Dark Love
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Rating : T-M
Warning : AU, OOC, Gaje, Alur kecepetan, Ide pasaran, Typo (s)
Original story by Crystal94
if there are similarities story was just a coincidence
.
.
-Dark Love 3-
Flashback 1
6 month ago.
London Heathrow International Airport
Hinata menarik koper hitamnya setelah turun dari pesawat yang ditumpanginya. Melirik jam tangan di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 PM. Itu berarti sudah 2 jam lebih dirinya pergi meninggalkan negara kelahirannya. Sebenarnya bukan tanpa alasan kenapa gadis itu berada disini.
Hinata mendengus kesal setelah mengingat kembali perdebatan dirinya dengan ayahnya sebelum gadis itu memutuskan untuk terbang ke kota ini. Untuk kesekian kali, dirinya harus mengalah dan menuruti perintah ayahnya itu. Lagi-lagi Hyuuga Hiashi, dengan seenaknya menyuruh Hinata untuk terbang ke London sebagai perwakilan dari Hyuuga Corporation. Hanya untuk menghadiri acara yang diadakan oleh rekan bisnis ayahnya itu, Hinata terpaksa harus terbang jauh-jauh kesini.
Sebenarnya Hinata sudah membujuk kakak sepupunya, Hyuuga Neji untuk menggantikannya. Namun ayahnya bersikeras ingin Hinata yang pergi dengan dalih sekalian memperkenalkan diri sebagai penerus baru dari Hyuuga Corporation. Apa-apaan itu, Hinata membatin kesal. Dengan wajah masamnya Hinata membawa kakinya hingga melewati tulisan 'Exit' dari bandara ini.
Hinata segera memasuki salah satu Taxi yang sudah berjejer menunggu untuk membawa para penumpang ke tempat tujuannya.
"Where your destination, miss?" supir Taxi melirik Hinata dari cermin mobilnya.
"Please take me to the hotel 45 Park Lane, sir."
"Yes miss." Supir taxi itu mulai menancapkan gasnya ke tempat tujuan Hinata.
Hinata menyandarkan punggungnya dan mulai mengedarkan pandangan kearah jendela mobil yang berada disampingnya. Hari sudah mulai larut, namun masih banyak orang yang berlalu lalang di kota besar ini. Beberapa ada yang terlihat sedang menikmati makan malam bersama orang terkasihnya atau sekedar hanya duduk santai sambil menikmati pemandangan kota London yang terlihat indah di malam hari.
Hinata tersentak saat mendengar handphonenya berdering. Dengan segera gadis itu mengambilnya dari dalam slingbagnya dan segera menggeser tombol hijau saat melihat siapa yang menelfonnya.
"Halo ayah?"
"Hinata? Kau sudah sampai nak?"
"Aku sedang dalam perjalanan menuju Hotel."
"Syukurlah." Terdengar helaan nafas lega dari seberang telfon, Hinata hanya tersenyum masam.
"Ada apa, ayah?"
"Tidak ada apa-apa, ibumu hanya khawatir kau pergi sendirian kesana."
"Katakan pada ibu aku akan baik-baik saja disini."
"Baiklah, aku harap kau tak mengecawakanku nak. Aku sudah menghubungi rekan bisnisku itu bahwa kau yang akan datang sebagai perwakilan dari Perusahaan. Ah, jangan lupa sampaikan permintaan maafku karena tak bisa hadir dalam acara itu."
Hinata diam sejenak dan mulai menghembuskan nafasnya perlahan. Lagi-lagi soal ini, batin Hinata sebal.
"Nak? Kau mendengarkanku?"
"Ah..iya ayah."
"Baiklah, nikmatilah acaranya. Ku harap kau bisa bersenang-senang disana. Selamat malam."
"Ya..tentu saja ayah, selamat malam." Apanya yang senang-senang, Hinata mendengus kesal.
Hinata mengedarkan pandangannya, ternyata ia sudah sampai di tempat tujuannya. Gadis itu segera keluar dari Taxi dan mengambil kopernya. Setelah membayar Taxi yang baru saja ditumpanginya dan mengucapkan terima kasih kepada supir Taxi itu. Hinata segera melangkahkan kakinya menuju bangunan megah yang ada di hadapannya. Dapat dilihat tulisan "45 Park Lane" bertengger manis diatas gedung hotel itu.
Jika dilihat hotel itu memang tidak terlalu besar, namun ketika masuk ke hotel ini, para tamu akan merasa santai namun tetap berbalut kemewahan. Bergaya boutique hotel kontemporer, hotel ini memiliki kamar-kamar yang luas dengan suguhan pemandangan menawan dari Kota London.
45 Park Lane juga terkenal dengan hidangan-hidangan kelas dunia yang super lezat. Hinata berjalan melewati loby hotel dan berhenti tepat dibalik meja Resepsionis. Gadis itu segera menanyakan nomor kamar khusus yang sudah disiapkan untuk para tamu yang akan menghandiri acara yang akan diadakan besok malam. Perempuan yang bekerja dibalik meja Resepsionis tersenyum ramah dan dengan sopan menyuruh Hinata untuk menunggu sebentar saat kamar inapnya sedang di cek.
Sesaat Hinata mencium bau mint yang menguar masuk indera penciumannya. Gadis itu melirik pemuda tinggi yang berdiri disebelahnya. Pemuda itu memakai setelan jas hitam dan kemeja berwarna navy tanpa dasi yang melekat ditubuhnya, jangan lupakan kacamata hitam juga bertengger manis di hidung mancungnya. Hinata juga menyempatkan diri untuk melirik koper berwarna biru yang berada dalam genggaman pria itu.
Hinata menoleh setelah mendengar pekikan dari salah satu perempuan dibalik meja Resepsionis itu. Rona merah menjalar di kedua pipi perempuan itu, dengan malu-malu pekerja itu menanyakan 'there anything I can do?' kepada pemuda yang berada dihadapannya. Setelah beberapa saat, pekikan demi pekikan mulai terdengar dari para tamu perempuan yang berada di hotel ini. Hinata menaikkan sebelah alisnya dan mendengus sebal mendengar suara berisik yang mengganggu indera pendengarannya.
"Oh my Lord, he is Uchiha Sasuke!" ucap salah satu tamu yang berada di loby hotel ini.
"Jeez! He is so sexy!" dan masih banyak lagi decakan decakan kagum yang keluar dari mulut para perempuan itu.
Yang jadi pusat perhatian justru hanya diam dan tetap memasang wajah coolnya. Pemuda itu menanggalkan kacamatanya yang justru semakin membuat para perempuan berteriak histeris. Hinata dapat melihat mata hitam kelam pemuda itu, warna yang sangat kontras dengan iris amethystnya. Beberapa saat kemudian Hinata tak begitu memperdulikannya dan bergegas mengambil kunci kamarnya setelah Resepsionis mengatakan "your room is on the 7 floor number 12, Miss Hyuuga."
Hinata segera melangkahkan kakinya menimbulkan bunyi stilleto hitam yang dipakainya dan mendorong kopernya menuju lift. Menekan angka 7 dan pintu lift mulai tertutup perlahan. Namun, sebelum benar-benar tertutup Hinata melihat pemuda tampan yang sedari tadi jadi pusat perhatian itu. Pemuda itu sedang melihat kearahnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Untuk pertama kalinya, iris amethystnya bertabrakan dengan onyx kelam pemuda itu.
Tanpa Hinata sadari, pemuda itu menaikkan sudut bibirnya dan segera melangkahkan kakinya setelah mengambil kunci kamarnya sesaat setelah Resepsionis mengatakan "your room is on the 7 floor number 11, Mister Uchiha."
End of Flashback.
-Dark Love 3-
Hinata memasang wajah masamnya sesaat setelah dirinya duduk dihadapan 'Rekan bisnis ayahnya'. Hinata tak menyangka ternyata rekan bisnis ayahnya adalah pemuda yang beberapa hari lalu ditemuinya dan dengan kurang ajarnya membuat dirinya meledak saat itu.
Siapa lagi kalau bukan pemuda tampan yang saat ini sedang asik menghisap putung rokoknya sambil melemparkan tatapan mengejek kepada gadis itu. Uchiha Sasuke, kenapa harus laki-laki brengsek ini lagi! Hinata berteriak kesal dalam hati. Sasuke menyeringai saat melihat wajah gadis itu yang memerah seperti sedang menahan marah. Sasuke menghisap putung rokoknya dan menghembuskan asap rokoknya sekali lagi sebelum meletakkannya di asbak rokok yang tersedia.
"Seharusnya aku menolak permintaan ayah." Gumam Hinata pelan yang sialnya didengar pemuda itu.
"Kau menyesal datang kesini?"
"Sangat." Ucap Hinata penuh penekanan dan menatap tajam wajah Sasuke.
"Jeez! Berhentilah menatapku seperti itu. Kau membuatku semakin bergairah."
Hinata mengerutkan keningnya dan semakin menajamkan pandangannya saat mendengar perkataan ambigu dari pemuda itu. Sasuke hanya terkekeh pelan dan menyesap kembali wine yang sudah dipesannya sejak tadi.
"Ah baiklah-baiklah. Mari kita mulai rapat ini nona Hyuuga."
"Aku tak menyangka ayahku memiliki rekan bisnis sepertimu." Sasuke hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Hinata.
"Well, sebenarnya bukan aku rekan bisnis ayahmu sebelumnya, tapi ayahku." Hinata mendengus sebal sambil membuka lembaran-lembaran dokumen dengan kasar.
"Sayang sekali, padahal aku lebih memilih ayahmu dari pada kau." Sasuke yang mendengar perkataan Hinata hanya tersenyum kecil dan dengan santai menopang dagu dengan sebelah tangannya saat melihat wajah merengut Hinata.
"Sayangnya ayahku mempercayaiku untuk mengambil alih Perusahaannya, babe."
Hinata mendelik kesal saat mendengar panggilan yang dilontarkan Sasuke. Apa-apaan dia ini! Batin Hinata kesal. Hinata mulai menghembuskan nafasnya perlahan guna menetralisir detak jantungnya yang mulai menggila. Laki-laki dihadapannya ini memang selalu berhasil membuat dirinya meledak.
Sesaat keduanya larut dalam rapat bisnis yang mereka bicarakan. Mereka fokus membicarakan rencana-rencana untuk kedepannya, goal goal yang pastinya bisa menguntungkan untuk kedua Perusahaan besar itu. Sesekali Sasuke melamun hanya untuk memandangi wajah gadis bermata amethyst itu, tidak jarang Hinata dibuat kesal karena harus mengulangi perkataan-perkataan yang sudah susah payah ia lontarkan.
"Bisa kau fokus sedikit Tuan Uchiha?!" Hinata mendesis sebal kearah Sasuke.
"Tentu saja." Sasuke menganggukkan kepalanya, Namun pandangannya tak beralih dari belahan dada Hinata yang terekspos dari balik kemeja kerjanya.
"Matamu melihat kemana?!"
Dengan santai Sasuke menunjuk belahan dada Hinata dengan dagunya. Dengan wajah merahnya Hinata mulai menutup bagian sensitifnya dengan kedua tangannya dan siap menyumpah serapahkan si Uchiha mesum yang ada dihadapannya.
"Hei kenapa ditutup?" Sasuke merengut dengan wajah melasnya saat pemandangan indahnya terhalangi oleh kedua tangan pucat gadis itu.
"Aku akan mencongkel kedua matamu Uchiha Sasuke!" Ucap Hinata menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun. Sasuke hanya terkekeh pelan dan menghembuskan nafasnya pelan.
"Oke oke maafkan aku, lebih baik kita istirahat sebentar. Memesan makan siang mungkin tidak buruk?"
Hinata hanya diam menanggapi ucapan laki-laki itu. Dirinya masih kesal dengan sikap kurang ajar laki-laki itu. Sasuke yang melihat Hinata yang diam saja menganggap diamnya gadis itu sebagai persetujuan.
Setelah memesan beberapa menu makan siang. Keduanya larut dalam perbincangan di tengah-tengah kegiatan mengunyah makanan yang mereka pesan.
"Jadi..kau bukan seorang pelayan tetap di club itu?" Hinata yang sedang asik mengunyah makanannya hanya melirik Sasuke sekilas.
"Kenapa kau ingin tau?"
"Tentu saja, semua hal tentang dirimu tak ada satupun yang boleh terlewatkan." Sasuke menyeringai tipis saat melihat wajah kesal Hinata.
"Berhenti menggodaku."
"Aku tidak akan berhenti sebelum kau menjawabnya." Hinata menghela nafas dan merutuk diri pemuda dihadapannya ini. Sifat keras kepala Sasuke yang sangat dibenci Hinata, padahal sifat itu ada pada dirinya juga.
"Ya..aku hanya iseng saja, anggap saja sebagai pelarian diri karena aku tak mau mengambil alih Perusahaan."
Hinata melirik Sasuke yang hanya diam saja memandang wajahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Hinata mengerutkan keningnya saat melihat diamnya pemuda itu. Sesaat kemudian Hinata bisa merasakan tangan pemuda itu yang menekan sudut bibirnya dan menggeser jarinya untuk membersihkan sisa saus Spaghetti yang menempel disudut bibir gadis itu.
Hinata yang tidak siap dengan perlakuan pemuda itu segera menyingkirkan tangannya dan berteriak histeris.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Hinata berteriak dan menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya. Pandangan semua orang yang berada di restoran itu tertuju pada gadis berambut indigo.
Sasuke hanya mendesah pelan dan menarik kembali tangannya. Melihat reaksi Hinata entah kenapa membuat dirinya semakin senang untuk menggoda gadis yang ada dihadapannya ini.
"Hei tenanglah. Aku hanya membersihkan sisa saus yang menempel di bibirmu. Kenapa kau histeris sekali?"
Hinata hanya diam tak menanggapi ucapan pemuda itu. Wajahnya merah antara menahan malu dan juga marah. Sial! Lagi-lagi jantungnya berdetak tak karuan.
-Dark Love 3-
"Butuh tumpangan?" Sasuke berdiri disamping Hinata setelah mereka keluar dari Restoran beberapa menit yang lalu.
"Tidak perlu."
"Kemana mobilmu?"
"Sedang di service."
"Kau yakin tak mau? Sebentar lagi akan hujan."
Hinata membenarkan ucapan pemuda itu. Awan sudah mulai menggelap dan suara gemuruh sudah mulai terdengar. Angin dingin pun sudah berhembus menusuk tulang-tulang tubuhnya yang terbalut mantel hitamnya. Perlahan-lahan tetesan air mulai turun membasahi kepala dan wajah gadis itu. Namun, beberapa saat kemudian hujan mulai turun secara berkeroyok dan membasahi kota Tokyo.
Sasuke segera mendorong gadis itu masuk kedalam mobil Camero hitamnya. Tanpa memperdulikan protes yang dilontarkan gadis itu, Sasuke segera memutar jalur dan masuk ke dalam mobil dan duduk dibalik kursi kemudi. Hinata memandang Sasuke kesal karena lagi-lagi dirinya harus bersama dengan pemuda keras kepala ini.
Sasuke menancapkan gasnya dan membelah jalan kota Tokyo yang basah dengan air hujan. Hujan semakin deras dan angin besar pun tak dapat dihindari. Sasuke melirik gadis yang duduk disampingnya yang sedari tadi hanya diam memandang keluar jendela. Sasuke dapat melihat pakaian gadis itu yang sedikit basah dan ditambah rok hitam pendeknya yang semakin memperlihatkan paha sexynya. Apa-apaan rok pendek itu! Rutuk Sasuke dalam hati. Bagaimana kalau ada laki-laki mesum yang melihat kaki jenjang gadis itu dengan pandangan lapar. Sadarlah Sasuke kau sendiri juga mesum!
"Sepertinya akan ada badai. Lebih baik kita mampir ke rumahku dulu."
"Apa? Tak perlu! Turunkan aku di halte bis saja."
"Aku tak menerima penolakan, babe."
Hinata melotot mendengar ucapan pemuda itu. Percuma berdebat dengan pemuda ini, yang ada hanya membuang-buang tenaga saja, pikir Hinata kesal.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mobil Camero hitam milik Sasuke memasuki pekarangan Penthouses pribadinya. Mereka berdua segera turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah itu, sesaat Hinata terdiam melihat bangunan megah dihadapannya. Gadis itu tak menyangka bahwa Sasuke benar-benar membawanya ke kediaman pribadi pemuda itu. Hinata pikir Sasuke tinggal di Apartement sama seperti dirinya. Sasuke yang melihat Hinata diam tak kunjung bergerak dari tempatnya hanya mengerutkan keningnya bingung.
"Hei, kau mau mati kedinginan? Cepat masuk." Hinata segera tersadar dan mengikuti pemuda itu memasuki rumahnya.
Setelah masuk, Hinata dapat melihat ruang utama rumah ini. Ada beberapa sofa beludru berwarna navy yang terletak di tengah ruangan, tak lupa juga ada televisi LCD tertempel manis di dinding rumah ini. Selanjutnya, dapat Hinata lihat diseberang ruangan ada Kitchen Room dan meja bartender yang saling menghubungkan satu sama lain. Disamping Kitchen Room itu sendiri, terdapat sebuah tangga yang Hinata yakini akses untuk menuju kamar pribadi pemuda Uchiha itu.
Penthouses ini di dominasi dengan kaca tembus pandang yang dapat memanjakan mata siapa saja untuk bisa melihat langsung pemandangan kota Tokyo. Setelah puas menjelajahi ruangan ini, Hinata melirik Sasuke yang sedang bersandar di meja bartender sambil meminum bir kaleng yang baru saja ia ambil dari lemari pendingin.
"Sudah puas melihat-lihatnya?" Sasuke menyeringai melihat gadis itu yang hanya diam sambil memasang wajah datarnya.
Sasuke berjalan kearah Hinata dan mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. Hinata refleks menahan dada bidang Sasuke yang hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya.
"Mau ke kamarku?" bisik Sasuke parau.
Dengan sekuat tenaga Hinata mendorong Sasuke agar menjauh dari tubuhnya. Hinata memalingkan wajahnya guna menghindari tatapan intens yang diberikan pemuda itu.
'Sialan kenapa aku harus terjebak dengannya lagi!' Teriak Hinata dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Gahhh! akhirnya chapter 3 udah up lagi guys! Dan lagi-lagi aku menyempatkan diri untuk update-kilat hahahahah
Gimana nih hubungan Sasuke x Hinata yang semakin hari penuh dengan cinta #eaaa btw itu aku udah kasih tau sebagian flashbacknya waktu mereka di London. Emang belum semuanya sih, tapi sengaja biar kalian makin penasaran buahahah ;p
Sebenarnya itu ide temenku juga sih *colekkeraton makasih ya kanjeng udah bantuin ngasih ide xD
Oiya satu lagi, maapkan aku kalo sasukenya mesum wkwk soalnya ide itu terlintas begitu aja dipikiranku. Tapi gpplah ratenya aja T semi M kok HAHAHAH maaf juga ya kalo dalam penulisan ffnya masih ada yg kurang-kurang, mohon dimaklumi..
By the way aku mau berterima kasih kepada kalian semua yang sudah mau membaca dan terutama mau mereview ff butut ini dan untuk siders juga, thankyou so much!. Aku sangat2 tersanjung buat kalian yang udah mau menyempatkan diri untuk review, aku tunggu reviewan kalian selanjutnya pleasee #maksa.
maaf ya kalo masih kurang panjang ceritanya, untuk kedepannya aku usahain untuk lebih panjang lagi ;)
Udah segitu aja cuap2nya, semoga kalian masih suka dengan ff ini. See you next chapter! Bye!
.
.
.
Mind to review?
.
.
.
Crystal94
