Dark Love

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : T-M

Warning : AU, OOC, Gaje, Alur kecepetan, Ide pasaran, Typo (s)

Original story by Crystal94

if there are similarities story was just a coincidence

.

.


-Dark Love 2-

Cahaya matahari memasuki celah-celah jendela kamar Sasuke. Matahari sudah mulai meninggi dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 08.15 pagi. Namun sepertinya laki-laki itu enggan untuk membuka matanya sedikitpun. Dengan perlahan bunyi dering handphone memaksanya untuk membuka mata. Dengan malas Sasuke mengambil handphone yang terletak disamping meja tempat tidurnya dan melihat nama yang tertera dilayar handphonenya,"Stupid Itachi". Sasuke sedikit mendengus saat mengetahui siapa yang dengan berani mengganggu tidur nyenyaknya.

"Halo?!"

"Lama sekali, eh."

"Ada apa menelponku pagi-pagi, baka aniki?"

"Pagi? Lebih baik kau lihat jam sudah pukul berapa sekarang."

Sasuke melirik jam dinding yang terpampang didepannya. Lagi-lagi dirinya mendengus kesal saat waktu sudah menunjukkan pukul 08.18 pagi.

"Bagiku ini masih terlalu pagi."

"Ck! Kau bahkan sudah terlambat 18 menit untuk pergi ke kantor."

"Biarkan saja."

Terdengar helaan nafas dari seberang telepon. Laki-laki yang diketahui bernama Itachi itu hanya bisa memaklumi sikap adiknya itu. Dirinya sudah terbiasa dengan sikap Sasuke yang terkesan acuh. Namun, biar bagaimana pun dirinya tetap menyayangi adik semata wayangnya itu.

"Hah baiklah. Aku hanya ingin memberitahu, mobilmu sudah selesai diperbaiki. Tadi pagi Juugo sudah mengantarkannya."

"Hn."

"Tidak ada ucapan terimakasih?"

"Untuk?"

"Yak! Kau-"

Sebelum mendengar ocehan Itachi, Sasuke segera memutuskan panggilan teleponnya. Dirinya segera bangun dan menengguk air putih yang tersedia disamping mejanya. Dengan malas, Sasuke melangkahkan kakinya kearah kamar mandi dan segera membersihkan diri. Sasuke sadar betul, waktu sudah siang dan ia terlambat datang ke kantor. Tapi biarkan saja, ia kan menjabat sebagai Direktur utama. Mungkin Sasuke akan menelfon sekertarisnya untuk membatalkan jadwal meeting hari ini.

.

.

Sasuke segara meninggalkan penthouses pribadinya yang terletak di tengah kota Tokyo. Menancapkan gasnya menuju tempat tujuannya, MansionUchiha. Memang, setelah menyelesaikan pendidikannya Sasuke lebih memilih untuk tinggal terpisah dari kedua orangtuanya. Walaupun ibunya sempat menolak, namun Sasuke berhasil membujuk ibunya itu dengan mengiming-imingi akan sering pulang ke Mansion utamanya itu.

Melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu sudah cukup siang, Sasuke segera mengeluarkan handphonenya dan memakai headset disebelah telinga. Suara sambungan telepon terdengar dan tak lama suara seseorang terdengar di telinganya.

"Halo dobe?"

"Teme? Kau dimana?!"

"Ck! Pelankan suaramu."

"Kau tidak tau sekarang sudah jam berapa?!"

"Aku mungkin akan terlambat datang ke kantor. Bisa kau beritahu rekan bisnisku meeting hari ini ditunda."

"Apa?! Tidak bisa! Kau sudah sering membatalkan meeting seenakmu. Kali ini aku tidak akan mengabulkannya."

"Turuti saja atau aku tidak akan datang ke kantor sama sekali."

"Tapi-"

Sasuke segera memutuskan panggilannya. Telinganya sedikit sakit setelah mendengar ocehan dari Sekertaris sekaligus sahabatnya, Uzumaki Naruto. Terdengar konyol memang kenapa bisa seorang Uzumaki Naruto menjadi sekertaris pribadi laki-laki arogan itu. Alasannya simple, karena Sasuke tidak tahan dengan sikap centil para Sekertaris wanitanya dulu.

Beruntung Naruto mau menerima tawaran yang Sasuke berikan. Karena kebetulan dirinya juga belum resmi diangkat menjadi penerus Uzumaki Corporation. Jadi sambil mengisi waktu luangnya, Naruto menerima tawaran sahabatnya itu dengan senang hati.

.

Mobil Ranger Rover memasuki pekarangan Mansion Uchiha. Sasuke segera turun dan melangkahkan kakinya memasuki rumah besar itu. Dapat dilihat rumah bergaya Eropa dengan dua lantai itu dipenuhi beberapa pelayan pribadi Uchiha yang sudah berdiri bersiap menyambutnya.

"Selamat datang, Tuan." Pelayan itu membungkuk menyambut kedatangan Sasuke.

"Hn."

Tidak lama kemudian terdengar suara ibunya yang datang menyambutnya.

"Sasuke..kau akhirnya pulang juga. Ibu merindukanmu, nak."

Mikoto segera mencium kedua pipi Sasuke dan memeluk putra keduanya itu sayang. Sasuke hanya tersenyum tipis dan segera membalas perlakuan ibunya itu.

"Dimana Itachi?"

"Eh, dia ada atas sayang. Memangnya ada apa?"

"Aku kesini hanya ingin mengambil mobilku yang sudah selesai diperbaiki."

"Tumben mencariku."

Sasuke segera menolehkan kepalanya saat mendengar suara seseorang yang sedang dicarinya. Itachi berjalan kearahnya sambil menggendong putra pertamanya, Uchiha Ken, hasil pernikahannya dengan Uchiha Izumi dua tahun lalu.

"Uncle Sasuke!"

"Hai ken."

Sasuke mengelus lembut rambut hitam keponakannya itu. Ken merentangkan kedua tangannya meminta untuk digendong oleh Sasuke. Dengan segera, Sasuke mengambil alih Ken yang berada digendongan ayahnya.

"Kau sudah cocok menjadi ayah, eh. Kapan menyusulku?"

Itachi tersenyum mengejek melihat ekspresi adiknya itu. Sasuke hanya bisa mendengus kesal mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Itachi.

"Kakakmu benar sayang. Kau sudah 25 tahun, bukankah sudah matang untuk memiliki seorang istri?"

Sasuke hanya bisa diam mendengar kalimat yang dilontarkan ibunya. Topik ini yang selalu dihindarinya jika dirinya datang ke rumahnya ini. Ibunya selalu rewel meminta diberikan cucu dari Sasuke. Namun beberapa saat kemudian pikirannya melayang mengingat kejadian semalam, dimana dirinya bertemu dengan perempuan bermata amethyst itu. Sasuke menyeringai, mungkin kali ini Sasuke tidak akan ditanyai seperti itu lagi.

"Ibu tenang saja, aku akan segera mengenalkannya."

"Eh benarkah? Kalau begitu secepatnya bawa dia kemari."

Sasuke hanya tersenyum dan melirik Itachi dengan pandangan mengejek. Itachi hanya bisa mendengus sambil mengangkat kedua bahunya.

"Aku harus segera pergi."

Itachi yang mengerti maksud Sasuke dengan cepat langsung mengambil alih Ken. Dapat dilihatnya tatapan kecewa yang diberikan ibunya itu.

"Secepat itu? Ibu masih merindukanmu, sayang."

"Maafkan aku bu, kalau aku luang aku akan datang kesini lagi."

Mikoto hanya mengangguk mendengar ucapan Sasuke. Dirinya dapat memaklumi anak laki-lakinya itu. Pasti pekerjaannya di kantor menyita banyak waktu Sasuke.

Sasuke melirik Itachi dan melemparkan kunci mobil yang sebelumnya ia letakkan di saku celananya.

"Terima kasih atas pinjaman mobilnya."

Itachi hanya tersenyum dan segera memberikan kunci mobil Camero hitam milik Sasuke. Sasuke bergegas meninggalkan kediaman Uchiha. Sebelumnya dicium kening ibunya itu dengan sayang. Mikoto mengelus lengan Sasuke dan tersenyum menerima perlakuan Sasuke.

"Kau tidak ingin menyapa ayahmu dulu?"

"Salam saja untuknya. Aku pergi."

"Hati-hati dijalan sayang."

Sasuke segera menancapkan gas mobilnya meninggalkan rumah megah itu setelah sebelumnya berpamitan dengan ibu dan juga kakaknya.

-Dark Love 2-

Hinata melangkahkan kakinya memasuki cafe yang terletak dipusat kota Tokyo. Gadis itu mengedarkan pandangannya dan segera melangkahkan kakinya setelah menemukan seorang perempuan berambut blonde. Gadis itu tersenyum setelah melihat sahabatnya melambaikan tangan dan segera memeluk tubuhnya erat.

"Aku merindukanmu Hinata.." Hinata hanya tersenyum tipis dan segera mendudukan dirinya dihadapan perempuan itu.

"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa murung begitu?"

Hinata menggeleng pelan membalas pertanyaan sahabatnya itu. Jujur saja, pagi tadi dirinya sudah dibuat kesal dengan ayahnya yang menelfonnya hanya untuk membicarakan hal yang tidak penting, bagi Hinata. Lagi-lagi dirinya diminta untuk pergi ke acara pertemuan rekan bisnis ayahnya itu. Hinata sudah menolaknya dengan halus, tapi memang pada dasarnya ayahnya itu sedikit keras kepala yang kebetulan sifatnya menurun pada Hinata. Dirinya mau tidak mau mengiyakan perintah ayahnya itu.

"Kau yakin tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja Ino."

"Pasti ayahmu berulah lagi?"

"Ya begitulah. Aku tak pernah bisa menolak keinginannya itu."

Perempuan bernama Yamanaka Ino itu hanya tersenyum melihat wajah Hinata yang cemburut. Dirinya sudah mengenal Hinata sejak mereka duduk di sekolah dasar. Kebetulan Ino juga akrab dengan keluarganya, jadi dirinya paham betul apa yang sedang menimpa gadis bermata amethyst itu.

"Ayahmu melakukan itu demi kebaikanmu juga sayang." Hinata menghela nafas dan menopang dagunya dengan sebelah tangannya.

"Entahlah, tapi aku tidak berminat meneruskan Perusahaan itu."

"Hei, memangnya kalau bukan kau siapa lagi? Neji sudah memegang beberapa cabang Perusahaan itu. Tidak mungkinkan ayahmu menyuruh Hanabi yang mengambil alih Perusahaan Hyuuga Corporation."

Hinata hanya diam mendengar ucapan sahabatnya itu. Biar bagaimanapun apa yang diucapkan Ino itu memang benar adanya. Kalau bukan dirinya, memang siapa lagi.

"Ya sudah jangan murung seperti itu. Kau ini memang tidak merindukan sahabatmu ini?"

"Tentu saja aku merindukanmu." Ino hanya terkekeh mendengar ucapan Hinata.

"Ku dengar kau baru saja memiliki kekasih, siapa laki-laki beruntung itu?"

Hinata tersenyum menggoda Ino saat melihat rona merah yang menjalar di kedua pipi gadis blonde itu. Ino berdehem pelan dan menengguk Cappucino di cangkir gelasnya.

"Namanya Uchiha Sai."

"Uchiha?" Hinata mengerutkan keningnya saat mendengar nama yang terasa familiar itu. Ino mengangguk membalas pertanyaan Hinata.

"Iya, kau pasti tau Uchiha kan?"

Hinata hanya diam mendengar ucapan Ino. Entah mengapa, pikirannya langsung melayang mengingat laki-laki bermata kelam yang tadi malam ditemuinya. Dirinya jadi teringat dengan sosok Uchiha Sasuke. Melihat Hinata yang hanya diam, Ino mengibaskan tangannya didepan wajah gadis itu. Hinata sedikit tersentak dan segera menatap wajah Ino.

"Ada apa Hinata?"

"Ah..tidak."

Ino hanya mengangguk dan tidak ingin bertanya lebih lanjut. Dirinya memaklumi Hinata yang akhir-akhir ini sedang terdapat masalah dengan ayahnya itu. Obrolan mereka pun berlanjut membicarakan topik yang tidak terlalu penting. Tidak jarang Hinata tertawa pelan saat dirinya lagi-lagi berhasil menggoda Ino. Hingga panggilan telfon yang berasal dari handphone Ino menghentikan kegiatan mereka.

Hinata memandangi wajah Ino yang lagi-lagi memerah saat menerima panggilan dari seberang telfon itu.

"Sai?" Ino mengangguk dan menatap Hinata.

"Maaf aku harus pergi Hinata, Sai memintaku untuk menemaninya makan siang."

"Tidak apa-apa. Pergilah."

"Kau bagaimana?"

"Aku masih ingin disini, lagi pula nanti aku akan pergi menemui ayahku."

"Yasudah aku pergi ya, kau baik-baiklah dengan ayahmu itu." Ino mengecup pipi Hinata sebelum benar-benar pergi meninggalkan Hinata seorang diri.

Hinata menghembuskan nafasnya dan menyandarkan punggungnya dikursi yang ia duduki. Pandangannya beralih kejendela cafe yang berada disampingnya. Mengamati banyaknya orang-orang yang berlalu lalang kesana kemari. Lagi-lagi dirinya melamunkan sosok yang dengan seenaknya memenuhi pikirannya. Tatapan laki-laki itu terbayang diwajah Hinata. Sangat mirip dengan seseorang yang ditemuinya beberapa bulan lalu. Tatapan mata yang seakan memuja dirinya saat pertama kali amethystnya beradu dengan onyx milik laki-laki itu.

Lamunan Hinata buyar saat dirinya mendengar lonceng pintu cafe yang berbunyi, menandakan adanya pelanggan yang memasuki cafe itu. Untuk sesaat, Hinata terdiam melihat laki-laki yang baru saja memasuki cafe. Merasa deja vu, amethystnya bertemu dengan mata onyx laki-laki itu. Mereka terdiam cukup lama, sampai tak sadar bahwa laki-laki itu kini sudah berada dihadapan Hinata. Tanpa permisi, laki-laki bermata kelam itu duduk dihadapan Hinata.

"Sepertinya takdir mempertemukan kita kembali, eh."

"Ya.. dan kau dengan seenaknya duduk dihadapanku." Sasuke menaikkan sudut bibirnya saat mendengar ucapan Hinata.

"Tidak apa-apa kan? Lagi pula tidak ada tempat yang kosong." Hinata mengedarkan pandangannya dan membenarkan ucapan laki-laki itu.

"Habis bertemu dengan seseorang?" Sasuke bertanya setelah melihat bekas cangkir coffe dihadapannya.

"Ya, seperti yang kau lihat." Sasuke mengangguk menanggapi jawaban yang keluar dari mulut gadis itu.

Untuk sesaat, keduanya hanya diam menikmati kesunyian disekitar mereka. Sesekali Hinata melirikan matanya ke arah jendela cafe untuk menghindari tatapan pemuda itu. Merasa risih, Hinata menatap tajam Sasuke.

"Berhenti menatapku seperti itu." Ucap Hinata penuh penekanan.

Sasuke hanya menyeringai mendengar ucapan gadis itu. Ditopangnya dagu dengan sebelah tangannya, bermaksud menggoda gadis dihadapannya ini, Sasuke tak mau melepaskan pandangannya. Bagi Sasuke, tatapan tajam yang Hinata berikan justru semakin membuat hatinya bergejolak, sangat mirip dengan tatapan seorang gadis yang sudah menamparnya beberapa bulan yang lalu.

"Kalau tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan, aku pergi." Hinata bergegas bangkit. Namun, sebuah tangan menghentikan pergerakannya.

"Kenapa terburu-buru sekali?"

"Aku ada urusan."

"Duduklah dulu." Sasuke membimbing Hinata untuk menduduki kembali kursi dibelakangnya.

"Aku hanya ingin bernostalgia sedikit denganmu." Hinata mengerutkan keningnya mendengar ucapan pemuda itu.

"Maksudmu?" Sasuke menyeringai dan mulai mendekatkan wajahnya ketelinga gadis itu. Hinata dengan segera menahan dada bidang Sasuke dengan kedua tangannya bermaksud untuk mendorong laki-laki itu. Jantungnya berdebar tak karuan, Sasuke hanya tersenyum tipis sambil menggenggam tangan gadis itu.

"Hei, kau pasti masih mengingat ciuman panas yang aku berikan waktu itu kan?" Bisiknya sambil meniup telinga gadis bermata amethyst itu.

Hinata membulatkan matanya saat kejadian beberapa bulan lalu terlintas di pikirannya. Jadi benar, Uchiha Sasuke adalah laki-laki kurang ajar yang berani menciumnya dihadapan banyak orang. Dengan wajah kesalnya, Hinata mendorong dada Sasuke dan menatap tajam mata kelam pemuda itu.

"Jadi kau!" Sasuke hanya menyeringai melihat respon Hinata.

"Kau tau? Tamparanmu waktu itu masih terasa dipipiku. Membuatku ingin merasakannya lagi." Sasuke menyeringai melihat wajah kesal Hinata.

"Aku akan dengan senang hati memberikannya lagi untukmu." Hinata mendesis menatap kesal wajah Sasuke.

"Oh dengan senang hati aku akan menerimanya." Sasuke menaikkan sudut bibirnya.

"Laki-laki kurang ajar!" Gumam Hinata sebelum pergi meninggalkan Sasuke seorang diri. Sasuke hanya menatap kepergian gadis itu dengan seringai yang mengembang diwajah tampannya. Ah, entah kenapa hormon tubuhnya selalu bergejolak ketika dirinya bertemu gadis itu.

Sejujurnya Sasuke tak menyangka akan bertemu dengan gadis itu lagi. Sepertinya Tuhan memang menakdirkan dirinya untuk bersama dengan Hinata.

.

.

.

.

.

Thanks to :

HimeNara-kun, Hyinata, Dobeona, onna miku, PacarnyaMarkLee dan beberapa riders lainnya.

Yang sudah menyempatkan diri untuk review. Aku tunggu reviewan kalian selanjutnya J

.

.

.

Wah gimana nih, chapter 2 udah UP! Guys! Kira-kira ceritanya masih masuk akal nggak? Hahah

Btw ini aku udah upkil ya, mumpung lagi libur kuliah jadi disempetin untuk upkil sebelum mulai disibukkan dengan urusan didunia RL. Aku sangat2 berterimakasih untuk yang udah sudi baca plus review ff gaje ini hahah jujur aja reviewan kalian jadi penyemangat buat aku ngetik lanjutan ff ini ;D aku tunggu reviewan kalian selanjutnya yaaaa….

Udah segitu dulu cuap2nya, semoga kalian masih suka sama cerita ini ya. See you next chapter! Bye!^^

.

.

Crystal94