Dark Love
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Rating : T-M
Warning : AU, OOC, Gaje, Alur kecepetan, Ide pasaran, Typo (s)
Original story by Crystal94
if there are similarities story was just a coincidence
.
.
-Dark Love 4-
Flashback 2
Hinata memasukkan kunci kamarnya setelah dirinya sampai di depan pintu kamar bernomor '12'. Setelah pintu terbuka, Hinata segera masuk sambil menyeret koper hitamnya dan mengunci kembali pintu kamar inapnya. Hinata mengedarkan pandangannya mengamati tatanan yang tersusun rapih di kamar hotelnya. Hinata dapat melihat, di sebelah kanan pintu masuk ada sebuah pintu yang Hinata yakini sebuah bathroom. Lalu di sebelahnya lagi, ada sebuah lemari untuk meletakkan beberapa pakaiannya.
Hinata melangkahkan kakinya dan mulai terlihatlah sebuah kasur king size yang terbalut seprai putih. Di atas Kasur itu sendiri terdapat sebuah lukisan klasik sebagai hiasan kamar. Lalu ada sebuah cermin hias yang berada di sebelah kiri ruangan, diseberang tempat tidurnya. Hinata mulai merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas pelan. Penerbangan dari Jepang ke London ternyata cukup melelahkan.
Hinata bangkit berdiri dan mulai melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan yang terpisah dari kamar tidurnya. Disana terdapat beberapa sofa beserta meja dan juga Televisi LCD yang menempel di dinding ruangan itu. Hinata berjalan mendekati pintu kaca geser, membuka pintu itu dan berjalan menuju balkon. Sesaat dirinya dapat merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya. Suasana malam kota London cukup dingin, Hinata mengamati pemandangan indah di hadapannya.
Memejamkan matanya sejenak dan menerawang mengamati lampu yang berkelap kelip yang berada di gedung-gedung tinggi. Sesaat pikirannya melayang mengingat pemuda yang tadi berdiri di sebelahnya. Pemuda yang jadi pusat perhatian orang-orang dan berhasil membuat para perempuan berteriak histeris saat melihat wajah tampannya. Hinata mengerutkan keningnya dan mulai mengingat kembali nama pemuda itu, yang tadi sempat di sebutkan perempuan-perempuan yang memuja dirinya.
"Oh my Lord, he is Uchiha Sasuke!"
Hinata menghembuskan nafasnya pelan, Uchiha, sepertinya nama itu terasa familiar di telinganya. Kalau di lihat dari perawakan pemuda itu, Hinata yakin pemuda itu juga berasal dari Jepang sama seperti dirinya. Entahlah, ia tak mau ambil pusing untuk urusan seperti itu. Hinata segera melangkah masuk menuju kamar tidur setelah menutup kembali pintu geser itu. Hinata mengganti bajunya dengan gaun tidur dan siap merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Dengan perlahan, gadis itu mulai memejamkan matanya dan siap memasuki alam mimpi yang sedang menantinya.
.
.
.
Di sisi lain pemuda Uchiha itu sedang berdiri di balkon kamar hotelnya, menghisap putung rokoknya sambil melihat pemandangan indah yang terpampang di hadapannya. Menghembuskan asap rokoknya dan memijat pangkal hidungnya perlahan. Sesaat pikirannya melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu. Saat dirinya sedang berada di meja Resepsionis untuk menanyakan letak kamarnya.
Pada saat itu juga, para perempuan mulai berteriak histeris saat melihat dirinya. Sebenarnya Sasuke tidak terkejut atas respon orang-orang tadi. Nama keluarganya cukup berpengaruh di Luar Negeri, tidak terkecuali London. Tidak jarang banyak media yang menyorot kehidupan Uchiha, termasuk dirinya. Perusahaan keluarganya, Uchiha Corporation cukup dikenal orang-orang di luar sana. Terlebih lagi, ayahnya sering sekali mengadakan proses kerja sama dengan Perusahaan-perusahaan besar di Luar Negeri.
Sasuke jadi teringat dengan gadis yang berdiri di sebelahnya. Gadis mungil berambut indigo dan bermata amethyst. Satu-satunya gadis yang tidak berteriak histeris saat melihat dirinya. Raut wajahnya datar dan terkesan tidak perduli pada apa yang terjadi di depannya. Saat melihat Sasuke pun gadis itu hanya diam saja dan langsung mengabaikannya. Sasuke tersenyum kecil saat mengingat kejadian itu. Apa mungkin gadis itu tak mengenali dirinya. Hei siapa yang tak mengenal Uchiha! Terlebih Uchiha bungsu yang satu ini.
"Hyuuga ya..cukup menarik." Gumamnya sambil berjalan menuju kamar tidurnya.
.
.
-Dark Love 4-
.
.
Hinata mendudukkan dirinya di sebuah sofa coklat beludru. Matanya focus menatap layar televise di hadapannya. Melirik jam dinding yang terdapat di ruangan itu, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 PM. Masih ada 1 jam 30 menit lagi sebelum acara yang di adakan di hotel ini di mulai. Sambil mengunyah salad yang tadi di pesannya, pandangan matanya focus menonton siaran berita yang sedang di tayangkan.
Hinata menatap datar layar televisi di hadapannya. Saat ini berita tentang keluarga Hyuuga sedang di sorot di chanel International. Di layar itu, sosok ayahnya muncul sedang di wawancarai dengan para wartawan. Dari beberapa jawaban yang di lontarkan ayahnya, salah satu jawaban membuat raut wajah Hinata cemberut. Ayahnya dengan bangga, memberitahu bahwa Hyuuga Corporation akan di serahkan kepada penerus barunya, yaitu putrinya.
Hinata menghela nafas pelan, berapa kalipun dirinya menolak untuk mengambil alih Perusahaan itu, ayahnya tetap akan memaksanya. Ayahnya bersikeras ingin dirinya tetap menjadi penerus Hyuuga Corporation. Sepertinya memang tak ada cara lain selain menuruti saja keinginan ayahnya itu.
Beberapa saat kemudian, siaran berita berubah menyorot salah satu topik yang sedang hangat. Hinata mengerutkan keningnya saat melihat judul berita yang terpampang di layar televisi. 'The new successor Uchiha Corporation has been announced, namely Uchiha Sasuke'. Munculah sosok pemuda bermata onyx yang tadi malam di temuinya. Di sebelah pemuda itu, berdiri seorang laki-laki paruh baya yang Hinata yakini ayah dari pemuda itu.
Hinata menaiki sebelah alisnya saat memfokuskan matanya pada acara berita yang sedang di siarkan. Mengamati dan mendengarkan dengan seksama acara berita itu. Para wartawan mulai menyerbu pemuda Uchiha itu dengan beberapa pertanyaan. Hinata mengangkat bahunya dan menekan tombol off pada remote TV. Gadis itu mulai melangkah menuju kamar mandi, mempersiapkan diri untuk datang ke acara pesta.
.
.
Sasuke berjalan melangkahkan kakinya ke dalam Ballroom hotel, tempat acara di adakan. Pemuda itu memakai kemeja berwarna putih, Vest biru dongker dan setelan Tuxedo dengan warna senada dengan Vestnya, jangan lupakan dasi hitam melekat untuk melengkapi penampilan pemuda itu. Sesaat seluruh perhatian menuju ke arahnya, terutama para tamu perempuan. Mereka menahan pekikan mereka agar tidak berteriak histeris dan mengundang banyak perhatian orang-orang.
Sasuke tetap berjalan dengan memasang wajah dinginnya, tipikal Uchiha. Tak terlalu memperdulikan perhatian dan bisikan para tamu yang tertuju pada dirinya. Sasuke berjalan menghampiri sang pemilik acara, Mr. Charles William, bermaksud untuk mengucapkan selamat sekaligus menyapa rekan bisnis ayahnya.
"Congratulations on your success, ." Sasuke mengulurkan tangannya sambil tersenyum tipis.
"Thank you very much, ." laki-laki paruh baya itu membalas jabatan tangan Sasuke dan memberikan senyum cerahnya.
"I'm sorry, because my father wasn't able to come to this event."
"Ah, no problem. I'm glad you took the time to come." Sasuke tersenyum membalas ucapan . Lalu dirinya pamit bermaksud untuk menikmati acara ini.
"Enjoy your time, ."
Sasuke segera pergi meninggalkan sang pemilik acara. Sasuke mengambil segelas Sampanye yang tersedia di meja panjang, disertai beberapa hidangan kelas dunia lainnya. Sesekali dirinya berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya yang turut hadir di acara itu. Sekedar untuk menyapa dan menanyakan kabarnya.
Tak lama kemudian, Sasuke mendengar pekikan seorang laki-laki yang berada tak jauh dari dirinya.
"Damn! who is that girl?! she looks gorgeous!" sasuke melirik laki-laki itu. Sasuke bisa melihat mulut laki-laki itu yang sedikit menganga dengan pandangan mata yang berbinar.
Sasuke mengikuti pandangan arah laki-laki itu, Sasuke menyeringai saat melihat siapa yang datang dan membuat para laki-laki itu memekik tertahan. Sasuke melihat seorang gadis berambut indigo sedang berjalan menuruni tangga. Gadis itu berbalut Halter Prom Dress berwarna Navy Blue. Salah satu kaki jenjangnya terekspos karena belahan gaun yang mencapai sampai pertengahan pahanya. Stiletto shoes berwarna senada dengan gaunnya menghiasi telapak kakinya, jangan lupakan rambut panjangnya sengaja ia gerai dan salah satu sisi rambutnya diselipkan di telinga, memakerkan anting berlian berbatu oval.
Gadis bernama Hinata yang sedang menjadi pusat perhatian beberapa pria itu, hanya diam tak menanggapi. Dirinya terus melangkahkan kakinya, berjalan menghampiri sang pemilik acara. Sasuke masih terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu, sesekali sambil menyesap Sampanyenya. Alisnya tertekuk saat melihat dengan sengaja mengecup kedua pipi gadis itu. Sasuke menghembuskan nafasnya dengan kasar, entahlah dirinya bergejolak marah saat melihat gadis itu mulai di kelilingi beberapa pria.
Sasuke bertambah kesal, saat melihat pria berambut merah menghampiri Hinata dan membawanya menuju meja panjang. Mereka asik berbincang, bahkan sesekali gadis itu memperlihatkan senyumnya. Sasuke segera mentandaskan isi Sampanyenye hingga habis dan meletakkan gelasnya di meja kaca yang berada di sampingnya. Sasuke memandang datar wajah gadis itu, hingga saat gadis itu melangkahkan kakinya seorang diri dan berjalan melewati dirinya.
'Sial! Aku tidak tahan!' batin Sasuke kesal.
Sasuke segara menarik pergelangan tangan Hinata hingga wajah gadis itu hampir menabrak dada bidangnya. Hinata membelalakan matanya atas perilaku tiba-tiba yang diberikan pemuda itu padanya. Dengan perlahan Hinata mendongakan kepalanya, menatap wajah pemuda itu. Mata kelam itu, Hinata sempat melihat mata itu saat kejadian di loby hotel sehari yang lalu. Sesaat dirinya larut saat pandangan mereka bertemu.
Hinata mengerutkan keningnya saat telapak tangan pemuda itu mengusap pipinya pelan. Salah satu tangan pemuda itu juga berpindah ke pinggangnya.
'Apa-apan pria ini! Bukankah dia ini..Uchiha Sasuke' Hinata bermonolog sendiri di dalam hati.
Hinata segera memasang wajah datarnya dan mendorong dada pemuda Uchiha itu. Namun sepertinya usahanya itu sia-sia, karena Sasuke tak ingin melepaskan Hinata barang sedikit pun.
"Bisa kau lepaskan aku, Tuan?" Hinata memandang malas wajah tampan di hadapannya.
"Tidak akan, sampai kapan pun." Hinata menyerngit mendengar ucapan pemuda ini.
"Oh ayolah, apa kau mabuk?" Hinata dapat mencium sedikit bau Sampanye dari hembusan nafas pria itu.
"Segelas Sampanye tidak ada apa-apanya bagiku."
Sesaat kemudian Hinata dapat melihat Sasuke memiringkan wajahnya dan gadis itu dapat merasakan benda kenyal yang melumat bibirnya. Hinata mengerjapkan matanya perlahan dan segera tersadar atas tindakan pemuda itu. Hinata mendorong dada Sasuke dengan sekuat tenaganya, namun hasilnya tetap nihil kerena kini tengkuknya sedang di tahan dengan tangan pemuda itu. Hinata memejamkan matanya erat, sedangkan Sasuke masih asik melumat bibir gadis itu.
Sesaat Hinata mulai larut dalam ciuman yang diberikan pemuda itu. Ciuman itu lembut, namun terkesan menuntut. Entahlah sudah semerah apa wajah Hinata saat ini. Perlahan, Hinata mulai merasakan pasokan udaranya menipis, Hinata juga dapat merasakan tangan pemuda itu yang mulai menggerayangi punggung indahnya yang terbuka. Hinata segara mendorong dada Sasuke dan..
PLAK!
Pandangan semua tamu kini beralih kearah dua sejoli yang saling berhadapan. Hinata mengelap bibirnya kasar dengan punggung tangannya. Gadis itu menatap tajam pemuda yang ada dihadapannya.
"Kau! Brengsek!" Hinata berdesis penuh penekanan sambil melangkahkan kakinya meninggalkan pemuda Uchiha itu.
"Shit!" Sasuke berdecak kesal saat melihat setitik darah di sudut bibirnya. Sepertinya tamparan keras gadis itu cukup membuat sudut bibirnya berdarah dan membuat telinganya berdenging. Namun, bukannya merasa bersalah, pemuda itu malah terkekeh pelan sambil memandangi punggung gadis itu hingga hilang di kerumunan para tamu yang masih memperhatikannya dan juga gadis itu. Dasar Uchiha!
Flashback End.
-Dark Love 4-
Hinata mengerjapkan matanya perlahan saat cahaya matahari masuk menusuk netra matanya. Setelah membiasakan matanya dengan cahaya matahari, dengan perlahan, matanya mulai terbuka sempurna. Gadis itu tak langsung bangkit, matanya memandang langit-langit kamarnya yang terasa berbeda. Well, Hinata sadar betul ada dimana dirinya saat ini.
Dengan perlahan gadis itu bangkit dan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Hinata menghembuskan nafasnya lega saat tubuhnya masih berbalut pakaian utuh. Meski pakaian yang dipakainya saat ini bukan miliknya. Hinata bangkit berdiri dan berjalan kearah kamar mandi, gadis itu menggulung rambutnya ke atas dan mulai membasuh wajahnya dengan air keran di Westafel.
Hinata mengingat-ngingat kembali bagaimana dirinya bisa terlelap di kamar tidur milik pemuda Uchiha itu. Wajahnya merona merah saat kejadian semalam telintas di wajahnya. Dimana Sasuke membawanya ke kamar pribadinya. Pemuda itu menyuruh Hinata untuk segera membersihkan diri dan mengganti baju kerjanya dengan pakaian milik Sasuke. Hinata sempat menolak, namun apalah daya pemuda itu tetap memaksanya. Hinata dengan terpaksa menuruti keinginan pemuda itu. Setelah selesai membersihkan dirinya, Hinata memakai kaos abu-abu yang sudah tersedia di atas tempat tidur milik pemuda itu. Well, ukurannya cukup besar memang, hingga panjangnya mencapai pertengahan pahanya. Untungnya celana strit yang sempat dipakainya tidak terlalu basah, jadi ia bisa mengenakannya kembali.
Setelah selesai berpakaian pintu kamar itu terbuka dan munculah sosok pemuda tampan. Hinata melihat Sasuke masih mengenakan kemeja kerjanya. Sepertinya pemuda itu belum membersihkan diri. Sasuke mengamati Hinata dari atas hingga bawah. Pemuda itu bersiul pelan dan menyeringai kearah gadis itu. Hinata hanya memandang datar pemuda dihadapannya itu. Sasuke berjalan mendekatinya dan tersenyum tipis kearahnya.
"Rasanya aku ingin memakanmu saja." Sasuke berbisik di telinga gadis itu dan menyeringai saat melihat rona merah yang menghiasi wajah putihnya.
"Sepertinya aku terjebak di tempat predator." Sasuke tergelak mendengar jawaban gadis itu, yah ucapan gadis itu tak sepenuhnya salah. Dirinya memang seorang predator yang siap menyerang gadis di hadapannya ini.
Sasuke menangkup wajah gadis itu dan mulai menempelkan bibirnya perlahan. Sasuke tak perduli jika kejadian di London akan terulang lagi, karena lagi-lagi dengan beraninya mencium gadis itu dengan seenaknya. Hinata terkejut dengan perlakuan Sasuke yang tiba-tiba. Hinata memandang wajah Sasuke yang sedang asik bermain dengan bibirnya, mata pemuda itu terpejam meresapi benda kenyal yang sedang di lumatnya.
'Ya Tuhan rasanya aku mulai gila' jerit Hinata dalam hati, kemudian semuanya menjadi gelap.
Sepertinya dirinya pingsan setelah menerima ciuman dari pemuda itu semalam. Hinata memandang wajahnya di cermin westafel. Wajahnya memerah sempurna setelah mengingat kejadian semalam. Dengan perlahan, Hinata mulai menghembuskan nafasnya pelan untuk menetralisir detak jantungnya. Setelah itu melangkahkan kakinya keluar kamar. Hinata mengamati rumah megah ini yang terlihat sepi.
'Mungkin dia belum bangun.' Gumam Hinata sambil melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
Hinata segera berjalan menuju Kitchen Room dan membuka lemari pendingin untuk mengambil sebotol air mineral. Sesaat gadis itu mendengar bunyi keruyuk dari dalam perutnya. Well, gadis itu belum sempat makan malam semalam. Dengan segera, Hinata segera membuka lemari pendingin dan melihat isinya. Ada beberapa bahan makanan yang bisa dijadikan sebagai sarapannya. Hinata segera mengambil beberapa lembar roti, telur dan juga daging bacon. Lalu mulai sibuk membuat sarapan untuk dirinya dan juga Sasuke.
Tanpa Hinata sadari sepasang onyx sedang mengamatinya dari belakang. Sasuke menyeringai melihat penampilan gadis itu. Dengan kaos abu-abu yang dipakainya hingga mencapai pertengahan pahanya, menampilkan kaki jenjangnya yang tak tertutupi apapun. Lalu rambut indigonya yang tergulung keatas, menampilkan leher putihnya. Pemandangan indah seperti itu tak mungkin terlewatkan oleh seorang Uchiha Sasuke.
Pemuda itu segera berjalan mendekati gadis yang sedang berkutik dengan kesibukannya itu. Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu lalu berbisik.
"Ya Tuhan, apa kau memakai sesuatu di balik kaos itu?"
Hinata terlonjak kaget saat mendengar suara berbisik seseorang. Dengan segera gadis itu membalikan tubuhnya dan melihat seseorang di hadapannya. Hinata memandang kesal kearah Sasuke, pemuda itu hanya memakai celana training hitam tanpa memakai apapun untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Dengan perlahan Hinata menghembuskan nafasnya untuk menetralisir detak jantungnya.
"Apa kau senang sekali berbisik di telinga seorang gadis?" Hinata memandang datar wajah pemuda itu. Sasuke hanya tersenyum tipis mendengar perkataan gadis itu.
"Yah begitulah, terutama denganmu."
Hinata membuang nafasnya kasar dan mengambil dua buah sandwich yang tadi sudah ia siapkan. Gadis itu berjalan melewati Sasuke dan meletakkan piringnya di atas meja bar.
"Maaf, aku lancang menggunakan dapurmu." Hinata berkata sambil mengunyah sandwich. Sasuke mengangkat kedua alisnya dan berdiri disamping gadis itu.
"Tak masalah, selagi itu dirimu."
"Berhenti menggodaku, idiot." Sasuke terkekeh pelan mendengar omelan gadis itu.
"Well, apa yang satunya itu untukku?" Sasuke berkata sambil melirik sepotong sandwich yang berada di piring gadis itu.
"Hm."
Sasuke tersenyum tipis dan membalikkan tubuh gadis itu untuk menghadapnya. Hinata mengangkat sebelah alisnya sambil terus mengunyah sandwichnya.
"Ada apa?"
Pemuda itu tak menjawab dan segera mengambil sebelah tangan gadis itu yang sedang memegang sandwich lalu mengarahkan ke mulutnya. Sasuke menggigit sandwich itu sambil menatap wajah Hinata. Hinata menahan nafasnya dan mencoba menarik tangannya.
"Teme! Apa yang sedang kau lakukan?!" Sesaat keduanya menoleh kearah sumber suara yang menganggu kedua sejoli itu. Sasuke berdecak kesal saat melihat sahabat pirangnya yang dengan seenaknya mengganggu moment langkanya.
"Ck! Untuk apa kau kesini, dobe?"
Naruto tak menghiraukan pertanyaan Sasuke dan segera berjalan mendekati mereka. Naruto mengamati penampilan seorang gadis dihadapannya lalu bergantian memandang wajah Sasuke.
"S-seorang gadis dengan pakaian seperti ini berada di rumahmu? Ya Tuhan Sasuke! Ja-jangan-jangan kau." Sasuke hanya memutar bola matanya dan memandang kesal kearah sahabatnya itu.
"Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan." Hinata berkata sambil memasang wajah datarnya.
"Lagi pula untuk apa kau kemari?" Sasuke berkata sambil memasang tampang kesalnya.
"Untuk apa? Tentu saja menjemputmu! Aku tidak akan membiarkanmu lolos dari meeting hari ini."
Sasuke membuang nafasnya kasar dan melirik gadis disampingnya. Sepertinya gadis itu sudah selesai dengan sarapannya. Hinata segera pergi menuju anak tangga dan meninggalkan dua pemuda itu. Tak ingin ikut campur dengan urusan laki-laki.
"Hoi Teme! Dia siapa?"
"Menurutmu?"
"Ck! Kau ini. Ku kira kau sudah berhenti tidur dengan perempuan semenjak putus dari Sakura."
"Sialan! Bisa kau tak membahas dia?!" Sasuke memandang tajam kearah Naruto. Naruto hanya mengangkat bahunya dan mencomot sandwich yang masih utuh yang tersedia diatas piring.
Sasuke berjalan kearah lemari pendingin dan mengambil sebotol bir lalu mulai menengguk isinya.
"Teme, tapi sebelumnya aku tak pernah melihatmu membawa perempuan kedalam rumahmu ini." Sasuke tak menjawab pertanyaan pemuda itu dan sengaja mengabaikannya.
"Hoi jawab aku! Apa mungkin dia kekasih barumu?" Naruto mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum menggoda sahabatnya itu.
"Ck! Kau ini berisik sekali."
"Yasudah kalau begitu jawab pertanyaanku."
Sasuke membuang nafasnya kasar dan melemparkan kaleng bir yang sudah habis ke dalam tempat sampah yang tersedia.
"Mungkin..lebih tepatnya seorang tunangan." Sasuke menyeringai dan berjalan meninggalkan sahabatnya yang memasang tampang melongo mendengar jawaban yang dilontarkan pemuda itu. Sasuke masih menyeringai sambil berjalan menaiki anak tangga dan tak menghiraukan teriakan sahabatnya itu.
"APA?! TUNANGAN? APA AKU TAK SALAH DENGAR?! HOI TEME! BISA KAU JELASKAN ITU PADAKUUUUU?"
.
.
.
.
.
Chapter 4 up guys! Hehe gimana nih respon kalian? Mungkin chapter ini full scenenya Sasuhina ya ;D dan aku juga sudah menceritakan keseluruhan flashback mereka waktu di London. Gimana chap ini agak panjangan kan? wkwk
Oiya aku prediksi kayanya ff ini bakalan panjang deh heheh jadi aku harap kalian masih mau menunggu kelanjutannya T.T dan mungkin sebentar lagi aku ga bakalan bisa upkil lagi karena sudah mau masuk kuliah T.T tapi aku sempetin untuk tetep bisa up secepat mungkin hohoh
Aku mau mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah setia membaca, memfollow, memfavorite Dark Love dan mereview ff ini, aku sangat sangat berterima kasih. Aku tunggu reviewan kalian selanjutnya ya heheh
Udah segitu dulu cuap2nya. See you next chapter! Bye!
.
.
.
Answers to questions :
PacarnyaMarkLee : Hehe ini udah up lagi kok chapter 4nya. Makasih ya atas dukungannya^^
YOONSIC722 : Terima kasih banyak karena kamu suka sama kedua karakternya, padahal disini Hinatanya OOC banget ya. Aku terharu T.T terimakasih banyakkk
Cecil : Kira-kira disini udah ketauan belom, Sasukenya bajingan atau tidak? ;p ini udah update kok hehe, terima kasih kembali kamu yang lebih cantik^^
Guest : Terima kasih banyak aku terharu T.T
lovely sasuhina : Hehe iya maaf ya kalo membingungkan. Ini sudah aku perbaiki chap 3 nya. Terima kasih atas nasehatnya^^ iya Hinata bakal hajar Sasuke kok kalo dia macem2 hohoho
Reichan Hiyukeitashi : Iya terimakasih banyak atas sarannya ya, chap 3nya udah aku perbaiki kok sekali lagi terimakasih^^
.
.
.
Mind to Reaview, please?
.
.
Crystal94
