinya merasa begitu lemah dan hanya bisa menangis dengan keras. Dia meraung merasakan rasa bersalah dan lubang yang kini tercipta.
0o0o0o0o0o0
Kyuhyun membuka mata perlahan. Sejenak lupa dimana dia berada dan kenapa berada disini. Dia pikir dia hanya tidur dikamarnya seperti biasa. Namun bau obat serta warna dominan di sekelilingnya membuatnya mengerut bingung. Berfikir sejenak akhirnya dia mengingat bagaimana dia bisa berada disini. Rasa nyeri menyengat di sekitaran pinggang kirinya. Dia meringis kecil.
"Gweanchana?"
Kyuhyun baru sadar dia tidak sendirian. Hera duduk menatapnya penuh kekhawatiran. Kedua matanya membengkak dan sembab. "Eomma masih menangis?"
Bukan menjawab Hera justru kembali meneteskan air mata. "Maafkan eomma, Kyu. Maafkan eomma."
Kyuhyun tidak merespon. Dia cukup tertegun dengan permintaan maaf yang dilontarkan Hera. "Eomma."
"Maafkan eomma Kyu. Harusnya eomma bisa mencegah appamu. Maafkan eomma." sungguh Hera menyesal atas apa yang terjadi. Bahkan kericuhan yang dia buat agar tuan Choi membatalkan operasi pada Kyuhyun tidak membuahkan hasil dia sudah memohon hingga mencaci dan mengancam lelaki itu namun justru Young Woon menariknya pergi. Kyuhyun masih sangat kecil untuk mendonorkan ginjal. Bagaimana bisa pihak rumah sakit mengijinkan pendonoran yang seperti ini?
Hera mengusap wajah Kyuhyun. "Eomma minta maaf, sayang. Maafkan eomma." dan kini hanya permintaan maaf yang bisa dilontarkan Hera pada sosok malang itu.
Kyuhyun meraih tangan Hera. "Henry, gweanchana?"
Hera semakin tertohok hatinya. Mendengar Kyuhyun justru menanyakan keadaan Henry setelah bangun pasca operasi. "Heum." angguk Hera. "Dia baik-baik saja. Dia akan segera sembuh."
"Syukurlah. Appa dimana?"
"Appa,"
"Appa menjenguk Kyu?"
Hera diam mendapat pertanyaan itu. Terlebih lagi sorot mata Kyuhyun yang berharap. Hera menelan ludah. "Ne, tadi Kyu masih tidur. Sekarang pergi menemani Henry. Nanti akan datang lagi."
Kyuhyun tersenyum senang. "Aku tahu appa juga sayang Kyu."
"Heum. Appa juga menyayangimu. Dia menyayangimu."
Tidak apa sedikit berbohong untuk menyenangkan hati bocah itu. Sudah cukup berat apa yang dilaluinya. Hera tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Kyuhyun. Anak itu pasti ketakutan, sendirian melalui rasa sakitnya.
Hera masih mengusap kepala Kyuhyun, saat anak itu jatuh tertidur setelah mengeluh mual dan kembung. Dokter sempat mengatakan bahwa hal itu kemungkinan terjadi setelah Kyuhyun bangun. Bukan hal yang mengkhawatirkan. Dokter juga bilang Kyuhyun bisa pergi setelah 2-3 hari dirawat.
Hera mengusap air matanya yang jatuh satu. Penyesalan dan rasa bersalah bersarang dihatinya sekarang. Dia merasa ikut andil dalam penumbalan Kyuhyun. Dia merasa sangat malu untuk bersyukur atas kesembuhan Henry, membayangkan bagaimana tubuh kecil Kyuhyun dibedah dan diambil ginjalnya.
Pintu dibuka dari luar, masuklah Young Woon. "Hera-ya, apa yang kau lakukan disini? Henry sudah sadar dan dia terus menanyakanmu."
Hera tidak menoleh untuk melihat atau menyahut. Dia masih marah pada lelaki itu. Mengambil keputusan besar tanpa berembuk lebih dulu. Tidak meminta pendapatnya apalagi meminta persetujuannya. Beginikah mereka bersuami istri? Memberitahunya setelah semua terlambat. Tidak mendengarkan pendapatnya dan menempatkannya di posisi ini.
"Hera." panggil Young Woon lagi karena Hera tidak nampak akan beranjak dari kursinya.
"Tidak. Aku tidak bisa meninggalkan Kyuhyun sendirian. Kau bisa melakukan hal buruk lagi kepadanya."
Young Woon menghela nafas lelah. "Seharusnya kau bersyukur aku melakukan ini. Henry selamat. Putra kita selamat itu yang terpenting."
"Aku memang bersyukur, Young Woon, tadinya." desis Hera menahan amarah. Dia memutar kepalanya, menatap suaminya penuh kecewa. "Tapi mempertaruhkan nyawa Kyuhyun demi Henry? Betapa kejamnya aku karena hal ini?!"
Young Woon mendekat. Berusaha meraih tangan Hera namun Hera menepisnya. Wanita yang nampak letih itu kembali terisak, seperti saat Young Woon mengatakan perihal transplantasi Kyuhyun. Dirinya ingat bagaimana Hera berteriak marah kepadanya, dan memukulinya dalam taksi. Tapi lepas dari itu semua young Woon tidak menyesal akan perbuatannya. Dia meyakini apa yang dia lakukan sudah benar. Tidak akan rugi Kyuhyun hidup dengan satu ginjal. Dia akan tetap bisa hidup normal dan beraktifitas seperti sebelumnya. Hera hanya belum memahami itu karenanya dia marah dan tidak menerima apa yang dia lakukan. "Jangan seperti ini Hera. Semua baik-baik saja. Anak itu akan sehat lagi nanti. Henry juga sudah selamat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
Hera masih menangis namun berusaha keras agar isakannya tidak membangunkan Kyuhyun. Anak itu akhirnya bisa tidur setelah melewati perasaan tidak nyaman. "Aku akan disini. Kau saja yang menemani Henry."
"Putramu adalah Henry. Sudahlah Hera. Aku yang akan disini, jangan buat Henry sedih karena dia terus mencarimu. Aku berjanji tidak akan melakukan apapun pada anak ini. Pergilah, aku mohon."
Hera masih menimang. Dia tidak bisa lagi percaya begitu saja pada Young Woon. Kyuhyun berakhir disini karena perbuatan lelaki itu.
"Hera." hingga Young Woon memelas.
Hera mengangguk akhirnya. Dia mengecup kening Kyuhyun sebelum meninggalkan ruangan ini dengan berat hati. Mempertaruhkan kepercayaannya kepada sang suami.
0o0o0o0o0
Satu malam menginap sebelum operasi dan dua hari di rawat akhirnya Kyuhyun bisa pulang ke Rumah. Dia masih diminta untuk beristirahat setidaknya 5-6 hari baru boleh diijinkan bersekolah oleh Hera. Luka operasinya juga masih terasa nyeri kadang, jadi Kyuhyun menurut saja walaupun ingin sekali dia segera pergi ke sekolah. Dia hanya tidak merasa nyaman berada di rumah, sedangkn Hera masih bolak balik ke Rumah Sakit untuk menunggui Henry. Young Woon sudah kembali masuk kantor seperti biasa. Kyuhyun lebih banyak sendirian di rumah.
Kyuhyun duduk di lantai teras rumahnya. Young Woon pergi ke kantor dan Hera berada di Rumah Sakit. Dia memilih duduk disana karena merasa kesepian berada di dalam. Dia memilih melihat jalanan di depan rumahnya. Ada beberapa anak sekolah yang lewat di jam pulang sekolah seperti ini. Terlihat menyenangkan dibandingkan dirinya yang duduk sendiri tanpa melakukan apapun.
"Kyu!" panggil sebuah suara yang cukup keras.
Kyuhyun melihat Changmin di depan pagar rumahnya, berusaha membuka pagar dengan sepeda dituntunnya. Setelah berhasil dia langsung membawa masuk sepedanya dan melepasnya begitu saja hingga sepeda itu jatuh dengan suara keras, sedangkan pemiliknya berlari menuju Kyuhyun. "Kyuhyun!" serunya seraya memeluk Kyuhyun.
Kyuhyun tidak banyak merespon. Dia hanya menerima pelukan Changmin dan memperhatikan temannya itu menatapnya dengan senyum lebar namun matanya berkaca-kaca. "Kau kemana saja? Apa kau harus membolos begitu lama untuk menemani adikmu? Bagaimana dengan sekolahmu? Aku mencarimu selama itu." tanya dan keluh Changmin. Tangannya bergerak mengusap matanya yang berair.
Kyuhyun tertegun menatap Changmin. "Kenapa menangis?"
"Heks. A-aku heks me-heks rindukanmu." kata Changmin, sibuk menghalau air matanya. "Kau lama sekali tidak muncul. Heks. Aku heks sangat cemas. Apa Henry baik-baik saja?"
"Kau mencemaskan Henry?"
Changmin menggeleng. "Aku men-heks-cemaskanmu. Jika adikmu kenapa-kenapa, bagaimana denganmu? Heks. Kau pasti akan sangat sedih."
Kyuhyun mengukir senyum tulus. Dia bisa merasakan perasaan Changmin. Temannya begitu baik. Begitu tulus menghawatirkannya. Kyuhyun mengulurkan tangan, membantu Changmin membersihkan air matanya. "Sudah. Jangan menangis. Aku akan segera sekolah lagi. Kita bisa berangkat dan pulang sekolah bersama lagi. Jangan menangis, Cwang."
Changmin mengangguk. Sesekali masih terdengar isaknya. Kyuhyun menarik Changmin duduk di sebelahnya. Changmin nampak berusaha menghentikan tangisnya. Juga sibuk mengelap ingus yang mulai keluar. Kyuhyun meringis melihatnya menggunakan lengan seragamnya untuk mengusap ingus. "Changmin, kau jorok sekali!"
"Tidak apa, seragamnya sudah tidak kupakai besok. Kapan kau sekolah lagi?"
Kyuhyun berfikir baru memberi jawaban. "Dua hari lagi."
Changmin mengernyit. "Kenapa? Kau sudah pulang, kenapa tidak besok?" Kyuhyun sudah pulang, bukan? Kenapa harus pergi sekolah dua hari lagi? Seharusnya besokpun sudah bisa. Changmin hanya tidak tahu, Kyuhyun masih tidak diijinkan masuk sekolah hingga dua hari ke depan. Hera masih begitu khawatir kepadanya. Takut terjadi sesuatu di sekolah dan akan berakibat pada jahitan lukanya.
"Eomma belum memberi ijin."
"Orang tuamu masih sibuk di rumah sakit? Bagaimana dengan Henry?"
Kyuhyun nampak diam yang sulit diartikan Changmin. "Dia baik-baik saja. Aku yakin Henry akan sembuh dan cepat pulang."
Changmin mengangguk-angguk mengerti.
"Changmin." panggil Kyuhyun lirih. Dia menunduk, memperhatikan ujung jempol kakinya. Changmin di sampingnya hanya bergumam kecil menyahuti. "Rasanya sakit sekali."
Kening Changmin berkerut tidak mengerti. "Kau terluka?" pikirnya Kyuhyun merasa sakit karena terluka. Tiba-tiba dia merasa cemas dan dengan hebohnya bertanya dimana luka Kyuhyun. Dia ingin melihatnya dan memastikan lukanya sudah diobati. Namun Kyuhyun hanya diam masih dalam posisinya. Hingga dia menghentikan kehebohannya saat melihat sesuatu jauh dari wajah Kyuhyun yang masih tertunduk, dan membasahi pangkuan Kyuhyun. Satu jatuh dan menyusul yang lainnya. Perlahan terdengar isakan Kyuhyun, anak itu sibuk mengusap air matanya. "Aku pikir dia masih menyayangiku. Dia menggandengku, kupikir dia akan membawaku menemui Henry." kata Kyuhyun yang tidak dimengerti Changmin.
"Changmin, jika melakukan kesalahan, appa tidak bisa menyayangi anaknya lagi?"
Mendapat pertanyaan itu, Changmin hanya menggeleng. Dia tidak tahu dan tidak bisa berfikir melihat Kyuhyun yang menangis. Changmin menggeser duduknya lebih dekat pada Kyuhyun.
"Pasti Henry anak yang sangat baik dibanding aku, karena itu appa sangat menyayanginya. Eomma pernah bilang, eommaku, aku harus membantu menebus kesalahan eomma, mungkin karena itu appa tidak menyayangiku lagi. Aku tidak bisa membantu eomma menebus kesalahannya. Eomma bahkan pergi ke tempat jauh dan appa menjadi sangat marah. Appa bilang aku membuat eomma pergi. Tapi aku tidak tahu apa salahku?" Kyuhyun mengusap air mata yang menghalangi pandangannya. Dia menatap Changmin, bertanya dengan suara sendu. "Changmin, apa yang harus aku lakukan? Appa sudah sangat membenciku. Apa yang harus aku lakukan?"
Lagi-lagi Changmin menggeleng. Dengan penuh penyesalan karena tidak tahu jawaban apa yang dibutuhkan Kyuhyun. Melihat Kyuhyun menangis dengan sangat sedih, dia juga merasa sangat sedih. Air matanya mengalir sendiri, terisak dia merangkul Kyuhyun. Menangis berdua.
Changmin hanya anak kecil. Keduanya sama-sama masih bau kencur. Tidak mengerti kenapa Kyuhyun bersedih dan dibenci appanya sendiri. Changmin hanya tahu dia tidak suka saat melihat Kyuhyun menangis seperti itu. Dia lebih suka saat Kyuhyun tersenyum. Sayangnya hari itu adalah hari dimana dia melihat Kyuhyun menangis pilu, yang membuatnya ikut merasa tercekik.
TBC
Wednesday, May 18, 2016
7:16 PM
Sunday, October 16, 2016
7:48 PM
Mianhe atas typo yang bertebaran. Dan lagi-lagi jika ada hal-hal yang gak sinkron atau apalah itu mohon diberitahukan kepada saya.
Ini terlambat! Sangat! Chapter 11 menyusul ya. Ini bonus dulu mau di selesaian.
Keterlambatan update? Hahaha maaf sekali. Saya memang sibuk. Sibuk di sawah. Ada yang tanya saya orang mana? Saya orang Rembang, Jawa Tengah. Ada yang tanya Rembang itu mana? *Keseringan ditanya begitu karena tidak terkenal kotanya.
Padahal mbah Gus Mus orang Rembang kan… Ibu Kartini juga orang Rembang meski makam asliya di Jepara.
Walah malah bahas itu.
Pokoknya maafkan keterlambatannya. Setelah ini akan update chapter 11, tenang. Sedang saya tulis. Kemarin memang sedang sibuk sekali, bekerja di sawah(saya buruh tani), lalu acara khaul di Pesarean, terus masih sibuk baca Webtoons. Yang belakang gak penting, ya hehehe.
Oke-lah sampai situ saja. Balas review? Gak janji, lebih mau saya nerusin ffnya daripada balas review, kan? Yayayayaya?
Sima Yu'I
(SY'I)
