Choi Jung Woon tidak tidur semalaman. Setelah membeberkan siapa pendonor Kibum sebenarnya yang dilakukannya adalah duduk berdiam di kursi kerjanya semalam suntuk. Matanya tidak ingin terpejam pun tubuhnya yang didera peyesalan. Apa sudah benar dia mengatakannya pada Siwon? Tapi toh Siwon anak yang cerdas. Dia mengatakannya karena Siwon sudah mulai mencurigainya.
Itu sudah terjadi. Dan dia tidak bisa berlarut-larut menyesalinya. Hal yang perlu dia pikirkan sekarang adalah memastikan sejelasnya Kyuhyun milik siapa? Terus terang, Jung Woon tidak tenang meski tahu Youjin memiliki suami dan kemungkinan memang Kyuhyun putra kandung mereka. Namun kejadian malam itu terus mengusik keinginannya untuk memastikan.
Dalam hati kecilnya dia berharap kekejiannya tidak menghasilkan apapun kecuali kenangan buruk.
Di tempat lain seorang Kim Young Woon pun tidak bisa tidur. Ucapan yang di katakan sang istri sore tadi membuatnya bergadang. Kalimat cerai keluar dari mulut istrinya. Padahal mereka sudah berencana untuk berlibur bersama. Mereka akan mengunjungi orang tua istrinya bersama Henry. Tapi pertengkaran terjadi di malam sebelum mereka pergi.
Saat pagi tiba Young Woon segera bangun dari sofa yang dia tiduri. Meletakkan remote TV yang dia pegang semalaman dan berjalan menuju tangga. Dia memang tidak tidur di kamarnya setelah semalam berusaha membujuk Hera untuk membatalkan keinginannya. Namun sayang Hera memilih teguh pada keputusannya dan berakhir mendiaminya.
Di depan pintu kamarnya dan Hera dia mengetuk pintu pelan. Dia berusaha agar suaranya tidak sampai di kamar Henry di ujung. Dia sudah berusaha agar Henry tidak mencurigainya. "Hera, aku akan masuk."
Young Woon mendorong pintu pelan. Hera masih berbaring di bawah selimut. Entah tidur atau juga tidak bisa tidur seperti dirinya, dia tidak tahu karena posisinya yang membelakangi.
Dia melangkah masuk setelah menutup pintu. Mendekati tempat tidur, dia melihat Hera yang tidak bergerak namun rupanya membuka mata. "Hera, bisa kita bicara lagi?"
"Tidak." balas Hera datar.
"Hera, kau tidak bisa memutuskan hal semacam itu dengan emosi."
Hera bangun menuruni kasur. Berlalu seraya berkata, "siapkan saja keperluanmu untuk berlibur, aku bangunkan Henry."
Young Woon menghela nafas panjang setelah Hera tidak berada di kamar mereka. Lelaki itu menatap pada kejauhan. Haruskah mereka berlibur dengan hati yang seperti ini? Tapi jika tidak Henry pasti kecewa. Maka dengan berat dia mulai berbenah keperluannya.
0o0o0o0
Kyuhyun menyimpan alat pelnya disudut belakang dekat tempat cucian. Semua pekerjaan untuk hari ini sudah selesai dikerjakannya. Seraya melangkah menuju ke depan, Kyuhyun menghitung sudah berapa lama dia tinggal di rumah Leeteuk. Dan dia terkejut sudah menghabiskan minggu pertama liburan musim panas di tempat ini. Tidak terasa.
"Kyunie, bisa bantu aku sebentar?" Leeteuk menyembul dari pintu kamarnya.
Kyuhyun mengangguk, berbelok menuju kamar Leeteuk. Dia masuk setelah lelaki itu membuka jalan untuknya.
Leeteuk meminta tolong Kyuhyun untuk mengetik sesuatu di dalam laptopnya. Gurunya itu mengeluh tentang dia yang harus tetap mengajar di liburan musim panas ini untuk kelas tambahan. Kyuhyun hanya mendengarkan dengan tetap mengetik.
"Saem, boleh dua hari ini aku pulang ke flatku?" tanya Kyuhyun saat dia beristirahat mengetik.
"Wae?" tanya Leeteuk.
"Sudah 8 hari aku meninggalkan tempatku kosong. Aku harus tetap datang untuk membersihkannya, kan."
"Oh. Boleh. Tapi kau tetap bekerja denganku?"
Kyuhyun mengangguk. Leeteuk mengangguk mengijinkan. "Bagaimana dengan dompetmu? Sudah ketemu?"
Kyuhyun menggeleng lesu. "Aku berharap ada yang berbaik hati menemukannya dan memberikannya kepadaku. Tidak masalah dengan benda lainnya asal foto itu bisa kudapatkan lagi."
Leeteuk sudah mendengarnya. Kyuhyun yang sempat pulang dan menginap satu malam di rumah orang tuanya, eomma tirinya memberikan sebuah foto untuk disimpan. Harusnya menjadi benda yang dijaga dengan baik, namun belum beberapa jam berlalu benda itu sudah menghilang. Ah nasib jelek. "Mungkin belum saatnya. Sudah, jangan terlalu disesali."
Kyuhyun manyun. "Santai sekali saem mengatakannya."
Leeteuk hanya tersenyum kemudian mengacak rambut Kyuhyun. "Oh, Hankyung mengajakku makan diluar siang ini. Kau ikut, ya."
Kyuhyun berfikir sebelum mengiyakan. "Jam berapa?"
"Setengah 12 nanti kita berangkat."
"Hankyung hyung sedang baik, ya?"
Leeteuk tertawa kecil. "Saudarinya sedang berulang tahun. Juga perayaan mendapatkan pekerjaan baru."
Kyuhyun kembali mengetik. Leeteuk masih berceloteh banyak hal. Entah itu pekerjaan atau pengalaman-pengalamannya. Kyuhyun hanya sesekali menyahut dan menanggapi hal yang menarik baginya saja. Dua jam pekerjaan itu baru selesai dengan Leeteuk yang mengakhiri ceritanya setelah Kyuhyun menatapnya dengan tajam. Kesal juga lama-lama mendengarkan orang ngomong apa, sedangkan dia harus bekerja.
"Terima kasih adikku, sayang." Leeteuk membuka kedua tangannya. Siap memeluk dan dipeluk. Namun Kyuhyun justru menatapnya dengan aneh. Leeteuk mengangkat kedua alis matanya. "Wae?"
"Kapan kau jadi kakakku? Lagipula," Kyuhyun memukul gemas kedua tangan Leeteuk yang merentang, "siapa yang suka dipeluk olehmu? Dasar aneh." Kyuhyun ngeloyor pergi tidak menghiraukan Leeteuk yang merengut kesal.
0o0o0o0o0o0
Zou Mi meletakkan sebuah kertas di meja Siwon yang langsung di lihat oleh pria tampan itu. "Ini?"
"Alamat rumah Kyuhyun. Lengkap. Alamat rumah orang tuanya tinggal dan alamat flatnya. Tapi beberapa hari ini dia tinggal dengan seorang guru sekolah. Park Jung Soo, lebih dikenal dengan Leeteuk songsaenim. Kyuhyun bekerja disana, lalu sorenya dia bekerja di Cheonchul café, tempat yang sama dengan Donghae hyung."
Siwon mengangguk sampai sana.
Zou Mi meneruskan informasinya. "Dia murid beasiswa. Jadi kurasa karena itu dia bekerja. Tapi orang tuanya cukup mampu kurasa. Ini sedikit rumit." menurunkan volume suara Zou Mi menatap tepian meja.
"Serumit apa?"
"Entahlah Siwon hyung." Zou Mi kembali menatap Siwon. "Tapi sebelumnya. Kenapa hyung menginginkan informasi ini? Apa ini tentang Kibum? Kau meminta aku mengawasinya seperti yang kau lakukan selama ini untuk Kibum?" Zou Mi tentu tidak serta merta menjadi teman Kibum. Butuh waktu dan proses. Dan jika dikatakan dia berteman dengan tulus, sepertinya bukan juga. Dia tetap disamping Kibum karena Siwon memintanya. Sama seperti Donghae yang meminta Kyuhyun menjadi teman Kibum. Begitu juga Zou Mi, namun Siwon meminta juga untuk menjaga Kibum, mengawasi segala pergaulan bahkan teman-teman Kibum. Itu terdengar merepotkan bagi Zou Mi yang hanya ingin berteman sewajarnya, tapi beruntunglah Kibum bukan tipe yang keluyuran dan easy going dengan orang lain. Jadi selama ini tugasnya cukup mudah. Sampai siwon menghubunginya secara pribadi dan meminta sesuatu seperti ini. Dia merasa heran dengan alasan Siwon kali ini. Karena Kibum sudah cukup dewasa untuk menjalin pertemanan dengan siapapun.
Siwon tersenyum. "Tidak. Tidak ada alasan khusus. Menurutmu pribadi Kyuhyun seperti apa? Kudengar kau juga cukup dekat dengannya."
Zou Mi terkekeh. "Tidak terlalu dekat. Karena Kibum aku jadi merasa harus mengenalnya juga. Lagipula, dia anak yang entahlah, menarik minat orang lain kurasa."
Siwon mengangguk membenarkan dalam hati. "Jadi apa yang lain?" kembali ke informasi yang dibawa Zou Mi.
Pemuda seusia adiknya itu membenarkan posisi duduk. Dia terlihat akan berbicara serius kali ini. "Aku bisa menceritakan banyak hal dari apa yang kudapat beberapa hari ini. Tapi akan kupersingkat saja, hyung. Hubungan Kyuhyun dengan ayahnya tidak baik. Sudah lama. Para tetangga bilang, Kyuhyun anak istri pertama tapi bukan karena ibu tiri dia jadi disingkirkan. Ada kisah kelam disana."
Siwon ingat kembali berkas yang diberikan sang ayah. Dia membacanya sampai habis. Yang dikatakan Zou Mi sebagai kisah kelam, dia mengerti apa yang dimaksud. "Meninggalnya Youjin ahjuma?"
Zou Mi cukup terkejut dengan penuturan Siwon. "Hyung sudah tahu tentang itu?"
Siwon mengangguk.
Zou Mi jadi berfikir apa gunanya dia dipanggil untuk mencari tahu hal yang sudah diketahui Siwon? Benar-benar mengesalkan. Zou Mi merogoh sakunya, mengeluarkan dompet lusuh dan diletakkannya didepan Siwon. "Itu dompet milik Kyuhyun. Sepertinya terjatuh. Aku memungutnya di dekat halte di sekitaran rumah orang tuanya."
Siwon membuka dompet itu iseng. Namun jadi betah memperhatikan sesuatu di dalam foto tersebut. Dia tersenyum melihat sosok kecil seorang Kyuhyun.
Zou Mi menggaruk pipinya melihat Siwon tersenyum sendiri. "Hyung, apa kau masih ingin mendengarkanku?"
Siwon tersenyum sedikit lebih lebar. Menutup dompet dan memberi atensi kembali pada Zou Mi, menggerakkan dagu kode agar Zou Mi meneruskan.
Zou Mi menghela nafas pendek dan dalam. "Kyuhyun cukup dekat dengan Leeteuk songsaenim. Tadinya kupikir itu wajar tapi setelah aku memastikan dia juga cukup dekat Hankyung uisa. Tan Hankyung, dokter di rumah sakitmu."
Siwon mengangguk lagi. Dahinya mengernyit seolah bilang 'apa yang menarik dengan hal itu?'
Zou Mi menatap mata Siwon kali ini. Serius. Lebih serius. "Kyuhyun membutuhkan operasi jantung segera."
Siwon mematung. Zou Mi tidak berkedip demi melihat reaksi pria itu. Waktu seolah berhenti untuk beberapa saat itu. Hingga Siwon menggerakkannya kembali dengan gerakan kecil seolah tidak percaya. "Jantung. Dia sakit?"
"Aku membuka data pasien milik dokter itu. Kutemukan nama Kyuhyun disana. Jantung ********. Aku juga menemukan Leeteuk mensuplai antidepresan dengan dosis aman beberapa kali. Dia guru konseling, wajar jika mendapat suplai obat tersebut, dia juga memiliki surat ijin untuk itu. Tapi dia melakukannya dengan nama pribadi. Dan kupastikan itu untuk Kyuhyun. Aku sudah memeriksa flatnya, kutemukan beberapa butir obat disana."
Siwon akui Zou Mi seorang detektif swasta yang handal dan terlalu muda, tapi dia sangat ahli dengan hal semacam ini. Dia banyak mendapatkan uang dari pekerjaan gelapnya ini. Meski tidak sesering dia melakukannya sebagai pekerjaan tetap. Zou Mi termasuk pemilih. Tidak ada yang tahu tentang kegiatan Zou Mi ini. Orang disekitarnya Hanya Siwon yang tahu.
Siwon menyembunyikan tangan dibawah meja. Diam-diam meremas tangannya yang mendingin. Ini kabar buruk, tentu saja. "Terima kasih, Zou Mi-ah. Ini sudah cukup. Kau sudah banyak membantu."
Sebenarnya masih banyak yang ingin Zou Mi katakan tapi sudahlah. Siwon bilang cukup. Melihat Siwon yang sedikit jadi frustasi, Zou Mi memutuskan untuk mencukupkan sampai disitu saja.
"Hyung, aku keluar." Zou Mi pamit. Sampai dipintu dia berhenti. "Aku akan menginap di kamar Kibum. Jika masih butuh sesuatu kau bisa memintanya." pesan Zou Mi sebelum keluar.
Kibum sedang membuka bajunya saat seseorang masuk tanpa ijin. Dia cukup terkejut dan mengerang marah pada orang itu.
"Siapa kau bisa seenaknya masuk, Zou Mi-ssi?" desis Kibum geram. Dia melempar kaosnya sembarangan ke atas kasur. Memilih cepat pakaian di dalam lemari.
Zou Mi masih berdiri di depan pintu, memperhatikan Kibum dari sisi kiri. Dia melihatnya garis luka yang sedikit terlihat dari balik celana Kibum. Zou Mi tahu betul kenapa luka itu terjadi. Penyakit masa kecil Kibum yang membutuhkan pendonoran.
"Kibum," panggilnya menutup pintu dengan satu dorongan. Dia melangkah mendekat pada Kibum yang mulai mengenakan kaos bersih.
Zou Mi menarik bahu Kibum hingga pemuda lebih pendek itu menghadap padanya. Dia abaikan tatapan sinis Kibum dan mencengkeram bahu pemuda itu lebih kuat.
"Hey!" Kibum merasakan tekanan di bahunya dan protes dengan itu. "Apa masalahmu!" menepis tangan Zou Mi dengan kuat. Zou Mi boleh kurus tetapi tenaganya lumayan juga.
Zou Mi masih menatap intens Kibum. "Siapa pendonor ginjalmu, Kibum?"
Pertanyaannya itu mempengaruhi tubuh Kibum. Namun tidak banyak terlihat karena pemuda berjuluk si batu itu sudah terbiasa menguasai emosinya. "Kenapa bertanya hal itu?"
Zou Mi diam tidak menjawab. Hingga dia mengedikkan bahu, seolah bingung dengan alasannya. "Hanya penasaran, mungkin. Apa kau sendiri tidak ingin tahu?"
Kibum menatap datar Zou Mi, entah apa yang dipikirkan orang yang mengaku temannya. Tapi apa yang dikatakannya benar. Siapa memang yang tidak penasaran dengan seseorang yang sudah menyelamatkan hidupnya. Tapi apa itu pentig dia katakan pada Zou Mi. Dia tidak biasa mengatakan hal-hal pribadi pada siapapun.
Zou Mi menoleh ke arah lain. "Menurutmu, bagaimana keadaannya setelah memberimu sebelah nyawanya? Menurutmu kenapa dia menyelamatkanmu? Apa kau pernah membayangkan dia muda, tua atau seumuran denganmu? Menurutmu,"
"Hentikan!" sela Kibum tidak ingin lebih jauh mendengar ocehan Zou Mi. Tapi bagaimana dia mengatakannya membuat Kibum berfikir, "kau tahu sesuatu Zou Mi?"
"Ah?" Zou Mi kembali menatap Kibum. Senyumnya tampil dengan jenaka. "Tidak. Itu hanya pengandaian, Kibum. Euhmmm aku yakin kau juga penasaran. Jadi aku berusaha memperjelas rasa penasaranmu." Zou Mi masih tersenyum namun Kibum bersikap frontal. Zou Mi jadi salah tingkah, menggaruk kepalanya dan mengalihkan mata ke segala tempat. "Kibum, aku menginap, oke?"
Tanpa persetujuan, Zou Mi menuju kasur dan merebah disana. "Jangan menatapku terus!" katanya merasa Kibum masih menghujamnya dengan tatapan yang sama. Zou Mi mendesah dan beralih miring mengabaikan Kibum. Dia mencoba memejamkan mata tapi segala informasi yang sudah dia dapatkan tidak bisa membuatnya jatuh dalam tidur.
Semuanya, semua informasi itu memenuhi kepalanya. Zou Mi menyesal harus menerima permintaan tolong Siwon. Lebih baik dia tidak tahu. Entah kenapa hatinya merasa sakit mengingat segalanya. Segala kebenaran yang sudah dia dapatkan mengenai Kyuhyun. Lebih dari itu kenapa dia semakin ingin tahu segalanya tentang Kyuhyun hingga merogoh terlalu dalam kehidupan pribadi keluarga itu. Kyuhyun yang malang.
0o0o0o0
"Eoh, agassi?" Kyuhyun melihat seorang wanita yang dia tahu hari itu datang ke café Heechul. Mantan pacar sang bos. Sekarang wanita itu duduk satu meja dengan Hankyung dan juga Heechul.
Leeteuk menarik lengan Kyuhyun, mengajaknya duduk di kursi yang masih kosong.
Hankyung segera mengambil alih. Dia memperkenalkan Leeteuk dan juga Kyuhyun pada wanita yang ternyata saudarinya.
Berfikir Kyuhyun bertanya. "Tapi bukannya Hangeng?"
Jaerim tertawa. "Hangeng nama cina untuk Hankyung oppa."
Kyuhyun ber-oh ria. Dia tersipu malu entah untuk apa. Matanya melihat orang-orang di sekelilingnya. Mendadak dia merasa asing. Bukan hanya karena dia yang termuda, tapi juga sesuatu yang mereka bicarakan diluar dari keterlibatannya. Kyuhyun hanya makan saat mereka makan atau menanggapi saat ada yang mengajaknya bicara. Selebihnya dia lebih banyak diam dan mengaduk makanannya. Dalam hati dia bersumpah tidak akan mengikuti ajakan Leeteuk begitu saja.
'Kenapa Leeteuk saem mengajakku?' Kyuhyun menunduk memainkan makanan yang tidak berkurang banyak. Nafsu makannya hilang. Menghela nafas halus dia melempar pandang ke luar restauran.
Kyuhyun menajamkan mata saat merasa melihat seseorang yang dia kenal. Kyuhyun sukses menjatuhkan sendoknya begitu matanya dengan jelas melihat wajah itu. Mendadak tubuhnya diserang dingin.
'Appa, Kyunie takut.'
Kyuhyun memeluk dirinya. Kilasan masa lalu berkelebat di depan matanya. Dirinya yang ditarik kuat oleh sang ayah. Ruangan dokter yang dingin. Wajah seorang dokter yang nampak ramah namun tidak mengurangi rasa takutnya. Juga wajah lelaki itu. Tangan dinginnya yang menyentuh wajahnya. Kyuhyun bisa merasakannya sekarang. Lelaki itu adalah mimpi buruknya.
Leeteuk yang menyadari keanehan Kyuhyun, mencoba mengambil alih atensinya. Namun Kyuhyun mengabaikan panggilan. Anak itu seolah tenggelam dalam pikirannya.
"Kyuhyun-ah." Leeteuk masih mencobanya. Dia menyentuh lengan Kyuhyun dan mengernyit merasakan lengan itu dingin. Rasanya temperatur ac tidak bisa membuatnya sedingin ini. "Kyunie? Kau baik-baik saja?" Leeteuk khawatir tentu saja.
Hankyung mencoba membantu. Dia menyentuh lembut bahu Kyuhyun. Menyentaknya sekali dan berhasil. Kyuhyun manatapnya dengan bingung. Seolah baru sadar dari masa trans.
"Aku rasa dia kurang sehat." komentar Heechul. "aku bisa mengantarnya pulang."
"Tidak perlu, Heechul-ah. Dia tinggal bersamaku." tahan Leeteuk. Dia rasa Kyuhyun tidak akan bisa pulang ke flatnya dalam kondisi ini. Maka dia segera berpamitan dengan semua orang dan membawa Kyuhyun keluar.
Kyuhyun masih sempat memutar kepala mencari sosok yang sempat dia lihat. Tapi nihil. Orang itu rupanya sudah pergi.
"Kyu, masuklah." panggil Leeteuk yang melihat Kyuhyun tidak kunjung masuk ke dalam mobil.
Setelah Kyuhyun masuk dan duduk dengan masih nampak linglung, bahkan Leeteuk yang harus memasang sit belt untuknya, mobil segera melaju pelan masuk ke jalan raya. "Kau pulang ke tempatku. Batalkan saja rencana dua hari pulangmu ke flat."
Kyuhyun tidak berkomentar. Memilih memalingkan wajah ke luar jendela dan merebah tidak bersemangat.
Leeteuk dibuat cemas karena begitu tiba di rumah, Kyuhyun tiba-tiba saja demam tinggi. Dia berkeringat banyak dan tidak bisa bergerak. Sudah benar dia membawa Kyuhyun pulang ke rumahnya. Jika Kyuhyun dalam keadaan seperti itu berada di flatnya sendirian, entah bagaimana nasibnya.
"Apa yang salah Kyuhyun?" Leeteuk bermonolog sendiri sambil mengompres kening Kyuhyun. "Aku mengajakmu keluar agar kau tidak memiliki waktu luang untuk berfikir macam-macam. Kenapa sekarang kau malah demam?"
"Appa." lirih Kyuhyun mengigau. Nafas anak itu keluar masuk dengan cepat.
"Kau merindukan appamu, eoh?" Leeteuk mangambil tangan Kyuhyun. Memijat telapak tangan anak itu. "Kau masih menaruh hormat dan sayangmu meski sudah diusir. Kenapa kau tidak keluarkan saja semua bebanmu? Bagilah dengan saem-mu ini. Jangan memendamnya sendirian."
Leeteuk mengurus Kyuhyun dengan telaten dan tidak meninggalakannya sendirian. Meski anak itu hanya memejamkan mata dan mengigau memanggil ayahnya. Leeteuk dengan sabar mengganti kompresan terus menerus hingga tertidur di sampingnya.
0o0o0o00
Tuan Choi memandang kecewa pada pintu yang tertutup rapat. Terkunci. Lagipula entah bagaimana dia bisa sampai ke rumah ini. Rumah keluarga Kim. Kim Young Woon.
Dia hanya tidak bisa tidur nyenyak beberapa malam ini memikirkan semua kemungkinan yang menghantuinya. Dia tidak bisa hanya duduk diam tidak tenang. Dia butuh sesuatu yang bisa membuatnya rileks. Entah karena itu dia sampai di tempat ini atau karena hal lain. Tapi apa yang dia harapkan disini?
Siapa yang ingin ditemuinya? Apa yang dia cari?
Tuan Choi memutuskan berbalik. Melangkah pelan hingga hampir mencapai pintu pagar. Namun disana dia justru terdiam.
Seorang pemuda berdiri di depan pagar. Menatapnya seperti melihat hantu. Tuan Choi mendekat. Mengulas senyum mengenali pemuda itu sebagai Kyuhyun. Mereka belum pernah bertemu setelah Kyuhyun dewasa tapi wajah itu sudah dikenalinya dari berkas pemberian orang suruhannya. Namanya Kyuhyun, putra Cho Youjin. Pendonor, penyelamat nyawa Kibum.
Kyuhyun mundur saat lelaki itu semakin dekat. Wajah yang lebih tua dari yang dia ingat. Tapi kesan yang melekat pada diri orang itu tidak akan pernah dia lupakan. Dingin. Tangan yang dingin yang mengusap pipinya sewaktu kecil. Senyum palsu demi mendapatkan ginjalnya. Sikap ramah menyembunyikan wajah serigalanya demi mencuri organnya.
Tuan Choi tertegun melihat reaksi Kyuhyun. Itu bukan pertanda baik. Pemuda di depannya nampak pucat. Seolah menolak untuk menatapnya.
Kyuhyun meremas dadanya yang berdentum keras. Dia hampir berlari pergi saat sebuah mobil datang dan berhenti di dekat pagar. Seseorang keluar dari pintu depan.
"Kyuhyun-ah!"
Kyuhyun tidak bisa tersenyum melihat kedatangan Hera, meski ingin tapi rasa syok melihat orang yang wajahnya melekat diingatannya dan juga rasa marah dalam hatinya membuatnya hanya diam.
Hera mendekati Kyuhyun, memeluknya singkat sebelum mengamati wajah pucat itu. "Kau demam, Kyunie?" Hera memastikan suhu badan Kyuhyun. Dan benar.
"Demamku sudah turun, eomma." kata Kyuhyun lirih.
Hera menyadari ada orang lain di halaman rumahnya. Memandang orang itu sama terkejutnya. Kemudian spontan wajahnya mengeras.
Henry melewati Hera dan Kyuhyun, membuka pintu pagar lebih lebar, agar mobil sang ayah masuk. Jika diperhatikan wajah Henry sama tidak enaknya. Anak itu bahkan hanya berlalu tanpa mengatakan apapun kepada siapapun, menuju rumah menunggu siapapun yang akan membuka pintu untuknya.
Hera menarik Kyuhyun menyingkir dari pintu pagar serta masuk ke halaman. Mobil Young Woon berjalan masuk ke halaman dan berhenti disana.
Jung woon hanya berdiri melihat semuanya.
"Eomma, aku hanya mampir. Aku pergi sekarang."
Hera menahan tangan Kyuhyun. "Ada sesuatu? Kau datang hari ini, padahal belum tentu kami pulang hari ini."
Benar juga. Ini baru beberapa hari dari rencana liburan keluarganya. Kyuhyun mengernyit heran. "Kalian pulang lebih cepat? Wae?"
Suara keras pintu mobil yang ditutup membuat semua orang menoleh. Youg Woon sang pelaku menatap tidak peduli Kyuhyun. Memilih menyapa tuan Choi yang seperti terabaikan keberadaannya.
"Apa perlumu, tuan Choi?"
Choi Jung Woon tersenyum lelaki di depannya masih ingat dengannya.
Dan disinilah mereka sekarang. Dua lelaki baya itu berhadapan dengan meja yang menghalangi. Tidak ada minuman atau suguhan lain. Mereka hanya berdua, bahkan Hera tidak sudi berada dalam ruang dengan tuan Choi. Wanita itu memilih menarik Kyuhyun ke ruangan lain. Henry sendiri sudah mengubur dirinya di dalam kamar.
"Katakanlah." Young Woon membuka suara memecah kesunyian yang berlangsung beberapa saat lalu.
Choi Jung Woon menghela nafas dalam. Dia sedang mempersiapkan diri. "Aku datang sebagai teman."
Dahi Young Woon berkerut mendengar sesuatu yang baginya aneh. Teman? sejak kapan? Mereka bahkan mengenal dalam sebuah kesepakatan. Dan sungguh, orang yang datang sebagai tamu ini bertamu disaat yang tidak tepat. Dia sedang dalam keadaan yang tidak baik. Kehidupan rumah tangganya sedang dalam masalah. Bahkan ketika dia berada di rumah mertuanya, itu tidak menyurutkan Hera untuk bersikap dingin kepadanya. Alhasil pertengkaran yang disembunyikannya meluap disana. Membuat mereka memutuskan untuk pulang ke Seoul lebih cepat dari rencana. Sungguh, Young Woon dibuat malu dihadapan mertuanya.
"Dengar tuan Choi. Jika yang kau maksud adalah hubungan kita di masa lalu, hubungan itu sudah berakhir sangat lama."
"Bukan hubungan yang itu." Jung Woon menghela nafas sekali lagi. "Saya datang sebagai teman Cho Youjin."
Young Woon diam memandang lelaki dihadapannya. "Kau… apa?"
"Cho Youjin adalah sekretarisku. Tapi kami sudah seperti teman. Dia banyak membantuku saat aku dalam keadaan sulit. Aku baru tahu dia sudah meninggal. Aku datang sebagai teman, ingin memberinya penghormatan. Saya meminta ijin darimu untuk mengunjungi makamnya."
Young Woon tidak pernah mengerti dengan takdirnya. Sebelumnya dia tidak pernah mengenal atasan Youjin. Namun Youjin beberapa kali bercerita saat dirinya diangkat menjadi sekretaris bos, dia memiliki bos yang baik dan mengagumkan. Dulu dia berharap bisa berkenalan dengan orang itu. Seseorang yang dikagumi istrinya.
Sekarang mengetahui lelaki yang dikagumi istrinya ada duduk di depannya perasaannya bercampur aduk. Senang, mungkin iya. Entahlah. Mengingat dia mendorong Kyuhyun kepada lelaki ini untuk menyelamatkan Henry. Dan lelaki ini menerimanya untuk menyelamatkan putranya.
"Maaf, tuan Choi. Aku rasa kita memulainya dengan salah. Seharusnya hubungan ini tidak menjadi buruk."
Jung Woon tersenyum mengerti. "Aku menyesal kita tidak kenal sebelumnya. Sekarang aku semakin merasa berhutang budi dengan keluargamu. Istri dan putramu sudah membantuku sebanyak itu."
Young Woon menggeleng. Dia bisa tersenyum sekarang meski dengan sisa kekakuan. "Lupakanlah. Itu sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan di rumah sakit hari itu. Sungguh, jangan mengingatnya lagi."
Kyuhyun merasa lemas di balik dinding. Berusaha tetap berdiri untuk mendengarkan semua yang mereka bicarakan dan berlalu pergi setelah tidak tahan. Dia menaiki tangga dengan pelan. Wajahnya datar terlihat hancur. Setiap tangga yang dia pijak dia mengingat kembali ketakutannya yang sendirian di rumah sakit. Dia masih bisa merasakan kerelaannya untuk menolong Henry. Tapi dia ditinggal sendirian tanpa ditemani sebagai balasan kecil dirinya yang menjadi anak baik untuk sang ayah.
Kenapa?
Kenapa?!
Kyuhyun mengetuk pintu kamar ibunya. Menunggu hingga wanita keluar dengan wajah lebih segar dan pakaian yang berganti. "Kau menunggu lama, Kyunie? Mianhe. Ayo turun, eomma buatkan sesuatu untukmu."
Kyuhyun tidak bergerak. "Eomma." panggilnya.
"Heum?"
"Aku pernah bertanya padamu sewaktu kecil. Apa appa menyayangiku? Sekarang apa dia masih menyayangiku?"
Hera menatap sulit wajah Kyuhyun. Anak itu terlihat sangat tertekan dan menderita.
"Orang tua akan selalu menyayangi anaknya, Kyu. Kau selalu yakin appamu menyayangimu, bukan. Hanya itu yang perlu kau yakini."
Kyuhyun menarik sudut-sudut bibirnya. Senyum yang tidak sampai matanya. "Benar. Aku selalu percaya itu. Jadi aku akan selalu percaya. Appa menyayangiku. Menyebutku anak sial hanya karena sedang marah dan lelah."
Hera mengerjapkan mata menahan embun yang menggantung. Diraihnya tangan kurus itu. Diusapnya penuh kehangatan. "Cha, kita turun bantu eomma memasak, ne?"
Henry menutup pintunya seirama dengan perginya Kyuhyun dan Hera. Sudah tidak ada yang bisa dia intip. Ibu dan anak itu pergi tanpa sadar dirinya mengintip di balik pintu. Henry menyandarkan kepala, melipat kedua kaki. Dirinya yang sejak awal duduk di lantai, meratapi sesuatu. Kini kembali tenggelam dalam ratapannya. Dirinya memandang kosong atap internit kamar.
Air matanya mengalir mengingat pertengkaran orang tuanya. Dia mendengar sendiri bagaimana mereka saling meneguhkan pendirian. Berteriak satu sama lain mengabaikannya yang berada dalam satu mobil. Beruntung mereka masih selamat hingga sampai rumah dengan separuh perjalanan dihabiskan dalam kebisuan.
'Aku sudah cukup dewasa tanpa seorang ayah. Jadi ini sudah berakhir. Aku akan menerimanya.'
Hanya sebuah kalimat yang dirapalkannya dalam hati untuk menegarkan diri dari keputusan sang ibu yang ingin bercerai dengan sang ayah. Kim Young Woon bukan ayahnya sejak awal, mereka terikat sebagai ayah dan anak dalam sebuah hubungan keluarga. Jika perceraian terjadi dirinya tidak mungkin akan mengikuti sang ayah. Jadi dia yang selalu haus akan kasih seorang ayah akan mengakhiri keserakahannya sampai keputusan itu.
Tapi tetap saja rasa sedih dan kecewa menusuk hatinya. Dia tidak pernah ingin hubungannya dengan Young Woon berakhir.
Kenapa?
Kenapa bercerai?
Eomma, aku ingin seorang ayah!
0o0o0o0o0
"Hyung, kau terlihat kacau." komentar Hankyung yang menerima Leeteuk di ruangannya.
"Anjing kecil itu seenaknya saja. Pergi sesukanya membuatku cemas. Dia masih demam. Semalam saja tidak berhenti mengigau. Sialnya aku baru melihat secarik kertas pesan yang ditinggalkannya di meja setelah aku kelabakan mencari bocah itu. Benar-benar." omel Leeteuk yang sepertinya sangat kesal bercampur cemas. "Dia bahkan tidak mengatakan kemana dia pergi."
Hankyung terkekeh. "Kau seperti seorang ayah, hyung."
Leeteuk menatap Hankyung tidak setuju! Menikah saja dia belum, punya anak dari mana. Hankyung mengibaskan tangan menyudahi percakapan itu. Ada hal lain yang ingin dia bicarakan dengan Leeteuk.
"Kita sudah mengajukan beberapa berkas permohonan bantuan kepada beberapa yayasan peduli beberapa hari lalu. Tiga dari lima yang disebar sudah mengirim jawabannya. Semua menolak karena mereka sudah tidak ada kuota lagi."
Leeteuk mendesah kecewa. "Masih ada dua." namun dia masih optimis.
Hankyung mengangguk. "Tapi kurasa masih harus menunggu hingga tahun depan." meringis melihat bagaimana Leeteuk segera melempar tatapam tajam kepadanya.
"Jika semua ditolak, aku akan mengajukannya lagi dan lagi. Aku juga tidak keberatan dengan menggunakan uang pribadiku. Anak itu harus segera naik meja operasi."
Hankyung mengangguk. "Aku juga akan membantu sebisaku."
Asisten Hankyung meminta masuk dan menyerahkan sebuah amplop. Yang berisi penolakan sekian untuk bantuan yang dia ajukan. Menurunkan sedikit optimisme mereka.
"Tinggal yayasan rumah sakit ini?" tanya Leeteuk menerawang. Benar berkas pengajuan yang tersisa yang belum mengirim surat penolakan adalah rumah sakit ini.
"Aku harap, Siwon menaruh perhatian pada berkas yang kumasukkan." harap Hankyung.
0o0o0o0o0
Heechul mengutak atik ponselnya sejak tadi. Keningnya mengerut serius. Pemandangan itu jadi perhatian pegawainya. Mereka tahu apa yang berusaha dilakukan bosnya yang berharap kabar dari Kyuhyun yang tidak kunjung datang ke café untuk bekerja.
Masalahnya anak itu tidak memberi kabar kepada siapapun di café. Membuat semua orang menjadi cemas.
Heechul nampak antusias membuka kotak pesan yang muncul tiba-tiba. Dia membacanya dengan cepat.
'Maaf Heechul hyung, aku ijin untuk hari ini.'
Heechul ingin meremas ponselnya. Mengumpat dalam hati pesan singkat pegawai termudanya. Dia meminta ijin tanpa memberinya penjelasan. Dengan bernafsu Heechul mengalihkan menu pesan menjadi kontak, menekan salah satu nomor untuk dihubungi.
"YA! Leeteuk! Ada apa dengan Kyuhyun?! Apa dia masih merasa sakit?!" sembur Heechul kepada orang yang dihubunginya.
"Apa maksudmu? Anak itu tidak datang untuk bekerja! Hey, kau tinggal bersamanya bagaimana kau tidak tahu dia pergi kemana, ha! Aish!"
Heechul memandang ponselnya lebih geram sekarang. Leeteuk menutup sambungan begitu saja. Dengan sedikit membanting, ponsel di taruhnya di meja kasir. Heechul melipat tangan di dada. Masih mencemaskan bocah satu itu.
"Apa maksudnya? Kyuhyun menghilang?" belalak Ryewook.
Sungmin menggeleng. "Mana mungkin?"
"Ahhh mood si bos jadi kacau." keluh Eunhyuk.
Donghae diam saja membereskan meja bekas pelanggan. Gerakannya berhenti saat sebuah ide melintas di kepalanya. Setelah pulang kerja dia akan mampir ke flatnya Kyuhyun jika memang masih tidak ada kabar dari Kyuhyun.
TBC
Sima Yu'I
(SY'I)
Terima kasih untuk reviewer, yang fav dan follow. Terima kasiiiiiiiiiii sekali pokoknya.
Yang untuk bagian pengajuan berkas permohonan bantuan dana, maafkan kalau ada kesalahan prosuder atau apapun itu yg gak sesuai. Karena saya benar benar kagak tahu soal yang begituan. Itu cuma pengkhayalanku saja, mungkin saja seperti itu jadi aku tulis seperti itu. Hehehe. Maafkan pokonya kalau gak sesuai realita. Yak. Kalau ada yang mau benerin malah saya senang.
Sekali lagi terima kasih untuk kalian semuaaaaaa.
